Hak-hak Persaudaraan dan Persahabatan (3)

الْحَقُّ الْخَامِسُ: الْعَفْوُ عَنِ الزَّلَّاتِ وَالْهَفَوَاتِ

Hak Kelima: Memaafkan Kesalahan dan Ketergelinciran

وَهَفْوَةُ الصَّدِيقِ لَا تَخْلُو: إِمَّا أَنْ تَكُونَ فِي دِينِهِ بِارْتِكَابِ مَعْصِيَةٍ, أَوْ فِي حَقِّكَ بِتَقْصِيرِهِ فِي الْأُخُوَّةِ.

Kesalahan seorang teman tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi dalam urusan agamanya dengan melakukan kemaksiatan, atau dalam hakmu dengan kelalaiannya dalam persaudaraan.

أَمَّا مَا يَكُونُ فِي الدِّينِ مِنَ ارْتِكَابِ مَعْصِيَةٍ وَالْإِصْرَارِ عَلَيْهَا، فَعَلَيْكَ التَّلَطُّفُ فِي نُصْحِهِ بِمَا يَقُومُ أَوَدَهُ وَيَجْمَعُ شَمْلَهُ وَيُعِيدُ إِلَى الصَّلَاحِ وَالْوَرَعِ حَالَهُ.

Adapun kesalahan dalam agama, yaitu melakukan maksiat dan terus-menerus melakukannya, maka engkau wajib bersikap lembut dalam menasihatinya dengan cara yang dapat meluruskan penyimpangannya, menyatukan kembali urusannya, dan mengembalikan keadaannya pada kesalehan dan kewaraan.

فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ وَبَقِيَ مُصِرًّا، فَقَدِ اخْتَلَفَتْ طُرُقُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ فِي إِدَامَةِ حَقِّ مَوَدَّتِهِ أَوْ مُقَاطَعَتِهِ.

Jika engkau tidak mampu dan ia tetap melakukannya, maka jalan para sahabat dan tabi'in berbeda-beda dalam hal melanjutkan hak kasih sayangnya atau memutuskannya.

فَذَهَبَ أَبُو ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى الِانْقِطَاعِ وَقَالَ: إِذَا انْقَلَبَ أَخُوكَ عَمَّا كَانَ عَلَيْهِ فَأَبْغِضْهُ مِنْ حَيْثُ أَحْبَبْتَهُ.

Abu Dzar radhiyallahu 'anhu memilih untuk memutuskan hubungan dan berkata, "Jika saudaramu berubah dari keadaannya semula, maka bencilah ia dari sisi yang dulu engkau cintai."

وَرَأَى ذَلِكَ مِنْ مُقْتَضَى الْحُبِّ فِي اللَّهِ وَالْبُغْضِ فِي اللَّهِ.

Beliau melihat hal itu sebagai tuntutan dari cinta karena Allah dan benci karena Allah.

وَأَمَّا أَبُو الدَّرْدَاءِ وَجَمَاعَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ فَذَهَبُوا إِلَى خِلَافِهِ.

Adapun Abu Darda' dan sekelompok sahabat memilih pendapat yang berlawanan.

فَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ: إِذَا تَغَيَّرَ أَخُوكَ وَحَالَ عَمَّا كَانَ عَلَيْهِ فَلَا تَدَعْهُ لِأَجْلِ ذَلِكَ.

Abu Darda' berkata, "Jika saudaramu berubah dan menyimpang dari keadaannya semula, jangan tinggalkan ia karena hal itu."

فَإِنَّ أَخَاكَ يَعْوَجُّ مَرَّةً وَيَسْتَقِيمُ أُخْرَى.

"Karena saudaramu terkadang bengkok dan terkadang lurus."

وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ: لَا تَقْطَعْ أَخَاكَ وَلَا تَهْجُرْهُ عِنْدَ الذَّنْبِ بِذَنْبِهِ, فَإِنَّهُ يَرْتَكِبُهُ الْيَوْمَ وَيَتْرُكُهُ غَدًا.

Ibrahim An-Nakha'i berkata: "Jangan memutuskan hubungan dengan saudaramu dan jangan memboikotnya saat ia berbuat dosa. Karena ia melakukannya hari ini, dan bisa jadi ia meninggalkannya besok."

وَقَالَ أَيْضًا: لَا تُحَدِّثُوا النَّاسَ بِزَلَّةِ الْعَالِمِ، فَإِنَّ الْعَالِمَ يَزِلُّ الزَّلَّةَ ثُمَّ يَتْرُكُهَا.

Beliau juga berkata, "Jangan ceritakan kepada orang-orang tentang ketergelinciran seorang alim, karena seorang alim bisa tergelincir, lalu ia akan meninggalkannya."

وَفِي الْخَبَرِ: اتَّقُوا زَلَّةَ الْعَالِمِ وَلَا تَقْطَعُوهُ وَانْتَظِرُوا فَيْئَتَهُ.

Dalam sebuah riwayat: "Waspadalah terhadap ketergelinciran seorang alim, jangan memutuskannya, dan tunggulah ia kembali (ke jalan yang benar)."

وَفِي حَدِيثِ عُمَرَ وَقَدْ سَأَلَ عَنْ أَخٍ كَانَ آخَاهُ فَخَرَجَ إِلَى الشَّامِ، فَسَأَلَ عَنْهُ بَعْضَ مَنْ قَدِمَ عَلَيْهِ وَقَالَ: مَا فَعَلَ أَخِي؟

Dalam hadits Umar, beliau bertanya tentang seorang saudara yang telah ia persaudarakan, yang pergi ke Syam. Beliau bertanya kepada seseorang yang datang dari sana, "Apa kabar saudaraku?"

قَالَ: ذَلِكَ أَخُو الشَّيْطَانِ. قَالَ: مَهْ.

Orang itu menjawab, "Dia itu saudaranya setan." Umar berkata, "Hush."

قَالَ: إِنَّهُ قَارَفَ الْكَبَائِرَ حَتَّى وَقَعَ فِي الْخَمْرِ.

Orang itu berkata, "Ia telah melakukan dosa-dosa besar sampai terjerumus dalam khamar."

قَالَ: إِذَا أَرَدْتَ الْخُرُوجَ فَآذِنِّي. فَكَتَبَ عِنْدَ خُرُوجِهِ إِلَيْهِ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ {حم * تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ * غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ} الْآيَةَ.

Umar berkata, "Jika engkau hendak berangkat, beritahu aku." Saat orang itu hendak berangkat, Umar menulis surat kepadanya: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. *Ha Mim. Diturunkan Kitab ini (Al-Qur'an) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, Yang Mengampuni dosa dan Menerima tobat lagi keras hukuman-Nya...*" (QS. Ghafir: 1-3).

ثُمَّ عَاتَبَهُ تَحْتَ ذَلِكَ وَعَذَلَهُ.

Kemudian di bawahnya, beliau menegur dan mencelanya.

فَلَمَّا قَرَأَ الْكِتَابَ بَكَى وَقَالَ: صَدَقَ اللَّهُ وَنَصَحَ لِي عُمَرُ. فَتَابَ وَرَجَعَ.

Ketika ia membaca surat itu, ia menangis dan berkata, "Maha Benar Allah, dan Umar telah menasihatiku." Lalu ia bertobat dan kembali.

وَحُكِيَ أَنَّ أَخَوَيْنِ ابْتُلِيَ أَحَدُهُمَا بِهَوًى فَأَظْهَرَ عَلَيْهِ أَخَاهُ.

Dikisahkan ada dua orang bersaudara, salah satunya diuji dengan hawa nafsu, lalu saudaranya memberitahunya.

وَقَالَ: إِنِّي قَدِ اعْتَلَلْتُ, فَإِنْ شِئْتَ أَنْ لَا تَعْقِدَ عَلَى صُحْبَتِي لِلَّهِ فَافْعَلْ.

Ia berkata, "Aku telah sakit (terkena penyakit dosa). Jika engkau tidak mau melanjutkan persahabatan denganku karena Allah, lakukanlah."

فَقَالَ: مَا كُنْتُ لِأَحُلَّ عَقْدَ أُخُوَّتِكَ لِأَجْلِ خَطِيئَتِكَ أَبَدًا.

Saudaranya menjawab, "Aku tidak akan pernah melepaskan ikatan persaudaraanmu hanya karena kesalahanmu."

ثُمَّ عَقَدَ أَخُوهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ بِأَنْ لَا يَأْكُلَ وَلَا يَشْرَبَ حَتَّى يُعَافِيَ اللَّهُ أَخَاهُ مِنْ هَوَاهُ.

Kemudian saudaranya itu berjanji kepada Allah untuk tidak makan dan tidak minum sampai Allah menyembuhkan saudaranya dari hawa nafsunya.

فَطَوَى أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي كُلِّهَا يَسْأَلُهُ عَنْ هَوَاهُ, فَكَانَ يَقُولُ: الْقَلْبُ مُقِيمٌ عَلَى حَالِهِ.

Ia pun berpuasa selama empat puluh hari. Setiap hari ia bertanya tentang hawa nafsu saudaranya, dan saudaranya menjawab, "Hati ini masih dalam keadaan yang sama."

وَمَا زَالَ هُوَ يَنْحَلُّ مِنَ الْغَمِّ وَالْجُوعِ حَتَّى زَالَ الْهَوَى عَنْ قَلْبِ أَخِيهِ بَعْدَ الْأَرْبَعِينَ.

Dan ia terus-menerus menjadi kurus karena kesedihan dan lapar, sampai hawa nafsu itu hilang dari hati saudaranya setelah empat puluh hari.

فَأَخْبَرَهُ بِذَلِكَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ بَعْدَ أَنْ كَادَ يَتْلَفُ هُزَالًا وَضُرًّا.

Saudaranya memberitahukan hal itu, lalu ia makan dan minum setelah hampir binasa karena kurus dan menderita.

وَكَذَلِكَ حُكِيَ عَنْ أَخَوَيْنِ مِنَ السَّلَفِ انْقَلَبَ أَحَدُهُمَا عَنِ الِاسْتِقَامَةِ.

Begitu pula dikisahkan tentang dua orang bersaudara dari kalangan salaf, salah satunya menyimpang dari istiqamah.

فَقِيلَ لِأَخِيهِ: أَلَا تَقْطَعُهُ وَتَهْجُرُهُ؟

Dikatakan kepada saudaranya, "Tidakkah engkau memutuskannya dan memboikotnya?"

فَقَالَ: أَحْوَجُ مَا كَانَ إِلَيَّ فِي هَذَا الْوَقْتِ لَمَّا وَقَعَ فِي عَثْرَتِهِ أَنْ آخُذَ بِيَدِهِ وَأَتَلَطَّفَ لَهُ فِي الْمُعَاتَبَةِ وَأَدْعُوَ لَهُ بِالْعَوْدِ إِلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ.

Ia menjawab, "Saat inilah ia paling membutuhkanku. Ketika ia tergelincir, aku harus memegang tangannya, bersikap lembut dalam menegurnya, dan mendoakannya agar kembali seperti semula."

وَرُوِيَ فِي الْإِسْرَائِيلِيَّاتِ أَنَّ أَخَوَيْنِ عَابِدَيْنِ كَانَا فِي جَبَلٍ.

Diriwayatkan dalam kisah-kisah Israiliyyat bahwa ada dua orang bersaudara yang ahli ibadah di sebuah gunung.

نَزَلَ أَحَدُهُمَا لِيَشْتَرِيَ مِنَ الْمِصْرِ لَحْمًا بِدِرْهَمٍ فَرَأَى بَغِيًّا عِنْدَ اللَّحَّامِ فَرَمَقَهَا وَعَشِقَهَا وَاجْتَذَبَهَا إِلَى خَلْوَةٍ وَوَاقَعَهَا.

Salah satunya turun ke kota untuk membeli daging seharga satu dirham. Ia melihat seorang pelacur di dekat tukang daging, lalu ia memandangnya, jatuh cinta, menariknya ke tempat sepi, dan berzina dengannya.

ثُمَّ أَقَامَ عِنْدَهَا ثَلَاثًا وَاسْتَحْيَا أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَخِيهِ حَيَاءً مِنْ جِنَايَتِهِ.

Kemudian ia tinggal bersamanya selama tiga hari dan merasa malu untuk kembali kepada saudaranya karena kejahatannya.

قَالَ: فَافْتَقَدَهُ أَخُوهُ وَاهْتَمَّ بِشَأْنِهِ فَنَزَلَ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلَمْ يَزَلْ يَسْأَلُ عَنْهُ حَتَّى دُلَّ عَلَيْهِ.

Saudaranya merasa kehilangan dan khawatir, lalu ia turun ke kota. Ia terus bertanya tentangnya sampai ditunjukkan tempatnya.

فَدَخَلَ إِلَيْهِ وَهُوَ جَالِسٌ مَعَهَا فَاعْتَنَقَهُ وَجَعَلَ يُقَبِّلُهُ وَيَلْتَزِمُهُ.

Ia masuk menemuinya saat ia sedang duduk bersama wanita itu, lalu ia memeluknya, menciumnya, dan merangkulnya.

وَأَنْكَرَ الْآخَرُ أَنَّهُ يَعْرِفُهُ قَطُّ لِفَرْطِ اسْتِحْيَائِهِ مِنْهُ.

Yang lain menyangkal bahwa ia mengenalnya sama sekali karena sangat malu.

فَقَالَ: قُمْ يَا أَخِي فَقَدْ عَلِمْتُ شَأْنَكَ وَقِصَّتَكَ. وَمَا كُنْتَ قَدْ أَحَبَّ إِلَيَّ وَلَا أَعَزَّ مِنْ سَاعَتِكَ هَذِهِ.

Saudaranya berkata, "Bangunlah, wahai saudaraku. Aku sudah tahu keadaan dan kisahmu. Dan engkau tidak pernah lebih aku cintai dan lebih mulia bagiku daripada saat ini."

فَلَمَّا رَأَى أَنَّ ذَلِكَ لَمْ يُسْقِطْهُ مِنْ عَيْنِهِ قَامَ فَانْصَرَفَ مَعَهُ.

Ketika ia melihat bahwa hal itu tidak membuatnya jatuh di mata saudaranya, ia pun bangkit dan pergi bersamanya.

فَهَذِهِ طَرِيقَةُ قَوْمٍ, وَهِيَ أَلْطَفُ وَأَفْقَهُ مِنْ طَرِيقَةِ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.

Ini adalah jalan sekelompok orang, dan ini lebih lembut dan lebih bijaksana daripada jalan Abu Dzar radhiyallahu 'anhu.

وَطَرِيقَتُهُ أَحْسَنُ وَأَسْلَمُ.

Sedangkan jalan Abu Dzar lebih baik dan lebih selamat.

فَإِنْ قُلْتَ: وَلِمَ قُلْتَ هَذَا أَلْطَفُ وَأَفْقَهُ, وَمُقَارِفُ هَذِهِ الْمَعْصِيَةِ لَا تَجُوزُ مُؤَاخَاتُهُ ابْتِدَاءً فَتَجِبُ مُقَاطَعَتُهُ انْتِهَاءً؟

Jika engkau bertanya: "Mengapa engkau katakan ini lebih lembut dan lebih bijaksana, padahal pelaku maksiat ini tidak boleh dijadikan saudara sejak awal, sehingga wajib untuk memutuskannya pada akhirnya?"

لِأَنَّ الْحُكْمَ إِذَا ثَبَتَ بِعِلَّةٍ فَالْقِيَاسُ أَنْ يَزُولَ بِزَوَالِهَا.

"Karena jika sebuah hukum ditetapkan karena suatu sebab, maka logikanya hukum itu akan hilang jika sebabnya hilang."

وَعِلَّةُ عَقْدِ الْأُخُوَّةِ التَّعَاوُنُ فِي الدِّينِ, وَلَا يَسْتَمِرُّ ذَلِكَ مَعَ مُقَارَفَةِ الْمَعْصِيَةِ.

"Dan sebab ikatan persaudaraan adalah saling menolong dalam agama, dan itu tidak akan berlanjut jika disertai dengan perbuatan maksiat."

فَأَقُولُ: أَمَّا كَوْنُهُ أَلْطَفَ فَلِمَا فِيهِ مِنَ الرِّفْقِ وَالِاسْتِمَالَةِ وَالتَّعَطُّفِ الْمُفْضِي إِلَى الرُّجُوعِ وَالتَّوْبَةِ لِاسْتِمْرَارِ الْحَيَاءِ عِنْدَ دَوَامِ الصُّحْبَةِ.

Maka aku menjawab: Adapun mengapa ia lebih lembut, karena di dalamnya ada kelembutan, bujukan, dan kasih sayang yang mengarah pada kembalinya (ke jalan yang benar) dan tobat, karena rasa malu akan terus ada jika persahabatan berlanjut.

وَمَهْمَا قُوطِعَ وَانْقَطَعَ طَمَعُهُ عَنِ الصُّحْبَةِ أَصَرَّ وَاسْتَمَرَّ.

Sedangkan jika ia diboikot dan harapannya untuk bersahabat hilang, ia akan terus-menerus melakukan (maksiatnya).

وَأَمَّا كَوْنُهُ أَفْقَهُ فَمِنْ حَيْثُ إِنَّ الْأُخُوَّةَ عَقْدٌ يَنْزِلُ مَنْزِلَةَ الْقَرَابَةِ.

Adapun mengapa ia lebih bijaksana, karena persaudaraan adalah ikatan yang menempati posisi kekerabatan.

فَإِذَا انْعَقَدَتْ تَأَكَّدَ الْحَقُّ وَوَجَبَ الْوَفَاءُ بِمُوجَبِ الْعَقْدِ.

Jika sudah terjalin, maka haknya menjadi kuat dan wajib untuk memenuhi tuntutan ikatan tersebut.

وَمِنَ الْوَفَاءِ بِهِ أَنْ لَا يُهْمَلَ أَيَّامَ حَاجَتِهِ وَفَقْرِهِ, وَفَقْرُ الدِّينِ أَشَدُّ مِنْ فَقْرِ الْمَالِ.

Dan di antara bentuk kesetiaan adalah tidak menelantarkannya di saat ia butuh dan fakir. Dan kefakiran agama lebih parah daripada kefakiran harta.

وَقَدْ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ وَأَلِمَتْ بِهِ آفَةٌ افْتَقَرَ بِسَبَبِهَا فِي دِينِهِ.

Ia telah ditimpa musibah dan bencana yang membuatnya fakir dalam agamanya.

فَيَنْبَغِي أَنْ يُرَاقَبَ وَيُرَاعَى وَلَا يُهْمَلَ.

Maka, ia harus diawasi, diperhatikan, dan tidak ditelantarkan.

بَلْ لَا يَزَالُ يُتَلَطَّفُ بِهِ لِيُعَانَ عَلَى الْخَلَاصِ مِنْ تِلْكَ الْوَقْعَةِ الَّتِي أَلِمَتْ بِهِ.

Bahkan, ia harus terus-menerus didekati dengan lembut agar ia bisa dibantu untuk keluar dari musibah yang menimpanya.

فَالْأُخُوَّةُ عُدَّةٌ لِلنَّائِبَاتِ وَحَوَادِثِ الزَّمَانِ, وَهَذَا مِنْ أَشَدِّ النَّوَائِبِ.

Persaudaraan adalah bekal untuk menghadapi musibah dan kejadian zaman, dan ini adalah salah satu musibah terberat.

وَالْفَاجِرُ إِذَا صَحِبَ تَقِيًّا وَهُوَ يَنْظُرُ إِلَى خَوْفِهِ وَمُدَاوَمَتِهِ, فَسَيَرْجِعُ عَلَى قُرْبٍ وَيَسْتَحِي مِنَ الْإِصْرَارِ.

Orang bejat jika bersahabat dengan orang takwa dan ia melihat rasa takutnya (kepada Allah) dan ketekunannya, maka ia akan segera kembali (ke jalan yang benar) dan merasa malu untuk terus-menerus (berbuat dosa).

بَلِ الْكَسَلَانُ يَصْحَبُ الْحَرِيصَ فِي الْعَمَلِ فَيَحْرُصُ حَيَاءً مِنْهُ.

Bahkan, orang malas jika bersahabat dengan orang yang rajin beramal, ia akan ikut rajin karena malu padanya.

قَالَ جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ: مَهْمَا فَتَرْتُ فِي الْعَمَلِ نَظَرْتُ إِلَى مُحَمَّدِ بْنِ وَاسِعٍ وَإِقْبَالِهِ عَلَى الطَّاعَةِ فَيَرْجِعُ إِلَيَّ نَشَاطِي فِي الْعِبَادَةِ وَفَارَقَنِي الْكَسَلُ وَعَمِلْتُ عَلَيْهِ أُسْبُوعًا.

Ja'far bin Sulaiman berkata: "Setiap kali aku merasa malas beramal, aku melihat Muhammad bin Wasi' dan kesungguhannya dalam ketaatan, maka semangatku dalam beribadah kembali, rasa malas meninggalkanku, dan aku beramal seperti itu selama seminggu."

وَهَذَا التَّحْقِيقُ وَهُوَ أَنَّ الصَّدَاقَةَ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ.

Dan inilah kesimpulannya, yaitu persahabatan adalah ikatan seperti ikatan nasab.

وَالْقَرِيبُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُهْجَرَ بِالْمَعْصِيَةِ.

Dan kerabat tidak boleh diboikot karena kemaksiatan.

وَلِذَلِكَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي عَشِيرَتِهِ: {فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ}.

Karena itu, Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم tentang kerabatnya, "Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu kerjakan.'" (QS. Asy-Syu'ara: 216).

وَلَمْ يَقُلْ: إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكُمْ, مُرَاعَاةً لِحَقِّ الْقَرَابَةِ وَلُحْمَةِ النَّسَبِ.

Beliau tidak mengatakan, "Aku berlepas diri dari kalian," untuk menjaga hak kekerabatan dan ikatan nasab.

وَإِلَى هَذَا أَشَارَ أَبُو الدَّرْدَاءِ لَمَّا قِيلَ لَهُ: أَلَا تُبْغِضُ أَخَاكَ وَقَدْ فَعَلَ كَذَا؟

Inilah yang diisyaratkan oleh Abu Darda' ketika ditanya, "Tidakkah engkau membenci saudaramu padahal ia telah melakukan ini dan itu?"

فَقَالَ: إِنَّمَا أُبْغِضُ عَمَلَهُ, وَإِلَّا فَهُوَ أَخِي.

Ia menjawab, "Aku hanya membenci perbuatannya, sedangkan dia tetap saudaraku."

وَأُخُوَّةُ الدِّينِ أَوْكَدُ مِنْ أُخُوَّةِ الْقَرَابَةِ.

Dan persaudaraan agama lebih kuat daripada persaudaraan kekerabatan.

وَلِذَلِكَ قِيلَ لِحَكِيمٍ: أَيُّمَا أَحَبُّ إِلَيْكَ أَخُوكَ أَوْ صَدِيقُكَ؟

Karena itu, dikatakan kepada seorang bijak, "Mana yang lebih engkau cintai, saudaramu atau temanmu?"

فَقَالَ: إِنَّمَا أُحِبُّ أَخِي إِذَا كَانَ صَدِيقًا لِي.

Ia menjawab, "Aku hanya mencintai saudaraku jika ia juga temanku."

وَكَانَ الْحَسَنُ يَقُولُ: كَمْ مِنْ أَخٍ لَمْ تَلِدْهُ أُمُّكَ.

Al-Hasan berkata, "Betapa banyak saudara yang tidak dilahirkan oleh ibumu."

وَلِذَلِكَ قِيلَ: الْقَرَابَةُ تَحْتَاجُ إِلَى مَوَدَّةٍ, وَالْمَوَدَّةُ لَا تَحْتَاجُ إِلَى قَرَابَةٍ.

Karena itu dikatakan: "Kekerabatan membutuhkan kasih sayang, sedangkan kasih sayang tidak membutuhkan kekerabatan."

وَقَالَ جَعْفَرٌ الصَّادِقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَوَدَّةُ يَوْمٍ صِلَةٌ, وَمَوَدَّةُ شَهْرٍ قَرَابَةٌ, وَمَوَدَّةُ سَنَةٍ رَحِمٌ مَائِيَّةٌ مَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ اللَّهُ.

Ja'far Ash-Shadiq radhiyallahu 'anhu berkata: "Kasih sayang sehari adalah hubungan. Kasih sayang sebulan adalah kekerabatan. Dan kasih sayang setahun adalah rahim (ikatan keluarga) yang mengalir. Siapa yang memutuskannya, Allah akan memutuskannya."

فَإِذَنْ الْوَفَاءُ بِعَقْدِ الْأُخُوَّةِ إِذَا سَبَقَ انْعِقَادُهَا وَاجِبٌ.

Maka, memenuhi ikatan persaudaraan jika sudah terjalin sebelumnya adalah wajib.

وَهَذَا جَوَابُنَا عَنِ ابْتِدَاءِ الْمُؤَاخَاةِ مَعَ الْفَاسِقِ, فَإِنَّهُ لَمْ يَتَقَدَّمْ لَهُ حَقٌّ.

Dan ini adalah jawaban kami tentang memulai persaudaraan dengan orang fasik, karena ia belum memiliki hak sebelumnya.

فَإِنْ تَقَدَّمَتْ لَهُ قَرَابَةٌ فَلَا جَرَمَ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُقَاطَعَ بَلْ يُجَامَلُ.

Jika ia memiliki hubungan kekerabatan sebelumnya, maka tentu tidak sepantasnya ia diboikot, tetapi harus diperlakukan dengan baik.

وَالدَّلِيلُ عَلَيْهِ أَنَّ تَرْكَ الْمُؤَاخَاةِ وَالصُّحْبَةِ ابْتِدَاءً لَيْسَ مَذْمُومًا وَلَا مَكْرُوهًا, بَلْ قَالَ قَائِلُونَ: الِانْفِرَادُ أَوْلَى.

Buktinya adalah bahwa tidak memulai persaudaraan dan persahabatan sejak awal bukanlah hal yang tercela atau makruh. Bahkan, sebagian orang mengatakan bahwa menyendiri lebih utama.

فَأَمَّا قَطْعُ الْأُخُوَّةِ عَنْ دَوَامِهَا فَمَنْهِيٌّ عَنْهُ وَمَذْمُومٌ فِي نَفْسِهِ.

Adapun memutuskan persaudaraan yang sudah terjalin, maka itu dilarang dan tercela.

وَنِسْبَتُهُ إِلَى تَرْكِهَا ابْتِدَاءً كَنِسْبَةِ الطَّلَاقِ إِلَى تَرْكِ النِّكَاحِ.

Dan perbandingannya dengan tidak memulainya sejak awal adalah seperti perbandingan talak dengan tidak menikah.

وَالطَّلَاقُ أَبْغَضُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنْ تَرْكِ النِّكَاحِ.

Dan talak lebih dibenci oleh Allah Ta'ala daripada tidak menikah.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شِرَارُ عِبَادِ اللَّهِ الْمَشَّاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ, الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْأَحِبَّةِ.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, "Seburuk-buruk hamba Allah adalah orang-orang yang berjalan dengan adu domba, yang memecah belah di antara orang-orang yang saling mencintai."

وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ فِي سَتْرِ زَلَّاتِ الْإِخْوَانِ: وَدَّ الشَّيْطَانُ أَنْ يُلْقَى عَلَى أَخِيكُمْ مِثْلُ هَذَا حَتَّى تَهْجُرُوهُ وَتَقْطَعُوهُ, فَمَاذَا اتَّقَيْتُمْ مِنْ مَحَبَّةِ عَدُوِّكُمْ؟

Sebagian salaf berkata tentang menutupi kesalahan saudara: "Setan sangat ingin menimpakan hal seperti ini pada saudara kalian agar kalian memboikotnya dan memutuskannya. Lalu, apa yang kalian jaga dari kecintaan musuh kalian?"

وَهَذَا لِأَنَّ التَّفْرِيقَ بَيْنَ الْأَحِبَّاءِ مِنْ مَحَابِّ الشَّيْطَانِ كَمَا أَنَّ مُقَارَفَةَ الْعِصْيَانِ مِنْ مَحَابِّهِ.

Ini karena memecah belah orang-orang yang saling mencintai adalah salah satu kesukaan setan, sebagaimana melakukan maksiat juga kesukaannya.

فَإِذَا حَصَلَ لِلشَّيْطَانِ أَحَدُ غَرَضَيْهِ, فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُضَافَ إِلَيْهِ الثَّانِي.

Maka, jika setan sudah berhasil mencapai salah satu dari dua tujuannya, jangan sampai ditambahkan tujuan yang kedua.

وَإِلَى هَذَا أَشَارَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي الَّذِي شَتَمَ الرَّجُلَ الَّذِي أَتَى فَاحِشَةً إِذْ قَالَ: مَهْ, وَزَبَرَهُ وَقَالَ: لَا تَكُونُوا عَوْنًا لِلشَّيْطَانِ عَلَى أَخِيكُمْ.

Inilah yang diisyaratkan oleh Nabi عليه السلام tentang orang yang mencela pria yang melakukan perbuatan keji, ketika beliau berkata, "Hush," dan menegurnya, lalu bersabda, "Janganlah kalian menjadi penolong setan atas saudara kalian."

فَبِهَذَا كُلِّهِ يَتَبَيَّنُ الْفَرْقُ بَيْنَ الدَّوَامِ وَالِابْتِدَاءِ.

Dengan semua ini, menjadi jelas perbedaan antara melanjutkan dan memulai.

لِأَنَّ مُخَالَطَةَ الْفُسَّاقِ مَحْذُورَةٌ وَمُفَارَقَةَ الْأَحْبَابِ وَالْإِخْوَانِ أَيْضًا مَحْذُورَةٌ.

Karena bergaul dengan orang fasik itu berbahaya, dan berpisah dengan teman dan saudara juga berbahaya.

وَلَيْسَ مَنْ سَلِمَ عَنْ مُعَارَضَةِ غَيْرِهِ كَالَّذِي لَمْ يَسْلِمْ.

Dan orang yang selamat dari pertentangan dengan orang lain tidak sama dengan yang tidak selamat.

وَفِي الِابْتِدَاءِ قَدْ سَلِمَ فَرَأَيْنَا أَنَّ الْمُهَاجَرَةَ وَالتَّبَاعُدَ هُوَ الْأَوْلَى.

Pada awalnya, ia telah selamat (dari pertentangan), maka kami berpendapat bahwa memboikot dan menjauh adalah yang lebih utama.

وَفِي الدَّوَامِ تَعَارُضٌ, فَكَانَ الْوَفَاءُ بِحَقِّ الْأُخُوَّةِ أَوْلَى.

Sedangkan dalam melanjutkan (persahabatan), ada pertentangan (antara dua bahaya), maka memenuhi hak persaudaraan menjadi lebih utama.

هَذَا كُلُّهُ فِي زَلَّتِهِ فِي دِينِهِ.

Semua ini berlaku untuk kesalahannya dalam urusan agamanya.

أَمَّا زَلَّتُهُ فِي حَقِّكَ بِمَا يُوجِبُ إِيحَاشَهُ, فَلَا خِلَافَ فِي أَنَّ الْأَوْلَى الْعَفْوُ وَالِاحْتِمَالُ.

Adapun kesalahannya dalam hakmu yang membuatmu tidak nyaman, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa yang lebih utama adalah memaafkan dan bersabar.

بَلْ كُلُّ مَا يَحْتَمِلُ تَنْزِيلُهُ عَلَى وَجْهٍ حَسَنٍ وَيُتَصَوَّرُ تَمْهِيدُ عُذْرٍ فِيهِ قَرِيبٍ أَوْ بَعِيدٍ فَهُوَ وَاجِبٌ بِحَقِّ الْأُخُوَّةِ.

Bahkan, setiap hal yang bisa ditafsirkan dengan cara yang baik dan bisa dibayangkan alasan untuknya, baik yang masuk akal maupun yang jauh, maka itu wajib dilakukan demi hak persaudaraan.

فَقَدْ قِيلَ: يَنْبَغِي أَنْ تَسْتَنْبِطَ لِزَلَّةِ أَخِيكَ سَبْعِينَ عُذْرًا.

Dikatakan: "Hendaknya engkau mencari tujuh puluh alasan untuk kesalahan saudaramu."

فَإِنْ لَمْ يَقْبَلْهُ قَلْبُكَ فَرُدَّ اللَّوْمَ عَلَى نَفْسِكَ فَتَقُولُ لِقَلْبِكَ: مَا أَقْسَاكَ, يَعْتَذِرُ إِلَيْكَ أَخُوكَ سَبْعِينَ عُذْرًا فَلَا تَقْبَلُهُ, فَأَنْتَ الْمَعِيبُ لَا أَخُوكَ.

"Jika hatimu tidak menerimanya, maka kembalikanlah celaan itu pada dirimu sendiri. Katakanlah pada hatimu, 'Alangkah kerasnya dirimu. Saudaramu mencari tujuh puluh alasan untukmu, tetapi engkau tidak menerimanya. Maka engkaulah yang tercela, bukan saudaramu.'"

فَإِنْ ظَهَرَ بِحَيْثُ لَمْ يَقْبَلِ التَّحْسِينَ فَيَنْبَغِي أَنْ لَا تَغْضَبَ إِنْ قَدَرْتَ, وَلَكِنْ ذَلِكَ لَا يُمْكِنُ.

Jika kesalahan itu tampak jelas sehingga tidak bisa ditafsirkan dengan baik, maka hendaknya engkau tidak marah jika mampu. Tetapi, itu tidak mungkin.

وَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: مَنِ اسْتُغْضِبَ فَلَمْ يَغْضَبْ فَهُوَ حِمَارٌ, وَمَنِ اسْتُرْضِيَ فَلَمْ يَرْضَ فَهُوَ شَيْطَانٌ.

Asy-Syafi'i rahimahullah berkata: "Siapa yang dibuat marah tetapi tidak marah, maka ia adalah keledai. Dan siapa yang diminta ridanya tetapi tidak mau rida, maka ia adalah setan."

فَلَا تَكُنْ حِمَارًا وَلَا شَيْطَانًا.

Maka janganlah menjadi keledai dan jangan menjadi setan.

وَاسْتَرْضِ قَلْبَكَ بِنَفْسِكَ نِيَابَةً عَنْ أَخِيكَ, وَاحْتَرِزْ أَنْ تَكُونَ شَيْطَانًا إِنْ لَمْ تَقْبَلْ.

Dan buatlah hatimu rida dengan sendirinya sebagai perwakilan dari saudaramu, dan berhati-hatilah agar tidak menjadi setan jika engkau tidak mau menerimanya.

قَالَ الْأَحْنَفُ: حَقُّ الصَّدِيقِ أَنْ تَحْتَمِلَ مِنْهُ ثَلَاثًا: ظُلْمَ الْغَضَبِ, وَظُلْمَ الدَّالَّةِ, وَظُلْمَ الْهَفْوَةِ.

Al-Ahnaf berkata: "Hak seorang teman adalah engkau menanggung tiga hal darinya: kezaliman karena amarah, kezaliman karena keakraban, dan kezaliman karena ketergelinciran."

وَقَالَ آخَرُ: مَا شَتَمْتُ أَحَدًا قَطُّ, لِأَنَّهُ إِنْ شَتَمَنِي كَرِيمٌ فَأَنَا أَحَقُّ مَنْ غَفَرَهَا لَهُ, أَوْ لَئِيمٌ فَلَا أَجْعَلُ عِرْضِي لَهُ غَرَضًا.

Yang lain berkata: "Aku tidak pernah mencela siapa pun. Karena jika orang mulia yang mencelaku, maka aku lebih berhak untuk memaafkannya. Atau jika orang hina, maka aku tidak akan menjadikan kehormatanku sebagai sasarannya."

ثُمَّ تَمَثَّلَ وَقَالَ:

وَأَغْفِرُ عَوْرَاءَ الْكَرِيمِ ادِّخَارَهُ … وَأُعْرِضُ عَنْ شَتْمِ اللَّئِيمِ تَكَرُّمًا

Kemudian ia bersyair: "Dan aku memaafkan kesalahan orang mulia sebagai simpanan (kebaikan) untuknya... Dan aku berpaling dari celaan orang hina sebagai bentuk kemuliaan."

وَقَدْ قِيلَ:

خُذْ مِنْ خَلِيلِكَ مَا صَفَا … وَدَعِ الَّذِي فِيهِ الْكَدَرُ

فَالْعُمْرُ أَقْصَرُ مِنْ مُعَا … تَبَةِ الْخَلِيلِ عَلَى الْغِيَرِ

Dikatakan pula: "Ambillah dari sahabatmu apa yang jernih... dan tinggalkan apa yang keruh. Karena umur ini lebih singkat daripada... mencela sahabat atas perubahan (sikapnya)."

وَمَهْمَا اعْتَذَرَ إِلَيْكَ أَخُوكَ كَاذِبًا كَانَ أَوْ صَادِقًا فَاقْبَلْ عُذْرَهُ.

Setiap kali saudaramu meminta maaf kepadamu, baik ia jujur maupun bohong, maka terimalah permintaan maafnya.

قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: مَنِ اعْتَذَرَ إِلَيْهِ أَخُوهُ فَلَمْ يَقْبَلْ عُذْرَهُ فَعَلَيْهِ مِثْلُ إِثْمِ صَاحِبِ الْمَكْسِ.

Nabi عليه السلام bersabda, "Barangsiapa yang saudaranya meminta maaf kepadanya lalu ia tidak menerimanya, maka baginya dosa seperti dosa pemungut cukai."

وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: الْمُؤْمِنُ سَرِيعُ الْغَضَبِ سَرِيعُ الرِّضَا.

Nabi عليه السلام bersabda, "Seorang mukmin itu cepat marah dan cepat rida."

فَلَمْ يَصِفْهُ بِأَنَّهُ لَا يَغْضَبُ.

Beliau tidak menyifatinya sebagai orang yang tidak marah.

وَكَذَلِكَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ}, وَلَمْ يَقُلْ: وَالْفَاقِدِينَ الْغَيْظَ.

Begitu pula Allah Ta'ala berfirman, "...dan orang-orang yang menahan amarahnya," (QS. Ali 'Imran: 134) dan tidak mengatakan, "...dan orang-orang yang tidak memiliki amarah."

وَهَذَا لِأَنَّ الْعَادَةَ لَا تَنْتَهِي إِلَى أَنْ يُجْرَحَ الْإِنْسَانُ فَلَا يَتَأَلَّمُ.

Ini karena kebiasaan manusia tidak akan sampai pada titik di mana ia terluka tetapi tidak merasa sakit.

بَلْ تَنْتَهِي إِلَى أَنْ يَصْبِرَ عَلَيْهِ وَيَحْتَمِلَ.

Tetapi ia akan sampai pada titik di mana ia bisa bersabar dan menanggungnya.

وَكَمَا أَنَّ التَّأَلُّمَ بِالْجُرْحِ مُقْتَضَى طَبْعِ الْبَدَنِ, فَالتَّأَلُّمُ بِأَسْبَابِ الْغَضَبِ طَبْعُ الْقَلْبِ.

Sebagaimana rasa sakit karena luka adalah tuntutan tabiat badan, maka rasa sakit karena sebab-sebab amarah adalah tabiat hati.

وَلَا يُمْكِنُ قَلْعُهُ, وَلَكِنْ ضَبْطُهُ وَكَظْمُهُ وَالْعَمَلُ بِخِلَافِ مُقْتَضَاهُ.

Tidak mungkin menghilangkannya, tetapi mungkin untuk mengendalikannya, menahannya, dan beramal dengan kebalikan dari tuntutannya.

فَإِنَّهُ يَقْتَضِي التَّشَفِّيَ وَالِانْتِقَامَ وَالْمُكَافَأَةَ.

Karena amarah menuntut pembalasan dendam dan balasan.

وَتَرْكُ الْعَمَلِ بِمُقْتَضَاهُ مُمْكِنٌ.

Dan meninggalkan tuntutannya itu mungkin.

وَقَدْ قَالَ الشَّاعِرُ:

وَلَسْتَ بِمُسْتَبْقٍ أَخًا لَا تَلُمُّهُ … عَلَى شَعَثٍ أَيُّ الرِّجَالِ الْمُهَذَّبُ

Seorang penyair berkata: "Engkau tidak akan bisa mempertahankan saudara yang tidak pernah engkau cela... atas kekurangannya. Pria mana yang sempurna?"

قَالَ أَبُو سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيُّ لِأَحْمَدَ بْنِ أَبِي الْحَوَارِيِّ: إِذَا وَاخَيْتَ أَحَدًا فِي هَذَا الزَّمَانِ فَلَا تُعَاتِبْهُ عَلَى مَا تَكْرَهُهُ, فَإِنَّكَ لَا تَأْمَنُ مِنْ أَنْ تَرَى فِي جَوَابِكَ مَا هُوَ شَرٌّ مِنَ الْأَوَّلِ.

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata kepada Ahmad bin Abi Al-Hawari: "Jika engkau bersaudara dengan seseorang di zaman ini, jangan menegurnya atas apa yang tidak engkau sukai. Karena engkau tidak akan aman dari melihat jawaban yang lebih buruk dari yang pertama."

قَالَ: فَجَرَّبْتُهُ فَوَجَدْتُهُ كَذَلِكَ.

Ahmad berkata, "Aku mencobanya, dan aku mendapatinya seperti itu."

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: الصَّبْرُ عَلَى مَضَضِ الْأَخِ خَيْرٌ مِنْ مُعَاتَبَتِهِ.

Sebagian mereka berkata: "Sabar atas kepahitan (perlakuan) saudara lebih baik daripada menegurnya."

وَالْمُعَاتَبَةُ خَيْرٌ مِنَ الْقَطِيعَةِ.

"Dan teguran lebih baik daripada putus hubungan."

وَالْقَطِيعَةُ خَيْرٌ مِنَ الْوَقِيعَةِ.

"Dan putus hubungan lebih baik daripada permusuhan."

وَيَنْبَغِي أَنْ لَا يُبَالِغَ فِي الْبَغْضَةِ عِنْدَ الْوَقِيعَةِ.

Dan hendaknya ia tidak berlebihan dalam kebencian saat terjadi permusuhan.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً}.

Allah Ta'ala berfirman, "Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antara kamu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka." (QS. Al-Mumtahanah: 7).

وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا, وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا.

Nabi عليه السلام bersabda, "Cintailah kekasihmu sekadarnya, siapa tahu suatu hari ia menjadi orang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang engkau benci sekadarnya, siapa tahu suatu hari ia menjadi kekasihmu."

وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: لَا يَكُنْ حُبُّكَ كَلَفًا وَلَا بُغْضُكَ تَلَفًا.

Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Jangan sampai cintamu menjadi kegilaan, dan jangan sampai bencimu menjadi kehancuran."

وَهُوَ أَنْ تُحِبَّ تَلَفَ صَاحِبِكَ مَعَ هَلَاكِكَ.

Maksudnya adalah engkau menginginkan kehancuran temanmu meskipun engkau sendiri ikut hancur.

**الْحَقُّ السَّادِسُ: الدُّعَاءُ لِلْأَخِ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ بِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ لِنَفْسِهِ وَلِأَهْلِهِ وَكُلِّ مُتَعَلِّقٍ بِهِ**

**Hak Keenam: Mendoakan Saudara Selama Hidupnya dan Setelah Wafatnya dengan Semua Kebaikan yang Ia Cintai untuk Dirinya, Keluarganya, dan Semua yang Terkait Dengannya**

فَتَدْعُو لَهُ كَمَا تَدْعُو لِنَفْسِكَ وَلَا تُفَرِّقُ بَيْنَ نَفْسِكَ وَبَيْنَهُ.

Maka, berdoalah untuknya sebagaimana engkau berdoa untuk dirimu sendiri, dan jangan membedakan antara dirimu dan dirinya.

فَإِنَّ دُعَاءَكَ لَهُ دُعَاءٌ لِنَفْسِكَ عَلَى التَّحْقِيقِ.

Karena doamu untuknya sesungguhnya adalah doa untuk dirimu sendiri.

فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا دَعَا الرَّجُلُ لِأَخِيهِ فِي ظَهْرِ الْغَيْبِ قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ مِثْلُ ذَلِكَ.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, "Jika seseorang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, malaikat akan berkata: 'Dan untukmu juga yang semisalnya.'"

وَفِي لَفْظٍ آخَرَ: يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: بِكَ أَبْدَأُ يَا عَبْدِي.

Dalam lafaz lain: "Allah Ta'ala berfirman: 'Denganmu Aku mulai, wahai hamba-Ku.'"

وَفِي الْحَدِيثِ: يُسْتَجَابُ لِلرَّجُلِ فِي أَخِيهِ مَا لَا يُسْتَجَابُ لَهُ فِي نَفْسِهِ.

Dalam hadits: "Doa seseorang untuk saudaranya lebih dikabulkan daripada doanya untuk dirinya sendiri."

وَفِي الْحَدِيثِ: دَعْوَةُ الرَّجُلِ لِأَخِيهِ فِي ظَهْرِ الْغَيْبِ لَا تُرَدُّ.

Dalam hadits: "Doa seseorang untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya tidak akan ditolak."

وَكَانَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقُولُ: إِنِّي لَأَدْعُو لِسَبْعِينَ مِنْ إِخْوَانِي فِي سُجُودِي أُسَمِّيهِمْ بِأَسْمَائِهِمْ.

Abu Darda' berkata, "Sungguh, aku mendoakan tujuh puluh orang saudaraku dalam sujudku, aku menyebut nama mereka satu per satu."

وَكَانَ مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ الْأَصْفَهَانِيُّ يَقُولُ: وَأَيْنَ مِثْلُ الْأَخِ الصَّالِحِ؟

Muhammad bin Yusuf Al-Ashfahani berkata: "Di mana ada yang seperti saudara yang saleh?"

أَهْلُكَ يَقْتَسِمُونَ مِيرَاثَكَ وَيَتَنَعَّمُونَ بِمَا خَلَّفْتَ, وَهُوَ مُنْفَرِدٌ بِحُزْنِكَ مُهْتَمٌّ بِمَا قَدَّمْتَ وَمَا صِرْتَ إِلَيْهِ.

"Keluargamu akan membagi warisanmu dan menikmati apa yang engkau tinggalkan. Sedangkan ia sendirian dalam kesedihanmu, memikirkan apa yang telah engkau perbuat dan bagaimana keadaanmu sekarang."

يَدْعُو لَكَ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ وَأَنْتَ تَحْتَ أَطْبَاقِ الثَّرَى.

"Ia mendoakanmu di kegelapan malam saat engkau berada di bawah lapisan tanah."

وَكَانَ الْأَخُ الصَّالِحُ يَقْتَدِي بِالْمَلَائِكَةِ إِذْ جَاءَ فِي الْخَبَرِ: إِذَا مَاتَ الْعَبْدُ قَالَ النَّاسُ: مَا خَلَّفَ؟ وَقَالَ الْمَلَائِكَةُ: مَا قَدَّمَ؟

Saudara yang saleh meneladani para malaikat. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat: "Jika seorang hamba wafat, manusia bertanya, 'Apa yang ia tinggalkan?' Dan malaikat bertanya, 'Apa yang telah ia persembahkan?'"

يَفْرَحُونَ لَهُ بِمَا قَدَّمَ وَيَسْأَلُونَ عَنْهُ وَيُشْفِقُونَ عَلَيْهِ.

Mereka bergembira untuknya atas apa yang telah ia persembahkan, bertanya tentangnya, dan mengkhawatirkannya.

وَيُقَالُ: مَنْ بَلَغَهُ مَوْتُ أَخِيهِ فَتَرَحَّمَ عَلَيْهِ وَاسْتَغْفَرَ لَهُ, كُتِبَ لَهُ كَأَنَّهُ شَهِدَ جَنَازَتَهُ وَصَلَّى عَلَيْهِ.

Dikatakan: "Siapa yang mendengar kabar wafat saudaranya, lalu ia mendoakan rahmat dan ampunan untuknya, maka akan dicatat baginya seolah-olah ia menghadiri jenazahnya dan menshalatkannya."

وَرُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَثَلُ الْمَيِّتِ فِي قَبْرِهِ مَثَلُ الْغَرِيقِ يَتَعَلَّقُ بِكُلِّ شَيْءٍ, يَنْتَظِرُ دَعْوَةً مِنْ وَلَدٍ أَوْ وَالِدٍ أَوْ أَخٍ أَوْ قَرِيبٍ.

Diriwayatkan dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم bahwa beliau bersabda, "Perumpamaan mayit di dalam kuburnya adalah seperti orang yang tenggelam yang berpegangan pada apa saja. Ia menanti doa dari anak, orang tua, saudara, atau kerabat."

وَأَنَّهُ لَيَدْخُلُ عَلَى قُبُورِ الْأَمْوَاتِ مِنْ دُعَاءِ الْأَحْيَاءِ مِنَ الْأَنْوَارِ مِثْلُ الْجِبَالِ.

"Dan sesungguhnya, akan masuk ke dalam kuburan orang-orang mati dari doa orang-orang yang hidup, cahaya-cahaya yang laksana gunung."

وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: الدُّعَاءُ لِلْأَمْوَاتِ بِمَنْزِلَةِ الْهَدَايَا لِلْأَحْيَاءِ.

Sebagian salaf berkata: "Doa untuk orang-orang mati adalah laksana hadiah untuk orang-orang yang hidup."

فَيَدْخُلُ الْمَلَكُ عَلَى الْمَيِّتِ وَمَعَهُ طَبَقٌ مِنْ نُورٍ عَلَيْهِ مِنْدِيلٌ مِنْ نُورٍ فَيَقُولُ: هَذِهِ هَدِيَّةٌ لَكَ مِنْ عِنْدِ أَخِيكَ فُلَانٍ, مِنْ عِنْدِ قَرِيبِكَ فُلَانٍ.

"Malaikat akan masuk menemui si mayit sambil membawa nampan dari cahaya yang di atasnya ada sapu tangan dari cahaya, lalu ia berkata: 'Ini adalah hadiah untukmu dari saudaramu si Fulan, dari kerabatmu si Fulan.'"

قَالَ: فَيَفْرَحُ بِذَلِكَ كَمَا يَفْرَحُ الْحَيُّ بِالْهَدِيَّةِ.

"Maka, ia akan bergembira dengan hal itu sebagaimana orang yang hidup bergembira dengan hadiah."

**الْحَقُّ السَّابِعُ: الْوَفَاءُ وَالْإِخْلَاصُ**

**Hak Ketujuh: Kesetiaan dan Keikhlasan**

وَمَعْنَى الْوَفَاءِ الثَّبَاتُ عَلَى الْحُبِّ وَإِدَامَتُهُ إِلَى الْمَوْتِ مَعَهُ, وَبَعْدَ الْمَوْتِ مَعَ أَوْلَادِهِ وَأَصْدِقَائِهِ.

Makna kesetiaan adalah teguh dalam cinta dan melanjutkannya sampai mati bersamanya, dan setelah mati bersama anak-anaknya dan teman-temannya.

فَإِنَّ الْحُبَّ إِنَّمَا يُرَادُ لِلْآخِرَةِ, فَإِنِ انْقَطَعَ قَبْلَ الْمَوْتِ حَبِطَ الْعَمَلُ وَضَاعَ السَّعْيُ.

Karena cinta itu sesungguhnya dicari untuk akhirat. Jika ia terputus sebelum mati, maka amalan akan gugur dan usaha akan sia-sia.

وَلِذَلِكَ قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي السَّبْعَةِ الَّذِينَ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ: وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَى ذَلِكَ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ.

Karena itu, Nabi عليه السلام bersabda tentang tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya: "...dan dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya."

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: قَلِيلُ الْوَفَاءِ بَعْدَ الْوَفَاءِ خَيْرٌ مِنْ كَثِيرِهِ فِي حَالِ الْحَيَاةِ.

Sebagian mereka berkata: "Sedikit kesetiaan setelah wafat lebih baik daripada banyak kesetiaan saat masih hidup."

وَلِذَلِكَ رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْرَمَ عَجُوزًا دَخَلَتْ عَلَيْهِ, فَقِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ.

Karena itu diriwayatkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم memuliakan seorang wanita tua yang masuk menemuinya. Ketika ditanya tentang hal itu.

فَقَالَ: إِنَّهَا كَانَتْ تَأْتِينَا أَيَّامَ خَدِيجَةَ, وَإِنَّ كَرَمَ الْعَهْدِ مِنَ الدِّينِ.

Beliau menjawab, "Ia biasa datang kepada kami di masa Khadijah. Dan sesungguhnya menjaga janji (kesetiaan) adalah bagian dari agama."

فَمِنَ الْوَفَاءِ لِلْأَخِ مُرَاعَاةُ جَمِيعِ أَصْدِقَائِهِ وَأَقَارِبِهِ وَالْمُتَعَلِّقِينَ بِهِ.

Di antara bentuk kesetiaan kepada saudara adalah memperhatikan semua teman-temannya, kerabatnya, dan orang-orang yang terkait dengannya.

وَمُرَاعَاتُهُمْ أَوْقَعُ فِي قَلْبِ الصَّدِيقِ مِنْ مُرَاعَاةِ الْأَخِ فِي نَفْسِهِ.

Dan memperhatikan mereka lebih menyentuh hati sang sahabat daripada memperhatikan dirinya sendiri.

فَإِنَّ فَرَحَهُ بِتَفَقُّدِ مَنْ يَتَعَلَّقُ بِهِ أَكْثَرُ.

Karena kegembiraannya saat orang-orang yang terkait dengannya diperhatikan itu lebih besar.

إِذْ لَا يَدُلُّ عَلَى قُوَّةِ الشَّفَقَةِ وَالْحُبِّ إِلَّا تَعَدِّيهِمَا مِنَ الْمَحْبُوبِ إِلَى كُلِّ مَنْ يَتَعَلَّقُ بِهِ.

Sebab, tidak ada yang menunjukkan kekuatan kasih sayang dan cinta kecuali jika keduanya meluas dari yang dicintai kepada semua yang terkait dengannya.

حَتَّى الْكَلْبُ الَّذِي عَلَى بَابِ دَارِهِ يَنْبَغِي أَنْ يُمَيَّزَ فِي الْقَلْبِ عَنْ سَائِرِ الْكِلَابِ.

Bahkan anjing yang ada di depan pintu rumahnya pun hendaknya dibedakan di dalam hati dari anjing-anjing lainnya.

وَمَهْمَا انْقَطَعَ الْوَفَاءُ بِدَوَامِ الْمَحَبَّةِ شَمَتَ بِهِ الشَّيْطَانُ.

Setiap kali kesetiaan terputus dengan berhentinya cinta, setan akan bersukacita karenanya.

فَإِنَّهُ لَا يَحْسُدُ مُتَعَاوِنَيْنِ عَلَى بِرٍّ كَمَا يَحْسُدُ مُتَوَاخِيَيْنِ فِي اللَّهِ وَمُتَحَابِّينَ فِيهِ.

Karena ia tidak hasad kepada dua orang yang saling menolong dalam kebaikan sebagaimana ia hasad kepada dua orang yang bersaudara dan saling mencintai karena Allah.

فَإِنَّهُ يَجْهَدُ نَفْسَهُ لِإِفْسَادِ مَا بَيْنَهُمَا.

Sebab, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk merusak hubungan di antara mereka.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ}.

Allah Ta'ala berfirman, "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: 'Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.'" (QS. Al-Isra': 53).

وَقَالَ مُخْبِرًا عَنْ يُوسُفَ: {مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي}.

Dan Dia mengabarkan tentang Yusuf: "...setelah setan merusak (hubungan) antara aku dan saudara-saudaraku." (QS. Yusuf: 100).

وَيُقَالُ: مَا تَوَاخَى اثْنَانِ فِي اللَّهِ فَتَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا إِلَّا بِذَنْبٍ يَرْتَكِبُهُ أَحَدُهُمَا.

Dikatakan: "Tidaklah dua orang bersaudara karena Allah lalu mereka berpisah, kecuali karena dosa yang dilakukan oleh salah satunya."

وَكَانَ بِشْرٌ يَقُولُ: إِذَا قَصَّرَ الْعَبْدُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ سَلَبَهُ اللَّهُ مَنْ يُؤْنِسُهُ.

Bisyr berkata: "Jika seorang hamba lalai dalam ketaatan kepada Allah, Allah akan mencabut darinya orang yang menemaninya."

وَذَلِكَ لِأَنَّ الْإِخْوَانَ مَسْلَاةٌ لِلْهُمُومِ وَعَوْنٌ عَلَى الدِّينِ.

Itu karena saudara adalah pelipur lara dan penolong dalam agama.

وَلِذَلِكَ قَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ: أَلَذُّ الْأَشْيَاءِ مُجَالَسَةُ الْإِخْوَانِ وَالِانْقِلَابُ إِلَى كِفَايَةٍ.

Karena itu, Ibnul Mubarak berkata: "Hal yang paling lezat adalah duduk bersama saudara dan kembali dalam keadaan tercukupi."

وَالْمَوَدَّةُ الدَّائِمَةُ هِيَ الَّتِي تَكُونُ فِي اللَّهِ.

Dan kasih sayang yang abadi adalah yang karena Allah.

وَمَا يَكُونُ لِغَرَضٍ يَزُولُ بِزَوَالِ ذَلِكَ الْغَرَضِ.

Adapun yang karena suatu tujuan, ia akan hilang seiring hilangnya tujuan itu.

وَمِنْ ثَمَرَاتِ الْمَوَدَّةِ فِي اللَّهِ أَنْ لَا تَكُونَ مَعَ حَسَدٍ فِي دِينٍ وَدُنْيَا.

Di antara buah kasih sayang karena Allah adalah tidak disertai dengan hasad dalam urusan agama maupun dunia.

وَكَيْفَ يَحْسُدُهُ وَكُلُّ مَا هُوَ لِأَخِيهِ فَإِلَيْهِ تَرْجِعُ فَائِدَتُهُ.

Bagaimana mungkin ia hasad padanya, padahal semua yang dimiliki saudaranya akan kembali manfaatnya kepadanya?

وَبِهِ وَصَفَ اللَّهُ تَعَالَى الْمُحِبِّينَ فِي اللَّهِ تَعَالَى فَقَالَ: {وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ}.

Dengan inilah Allah Ta'ala menyifati orang-orang yang saling mencintai karena Allah. Dia berfirman, "...dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (saudara-saudaranya); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri..." (QS. Al-Hasyr: 9).

وَوُجُودُ الْحَاجَةِ هُوَ الْحَسَدُ.

Dan adanya keinginan (terhadap apa yang dimiliki orang lain) itulah hasad.

وَمِنَ الْوَفَاءِ أَنْ لَا يَتَغَيَّرَ حَالُهُ فِي التَّوَاضُعِ مَعَ أَخِيهِ وَإِنِ ارْتَفَعَ شَأْنُهُ وَاتَّسَعَتْ وِلَايَتُهُ وَعَظُمَ جَاهُهُ.

Di antara bentuk kesetiaan adalah tidak berubah sikap rendah hatinya kepada saudaranya meskipun kedudukannya naik, kekuasaannya meluas, dan jabatannya menjadi besar.

فَالتَّرَفُّعُ عَلَى الْإِخْوَانِ بِمَا يَتَجَدَّدُ مِنَ الْأَحْوَالِ لُؤْمٌ.

Menyombongkan diri di hadapan saudara karena keadaan yang baru adalah kehinaan.

قَالَ الشَّاعِرُ:

إِنَّ الْكِرَامَ إِذَا مَا أَيْسَرُوا ذَكَرُوا … مَنْ كَانَ يَأْلِفُهُمْ فِي الْمَنْزِلِ الْخَشِنِ

Seorang penyair berkata: "Sesungguhnya orang-orang mulia, jika mereka menjadi kaya, mereka akan mengingat... orang yang dulu akrab dengan mereka di rumah yang sederhana."

وَأَوْصَى بَعْضُ السَّلَفِ ابْنَهُ فَقَالَ: يَا بُنَيَّ, لَا تَصْحَبْ مِنَ النَّاسِ إِلَّا مَنْ إِذَا افْتَقَرْتَ إِلَيْهِ قَرُبَ مِنْكَ, وَإِنِ اسْتَغْنَيْتَ عَنْهُ لَمْ يَطْمَعْ فِيكَ, وَإِنْ عَلَتْ مَرْتَبَتُهُ لَمْ يَرْتَفِعْ عَلَيْكَ.

Sebagian salaf berwasiat kepada putranya: "Wahai anakku, jangan bersahabat dengan siapa pun kecuali orang yang jika engkau membutuhkannya, ia mendekat kepadamu. Jika engkau tidak butuh padanya, ia tidak tamak padamu. Dan jika kedudukannya naik, ia tidak sombong kepadamu."

وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: إِذَا وَلِيَ أَخُوكَ وِلَايَةً فَثَبَتَ عَلَى نِصْفِ مَوَدَّتِهِ لَكَ فَهُوَ كَثِيرٌ.

Sebagian ahli hikmah berkata: "Jika saudaramu mendapat jabatan, lalu ia tetap mempertahankan separuh kasih sayangnya kepadamu, maka itu sudah banyak."

وَحَكَى الرَّبِيعُ أَنَّ الشَّافِعِيَّ رَحِمَهُ اللَّهُ آخَى رَجُلًا بِبَغْدَادَ.

Ar-Rabi' menceritakan bahwa Asy-Syafi'i rahimahullah mempersaudarakan seseorang di Baghdad.

ثُمَّ إِنَّ أَخَاهُ وَلِيَ السِّيبَيْنِ فَتَغَيَّرَ لَهُ عَمَّا كَانَ عَلَيْهِ.

Kemudian saudaranya itu diangkat menjadi gubernur As-Sibain, lalu sikapnya berubah.

فَكَتَبَ إِلَيْهِ الشَّافِعِيُّ بِهَذِهِ الْأَبْيَاتِ:

اذْهَبْ فَوُدُّكَ مِنْ فُؤَادِي طَالِقٌ … أَبَدًا وَلَيْسَ طَلَاقَ ذَاتِ الْبَيْنِ

فَإِنِ ارْعَوَيْتَ فَإِنَّهَا تَطْلِيقَةٌ … وَيَدُومُ وُدُّكَ لِي عَلَى ثِنْتَيْنِ

وَإِنِ امْتَنَعْتَ شَفَعْتُهَا بِمِثَالِهَا … فَتَكُونُ تَطْلِيقَيْنِ فِي حَيْضَيْنِ

وَإِذَا الثَّلَاثُ أَتَتْكَ مِنِّي بَتَّةً … لَمْ تُغْنِ عَنْكَ وَلَايَةُ السِّيبَيْنِ

Asy-Syafi'i menuliskan syair ini kepadanya: "Pergilah, kasih sayangmu dari hatiku telah tertalak... selamanya, dan ini bukan talak yang biasa. Jika engkau sadar, maka ini baru talak satu... dan kasih sayangmu padaku akan bertahan di atas dua (kesempatan). Jika engkau menolak, akan kuikuti dengan yang semisalnya... maka jadilah dua talak dalam dua masa. Dan jika talak tiga datang darimu, maka... jabatan gubernur As-Sibain tidak akan memberimu manfaat."

وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْوَفَاءِ مُوَافَقَةُ الْأَخِ فِيمَا يُخَالِفُ الْحَقَّ فِي أَمْرٍ يَتَعَلَّقُ بِالدِّينِ.

Ketahuilah bahwa bukan termasuk kesetiaan menyetujui saudara dalam hal yang bertentangan dengan kebenaran dalam urusan agama.

بَلِ الْوَفَاءُ لَهُ الْمُخَالَفَةُ.

Bahkan, kesetiaan kepadanya adalah dengan menentangnya.

فَقَدْ كَانَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ آخَى مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ الْحَكَمِ وَكَانَ يُقَرِّبُهُ وَيُقْبِلُ عَلَيْهِ وَيَقُولُ: مَا يُقِيمُنِي بِمِصْرَ غَيْرُهُ.

Asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu mempersaudarakan Muhammad bin Abdul Hakam. Beliau mendekatkannya, menyayanginya, dan berkata, "Tidak ada yang membuatku tinggal di Mesir selain dia."

فَاعْتَلَّ مُحَمَّدٌ فَعَادَهُ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى فَقَالَ:

مَرِضَ الْحَبِيبُ فَعُدْتُهُ … فَمَرِضْتُ مِنْ حَذَرِي عَلَيْهِ

وَأَتَى الْحَبِيبُ يَعُودُنِي … فَبَرِئْتُ مِنْ نَظَرِي إِلَيْهِ

Lalu Muhammad sakit, dan Asy-Syafi'i rahimahullah menjenguknya, seraya berkata: "Kekasih sakit, lalu aku menjenguknya... lalu aku pun sakit karena khawatir padanya. Lalu kekasih datang menjengukku... maka aku pun sembuh karena melihatnya."

وَظَنَّ النَّاسُ لِصِدْقِ مَوَدَّتِهِمَا أَنَّهُ سَيُفَوِّضُ أَمْرَ حَلْقَتِهِ إِلَيْهِ بَعْدَ وَفَاتِهِ.

Orang-orang mengira karena tulusnya kasih sayang keduanya, bahwa beliau akan menyerahkan urusan majelis ilmunya kepadanya setelah wafat.

فَقِيلَ لِلشَّافِعِيِّ فِي عِلَّتِهِ الَّتِي مَاتَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: إِلَى مَنْ نَجْلِسُ بَعْدَكَ يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ؟

Lalu ditanyakan kepada Asy-Syafi'i saat beliau sakit menjelang wafat: "Kepada siapa kami akan duduk (belajar) setelahmu, wahai Abu Abdillah?"

فَاسْتَشْرَفَ لَهُ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْحَكَمِ وَهُوَ عِنْدَ رَأْسِهِ لِيُومِئَ إِلَيْهِ.

Muhammad bin Abdul Hakam, yang berada di dekat kepalanya, menengadah berharap agar beliau menunjuknya.

فَقَالَ الشَّافِعِيُّ: سُبْحَانَ اللَّهِ, أَيُشَكُّ فِي هَذَا؟ أَبُو يَعْقُوبَ الْبُوَيْطِيُّ.

Asy-Syafi'i berkata, "Subhanallah, apakah ini masih diragukan? Abu Ya'qub Al-Buwaithi."

فَانْكَسَرَ لَهَا مُحَمَّدٌ وَمَالَ أَصْحَابُهُ إِلَى الْبُوَيْطِيِّ.

Maka patah hatilah Muhammad, dan para muridnya pun beralih kepada Al-Buwaithi.

مَعَ أَنَّ مُحَمَّدًا كَانَ قَدْ حَمَلَ عَنْهُ مَذْهَبَهُ كُلَّهُ, لَكِنْ كَانَ الْبُوَيْطِيُّ أَفْضَلَ وَأَقْرَبَ إِلَى الزُّهْدِ وَالْوَرَعِ.

Padahal Muhammad telah menguasai seluruh mazhabnya, tetapi Al-Buwaithi lebih utama dan lebih dekat kepada zuhud dan wara'.

فَنَصَحَ الشَّافِعِيُّ لِلَّهِ وَلِلْمُسْلِمِينَ وَتَرَكَ الْمُدَاهَنَةَ وَلَمْ يُؤْثِرْ رِضَا الْخَلْقِ عَلَى رِضَا اللَّهِ تَعَالَى.

Maka Asy-Syafi'i menasihati karena Allah dan untuk kaum muslimin, meninggalkan kompromi, dan tidak mendahulukan rida makhluk di atas rida Allah Ta'ala.

فَلَمَّا تُوُفِّيَ انْقَلَبَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْحَكَمِ عَنْ مَذْهَبِهِ وَرَجَعَ إِلَى مَذْهَبِ أَبِيهِ وَدَرَسَ كُتُبَ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللَّهُ.

Setelah Asy-Syafi'i wafat, Muhammad bin Abdul Hakam berpaling dari mazhabnya, kembali ke mazhab ayahnya, dan mempelajari kitab-kitab Imam Malik rahimahullah.

وَهُوَ مِنْ كِبَارِ أَصْحَابِ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللَّهُ.

Dan ia adalah salah satu murid senior Imam Malik rahimahullah.

وَآثَرَ الْبُوَيْطِيُّ الزُّهْدَ وَالْخُمُولَ وَلَمْ يُعْجِبْهُ الْجَمْعُ وَالْجُلُوسُ فِي الْحَلْقَةِ وَاشْتَغَلَ بِالْعِبَادَةِ.

Al-Buwaithi lebih memilih zuhud dan tidak terkenal, tidak suka keramaian dan duduk di majelis ilmu, dan sibuk dengan ibadah.

وَصَنَّفَ كِتَابَ الْأُمِّ الَّذِي يُنْسَبُ الْآنَ إِلَى الرَّبِيعِ بْنِ سُلَيْمَانَ وَيُعْرَفُ بِهِ.

Beliau menyusun kitab Al-Umm yang sekarang dinisbatkan kepada Ar-Rabi' bin Sulaiman dan dikenal dengan namanya.

وَإِنَّمَا صَنَّفَهُ الْبُوَيْطِيُّ وَلَكِنْ لَمْ يَذْكُرْ نَفْسَهُ فِيهِ وَلَمْ يَنْسِبْهُ إِلَى نَفْسِهِ.

Sebenarnya yang menyusunnya adalah Al-Buwaithi, tetapi ia tidak menyebutkan namanya dan tidak menisbatkannya pada dirinya.

فَزَادَ الرَّبِيعُ فِيهِ وَتَصَرَّفَ وَأَظْهَرَهُ.

Lalu Ar-Rabi' menambahinya, mengubahnya, dan mempublikasikannya.

وَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْوَفَاءَ بِالْمَحَبَّةِ مِنْ تَمَامِهَا النُّصْحُ لِلَّهِ.

Intinya adalah, kesetiaan dalam cinta, kesempurnaannya adalah dengan menasihati karena Allah.

قَالَ الْأَحْنَفُ: الْإِخَاءُ جَوْهَرَةٌ رَقِيقَةٌ إِنْ لَمْ تَحْرُسْهَا كَانَتْ مُعَرَّضَةً لِلْآفَاتِ.

Al-Ahnaf berkata: "Persaudaraan adalah permata yang rapuh. Jika engkau tidak menjaganya, ia akan rentan terhadap bencana."

فَاحْرُسْهَا بِالْكَظْمِ حَتَّى تَعْتَذِرَ إِلَى مَنْ ظَلَمَكَ, وَبِالرِّضَا حَتَّى لَا تَسْتَكْثِرَ مِنْ نَفْسِكَ الْفَضْلَ وَلَا مِنْ أَخِيكَ التَّقْصِيرَ.

"Maka jagalah ia dengan menahan amarah sampai engkau meminta maaf kepada orang yang menzalimimu, dan dengan kerelaan sampai engkau tidak merasa dirimu lebih utama dan tidak merasa saudaramu lalai."

وَمِنْ آثَارِ الصِّدْقِ وَالْإِخْلَاصِ وَتَمَامِ الْوَفَاءِ أَنْ تَكُونَ شَدِيدَ الْجَزَعِ مِنَ الْمُفَارَقَةِ, نَفُورَ الطَّبْعِ عَنْ أَسْبَابِهَا.

Di antara tanda kejujuran, keikhlasan, dan kesempurnaan kesetiaan adalah engkau sangat berduka karena perpisahan, dan tabiatmu menjauhi sebab-sebabnya.

كَمَا قِيلَ:

وَجَدْتُ مُصِيبَاتِ الزَّمَانِ جَمِيعَهَا … سِوَى فُرْقَةِ الْأَحْبَابِ هَيِّنَةَ الْخَطْبِ

Seperti yang dikatakan: "Kudapati semua musibah zaman ini... selain perpisahan dengan kekasih, adalah urusan yang ringan."

وَأَنْشَدَ ابْنُ عُيَيْنَةَ هَذَا الْبَيْتَ وَقَالَ: لَقَدْ عَهِدْتُ أَقْوَامًا فَارَقْتُهُمْ مُنْذُ ثَلَاثِينَ سَنَةً, مَا يُخَيَّلُ إِلَيَّ أَنَّ حَسْرَتَهُمْ ذَهَبَتْ مِنْ قَلْبِي.

Ibnu 'Uyainah melantunkan bait ini dan berkata: "Aku pernah mengenal sekelompok orang yang telah berpisah dariku sejak tiga puluh tahun lalu. Aku tidak merasa penyesalan atas perpisahan mereka telah hilang dari hatiku."

وَمِنَ الْوَفَاءِ أَنْ لَا يَسْمَعَ بَلَاغَاتِ النَّاسِ عَلَى صَدِيقِهِ.

Di antara bentuk kesetiaan adalah tidak mendengarkan laporan orang lain tentang temannya.

لَاسِيَّمَا مَنْ يُظْهِرُ أَوَّلًا أَنَّهُ مُحِبٌّ لِصَدِيقِهِ كَيْلَا يُتَّهَمَ, ثُمَّ يُلْقِي الْكَلَامَ عَرْضًا وَيَنْقُلُ عَنِ الصَّدِيقِ مَا يُوغِرُ الْقَلْبَ.

Terutama dari orang yang awalnya menunjukkan bahwa ia mencintai temannya agar tidak dicurigai, kemudian ia melemparkan ucapan sambil lalu dan menukilkan dari sang teman apa yang memanaskan hati.

فَذَلِكَ مِنْ دَقَائِقِ الْحِيَلِ فِي التَّضْرِيبِ.

Itu adalah salah satu tipu daya halus dalam mengadu domba.

وَمَنْ لَمْ يَحْتَرِزْ مِنْهُ لَمْ تَدُمْ مَوَدَّتُهُ أَصْلًا.

Dan siapa yang tidak berhati-hati darinya, kasih sayangnya tidak akan bertahan lama.

قَالَ وَاحِدٌ لِحَكِيمٍ: قَدْ جِئْتُ خَاطِبًا لِمَوَدَّتِكَ.

Seseorang berkata kepada seorang bijak: "Aku datang untuk melamar kasih sayangmu."

قَالَ: إِنْ جَعَلْتَ مَهْرَهَا ثَلَاثًا فَعَلْتُ. قَالَ: وَمَا هِيَ؟

Orang bijak itu berkata, "Jika engkau menjadikan maharnya tiga hal, aku akan melakukannya." Ia bertanya, "Apa itu?"

قَالَ: لَا تَسْمَعْ عَلَيَّ بَلَاغَةً, وَلَا تُخَالِفْنِي فِي أَمْرٍ, وَلَا تَوَطِّئْنِي عَشْوَةً.

Ia menjawab, "Jangan mendengarkan laporan tentangku, jangan menentangku dalam suatu urusan, dan jangan membuatku berjalan dalam kegelapan (ketidaktahuan)."

وَمِنَ الْوَفَاءِ أَنْ لَا يُصَادِقَ عَدُوَّ صَدِيقِهِ.

Di antara bentuk kesetiaan adalah tidak berteman dengan musuh temannya.