Keutamaan Keakraban Dan Persaudaraan (1)

الْبَابُ الْأَوَّلُ فِي فَضِيلَةِ الْأُلْفَةِ وَالْأُخُوَّةِ، وَفِي شُرُوطِهَا وَدَرَجَاتِهَا وَفَوَائِدِهَا. فَضِيلَةُ الْأُلْفَةِ وَالْأُخُوَّةِ.

Bab pertama tentang keutamaan keakraban dan persaudaraan, beserta syarat, tingkatan, dan manfaatnya. Ini adalah pembahasan tentang keutamaan keakraban dan persaudaraan.

اعْلَمْ أَنَّ الْأُلْفَةَ ثَمَرَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ، وَالتَّفَرُّقَ ثَمَرَةُ سُوءِ الْخُلُقِ. فَحُسْنُ الْخُلُقِ يُوجِبُ التَّحَابَّ وَالتَّآلُفَ وَالتَّوَافُقَ، وَسُوءُ الْخُلُقِ يُثْمِرُ التَّبَاغُضَ وَالتَّحَاسُدَ وَالتَّدَابُرَ.

Ketahuilah, bahwa keakraban adalah buah dari akhlak yang baik. Adapun perpecahan adalah buah dari akhlak yang buruk. Akhlak yang baik menimbulkan saling mencintai, keakraban, dan keserasian. Sedangkan akhlak yang buruk menimbulkan saling membenci, dengki, dan saling menjauh.

وَمَهْمَا كَانَ الْمُثْمِرُ مَحْمُودًا كَانَتِ الثَّمَرَةُ مَحْمُودَةً. وَحُسْنُ الْخُلُقِ لَا تَخْفَى فِي الدِّينِ فَضِيلَتُهُ.

Apa pun yang menghasilkan kebaikan, maka buahnya juga baik. Keutamaan akhlak yang baik dalam agama itu jelas dan tidak tersembunyi.

وَهُوَ الَّذِي مَدَحَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ بِهِ نَبِيَّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، إِذْ قَالَ: {وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ}.

Itulah sifat yang dengannya Allah memuji Nabi-Nya, yaitu ketika Dia berfirman: “Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung.”

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Hal yang paling banyak memasukkan manusia ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.”

وَقَالَ: خَيْرُ مَا أُعْطِيَ الْإِنْسَانُ خُلُقٌ حَسَنٌ. وَقَالَ: بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَحَاسِنَ الْأَخْلَاقِ. وَقَالَ: أَثْقَلُ مَا يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ خُلُقٌ حَسَنٌ.

Beliau juga bersabda: “Sebaik-baik pemberian kepada manusia adalah akhlak yang baik.” Dan beliau bersabda: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Beliau juga bersabda: “Hal yang paling berat dalam timbangan adalah akhlak yang baik.”

وَقَالَ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، عَلَيْكَ بِحُسْنِ الْخُلُقِ. قَالَ: وَمَا حُسْنُ الْخُلُقِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: تَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ، وَتَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ، وَتُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ.

Beliau bersabda: “Wahai Abu Hurairah, hendaklah engkau berakhlak baik.” Abu Hurairah bertanya: “Apa itu akhlak yang baik, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Engkau menyambung hubungan dengan orang yang memutusmu, memaafkan orang yang menzalimimu, dan memberi kepada orang yang tidak memberimu.”

وَلَا يَخْفَى أَنَّ ثَمَرَةَ الْخُلُقِ الْحَسَنِ هِيَ الْأُلْفَةُ وَانْقِطَاعُ الْوَحْشَةِ. وَمَهْمَا طَابَ الْمُثْمِرُ طَابَتِ الثَّمَرَةُ.

Tidak tersembunyi bahwa buah akhlak yang baik adalah keakraban dan hilangnya rasa asing. Semakin baik yang menghasilkan, semakin baik pula buahnya.

وَكَيْفَ لَا وَقَدْ وَرَدَ فِي الثَّنَاءِ عَلَى نَفْسِ الْأُلْفَةِ، سِيَّمَا إِذَا كَانَتِ الرَّابِطَةُ هِيَ التَّقْوَى وَالدِّينُ وَحُبُّ اللَّهِ، مَا فِيهِ كِفَايَةٌ وَمَقْنَعٌ.

Bagaimana tidak, padahal banyak sekali ayat, hadis, dan atsar yang memuji keakraban itu sendiri, terlebih bila pengikatnya adalah takwa, agama, dan cinta kepada Allah.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ}. وَقَالَ: {فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا}. ثُمَّ ذَمَّ التَّفْرِقَةَ وَنَهَى عَنْهَا فَقَالَ: {وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا}.

Allah Ta‘ala berfirman: “Sekiranya engkau menginfakkan semua yang ada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah-lah yang mempersatukan mereka.” Dan Dia berfirman: “Maka dengan nikmat-Nya kamu menjadi saudara.” Lalu Dia mencela perpecahan dan melarangnya dengan firman-Nya: “Berpegangteguhlah kalian semuanya pada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.”

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَقْرَبَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا، الْمُوَطَّأُونَ أَكْنَافًا، الَّذِينَ يَأْلَفُونَ وَيُؤْلَفُونَ.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Orang yang paling dekat majelisnya denganku adalah yang paling baik akhlaknya, yang lembut, yang mudah bergaul, yang mencintai dan dicintai.”

وَقَالَ: الْمُؤْمِنُ آلِفٌ مَأْلُوفٌ، وَلَا خَيْرَ فِي مَنْ لَا يَأْلَفُ وَلَا يُؤْلَفُ.

Beliau juga bersabda: “Orang mukmin itu ramah dan disenangi; tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bisa bergaul dan tidak bisa digauli.”

وَقَالَ: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا رَزَقَهُ أَخًا صَالِحًا، إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ.

Dan beliau bersabda: “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia memberinya seorang saudara yang saleh; bila ia lupa, saudaranya mengingatkannya, dan bila ia ingat, saudaranya membantunya.”

وَقَالَ: مِثْلُ الْأَخَوَيْنِ إِذَا الْتَقَيَا مِثْلُ الْيَدَيْنِ، تَغْسِلُ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى.

Beliau juga bersabda: “Perumpamaan dua saudara bila bertemu seperti dua tangan; yang satu membasuh yang lain.”

وَقَالَ: مَنْ آخَى أَخًا فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، رَفَعَهُ اللَّهُ دَرَجَةً فِي الْجَنَّةِ لَا يَنَالُهَا بِشَيْءٍ مِنْ عَمَلِهِ.

Beliau juga bersabda: “Siapa yang menjadikan seseorang sebagai saudara karena Allah, Allah akan mengangkatnya satu derajat di surga yang tidak dapat ia raih dengan amalnya sendiri.”

وَقَالَ أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيُّ لِمُعَاذٍ: إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللَّهِ. فَقَالَ: أَبْشِرْ ثُمَّ أَبْشِرْ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ الْمُتَحَابِّينَ بِجَلَالِ اللَّهِ فِي ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ.

Abu Idris al-Khaulani berkata kepada Mu‘adz: “Aku mencintaimu karena Allah.” Maka Mu‘adz menjawab: “Bergembiralah, lalu bergembiralah lagi. Aku pernah mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: ‘Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai karena keagungan Allah berada di bawah naungan ‘Arsy-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya.’”

وَقَالَ: إِنَّ الْمُتَحَابِّينَ فِي اللَّهِ لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُورٍ، يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ.

Beliau juga bersabda: “Orang-orang yang saling mencintai karena Allah memiliki mimbar-mimbar dari cahaya. Para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka.”

وَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي؟ الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي.

Beliau juga bersabda: “Allah Ta‘ala berfirman pada hari kiamat: ‘Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku menaungi mereka di bawah naungan-Ku.’”

وَقَالَ: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، وَمِنْهُمْ رَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ.

Beliau bersabda: “Ada tujuh golongan yang Allah naungi pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. Di antaranya adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka bertemu karena itu dan berpisah karena itu.”

وَقَالَ: مَا زَارَ رَجُلٌ رَجُلًا فِي اللَّهِ شَوْقًا إِلَيْهِ وَرَغْبَةً فِي لِقَائِهِ، إِلَّا نَادَاهُ مَلَكٌ: طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ، وَطِبْتَ وَطَابَتْ لَكَ الْجَنَّةُ.

Beliau juga bersabda: “Tidaklah seseorang menziarahi saudaranya karena Allah, karena rindu kepadanya dan ingin bertemu dengannya, melainkan malaikat memanggilnya: ‘Engkau telah baik, langkahmu juga baik, dan surga pun baik untukmu.’”

وَقَالَ: إِنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي اللَّهِ، فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ مَلَكًا، فَقَالَ لَهُ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ قَالَ: أُرِيدُ أَنْ أَزُورَ أَخِي فُلَانًا. قَالَ: أَلَكَ عَلَيْهِ نِعْمَةٌ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: أَلَكَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ قَرَابَةٌ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: فَبِمَ؟ قَالَ: أُحِبُّهُ فِي اللَّهِ. قَالَ: فَإِنَّ اللَّهَ أَرْسَلَنِي إِلَيْكَ يُخْبِرُكَ أَنَّهُ يُحِبُّكَ لِحُبِّكَ إِيَّاهُ، وَقَدْ أَوْجَبَ لَكَ الْجَنَّةَ.

Beliau juga bersabda: “Ada seorang lelaki menziarahi saudaranya karena Allah. Maka Allah menugaskan seorang malaikat kepadanya. Malaikat itu bertanya: ‘Ke mana engkau hendak pergi?’ Ia menjawab: ‘Aku hendak mengunjungi saudaraku, si Fulan.’ Malaikat itu bertanya: ‘Apakah ada manfaat yang ia berikan kepadamu?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Malaikat itu bertanya lagi: ‘Apakah ada hubungan kerabat antara engkau dan dia?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Malaikat itu bertanya: ‘Kalau begitu, karena apa?’ Ia menjawab: ‘Aku mencintainya karena Allah.’ Maka malaikat berkata: ‘Sesungguhnya Allah mengutusku kepadamu untuk mengabarkan bahwa Dia mencintaimu karena kecintaanmu kepadanya, dan Dia telah mewajibkan surga untukmu.’”

وَقَالَ: أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ الْحُبُّ فِي اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِي اللَّهِ.

Beliau juga bersabda: “Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.”

فَلِهٰذَا يَجِبُ أَنْ يَكُونَ لِلرَّجُلِ أَعْدَاءٌ يُبْغِضُهُمْ فِي اللَّهِ، كَمَا يَكُونُ لَهُ أَصْدِقَاءُ وَإِخْوَانٌ يُحِبُّهُمْ فِي اللَّهِ.

Karena itu, seseorang semestinya memiliki musuh yang ia benci karena Allah, sebagaimana ia memiliki kawan dan saudara yang ia cintai karena Allah.

وَيُرْوَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْحَى إِلَى نَبِيٍّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ: أَمَّا زُهْدُكَ فِي الدُّنْيَا فَقَدْ تَعَجَّلْتَ الرَّاحَةَ، وَأَمَّا انْقِطَاعُكَ إِلَيَّ فَقَدِ اعْتَزَزْتَ بِي، وَلٰكِنْ هَلْ عَادَيْتَ لِي عَدُوًّا؟ أَوْ هَلْ وَالَيْتَ لِي وَلِيًّا؟

Diriwayatkan bahwa Allah mewahyukan kepada seorang nabi: “Adapun kezuhudanmu terhadap dunia, engkau telah mempercepat ketenangan. Adapun keterikatanmu kepada-Ku, engkau telah dimuliakan dengan-Ku. Tetapi apakah engkau memusuhi seseorang karena Aku? Atau apakah engkau memihak seseorang karena Aku?”

وَقَالَ: اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ لِفَاجِرٍ عَلَيَّ مَنَّةً فَتَرْزُقَهُ مِنِّي مَحَبَّةً.

Dan beliau berdoa: “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan orang fasik punya jasa atas diriku, sehingga Engkau memberinya kecintaan dariku.”

وَيُرْوَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْحَى إِلَى عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: لَوْ أَنَّكَ عَبَدْتَنِي بِعِبَادَةِ أَهْلِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَحُبٌّ فِي اللَّهِ لَيْسَ، وَبُغْضٌ فِي اللَّهِ لَيْسَ، مَا أَغْنَى ذَلِكَ عَنْكَ شَيْئًا.

Diriwayatkan pula bahwa Allah mewahyukan kepada Isa عليه السلام: “Seandainya engkau menyembah-Ku dengan ibadah seluruh penduduk langit dan bumi, tetapi tidak ada cinta karena Allah dan tidak ada benci karena Allah, itu tidak akan memberi manfaat apa pun bagimu.”

وَقَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: تَحَبَّبُوا إِلَى اللَّهِ بِبُغْضِ أَهْلِ الْمَعَاصِي، وَتَقَرَّبُوا إِلَى اللَّهِ بِالتَّبَاعُدِ مِنْهُمْ، وَالْتَمِسُوا رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِهِمْ.

Isa عليه السلام berkata: “Carilah kecintaan Allah dengan membenci para pelaku maksiat. Dekatlah kepada Allah dengan menjauh dari mereka. Carilah ridha Allah dengan membuat mereka murka.”

قِيلَ: يَا رُوحَ اللَّهِ، فَمَنْ نُجَالِسُ؟ قَالَ: جَالِسُوا مَنْ يُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ رُؤْيَتُهُ، وَيَزِيدُ فِي عَمَلِكُمْ كَلَامُهُ، وَيُرْهِبُكُمْ فِي الْآخِرَةِ عَمَلُهُ.

Ditanyakan: “Wahai Ruh Allah, lalu kami harus duduk bersama siapa?” Beliau menjawab: “Duduklah bersama orang yang jika kamu melihatnya, kamu teringat kepada Allah; jika ia berbicara, amalmu bertambah; dan jika amalnya dilihat, ia membuatmu takut kepada akhirat.”

وَفِي الْأَخْبَارِ السَّالِفَةِ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَوْحَى إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: يَا ابْنَ عِمْرَانَ، كُنْ يَقِظَانَ، وَارْتَدِ لِنَفْسِكَ إِخْوَانًا، وَكُلَّ خَدِينٍ وَصَاحِبٍ لَا يُوَازِرُكَ عَلَى مَسَرَّتِي فَهُوَ لَكَ عَدُوٌّ.

Dalam berita-berita terdahulu disebutkan bahwa Allah عز وجل mewahyukan kepada Musa عليه السلام: “Wahai putra Imran, waspadalah, dan pilihlah untuk dirimu saudara-saudara. Setiap sahabat dan kawan yang tidak membantumu dalam perkara yang Aku ridai, maka ia adalah musuh bagimu.”

وَأَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَى دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ: يَا دَاوُدُ، مَالِي أَرَاكَ مُنْتَبِذًا وَحِيدًا؟ قَالَ: إِلٰهِي، قَلِيتُ الْخَلْقَ مِنْ أَجْلِكَ. فَقَالَ: يَا دَاوُدُ، كُنْ يَقِظَانَ، وَارْتَدِ لِنَفْسِكَ أَخْدَانًا، وَكُلَّ خَدِينٍ لَا يُوَافِقُكَ عَلَى مَسَرَّتِي فَلَا تُصَاحِبْهُ، فَإِنَّهُ لَكَ عَدُوٌّ يُقَسِّي قَلْبَكَ وَيُبَاعِدُكَ مِنِّي.

Allah Ta‘ala juga mewahyukan kepada Dawud عليه السلام dan berfirman: “Wahai Dawud, mengapa Aku melihatmu menyendiri?” Ia menjawab: “Tuhanku, aku menjauh dari manusia demi-Mu.” Maka Allah berfirman: “Wahai Dawud, waspadalah, dan pilihlah untuk dirimu sahabat-sahabat. Setiap sahabat yang tidak sejalan dengan keridhaan-Ku, jangan engkau jadikan teman; karena ia adalah musuh bagimu, yang mengeraskan hatimu dan menjauhkanmu dari-Ku.”

وَفِي أَخْبَارِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ: يَا رَبِّ، كَيْفَ لِي أَنْ يُحِبَّنِيَ النَّاسُ كُلُّهُمْ، وَأَسْلَمَ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَكَ؟ فَقَالَ: خَالِقِ النَّاسَ بِأَخْلَاقِهِمْ، وَأَحْسِنْ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَكَ.

Dalam kisah Dawud عليه السلام disebutkan bahwa ia berkata: “Wahai Tuhanku, bagaimana agar semua manusia mencintaiku, sementara aku selamat dalam urusanku dengan-Mu?” Maka Allah berfirman: “Bergaullah dengan manusia sesuai akhlak mereka, dan perbaikilah urusan antara Aku dan engkau.”

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَحَبَّكُمْ إِلَى اللَّهِ الَّذِينَ يَأْلَفُونَ وَيُؤْلَفُونَ، وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَى اللَّهِ الْمَشَّاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ، الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah di antara kalian adalah yang mudah bergaul dan disenangi. Dan sesungguhnya yang paling dibenci Allah di antara kalian adalah para pengadu domba yang memecah-belah saudara.”

وَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ مَلَكًا نِصْفُهُ مِنَ النَّارِ وَنِصْفُهُ مِنَ الثَّلْجِ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ الثَّلْجِ وَالنَّارِ، كَذَلِكَ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.

Beliau juga bersabda: “Allah menciptakan seorang malaikat, separuhnya dari api dan separuhnya dari salju. Ia berdoa: ‘Ya Allah, sebagaimana Engkau telah mempersatukan antara salju dan api, demikian pula satukanlah hati hamba-hamba-Mu yang saleh.’”

وَقَالَ أَيْضًا: مَا أَحْدَثَ عَبْدٌ أَخًا فِي اللَّهِ إِلَّا أَحْدَثَ اللَّهُ لَهُ دَرَجَةً فِي الْجَنَّةِ.

Beliau juga bersabda: “Tidaklah seorang hamba mengambil saudara karena Allah, kecuali Allah menambahkan baginya satu derajat di surga.”

وَقَالَ: الْمُتَحَابُّونَ فِي اللَّهِ عَلَى عُمُودٍ مِنْ يَاقُوتَةٍ حَمْرَاءَ، فِي رَأْسِ الْعُمُودِ سَبْعُونَ أَلْفَ غُرْفَةٍ، يَشْرِفُونَ عَلَى أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَيُضِيءُ حُسْنُهُمْ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ كَمَا تُضِيءُ الشَّمْسُ لِأَهْلِ الدُّنْيَا. وَعَلَيْهِمْ ثِيَابُ سُنْدُسٍ خُضْرٌ، مَكْتُوبٌ عَلَى جِبَاهِهِمْ: الْمُتَحَابُّونَ فِي اللَّهِ.

Beliau juga bersabda: “Orang-orang yang saling mencintai karena Allah berada di atas tiang dari yakut merah. Di puncak tiang itu ada tujuh puluh ribu kamar. Mereka mengawasi penghuni surga. Kecantikan mereka menerangi penghuni surga sebagaimana matahari menerangi penduduk dunia. Pakaian mereka dari sutra hijau, dan pada dahi mereka tertulis: orang-orang yang saling mencintai karena Allah.”

وَأَثَرَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: عَلَيْكُمْ بِالْإِخْوَانِ، فَإِنَّهُمْ عِدَّةٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

Diriwayatkan dari Ali رضي الله عنه: “Hendaklah kalian memperhatikan saudara-saudara, karena mereka adalah bekal di dunia dan di akhirat.”

وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: وَاللَّهِ لَوْ صُمْتُ النَّهَارَ فَلَا أُفْطِرُهُ، وَقُمْتُ اللَّيْلَ فَلَا أَنَامُهُ، وَأَنْفَقْتُ مَالِي غَلْقًا غَلْقًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، ثُمَّ مُتُّ وَلَيْسَ فِي قَلْبِي حُبٌّ لِأَهْلِ طَاعَةِ اللَّهِ وَبُغْضٌ لِأَهْلِ مَعْصِيَةِ اللَّهِ، مَا نَفَعَنِي ذَلِكَ شَيْئًا.

Ibnu Umar رضي الله عنهما berkata: “Demi Allah, seandainya aku berpuasa siang hari tanpa berbuka, berdiri malam tanpa tidur, dan menginfakkan hartaku seluruhnya di jalan Allah, lalu aku mati sementara di hatiku tidak ada cinta kepada orang taat kepada Allah dan tidak ada benci kepada orang yang bermaksiat kepada Allah, niscaya itu tidak bermanfaat bagiku sedikit pun.”

وَقَالَ ابْنُ السَّمَّاكِ عِنْدَ مَوْتِهِ: اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي إِذَا كُنْتُ أَعْصِيكَ كُنْتُ أُحِبُّ مَنْ يُطِيعُكَ، فَاجْعَلْ ذَلِكَ قُرْبَةً لِي إِلَيْكَ.

Ibn as-Sammak ketika menjelang wafat berkata: “Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa ketika aku bermaksiat kepada-Mu, aku tetap mencintai orang yang taat kepada-Mu. Maka jadikanlah itu sebagai sarana kedekatanku kepada-Mu.”

وَقَالَ الْحَسَنُ: يَا ابْنَ آدَمَ، لَا يَغُرَّنَّكَ قَوْلُ مَنْ يَقُولُ: الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ. فَإِنَّكَ لَنْ تَلْحَقَ الْأَبْرَارَ إِلَّا بِأَعْمَالِهِمْ. فَإِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُحِبُّونَ أَنْبِيَاءَهُمْ وَلَيْسُوا مَعَهُمْ.

Al-Hasan berkata: “Wahai anak Adam, janganlah tertipu oleh ucapan orang yang berkata: seseorang akan bersama orang yang dicintainya. Kamu tidak akan menyusul orang-orang baik kecuali dengan amal mereka. Karena orang Yahudi dan Nasrani mencintai nabi-nabi mereka, tetapi mereka tidak bersama para nabi itu.”

وَقَالَ الْفُضَيْلُ: تَرُيدُ أَنْ تَسْكُنَ الْفِرْدَوْسَ، وَتُجَاوِرَ الرَّحْمَنَ فِي دَارِهِ، مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ. بِأَيِّ عَمَلٍ عَمِلْتَهُ؟ وَبِأَيِّ شَهْوَةٍ تَرَكْتَهَا؟ وَبِأَيِّ غَيْظٍ كَظَمْتَهُ؟ وَبِأَيِّ رَحِمٍ قَاطِعٍ وَصَلْتَهَا؟ وَبِأَيِّ زَلَّةٍ لِأَخِيكَ غَفَرْتَهَا؟ وَبِأَيِّ قَرِيبٍ بَاعَدْتَهُ فِي اللَّهِ؟ وَبِأَيِّ بَعِيدٍ قَارَبْتَهُ فِي اللَّهِ؟

Al-Fudail berkata: “Engkau ingin tinggal di Firdaus dan bertetangga dengan Ar-Rahman di rumah-Nya bersama para nabi, orang-orang shiddiq, syuhada, dan orang-orang saleh. Dengan amal apa engkau melakukannya? Dengan syahwat apa engkau meninggalkannya? Dengan amarah apa engkau menahannya? Dengan rahim yang terputus mana engkau menyambungnya? Dengan kesalahan saudaramu yang mana engkau memaafkannya? Dengan kerabat mana yang engkau jauhkan karena Allah? Dan dengan orang yang jauh mana yang engkau dekatkan karena Allah?”

وَيُرْوَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْحَى إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: هَلْ عَمِلْتَ لِي عَمَلًا قَطُّ؟ فَقَالَ: إِلٰهِي، إِنِّي صَلَّيْتُ لَكَ وَصُمْتُ وَتَصَدَّقْتُ وَزَكَّيْتُ. فَقَالَ: إِنَّ الصَّلَاةَ لَكَ بُرْهَانٌ، وَالصَّوْمَ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةَ ظِلٌّ، وَالزَّكَاةَ نُورٌ. فَأَيُّ عَمَلٍ عَمِلْتَ لِي؟ قَالَ: يَا مُوسَى، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ هُوَ لَكَ. قَالَ: هَلْ وَالَيْتَ لِي وَلِيًّا قَطُّ، وَهَلْ عَادَيْتَ فِيَّ عَدُوًّا قَطُّ؟ فَعَلِمَ مُوسَى أَنَّ أَفْضَلَ الْأَعْمَالِ الْحُبُّ فِي اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِي اللَّهِ.

Diriwayatkan bahwa Allah mewahyukan kepada Musa عليه السلام: “Apakah engkau pernah mengerjakan suatu amal untuk-Ku?” Musa menjawab: “Tuhanku, aku salat untuk-Mu, berpuasa, bersedekah, dan berzakat.” Allah berfirman: “Salat itu bagimu adalah bukti, puasa adalah perisai, sedekah adalah naungan, dan zakat adalah cahaya. Lalu amal apa yang kau lakukan untuk-Ku?” Musa berkata: “Wahai Musa, tunjukkanlah kepadaku amal yang khusus untuk-Ku.” Maka Musa menjawab: “Apakah engkau pernah memihak wali-Ku karena Aku? Dan apakah engkau pernah memusuhi musuh-Ku karena Aku?” Maka Musa tahu bahwa seutama-utama amal adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.

وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: لَوْ أَنَّ رَجُلًا قَامَ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ يَعْبُدُ اللَّهَ سَبْعِينَ سَنَةً، لَبَعَثَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ مَنْ يُحِبُّ.

Ibnu Mas‘ud berkata: “Seandainya seseorang berdiri di antara Rukun dan مقام sambil beribadah kepada Allah selama tujuh puluh tahun, niscaya Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat bersama orang yang ia cintai.”

وَقَالَ الْحَسَنُ: مُصَارَمَةُ الْفَاسِقِ قُرْبَانٌ إِلَى اللَّهِ.

Al-Hasan berkata: “Memutus hubungan dengan orang fasik adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah.”

وَقَالَ رَجُلٌ لِمُحَمَّدِ بْنِ وَاسِعٍ: إِنِّي لَأُحِبُّكَ فِي اللَّهِ. فَقَالَ: أَحْبَبْتَنِي لِمَا أَحْبَبْتَنِي لَهُ. ثُمَّ حَوَّلَ وَجْهَهُ وَقَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُحِبَّ فِيكَ وَأَنْتَ لِي مُبْغِضٌ.

Seorang lelaki berkata kepada Muhammad bin Wasi‘: “Aku mencintaimu karena Allah.” Maka ia menjawab: “Engkau mencintaiku karena sesuatu yang untuk itulah engkau mencintaiku.” Lalu ia memalingkan wajahnya dan berkata: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mencintai seseorang karena Engkau, sementara Engkau membenciku.”

وَدَخَلَ رَجُلٌ عَلَى دَاوُدَ الطَّائِيِّ فَقَالَ: مَا حَاجَتُكَ؟ قَالَ: زِيَارَتُكَ. فَقَالَ: أَمَّا أَنْتَ فَقَدْ عَمِلْتَ خَيْرًا إِذْ زُرْتَ، وَلٰكِنِ انْظُرْ مَاذَا يَنْزِلُ بِي إِذَا قِيلَ: مَنْ أَنْتَ؟ أَمِنَ الزُّهَّادِ أَنْتَ؟ لَا وَاللَّهِ. أَمِنَ الْعُبَّادِ أَنْتَ؟ لَا وَاللَّهِ. أَمِنَ الصَّالِحِينَ أَنْتَ؟ لَا وَاللَّهِ.

Seorang lelaki datang kepada Dawud ath-Tha’i. Ia bertanya: “Apa keperluanmu?” Lelaki itu menjawab: “Kunjunganku kepadamu.” Maka Dawud berkata: “Adapun engkau, engkau telah berbuat baik karena telah berkunjung. Tetapi perhatikan bagaimana keadaanku nanti jika dikatakan: siapa engkau? Apakah engkau termasuk zahid? Tidak, demi Allah. Apakah engkau termasuk ahli ibadah? Tidak, demi Allah. Apakah engkau termasuk orang saleh? Tidak, demi Allah.”

ثُمَّ أَقْبَلَ يُوَبِّخُ نَفْسَهُ وَيَقُولُ: كُنْتُ فِي الشَّبَابِ فَاسِقًا، فَلَمَّا شِخْتُ صِرْتُ مُرَائِيًا، وَاللَّهِ لَلْمُرَائِي شَرٌّ مِنَ الْفَاسِقِ.

Lalu ia menegur dirinya sendiri dan berkata: “Ketika muda aku fasik. Ketika tua aku menjadi riya. Demi Allah, orang yang riya lebih buruk daripada orang fasik.”

وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِذَا أَصَابَ أَحَدَكُمْ وُدًّا مِنْ أَخِيهِ فَلْيَتَمَسَّكْ بِهِ، فَقَلَّمَا يُصِيبُ ذَلِكَ.

Umar رضي الله عنه berkata: “Jika salah seorang dari kalian memperoleh kasih sayang dari saudaranya, hendaklah ia berpegang teguh padanya. Karena jarang sekali hal itu terjadi.”

وَقَالَ مُجَاهِدٌ: الْمُتَحَابُّونَ فِي اللَّهِ إِذَا الْتَقَوْا فَتَبَسَّمَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، تَحَاتَّتْ عَنْهُمُ الْخَطَايَا، كَمَا تَتَحَاتُّ أَوْرَاقُ الشَّجَرِ فِي الشِّتَاءِ إِذَا يَبِسَتْ.

Mujahid berkata: “Orang-orang yang saling mencintai karena Allah, bila bertemu lalu saling tersenyum, dosa-dosa mereka berguguran seperti gugurnya daun-daun pohon di musim dingin ketika kering.”

وَقَالَ الْفُضَيْلُ: نَظَرُ الرَّجُلِ إِلَى وَجْهِ أَخِيهِ عَلَى الْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ عِبَادَةٌ.

Al-Fudail berkata: “Melihat wajah saudaramu dengan rasa kasih sayang dan rahmat adalah ibadah.”

بَيَانُ مَعْنَى الْأُخُوَّةِ فِي اللَّهِ وَتَمْيِيزُهَا مِنَ الْأُخُوَّةِ فِي الدُّنْيَا.

Penjelasan tentang makna persaudaraan karena Allah dan pembedanya dari persaudaraan duniawi.

اعْلَمْ أَنَّ الْحُبَّ فِي اللَّهِ وَالْبُغْضَ فِي اللَّهِ غَامِضٌ، وَيَنْكَشِفُ الْغِطَاءُ عَنْهُ بِمَا نَذْكُرُهُ. وَهُوَ أَنَّ الصُّحْبَةَ تَنْقَسِمُ إِلَى مَا يَقَعُ بِالِاتِّفَاقِ، كَالصُّحْبَةِ بِسَبَبِ الْجِوَارِ أَوِ الِاجْتِمَاعِ فِي الْمَكْتَبِ أَوِ الْمَدْرَسَةِ أَوِ السُّوقِ أَوْ عَلَى بَابِ السُّلْطَانِ أَوْ فِي السَّفَرِ، وَإِلَى مَا يَنْشَأُ اخْتِيَارًا وَيُقْصَدُ، وَهُوَ الَّذِي نُرِيدُ بَيَانَهُ.

Ketahuilah bahwa cinta karena Allah dan benci karena Allah adalah perkara yang halus. Penutupnya akan tersingkap dengan penjelasan berikut. Persahabatan terbagi menjadi dua: yang terjadi karena kebetulan, seperti karena tetangga, karena bertemu di kantor, sekolah, pasar, di pintu penguasa, atau dalam perjalanan; dan yang muncul karena pilihan serta sengaja dimaksudkan. Inilah yang hendak kita jelaskan.

إِذِ الْأُخُوَّةُ فِي الدِّينِ وَاقِعَةٌ فِي هٰذَا الْقِسْمِ لَا مَحَالَةَ، إِذْ لَا ثَوَابَ إِلَّا عَلَى الْأَفْعَالِ الِاخْتِيَارِيَّةِ، وَلَا تَرْغِيبَ إِلَّا فِيهَا.

Persaudaraan dalam agama pasti termasuk bagian yang kedua ini. Sebab pahala hanya ada pada perbuatan yang dipilih dengan sadar, dan dorongan syariat pun hanya ada pada hal semacam itu.

وَالصُّحْبَةُ عِبَارَةٌ عَنِ الْمُجَالَسَةِ وَالْمُجَاوَرَةِ.

Persahabatan adalah pergaulan dan kebersamaan dalam duduk serta bertetangga.

وَهٰذِهِ الْأُمُورُ لَا يَقْصِدُ الْإِنْسَانُ بِهَا غَيْرَهُ إِلَّا إِذَا أَحَبَّهُ. فَإِنَّ غَيْرَ الْمَحْبُوبِ يُجْتَنَبُ وَيُبَاعَدُ، وَلَا تُقْصَدُ مُخَالَطَتُهُ.

Hal-hal ini biasanya tidak dilakukan seseorang terhadap orang lain kecuali jika ia mencintainya. Karena orang yang tidak dicintai biasanya dijauhi dan tidak ingin didekati.

وَالَّذِي يُحِبُّ فَإِمَّا أَنْ يُحِبَّ لِذَاتِهِ، لَا لِيَتَوَصَّلَ بِهِ إِلَى مَحْبُوبٍ وَمَقْصُودٍ وَرَاءَهُ، وَإِمَّا أَنْ يُحِبَّ لِلتَّوَصُّلِ بِهِ إِلَى مَقْصُودٍ. وَذَلِكَ الْمَقْصُودُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ مَقْصُورًا عَلَى الدُّنْيَا وَحُظُوظِهَا، وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ مُتَعَلِّقًا بِالْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ مُتَعَلِّقًا بِاللَّهِ تَعَالَى. فَهٰذِهِ أَرْبَعَةُ أَقْسَامٍ.

Orang yang mencintai itu ada dua kemungkinan: ia mencintai karena orang itu sendiri, bukan untuk mencapai sesuatu di belakangnya; atau ia mencintainya untuk sampai kepada suatu tujuan. Dan tujuan itu bisa terbatas pada dunia dan kenikmatannya, bisa terkait akhirat, atau bisa terkait Allah Ta‘ala. Jadi, ada empat bagian.

أَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ، وَهُوَ حُبُّ الْإِنْسَانِ لِذَاتِهِ، فَذَلِكَ مُمْكِنٌ. وَهُوَ أَنْ يَكُونَ فِي ذَاتِهِ مَحْبُوبًا عِنْدَكَ، عَلَى مَعْنَى أَنَّكَ تَلْتَذُّ بِرُؤْيَتِهِ وَمَعْرِفَتِهِ وَمُشَاهَدَةِ أَخْلَاقِهِ، لِاسْتِحْسَانِكَ إِيَّاهُ.

Adapun bagian pertama, yaitu mencintai seseorang karena dirinya sendiri, itu mungkin. Maksudnya ialah bahwa dirinya memang dicintai olehmu; engkau senang melihatnya, mengenalnya, dan menyaksikan akhlaknya, karena engkau memandangnya baik.

فَإِنَّ كُلَّ جَمِيلٍ لَذِيذٌ فِي حَقِّ مَنْ أَدْرَكَ جَمَالَهُ، وَكُلُّ لَذِيذٍ مَحْبُوبٌ. وَاللَّذَّةُ تَتْبَعُ الِاسْتِحْسَانَ، وَالِاسْتِحْسَانُ يَتْبَعُ الْمُنَاسَبَةَ وَالْمُلَاءَمَةَ وَالْمُوَافَقَةَ بَيْنَ الطِّبَاعِ.

Sebab setiap yang indah terasa nikmat bagi orang yang menangkap keindahannya. Dan setiap yang nikmat itu dicintai. Kenikmatan mengikuti anggapan baik, dan anggapan baik mengikuti kesesuaian serta kecocokan di antara tabiat.

ثُمَّ ذٰلِكَ الْمُسْتَحْسَنُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ هُوَ الصُّورَةَ الظَّاهِرَةَ، أَعْنِي حُسْنَ الْخِلْقَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ هُوَ الصُّورَةَ الْبَاطِنَةَ، أَعْنِي كَمَالَ الْعَقْلِ وَحُسْنَ الْأَخْلَاقِ.

Yang dipandang baik itu bisa berupa bentuk lahir, yaitu bagusnya rupa, atau bisa berupa bentuk batin, yaitu kesempurnaan akal dan baiknya akhlak.

وَيَتْبَعُ حُسْنَ الْأَخْلَاقِ حُسْنُ الْأَفْعَالِ لَا مَحَالَةَ، وَيَتْبَعُ كَمَالَ الْعَقْلِ غَزَارَةُ الْعِلْمِ. وَكُلُّ ذٰلِكَ مُسْتَحْسَنٌ عِنْدَ الطَّبْعِ السَّلِيمِ وَالْعَقْلِ الْمُسْتَقِيمِ.

Akhlak yang baik pasti melahirkan perbuatan yang baik. Dan kesempurnaan akal melahirkan banyak ilmu. Semua itu dipandang baik oleh tabiat yang sehat dan akal yang lurus.

وَلٰكِنَّ فِي ائْتِلَافِ الْقُلُوبِ أَمْرًا أَغْمَضَ مِنْ هٰذَا. فَقَدْ تَسْتَحْكِمُ الْمَوَدَّةُ بَيْنَ شَخْصَيْنِ مِنْ غَيْرِ مَلَاحَةٍ فِي صُورَةٍ وَلَا حُسْنٍ فِي خَلْقٍ وَلَا خُلُقٍ، وَلٰكِنْ لِمُنَاسَبَةٍ تُوجِبُ الْأُلْفَةَ وَالْمُوَافَقَةَ.

Namun, pada perpaduan hati ada sesuatu yang lebih halus dari itu. Terkadang kasih sayang sangat kuat antara dua orang, meskipun tidak ada ketampanan pada rupa, tidak ada keindahan pada akhlak atau perangai, tetapi ada kesesuaian yang menimbulkan keakraban dan kecocokan.

فَإِنَّ شِبْهَ الشَّيْءِ يَنْجَذِبُ إِلَيْهِ بِالطَّبْعِ، وَالْأَشْيَاءَ الْبَاطِنَةَ خَفِيَّةٌ وَلَهَا أَسْبَابٌ دَقِيقَةٌ لَيْسَ فِي قُوَّةِ الْبَشَرِ الِاطِّلَاعُ عَلَيْهَا.

Sebab sesuatu yang serupa cenderung tertarik kepada yang serupa secara alami. Adapun perkara-perkara batin itu tersembunyi, dan sebab-sebabnya sangat halus sehingga manusia tidak mampu mengetahuinya.

وَعَبَّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذٰلِكَ إِذْ قَالَ: الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengungkapkan hal itu ketika beliau bersabda: “Ruh-ruh itu laksana pasukan yang dikumpulkan. Ruh yang saling mengenal akan saling akrab, dan ruh yang saling tidak mengenal akan saling berselisih.”

فَالتَّنَاكُرُ نَتِيجَةُ التَّبَايُنِ، وَالْائْتِلَافُ نَتِيجَةُ التَّنَاسُبِ الَّذِي عُبِّرَ عَنْهُ بِالتَّعَارُفِ.

Saling tidak mengenal adalah akibat dari perbedaan. Sedangkan keakraban adalah akibat dari kesesuaian, yang diungkapkan dengan kata saling mengenal.

وَفِي بَعْضِ الْأَلْفَاظِ: الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ، تَلْتَقِي فَتَتَشَامُّ فِي الْهَوَاءِ.

Dalam lafaz lain disebutkan: “Ruh-ruh itu laksana pasukan yang dikumpulkan. Mereka bertemu lalu saling mencium di udara.”

وَقَدْ كَنَى بَعْضُ الْعُلَمَاءِ عَنْ هٰذَا بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَلَقَ الْأَرْوَاحَ، فَفَلَقَ بَعْضَهَا فُلُوقًا، وَأَطَافَهَا حَوْلَ الْعَرْشِ، فَأَيُّ رُوحَيْنِ مِنْ فُلُوقَتَيْنِ تَعَارَفَا هُنَاكَ تَلَقَّيَا فِي الدُّنْيَا.

Sebagian ulama menggambarkan hal ini dengan berkata: Allah Ta‘ala menciptakan ruh-ruh, lalu membelah sebagian darinya, dan mengelilingkannya di sekitar Arsy. Maka ruh mana pun dari dua belahan yang saling mengenal di sana, keduanya akan bertemu di dunia.

وَقَالَ: إِنَّ أَرْوَاحَ الْمُؤْمِنِينَ لَيَلْتَقِيَانِ عَلَى مَسِيرَةِ يَوْمٍ، وَمَا رَأَى أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ قَطُّ.

Beliau juga bersabda: “Sesungguhnya ruh-ruh kaum mukminin saling bertemu pada jarak perjalanan satu hari, padahal salah seorang dari keduanya belum pernah melihat yang lain.”

وَرُوِيَ أَنَّ امْرَأَةً بِمَكَّةَ كَانَتْ تَضْحَكُ، وَأُخْرَى بِالْمَدِينَةِ، فَنَزَلَتِ الْمَكِّيَّةُ عَلَى الْمَدَنِيَّةِ، فَدَخَلَتْ عَلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَأَضْحَكَتْهَا، فَقَالَتْ: أَيْنَ نَزَلْتِ؟ فَذَكَرَتْ لَهَا صَاحِبَتَهَا، فَقَالَتْ: صَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ.

Diriwayatkan ada seorang perempuan di Mekah, dan ada seorang perempuan lain di Madinah. Perempuan Mekah itu singgah kepada perempuan Madinah. Ia masuk menemui Aisyah رضي الله عنها lalu membuat beliau tertawa. Aisyah bertanya: “Engkau tinggal di mana?” Lalu perempuan itu menyebutkan sahabatnya. Maka Aisyah berkata: “Benarlah Allah dan Rasul-Nya.”

وَالْحَقُّ فِي هٰذَا أَنَّ الْمُشَاهَدَةَ وَالتَّجْرِبَةَ تَشْهَدُ لِلِائْتِلَافِ عِنْدَ التَّنَاسُبِ، وَالتَّنَاسُبُ فِي الطِّبَاعِ وَالْأَخْلَاقِ بَاطِنًا وَظَاهِرًا أَمْرٌ مَفْهُومٌ.

Yang benar dalam hal ini ialah bahwa pengamatan dan pengalaman menunjukkan adanya keakraban ketika ada kesesuaian. Dan kesesuaian dalam tabiat dan akhlak, baik lahir maupun batin, memang sesuatu yang dapat dipahami.

وَأَمَّا الْأَسْبَابُ الَّتِي أَوْجَبَتْ تِلْكَ الْمُنَاسَبَةَ، فَلَيْسَ فِي قُوَّةِ الْبَشَرِ الِاطِّلَاعُ عَلَيْهَا.

Adapun sebab yang membuat kesesuaian itu terjadi, manusia tidak mampu mengetahuinya.

وَغَايَةُ هَذْيَانِ الْمُنَجِّمِ أَنْ يَقُولَ: إِذَا كَانَ طَالِعُهُ عَلَى تَسْدِيسِ طَالِعِ غَيْرِهِ أَوْ تَثْلِيثِهِ، فَهٰذَا نَظَرُ الْمُوَافَقَةِ وَالْمَوَدَّةِ، وَإِذَا كَانَ عَلَى مُقَابَلَتِهِ أَوْ تَرْبِيعِهِ، اقْتَضَى التَّبَاغُضَ وَالْعَدَاوَةَ.

Kata-kata ahli nujum paling jauh hanyalah ucapan seperti ini: jika bintang seseorang bersembilan sudut dengan bintang orang lain, maka itu menunjukkan kecocokan dan kasih sayang; jika berhadapan atau segi empat, maka itu menimbulkan kebencian dan permusuhan.

فَهٰذَا لَوْ صَدَقَ لَكَانَ كَذٰلِكَ فِي مَجَارِي سُنَّةِ اللَّهِ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلٰكِنَّ الْإِشْكَالَ فِيهِ أَكْثَرُ مِنَ الْإِشْكَالِ فِي أَصْلِ التَّنَاسُبِ.

Kalau pun itu benar, niscaya ia termasuk bagian dari sunnatullah dalam penciptaan langit dan bumi. Akan tetapi, keraguannya justru lebih besar daripada keraguan pada asal kesesuaian itu sendiri.

فَلَا مَعْنَى لِلْخَوْضِ فِيمَا لَمْ يُكْشَفْ سِرُّهُ لِلْبَشَرِ. وَمَا أُوتِينَا مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا. وَيَكْفِينَا فِي التَّصْدِيقِ بِذٰلِكَ التَّجْرِبَةُ وَالْمُشَاهَدَةُ، فَقَدْ وَرَدَ الْخَبَرُ بِهِ.

Maka tidak ada gunanya membahas sesuatu yang rahasianya belum disingkapkan kepada manusia. Kita tidak diberi ilmu kecuali sedikit. Cukuplah bagi kita untuk membenarkannya dengan pengalaman dan pengamatan, karena berita tentang itu memang telah datang.

وَقَالَ: لَوْ أَنَّ مُؤْمِنًا دَخَلَ مَجْلِسًا فِيهِ مِائَةُ مُنَافِقٍ وَمُؤْمِنٌ وَاحِدٌ، لَجَاءَ حَتَّى يَجْلِسَ إِلَيْهِ. وَلَوْ أَنَّ مُنَافِقًا دَخَلَ مَجْلِسًا فِيهِ مِائَةُ مُؤْمِنٍ وَمُنَافِقٌ وَاحِدٌ، لَجَاءَ حَتَّى يَجْلِسَ إِلَيْهِ.

Disebutkan: jika seorang mukmin masuk ke majelis yang di dalamnya ada seratus orang munafik dan satu mukmin, niscaya ia akan datang lalu duduk di dekat mukmin itu. Dan jika seorang munafik masuk ke majelis yang di dalamnya ada seratus mukmin dan satu munafik, niscaya ia akan datang lalu duduk di dekat munafik itu.

وَهٰذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ شِبْهَ الشَّيْءِ مُنْجَذِبٌ إِلَيْهِ بِالطَّبْعِ، وَإِنْ كَانَ هُوَ لَا يَشْعُرُ بِهِ.

Ini menunjukkan bahwa yang serupa tertarik kepada yang serupa secara alami, meskipun ia sendiri tidak menyadarinya.

وَكَانَ مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ يَقُولُ: لَا يَتَّفِقُ اثْنَانِ فِي عَشَرَةٍ إِلَّا وَفِي أَحَدِهِمَا وَصْفٌ مِنَ الْآخَرِ. وَإِنَّ أَجْنَاسَ النَّاسِ كَأَجْنَاسِ الطَّيْرِ، وَلَا يَتَّفِقُ نَوْعَانِ مِنَ الطَّيْرِ فِي الطَّيَرَانِ إِلَّا وَبَيْنَهُمَا مُنَاسَبَةٌ.

Malik bin Dinar berkata: “Tidaklah dua orang cocok dalam sepuluh perkara, melainkan pada salah satunya ada sifat dari yang lain. Manusia itu seperti jenis-jenis burung. Dua jenis burung tidak cocok terbang bersama kecuali ada kesesuaian di antara keduanya.”

فَرَأَى يَوْمًا غُرَابًا مَعَ حَمَامَةٍ فَعَجِبَ مِنْ ذٰلِكَ، فَقَالَ: اتَّفَقَا وَلَيْسَا مِنْ شَكْلٍ وَاحِدٍ. ثُمَّ طَارَا فَإِذَا هُمَا أَعْرَجَانِ، فَقَالَ: مِنْ هُنَا اتَّفَقَا.

Suatu hari ia melihat seekor gagak bersama seekor merpati, lalu ia heran. Ia berkata: “Mereka ternyata cocok, padahal tidak sejenis.” Lalu keduanya terbang, dan ternyata keduanya pincang. Maka ia berkata: “Dari sinilah kesesuaian mereka.”

وَلِذٰلِكَ قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: كُلُّ إِنْسَانٍ يَأْنَسُ إِلَى شَكْلِهِ، كَمَا أَنَّ كُلَّ طَيْرٍ يَطِيرُ مَعَ جِنْسِهِ.

Karena itu sebagian ahli hikmah berkata: “Setiap manusia merasa akrab dengan yang sejenis dengannya, sebagaimana setiap burung terbang bersama jenisnya.”

وَإِذَا اصْطَحَبَ اثْنَانِ بُرْهَةً مِنَ الزَّمَانِ وَلَمْ يَتَشَاكَلَا فِي الْحَالِ، فَلَا بُدَّ أَنْ يَتَفَرَّقَا.

Jika dua orang bersahabat untuk beberapa waktu dan ternyata tidak saling mirip, maka pasti pada akhirnya mereka akan berpisah.

وَهٰذَا مَعْنًى خَفِيٌّ تَفَطَّنَ لَهُ الشُّعَرَاءُ، حَتَّى قَالَ قَائِلُهُمْ:

Ini adalah makna yang halus dan disadari oleh para penyair. Maka salah seorang dari mereka berkata:

وَقَائِلٍ كَيْفَ تَفَارَقْتُمَا ... فَقُلْتُ قَوْلًا فِيهِ إِنْصَافُ
لَمْ يَكُنْ مِنْ شَكْلِي فَفَارَقْتُهُ ... وَالنَّاسُ أَشْكَالٌ وَآلَافُ

“Dan ada yang bertanya: bagaimana kalian bisa berpisah? Maka aku menjawab dengan jujur: ia bukan sejenis denganku, maka aku pun berpisah darinya. Dan manusia itu bermacam-macam rupa dan kelompok.”

فَقَدْ ظَهَرَ مِنْ هٰذَا أَنَّ الْإِنْسَانَ قَدْ يُحِبُّ لِذَاتِهِ لَا لِفَائِدَةٍ تُنَالُ مِنْهُ فِي حَالٍ أَوْ مَآلٍ، بَلْ لِمُجَرَّدِ الْمُجَانَسَةِ وَالْمُنَاسَبَةِ فِي الطِّبَاعِ الْبَاطِنَةِ وَالْأَخْلَاقِ الْخَفِيَّةِ.

Dari sini tampak bahwa manusia kadang mencintai seseorang karena dirinya sendiri, bukan karena manfaat yang diperoleh darinya sekarang atau nanti, tetapi semata-mata karena kesamaan dan kecocokan dalam tabiat batin dan akhlak yang tersembunyi.

وَيَدْخُلُ فِي هٰذَا الْقِسْمِ الْحُبُّ لِلْجَمَالِ إِذَا لَمْ يَكُنِ الْمَقْصُودُ قَضَاءَ الشَّهْوَةِ. فَإِنَّ الصُّوَرَ الْجَمِيلَةَ مُسْتَلَذَّةٌ فِي عَيْنِهَا، وَإِنْ قُدِّرَ فَقْدُ أَصْلِ الشَّهْوَةِ.

Dan termasuk dalam bagian ini adalah cinta kepada keindahan jika tujuannya bukan untuk menyalurkan syahwat. Sebab rupa yang indah memang dinikmati karena dirinya sendiri, bahkan seandainya dorongan syahwat pokok itu hilang.

حَتَّى يُسْتَلَذَّ النَّظَرُ إِلَى الْفَوَاكِهِ وَالْأَنْوَارِ وَالْأَزْهَارِ وَالتُّفَّاحِ الْمُشْرَبِ بِالْحُمْرَةِ، وَإِلَى الْمَاءِ الْجَارِي وَالْخُضْرَةِ، مِنْ غَيْرِ غَرَضٍ سِوَى عَيْنِهَا.

Sampai-sampai orang senang memandang buah-buahan, cahaya, bunga, apel yang kemerah-merahan, air yang mengalir, dan kehijauan, tanpa maksud lain selain keindahan itu sendiri.

وَهٰذَا الْحُبُّ لَا يَدْخُلُ فِيهِ الْحُبُّ لِلَّهِ، بَلْ هُوَ حُبٌّ بِالطَّبْعِ وَشَهْوَةُ النَّفْسِ. وَيَتَصَوَّرُ ذٰلِكَ مِمَّنْ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ إِلَّا أَنَّهُ إِذَا اتَّصَلَ بِهِ غَرَضٌ مَذْمُومٌ صَارَ مَذْمُومًا، كَحُبِّ الصُّورَةِ الْجَمِيلَةِ لِقَضَاءِ الشَّهْوَةِ حَيْثُ لَا يَحِلُّ قَضَاؤُهَا.

Cinta seperti ini tidak termasuk cinta karena Allah. Itu hanyalah cinta karena tabiat dan syahwat jiwa. Hal itu juga bisa terjadi pada orang yang tidak beriman kepada Allah. Hanya saja, jika ia terkait dengan tujuan yang tercela, maka ia menjadi tercela, seperti mencintai rupa yang indah untuk menyalurkan syahwat pada saat penyalurannya tidak halal.

وَإِنْ لَمْ يَتَّصِلْ بِهِ غَرَضٌ مَذْمُومٌ فَهُوَ مُبَاحٌ لَا يُوصَفُ بِحَمْدٍ وَلَا ذَمٍّ، إِذِ الْحُبُّ إِمَّا مَحْمُودٌ وَإِمَّا مَذْمُومٌ وَإِمَّا مُبَاحٌ لَا يُحْمَدُ وَلَا يُذَمُّ.

Jika tidak terkait dengan tujuan yang tercela, maka hukumnya mubah; tidak dipuji dan tidak dicela. Sebab cinta itu ada yang terpuji, ada yang tercela, dan ada yang mubah, yaitu yang tidak dipuji dan tidak dicela.