Keutamaan Keakraban Dan Persaudaraan (2)
ٱلْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يُحِبَّهُ لِيَنَالَ مِنْ ذَاتِهِ غَيْرَ ذَاتِهِ، فَيَكُونَ وَسِيلَةً إِلَى مَحْبُوبٍ غَيْرِهِ.
Bagian kedua adalah mencintai sesuatu agar dari dirinya
diperoleh sesuatu selain dirinya, sehingga ia menjadi sarana menuju sesuatu
yang dicintai selain dirinya.
وَالْوَسِيلَةُ
إِلَى الْمَحْبُوبِ مَحْبُوبَةٌ.
Sarana untuk menuju sesuatu yang dicintai juga dicintai.
وَمَا
وَجَبَ لِغَيْرِهِ كَانَ ذٰلِكَ الْغَيْرُ هُوَ الْمَحْبُوبُ بِالْحَقِيقَةِ.
Sesuatu yang dicintai karena selain dirinya, maka pihak lain
itulah yang sesungguhnya dicintai.
وَلٰكِنَّ
الطَّرِيقَ إِلَى الْمَحْبُوبِ مَحْبُوبٌ.
Akan tetapi, jalan menuju sesuatu yang dicintai juga
dicintai.
وَلِذٰلِكَ
أَحَبَّ النَّاسُ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ.
Karena itulah manusia mencintai emas dan perak.
وَلَا
غَرَضَ فِيهِمَا إِذْ لَا يُطْعِمَانِ وَلَا يُلْبَسَانِ، وَلٰكِنَّهُمَا
وَسِيلَةٌ إِلَى الْمَحْبُوبَاتِ.
Padahal tidak ada tujuan pada keduanya, karena keduanya
tidak bisa dimakan dan tidak bisa dipakai, tetapi keduanya adalah sarana untuk
meraih hal-hal yang dicintai.
فَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يُحِبُّ كَمَا يُحِبُّ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ
وَسِيلَةٌ إِلَى الْمَقْصُودِ.
Maka di antara manusia, ada yang mencintai seseorang
sebagaimana ia mencintai emas dan perak, yaitu sebagai sarana untuk mencapai
tujuan.
إِذْ
يُتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى نَيْلِ جَاهٍ أَوْ مَالٍ أَوْ عِلْمٍ.
Karena melalui orang itu, ia bisa mendapatkan kedudukan,
harta, atau ilmu.
كَمَا
يُحِبُّ الرَّجُلُ سُلْطَانًا لِانْتِفَاعِهِ بِمَالِهِ أَوْ جَاهِهِ.
Seperti seseorang yang mencintai penguasa karena bisa
mengambil manfaat dari harta atau kedudukannya.
وَيُحِبُّ
خَوَاصَّهُ لِتَحْسِينِهِمْ حَالَهُ عِنْدَهُ وَتَمْهِيدِهِمْ أَمْرَهُ فِي
قَلْبِهِ.
Ia juga mencintai orang-orang dekat penguasa karena mereka
memperbaiki citranya di hadapan penguasa dan memudahkan urusannya di hati
penguasa.
فَالْمُتَوَسَّلُ
إِلَيْهِ إِنْ كَانَ مَقْصُورَ الْفَائِدَةِ عَلَى الدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ حُبُّهُ
مِنْ جُمْلَةِ الْحُبِّ فِي اللَّهِ.
Jika orang yang dijadikan sarana itu manfaatnya terbatas
hanya untuk urusan dunia, maka cinta kepadanya tidak termasuk cinta karena
Allah.
وَإِنْ
لَمْ يَكُنْ مَقْصُورَ الْفَائِدَةِ عَلَى الدُّنْيَا وَلَكِنَّهُ لَيْسَ يَقْصِدُ
بِهِ إِلَّا الدُّنْيَا، كَحُبِّ التِّلْمِيذِ لِأُسْتَاذِهِ، فَهُوَ أَيْضًا
خَارِجٌ عَنِ الْحُبِّ لِلَّهِ.
Jika manfaatnya tidak terbatas pada dunia, tetapi tujuannya
semata-mata dunia, seperti cinta seorang murid kepada gurunya, maka itu juga
bukan termasuk cinta karena Allah.
فَإِنَّهُ
إِنَّمَا يُحِبُّهُ لِيَحْصُلَ مِنْهُ الْعِلْمُ لِنَفْسِهِ، فَمَحْبُوبُهُ
الْعِلْمُ.
Karena ia mencintai gurunya hanya untuk mendapatkan ilmu
bagi dirinya sendiri, maka yang ia cintai sebenarnya adalah ilmu.
فَإِذَا
كَانَ لَا يَقْصِدُ الْعِلْمَ لِلتَّقَرُّبِ إِلَى اللَّهِ، بَلْ لِيَنَالَ بِهِ
الْجَاهَ وَالْمَالَ وَالْقَبُولَ عِنْدَ الْخَلْقِ، فَمَحْبُوبُهُ الْجَاهُ
وَالْقَبُولُ.
Jika ia tidak meniatkan ilmu untuk mendekatkan diri kepada
Allah, melainkan untuk meraih kedudukan, harta, dan penerimaan dari orang lain,
maka yang ia cintai adalah kedudukan dan penerimaan itu.
وَالْعِلْمُ
وَسِيلَةٌ إِلَيْهِ، وَالْأُسْتَاذُ وَسِيلَةٌ إِلَى الْعِلْمِ.
Ilmu hanyalah sarana untuk meraihnya, dan guru adalah sarana
untuk mendapatkan ilmu.
فَلَيْسَ
فِي شَيْءٍ مِنْ ذٰلِكَ حُبٌّ لِلَّهِ، إِذْ لَا يُتَصَوَّرُ كُلُّ ذٰلِكَ مِمَّنْ
لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ تَعَالَى أَصْلًا.
Maka pada semua itu tidak ada cinta karena Allah, karena
semua itu tidak mungkin terbayang pada orang yang sama sekali tidak beriman
kepada Allah Ta'ala.
ثُمَّ
يَنْقَسِمُ هٰذَا أَيْضًا إِلَى مَذْمُومٍ وَمُبَاحٍ.
Kemudian, cinta jenis ini terbagi lagi menjadi tercela dan
mubah (diperbolehkan).
فَإِنْ
كَانَ يَقْصِدُ بِهِ التَّوَصُّلَ إِلَى مَقَاصِدَ مَذْمُومَةٍ مِنْ قَهْرِ
الْأَقْرَانِ وَحِيَازَةِ أَمْوَالِ الْيَتَامَى وَظُلْمِ الرُّعَاةِ بِوِلَايَةِ
الْقَضَاءِ أَوْ غَيْرِهِ، كَانَ كَالْحُبِّ مَذْمُومًا.
Jika tujuannya untuk mencapai hal-hal yang tercela, seperti
mengalahkan lawan, merampas harta anak yatim, atau menzalimi rakyat melalui
jabatan hakim atau lainnya, maka cinta itu tercela.
وَإِنْ
كَانَ يَقْصِدُ بِهِ التَّوَصُّلَ إِلَى مُبَاحٍ.
Dan jika tujuannya untuk mencapai hal yang mubah.
وَإِنَّمَا
تَكْتَسِبُ الْوَسِيلَةُ الْحُكْمَ وَالصِّفَةَ مِنَ الْمَقْصِدِ الْمُتَوَصَّلِ
إِلَيْهِ، فَإِنَّهَا تَابِعَةٌ لَهُ غَيْرُ قَائِمَةٍ بِنَفْسِهَا.
Sarana itu mendapatkan hukum dan sifatnya dari tujuan yang
ingin dicapai, karena ia hanya mengikuti tujuan dan tidak berdiri sendiri.
ٱلْقِسْمُ
الثَّالِثُ أَنْ يُحِبَّهُ لَا لِذَاتِهِ بَلْ لِغَيْرِهِ، وَذٰلِكَ الْغَيْرُ
لَيْسَ رَاجِعًا إِلَى حُظُوظِهِ فِي الدُّنْيَا، بَلْ يَرْجِعُ إِلَى حُظُوظِهِ
فِي الْآخِرَةِ.
Bagian ketiga adalah mencintainya bukan karena dirinya,
tetapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain itu bukan untuk kepentingan
dunia, melainkan untuk kepentingan akhiratnya.
فَهٰذَا
أَيْضًا ظَاهِرٌ لَا غُمُوضَ فِيهِ.
Ini adalah jenis cinta yang jelas dan tidak samar.
وَذٰلِكَ
كَمَنْ يُحِبُّ أُسْتَاذَهُ وَشَيْخَهُ لِأَنَّهُ يَتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى
تَحْصِيلِ الْعِلْمِ وَتَحْسِينِ الْعَمَلِ.
Contohnya adalah seseorang yang mencintai guru dan syekhnya
karena melalui mereka ia dapat memperoleh ilmu dan memperbaiki amalnya.
وَمَقْصُودُهُ
مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ الْفَوْزُ فِي الْآخِرَةِ.
Tujuannya dari ilmu dan amal itu adalah untuk meraih
keberuntungan di akhirat.
فَهٰذَا
مِنْ جُمْلَةِ الْمُحِبِّينَ فِي اللَّهِ.
Orang seperti ini termasuk dalam golongan orang-orang yang
mencintai karena Allah.
وَكَذٰلِكَ
مَنْ يُحِبُّ تِلْمِيذَهُ لِأَنَّهُ يَتَلَقَّفُ مِنْهُ الْعِلْمَ وَيَنَالُ
بِوَاسِطَتِهِ رُتْبَةَ التَّعْلِيمِ وَيَرْقَى بِهِ إِلَى دَرَجَةِ التَّعْظِيمِ
فِي مَلَكُوتِ السَّمَاءِ.
Begitu pula orang yang mencintai muridnya karena murid itu
menyerap ilmu darinya, dan melalui murid itu ia meraih derajat mengajar serta
naik ke tingkat kemuliaan di alam langit.
إِذْ
قَالَ عِيسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ وَعَلَّمَ
فَذٰلِكَ يُدْعَى عَظِيمًا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاءِ.
Sebagaimana Isa صلى الله عليه وسلم bersabda, "Barangsiapa berilmu,
beramal, dan mengajarkan, maka ia akan disebut sebagai orang yang agung di alam
langit."
وَلَا
يَتِمُّ التَّعَلُّمُ إِلَّا بِمُتَعَلِّمٍ، فَهُوَ إِذًا آلَةٌ فِي تَحْصِيلِ
هٰذَا الْكَمَالِ.
Proses belajar tidak akan sempurna tanpa adanya seorang
murid, maka murid adalah alat untuk meraih kesempurnaan ini.
فَإِنْ
أَحَبَّهُ لِأَنَّهُ آلَةٌ لَهُ إِذْ جَعَلَ صَدْرَهُ مَزْرَعَةً لِحَرْثِهِ
الَّذِي هُوَ سَبَبُ تَرْقِيَتِهِ إِلَى رُتْبَةِ التَّعْظِيمِ فِي مَلَكُوتِ
السَّمَاءِ، فَهُوَ مُحِبٌّ فِي اللَّهِ.
Jika ia mencintai muridnya karena ia adalah alat baginya,
yang menjadikan dadanya sebagai ladang untuk benih ilmunya, yang menjadi sebab
naiknya ia ke derajat kemuliaan di alam langit, maka ia adalah pencinta karena
Allah.
بَلِ
الَّذِي يَتَصَدَّقُ بِأَمْوَالِهِ لِلَّهِ وَيَجْمَعُ الضَّيْفَانَ وَيُهَيِّئُ
لَهُمُ الْأَطْعِمَةَ اللَّذِيذَةَ الْغَرِيبَةَ تَقَرُّبًا إِلَى اللَّهِ،
فَأَحَبَّ طَبَّاخًا لِحُسْنِ صَنْعَتِهِ فِي الطَّبْخِ، فَهُوَ مِنْ جُمْلَةِ
الْمُحِبِّينَ فِي اللَّهِ.
Bahkan, orang yang bersedekah dengan hartanya karena Allah,
mengumpulkan para tamu, dan menyiapkan untuk mereka makanan lezat yang istimewa
untuk mendekatkan diri kepada Allah, lalu ia mencintai seorang juru masak
karena keahliannya dalam memasak, maka ia termasuk orang-orang yang mencintai
karena Allah.
وَكَذَا
لَوْ أَحَبَّ مَنْ يَتَوَلَّى لَهُ إِيصَالَ الصَّدَقَةِ إِلَى الْمُسْتَحِقِّينَ
فَقَدْ أَحَبَّهُ فِي اللَّهِ.
Begitu pula jika ia mencintai orang yang bertugas
menyampaikan sedekahnya kepada yang berhak, maka ia telah mencintainya karena
Allah.
بَلْ
نَزِيدُ عَلَى هٰذَا وَنَقُولُ إِذَا أَحَبَّ مَنْ يَخْدُمُهُ بِنَفْسِهِ فِي
غَسْلِ ثِيَابِهِ وَكَنْسِ بَيْتِهِ وَطَبْخِ طَعَامِهِ، وَيُفَرِّغُهُ بِذَلِكَ
لِلْعِلْمِ أَوِ الْعَمَلِ، وَمَقْصُودُهُ مِنِ اسْتِخْدَامِهِ فِي هَذِهِ
الْأَعْمَالِ الْفَرَاغُ لِلْعِبَادَةِ، فَهُوَ مُحِبٌّ فِي اللَّهِ.
Bahkan lebih dari itu, jika ia mencintai orang yang
melayaninya, mencuci pakaiannya, menyapu rumahnya, dan memasak makanannya,
sehingga ia memiliki waktu luang untuk menuntut ilmu atau beramal, dan
tujuannya mempekerjakan orang itu adalah agar ia bisa fokus beribadah, maka ia
adalah pencinta karena Allah.
بَلْ
نَزِيدُ عَلَيْهِ وَنَقُولُ إِذَا أَحَبَّ مَنْ يُنْفِقُ عَلَيْهِ مِنْ مَالِهِ
وَيُوَاسِيهِ بِكُسْوَتِهِ وَطَعَامِهِ وَمَسْكَنِهِ وَجَمِيعِ أَغْرَاضِهِ
الَّتِي يَقْصِدُهَا فِي دُنْيَاهُ، وَمَقْصُودُهُ مِنْ جُمْلَةِ ذٰلِكَ
الْفَرَاغُ لِلْعِلْمِ وَالْعَمَلِ الْمُقَرِّبِ إِلَى اللَّهِ، فَهُوَ مُحِبٌّ
فِي اللَّهِ.
Bahkan kita tambahkan lagi, jika ia mencintai orang yang
menafkahinya, memberinya pakaian, makanan, tempat tinggal, dan semua
kebutuhannya di dunia, dan tujuan dari semua itu adalah agar ia memiliki waktu
luang untuk ilmu dan amal yang mendekatkan diri kepada Allah, maka ia adalah
pencinta karena Allah.
فَقَدْ
كَانَ جَمَاعَةٌ مِنَ السَّلَفِ تَكَفَّلَ بِكِفَايَتِهِمْ جَمَاعَةٌ مِنْ أُولِي
الثَّرْوَةِ، وَكَانَ الْمُوَاسِي وَالْمُوَاسَى جَمِيعًا مِنَ الْمُتَحَابِّينَ
فِي اللَّهِ.
Dahulu, ada sekelompok ulama salaf yang kebutuhannya
ditanggung oleh sekelompok orang kaya, dan baik yang memberi maupun yang diberi
sama-sama termasuk orang-orang yang saling mencintai karena Allah.
بَلْ
نَزِيدُ عَلَيْهِ وَنَقُولُ مَنْ نَكَحَ امْرَأَةً صَالِحَةً لِيَتَحَصَّنَ بِهَا
عَنْ وَسْوَاسِ الشَّيْطَانِ، يَصُونُ بِهَا دِينَهُ، أَوْ لِيُولَدَ مِنْهَا لَهُ
وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ، وَأَحَبَّ زَوْجَتَهُ لِأَنَّهَا آلَةٌ إِلَى هَذِهِ
الْمَقَاصِدِ الدِّينِيَّةِ، فَهُوَ مُحِبٌّ فِي اللَّهِ.
Bahkan kita tambahkan lagi, barangsiapa menikahi seorang
wanita salehah untuk membentengi dirinya dari bisikan setan, menjaga agamanya,
atau agar mendapatkan anak saleh yang mendoakannya, lalu ia mencintai istrinya
karena wanita itu menjadi sarana untuk tujuan-tujuan agama ini, maka ia adalah
pencinta karena Allah.
وَلِذٰلِكَ
وَرَدَتِ الْأَخْبَارُ بِوُفُورِ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ عَلَى الْإِنْفَاقِ عَلَى
الْعِيَالِ حَتَّى اللُّقْمَةَ يَضَعُهَا الرَّجُلُ فِي فِي امْرَأَتِهِ.
Karena itulah terdapat riwayat-riwayat tentang besarnya
pahala menafkahi keluarga, bahkan untuk sesuap nasi yang diletakkan seorang
suami di mulut istrinya.
بَلْ
نَقُولُ كُلُّ مَنْ اسْتَهْتَرَ بِحُبِّ اللَّهِ وَحُبِّ رِضَاهُ وَحُبِّ
لِقَائِهِ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، فَإِذَا أَحَبَّ غَيْرَهُ كَانَ مُحِبًّا فِي
اللَّهِ.
Bahkan kita katakan, setiap orang yang telah dipenuhi
hatinya dengan cinta kepada Allah, cinta pada keridaan-Nya, dan cinta untuk
bertemu dengan-Nya di akhirat, maka jika ia mencintai selain-Nya, ia adalah
seorang pencinta karena Allah.
لِأَنَّهُ
لَا يُتَصَوَّرُ أَنْ يُحِبَّ شَيْئًا إِلَّا لِمُنَاسَبَتِهِ لِمَا هُوَ
مَحْبُوبٌ عِنْدَهُ وَهُوَ رِضَا اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Karena tidak terbayangkan ia akan mencintai sesuatu kecuali
karena adanya kesesuaian dengan apa yang ia cintai, yaitu keridaan Allah 'Azza
wa Jalla.
بَلْ
أَزِيدُ عَلَى هٰذَا وَأَقُولُ إِذَا اجْتَمَعَ فِي قَلْبِهِ مَحَبَّتَانِ،
مَحَبَّةُ اللَّهِ وَمَحَبَّةُ الدُّنْيَا، وَاجْتَمَعَ فِي شَخْصٍ وَاحِدٍ
مَعْنَيَانِ جَمِيعًا حَتَّى صَلُحَ لِأَنْ يُتَوَسَّلَ بِهِ إِلَى اللَّهِ
وَإِلَى الدُّنْيَا، فَإِذَا أَحَبَّهُ لِصَلَاحِهِ لِلْأَمْرَيْنِ فَهُوَ مِنَ
الْمُحِبِّينَ فِي اللَّهِ.
Bahkan saya tambahkan lagi, jika di dalam hatinya terkumpul
dua cinta, yaitu cinta kepada Allah dan cinta kepada dunia, dan pada satu orang
terkumpul dua manfaat sekaligus sehingga ia layak menjadi sarana menuju Allah
dan dunia, lalu ia mencintainya karena kelayakannya untuk kedua hal itu, maka
ia termasuk orang yang mencintai karena Allah.
كَمَنْ
يُحِبُّ أُسْتَاذَهُ الَّذِي يُعَلِّمُهُ الدِّينَ وَيَكْفِيهِ مُهِمَّاتِ
الدُّنْيَا بِالْمُوَاسَاةِ فِي الْمَالِ، فَأَحَبَّهُ مِنْ حَيْثُ إِنَّ فِي
طَبْعِهِ طَلَبَ الرَّاحَةِ فِي الدُّنْيَا وَالسَّعَادَةِ فِي الْآخِرَةِ، فَهُوَ
وَسِيلَةٌ إِلَيْهِمَا فَهُوَ مُحِبٌّ فِي اللَّهِ.
Seperti orang yang mencintai gurunya yang mengajarkannya
agama sekaligus mencukupi kebutuhan dunianya dengan bantuan harta. Ia
mencintainya karena tabiatnya menginginkan ketenangan di dunia dan kebahagiaan
di akhirat. Maka guru itu adalah sarana untuk keduanya, sehingga ia adalah
pencinta karena Allah.
وَلَيْسَ
مِنْ شَرْطِ حُبِّ اللَّهِ أَنْ لَا يُحَبَّ فِي الْعَاجِلِ حَظًّا الْبَتَّةَ.
Bukanlah syarat cinta kepada Allah bahwa seseorang sama
sekali tidak boleh mencintai kenikmatan dunia.
إِذِ
الدُّعَاءُ الَّذِي أُمِرَ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ
وَسَلَامُهُ فِيهِ جَمْعٌ بَيْنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
Karena doa yang diperintahkan kepada para Nabi—semoga
shalawat dan salam Allah tercurah atas mereka—menggabungkan antara urusan dunia
dan akhirat.
وَمِنْ
ذٰلِكَ قَوْلُهُمْ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ
حَسَنَةً.
Di antaranya adalah doa mereka, "Ya Tuhan kami, berilah
kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat."
وَقَالَ
عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي دُعَائِهِ: اللَّهُمَّ لَا تُشْمِتْ بِي عَدُوِّي،
وَلَا تُسِئْ بِي صَدِيقِي، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتِي فِي دِينِي، وَلَا تَجْعَلِ
الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّي.
Isa 'alaihissalam berkata dalam doanya, "Ya Allah,
jangan biarkan musuhku bersukacita atasku, jangan buat sahabatku berduka
karenaku, jangan jadikan musibahku menimpa agamaku, dan jangan jadikan dunia
sebagai tujuan terbesarku."
فَدَفْعُ
شَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ مِنْ حُظُوظِ الدُّنْيَا.
Menolak kegembiraan musuh adalah bagian dari kenikmatan
dunia.
وَلَمْ
يَقُلْ وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَصْلًا مِنْ هَمِّي، بَلْ قَالَ لَا
تَجْعَلْهَا أَكْبَرَ هَمِّي.
Beliau tidak mengatakan, "Jangan jadikan dunia sebagai
tujuanku sama sekali," tetapi beliau berkata, "Jangan menjadikannya
tujuan terbesarku."
وَقَالَ
نَبِيُّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دُعَائِهِ: اللَّهُمَّ إِنِّي
أَسْأَلُكَ رَحْمَةً أَنَالُ بِهَا شَرَفَ كَرَامَتِكَ فِي الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ.
Nabi kita صلى
الله عليه وسلم bersabda dalam doanya, "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu
rahmat yang dengannya aku meraih kemuliaan-Mu di dunia dan akhirat."
وَقَالَ
اللَّهُمَّ عَافِنِي مِنْ بَلَاءِ الدُّنْيَا وَبَلَاءِ الْآخِرَةِ.
Beliau juga berdoa, "Ya Allah, selamatkanlah aku dari
bencana dunia dan bencana akhirat."
وَعَلَى
الْجُمْلَةِ، فَإِذَا لَمْ يَكُنْ حُبُّ السَّعَادَةِ فِي الْآخِرَةِ مُنَاقِضًا
لِحُبِّ اللَّهِ تَعَالَى، فَحُبُّ السَّلَامَةِ وَالصِّحَّةِ وَالْكِفَايَةِ
وَالْكَرَامَةِ فِي الدُّنْيَا كَيْفَ يَكُونُ مُنَاقِضًا لِحُبِّ اللَّهِ؟
Secara umum, jika cinta akan kebahagiaan di akhirat tidak
bertentangan dengan cinta kepada Allah, lalu bagaimana mungkin cinta akan
keselamatan, kesehatan, kecukupan, dan kemuliaan di dunia bertentangan dengan
cinta kepada Allah?
وَالدُّنْيَا
وَالْآخِرَةُ عِبَارَةٌ عَنْ حَالَتَيْنِ إِحْدَاهُمَا أَقْرَبُ مِنَ الْأُخْرَى.
Dunia dan akhirat adalah dua keadaan, yang satu lebih dekat
dari yang lain.
فَكَيْفَ
يُتَصَوَّرُ أَنْ يُحِبَّ الْإِنْسَانُ حُظُوظَ نَفْسِهِ غَدًا وَلَا يُحِبَّهَا
الْيَوْمَ؟
Bagaimana mungkin seseorang mencintai kenikmatan untuk
dirinya di masa depan (akhirat), tetapi tidak mencintainya hari ini (dunia)?
وَإِنَّمَا
يُحِبُّهَا غَدًا لِأَنَّ الْغَدَ سَيَصِيرُ حَالًا رَاهِنَةً، فَالْحَالَةُ
الرَّاهِنَةُ لَا بُدَّ إِلَّا أَنْ تَكُونَ مَطْلُوبَةً أَيْضًا.
Ia mencintai kenikmatan di masa depan karena masa depan itu
akan menjadi keadaan saat ini, maka keadaan saat ini pun pasti diinginkan juga.
إِلَّا
أَنَّ الْحُظُوظَ الْعَاجِلَةَ مُنْقَسِمَةٌ إِلَى مَا يُضَادُّ حُظُوظَ
الْآخِرَةِ وَيَمْنَعُ مِنْهَا، وَهِيَ الَّتِي احْتَرَزَ عَنْهَا الْأَنْبِيَاءُ
وَالْأَوْلِيَاءُ وَأُمِرُوا بِالِاحْتِرَازِ عَنْهَا.
Hanya saja, kenikmatan duniawi terbagi menjadi yang
bertentangan dengan kenikmatan akhirat dan menghalanginya. Inilah yang
dihindari oleh para nabi dan wali, dan mereka diperintahkan untuk menjauhinya.
وَإِلَى
مَا لَا يُضَادُّ، وَهِيَ الَّتِي لَمْ يَمْتَنِعُوا مِنْهَا، كَالنِّكَاحِ
الصَّحِيحِ وَأَكْلِ الْحَلَالِ وَغَيْرِ ذٰلِكَ.
Dan ada pula yang tidak bertentangan, yaitu yang tidak
mereka jauhi, seperti pernikahan yang sah, memakan yang halal, dan lain
sebagainya.
فَمَا
يُضَادُّ حُظُوظَ الْآخِرَةِ فَحَقُّ الْعَاقِلِ أَنْ يَكْرَهَهُ وَلَا يُحِبَّهُ.
Adapun yang bertentangan dengan kenikmatan akhirat, maka
kewajiban orang berakal adalah membencinya dan tidak mencintainya.
أَعْنِي
أَنْ يَكْرَهَهُ بِعَقْلِهِ لَا بِطَبْعِهِ.
Maksudku, ia membencinya dengan akalnya, bukan dengan
tabiatnya.
كَمَا
يَكْرَهُ التَّنَاوُلَ مِنْ طَعَامٍ لَذِيذٍ لِمَلِكٍ مِنَ الْمُلُوكِ يَعْلَمُ
أَنَّهُ لَوْ أَقْدَمَ عَلَيْهِ لَقُطِعَتْ يَدُهُ أَوْ حُزَّتْ رَقَبَتُهُ.
Seperti ia membenci untuk memakan hidangan lezat milik
seorang raja, karena ia tahu jika ia nekat memakannya, tangannya akan dipotong
atau lehernya akan dipenggal.
لَا
بِمَعْنَى أَنَّ الطَّعَامَ اللَّذِيذَ يَصِيرُ بِحَيْثُ لَا يَشْتَهِيهِ
بِطَبْعِهِ وَلَا يَسْتَلِذُّهُ لَوْ أَكَلَهُ, فَإِنَّ ذٰلِكَ مُحَالٌ.
Ini bukan berarti makanan lezat itu menjadi tidak ia
inginkan secara naluriah atau tidak terasa lezat jika dimakan, karena itu
mustahil.
وَلٰكِنْ
عَلَى مَعْنَى أَنَّهُ يَزْجُرُهُ عَقْلُهُ عَنِ الْإِقْدَامِ عَلَيْهِ وَتَحْصُلُ
فِيهِ كَرَاهَةُ الضَّرَرِ الْمُتَعَلِّقِ بِهِ.
Tetapi maksudnya adalah akalnya mencegahnya untuk bertindak,
dan timbullah dalam dirinya rasa benci terhadap bahaya yang terkait dengannya.
وَالْمَقْصُودُ
مِنْ هٰذَا أَنَّهُ لَوْ أَحَبَّ أُسْتَاذَهُ لِأَنَّهُ يُوَاسِيهِ وَيُعَلِّمُهُ،
أَوْ تِلْمِيذَهُ لِأَنَّهُ يَتَعَلَّمُ مِنْهُ وَيَخْدُمُهُ، وَأَحَدُهُمَا حَظٌّ
عَاجِلٌ وَالْآخَرُ آَجِلٌ، لَكَانَ فِي زُمْرَةِ الْمُتَحَابِّينَ فِي اللَّهِ.
Maksud dari semua ini adalah, jika seseorang mencintai
gurunya karena ia membantunya dan mengajarinya, atau mencintai muridnya karena
ia belajar darinya dan dilayani olehnya—yang satu adalah manfaat duniawi dan
yang lain manfaat ukhrawi—maka ia termasuk dalam golongan orang-orang yang
saling mencintai karena Allah.
وَلٰكِنْ
بِشَرْطٍ وَاحِدٍ، وَهُوَ أَنْ يَكُونَ بِحَيْثُ لَوْ مَنَعَهُ الْعِلْمُ مَثَلًا
أَوْ تَعَذَّرَ عَلَيْهِ تَحْصِيلُهُ مِنْهُ لَنَقَصَ حُبُّهُ بِسَبَبِهِ.
Akan tetapi dengan satu syarat, yaitu seandainya ia tidak
lagi mendapatkan ilmu, misalnya, atau sulit mendapatkannya dari orang itu, maka
cintanya akan berkurang karenanya.
فَالْقَدْرُ
الَّذِي يَنْقُصُ بِسَبَبِ فَقْدِهِ هُوَ لِلَّهِ تَعَالَى، وَلَهُ عَلَى ذٰلِكَ
الْقَدْرِ ثَوَابُ الْحُبِّ فِي اللَّهِ.
Maka kadar cinta yang berkurang karena hilangnya manfaat itu
adalah bagian cinta karena Allah Ta'ala, dan atas kadar cinta itulah ia
mendapatkan pahala cinta karena Allah.
وَلَيْسَ
بِمُسْتَنْكَرٍ أَنْ يَشْتَدَّ حُبُّكَ لِإِنْسَانٍ لِجُمْلَةِ أَغْرَاضٍ
تَرْتَبِطُ لَكَ بِهِ.
Tidaklah aneh jika cintamu pada seseorang menjadi sangat
kuat karena berbagai tujuan yang terikat padanya.
فَإِنِ
امْتَنَعَ بَعْضُهَا نَقَصَ حُبُّكَ، وَإِنْ زَادَ زَادَ الْحُبُّ.
Jika sebagian tujuan itu hilang, cintamu berkurang. Jika
bertambah, cintamu pun bertambah.
فَلَيْسَ
حُبُّكَ الذَّهَبَ كَحُبِّكَ لِلْفِضَّةِ إِذَا تَسَاوَى مِقْدَارُهُمَا.
Cintamu pada emas tidak sama dengan cintamu pada perak jika
jumlahnya sama.
لِأَنَّ
الذَّهَبَ يُوصِلُ إِلَى أَغْرَاضٍ هِيَ أَكْثَرُ مِمَّا تُوصِلُ إِلَيْهِ
الْفِضَّةُ.
Karena emas bisa digunakan untuk mencapai tujuan yang lebih
banyak daripada perak.
فَإِذَنْ
يَزِيدُ الْحُبُّ بِزِيَادَةِ الْغَرَضِ، وَلَا يَسْتَحِيلُ اجْتِمَاعُ
الْأَغْرَاضِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَالْأُخْرَوِيَّةِ، فَهُوَ دَاخِلٌ فِي جُمْلَةِ
الْحُبِّ لِلَّهِ.
Jadi, cinta bertambah seiring bertambahnya tujuan. Tidak
mustahil untuk menggabungkan tujuan duniawi dan ukhrawi. Cinta seperti ini
termasuk dalam kategori cinta karena Allah.
وَحَدُّهُ
هُوَ أَنَّ كُلَّ حُبٍّ لَوْلَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ لَمْ
يَتَصَوَّرْ وُجُودُهُ فَهُوَ حُبٌّ فِي اللَّهِ.
Batasannya adalah: setiap cinta yang tidak akan terbayangkan
ada seandainya tidak ada iman kepada Allah dan hari akhir, maka itu adalah
cinta karena Allah.
وَكَذٰلِكَ
كُلُّ زِيَادَةٍ فِي الْحُبِّ لَوْلَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ لَمْ تَكُنْ تِلْكَ
الزِّيَادَةُ، فَتِلْكَ الزِّيَادَةُ مِنَ الْحُبِّ فِي اللَّهِ.
Begitu pula setiap tambahan dalam cinta yang tidak akan ada
seandainya tidak ada iman kepada Allah, maka tambahan itu termasuk cinta karena
Allah.
فَذٰلِكَ
وَإِنْ دَقَّ فَهُوَ عَزِيزٌ.
Meskipun hal ini sangat halus, ia sangat berharga.
قَالَ
الْجُرَيْرِيُّ: تَعَامَلَ النَّاسُ فِي الْقَرْنِ الْأَوَّلِ بِالدِّينِ حَتَّى
رَقَّ الدِّينُ.
Al-Jurairi berkata: "Orang-orang di abad pertama
berinteraksi atas dasar agama, hingga akhirnya agama menipis."
وَتَعَامَلُوا
فِي الْقَرْنِ الثَّانِي بِالْوَفَاءِ حَتَّى ذَهَبَ الْوَفَاءُ.
"Di abad kedua, mereka berinteraksi atas dasar
kesetiaan, hingga kesetiaan hilang."
وَفِي
الثَّالِثِ بِالْمُرُوءَةِ حَتَّى ذَهَبَتِ الْمُرُوءَةُ.
"Di abad ketiga, atas dasar kehormatan diri (muru'ah),
hingga muru'ah pun hilang."
وَلَمْ
يَبْقَ إِلَّا الرَّهْبَةُ وَالرَّغْبَةُ.
"Dan tidak tersisa kecuali rasa takut dan keinginan
(duniawi)."
ٱلْقِسْمُ
الرَّابِعُ أَنْ يُحِبَّهُ لِلَّهِ وَفِي اللَّهِ، لَا لِيَنَالَ مِنْهُ عِلْمًا
أَوْ عَمَلًا أَوْ يَتَوَسَّلَ بِهِ إِلَى أَمْرٍ وَرَاءَ ذَاتِهِ.
Bagian keempat adalah mencintainya karena Allah dan di dalam
Allah, bukan untuk mendapatkan ilmu atau amal darinya, atau menjadikannya
sarana untuk sesuatu di luar dirinya.
وَهٰذَا
أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَهُوَ أَدَقُّهَا وَأَغْمَضُهَا.
Ini adalah tingkatan tertinggi, paling halus, dan paling
tersembunyi.
وَهٰذَا
الْقِسْمُ أَيْضًا مُمْكِنٌ.
Bagian ini juga mungkin terjadi.
فَإِنَّ
مِنْ آثَارِ غَلَبَةِ الْحُبِّ أَنْ يَتَعَدَّى مِنَ الْمَحْبُوبِ إِلَى كُلِّ
مَنْ يَتَعَلَّقُ بِالْمَحْبُوبِ وَيُنَاسِبُهُ وَلَوْ مِنْ بَعْدٍ.
Karena di antara efek cinta yang mendalam adalah ia meluas
dari yang dicintai kepada semua yang berkaitan dengannya, meskipun dari jauh.
فَمَنْ
أَحَبَّ إِنْسَانًا حُبًّا شَدِيدًا أَحَبَّ مُحِبَّ ذٰلِكَ الْإِنْسَانِ،
وَأَحَبَّ مَحْبُوبَهُ، وَأَحَبَّ مَنْ يَخْدُمُ مَنْ يَخْدُمُهُ، وَأَحَبَّ مَنْ
يَثْنِي عَلَيْهِ مَحْبُوبُهُ، وَأَحَبَّ مَنْ يَتَسَارَعُ إِلَى رِضَا
مَحْبُوبِهِ.
Barangsiapa mencintai seseorang dengan sangat dalam, ia akan
mencintai orang yang mencintai kekasihnya, mencintai apa yang dicintai
kekasihnya, mencintai pelayan dari pelayan kekasihnya, mencintai orang yang
dipuji oleh kekasihnya, dan mencintai orang yang bersegera mencari rida
kekasihnya.
حَتَّى
قَالَ بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ: إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَحَبَّ الْمُؤْمِنَ
أَحَبَّ كَلْبَهُ.
Sampai Baqiyyah bin Al-Walid berkata, "Sesungguhnya
jika seorang mukmin mencintai mukmin lainnya, ia bahkan akan mencintai
anjingnya."
وَهُوَ
كَمَا قَالَ، وَيَشْهَدُ لَهُ التَّجْرِبَةُ فِي أَحْوَالِ الْعُشَّاقِ وَيَدُلُّ
عَلَيْهِ أَشْعَارُ الشُّعَرَاءِ.
Ucapannya benar, dan hal ini terbukti dalam pengalaman para
pecinta dan ditunjukkan dalam syair-syair para penyair.
وَلِذٰلِكَ
يُحْفَظُ ثَوْبُ الْمَحْبُوبِ وَيُخْفَى تَذْكِرَةً مِنْ جِهَتِهِ، وَيُحَبُّ
مَنْزِلُهُ وَمَحَلَّتُهُ وَجِيرَانُهُ.
Karena itu, pakaian sang kekasih disimpan dan disembunyikan
sebagai kenang-kenangan. Rumahnya, kampungnya, dan para tetangganya pun ikut
dicintai.
حَتَّى
قَالَ مَجْنُونُ بَنِي عَامِرٍ:
أَمُرُّ
عَلَى الدِّيَارِ دِيَارِ لَيْلَى … أُقَبِّلُ ذَا الْجِدَارَ وَذَا الْجِدَارَا
وَمَا
حُبُّ الدِّيَارِ شَغَفْنَ قَلْبِي … وَلٰكِنْ حُبُّ مَنْ سَكَنَ الدِّيَارَا
Sampai Majnun Bani 'Amir berkata: "Aku melewati
perkampungan, kampungnya Laila... Kucìum dinding ini dan dinding itu. Bukan
cinta pada perkampungan yang telah menawan hatiku... Tetapi cinta pada dia yang
menghuni perkampungan itu."
فَإِذًا
الْمُشَاهَدَةُ وَالتَّجْرِبَةُ تَدُلَّانِ عَلَى أَنَّ الْحُبَّ يَتَعَدَّى مِنْ
ذَاتِ الْمَحْبُوبِ إِلَى مَا يُحِيطُ بِهِ وَيَتَعَلَّقُ بِأَسْبَابِهِ
وَيُنَاسِبُهُ وَلَوْ مِنْ بَعْدٍ.
Jadi, pengamatan dan pengalaman menunjukkan bahwa cinta
meluas dari diri yang dicintai kepada apa pun yang mengelilinginya, yang
berkaitan dengannya, dan yang menyerupainya, meskipun dari jauh.
وَلٰكِنَّ
ذٰلِكَ مِنْ خَاصِيَّةِ فَرْطِ الْمَحَبَّةِ، فَأَصْلُ الْمَحَبَّةِ لَا يَكْفِي
فِيهِ.
Akan tetapi, hal itu adalah ciri khas dari cinta yang
meluap-luap. Cinta biasa saja tidak cukup untuk itu.
وَيَكُونُ
اتِّسَاعُ الْحُبِّ فِي تَعَدِّيهِ مِنَ الْمَحْبُوبِ إِلَى مَا يَكْتَنِفُهُ
وَيُحِيطُ بِهِ وَيَتَعَلَّقُ بِأَسْبَابِهِ بِحَسَبِ إِفْرَاطِ الْمَحَبَّةِ
وَقُوَّتِهَا.
Luasnya jangkauan cinta yang meluas dari yang dicintai
kepada sekelilingnya bergantung pada kadar dan kekuatan cinta itu sendiri.
وَكَذٰلِكَ
حُبُّ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِذَا قَوِيَ وَغَلَبَ عَلَى الْقَلْبِ
وَاسْتَوْلَى عَلَيْهِ حَتَّى انْتَهَى إِلَى حَدِّ الِاسْتِهْتَارِ، يَتَعَدَّى
إِلَى كُلِّ مَوْجُودٍ سِوَاهُ.
Begitu pula cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jika ia
kuat, menguasai hati, dan mencapai puncaknya, maka ia akan meluas kepada setiap
makhluk selain-Nya.
فَإِنَّ
كُلَّ مَوْجُودٍ سِوَاهُ أَثَرٌ مِنْ آثَارِ قُدْرَتِهِ.
Karena setiap makhluk selain-Nya adalah jejak dari
kekuasaan-Nya.
وَمَنْ
أَحَبَّ إِنْسَانًا أَحَبَّ صَنْعَتَهُ وَخَطَّهُ وَجَمِيعَ أَفْعَالِهِ.
Barangsiapa mencintai seseorang, ia akan mencintai karyanya,
tulisannya, dan semua perbuatannya.
وَلِذٰلِكَ
كَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حُمِلَ إِلَيْهِ بَاكُورَةٌ مِنَ
الْفَوَاكِهِ مَسَحَ بِهَا عَيْنَيْهِ وَأَكْرَمَهَا وَقَالَ: إِنَّهُ قَرِيبُ
الْعَهْدِ بِرَبِّنَا.
Karena itu, Nabi صلى الله عليه وسلم, jika dibawakan buah hasil panen pertama,
beliau akan mengusapkannya ke matanya, memuliakannya, dan berkata,
"Sesungguhnya ia baru saja berasal dari Tuhan kita."
وَحُبُّ
اللَّهِ تَعَالَى تَارَةً يَكُونُ لِصِدْقِ الرَّجَاءِ فِي مَوَاعِيدِهِ وَمَا
يُتَوَقَّعُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَعِيمِهِ.
Cinta kepada Allah Ta'ala terkadang muncul karena keyakinan
pada janji-janji-Nya dan kenikmatan akhirat yang diharapkan.
وَتَارَةً
لِمَا سَلَفَ مِنْ أَيَادِيهِ وَصُنُوفِ نِعْمَتِهِ.
Terkadang karena kebaikan dan aneka nikmat-Nya yang telah
lalu.
وَتَارَةً
لِذَاتِهِ لَا لِأَمْرٍ آخَرَ.
Dan terkadang karena Dzat-Nya semata, bukan karena hal lain.
وَهُوَ
أَدَقُّ ضَرْبِ الْمَحَبَّةِ وَأَعْلَاهَا.
Inilah jenis cinta yang paling halus dan paling tinggi.
وَسَيَأْتِي
تَحْقِيقُهَا فِي كِتَابِ الْمَحَبَّةِ مِنْ رُبْعِ الْمُنْجِيَاتِ إِنْ شَاءَ
اللَّهُ تَعَالَى.
Penjelasannya akan datang dalam Kitab Al-Mahabbah (Kitab
Cinta) pada bagian *Rubu' Al-Munjiyat* (Perkara-perkara yang Menyelamatkan),
insya Allah Ta'ala.
وَكَيْفَمَا
اتَّفَقَ حُبُّ اللَّهِ فَإِذَا قَوِيَ تَعَدَّى إِلَى كُلِّ مُتَعَلِّقٍ بِهِ
ضَرْبًا مِنَ التَّعَلُّقِ, حَتَّى يَتَعَدَّى إِلَى مَا هُوَ فِي نَفْسِهِ
مُؤْلِمٌ مَكْرُوهٌ.
Bagaimanapun bentuk cinta kepada Allah, jika ia kuat, ia
akan meluas kepada segala sesuatu yang terkait dengan-Nya, bahkan kepada
hal-hal yang pada dasarnya menyakitkan dan dibenci.
وَلٰكِنَّ
فُرْطَ الْحُبِّ يُضْعِفُ الْإِحْسَاسَ بِالْأَلَمِ.
Akan tetapi, cinta yang meluap-luap akan melemahkan rasa
sakit.
وَالْفَرَحُ
بِفِعْلِ الْمَحْبُوبِ وَقَصْدِهِ إِيَّاهُ بِالْإِيلَامِ يَغْمُرُ إِدْرَاكَ
الْأَلَمِ.
Rasa gembira atas perbuatan sang kekasih dan niatnya untuk
menyakiti akan menenggelamkan kesadaran akan rasa sakit itu.
وَذٰلِكَ
كَالْفَرَحِ بِضَرْبَةٍ مِنَ الْمَحْبُوبِ أَوْ قَرْصَةٍ فِيهَا نَوْعُ
مُعَاتَبَةٍ, فَإِنَّ قُوَّةَ الْمَحَبَّةِ تُثِيرُ فَرَحًا يَغْمُرُ إِدْرَاكَ
الْأَلَمِ فِيهِ.
Seperti rasa gembira karena pukulan atau cubitan dari
kekasih yang mengandung sedikit teguran, karena kekuatan cinta memunculkan
kegembiraan yang menenggelamkan kesadaran akan rasa sakitnya.
وَقَدِ
انْتَهَتْ مَحَبَّةُ اللَّهِ بِقَوْمٍ إِلَى أَنْ قَالُوا: لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ
الْبَلَاءِ وَالنِّعْمَةِ، فَإِنَّ الْكُلَّ مِنَ اللَّهِ.
Cinta kepada Allah telah membawa sebagian orang sampai pada
titik di mana mereka berkata, "Kami tidak membedakan antara cobaan dan
nikmat, karena semuanya berasal dari Allah."
وَلَا
نَفْرَحُ إِلَّا بِمَا فِيهِ رِضَاهُ.
"Dan kami tidak bergembira kecuali dengan apa yang
mendatangkan rida-Nya."
حَتَّى
قَالَ بَعْضُهُمْ: لَا أُرِيدُ أَنْ أَنَالَ مَغْفِرَةَ اللَّهِ بِمَعْصِيَةِ
اللَّهِ.
Hingga sebagian dari mereka berkata, "Aku tidak ingin
mendapatkan ampunan Allah melalui kemaksiatan kepada Allah."
وَقَالَ
سَمْنُونُ: وَلَيْسَ لِي فِي سِوَاكَ حَظٌّ … فَكَيْفَمَا شِئْتَ فَاخْتَبِرْنِي
Dan Samnun berkata: "Bagiku tiada bagian selain
Engkau... Maka ujilah aku sekehendak-Mu."
وَسَيَأْتِي
تَحْقِيقُ ذٰلِكَ فِي كِتَابِ الْمَحَبَّةِ.
Penjelasan mendalam tentang ini akan datang dalam Kitab
Al-Mahabbah.
وَالْمَقْصُودُ
أَنَّ حُبَّ اللَّهِ إِذَا قَوِيَ أَثْمَرَ حُبَّ كُلِّ مَنْ يَقُومُ بِحَقِّ
عِبَادَةِ اللَّهِ فِي عِلْمٍ أَوْ عَمَلٍ.
Intinya adalah, cinta kepada Allah jika kuat akan membuahkan
cinta kepada setiap orang yang menunaikan hak ibadah kepada Allah, baik dalam
ilmu maupun amal.
وَأَثْمَرَ
حُبَّ كُلِّ مَنْ فِيهِ صِفَةٌ مَرْضِيَّةٌ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ
أَوْ تَأَدُّبٍ بِآدَابِ الشَّرْعِ.
Dan membuahkan cinta kepada setiap orang yang memiliki sifat
yang diridai Allah, seperti akhlak yang baik atau adab yang sesuai syariat.
وَمَا
مِنْ مُحِبٍّ لِلْآخِرَةِ وَمُحِبٍّ لِلَّهِ إِلَّا إِذَا أُخْبِرَ عَنْ حَالِ
رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا عَالِمٌ عَابِدٌ وَالْآخَرُ جَاهِلٌ فَاسِقٌ، إِلَّا
وَجَدَ فِي نَفْسِهِ مَيْلًا إِلَى الْعَالِمِ الْعَابِدِ.
Tidak ada seorang pun pencinta akhirat dan pencinta Allah,
kecuali jika ia diberi kabar tentang dua orang—yang satu orang alim yang taat
beribadah, dan yang lain orang bodoh yang fasik—pasti ia akan menemukan dalam
dirinya kecenderungan kepada orang alim yang taat itu.
ثُمَّ
يَضْعُفُ ذٰلِكَ الْمَيْلُ وَيَقْوَى بِحَسَبِ ضَعْفِ إِيمَانِهِ وَقُوَّتِهِ،
وَبِحَسَبِ ضَعْفِ حُبِّهِ لِلَّهِ وَقُوَّتِهِ.
Kemudian, kecenderungan itu melemah dan menguat sesuai
dengan lemah dan kuatnya imannya, serta lemah dan kuatnya cintanya kepada
Allah.
وَهٰذَا
الْمَيْلُ حَاصِلٌ وَإِنْ كَانَا غَائِبَيْنِ عَنْهُ، بِحَيْثُ يَعْلَمُ أَنَّهُ
لَا يُصِيبُهُ مِنْهُمَا خَيْرٌ وَلَا شَرٌّ فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِ.
Kecenderungan ini ada meskipun kedua orang itu jauh darinya,
sehingga ia tahu bahwa ia tidak akan mendapatkan kebaikan atau keburukan dari
mereka di dunia maupun di akhirat.
فَذٰلِكَ
الْمَيْلُ هُوَ حُبٌّ فِي اللَّهِ وَلِلَّهِ مِنْ غَيْرِ حَظٍّ.
Kecenderungan itulah yang disebut cinta di dalam Allah dan
karena Allah, tanpa pamrih.
فَإِنَّهُ
إِنَّمَا يُحِبُّهُ لِأَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ، وَلِأَنَّهُ مَرْضِيٌّ عِنْدَ
اللَّهِ تَعَالَى، وَلِأَنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ تَعَالَى، وَلِأَنَّهُ مَشْغُولٌ
بِعِبَادَةِ اللَّهِ تَعَالَى.
Ia mencintainya karena Allah mencintainya, karena ia diridai
di sisi Allah Ta'ala, karena ia mencintai Allah Ta'ala, dan karena ia sibuk
beribadah kepada Allah Ta'ala.
إِلَّا
أَنَّهُ إِذَا ضَعُفَ لَمْ يَظْهَرْ أَثَرٌ، وَلَا يَظْهَرُ بِهِ ثَوَابٌ وَلَا
أَجْرٌ.
Hanya saja, jika cinta itu lemah, maka tidak akan tampak
pengaruhnya, dan tidak pula mendatangkan pahala.
فَإِذَا
قَوِيَ حُمِلَ عَلَى الْمُوَالَاةِ وَالنُّصْرَةِ وَالذَّبِّ بِالنَّفْسِ
وَالْمَالِ وَاللِّسَانِ.
Jika cinta itu kuat, ia akan mendorong untuk memberi
loyalitas, pertolongan, dan pembelaan dengan jiwa, harta, dan lisan.
وَتَتَفَاوَتُ
النَّاسُ فِيهِ بِحَسَبِ تَفَاوُتِهِمْ فِي حُبِّ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Manusia berbeda-beda dalam hal ini sesuai dengan perbedaan
tingkat cinta mereka kepada Allah 'Azza wa Jalla.
وَلَوْ
كَانَ الْحُبُّ مَقْصُورًا عَلَى حَظٍّ يُنَالُ مِنَ الْمَحْبُوبِ فِي الْحَالِ
أَوِ الْمَآلِ، لَمَا تَصَوَّرَ حُبُّ الْمَوْتَى مِنَ الْعُلَمَاءِ
وَالْعُبَّادِ، وَمِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ، بَلْ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ
الْمُنْقَرِضِينَ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ وَسَلَامُهُ.
Seandainya cinta hanya terbatas pada manfaat yang didapat
dari yang dicintai, baik sekarang atau nanti, maka tidak mungkin ada cinta
kepada orang-orang yang telah wafat dari kalangan ulama, ahli ibadah, sahabat,
tabi'in, bahkan para nabi—semoga shalawat dan salam Allah tercurah atas mereka.
وَحُبُّ
جَمِيعِهِمْ مَكْنُونٌ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ مُتَدَيِّنٍ.
Kecintaan kepada mereka semua tersimpan di dalam hati setiap
muslim yang taat beragama.
وَيَتَبَيَّنُ
ذٰلِكَ بِغَضَبِهِ عِنْدَ طَعْنِ أَعْدَائِهِمْ فِي وَاحِدٍ مِنْهُمْ.
Hal itu terlihat dari amarahnya ketika musuh-musuh mereka
mencela salah satu dari mereka.
وَيُفْرِحُهُ
عِنْدَ الثَّنَاءِ عَلَيْهِمْ وَذِكْرِ مَحَاسِنِهِمْ.
Dan rasa gembiranya ketika mereka dipuji dan
kebaikan-kebaikan mereka disebut.
وَكُلُّ
ذٰلِكَ حُبٌّ لِلَّهِ لِأَنَّهُمْ خَوَاصُّ عِبَادِ اللَّهِ.
Semua itu adalah cinta karena Allah, karena mereka adalah
hamba-hamba pilihan Allah.
وَمَنْ
أَحَبَّ مَلِكًا أَوْ شَخْصًا جَمِيلًا أَحَبَّ خَوَاصَّهُ وَخَدَمَهُ وَأَحَبَّ
مَنْ أَحَبَّهُ.
Barangsiapa mencintai seorang raja atau seorang yang
rupawan, ia akan mencintai orang-orang dekatnya, pelayannya, dan orang yang
mencintainya.
إِلَّا
أَنَّهُ يُمْتَحَنُ الْحُبُّ بِالْمُقَابَلَةِ بِحُظُوظِ النَّفْسِ.
Hanya saja, cinta itu diuji ketika dihadapkan dengan
kepentingan diri.
وَقَدْ
يَغْلِبُ بِحَيْثُ لَا يَبْقَى لِلنَّفْسِ حَظٌّ إِلَّا فِيمَا هُوَ حَظُّ
الْمَحْبُوبِ.
Terkadang, cinta bisa begitu mendominasi sehingga tidak ada
lagi kepentingan bagi diri sendiri kecuali apa yang menjadi kepentingan sang
kekasih.
وَعَنْهُ
عَبَّرَ قَوْلُ مَنْ قَالَ: أُرِيدُ وِصَالَهُ وَيُرِيدُ هَجْرِي … فَأَتْرُكُ مَا
أُرِيدُ لِمَا يُرِيدُ.
Hal ini diungkapkan oleh penyair: "Aku menginginkan
pertemuan dengannya, sedang ia menginginkan perpisahan... Maka kutinggalkan apa
yang kuinginkan demi apa yang ia inginkan."
وَقَوْلُ
مَنْ قَالَ: وَمَا لِجُرْحٍ إِذَا أَرْضَاكُمْ أَلَمٌ.
Dan ucapan penyair lain: "Tiada rasa sakit pada luka
jika itu membuatmu rida."
وَقَدْ
يَكُونُ الْحُبُّ بِحَيْثُ يُتْرَكُ بِهِ بَعْضُ الْحُظُوظِ دُونَ بَعْضٍ.
Terkadang cinta membuat seseorang meninggalkan sebagian
kepentingannya, tetapi tidak sebagian yang lain.
كَمَنْ
تَسْمَحُ نَفْسُهُ بِأَنْ يُشَاطِرَ مَحْبُوبَهُ فِي نِصْفِ مَالِهِ أَوْ فِي
ثُلُثِهِ أَوْ فِي عُشْرِهِ.
Seperti orang yang rela membagi separuh, sepertiga, atau
sepersepuluh hartanya dengan kekasihnya.
فَمَقَادِيرُ
الْأَمْوَالِ مَوَازِينُ الْمَحَبَّةِ، إِذْ لَا تُعْرَفُ دَرَجَةُ الْمَحْبُوبِ
إِلَّا بِمَحْبُوبٍ يُتْرَكُ فِي مُقَابَلَتِهِ.
Besaran harta adalah timbangan cinta, karena derajat cinta
tidak dapat diketahui kecuali dengan melihat apa yang rela dikorbankan
untuknya.
فَمَنِ
اسْتَغْرَقَ الْحُبُّ جَمِيعَ قَلْبِهِ لَمْ يَبْقَ لَهُ مَحْبُوبٌ سِوَاهُ، فَلَا
يُمْسِكُ لِنَفْسِهِ شَيْئًا.
Barangsiapa cintanya telah menenggelamkan seluruh hatinya,
tidak akan ada yang ia cintai selain Dia, sehingga ia tidak menyisakan apa pun
untuk dirinya sendiri.
مِثْلَ
أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَتْرُكْ
لِنَفْسِهِ أَهْلًا وَلَا مَالًا.
Seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, yang tidak
menyisakan untuk dirinya keluarga maupun harta.
فَسَلَّمَ
ابْنَتَهُ الَّتِي هِيَ قُرَّةُ عَيْنِهِ، وَبَذَلَ جَمِيعَ مَالِهِ.
Ia menyerahkan putrinya yang menjadi penyejuk matanya, dan
menginfakkan seluruh hartanya.
قَالَ
ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ وَعِنْدَهُ أَبُو بَكْرٍ وَعَلَيْهِ عَبَاءَةٌ قَدْ
خَلَّلَهَا عَلَى صَدْرِهِ بِخِلَالٍ، إِذْ نَزَلَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ
فَأَقْرَأَهُ عَنِ اللَّهِ السَّلَامَ، وَقَالَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا
لِي أَرَى أَبَا بَكْرٍ عَلَيْهِ عَبَاءَةٌ قَدْ خَلَّلَهَا عَلَى صَدْرِهِ
بِخِلَالٍ؟
Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: Suatu ketika
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم sedang duduk bersama Abu Bakar, yang mengenakan jubah lusuh
yang disematkan di dadanya. Tiba-tiba Jibril 'alaihissalam turun, menyampaikan
salam dari Allah, dan berkata, "Wahai Rasulullah, mengapa aku melihat Abu
Bakar mengenakan jubah lusuh yang disematkan di dadanya?"
فَقَالَ:
أَنْفَقَ مَالَهُ عَلَيَّ قَبْلَ الْفَتْحِ.
Beliau menjawab, "Ia telah menginfakkan seluruh
hartanya untukku sebelum Fathu Makkah."
قَالَ:
فَأَقْرِئْهُ مِنَ اللَّهِ السَّلَامَ وَقُلْ لَهُ يَقُولُ لَكَ رَبُّكَ: أَرَاضٍ
أَنْتَ عَنِّي فِي فَقْرِكَ هٰذَا أَمْ سَاخِطٌ؟
Jibril berkata, "Sampaikan salam dari Allah kepadanya,
dan katakan bahwa Tuhanmu berfirman: 'Apakah engkau rida kepada-Ku dalam
kefakiranmu ini, ataukah engkau murka?'"
قَالَ:
فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ
وَقَالَ: يَا أَبَا بَكْرٍ, هٰذَا جِبْرِيلُ يُقْرِئُكَ السَّلَامَ مِنَ اللَّهِ
وَيَقُولُ: أَرَاضٍ أَنْتَ عَنِّي فِي فَقْرِكَ هٰذَا أَمْ سَاخِطٌ؟
Maka Nabi صلى
الله عليه وسلم menoleh kepada Abu Bakar dan berkata, "Wahai Abu Bakar,
ini Jibril menyampaikan salam dari Allah kepadamu dan berfirman: 'Apakah engkau
rida kepada-Ku dalam kefakiranmu ini, ataukah engkau murka?'"
قَالَ:
فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَالَ: أَعَلَى رَبِّي أَسْخَطُ؟
أَنَا عَنْ رَبِّي رَاضٍ.
Abu Bakar radhiyallahu 'anhu pun menangis dan berkata,
"Apakah aku akan murka kepada Tuhanku? Aku rida kepada Tuhanku."
فَحَصَلَ
مِنْ هٰذَا أَنَّ كُلَّ مَنْ أَحَبَّ عَالِمًا أَوْ عَابِدًا أَوْ أَحَبَّ شَخْصًا
رَاغِبًا فِي عِلْمٍ أَوْ فِي خَيْرٍ، فَإِنَّمَا أَحَبَّهُ فِي اللَّهِ وَلِلَّهِ.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa siapa pun yang mencintai
seorang alim, seorang ahli ibadah, atau seseorang yang bersemangat dalam ilmu
atau kebaikan, maka sesungguhnya ia mencintainya di dalam Allah dan karena
Allah.
وَلَهُ
فِيهِ مِنَ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ بِقَدْرِ قُوَّةِ حُبِّهِ.
Dan ia akan mendapatkan pahala sesuai dengan kekuatan
cintanya.
فَهٰذَا
شَرْحُ الْحُبِّ فِي اللَّهِ وَدَرَجَاتِهِ.
Inilah penjelasan tentang cinta karena Allah dan
tingkatan-tingkatannya.
وَبِهٰذَا
يَتَّضِحُ الْبُغْضُ فِي اللَّهِ أَيْضًا، وَلٰكِنْ نَزِيدُهُ بَيَانًا.