Faidah Pertama

آفَاتُ النِّكَاحِ وَفَوَائِدُهُ، وَفِيهِ فَوَائِدُ خَمْسَةٍ: الْوَلَدُ، وَكَسْرُ الشَّهْوَةِ، وَتَدْبِيرُ الْمَنْزِلِ، وَكَثْرَةُ الْعَشِيرَةِ، وَمُجَاهَدَةُ النَّفْسِ بِالْقِيَامِ بِهِنَّ.

Bahaya-bahaya nikah dan manfaat-manfaatnya. Di dalamnya ada lima manfaat: anak, mematahkan syahwat, mengatur rumah tangga, memperbanyak teman hidup, dan melatih jiwa dengan menunaikan kewajiban-kewajiban itu.

الْفَائِدَةُ الْأُولَىٰ: الْوَلَدُ، وَهُوَ الْأَصْلُ، وَعَلَيْهِ وُضِعَ النِّكَاحُ.

Manfaat pertama adalah anak. Inilah pokoknya. Atas dasar itulah nikah disyariatkan.

وَالْمَقْصُودُ إِبْقَاءُ النَّسْلِ، وَأَنْ لَا يَخْلُوَ الْعَالَمُ عَنْ جِنْسِ الْإِنْسِ.

Tujuannya ialah menjaga keberlangsungan keturunan, agar dunia tidak kosong dari jenis manusia.

وَإِنَّمَا الشَّهْوَةُ خُلِقَتْ بَاعِثَةً مُسْتَحِثَّةً.

Syahwat diciptakan sebagai pendorong dan penggerak.

كَالْمُوَكَّلِ بِالْفَحْلِ فِي إِخْرَاجِ الْبَذْرِ، وَبِالْأُنْثَىٰ فِي التَّمْكِينِ مِنَ الْحَرْثِ.

Seperti penjaga pada hewan jantan yang membantu mengeluarkan benih, dan pada betina yang memberi kemungkinan untuk bercocok tanam.

تَلَطُّفًا بِهِمَا فِي السِّيقَةِ إِلَى اقْتِنَاصِ الْوَلَدِ بِسَبَبِ الْوِقَاعِ.

Itu adalah kelembutan Allah dalam mengarahkan keduanya kepada perolehan anak melalui hubungan badan.

كَالتَّلَطُّفِ بِالطَّيْرِ فِي بَثِّ الْحَبِّ الَّذِي يَشْتَهِيهِ، لِيُسَاقَ إِلَى الشَّبَكَةِ.

Bagaikan tipu daya kepada burung dengan menebarkan biji-bijian yang disukainya, agar ia terseret ke dalam jaring.

وَكَانَتِ الْقُدْرَةُ الْأَزَلِيَّةُ غَيْرَ قَاصِرَةٍ عَنْ اخْتِرَاعِ الْأَشْخَاصِ ابْتِدَاءً مِنْ غَيْرِ حَرَاثَةٍ وَازْدِوَاجٍ.

Kekuasaan azali Allah tentu tidaklah terbatas untuk menciptakan manusia secara langsung, tanpa proses penanaman dan perkawinan.

وَلَكِنَّ الْحِكْمَةَ اقْتَضَتْ تَرْتِيبَ الْمُسَبَّبَاتِ عَلَى الْأَسْبَابِ، مَعَ الِاسْتِغْنَاءِ عَنْهَا.

Akan tetapi, hikmah menghendaki adanya hubungan sebab dan akibat, meskipun Allah tidak memerlukan sebab-sebab itu.

إِظْهَارًا لِلْقُدْرَةِ، وَإِتْمَامًا لِعَجَائِبِ الصُّنْعَةِ.

Hal itu untuk menampakkan kekuasaan, dan menyempurnakan keajaiban ciptaan.

وَتَحْقِيقًا لِمَا سَبَقَتْ بِهِ الْمَشِيئَةُ، وَحَقَّتْ بِهِ الْكَلِمَةُ، وَجَرَىٰ بِهِ الْقَلَمُ.

Juga untuk menegaskan apa yang telah didahului oleh kehendak Allah, yang telah ditetapkan oleh kalimat-Nya, dan yang telah tertulis oleh pena.

وَفِي التَّوَصُّلِ إِلَى الْوَلَدِ قُرْبَةٌ مِنْ أَرْبَعَةِ وُجُوهٍ.

Dan dalam upaya memperoleh anak terdapat kedekatan kepada Allah dari empat sisi.

هِيَ الْأَصْلُ فِي التَّرْغِيبِ فِيهِ عِنْدَ الْأَمْنِ مِنْ غَوَائِلِ الشَّهْوَةِ، حَتَّىٰ لَمْ يُحِبَّ أَحَدُهُمْ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ عَزَبًا.

Itulah dasar anjuran nikah ketika seseorang aman dari bahaya-bahaya syahwat, sampai-sampai mereka tidak suka menghadap Allah dalam keadaan membujang.

الْأَوَّلُ: مُوَافَقَةُ مَحَبَّةِ اللَّهِ بِالسَّعْيِ فِي تَحْصِيلِ الْوَلَدِ لِإِبْقَاءِ جِنْسِ الْإِنْسَانِ.

Pertama, mengikuti kecintaan Allah dengan berusaha mendapatkan anak demi menjaga kelangsungan jenis manusia.

وَالثَّانِي: طَلَبُ مَحَبَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي تَكْثِيرِ مَا بِهِ مُبَاهَاتُهُ.

Kedua, mencari cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memperbanyak umat yang menjadi kebanggaannya.

وَالثَّالِثُ: طَلَبُ التَّبَرُّكِ بِدُعَاءِ الْوَلَدِ الصَّالِحِ بَعْدَهُ.

Ketiga, mencari keberkahan melalui doa anak saleh setelah kematian orang tuanya.

وَالرَّابِعُ: طَلَبُ الشَّفَاعَةِ بِمَوْتِ الْوَلَدِ الصَّغِيرِ إِذَا مَاتَ قَبْلَهُ.

Keempat, mencari syafaat ketika anak kecil meninggal lebih dahulu darinya.

أَمَّا الْوَجْهُ الْأَوَّلُ فَهُوَ أَدَقُّ الْوُجُوهِ وَأَبْعَدُهَا عَنْ إِفْهَامِ الْجَمَاهِيرِ.

Adapun alasan pertama, ia adalah alasan yang paling halus dan paling jauh dari pemahaman orang kebanyakan.

وَهُوَ أَحَقُّهَا وَأَقْوَاهَا عِنْدَ ذَوِي الْبَصَائِرِ النَّافِذَةِ فِي عَجَائِبِ صُنْعِ اللَّهِ تَعَالَىٰ وَمَجَارِي حِكْمِهِ.

Namun ia adalah yang paling benar dan paling kuat bagi orang-orang yang memiliki pandangan tajam terhadap keajaiban ciptaan Allah Ta’ala dan hukum-hukum hikmah-Nya.

وَبَيَانُهُ: أَنَّ السَّيِّدَ إِذَا سَلَّمَ إِلَىٰ عَبْدِهِ الْبَذْرَ وَآلَاتِ الْحَرْثِ، وَهَيَّأَ لَهُ أَرْضًا مُهَيَّأَةً لِلْحَرَاثَةِ، وَكَانَ الْعَبْدُ قَادِرًا عَلَى الْحَرَاثَةِ، وَوُكِّلَ بِهِ مَنْ يَتَقَاضَاهُ عَلَيْهَا، فَإِنْ تَكَاسَلَ وَعَطَّلَ آلَةَ الْحَرْثِ، وَتَرَكَ الْبَذْرَ ضَائِعًا.

Penjelasannya: bila seorang tuan menyerahkan kepada hambanya benih dan alat-alat pertanian, lalu menyiapkan baginya lahan yang siap ditanami, sedangkan si hamba mampu bercocok tanam dan ada yang menagihnya untuk itu, lalu ia bermalas-malasan dan membiarkan alat tanam itu terbengkalai serta membiarkan benih itu sia-sia.

فَسَدَ وَدَفَعَ الْمُوَكَّلَ عَنْ نَفْسِهِ بِنَوْعٍ مِنَ الْحِيلَةِ، كَانَ مُسْتَحِقًّا لِلْمَقْتِ وَالْعِتَابِ مِنْ سَيِّدِهِ.

Kalau benih itu rusak dan ia hendak menyingkirkan penagih itu dengan tipu daya, maka ia layak mendapat murka dan teguran dari tuannya.

وَاللَّهُ تَعَالَىٰ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ، وَخَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَيَيْنِ.

Allah Ta’ala menciptakan dua pasangan, dan Dia menciptakan laki-laki serta perempuan.

وَخَلَقَ النُّطْفَةَ فِي الْفَقَارِ، وَهَيَّأَ لَهَا فِي الْأُنْثَيَيْنِ عُرُوقًا وَمَجَارِيَ.

Dia menciptakan sperma dalam tulang punggung, dan menyiapkan baginya pada perempuan urat-urat dan saluran-saluran.

وَخَلَقَ الرَّحِمَ قَرَارًا وَمُسْتَوْدَعًا لِلنُّطْفَةِ.

Dia menciptakan rahim sebagai tempat menetap dan penyimpanan bagi benih.

وَسَلَّطَ مُتَقَاضِيَ الشَّهْوَةِ عَلَىٰ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الذَّكَرِ وَالْأُنْثَىٰ.

Dia menjadikan penuntut syahwat itu berkuasa atas masing-masing dari laki-laki dan perempuan.

فَهٰذِهِ الْأَفْعَالُ وَالْآلَاتُ تَشْهَدُ بِلِسَانٍ ذَلِقٍ فِي الْإِعْرَابِ عَنْ مُرَادِ خَالِقِهَا.

Maka perbuatan dan alat-alat ini bersaksi dengan bahasa yang fasih tentang maksud Penciptanya.

وَتُنَادِي أَرْبَابَ الْأَلْبَابِ بِتَعْرِيفِ مَا أُعِدَّتْ لَهُ.

Dan semuanya menyeru orang-orang berakal untuk mengenali untuk apa ia disiapkan.

هٰذَا إِنْ لَمْ يُصَرِّحْ بِهِ الْخَالِقُ تَعَالَىٰ عَلَىٰ لِسَانِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمُرَادِ، حَيْثُ قَالَ: تَنَاكَحُوا تَنَاسَلُوا.

Apalagi jika Sang Pencipta Ta’ala telah menjelaskannya secara terang melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau bersabda: menikahlah dan perbanyaklah keturunan.

فَكَيْفَ وَقَدْ صَرَّحَ بِالْأَمْرِ وَبَاحَ بِالسِّرِّ.

Maka bagaimana lagi, sementara beliau telah menegaskan perintah itu dan membuka rahasianya.

فَكُلُّ مُمْتَنِعٍ عَنِ النِّكَاحِ مُعْرِضٌ عَنِ الْحَرَاثَةِ، مُضَيِّعٌ لِلْبَذْرِ.

Maka setiap orang yang menolak nikah berarti berpaling dari pertanian itu, dan menyia-nyiakan benih.

مُعَطِّلٌ لِمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنَ الْآلَاتِ الْمُعَدَّةِ.

Ia menelantarkan alat-alat yang telah Allah ciptakan dan siapkan.

وَجَانٍ عَلَىٰ مَقْصُودِ الْفِطْرَةِ وَالْحِكْمَةِ الْمَفْهُومَةِ مِنْ شَوَاهِدِ الْخِلْقَةِ.

Ia merusak tujuan fitrah dan hikmah yang dipahami dari tanda-tanda ciptaan.

الْمَكْتُوبَةِ عَلَىٰ هٰذِهِ الْأَعْضَاءِ بِخَطٍّ إِلٰهِيٍّ لَيْسَ بِرَقْمِ حُرُوفٍ وَأَصْوَاتٍ.

Yang tertulis pada anggota-anggota ini dengan tulisan ilahi, bukan dengan huruf dan suara.

يَقْرَؤُهُ كُلُّ مَنْ لَهُ بَصِيرَةٌ رَبَّانِيَّةٌ نَافِذَةٌ فِي إِدْرَاكِ دَقَائِقِ الْحِكْمَةِ الْأَزَلِيَّةِ.

Tulisan itu dibaca oleh setiap orang yang memiliki بصيرة rabbaniyyah yang tajam dalam memahami detail hikmah azali.

وَلِذٰلِكَ عَظَّمَ الشَّرْعُ الْأَمْرَ فِي الْقَتْلِ لِلْأَوْلَادِ وَفِي الْوَأْدِ، لِأَنَّهُ مَنْعٌ لِتَمَامِ الْوُجُودِ.

Karena itu syariat sangat mengagungkan larangan membunuh anak-anak dan mengubur bayi hidup-hidup, sebab hal itu menghalangi kesempurnaan keberadaan.

وَإِلَيْهِ أَشَارَ مَنْ قَالَ: الْعَزْلُ أَحَدُ الْوَأْدَيْنِ.

Ke arah inilah isyarat ucapan orang yang berkata: mengeluarkan mani di luar adalah salah satu dari dua bentuk mengubur hidup-hidup.

فَالنَّاكِحُ سَاعٍ فِي إِتْمَامِ مَا أَحَبَّ اللَّهُ تَعَالَىٰ تَمَامَهُ.

Maka orang yang menikah sedang berusaha menyempurnakan apa yang Allah Ta’ala cintai untuk disempurnakan.

وَالْمُعْرِضُ مُعَطِّلٌ وَمُضَيِّعٌ لِمَا كَرِهَ اللَّهُ ضِيَاعَهُ.

Sedangkan yang berpaling berarti menelantarkan dan menyia-nyiakan apa yang Allah benci bila disia-siakan.

وَلِأَجْلِ مَحَبَّةِ اللَّهِ تَعَالَىٰ لِبَقَاءِ النُّفُوسِ، أُمِرَ بِالْإِطْعَامِ وَحُثَّ عَلَيْهِ.

Karena Allah Ta’ala mencintai keberlangsungan jiwa-jiwa, maka Dia memerintahkan memberi makan dan mendorongnya.

وَعُبِّرَ عَنْهُ بِعِبَادَةِ الْقَرْضِ، فَقَالَ: مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا.

Dan hal itu diungkapkan dengan ibadah memberi pinjaman, sebagaimana firman-Nya: siapakah yang mau memberi pinjaman yang baik kepada Allah?

فَإِنْ قُلْتَ: قَوْلُكَ إِنَّ بَقَاءَ النَّسْلِ وَالنَّفْسِ مَحْبُوبٌ يُوهِمُ أَنَّ فَنَاءَهَا مَكْرُوهٌ عِنْدَ اللَّهِ.

Jika engkau berkata: ucapanmu bahwa keberlangsungan keturunan dan jiwa itu dicintai Allah memberi kesan bahwa lenyapnya keduanya dibenci Allah.

وَهُوَ فَرْقٌ بَيْنَ الْمَوْتِ وَالْحَيَاةِ بِالْإِضَافَةِ إِلَىٰ إِرَادَةِ اللَّهِ تَعَالَىٰ.

Padahal itu berarti membedakan antara mati dan hidup jika dinisbatkan kepada kehendak Allah Ta’ala.

وَمَعْلُومٌ أَنَّ الْكُلَّ بِمَشِيئَةِ اللَّهِ، وَأَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ.

Dan diketahui bahwa semua terjadi dengan kehendak Allah, dan Allah Mahakaya dari seluruh alam.

فَمِنْ أَيْنَ يَتَمَيَّزُ عِنْدَهُ مَوْتُهُمْ عَنْ حَيَاتِهِمْ، أَوْ بَقَاؤُهُمْ عَنْ فَنَائِهِمْ؟

Lalu bagaimana mungkin di sisi-Nya kematian mereka dibedakan dari kehidupan mereka, atau keberlangsungan mereka dari lenyapnya mereka?

فَاعْلَمْ أَنَّ هٰذِهِ الْكَلِمَةَ حَقٌّ أُرِيدَ بِهَا بَاطِلٌ.

Ketahuilah, kalimat ini adalah benar, tetapi dipakai untuk maksud yang salah.

فَإِنَّ مَا ذَكَرْنَاهُ لَا يُنَافِي إِضَافَةَ الْكَائِنَاتِ كُلِّهَا إِلَىٰ إِرَادَةِ اللَّهِ، خَيْرِهَا وَشَرِّهَا، وَنَفْعِهَا وَضَرِّهَا.

Sebab yang kami sebutkan tidak menafikan penetapan seluruh makhluk kepada kehendak Allah, baik dan buruknya, manfaat dan mudaratnya.

وَلَكِنَّ الْمَحَبَّةَ وَالْكَرَاهَةَ يَتَضَادَّانِ، وَكِلَاهُمَا لَا يُضَادَّانِ الْإِرَادَةَ.

Akan tetapi, cinta dan benci itu saling bertentangan, sedangkan keduanya tidak bertentangan dengan kehendak.

فَرُبَّ مَرْادٍ مَكْرُوهٍ، وَرُبَّ مَرْادٍ مَحْبُوبٍ.

Betapa banyak sesuatu yang dikehendaki tetapi dibenci, dan betapa banyak sesuatu yang dikehendaki tetapi dicintai.

فَالْمَعَاصِي مَكْرُوهَةٌ، وَهِيَ مَعَ الْكَرَاهَةِ مَرَادَةٌ.

Maksiat itu dibenci, namun bersama kebencian itu ia tetap dikehendaki.

وَالطَّاعَاتُ مَرَادَةٌ، وَمُزْمَعٌ كَوْنُهَا مَرَادَةً مَحْبُوبَةً وَمَرْضِيَّةً.

Ketaatan itu dikehendaki, dan hendaklah dipahami bahwa ia juga dicintai dan diridai.

أَمَّا الْكُفْرُ وَالشَّرُّ فَلَا نَقُولُ إِنَّهُ مَرْضِيٌّ وَمَحْبُوبٌ، بَلْ هُوَ مَرَادٌ.

Adapun kekufuran dan keburukan, kami tidak mengatakan bahwa itu diridai dan dicintai, tetapi ia tetap termasuk yang dikehendaki.

وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ: وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ.

Allah Ta’ala berfirman: “Dia tidak meridai kekufuran bagi hamba-hamba-Nya.”

فَكَيْفَ يَكُونُ الْفَنَاءُ بِالْإِضَافَةِ إِلَىٰ مَحَبَّةِ اللَّهِ وَكَرَاهَتِهِ كَالْبَقَاءِ؟

Lalu bagaimana mungkin lenyapnya itu, jika dinisbatkan kepada cinta dan benci Allah, disamakan dengan keberlangsungan?

فَإِنَّهُ تَعَالَىٰ يَقُولُ: مَا تَرَدَّدْتُ فِي شَيْءٍ كَتَرَدُّدِي فِي قَبْضِ رُوحِ عَبْدِيَ الْمُسْلِمِ.

Sebab Allah Ta’ala berfirman: Aku tidak bimbang dalam sesuatu seperti kebimbangan-Ku dalam mencabut ruh hamba-Ku yang Muslim.

هُوَ يَكْرَهُ الْمَوْتَ، وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ، وَلَا بُدَّ لَهُ مِنَ الْمَوْتِ.

Ia membenci kematian, dan Aku membenci menyakitinya, tetapi ia pasti mati.

فَقَوْلُهُ: لَا بُدَّ لَهُ مِنَ الْمَوْتِ إِشَارَةٌ إِلَىٰ سَبْقِ الْإِرَادَةِ وَالتَّقْدِيرِ.

Maka sabda-Nya: “ia pasti mati” adalah isyarat kepada dahuluan kehendak dan takdir.

الْمَذْكُورِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ.

Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya Ta’ala: “Kami telah menetapkan kematian di antara kalian.”

وَفِي قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ.

Dan dalam firman-Nya Ta’ala: “Yang menciptakan mati dan hidup.”

وَلَا مُنَاقَضَةَ بَيْنَ قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ، وَبَيْنَ قَوْلِهِ: وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ.

Tidak ada pertentangan antara firman-Nya Ta’ala: “Kami telah menetapkan kematian di antara kalian,” dan sabda-Nya: “Aku membenci menyakitinya.”

وَلَكِنَّ إِيضَاحَ الْحَقِّ فِي هٰذَا يَسْتَدْعِي تَحْقِيقَ مَعْنَى الْإِرَادَةِ وَالْمَحَبَّةِ وَالْكَرَاهَةِ، وَبَيَانَ حَقَائِقِهَا.

Namun penjelasan kebenaran dalam hal ini menuntut penjelasan yang benar tentang makna kehendak, cinta, dan benci, serta hakikatnya.

فَإِنَّ السَّابِقَ إِلَى الْإِفْهَامِ مِنْهَا أُمُورٌ تُنَاسِبُ إِرَادَةَ الْخَلْقِ وَمَحَبَّتَهُمْ وَكَرَاهَتَهُمْ.

Sebab yang paling cepat dipahami dari istilah-istilah itu adalah hal-hal yang cocok dengan kehendak, cinta, dan benci makhluk.

وَهَيْهَاتَ.

Padahal itu sangat jauh.

فَبَيْنَ صِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَىٰ وَصِفَاتِ الْخَلْقِ مِنَ الْبُعْدِ مَا بَيْنَ ذَاتِهِ الْعَزِيزِ وَذَاتِهِمْ.

Antara sifat-sifat Allah Ta’ala dan sifat-sifat makhluk terdapat jarak yang sangat jauh, sebagaimana jauhnya Dzat-Nya Yang Maha Mulia dari dzat mereka.

وَكَمَا أَنَّ ذَوَاتِ الْخَلْقِ جَوْهَرٌ وَعَرَضٌ، وَذَاتَ اللَّهِ مُقَدَّسٌ عَنْهُ.

Sebagaimana dzat makhluk terdiri dari substansi dan sifat aksiden, sedangkan dzat Allah Mahasuci dari hal itu.

وَلَا يُنَاسِبُ مَا لَيْسَ بِجَوْهَرٍ وَلَا عَرَضٍ الْجَوْهَرَ وَالْعَرَضَ.

Dan sesuatu yang bukan substansi dan bukan sifat tentu tidak sesuai dengan substansi dan sifat.

فَكَذٰلِكَ صِفَاتُهُ لَا تُنَاسِبُ صِفَاتِ الْخَلْقِ.

Demikian pula sifat-sifat-Nya tidak menyerupai sifat-sifat makhluk.

وَهٰذِهِ الْحَقَائِقُ دَاخِلَةٌ فِي عِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ.

Hakikat-hakikat ini termasuk dalam ilmu kasyf.

وَوَرَاءَ سِرِّ الْقَدَرِ الَّذِي مُنِعَ مِنْ إِفْشَائِهِ.

Dan berada di balik rahasia takdir, yang dilarang untuk disebarkan.

فَلْنَقْصُرْ عَنْ ذِكْرِهِ، وَلْنَقْتَصِرْ عَلَىٰ مَا نَبَّهْنَا عَلَيْهِ مِنَ الْفَرْقِ بَيْنَ الْإِقْدَامِ عَلَى النِّكَاحِ وَالْإِحْجَامِ عَنْهُ.

Maka kita berhenti dari menyebutkannya, dan cukup pada apa yang telah kami isyaratkan tentang perbedaan antara berani menikah dan enggan menikah.

فَإِنَّ أَحَدَهُمَا مُضَيِّعٌ نَسْلًا أَدَامَ اللَّهُ وُجُودَهُ مِنْ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَقِبًا بَعْدَ عَقِبٍ حَتَّىٰ انْتَهَىٰ إِلَيْهِ.

Salah satunya menyia-nyiakan keturunan, padahal Allah telah menjaga keberadaannya sejak Adam عليه السلام secara turun-temurun hingga sampai kepadanya.

فَالْمُمْتَنِعُ عَنِ النِّكَاحِ قَدْ حَسَمَ الْوُجُودَ الْمُسْتَدَامَ مِنْ لَدُنْ وُجُودِ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَلَىٰ نَفْسِهِ.

Orang yang menolak nikah telah memutus kesinambungan keberadaan dari masa Adam عليه السلام atas dirinya sendiri.

فَمَاتَ أَبْتَرَ لَا عَقِبَ لَهُ.

Maka ia mati dalam keadaan terputus, tanpa keturunan.

وَلَوْ كَانَ الْبَاعِثُ عَلَى النِّكَاحِ مَجَرَّدَ دَفْعِ الشَّهْوَةِ، لَمَا قَالَ مُعَاذٌ فِي الطَّاعُونِ: زَوِّجُونِي، لَا أَلْقَى اللَّهَ عَزَبًا.

Seandainya pendorong nikah hanya sekadar meredakan syahwat, niscaya Mu’adz tidak akan berkata saat tha’un: nikahkanlah aku, agar aku tidak menghadap Allah dalam keadaan membujang.

فَإِنْ قُلْتَ: فَمَا كَانَ مُعَاذٌ يَتَوَقَّعُ وَلَدًا فِي ذٰلِكَ الْوَقْتِ؟

Jika engkau bertanya: lalu apa yang diharapkan Mu’adz dari anak pada saat itu?

فَأَقُولُ: الْوَلَدُ يَحْصُلُ بِالْوِقَاعِ بِبَاعِثِ الشَّهْوَةِ، وَذٰلِكَ أَمْرٌ لَا يَدْخُلُ فِي الِاخْتِيَارِ.

Aku jawab: anak itu terjadi melalui hubungan badan yang didorong syahwat, dan itu bukan sesuatu yang masuk dalam pilihan langsung.

وَإِنَّمَا الْمُعَلَّقُ بِاخْتِيَارِ الْعَبْدِ إِحْضَارُ الْمُحَرِّكِ لِلشَّهْوَةِ.

Yang bergantung pada pilihan hamba hanyalah menghadirkan sebab penggerak syahwat.

وَذٰلِكَ مُتَوَقَّعٌ فِي كُلِّ حَالٍ.

Dan itu mungkin terjadi dalam setiap keadaan.

فَمَنْ عَقَدَ فَقَدْ أَدَّىٰ مَا عَلَيْهِ، وَفَعَلَ مَا إِلَيْهِ.

Maka siapa yang melakukan akad, sungguh ia telah menunaikan kewajibannya dan melakukan yang berada dalam kemampuannya.

وَالْبَاقِي خَارِجٌ عَنْ اخْتِيَارِهِ.

Adapun sisanya berada di luar pilihannya.

وَلِذٰلِكَ يُسْتَحَبُّ النِّكَاحُ لِلْعَنِينِ أَيْضًا.

Karena itu, nikah juga dianjurkan bagi orang yang impoten.

فَإِنَّ نَهَضَاتِ الشَّهْوَةِ خَفِيَّةٌ لَا يُطَّلَعُ عَلَيْهَا.

Sebab bangkitnya syahwat itu tersembunyi dan tidak diketahui.

حَتَّىٰ إِنَّ الْمَمْسُوحَ الَّذِي لَا يُتَوَقَّعُ لَهُ وَلَدٌ لَا يَنْقَطِعُ الِاسْتِحْبَابُ أَيْضًا فِي حَقِّهِ.

Bahkan pada orang yang dikebiri dan tidak diharapkan punya anak pun anjuran nikah itu tidak terputus.

عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي يُسْتَحَبُّ لِلْأَصْلَعِ إِمْرَارُ الْمُوسَىٰ عَلَىٰ رَأْسِهِ اقْتِدَاءً بِغَيْرِهِ وَتَشَبُّهًا بِالسَّلَفِ الصَّالِحِينَ.

Sebagaimana orang botak dianjurkan mengusap pisau cukur di kepalanya sebagai bentuk mengikuti yang lain dan menyerupai salaf saleh.

وَكَمَا يُسْتَحَبُّ الرَّمَلُ وَالِاضْطِبَاعُ فِي الْحَجِّ الْآنَ، وَقَدْ كَانَ الْمُرَادُ مِنْهُ أَوَّلًا إِظْهَارَ الْجَلَدِ لِلْكُفَّارِ.

Sebagaimana pula berlari-lari kecil dan membuka pundak kanan dalam haji kini dianjurkan, padahal dahulu tujuannya ialah menunjukkan kekuatan di hadapan orang kafir.

فَصَارَ الِاقْتِدَاءُ وَالتَّشَبُّهُ بِالَّذِينَ أَظْهَرُوا الْجَلَدَ سُنَّةً فِي حَقِّ مَنْ بَعْدَهُمْ.

Maka meneladani dan menyerupai orang-orang yang menunjukkan kekuatan itu menjadi sunnah bagi generasi setelah mereka.

وَيَضْعُفُ هٰذَا الِاسْتِحْبَابُ بِالْإِضَافَةِ إِلَى الِاسْتِحْبَابِ فِي حَقِّ الْقَادِرِ عَلَى الْحَرْثِ.

Anjuran ini menjadi lebih lemah dibandingkan anjuran bagi orang yang mampu melakukan hubungan yang menghasilkan keturunan.

وَرُبَّمَا يَزْدَادُ ضَعْفًا بِمَا يُقَابِلُهُ مِنْ كَرَاهَةِ تَعْطِيلِ الْمَرْأَةِ وَتَضْيِيعِهَا فِيمَا يَرْجِعُ إِلَى قَضَاءِ الْوَطَرِ.

Bahkan ia bisa bertambah lemah karena adanya makruh menelantarkan perempuan dan menyia-nyiakannya dalam urusan pemenuhan kebutuhan biologis.

فَإِنَّ ذٰلِكَ لَا يَخْلُو عَنْ نَوْعٍ مِنَ الْخَطَرِ.

Sebab hal itu tidak lepas dari jenis bahaya.

فَهٰذَا الْمَعْنَىٰ هُوَ الَّذِي يُنَبِّهُ عَلَىٰ شِدَّةِ إِنْكَارِهِمْ لِتَرْكِ النِّكَاحِ مَعَ فُتُورِ الشَّهْوَةِ.

Makna inilah yang menunjukkan kerasnya pengingkaran mereka terhadap meninggalkan nikah ketika syahwat lemah.

الْوَجْهُ الثَّانِي: السَّعْيُ فِي مَحَبَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِضَاهُ بِتَكْثِيرِ مَا بِهِ مُبَاهَاتُهُ.

Alasan kedua ialah berusaha meraih cinta dan keridaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memperbanyak umat yang menjadi kebanggaannya.

إِذْ قَدْ صَرَّحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذٰلِكَ.

Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah menegaskan hal itu.

وَيَدُلُّ عَلَى مُرَاعَاةِ أَمْرِ الْوَلَدِ جُمْلَةً بِالْوُجُوهِ كُلِّهَا مَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَنْكِحُ كَثِيرًا وَيَقُولُ: إِنَّمَا أَنْكِحُ لِلْوَلَدِ.

Dan yang menunjukkan perhatian terhadap urusan anak secara umum, dengan semua alasan tadi, ialah riwayat dari Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa ia sering menikah dan berkata: sesungguhnya aku menikah hanya demi anak.

وَمَا رُوِيَ مِنَ الْأَخْبَارِ فِي ذَمِّ الْمَرْأَةِ الْعَقِيمِ.

Juga riwayat-riwayat yang mencela perempuan mandul.

إِذْ قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: لَحْصِيرٌ فِي نَاحِيَةِ الْبَيْتِ خَيْرٌ مِنِ امْرَأَةٍ لَا تَلِدُ.

Karena beliau bersabda: selembar tikar di sudut rumah lebih baik daripada perempuan yang tidak melahirkan.

وَقَالَ: خَيْرُ نِسَائِكُمُ الْوَلُودُ الْوَدُودُ.

Dan beliau bersabda: sebaik-baik wanita kalian adalah yang banyak melahirkan dan penuh kasih sayang.

وَقَالَ: سَوْدَاءُ وَلُودٌ خَيْرٌ مِنْ حَسْنَاءَ لَا تَلِدُ.

Beliau juga bersabda: wanita berkulit hitam yang subur lebih baik daripada wanita cantik yang tidak melahirkan.

وَهٰذَا يَدُلُّ عَلَىٰ أَنَّ طَلَبَ الْوَلَدِ أَدْخَلُ فِي اقْتِضَاءِ فَضْلِ النِّكَاحِ مِنْ طَلَبِ دَفْعِ غَوَائِلِ الشَّهْوَةِ.

Ini menunjukkan bahwa mencari anak lebih kuat dalam menentukan keutamaan nikah daripada sekadar mencari perlindungan dari bahaya syahwat.

لِأَنَّ الْحَسْنَاءَ أَصْلَحُ لِلتَّحْصِينِ وَغَضِّ الْبَصَرِ وَقَطْعِ الشَّهْوَةِ.

Karena wanita cantik lebih cocok untuk menjaga kesucian, menundukkan pandangan, dan memutus syahwat.

الْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنْ يَبْقَىٰ بَعْدَهُ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ.

Alasan ketiga ialah agar setelahnya tetap ada anak saleh yang mendoakannya.

كَمَا وَرَدَ فِي الْخَبَرِ أَنَّ جَمِيعَ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ مُنْقَطِعٌ إِلَّا ثَلَاثًا، فَذَكَرَ الْوَلَدَ الصَّالِحَ.

Sebagaimana disebutkan dalam hadis bahwa seluruh amal anak Adam terputus kecuali tiga, dan salah satunya adalah anak saleh.

وَفِي الْخَبَرِ: إِنَّ الدُّعَاءِ يُعْرَضُ عَلَى الْمَوْتَىٰ عَلَىٰ أَطْبَاقٍ مِنْ نُورٍ.

Dalam riwayat disebutkan bahwa doa-doa diperlihatkan kepada orang-orang yang telah meninggal dalam lapisan-lapisan cahaya.

وَقَوْلُ الْقَائِلِ: إِنَّ الْوَلَدَ رُبَّمَا لَمْ يَكُنْ صَالِحًا لَا يُؤَثِّرُ.

Ucapan orang yang berkata bahwa anak barangkali tidak saleh tidaklah berpengaruh.

فَإِنَّهُ مُؤْمِنٌ، وَالصَّلَاحُ هُوَ الْغَالِبُ عَلَىٰ أَوْلَادِ ذَوِي الدِّينِ، لَا سِيَّمَا إِذَا عَزَمَ عَلَىٰ تَرْبِيَتِهِ وَحَمْلِهِ عَلَى الصَّلَاحِ.

Karena ia seorang mukmin, dan kesalehan itu umumnya terdapat pada anak-anak orang beragama, terutama bila seseorang berniat mendidiknya dan membawanya kepada kesalehan.

وَبِالْجُمْلَةِ، دُعَاءُ الْمُؤْمِنِ لِأَبَوَيْهِ مُفِيدٌ، بَرًّا كَانَ أَوْ فَاجِرًا.

Secara umum, doa seorang mukmin untuk kedua orang tuanya bermanfaat, baik ia orang baik maupun pendosa.

فَهُوَ مُثَابٌ عَلَى دَعَوَاتِهِ وَحَسَنَاتِهِ، فَإِنَّهُ مِنْ كَسْبِهِ.

Ia tetap diberi pahala atas doa-doa dan kebaikan-kebaikannya, karena itu adalah hasil usahanya.

وَلَا يُؤَاخَذُ بِسَيِّئَاتِهِ، فَإِنَّهُ لَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ.

Dan ia tidak dipersalahkan atas keburukan-keburukannya, karena tidak ada jiwa yang memikul dosa jiwa lain.

وَلِذٰلِكَ قَالَ تَعَالَىٰ: أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّاتِهِمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ.

Karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami gabungkan keturunan mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari amal mereka.”

أَيْ: مَا نَقَصْنَاهُمْ مِنْ أَعْمَالِهِمْ، وَجَعَلْنَا أَوْلَادَهُمْ مَزِيدًا فِي إِحْسَانِهِمْ.

Maksudnya: Kami tidak mengurangi amal mereka, dan Kami jadikan anak-anak mereka sebagai tambahan bagi kebaikan mereka.

الْوَجْهُ الرَّابِعُ: أَنْ يَمُوتَ الْوَلَدُ قَبْلَهُ فَيَكُونَ لَهُ شَفِيعًا.

Alasan keempat ialah jika anak itu meninggal lebih dahulu darinya, sehingga menjadi syafaat baginya.

فَقَدْ رُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ الطِّفْلَ يَجُرُّ بِأَبَوَيْهِ إِلَى الْجَنَّةِ.

Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: sesungguhnya anak kecil menyeret kedua orang tuanya menuju surga.

وَفِي بَعْضِ الْأَخْبَارِ: يَأْخُذُ بِثَوْبِهِ، كَمَا أَنَا الْآنَ آخُذُ بِثَوْبِكَ.

Dalam sebagian riwayat disebutkan: ia memegang kain bajunya, sebagaimana sekarang aku memegang kain bajumu.

وَقَالَ أَيْضًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْمَوْلُودَ يُقَالُ لَهُ: ادْخُلِ الْجَنَّةَ.

Dan beliau juga bersabda: kepada bayi yang lahir dikatakan: masuklah ke surga.

فَيَقِفُ عَلَىٰ بَابِ الْجَنَّةِ، فَيَظَلُّ مُحَنْبَطِئًا، أَيْ مُنْتَفِخًا غَيْظًا وَغَضَبًا.

Maka ia berhenti di pintu surga, lalu berdiri menegang, yakni penuh kemarahan dan amarah.

وَيَقُولُ: لَا أَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا وَأَبَوَايَ مَعِي.

Ia berkata: aku tidak akan masuk surga kecuali kedua orang tuaku bersamaku.

فَيُقَالُ: أَدْخِلُوا أَبَوَيْهِ مَعَهُ الْجَنَّةَ.

Lalu dikatakan: masukkan kedua orang tuanya bersamanya ke dalam surga.

وَفِي خَبَرٍ آخَرَ: إِنَّ الْأَطْفَالَ يَجْتَمِعُونَ فِي مَوْقِفِ الْقِيَامَةِ عِنْدَ عَرْضِ الْخَلَائِقِ لِلْحِسَابِ.

Dalam kabar lain disebutkan: anak-anak berkumpul di tempat berdirinya pada hari kiamat ketika seluruh makhluk dihadapkan untuk dihisab.

فَيُقَالُ لِلْمَلَائِكَةِ: اذْهَبُوا بِهَؤُلَاءِ إِلَى الْجَنَّةِ.

Lalu para malaikat diperintahkan: bawalah anak-anak ini ke surga.

فَيَقِفُونَ عَلَىٰ بَابِ الْجَنَّةِ.

Maka mereka berdiri di pintu surga.

فَيُقَالُ لَهُمْ: مَرْحَبًا بِذَرَارِيِّ الْمُسْلِمِينَ، ادْخُلُوا لَا حِسَابَ عَلَيْكُمْ.

Lalu dikatakan kepada mereka: selamat datang wahai keturunan kaum Muslimin, masuklah, tidak ada hisab atas kalian.

فَيَقُولُونَ: فَأَيْنَ آبَاؤُنَا وَأُمَّهَاتُنَا؟

Mereka berkata: lalu di mana ayah dan ibu kami?

فَيَقُولُ الْخَزَنَةُ: إِنَّ آبَاءَكُمْ وَأُمَّهَاتِكُمْ لَيْسُوا مِثْلَكُمْ.

Penjaga surga berkata: ayah dan ibu kalian tidak seperti kalian.

إِنَّهُ كَانَتْ لَهُمْ ذُنُوبٌ وَسَيِّئَاتٌ، فَهُمْ يُحَاسَبُونَ عَلَيْهَا وَيُطَالَبُونَ.

Mereka memiliki dosa dan keburukan, sehingga mereka akan dihisab dan dituntut karenanya.

فَيَتَضَاغَوْنَ وَيَضِجُّونَ عَلَىٰ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ ضَجَّةً وَاحِدَةً.

Maka mereka menjerit dan meratap di pintu-pintu surga serentak.

فَيَقُولُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: مَا هٰذِهِ الضَّجَّةُ؟

Maka Allah سبحانه, dan Dia lebih mengetahui keadaan mereka, berfirman: apakah ini keributan itu?

فَيَقُولُونَ: رَبَّنَا، أَطْفَالُ الْمُسْلِمِينَ قَالُوا: لَا نَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا مَعَ آبَائِنَا.

Mereka menjawab: wahai Tuhan kami, anak-anak kaum Muslimin berkata: kami tidak masuk surga kecuali bersama ayah kami.

فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَىٰ: تَخَلَّلُوا الْجَمْعَ، فَخُذُوا بِأَيْدِي آبَائِهِمْ، فَأَدْخِلُوهُمُ الْجَنَّةَ.

Maka Allah Ta’ala berfirman: sisirlah di tengah kumpulan, peganglah tangan ayah mereka, lalu masukkanlah mereka ke surga.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ مَاتَ لَهُ اثْنَانِ مِنَ الْوَلَدِ فَقَدِ احْتَظَرَ بِحِظَارٍ مِنَ النَّارِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: siapa yang meninggal dua orang anaknya, maka ia telah terlindung oleh pagar dari api.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ مَاتَ لَهُ ثَلَاثَةٌ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: siapa yang meninggal tiga anak yang belum balig, Allah akan memasukkannya ke surga karena keutamaan rahmat-Nya kepada mereka.

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَاثْنَانِ؟

Dikatakan: wahai Rasulullah, bagaimana jika dua?

قَالَ: وَاثْنَانِ.

Beliau bersabda: dan dua juga.

وَحُكِيَ أَنَّ بَعْضَ الصَّالِحِينَ كَانَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ التَّزْوِيجُ فَيَأْبَىٰ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ.

Diriwayatkan bahwa ada sebagian orang saleh yang ditawari pernikahan, tetapi ia menolak untuk waktu yang lama.

قَالَ: فَانْتَبَهَ مِنْ نَوْمِهِ ذَاتَ يَوْمٍ، وَقَالَ: زَوِّجُونِي، زَوِّجُونِي.

Lalu pada suatu hari ia terbangun dari tidurnya dan berkata: nikahkanlah aku, nikahkanlah aku.

فَزَوَّجُوهُ.

Maka mereka pun menikahkannya.

فَسُئِلَ عَنْ ذٰلِكَ، فَقَالَ: لَعَلَّ اللَّهَ يَرْزُقُنِي وَلَدًا وَيَقْبِضَهُ، فَيَكُونَ لِي مُقَدِّمَةً فِي الْآخِرَةِ.

Ketika ditanya tentang hal itu, ia berkata: mungkin Allah memberiku anak, lalu mengambilnya kembali, sehingga ia menjadi pendahuluan bagiku di akhirat.

ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ كَأَنَّ الْقِيَامَةَ قَدْ قَامَتْ.

Kemudian ia berkata: aku melihat dalam mimpi seakan-akan kiamat telah terjadi.

وَكَأَنِّي فِي جُمْلَةِ الْخَلَائِقِ فِي الْمَوْقِفِ.

Dan seakan-akan aku berada bersama seluruh makhluk di tempat berdiri itu.

وَبِي مِنَ الْعَطَشِ مَا كَادَ أَنْ يَقْطَعَ عُنُقِي.

Aku diliputi dahaga yang hampir memutus leherku.

وَكَذٰلِكَ الْخَلَائِقُ فِي شِدَّةِ الْعَطَشِ وَالْكَرْبِ.

Dan seluruh makhluk pun berada dalam dahaga dan kesedihan yang amat sangat.

فَنَحْنُ كَذٰلِكَ إِذْ وِلْدَانٌ يَتَخَلَّلُونَ الْجَمْعَ، عَلَيْهِمْ مَنَادِيلُ مِنْ نُورٍ، وَبِأَيْدِيهِمْ أَبَارِيقُ مِنْ فِضَّةٍ وَأَكْوَابٌ مِنْ ذَهَبٍ.

Ketika kami dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba ada anak-anak kecil menyusup di tengah kerumunan. Mereka membawa serbet-serbet dari cahaya, dan di tangan mereka ada kendi-kendi dari perak dan gelas-gelas dari emas.

وَهُمْ يَسْقُونَ الْوَاحِدَ بَعْدَ الْوَاحِدِ.

Mereka memberi minum satu demi satu orang.

يَتَخَلَّلُونَ الْجَمْعَ وَيَتَجَاوَزُونَ أَكْثَرَ النَّاسِ.

Mereka menyusup melewati kerumunan dan melampaui kebanyakan manusia.

فَمَدَدْتُ يَدِي إِلَىٰ أَحَدِهِمْ، وَقُلْتُ: اسْقِنِي، فَقَدْ أَجْهَدَنِيَ الْعَطَشُ.

Maka aku mengulurkan tanganku kepada salah seorang dari mereka dan berkata: beri aku minum, karena dahaga telah melelahkanku.

فَقَالَ: لَيْسَ لَكَ فِينَا وَلَدٌ، إِنَّمَا نَسْقِي آبَاءَنَا.

Ia menjawab: tidak ada anakmu di antara kami. Kami hanya memberi minum kepada ayah-ayah kami.

فَقُلْتُ: وَمَنْ أَنْتُمْ؟

Aku bertanya: siapa kalian?

فَقَالُوا: نَحْنُ مَنْ مَاتَ مِنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ.

Mereka berkata: kami adalah anak-anak kaum Muslimin yang meninggal.

وَأَحَدُ الْمَعَانِي الْمَذْكُورَةِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ.

Dan salah satu makna yang disebut dalam firman Allah Ta’ala: “Datangilah ladang kalian bagaimana saja kalian kehendaki, dan persiapkanlah untuk diri kalian,” ialah mendahulukan anak-anak untuk akhirat.

فَقَدْ ظَهَرَ بِهٰذِهِ الْوُجُوهِ الْأَرْبَعَةِ أَنَّ أَكْثَرَ فَضْلِ النِّكَاحِ لِأَجْلِ كَوْنِهِ سَبَبًا لِلْوَلَدِ.

Maka dari empat alasan ini tampak bahwa sebagian besar keutamaan nikah adalah karena ia menjadi sebab adanya anak.