Pelaksanaan Zakat Serta Syarat-Syaratnya Yang Batin Dan Yang Lahir

اَلْفَصْلُ الثَّانِي فِي الْأَدَاءِ وَشُرُوطِهِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ.

Fasal kedua tentang pelaksanaan zakat serta syarat-syaratnya yang batin dan yang lahir.

اِعْلَمْ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى مُؤَدِّي الزَّكَاةِ خَمْسَةُ أُمُورٍ.
Ketahuilah bahwa ada lima perkara yang wajib diperhatikan oleh orang yang menunaikan zakat.

اَلْأَوَّلُ: النِّيَّةُ، وَهُوَ أَنْ يَنْوِيَ بِقَلْبِهِ زَكَاةَ الْفَرْضِ.
Yang pertama: niat, yaitu berniat dalam hati bahwa yang dikeluarkannya adalah zakat fardu.

وَيُسَنُّ عَلَيْهِ تَعْيِينُ الْأَمْوَالِ.
Dan disunahkan baginya untuk menentukan harta yang dizakati itu secara jelas.

فَإِنْ كَانَ لَهُ مَالٌ غَائِبٌ فَقَالَ: هٰذَا عَنْ مَالِي الْغَائِبِ إِنْ كَانَ سَالِمًا، وَإِلَّا فَهُوَ نَافِلَةٌ، جَازَ.
Jika ia memiliki harta yang tidak berada di hadapannya lalu ia berkata: “Ini untuk hartaku yang tidak hadir, jika masih selamat, dan jika tidak, maka ia menjadi sedekah sunah,” maka hal itu boleh.

لِأَنَّهُ إِنْ لَمْ يُصَرِّحْ بِهِ فَكَذٰلِكَ يَكُونُ عِنْدَ إِطْلَاقِهِ.
Sebab jika ia tidak menegaskannya seperti itu, maka secara makna saat dilepaskan tanpa penjelasan pun demikian adanya.

وَنِيَّةُ الْوَلِيِّ تَقُومُ مَقَامَ نِيَّةِ الْمَجْنُونِ وَالصَّبِيِّ.
Niat wali menggantikan niat orang gila dan anak kecil.

وَنِيَّةُ السُّلْطَانِ تَقُومُ مَقَامَ نِيَّةِ الْمَالِكِ الْمُمْتَنِعِ عَنِ الزَّكَاةِ.
Dan niat penguasa menggantikan niat pemilik harta yang menolak menunaikan zakat.

وَلٰكِنْ فِي ظَاهِرِ حُكْمِ الدُّنْيَا، أَعْنِي فِي قَطْعِ الْمُطَالَبَةِ عَنْهُ.
Akan tetapi, hal itu hanya berlaku pada hukum lahiriah dunia, yakni dalam menggugurkan tuntutan terhadapnya.

أَمَّا فِي الْآخِرَةِ فَلَا.
Adapun di akhirat, maka tidak demikian.

بَلْ تَبْقَى ذِمَّتُهُ مَشْغُولَةً حَتَّى يَسْتَأْنِفَ الزَّكَاةَ.
Bahkan tanggungannya tetap belum lepas sampai ia sendiri memperbarui penunaian zakatnya.

وَإِذَا وَكَّلَ بِأَدَاءِ الزَّكَاةِ وَنَوَى عِنْدَ التَّوْكِيلِ، أَوْ وَكَّلَ الْوَكِيلَ بِالنِّيَّةِ، كَفَاهُ.
Jika ia mewakilkan pembayaran zakat dan berniat ketika memberi kuasa, atau ia memberi kuasa kepada wakil untuk berniat, maka itu sudah cukup baginya.

لِأَنَّ تَوْكِيلَهُ بِالنِّيَّةِ نِيَّةٌ.
Karena mewakilkan niat itu sendiri sudah termasuk niat.

اَلثَّانِي: الْبِدَارُ عَقِيبَ الْحَوْلِ.
Yang kedua: segera menunaikannya setelah genap haul.

وَفِي زَكَاةِ الْفِطْرِ لَا يُؤَخِّرُهَا عَنْ يَوْمِ الْفِطْرِ.
Dan untuk zakat fitrah, ia tidak mengakhirkannya dari hari Idulfitri.

وَيَدْخُلُ وَقْتُ وُجُوبِهَا بِغُرُوبِ الشَّمْسِ مِنْ آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ.
Waktu wajibnya masuk dengan tenggelamnya matahari pada akhir hari bulan Ramadan.

وَوَقْتُ تَعْجِيلِهَا شَهْرُ رَمَضَانَ كُلُّهُ.
Dan waktu untuk mendahulukannya adalah seluruh bulan Ramadan.

وَمَنْ أَخَّرَ زَكَاةَ مَالِهِ مَعَ التَّمَكُّنِ عَصَى، وَلَمْ يَسْقُطْ عَنْهُ بِتَلَفِ مَالِهِ.
Barang siapa menunda zakat hartanya padahal ia mampu, maka ia berdosa, dan kewajiban itu tidak gugur darinya hanya karena hartanya rusak.

وَتَمَكُّنُهُ بِمُصَادَفَةِ الْمُسْتَحِقِّ.
Kemampuan itu dianggap ada jika ia menjumpai orang yang berhak menerima zakat.

وَإِنْ أَخَّرَ لِعَدَمِ الْمُسْتَحِقِّ فَتَلِفَ مَالُهُ، سَقَطَتِ الزَّكَاةُ عَنْهُ.
Jika ia menunda karena tidak menemukan orang yang berhak, lalu hartanya rusak, maka zakat gugur darinya.

وَتَعْجِيلُ الزَّكَاةِ جَائِزٌ بِشَرْطِ أَنْ يَقَعَ بَعْدَ كَمَالِ النِّصَابِ وَانْعِقَادِ الْحَوْلِ.
Mendahulukan pembayaran zakat itu boleh, dengan syarat dilakukan setelah nisab sempurna dan haul telah mulai terhitung.

وَيَجُوزُ تَعْجِيلُ زَكَاةِ حَوْلَيْنِ.
Bahkan boleh mendahulukan zakat untuk dua tahun sekaligus.

وَمَهْمَا عَجَّلَ، فَمَاتَ الْمِسْكِينُ قَبْلَ الْحَوْلِ، أَوِ ارْتَدَّ، أَوْ صَارَ غَنِيًّا بِغَيْرِ مَا عُجِّلَ إِلَيْهِ، أَوْ تَلِفَ مَالُ الْمَالِكِ، أَوْ مَاتَ، فَالْمَدْفُوعُ لَيْسَ بِزَكَاةٍ.
Namun jika zakat telah didahulukan, lalu si miskin meninggal sebelum datang haul, atau ia murtad, atau menjadi kaya dengan selain harta yang dibayarkan itu, atau harta pemilik rusak, atau pemiliknya meninggal, maka apa yang telah dibayarkan itu tidak lagi dihitung sebagai zakat.

وَاسْتِرْجَاعُهُ غَيْرُ مُمْكِنٍ إِلَّا إِذَا قَيَّدَ الدَّفْعَ بِالِاسْتِرْجَاعِ.
Mengambil kembali harta itu tidak mungkin kecuali jika sejak awal pemberiannya ia mensyaratkan hak untuk menariknya kembali.

فَلْيَكُنِ الْمُعَجِّلُ مُرَاقِبًا آخِرَ الْأُمُورِ وَسَلَامَةَ الْعَاقِبَةِ.
Maka orang yang mendahulukan zakat hendaknya memperhatikan akhir segala urusan dan keselamatan akibatnya.

اَلثَّالِثُ: أَنْ لَا يُخْرِجَ بَدَلًا بِاعْتِبَارِ الْقِيمَةِ، بَلْ يُخْرِجَ الْمَنْصُوصَ عَلَيْهِ.
Yang ketiga: jangan mengeluarkan pengganti berdasarkan nilai harganya, tetapi hendaknya mengeluarkan jenis yang memang telah ditentukan.

فَلَا يُجْزِئُ وَرِقٌ عَنْ ذَهَبٍ، وَلَا ذَهَبٌ عَنْ وَرِقٍ، وَإِنْ زَادَ عَلَيْهِ فِي الْقِيمَةِ.
Maka perak tidak mencukupi sebagai ganti emas, dan emas tidak mencukupi sebagai ganti perak, meskipun nilainya lebih tinggi.

وَلَعَلَّ بَعْضَ مَنْ لَا يُدْرِكُ غَرَضَ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَتَسَاهَلُ فِي ذٰلِكَ، وَيُلَاحِظُ الْمَقْصُودَ مِنْ سَدِّ الْخَلَّةِ.
Barangkali sebagian orang yang tidak memahami maksud Imam asy-Syafi‘i رضي الله عنه akan bermudah-mudah dalam hal ini dan hanya melihat tujuan menutup kebutuhan si fakir.

وَمَا أَبْعَدَهُ عَنِ التَّحْصِيلِ.
Betapa jauh cara pandang itu dari pencapaian hakikat masalah.

فَإِنَّ سَدَّ الْخَلَّةِ مَقْصُودٌ، وَلَيْسَ هُوَ كُلَّ الْمَقْصُودِ.
Karena menutup kebutuhan memang tujuan syariat, tetapi bukan seluruh tujuannya.

بَلْ وَاجِبَاتُ الشَّرْعِ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ.
Bahkan kewajiban-kewajiban syariat terbagi menjadi tiga macam.

قِسْمٌ هُوَ تَعَبُّدٌ مَحْضٌ، لَا مَدْخَلَ لِلْحُظُوظِ وَالْأَغْرَاضِ فِيهِ.
Satu bagian adalah ibadah murni, yang sama sekali tidak ada campur tangan kepentingan dan tujuan duniawi di dalamnya.

وَذٰلِكَ كَرَمْيِ الْجِمَارِ مَثَلًا، إِذْ لَا حَظَّ لِلْجَمْرَةِ فِي وُصُولِ الْحَصَى إِلَيْهَا.
Misalnya melempar jumrah, karena jumrah itu sendiri tidak memiliki kepentingan apa pun dari sampai tidaknya kerikil kepadanya.

فَمَقْصُودُ الشَّرْعِ فِيهِ الِابْتِلَاءُ بِالْعَمَلِ لِيَظْهَرَ رِقُّ الْعَبْدِ وَعُبُودِيَّتُهُ بِفِعْلِ مَا لَا يُعْقَلُ لَهُ مَعْنًى.
Maksud syariat di dalamnya adalah menguji hamba dengan suatu amal, agar tampak kerendahan dan penghambaan dirinya melalui melakukan sesuatu yang tidak terjangkau makna rasionalnya.

لِأَنَّ مَا يُعْقَلُ مَعْنَاهُ فَقَدْ يُسَاعِدُهُ الطَّبْعُ عَلَيْهِ وَيَدْعُوهُ إِلَيْهِ.
Karena sesuatu yang maknanya dapat dipahami oleh akal, terkadang tabiat mendukungnya dan mendorong kepadanya.

فَلَا يَظْهَرُ بِهِ خُلُوصُ الرِّقِّ وَالْعُبُودِيَّةِ.
Maka dengan itu tidak tampak kemurnian kehambaan dan penghambaan diri.

إِذِ الْعُبُودِيَّةُ تَظْهَرُ بِأَنْ تَكُونَ الْحَرَكَةُ لِحَقِّ أَمْرِ الْمَعْبُودِ فَقَطْ، لَا لِمَعْنًى آخَرَ.
Sebab penghambaan itu tampak ketika gerakan seseorang murni dilakukan demi memenuhi perintah Sang Ma‘bud semata, bukan karena makna lain.

وَأَكْثَرُ أَعْمَالِ الْحَجِّ كَذٰلِكَ.
Dan kebanyakan amalan haji seperti itu.

وَلِذٰلِكَ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِحْرَامِهِ: لَبَّيْكَ بِحَجَّةٍ حَقًّا تَعَبُّدًا وَرِقًّا.
Karena itu Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda dalam ihramnya: “Labbaika dengan haji yang sungguh-sungguh sebagai ibadah dan penghambaan.”

تَنْبِيهًا عَلَى أَنَّ ذٰلِكَ إِظْهَارٌ لِلْعُبُودِيَّةِ بِالِانْقِيَادِ لِمُجَرَّدِ الْأَمْرِ وَامْتِثَالِهِ، كَمَا أُمِرَ، مِنْ غَيْرِ اسْتِئْنَاسِ الْعَقْلِ مِنْهُ بِمَا يَمِيلُ إِلَيْهِ وَيَحُثُّ عَلَيْهِ.
Ini sebagai penegasan bahwa hal itu merupakan penampakan kehambaan dengan tunduk kepada semata-mata perintah dan melaksanakannya sebagaimana diperintahkan, tanpa akal harus merasa akrab dengannya karena ada makna yang disukai atau mendorong kepadanya.

اَلْقِسْمُ الثَّانِي مِنْ وَاجِبَاتِ الشَّرْعِ مَا الْمَقْصُودُ مِنْهُ حَظٌّ مَعْقُولٌ، وَلَيْسَ يُقْصَدُ مِنْهُ التَّعَبُّدُ.
Bagian kedua dari kewajiban syariat adalah apa yang tujuannya mengandung kemaslahatan yang dapat dipahami akal, dan ibadah murni bukan tujuan utamanya.

كَقَضَاءِ دَيْنِ الْآدَمِيِّينَ وَرَدِّ الْمَغْصُوبِ.
Seperti melunasi utang kepada sesama manusia dan mengembalikan barang yang dirampas.

فَلَا جَرَمَ لَا يُعْتَبَرُ فِيهِ فِعْلُهُ وَلَا نِيَّتُهُ.
Karena itu, pada jenis ini tidak terlalu diperhatikan bentuk pelaksanaannya dan niatnya.

وَمَهْمَا وَصَلَ الْحَقُّ إِلَى مُسْتَحِقِّهِ، بِأَخْذِ الْمُسْتَحِقِّ أَوْ بِبَدَلٍ عَنْهُ عِنْدَ رِضَاهُ، تَأَدَّى الْوُجُوبُ وَسَقَطَ خِطَابُ الشَّرْعِ.
Asalkan hak itu sampai kepada yang berhak, baik dengan ia mengambilnya sendiri atau dengan pengganti yang ia ridhai, maka kewajiban telah tertunaikan dan tuntutan syariat pun gugur.

فَهٰذَانِ قِسْمَانِ لَا تَرْكِيبَ فِيهِمَا، يَشْتَرِكُ فِي دَرْكِهِمَا جَمِيعُ النَّاسِ.
Dua bagian ini tidak bercampur antara ibadah dan maslahat, dan semua orang dapat memahami keduanya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ هُوَ الْمُرَكَّبُ الَّذِي يُقْصَدُ مِنْهُ الْأَمْرَانِ جَمِيعًا.
Adapun bagian ketiga adalah yang tersusun dari dua tujuan sekaligus.

وَهُوَ حَظُّ الْعِبَادِ وَامْتِحَانُ الْمُكَلَّفِ بِالِاسْتِعْبَادِ.
Yaitu kemaslahatan hamba dan ujian bagi mukallaf dalam bentuk penghambaan.

فَيَجْتَمِعُ فِيهِ تَعَبُّدُ رَمْيِ الْجِمَارِ وَحَظُّ رَدِّ الْحُقُوقِ.
Di dalamnya berkumpul unsur ibadah murni seperti melempar jumrah dan unsur kemaslahatan seperti mengembalikan hak.

فَهٰذَا قِسْمٌ فِي نَفْسِهِ مَعْقُولٌ.
Jenis ini pada dirinya sendiri masuk akal.

فَإِنْ وَرَدَ الشَّرْعُ بِهِ وَجَبَ الْجَمْعُ بَيْنَ الْمَعْنَيَيْنِ.
Jika syariat datang menetapkannya, maka wajib menggabungkan dua makna tersebut.

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُنْسَى أَدَقُّ الْمَعْنَيَيْنِ، وَهُوَ التَّعَبُّدُ وَالِاسْتِرْقَاقُ، بِسَبَبِ أَجْلَاهُمَا.
Dan tidak patut melupakan makna yang lebih halus, yaitu ibadah dan penghambaan, hanya karena makna yang lebih tampak.

وَلَعَلَّ الْأَدَقَّ هُوَ الْأَهَمُّ.
Boleh jadi yang lebih halus itulah yang lebih penting.

وَالزَّكَاةُ مِنْ هٰذَا الْقَبِيلِ، وَلَمْ يَنْتَبِهْ لَهُ غَيْرُ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.
Zakat termasuk jenis ini, dan tampaknya yang benar-benar menaruh perhatian pada hal itu adalah Imam asy-Syafi‘i رضي الله عنه.

فَحَظُّ الْفَقِيرِ مَقْصُودٌ فِي سَدِّ الْخَلَّةِ، وَهُوَ جَلِيٌّ سَابِقٌ إِلَى الْأَفْهَامِ.
Kebutuhan orang fakir memang menjadi tujuan dalam menutup kekurangannya, dan ini adalah makna yang jelas serta mudah dipahami.

وَحَقُّ التَّعَبُّدِ فِي اتِّبَاعِ التَّفَاصِيلِ مَقْصُودٌ لِلشَّرْعِ.
Namun unsur ibadah dalam mengikuti rincian-rinciannya juga merupakan tujuan syariat.

وَبِاعْتِبَارِهِ صَارَتِ الزَّكَاةُ قَرِينَةً لِلصَّلَاةِ وَالْحَجِّ فِي كَوْنِهَا مِنْ مَبَانِي الْإِسْلَامِ.
Karena unsur inilah zakat disejajarkan dengan salat dan haji sebagai salah satu pilar Islam.

وَلَا شَكَّ فِي أَنَّ عَلَى الْمُكَلَّفِ تَعَبًا فِي تَمْيِيزِ أَجْنَاسِ مَالِهِ، وَإِخْرَاجِ حِصَّةِ كُلِّ مَالٍ مِنْ نَوْعِهِ وَجِنْسِهِ وَصِفَتِهِ.
Tidak diragukan lagi bahwa seorang mukallaf harus bersusah payah membedakan jenis-jenis hartanya dan mengeluarkan bagian setiap harta dari jenis, macam, dan sifat yang benar.

ثُمَّ تَوْزِيعِهِ عَلَى الْأَصْنَافِ الثَّمَانِيَةِ كَمَا سَيَأْتِي.
Kemudian membagikannya kepada delapan golongan, sebagaimana nanti akan dijelaskan.

وَالتَّسَاهُلُ فِيهِ غَيْرُ قَادِحٍ فِي حَظِّ الْفَقِيرِ، وَلٰكِنَّهُ قَادِحٌ فِي التَّعَبُّدِ.
Bersikap longgar dalam rincian ini memang tidak selalu merusak bagian si fakir, tetapi ia merusak unsur ibadah.

وَيَدُلُّ عَلَى أَنَّ التَّعَبُّدَ مَقْصُودٌ بِتَعْيِينِ الْأَنْوَاعِ أُمُورٌ ذَكَرْنَاهَا فِي كُتُبِ الْخِلَافِ مِنَ الْفِقْهِيَّاتِ.
Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa unsur ibadah menjadi tujuan dalam penentuan jenis-jenis zakat, dan kami telah menyebutkannya dalam kitab-kitab khilaf fiqh.

وَمِنْ أَوْضَحِهَا أَنَّ الشَّرْعَ أَوْجَبَ فِي خَمْسٍ مِنَ الْإِبِلِ شَاةً، فَعَدَلَ مِنَ الْإِبِلِ إِلَى الشَّاةِ، وَلَمْ يَعْدِلْ إِلَى النَّقْدَيْنِ وَالتَّقْوِيمِ.
Di antara yang paling jelas adalah bahwa syariat mewajibkan seekor kambing pada lima ekor unta, sehingga berpindah dari jenis unta kepada kambing, dan tidak berpindah kepada emas-perak atau penilaian harga.

وَإِنْ قُدِّرَ أَنَّ ذٰلِكَ لِقِلَّةِ النُّقُودِ فِي أَيْدِي الْعَرَبِ، بَطَلَ بِذِكْرِهِ عِشْرِينَ دِرْهَمًا فِي الْجَبْرَانِ مَعَ الشَّاتَيْنِ.
Jika dianggap bahwa hal itu karena sedikitnya uang di tangan orang Arab, maka anggapan itu batal dengan adanya penyebutan dua puluh dirham sebagai ganti bersama dua kambing dalam masalah jabrān.

فَلَمْ يُذْكَرْ فِي الْجَبْرَانِ قَدْرُ النُّقْصَانِ مِنَ الْقِيمَةِ، بَلْ قُدِّرَ بِعِشْرِينَ دِرْهَمًا وَشَاتَيْنِ.
Dalam jabrān tidak disebutkan kadar kekurangan harga secara umum, tetapi ditentukan secara khusus dengan dua puluh dirham dan dua kambing.

وَإِنْ كَانَتِ الثِّيَابُ وَالْأَمْتِعَةُ كُلُّهَا فِي مَعْنَاهَا.
Padahal pakaian dan barang-barang lain juga bisa saja menggantikan dari sisi nilai.

فَهٰذَا وَأَمْثَالُهُ مِنَ التَّخْصِيصَاتِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الزَّكَاةَ لَمْ تُتْرَكْ خَالِيَةً عَنِ التَّعَبُّدَاتِ كَمَا فِي الْحَجِّ، وَلٰكِنْ جُمِعَ بَيْنَ الْمَعْنَيَيْنِ.
Maka hal ini dan semisalnya dari bentuk-bentuk pengkhususan menunjukkan bahwa zakat tidak dibiarkan kosong dari unsur-unsur ibadah seperti pada haji, tetapi justru dihimpun di dalamnya dua makna sekaligus.

وَالْأَذْهَانُ الضَّعِيفَةُ تَقْصُرُ عَنْ دَرْكِ الْمُرَكَّبَاتِ، فَهٰذَا شَأْنُ الْغَلَطِ فِيهِ.
Pikiran yang lemah tidak mampu menjangkau perkara-perkara yang tersusun seperti ini, maka di sinilah letak kekeliruan dalam memahaminya.

اَلرَّابِعُ: أَنْ لَا يَنْقُلَ الصَّدَقَةَ إِلَى بَلَدٍ آخَرَ.
Yang keempat: hendaknya ia tidak memindahkan zakat ke negeri lain.

فَإِنَّ أَعْيُنَ الْمَسَاكِينِ فِي كُلِّ بَلْدَةٍ تَمْتَدُّ إِلَى أَمْوَالِهَا.
Karena mata orang-orang miskin di setiap negeri tertuju kepada harta yang ada di negeri mereka sendiri.

وَفِي النَّقْلِ تَخْيِيبٌ لِلظُّنُونِ.
Dan memindahkannya berarti mengecewakan harapan mereka.

فَإِنْ فَعَلَ ذٰلِكَ أَجْزَأَهُ فِي قَوْلٍ.
Jika ia melakukannya, maka menurut sebagian pendapat hal itu tetap sah.

وَلٰكِنَّ الْخُرُوجَ عَنْ شُبْهَةِ الْخِلَافِ أَوْلَى.
Akan tetapi keluar dari syubhat khilaf lebih utama.

فَلْيُخْرِجْ زَكَاةَ كُلِّ مَالٍ فِي تِلْكَ الْبَلْدَةِ.
Maka hendaknya ia mengeluarkan zakat setiap harta di negeri tempat harta itu berada.

ثُمَّ لَا بَأْسَ أَنْ يَصْرِفَ إِلَى الْغُرَبَاءِ فِي تِلْكَ الْبَلْدَةِ.
Kemudian tidak mengapa jika ia memberikannya kepada orang-orang asing di negeri itu.

اَلْخَامِسُ: أَنْ يَقْسِمَ مَالَهُ بِعَدَدِ الْأَصْنَافِ الْمَوْجُودِينَ فِي بَلَدِهِ.
Yang kelima: hendaknya ia membagi zakatnya menurut jumlah golongan yang ada di negerinya.

فَإِنَّ اسْتِيعَابَ الْأَصْنَافِ وَاجِبٌ.
Karena mencakup seluruh golongan yang ada itu wajib.

وَعَلَيْهِ يَدُلُّ ظَاهِرُ قَوْلِهِ تَعَالَى: إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ... الْآيَةَ.
Dan yang menunjukkan hal itu adalah zahir firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya zakat-zakat itu untuk orang-orang fakir dan orang-orang miskin...” sampai akhir ayat.

فَإِنَّهُ يُشْبِهُ قَوْلَ الْمَرِيضِ: إِنَّمَا ثُلُثُ مَالِي لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ.
Karena itu mirip dengan ucapan orang sakit: “Sesungguhnya sepertiga hartaku hanyalah untuk para fakir dan miskin.”

وَذٰلِكَ يَقْتَضِي التَّشْرِيكَ فِي التَّمْلِيكِ.
Ucapan seperti itu menuntut adanya penyertaan mereka dalam kepemilikan.

وَالْعِبَادَاتُ يَنْبَغِي أَنْ يُتَوَقَّى عَنِ الْهُجُومِ فِيهَا عَلَى الظَّوَاهِرِ.
Dalam ibadah, seseorang harus berhati-hati agar tidak gegabah hanya berpegang pada hal-hal lahiriah semata.

وَقَدْ عُدِمَ مِنَ الثَّمَانِيَةِ صِنْفَانِ فِي أَكْثَرِ الْبِلَادِ، وَهُمُ الْمُؤَلَّفَةُ قُلُوبُهُمْ وَالْعَامِلُونَ عَلَى الزَّكَاةِ.
Dari delapan golongan tersebut, ada dua yang tidak ada di kebanyakan negeri, yaitu muallaf yang dilunakkan hatinya dan para petugas zakat.

وَيُوجَدُ فِي جَمِيعِ الْبِلَادِ أَرْبَعَةُ أَصْنَافٍ: الْفُقَرَاءُ وَالْمَسَاكِينُ وَالْغَارِمُونَ وَالْمُسَافِرُونَ، أَعْنِي ابْنَ السَّبِيلِ.
Dan di seluruh negeri biasanya ada empat golongan: fakir, miskin, orang yang berutang, dan musafir, yaitu ibnu sabil.

وَصِنْفَانِ يُوجَدَانِ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ دُونَ بَعْضٍ، وَهُمَا الْغُزَاةُ وَالْمُكَاتَبُونَ.
Dua golongan lainnya hanya ada di sebagian negeri, yaitu para pejuang dan budak mukatab.

فَإِنْ وُجِدَ خَمْسَةُ أَصْنَافٍ مَثَلًا، قَسَمَ بَيْنَهُمْ زَكَاةَ مَالِهِ بِخَمْسَةِ أَقْسَامٍ مُتَسَاوِيَةٍ أَوْ مُتَقَارِبَةٍ.
Jika misalnya ditemukan lima golongan, maka ia membagi zakat hartanya kepada mereka menjadi lima bagian yang sama atau mendekati sama.

وَعَيَّنَ لِكُلِّ صِنْفٍ قِسْمًا.
Dan ia menentukan satu bagian untuk setiap golongan.

ثُمَّ قَسَّمَ كُلَّ قِسْمٍ ثَلَاثَةَ أَسْهُمٍ فَمَا فَوْقَهَا، إِمَّا مُتَسَاوِيَةً أَوْ مُتَفَاوِتَةً.
Kemudian ia membagi setiap bagian itu menjadi tiga سهم atau lebih, baik sama besar maupun berbeda-beda.

وَلَيْسَ عَلَيْهِ التَّسْوِيَةُ بَيْنَ آحَادِ الصِّنْفِ.
Ia tidak wajib menyamakan pembagian di antara individu-individu dalam satu golongan.

فَلَهُ أَنْ يُقَسِّمَهُ عَلَى عَشَرَةٍ وَعِشْرِينَ فَيَنْقُصُ نَصِيبُ كُلِّ وَاحِدٍ.
Ia boleh membagikannya kepada sepuluh atau dua puluh orang sehingga bagian masing-masing menjadi lebih kecil.

وَأَمَّا الْأَصْنَافُ فَلَا تَقْبَلُ الزِّيَادَةَ وَالنُّقْصَانَ.
Adapun jumlah golongan yang ada, maka tidak boleh dikurangi atau ditambah-tambahi sekehendak hati.

فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَنْقُصَ فِي كُلِّ صِنْفٍ عَنْ ثَلَاثَةٍ إِنْ وُجِدُوا.
Maka sebaiknya pada setiap golongan tidak kurang dari tiga orang, jika memang ada.

ثُمَّ لَوْ لَمْ يَجِبْ إِلَّا صَاعٌ لِلْفِطْرِ، وَوُجِدَ خَمْسَةُ أَصْنَافٍ، فَعَلَيْهِ أَنْ يُوصِلَهُ إِلَى خَمْسَةَ عَشَرَ نَفَرًا.
Bahkan jika yang wajib hanya satu sha‘ untuk zakat fitrah, dan terdapat lima golongan penerima, maka ia harus menyampaikannya kepada lima belas orang.

وَلَوْ نَقَصَ مِنْهُمْ وَاحِدٌ مَعَ الْإِمْكَانِ غَرِمَ نَصِيبَ ذٰلِكَ الْوَاحِدِ.
Jika kurang satu orang saja padahal hal itu memungkinkan, maka ia harus mengganti bagian orang yang kurang itu.

فَإِنْ عَسُرَ عَلَيْهِ ذٰلِكَ لِقِلَّةِ الْوَاجِبِ، فَلْيَشْتَرِكْ جَمَاعَةٌ مِمَّنْ عَلَيْهِمُ الزَّكَاةُ، وَلْيَخْلِطْ مَالَ نَفْسِهِ بِمَالِهِمْ، وَلْيَجْمَعِ الْمُسْتَحِقِّينَ، وَلْيُسَلِّمْ إِلَيْهِمْ، حَتَّى يَتَسَاهَمُوا فِيهِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ لَا بُدَّ مِنْهُ.
Jika hal itu sulit baginya karena sedikitnya kadar zakat yang wajib, maka hendaknya beberapa orang yang sama-sama wajib zakat bergabung, lalu ia mencampurkan hartanya dengan harta mereka, mengumpulkan orang-orang yang berhak, dan menyerahkan semuanya kepada mereka agar mereka berbagi di dalamnya, karena hal itu memang harus dilakukan.