Penjelasan Tentang Rincian Adab-Adab Batin Dalam Zakat

بَيَانُ دَقَائِقِ الْآدَابِ الْبَاطِنَةِ فِي الزَّكَاةِ.

Penjelasan tentang rincian adab-adab batin dalam zakat.

اِعْلَمْ أَنَّ عَلَى مُرِيدِ طَرِيقِ الْآخِرَةِ بِزَكَاتِهِ وَظَائِفَ.
Ketahuilah bahwa bagi orang yang menempuh jalan akhirat terdapat beberapa tugas dalam menunaikan zakatnya.

اَلْوَظِيفَةُ الْأُولَى: فَهْمُ وُجُوبِ الزَّكَاةِ وَمَعْنَاهَا وَوَجْهِ الِامْتِحَانِ فِيهَا، وَأَنَّهَا لِمَ جُعِلَتْ مِنْ مَبَانِي الْإِسْلَامِ مَعَ أَنَّهَا تَصَرُّفٌ مَالِيٌّ وَلَيْسَتْ مِنْ عِبَادَةِ الْأَبْدَانِ.
Tugas pertama ialah memahami wajibnya zakat, maknanya, sisi ujian yang ada padanya, dan mengapa ia dijadikan salah satu bangunan Islam padahal ia merupakan pengeluaran harta, bukan ibadah badan.

وَفِيهِ ثَلَاثَةُ مَعَانٍ.
Di dalamnya terdapat tiga makna.

اَلْمَعْنَى الْأَوَّلُ: أَنَّ التَّلَفُّظَ بِكَلِمَتَيِ الشَّهَادَةِ الْتِزَامٌ لِلتَّوْحِيدِ وَشَهَادَةٌ بِإِفْرَادِ الْمَعْبُودِ.
Makna pertama: bahwa pengucapan dua kalimat syahadat adalah komitmen terhadap tauhid dan kesaksian bahwa hanya satu Tuhan yang disembah.

وَشَرْطُ تَمَامِ الْوَفَاءِ بِهِ أَنْ لَا يُبْقَى لِلْمُوَحِّدِ مَحْبُوبٌ سِوَى الْوَاحِدِ الْفَرْدِ.
Syarat sempurnanya pemenuhan komitmen itu adalah agar orang yang bertauhid tidak menyisakan sesuatu yang lebih dicintainya selain Dzat Yang Esa lagi Tunggal.

فَإِنَّ الْمَحَبَّةَ لَا تَقْبَلُ الشَّرِكَةَ.
Karena cinta tidak menerima persekutuan.

وَالتَّوْحِيدُ بِاللِّسَانِ قَلِيلُ الْجَدْوَى.
Tauhid dengan lisan saja sangat sedikit manfaatnya.

وَإِنَّمَا يُمْتَحَنُ بِهِ دَرَجَةُ الْمُحِبِّ بِمُفَارَقَةِ الْمَحْبُوبِ.
Derajat seorang pecinta diuji dengan kemampuannya berpisah dari sesuatu yang dicintai.

وَالْأَمْوَالُ مَحْبُوبَةٌ عِنْدَ الْخَلَائِقِ، لِأَنَّهَا آلَةُ تَمَتُّعِهِمْ بِالدُّنْيَا، وَبِسَبَبِهَا يَأْنَسُونَ بِهٰذَا الْعَالَمِ، وَيَنْفِرُونَ عَنِ الْمَوْتِ، مَعَ أَنَّ فِيهِ لِقَاءَ الْمَحْبُوبِ.
Harta dicintai oleh makhluk, karena ia adalah alat untuk menikmati dunia. Dengan sebab harta manusia merasa akrab dengan dunia ini dan menjauh dari kematian, padahal di dalam kematian terdapat perjumpaan dengan yang dicintai, yaitu Allah.

فَامْتُحِنُوا بِتَصْدِيقِ دَعْوَاهُمْ فِي الْمَحْبُوبِ، وَاسْتُنْزِلُوا عَنِ الْمَالِ الَّذِي هُوَ مَرْمُوقُهُمْ وَمَعْشُوقُهُمْ.
Maka mereka diuji untuk membuktikan kebenaran pengakuan mereka tentang cinta kepada Allah, dengan diminta melepaskan harta yang menjadi incaran dan kecintaan mereka.

وَلِذٰلِكَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ.
Karena itu Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang beriman jiwa dan harta mereka dengan balasan surga.”

وَذٰلِكَ بِالْجِهَادِ، وَهُوَ الْمُسَامَحَةُ بِالْمُهْجَةِ شَوْقًا إِلَى لِقَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Hal itu tampak dalam jihad, yaitu kesediaan menyerahkan nyawa karena rindu berjumpa dengan Allah عز وجل.

وَالْمُسَامَحَةُ بِالْمَالِ أَهْوَنُ.
Sedangkan berlapang dada menyerahkan harta adalah yang lebih ringan.

وَلَمَّا فُهِمَ هٰذَا الْمَعْنَى فِي بَذْلِ الْأَمْوَالِ انْقَسَمَ النَّاسُ إِلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ.
Ketika makna ini dipahami dalam pengeluaran harta, maka manusia terbagi menjadi tiga golongan.

قِسْمٌ صَدَقُوا التَّوْحِيدَ وَوَفَوْا بِعَهْدِهِ، وَنَزَلُوا عَنْ جَمِيعِ أَمْوَالِهِمْ، فَلَمْ يَدَّخِرُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا.
Golongan pertama: orang-orang yang benar dalam tauhid dan memenuhi janjinya. Mereka melepaskan seluruh harta mereka dan tidak menyimpan dinar ataupun dirham.

فَأَبَوْا أَنْ يَتَعَرَّضُوا لِوُجُوبِ الزَّكَاةِ عَلَيْهِمْ.
Mereka menolak untuk membiarkan diri mereka berada pada batas minimal kewajiban zakat saja.

حَتَّى قِيلَ لِبَعْضِهِمْ: كَمْ يَجِبُ مِنَ الزَّكَاةِ فِي مِائَتَيْ دِرْهَمٍ؟
Sampai-sampai pernah dikatakan kepada salah seorang dari mereka: “Berapa zakat yang wajib pada dua ratus dirham?”

فَقَالَ: أَمَّا عَلَى الْعَوَامِّ بِحُكْمِ الشَّرْعِ فَخَمْسَةُ دَرَاهِمَ، وَأَمَّا نَحْنُ فَيَجِبُ عَلَيْنَا بَذْلُ الْجَمِيعِ.
Ia menjawab: “Adapun bagi orang awam menurut hukum syariat, maka lima dirham. Sedangkan bagi kami, yang wajib adalah menyerahkan semuanya.”

وَلِهٰذَا تَصَدَّقَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِجَمِيعِ مَالِهِ، وَعُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِشَطْرِ مَالِهِ.
Karena itulah Abu Bakar رضي الله عنه bersedekah dengan seluruh hartanya, dan Umar رضي الله عنه dengan setengah hartanya.

فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُمَرَ: مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟
Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bertanya kepada Umar: “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”

فَقَالَ: مِثْلَهُ.
Umar menjawab: “Sejumlah yang sama.”

وَقَالَ لِأَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟
Dan beliau bertanya kepada Abu Bakar رضي الله عنه: “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”

فَقَالَ: اللهُ وَرَسُولُهُ.
Abu Bakar menjawab: “Allah dan Rasul-Nya.”

فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَيْنَكُمَا مَا بَيْنَ كَلِمَتَيْكُمَا.
Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Perbedaan antara kalian berdua seperti perbedaan antara dua jawaban kalian.”

فَالصِّدِّيقُ وَفَى بِتَمَامِ الصِّدْقِ، فَلَمْ يُمْسِكْ سِوَى الْمَحْبُوبِ عِنْدَهُ وَهُوَ اللهُ وَرَسُولُهُ.
Ash-Shiddiq memenuhi kejujuran secara sempurna. Ia tidak menyisakan apa pun selain yang paling dicintainya, yaitu Allah dan Rasul-Nya.

اَلْقِسْمُ الثَّانِي: دَرَجَتُهُمْ دُونَ دَرَجَةِ هٰؤُلَاءِ.
Golongan kedua: derajat mereka di bawah derajat golongan pertama.

وَهُمُ الْمُمْسِكُونَ أَمْوَالَهُمُ الْمُرَاقِبُونَ لِمَوَاقِيتِ الْحَاجَاتِ وَمَوَاسِمِ الْخَيْرَاتِ.
Mereka adalah orang-orang yang menahan harta mereka, sambil memperhatikan waktu-waktu kebutuhan dan musim-musim kebaikan.

فَيَكُونُ قَصْدُهُمْ فِي الِادِّخَارِ الْإِنْفَاقَ عَلَى قَدْرِ الْحَاجَةِ دُونَ التَّنَعُّمِ.
Tujuan mereka dalam menyimpan harta adalah agar dapat membelanjakannya sebatas kebutuhan, bukan untuk bermewah-mewahan.

وَصَرْفَ الْفَاضِلِ عَنِ الْحَاجَةِ إِلَى وُجُوهِ الْبِرِّ مَهْمَا ظَهَرَتْ وُجُوهُهَا.
Dan mengalihkan kelebihan dari kebutuhan itu kepada berbagai jalan kebajikan kapan pun kesempatan kebajikan tampak.

وَهٰؤُلَاءِ لَا يَقْتَصِرُونَ عَلَى مِقْدَارِ الزَّكَاةِ.
Orang-orang ini tidak mencukupkan diri pada kadar zakat yang wajib saja.

وَقَدْ ذَهَبَ جَمَاعَةٌ مِنَ التَّابِعِينَ إِلَى أَنَّ فِي الْمَالِ حُقُوقًا سِوَى الزَّكَاةِ، كَالنَّخَعِيِّ وَالشَّعْبِيِّ وَعَطَاءٍ وَمُجَاهِدٍ.
Sekelompok tabi‘in berpendapat bahwa dalam harta ada hak-hak selain zakat, seperti an-Nakha‘i, asy-Sya‘bi, ‘Atha’, dan Mujahid.

قَالَ الشَّعْبِيُّ بَعْدَ أَنْ قِيلَ لَهُ: هَلْ فِي الْمَالِ حَقٌّ سِوَى الزَّكَاةِ؟
Asy-Sya‘bi berkata setelah ditanya: “Apakah dalam harta ada hak selain zakat?”

قَالَ: نَعَمْ، أَمَا سَمِعْتَ قَوْلَهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى... الْآيَةَ.
Ia menjawab: “Ya. Tidakkah engkau mendengar firman Allah عز وجل: ‘Dan ia memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat...’ hingga akhir ayat?”

وَاسْتَدَلُّوا بِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ.
Mereka berdalil dengan firman Allah عز وجل: “Dan dari apa yang Kami rezekikan kepada mereka, mereka infakkan.”

وَبِقَوْلِهِ تَعَالَى: وَأَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ.
Dan juga dengan firman-Nya Ta‘ala: “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian.”

وَزَعَمُوا أَنَّ ذٰلِكَ غَيْرُ مَنْسُوخٍ بِآيَةِ الزَّكَاةِ.
Mereka berpendapat bahwa ayat-ayat itu tidak dihapus oleh ayat zakat.

بَلْ هُوَ دَاخِلٌ فِي حَقِّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ.
Bahkan ia termasuk hak seorang Muslim atas Muslim yang lain.

وَمَعْنَاهُ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمُوسِرِ مَهْمَا وَجَدَ مُحْتَاجًا أَنْ يُزِيلَ حَاجَتَهُ فَضْلًا عَنْ مَالِ الزَّكَاةِ.
Maknanya adalah bahwa wajib atas orang yang lapang hartanya, bila menemukan orang yang membutuhkan, untuk menghilangkan kebutuhannya, di luar kewajiban zakat.

وَالَّذِي يَصِحُّ فِي الْفِقْهِ مِنْ هٰذَا الْبَابِ أَنَّهُ مَهْمَا أَرْهَقَتْهُ حَاجَتُهُ كَانَتْ إِزَالَتُهَا فَرْضَ كِفَايَةٍ، إِذْ لَا يَجُوزُ تَضْيِيعُ مُسْلِمٍ.
Pendapat yang sahih dalam fikih tentang hal ini adalah: jika kebutuhan orang itu sangat mendesak, maka menghilangkannya menjadi fardu kifayah, karena tidak boleh menelantarkan seorang Muslim.

وَلٰكِنْ يُحْتَمَلُ أَنْ يُقَالَ: لَيْسَ عَلَى الْمُوسِرِ إِلَّا تَسْلِيمُ مَا يُزِيلُ الْحَاجَةَ فَرْضًا.
Namun bisa jadi dikatakan: tidak wajib atas orang kaya kecuali menyerahkan apa yang cukup menghilangkan kebutuhan itu sebagai kewajiban.

وَلَا يَلْزَمُهُ بَذْلُهُ بَعْدَ أَنْ أَسْقَطَ الزَّكَاةَ عَنْ نَفْسِهِ.
Dan tidak wajib baginya memberikannya setelah ia menunaikan zakatnya.

وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُقَالَ: يَلْزَمُهُ بَذْلُهُ فِي الْحَالِ، وَلَا يَجُوزُ لَهُ الِاقْتِرَاضُ.
Dan bisa jadi pula dikatakan: wajib baginya menyerahkannya saat itu juga, dan tidak boleh ia membiarkan si fakir berutang.

أَيْ لَا يَجُوزُ لَهُ تَكْلِيفُ الْفَقِيرِ قَبُولَ الْقَرْضِ.
Artinya, tidak boleh baginya membebani orang miskin untuk menerima pinjaman sebagai ganti pemberian.

وَهٰذَا مُخْتَلَفٌ فِيهِ.
Masalah ini diperselisihkan.

وَالِاقْتِرَاضُ نُزُولٌ إِلَى الدَّرَجَةِ الْأَخِيرَةِ مِنْ دَرَجَاتِ الْعَوَامِّ.
Membiarkan si miskin berutang adalah turun ke derajat paling rendah dari tingkatan orang awam.

وَهِيَ دَرَجَةُ الْقِسْمِ الثَّالِثِ، الَّذِينَ يَقْتَصِرُونَ عَلَى أَدَاءِ الْوَاجِبِ، فَلَا يَزِيدُونَ عَلَيْهِ وَلَا يَنْقُصُونَ عَنْهُ.
Itu adalah derajat golongan ketiga, yaitu orang-orang yang hanya mencukupkan diri pada menunaikan kewajiban, tidak menambah di atasnya dan tidak pula menguranginya.

وَهِيَ أَقَلُّ الرُّتَبِ.
Dan itu adalah tingkatan yang paling rendah.

وَقَدِ اقْتَصَرَ جَمِيعُ الْعَوَامِّ عَلَيْهِ، لِبُخْلِهِمْ بِالْمَالِ وَمَيْلِهِمْ إِلَيْهِ وَضَعْفِ حُبِّهِمْ لِلْآخِرَةِ.
Kebanyakan orang awam hanya berhenti pada tingkatan ini, karena bakhil terhadap harta, condong kepadanya, dan lemahnya cinta mereka kepada akhirat.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنْ يَسْأَلْكُمُوهَا فَيُحْفِكُمْ تَبْخَلُوا.
Allah Ta‘ala berfirman: “Jika Dia meminta harta itu kepada kalian lalu mendesak kalian, niscaya kalian akan bakhil.”

يُحْفِكُمْ أَيْ يَسْتَقْصِي عَلَيْكُمْ.
“Yuhfikum” maksudnya adalah menuntut kalian sampai habis.

فَكَمْ بَيْنَ عَبْدٍ اشْتَرَى مِنْهُ مَالَهُ وَنَفْسَهُ بِأَنَّ لَهُ الْجَنَّةَ، وَبَيْنَ عَبْدٍ لَا يُسْتَقْصَى عَلَيْهِ لِبُخْلِهِ؟
Betapa besar perbedaan antara seorang hamba yang Allah membeli darinya jiwa dan hartanya dengan balasan surga, dan seorang hamba yang tidak diminta lebih karena kebakhilannya!

فَهٰذَا أَحَدُ مَعَانِي أَمْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ عِبَادَهُ بِبَذْلِ الْأَمْوَالِ.
Inilah salah satu makna dari perintah Allah سبحانه kepada hamba-hamba-Nya untuk mengeluarkan harta.

اَلْمَعْنَى الثَّانِي: التَّطْهِيرُ مِنْ صِفَةِ الْبُخْلِ، فَإِنَّهُ مِنَ الْمُهْلِكَاتِ.
Makna kedua: membersihkan diri dari sifat bakhil, karena ia termasuk perkara yang membinasakan.

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tiga perkara yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.”

وَقَالَ تَعَالَى: وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Barang siapa dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

وَسَيَأْتِي فِي رُبْعِ الْمُهْلِكَاتِ وَجْهُ كَوْنِهِ مُهْلِكًا وَكَيْفِيَّةُ التَّقَصِّي مِنْهُ.
Nanti akan dijelaskan dalam rubu‘ al-muhlikat bagaimana sifat itu membinasakan dan cara membersihkan diri darinya.

وَإِنَّمَا تَزُولُ صِفَةُ الْبُخْلِ بِأَنْ تَتَعَوَّدَ بَذْلَ الْمَالِ.
Sifat bakhil hanya bisa hilang dengan membiasakan diri mengeluarkan harta.

فَحُبُّ الشَّيْءِ لَا يَنْقَطِعُ إِلَّا بِقَهْرِ النَّفْسِ عَلَى مُفَارَقَتِهِ، حَتَّى يَصِيرَ ذٰلِكَ اعْتِيَادًا.
Cinta kepada sesuatu tidak akan terputus kecuali dengan memaksa jiwa meninggalkannya, sampai hal itu menjadi kebiasaan.

فَالزَّكَاةُ بِهٰذَا الْمَعْنَى طُهْرَةٌ.
Dengan makna ini, zakat adalah penyucian.

أَيْ تُطَهِّرُ صَاحِبَهَا عَنْ خَبَثِ الْبُخْلِ الْمُهْلِكِ.
Artinya, ia membersihkan pemiliknya dari kotoran bakhil yang membinasakan.

وَإِنَّمَا طَهَارَتُهُ بِقَدْرِ بَذْلِهِ، وَبِقَدْرِ فَرَحِهِ بِإِخْرَاجِهِ، وَاسْتِبْشَارِهِ بِصَرْفِهِ إِلَى اللهِ تَعَالَى.
Dan tingkat penyucian itu bergantung pada kadar pengeluarannya, kadar kegembiraannya saat mengeluarkannya, dan kadar kebahagiaannya karena dapat menyerahkannya demi Allah Ta‘ala.

اَلْمَعْنَى الثَّالِثُ: شُكْرُ النِّعْمَةِ.
Makna ketiga: mensyukuri nikmat.

فَإِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى عَبْدِهِ نِعْمَةً فِي نَفْسِهِ وَفِي مَالِهِ.
Sesungguhnya Allah عز وجل telah memberi hamba-Nya nikmat pada dirinya dan pada hartanya.

فَالْعِبَادَاتُ الْبَدَنِيَّةُ شُكْرٌ لِنِعْمَةِ الْبَدَنِ.
Ibadah-ibadah badan adalah syukur atas nikmat badan.

وَالْمَالِيَّةُ شُكْرٌ لِنِعْمَةِ الْمَالِ.
Adapun ibadah harta adalah syukur atas nikmat harta.

وَمَا أَخَسَّ مَنْ يَنْظُرُ إِلَى الْفَقِيرِ، وَقَدْ ضُيِّقَ عَلَيْهِ الرِّزْقُ وَأُحْوِجَ إِلَيْهِ، ثُمَّ لَا تَسْمَحُ نَفْسُهُ بِأَنْ يُؤَدِّيَ شُكْرَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى إِغْنَائِهِ عَنِ السُّؤَالِ، وَإِحْوَاجِ غَيْرِهِ إِلَيْهِ، بِرُبْعِ الْعُشْرِ أَوِ الْعُشْرِ مِنْ مَالِهِ.
Betapa rendahnya orang yang melihat seorang fakir yang disempitkan rezekinya dan dibuat membutuhkan kepadanya, tetapi jiwanya tidak mau menunaikan syukur kepada Allah Ta‘ala atas nikmat Allah yang membuatnya cukup dari meminta dan menjadikan orang lain membutuhkan kepadanya, hanya dengan mengeluarkan seperempat dari sepersepuluh atau sepersepuluh dari hartanya.

اَلْوَظِيفَةُ الثَّانِيَةُ فِي وَقْتِ الْأَدَاءِ.
Tugas kedua berkaitan dengan waktu pelaksanaan zakat.

وَمِنْ آدَابِ ذَوِي الدِّينِ التَّعْجِيلُ عَنْ وَقْتِ الْوُجُوبِ، إِظْهَارًا لِلرَّغْبَةِ فِي الِامْتِثَالِ، بِإِيصَالِ السُّرُورِ إِلَى قُلُوبِ الْفُقَرَاءِ.
Di antara adab orang-orang yang beragama ialah menyegerakan zakat ketika telah wajib, sebagai tanda keinginan untuk taat, dengan menyampaikan kegembiraan ke hati orang-orang fakir.

وَمُبَادَرَةً لِعَوَائِقِ الزَّمَانِ أَنْ تَعُوقَهُ عَنِ الْخَيْرَاتِ.
Dan juga sebagai bentuk mendahului hambatan-hambatan waktu sebelum ia terhalang dari kebaikan.

وَعِلْمًا بِأَنَّ فِي التَّأْخِيرِ آفَاتٍ، مَعَ مَا يَتَعَرَّضُ الْعَبْدُ لَهُ مِنَ الْعِصْيَانِ لَوْ أَخَّرَ عَنْ وَقْتِ الْوُجُوبِ.
Serta karena mengetahui bahwa dalam penundaan terdapat banyak bahaya, selain bahwa hamba akan terjatuh ke dalam maksiat jika ia menunda setelah masuk waktu wajib.

وَمَهْمَا ظَهَرَتْ دَاعِيَةُ الْخَيْرِ مِنَ الْبَاطِنِ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَغْتَنِمَ، فَإِنَّ ذٰلِكَ لَمَّةُ الْمَلَكِ.
Setiap kali dorongan kebaikan muncul dari dalam dirinya, hendaknya ia segera memanfaatkannya, karena itulah sentuhan malaikat.

وَقَلْبُ الْمُؤْمِنِ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمٰنِ، فَمَا أَسْرَعَ تَقَلُّبَهُ.
Hati seorang mukmin berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman, maka betapa cepat ia berubah.

وَالشَّيْطَانُ يَعِدُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، وَلَهُ لَمَّةٌ عَقِيبَ لَمَّةِ الْمَلَكِ.
Setan menjanjikan kemiskinan dan memerintahkan kekejian serta kemungkaran, dan ia punya sentuhan hati setelah sentuhan malaikat.

فَلْيَغْتَنِمِ الْفُرْصَةَ فِيهِ.
Maka hendaknya kesempatan itu disambar.

وَلْيُعَيِّنْ لِزَكَاتِهِ، إِنْ كَانَ يُؤَدِّيهَا جَمِيعًا، شَهْرًا مَعْلُومًا.
Jika ia membayar zakatnya sekaligus, hendaknya ia menetapkan baginya satu bulan tertentu.

وَلْيَجْتَهِدْ أَنْ يَكُونَ مِنْ أَفْضَلِ الْأَوْقَاتِ، لِيَكُونَ ذٰلِكَ سَبَبًا لِنَمَاءِ قُرْبَتِهِ وَتَضَاعُفِ زَكَاتِهِ.
Dan hendaknya ia berusaha memilih waktu yang paling utama, agar itu menjadi sebab tumbuhnya kedekatan dirinya kepada Allah dan berlipatgandanya pahala zakatnya.

وَذٰلِكَ كَشَهْرِ الْمُحَرَّمِ، فَإِنَّهُ أَوَّلُ السَّنَةِ وَهُوَ مِنَ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ.
Seperti bulan Muharram, karena ia adalah awal tahun dan termasuk bulan-bulan haram.

أَوْ رَمَضَانَ، فَقَدْ كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ الْخَلْقِ، وَكَانَ فِي رَمَضَانَ كَالرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ، لَا يُمْسِكُ فِيهِ شَيْئًا.
Atau bulan Ramadan, karena Nabi صلى الله عليه وسلم adalah manusia yang paling dermawan, dan pada bulan Ramadan beliau seperti angin yang berhembus kencang, tidak menahan apa pun di dalamnya.

وَلِرَمَضَانَ فَضْلُ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَأَنَّهُ أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ.
Ramadan memiliki keutamaan Lailatul Qadar dan bahwa Al-Qur’an diturunkan di dalamnya.

وَكَانَ مُجَاهِدٌ يَقُولُ: لَا تَقُولُوا رَمَضَانَ، فَإِنَّهُ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ تَعَالَى، وَلٰكِنْ قُولُوا: شَهْرُ رَمَضَانَ.
Mujahid berkata: “Janganlah kalian mengatakan ‘Ramadan’ saja, karena ia adalah salah satu nama Allah Ta‘ala. Tetapi katakanlah ‘bulan Ramadan’.”

وَذُو الْحِجَّةِ أَيْضًا مِنَ الشُّهُورِ كَثِيرَةِ الْفَضْلِ، فَإِنَّهُ شَهْرٌ حَرَامٌ، وَفِيهِ الْحَجُّ الْأَكْبَرُ، وَفِيهِ الْأَيَّامُ الْمَعْلُومَاتُ، وَهِيَ الْعَشْرُ الْأُوَلُ، وَالْأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ، وَهِيَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ.
Dzulhijjah juga termasuk bulan yang banyak keutamaannya, karena ia adalah bulan haram, di dalamnya ada haji الأكبر, dan di dalamnya terdapat “hari-hari yang dikenal” yaitu sepuluh hari pertama, serta “hari-hari yang terbilang” yaitu hari-hari tasyrik.

وَأَفْضَلُ أَيَّامِ شَهْرِ رَمَضَانَ الْعَشْرُ الْأَوَاخِرُ، وَأَفْضَلُ أَيَّامِ ذِي الْحِجَّةِ الْعَشْرُ الْأُوَلُ.
Hari-hari terbaik di bulan Ramadan adalah sepuluh hari terakhir, sedangkan hari-hari terbaik di Dzulhijjah adalah sepuluh hari pertama.

اَلْوَظِيفَةُ الثَّالِثَةُ: الْإِسْرَارُ.
Tugas ketiga: merahasiakan pemberian.

فَإِنَّ ذٰلِكَ أَبْعَدُ عَنِ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ.
Karena itu lebih jauh dari riya dan mencari nama.

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ جَهْدُ الْمُقِلِّ إِلَى فَقِيرٍ فِي سِرٍّ.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sedekah yang paling utama adalah jerih payah orang yang sedikit hartanya kepada seorang fakir secara rahasia.”

وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: ثَلَاثٌ مِنْ كُنُوزِ الْبِرِّ، مِنْهَا إِخْفَاءُ الصَّدَقَةِ.
Sebagian ulama berkata: “Tiga hal termasuk perbendaharaan kebajikan, salah satunya adalah menyembunyikan sedekah.”

وَقَدْ رُوِيَ أَيْضًا مُسْنَدًا.
Dan hal ini juga diriwayatkan secara musnad.

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ عَمَلًا فِي السِّرِّ فَيَكْتُبُهُ اللهُ لَهُ سِرًّا، فَإِنْ أَظْهَرَهُ نُقِلَ مِنَ السِّرِّ وَكُتِبَ فِي الْعَلَانِيَةِ، فَإِنْ تَحَدَّثَ بِهِ نُقِلَ مِنَ السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ وَكُتِبَ رِيَاءً.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba mengerjakan suatu amal secara rahasia, maka Allah menuliskannya baginya sebagai amal rahasia. Jika ia menampakkannya, dipindahkan dari rahasia lalu ditulis sebagai amal terang-terangan. Jika ia membicarakannya, dipindahkan dari rahasia dan terang-terangan, lalu ditulis sebagai riya.”

وَفِي الْحَدِيثِ الْمَشْهُورِ: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، أَحَدُهُمْ رَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَلَمْ تَعْلَمْ شِمَالُهُ مَا أَعْطَتْ يَمِينُهُ.
Dalam hadis yang masyhur disebutkan: “Ada tujuh golongan yang Allah naungi pada hari yang tiada naungan selain naungan-Nya. Salah satunya adalah seorang lelaki yang bersedekah lalu tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanannya.”

وَفِي الْخَبَرِ: صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ.
Dalam riwayat lain disebutkan: “Sedekah rahasia memadamkan kemurkaan Tuhan.”

وَقَالَ تَعَالَى: وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Jika kalian menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagi kalian.”

وَفَائِدَةُ الْإِخْفَاءِ الْخَلَاصُ مِنْ آفَاتِ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ.
Manfaat menyembunyikan sedekah adalah selamat dari penyakit riya dan sum‘ah.

فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْ مُسْمِعٍ وَلَا مُرَاءٍ وَلَا مَنَّانٍ.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Allah tidak menerima amal dari orang yang mencari ketenaran, orang yang berbuat riya, dan orang yang mengungkit pemberian.”

وَالْمُتَحَدِّثُ بِصَدَقَتِهِ يَطْلُبُ السُّمْعَةَ.
Orang yang membicarakan sedekahnya berarti mencari nama baik.

وَالْمُعْطِي فِي مَلَإٍ مِنَ النَّاسِ يَبْغِي الرِّيَاءَ.
Dan orang yang memberi di hadapan banyak orang mencari riya.

وَالْإِخْفَاءُ وَالسُّكُوتُ هُوَ الْمُخْلِصُ مِنْهُ.
Sedangkan menyembunyikan dan diam itulah yang membebaskan dari semua itu.

وَقَدْ بَالَغَ جَمَاعَةٌ فِي فَضْلِ الْإِخْفَاءِ، حَتَّى اجْتَهَدُوا أَنْ لَا يَعْرِفَ الْقَابِضُ الْمُعْطِيَ.
Banyak orang saleh sangat menekankan keutamaan menyembunyikan sedekah, sampai mereka bersungguh-sungguh agar penerima tidak mengetahui siapa pemberinya.

فَكَانَ بَعْضُهُمْ يُلْقِيهِ فِي يَدِ أَعْمَى.
Sebagian mereka meletakkannya di tangan orang buta.

وَبَعْضُهُمْ يُلْقِيهِ فِي طَرِيقِ الْفَقِيرِ وَفِي مَوْضِعِ جُلُوسِهِ حَيْثُ يَرَاهُ وَلَا يَرَى الْمُعْطِيَ.
Sebagian lagi meletakkannya di jalan si fakir atau di tempat duduknya, sehingga si fakir melihatnya tetapi tidak melihat pemberinya.

وَبَعْضُهُمْ كَانَ يَصُرُّهُ فِي ثَوْبِ الْفَقِيرِ وَهُوَ نَائِمٌ.
Sebagian mereka menyelipkan sedekah itu ke dalam pakaian si fakir ketika ia tidur.

وَبَعْضُهُمْ كَانَ يُوصِلُهُ إِلَى يَدِ الْفَقِيرِ عَلَى يَدِ غَيْرِهِ، بِحَيْثُ لَا يَعْرِفُ الْمُعْطِيَ.
Sebagian lainnya menyampaikannya kepada tangan si fakir melalui perantara orang lain, sehingga penerima tidak mengenal pemberi.

وَكَانَ يَسْتَكْتِمُ الْمُتَوَسِّطَ شَأْنَهُ، وَيُوصِيهِ بِأَنْ لَا يُفْشِيَهُ.
Ia juga merahasiakan urusannya dari perantara itu dan berpesan kepadanya agar tidak membukanya.

كُلُّ ذٰلِكَ تَوَصُّلًا إِلَى إِطْفَاءِ غَضَبِ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ، وَاحْتِرَازًا مِنَ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ.
Semua itu dilakukan untuk meraih padamnya kemurkaan Tuhan سبحانه dan untuk menjaga diri dari riya dan sum‘ah.

وَمَهْمَا لَمْ يَتَمَكَّنْ إِلَّا بِأَنْ يَعْرِفَهُ شَخْصٌ وَاحِدٌ، فَتَسْلِيمُهُ إِلَى وَكِيلٍ لِيُسَلِّمَهُ إِلَى الْمِسْكِينِ وَالْمِسْكِينُ لَا يَعْرِفُ أَوْلَى.
Jika ia tidak dapat melakukannya kecuali diketahui oleh satu orang, maka lebih utama menyerahkannya kepada seorang wakil untuk diberikan kepada orang miskin, sehingga si miskin tidak mengetahui pemberinya.

إِذْ فِي مَعْرِفَةِ الْمِسْكِينِ الرِّيَاءُ وَالْمَنُّ جَمِيعًا، وَلَيْسَ فِي مَعْرِفَةِ الْمُتَوَسِّطِ إِلَّا الرِّيَاءُ.
Karena jika si miskin mengetahui, maka di situ bisa masuk riya dan ungkitan sekaligus, sedangkan jika hanya perantara yang mengetahui, maka yang tersisa hanya potensi riya.

وَمَهْمَا كَانَتِ الشُّهْرَةُ مَقْصُودَةً لَهُ حَبِطَ عَمَلُهُ.
Dan jika ketenaran memang menjadi tujuannya, maka gugurlah amalnya.

لِأَنَّ الزَّكَاةَ إِزَالَةٌ لِلْبُخْلِ وَتَضْعِيفٌ لِحُبِّ الْمَالِ، وَحُبُّ الْجَاهِ أَشَدُّ اسْتِيلَاءً عَلَى النَّفْسِ مِنْ حُبِّ الْمَالِ.
Sebab zakat itu bertujuan menghilangkan bakhil dan melemahkan cinta harta, sedangkan cinta kedudukan lebih kuat menguasai jiwa daripada cinta harta.

وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مُهْلِكٌ فِي الْآخِرَةِ.
Dan masing-masing dari keduanya membinasakan di akhirat.

وَلٰكِنَّ صِفَةَ الْبُخْلِ تَنْقَلِبُ فِي الْقَبْرِ فِي حُكْمِ الْمِثَالِ عَقْرَبًا لَادِغًا، وَصِفَةَ الرِّيَاءِ تَنْقَلِبُ فِي الْقَبْرِ أُفْعَى مِنَ الْأَفَاعِي.
Namun sifat bakhil akan berubah dalam alam kubur, menurut gambaran maknawi, menjadi kalajengking yang menyengat, sedangkan sifat riya berubah menjadi ular besar yang ganas.

وَهُوَ مَأْمُورٌ بِتَضْعِيفِهِمَا أَوْ قَتْلِهِمَا، لِدَفْعِ أَذَاهُمَا أَوْ تَخْفِيفِ أَذَاهُمَا.
Seorang hamba diperintahkan untuk melemahkan atau membunuh keduanya demi menolak atau meringankan gangguan mereka.

فَمَهْمَا قَصَدَ الرِّيَاءَ وَالسُّمْعَةَ، فَكَأَنَّهُ جَعَلَ بَعْضَ أَطْرَافِ الْعَقْرَبِ مُقَوِّيًا لِلْحَيَّةِ.
Jika ia berniat riya dan sum‘ah, maka seakan-akan ia menjadikan sebagian kekuatan kalajengking untuk memperkuat ular.

فَبِقَدْرِ مَا ضَعُفَ مِنَ الْعَقْرَبِ زَادَ فِي قُوَّةِ الْحَيَّةِ.
Sejauh mana racun kalajengking melemah, sejauh itu pula kekuatan ular bertambah.

وَلَوْ تَرَكَ الْأَمْرَ كَمَا كَانَ لَكَانَ الْأَمْرُ أَهْوَنَ عَلَيْهِ.
Seandainya ia membiarkan perkara itu sebagaimana adanya, tentu keadaannya akan lebih ringan baginya.

وَقُوَّةُ هٰذِهِ الصِّفَاتِ الَّتِي بِهَا قُوَّتُهَا الْعَمَلُ بِمُقْتَضَاهَا.
Kuatnya sifat-sifat ini bergantung pada sejauh mana seseorang bertindak sesuai tuntutannya.

وَضَعْفُ هٰذِهِ الصِّفَاتِ بِمُجَاهَدَتِهَا وَمُخَالَفَتِهَا وَالْعَمَلِ بِخِلَافِ مُقْتَضَاهَا.
Lemahnya sifat-sifat ini terjadi dengan memeranginya, menyelisihinya, dan beramal bertentangan dengan tuntutannya.

فَأَيُّ فَائِدَةٍ فِي أَنْ يُخَالِفَ دَوَاعِيَ الْبُخْلِ وَيُجِيبَ دَوَاعِيَ الرِّيَاءِ، فَيُضَعِّفَ الْأَدْنَى وَيُقَوِّيَ الْأَقْوَى؟
Lalu apa gunanya ia menentang dorongan bakhil tetapi justru menjawab dorongan riya, sehingga ia melemahkan yang lebih ringan dan menguatkan yang lebih berat?

وَسَتَأْتِي أَسْرَارُ هٰذِهِ الْمَعَانِي فِي رُبْعِ الْمُهْلِكَاتِ.
Rahasia makna-makna ini akan datang penjelasannya dalam rubu‘ al-Muhlikat.

اَلْوَظِيفَةُ الرَّابِعَةُ: أَنْ يُظْهِرَ حَيْثُ يَعْلَمُ أَنَّ فِي إِظْهَارِهِ تَرْغِيبًا لِلنَّاسِ فِي الِاقْتِدَاءِ.
Tugas keempat: boleh menampakkan sedekahnya ketika ia tahu bahwa menampakkannya akan mendorong orang lain untuk meneladaninya.

وَيَحْرُسُ سِرَّهُ مِنْ دَاعِيَةِ الرِّيَاءِ بِالطَّرِيقِ الَّذِي سَنَذْكُرُهُ فِي مُعَالَجَةِ الرِّيَاءِ فِي كِتَابِ الرِّيَاءِ.
Namun ia harus menjaga batinnya dari dorongan riya, dengan cara yang akan kami sebutkan nanti dalam pembahasan pengobatan riya di Kitab ar-Riya’.

فَقَدْ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ.
Karena Allah عز وجل berfirman: “Jika kalian menampakkan sedekah-sedekah itu, maka itu baik.”

وَذٰلِكَ حَيْثُ يَقْتَضِي الْحَالُ الْإِبْدَاءَ، إِمَّا لِلِاقْتِدَاءِ، وَإِمَّا لِأَنَّ السَّائِلَ إِنَّمَا سَأَلَ عَلَى مَلَإٍ مِنَ النَّاسِ.
Hal itu berlaku ketika keadaan memang menuntut untuk menampakkannya, baik agar orang lain meneladani, atau karena si peminta memang meminta di hadapan banyak orang.

فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَتْرُكَ التَّصَدُّقَ خِيفَةً مِنَ الرِّيَاءِ فِي الْإِظْهَارِ.
Maka tidak sepatutnya seseorang meninggalkan sedekah hanya karena takut riya dalam menampakkannya.

بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَتَصَدَّقَ، وَيَحْفَظَ سِرَّهُ عَنِ الرِّيَاءِ بِقَدْرِ الْإِمْكَانِ.
Sebaliknya, ia tetap bersedekah dan menjaga batinnya dari riya semampunya.

وَهٰذَا لِأَنَّ فِي الْإِظْهَارِ مَحْذُورًا ثَالِثًا سِوَى الْمَنِّ وَالرِّيَاءِ، وَهُوَ هَتْكُ سِتْرِ الْفَقِيرِ.
Hal ini karena dalam menampakkan sedekah ada bahaya ketiga selain ungkitan dan riya, yaitu membuka tirai kehormatan si fakir.

فَإِنَّهُ رُبَّمَا يَتَأَذَّى بِأَنْ يُرَى فِي صُورَةِ الْمُحْتَاجِ.
Sebab bisa jadi ia merasa tersakiti ketika terlihat dalam keadaan sebagai orang yang membutuhkan.

فَمَنْ أَظْهَرَ السُّؤَالَ فَهُوَ الَّذِي هَتَكَ سِتْرَ نَفْسِهِ.
Maka siapa yang menampakkan permintaannya, dialah yang telah membuka tirai dirinya sendiri.

فَلَا يُحْذَرُ هٰذَا الْمَعْنَى فِي إِظْهَارِهِ.
Dengan demikian, makna ini tidak lagi perlu dikhawatirkan ketika ia memang meminta secara terbuka.

وَهُوَ كَإِظْهَارِ الْفِسْقِ عَلَى مَنْ تَسَتَّرَ بِهِ فَإِنَّهُ مَحْظُورٌ، وَالتَّجَسُّسُ فِيهِ وَالِاعْتِيَادُ بِذِكْرِهِ مَنْهِيٌّ عَنْهُ.
Ini seperti orang yang menampakkan kefasikannya sendiri, sementara jika ia menutupinya maka mengungkapkannya menjadi terlarang, dan mengintipnya serta membicarakannya juga dilarang.

فَأَمَّا مَنْ أَظْهَرَهُ فَإِقَامَةُ الْحَدِّ عَلَيْهِ إِشَاعَةٌ، وَلٰكِنْ هُوَ السَّبَبُ فِيهَا.
Adapun orang yang menampakkannya sendiri, maka penegakan hukum atasnya memang menjadi terbuka, tetapi dialah yang menjadi sebab keterbukaan itu.

وَبِمِثْلِ هٰذَا الْمَعْنَى قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَلْقَى جِلْبَابَ الْحَيَاءِ فَلَا غِيبَةَ لَهُ.
Dengan makna yang serupa inilah Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa menanggalkan selubung malunya, maka tidak ada ghibah baginya.”

وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَأَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Dan infakkanlah sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada kalian, secara rahasia dan terang-terangan.”

فَنَدَبَ إِلَى الْعَلَانِيَةِ أَيْضًا، لِمَا فِيهَا مِنْ فَائِدَةِ التَّرْغِيبِ.
Maka Allah menganjurkan pemberian secara terang-terangan juga, karena di dalamnya ada faedah mendorong orang lain.

فَلْيَكُنِ الْعَبْدُ دَقِيقَ التَّأَمُّلِ فِي وَزْنِ هٰذِهِ الْفَائِدَةِ بِالْمَحْذُورِ الَّذِي فِيهِ.
Maka hendaknya seorang hamba cermat menimbang manfaat ini dengan bahaya yang ada padanya.

فَإِنَّ ذٰلِكَ يَخْتَلِفُ بِالْأَحْوَالِ وَالْأَشْخَاصِ.
Karena hal itu berbeda menurut keadaan dan orangnya.

فَقَدْ يَكُونُ الْإِعْلَانُ فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ لِبَعْضِ الْأَشْخَاصِ أَفْضَلَ.
Bisa jadi menampakkan sedekah pada sebagian keadaan dan bagi sebagian orang justru lebih utama.

وَمَنْ عَرَفَ الْفَوَائِدَ وَالْغَوَائِلَ، وَلَمْ يَنْظُرْ بِعَيْنِ الشَّهْوَةِ، اتَّضَحَ لَهُ الْأَوْلَى وَالْأَلْيَقُ بِكُلِّ حَالٍ.
Barang siapa memahami manfaat dan bahayanya, serta tidak memandang dengan mata hawa nafsu, maka akan jelas baginya mana yang lebih utama dan lebih layak pada setiap keadaan.

اَلْوَظِيفَةُ الْخَامِسَةُ: أَنْ لَا يُفْسِدَ صَدَقَتَهُ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى.
Tugas kelima: jangan merusak sedekah dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى.
Allah Ta‘ala berfirman: “Janganlah kalian membatalkan sedekah-sedekah kalian dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti.”

وَاخْتَلَفُوا فِي حَقِيقَةِ الْمَنِّ وَالْأَذَى.
Para ulama berbeda pendapat tentang hakikat mengungkit dan menyakiti.

فَقِيلَ: الْمَنُّ أَنْ يَذْكُرَهَا، وَالْأَذَى أَنْ يُظْهِرَهَا.
Ada yang mengatakan: mengungkit ialah menyebut-nyebut sedekah, dan menyakiti ialah menampakkannya.

وَقَالَ سُفْيَانُ: مَنْ مَنَّ فَسَدَتْ صَدَقَتُهُ.
Sufyan berkata: “Siapa yang mengungkit, rusaklah sedekahnya.”

فَقِيلَ لَهُ: كَيْفَ الْمَنُّ؟
Lalu ia ditanya: “Bagaimana bentuk mengungkit itu?”

فَقَالَ: أَنْ يَذْكُرَهُ وَيَتَحَدَّثَ بِهِ.
Ia menjawab: “Yaitu menyebutnya dan membicarakannya.”

وَقِيلَ: الْمَنُّ أَنْ يَسْتَخْدِمَهُ بِالْعَطَاءِ، وَالْأَذَى أَنْ يُعَيِّرَهُ بِالْفَقْرِ.
Ada yang mengatakan: mengungkit ialah menjadikan penerima melayaninya karena pemberian itu, dan menyakiti ialah mencelanya karena kefakiran.

وَقِيلَ: الْمَنُّ أَنْ يَتَكَبَّرَ عَلَيْهِ لِأَجْلِ عَطَائِهِ، وَالْأَذَى أَنْ يَنْتَهِرَهُ أَوْ يُوَبِّخَهُ بِالْمَسْأَلَةِ.
Dan ada yang mengatakan: mengungkit ialah bersikap sombong kepadanya karena pemberiannya, sedangkan menyakiti ialah membentaknya atau mencelanya karena meminta.

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَقْبَلُ اللهُ صَدَقَةَ مَنَّانٍ.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Allah tidak menerima sedekah dari orang yang suka mengungkit.”

وَعِنْدِي أَنَّ الْمَنَّ لَهُ أَصْلٌ وَمَغْرِسٌ، وَهُوَ مِنْ أَحْوَالِ الْقَلْبِ وَصِفَاتِهِ، ثُمَّ يَتَفَرَّعُ عَلَيْهِ أَحْوَالٌ ظَاهِرَةٌ عَلَى اللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ.
Menurutku, mengungkit itu memiliki akar dan tempat tumbuh, yaitu keadaan-keadaan hati dan sifat-sifatnya, lalu darinya bercabang keadaan-keadaan lahiriah pada lisan dan anggota badan.

فَأَصْلُهُ أَنْ يَرَى نَفْسَهُ مُحْسِنًا إِلَيْهِ وَمُنْعِمًا عَلَيْهِ.
Akar utamanya adalah seseorang melihat dirinya sebagai orang yang telah berbuat baik dan memberi nikmat kepada si fakir.

وَحَقُّهُ أَنْ يَرَى الْفَقِيرَ مُحْسِنًا إِلَيْهِ بِقَبُولِ حَقِّ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُ، الَّذِي هُوَ طُهْرَتُهُ وَنَجَاتُهُ مِنَ النَّارِ.
Padahal yang benar ialah ia melihat si fakir sebagai orang yang berbuat baik kepadanya, karena telah menerima hak Allah عز وجل darinya, yang menjadi sebab kesuciannya dan keselamatannya dari neraka.

وَأَنَّهُ لَوْ لَمْ يَقْبَلْهُ لَبَقِيَ مُرْتَهَنًا بِهِ.
Dan seandainya si fakir tidak menerimanya, niscaya ia tetap tergadai olehnya.

فَحَقُّهُ أَنْ يَتَقَلَّدَ مِنْهُ الْفَقِيرُ، إِذْ جَعَلَ كَفَّهُ نَائِبًا عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي قَبْضِ حَقِّ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Maka semestinya ia merasa berutang budi kepada si fakir, karena tangan si fakir dijadikan wakil dari Allah عز وجل dalam menerima hak-Nya.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الصَّدَقَةَ تَقَعُ بِيَدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَبْلَ أَنْ تَقَعَ فِي يَدِ السَّائِلِ.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya sedekah itu jatuh ke tangan Allah عز وجل sebelum jatuh ke tangan peminta.”

فَلْيَتَحَقَّقْ أَنَّهُ مُسَلِّمٌ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّهُ، وَالْفَقِيرُ آخِذٌ مِنَ اللهِ تَعَالَى رِزْقَهُ بَعْدَ صَيْرُورَتِهِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Maka hendaknya ia menyadari bahwa ia sedang menyerahkan hak Allah kepada-Nya, sedangkan si fakir mengambil rezekinya dari Allah Ta‘ala setelah harta itu sampai kepada-Nya.

وَلَوْ كَانَ عَلَيْهِ دَيْنٌ لِإِنْسَانٍ، فَأَحَالَ بِهِ عَبْدَهُ أَوْ خَادِمَهُ الَّذِي هُوَ مُتَكَفِّلٌ بِرِزْقِهِ، لَكَانَ اعْتِقَادُ مُؤَدِّي الدَّيْنِ كَوْنَ الْقَابِضِ تَحْتَ مِنَّتِهِ سَفَهًا وَجَهْلًا.
Seandainya seseorang memiliki utang kepada orang lain, lalu ia menyerahkannya melalui budak atau pelayannya yang menjadi tanggungannya, maka menganggap bahwa penerima utang itu berada di bawah budi dirinya jelas merupakan kebodohan dan kesia-siaan.

فَإِنَّ الْمُحْسِنَ إِلَيْهِ هُوَ الْمُتَكَفِّلُ بِرِزْقِهِ.
Karena yang benar-benar berbuat baik kepada si penerima adalah yang menjamin rezekinya.

أَمَّا هُوَ فَإِنَّمَا يَقْضِي الَّذِي لَزِمَهُ بِشِرَاءِ مَا أَحَبَّهُ، فَهُوَ سَاعٍ فِي حَقِّ نَفْسِهِ، فَلَمْ يَمُنَّ بِهِ عَلَى غَيْرِهِ.
Adapun dirinya sendiri, ia hanya menunaikan kewajiban yang ada padanya dengan membeli apa yang ia cintai. Maka ia sebenarnya sedang berbuat untuk kepentingan dirinya sendiri, bukan memberi nikmat kepada orang lain.

وَمَهْمَا عَرَفَ الْمَعَانِيَ الثَّلَاثَةَ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا فِي فَهْمِ وُجُوبِ الزَّكَاةِ، أَوْ أَحَدَهَا، لَمْ يَرَ نَفْسَهُ مُحْسِنًا إِلَّا إِلَى نَفْسِهِ.
Setiap kali seseorang memahami tiga makna yang telah kami sebutkan dalam memahami wajibnya zakat, atau setidaknya salah satunya, ia tidak akan melihat dirinya berbuat baik kecuali kepada dirinya sendiri.

إِمَّا بِبَذْلِ مَالِهِ إِظْهَارًا لِحُبِّ اللهِ تَعَالَى.
Yaitu dengan mengeluarkan hartanya sebagai bukti cintanya kepada Allah Ta‘ala.

أَوْ تَطْهِيرًا لِنَفْسِهِ عَنْ رَذِيلَةِ الْبُخْلِ.
Atau dengan menyucikan dirinya dari sifat buruk bakhil.

أَوْ شُكْرًا لِطَلَبِ الْمَزِيدِ.
Atau dengan bersyukur agar memperoleh tambahan nikmat.

وَكَيْفَمَا فُرِضَ فَلَا مُعَامَلَةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْفَقِيرِ حَتَّى يَرَى نَفْسَهُ مُحْسِنًا إِلَيْهِ.
Dalam semua bentuk itu, tidak ada alasan baginya untuk menganggap dirinya sedang berbuat jasa kepada si fakir.

وَمَهْمَا حَصَلَ هٰذَا الْجَهْلُ بِأَنْ رَأَى نَفْسَهُ مُحْسِنًا إِلَيْهِ، تَفَرَّعَ مِنْهُ عَلَى ظَاهِرِهِ مَا ذُكِرَ فِي مَعْنَى الْمَنِّ.
Jika kebodohan ini muncul dengan cara ia melihat dirinya sebagai orang yang berjasa kepada si fakir, maka akan lahir darinya pada sisi lahiriah hal-hal yang disebut sebagai mengungkit.

وَهُوَ التَّحَدُّثُ بِهِ وَإِظْهَارُهُ، وَطَلَبُ الْمُكَافَأَةِ مِنْهُ بِالشُّكْرِ وَالدُّعَاءِ وَالْخِدْمَةِ وَالتَّوْقِيرِ وَالتَّعْظِيمِ وَالْقِيَامِ بِالْحُقُوقِ وَالتَّقْدِيمِ فِي الْمَجَالِسِ وَالْمُتَابَعَةِ فِي الْأُمُورِ.
Itu berupa membicarakannya, menampakkannya, menuntut balasan berupa terima kasih, doa, pelayanan, penghormatan, pengagungan, pemenuhan hak-hak, didahulukan dalam majelis, dan diikuti dalam berbagai urusan.

فَهٰذِهِ كُلُّهَا ثَمَرَاتُ الْمِنَّةِ.
Semua itu adalah buah dari sikap mengungkit.

وَمَعْنَى الْمِنَّةِ فِي الْبَاطِنِ مَا ذَكَرْنَاهُ.
Sedangkan hakikat mengungkit dalam batin adalah seperti yang telah kami jelaskan.

وَأَمَّا الْأَذَى فَظَاهِرُهُ التَّوْبِيخُ وَالتَّعْيِيرُ وَتَخْشِينُ الْكَلَامِ وَتَقْطِيبُ الْوَجْهِ وَهَتْكُ السِّتْرِ بِالْإِظْهَارِ وَفُنُونُ الِاسْتِخْفَافِ.
Adapun menyakiti, maka bentuk lahiriahnya adalah mencela, menghinakan, memperkasar ucapan, memasang wajah masam, membuka tirai kehormatan dengan menampakkan kefakirannya, dan berbagai macam sikap meremehkan.

وَبَاطِنُهُ وَهُوَ مَنْبَعُهُ أَمْرَانِ.
Sedangkan sisi batinnya, yang menjadi sumbernya, ada dua perkara.

أَحَدُهُمَا كَرَاهِيَتُهُ لِرَفْعِ الْيَدِ عَنِ الْمَالِ وَشِدَّةُ ذٰلِكَ عَلَى نَفْسِهِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ يُضَيِّقُ الْخُلُقَ لَا مَحَالَةَ.
Yang pertama, rasa bencinya karena harus mengangkat tangannya dari harta dan beratnya hal itu bagi dirinya. Sebab keadaan seperti ini pasti menyempitkan akhlak.

وَالثَّانِي رُؤْيَتُهُ أَنَّهُ خَيْرٌ مِنَ الْفَقِيرِ، وَأَنَّ الْفَقِيرَ لِسَبَبِ حَاجَتِهِ أَخَسُّ مِنْهُ.
Yang kedua, pandangannya bahwa dirinya lebih baik daripada si fakir, dan bahwa si fakir karena kebutuhannya lebih hina darinya.

وَكِلَاهُمَا مَنْشَؤُهُ الْجَهْلُ.
Keduanya bersumber dari kebodohan.

أَمَّا كَرَاهِيَةُ تَسْلِيمِ الْمَالِ فَهُوَ حُمْقٌ، لِأَنَّ مَنْ كَرِهَ بَذْلَ دِرْهَمٍ فِي مُقَابِلَةِ مَا يُسَاوِي أَلْفًا فَهُوَ شَدِيدُ الْحُمْقِ.
Adapun kebencian untuk menyerahkan harta, maka itu adalah kebodohan yang nyata, karena siapa yang tidak suka memberikan satu dirham demi sesuatu yang nilainya seribu, maka ia sangat bodoh.

وَمَعْلُومٌ أَنَّهُ يَبْذُلُ الْمَالَ لِطَلَبِ رِضَا اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالثَّوَابِ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، وَذٰلِكَ أَشْرَفُ مِمَّا بَذَلَهُ.
Sudah diketahui bahwa ia mengeluarkan harta untuk mencari rida Allah عز وجل dan pahala di negeri akhirat, dan itu jauh lebih mulia daripada apa yang ia keluarkan.

أَوْ يَبْذُلُهُ لِتَطْهِيرِ نَفْسِهِ عَنْ رَذِيلَةِ الْبُخْلِ، أَوْ شُكْرًا لِطَلَبِ الْمَزِيدِ، وَكَيْفَمَا فُرِضَ فَالْكَرَاهِيَةُ لَا وَجْهَ لَهَا.
Atau ia mengeluarkannya untuk menyucikan dirinya dari keburukan bakhil, atau sebagai syukur demi meminta tambahan nikmat. Dalam semua itu, tidak ada alasan untuk membencinya.

وَأَمَّا الثَّانِي فَهُوَ أَيْضًا جَهْلٌ.
Adapun yang kedua, itu juga kebodohan.

لِأَنَّهُ لَوْ عَرَفَ فَضْلَ الْفَقْرِ عَلَى الْغِنَى، وَعَرَفَ خَطَرَ الْأَغْنِيَاءِ، لَمَا اسْتَحْقَرَ الْفَقِيرَ، بَلْ تَبَرَّكَ بِهِ وَتَمَنَّى دَرَجَتَهُ.
Karena seandainya ia mengetahui keutamaan faqir di atas kaya dan mengetahui bahaya orang-orang kaya, tentu ia tidak akan meremehkan si fakir. Bahkan ia akan mencari berkah darinya dan berharap memiliki derajat seperti dirinya.

فَصُلَحَاءُ الْأَغْنِيَاءِ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بَعْدَ الْفُقَرَاءِ بِخَمْسِمِائَةِ عَامٍ.
Orang-orang kaya yang saleh masuk surga lima ratus tahun setelah orang-orang fakir.

وَلِذٰلِكَ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هُمُ الْأَخْسَرُونَ، وَرَبِّ الْكَعْبَةِ.
Karena itu Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang paling rugi, demi Tuhan Ka‘bah.”

فَقَالَ أَبُو ذَرٍّ: مَنْ هُمْ؟
Abu Dzarr bertanya: “Siapa mereka?”

قَالَ: هُمُ الْأَكْثَرُونَ أَمْوَالًا... الْحَدِيثَ.
Beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang paling banyak hartanya...” sampai akhir hadis.

ثُمَّ كَيْفَ يَسْتَحْقِرُ الْفَقِيرَ وَقَدْ جَعَلَهُ اللهُ تَعَالَى مَتْجَرًا لَهُ؟
Lalu bagaimana mungkin ia meremehkan si fakir, padahal Allah Ta‘ala telah menjadikan si fakir sebagai ladang perniagaan baginya?

إِذْ يَكْتَسِبُ الْمَالَ بِجُهْدِكَ وَيَسْتَكْثِرُ مِنْهُ وَيَجْتَهِدُ فِي حِفْظِهِ بِمِقْدَارِ الْحَاجَةِ.
Sebab melalui si fakirlah engkau memperoleh pahala dari hartamu, dan engkau berusaha mengumpulkannya serta menjaganya sebatas kebutuhan.

وَقَدْ أُلْزِمَ أَنْ يُسَلِّمَ إِلَى الْفَقِيرِ قَدْرَ حَاجَتِهِ، وَيَكُفَّ عَنْهُ الْفَاضِلَ الَّذِي يَضُرُّهُ لَوْ سُلِّمَ إِلَيْهِ.
Dan ia diwajibkan menyerahkan kepada si fakir kadar yang cukup bagi kebutuhannya, sementara kelebihan yang dapat membahayakannya bila diberikan sekaligus ditahan darinya.

فَالْغَنِيُّ مُسْتَخْدَمٌ لِلسَّعْيِ فِي رِزْقِ الْفَقِيرِ، وَيَتَمَيَّزُ عَلَيْهِ بِتَقَلُّدِ الْمَظَالِمِ وَالْتِزَامِ الْمَشَاقِّ وَحِرَاسَةِ الْفُضَلَاتِ، إِلَى أَنْ يَمُوتَ فَيَأْكُلَهَا أَعْدَاؤُهُ.
Maka orang kaya itu seperti dipakai untuk berusaha demi rezeki si fakir, sementara dirinya sendiri terbebani tanggungan, kesukaran, dan menjaga harta berlebih itu sampai mati, lalu akhirnya dinikmati oleh musuh-musuhnya.

فَإِنَّهُ مَهْمَا انْتَقَلَتِ الْكَرَاهِيَةُ وَتَبَدَّلَتْ بِالسُّرُورِ وَالْفَرَحِ بِتَوْفِيقِ اللهِ تَعَالَى لَهُ لِأَدَاءِ الْوَاجِبِ، وَتَفْضِيلِ الْفَقِيرِ حَتَّى يُخَلِّصَهُ عَنْ عُهْدَتِهِ بِقَبُولِهِ مِنْهُ، انْتَفَى الْأَذَى وَالتَّوْبِيخُ وَتَقْطِيبُ الْوَجْهِ، وَتَبَدَّلَ بِالِاسْتِبْشَارِ وَالثَّنَاءِ وَقَبُولِ الْمِنَّةِ.
Maka jika rasa benci itu berubah menjadi kegembiraan dan sukacita karena taufik Allah Ta‘ala kepadanya untuk menunaikan kewajiban, dan karena si fakir membantunya dengan menerima zakat itu sehingga ia bebas dari tanggungannya, maka hilanglah menyakiti, mencela, dan wajah masam, lalu tergantikan dengan kegembiraan, pujian, dan penerimaan atas jasa si fakir.

فَهٰذَا مَنْشَأُ الْمَنِّ وَالْأَذَى.
Inilah asal munculnya mengungkit dan menyakiti.

فَإِنْ قُلْتَ: فَرُؤْيَتُهُ نَفْسَهُ فِي دَرَجَةِ الْمُحْسِنِ أَمْرٌ غَامِضٌ، فَهَلْ مِنْ عَلَامَةٍ يُمْتَحَنُ بِهَا قَلْبُهُ فَيَعْرِفُ بِهَا أَنَّهُ لَمْ يَرَ نَفْسَهُ مُحْسِنًا؟
Jika engkau bertanya: melihat dirinya pada derajat orang yang berbuat baik itu perkara yang samar, apakah ada tanda yang dapat dipakai untuk menguji hatinya sehingga ia tahu bahwa dirinya tidak memandang dirinya sebagai orang yang berjasa?

فَاعْلَمْ أَنَّ لَهُ عَلَامَةً دَقِيقَةً وَاضِحَةً.
Maka ketahuilah bahwa ada tanda yang halus tetapi jelas.

وَهِيَ أَنْ يُقَدِّرَ أَنَّ الْفَقِيرَ لَوْ جَنَى عَلَيْهِ جِنَايَةً أَوْ مَالَ عَدُوٌّ لَهُ عَلَيْهِ مَثَلًا، هَلْ كَانَ يَزِيدُ فِي اسْتِنْكَارِهِ وَاسْتِبْعَادِهِ لَهُ عَلَى اسْتِنْكَارِهِ قَبْلَ التَّصَدُّقِ؟
Yaitu hendaknya ia membayangkan: seandainya si fakir berbuat salah kepadanya, atau condong kepada musuhnya misalnya, apakah penolakan dan rasa anehnya terhadap perbuatan itu bertambah dibanding sebelum ia bersedekah kepadanya?

فَإِنْ زَادَ لَمْ تَخْلُ صَدَقَتُهُ عَنْ شَائِبَةِ الْمِنَّةِ، لِأَنَّهُ تَوَقَّعَ بِسَبَبِهَا مَا لَمْ يَكُنْ يَتَوَقَّعُهُ قَبْلَ ذٰلِكَ.
Jika ya, maka sedekahnya belum bersih dari campuran mengungkit, karena ia mengharapkan darinya sesuatu yang sebelumnya tidak ia harapkan.

فَإِنْ قُلْتَ: فَهٰذَا أَمْرٌ غَامِضٌ، وَلَا يَنْفَكُّ قَلْبُ أَحَدٍ عَنْهُ، فَمَا دَوَاؤُهُ؟
Jika engkau bertanya: hal ini sangat halus, dan hampir tidak ada hati yang bebas darinya, lalu apa obatnya?

فَاعْلَمْ أَنَّ لَهُ دَوَاءً بَاطِنًا وَدَوَاءً ظَاهِرًا.
Ketahuilah bahwa ia memiliki obat batin dan obat lahir.

أَمَّا الْبَاطِنُ فَالْمَعْرِفَةُ بِالْحَقَائِقِ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا فِي فَهْمِ الْوُجُوبِ، وَأَنَّ الْفَقِيرَ هُوَ الْمُحْسِنُ إِلَيْهِ فِي تَطْهِيرِهِ بِالْقَبُولِ.
Adapun yang batin ialah pengetahuan tentang hakikat-hakikat yang telah kami sebutkan dalam memahami kewajiban zakat, dan bahwa si fakir sebenarnya adalah orang yang berbuat baik kepadanya karena telah membersihkannya dengan menerima zakat itu.

وَأَمَّا الظَّاهِرُ فَالْأَعْمَالُ الَّتِي يَتَعَاطَاهَا مُتَقَلِّدُ الْمِنَّةِ.
Adapun yang lahir ialah amalan-amalan yang dilakukan oleh orang yang sadar bahwa ia sedang membawa beban “berutang budi” kepada si fakir.

فَإِنَّ الْأَفْعَالَ الَّتِي تَصْدُرُ عَنِ الْأَخْلَاقِ تَصْبُغُ الْقَلْبَ بِالْأَخْلَاقِ، كَمَا سَيَأْتِي أَسْرَارُهُ فِي الشَّطْرِ الْأَخِيرِ مِنَ الْكِتَابِ.
Sebab perbuatan yang lahir dari akhlak akan mewarnai hati dengan akhlak itu sendiri, sebagaimana nanti akan dijelaskan rahasianya pada bagian akhir kitab.

وَلِهٰذَا كَانَ بَعْضُهُمْ يَضَعُ الصَّدَقَةَ بَيْنَ يَدَيِ الْفَقِيرِ، وَيَتَمَثَّلُ قَائِمًا بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَسْأَلَهُ قَبُولَهَا.
Karena itu sebagian orang saleh meletakkan sedekah di hadapan si fakir, lalu berdiri seperti orang yang memohon kepada si fakir agar ia berkenan menerimanya.

حَتَّى يَكُونَ هُوَ فِي صُورَةِ السَّائِلِينَ.
Sampai ia tampak seperti orang yang meminta.

وَهُوَ يَسْتَشْعِرُ مَعَ ذٰلِكَ كَرَاهِيَةً لَوْ رَدَّهُ.
Sambil merasakan dalam dirinya kecemasan kalau si fakir menolaknya.

وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَبْسُطُ كَفَّهُ لِيَأْخُذَ الْفَقِيرُ مِنْ كَفِّهِ، وَتَكُونُ يَدُ الْفَقِيرِ هِيَ الْعُلْيَا.
Sebagian mereka membentangkan telapak tangannya agar si fakir mengambil dari telapak itu, sehingga tangan si fakir tampak sebagai tangan yang di atas.

وَكَانَتْ عَائِشَةُ وَأُمُّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا إِذَا أَرْسَلَتَا مَعْرُوفًا إِلَى فَقِيرٍ قَالَتَا لِلرَّسُولِ: احْفَظْ مَا يَدْعُو بِهِ.
Aisyah dan Ummu Salamah رضي الله عنهما jika mengirimkan kebaikan kepada seorang fakir, keduanya berkata kepada utusan: “Hafalkan apa doa yang ia ucapkan.”

ثُمَّ كَانَتَا تَرُدَّانِ عَلَيْهِ مِثْلَ قَوْلِهِ، وَتَقُولَانِ: هٰذَا بِذٰلِكَ، حَتَّى تَخْلُصَ لَنَا صَدَقَتُنَا.
Kemudian keduanya membalas kepadanya dengan doa yang sama, seraya berkata: “Ini sebagai balasan atas itu,” agar sedekah kami murni bagi kami.

فَكَانُوا لَا يَتَوَقَّعُونَ الدُّعَاءَ لِأَنَّهُ شِبْهُ الْمُكَافَأَةِ، وَكَانُوا يُقَابِلُونَ الدُّعَاءَ بِمِثْلِهِ.
Mereka tidak mengharapkan doa dari si fakir, karena doa itu mirip balasan, dan mereka membalas doa itu dengan yang semisalnya.

وَهٰكَذَا فَعَلَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَابْنُهُ عَبْدُ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا.
Demikian pula yang dilakukan oleh Umar bin al-Khattab dan putranya Abdullah رضي الله عنهما.

وَهٰكَذَا كَانَ أَرْبَابُ الْقُلُوبِ يُدَاوُونَ قُلُوبَهُمْ.
Dengan cara seperti itulah para pemilik hati yang hidup mengobati hati mereka.

وَلَا دَوَاءَ مِنْ حَيْثُ الظَّاهِرِ إِلَّا هٰذِهِ الْأَعْمَالُ الدَّالَّةُ عَلَى التَّذَلُّلِ وَالتَّوَاضُعِ وَقَبُولِ الْمِنَّةِ.
Tidak ada obat dari sisi lahiriah selain perbuatan-perbuatan yang menunjukkan kerendahan diri, tawaduk, dan penerimaan bahwa si fakir telah berjasa kepadanya.

وَمِنْ حَيْثُ الْبَاطِنِ الْمَعَارِفُ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا.
Dan dari sisi batin, obatnya adalah pengetahuan-pengetahuan yang telah kami sebutkan.

هٰذَا مِنْ حَيْثُ الْعَمَلِ، وَذٰلِكَ مِنْ حَيْثُ الْعِلْمِ.
Yang ini dari sisi amal, dan yang itu dari sisi ilmu.

وَلَا يُعَالَجُ الْقَلْبُ إِلَّا بِمَعْجُونِ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ.
Hati tidak bisa diobati kecuali dengan racikan ilmu dan amal.

وَهٰذِهِ الشَّرِيطَةُ مِنَ الزَّكَواتِ تَجْرِي مَجْرَى الْخُشُوعِ مِنَ الصَّلَاةِ.
Syarat ini dalam zakat posisinya seperti khusyuk dalam salat.

وَثَبَتَ ذٰلِكَ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ لِلْمَرْءِ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا مَا عَقَلَ مِنْهَا.
Hal itu ditegaskan oleh sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Tidak ada bagian bagi seseorang dari salatnya kecuali sejauh yang ia pahami darinya.”

وَهٰذَا كَقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَتَقَبَّلُ اللهُ صَدَقَةَ مَنَّانٍ.
Ini seperti sabda beliau صلى الله عليه وسلم: “Allah tidak menerima sedekah orang yang suka mengungkit.”

وَكَقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى.
Dan seperti firman Allah عز وجل: “Janganlah kalian membatalkan sedekah-sedekah kalian dengan mengungkit dan menyakiti.”

وَأَمَّا فَتْوَى الْفَقِيهِ بِوُقُوعِهَا مَوْقِعَهَا وَبَرَاءَةِ ذِمَّتِهِ عَنْهَا دُونَ هٰذَا الشَّرْطِ، فَحَدِيثٌ آخَرُ.
Adapun fatwa seorang fakih bahwa zakat itu sah dan tanggungannya gugur meskipun tanpa syarat batin ini, maka itu adalah pembahasan lain.

وَقَدْ أَشَرْنَا إِلَى مَعْنَاهُ فِي كِتَابِ الصَّلَاةِ.
Kami telah mengisyaratkan maknanya dalam Kitab Salat.

اَلْوَظِيفَةُ السَّادِسَةُ: أَنْ يَسْتَصْغِرَ الْعَطِيَّةَ.
Tugas keenam: hendaknya ia menganggap kecil pemberiannya.

فَإِنَّهُ إِنِ اسْتَعْظَمَهَا أُعْجِبَ بِهَا، وَالْعُجْبُ مِنَ الْمُهْلِكَاتِ، وَهُوَ مُحْبِطٌ لِلْأَعْمَالِ.
Sebab jika ia menganggapnya besar, ia akan kagum terhadapnya, dan ujub termasuk perkara yang membinasakan serta merusak amal.

قَالَ تَعَالَى: وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا.
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan pada hari Hunain, ketika banyaknya jumlah kalian membuat kalian kagum, maka hal itu tidak berguna sedikit pun bagi kalian.”

وَيُقَالُ: إِنَّ الطَّاعَةَ كُلَّمَا اسْتُصْغِرَتْ عَظُمَتْ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Dan dikatakan: “Semakin suatu ketaatan dianggap kecil oleh pelakunya, semakin besar nilainya di sisi Allah عز وجل.”

وَالْمَعْصِيَةُ كُلَّمَا اسْتُعْظِمَتْ صَغُرَتْ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Dan semakin suatu maksiat dianggap besar oleh pelakunya, maka ia menjadi kecil di sisi Allah عز وجل, yakni lebih dekat kepada ampunan-Nya.

وَقِيلَ: لَا يَتِمُّ الْمَعْرُوفُ إِلَّا بِثَلَاثَةِ أُمُورٍ: تَصْغِيرِهِ وَتَعْجِيلِهِ وَسَتْرِهِ.
Dan dikatakan: “Kebaikan tidak sempurna kecuali dengan tiga hal: menganggapnya kecil, menyegerakannya, dan menyembunyikannya.”

وَلَيْسَ الِاسْتِعْظَامُ هُوَ الْمَنَّ وَالْأَذَى.
Menganggap besar pemberian tidak sama dengan mengungkit dan menyakiti.

فَإِنَّهُ لَوْ صَرَفَ مَالَهُ إِلَى عِمَارَةِ مَسْجِدٍ أَوْ رِبَاطٍ أَمْكَنَ فِيهِ الِاسْتِعْظَامُ، وَلَا يُمْكِنُ فِيهِ الْمَنُّ وَالْأَذَى.
Sebab jika seseorang mengeluarkan hartanya untuk membangun masjid atau ribath, bisa saja ia merasa besar terhadap pemberiannya, padahal di situ tidak ada unsur mengungkit dan menyakiti penerima.

بَلِ الْعُجْبُ وَالِاسْتِعْظَامُ يَجْرِيَانِ فِي جَمِيعِ الْعِبَادَاتِ.
Bahkan ujub dan merasa besar itu dapat terjadi dalam seluruh ibadah.

وَدَوَاؤُهُ عِلْمٌ وَعَمَلٌ.
Obatnya adalah ilmu dan amal.

أَمَّا الْعِلْمُ فَهُوَ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ الْعُشْرَ أَوْ رُبُعَ الْعُشْرِ قَلِيلٌ مِنْ كَثِيرٍ.
Adapun ilmunya ialah ia mengetahui bahwa sepersepuluh atau seperempat dari sepersepuluh itu sedikit dari yang banyak.

وَأَنَّهُ قَدْ قَنِعَ لِنَفْسِهِ بِأَخَسِّ دَرَجَاتِ الْبَذْلِ كَمَا ذَكَرْنَا فِي فَهْمِ الْوُجُوبِ، فَهُوَ جَدِيرٌ بِأَنْ يَسْتَحْيِيَ مِنْهُ، فَكَيْفَ يَسْتَعْظِمُهُ؟
Dan bahwa ia telah rela untuk dirinya pada tingkatan pemberian yang paling rendah sebagaimana telah kami sebutkan dalam memahami kewajiban. Maka seharusnya ia malu terhadap itu, lalu bagaimana mungkin ia justru menganggapnya besar?

وَإِنِ ارْتَقَى إِلَى الدَّرَجَةِ الْعُلْيَا فَبَذَلَ كُلَّ مَالِهِ أَوْ أَكْثَرَهُ، فَلْيَتَأَمَّلْ أَنَّهُ مِنْ أَيْنَ لَهُ الْمَالُ وَإِلَى مَاذَا يَصْرِفُهُ.
Jika ia naik ke derajat tertinggi lalu mengeluarkan seluruh hartanya atau sebagian besarnya, hendaknya ia merenung: dari mana harta itu datang dan untuk apa ia membelanjakannya.

فَالْمَالُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Harta itu milik Allah عز وجل.

وَلَهُ الْمِنَّةُ عَلَيْهِ إِذْ أَعْطَاهُ وَوَفَّقَهُ لِبَذْلِهِ.
Dan Allahlah yang berjasa kepadanya karena telah memberikannya dan memberinya taufik untuk mengeluarkannya.

فَلَا يَسْتَعْظِمْ فِي حَقِّ اللهِ تَعَالَى مَا هُوَ عَيْنُ حَقِّ اللهِ سُبْحَانَهُ.
Maka janganlah ia menganggap besar pada hak Allah Ta‘ala sesuatu yang pada dasarnya memang merupakan hak Allah سبحانه.

وَإِنْ كَانَ مَقَامُهُ يَقْتَضِي أَنْ يَنْظُرَ إِلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّهُ يَبْذُلُهُ لِلثَّوَابِ، فَلَيْسَ بِعَاقِلٍ مَنْ يَبْذُلُ مَا يَنْتَظِرُ عَلَيْهِ أَضْعَافَهُ ثُمَّ يَسْتَعْظِمُهُ.
Dan jika keadaannya menuntut ia memandang kepada akhirat serta bahwa ia mengeluarkannya demi pahala, maka tidaklah berakal orang yang mengeluarkan sesuatu yang ia harapkan akan dibalas berlipat ganda, lalu masih menganggapnya besar.

وَأَمَّا الْعَمَلُ فَهُوَ أَنْ يُعْطِيَهُ عَطَاءَ الْخَجَلِ مِنْ بُخْلِهِ بِإِمْسَاكِ بَقِيَّةِ مَالِهِ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Adapun amalan lahiriahnya, maka hendaknya ia memberikannya seperti orang yang malu atas kebakhilannya karena masih menahan sisa hartanya dari Allah عز وجل.

فَتَكُونُ هَيْئَتُهُ الِانْكِسَارَ وَالْحَيَاءَ، كَهَيْئَةِ مَنْ يُطَالَبُ بِرَدِّ وَدِيعَةٍ فَيُمْسِكُ بَعْضَهَا وَيَرُدُّ الْبَعْضَ.
Maka keadaannya adalah rendah hati dan malu, seperti keadaan orang yang ditagih untuk mengembalikan titipan, tetapi ia menahan sebagiannya dan hanya mengembalikan sebagian yang lain.

لِأَنَّ الْمَالَ كُلَّهُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Karena seluruh harta itu milik Allah عز وجل.

وَبَذْلُ جَمِيعِهِ هُوَ الْأَحَبُّ عِنْدَ اللهِ سُبْحَانَهُ.
Mengeluarkan semuanya adalah yang paling dicintai di sisi Allah سبحانه.

وَإِنَّمَا لَمْ يَأْمُرْ بِهِ عَبْدَهُ لِأَنَّهُ يَشُقُّ عَلَيْهِ بِسَبَبِ بُخْلِهِ، كَمَا قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَيُحْفِكُمْ تَبْخَلُوا.
Hanya saja Allah tidak memerintahkan itu kepada hamba-Nya karena hal itu berat baginya disebabkan kebakhilannya, sebagaimana Allah عز وجل berfirman: “Lalu Dia mendesak kalian, maka kalian akan bakhil.”

اَلْوَظِيفَةُ السَّابِعَةُ: أَنْ يَنْتَقِيَ مِنْ مَالِهِ أَجْوَدَهُ وَأَحَبَّهُ إِلَيْهِ وَأَجَلَّهُ وَأَطْيَبَهُ.
Tugas ketujuh: hendaknya ia memilih dari hartanya yang paling baik, paling dicintainya, paling mulia, dan paling bersih.

فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا.
Karena Allah Ta‘ala Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.

وَإِذَا كَانَ الْمُخْرَجُ مِنْ شُبْهَةٍ فَرُبَّمَا لَا يَكُونُ مِلْكًا لَهُ مُطْلَقًا، فَلَا يَقَعُ الْمَوْقِعَ.
Jika yang dikeluarkan berasal dari sesuatu yang syubhat, bisa jadi ia sebenarnya bukan miliknya secara penuh, sehingga zakat itu tidak jatuh pada tempatnya.

وَفِي حَدِيثِ أَبَانَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: طُوبَى لِعَبْدٍ أَنْفَقَ مِنْ مَالٍ اكْتَسَبَهُ مِنْ غَيْرِ مَعْصِيَةٍ.
Dalam hadis Aban dari Anas bin Malik disebutkan: “Berbahagialah seorang hamba yang menginfakkan harta yang diperolehnya tanpa maksiat.”

وَإِذَا لَمْ يَكُنِ الْمُخْرَجُ مِنْ جَيِّدِ الْمَالِ فَهُوَ مِنْ سُوءِ الْأَدَبِ.
Jika yang dikeluarkan bukan dari harta yang baik, maka itu termasuk buruknya adab.

إِذْ قَدْ يُمْسِكُ الْجَيِّدَ لِنَفْسِهِ أَوْ لِعَبْدِهِ أَوْ لِأَهْلِهِ، فَيَكُونُ قَدْ آثَرَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ غَيْرَهُ.
Sebab mungkin ia menahan yang baik untuk dirinya, budaknya, atau keluarganya, sehingga berarti ia telah lebih mengutamakan selain Allah عز وجل daripada Allah.

وَلَوْ فَعَلَ هٰذَا بِضَيْفِهِ، وَقَدَّمَ إِلَيْهِ أَرْدَأَ طَعَامٍ فِي بَيْتِهِ، لَأُوغِرَ بِذٰلِكَ صَدْرُهُ.
Seandainya ia melakukan hal seperti itu terhadap tamunya dan menyuguhkan kepadanya makanan terburuk yang ada di rumahnya, niscaya hal itu akan menyesakkan dadanya sendiri.

هٰذَا إِنْ كَانَ نَظَرُهُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Ini jika pandangannya tertuju kepada Allah عز وجل.

وَإِنْ كَانَ نَظَرُهُ إِلَى نَفْسِهِ وَثَوَابِهِ فِي الْآخِرَةِ، فَلَيْسَ بِعَاقِلٍ مَنْ يُؤْثِرُ غَيْرَهُ عَلَى نَفْسِهِ.
Dan jika pandangannya tertuju kepada dirinya sendiri serta pahalanya di akhirat, maka tidak berakal orang yang mengutamakan selain dirinya atas dirinya sendiri.

وَلَيْسَ لَهُ مِنْ مَالِهِ إِلَّا مَا تَصَدَّقَ بِهِ فَأَبْقَى، أَوْ أَكَلَ فَأَفْنَى.
Sebab tidak ada yang benar-benar menjadi miliknya dari hartanya kecuali apa yang ia sedekahkan lalu ia simpan untuk akhirat, atau yang ia makan lalu ia habiskan.

وَالَّذِي يَأْكُلُهُ قَضَاءُ وَطَرٍ فِي الْحَالِ.
Sedangkan apa yang ia makan hanya memenuhi keinginan sesaat.

فَلَيْسَ مِنَ الْعَقْلِ قَصْرُ النَّظَرِ عَلَى الْعَاجِلَةِ وَتَرْكُ الِادِّخَارِ.
Maka tidak termasuk akal yang sehat jika seseorang membatasi pandangannya hanya pada yang segera dan meninggalkan simpanan untuk akhirat.

وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ، وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah dari yang baik-baik dari apa yang kalian usahakan dan dari apa yang Kami keluarkan untuk kalian dari bumi, dan janganlah kalian sengaja memilih yang buruk darinya untuk kalian infakkan.”

وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ.
“Padahal kalian sendiri tidak mau mengambilnya kecuali dengan memicingkan mata terhadapnya.”

أَيْ لَا تَأْخُذُوهُ إِلَّا مَعَ كَرَاهِيَةٍ وَحَيَاءٍ.
Artinya, kalian tidak akan mengambilnya kecuali dengan rasa enggan dan malu.

وَهُوَ مَعْنَى الْإِغْمَاضِ، فَلَا تُؤْثِرُوا بِهِ رَبَّكُمْ.
Dan itulah makna “ighmāḍ”, maka janganlah kalian mengutamakan untuk Tuhan kalian sesuatu yang buruk itu.

وَفِي الْخَبَرِ: سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ.
Dalam hadis disebutkan: “Satu dirham mengalahkan seratus ribu dirham.”

وَذٰلِكَ بِأَنْ يُخْرِجَهُ الْإِنْسَانُ وَهُوَ مِنْ أَحَلِّ مَالِهِ وَأَجْوَدِهِ.
Hal itu karena seseorang mengeluarkannya dari hartanya yang paling halal dan paling baik.

فَيَصْدُرَ ذٰلِكَ عَنِ الرِّضَا وَالْفَرَحِ بِالْبَذْلِ.
Dan pemberian itu lahir dari kerelaan serta kegembiraan dalam mengeluarkan harta.

وَقَدْ يُخْرِجُ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ مِمَّا يَكْرَهُ مِنْ مَالِهِ.
Bisa jadi seseorang mengeluarkan seratus ribu dirham dari harta yang ia benci untuk dikeluarkan.

فَيَدُلُّ ذٰلِكَ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ يُؤْثِرُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِشَيْءٍ مِمَّا يُحِبُّهُ.
Hal itu menunjukkan bahwa ia belum mengutamakan Allah عز وجل dengan sesuatu yang benar-benar ia cintai.

وَبِذٰلِكَ ذَمَّ اللهُ تَعَالَى قَوْمًا جَعَلُوا لِلَّهِ مَا يَكْرَهُونَ.
Karena itu Allah Ta‘ala mencela suatu kaum yang menjadikan bagi Allah apa yang mereka sendiri benci.

فَقَالَ تَعَالَى: وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ مَا يَكْرَهُونَ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan mereka menjadikan bagi Allah apa yang mereka benci.”

وَتَصِفُ أَلْسِنَتُهُمُ الْكَذِبَ أَنَّ لَهُمُ الْحُسْنَى.
“Dan lisan mereka mengucapkan kebohongan bahwa mereka akan mendapat yang terbaik.”

ثُمَّ قِيلَ فِي وَقْفِ بَعْضِ الْقُرَّاءِ عَلَى النَّفْيِ تَكْذِيبًا لَهُمْ، ثُمَّ ابْتَدَأَ فَقَالَ: جَرَمَ أَنَّ لَهُمُ النَّارَ.
Kemudian dikatakan bahwa sebagian qari berhenti pada bagian penafian ayat itu sebagai bentuk pendustaan terhadap mereka, lalu melanjutkan dengan firman-Nya: “Pasti bagi mereka neraka.”

أَيْ كَسَبَ لَهُمْ جَعْلُهُمْ لِلَّهِ مَا يَكْرَهُونَ النَّارَ.
Maksudnya, tindakan mereka menjadikan bagi Allah sesuatu yang mereka benci telah menghasilkan bagi mereka neraka.

اَلْوَظِيفَةُ الثَّامِنَةُ: أَنْ يَطْلُبَ لِصَدَقَتِهِ مَنْ تَزْكُو بِهِ الصَّدَقَةُ.
Tugas kedelapan: hendaknya ia mencari penerima sedekah yang dengan dirinya sedekah itu menjadi lebih suci dan lebih bernilai.

وَلَا يَكْتَفِي بِأَنْ يَكُونَ مِنْ عُمُومِ الْأَصْنَافِ الثَّمَانِيَةِ.
Ia tidak cukup hanya memastikan bahwa penerima itu termasuk salah satu dari delapan golongan secara umum.

فَإِنَّ فِي عُمُومِهِمْ خُصُوصَ صِفَاتٍ، فَلْيُرَاعِ خُصُوصَ تِلْكَ الصِّفَاتِ.
Karena dalam keumuman golongan-golongan itu terdapat sifat-sifat khusus, maka hendaknya ia memperhatikan sifat-sifat khusus tersebut.

وَهِيَ سِتٌّ.
Dan sifat-sifat itu ada enam.

اَلصِّفَةُ الْأُولَى: أَنْ يَطْلُبَ الْأَتْقِيَاءَ الْمُعْرِضِينَ عَنِ الدُّنْيَا، الْمُتَجَرِّدِينَ لِتِجَارَةِ الْآخِرَةِ.
Sifat pertama: hendaknya ia mencari orang-orang bertakwa yang berpaling dari dunia dan mengkhususkan diri untuk perniagaan akhirat.

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَأْكُلْ إِلَّا طَعَامَ تَقِيٍّ، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Janganlah engkau makan kecuali makanan orang yang bertakwa, dan janganlah makananmu dimakan kecuali oleh orang yang bertakwa.”

وَهٰذَا لِأَنَّ التَّقِيَّ يَسْتَعِينُ بِهِ عَلَى التَّقْوَى، فَتَكُونُ شَرِيكًا فِي طَاعَتِهِ بِإِعَانَتِكَ إِيَّاهُ.
Hal itu karena orang bertakwa akan menggunakan pemberian itu untuk bertakwa, sehingga engkau menjadi sekutunya dalam ketaatan dengan bantuanmu kepadanya.

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَطْعِمُوا طَعَامَكُمُ الْأَتْقِيَاءَ، وَأَوْلُوا مَعْرُوفَكُمُ الْمُؤْمِنِينَ.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Berikanlah makanan kalian kepada orang-orang bertakwa, dan arahkanlah kebaikan kalian kepada orang-orang beriman.”

وَفِي لَفْظٍ آخَرَ: أَضِفْ بِطَعَامِكَ مَنْ تُحِبُّ فِي اللهِ تَعَالَى.
Dalam lafaz lain: “Jamulah dengan makananmu orang yang engkau cintai karena Allah Ta‘ala.”

وَكَانَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ يُؤْثِرُ بِالطَّعَامِ فُقَرَاءَ الصُّوفِيَّةِ دُونَ غَيْرِهِمْ.
Sebagian ulama dahulu lebih mengutamakan memberi makan para fakir dari kalangan sufi daripada selain mereka.

فَقِيلَ لَهُ: لَوْ عَمَّمْتَ بِمَعْرُوفِكَ جَمِيعَ الْفُقَرَاءِ لَكَانَ أَفْضَلَ.
Lalu dikatakan kepadanya: “Seandainya engkau meratakan kebaikanmu kepada seluruh fakir, tentu itu lebih utama.”

فَقَالَ: لَا، هٰؤُلَاءِ قَوْمٌ هِمَّتُهُمْ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ، فَإِذَا طَرَقَتْهُمْ فَاقَةٌ تَشَتَّتَ هَمُّ أَحَدِهِمْ، فَلَأَنْ أَرُدَّ هِمَّةَ وَاحِدٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُعْطِيَ أَلْفًا مِمَّنْ هِمَّتُهُ الدُّنْيَا.
Ia menjawab: “Tidak. Mereka adalah kaum yang perhatian utamanya tertuju kepada Allah سبحانه. Jika kefakiran mendatangi mereka, perhatian salah seorang dari mereka akan tercerai-berai. Maka mengembalikan perhatian satu orang منهم kepada Allah عز وجل lebih aku cintai daripada memberi seribu orang yang perhatian mereka tertuju kepada dunia.”

فَذُكِرَ هٰذَا الْكَلَامُ لِلْجُنَيْدِ فَاسْتَحْسَنَهُ.
Ucapan ini disampaikan kepada al-Junaid, lalu ia memandangnya baik.

وَقَالَ: هٰذَا وَلِيٌّ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللهِ تَعَالَى.
Ia berkata: “Orang ini adalah salah satu wali Allah Ta‘ala.”

وَقَالَ: مَا سَمِعْتُ مُنْذُ زَمَانٍ كَلَامًا أَحْسَنَ مِنْ هٰذَا.
Dan ia berkata: “Sudah lama aku tidak mendengar ucapan yang lebih baik daripada ini.”

ثُمَّ حَكَى أَنَّ هٰذَا الرَّجُلَ اخْتَلَّ حَالُهُ وَهَمَّ بِتَرْكِ الْحَانُوتِ، فَبَعَثَ إِلَيْهِ الْجُنَيْدُ مَالًا، وَقَالَ: اجْعَلْهُ بِضَاعَتَكَ، وَلَا تَتْرُكِ الْحَانُوتَ، فَإِنَّ التِّجَارَةَ لَا تَضُرُّ مِثْلَكَ.
Kemudian al-Junaid menceritakan bahwa keadaan lelaki itu sempat terganggu hingga ia berniat meninggalkan tokonya. Maka al-Junaid mengirimkan uang kepadanya dan berkata: “Jadikanlah ini modal daganganmu, dan jangan tinggalkan tokomu, karena berdagang tidak membahayakan orang seperti dirimu.”

وَكَانَ هٰذَا الرَّجُلُ بَقَّالًا لَا يَأْخُذُ مِنَ الْفُقَرَاءِ ثَمَنَ مَا يَبْتَاعُونَ مِنْهُ.
Lelaki itu adalah seorang penjual bahan makanan yang tidak mengambil harga barang dari fakir miskin yang membeli darinya.

اَلصِّفَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ خَاصَّةً.
Sifat kedua: hendaknya penerimanya termasuk ahli ilmu secara khusus.

فَإِنَّ ذٰلِكَ إِعَانَةٌ لَهُ عَلَى الْعِلْمِ، وَالْعِلْمُ أَشْرَفُ الْعِبَادَاتِ مَهْمَا صَحَّتْ فِيهِ النِّيَّةُ.
Karena hal itu berarti membantu dirinya untuk menuntut ilmu, dan ilmu adalah ibadah yang paling mulia jika niatnya benar.

وَكَانَ ابْنُ الْمُبَارَكِ يُخَصِّصُ بِمَعْرُوفِهِ أَهْلَ الْعِلْمِ.
Ibnul Mubarak dahulu mengkhususkan pemberiannya kepada أهل العلم.

فَقِيلَ لَهُ: لَوْ عَمَّمْتَ.
Lalu dikatakan kepadanya: “Seandainya engkau meratakan pemberianmu.”

فَقَالَ: إِنِّي لَا أَعْرِفُ بَعْدَ مَقَامِ النُّبُوَّةِ أَفْضَلَ مِنْ مَقَامِ الْعُلَمَاءِ.
Ia menjawab: “Aku tidak mengetahui setelah maqam kenabian ada maqam yang lebih utama daripada maqam para ulama.”

فَإِذَا اشْتَغَلَ قَلْبُ أَحَدِهِمْ بِحَاجَتِهِ لَمْ يَتَفَرَّغْ لِلْعِلْمِ وَلَمْ يُقْبِلْ عَلَى التَّعَلُّمِ.
Jika hati salah seorang di antara mereka disibukkan oleh kebutuhannya, maka ia tidak akan bisa berkonsentrasi untuk ilmu dan tidak akan sepenuhnya menghadap kepada belajar.

فَتَفْرِيغُهُمْ لِلْعِلْمِ أَفْضَلُ.
Maka mengosongkan mereka untuk ilmu itu lebih utama.

اَلصِّفَةُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ صَادِقًا فِي تَقْوَاهُ وَعِلْمِهِ بِالتَّوْحِيدِ.
Sifat ketiga: hendaknya ia jujur dalam ketakwaannya dan dalam pengetahuannya tentang tauhid.

وَتَوْحِيدُهُ أَنَّهُ إِذَا أَخَذَ الْعَطَاءَ حَمِدَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَشَكَرَهُ.
Tauhidnya tampak ketika ia menerima pemberian, lalu memuji Allah عز وجل dan bersyukur kepada-Nya.

وَرَأَى أَنَّ النِّعْمَةَ مِنْهُ، وَلَمْ يَنْظُرْ إِلَى وَاسِطَةٍ.
Ia memandang bahwa nikmat itu berasal dari Allah, dan tidak memandang perantara.

فَهٰذَا هُوَ أَشْكَرُ الْعِبَادِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ، وَهُوَ أَنْ يَرَى أَنَّ النِّعْمَةَ كُلَّهَا مِنْهُ.
Inilah hamba yang paling bersyukur kepada Allah سبحانه, yaitu yang memandang bahwa seluruh nikmat datang dari-Nya.

وَفِي وَصِيَّةِ لُقْمَانَ لِابْنِهِ: لَا تَجْعَلْ بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللهِ مُنْعِمًا، وَاعْدُدْ نِعْمَةَ غَيْرِهِ عَلَيْكَ مَغْرَمًا.
Dalam wasiat Luqman kepada putranya: “Janganlah engkau menjadikan antara dirimu dan Allah seorang pemberi nikmat, dan anggaplah nikmat selain-Nya atasmu sebagai beban.”

وَمَنْ شَكَرَ غَيْرَ اللهِ سُبْحَانَهُ فَكَأَنَّهُ لَمْ يَعْرِفِ الْمُنْعِمَ.
Barang siapa bersyukur kepada selain Allah سبحانه, seolah-olah ia belum mengenal Sang Pemberi nikmat yang sejati.

وَلَمْ يَتَيَقَّنْ أَنَّ الْوَاسِطَةَ مَقْهُورٌ مُسَخَّرٌ بِتَسْخِيرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Dan ia belum yakin bahwa perantara itu hanyalah makhluk yang dipaksa dan ditundukkan oleh Allah عز وجل.

إِذْ سَلَّطَ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ دَوَاعِيَ الْفِعْلِ وَيَسَّرَ لَهُ الْأَسْبَابَ، فَأَعْطَى وَهُوَ مَقْهُورٌ.
Karena Allah Ta‘ala-lah yang menanamkan dorongan untuk memberi dalam dirinya dan memudahkan baginya sebab-sebabnya, sehingga ia memberi dalam keadaan dikuasai oleh kehendak Allah.

وَلَوْ أَرَادَ تَرْكَهُ لَمْ يَقْدِرْ عَلَيْهِ، بَعْدَ أَنْ أَلْقَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي قَلْبِهِ أَنَّ صَلَاحَ دِينِهِ وَدُنْيَاهُ فِي فِعْلِهِ.
Seandainya ia ingin meninggalkannya, tentu ia tidak akan mampu, setelah Allah عز وجل menanamkan dalam hatinya bahwa kebaikan agama dan dunianya ada pada perbuatan itu.

فَمَهْمَا قَوِيَ الْبَاعِثُ أَوْجَبَ ذٰلِكَ جَزْمَ الْإِرَادَةِ وَانْتِهَاضَ الْقُدْرَةِ.
Maka apabila dorongan itu kuat, ia menimbulkan tekad yang pasti dan menggerakkan kemampuan untuk melaksanakannya.

وَلَمْ يَسْتَطِعِ الْعَبْدُ مُخَالَفَةَ الْبَاعِثِ الْقَوِيِّ الَّذِي لَا تَرَدُّدَ فِيهِ.
Dan seorang hamba tidak mampu menentang dorongan kuat yang tidak mengandung keraguan itu.

وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَالِقُ الْبَوَاعِثِ وَمُهَيِّجُهَا وَمُزِيلُ الضَّعْفِ وَالتَّرَدُّدِ عَنْهَا، وَمُسَخِّرُ الْقُدْرَةِ لِلِانْتِهَاضِ بِمُقْتَضَى الْبَوَاعِثِ.
Dan Allah عز وجل-lah pencipta dorongan-dorongan itu, yang membangkitkannya, menghilangkan kelemahan dan keraguan darinya, serta menundukkan kemampuan agar bangkit sesuai dorongan tersebut.

فَمَنْ تَيَقَّنَ هٰذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نَظَرٌ إِلَّا إِلَى مُسَبِّبِ الْأَسْبَابِ.
Barang siapa yakin akan hal ini, maka ia tidak akan memandang kecuali kepada Penyebab segala sebab.

وَتَيَقُّنُ مِثْلِ هٰذَا الْعَبْدِ أَنْفَعُ لِلْمُعْطِي مِنْ ثَنَاءِ غَيْرِهِ وَشُكْرِهِ.
Keyakinan hamba semacam ini lebih bermanfaat bagi pemberi daripada pujian dan terima kasih orang lain.

فَذٰلِكَ حَرَكَةُ لِسَانٍ يَقِلُّ فِي الْأَكْثَرِ جَدْوَاهَا.
Karena pujian itu hanyalah gerakan lisan yang kebanyakan sedikit manfaatnya.

وَإِعَانَةُ مِثْلِ هٰذَا الْعَبْدِ الْمُوَحِّدِ لَا تَضِيعُ.
Sedangkan membantu hamba yang bertauhid seperti ini tidak akan sia-sia.

وَأَمَّا الَّذِي يَمْدَحُ بِالْعَطَاءِ وَيَدْعُو بِالْخَيْرِ، فَسَيَذُمُّ بِالْمَنْعِ وَيَدْعُو بِالشَّرِّ عِنْدَ الْإِيذَاءِ، وَأَحْوَالُهُ مُتَفَاوِتَةٌ.
Adapun orang yang memuji ketika diberi dan mendoakan kebaikan, maka ia bisa saja mencela ketika ditolak dan mendoakan keburukan saat disakiti, karena keadaannya berubah-ubah.

وَقَدْ رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مَعْرُوفًا إِلَى بَعْضِ الْفُقَرَاءِ، وَقَالَ لِلرَّسُولِ: احْفَظْ مَا يَقُولُ.
Diriwayatkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم pernah mengirim suatu pemberian kepada sebagian orang fakir dan bersabda kepada utusan: “Perhatikanlah apa yang ia katakan.”

فَلَمَّا أَخَذَ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَا يَنْسَى مَنْ ذَكَرَهُ وَلَا يُضِيعُ مَنْ شَكَرَهُ.
Ketika si fakir itu menerimanya, ia berkata: “Segala puji bagi Allah yang tidak melupakan orang yang mengingat-Nya dan tidak menyia-nyiakan orang yang bersyukur kepada-Nya.”

ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ إِنَّكَ لَمْ تَنْسَ فُلَانًا، يَعْنِي نَفْسَهُ، فَاجْعَلْ فُلَانًا لَا يَنْسَاكَ، يَعْنِي بِنَفْسِهِ.
Kemudian ia berkata: “Ya Allah, Engkau tidak melupakan si fulan,” maksudnya dirinya sendiri, “maka jadikanlah si fulan tidak melupakan-Mu,” juga maksudnya dirinya sendiri.

فَأُخْبِرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذٰلِكَ فَسُرَّ وَقَالَ: عَلِمْتُ أَنَّهُ يَقُولُ ذٰلِكَ.
Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم diberi tahu tentang hal itu, maka beliau bergembira dan bersabda: “Aku memang tahu ia akan mengatakan itu.”

فَانْظُرْ كَيْفَ قَصَرَ الْتِفَاتَهُ عَلَى اللهِ وَحْدَهُ.
Maka perhatikanlah bagaimana ia membatasi pandangannya hanya kepada Allah semata.

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَجُلٍ: تُبْ.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda kepada seorang lelaki: “Bertobatlah.”

فَقَالَ: أَتُوبُ إِلَى اللهِ وَحْدَهُ، وَلَا أَتُوبُ إِلَى مُحَمَّدٍ.
Lelaki itu menjawab: “Aku bertobat kepada Allah semata, dan tidak bertobat kepada Muhammad.”

فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَرَفَ الْحَقَّ لِأَهْلِهِ.
Maka beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Ia telah mengenali hak dan memberikannya kepada yang berhak.”

وَلَمَّا نَزَلَتْ بَرَاءَةُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فِي قِصَّةِ الْإِفْكِ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: قُومِي فَقَبِّلِي رَأْسَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Ketika turunnya ayat pembebasan Aisyah رضي الله عنها dalam peristiwa ifk, Abu Bakar رضي الله عنه berkata: “Berdirilah dan ciumlah kepala Rasulullah صلى الله عليه وسلم.”

فَقَالَتْ: وَاللهِ لَا أَفْعَلُ، وَلَا أَحْمَدُ إِلَّا اللهَ.
Maka Aisyah berkata: “Demi Allah, aku tidak akan melakukannya, dan aku tidak memuji selain Allah.”

فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعْهَا يَا أَبَا بَكْرٍ.
Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Biarkan dia, wahai Abu Bakar.”

وَفِي لَفْظٍ آخَرَ أَنَّهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ لِأَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: بِحَمْدِ اللهِ، لَا بِحَمْدِكَ، وَلَا بِحَمْدِ صَاحِبِكَ.
Dalam lafaz lain, Aisyah رضي الله عنها berkata kepada Abu Bakar رضي الله عنه: “Dengan pujian kepada Allah, bukan dengan pujianmu dan bukan dengan pujian sahabatmu.”

فَلَمْ يُنْكِرْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا ذٰلِكَ، مَعَ أَنَّ الْوَحْيَ وَصَلَ إِلَيْهَا عَلَى لِسَانِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak mengingkari hal itu darinya, padahal wahyu sampai kepadanya melalui lisan Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

وَرُؤْيَةُ الْأَشْيَاءِ مِنْ غَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَصْفُ الْكَافِرِينَ.
Melihat segala sesuatu dari selain Allah سبحانه adalah sifat orang-orang kafir.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَإِذَا ذُكِرَ اللهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ، وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Apabila disebut Allah saja, hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat merasa sempit. Tetapi apabila disebut selain-Nya, tiba-tiba mereka bergembira.”

وَمَنْ لَمْ يَصْفُ بَاطِنُهُ عَنْ رُؤْيَةِ الْوَسَائِطِ إِلَّا مِنْ حَيْثُ أَنَّهُمْ وَسَائِطُ، فَكَأَنَّهُ لَمْ يَنْفَكَّ عَنِ الشِّرْكِ الْخَفِيِّ سِرُّهُ.
Barang siapa batinnya belum jernih dari memandang perantara, kecuali hanya sebagai perantara, maka rahasia hatinya seakan belum lepas dari syirik yang tersembunyi.

فَلْيَتَّقِ اللهَ سُبْحَانَهُ فِي تَصْفِيَةِ تَوْحِيدِهِ عَنْ كُدُورَاتِ الشِّرْكِ وَشَوَائِبِهِ.
Maka hendaknya ia bertakwa kepada Allah سبحانه dalam membersihkan tauhidnya dari kekeruhan dan campuran syirik.

اَلصِّفَةُ الرَّابِعَةُ: أَنْ يَكُونَ مُسْتَتِرًا مُخْفِيًا حَاجَتَهُ، لَا يُكْثِرُ الْبَثَّ وَالشَّكْوَى.
Sifat keempat: hendaknya penerima zakat adalah orang yang menutupi diri dan menyembunyikan kebutuhannya, tidak banyak mengeluh dan menyebarkan kesusahannya.

أَوْ يَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْمُرُوءَةِ، مِمَّنْ ذَهَبَتْ نِعْمَتُهُ وَبَقِيَتْ عَادَتُهُ، فَهُوَ يَتَعَيَّشُ فِي جِلْبَابِ التَّجَمُّلِ.
Atau termasuk orang yang memiliki harga diri, dari kalangan yang hilang hartanya tetapi kebiasaan baiknya masih tersisa, sehingga ia tetap hidup dengan menjaga penampilan terhormatnya.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ، تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ، لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا.
Allah Ta‘ala berfirman: “Orang yang tidak tahu mengira mereka kaya karena mereka menjaga diri. Engkau mengenali mereka dari tanda-tandanya, mereka tidak meminta-minta kepada manusia secara mendesak.”

أَيْ لَا يُلِحُّونَ فِي السُّؤَالِ، لِأَنَّهُمْ أَغْنِيَاءُ بِيَقِينِهِمْ، أَعِزَّةٌ بِصَبْرِهِمْ.
Artinya, mereka tidak mendesak dalam meminta, karena mereka merasa cukup dengan keyakinan mereka dan mulia dengan kesabaran mereka.

وَهٰذَا يَنْبَغِي أَنْ يُطْلَبَ بِالتَّفَحُّصِ عَنْ أَهْلِ الدِّينِ فِي كُلِّ مَحَلَّةٍ، وَيُسْتَكْشَفَ عَنْ بَوَاطِنِ أَحْوَالِ أَهْلِ الْخَيْرِ وَالتَّجَمُّلِ.
Orang-orang seperti ini perlu dicari dengan meneliti أهل الدين di setiap lingkungan dan dengan menyelidiki keadaan batin orang-orang baik yang menjaga kehormatan diri.

فَثَوَابُ صَرْفِ الْمَعْرُوفِ إِلَيْهِمْ أَضْعَافُ مَا يُصْرَفُ إِلَى الْمُجَاهِرِينَ بِالسُّؤَالِ.
Pahala menyalurkan kebaikan kepada mereka berlipat ganda dibanding menyalurkannya kepada orang-orang yang terang-terangan meminta.

اَلصِّفَةُ الْخَامِسَةُ: أَنْ يَكُونَ مُعِيلًا أَوْ مَحْبُوسًا بِمَرَضٍ أَوْ بِسَبَبٍ مِنَ الْأَسْبَابِ.
Sifat kelima: hendaknya ia orang yang menanggung keluarga, atau terhalang karena sakit, atau karena suatu sebab lain.

فَيُوجَدُ فِيهِ مَعْنَى قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ.
Sehingga padanya terdapat makna firman Allah عز وجل: “Untuk orang-orang fakir yang terhalang di jalan Allah.”

أَيْ حُبِسُوا فِي طَرِيقِ الْآخِرَةِ بِعَيْلَةٍ أَوْ ضِيقِ مَعِيشَةٍ أَوْ إِصْلَاحِ قَلْبٍ.
Artinya, mereka terhalang dari berusaha untuk akhirat karena menanggung keluarga, sempitnya kehidupan, atau karena sibuk memperbaiki hati.

لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ، لِأَنَّهُمْ مَقْصُوصُو الْجَنَاحِ، مُقَيَّدُو الْأَطْرَافِ.
“Mereka tidak mampu bertebaran di bumi,” karena seakan-akan sayap mereka terpotong dan gerak mereka terikat.

فَبِهٰذِهِ الْأَسْبَابِ كَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يُعْطِي أَهْلَ الْبَيْتِ الْقَطِيعَ مِنَ الْغَنَمِ الْعَشَرَةَ فَمَا فَوْقَهَا.
Karena sebab-sebab semacam ini Umar رضي الله عنه biasa memberi kepada suatu keluarga satu kelompok kambing, sepuluh ekor atau lebih.

وَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطِي الْعَطَاءَ عَلَى مِقْدَارِ الْعَيْلَةِ.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم biasa memberi sesuai kadar tanggungan keluarga seseorang.

وَسَأَلَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ.
Umar رضي الله عنه pernah ditanya tentang bentuk ujian yang paling berat.

فَقَالَ: كَثْرَةُ الْعِيَالِ وَقِلَّةُ الْمَالِ.
Ia menjawab: “Banyaknya tanggungan dan sedikitnya harta.”

اَلصِّفَةُ السَّادِسَةُ: أَنْ يَكُونَ مِنَ الْأَقَارِبِ وَذَوِي الْأَرْحَامِ، فَتَكُونُ صَدَقَةً وَصِلَةَ رَحِمٍ.
Sifat keenam: hendaknya ia termasuk kerabat dan keluarga, sehingga pemberian itu menjadi sedekah sekaligus silaturahmi.

وَفِي صِلَةِ الرَّحِمِ مِنَ الثَّوَابِ مَا لَا يُحْصَى.
Dan pada silaturahmi terdapat pahala yang tidak terhitung.

قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: لَأَنْ أَصِلَ أَخًا مِنْ إِخْوَانِي بِدِرْهَمٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِعِشْرِينَ دِرْهَمًا.
Ali رضي الله عنه berkata: “Sungguh menghubungkan satu saudaraku dengan satu dirham lebih aku sukai daripada bersedekah dua puluh dirham.”

وَلَأَنْ أَصِلَهُ بِعِشْرِينَ دِرْهَمًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِمِائَةِ دِرْهَمٍ.
“Dan sungguh menghubungkannya dengan dua puluh dirham lebih aku sukai daripada bersedekah seratus dirham.”

وَلَأَنْ أَصِلَهُ بِمِائَةِ دِرْهَمٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُعْتِقَ رَقَبَةً.
“Dan sungguh menghubungkannya dengan seratus dirham lebih aku sukai daripada memerdekakan seorang budak.”

وَالْأَصْدِقَاءُ وَإِخْوَانُ الْخَيْرِ أَيْضًا يُقَدَّمُونَ عَلَى الْمَعَارِفِ، كَمَا يَتَقَدَّمُ الْأَقَارِبُ عَلَى الْأَجَانِبِ.
Teman-teman dekat dan saudara-saudara dalam kebaikan juga didahulukan atas orang-orang yang hanya sekadar dikenal, sebagaimana kerabat didahulukan atas orang asing.

فَلْيُرَاعِ هٰذِهِ الدَّقَائِقَ.
Maka hendaknya ia memperhatikan rincian-rincian halus ini.

فَهٰذِهِ هِيَ الصِّفَاتُ الْمَطْلُوبَةُ.
Inilah sifat-sifat yang dicari.

وَفِي كُلِّ صِفَةٍ دَرَجَاتٌ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَطْلُبَ أَعْلَاهَا.
Dan pada setiap sifat terdapat tingkatan-tingkatan, maka hendaknya ia mencari tingkatan yang paling tinggi.

فَإِنْ وُجِدَ مَنْ جَمَعَ جُمْلَةً مِنْ هٰذِهِ الصِّفَاتِ، فَهِيَ الذَّخِيرَةُ الْكُبْرَى وَالْغَنِيمَةُ الْعُظْمَى.
Jika ditemukan seseorang yang menghimpun banyak dari sifat-sifat ini, maka itu adalah simpanan terbesar dan keberuntungan yang paling besar.

وَمَهْمَا اجْتَهَدَ فِي ذٰلِكَ وَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِنْ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ.
Setiap kali seseorang bersungguh-sungguh dalam hal ini dan tepat, maka baginya dua pahala. Jika ia keliru, maka baginya satu pahala.

فَإِنَّ أَحَدَ أَجْرَيْهِ فِي الْحَالِ تَطْهِيرُهُ نَفْسَهُ عَنْ صِفَةِ الْبُخْلِ، وَتَأْكِيدُ حُبِّ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي قَلْبِهِ، وَاجْتِهَادُهُ فِي طَاعَتِهِ.
Sebab salah satu dari dua pahala itu adalah dalam keadaan sekarang, yaitu membersihkan dirinya dari sifat bakhil, meneguhkan cinta kepada Allah عز وجل dalam hatinya, dan kesungguhannya dalam taat kepada-Nya.

وَهٰذِهِ الصِّفَاتُ هِيَ الَّتِي تُقَوِّي فِي قَلْبِهِ فَتُشَوِّقُهُ إِلَى لِقَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Sifat-sifat inilah yang menguatkan hatinya dan membuatnya rindu untuk bertemu Allah عز وجل.

وَالْأَجْرُ الثَّانِي مَا يَعُودُ إِلَيْهِ مِنْ فَائِدَةِ دُعَاءِ الْآخِذِ وَهِمَّتِهِ.
Pahala kedua adalah apa yang kembali kepadanya dari manfaat doa si penerima dan kesungguhannya.

فَإِنَّ قُلُوبَ الْأَبْرَارِ لَهَا آثَارٌ فِي الْحَالِ وَالْمَآلِ.
Karena hati orang-orang saleh memiliki pengaruh, baik dalam keadaan sekarang maupun di akhirat.

فَإِنْ أَصَابَ حَصَلَ الْأَجْرَانِ، وَإِنْ أَخْطَأَ حَصَلَ الْأَوَّلُ دُونَ الثَّانِي.
Jika ia tepat, maka ia memperoleh dua pahala. Jika ia keliru, maka ia memperoleh pahala pertama tanpa pahala kedua.

فَبِهٰذَا يُضَاعَفُ أَجْرُ الْمُصِيبِ فِي الِاجْتِهَادِ هٰهُنَا وَفِي سَائِرِ الْمَوَاضِعِ.
Dengan demikian, pahala orang yang benar dalam ijtihad dilipatgandakan di sini maupun di tempat-tempat lainnya.

وَاللهُ أَعْلَمُ.
Dan Allah lebih mengetahui.