Pengaruh-Pengaruh Sima‘ dan Adab-Adabnya (1)

اَلْبَابُ الثَّانِي: آثَارُ السَّمَاعِ وَآدَابُهُ.

Bab kedua: pengaruh-pengaruh samā‘ (sima‘/mendengarkan) dan adab-adabnya.

اِعْلَمْ أَنَّ أَوَّلَ دَرَجَةِ السَّمَاعِ فَهْمُ الْمَسْمُوعِ وَتَنْزِيلُهُ عَلَى مَعْنًى يَقَعُ لِلْمُسْتَمِعِ.

Ketahuilah bahwa tingkatan pertama samā‘ adalah memahami apa yang didengar dan mengaitkannya pada suatu makna yang muncul bagi pendengar.

ثُمَّ يُثْمِرُ الْفَهْمُ الْوَجْدَ.

Kemudian pemahaman itu melahirkan wajd.

وَيُثْمِرُ الْوَجْدُ الْحَرَكَةَ بِالْجَوَارِحِ.

Dan wajd melahirkan gerak pada anggota badan.

فَلْيَنْظُرْ فِي هٰذِهِ الْمَقَامَاتِ الثَّلَاثَةِ.

Maka hendaklah diperhatikan tiga tingkatan ini.

اَلْمَقَامُ الْأَوَّلُ فِي الْفَهْمِ، وَهُوَ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ أَحْوَالِ الْمُسْتَمِعِ.

Tingkatan pertama adalah pemahaman, dan ia berbeda-beda sesuai keadaan pendengar.

وَلِلْمُسْتَمِعِ أَرْبَعُ أَحْوَالٍ.

Pendengar memiliki empat keadaan.

إِحْدَاهَا: أَنْ يَكُونَ سَمَاعُهُ بِمُجَرَّدِ الطَّبْعِ.

Yang pertama: ia mendengar semata karena tabiat.

أَيْ لَا حَظَّ لَهُ فِي السَّمَاعِ إِلَّا اسْتِلْذَاذَ الْأَلْحَانِ وَالنَّغَمَاتِ.

Artinya ia tidak mengambil bagian dari samā‘ kecuali sekadar menikmati lagu dan nada.

وَهٰذَا مُبَاحٌ.

Ini mubah.

وَهُوَ أَخْسَرُ رُتَبِ السَّمَاعِ.

Namun ini tingkat samā‘ yang paling rendah dan paling merugi.

إِذِ الْإِبِلُ شَرِيكُهُ لَهُ فِيهِ.

Sebab unta pun menjadi sekutunya dalam hal ini.

وَكَذٰلِكَ سَائِرُ الْبَهَائِمِ.

Demikian pula hewan-hewan lainnya.

بَلْ لَا يَسْتَدْعِي هٰذَا الذَّوْقُ إِلَّا الْحَيَاةَ.

Bahkan “rasa” ini tidak memerlukan apa pun selain adanya kehidupan.

فَلِكُلِّ حَيَوَانٍ نَوْعُ تَلَذُّذٍ بِالْأَصْوَاتِ الطَّيِّبَةِ.

Setiap hewan memiliki jenis kenikmatan terhadap suara-suara yang indah.

اَلْحَالَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَسْمَعَ بِفَهْمٍ وَلٰكِنْ يُنَزِّلَهُ عَلَى صُورَةِ مَخْلُوقٍ، إِمَّا مُعَيَّنًا وَإِمَّا غَيْرَ مُعَيَّنٍ.

Keadaan kedua: ia mendengar dengan pemahaman, tetapi mengaitkannya pada sosok makhluk; baik yang tertentu maupun yang tidak tertentu.

وَهُوَ سَمَاعُ الشَّبَابِ وَأَرْبَابِ الشَّهَوَاتِ.

Ini adalah samā‘ para pemuda dan orang-orang yang dikuasai syahwat.

وَيَكُونُ تَنْزِيلُهُمْ لِلْمَسْمُوعِ عَلَى حَسَبِ شَهَوَاتِهِمْ وَمُقْتَضَى أَحْوَالِهِمْ.

Pengaitan mereka terhadap yang didengar sesuai syahwat mereka dan tuntutan keadaan mereka.

وَهٰذِهِ الْحَالَةُ أَخَسُّ مِنْ أَنْ نَتَكَلَّمَ فِيهَا إِلَّا بِبَيَانِ خِسَّتِهَا وَالنَّهْيِ عَنْهَا.

Keadaan ini terlalu rendah untuk dibahas, kecuali untuk menjelaskan rendahnya dan melarangnya.

اَلْحَالَةُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يُنَزِّلَ مَا يَسْمَعُهُ عَلَى أَحْوَالِ نَفْسِهِ فِي مُعَامَلَتِهِ لِلهِ تَعَالَى.

Keadaan ketiga: ia mengaitkan yang didengarnya pada keadaan dirinya dalam bermuamalah kepada Allah تعالى.

وَتَقَلُّبِ أَحْوَالِهِ فِي التَّمَكُّنِ مَرَّةً وَالتَّعَذُّرِ أُخْرَى.

Dan pada perubahan keadaannya: kadang merasa mantap, kadang merasa sulit.

وَهٰذَا سَمَاعُ الْمُرِيدِينَ، لَا سِيَّمَا الْمُبْتَدِئِينَ.

Ini adalah samā‘ para murid (pencari jalan), terutama yang baru memulai.

فَإِنَّ لِلْمُرِيدِ لَا مَحَالَةَ مُرَادًا هُوَ مَقْصَدُهُ.

Karena seorang murid pasti mempunyai tujuan yang ia kehendaki.

وَمَقْصَدُهُ مَعْرِفَةُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَلِقَاؤُهُ.

Tujuannya adalah mengenal Allah Mahasuci Dia, dan bertemu dengan-Nya.

وَالْوُصُولُ إِلَيْهِ بِطَرِيقِ الْمُشَاهَدَةِ بِالسِّرِّ وَكَشْفِ الْغِطَاءِ.

Dan sampai kepada-Nya melalui jalan penyaksian batin dan tersingkapnya tabir.

وَلَهُ فِي مَقْصَدِهِ طَرِيقٌ هُوَ سَالِكُهُ.

Dan untuk tujuannya itu ia memiliki jalan yang ia tempuh.

وَمُعَامَلَاتٌ هُوَ مُثَابِرٌ عَلَيْهَا.

Serta berbagai amalan muamalah yang ia tekuni.

وَحَالَاتٌ تَسْتَقْبِلُهُ فِي مُعَامَلَاتِهِ.

Dan keadaan-keadaan (spiritual) yang ia hadapi dalam muamalahnya.

فَإِذَا سَمِعَ ذِكْرَ عِتَابٍ أَوْ خِطَابٍ، أَوْ قَبُولٍ أَوْ رَدٍّ، أَوْ وَصْلٍ أَوْ هَجْرٍ، أَوْ قُرْبٍ أَوْ بُعْدٍ.

Maka ketika ia mendengar penyebutan tentang teguran atau seruan, penerimaan atau penolakan, pertemuan atau penghindaran, kedekatan atau kejauhan,

أَوْ تَلَهُّفٍ عَلَى فَائِتٍ، أَوْ تَعَطُّشٍ إِلَى مُنْتَظَرٍ.

atau penyesalan atas yang terlewat, atau dahaga atas yang ditunggu,

أَوْ شَوْقٍ إِلَى وَارِدٍ، أَوْ طَمَعٍ أَوْ يَأْسٍ.

atau rindu terhadap sesuatu yang datang, atau harap, atau putus asa,

أَوْ وَحْشَةٍ أَوِ اسْتِئْنَاسٍ.

atau rasa sepi, atau rasa akrab,

أَوْ وَفَاءٍ بِالْوَعْدِ، أَوْ نَقْضٍ لِلْعَهْدِ.

atau menepati janji, atau mengingkari perjanjian,

أَوْ خَوْفِ فِرَاقٍ، أَوْ فَرَحٍ بِوِصَالٍ.

atau takut berpisah, atau gembira karena pertemuan,

أَوْ ذِكْرِ مُلَاحَظَةِ الْحَبِيبِ وَمُدَافَعَةِ الرَّقِيبِ.

atau menyebut memperhatikan sang kekasih dan menolak gangguan pengawas,

أَوْ هُمُولِ الْعَبَرَاتِ، أَوْ تَرَادُفِ الْحَسَرَاتِ.

atau tumpahnya air mata, atau bertubi-tubinya penyesalan,

أَوْ طُولِ الْفِرَاقِ، أَوْ عِدَةِ الْوِصَالِ.

atau lamanya perpisahan, atau janji pertemuan,

أَوْ غَيْرِ ذٰلِكَ مِمَّا يَشْتَمِلُ عَلَى وَصْفِهِ الْأَشْعَارُ.

atau selain itu yang biasa disebut dalam syair-syair,

فَلَا بُدَّ أَنْ يُوَافِقَ بَعْضُهَا حَالَ الْمُرِيدِ فِي طَلَبِهِ.

maka pasti sebagian darinya sesuai dengan keadaan sang murid dalam pencariannya.

فَيَجْرِي ذٰلِكَ مَجْرَى الْقَدْحِ الَّذِي يُورِي زِنَادَ قَلْبِهِ.

Maka hal itu menjadi seperti pemantik yang menyalakan batu api hati.

فَتَشْتَعِلُ بِهِ نِيرَانُهُ.

Lalu api-apinya menyala karenanya.

وَيَقْوَى بِهِ انْبِعَاثُ الشَّوْقِ وَهَيَجَانُهُ.

Dan bangkitnya rindu serta geloranya menguat.

وَيَهْجُمُ عَلَيْهِ بِسَبَبِهِ أَحْوَالٌ مُخَالِفَةٌ لِعَادَتِهِ.

Karena itu menyerbu dirinya keadaan-keadaan yang berbeda dari kebiasaannya.

وَيَكُونُ لَهُ مَجَالٌ رَحْبٌ فِي تَنْزِيلِ الْأَلْفَاظِ عَلَى أَحْوَالِهِ.

Dan baginya terbuka ruang luas untuk mengaitkan lafaz-lafaz pada keadaan dirinya.

وَلَيْسَ عَلَى الْمُسْتَمِعِ مُرَاعَاةُ مُرَادِ الشَّاعِرِ مِنْ كَلَامِهِ.

Pendengar tidak wajib memperhatikan maksud penyair dari ucapannya.

بَلْ لِكُلِّ كَلَامٍ وُجُوهٌ.

Bahkan setiap perkataan mempunyai sisi-sisi makna.

وَلِكُلِّ ذِي فَهْمٍ فِي اقْتِبَاسِ الْمَعْنَى مِنْهُ حُظُوظٌ.

Dan setiap orang yang berakal memiliki bagian dalam mengambil makna darinya.

وَلْنَضْرِبْ لِهٰذِهِ التَّنْزِيلَاتِ وَالْفُهُومِ أَمْثِلَةً.

Mari kita berikan contoh untuk pengaitan dan pemahaman seperti itu.

كَيْ لَا يَظُنَّ الْجَاهِلُ أَنَّ الْمُسْتَمِعَ لِأَبْيَاتٍ فِيهَا ذِكْرُ الْفَمِ وَالْخَدِّ وَالصِّدْغِ إِنَّمَا يَفْهَمُ مِنْهَا ظَوَاهِرَهَا.

Agar orang jahil tidak menyangka bahwa pendengar bait-bait yang menyebut mulut, pipi, dan pelipis hanya memahami makna lahiriahnya saja.

وَلَا حَاجَةَ بِنَا إِلَى ذِكْرِ كَيْفِيَّةِ فَهْمِ الْمَعَانِي مِنَ الْأَبْيَاتِ.

Kita tidak perlu merinci cara memahami makna dari bait-bait itu.

فَفِي حِكَايَاتِ أَهْلِ السَّمَاعِ مَا يَكْشِفُ عَنْ ذٰلِكَ.

Karena dalam kisah-kisah ahli samā‘ ada hal-hal yang menyingkapkannya.

فَقَدْ حُكِيَ أَنَّ بَعْضَهُمْ سَمِعَ قَائِلًا يَقُولُ:

قَالَ الرَّسُولُ غَدًا تَزُورُ … فَقُلْتُ تَعْقِلُ مَا تَقُولُ

Dikisahkan bahwa sebagian mereka mendengar seseorang melantunkan:

“Rasul berkata: besok engkau akan berziarah … lalu aku berkata: apakah engkau mengerti apa yang kau ucapkan?”

فَاسْتَفَزَّهُ اللَّحْنُ وَالْقَوْلُ.

Maka lagu dan kata-kata itu mengguncangnya.

وَتَوَاجَدَ.

Ia pun mengalami wajd.

وَجَعَلَ يُكَرِّرُ ذٰلِكَ.

Dan ia terus mengulang-ulangnya.

وَيَجْعَلُ مَكَانَ التَّاءِ نُونًا.

Lalu ia mengganti huruf tā’ menjadi nūn.

فَيَقُولُ: قَالَ الرَّسُولُ غَدًا نَزُورُ.

Sehingga ia berkata: “Rasul berkata: besok kita akan berziarah.”

حَتَّى غُشِيَ عَلَيْهِ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ وَاللَّذَّةِ وَالسُّرُورِ.

Sampai ia pingsan karena kuatnya kegembiraan, kenikmatan, dan sukacita.

فَلَمَّا أَفَاقَ سُئِلَ عَنْ وَجْدِهِ: مِمَّ كَانَ؟

Ketika sadar, ia ditanya tentang wajd-nya: dari apa itu?

فَقَالَ: ذَكَرْتُ قَوْلَ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَزُورُونَ رَبَّهُمْ فِي كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ مَرَّةً (١).

Ia menjawab: “Aku teringat sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم: penghuni surga mengunjungi Tuhan mereka setiap hari Jumat sekali.” (1)

وَحَكَى الرَّقِّيُّ عَنِ ابْنِ الدَّرَّاجِ أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ أَنَا وَابْنُ الْفُوطِيِّ مَارَّيْنِ عَلَى دِجْلَةَ بَيْنَ الْبَصْرَةِ وَالْأُبُلَّةِ.

Ar-Raqqi menukil dari Ibn ad-Darrāj bahwa ia berkata: “Aku dan Ibn al-Fūṭī berjalan menyusuri Sungai Dijlah antara Basrah dan al-Ubullah.”

فَإِذَا بِقَصْرٍ حَسَنٍ لَهُ مَنْظَرَةٌ.

Tiba-tiba ada sebuah istana yang indah, memiliki beranda/paviliun.

وَعَلَيْهِ رَجُلٌ بَيْنَ يَدَيْهِ جَارِيَةٌ تُغَنِّي وَتَقُولُ:

كُلَّ يَوْمٍ تَتَلَوَّنُ … غَيْرَ هٰذَا بِكَ أَحْسَنُ

Di atasnya ada seorang laki-laki, di depannya seorang budak perempuan bernyanyi dan berkata:

“Setiap hari engkau berubah-ubah … selain ini, keadaanmu lebih indah.”

فَإِذَا شَابٌّ حَسَنٌ تَحْتَ الْمَنْظَرَةِ.

Ternyata ada seorang pemuda tampan di bawah paviliun itu.

وَبِيَدِهِ رَكْوَةٌ.

Di tangannya ada wadah air kecil.

وَعَلَيْهِ مُرَقَّعَةٌ.

Dan ia memakai pakaian tambal-sulam.

يَسْتَمِعُ.

Ia sedang mendengar.

فَقَالَ: يَا جَارِيَةُ، بِاللهِ وَبِحَيَاةِ مَوْلَاكِ، إِلَّا أَعَدْتِ عَلَيَّ هٰذَا الْبَيْتَ.

Ia berkata: “Wahai budak perempuan, demi Allah dan demi hidup tuanmu, ulangi bait ini untukku.”

فَأَعَادَتْ.

Maka ia mengulanginya.

فَكَانَ الشَّابُّ يَقُولُ: هٰذَا وَاللهِ تَلَوُّنِي مَعَ الْحَقِّ فِي حَالِي.

Pemuda itu berkata: “Demi Allah, ini adalah perubahan-perubahanku bersama al-Haqq dalam keadaanku.”

فَشَهَقَ شَهْقَةً وَمَاتَ.

Lalu ia menarik napas keras sekali dan meninggal.

قَالَ: فَقُلْنَا: قَدِ اسْتَقْبَلْنَا فَرْضًا.

Ia berkata: “Kami berkata: kini kita berhadapan dengan kewajiban (mengurus jenazah).”

فَوَقَفْنَا.

Maka kami berhenti.

فَقَالَ صَاحِبُ الْقَصْرِ لِلْجَارِيَةِ: أَنْتِ حُرَّةٌ لِوَجْهِ اللهِ تَعَالَى.

Pemilik istana berkata kepada budak perempuan itu: “Engkau merdeka karena Allah تعالى.”

قَالَ: ثُمَّ إِنَّ أَهْلَ الْبَصْرَةِ خَرَجُوا.

Ia berkata: “Lalu penduduk Basrah berdatangan.”

وَهٰذَا الْقَصْرُ لِلسَّبِيلِ.

“Dan istana ini menjadi wakaf untuk jalan Allah.”

قَالَ: ثُمَّ رَمَى بِثِيَابِهِ.

Ia berkata: “Kemudian ia melempar pakaian bagusnya.”

وَاتَّزَرَ بِإِزَارٍ.

Ia berkain dengan sarung.

وَارْتَدَى بِآخَرَ.

Dan memakai selendang yang lain.

وَمَرَّ عَلَى وَجْهِهِ وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ.

Lalu ia berjalan melewati mereka, sementara orang-orang memandang kepadanya.

حَتَّى غَابَ عَنْ أَعْيُنِهِمْ وَهُمْ يَبْكُونَ.

Sampai ia hilang dari pandangan mereka, sedangkan mereka menangis.

فَلَمْ يُسْمَعْ لَهُ بَعْدَ خَبَرٌ.

Setelah itu tidak terdengar lagi kabarnya.

وَالْمَقْصُودُ أَنَّ هٰذَا الشَّخْصَ كَانَ مُسْتَغْرَقَ الْوَقْتِ بِحَالِهِ مَعَ اللهِ تَعَالَى.

Maksudnya: orang itu sedang tenggelam sepenuhnya dalam keadaan bersama Allah تعالى.

وَمَعْرِفَةِ عَجْزِهِ عَنِ الثُّبُوتِ عَلَى حُسْنِ الْأَدَبِ فِي الْمُعَامَلَةِ.

Dan dalam menyadari ketidakmampuannya untuk tetap teguh dalam adab yang baik saat bermuamalah.

وَتَأَسُّفِهِ عَلَى تَقَلُّبِ قَلْبِهِ وَمَيْلِهِ عَنْ سُنَنِ الْحَقِّ.

Dan dalam penyesalannya atas bolak-balik hati serta condongnya dari jalan kebenaran.

فَلَمَّا قَرَعَ سَمْعَهُ مَا يُوَافِقُ حَالَهُ، سَمِعَهُ مِنَ اللهِ تَعَالَى كَأَنَّهُ يُخَاطِبُهُ وَيَقُولُ لَهُ:

كُلَّ يَوْمٍ تَتَلَوَّنُ … غَيْرَ هٰذَا بِكَ أَحْسَنُ.

Ketika telinganya “diketuk” oleh sesuatu yang sesuai dengan keadaannya, ia mendengarnya seolah-olah dari Allah تعالى, seakan Allah menegurnya dan berkata:

“Setiap hari engkau berubah-ubah … selain ini, keadaanmu lebih indah.”

وَمَنْ كَانَ سَمَاعُهُ مِنَ اللهِ تَعَالَى، وَعَلَى اللهِ تَعَالَى، وَفِيهِ.

Siapa yang samā‘-nya berasal dari Allah, tertuju kepada Allah, dan “di dalam Allah” (yakni terkait kepada-Nya),

فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ قَدْ أَحْكَمَ قَانُونَ الْعِلْمِ فِي مَعْرِفَةِ اللهِ تَعَالَى وَمَعْرِفَةِ صِفَاتِهِ.

maka seharusnya ia telah mengokohkan kaidah ilmu dalam mengenal Allah تعالى dan sifat-sifat-Nya.

وَإِلَّا خَطَرَ لَهُ مِنَ السَّمَاعِ فِي حَقِّ اللهِ تَعَالَى مَا يَسْتَحِيلُ عَلَيْهِ وَيَكْفُرُ بِهِ.

Jika tidak, bisa terlintas baginya dari samā‘ tentang Allah تعالى sesuatu yang mustahil bagi-Nya, lalu ia kufur karenanya.

فَفِي سَمَاعِ الْمُرِيدِ الْمُبْتَدِئِ خَطَرٌ إِلَّا إِذَا لَمْ يُنَزِّلْ مَا يَسْمَعُ إِلَّا عَلَى حَالِهِ.

Pada samā‘ murid pemula ada bahaya, kecuali bila ia hanya mengaitkan yang didengar pada keadaan dirinya.

مِنْ حَيْثُ لَا يَتَعَلَّقُ بِوَصْفِ اللهِ تَعَالَى.

Dalam sisi yang tidak berkaitan dengan penyifatan terhadap Allah تعالى.

وَمِثَالُ الْخَطَإِ فِيهِ هٰذَا الْبَيْتُ بِعَيْنِهِ.

Contoh kesalahan dalam hal ini adalah bait yang sama itu.

فَلَوْ سَمِعَهُ فِي نَفْسِهِ وَهُوَ يُخَاطِبُ بِهِ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَيُضِيفُ التَّلَوُّنَ إِلَى اللهِ تَعَالَى، فَيَكْفُرُ.

Jika seseorang mendengarnya lalu menganggap dirinya sedang berbicara kepada Rabbnya عز وجل, kemudian ia menisbatkan “berubah-ubah” kepada Allah تعالى, maka ia kafir.

وَهٰذَا قَدْ يَقَعُ عَنْ جَهْلٍ مَحْضٍ مُطْلَقٍ غَيْرِ مَمْزُوجٍ بِتَحْقِيقٍ.

Hal ini bisa terjadi karena kebodohan murni yang mutlak, tanpa bercampur dengan pemahaman yang benar.

وَقَدْ يَكُونُ عَنْ جَهْلٍ سَاقَهُ إِلَيْهِ نَوْعٌ مِنَ التَّحْقِيقِ.

Dan bisa juga terjadi karena kebodohan yang diseret oleh semacam “pemahaman” tertentu.

وَهُوَ أَنْ يَرَى تَقَلُّبَ أَحْوَالِ قَلْبِهِ، بَلْ تَقَلُّبَ أَحْوَالِ سَائِرِ الْعَالَمِ، مِنَ اللهِ تَعَالَى.

Yaitu: ia melihat perubahan keadaan hatinya, bahkan perubahan keadaan seluruh alam, berasal dari Allah تعالى.

وَهُوَ حَقٌّ.

Dan itu benar.

فَإِنَّهُ تَعَالَى تَارَةً يَبْسُطُ قَلْبَهُ وَتَارَةً يَقْبِضُهُ.

Karena Allah تعالى kadang melapangkan hatinya dan kadang menyempitkannya.

وَتَارَةً يُنَوِّرُهُ وَتَارَةً يُظْلِمُهُ.

Kadang meneranginya dan kadang menggelapkannya.

وَتَارَةً يُقَسِّيهِ وَتَارَةً يُلَيِّنُهُ.

Kadang mengeraskannya dan kadang melembutkannya.

وَتَارَةً يُثَبِّتُهُ عَلَى طَاعَتِهِ وَيُقَوِّيهِ عَلَيْهَا.

Kadang meneguhkannya di atas ketaatan dan menguatkannya.

وَتَارَةً يُسَلِّطُ الشَّيْطَانَ عَلَيْهِ لِيَصْرِفَهُ عَنْ سُنَنِ الْحَقِّ.

Kadang menguasakan setan atasnya agar menyimpangkannya dari jalan kebenaran.

وَهٰذَا كُلُّهُ مِنَ اللهِ تَعَالَى.

Semua itu berasal dari Allah تعالى.

وَمَنْ يَصْدُرُ مِنْهُ أَحْوَالٌ مُخْتَلِفَةٌ فِي أَوْقَاتٍ مُتَقَارِبَةٍ، فَقَدْ يُقَالُ لَهُ فِي الْعَادَةِ: إِنَّهُ ذُو بَدَوَاتٍ وَإِنَّهُ مُتَلَوِّنٌ.

Siapa yang muncul darinya keadaan yang berbeda-beda dalam waktu berdekatan, menurut kebiasaan ia disebut: “berubah-ubah” dan “tidak tetap.”

وَلَعَلَّ الشَّاعِرَ لَمْ يُرِدْ بِهِ إِلَّا نِسْبَةَ مَحْبُوبَةٍ إِلَى التَّلَوُّنِ فِي قَبُولِهِ وَرَدِّهِ وَتَقْرِيبِهِ وَإِبْعَادِهِ.

Bisa jadi penyair tidak memaksudkan selain menisbatkan “kekasih” kepada berubah-ubah: dalam menerima dan menolak, mendekatkan dan menjauhkan.

وَهٰذَا هُوَ الْمَعْنَى.

Inilah maksudnya.

فَسَمَاعُ هٰذَا كَذٰلِكَ فِي حَقِّ اللهِ تَعَالَى كُفْرٌ مَحْضٌ.

Mendengar makna seperti itu lalu menisbatkannya kepada Allah تعالى adalah kekufuran murni.

بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُلَوِّنُ وَلَا يَتَلَوَّنُ.

Bahkan harus diketahui bahwa Allah Mahasuci dan Mahatinggi: Dia “mengubah”, tetapi Dia tidak “berubah.”

وَيُغَيِّرُ وَلَا يَتَغَيَّرُ، بِخِلَافِ عِبَادِهِ.

Dia “mengganti”, tetapi Dia tidak “terganti/berubah”, berbeda dengan hamba-hamba-Nya.

وَذٰلِكَ الْعِلْمُ يَحْصُلُ لِلْمُرِيدِ بِاعْتِقَادٍ تَقْلِيدِيٍّ إِيمَانِيٍّ.

Ilmu ini dimiliki murid melalui keyakinan iman yang bersifat taklid.

وَيَحْصُلُ لِلْعَارِفِ الْبَصِيرِ بِيَقِينٍ كَشْفِيٍّ حَقِيقِيٍّ.

Dan dimiliki oleh orang arif yang tajam pandangannya melalui keyakinan kasyf yang hakiki.

وَذٰلِكَ مِنْ أَعَاجِيبِ أَوْصَافِ الرُّبُوبِيَّةِ.

Ini termasuk keajaiban sifat ketuhanan.

وَهُوَ الْمُغَيِّرُ مِنْ غَيْرِ تَغَيُّرٍ.

Yaitu: Dia mengubah tanpa berubah.

وَلَا يَتَصَوَّرُ ذٰلِكَ إِلَّا فِي حَقِّ اللهِ تَعَالَى.

Itu tidak dapat dibayangkan kecuali pada Allah تعالى.

بَلْ كُلُّ مُغَيِّرٍ سِوَاهُ فَلَا يُغَيِّرُ مَا لَمْ يَتَغَيَّرْ.

Bahkan setiap pengubah selain-Nya tidak akan mengubah kecuali ia sendiri mengalami perubahan.

وَمِنْ أَرْبَابِ الْوَجْدِ مَنْ يَغْلِبُ عَلَيْهِ حَالٌ مِثْلُ السُّكْرِ الْمُدْهِشِ.

Di antara orang-orang yang mengalami wajd, ada yang dikuasai keadaan seperti mabuk yang mempesona.

فَيُطْلِقُ لِسَانَهُ بِالْعِتَابِ مَعَ اللهِ تَعَالَى.

Lalu lisannya terlontar untuk “menegur” Allah تعالى.

وَيَسْتَنْكِرُ اقْتِهَارَهُ لِلْقُلُوبِ وَقِسْمَتَهُ لِلْأَحْوَالِ الشَّرِيفَةِ عَلَى تَفَاوُتٍ.

Dan ia merasa berat dengan penaklukan-Nya terhadap hati, serta pembagian-Nya atas keadaan-keadaan mulia yang bertingkat-tingkat.

فَإِنَّهُ الْمُصْطَفَى لِقُلُوبِ الصِّدِّيقِينَ.

Karena Dia-lah yang memilih hati para shiddiqin.

وَالْمُبْعِدُ لِقُلُوبِ الْجَاحِدِينَ وَالْمَغْرُورِينَ.

Dan Dia-lah yang menjauhkan hati orang-orang ingkar dan tertipu.

فَلَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَى، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعَ.

Tidak ada yang bisa menghalangi apa yang Dia beri, dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Dia cegah.

وَلَمْ يَقْطَعِ التَّوْفِيقَ عَنِ الْكُفَّارِ لِجِنَايَةٍ مُتَقَدِّمَةٍ.

Dia tidak memutus taufik dari orang-orang kafir karena dosa terdahulu yang memaksa-Nya (sebab Allah tidak terikat).

وَلَا أَمَدَّ الْأَنْبِيَاءَ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ بِتَوْفِيقِهِ وَنُورِ هِدَايَتِهِ لِوَسِيلَةٍ سَابِقَةٍ.

Dan Dia tidak menolong para nabi dengan taufik dan cahaya hidayah karena perantara yang mendahului (yang memaksa-Nya).

وَلٰكِنَّهُ قَالَ: ﴿وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ﴾.

Namun Dia berfirman: “Sungguh telah mendahului ketetapan Kami bagi hamba-hamba Kami yang diutus.”

وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ﴾.

Dan Dia عز وجل berfirman: “Akan tetapi telah tetap firman-Ku: Aku pasti akan memenuhi Jahanam dengan jin dan manusia semuanya.”

وَقَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَى أُولٰئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ﴾.

Dan Dia berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang telah mendahului bagi mereka dari Kami kebaikan, mereka itu dijauhkan darinya.”

فَإِنْ خَطَرَ بِبَالِكَ: لِمَ اخْتَلَفَتِ السَّابِقَةُ وَهُمْ فِي رِبْقَةِ الْعُبُودِيَّةِ مُشْتَرِكُونَ؟

Jika terlintas di benakmu: mengapa ketetapan terdahulu berbeda, padahal mereka sama-sama dalam ikatan kehambaan?

نُودِيتَ مِنْ سَرَادِقَاتِ الْجَلَالِ: لَا تُجَاوِزْ حَدَّ الْأَدَبِ.

Maka engkau “dipanggil” dari tabir-tabir keagungan: jangan melampaui batas adab.

فَإِنَّهُ لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ.

Karena Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, sedangkan mereka akan ditanya.

وَلَعَمْرِي، تَأَدُّبُ اللِّسَانِ وَالظَّاهِرِ مِمَّا يَقْدِرُ عَلَيْهِ الْأَكْثَرُونَ.

Demi hidupku, beradabnya lisan dan lahir adalah sesuatu yang mampu dilakukan kebanyakan orang.

فَأَمَّا تَأَدُّبُ السِّرِّ عَنْ إِضْمَارِ الِاسْتِبْعَادِ بِهٰذَا الِاخْتِلَافِ الظَّاهِرِ فِي التَّقْرِيبِ وَالْإِبْعَادِ وَالْإِشْقَاءِ وَالْإِسْعَادِ.

Adapun adab batin untuk tidak menyimpan rasa “menganggap mustahil/keberatan” terhadap perbedaan yang tampak dalam mendekatkan dan menjauhkan, mencelakakan dan membahagiakan,

مَعَ بَقَاءِ السَّعَادَةِ وَالشَّقَاوَةِ أَبَدَ الْآبَادِ.

padahal kebahagiaan dan kesengsaraan kekal untuk selama-lamanya,

فَلَا يَقْوَى عَلَيْهِ إِلَّا الْعُلَمَاءُ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ.

maka tidak sanggup melakukannya kecuali ulama yang kokoh ilmunya.

وَلِهٰذَا قَالَ الْخَضِرُ عَلَيْهِ السَّلَامُ لَمَّا سُئِلَ عَنِ السَّمَاعِ فِي الْمَنَامِ: إِنَّهُ الصَّفْوُ الزُّلَالُ الَّذِي لَا يَثْبُتُ عَلَيْهِ إِلَّا أَقْدَامُ الْعُلَمَاءِ.

Karena itu al-Khadhir عليه السلام ketika ditanya tentang samā‘ dalam mimpi berkata: “Ia adalah kejernihan yang bening, yang tidak tegak di atasnya kecuali kaki para ulama.”

لِأَنَّهُ مُحَرِّكٌ لِأَسْرَارِ الْقُلُوبِ وَمَكَامِنِهَا.

Karena samā‘ menggerakkan rahasia dan tempat tersembunyi hati.

وَمُشَوِّشٌ لَهَا تَشْوِيشَ السُّكْرِ الْمُدْهِشِ.

Dan mengacaukannya seperti kacau karena mabuk yang mempesona.

الَّذِي يَكَادُ يَحُلُّ عُقْدَةَ الْأَدَبِ عَنِ السِّرِّ.

Yang hampir-hampir melepaskan ikatan adab dari batin.

إِلَّا مِمَّنْ عَصَمَهُ اللهُ تَعَالَى بِنُورِ هِدَايَتِهِ وَلَطِيفِ عِصْمَتِهِ.

Kecuali orang yang Allah تعالى jaga dengan cahaya petunjuk-Nya dan kelembutan penjagaan-Nya.

وَلِذٰلِكَ قَالَ بَعْضُهُمْ: لَيْتَنَا نَجَوْنَا مِنْ هٰذَا السَّمَاعِ رَأْسًا بِرَأْسٍ.

Karena itu sebagian berkata: “Andai saja kami selamat dari samā‘ ini tanpa untung dan tanpa rugi.”

فَفِي هٰذَا الْفَنِّ مِنَ السَّمَاعِ خَطَرٌ يَزِيدُ عَلَى خَطَرِ السَّمَاعِ الْمُحَرِّكِ لِلشَّهْوَةِ.

Pada jenis samā‘ ini ada bahaya yang lebih besar daripada bahaya samā‘ yang membangkitkan syahwat.

فَإِنَّ غَايَةَ ذٰلِكَ مَعْصِيَةٌ.

Karena puncak bahaya yang itu adalah maksiat.

وَغَايَةَ الْخَطَإِ هٰهُنَا كُفْرٌ.

Sedangkan puncak kesalahan di sini adalah kufur.

وَاعْلَمْ أَنَّ الْفَهْمَ قَدْ يَخْتَلِفُ بِأَحْوَالِ الْمُسْتَمِعِ.

Ketahuilah bahwa pemahaman dapat berbeda menurut keadaan pendengar.

فَيَغْلِبُ الْوَجْدُ عَلَى مُسْتَمِعَيْنِ لِبَيْتٍ وَاحِدٍ.

Wajd dapat menguasai dua pendengar dari satu bait yang sama.

وَأَحَدُهُمَا مُصِيبٌ فِي الْفَهْمِ وَالْآخَرُ مُخْطِئٌ.

Yang satu benar dalam memahami, yang lain keliru.

أَوْ كِلَاهُمَا مُصِيبَانِ.

Atau keduanya sama-sama benar.

وَقَدْ فَهِمَا مَعْنَيَيْنِ مُخْتَلِفَيْنِ مُتَضَادَّيْنِ.

Dan mereka bisa memahami dua makna yang berbeda dan tampak berlawanan.

وَلٰكِنَّهُ بِالْإِضَافَةِ إِلَى اخْتِلَافِ أَحْوَالِهِمَا لَا يَتَنَاقَضُ.

Namun bila dilihat dari perbedaan keadaan masing-masing, itu tidak bertentangan.

كَمَا حُكِيَ عَنْ عُتْبَةَ الْغُلَامِ أَنَّهُ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ:

سُبْحَانَ جَبَّارِ السَّمَا … إِنَّ الْمُحِبَّ لَفِي عَنَا

Seperti yang dikisahkan tentang ‘Utbah al-Ghulām, bahwa ia mendengar seseorang berkata:

“Maha Suci Penguasa langit … sungguh sang pecinta berada dalam kesengsaraan.”

فَقَالَ: صَدَقْتَ.

Maka ia berkata: “Engkau benar.”

وَسَمِعَهُ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: كَذَبْتَ.

Dan seorang lain mendengarnya lalu berkata: “Engkau berdusta.”

فَقَالَ بَعْضُ ذَوِي الْبَصَائِرِ: أَصَابَا جَمِيعًا، وَهُوَ الْحَقُّ.

Sebagian orang yang punya bashirah berkata: “Keduanya benar, dan itulah kebenaran.”

فَالتَّصْدِيقُ كَلَامُ مُحِبٍّ غَيْرِ مُمَكَّنٍ مِنَ الْمُرَادِ، بَلْ مَصْدُودٌ مُتْعَبٌ بِالصَّدِّ وَالْهَجْرِ.

Membenarkan itu ucapan pecinta yang belum dimampukan mencapai yang diinginkan; bahkan ia tertolak dan letih karena penolakan dan penghindaran.

وَالتَّكْذِيبُ كَلَامُ مُسْتَأْنِسٍ بِالْحُبِّ مُسْتَلَذٍّ لِمَا يُقَاسِيهِ بِسَبَبِ فَرْطِ حُبِّهِ، غَيْرِ مُتَأَثِّرٍ بِهِ.

Sedangkan mendustakan adalah ucapan orang yang merasa akrab dengan cinta, menikmati apa yang ia derita karena cintanya yang meluap, sehingga tidak terganggu olehnya.

أَوْ كَلَامُ مُحِبٍّ غَيْرِ مَصْدُودٍ عَنْ مُرَادِهِ فِي الْحَالِ.

Atau ucapan pecinta yang saat itu tidak sedang terhalang dari yang ia inginkan.

وَلَا مُسْتَشْعِرٍ بِخَطَرِ الصَّدِّ فِي الْمَآلِ.

Dan tidak merasa takut akan bahaya penolakan di masa depan.

وَذٰلِكَ لِاسْتِيلَاءِ الرَّجَاءِ وَحُسْنِ الظَّنِّ عَلَى قَلْبِهِ.

Karena harapan dan prasangka baik menguasai hatinya.

فَبِاخْتِلَافِ هٰذِهِ الْأَحْوَالِ يَخْتَلِفُ الْفَهْمُ.

Dengan perbedaan keadaan ini, pemahaman pun berbeda.

وَحُكِيَ عَنْ أَبِي الْقَاسِمِ بْنِ مَرْوَانَ.

Dikisahkan tentang Abu al-Qasim bin Marwan.

وَكَانَ قَدْ صَحِبَ أَبَا سَعِيدٍ الْخَرَّازَ رَحِمَهُ اللهُ.

Ia pernah menyertai Abu Sa‘id al-Kharrāz رحمه الله.

وَتَرَكَ حُضُورَ السَّمَاعِ سِنِينَ كَثِيرَةً.

Dan ia meninggalkan menghadiri samā‘ bertahun-tahun lamanya.

فَحَضَرَ دَعْوَةً، وَفِيهَا إِنْسَانٌ يَقُولُ:

وَاقِفٌ فِي الْمَاءِ عَطْشَانُ … وَلٰكِنْ لَيْسَ يُسْقَى

Lalu ia menghadiri suatu undangan, dan di sana ada orang yang melantunkan:

“Berdiri di dalam air dalam keadaan haus … namun tidak diberi minum.”

فَقَامَ الْقَوْمُ وَتَوَاجَدُوا.

Orang-orang pun berdiri dan mengalami wajd.

فَلَمَّا سَكَنُوا سَأَلَهُمْ عَنْ مَعْنَى مَا وَقَعَ لَهُمْ مِنْ مَعْنَى الْبَيْتِ.

Ketika mereka tenang, ia bertanya: makna apa yang mereka rasakan dari bait itu?

فَأَشَارُوا إِلَى التَّعَطُّشِ إِلَى الْأَحْوَالِ الشَّرِيفَةِ وَالْحِرْمَانِ مِنْهَا مَعَ حُضُورِ أَسْبَابِهَا.

Mereka mengisyaratkan: dahaga terhadap keadaan-keadaan mulia dan terhalang darinya padahal sebab-sebabnya ada.

فَلَمْ يُقْنِعْهُ ذٰلِكَ.

Namun itu tidak memuaskannya.

فَقَالُوا لَهُ: فَمَاذَا عِنْدَكَ فِيهِ؟

Mereka bertanya: “Lalu apa maknamu tentang itu?”

فَقَالَ: أَنْ يَكُونَ فِي وَسَطِ الْأَحْوَالِ وَيُكْرَمَ بِالْكَرَامَاتِ، وَلَا يُعْطَى مِنْهَا ذَرَّةً.

Ia menjawab: “Yakni seseorang berada di tengah berbagai keadaan, dimuliakan dengan karamah, namun tidak diberi satu zarah pun darinya.”

وَهٰذِهِ إِشَارَةٌ إِلَى إِثْبَاتِ حَقِيقَةٍ وَرَاءَ الْأَحْوَالِ وَالْكَرَامَاتِ.

Ini isyarat bahwa ada hakikat di balik keadaan-keadaan dan karamah.

وَالْأَحْوَالُ سَوَابِقُهَا.

Keadaan-keadaan itu adalah pendahulunya.

وَالْكَرَامَاتُ تَسْنَحُ فِي مَبَادِئِهَا.

Karamah muncul pada awal-awalnya.

وَالْحَقِيقَةُ بَعْدُ لَمْ يَقَعِ الْوُصُولُ إِلَيْهَا.

Sedangkan hakikatnya masih belum sampai.

وَلَا فَرْقَ بَيْنَ الْمَعْنَى الَّذِي فَهِمَهُ وَبَيْنَ مَا ذَكَرُوهُ إِلَّا فِي تَفَاوُتِ رُتْبَةِ الْمُتَعَطِّشِ إِلَيْهِ.

Tidak ada perbedaan antara makna yang ia pahami dan makna mereka, kecuali pada perbedaan tingkat dari apa yang didahagakan.

فَإِنَّ الْمَحْرُومَ عَنِ الْأَحْوَالِ الشَّرِيفَةِ أَوَّلًا يَتَعَطَّشُ إِلَيْهَا.

Orang yang awalnya terhalang dari keadaan mulia akan mendambakannya.

فَإِذَا مُكِّنَ مِنْهَا تَعَطَّشَ إِلَى مَا وَرَاءَهَا.

Jika ia dimampukan meraihnya, ia akan mendamba yang di atasnya.

فَلَيْسَ بَيْنَ الْمَعْنَيَيْنِ اخْتِلَافٌ فِي الْفَهْمِ.

Maka tidak ada perbedaan makna dalam pemahaman.

بَلِ الِاخْتِلَافُ بَيْنَ الرُّتْبَتَيْنِ.

Yang berbeda hanyalah dua tingkatannya.

وَكَانَ الشِّبْلِيُّ رَحِمَهُ اللهُ كَثِيرًا مَا يَتَوَاجَدُ عَلَى هٰذَا الْبَيْتِ:

وِدَادُكُمْ هَجْرٌ وَحُبُّكُمْ قِلًى … وَوَصْلُكُمْ صَرْمٌ وَسِلْمُكُمْ حَرْبُ

Asy-Syiblī رحمه الله sering mengalami wajd pada bait ini:

“Kasih kalian adalah penelantaran, cinta kalian adalah kebencian … hubungan kalian adalah pemutusan, dan damai kalian adalah perang.”

وَهٰذَا الْبَيْتُ يُمْكِنُ سَمَاعُهُ عَلَى وُجُوهٍ مُخْتَلِفَةٍ.

Bait ini dapat didengar dengan beberapa pemahaman yang berbeda.

وَبَعْضُهَا حَقٌّ وَبَعْضُهَا بَاطِلٌ.

Sebagiannya benar, sebagiannya salah.

وَأَظْهَرُهَا أَنْ يُفْهَمَ هٰذَا فِي الْخَلْقِ.

Yang paling jelas: memahaminya tentang makhluk.

بَلْ فِي الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا.

Bahkan tentang dunia seluruhnya.

بَلْ فِي كُلِّ مَا سِوَى اللهِ تَعَالَى.

Bahkan tentang segala selain Allah تعالى.

فَإِنَّ الدُّنْيَا مَكَّارَةٌ خَدَّاعَةٌ قَتَّالَةٌ لِأَرْبَابِهَا.

Karena dunia itu licik, menipu, dan membinasakan para pemiliknya (yang tertipu olehnya).

مُعَادِيَةٌ لَهُمْ فِي الْبَاطِنِ.

Memusuhi mereka di batin.

وَمُظْهِرَةٌ صُورَةَ الْوُدِّ.

Namun menampakkan rupa kasih sayang.

فَمَا امْتَلَأَتْ مِنْهَا دَارُ حِبْرَةٍ إِلَّا امْتَلَأَتْ عَبْرَةً (١).

Tidaklah sebuah rumah penuh tawa karena dunia, kecuali akan penuh tangis. (1)

كَمَا وَرَدَ فِي الْخَبَرِ.

Sebagaimana disebut dalam khabar.

وَكَمَا قَالَ الثَّعْلَبِيُّ فِي وَصْفِ الدُّنْيَا:

تَنَحَّ عَنِ الدُّنْيَا فَلَا تَخْطُبَنَّهَا … وَلَا تَخْطُبَنَّ قَتَّالَةً مَنْ تُنَاكِحُ

Dan sebagaimana ats-Tsa‘labī berkata dalam menggambarkan dunia:

“Menjauhlah dari dunia, janganlah melamarnya … dan jangan melamar pembunuh bagi orang yang menikahinya.”

فَلَيْسَ يَفِي مَرْجُوهَا بِمَخُوفِهَا … وَمَكْرُوهُهَا أَمَا تَأَمَّلْتَ رَاجِحُ

“Yang diharap darinya tidak menandingi yang ditakuti … dan yang dibencinya, tidakkah engkau menimbang mana yang lebih berat?”

لَقَدْ قَالَ فِيهَا الْوَاصِفُونَ فَأَكْثَرُوا … وَعِنْدِي لَهَا وَصْفٌ لَعَمْرِي صَالِحُ

“Para penggambarnya telah banyak berkata … namun aku punya gambaran, demi hidupku, yang tepat.”

سُلَافُ قَصَارَاهَا زُعَافٌ وَمَرْكَبٌ … شَهِيٌّ إِذَا اسْتَذْلَلْتَهُ فَهُوَ جَامِحُ

“Minuman murninya, ujungnya racun; dan tunggangannya … lezat, namun jika kau taklukkan ia malah mengamuk.”

وَشَخْصٌ جَمِيلٌ يُؤْثِرُ النَّاسُ حُسْنَهُ … وَلٰكِنْ لَهُ أَسْرَارُ سُوءٍ قَبَائِحُ

“Dan sosok yang indah, manusia mengutamakan keelokannya … tetapi ia menyimpan rahasia buruk yang menjijikkan.”

وَالْمَعْنَى الثَّانِي: أَنْ يُنَزِّلَهُ عَلَى نَفْسِهِ فِي حَقِّ اللهِ تَعَالَى.

Makna kedua: mengaitkannya pada diri sendiri dalam hubungannya dengan Allah تعالى.

فَإِنَّهُ إِذَا تَفَكَّرَ فَمَعْرِفَتُهُ جَهْلٌ.

Karena jika ia merenung, pengetahuannya terasa sebagai kebodohan.

إِذْ مَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ.

Sebab mereka tidak memuliakan Allah dengan sebenar-benarnya.

وَطَاعَتُهُ رِيَاءٌ.

Dan ketaatannya terasa seperti riya.

إِذْ لَا يَتَّقِي اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Karena ia tidak bertakwa kepada Allah sebenar-benar takwa.

وَحُبُّهُ مَعْلُولٌ.

Dan cintanya bercacat.

إِذْ لَا يَدَعُ شَهْوَةً مِنْ شَهَوَاتِهِ فِي حُبِّهِ.

Karena ia tidak meninggalkan syahwatnya demi cinta itu.

وَمَنْ أَرَادَ اللهُ تَعَالَى بِهِ خَيْرًا بَصَّرَهُ بِعُيُوبِ نَفْسِهِ.

Dan siapa yang Allah تعالى kehendaki kebaikan baginya, Dia bukakan pandangan pada aib dirinya.

فَيَرَى مِصْدَاقَ هٰذَا الْبَيْتِ فِي نَفْسِهِ.

Maka ia melihat kenyataan bait itu pada dirinya.

وَإِنْ كَانَ عَلَى الْمَرْتَبَةِ بِالْإِضَافَةِ إِلَى الْغَافِلِينَ.

Walau ia lebih baik daripada orang lalai.

وَلِذٰلِكَ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ» (٢).

Karena itu Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Aku tidak mampu menghitung pujian bagi-Mu; Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu.” (2)

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ سَبْعِينَ مَرَّةً» (٣).

Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dalam sehari semalam tujuh puluh kali.” (3)

وَإِنَّمَا كَانَ اسْتِغْفَارُهُ عَنْ أَحْوَالٍ هِيَ دَرَجَاتٌ بَعْدَ، بِالْإِضَافَةِ إِلَى مَا بَعْدَهَا.

Istighfar beliau adalah dari keadaan-keadaan yang masih merupakan tingkatan bawah dibanding setelahnya.

وَإِنْ كَانَتْ قُرْبًا بِالْإِضَافَةِ إِلَى مَا قَبْلَهَا.

Walau ia adalah kedekatan dibanding yang lebih rendah sebelumnya.

فَلَا قُرْبَ إِلَّا وَيَبْقَى وَرَاءَهُ قُرْبٌ لَا نِهَايَةَ لَهُ.

Tidak ada kedekatan kecuali masih ada kedekatan lain setelahnya tanpa batas.

إِذْ سَبِيلُ السُّلُوكِ إِلَى اللهِ تَعَالَى غَيْرُ مُتَنَاهٍ.

Karena jalan menuju Allah تعالى tidak berujung.

وَالْوُصُولُ إِلَى أَقْصَى دَرَجَاتِ الْقُرْبِ مُحَالٌ.

Dan mencapai puncak tertinggi kedekatan adalah mustahil.

وَالْمَعْنَى الثَّالِثُ: أَنْ يَنْظُرَ فِي مَبَادِئِ أَحْوَالِهِ فَيَرْتَضِيهَا.

Makna ketiga: ia melihat permulaan keadaannya lalu ia ridai.

ثُمَّ يَنْظُرَ فِي عَوَافِيهَا فَيَزْدَرِيَهَا.

Lalu ia melihat “akhir-akibatnya” lalu merendahkannya.

لِاطِّلَاعِهِ عَلَى خَفَايَا الْغُرُورِ فِيهَا.

Karena ia mengetahui tipu daya tersembunyi di dalamnya.

فَيَرَى ذٰلِكَ مِنَ اللهِ تَعَالَى.

Lalu ia menisbatkan hal itu kepada Allah تعالى.

فَيَسْتَمِعُ الْبَيْتَ فِي حَقِّ اللهِ تَعَالَى شَكَايَةً مِنَ الْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ.

Sehingga ia mendengar bait itu sebagai keluhan terhadap qadha dan qadar pada Allah تعالى.

وَهٰذَا كُفْرٌ، كَمَا سَبَقَ بَيَانُهُ.

Dan ini kufur, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

وَمَا مِنْ بَيْتٍ إِلَّا وَيُمْكِنُ تَنْزِيلُهُ عَلَى مَعَانٍ.

Tidak ada bait syair kecuali dapat diarahkan pada banyak makna.

وَذٰلِكَ بِقَدْرِ غَزَارَةِ عِلْمِ الْمُسْتَمِعِ وَصَفَاءِ قَلْبِهِ.

Itu sesuai keluasan ilmu pendengar dan kejernihan hatinya.