Pengaruh-Pengaruh Sima‘ dan Adab-Adabnya (2)
اَلْحَالَةُ الرَّابِعَةُ: سَمَاعُ مَنْ جَاوَزَ الْأَحْوَالَ وَالْمَقَامَاتِ.
Keadaan keempat: samā‘ (mendengar) bagi orang yang telah
melampaui berbagai keadaan (aḥwāl) dan maqām (tingkatan).
فَعَزَبَ
عَنْ فَهْمِ مَا سِوَى اللَّهِ تَعَالَى.
Sehingga ia tidak lagi memahami selain Allah تعالى.
حَتَّى
عَزَبَ عَنْ نَفْسِهِ وَأَحْوَالِهَا وَمُعَامَلَاتِهَا.
Sampai ia pun “lupa” terhadap dirinya sendiri,
keadaan-keadaannya, dan muamalahnya.
وَكَانَ
كَالْمَدْهُوشِ الْغَائِصِ فِي بَحْرِ عَيْنِ الشُّهُودِ.
Ia menjadi seperti orang terhenyak, tenggelam dalam lautan
“penyaksian langsung”.
الَّذِي
يُضَاهِي حَالُهُ حَالَ النِّسْوَةِ اللَّاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ فِي
مُشَاهَدَةِ جَمَالِ يُوسُفَ عَلَيْهِ السَّلَامُ.
Keadaannya mirip keadaan para wanita yang memotong tangan
mereka ketika menyaksikan ketampanan Yusuf عليه السلام.
حَتَّى
دَهِشْنَ وَسَقَطَ إِحْسَاسُهُنَّ.
Sampai mereka terperanjat dan hilang rasa (tidak sadar)
mereka.
وَعَنْ
مِثْلِ هٰذِهِ الْحَالَةِ تُعَبِّرُ الصُّوفِيَّةُ بِأَنَّهُ قَدْ فَنِيَ عَنْ
نَفْسِهِ.
Tentang keadaan semacam ini, kaum sufi mengungkapkannya
dengan: “ia telah fana dari dirinya.”
وَمَهْمَا
فَنِيَ عَنْ نَفْسِهِ فَهُوَ عَنْ غَيْرِهِ أَفْنَى.
Siapa pun yang fana dari dirinya, maka ia lebih fana lagi
dari selain dirinya.
فَكَأَنَّهُ
فَنِيَ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا عَنِ الْوَاحِدِ الْمَشْهُودِ.
Seakan-akan ia fana dari segala sesuatu kecuali dari Yang
Esa yang disaksikan.
وَفَنِيَ
أَيْضًا عَنِ الشُّهُودِ.
Bahkan ia pun fana dari “kesadaran sedang menyaksikan”.
فَإِنَّ
الْقَلْبَ أَيْضًا إِذَا الْتَفَتَ إِلَى الشُّهُودِ وَإِلَى نَفْسِهِ بِأَنَّهُ
مُشَاهِدٌ فَقَدْ غَفَلَ عَنِ الْمَشْهُودِ.
Karena hati, bila menoleh kepada penyaksian itu dan kepada
dirinya sebagai “sedang menyaksikan”, maka ia telah lalai dari Yang Disaksikan.
فَالْمُسْتَهْتِرُ
بِالْمَرْئِيِّ لَا الْتِفَاتَ لَهُ فِي حَالِ اسْتِغْرَاقِهِ إِلَى رُؤْيَتِهِ.
Orang yang tenggelam dalam apa yang ia lihat, saat tenggelam
itu tidak menoleh kepada apa pun selain penglihatannya.
وَلَا
إِلَى عَيْنِهِ الَّتِي بِهَا رُؤْيَتُهُ.
Tidak pula menoleh kepada matanya yang dengannya ia melihat.
وَلَا
إِلَى قَلْبِهِ الَّذِي بِهِ لَذَّتُهُ.
Dan tidak pula menoleh kepada hatinya yang dengannya ia
merasakan nikmat.
فَالسَّكْرَانُ
لَا خَبَرَ لَهُ مِنْ سُكْرِهِ.
Orang mabuk tidak sadar tentang mabuknya sendiri.
وَالْمُتَلَذِّذُ
لَا خَبَرَ لَهُ مِنْ تَلَذُّذِهِ.
Orang yang sedang menikmati tidak sadar tentang proses
kenikmatannya.
وَإِنَّمَا
خَبَرُهُ مِنَ الْمُتَلَذَّذِ بِهِ فَقَطْ.
Yang ia “sadari” hanya objek yang dinikmatinya saja.
وَمِثَالُهُ
الْعِلْمُ بِالشَّيْءِ.
Contohnya adalah pengetahuan tentang sesuatu.
فَإِنَّهُ
مُغَايِرٌ لِلْعِلْمِ فِي حَقِّ الْمَخْلُوقِ.
Karena “pengetahuan tentang sesuatu” itu berbeda dari
“kesadaran terhadap pengetahuan” pada makhluk.
وَتَطْرَأُ
أَيْضًا فِي حَقِّ الْخَالِقِ.
Dan keadaan semacam ini juga bisa muncul dalam konteks
memandang Sang Pencipta.
وَلٰكِنَّهَا
فِي الْغَالِبِ تَكُونُ كَالْبَرْقِ الْخَاطِفِ الَّذِي لَا يَثْبُتُ وَلَا
يَدُومُ.
Namun biasanya ia seperti kilat yang menyambar: tidak
menetap dan tidak berlangsung lama.
وَإِنْ
دَامَ لَمْ تُطِقْهُ الْقُوَّةُ الْبَشَرِيَّةُ.
Jika ia berlangsung lama, kekuatan manusia tidak sanggup
menanggungnya.
فَرُبَّمَا
اضْطَرَبَتْ تَحْتَ أَعْبَائِهِ اضْطِرَابًا تَهْلِكُ بِهِ نَفْسُهُ.
Bisa jadi seseorang terguncang menanggung bebannya hingga
membinasakan dirinya.
كَمَا
رُوِيَ عَنْ أَبِي الْحَسَنِ النُّورِيِّ أَنَّهُ حَضَرَ مَجْلِسًا فَسَمِعَ هٰذَا
الْبَيْتَ:
مَا
زِلْتُ أَنْزِلُ مِنْ وِدَادِكَ مَنْزِلًا … تَتَحَيَّرُ الْأَلْبَابُ عِنْدَ
نُزُولِهِ
Sebagaimana diriwayatkan tentang Abu al-Hasan an-Nūrī: ia
menghadiri suatu majelis lalu mendengar bait ini:
“Aku terus turun ke satu tempat dalam cintamu … hingga
akal-akal kebingungan ketika turun ke tempat itu.”
فَقَامَ
وَتَوَاجَدَ وَهَامَ عَلَى وَجْهِهِ.
Ia berdiri, mengalami wajd, lalu berjalan tanpa arah.
فَوَقَعَ
فِي أَجَمَةِ قَصَبٍ قَدْ قُطِعَ وَبَقِيَتْ أُصُولُهُ مِثْلَ السُّيُوفِ.
Ia jatuh ke rumpun buluh yang telah dipotong, tetapi sisa
pangkalnya tajam seperti pedang.
فَصَارَ
يَعْدُو فِيهَا وَيُعِيدُ الْبَيْتَ إِلَى الْغَدَاةِ.
Ia pun berlari di dalamnya sambil mengulang-ulang bait itu
sampai pagi.
وَالدَّمُ
يَخْرُجُ مِنْ رِجْلَيْهِ حَتَّى وَرِمَتْ قَدَمَاهُ وَسَاقَاهُ.
Darah mengalir dari kedua kakinya sampai kedua telapak dan
betisnya bengkak.
وَعَاشَ
بَعْدَ ذٰلِكَ أَيَّامًا وَمَاتَ رَحِمَهُ اللَّهُ.
Ia hidup beberapa hari setelah itu, lalu wafat. Semoga Allah
merahmatinya.
فَهٰذِهِ
دَرَجَةُ الصِّدِّيقِينَ فِي الْفَهْمِ وَالْوَجْدِ.
Inilah tingkatan para shiddiqin dalam pemahaman dan wajd.
فَهِيَ
أَعْلَى الدَّرَجَاتِ.
Maka itu adalah tingkatan yang paling tinggi.
لِأَنَّ
السَّمَاعَ عَلَى الْأَحْوَالِ نَازِلٌ عَنْ دَرَجَاتِ الْكَمَالِ.
Karena samā‘ yang masih terkait “aḥwāl” berada di bawah
derajat kesempurnaan.
وَهِيَ
مُمْتَزِجَةٌ بِصِفَاتِ الْبَشَرِيَّةِ.
Sebab ia masih bercampur dengan sifat-sifat kemanusiaan.
وَهُوَ
نَوْعُ قُصُورٍ.
Dan itu adalah satu jenis kekurangan.
وَإِنَّمَا
الْكَمَالُ أَنْ يَفْنَى بِالْكُلِّيَّةِ عَنْ نَفْسِهِ وَأَحْوَالِهِ.
Kesempurnaan adalah fana sepenuhnya dari diri dan
keadaan-keadaannya.
أَعْنِي:
أَنَّهُ يَنْسَاهَا، فَلَا يَبْقَى لَهُ الْتِفَاتٌ إِلَيْهَا.
Maksudnya: ia melupakannya sehingga tidak tersisa perhatian
kepadanya.
كَمَا
لَمْ يَكُنْ لِلنِّسْوَةِ الْتِفَاتٌ إِلَى الْأَيْدِي وَالسَّكَّاكِينِ.
Sebagaimana para wanita itu tidak memperhatikan tangan dan
pisau.
فَيَسْمَعُ
لِلَّهِ، وَبِاللَّهِ، وَفِي اللَّهِ، وَمِنَ اللَّهِ.
Maka ia mendengar: untuk Allah, dengan Allah, dalam (karena)
Allah, dan dari Allah.
وَهٰذِهِ
رُتْبَةُ مَنْ خَاضَ لُجَّةَ الْحَقَائِقِ.
Ini adalah tingkatan orang yang menyelami gelombang hakikat.
وَعَبَرَ
سَاحِلَ الْأَحْوَالِ وَالْأَعْمَالِ.
Dan menyeberangi pantai aḥwāl dan amal-amal.
وَاتَّحَدَ
بِصَفَاءِ التَّوْحِيدِ.
Dan menyatu dengan kejernihan tauhid.
وَتَحَقَّقَ
بِمَحْضِ الْإِخْلَاصِ.
Dan meneguh dengan kemurnian ikhlas.
فَلَمْ
يَبْقَ فِيهِ مِنْهُ شَيْءٌ أَصْلًا.
Sehingga tidak tersisa apa pun dari dirinya.
بَلْ
خَمَدَتْ بِالْكُلِّيَّةِ بَشَرِيَّتُهُ.
Bahkan unsur kemanusiaannya padam sepenuhnya.
وَفَنِيَ
الْتِفَاتُهُ إِلَى صِفَاتِ الْبَشَرِيَّةِ رَأْسًا.
Dan perhatiannya kepada sifat-sifat manusia hilang sama
sekali.
وَلَسْتُ
أَعْنِي بِفَنَائِهِ فَنَاءَ جَسَدِهِ.
Aku tidak bermaksud dengan fana itu lenyapnya jasad.
بَلْ
فَنَاءَ قَلْبِهِ.
Tetapi lenyapnya “hati” (dalam makna batin).
وَلَسْتُ
أَعْنِي بِالْقَلْبِ اللَّحْمَ وَالدَّمَ.
Aku tidak bermaksud hati sebagai daging dan darah.
بَلْ
سِرٌّ لَطِيفٌ لَهُ إِلَى الْقَلْبِ الظَّاهِرِ نِسْبَةٌ خَفِيَّةٌ.
Namun suatu rahasia halus yang memiliki keterkaitan samar
dengan hati lahir.
وَرَاءَهَا
سِرُّ الرُّوحِ الَّذِي هُوَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Di baliknya ada rahasia ruh yang termasuk “urusan Allah” عز وجل.
عَرَفَهَا
مَنْ عَرَفَهَا، وَجَهِلَهَا مَنْ جَهِلَهَا.
Orang yang mengenalnya akan mengenalnya, dan yang tidak
mengenalnya akan tetap tidak tahu.
وَلِذٰلِكَ
السِّرِّ وُجُودٌ.
Dan rahasia itu memiliki “wujud” (keberadaan).
وَصُورَةُ
ذٰلِكَ الْوُجُودِ مَا يَحْضُرُ فِيهِ.
Bentuk wujud itu adalah apa yang hadir di dalamnya.
فَإِذَا
حَضَرَ فِيهِ غَيْرُهُ، فَكَأَنَّهُ لَا وُجُودَ إِلَّا لِلْحَاضِرِ.
Jika selainnya hadir di dalamnya, seakan-akan tidak ada
wujud selain yang hadir itu.
وَمِثَالُهُ
الْمِرْآةُ الْمَجْلُوَّةُ.
Contohnya adalah cermin yang dipoles.
إِذْ
لَيْسَ لَهَا لَوْنٌ فِي نَفْسِهَا.
Karena cermin tidak punya warna pada dirinya.
بَلْ
لَوْنُهَا لَوْنُ الْحَاضِرِ فِيهَا.
Warnanya adalah warna yang hadir di dalamnya.
وَكَذٰلِكَ
الزُّجَاجَةُ.
Demikian pula botol kaca.
فَإِنَّهَا
تَحْكِي لَوْنَ قَرَارِهَا.
Karena ia memantulkan warna isi di dalamnya.
وَلَوْنُهَا
لَوْنُ الْحَاضِرِ فِيهَا.
Dan warnanya adalah warna yang hadir di dalamnya.
وَلَيْسَ
لَهَا فِي نَفْسِهَا صُورَةٌ.
Ia tidak punya bentuk gambaran sendiri.
بَلْ
صُورَتُهَا قَبُولُ الصُّوَرِ.
Namun “bentuknya” adalah kemampuan menerima bentuk.
وَلَوْنُهَا
هُوَ هَيْئَةُ الِاسْتِعْدَادِ لِقَبُولِ الْأَلْوَانِ.
Dan “warnanya” adalah kesiapan untuk menerima warna.
وَيُعَبَّرُ
عَنْ هٰذِهِ الْحَقِيقَةِ، أَعْنِي سِرَّ الْقَلْبِ بِالْإِضَافَةِ إِلَى مَا
يَحْضُرُ فِيهِ، قَوْلُ الشَّاعِرِ:
رَقَّ
الزُّجَاجُ وَرَقَّتِ الْخَمْرُ … فَتَشَابَهَا فَتَشَاكَلَ الْأَمْرُ
فَكَأَنَّمَا
خَمْرٌ وَلَا قَدَحٌ … وَكَأَنَّمَا قَدَحٌ وَلَا خَمْرُ
Hakikat ini—maksudnya rahasia hati terkait apa yang hadir di
dalamnya—diungkapkan oleh penyair:
“Kaca itu bening, khamar pun bening … sehingga keduanya
serupa, perkara pun menjadi serupa.
Seakan-akan hanya khamar tanpa gelas … dan seakan-akan hanya
gelas tanpa khamar.”
وَهٰذَا
مَقَامٌ مِنْ مَقَامَاتِ عُلُومِ الْمُكَاشَفَةِ.
Ini adalah satu maqam dari ilmu kasyf.
مِنْهُ
نَشَأَ خَيَالٌ مَنْ ادَّعَى الْحُلُولَ وَالِاتِّحَادَ.
Darinya muncul khayalan orang yang mengaku hulul dan
ittihad.
وَقَالَ:
أَنَا الْحَقُّ.
Dan ia berkata: “Aku adalah al-Haqq.”
وَحَوْلَهُ
يَدَنْدِنُ كَلَامُ النَّصَارَى فِي دَعْوَى اتِّحَادِ اللَّاهُوتِ بِالنَّاسُوتِ.
Di sekitarnya berputar pula ucapan Nasrani tentang persatuan
ketuhanan dengan kemanusiaan.
أَوْ
تَدَرُّعِهَا بِهَا، أَوْ حُلُولِهَا فِيهَا.
Atau ketuhanan “mengenakan” kemanusiaan, atau “menempati”
kemanusiaan.
عَلَى
مَا اخْتُلِفَ فِيهِمْ عِبَارَاتُهُمْ.
Sesuai perbedaan ungkapan di kalangan mereka.
وَهُوَ
غَلَطٌ مَحْضٌ.
Dan itu adalah kesalahan murni.
يُضَاهِي
غَلَطَ مَنْ يَحْكُمُ عَلَى الْمِرْآةِ بِصُورَةِ الْحُمْرَةِ.
Yang mirip dengan kesalahan orang yang menilai cermin
“berwarna merah” karena ia memantulkan warna merah.
إِذْ
ظَهَرَ فِيهَا لَوْنُ الْحُمْرَةِ مُقَابِلَهَا.
Sebab dalam cermin tampak warna merah yang berada di
depannya.
وَإِذَا
كَانَ هٰذَا لَا غَيْرُ لَائِقٍ بِعِلْمِ الْمُعَامَلَةِ فَلْنَرْجِعْ إِلَى
الْغَرَضِ.
Karena ini bukan ranah yang layak bagi ilmu muamalah, maka
mari kembali kepada tujuan pembahasan.
فَقَدْ
ذَكَرْنَا تَفَاوُتَ الدَّرَجَاتِ فِي فَهْمِ الْمَسْمُوعَاتِ.
Kita telah menjelaskan perbedaan tingkatan dalam memahami
yang didengar.
اَلْمَقَامُ
الثَّانِي بَعْدَ الْفَهْمِ وَالتَّنْزِيلِ: الْوَجْدُ.
Tingkatan kedua setelah pemahaman dan pengaitan adalah wajd.
وَلِلنَّاسِ
كَلَامٌ طَوِيلٌ فِي حَقِيقَةِ الْوَجْدِ.
Orang-orang memiliki pembahasan panjang tentang hakikat
wajd.
أَعْنِي
الصُّوفِيَّةَ وَالْحُكَمَاءَ النَّاظِرِينَ فِي وَجْهِ مُنَاسَبَةِ السَّمَاعِ
لِلْأَرْوَاحِ.
Maksudku: kaum sufi dan para filsuf yang meneliti sisi
kesesuaian samā‘ dengan ruh.
فَلْنَنْقُلْ
مِنْ أَقْوَالِهِمْ أَلْفَاظًا، ثُمَّ لِنَكْشِفْ عَنِ الْحَقِيقَةِ فِيهِ.
Maka mari kita kutip beberapa ucapan mereka, lalu kita
singkap hakikatnya.
أَمَّا
الصُّوفِيَّةُ فَقَدْ قَالَ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي
السَّمَاعِ: إِنَّهُ وَارِدُ حَقٍّ، جَاءَ يُزْعِجُ الْقُلُوبَ إِلَى الْحَقِّ.
Adapun kaum sufi, Dzun Nun al-Mishri رحمه الله berkata tentang
samā‘: “Samā‘ adalah warid (datangan) dari kebenaran, yang datang mengguncang
hati menuju al-Haqq.”
فَمَنْ
أَصْغَى إِلَيْهِ بِحَقٍّ تَحَقَّقَ.
“Siapa menyimaknya dengan benar, ia akan menjadi nyata
(benar-benar sampai).”
وَمَنْ
أَصْغَى إِلَيْهِ بِنَفْسٍ تَزَنْدَقَ.
“Dan siapa menyimaknya dengan nafsu diri, ia menjadi
zindik.”
فَكَأَنَّهُ
عَبَّرَ عَنِ الْوَجْدِ بِانْزِعَاجِ الْقُلُوبِ إِلَى الْحَقِّ.
Seakan-akan beliau mendefinisikan wajd sebagai “guncangnya
hati menuju al-Haqq.”
وَهُوَ
الَّذِي يَجِدُهُ عِنْدَ وُرُودِ وَارِدِ السَّمَاعِ.
Itulah yang ia rasakan ketika warid samā‘ datang.
إِذْ
سَمَّى السَّمَاعَ وَارِدَ حَقٍّ.
Karena beliau menamai samā‘ sebagai warid dari kebenaran.
وَقَالَ
أَبُو الْحُسَيْنِ الدَّرَّاجُ مُخْبِرًا عَمَّا وَجَدَهُ فِي السَّمَاعِ:
الْوَجْدُ عِبَارَةٌ عَمَّا يُوجَدُ عِنْدَ السَّمَاعِ.
Abu al-Husain ad-Darrāj menjelaskan: “Wajd adalah ungkapan
tentang apa yang ditemukan saat samā‘.”
وَقَالَ:
جَالَ بِيَ السَّمَاعُ فِي مَيَادِينِ الْبَهَاءِ.
Ia berkata: “Samā‘ mengembara denganku di lapangan-lapangan
keindahan.”
فَأَوْجَدَنِي
وُجُودَ الْحَقِّ عِنْدَ الْعَطَاءِ.
“Lalu membuatku menemukan wujud al-Haqq saat pemberian.”
فَسَقَانِي
بِكَأْسِ الصَّفَاءِ.
“Lalu ia memberiku minum dengan cawan kejernihan.”
فَأَدْرَكْتُ
بِهِ مَنَازِلَ الرِّضَا.
“Dengan itu aku mencapai kedudukan ridha.”
وَأَخْرَجَنِي
إِلَى رِيَاضِ التَّنَزُّهِ وَالْفَضَاءِ.
“Dan mengeluarkanku ke taman-taman kebebasan dan
kelapangan.”
وَقَالَ
الشِّبْلِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: السَّمَاعُ ظَاهِرُهُ فِتْنَةٌ وَبَاطِنُهُ
عِبْرَةٌ.
Asy-Syiblī رحمه
الله berkata: “Samā‘ lahiriahnya fitnah, batinnya pelajaran.”
فَمَنْ
عَرَفَ الْإِشَارَةَ حَلَّ لَهُ اسْتِمَاعُ الْعِبَارَةِ.
“Siapa memahami isyarat, halal baginya menyimak ungkapan.”
وَإِلَّا
فَقَدِ اسْتَدْعَى الْفِتْنَةَ وَتَعَرَّضَ لِلْبَلِيَّةِ.
“Jika tidak, ia telah mengundang fitnah dan menjerumuskan
diri pada bencana.”
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: السَّمَاعُ غِذَاءُ الْأَرْوَاحِ لِأَهْلِ الْمَعْرِفَةِ.
Sebagian berkata: “Samā‘ adalah makanan ruh bagi ahli
makrifat.”
لِأَنَّهُ
وَصْفٌ يَدِقُّ عَنْ سَائِرِ الْأَعْمَالِ.
Karena ia adalah hal yang sangat halus, melebihi amal-amal
lain.
وَيُدْرَكُ
بِرِقَّةِ الطَّبْعِ لِرِقَّتِهِ.
Dan ditangkap dengan kelembutan tabiat, karena sifatnya yang
lembut.
وَبِصَفَاءِ
السِّرِّ لِصَفَائِهِ وَلُطْفِهِ عِنْدَ أَهْلِهِ.
Dan dengan kejernihan batin, karena kejernihan dan
kelembutannya pada orang yang pantas.
وَقَالَ
عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ الْمَكِّيُّ: لَا يَقَعُ عَلَى كَيْفِيَّةِ الْوَجْدِ
عِبَارَةٌ.
‘Amr bin ‘Utsmān al-Makkī berkata: “Tidak ada ungkapan yang
tepat untuk menggambarkan bagaimana wajd itu.”
لِأَنَّهُ
سِرُّ اللَّهِ عِنْدَ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ الْمُوقِنِينَ.
Karena ia adalah rahasia Allah pada hamba-hamba-Nya yang
beriman dan yakin.
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: الْوَجْدُ مُكَاشَفَاتٌ مِنَ الْحَقِّ.
Sebagian berkata: “Wajd adalah kasyf-kasyf dari al-Haqq.”
وَقَالَ
أَبُو سَعِيدٍ بْنُ الْأَعْرَابِيِّ: الْوَجْدُ رَفْعُ الْحِجَابِ.
Abu Sa‘id bin al-A‘rābī berkata: “Wajd adalah terangkatnya
hijab.”
وَمُشَاهَدَةُ
الرَّقِيبِ.
Dan menyaksikan pengawas.
وَحُضُورُ
الْفَهْمِ.
Dan hadirnya pemahaman.
وَمُلَاحَظَةُ
الْغَيْبِ.
Dan memperhatikan yang gaib.
وَمُحَادَثَةُ
السِّرِّ.
Dan percakapan rahasia batin.
وَإِينَاسُ
الْمَفْقُودِ.
Dan terhiburnya sesuatu yang dahulu hilang.
وَهُوَ
فَنَاؤُكَ مِنْ حَيْثُ أَنْتَ.
Dan itu adalah fana-mu dari sisi “dirimu sebagai dirimu.”
وَقَالَ
أَيْضًا: الْوَجْدُ أَوَّلُ دَرَجَاتِ الْخُصُوصِ.
Ia juga berkata: “Wajd adalah tingkat pertama kekhususan.”
وَهُوَ
مِيرَاثُ التَّصْدِيقِ بِالْغَيْبِ.
Dan ia adalah warisan dari pembenaran terhadap yang gaib.
فَلَمَّا
ذَاقُوهُ وَسَطَعَ فِي قُلُوبِهِمْ نُورُهُ زَالَ عَنْهُمْ كُلُّ شَكٍّ وَرَيْبٍ.
Ketika mereka merasakannya, dan cahayanya menyala di hati
mereka, hilanglah seluruh keraguan dan kebimbangan.
وَقَالَ
أَيْضًا: الَّذِي يَحْجُبُ عَنِ الْوَجْدِ رُؤْيَةُ آثَارِ النَّفْسِ
وَالتَّعَلُّقُ بِالْعَلَائِقِ وَالْأَسْبَابِ.
Ia juga berkata: yang menghalangi wajd adalah melihat jejak
nafsu dan bergantung pada keterikatan-keterikatan serta sebab-sebab.
لِأَنَّ
النَّفْسَ مَحْجُوبَةٌ بِأَسْبَابِهَا.
Karena nafsu terhijab oleh sebab-sebabnya.
فَإِذَا
انْقَطَعَتِ الْأَسْبَابُ وَخَلَصَ الذِّكْرُ.
Jika sebab-sebab terputus dan dzikir menjadi murni,
وَصَحَا
الْقَلْبُ وَرَقَّ وَصَفَا.
dan hati sadar, lembut, serta jernih,
وَنَجَحَتِ
الْمَوْعِظَةُ فِيهِ.
dan nasihat berbekas di dalamnya,
وَحَلَّ
مِنَ الْمُنَاجَاةِ فِي مَحَلٍّ قَرِيبٍ.
dan ia sampai pada tempat munajat yang dekat,
وَخُوطِبَ
وَسَمِعَ الْخِطَابَ بِأُذُنٍ وَاعِيَةٍ وَقَلْبٍ شَاهِدٍ وَسِرٍّ ظَاهِرٍ.
dan ia diajak bicara, serta mendengar seruan dengan telinga
yang sadar, hati yang menyaksikan, dan batin yang tampak,
فَشَاهَدَ
مَا كَانَ مِنْهُ خَالِيًا.
maka ia menyaksikan apa yang dahulu hatinya kosong darinya,
فَذٰلِكَ
هُوَ الْوَجْدُ.
maka itulah wajd.
لِأَنَّهُ
قَدْ وَجَدَ مَا كَانَ مَعْدُومًا عِنْدَهُ.
Karena ia telah menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak ada
baginya.
وَقَالَ
أَيْضًا: الْوَجْدُ مَا يَكُونُ عِنْدَ ذِكْرٍ مُزْعِجٍ أَوْ خَوْفٍ مُقْلِقٍ.
Ia juga berkata: wajd terjadi ketika ada dzikir yang
mengguncang, atau takut yang menggelisahkan,
أَوْ
تَوْبِيخٍ عَلَى زَلَّةٍ.
atau teguran atas kesalahan,
أَوْ
مُحَادَثَةٍ بِلَطِيفَةٍ.
atau bisikan lembut,
أَوْ
إِشَارَةٍ إِلَى فَائِدَةٍ.
atau isyarat pada suatu faedah,
أَوْ
شَوْقٍ إِلَى غَائِبٍ.
atau rindu kepada yang jauh,
أَوْ
أَسَفٍ عَلَى فَائِتٍ.
atau penyesalan atas yang luput,
أَوْ
نَدَمٍ عَلَى مَاضٍ.
atau sesal atas masa lalu,
أَوِ
اسْتِجْلَابٍ إِلَى حَالٍ.
atau tarikan menuju suatu keadaan,
أَوْ
دَاعٍ إِلَى وَاجِبٍ.
atau panggilan menuju kewajiban,
أَوْ
مُنَاجَاةٍ بِسِرٍّ.
atau munajat dengan rahasia,
وَهُوَ
مُقَابَلَةُ الظَّاهِرِ بِالظَّاهِرِ، وَالْبَاطِنِ بِالْبَاطِنِ.
dan itu adalah berhadapan lahir dengan lahir, batin dengan
batin,
وَالْغَيْبِ
بِالْغَيْبِ، وَالسِّرِّ بِالسِّرِّ.
gaib dengan gaib, dan rahasia dengan rahasia.
وَاسْتِخْرَاجُ
مَالَكَ بِمَا عَلَيْكَ.
Serta mengeluarkan “milikmu” dengan “kewajibanmu”.
مِمَّا
سَبَقَ لِلسَّعْيِ فِيهِ.
Dari sesuatu yang telah didahulukan untuk diupayakan.
فَيُكْتَبُ
ذٰلِكَ لَكَ بَعْدَ كَوْنِهِ مِنْكَ.
Maka dicatat itu bagimu setelah ia terjadi darimu.
فَيَثْبُتُ
لَكَ قَدَمٌ بِلا قَدَمٍ.
Lalu tetap bagimu “langkah” tanpa langkah.
وَذِكْرٌ
بِلا ذِكْرٍ.
Dan “dzikir” tanpa dzikir.
إِذْ
كَانَ هُوَ الْمُبْتَدِئَ بِالنِّعَمِ وَالْمُتَوَلِّيَ.
Karena Dia-lah yang memulai nikmat dan mengurus.
وَإِلَيْهِ
يَرْجِعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ.
Dan kepada-Nya kembali segala urusan.
فَهٰذَا
ظَاهِرُ عِلْمِ الْوَجْدِ.
Inilah gambaran lahir ilmu wajd.
وَأَقْوَالُ
الصُّوفِيَّةِ مِنْ هٰذَا الْجِنْسِ فِي الْوَجْدِ كَثِيرَةٌ.
Ucapan kaum sufi tentang wajd dari jenis ini sangat banyak.
وَأَمَّا
الْحُكَمَاءُ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: فِي الْقَلْبِ فَضِيلَةٌ شَرِيفَةٌ لَمْ
تَقْدِرْ قُوَّةُ النُّطْقِ عَلَى إِخْرَاجِهَا بِاللَّفْظِ.
Adapun para filsuf, sebagian berkata: “Di dalam hati ada
keutamaan mulia yang kekuatan bicara tidak sanggup mengeluarkannya dengan
lafaz.”
فَأَخْرَجَتْهَا
النَّفْسُ بِالْأَلْحَانِ.
“Maka jiwa mengeluarkannya dengan lagu.”
فَلَمَّا
ظَهَرَتْ سَرَتْ وَطَرِبَتْ إِلَيْهَا.
“Ketika ia tampak, jiwa bergerak dan bergembira dengannya.”
فَاسْتَمَعُوا
مِنَ النَّفْسِ وَنَاجَوْهَا.
“Maka mereka mendengar dari jiwa dan berbicara batin
dengannya.”
وَدَعُوا
مُنَاجَاةَ الظَّوَاهِرِ.
“Dan mereka meninggalkan percakapan lahir.”
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: نَتَائِجُ السَّمَاعِ اسْتِنْهَاضُ الْعَاجِزِ مِنَ الرَّأْيِ.
Sebagian berkata: “Hasil samā‘ adalah membangkitkan tekad
yang lemah dalam pendapat.”
وَاسْتِجْلَابُ
الْعَازِبِ مِنَ الْأَفْكَارِ.
Dan menghadirkan pikiran yang jauh.
وَحِدَّةُ
الْكَالِّ مِنَ الْأَفْهَامِ وَالْآرَاءِ.
Dan menajamkan pemahaman dan pendapat yang tumpul.
حَتَّى
يَثُوبَ مَا عَزَبَ، وَيَنْهَضَ مَا عَجَزَ.
Sampai yang jauh kembali dan yang lemah bangkit.
وَيَصْفُوَ
مَا كَدِرَ.
Dan yang keruh menjadi jernih.
وَيَمْرَحَ
فِي كُلِّ رَأْيٍ وَنِيَّةٍ.
Dan bergerak lincah pada setiap pendapat dan niat.
فَيُصِيبَ
وَلَا يُخْطِئَ.
Sehingga tepat dan tidak keliru.
وَيَأْتِيَ
وَلَا يُبْطِئَ.
Dan datang tanpa lambat.
وَقَالَ
آخَرُ: كَمَا إِنَّ الْفِكْرَ يَطْرُقُ الْعِلْمَ إِلَى الْمَعْلُومِ،
فَالسَّمَاعُ يَطْرُقُ الْقَلْبَ إِلَى الْعَالَمِ الرُّوحَانِيِّ.
Yang lain berkata: “Sebagaimana pikiran mengetuk pengetahuan
menuju yang diketahui, samā‘ mengetuk hati menuju alam ruhani.”
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ، وَقَدْ سُئِلَ عَنْ سَبَبِ حَرَكَةِ الْأَطْرَافِ بِالطَّبْعِ عَلَى
وَزْنِ الْأَلْحَانِ وَالْإِيقَاعَاتِ: ذٰلِكَ عِشْقٌ عَقْلِيٌّ.
Sebagian berkata—ketika ditanya sebab anggota badan bergerak
secara naluri mengikuti irama lagu dan ritme—“Itu adalah cinta yang bersifat
akal.”
وَالْعَاشِقُ
الْعَقْلِيُّ لَا يَحْتَاجُ إِلَى أَنْ يُنَاغِيَ مَعْشُوقَهُ بِالْمَنْطِقِ
الْجِرْمِيِّ.
“Pecinta akali tidak butuh merayu kekasihnya dengan ucapan
jasmani.”
بَلْ
يُنَاغِيهِ وَيُنَاجِيهِ بِالتَّبَسُّمِ وَاللَّحْظِ.
“Namun ia merayu dan bermunajat dengan senyum dan lirikan.”
وَالْحَرَكَةِ
اللَّطِيفَةِ بِالْحَاجِبِ وَالْجَفْنِ وَالْإِشَارَةِ.
“Dan dengan gerakan halus pada alis, kelopak mata, dan
isyarat.”
وَهٰذِهِ
نَوَاطِقُ أَجْمَعُ، إِلَّا أَنَّهَا رُوحَانِيَّةٌ.
“Semua itu adalah ‘bahasa’ juga, hanya saja bersifat
ruhani.”
وَأَمَّا
الْعَاشِقُ الْبَهِيمِيُّ فَإِنَّهُ يَسْتَعْمِلُ الْمَنْطِقَ الْجِرْمِيَّ.
“Adapun pecinta hewani, ia memakai ucapan jasmani.”
لِيُعَبِّرَ
بِهِ عَنْ ثَمَرَةِ ظَاهِرِ شَوْقِهِ الضَّعِيفِ وَعِشْقِهِ الزَّائِفِ.
“Agar ia mengekspresikan hasil lahir rindunya yang lemah dan
cintanya yang palsu.”
وَقَالَ
آخَرُ: مَنْ حَزِنَ فَلْيَسْمَعِ الْأَلْحَانَ.
Yang lain berkata: “Siapa bersedih, hendaklah ia mendengar
lagu.”
فَإِنَّ
النَّفْسَ إِذَا دَخَلَهَا الْحُزْنُ خَمَدَ نُورُهَا.
Karena jiwa bila dimasuki sedih, cahayanya redup.
وَإِذَا
فَرِحَتِ اشْتَعَلَ نُورُهَا وَظَهَرَ فَرَحُهَا.
Dan bila gembira, cahayanya menyala dan kegembiraannya
tampak.
فَيَظْهَرُ
الْحَنِينُ بِقَدْرِ قَبُولِ الْقَابِلِ.
Maka kerinduan tampak sesuai daya terima penerimanya.
وَذٰلِكَ
بِقَدْرِ صَفَائِهِ وَنَقَائِهِ مِنَ الْغِشِّ وَالدَّنَسِ.
Itu sesuai kejernihan dan kebersihannya dari kotoran dan
noda.
وَالْأَقَاوِيلُ
الْمُقَرَّرَةُ فِي السَّمَاعِ وَالْوَجْدِ كَثِيرَةٌ.
Ucapan-ucapan yang membahas samā‘ dan wajd sangat banyak.
وَلَا
مَعْنَى لِلِاسْتِكْثَارِ مِنْ إِيرَادِهَا.
Tidak ada gunanya memperbanyak mengutipnya.
فَلْنَشْتَغِلْ
بِتَفْهِيمِ الْمَعْنَى الَّذِي الْوَجْدُ عِبَارَةٌ عَنْهُ.
Maka mari kita fokus menjelaskan makna yang disebut “wajd”.
فَنَقُولُ:
إِنَّهُ عِبَارَةٌ عَنْ حَالَةٍ يُثْمِرُهَا السَّمَاعُ.
Kami katakan: wajd adalah suatu keadaan yang dihasilkan oleh
samā‘.
وَهُوَ
وَارِدُ حَقٍّ جَدِيدٌ عَقِيبَ السَّمَاعِ.
Ia adalah “warid” baru dari kebenaran yang datang setelah
samā‘.
يَجِدُهُ
الْمُسْتَمِعُ مِنْ نَفْسِهِ.
Yang dirasakan pendengar dalam dirinya.
وَتِلْكَ
الْحَالَةُ لَا تَخْلُو عَنْ قِسْمَيْنِ.
Keadaan itu tidak lepas dari dua bagian.
فَإِمَّا
أَنْ تَرْجِعَ إِلَى مُكَاشَفَاتٍ وَمُشَاهَدَاتٍ.
Bisa jadi kembali kepada kasyf dan musyahadah.
هِيَ
مِنْ قَبِيلِ الْعُلُومِ وَالتَّنْبِيهَاتِ.
Yang termasuk jenis pengetahuan dan pencerahan.
وَإِمَّا
أَنْ تَرْجِعَ إِلَى تَغَيُّرَاتٍ وَأَحْوَالٍ لَيْسَتْ مِنَ الْعُلُومِ.
Atau kembali kepada perubahan dan keadaan-keadaan yang bukan
ilmu.
بَلْ
هِيَ كَالشَّوْقِ وَالْخَوْفِ وَالْحُزْنِ وَالْقَلَقِ.
Namun seperti rindu, takut, sedih, dan gelisah.
وَالسُّرُورِ
وَالْأَسَفِ وَالنَّدَمِ وَالْبَسْطِ وَالْقَبْضِ.
Dan gembira, sesal, penyesalan, lapang, dan sempit.
وَهٰذِهِ
الْأَحْوَالُ يُهَيِّجُهَا السَّمَاعُ وَيُقَوِّيهَا.
Keadaan-keadaan ini dibangkitkan dan dikuatkan oleh samā‘.
فَإِنْ
ضَعُفَ بِحَيْثُ لَمْ يُؤَثِّرْ فِي تَحْرِيكِ الظَّاهِرِ أَوْ تَسْكِينِهِ.
Jika pengaruhnya lemah sehingga tidak memengaruhi gerak
lahir atau ketenangannya,
أَوْ
تَغْيِيرِ حَالِهِ حَتَّى يَتَحَرَّكَ عَلَى خِلَافِ عَادَتِهِ.
atau tidak mengubah keadaannya sampai ia bergerak di luar
kebiasaan,
أَوْ
يَطْرُقَ أَوْ يَسْكُنَ عَنِ النَّظَرِ وَالنُّطْقِ وَالْحَرَكَةِ عَلَى خِلَافِ
عَادَتِهِ.
atau sampai ia menunduk atau terdiam dari melihat,
berbicara, dan bergerak di luar kebiasaan,
لَمْ
يُسَمَّ وَجْدًا.
maka itu tidak disebut wajd.
وَإِنْ
ظَهَرَ عَلَى الظَّاهِرِ سُمِّيَ وَجْدًا.
Jika tampak pada lahir, maka disebut wajd.
إِمَّا
ضَعِيفًا وَإِمَّا قَوِيًّا بِحَسَبِ ظُهُورِهِ.
Bisa lemah, bisa kuat, sesuai kadar tampaknya.
وَتَغْيِيرِهِ
لِلظَّاهِرِ وَتَحْرِيكِهِ.
Dan sesuai kadar mengubah serta menggerakkan lahir.
بِحَسَبِ
قُوَّةِ وُرُودِهِ.
Sesuai kuatnya “warid” yang datang.
وَحِفْظِ
الظَّاهِرِ عَنِ التَّغْيِيرِ بِحَسَبِ قُوَّةِ الْوَاجِدِ.
Dan tertahannya lahir dari perubahan sesuai kekuatan orang
yang mengalami wajd.
وَقَدْرَتِهِ
عَلَى ضَبْطِ جَوَارِحِهِ.
Dan kemampuannya mengendalikan anggota badannya.
فَقَدْ
يَقْوَى الْوَجْدُ فِي الْبَاطِنِ وَلَا يَتَغَيَّرُ الظَّاهِرُ لِقُوَّةِ
صَاحِبِهِ.
Wajd bisa sangat kuat di batin namun lahir tidak berubah
karena kuatnya orang tersebut.
وَقَدْ
لَا يَظْهَرُ لِضَعْفِ الْوَارِدِ وَقُصُورِهِ عَنِ التَّحْرِيكِ وَحَلِّ عُقْدَةِ
التَّمَاسُكِ.
Dan bisa jadi tidak tampak karena lemahnya warid yang datang
sehingga tidak mampu menggerakkan dan mengurai simpul kekokohan.
وَإِلَى
مَعْنَى الْأَوَّلِ أَشَارَ أَبُو سَعِيدِ بْنُ الْأَعْرَابِيِّ حَيْثُ قَالَ فِي
الْوَجْدِ: إِنَّهُ مُشَاهَدَةُ الرَّقِيبِ وَحُضُورُ الْفَهْمِ وَمُلَاحَظَةُ
الْغَيْبِ.
Kepada makna pertama inilah Abu Sa‘id bin al-A‘rābī
mengisyaratkan ketika berkata: wajd adalah menyaksikan pengawas, hadirnya
pemahaman, dan memperhatikan yang gaib.
وَلَا
يَبْعُدُ أَنْ يَكُونَ السَّمَاعُ سَبَبًا لِكَشْفِ مَا لَمْ يَكُنْ مَكْشُوفًا
قَبْلَهُ.
Tidak jauh kemungkinan bahwa samā‘ menjadi sebab
tersingkapnya sesuatu yang sebelumnya belum tersingkap.
فَإِنَّ
الْكَشْفَ يَحْصُلُ بِأَسْبَابٍ.
Karena kasyf terjadi melalui sebab-sebab.
مِنْهَا
التَّنْبِيهُ، وَالسَّمَاعُ مُنَبِّهٌ.
Di antaranya: pencerahan; dan samā‘ adalah pencerah.
وَمِنْهَا
تَغَيُّرُ الْأَحْوَالِ وَمُشَاهَدَتُهَا وَإِدْرَاكُهَا.
Dan di antaranya: perubahan keadaan, menyaksikannya, dan
menangkapnya.
فَإِنَّ
إِدْرَاكَهَا نَوْعُ عِلْمٍ يُفِيدُ إِيضَاحَ أُمُورٍ لَمْ تَكُنْ مَعْلُومَةً
قَبْلَ الْوُرُودِ.
Karena menangkapnya adalah jenis pengetahuan yang
menjelaskan hal-hal yang sebelumnya belum diketahui sebelum warid datang.
وَمِنْهَا
صَفَاءُ الْقَلْبِ.
Dan di antaranya: kejernihan hati.
وَالسَّمَاعُ
يُؤَثِّرُ فِي تَصْفِيَةِ الْقَلْبِ.
Samā‘ berpengaruh dalam menjernihkan hati.
وَالصَّفَاءُ
يُسَبِّبُ الْكَشْفَ.
Kejernihan menyebabkan kasyf.
وَمِنْهَا
انْبِعَاثُ نَشَاطِ الْقَلْبِ بِقُوَّةِ السَّمَاعِ.
Dan di antaranya: bangkitnya semangat hati karena kuatnya
samā‘.
فَيَقْوَى
بِهِ عَلَى مُشَاهَدَةِ مَا كَانَ تَقْصُرُ عَنْهُ قَبْلَ ذٰلِكَ قُوَّتُهُ.
Sehingga dengan itu hati menjadi kuat menyaksikan sesuatu
yang sebelumnya tidak sanggup disaksikan.
كَمَا
يَقْوَى الْبَعِيرُ عَلَى حَمْلِ مَا كَانَ لَا يَقْوَى عَلَيْهِ قَبْلَهُ.
Seperti unta menjadi kuat memikul sesuatu yang sebelumnya
tidak sanggup dipikul.
وَعَمَلُ
الْقَلْبِ الِاسْتِكْشَافُ وَمُلَاحَظَةُ أَسْرَارِ الْمَلَكُوتِ.
Pekerjaan hati adalah menyingkap dan memperhatikan rahasia
alam malakut.
كَمَا
أَنَّ عَمَلَ الْبَعِيرِ حَمْلُ الْأَثْقَالِ.
Sebagaimana pekerjaan unta adalah memikul beban.
فَبِوَاسِطَةِ
هٰذِهِ الْأَسْبَابِ يَكُونُ سَبَبًا لِلْكَشْفِ.
Dengan perantara sebab-sebab ini, samā‘ bisa menjadi sebab
kasyf.
بَلِ
الْقَلْبُ إِذَا صَفَا رُبَّمَا يُمَثَّلُ لَهُ الْحَقُّ فِي صُورَةٍ مُشَاهَدَةٍ.
Bahkan jika hati jernih, boleh jadi al-Haqq terbayang
baginya dalam bentuk yang “terlihat”.
أَوْ
فِي لَفْظٍ مَنْظُومٍ يَقْرَعُ سَمْعَهُ.
Atau dalam lafaz berirama yang mengetuk pendengarannya.
يُعَبَّرُ
عَنْهُ بِصَوْتِ الْهَاتِفِ إِذَا كَانَ فِي الْيَقَظَةِ.
Ini disebut “suara panggilan gaib” bila terjadi saat
terjaga.
وَبِالرُّؤْيَا
إِذَا كَانَ فِي الْمَنَامِ.
Dan disebut “mimpi” bila terjadi saat tidur.
وَذٰلِكَ
جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ.
Dan itu adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian
kenabian.
وَعِلْمُ
تَحْقِيقِ ذٰلِكَ خَارِجٌ عَنْ عِلْمِ الْمُعَامَلَةِ.
Ilmu untuk meneliti hal itu berada di luar ilmu muamalah.
وَذٰلِكَ
كَمَا رُوِيَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مَسْرُوقٍ الْبَغْدَادِيِّ أَنَّهُ قَالَ:
خَرَجْتُ لَيْلَةً فِي أَيَّامِ جَهَالَتِي وَأَنَا نَشْوَانُ.
Sebagaimana diriwayatkan dari Muhammad bin Masruq
al-Baghdadi bahwa ia berkata: “Suatu malam, pada masa kebodohanku, aku keluar
dalam keadaan mabuk.”
وَكُنْتُ
أُغَنِّي هٰذَا الْبَيْتَ:
بِطُورِ
سَيْنَاءَ كَرَمٌ مَا مَرَرْتُ بِهِ … إِلَّا تَعَجَّبْتُ مِمَّنْ يَشْرَبُ
الْمَاءَ
Dan aku bernyanyi dengan bait ini:
“Di bukit Sinai ada kemuliaan; setiap kali aku melewatinya …
aku heran kepada orang yang masih minum air (biasa).”
فَسَمِعْتُ
قَائِلًا يَقُولُ:
وَفِي
جَهَنَّمَ مَاءٌ مَا تَجَرَّعَهُ … خَلْقٌ فَأَبْقَى لَهُ فِي الْجَوْفِ أَمْعَاءَ
Lalu aku mendengar suara berkata:
“Di Jahanam ada air; tak ada makhluk meneguknya … kecuali ia
menyisakan usus di perutnya.”
قَالَ:
فَكَانَ ذٰلِكَ سَبَبَ تَوْبَتِي وَاشْتِغَالِي بِالْعِلْمِ وَالْعِبَادَةِ.
Ia berkata: “Itulah sebab tobatku dan kesungguhanku dalam
ilmu dan ibadah.”
فَانْظُرْ
كَيْفَ أَثَّرَ الْغِنَاءُ فِي تَصْفِيَةِ قَلْبِهِ.
Perhatikan bagaimana nyanyian berpengaruh menjernihkan
hatinya.
حَتَّى
تَمَثَّلَ لَهُ حَقِيقَةُ الْحَقِّ فِي صِفَةِ جَهَنَّمَ فِي لَفْظٍ مَفْهُومٍ
مَوْزُونٍ.
Sampai hakikat kebenaran terbayang baginya tentang Jahanam
dalam lafaz yang dipahami dan berirama.
وَقَرَعَ
ذٰلِكَ سَمْعَهُ الظَّاهِرَ.
Dan itu mengetuk telinga lahiriahnya.
وَرُوِيَ
عَنْ مُسْلِمٍ الْعَبَّادَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ: قَدِمَ عَلَيْنَا صَالِحُ
الْمَرِّيُّ وَعُتْبَةُ الْغُلَامُ وَعَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زَيْدٍ وَمُسْلِمٌ
الْأَسْوَارِيُّ.
Diriwayatkan dari Muslim al-‘Abbādānī bahwa ia berkata:
“Salih al-Murrī, ‘Utbah al-Ghulām, ‘Abd al-Wāhid bin Zaid, dan Muslim al-Aswārī
datang kepada kami.”
فَنَزَلُوا
عَلَى السَّاحِلِ.
Mereka singgah di tepi pantai.
قَالَ:
فَهَيَّأْتُ لَهُمْ ذَاتَ لَيْلَةٍ طَعَامًا فَدَعَوْتُهُمْ إِلَيْهِ.
Ia berkata: “Suatu malam aku menyiapkan makanan bagi mereka
lalu mengundang mereka.”
فَجَاءُوا،
فَلَمَّا وَضَعْتُ الطَّعَامَ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ إِذَا بِقَائِلٍ يَقُولُ
رَافِعًا صَوْتَهُ هٰذَا الْبَيْتَ:
وَتُلْهِيكَ
عَنْ دَارِ الْخُلُودِ مَطَاعِمٌ … وَلَذَّةُ نَفْسٍ غَيُّهَا غَيْرُ نَافِعِ
Mereka datang. Ketika aku letakkan makanan di depan mereka,
tiba-tiba ada orang mengangkat suaranya dengan bait ini:
“Makanan-makanan melalaikanmu dari negeri kekekalan … dan
kenikmatan nafsu, kesesatannya tak bermanfaat.”
قَالَ:
فَصَاحَ عُتْبَةُ الْغُلَامُ صَيْحَةً وَخَرَّ مَغْشِيًّا عَلَيْهِ.
Ia berkata: “‘Utbah al-Ghulām berteriak sekali lalu jatuh
pingsan.”
وَبَكَى
الْقَوْمُ.
Orang-orang pun menangis.
فَرَفَعْتُ
الطَّعَامَ.
Aku mengangkat makanan itu.
وَمَا
ذَاقُوا وَاللهِ مِنْهُ لُقْمَةً.
Demi Allah, mereka tidak mencicipinya sedikit pun.
وَكَمَا
يُسْمَعُ صَوْتُ الْهَاتِفِ عِنْدَ صَفَاءِ الْقَلْبِ، يُشَاهَدُ أَيْضًا
بِالْبَصَرِ صُورَةُ الْخَضِرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ.
Sebagaimana suara panggilan gaib dapat terdengar ketika hati
jernih, demikian pula sosok Khadhir عليه السلام dapat terlihat oleh mata.
فَإِنَّهُ
يَتَمَثَّلُ لِأَرْبَابِ الْقُلُوبِ بِصُوَرٍ مُخْتَلِفَةٍ.
Karena ia menampakkan diri kepada pemilik hati dengan rupa
yang berbeda-beda.
وَفِي
مِثْلِ هٰذِهِ الْحَالَةِ تَتَمَثَّلُ الْمَلَائِكَةُ لِلْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ
السَّلَامُ.
Dalam keadaan seperti ini pula malaikat menampakkan diri
kepada para nabi عليهم
السلام.
إِمَّا
عَلَى حَقِيقَةِ صُورَتِهَا.
Bisa dalam rupa aslinya.
وَإِمَّا
عَلَى مِثَالٍ يُحَاكِي صُورَتَهَا بَعْضَ الْمُحَاكَاةِ.
Atau dalam bentuk yang menyerupai rupanya.
وَقَدْ
رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ
السَّلَامُ مَرَّتَيْنِ فِي صُورَتِهِ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم telah melihat Jibril عليه السلام dua kali dalam rupa aslinya.
وَأَخْبَرَ
عَنْهُ بِأَنَّهُ سَدَّ الْأُفُقَ (١).
Dan beliau mengabarkan bahwa Jibril memenuhi ufuk. (1)
وَهُوَ
الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى * ذُو مِرَّةٍ
فَاسْتَوَى * وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى﴾ إِلَى آخِرِ هٰذِهِ الْآيَاتِ.
Itulah maksud firman Allah تعالى: “Diajarkan oleh yang sangat kuat … yang
memiliki keteguhan, lalu ia menampakkan diri … di ufuk yang tinggi,” sampai
akhir ayat-ayat tersebut.
وَفِي
مِثْلِ هٰذِهِ الْأَحْوَالِ مِنَ الصَّفَاءِ يَقَعُ الِاطِّلَاعُ عَلَى ضَمَائِرِ
الْقُلُوبِ.
Dalam keadaan-keadaan kejernihan semacam ini, dapat terjadi
penyingkapan isi hati.
وَقَدْ
يُعَبَّرُ عَنْ ذٰلِكَ الِاطِّلَاعِ بِالتَّفَرُّسِ.
Penyingkapan itu kadang disebut “firāsah” (tata pandang
batin).
وَلِذٰلِكَ
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اتَّقُوا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ
فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُورِ اللهِ» (٢).
Karena itu Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Takutlah pada firasat orang
mukmin, karena ia melihat dengan نور Allah.” (2)
وَقَدْ
حُكِيَ أَنَّ رَجُلًا مِنَ الْمَجُوسِ كَانَ يَدُورُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ
وَيَقُولُ: مَا مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
اتَّقُوا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ؟
Dikisahkan ada seorang Majusi berkeliling menemui kaum
muslimin dan berkata: “Apa makna sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: takutlah pada
firasat orang mukmin?”
فَكَانَ
يُذْكَرُ لَهُ تَفْسِيرُهُ فَلَا يُقْنِعُهُ ذٰلِكَ.
Ia diberi tafsirnya namun tidak puas.
حَتَّى
انْتَهَى إِلَى بَعْضِ الْمَشَايِخِ مِنَ الصُّوفِيَّةِ.
Sampai ia menemui salah seorang syekh sufi.
فَسَأَلَهُ.
Ia bertanya kepadanya.
فَقَالَ
لَهُ: مَعْنَاهُ أَنْ تَقْطَعَ الزُّنَّارَ الَّذِي عَلَى وَسَطِكَ تَحْتَ
ثَوْبِكَ.
Syekh itu berkata: “Maknanya: potonglah zunnār (ikat
pinggang Majusi) yang ada di pinggangmu, di bawah pakaianmu.”
فَقَالَ:
صَدَقْتَ، هٰذَا مَعْنَاهُ.
Ia berkata: “Engkau benar, itulah maknanya.”
وَأَسْلَمَ.
Lalu ia masuk Islam.
وَقَالَ:
الْآنَ عَرَفْتُ أَنَّكَ مُؤْمِنٌ وَأَنَّ إِيمَانَكَ حَقٌّ.
Dan ia berkata: “Sekarang aku tahu engkau mukmin dan imanmu
benar.”
وَكَمَا
حُكِيَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ الْخَوَّاصِّ قَالَ: كُنْتُ بِبَغْدَادَ فِي جَمَاعَةٍ
مِنَ الْفُقَرَاءِ فِي الْجَامِعِ.
Sebagaimana dikisahkan dari Ibrahim al-Khawwāsh, ia berkata:
“Aku berada di Baghdad bersama sekelompok fuqara di masjid jami’.”
فَأَقْبَلَ
شَابٌّ طَيِّبُ الرِّيحِ حَسَنُ الْوَجْهِ.
Lalu datang seorang pemuda yang harum dan tampan.
فَقُلْتُ
لِأَصْحَابِي: يَقَعُ لِي أَنَّهُ يَهُودِيٌّ.
Aku berkata kepada sahabat-sahabatku: “Aku merasa ia seorang
Yahudi.”
فَكُلُّهُمْ
كَرِهُوا ذٰلِكَ.
Mereka semua tidak menyukai ucapan itu.
فَخَرَجْتُ
وَخَرَجَ الشَّابُّ.
Aku keluar dan pemuda itu juga keluar.
ثُمَّ
رَجَعَ إِلَيْهِمْ وَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ قَالَ الشَّيْخُ فِيَّ؟
Lalu ia kembali kepada mereka dan berkata: “Apa yang
dikatakan syekh tentang diriku?”
فَاحْتَشَمُوا
مِنْهُ.
Mereka malu kepadanya.
فَأَلَحَّ
عَلَيْهِمْ.
Ia mendesak mereka.
فَقَالُوا
لَهُ: قَالَ: إِنَّكَ يَهُودِيٌّ.
Mereka berkata: “Ia berkata: engkau Yahudi.”
قَالَ:
فَجَاءَنِي وَأَكَبَّ عَلَى يَدِي وَقَبَّلَ رَأْسِي وَأَسْلَمَ.
Ibrahim berkata: “Lalu ia datang kepadaku, mencium tanganku,
mencium kepalaku, dan masuk Islam.”
وَقَالَ:
نَجِدُ فِي كُتُبِنَا أَنَّ الصِّدِّيقَ لَا تُخْطِئُ فِرَاسَتُهُ.
Ia berkata: “Kami dapati dalam kitab-kitab kami bahwa
firasat seorang shiddiq tidak keliru.”
فَقُلْتُ:
امْتَحِنِ الْمُسْلِمِينَ.
Maka aku berkata: “Ujilah kaum muslimin.”
فَتَأَمَّلْتُهُمْ،
فَقُلْتُ: إِنْ كَانَ فِيهِمْ صِدِّيقٌ فَفِي هٰذِهِ الطَّائِفَةِ.
Ia berkata: “Aku amati mereka, lalu aku berkata: jika di
antara mereka ada shiddiq, tentu ada pada kelompok ini.”
لِأَنَّهُمْ
يَقُولُونَ حَدِيثَهُ سُبْحَانَهُ وَيَقْرَءُونَ كَلَامَهُ.
“Karena mereka menyampaikan hadis Allah (dengan menyebut-Nya
Mahasuci) dan membaca kalam-Nya.”
فَلَبِسْتُ
عَلَيْكُمْ.
“Maka aku pun menyamarkan diri kepada kalian.”
فَلَمَّا
اطَّلَعَ عَلَيَّ الشَّيْخُ وَتَفَرَّسَ فِيَّ عَلِمْتُ أَنَّهُ صِدِّيقٌ.
“Ketika syekh melihatku dan ‘membaca’ diriku, aku tahu ia
shiddiq.”
قَالَ:
وَصَارَ الشَّابُّ مِنْ كِبَارِ الصُّوفِيَّةِ.
Ibrahim berkata: “Dan pemuda itu menjadi salah satu tokoh
besar sufi.”
وَإِلَى
مِثْلِ هٰذَا الْكَشْفِ الْإِشَارَةُ بِقَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: لَوْلَا
أَنَّ الشَّيَاطِينَ يَحُومُونَ عَلَى قُلُوبِ بَنِي آدَمَ لَنَظَرُوا إِلَى
مَلَكُوتِ السَّمَاءِ (٣).
Isyarat kasyf semacam ini terdapat dalam ucapan: “Seandainya
setan tidak berkeliling di sekitar hati anak Adam, niscaya mereka melihat
malakut langit.” (3)
وَإِنَّمَا
يَحُومُ الشَّيَاطِينُ عَلَى الْقُلُوبِ إِذَا كَانَتْ مَشْحُونَةً بِالصِّفَاتِ
الْمَذْمُومَةِ.
Setan hanya mengitari hati bila hati penuh dengan
sifat-sifat tercela.
فَإِنَّهَا
مَرْعَى الشَّيْطَانِ وَجُنْدِهِ.
Karena itu padang gembalaan setan dan pasukannya.
وَمَنْ
خَلَصَ قَلْبُهُ مِنْ تِلْكَ الصِّفَاتِ وَصَفَاهُ لَمْ يَطُفِ الشَّيْطَانُ
حَوْلَ قَلْبِهِ.
Siapa yang memurnikan hatinya dari sifat-sifat itu, setan
tidak mengitari hatinya.
وَإِلَيْهِ
الْإِشَارَةُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ﴾.
Ini isyarat firman Allah تعالى: “Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas
(mukhlashīn).”
وَبِقَوْلِهِ
تَعَالَى: ﴿إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ﴾.
Dan firman-Nya: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak
punya kekuasaan atas mereka.”
وَالسَّمَاعُ
سَبَبٌ لِصَفَاءِ الْقَلْبِ.
Samā‘ adalah sebab kejernihan hati.
وَهُوَ
شَبَكَةٌ لِلْحَقِّ بِوَاسِطَةِ الصَّفَاءِ.
Dan ia adalah “jaring” bagi al-Haqq melalui perantara
kejernihan itu.
وَعَلَى
هٰذَا يَدُلُّ مَا رُوِيَ أَنَّ ذَا النُّونِ الْمِصْرِيَّ رَحِمَهُ اللَّهُ
دَخَلَ بَغْدَادَ.
Ini dikuatkan oleh riwayat: Dzun Nun al-Mishri رحمه الله
masuk Baghdad.
فَاجْتَمَعَ
إِلَيْهِ قَوْمٌ مِنَ الصُّوفِيَّةِ.
Sejumlah sufi berkumpul kepadanya.
وَمَعَهُمْ
قَوَّالٌ.
Dan bersama mereka ada qawwāl (pelantun).
فَاسْتَأْذَنُوهُ
فِي أَنْ يَقُولَ لَهُمْ شَيْئًا.
Mereka meminta izin agar pelantun itu melantunkan sesuatu.
فَأَذِنَ
لَهُمْ فِي ذٰلِكَ.
Beliau mengizinkan.
فَأَنْشَأَ
يَقُولُ:
صَغِيرُ
هَوَاكَ عَذَّبَنِي … فَكَيْفَ بِهِ إِذَا احْتَنَكَا
وَأَنْتَ
جَمَعْتَ فِي قَلْبِي … هَوًى قَدْ كَانَ مُشْتَرَكَا
أَمَا
تَرْثَى لِمُكْتَئِبٍ … إِذَا ضَحِكَ الْخَلِيُّ بَكَى
Pelantun itu mulai melantunkan:
“Cinta kecilmu menyiksaku … maka bagaimana bila ia
menguat?
Padahal engkau telah menghimpun di hatiku … cinta yang
dahulu terbagi-bagi.
Tidakkah engkau mengasihani yang murung … ketika yang bebas
tertawa, ia menangis?”
فَقَامَ
ذُو النُّونِ وَسَقَطَ عَلَى وَجْهِهِ.
Dzun Nun berdiri lalu jatuh tersungkur.
ثُمَّ
قَامَ رَجُلٌ آخَرُ.
Lalu berdiri seorang laki-laki lain.
فَقَالَ
ذُو النُّونِ: الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ.
Dzun Nun berkata: “(Ingat) yang melihatmu ketika engkau
berdiri.”
فَجَلَسَ
ذٰلِكَ الرَّجُلُ.
Maka laki-laki itu duduk.
وَكَانَ
ذٰلِكَ إِطِّلَاعًا مِنْ ذِي النُّونِ عَلَى قَلْبِهِ.
Itu merupakan penyingkapan Dzun Nun terhadap hati orang itu.
أَنَّهُ
مُتَكَلِّفٌ مُتَوَاجِدٌ.
Bahwa ia berpura-pura mengalami wajd.
فَعَرَّفَهُ
أَنَّ الَّذِي يَرَاهُ حِينَ يَقُومُ هُوَ الْخَصْمُ.
Maka beliau memberitahunya bahwa yang melihatnya saat ia
berdiri adalah “lawan/penuntut” (Allah yang akan menghisab).
فِي
قِيَامِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى.
Karena berdirinya bukan karena Allah تعالى.
وَلَوْ
كَانَ الرَّجُلُ صَادِقًا لَمَا جَلَسَ.
Seandainya orang itu jujur (wajd-nya benar), ia tidak akan
duduk.
فَإِذًا
قَدْ رَجَعَ حَاصِلُ الْوَجْدِ إِلَى مُكَاشَفَاتٍ وَإِلَى حَالَاتٍ.
Maka hasil wajd kembali pada dua hal: kasyf dan
keadaan-keadaan (emosi/ruh).
وَاعْلَمْ
أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يَنْقَسِمُ إِلَى مَا يُمْكِنُ التَّعْبِيرُ عَنْهُ
عِنْدَ الْإِفَاقَةِ مِنْهُ.
Ketahuilah bahwa masing-masing dari keduanya terbagi
menjadi: yang bisa diungkapkan setelah sadar,
وَإِلَى
مَا لَا تُمْكِنُ الْعِبَارَةُ عَنْهُ أَصْلًا.
dan yang sama sekali tidak bisa diungkapkan.
وَلَعَلَّكَ
تَسْتَبْعِدُ حَالَةً أَوْ عِلْمًا لَا تَعْلَمُ حَقِيقَتَهُ وَلَا يُمْكِنُ
التَّعْبِيرُ عَنْ حَقِيقَتِهِ.
Mungkin engkau menganggap jauh adanya keadaan atau ilmu yang
tidak engkau ketahui hakikatnya dan tidak bisa diungkapkan hakikatnya.
فَلَا
تَسْتَبْعِدْ ذٰلِكَ.
Janganlah engkau menganggapnya jauh.
فَإِنَّكَ
تَجِدُ فِي أَحْوَالِكَ الْقَرِيبَةِ لِذٰلِكَ شَوَاهِدَ.
Karena dalam keadaanmu yang dekat pun ada contohnya.
أَمَّا
الْعِلْمُ فَكَمْ مِنْ فَقِيهٍ تُعْرَضُ عَلَيْهِ مَسْأَلَتَانِ مُتَشَابِهَتَانِ
فِي الصُّورَةِ.
Adapun ilmu: betapa sering seorang faqih dihadapkan pada dua
masalah yang tampak serupa.
وَيُدْرِكُ
الْفَقِيهُ بِذَوْقِهِ أَنَّ بَيْنَهُمَا فَرْقًا فِي الْحُكْمِ.
Lalu dengan “rasa ilmiah”-nya ia menangkap bahwa di antara
keduanya ada perbedaan hukum.
وَإِذَا
كُلِّفَ ذِكْرَ وَجْهِ الْفَرْقِ لَمْ يُسَاعِدْهُ اللِّسَانُ عَلَى التَّعْبِيرِ.
Ketika diminta menjelaskan sisi perbedaannya, lisannya tidak
membantu mengungkapkan.
وَإِنْ
كَانَ مِنْ أَفْصَحِ النَّاسِ.
Walaupun ia termasuk orang paling fasih.
فَيُدْرِكُ
بِذَوْقِهِ الْفَرْقَ وَلَا يُمْكِنُهُ التَّعْبِيرُ عَنْهُ.
Ia merasakan perbedaan itu namun tak mampu mengungkapkannya.
وَإِدْرَاكُهُ
الْفَرْقَ عِلْمٌ يُصَادِفُهُ فِي قَلْبِهِ بِالذَّوْقِ.
Tertangkapnya perbedaan itu adalah ilmu yang ia temukan di
hati melalui dzauq.
وَلَا
يَشُكُّ فِي أَنَّ لِوُقُوعِهِ فِي قَلْبِهِ سَبَبًا.
Dan ia tidak ragu bahwa ada sebab mengapa itu jatuh ke dalam
hatinya.
وَلَهُ
عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى حَقِيقَةٌ.
Dan di sisi Allah تعالى ia memiliki hakikat.
وَلَا
يُمْكِنُهُ الْإِخْبَارُ عَنْهُ.
Namun ia tidak mampu mengabarkannya.
لَا
لِقُصُورٍ فِي لِسَانِهِ.
Bukan karena lemahnya bahasa.
بَلْ
لِدِقَّةِ الْمَعْنَى فِي نَفْسِهِ عَنْ أَنْ تَنَالَهُ الْعِبَارَةُ.
Melainkan karena maknanya terlalu halus untuk dijangkau
ungkapan.
وَهٰذَا
مِمَّا قَدْ تَفَطَّنَ لَهُ الْمُوَاظِبُونَ عَلَى النَّظَرِ فِي الْمُشْكِلَاتِ.
Hal ini disadari oleh orang yang terbiasa menelaah
masalah-masalah sulit.
وَأَمَّا
الْحَالُ فَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ يُدْرِكُ فِي قَلْبِهِ فِي الْوَقْتِ الَّذِي
يُصْبِحُ فِيهِ قَبْضًا أَوْ بَسْطًا وَلَا يَعْلَمُ سَبَبَهُ.
Adapun keadaan jiwa: betapa sering seseorang merasakan
sempit atau lapang di hatinya, namun tidak tahu sebabnya.
وَقَدْ
يَتَفَكَّرُ إِنْسَانٌ فِي شَيْءٍ فَيُؤَثِّرُ فِي نَفْسِهِ أَثَرًا.
Seseorang bisa memikirkan sesuatu lalu menimbulkan pengaruh
pada dirinya.
فَيَنْسَى
ذٰلِكَ السَّبَبَ.
Lalu ia lupa sebab itu.
وَيَبْقَى
الْأَثَرُ فِي نَفْسِهِ وَهُوَ يُحِسُّ بِهِ.
Namun pengaruhnya tetap ada dan ia merasakannya.
وَقَدْ
تَكُونُ تِلْكَ الْحَالَةُ سُرُورًا ثَبَتَ فِي نَفْسِهِ بِتَفَكُّرِهِ فِي سَبَبٍ
مُوجِبٍ لِلسُّرُورِ، أَوْ حُزْنًا.
Keadaan itu bisa berupa gembira yang tertanam karena
memikirkan sebab yang menggembirakan, atau berupa sedih.
فَيَنْسَى
الْمُتَفَكَّرَ فِيهِ وَيُحِسُّ بِالْأَثَرِ عَقِيبَهُ.
Ia lupa apa yang dipikirkan, namun merasakan efeknya setelah
itu.
وَقَدْ
تَكُونُ تِلْكَ الْحَالَةُ حَالَةً غَرِيبَةً لَا يُعْرَبُ عَنْهَا لَفْظُ
السُّرُورِ وَالْحُزْنِ.
Keadaan itu bisa berupa keadaan yang ganjil, tidak bisa
diungkapkan hanya dengan kata “gembira” atau “sedih”.
وَلَا
يُصَادَفُ لَهَا عِبَارَةٌ مُطَابِقَةٌ مُفْصِحَةٌ عَنِ الْمَقْصُودِ.
Dan tidak ditemukan ungkapan yang benar-benar pas dan
menjelaskan maksudnya.
بَلْ
ذَوْقُ الشِّعْرِ الْمَوْزُونِ وَالْفَرْقُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ غَيْرِ الْمَوْزُونِ
يَخْتَصُّ بِهِ بَعْضُ النَّاسِ دُونَ بَعْضٍ.
Bahkan “rasa” terhadap syair berirama dan perbedaannya
dengan yang tidak berirama hanya dimiliki sebagian orang, tidak semua.
وَهِيَ
حَالَةٌ يُدْرِكُهَا صَاحِبُ الذَّوْقِ بِحَيْثُ لَا يَشُكُّ فِيهَا.
Itu keadaan yang ditangkap oleh orang yang punya dzauq
hingga ia tidak ragu padanya.
أَعْنِي
التَّفْرِقَةَ بَيْنَ الْمَوْزُونِ وَالْمُنْزَحِفِ.
Maksudnya: membedakan yang benar iramanya dan yang “cacat
iramanya” (munzaḥif).
فَلَا
يُمْكِنُهُ التَّعْبِيرُ عَنْهَا بِمَا يَتَّضِحُ مَقْصُودُهُ لِمَنْ لَا ذَوْقَ
لَهُ.
Namun ia tidak dapat menjelaskannya dengan cara yang
dipahami orang yang tidak punya dzauq.
وَفِي
النَّفْسِ أَحْوَالٌ غَرِيبَةٌ هٰذَا وَصْفُهَا.
Dalam jiwa ada keadaan-keadaan ganjil seperti itu.
بَلِ
الْمَعَانِي الْمَشْهُورَةُ مِنَ الْخَوْفِ وَالْحُزْنِ وَالسُّرُورِ إِنَّمَا
تَحْصُلُ فِي السَّمَاعِ عَنْ غِنَاءٍ مَفْهُومٍ.
Bahkan makna-makna yang dikenal seperti takut, sedih, dan
gembira itu muncul melalui samā‘ yang berasal dari nyanyian yang dipahami.
وَأَمَّا
الْأَوْتَارُ وَسَائِرُ النَّغَمَاتِ الَّتِي لَيْسَتْ مَفْهُومَةً فَإِنَّهَا
تُؤَثِّرُ فِي النَّفْسِ تَأْثِيرًا عَجِيبًا.
Adapun suara senar dan nada-nada lain yang tidak dipahami
maknanya, ia berpengaruh pada jiwa secara menakjubkan.
وَلَا
يُمْكِنُ التَّعْبِيرُ عَنْ عَجَائِبِ تِلْكَ الْآثَارِ.
Keajaiban pengaruh itu tidak bisa diungkapkan.
وَقَدْ
يُعَبَّرُ عَنْهَا بِالشَّوْقِ.
Kadang ia disebut “rindu”.
وَلٰكِنْ
شَوْقٌ لَا يَعْرِفُ صَاحِبُهُ الْمُشْتَاقَ إِلَيْهِ.
Namun rindu itu tanpa diketahui kepada apa rindu itu
tertuju.
فَهُوَ
عَجِيبٌ.
Maka itu mengherankan.
وَالَّذِي
اضْطَرَبَ قَلْبُهُ بِسَمَاعِ الْأَوْتَارِ أَوِ الشَّاهِينِ وَمَا أَشْبَهَهُ
لَيْسَ يَدْرِي إِلَى مَاذَا يَشْتَاقُ.
Orang yang hatinya bergetar karena mendengar senar atau
seruling (syāhīn) dan semisalnya, ia tidak tahu kepada apa ia merindu.
وَيَجِدُ
فِي نَفْسِهِ حَالَةً كَأَنَّهَا تَتَقَاضَى أَمْرًا لَا يَدْرِي مَا هُوَ.
Ia merasakan keadaan seolah ada sesuatu “menuntut” di dalam
dirinya, namun ia tidak tahu apa.
حَتَّى
يَقَعَ ذٰلِكَ لِلْعَوَامِّ وَمَنْ لَا يَغْلِبُ عَلَى قَلْبِهِ لَا حُبُّ
آدَمِيٍّ وَلَا حُبُّ اللَّهِ تَعَالَى.
Bahkan hal itu bisa terjadi pada orang awam yang hatinya
tidak dikuasai cinta kepada manusia maupun cinta kepada Allah تعالى.
وَهٰذَا
لَهُ سِرٌّ.
Hal ini memiliki rahasia.
وَهُوَ
أَنَّ كُلَّ شَوْقٍ فَلَهُ رُكْنَانِ.
Yaitu bahwa setiap kerinduan memiliki dua rukun.
أَحَدُهُمَا
صِفَةُ الْمُشْتَاقِ، وَهِيَ نَوْعُ مُنَاسَبَةٍ مَعَ الْمُشْتَاقِ إِلَيْهِ.
Pertama: sifat pada pihak yang rindu, yaitu semacam
kesesuaian dengan yang dirindukan.
وَالثَّانِي
مَعْرِفَةُ الْمُشْتَاقِ إِلَيْهِ وَمَعْرِفَةُ صُورَةِ الْوُصُولِ إِلَيْهِ.
Kedua: mengetahui apa yang dirindukan dan mengetahui bentuk
cara sampai kepadanya.
فَإِنْ
وُجِدَتِ الصِّفَةُ الَّتِي بِهَا الشَّوْقُ.
Jika sifat yang menimbulkan rindu itu ada,
وَوُجِدَ
الْعِلْمُ بِصُورَةِ الْمُشْتَاقِ إِلَيْهِ.
dan ilmu tentang “gambar” yang dirindukan itu ada,
كَانَ
الْأَمْرُ ظَاهِرًا.
maka perkara menjadi jelas.
وَإِنْ
لَمْ يُوجَدِ الْعِلْمُ بِالْمُشْتَاقِ إِلَيْهِ، وَوُجِدَتِ الصِّفَةُ
الْمُشَوِّقَةُ.
Jika ilmu tentang yang dirindukan tidak ada, namun sifat
pendorong rindu itu ada,
وَحَرَّكَتْ
قَلْبَكَ الصِّفَةُ، وَاشْتَعَلَتْ نَارُهَا.
dan sifat itu menggerakkan hatimu, lalu apinya menyala,
أَوْرَثَ
ذٰلِكَ دَهْشَةً وَحَيْرَةً لَا مَحَالَةَ.
maka itu pasti mewariskan keterhenyakan dan kebingungan.