Pengaruh-Pengaruh Sima‘ dan Adab-Adabnya (3)
وَلَوْ
نَشَأَ آدَمِيٌّ وَحْدَهُ بِحَيْثُ لَمْ يَرَ صُورَةَ النِّسَاءِ وَلَا عَرَفَ
صُورَةَ الْوِقَاعِ، ثُمَّ رَاهَقَ الْحُلُمَ وَغَلَبَتْ عَلَيْهِ الشَّهْوَةُ،
لَكَانَ يَحِسُّ مِنْ نَفْسِهِ بِنَارِ الشَّهْوَةِ، وَلٰكِنْ لَا يَدْرِي أَنَّهُ
يَشْتَاقُ إِلَى الْوِقَاعِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ يَدْرِي صُورَةَ الْوِقَاعِ، وَلَا
يَعْرِفُ صُورَةَ النِّسَاءِ.
Seandainya ada seorang manusia tumbuh sendirian, sehingga ia
tidak pernah melihat rupa perempuan dan tidak mengenal gambaran hubungan badan,
lalu ia memasuki masa balig dan syahwat menguasainya, niscaya ia merasakan
dalam dirinya api syahwat. Namun ia tidak tahu bahwa dirinya merindukan
hubungan badan, karena ia tidak mengetahui bentuk hubungan badan dan tidak
mengenal rupa perempuan.
فَكَذٰلِكَ
فِي نَفْسِهِ الْآدَمِيِّ مُنَاسَبَةٌ مَعَ الْعَالَمِ الْأَعْلَى، وَاللَّذَّاتِ
الَّتِي وُعِدَ بِهَا فِي سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى وَالْفَرَادِيسِ الْعُلَا.
Demikian pula pada diri manusia terdapat kesesuaian dengan
alam yang tinggi, dan dengan kenikmatan-kenikmatan yang dijanjikan di Sidratul
Muntaha dan surga-surga yang tinggi.
إِلَّا
أَنَّهُ لَمْ يَتَخَيَّلْ مِنْ هٰذِهِ الْأُمُورِ إِلَّا الصِّفَاتَ
وَالْأَسْمَاءَ.
Hanya saja, dari semua perkara itu ia tidak membayangkan
selain sifat-sifat dan nama-nama.
كَالَّذِي
سَمِعَ لَفْظَ الْوِقَاعِ وَاسْمَ النِّسَاءِ، وَلَمْ يُشَاهِدْ صُورَةَ امْرَأَةٍ
قَطُّ.
Seperti orang yang mendengar kata “jima’/hubungan badan” dan
nama “perempuan”, tetapi tidak pernah melihat rupa seorang perempuan sama
sekali.
وَلَا
صُورَةَ رَجُلٍ.
Dan tidak pernah melihat rupa seorang laki-laki.
وَلَا
صُورَةَ نَفْسِهِ فِي الْمِرْآةِ لِيَعْرِفَ بِالْمُقَايَسَةِ.
Dan tidak pernah melihat rupa dirinya di cermin untuk
mengetahui dengan perbandingan.
فَالسَّمَاعُ
يُحَرِّكُ مِنْهُ الشَّوْقَ.
Maka samā‘ (mendengarkan) menggerakkan dari dirinya rasa
rindu.
وَالْجَهْلُ
الْمُفْرِطُ وَالِاشْتِغَالُ بِالدُّنْيَا قَدْ أَنْسَاهُ نَفْسَهُ.
Namun kebodohan yang berlebihan dan kesibukan dunia telah
membuatnya lupa pada dirinya.
وَأَنْسَاهُ
رَبَّهُ.
Dan lupa kepada Tuhannya.
وَأَنْسَاهُ
مُسْتَقَرَّهُ الَّذِي إِلَيْهِ حَنِينُهُ وَاشْتِيَاقُهُ بِالطَّبْعِ.
Dan lupa kepada tempat kembalinya yang secara tabiat hatinya
rindu dan merindukannya.
فَيَتَقَاضَاهُ
قَلْبُهُ أَمْرًا لَا يَدْرِي مَا هُوَ.
Maka hatinya seakan menuntut sesuatu darinya, tetapi ia
tidak tahu apa itu.
فَيَدْهَشُ
وَيَتَحَيَّرُ وَيَضْطَرِبُ.
Lalu ia terhenyak, bingung, dan gelisah.
وَيَكُونُ
كَالْمُخْتَنِقِ الَّذِي لَا يَعْرِفُ طَرِيقَ الْخَلَاصِ.
Ia seperti orang tercekik yang tidak mengetahui jalan untuk
selamat.
فَهٰذَا
وَأَمْثَالُهُ مِنَ الْأَحْوَالِ الَّتِي لَا يُدْرَكُ تَمَامُ حَقَائِقِهَا.
Keadaan seperti ini dan semisalnya termasuk keadaan yang
hakikatnya tidak dapat ditangkap secara sempurna.
وَلَا
يُمْكِنُ لِلْمُتَّصِفِ بِهَا أَنْ يُعَبِّرَ عَنْهَا.
Dan orang yang mengalaminya tidak mampu mengungkapkannya
dengan tepat.
فَقَدْ
ظَهَرَ انْقِسَامُ الْوَجْدِ إِلَى مَا يُمْكِنُ إِظْهَارُهُ وَإِلَى مَا لَا
يُمْكِنُ إِظْهَارُهُ.
Maka jelaslah bahwa wajd terbagi menjadi yang bisa
ditampakkan dan yang tidak bisa ditampakkan.
وَاعْلَمْ
أَيْضًا أَنَّ الْوَجْدَ يَنْقَسِمُ إِلَى هَاجِمٍ وَإِلَى مُتَكَلَّفٍ،
وَيُسَمَّى التَّوَاجُدَ.
Ketahuilah juga bahwa wajd terbagi menjadi yang datang
menyerbu (spontan) dan yang dibuat-buat; yang dibuat-buat disebut tawājud.
وَهٰذَا
التَّوَاجُدُ الْمُتَكَلَّفُ فَمِنْهُ مَذْمُومٌ.
Tawājud yang dibuat-buat ini ada yang tercela.
وَهُوَ
الَّذِي يُقْصَدُ بِهِ الرِّيَاءُ وَإِظْهَارُ الْأَحْوَالِ الشَّرِيفَةِ مَعَ
الْإِفْلَاسِ مِنْهَا.
Yaitu yang dimaksudkan untuk riya dan menampakkan
keadaan-keadaan mulia padahal dirinya kosong darinya.
وَمِنْهُ
مَا هُوَ مَحْمُودٌ.
Dan ada yang terpuji.
وَهُوَ
التَّوَصُّلُ إِلَى اسْتِدْعَاءِ الْأَحْوَالِ الشَّرِيفَةِ وَاكْتِسَابِهَا
وَاجْتِلَابِهَا بِالْحِيلَةِ.
Yaitu menjadikan tawājud sebagai jalan untuk memanggil
keadaan-keadaan mulia, mengusahakannya, dan mendatangkannya dengan sebab-sebab.
فَإِنَّ
لِلْكَسْبِ مَدْخَلًا فِي جَلْبِ الْأَحْوَالِ الشَّرِيفَةِ.
Karena usaha memiliki peran dalam mendatangkan
keadaan-keadaan mulia.
وَلِذٰلِكَ
أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَحْضُرْهُ
الْبُكَاءُ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ أَنْ يَتَبَاكَى وَيَتَحَازَنَ (١).
Karena itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan orang
yang tidak hadir padanya tangis saat membaca Al-Qur’an agar berusaha menangis
dan menampakkan kesedihan. (1)
فَإِنَّ
هٰذِهِ الْأَحْوَالَ قَدْ تُتَكَلَّفُ مَبَادِئُهَا ثُمَّ تَتَحَقَّقُ
أَوَاخِرُهَا.
Karena keadaan-keadaan ini bisa dibuat-buat pada awalnya,
lalu akhirnya menjadi benar-benar nyata.
وَكَيْفَ
لَا يَكُونُ التَّكَلُّفُ سَبَبًا فِي أَنْ يَصِيرَ الْمُتَكَلِّفُ فِي الْآخِرَةِ
طَبْعًا؟
Bagaimana mungkin “pemaksaan diri” tidak menjadi sebab
sehingga sesuatu yang dipaksakan akhirnya menjadi tabiat?
وَكُلُّ
مَنْ يَتَعَلَّمُ الْقُرْآنَ أَوْ لَا يَحْفَظُهُ يَتَكَلَّفُهُ.
Setiap orang yang belajar Al-Qur’an—atau yang belum
hafal—pasti memaksakan diri.
وَيَقْرَؤُهُ
تَكَلُّفًا مَعَ تَمَامِ التَّأَمُّلِ وَإِحْضَارِ الذِّهْنِ.
Ia membacanya dengan susah payah, dengan perenungan penuh
dan menghadirkan pikiran.
ثُمَّ
يَصِيرُ ذٰلِكَ دِيدَنًا لِلِّسَانِ مُطَّرِدًا.
Kemudian itu menjadi kebiasaan lisan yang lancar.
حَتَّى
يَجْرِيَ بِهِ لِسَانُهُ فِي الصَّلَاةِ وَغَيْرِهَا وَهُوَ غَافِلٌ.
Sampai lidahnya mengalirkannya dalam salat dan selainnya
dalam keadaan lalai.
فَيَقْرَأُ
تَمَامَ السُّورَةِ وَتَثُوبُ نَفْسُهُ إِلَيْهِ بَعْدَ انْتِهَائِهِ إِلَى
آخِرِهَا.
Maka ia membaca satu surah penuh, lalu jiwanya baru kembali
sadar setelah sampai pada akhir surah.
وَيَعْلَمُ
أَنَّهُ قَرَأَهَا فِي حَالِ غَفْلَتِهِ.
Dan ia tahu bahwa ia membacanya ketika lalai.
وَكَذٰلِكَ
الْكَاتِبُ يَكْتُبُ فِي الِابْتِدَاءِ بِجُهْدٍ شَدِيدٍ.
Demikian pula penulis: pada awalnya ia menulis dengan usaha
yang berat.
ثُمَّ
تَتَمَرَّنُ عَلَى الْكِتَابَةِ يَدُهُ.
Lalu tangannya terlatih menulis.
فَيَصِيرُ
الْكِتَابُ لَهُ طَبْعًا.
Maka menulis menjadi tabiat baginya.
فَيَكْتُبُ
أَوْرَاقًا كَثِيرَةً وَهُوَ مُسْتَغْرَقُ الْقَلْبِ بِفِكْرٍ آخَرَ.
Ia bisa menulis banyak lembar, sementara hatinya tenggelam
dalam pikiran lain.
فَجَمِيعُ
مَا تَحْتَمِلُهُ النَّفْسُ وَالْجَوَارِحُ مِنَ الصِّفَاتِ لَا سَبِيلَ إِلَى
اكْتِسَابِهِ إِلَّا بِالتَّكَلُّفِ وَالتَّصَنُّعِ أَوَّلًا.
Maka semua sifat yang dapat ditanggung jiwa dan anggota
badan tidak mungkin diperoleh kecuali dengan pemaksaan diri dan latihan
terlebih dahulu.
ثُمَّ
يَصِيرُ بِالْعَادَةِ طَبْعًا.
Kemudian dengan kebiasaan, ia menjadi tabiat.
وَهُوَ
الْمُرَادُ بِقَوْلِ بَعْضِهِمْ: الْعَادَةُ طَبِيعَةٌ خَامِسَةٌ.
Inilah maksud ucapan sebagian orang: “Kebiasaan adalah
tabiat kelima.”
فَكَذٰلِكَ
الْأَحْوَالُ الشَّرِيفَةُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يَقَعَ الْيَأْسُ مِنْهَا عِنْدَ
فَقْدِهَا.
Demikian pula keadaan-keadaan mulia: tidak semestinya putus
asa darinya saat tidak didapatkan.
بَلْ
يَنْبَغِي أَنْ يَتَكَلَّفَ اجْتِلَابَهَا بِالسَّمَاعِ وَغَيْرِهِ.
Namun seharusnya ia memaksakan diri untuk mendatangkannya
dengan samā‘ dan selainnya.
فَلَقَدْ
شُوهِدَ فِي الْعَادَاتِ مَنْ اشْتَهَى أَنْ يَعْشَقَ شَخْصًا وَلَمْ يَكُنْ
يَعْشَقُهُ.
Dalam kebiasaan manusia, ada orang yang ingin mencintai
seseorang padahal sebelumnya ia tidak mencintainya.
فَلَمْ
يَزَلْ يُرَدِّدُ ذِكْرَهُ عَلَى نَفْسِهِ، وَيُدِيمُ النَّظَرَ إِلَيْهِ.
Ia terus mengulang-ulang menyebutnya dalam diri, dan terus
memandangnya.
وَيُقَرِّرُ
عَلَى نَفْسِهِ الْأَوْصَافَ الْمَحْبُوبَةَ وَالْأَخْلَاقَ الْمَحْمُودَةَ فِيهِ.
Ia menancapkan pada dirinya sifat-sifat yang disukai dan
akhlak terpuji pada orang itu.
حَتَّى
عَشِقَهُ وَرَسَخَ ذٰلِكَ فِي قَلْبِهِ رُسُوخًا خَرَجَ عَنْ حَدِّ اخْتِيَارِهِ.
Sampai ia benar-benar jatuh cinta, dan itu mengakar di
hatinya hingga keluar dari batas pilihannya.
فَاشْتَهَى
بَعْدَ ذٰلِكَ الْخَلَاصَ مِنْهُ فَلَمْ يَتَخَلَّصْ.
Setelah itu ia ingin lepas, tetapi tidak mampu.
فَكَذٰلِكَ
حُبُّ اللَّهِ تَعَالَى وَالشَّوْقُ إِلَى لِقَائِهِ.
Demikian pula cinta kepada Allah تعالى dan rindu berjumpa dengan-Nya.
وَالْخَوْفُ
مِنْ سَخَطِهِ، وَغَيْرُ ذٰلِكَ مِنَ الْأَحْوَالِ الشَّرِيفَةِ.
Dan takut terhadap murka-Nya, serta keadaan-keadaan mulia
lainnya.
إِذَا
فَقَدَهَا الْإِنْسَانُ فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَكَلَّفَ اجْتِلَابَهَا.
Jika manusia tidak memilikinya, maka seharusnya ia
mengusahakan mendatangkannya.
بِمُجَالَسَةِ
الْمَوْصُوفِينَ بِهَا، وَمُشَاهَدَةِ أَحْوَالِهِمْ.
Dengan duduk bersama orang-orang yang memilikinya, dan
menyaksikan keadaan mereka.
وَتَحْسِينِ
صِفَاتِهِمْ فِي النَّفْسِ.
Serta mengindahkan sifat-sifat mereka dalam jiwa.
وَبِالْجُلُوسِ
مَعَهُمْ فِي السَّمَاعِ.
Dan duduk bersama mereka dalam samā‘.
وَبِالدُّعَاءِ
وَالتَّضَرُّعِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي أَنْ يَرْزُقَهُ تِلْكَ الْحُلَّةَ.
Dan dengan berdoa serta merendahkan diri kepada Allah تعالى
agar dikaruniai “pakaian” (keadaan mulia) itu.
بِأَنْ
يُيَسِّرَ لَهُ أَسْبَابَهَا.
Yaitu dengan memudahkan sebab-sebabnya.
وَمِنْ
أَسْبَابِهَا السَّمَاعُ، وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِينَ وَالْخَائِفِينَ
وَالْمُحْسِنِينَ وَالْمُشْتَاقِينَ وَالْخَاشِعِينَ.
Dan di antara sebab-sebabnya adalah samā‘ dan duduk bersama
orang saleh, orang yang takut (kepada Allah), orang yang berbuat ihsan, orang
yang rindu, dan orang yang khusyuk.
فَمَنْ
جَالَسَ شَخْصًا سَرَتْ إِلَيْهِ صِفَاتُهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَدْرِي.
Siapa bergaul dengan seseorang, sifat-sifat orang itu akan
merembes kepadanya tanpa ia sadari.
وَيَدُلُّ
عَلَى إِمْكَانِ تَحْصِيلِ الْحُبِّ وَغَيْرِهِ مِنَ الْأَحْوَالِ بِالْأَسْبَابِ
قَوْلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دُعَائِهِ:
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ أَحَبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ
يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ (٢).
Dalil bahwa cinta dan keadaan lain bisa diperoleh dengan
sebab ialah doa Rasulullah صلى
الله عليه وسلم: “Ya Allah, karuniakan kepadaku cinta kepada-Mu, cinta kepada
orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada orang yang mendekatkanku kepada cinta
kepada-Mu.” (2)
فَقَدْ
فَزِعَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الدُّعَاءِ فِي طَلَبِ الْحُبِّ.
Sungguh beliau صلى الله عليه وسلم bersegera meminta cinta melalui doa.
فَهٰذَا
بَيَانُ انْقِسَامِ الْوَجْدِ إِلَى مُكَاشَفَاتٍ وَإِلَى أَحْوَالٍ.
Ini penjelasan pembagian wajd: menjadi kasyf dan menjadi
keadaan-keadaan jiwa.
وَانْقِسَامِهِ
إِلَى مَا يُمْكِنُ الْإِفْصَاحُ عَنْهُ وَإِلَى مَا لَا يُمْكِنُ.
Dan pembagiannya: yang bisa diungkapkan dan yang tidak bisa
diungkapkan.
وَانْقِسَامِهِ
إِلَى الْمُتَكَلَّفِ وَإِلَى الْمَطْبُوعِ.
Dan pembagiannya: yang dibuat-buat dan yang alami.
فَإِنْ
قُلْتَ: فَمَا بَالُ هٰؤُلَاءِ لَا يَظْهَرُ وَجْدُهُمْ عِنْدَ سَمَاعِ
الْقُرْآنِ، وَهُوَ كَلَامُ اللَّهِ، وَيَظْهَرُ عِنْدَ الْغِنَاءِ، وَهُوَ
كَلَامُ الشُّعَرَاءِ؟
Jika engkau bertanya: mengapa wajd mereka tidak tampak
ketika mendengar Al-Qur’an—padahal itu kalam Allah—namun tampak ketika
mendengar nyanyian—padahal itu ucapan para penyair?
فَلَوْ
كَانَ ذٰلِكَ حَقًّا مِنْ لُطْفِ اللَّهِ تَعَالَى وَلَمْ يَكُنْ بَاطِلًا مِنْ
غُرُورِ الشَّيْطَانِ، لَكَانَ الْقُرْآنُ أَوْلَى بِهِ مِنَ الْغِنَاءِ.
Jika itu benar berasal dari kelembutan Allah تعالى
dan bukan tipuan setan, tentu Al-Qur’an lebih pantas menimbulkannya daripada
nyanyian.
فَنَقُولُ:
الْوَجْدُ الْحَقُّ هُوَ مَا يَنْشَأُ مِنْ فَرْطِ حُبِّ اللَّهِ تَعَالَى
وَصِدْقِ إِرَادَتِهِ وَالشَّوْقِ إِلَى لِقَائِهِ.
Kami menjawab: wajd yang benar adalah yang lahir dari cinta
yang meluap kepada Allah تعالى,
kejujuran kehendak kepada-Nya, dan rindu bertemu dengan-Nya.
وَذٰلِكَ
يَهِيجُ بِسَمَاعِ الْقُرْآنِ أَيْضًا.
Dan itu juga bisa bangkit dengan mendengar Al-Qur’an.
وَإِنَّمَا
الَّذِي لَا يَهِيجُ بِسَمَاعِ الْقُرْآنِ حُبُّ الْخَلْقِ وَعِشْقُ الْمَخْلُوقِ.
Yang tidak bangkit dengan mendengar Al-Qur’an adalah cinta
kepada makhluk dan ‘isyq kepada makhluk.
وَيَدُلُّ
عَلَى ذٰلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾.
Dalilnya firman Allah تعالى: “Ingatlah, dengan mengingat Allah hati
menjadi tenang.”
وَقَوْلُهُ
تَعَالَى: ﴿مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ،
ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ﴾.
Dan firman-Nya: “(Al-Qur’an itu) berulang-ulang; darinya
merinding kulit orang yang takut kepada Rabbnya, lalu menjadi lembut kulit dan
hati mereka kepada dzikir Allah.”
وَكُلُّ
مَا يُوجَدُ عَقِيبَ السَّمَاعِ فِي النَّفْسِ فَهُوَ وَجْدٌ.
Setiap yang dirasakan dalam jiwa setelah mendengar, itulah
wajd.
فَالطُّمَأْنِينَةُ
وَالِاقْشِعْرَارُ وَالْخَشْيَةُ وَلِينُ الْقَلْبِ كُلُّ ذٰلِكَ وَجْدٌ.
Maka ketenangan, merinding, takut (khasy-yah), dan lunaknya
hati—semuanya adalah wajd.
وَقَدْ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ
وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ﴾.
Allah تعالى
berfirman: “Sesungguhnya orang beriman adalah yang bila disebut Allah, hati
mereka bergetar.”
وَقَالَ
تَعَالَى: ﴿لَوْ أَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا
مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ﴾.
Dan Dia berfirman: “Seandainya Kami turunkan Al-Qur’an ini
kepada gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk dan terbelah karena takut
kepada Allah.”
فَالْوَجَلُ
وَالْخُشُوعُ وَجْدٌ مِنْ قَبِيلِ الْأَحْوَالِ.
Maka rasa bergetar dan khusyuk adalah wajd dari jenis
“keadaan-keadaan jiwa”.
وَإِنْ
لَمْ يَكُنْ مِنْ قَبِيلِ الْمُكَاشَفَاتِ.
Walaupun bukan dari jenis kasyf.
وَلٰكِنْ
قَدْ يَصِيرُ سَبَبًا لِلْمُكَاشَفَاتِ وَالتَّنْبِيهَاتِ.
Namun ia bisa menjadi sebab kasyf dan pencerahan.
وَلِهٰذَا
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ»
(٣).
Karena itu Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Hiasilah Al-Qur’an dengan suara
kalian.” (3)
وَقَالَ
لِأَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ: «لَقَدْ أُوتِيَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ
دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ» (١).
Dan beliau berkata kepada Abu Musa al-Asy‘ari: “Sungguh ia
diberi seruling dari seruling keluarga Dawud.” (1)
وَأَمَّا
الْحِكَايَاتُ الدَّالَّةُ عَلَى أَنَّ أَرْبَابَ الْقُلُوبِ ظَهَرَ عَلَيْهِمُ
الْوَجْدُ عِنْدَ سَمَاعِ الْقُرْآنِ فَكَثِيرَةٌ.
Adapun kisah-kisah yang menunjukkan bahwa para pemilik hati
mengalami wajd ketika mendengar Al-Qur’an, maka itu banyak.
فَقَوْلُهُ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا» (٢).
Di antaranya sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Surah Hūd dan
saudari-saudarinya membuatku beruban.” (2)
خَبَرٌ
عَنِ الْوَجْدِ.
Itu adalah berita tentang wajd.
فَإِنَّ
الشَّيْبَ يَحْصُلُ مِنَ الْحُزْنِ وَالْخَوْفِ.
Karena uban muncul dari sedih dan takut.
وَذٰلِكَ
وَجْدٌ.
Dan itu wajd.
وَرُوِيَ
أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَرَأَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُورَةَ النِّسَاءِ.
Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه membaca Surah
an-Nisā’ di hadapan Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
فَلَمَّا
انْتَهَى إِلَى قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ
بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هٰؤُلَاءِ شَهِيدًا﴾.
Ketika sampai pada firman Allah: “Maka bagaimana bila Kami
datangkan dari setiap umat seorang saksi, dan Kami datangkan engkau (Muhammad)
sebagai saksi atas mereka?”
قَالَ:
«حَسْبُكَ».
Beliau bersabda: “Cukup.”
وَكَانَتْ
عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ بِالدُّمُوعِ (٣).
Dan kedua mata beliau bercucuran air mata. (3)
وَفِي
رِوَايَةٍ: أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ هٰذِهِ الْآيَةَ أَوْ
قُرِئَتْ عِنْدَهُ: ﴿إِنَّ لَدَيْنَا أَنْكَالًا وَجَحِيمًا * وَطَعَامًا ذَا
غُصَّةٍ وَعَذَابًا أَلِيمًا﴾ فَصُعِقَ (٤).
Dalam riwayat lain: beliau membaca ayat ini atau dibacakan
di dekat beliau: “Sesungguhnya di sisi Kami ada belenggu dan neraka menyala,
dan makanan yang menyakitkan saat ditelan, serta azab yang pedih,” lalu beliau
pingsan. (4)
وَفِي
رِوَايَةٍ: أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ: ﴿إِنْ تُعَذِّبْهُمْ
فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ﴾ فَبَكَى (٥).
Dalam riwayat lain: beliau membaca: “Jika Engkau mengazab
mereka, maka sesungguhnya mereka hamba-Mu,” lalu beliau menangis. (5)
وَكَانَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَرَّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ دَعَا
وَاسْتَبْشَرَ (٦).
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bila melewati ayat rahmat, beliau berdoa dan bergembira. (6)
وَالِاسْتِبْشَارُ
وَجْدٌ.
Bergembira (istibsyār) itu wajd.
وَقَدْ
أَثْنَى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى أَهْلِ الْوَجْدِ بِالْقُرْآنِ فَقَالَ تَعَالَى:
﴿وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ
الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ﴾.
Allah تعالى
memuji orang yang mengalami wajd dengan Al-Qur’an: “Dan bila mereka mendengar
apa yang diturunkan kepada Rasul, engkau melihat mata mereka melimpah dengan
air mata karena kebenaran yang mereka ketahui.”
وَرُوِيَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي
وَلِصَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الْمِرْجَلِ (٧).
Diriwayatkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم salat, dan dari dada
beliau terdengar bunyi seperti dengung periuk mendidih. (7)
وَأَمَّا
مَا نُقِلَ مِنَ الْوَجْدِ بِالْقُرْآنِ عَنِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
وَالتَّابِعِينَ فَكَثِيرٌ.
Adapun wajd karena Al-Qur’an yang dinukil dari sahabat رضي الله عنهم
dan tabi‘in, itu banyak.
فَمِنْهُمْ
مَنْ صُعِقَ.
Di antara mereka ada yang pingsan.
وَمِنْهُمْ
مَنْ بَكَى.
Di antara mereka ada yang menangis.
وَمِنْهُمْ
مَنْ غُشِيَ عَلَيْهِ.
Di antara mereka ada yang jatuh tak sadar.
وَمِنْهُمْ
مَنْ مَاتَ فِي غَشْيَتِهِ.
Dan di antara mereka ada yang meninggal dalam keadaan
pingsan.
وَرُوِيَ
أَنَّ زُرَارَةَ بْنَ أَوْفَى، وَكَانَ مِنَ التَّابِعِينَ، كَانَ يُؤُمُّ
النَّاسَ بِالرَّقَّةِ، فَقَرَأَ: ﴿فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ﴾ فَصُعِقَ
وَمَاتَ فِي مِحْرَابِهِ رَحِمَهُ اللَّهُ.
Diriwayatkan bahwa Zurārah bin Awfā—seorang
tabi‘in—mengimami manusia di Raqqah, lalu membaca: “Maka apabila ditiup
sangkakala,” lalu pingsan dan wafat di mihrabnya. Semoga Allah merahmatinya.
وَسَمِعَ
عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ رَجُلًا يَقْرَأُ: ﴿إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ *
مَا لَهُ مِنْ دَافِعٍ﴾.
‘Umar رضي
الله عنه mendengar seseorang membaca: “Sesungguhnya azab Rabbmu pasti
terjadi; tidak ada yang dapat menolaknya.”
فَصَاحَ
صَيْحَةً وَخَرَّ مَغْشِيًّا عَلَيْهِ.
Maka ia berteriak dan jatuh pingsan.
فَحُمِلَ
إِلَى بَيْتِهِ، فَلَمْ يَزَلْ مَرِيضًا فِي بَيْتِهِ شَهْرًا.
Lalu ia dibawa ke rumahnya, dan ia sakit di rumahnya selama
sebulan.
وَأَبُو
جَرِيرٍ مِنَ التَّابِعِينَ قُرِئَ عَلَيْهِ صَالِحُ الْمَرِّيُّ فَشَهَقَ وَمَاتَ.
Abu Jarir dari kalangan tabi‘in, dibacakan oleh Shalih
al-Murrī, lalu ia menghela napas keras dan meninggal.
وَسَمِعَ
الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ قَارِئًا يَقْرَأُ: ﴿هٰذَا يَوْمُ لَا يَنْطِقُونَ
* وَلَا يُؤْذَنُ لَهُمْ فَيَعْتَذِرُونَ﴾ فَغُشِيَ عَلَيْهِ.
Imam asy-Syafi‘i رحمه الله mendengar pembaca membaca: “Ini hari
mereka tidak berbicara; dan tidak diizinkan bagi mereka untuk meminta maaf,”
lalu ia pingsan.
وَسَمِعَ
عَلِيُّ بْنُ الْفُضَيْلِ قَارِئًا يَقْرَأُ: ﴿يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ
الْعَالَمِينَ﴾ فَسَقَطَ مَغْشِيًّا عَلَيْهِ.
‘Ali bin al-Fudhail mendengar pembaca membaca: “Hari ketika
manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam,” lalu ia jatuh pingsan.
فَقَالَ
الْفُضَيْلُ: شَكَرَ اللَّهُ لَكَ مَا قَدْ عَلِمَهُ مِنْكَ.
Fudhail berkata: “Semoga Allah mensyukuri (menerima) apa
yang telah Dia ketahui darimu.”
وَكَذٰلِكَ
نُقِلَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُمْ.
Dan semisal itu dinukil dari banyak orang.
وَكَذٰلِكَ
الصُّوفِيَّةُ.
Demikian pula kaum sufi.
فَقَدْ
كَانَ الشِّبْلِيُّ فِي مَسْجِدِهِ لَيْلَةً مِنْ رَمَضَانَ وَهُوَ يُصَلِّي
خَلْفَ إِمَامٍ لَهُ.
Asy-Syibli berada di masjidnya pada suatu malam Ramadan,
salat di belakang imamnya.
فَقَرَأَ
الْإِمَامُ: ﴿وَلَئِنْ شِئْنَا لَنَذْهَبَنَّ بِالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ﴾.
Imam membaca: “Dan sungguh jika Kami kehendaki, niscaya Kami
benar-benar akan mengambil kembali apa yang Kami wahyukan kepadamu.”
فَزَعَقَ
الشِّبْلِيُّ زَعْقَةً ظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ قَدْ طَارَتْ رُوحُهُ.
Syibli berteriak sekali, hingga orang menyangka ruhnya
melayang.
وَأَحْمَرَّ
وَجْهُهُ وَارْتَعَدَتْ فَرَائِصُهُ.
Wajahnya memerah dan tubuhnya gemetar.
وَكَانَ
يَقُولُ: بِمِثْلِ هٰذَا يُخَاطَبُ الْأَحْبَابُ.
Ia berkata: “Dengan seperti ini para kekasih diajak bicara.”
يُرَدِّدُ
ذٰلِكَ مَرَارًا.
Ia mengulang-ulang itu berkali-kali.
وَقَالَ
الْجُنَيْدُ: دَخَلْتُ عَلَى سَرِيِّ السَّقَطِيِّ فَرَأَيْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ
رَجُلًا قَدْ غُشِيَ عَلَيْهِ.
Al-Junaid berkata: “Aku masuk menemui Sirri as-Saqathi, dan
aku melihat di hadapannya ada seorang yang pingsan.”
فَقَالَ
لِي: هٰذَا رَجُلٌ قَدْ سَمِعَ آيَةً مِنَ الْقُرْآنِ فَغُشِيَ عَلَيْهِ.
Ia berkata kepadaku: “Ini orang yang mendengar satu ayat
Al-Qur’an lalu pingsan.”
فَقُلْتُ:
اقْرَؤُوا عَلَيْهِ تِلْكَ الْآيَةَ بِعَيْنِهَا.
Aku berkata: “Bacakan ayat itu kepadanya persis.”
فَقُرِئَتْ
فَأَفَاقَ.
Ayat itu dibacakan, lalu ia sadar.
فَقَالَ:
مِنْ أَيْنَ قُلْتَ هٰذَا؟
Ia berkata: “Dari mana engkau mengatakan itu?”
فَقُلْتُ:
رَأَيْتُ يَعْقُوبَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ عَمَاهُ مِنْ أَجْلِ مَخْلُوقٍ.
Aku menjawab: “Aku melihat Ya‘qub عليه السلام, kebutaannya terjadi
karena (rindu kepada) makhluk.”
فَبِمَخْلُوقٍ
أَبْصَرَ.
Maka dengan makhluk (pula) ia kembali melihat.
وَلَوْ
كَانَ عَمَاهُ مِنْ أَجْلِ الْحَقِّ مَا أَبْصَرَ بِمَخْلُوقٍ.
Seandainya kebutaannya karena al-Haqq, ia tidak akan melihat
kembali dengan makhluk.
فَاسْتَحْسَنَ
ذٰلِكَ.
Lalu ia menganggap itu baik.
وَيُشِيرُ
إِلَى مَا قَالَهُ الْجُنَيْدُ قَوْلُ الشَّاعِرِ:
وَكَأْسٌ
شَرِبْتُ عَلَى لَذَّةٍ … وَأُخْرَى تَدَاوَيْتُ مِنْهَا بِهَا
Kepada maksud ucapan Junaid ini mengarah syair:
“Satu gelas kuminum karena nikmat … dan gelas lain kupakai
berobat dengan (gelas) itu.”
وَقَالَ
بَعْضُ الصُّوفِيَّةِ: كُنْتُ أَقْرَأُ لَيْلَةً هٰذِهِ الْآيَةَ: ﴿كُلُّ نَفْسٍ
ذَائِقَةُ الْمَوْتِ﴾، فَجَعَلْتُ أُرَدِّدُهَا.
Sebagian sufi berkata: “Suatu malam aku membaca ayat:
‘Setiap jiwa akan merasakan mati,’ lalu aku mengulang-ulangnya.”
فَإِذَا
هَاتِفٌ يَهْتِفُ بِي: كَمْ تُرَدِّدُ هٰذِهِ الْآيَةَ؟ فَقَدْ قَتَلْتَ
أَرْبَعَةً مِنَ الْجِنِّ مَا رَفَعُوا رُءُوسَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ مُنْذُ
خُلِقُوا.
“Tiba-tiba ada suara memanggilku: ‘Sampai kapan engkau
mengulang ayat ini? Engkau telah membunuh empat jin; mereka tidak pernah
mengangkat kepala ke langit sejak diciptakan.’”
وَقَالَ
أَبُو عَلِيٍّ الْمُغَازِلِيُّ لِلشِّبْلِيِّ: رُبَّمَا تَطْرُقُ سَمْعِي آيَةٌ
مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى فَتَجْذِبُنِي إِلَى الْإِعْرَاضِ عَنِ الدُّنْيَا.
Abu ‘Ali al-Maghazili berkata kepada Syibli: “Kadang
telingaku diketuk oleh satu ayat dari Kitab Allah, lalu ia menarikku untuk
berpaling dari dunia.”
ثُمَّ
أَرْجِعُ إِلَى أَحْوَالِي وَإِلَى النَّاسِ فَلَا أَبْقَى عَلَى ذٰلِكَ.
“Kemudian aku kembali kepada keadaanku dan kepada manusia,
lalu aku tidak bertahan pada keadaan itu.”
فَقَالَ:
مَا طَرَقَ سَمْعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ فَاجْتَذَبَكَ بِهِ إِلَيْهِ فَذٰلِكَ عَطْفٌ
مِنْهُ عَلَيْكَ وَلُطْفٌ مِنْهُ بِكَ.
Syibli menjawab: “Apa yang mengetuk telingamu dari Al-Qur’an
lalu menarikmu kepada-Nya, itu adalah kasih sayang-Nya kepadamu dan
kelembutan-Nya atasmu.”
وَإِذَا
رَدَّكَ إِلَى نَفْسِكَ فَهُوَ شَفَقَةٌ مِنْهُ عَلَيْكَ.
“Dan jika Dia mengembalikanmu kepada dirimu, itu adalah
belas kasih-Nya kepadamu.”
فَإِنَّهُ
لَا يَصْلُحُ لَكَ إِلَّا التَّبَرِّي مِنَ الْحَوْلِ وَالْقُوَّةِ فِي
التَّوَجُّهِ إِلَيْهِ.
“Karena yang baik bagimu hanyalah berlepas diri dari daya
dan kekuatan ketika menghadap kepada-Nya.”
وَسَمِعَ
رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ التَّصَوُّفِ قَارِئًا يَقْرَأُ: ﴿يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ
الْمُطْمَئِنَّةُ * ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً﴾.
Seorang ahli tasawuf mendengar pembaca membaca: “Wahai jiwa
yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dalam keadaan ridha dan diridhai.”
فَاسْتَعَادَهَا
مِنَ الْقَارِئِ.
Ia meminta pembaca mengulang ayat itu.
وَقَالَ:
كَمْ أَقُولُ لَهَا ارْجِعِي وَلَيْسَتْ تَرْجِعُ.
Ia berkata: “Betapa sering aku berkata kepadanya:
‘kembalilah’, tetapi ia tidak kembali.”
وَتَوَاجَدَ
وَزَعَقَ زَعْقَةً فَخَرَجَتْ رُوحُهُ.
Ia pun mengalami wajd dan berteriak, lalu ruhnya keluar.
وَسَمِعَ
بَكْرُ بْنُ مُعَاذٍ قَارِئًا يَقْرَأُ: ﴿وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ﴾
الْآيَةَ.
Bakr bin Mu‘adz mendengar pembaca membaca ayat: “Dan
peringatkanlah mereka tentang Hari Azifah.”
فَاضْطَرَبَ
ثُمَّ صَاحَ: ارْحَمْ مَنْ أَنْذَرْتَهُ وَلَمْ يَقْبَلْ إِلَيْكَ بَعْدَ
الْإِنْذَارِ بِطَاعَتِكَ.
Ia bergetar lalu berseru: “Kasihanilah orang yang telah
Engkau beri peringatan, namun setelah peringatan itu ia belum juga kembali
kepada-Mu dengan taat.”
ثُمَّ
غُشِيَ عَلَيْهِ.
Kemudian ia pingsan.
وَكَانَ
إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ رَحِمَهُ اللَّهُ إِذَا سَمِعَ أَحَدًا يَقْرَأُ:
﴿إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ﴾ اضْطَرَبَتْ أَوْصَالُهُ حَتَّى كَانَ يَرْتَعِدُ.
Ibrahim bin Adham رحمه الله bila mendengar seseorang membaca: “Apabila
langit terbelah,” maka persendiannya bergetar sampai ia gemetar.
وَعَنْ
مُحَمَّدِ بْنِ صُبَيْحٍ قَالَ: كَانَ رَجُلٌ يَغْتَسِلُ فِي الْفُرَاتِ فَمَرَّ
بِهِ رَجُلٌ عَلَى الشَّاطِئِ يَقْرَأُ: ﴿وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا
الْمُجْرِمُونَ﴾.
Dari Muhammad bin Shubaih: ada seorang mandi di Sungai
Furat, lalu seseorang lewat di tepi sungai sambil membaca: “Berpisahlah kalian
hari ini, wahai orang-orang berdosa.”
فَلَمْ
يَزَلِ الرَّجُلُ يَضْطَرِبُ حَتَّى غَرِقَ وَمَاتَ.
Orang yang mandi itu terus bergetar sampai tenggelam dan
meninggal.
وَذُكِرَ
أَنَّ سَلْمَانَ الْفَارِسِيَّ أَبْصَرَ شَابًّا يَقْرَأُ، فَأَتَى عَلَى آيَةٍ
فَاقْشَعَرَّ جِلْدُهُ.
Disebutkan bahwa Salman al-Farisi melihat seorang pemuda
membaca, lalu ketika sampai pada suatu ayat kulitnya merinding.
فَأَحَبَّهُ
سَلْمَانُ وَفَقَدَهُ.
Salman pun menyukainya, lalu kehilangan kabarnya.
فَسَأَلَ
عَنْهُ فَقِيلَ لَهُ: إِنَّهُ مَرِيضٌ.
Ia bertanya tentangnya, lalu dikatakan: ia sedang sakit.
فَأَتَاهُ
يَعُودُهُ، فَإِذَا هُوَ فِي الْمَوْتِ.
Salman menjenguknya, ternyata ia sedang sekarat.
فَقَالَ:
يَا عَبْدَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ تِلْكَ الْقَشْعَرِيرَةَ الَّتِي كَانَتْ بِي؟
Pemuda itu berkata: “Wahai hamba Allah, bagaimana pendapatmu
tentang merinding yang dulu terjadi padaku?”
فَإِنَّهَا
أَتَتْنِي فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ.
“Itu datang kepadaku dalam rupa yang paling indah.”
فَأَخْبَرَتْنِي
أَنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لِي بِهَا كُلَّ ذَنْبٍ.
“Dan ia mengabariku bahwa Allah telah mengampuniku dengan
sebab itu atas setiap dosa.”
وَبِالْجُمْلَةِ
لَا يَخْلُو صَاحِبُ الْقَلْبِ عَنْ وَجْدٍ عِنْدَ سَمَاعِ الْقُرْآنِ.
Secara umum, orang yang punya hati tidak akan lepas dari
wajd ketika mendengar Al-Qur’an.
فَإِنْ
كَانَ الْقُرْآنُ لَا يُؤَثِّرُ فِيهِ أَصْلًا فَمِثْلُهُ كَمَثَلِ الَّذِي
يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً.
Jika Al-Qur’an sama sekali tidak berpengaruh padanya, ia
seperti orang yang berteriak kepada sesuatu yang tidak mendengar kecuali
sekadar panggilan.
صُمٌّ
بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ.
Mereka tuli, bisu, buta, sehingga tidak mengerti.
بَلْ
صَاحِبُ الْقَلْبِ تُؤَثِّرُ فِيهِ الْكَلِمَةُ مِنَ الْحِكْمَةِ يَسْمَعُهَا.
Bahkan pemilik hati akan terpengaruh oleh satu kata hikmah
yang ia dengar.
قَالَ
جَعْفَرُ الْخُلْدِيُّ: دَخَلَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ خُرَاسَانَ عَلَى الْجُنَيْدِ
وَعِنْدَهُ جَمَاعَةٌ.
Ja‘far al-Khuldi berkata: seorang lelaki dari Khurasan masuk
menemui Junaid, dan di sisinya ada beberapa orang.
فَقَالَ
لِلْجُنَيْدِ: مَتَى يَسْتَوِي عِنْدَ الْعَبْدِ حَامِدُهُ وَذَامُّهُ؟
Ia berkata kepada Junaid: “Kapan bagi seorang hamba, orang
yang memuji dan yang mencela menjadi sama?”
فَقَالَ
بَعْضُ الشُّيُوخِ: إِذَا دَخَلَ الْبِيمَارِسْتَانَ وَقُيِّدَ بِقَيْدَيْنِ.
Sebagian syekh menjawab: “Jika ia masuk rumah sakit jiwa dan
dibelenggu dengan dua belenggu.”
فَقَالَ
الْجُنَيْدُ: لَيْسَ هٰذَا مِنْ شَأْنِكَ.
Junaid berkata: “Itu bukan urusanmu.”
ثُمَّ
أَقْبَلَ عَلَى الرَّجُلِ وَقَالَ: إِذَا تَحَقَّقَ أَنَّهُ مَخْلُوقٌ.
Lalu ia menghadap lelaki itu dan berkata: “(Itu terjadi)
bila ia yakin bahwa (pujian dan celaan itu) makhluk.”
فَشَهَقَ
الرَّجُلُ شَهْقَةً وَمَاتَ.
Lelaki itu menghela napas keras lalu meninggal.
فَإِنْ
قُلْتَ: فَإِنْ كَانَ سَمَاعُ الْقُرْآنِ مُفِيدًا لِلْوَجْدِ، فَمَا بَالُهُمْ
يَجْتَمِعُونَ عَلَى سَمَاعِ الْغِنَاءِ مِنَ الْقَوَّالِينَ دُونَ الْقَارِئِينَ؟
Jika engkau bertanya: jika mendengar Al-Qur’an menimbulkan
wajd, mengapa mereka berkumpul mendengarkan nyanyian dari para qawwāl, bukan
dari para qāri’?
فَكَانَ
يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ اجْتِمَاعُهُمْ وَتَوَاجُدُهُمْ فِي حِلَقِ الْقُرَّاءِ،
لَا فِي حِلَقِ الْمُغَنِّينَ.
Seharusnya perkumpulan dan wajd mereka terjadi dalam halaqah
para qari’, bukan halaqah para penyanyi.
وَكَانَ
يَنْبَغِي أَنْ يُطْلَبَ عِنْدَ كُلِّ اجْتِمَاعٍ فِي كُلِّ دَعْوَةٍ قَارِئٌ
لِأَقْوَالِهِ.
Seharusnya di setiap pertemuan dan undangan diminta seorang
qari’ untuk membacakan kalam-Nya.
فَإِنَّ
كَلَامَ اللَّهِ تَعَالَى أَفْضَلُ مِنَ الْغِنَاءِ لَا مَحَالَةَ.
Karena kalam Allah تعالى pasti lebih utama daripada nyanyian.
فَاعْلَمْ
أَنَّ الْغِنَاءَ أَشَدُّ تَهْيِيجًا لِلْوَجْدِ مِنَ الْقُرْآنِ مِنْ سَبْعَةِ
أَوْجُهٍ.
Ketahuilah: nyanyian lebih kuat membangkitkan wajd daripada
Al-Qur’an dari tujuh sisi.
اَلْوَجْهُ
الْأَوَّلُ: أَنَّ جَمِيعَ آيَاتِ الْقُرْآنِ لَا تُنَاسِبُ حَالَ الْمُسْتَمِعِ.
Sisi pertama: tidak semua ayat Al-Qur’an sesuai dengan
keadaan pendengar.
وَلَا
تَصْلُحُ لِفَهْمِهِ وَتَنْزِيلِهَا عَلَى مَا هُوَ مُلَابِسٌ لَهُ.
Dan tidak semuanya cocok untuk dipahami dan dikaitkan pada
kondisi yang sedang ia alami.
فَمَنْ
اسْتَوْلَى عَلَيْهِ حُزْنٌ أَوْ شَوْقٌ أَوْ نَدَمٌ.
Orang yang sedang dikuasai sedih, rindu, atau penyesalan,
فَمِنْ
أَيْنَ يُنَاسِبُ حَالَهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي
أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ﴾؟
bagaimana mungkin keadaannya cocok dengan firman Allah:
“Allah mewasiatkan kepada kalian tentang anak-anak kalian: bagi laki-laki
bagian seperti dua perempuan”?
وَقَوْلُهُ
تَعَالَى: ﴿وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ﴾؟
Atau firman-Nya: “Dan orang-orang yang menuduh perempuan
terjaga”?
وَكَذٰلِكَ
جَمِيعُ الْآيَاتِ الَّتِي فِيهَا بَيَانُ أَحْكَامِ الْمِيرَاثِ وَالطَّلَاقِ
وَالْحُدُودِ وَغَيْرِهَا.
Demikian pula semua ayat yang menjelaskan hukum waris,
talak, hudud, dan lainnya.
وَإِنَّمَا
الْمُحَرِّكُ لِمَا فِي الْقَلْبِ مَا يُنَاسِبُهُ.
Yang menggerakkan isi hati hanyalah sesuatu yang sesuai
dengannya.
وَالْأَبْيَاتُ
إِنَّمَا يَضَعُهَا الشُّعَرَاءُ إِعْرَابًا بِهَا عَنْ أَحْوَالِ الْقَلْبِ.
Sedangkan bait-bait syair memang dibuat para penyair untuk
mengungkap keadaan hati.
فَلَا
يَحْتَاجُ فِي فَهْمِ الْحَالِ مِنْهَا إِلَى تَكَلُّفٍ.
Sehingga memahami keadaan dari syair tidak membutuhkan
banyak rekayasa.
نَعَمْ،
مَنْ اسْتَوْلَى عَلَيْهِ حَالَةٌ غَالِبَةٌ قَاهِرَةٌ لَمْ تُبْقِ فِيهِ
مُتَّسَعًا لِغَيْرِهَا.
Ya, orang yang dikuasai keadaan yang sangat kuat sehingga
tidak tersisa ruang untuk selainnya,
وَمَعَهُ
تَيَقُّظٌ وَذَكَاءٌ ثَاقِبٌ يَتَفَطَّنُ بِهِ لِلْمَعَانِي الْبَعِيدَةِ مِنَ
الْأَلْفَاظِ.
dan ia punya kewaspadaan serta kecerdasan tajam untuk
menangkap makna jauh dari lafaz,
فَقَدْ
يَخْرُجُ وَجْدُهُ عَلَى كُلِّ مَسْمُوعٍ.
maka wajd-nya bisa muncul dari apa pun yang didengar.
كَمَنْ
يَخْطُرُ لَهُ عِنْدَ قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ﴾
حَالَةُ الْمَوْتِ الْمُحْوِجِ إِلَى الْوَصِيَّةِ.
Seperti orang yang saat mendengar ayat “Allah mewasiatkan…”
terlintas keadaan kematian yang membuat butuh wasiat.
وَأَنَّ
كُلَّ إِنْسَانٍ لَا بُدَّ أَنْ يُخَلِّفَ مَالَهُ وَوَلَدَهُ، وَهُمَا
مَحْبُوبَاهُ مِنَ الدُّنْيَا.
Dan bahwa setiap orang pasti meninggalkan harta dan anak,
padahal keduanya adalah yang ia cintai di dunia.
فَيَتْرُكُ
أَحَدَ الْمَحْبُوبَيْنِ لِلثَّانِي، وَيَهْجُرُهُمَا جَمِيعًا.
Ia meninggalkan salah satu yang dicintai demi yang lain,
lalu meninggalkan keduanya.
فَيَغْلِبُ
عَلَيْهِ الْخَوْفُ وَالْجَزَعُ.
Sehingga ia dikuasai takut dan cemas.
أَوْ
يَسْمَعُ ذِكْرَ اللَّهِ فِي قَوْلِهِ: ﴿يُوصِيكُمُ اللَّهُ﴾ فَيَدْهَشُ
بِمُجَرَّدِ الِاسْمِ عَمَّا قَبْلَهُ وَبَعْدَهُ.
Atau ia mendengar penyebutan Allah dalam “Allah
mewasiatkan…”, lalu ia terhenyak hanya karena Nama itu, sehingga lupa pada
sebelum dan sesudahnya.
أَوْ
يَخْطُرُ لَهُ رَحْمَةُ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى عِبَادِهِ وَشَفَقَتُهُ بِأَنَّهُ
تَوَلَّى قِسْمَ مُوَارِيثِهِمْ بِنَفْسِهِ.
Atau terlintas rahmat Allah dan kasih sayang-Nya kepada
hamba-Nya: Dia sendiri yang mengatur pembagian warisan mereka.
نَظَرًا
لَهُمْ فِي حَيَاتِهِمْ وَمَوْتِهِمْ.
Sebagai perhatian bagi mereka saat hidup dan setelah mati.
فَيَقُولُ:
إِذَا نَظَرَ لِأَوْلَادِنَا بَعْدَ مَوْتِنَا، فَلَا نَشُكُّ أَنَّهُ يَنْظُرُ
لَنَا.
Lalu ia berkata: “Jika Dia memperhatikan anak-anak kita
setelah kematian kita, maka tidak ragu Dia memperhatikan kita.”
فَيَهِيجُ
مِنْهُ حَالُ الرَّجَاءِ.
Maka bangkit darinya keadaan harap.
وَيُورِثُهُ
ذٰلِكَ اسْتِبْشَارًا وَسُرُورًا.
Dan itu mewariskan kegembiraan dan sukacita.
أَوْ
يَخْطُرُ لَهُ مِنْ قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ﴾
تَفْضِيلُ الذَّكَرِ.
Atau dari ayat “bagi laki-laki seperti dua perempuan”
terlintas keutamaan laki-laki.
بِكَوْنِهِ
رَجُلًا عَلَى الْأُنْثَى.
Karena ia laki-laki dibanding perempuan.
وَأَنَّ
الْفَضْلَ فِي الْآخِرَةِ لِرِجَالٍ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ
ذِكْرِ اللَّهِ.
Dan bahwa keutamaan di akhirat untuk laki-laki yang tidak
dilalaikan perdagangan dan jual beli dari dzikir Allah.
وَأَنَّ
مَنْ أَلْهَاهُ غَيْرُ اللَّهِ تَعَالَى عَنِ اللَّهِ تَعَالَى فَهُوَ مِنَ
الْإِنَاثِ لَا مِنَ الرِّجَالِ تَحْقِيقًا.
Dan bahwa siapa yang dilalaikan selain Allah dari Allah,
pada hakikatnya ia termasuk “perempuan” bukan “laki-laki” (yakni lemah).
فَيَخْشَى
أَنْ يُحْجَبَ أَوْ يُؤَخَّرَ فِي نَعِيمِ الْآخِرَةِ.
Maka ia takut terhijab atau ditunda dari nikmat akhirat.
كَمَا
أُخِّرَتِ الْأُنْثَى فِي أَمْوَالِ الدُّنْيَا.
Sebagaimana perempuan diberi bagian lebih kecil dalam harta
dunia.
فَأَمْثَالُ
هٰذَا قَدْ يُحَرِّكُ الْوَجْدَ.
Hal seperti ini bisa membangkitkan wajd.
وَلٰكِنْ
لِمَنْ فِيهِ وَصْفَانِ.
Namun hanya bagi orang yang memiliki dua sifat.
أَحَدُهُمَا:
حَالَةٌ غَالِبَةٌ مُسْتَغْرِقَةٌ قَاهِرَةٌ.
Pertama: keadaan yang dominan, menyeluruh, dan kuat.
وَالْآخَرُ:
تَفَطُّنٌ بَلِيغٌ وَتَيَقُّظٌ بَالِغٌ.
Kedua: ketajaman menangkap dan kewaspadaan yang tinggi.
كَامِلٌ
لِلتَّنْبِيهِ بِالْأُمُورِ الْقَرِيبَةِ عَلَى الْمَعَانِي الْبَعِيدَةِ.
Sehingga mampu mengambil isyarat dari hal yang dekat untuk
makna yang jauh.
وَذٰلِكَ
مِمَّا يَعِزُّ.
Dan itu jarang.
فَلِأَجْلِ
ذٰلِكَ يَفْزَعُ إِلَى الْغِنَاءِ.
Karena itu mereka condong kepada nyanyian.
الَّذِي
هُوَ أَلْفَاظٌ مُنَاسِبَةٌ لِلْأَحْوَالِ.
Karena nyanyian berisi lafaz-lafaz yang sesuai dengan
keadaan hati.
حَتَّى
يَتَسَارَعَ هَيَجَانُهَا.
Sehingga gejolaknya cepat bangkit.
وَرُوِيَ
أَنَّ أَبَا الْحَسَنِ النُّورِيَّ كَانَ مَعَ جَمَاعَةٍ فِي دَعْوَةٍ.
Diriwayatkan bahwa Abu al-Hasan an-Nuri berada bersama
sekelompok orang dalam sebuah undangan.
فَجَرَى
بَيْنَهُمْ مَسْأَلَةٌ فِي الْعِلْمِ، وَأَبُو الْحُسَيْنِ سَاكِتٌ.
Lalu mereka membahas suatu masalah ilmu, sementara Abu
al-Hasan diam.
ثُمَّ
رَفَعَ رَأْسَهُ وَأَنْشَدَهُمْ:
رُبَّ
وَرْقَاءَ هَتُوفٍ فِي الضُّحَى … ذَاتِ شَجْوٍ صَدَحَتْ فِي فَنَنِ
ذَكَرَتْ
إِلْفًا وَدَهْرًا صَالِحًا … وَبَكَتْ حُزْنًا فَهَاجَتْ حُزْنِي
فَبُكَائِي
رُبَّمَا أَرَقَّهَا … وَبُكَاهَا رُبَّمَا أَرَقَنِي
وَلَقَدْ
أَشْكُو فَمَا أَفْهَمُهَا … وَلَقَدْ تَشْكُو فَمَا تَفْهَمُنِي
غَيْرَ
أَنِّي بِالْجَوَى أَعْرِفُهَا … وَهِيَ أَيْضًا بِالْجَوَى تَعْرِفُنِي
Kemudian ia mengangkat kepala dan melantunkan:
“Berapa banyak burung merpati bersuara di pagi hari … penuh
duka, bersenandung di dahan;
ia mengingat kekasih dan masa yang baik … lalu menangis
sedih, maka sedihku pun bangkit;
tangisku kadang membuatnya lembut … dan tangisnya kadang
membuatku lembut;
aku mengeluh tetapi tak memahaminya … ia mengeluh tetapi tak
memahamiku;
hanya saja, karena luka rindu aku memahaminya … dan ia pun
karena luka rindu memahamiku.”
قَالَ:
فَمَا بَقِيَ أَحَدٌ مِنَ الْقَوْمِ إِلَّا قَامَ وَتَوَاجَدَ.
Ia berkata: tidak ada seorang pun yang tersisa dari mereka
kecuali berdiri dan mengalami wajd.
وَلَمْ
يَحْصُلْ لَهُمْ هٰذَا الْوَجْدُ مِنَ الْعِلْمِ الَّذِي خَاضُوا فِيهِ.
Wajd itu tidak mereka dapatkan dari ilmu yang mereka bahas
tadi.
وَإِنْ
كَانَ الْعِلْمُ جِدًّا وَحَقًّا.
Padahal ilmu itu serius dan benar.
اَلْوَجْهُ
الثَّانِي: أَنَّ الْقُرْآنَ مَحْفُوظٌ لِلْأَكْثَرِينَ وَمُتَكَرِّرٌ عَلَى
الْأَسْمَاعِ وَالْقُلُوبِ.
Sisi kedua: Al-Qur’an telah dihafal oleh kebanyakan orang
dan berulang-ulang terdengar oleh telinga dan hati.
وَكُلَّمَا
سُمِعَ أَوَّلًا عَظُمَ أَثَرُهُ فِي الْقُلُوبِ.
Setiap kali didengar pertama kali, pengaruhnya besar di
hati.
وَفِي
الْكَرَّةِ الثَّانِيَةِ يَضْعُفُ أَثَرُهُ.
Pada kali kedua pengaruhnya melemah.
وَفِي
الثَّالِثَةِ يَكَادُ يَسْقُطُ أَثَرُهُ.
Pada kali ketiga hampir hilang pengaruhnya.
وَلَوْ
كُلِّفَ صَاحِبُ الْوَجْدِ الْغَالِبِ أَنْ يُحْضِرَ وَجْدَهُ عَلَى بَيْتٍ
وَاحِدٍ عَلَى الدَّوَامِ فِي مَرَّاتٍ مُتَقَارِبَةٍ لَمْ يُمْكِنْهُ ذٰلِكَ.
Jika orang yang wajd-nya kuat diminta menghadirkan wajd pada
satu bait yang sama berulang-ulang dalam waktu dekat, ia tidak mampu.
وَلَوْ
أُبْدِلَ بِبَيْتٍ آخَرَ لِتَجَدَّدَ لَهُ أَثَرٌ.
Namun jika diganti dengan bait lain, pengaruh baru muncul
lagi.
وَإِنْ
كَانَ مُعْرِبًا عَنْ عَيْنِ ذٰلِكَ الْمَعْنَى.
Walaupun maknanya sama.
وَلٰكِنْ
كَوْنَ النَّظْمِ وَاللَّفْظِ غَرِيبًا بِالْإِضَافَةِ إِلَى الْأُولَى يُحَرِّكُ
النَّفْسَ.
Namun karena susunan dan lafaznya baru dibanding yang
pertama, jiwa menjadi bergerak.
وَالْقُرْآنُ
مَحْصُورٌ لَا يُمْكِنُ الزِّيَادَةُ عَلَيْهِ.
Al-Qur’an terbatas; tidak mungkin ditambah.
وَكُلُّهُ
مَحْفُوظٌ مُتَكَرِّرٌ.
Dan semuanya terhafal dan terus berulang.
وَإِلَى
مَا ذَكَرْنَاهُ أَشَارَ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ حَيْثُ رَأَى
الْأَعْرَابَ يَقْدَمُونَ فَيَسْمَعُونَ الْقُرْآنَ وَيَبْكُونَ فَقَالَ: كُنَّا
كَمَا كُنْتُمْ وَلٰكِنْ قَسَتْ قُلُوبُنَا.
Kepada makna ini Abu Bakr as-Siddiq رضي الله عنه mengisyaratkan ketika
melihat orang Arab Badui datang, mendengar Al-Qur’an lalu menangis; ia berkata:
“Dahulu kami pun seperti kalian, tetapi hati kami telah mengeras.”
وَلَا
تَظُنَّ أَنَّ قَلْبَ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ أَقْسَى مِنْ قُلُوبِ
الْأَجْلَافِ مِنَ الْعَرَبِ.
Jangan sangka hati as-Siddiq lebih keras daripada hati orang
Arab kasar.
وَأَنَّهُ
كَانَ أَخْلَى عَنْ حُبِّ اللَّهِ تَعَالَى وَحُبِّ كَلَامِهِ مِنْ قُلُوبِهِمْ.
Dan jangan sangka hatinya lebih kosong dari cinta kepada
Allah dan kalam-Nya daripada hati mereka.
وَلٰكِنَّ
التَّكْرَارَ عَلَى قَلْبِهِ اقْتَضَى الْمَرُونَ عَلَيْهِ وَقِلَّةَ التَّأَثُّرِ.
Namun pengulangan pada hatinya menyebabkan terbiasa,
sehingga pengaruhnya berkurang.
لِمَا
حَصَلَ لَهُ مِنَ الْأُنْسِ بِكَثْرَةِ اسْتِمَاعِهِ.
Karena ia telah akrab dengan seringnya mendengar.
إِذْ
مُحَالٌ فِي الْعَادَاتِ أَنْ يَسْمَعَ السَّامِعُ آيَةً لَمْ يَسْمَعْهَا قَبْلُ
فَيَبْكِي.
Sebab mustahil menurut kebiasaan: seseorang mendengar ayat
yang belum pernah ia dengar lalu menangis,
ثُمَّ
يَدُومَ عَلَى بُكَائِهِ عَلَيْهَا عِشْرِينَ سَنَةً.
lalu terus menangis karena ayat itu selama dua puluh tahun,
ثُمَّ
يُرَدِّدُهَا وَيَبْكِي.
kemudian mengulang-ulangnya dengan tangis yang sama,
وَلَا
يُفَارِقُ الْأَوَّلُ الْآخِرَ إِلَّا فِي كَوْنِهِ غَرِيبًا جَدِيدًا.
padahal yang membedakan hanya karena ia baru dan belum
biasa.
وَلِكُلِّ
جَدِيدٍ لَذَّةٌ.
Dan setiap yang baru ada kenikmatannya.
وَلِكُلِّ
طَارِئٍ صَدْمَةٌ.
Dan setiap yang datang tiba-tiba ada “guncangannya”.
وَمَعَ
كُلِّ مَأْلُوفٍ أُنْسٌ يُنَاقِضُ الصَّدْمَةَ.
Sedangkan yang sudah biasa melahirkan keakraban yang
meniadakan guncangan itu.
وَلِذَا
هَمَّ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنْ يَمْنَعَ النَّاسَ مِنْ كَثْرَةِ
الطَّوَافِ.
Karena itu ‘Umar رضي الله عنه pernah berniat melarang manusia terlalu
banyak tawaf.
وَقَالَ:
قَدْ خَشِيتُ أَنْ يَتَهَاوَنَ النَّاسُ بِهٰذَا الْبَيْتِ.
Ia berkata: “Aku khawatir manusia menjadi meremehkan Bait
ini.”
أَيْ
يَأْنَسُوا بِهِ.
Yakni menjadi terlalu terbiasa dengannya.
وَمَنْ
قَدِمَ حَاجًّا فَرَأَى الْبَيْتَ أَوَّلًا بَكَى وَزَعَقَ وَرُبَّمَا غُشِيَ
عَلَيْهِ.
Orang yang datang berhaji, ketika pertama melihat Ka‘bah, ia
menangis, berteriak, bahkan bisa pingsan.
إِذْ
وَقَعَ عَلَيْهِ بَصَرُهُ.
Karena pandangannya jatuh kepada Ka‘bah.
وَقَدْ
يُقِيمُ بِمَكَّةَ شَهْرًا وَلَا يَحِسُّ مِنْ ذٰلِكَ فِي نَفْسِهِ بِأَثَرٍ.
Namun ia bisa tinggal di Makkah sebulan tanpa merasakan
pengaruh seperti itu.
فَإِذًا
الْمُغَنِّي يَقْدِرُ عَلَى الْأَبْيَاتِ الْغَرِيبَةِ فِي كُلِّ وَقْتٍ.
Maka penyanyi mampu menghadirkan bait-bait yang “baru” pada
setiap waktu.
وَلَا
يَقْدِرُ فِي كُلِّ وَقْتٍ عَلَى آيَةٍ غَرِيبَةٍ.
Sedangkan qari tidak mampu menghadirkan ayat yang “baru”
setiap waktu.
اَلْوَجْهُ
الثَّالِثُ: أَنَّ لِوَزْنِ الْكَلَامِ بِذَوْقِ الشِّعْرِ تَأْثِيرًا فِي
النَّفْسِ.
Sisi ketiga: irama kata (wazan) dengan “rasa syair” memiliki
pengaruh pada jiwa.
فَلَيْسَ
الصَّوْتُ الْمَوْزُونُ الطَّيِّبُ كَالصَّوْتِ الطَّيِّبِ الَّذِي لَيْسَ
بِمَوْزُونٍ.
Suara indah yang berirama tidak sama dengan suara indah yang
tidak berirama.
وَإِنَّمَا
يُوجَدُ الْوَزْنُ فِي الشِّعْرِ دُونَ الْآيَاتِ.
Irama itu ada pada syair, bukan pada ayat-ayat (dalam bentuk
nyanyian dan ritme).
وَلَوْ
زَحَفَ الْمُغَنِّي الْبَيْتَ الَّذِي يُنْشِدُهُ.
Jika penyanyi merusak irama bait yang ia lantunkan,
أَوْ
لَحَنَ فِيهِ.
atau salah melagukannya,
أَوْ
مَالَ عَنْ حَدِّ تِلْكَ الطَّرِيقَةِ فِي اللَّحْنِ.
atau menyimpang dari pola lagu itu,
لَاضْطَرَبَ
قَلْبُ الْمُسْتَمِعِ وَبَطَلَ وَجْدُهُ وَسَمَاعُهُ.
niscaya hati pendengar terganggu, dan wajd serta samā‘-nya
batal.
وَنَفَرَ
طَبْعُهُ لِعَدَمِ الْمُنَاسَبَةِ.
Tabiatnya pun menjauh karena tidak sesuai.
وَإِذَا
نَفَرَ الطَّبْعُ اضْطَرَبَ الْقَلْبُ وَتَشَوَّشَ.
Jika tabiat menolak, hati pun kacau dan terganggu.
فَالْوَزْنُ
إِذًا مُؤَثِّرٌ.
Maka irama itu berpengaruh.
فَلِذٰلِكَ
طَابَ الشِّعْرُ.
Karena itu syair menjadi terasa enak.
اَلْوَجْهُ
الرَّابِعُ: أَنَّ الشِّعْرَ الْمَوْزُونَ يَخْتَلِفُ تَأْثِيرُهُ فِي النَّفْسِ
بِالْأَلْحَانِ الَّتِي تُسَمَّى الطُّرُقَ وَالْأُسْتَانَاتِ.
Sisi keempat: syair berirama berbeda pengaruhnya sesuai
lagu-lagu yang disebut “ṭuruq” dan “ustānāt”.
وَإِنَّمَا
اخْتِلَافُ تِلْكَ الطُّرُقِ بِمَدِّ الْمَقْصُورِ وَقَصْرِ الْمَمْدُودِ.
Perbedaan cara itu terjadi dengan memanjangkan yang pendek
dan memendekkan yang panjang.
وَالْوَقْفِ
فِي أَثْنَاءِ الْكَلِمَاتِ.
Dan berhenti di tengah kata.
وَالْقَطْعِ
وَالْوَصْلِ فِي بَعْضِهَا.
Serta memutus dan menyambung pada sebagian bagiannya.
وَهٰذَا
التَّصَرُّفُ جَائِزٌ فِي الشِّعْرِ.
Pengolahan seperti ini boleh dalam syair.
وَلَا
يَجُوزُ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا التِّلَاوَةُ كَمَا أُنْزِلَ.
Namun dalam Al-Qur’an tidak boleh kecuali membaca
sebagaimana diturunkan.
فَقَصْرُهُ
وَمَدُّهُ وَالْوَقْفُ وَالْوَصْلُ وَالْقَطْعُ فِيهِ عَلَى خِلَافِ مَا تَقْضِيهِ
التِّلَاوَةُ حَرَامٌ أَوْ مَكْرُوهٌ.
Maka memendekkan, memanjangkan, berhenti, menyambung,
memutus Al-Qur’an dengan cara yang menyelisihi aturan tilawah adalah haram atau
makruh.
وَإِذَا
رُتِّلَ الْقُرْآنُ كَمَا أُنْزِلَ سَقَطَ عَنْهُ الْأَثَرُ الَّذِي سَبَبُهُ
وَزْنُ الْأَلْحَانِ.
Jika Al-Qur’an dibaca tartil sebagaimana diturunkan, maka
hilang efek yang sebabnya adalah “irama lagu” (seperti pada syair).
وَهُوَ
سَبَبٌ مُسْتَقِلٌّ بِالتَّأْثِيرِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَفْهُومًا.
Padahal itu sebab yang berdiri sendiri dalam memengaruhi
jiwa, walaupun tanpa makna yang dipahami.
كَمَا
فِي الْأَوْتَارِ وَالْمِزْمَارِ وَالشَّاهِينِ.
Sebagaimana pada alat bersenar, seruling, dan syāhīn.
وَسَائِرِ
الْأَصْوَاتِ الَّتِي لَا تُفْهَمُ.
Dan suara-suara lain yang tidak dipahami maknanya.
اَلْوَجْهُ
الْخَامِسُ: أَنَّ الْأَلْحَانَ الْمَوْزُونَةَ تُعَضَّدُ وَتُؤَكَّدُ
بِإِيقَاعَاتٍ وَأَصْوَاتٍ أُخَرَ مَوْزُونَةٍ خَارِجَ الْحَلْقِ.
Sisi kelima: lagu yang berirama dapat diperkuat dengan ritme
dan suara berirama lain yang keluar bukan dari tenggorokan.
كَالضَّرْبِ
بِالْقَضِيبِ وَالدُّفِّ وَغَيْرِهِ.
Seperti pukulan tongkat, rebana, dan lainnya.
لِأَنَّ
الْوَجْدَ الضَّعِيفَ لَا يُسْتَثَارُ إِلَّا بِسَبَبٍ قَوِيٍّ.
Karena wajd yang lemah tidak bangkit kecuali dengan sebab
yang kuat.
وَإِنَّمَا
يَقْوَى بِمَجْمُوعِ هٰذِهِ الْأَسْبَابِ.
Dan ia menjadi kuat dengan gabungan sebab-sebab ini.
وَلِكُلِّ
وَاحِدٍ مِنْهَا حَظٌّ فِي التَّأْثِيرِ.
Masing-masing sebab itu punya bagian dalam pengaruh.
وَوَاجِبٌ
أَنْ يُصَانَ الْقُرْآنُ عَنْ مِثْلِ هٰذِهِ الْقَرَائِنِ.
Wajib menjaga Al-Qur’an dari hal-hal pengiring semacam ini.
لِأَنَّ
صُورَتَهَا عِنْدَ عَامَّةِ الْخَلْقِ صُورَةُ اللَّهْوِ وَاللَّعِبِ.
Karena bentuknya, menurut kebanyakan orang, adalah bentuk
hiburan dan permainan.
وَالْقُرْآنُ
جِدٌّ كُلُّهُ عِنْدَ كَافَّةِ الْخَلْقِ.
Sedangkan Al-Qur’an adalah keseriusan seluruhnya menurut
semua orang.
فَلَا
يَجُوزُ أَنْ يُمْزَجَ بِالْحَقِّ الْمَحْضِ مَا هُوَ لَهْوٌ عِنْدَ الْعَامَّةِ.
Maka tidak boleh mencampur hak murni dengan sesuatu yang
dianggap hiburan oleh orang awam.
وَصُورَتُهُ
صُورَةُ اللَّهْوِ عِنْدَ الْخَاصَّةِ.
Dan yang bentuknya pun dianggap hiburan oleh orang khusus.
وَإِنْ
كَانُوا لَا يَنْظُرُونَ إِلَيْهَا مِنْ حَيْثُ إِنَّهَا لَهْوٌ.
Walaupun mereka tidak memandangnya sebagai hiburan.
بَلْ
يَنْبَغِي أَنْ يُوَقَّرَ الْقُرْآنُ.
Bahkan Al-Qur’an harus dimuliakan.
فَلَا
يُقْرَأُ عَلَى شَوَارِعِ الطُّرُقِ.
Maka tidak dibaca di jalan-jalan raya.
بَلْ
فِي مَجْلِسٍ سَاكِنٍ.
Namun di majelis yang tenang.
وَلَا
فِي حَالِ الْجَنَابَةِ.
Dan tidak dalam keadaan junub.
وَلَا
عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ.
Dan tidak dalam keadaan tanpa bersuci.
وَلَا
يَقْدِرُ عَلَى الْوَفَاءِ بِحَقِّ حُرْمَةِ الْقُرْآنِ فِي كُلِّ حَالٍ إِلَّا
الْمُرَاقِبُونَ لِأَحْوَالِهِمْ.
Tidak mampu menunaikan hak kehormatan Al-Qur’an dalam setiap
keadaan kecuali orang yang benar-benar mengawasi dirinya.
فَيَعْدِلُ
إِلَى الْغِنَاءِ الَّذِي لَا يَسْتَحِقُّ هٰذِهِ الْمُرَاقَبَةَ وَالْمُرَاعَاةَ.
Maka mereka memilih nyanyian yang tidak menuntut pengawasan
dan penjagaan seketat itu.
وَلِذٰلِكَ
لَا يَجُوزُ الضَّرْبُ بِالدُّفِّ مَعَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ لَيْلَةَ الْعُرْسِ.
Karena itu tidak boleh memukul rebana sambil membaca
Al-Qur’an pada malam pernikahan.
وَقَدْ
أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِضَرْبِ الدُّفِّ فِي
الْعُرْسِ.
Padahal Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan memukul
rebana pada acara pernikahan.
فَقَالَ:
«أَظْهِرُوا النِّكَاحَ وَلَوْ بِضَرْبِ الْغِرْبَالِ» (١).
Beliau bersabda: “Umumkanlah pernikahan, walau dengan
memukul ayakan.” (1)
أَوْ
بِلَفْظٍ مَعْنَاهُ هٰذَا.
Atau dengan lafaz yang semakna.
وَذٰلِكَ
جَائِزٌ مَعَ الشِّعْرِ دُونَ الْقُرْآنِ.
Hal itu boleh bersama syair, tidak bersama Al-Qur’an.
وَلِذٰلِكَ
لَمَّا دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْتَ
الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ.
Karena itu, ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم masuk ke rumah
ar-Rubayyi‘ binti Mu‘awwidz,
وَعِنْدَهَا
جَوَارٍ.
sementara di sana ada beberapa gadis,
فَسَمِعَ
إِحْدَاهُنَّ تَقُولُ: وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ.
beliau mendengar salah seorang dari mereka bernyanyi: “Di
tengah kami ada seorang Nabi yang mengetahui apa yang terjadi esok hari.”
عَلَى
وَجْهِ الْغِنَاءِ.
Dengan cara bernyanyi.
فَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعِي هٰذَا، وَقُولِي مَا كُنْتِ تَقُولِينَ»
(٢).
Maka beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tinggalkan ini, dan ucapkanlah
seperti yang biasa engkau ucapkan.” (2)
وَهٰذِهِ
شَهَادَةٌ بِالنُّبُوَّةِ.
Ungkapan itu adalah pernyataan tentang kenabian.
فَزَجَرَهَا
عَنْهَا، وَرَدَّهَا إِلَى الْغِنَاءِ الَّذِي هُوَ لَهْوٌ.
Beliau menegurnya agar tidak mengatakan itu, dan
mengembalikannya kepada nyanyian yang bersifat hiburan.
لِأَنَّ
هٰذَا جِدٌّ مَحْضٌ، فَلَا يُقْرَنُ بِصُورَةِ اللَّهْوِ.
Karena yang ini adalah hal yang sangat serius, maka tidak
boleh disandingkan dengan bentuk hiburan.
فَإِذًا
يَتَعَذَّرُ بِسَبَبِهِ تَقْوِيَةُ الْأَسْبَابِ الَّتِي بِهَا يَصِيرُ السَّمَاعُ
مُحَرِّكًا لِلْقَلْبِ.
Maka karena itu menjadi sulit memperkuat sebab-sebab yang
dengannya samā‘ menjadi penggerak hati.
فَوَاجِبٌ
فِي الِاحْتِرَامِ الْعُدُولُ إِلَى الْغِنَاءِ عَنِ الْقُرْآنِ.
Karena tuntutan penghormatan, maka (dalam konteks ini)
berpindah kepada nyanyian—bukan Al-Qur’an—menjadi sikap yang semestinya.
كَمَا
وَجَبَ عَلَى تِلْكَ الْجَارِيَةِ الْعُدُولُ عَنْ شَهَادَةِ النُّبُوَّةِ إِلَى
الْغِنَاءِ.
Sebagaimana gadis itu wajib beralih dari ucapan tentang kenabian kepada nyanyian.