Pengaruh-Pengaruh Sima‘ dan Adab-Adabnya (4)
اَلْوَجْهُ السَّادِسُ.
Alasan keenam.
أَنَّ
الْمُغَنِّيَ قَدْ يُغَنِّي بِبَيْتٍ لَا يُوَافِقُ حَالَ السَّامِعِ،
فَيَكْرَهُهُ وَيَنْهَاهُ عَنْهُ، وَيَسْتَدْعِي غَيْرَهُ.
Bahwa seorang penyanyi terkadang menyanyikan satu bait yang
tidak sesuai dengan keadaan pendengar, lalu pendengar membencinya, melarangnya,
dan meminta bait yang lain.
فَلَيْسَ
كُلُّ كَلَامٍ مُوَافِقًا لِكُلِّ حَالٍ.
Tidak setiap perkataan cocok untuk setiap keadaan.
فَلَوِ
اجْتَمَعُوا فِي الدَّعَوَاتِ عَلَى الْقَارِئِ، فَرُبَّمَا يَقْرَأُ آيَةً لَا
تُوَافِقُ حَالَهُمْ.
Jika mereka berkumpul dalam undangan-undangan pada seorang
qāri’, bisa jadi ia membaca satu ayat yang tidak sesuai dengan keadaan mereka.
إِذِ
الْقُرْآنُ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ كُلِّهِمْ عَلَى اخْتِلَافِ الْأَحْوَالِ.
Karena Al-Qur’an adalah penyembuh bagi semua manusia,
meskipun keadaan mereka beragam.
فَآيَاتُ
الرَّحْمَةِ شِفَاءُ الْخَائِفِ، وَآيَاتُ الْعَذَابِ شِفَاءُ الْمَغْرُورِ
الْآمِنِ.
Ayat-ayat rahmat adalah penyembuh bagi orang yang takut,
sedangkan ayat-ayat azab adalah penyembuh bagi orang yang tertipu dan merasa
aman.
وَتَفْصِيلُ
ذٰلِكَ مِمَّا يَطُولُ.
Perincian hal itu panjang.
فَإِذًا
لَا يُؤْمَنُ أَنْ لَا يُوَافِقَ الْمَقْرُوءُ الْحَالَ.
Maka tidak aman dari kemungkinan bahwa bacaan itu tidak
sesuai dengan keadaan.
وَتَكْرَهَهُ
النَّفْسُ.
Lalu jiwa membencinya.
فَيَتَعَرَّضُ
بِهِ لِخَطَرِ كَرَاهَةِ كَلَامِ اللهِ تَعَالَى مِنْ حَيْثُ لَا يَجِدُ سَبِيلًا
إِلَى دَفْعِهِ.
Sehingga ia terpapar bahaya membenci kalam Allah تعالى,
sementara ia tidak menemukan jalan untuk menolaknya.
فَالِاحْتِرَازُ
عَنْ خَطَرِ ذٰلِكَ حَزْمٌ بَالِغٌ وَحَتْمٌ وَاجِبٌ.
Menghindari bahaya itu adalah kehati-hatian besar dan suatu
kepastian yang wajib.
إِذْ
لَا يَجِدُ الْخَلَاصَ عَنْهُ إِلَّا بِتَنْزِيلِهِ عَلَى وِفْقِ حَالِهِ.
Karena ia tidak selamat darinya kecuali dengan mengaitkannya
sesuai keadaannya.
وَلَا
يَجُوزُ تَنْزِيلُ كَلَامِ اللهِ تَعَالَى إِلَّا عَلَى مَا أَرَادَ اللهُ
تَعَالَى.
Padahal tidak boleh mengaitkan kalam Allah تعالى kecuali sesuai dengan
apa yang Allah تعالى
maksudkan.
وَأَمَّا
قَوْلُ الشَّاعِرِ فَيَجُوزُ تَنْزِيلُهُ عَلَى غَيْرِ مُرَادِهِ.
Adapun ucapan penyair, boleh dikaitkan pada makna selain
maksudnya.
فَفِيهِ
خَطَرُ الْكَرَاهَةِ أَوْ خَطَرُ التَّأْوِيلِ الْخَطَإِ لِمُوَافَقَةِ الْحَالِ.
Maka di situ ada risiko kebencian, atau risiko takwil yang
keliru demi menyesuaikan keadaan.
فَيَجِبُ
تَوْقِيرُ كَلَامِ اللهِ وَصِيَانَتُهُ عَنْ ذٰلِكَ.
Karena itu wajib memuliakan kalam Allah dan menjaganya dari
hal tersebut.
وَهٰذَا
مَا يَنْقَدِحُ فِي عِلَلِ انْصِرَافِ الشُّيُوخِ إِلَى سَمَاعِ الْغِنَاءِ عَنْ
سَمَاعِ الْقُرْآنِ.
Inilah yang terlintas sebagai sebab para syekh lebih memilih
mendengar nyanyian daripada mendengar Al-Qur’an.
وَهٰهُنَا
وَجْهٌ سَابِعٌ ذَكَرَهُ أَبُو نَصْرٍ السَّرَّاجُ الطُّوسِيُّ فِي الِاعْتِذَارِ
عَنْ ذٰلِكَ.
Di sini ada alasan ketujuh yang disebutkan oleh Abu Nashr
as-Sarrāj ath-Ṭūsī sebagai pembelaan atas hal itu.
فَقَالَ:
الْقُرْآنُ كَلَامُ اللهِ وَصِفَةٌ مِنْ صِفَاتِهِ.
Ia berkata: Al-Qur’an adalah kalam Allah dan salah satu
sifat-Nya.
وَهُوَ
حَقٌّ لَا تُطِيقُهُ الْبَشَرِيَّةُ.
Ia adalah kebenaran yang tidak sanggup ditanggung manusia.
لِأَنَّهُ
غَيْرُ مَخْلُوقٍ، فَلَا تُطِيقُهُ الصِّفَاتُ الْمَخْلُوقَةُ.
Karena ia bukan makhluk, maka sifat-sifat makhluk tidak
mampu menanggungnya.
وَلَوْ
كُشِفَ لِلْقُلُوبِ ذَرَّةٌ مِنْ مَعْنَاهُ وَهَيْبَتِهِ لَتَصَدَّعَتْ وَدَهِشَتْ
وَتَحَيَّرَتْ.
Jika disingkap bagi hati sebutir saja dari makna dan
keagungannya, niscaya hati akan terpecah, terhenyak, dan kebingungan.
وَالْأَلْحَانُ
الطَّيِّبَةُ مُنَاسَبَةٌ لِلطِّبَاعِ.
Sedangkan lagu-lagu yang indah sesuai dengan tabiat.
وَنِسْبَتُهَا
نِسْبَةُ الْحُظُوظِ لَا نِسْبَةُ الْحُقُوقِ.
Kaitannya adalah kaitan “bagian/kenikmatan”, bukan kaitan
“hak”.
وَالشِّعْرُ
نِسْبَتُهُ نِسْبَةُ الْحُظُوظِ.
Syair pun kaitannya adalah kaitan kenikmatan.
فَإِذَا
عَلِقَتِ الْأَلْحَانُ وَالْأَصْوَاتُ بِمَا فِي الْأَبْيَاتِ مِنَ الْإِشَارَاتِ
وَاللَّطَائِفِ، شَاكَلَ بَعْضُهَا بَعْضًا.
Jika lagu dan suara disandarkan pada isyarat dan makna-makna
halus dalam bait-bait, sebagian menjadi serasi dengan sebagian yang lain.
فَكَانَ
أَقْرَبَ إِلَى الْحُظُوظِ وَأَخَفَّ عَلَى الْقُلُوبِ، لِمُشَاكَلَةِ
الْمَخْلُوقِ الْمَخْلُوقَ.
Maka hal itu lebih dekat kepada kenikmatan dan lebih ringan
bagi hati, karena keserupaan sesuatu yang makhluk dengan makhluk.
فَمَا
دَامَتِ الْبَشَرِيَّةُ بَاقِيَةً.
Selama sisi kemanusiaan masih ada,
وَنَحْنُ
بِصِفَاتِنَا وَحُظُوظِنَا نَتَنَعَّمُ بِالنَّغَمَاتِ الشَّجِيَّةِ
وَالْأَصْوَاتِ الطَّيِّبَةِ.
dan kita dengan sifat-sifat serta kenikmatan kita menikmati
nada-nada yang merdu dan suara-suara yang indah,
فَانْبِسَاطُنَا
لِمُشَاهَدَةِ بَقَاءِ هٰذِهِ الْحُظُوظِ إِلَى الْقَصَائِدِ أَوْلَى مِنِ
انْبِسَاطِنَا إِلَى كَلَامِ اللهِ تَعَالَى.
maka kelapangan jiwa kita karena kenikmatan itu ketika
mendengar qashidah lebih layak daripada kelapangan jiwa kita ketika mendengar
kalam Allah تعالى.
الَّذِي
هُوَ صِفَتُهُ وَكَلَامُهُ الَّذِي مِنْهُ بَدَأَ وَإِلَيْهِ يَعُودُ.
Yang ia adalah sifat-Nya dan kalam-Nya, dari-Nya ia bermula
dan kepada-Nya ia kembali.
وَهٰذَا
حَاصِلُ الْمَقْصُودِ مِنْ كَلَامِهِ وَاعْتِذَارِهِ.
Inilah ringkasan maksud ucapan dan alasannya.
وَقَدْ
حُكِيَ عَنْ أَبِي الْحَسَنِ الدَّرَّاجِ أَنَّهُ قَالَ: قَصَدْتُ يُوسُفَ بْنَ
الْحُسَيْنِ الرَّازِيَّ مِنْ بَغْدَادَ لِلزِّيَارَةِ وَالسَّلَامِ عَلَيْهِ.
Dikisahkan dari Abu al-Hasan ad-Darrāj bahwa ia berkata:
“Aku berangkat dari Baghdad menuju Yusuf bin al-Husain ar-Rāzī untuk berziarah
dan mengucapkan salam.”
فَلَمَّا
دَخَلْتُ الرَّيَّ كُنْتُ أَسْأَلُ عَنْهُ.
Ketika aku masuk ke Rayy, aku bertanya tentangnya.
فَكُلُّ
مَنْ سَأَلْتُهُ عَنْهُ قَالَ: أَيْشَ تَعْمَلُ بِذٰلِكَ الزِّنْدِيقِ؟
Setiap orang yang kutanya berkata: “Apa urusanmu dengan
zindik itu?”
فَضَيَّقُوا
صَدْرِي حَتَّى عَزَمْتُ عَلَى الِانْصِرَافِ.
Mereka membuat dadaku sesak sampai aku berniat pulang.
ثُمَّ
قُلْتُ فِي نَفْسِي: قَدْ جُبْتُ هٰذَا الطَّرِيقَ كُلَّهُ فَلَا أَقَلَّ مِنْ
أَنْ أَرَاهُ.
Lalu aku berkata pada diriku: “Aku sudah menempuh seluruh
jalan ini, paling tidak aku harus melihatnya.”
فَلَمْ
أَزَلْ أَسْأَلُ عَنْهُ حَتَّى دَخَلْتُ عَلَيْهِ فِي مَسْجِدٍ.
Aku terus bertanya sampai aku masuk menemuinya di masjid.
وَهُوَ
قَاعِدٌ فِي الْمِحْرَابِ.
Ia duduk di mihrab.
وَبَيْنَ
يَدَيْهِ رَجُلٌ، وَبِيَدِهِ مُصْحَفٌ، وَهُوَ يَقْرَأُ.
Di hadapannya ada seorang laki-laki yang memegang mushaf dan
sedang membaca.
فَإِذَا
هُوَ شَيْخٌ بَهِيٌّ حَسَنُ الْوَجْهِ وَاللِّحْيَةِ.
Ternyata ia seorang syekh yang elok, wajah dan janggutnya
indah.
فَسَلَّمْتُ
عَلَيْهِ.
Aku memberi salam kepadanya.
فَأَقْبَلَ
عَلَيَّ وَقَالَ: مِنْ أَيْنَ أَقْبَلْتَ؟
Ia menoleh kepadaku dan berkata: “Dari mana engkau datang?”
فَقُلْتُ:
مِنْ بَغْدَادَ.
Aku menjawab: “Dari Baghdad.”
فَقَالَ:
وَمَا الَّذِي جَاءَ بِكَ؟
Ia bertanya: “Apa yang membawamu kemari?”
فَقُلْتُ:
قَصَدْتُكَ لِلسَّلَامِ عَلَيْكَ.
Aku menjawab: “Aku datang untuk mengucapkan salam kepadamu.”
فَقَالَ:
لَوْ أَنَّ فِي بَعْضِ هٰذِهِ الْبُلْدَانِ قَالَ لَكَ إِنْسَانٌ: أَقِمْ
عِنْدَنَا حَتَّى نَشْتَرِيَ لَكَ دَارًا أَوْ جَارِيَةً، أَكَانَ يَقْعُدُكَ
ذٰلِكَ عَنِ الْمَجِيءِ؟
Ia berkata: “Seandainya di salah satu negeri ini ada orang
berkata kepadamu: ‘Tinggallah di tempat kami sampai kami membelikan rumah atau
budak perempuan untukmu,’ apakah itu akan menahanmu dari datang?”
فَقُلْتُ:
مَا امْتَحَنَنِي اللهُ بِشَيْءٍ مِنْ ذٰلِكَ، وَلَوِ امْتَحَنَنِي مَا كُنْتُ
أَدْرِي كَيْفَ أَكُونُ.
Aku berkata: “Allah tidak mengujiku dengan hal seperti itu;
seandainya Dia mengujiku, aku tidak tahu bagaimana aku bersikap.”
ثُمَّ
قَالَ لِي: أَتُحْسِنُ أَنْ تَقُولَ شَيْئًا؟
Lalu ia berkata kepadaku: “Apakah engkau bisa melantunkan
sesuatu?”
فَقُلْتُ:
نَعَمْ.
Aku menjawab: “Ya.”
فَقَالَ:
هَاتِ.
Ia berkata: “Lantunkan.”
فَأَنْشَأْتُ
أَقُولُ:
رَأَيْتُكَ
تَبْنِي دَائِمًا فِي قَطِيعَتِي … وَلَوْ كُنْتَ ذَا حَزْمٍ لَهَدَمْتَ مَا
تَبْنِي
كَأَنِّي
بِكُمْ وَاللَّيْتُ أَفْضَلُ قَوْلِكُمْ … أَلَا لَيْتَنَا كُنَّا إِذِ اللَّيْتُ
لَا يُغْنِي
Maka aku mulai melantunkan:
“Aku melihatmu terus membangun di tanah terpisahku… jika
engkau berketeguhan, tentu engkau hancurkan apa yang kau bangun.
Seakan aku melihat kalian, dan ‘andai’ adalah ucapan terbaik
kalian… andai saja kami (begini) ketika ‘andai’ tidak berguna.”
قَالَ:
فَأَطْبَقَ الْمُصْحَفَ.
Ia berkata: “Lalu ia menutup mushaf.”
وَلَمْ
يَزَلْ يَبْكِي حَتَّى ابْتَلَّتْ لِحْيَتُهُ وَابْتَلَّ ثَوْبُهُ.
Ia terus menangis sampai janggut dan pakaiannya basah.
حَتَّى
رَحِمْتُهُ مِنْ كَثْرَةِ بُكَائِهِ.
Sampai aku kasihan karena banyaknya tangisnya.
ثُمَّ
قَالَ: يَا بُنَيَّ، تَلُومُ أَهْلَ الرَّيِّ يَقُولُونَ: يُوسُفُ زِنْدِيقٌ؟
Lalu ia berkata: “Wahai anakku, engkau menyalahkan penduduk
Rayy yang berkata: ‘Yusuf itu zindik’?”
هٰذَا
أَنَا مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ أَقْرَأُ فِي الْمُصْحَفِ، لَمْ تَقْطُرْ مِنْ
عَيْنِي قَطْرَةٌ.
“Inilah aku: sejak salat Subuh aku membaca mushaf, tidak
menetes dari mataku setetes pun.”
وَقَدْ
قَامَتِ الْقِيَامَةُ عَلَيَّ لِهٰذَيْنِ الْبَيْتَيْنِ.
“Namun kiamat seolah terjadi padaku karena dua bait ini.”
فَإِذًا
الْقُلُوبُ وَإِنْ كَانَتْ مُحْتَرِقَةً فِي حُبِّ اللهِ تَعَالَى، فَإِنَّ
الْبَيْتَ الْغَرِيبَ يُهَيِّجُ مِنْهَا مَا لَا تُهَيِّجُ تِلَاوَةُ الْقُرْآنِ.
Maka hati, walaupun terbakar oleh cinta Allah تعالى,
bait yang “baru/asing” dapat menggerakkan sesuatu yang tidak digerakkan oleh
tilawah Al-Qur’an.
وَذٰلِكَ
لِوَزْنِ الشِّعْرِ وَمُشَاكَلَتِهِ لِلطِّبَاعِ.
Hal itu karena irama syair dan kesesuaiannya dengan tabiat.
وَلِكَوْنِهِ
مُشَاكِلًا لِلطَّبْعِ اقْتَدَرَ الْبَشَرُ عَلَى نَظْمِ الشِّعْرِ.
Dan karena syair sesuai dengan tabiat, manusia mampu
menyusunnya.
وَأَمَّا
الْقُرْآنُ فَنَظْمُهُ خَارِجٌ عَنْ أَسَالِيبِ الْكَلَامِ وَمِنْهَاجِهِ.
Adapun Al-Qur’an, susunannya keluar dari gaya bahasa dan
metodenya.
وَهُوَ
لِذٰلِكَ مُعْجِزٌ.
Karena itu ia mukjizat.
لَا
يَدْخُلُ فِي قُوَّةِ الْبَشَرِ لِعَدَمِ مُشَاكَلَتِهِ لِطَبْعِهِ.
Ia tidak masuk dalam kemampuan manusia karena tidak sesuai
dengan tabiat manusia.
وَرُوِيَ
أَنَّ إِسْرَافِيلَ أُسْتَاذَ ذِي النُّونِ الْمِصْرِيِّ دَخَلَ عَلَيْهِ رَجُلٌ.
Diriwayatkan bahwa Israfil—guru Dzun Nun al-Mishri—didatangi
seorang laki-laki.
فَرَآهُ
وَهُوَ يَنْكُتُ فِي الْأَرْضِ بِإِصْبَعِهِ وَيَتَرَنَّمُ بِبَيْتٍ.
Ia melihatnya sedang menggores tanah dengan jarinya sambil
bersenandung dengan satu bait.
فَقَالَ:
هَلْ تُحْسِنُ أَنْ تَتَرَنَّمَ بِشَيْءٍ؟
Ia bertanya: “Apakah engkau bisa bersenandung sesuatu?”
فَقَالَ:
لَا.
Orang itu menjawab: “Tidak.”
قَالَ:
فَأَنْتَ بِلَا قَلْبٍ.
Ia berkata: “Kalau begitu engkau tanpa hati.”
إِشَارَةً
إِلَى أَنَّ مَنْ لَهُ قَلْبٌ وَعَرَفَ طِبَاعَهُ عَلِمَ أَنَّهُ تُحَرِّكُهُ
الْأَبْيَاتُ وَالنَّغَمَاتُ تَحْرِيكًا لَا يُصَادَفُ فِي غَيْرِهَا.
Ini isyarat bahwa siapa memiliki hati dan mengenal
tabiatnya, ia tahu bahwa bait dan nada menggerakkannya dengan gerak yang tidak
ditemukan pada selainnya.
فَيَتَكَلَّفُ
طَرِيقَ التَّحْرِيكِ إِمَّا بِصَوْتِ نَفْسِهِ أَوْ بِغَيْرِهِ.
Maka ia pun berusaha mencari jalan untuk menggerakkan
dirinya, dengan suaranya sendiri atau suara orang lain.
وَقَدْ
ذَكَرْنَا حُكْمَ الْمَقَامِ الْأَوَّلِ فِي فَهْمِ الْمَسْمُوعِ وَتَنْزِيلِهِ.
Kami telah menyebut hukum maqam pertama: memahami yang
didengar dan mengaitkannya.
وَحُكْمَ
الْمَقَامِ الثَّانِي فِي الْوَجْدِ الَّذِي يُصَادِفُ فِي الْقَلْبِ.
Dan hukum maqam kedua: wajd yang terjadi dalam hati.
فَلْنَذْكُرِ
الْآنَ أَثَرَ الْوَجْدِ.
Maka sekarang kita sebutkan dampak wajd.
أَعْنِي
مَا يَتَرَشَّحُ مِنْهُ إِلَى الظَّاهِرِ مِنْ صَعْقَةٍ وَبُكَاءٍ وَحَرَكَةٍ
وَتَمْزِيقِ ثَوْبٍ وَغَيْرِهِ.
Maksudnya: apa yang memancar ke lahir berupa pingsan,
tangis, gerak, merobek pakaian, dan lainnya.
فَنَقُولُ:
اَلْمَقَامُ الثَّالِثُ مِنَ السَّمَاعِ.
Kami katakan: maqam ketiga dari samā‘.
نَذْكُرُ
فِيهِ آدَابَ السَّمَاعِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا.
Kami sebutkan di dalamnya adab samā‘ lahir dan batin.
وَمَا
يُحْمَدُ مِنْ آثَارِ الْوَجْدِ وَمَا يُذَمُّ.
Dan apa yang terpuji dan apa yang tercela dari dampak wajd.
فَأَمَّا
الْآدَابُ فَهِيَ خَمْسُ جُمَلٍ.
Adapun adab-adabnya ada lima pokok.
اَلْأَوَّلُ:
مُرَاعَاةُ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ وَالْإِخْوَانِ.
Pertama: memperhatikan waktu, tempat, dan teman-teman.
قَالَ
الْجُنَيْدُ: السَّمَاعُ يَحْتَاجُ إِلَى ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ، وَإِلَّا فَلَا
تَسْمَعْ: الزَّمَانُ وَالْمَكَانُ وَالْإِخْوَانُ.
Al-Junaid berkata: “Samā‘ membutuhkan tiga hal; jika tidak
ada, maka jangan mendengar: waktu, tempat, dan teman.”
وَمَعْنَاهُ
أَنَّ الِاشْتِغَالَ بِهِ فِي وَقْتِ حُضُورِ طَعَامٍ أَوْ خِصَامٍ أَوْ صَلَاةٍ.
Maksudnya: menyibukkan diri dengannya ketika ada makanan,
pertengkaran, atau salat.
أَوْ
صَارِفٍ مِنَ الصَّوَارِفِ مَعَ اضْطِرَابِ الْقَلْبِ لَا فَائِدَةَ فِيهِ.
Atau ada penghalang lain sementara hati kacau, maka tidak
ada faedahnya.
فَهٰذَا
مَعْنَى مُرَاعَاةِ الزَّمَانِ.
Inilah makna memperhatikan waktu.
فَيُرَاعِي
حَالَةَ فَرَاغِ الْقَلْبِ لَهُ.
Hendaklah memperhatikan keadaan hati yang lapang untuknya.
وَأَمَّا
الْمَكَانُ فَقَدْ يَكُونُ شَارِعًا مَطْرُوقًا.
Adapun tempat, bisa jadi berupa jalan yang ramai.
أَوْ
مَوْضِعًا كَرِيهَ الصُّورَةِ.
Atau tempat yang buruk pemandangannya.
أَوْ
فِيهِ سَبَبٌ يَشْغَلُ الْقَلْبَ.
Atau ada sebab yang menyibukkan hati.
فَيَجْتَنِبُ
ذٰلِكَ.
Maka hendaklah menghindarinya.
وَأَمَّا
الْإِخْوَانُ فَسَبَبُهُ أَنَّهُ إِذَا حَضَرَ غَيْرُ الْجِنْسِ مِنْ مُنْكِرِ
السَّمَاعِ، مُتَزَهِّدِ الظَّاهِرِ، مُفْلِسٍ مِنْ لَطَائِفِ الْقُلُوبِ.
Adapun teman, sebabnya: jika hadir orang yang bukan
sejenis—pengingkar samā‘, yang menampakkan kezuhudan, namun kosong dari
kehalusan hati—
كَانَ
مُسْتَثْقَلًا فِي الْمَجْلِسِ وَاشْتَغَلَ الْقَلْبُ بِهِ.
maka ia terasa berat di majelis dan hati menjadi sibuk
dengannya.
وَكَذٰلِكَ
إِذَا حَضَرَ مُتَكَبِّرٌ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا يَحْتَاجُ إِلَى مُرَاقَبَتِهِ
وَإِلَى مُرَاعَاتِهِ.
Demikian pula jika hadir orang sombong dari ahli dunia yang
perlu diawasi dan dijaga perasaannya.
أَوْ
مُتَكَلِّفٌ مُتَوَاجِدٌ مِنْ أَهْلِ التَّصَوُّفِ يُرَائِي بِالْوَجْدِ
وَالرَّقْصِ وَتَمْزِيقِ الثِّيَابِ.
Atau orang sufi yang berpura-pura mengalami wajd dan pamer
dengan tarian serta merobek pakaian.
فَكُلُّ
ذٰلِكَ مُشَوِّشَاتٌ.
Semua itu pengacau/pengganggu.
فَتَرْكُ
السَّمَاعِ عِنْدَ فَقْدِ هٰذِهِ الشُّرُوطِ أَوْلَى.
Maka meninggalkan samā‘ saat syarat-syarat ini tidak ada
lebih utama.
فَفِي
هٰذِهِ الشُّرُوطِ نَظَرٌ لِلْمُسْتَمِعِ.
Dalam syarat-syarat ini ada perhatian terhadap kemaslahatan
pendengar.
اَلْأَدَبُ
الثَّانِي: هُوَ نَظَرُ الْحَاضِرِينَ.
Adab kedua: pertimbangan orang-orang yang hadir.
أَنَّ
الشَّيْخَ إِذَا كَانَ حَوْلَهُ مُرِيدُونَ يَضُرُّهُمُ السَّمَاعُ فَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَسْمَعَ فِي حُضُورِهِمْ.
Bahwa jika di sekitar seorang syekh ada murid yang akan
dirugikan oleh samā‘, maka ia tidak selayaknya melakukan samā‘ di hadapan
mereka.
فَإِنْ
سَمِعَ فَلْيُشْغِلْهُمْ بِشُغْلٍ آخَرَ.
Jika ia tetap melakukannya, hendaklah ia menyibukkan mereka
dengan kesibukan lain.
وَالْمُرِيدُ
الَّذِي يَسْتَضِرُّ بِالسَّمَاعِ أَحَدُ ثَلَاثَةٍ.
Murid yang terkena mudarat oleh samā‘ ada tiga macam.
أَقَلُّهُمْ
دَرَجَةً: هُوَ الَّذِي لَمْ يُدْرِكْ مِنَ الطَّرِيقِ إِلَّا الْأَعْمَالَ
الظَّاهِرَةَ.
Yang paling rendah derajatnya: orang yang dari jalan ini
hanya mendapatkan amal-amal lahir.
وَلَمْ
يَكُنْ لَهُ ذَوْقُ السَّمَاعِ.
Dan ia tidak memiliki dzauq samā‘.
فَاشْتِغَالُهُ
بِالسَّمَاعِ اشْتِغَالٌ بِمَا لَا يَعْنِيهِ.
Kesibukannya dengan samā‘ adalah sibuk dengan sesuatu yang
tidak perlu baginya.
فَإِنَّهُ
لَيْسَ مِنْ أَهْلِ اللَّهْوِ فَيَلْهُوَ.
Karena ia bukan ahli hiburan untuk berhibur.
وَلَا
مِنْ أَهْلِ الذَّوْقِ فَيَتَنَعَّمَ بِذَوْقِ السَّمَاعِ.
Dan bukan ahli dzauq untuk menikmati dzauq samā‘.
فَلْيَشْتَغِلْ
بِذِكْرٍ أَوْ خِدْمَةٍ، وَإِلَّا فَهُوَ تَضْيِيعٌ لِزَمَانِهِ.
Maka hendaklah ia sibuk dengan dzikir atau pelayanan; jika
tidak, berarti ia menyia-nyiakan waktunya.
اَلثَّانِي:
هُوَ الَّذِي لَهُ ذَوْقُ السَّمَاعِ، وَلٰكِنْ فِيهِ بَقِيَّةٌ مِنَ الْحُظُوظِ
وَالِالْتِفَاتِ إِلَى الشَّهَوَاتِ وَالصِّفَاتِ الْبَشَرِيَّةِ.
Yang kedua: orang yang memiliki dzauq samā‘, tetapi masih
ada sisa “bagian nafsu”, dan masih menoleh kepada syahwat serta sifat-sifat
manusia.
وَلَمْ
يَنْكَسِرْ بَعْدُ انْكِسَارًا تُؤْمَنُ غَوَائِلُهُ.
Dan ia belum “hancur” (tunduk) sedemikian rupa sehingga aman
dampak buruknya.
فَرُبَّمَا
يُهَيِّجُ السَّمَاعُ مِنْهُ دَاعِيَةَ اللَّهْوِ وَالشَّهْوَةِ.
Bisa jadi samā‘ membangkitkan dorongan hiburan dan syahwat
darinya.
فَيَقْطَعُ
عَلَيْهِ طَرِيقَهُ.
Lalu memutus jalannya.
وَيَصُدُّهُ
عَنِ الِاسْتِكْمَالِ.
Dan menghalanginya dari penyempurnaan.
اَلثَّالِثُ:
أَنْ يَكُونَ قَدِ انْكَسَرَتْ شَهْوَتُهُ وَأُمِنَتْ غَائِلَتُهُ وَانْفَتَحَتْ
بَصِيرَتُهُ.
Yang ketiga: orang yang syahwatnya telah patah, dampak
buruknya aman, dan bashirahnya terbuka.
وَاسْتَوْلَى
عَلَى قَلْبِهِ حُبُّ اللهِ تَعَالَى.
Dan cinta kepada Allah تعالى menguasai hatinya.
وَلٰكِنَّهُ
لَمْ يُحْكِمْ ظَاهِرَ الْعِلْمِ.
Namun ia belum mengokohkan ilmu lahir.
وَلَمْ
يَعْرِفْ أَسْمَاءَ اللهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ.
Dan belum mengenal nama-nama Allah تعالى dan sifat-sifat-Nya.
وَمَا
يَجُوزُ عَلَيْهِ وَمَا يَسْتَحِيلُ.
Serta apa yang boleh dinisbatkan kepada-Nya dan apa yang
mustahil bagi-Nya.
فَإِذَا
فُتِحَ لَهُ بَابُ السَّمَاعِ نَزَّلَ الْمَسْمُوعَ فِي حَقِّ اللهِ تَعَالَى
عَلَى مَا يَجُوزُ وَمَا لَا يَجُوزُ.
Jika pintu samā‘ dibuka baginya, ia akan mengaitkan yang
didengar kepada Allah تعالى
pada hal yang boleh dan yang tidak boleh.
فَيَكُونُ
ضَرَرُهُ مِنْ تِلْكَ الْخَوَاطِرِ الَّتِي هِيَ كُفْرٌ أَعْظَمَ مِنْ نَفْعِ
السَّمَاعِ.
Sehingga mudaratnya berupa lintasan hati yang kufur menjadi
lebih besar daripada manfaat samā‘.
قَالَ
سَهْلٌ رَحِمَهُ اللهُ: كُلُّ وَجْدٍ لَا يَشْهَدُ لَهُ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ
فَهُوَ بَاطِلٌ.
Sahl رحمه
الله berkata: “Setiap wajd yang tidak disaksikan (ditopang) oleh
Al-Kitab dan Sunnah, maka ia batil.”
فَلَا
يَصْلُحُ السَّمَاعُ لِمِثْلِ هٰذَا.
Maka samā‘ tidak cocok untuk orang semacam ini.
وَلَا
لِمَنْ قَلْبُهُ بَعْدُ مُلَوَّثٌ بِحُبِّ الدُّنْيَا وَحُبِّ الْمَحْمَدَةِ
وَالثَّنَاءِ.
Dan tidak cocok untuk orang yang hatinya masih kotor oleh
cinta dunia serta cinta pujian dan sanjungan.
وَلَا
لِمَنْ يَسْمَعُ لِأَجْلِ التَّلَذُّذِ وَالِاسْتِطَابَةِ بِالطَّبْعِ.
Dan tidak cocok untuk orang yang mendengar hanya demi
kenikmatan dan kesedapan tabiat.
فَيَصِيرُ
ذٰلِكَ عَادَةً لَهُ.
Sehingga itu menjadi kebiasaannya.
وَيَشْغَلُهُ
ذٰلِكَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَمُرَاعَاةِ قَلْبِهِ.
Lalu hal itu menyibukkannya dari ibadah dan dari mengawasi
hatinya.
وَيَنْقَطِعُ
عَلَيْهِ طَرِيقُهُ.
Dan jalannya pun terputus.
فَالسَّمَاعُ
مَزَلَّةُ قَدَمٍ يَجِبُ حِفْظُ الضُّعَفَاءِ عَنْهُ.
Samā‘ adalah tempat terpelesetnya kaki; orang-orang lemah
wajib dijaga darinya.
قَالَ
الْجُنَيْدُ: رَأَيْتُ إِبْلِيسَ فِي النَّوْمِ، فَقُلْتُ لَهُ: هَلْ تَظْفَرُ
مِنْ أَصْحَابِنَا بِشَيْءٍ؟
Al-Junaid berkata: “Aku melihat Iblis dalam mimpi, lalu aku
berkata kepadanya: ‘Apakah engkau mendapatkan sesuatu dari sahabat-sahabat
kami?’”
قَالَ:
نَعَمْ، فِي وَقْتَيْنِ: وَقْتِ السَّمَاعِ وَوَقْتِ النَّظَرِ، فَإِنِّي أَدْخُلُ
عَلَيْهِمْ بِهِ.
Ia menjawab: “Ya, pada dua waktu: waktu samā‘ dan waktu
memandang; karena aku masuk kepada mereka melalui itu.”
فَقَالَ
بَعْضُ الشُّيُوخِ: لَوْ رَأَيْتُهُ أَنَا لَقُلْتُ لَهُ: مَا أَحْمَقَكَ!
Sebagian syekh berkata: “Jika aku melihatnya, aku akan
berkata kepadanya: ‘Betapa bodohnya engkau!’”
مَنْ
سَمِعَ مِنْهُ إِذَا سَمِعَ، وَنَظَرَ إِلَيْهِ إِذَا نَظَرَ، كَيْفَ تَظْفَرُ
بِهِ؟
‘Orang yang mendengar dari Allah ketika ia mendengar, dan
memandang kepada Allah ketika ia memandang, bagaimana engkau bisa
mengalahkannya?’”
فَقَالَ
الْجُنَيْدُ: صَدَقْتَ.
Al-Junaid berkata: “Engkau benar.”
اَلْأَدَبُ
الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ مُصْغِيًا إِلَى مَا يَقُولُ الْقَائِلُ.
Adab ketiga: hendaknya ia benar-benar menyimak apa yang
dilantunkan.
حَاضِرَ
الْقَلْبِ.
Dengan hati yang hadir.
قَلِيلَ
الِالْتِفَاتِ إِلَى الْجَوَانِبِ.
Sedikit menoleh ke sekeliling.
مُتَحَرِّزًا
عَنِ النَّظَرِ إِلَى وُجُوهِ الْمُسْتَمِعِينَ وَمَا يَظْهَرُ عَلَيْهِمْ مِنْ
أَحْوَالِ الْوَجْدِ.
Menjaga diri dari melihat wajah para pendengar dan apa yang
tampak pada mereka dari keadaan wajd.
مُشْتَغِلًا
بِنَفْسِهِ وَمُرَاعَاةِ قَلْبِهِ.
Sibuk dengan dirinya dan mengawasi hatinya.
وَمُرَاقَبَةِ
مَا يَفْتَحُ اللهُ تَعَالَى لَهُ مِنْ رَحْمَتِهِ فِي سِرِّهِ.
Serta memerhatikan apa yang Allah تعالى bukakan baginya dari rahmat di batinnya.
مُتَحَفِّظًا
عَنْ حَرَكَةٍ تُشَوِّشُ عَلَى أَصْحَابِهِ قُلُوبَهُمْ.
Menahan diri dari gerakan yang mengacaukan hati
teman-temannya.
بَلْ
يَكُونُ سَاكِنَ الظَّاهِرِ هَادِئَ الْأَطْرَافِ.
Bahkan hendaknya lahirnya tenang dan anggota badannya
tenteram.
مُتَحَفِّظًا
عَنِ التَّنَحْنُحِ وَالتَّثَاؤُبِ.
Menahan diri dari berdehem dan menguap.
وَيَجْلِسُ
مُطْرِقًا رَأْسَهُ كَجُلُوسِهِ فِي فِكْرٍ مُسْتَغْرِقٍ لِقَلْبِهِ.
Duduk menundukkan kepala seperti duduknya orang yang
tenggelam dalam pikirannya.
مُتَمَاسِكًا
عَنِ التَّصْفِيقِ وَالرَّقْصِ وَسَائِرِ الْحَرَكَاتِ عَلَى وَجْهِ التَّصَنُّعِ
وَالتَّكَلُّفِ وَالْمُرَاءَاةِ.
Menahan diri dari bertepuk tangan, menari, dan gerakan lain
dalam bentuk berpura-pura, dibuat-buat, dan pamer.
سَاكِتًا
عَنِ النُّطْقِ فِي أَثْنَاءِ الْقَوْلِ بِكُلِّ مَا عَنْهُ بُدٌّ.
Diam dari berbicara di sela-sela lantunan, kecuali bila
memang perlu.
فَإِنْ
غَلَبَهُ الْوَجْدُ وَحَرَّكَهُ بِغَيْرِ اخْتِيَارٍ فَهُوَ فِيهِ مَعْذُورٌ
غَيْرُ مَلُومٍ.
Jika wajd menguasainya dan menggerakkannya tanpa pilihan, ia
dimaafkan dan tidak dicela.
وَمَهْمَا
رَجَعَ إِلَيْهِ الِاخْتِيَارُ فَلْيَعُدْ إِلَى هُدُوئِهِ وَسُكُونِهِ.
Jika kontrol kembali, hendaklah ia kembali tenang dan diam.
وَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَسْتَدِيمَهُ حَيَاءً مِنْ أَنْ يُقَالَ: انْقَطَعَ وَجْدُهُ
عَلَى الْقُرْبِ.
Tidak sepatutnya ia memaksakan berlanjut karena malu bila
dikatakan: “wajd-nya terputus dengan cepat.”
وَلَا
أَنْ يَتَوَاجَدَ خَوْفًا مِنْ أَنْ يُقَالَ: هُوَ قَاسِي الْقَلْبِ، عَدِيمُ
الصَّفَاءِ وَالرِّقَّةِ.
Dan tidak pula berpura-pura wajd karena takut dikatakan: “ia
keras hati, tidak punya kejernihan dan kelembutan.”
حُكِيَ
أَنَّ شَابًّا كَانَ يَصْحَبُ الْجُنَيْدَ، فَكَانَ إِذَا سَمِعَ شَيْئًا مِنَ
الذِّكْرِ يَزْعَقُ.
Dikisahkan ada seorang pemuda yang menemani al-Junaid;
setiap kali mendengar dzikir ia berteriak.
فَقَالَ
لَهُ الْجُنَيْدُ يَوْمًا: إِنْ فَعَلْتَ ذٰلِكَ مَرَّةً أُخْرَى لَمْ تَصْحَبْنِي.
Suatu hari al-Junaid berkata: “Jika engkau lakukan itu
sekali lagi, engkau tidak akan menemaniku.”
فَكَانَ
بَعْدَ ذٰلِكَ يَضْبِطُ نَفْسَهُ حَتَّى يَقْطُرَ مِنْ كُلِّ شَعْرَةٍ مِنْهُ
قَطْرَةُ مَاءٍ وَلَا يَزْعَقُ.
Setelah itu ia menahan diri sampai-sampai dari tiap helai
rambutnya menetes air, namun ia tidak berteriak.
فَحُكِيَ
أَنَّهُ اخْتَنَقَ يَوْمًا لِشِدَّةِ ضَبْطِهِ لِنَفْسِهِ، فَشَهَقَ شَهْقَةً
فَانْشَقَّ قَلْبُهُ وَتَلِفَتْ نَفْسُهُ.
Dikisahkan bahwa suatu hari ia sesak karena terlalu menahan
diri, lalu ia menarik napas keras, hatinya pecah, dan ia meninggal.
وَرُوِيَ
أَنَّ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ قَصَّ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ.
Diriwayatkan bahwa Musa عليه السلام memberi nasihat
kepada Bani Israil.
فَمَزَّقَ
وَاحِدٌ مِنْهُمْ ثَوْبَهُ أَوْ قَمِيصَهُ.
Lalu salah seorang dari mereka merobek bajunya atau
gamisnya.
فَأَوْحَى
اللهُ تَعَالَى إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: قُلْ لَهُ مَزِّقْ لِي قَلْبَكَ
وَلَا تُمَزِّقْ ثَوْبَكَ.
Maka Allah تعالى
mewahyukan kepada Musa عليه
السلام: “Katakan kepadanya: robeklah (tundukkanlah) hatimu untuk-Ku,
jangan robek pakaianmu.”
قَالَ
أَبُو الْقَاسِمِ النَّصْرَابَاذِيُّ لِأَبِي عَمْرٍو بْنِ عُبَيْدٍ: أَنَا
أَقُولُ إِذَا اجْتَمَعَ الْقَوْمُ فَيَكُونُ مَعَهُمْ قَوَّالٌ يَقُولُ، خَيْرٌ
لَهُمْ مِنْ أَنْ يَغْتَابُوا.
Abu al-Qasim an-Nashrābādzī berkata kepada Abu ‘Amr bin
‘Ubaid: “Aku berpendapat, bila orang berkumpul dan ada qawwāl yang melantunkan
sesuatu, itu lebih baik daripada mereka menggunjing.”
فَقَالَ
أَبُو عَمْرٍو: الرِّيَاءُ فِي السَّمَاعِ—وَهُوَ أَنْ تَرَى مِنْ نَفْسِكَ حَالًا
لَيْسَتْ فِيكَ—شَرٌّ مِنْ أَنْ تَغْتَابَ ثَلَاثِينَ سَنَةً أَوْ نَحْوَ ذٰلِكَ.
Abu ‘Amr berkata: “Riya dalam samā‘—yaitu engkau melihat
pada dirimu keadaan yang sebenarnya tidak ada—lebih buruk daripada menggunjing
selama tiga puluh tahun atau semisalnya.”
فَإِنْ
قُلْتَ: الْأَفْضَلُ هُوَ الَّذِي لَا يُحَرِّكُهُ السَّمَاعُ وَلَا يُؤَثِّرُ فِي
ظَاهِرِهِ، أَوِ الَّذِي يَظْهَرُ عَلَيْهِ؟
Jika engkau bertanya: yang lebih utama, orang yang samā‘
tidak menggerakkannya dan tidak berpengaruh pada lahirnya, atau orang yang
tampak pengaruhnya?
فَاعْلَمْ
أَنَّ عَدَمَ الظُّهُورِ تَارَةً يَكُونُ لِضَعْفِ الْوَارِدِ مِنَ الْوَجْدِ
فَهُوَ نُقْصَانٌ.
Ketahuilah: tidak tampaknya pengaruh kadang karena warid
wajd lemah; ini adalah kekurangan.
وَتَارَةً
يَكُونُ مَعَ قُوَّةِ الْوَجْدِ فِي الْبَاطِنِ، وَلٰكِنْ لَا يَظْهَرُ لِكَمَالِ
الْقُوَّةِ عَلَى ضَبْطِ الْجَوَارِحِ فَهُوَ كَمَالٌ.
Kadang wajd kuat di batin, tetapi tidak tampak karena
kemampuan sempurna mengendalikan anggota badan; ini adalah kesempurnaan.
وَتَارَةً
يَكُونُ لِكَوْنِ حَالِ الْوَجْدِ مُلَازِمًا وَمُصَاحِبًا فِي الْأَحْوَالِ
كُلِّهَا.
Kadang karena keadaan wajd melekat dan menyertai pada semua
keadaan.
فَلَا
يَتَبَيَّنُ لِلسَّمَاعِ مَزِيدُ تَأْثِيرٍ، وَهُوَ غَايَةُ الْكَمَالِ.
Sehingga samā‘ tidak tampak memberi tambahan pengaruh; dan
ini puncak kesempurnaan.
فَإِنَّ
صَاحِبَ الْوَجْدِ فِي غَالِبِ الْأَحْوَالِ لَا يَدُومُ وَجْدُهُ.
Karena pemilik wajd pada umumnya tidak selalu dalam keadaan
wajd.
فَمَنْ
هُوَ فِي وَجْدٍ دَائِمٍ، فَهُوَ الْمُرَابِطُ لِلْحَقِّ وَالْمُلَازِمُ لِعَيْنِ
الشُّهُودِ.
Siapa yang dalam wajd yang terus-menerus, dialah yang teguh
bersama al-Haqq dan senantiasa dalam penyaksian.
فَهٰذَا
لَا تُغَيِّرُهُ طَوَارِقُ الْأَحْوَالِ.
Orang seperti ini tidak diubah oleh datangnya
keadaan-keadaan.
وَلَا
يَبْعُدُ أَنْ تَكُونَ الْإِشَارَةُ بِقَوْلِ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:
كُنَّا كَمَا كُنْتُمْ ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُنَا، مَعْنَاهُ: قَوِيَتْ قُلُوبُنَا
وَاشْتَدَّتْ.
Tidak jauh bahwa isyarat ucapan as-Siddiq رضي الله عنه: “Dahulu kami seperti
kalian, lalu hati kami mengeras,” maksudnya: hati kami menjadi kuat dan kokoh.
فَصَارَتْ
تُطِيقُ مُلَازَمَةَ الْوَجْدِ فِي كُلِّ الْأَحْوَالِ.
Sehingga sanggup selalu menyertai wajd dalam semua keadaan.
فَنَحْنُ
فِي سَمَاعِ مَعَانِي الْقُرْآنِ عَلَى الدَّوَامِ.
Maka kami senantiasa “mendengar” makna-makna Al-Qur’an.
فَلَا
يَكُونُ الْقُرْآنُ جَدِيدًا فِي حَقِّنَا طَارِئًا عَلَيْنَا حَتَّى نَتَأَثَّرَ
بِهِ.
Sehingga Al-Qur’an tidak lagi terasa baru bagi kami sampai
membuat kami terkejut karenanya.
فَإِذًا
قُوَّةُ الْوَجْدِ تُحَرِّكُ، وَقُوَّةُ الْعَقْلِ وَالتَّمَاسُكِ تَضْبِطُ
الظَّاهِرَ.
Maka kuatnya wajd menggerakkan, sedangkan kuatnya akal dan
keteguhan mengendalikan lahir.
وَقَدْ
يَغْلِبُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ، إِمَّا لِشِدَّةِ قُوَّتِهِ، وَإِمَّا لِضَعْفِ
مَا يُقَابِلُهُ.
Salah satunya bisa mengalahkan yang lain, karena lebih kuat,
atau karena lawannya lemah.
وَيَكُونُ
النُّقْصَانُ وَالْكَمَالُ بِحَسَبِ ذٰلِكَ.
Kekurangan dan kesempurnaan ditentukan oleh itu.
فَلَا
تَظُنَّ أَنَّ الَّذِي يَضْطَرِبُ بِنَفْسِهِ عَلَى الْأَرْضِ أَتَمُّ وَجْدًا
مِنَ السَّاكِنِ بِاضْطِرَابِهِ.
Jangan mengira orang yang terguncang di tanah lebih sempurna
wajd-nya daripada orang yang tenang.
بَلْ
رُبَّ سَاكِنٍ أَتَمُّ وَجْدًا مِنَ الْمُضْطَرِبِ.
Bahkan boleh jadi orang yang tenang lebih sempurna wajd-nya
daripada yang terguncang.
فَقَدْ
كَانَ الْجُنَيْدُ يَتَحَرَّكُ فِي السَّمَاعِ فِي بَدَايَتِهِ، ثُمَّ صَارَ لَا
يَتَحَرَّكُ.
Al-Junaid dahulu bergerak ketika samā‘ pada awalnya, lalu
kemudian tidak bergerak lagi.
فَقِيلَ
لَهُ فِي ذٰلِكَ.
Lalu hal itu ditanyakan kepadanya.
فَقَالَ:
﴿وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِۚ
صُنْعَ اللهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ﴾.
Ia menjawab dengan ayat: “Engkau melihat gunung, engkau kira
diam, padahal ia berjalan seperti jalannya awan; itulah ciptaan Allah yang
menyempurnakan segala sesuatu.”
إِشَارَةً
إِلَى أَنَّ الْقَلْبَ مُضْطَرِبٌ جَائِلٌ فِي الْمَلَكُوتِ، وَالْجَوَارِحُ
مُتَأَدِّبَةٌ فِي الظَّاهِرِ سَاكِنَةٌ.
Isyarat bahwa hati bergejolak berkelana di alam malakut,
sedangkan anggota badan beradab di lahir dan tetap tenang.
وَقَالَ
أَبُو الْحَسَنِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ، وَكَانَ بِالْبَصْرَةِ: صَحِبْتُ سَهْلَ
بْنَ عَبْدِ اللهِ سِتِّينَ سَنَةً.
Abu al-Hasan Muhammad bin Ahmad—di Basrah—berkata: “Aku
menyertai Sahl bin ‘Abdillah selama enam puluh tahun.”
فَمَا
رَأَيْتُهُ تَغَيَّرَ عِنْدَ شَيْءٍ كَانَ يَسْمَعُهُ مِنَ الذِّكْرِ أَوِ
الْقُرْآنِ.
Aku tidak pernah melihat beliau berubah karena sesuatu yang
ia dengar dari dzikir atau Al-Qur’an.
فَلَمَّا
كَانَ فِي آخِرِ عُمْرِهِ قَرَأَ رَجُلٌ بَيْنَ يَدَيْهِ: ﴿فَالْيَوْمَ لَا
يُؤْخَذُ مِنْكُمْ فِدْيَةٌ﴾.
Ketika di akhir umurnya, ada orang membaca di hadapannya:
“Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kalian.”
فَرَأَيْتُهُ
قَدِ ارْتَعَدَ وَكَادَ يَسْقُطُ.
Aku melihat beliau gemetar dan hampir jatuh.
فَلَمَّا
عَادَ إِلَى حَالِهِ سَأَلْتُهُ عَنْ ذٰلِكَ.
Ketika kembali seperti semula, aku bertanya tentang hal itu.
فَقَالَ:
نَعَمْ يَا حَبِيبِي، قَدْ ضَعُفْنَا.
Beliau menjawab: “Ya, wahai kekasihku, kami telah lemah.”
وَكَذٰلِكَ
سَمِعَ مَرَّةً قَوْلَهُ تَعَالَى: ﴿الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمٰنِ﴾
فَاضْطَرَبَ.
Demikian pula pernah ia mendengar: “Kerajaan pada hari itu
yang benar adalah milik Ar-Rahman,” lalu ia bergetar.
فَسَأَلَهُ
ابْنُ سَالِمٍ، وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: قَدْ ضَعُفْتُ.
Ibn Sālim—salah satu muridnya—bertanya, lalu beliau
menjawab: “Aku telah lemah.”
فَقِيلَ
لَهُ: فَإِنْ كَانَ هٰذَا مِنْ مُضْعِفٍ، فَمَا قُوَّةُ الْحَالِ؟
Lalu ditanya: “Jika ini karena kelemahan, lalu apa kekuatan
keadaan (sejati)?”
فَقَالَ:
أَنْ لَا يَرِدَ عَلَيْهِ وَارِدٌ إِلَّا وَهُوَ يَلْتَقِيهِ بِقُوَّةِ حَالِهِ،
فَلَا تُغَيِّرُهُ الْوَارِدَاتُ وَإِنْ كَانَتْ قَوِيَّةً.
Beliau menjawab: “Yaitu tidak ada warid yang datang
kepadanya kecuali ia menerimanya dengan kuatnya keadaan; maka warid-warid tidak
mengubahnya walaupun kuat.”
وَسَبَبُ
الْقُدْرَةِ عَلَى ضَبْطِ الظَّاهِرِ مَعَ وُجُودِ الْوَجْدِ اسْتِوَاءُ
الْأَحْوَالِ بِمُلَازَمَةِ الشُّهُودِ.
Sebab kemampuan mengendalikan lahir meski ada wajd adalah
stabilnya keadaan karena terus-menerus menyaksikan.
كَمَا
حُكِيَ عَنْ سَهْلٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ قَالَ: حَالَتِي قَبْلَ
الصَّلَاةِ وَبَعْدَهَا وَاحِدَةٌ.
Sebagaimana dikisahkan tentang Sahl رحمه الله bahwa ia berkata:
“Keadaanku sebelum salat dan setelahnya sama.”
لِأَنَّهُ
كَانَ مُرَاعِيًا لِلْقَلْبِ، حَاضِرَ الذِّكْرِ مَعَ اللهِ تَعَالَى فِي كُلِّ
حَالٍ.
Karena ia menjaga hatinya, menghadirkan dzikir bersama Allah
تعالى
dalam setiap keadaan.
فَكَذٰلِكَ
يَكُونُ قَبْلَ السَّمَاعِ وَبَعْدَهُ.
Demikian pula keadaannya sebelum samā‘ dan sesudahnya.
إِذْ
يَكُونُ وَجْدُهُ دَائِمًا.
Sebab wajd-nya terus-menerus.
وَعَطَشُهُ
مُتَّصِلًا.
Dan “dahaganya” bersambung.
وَشُرْبُهُ
مُسْتَمِرًّا.
Serta “minumnya” terus berlangsung.
بِحَيْثُ
لَا يُؤَثِّرُ السَّمَاعُ فِي زِيَادَتِهِ.
Sampai samā‘ tidak menambahnya lagi.
كَمَا
رُوِيَ أَنَّ مُمْشَادَ الدِّينَوَرِيَّ أَشْرَفَ عَلَى جَمَاعَةٍ فِيهِمْ
قَوَّالٌ فَسَكَنُوا.
Diriwayatkan bahwa Mumsyād ad-Dīnawarī menampakkan diri
kepada sekelompok orang yang di antara mereka ada qawwāl, lalu mereka berhenti.
فَقَالَ:
ارْجِعُوا إِلَى مَا كُنْتُمْ فِيهِ.
Ia berkata: “Kembalilah kalian kepada keadaan kalian
semula.”
فَلَوْ
جُمِعَتْ مَلَاهِي الدُّنْيَا فِي أُذُنَيَّ مَا شَغَلَتْ هَمِّي وَلَا شَفَتْ
بَعْضَ مَا بِي.
“Seandainya seluruh hiburan dunia dikumpulkan di kedua
telingaku, ia tidak akan menyibukkan tekadku dan tidak pula menyembuhkan
sedikit pun dari apa yang ada padaku.”
وَقَالَ
الْجُنَيْدُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى: لَا يَضُرُّ نُقْصَانُ الْوَجْدِ مَعَ
فَضْلِ الْعِلْمِ.
Al-Junaid رحمه
الله berkata: “Berkurangnya wajd tidak membahayakan jika ada
keutamaan ilmu.”
وَفَضْلُ
الْعِلْمِ أَتَمُّ مِنْ فَضْلِ الْوَجْدِ.
Keutamaan ilmu lebih sempurna daripada keutamaan wajd.
فَإِنْ
قُلْتَ: فَمِثْلُ هٰذَا لَمْ يَحْضُرِ السَّمَاعَ.
Jika engkau berkata: orang semacam ini tidak menghadiri
samā‘.
فَاعْلَمْ
أَنَّ مِنْ هٰؤُلَاءِ مَنْ تَرَكَ السَّمَاعَ فِي كِبَرِهِ.
Ketahuilah: di antara mereka ada yang meninggalkan samā‘
ketika tua.
وَكَانَ
لَا يَحْضُرُ إِلَّا نَادِرًا.
Dan hanya hadir sesekali.
لِمُسَاعَدَةِ
أَخٍ مِنَ الْإِخْوَانِ وَإِدْخَالًا لِلسُّرُورِ عَلَى قَلْبِهِ.
Untuk membantu seorang saudara dan menggembirakan hatinya.
وَرُبَّمَا
حَضَرَ لِيَعْرِفَ الْقَوْمُ كَمَالَ قُوَّتِهِ.
Dan kadang ia hadir agar orang mengetahui kesempurnaan
kekuatannya.
فَيَعْلَمُونَ
أَنَّهُ لَيْسَ الْكَمَالُ بِالْوَجْدِ الظَّاهِرِ.
Sehingga mereka tahu bahwa kesempurnaan bukan pada wajd yang
tampak.
فَيَتَعَلَّمُونَ
مِنْهُ ضَبْطَ الظَّاهِرِ عَنِ التَّكَلُّفِ.
Dan mereka belajar darinya mengendalikan lahir dari
kepura-puraan.
وَإِنْ
لَمْ يَقْدِرُوا عَلَى الِاقْتِدَاءِ بِهِ فِي صَيْرُورَتِهِ طَبْعًا لَهُمْ.
Walaupun mereka tidak mampu menirunya sampai menjadi tabiat
pada diri mereka.
وَإِنِ
اتَّفَقَ حُضُورُهُمْ مَعَ غَيْرِ أَبْنَاءِ جِنْسِهِمْ فَيَكُونُونَ مَعَهُمْ
بِأَبْدَانِهِمْ.
Jika kebetulan mereka hadir bersama orang yang bukan
sejenis, maka jasad mereka bersama orang itu.
نَائِينَ
عَنْهُمْ بِقُلُوبِهِمْ وَبَوَاطِنِهِمْ.
Namun hati dan batin mereka jauh darinya.
كَمَا
يَجْلِسُونَ مِنْ غَيْرِ سَمَاعٍ مَعَ غَيْرِ جِنْسِهِمْ بِأَسْبَابٍ عَارِضَةٍ
تَقْتَضِي الْجُلُوسَ مَعَهُمْ.
Sebagaimana mereka duduk tanpa samā‘ bersama orang yang
bukan sejenis karena sebab-sebab mendadak yang menuntut duduk bersama.
وَبَعْضُهُمْ
نُقِلَ عَنْهُ تَرْكُ السَّمَاعِ.
Sebagian dari mereka dinukil meninggalkan samā‘.
وَيُظَنُّ
أَنَّهُ كَانَ سَبَبُ تَرْكِهِ اسْتِغْنَاءَهُ عَنِ السَّمَاعِ بِمَا ذَكَرْنَاهُ.
Dan diduga sebabnya: ia merasa cukup tanpa samā‘ dengan apa
yang telah disebutkan.
وَبَعْضُهُمْ
كَانَ مِنَ الزُّهَّادِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ حَظٌّ رُوحَانِيٌّ فِي السَّمَاعِ.
Sebagian lainnya adalah ahli zuhud dan tidak memiliki
“bagian ruhani” dalam samā‘.
وَلَا
كَانَ مِنْ أَهْلِ اللَّهْوِ.
Dan bukan ahli hiburan.
فَتَرَكَهُ
لِئَلَّا يَكُونَ مَشْغُولًا بِمَا لَا يَعْنِيهِ.
Maka ia meninggalkannya agar tidak sibuk dengan yang tidak
perlu.
وَبَعْضُهُمْ
تَرَكَهُ لِفَقْدِ الْإِخْوَانِ.
Sebagian meninggalkannya karena tidak adanya teman yang
tepat.
قِيلَ
لِبَعْضِهِمْ: لِمَ لَا تَسْمَعُ؟
Ditanyakan kepada sebagian mereka: “Mengapa engkau tidak
mendengar (samā‘)?”
فَقَالَ:
مِمَّنْ؟ وَمَعَ مَنْ؟
Ia menjawab: “Dari siapa? Dan bersama siapa?”
اَلْأَدَبُ
الرَّابِعُ: أَنْ لَا يَقُومَ وَلَا يَرْفَعَ صَوْتَهُ بِالْبُكَاءِ وَهُوَ
يَقْدِرُ عَلَى ضَبْطِ نَفْسِهِ.
Adab keempat: ia tidak berdiri dan tidak meninggikan suara
dengan tangis, selama ia mampu mengendalikan dirinya.
وَلٰكِنْ
إِنْ رَقَصَ أَوْ تَبَاكَى فَهُوَ مُبَاحٌ إِذَا لَمْ يَقْصِدْ بِهِ الْمُرَاءَاةَ.
Namun jika ia menari atau berpura-pura menangis, itu mubah
bila tidak bertujuan pamer.
لِأَنَّ
التَّبَاكِيَ اسْتِجْلَابٌ لِلْحُزْنِ.
Karena berpura-pura menangis adalah upaya mendatangkan
sedih.
وَالرَّقْصُ
سَبَبٌ فِي تَحْرِيكِ السُّرُورِ وَالنَّشَاطِ.
Dan tarian adalah sebab menggerakkan gembira dan semangat.
فَكُلُّ
سُرُورٍ مُبَاحٍ فَيَجُوزُ تَحْرِيكُهُ.
Setiap kegembiraan yang mubah, boleh dibangkitkan.
وَلَوْ
كَانَ ذٰلِكَ حَرَامًا لَمَا نَظَرَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا إِلَى
الْحَبَشَةِ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ
يَزْفِنُونَ (١).
Seandainya itu haram, niscaya ‘Aisyah رضي الله عنها tidak akan menonton
orang Habasyah bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika mereka menari (yazfinūn). (1)
هٰذَا
لَفْظُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ.
Ini lafaz ‘Aisyah رضي الله عنها dalam sebagian riwayat.
وَقَدْ
رُوِيَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَنَّهُمْ
حَجَلُوا لَمَّا وَرَدَ عَلَيْهِمْ سُرُورٌ أَوْجَبَ ذٰلِكَ.
Diriwayatkan dari sekelompok sahabat رضي الله عنهم bahwa mereka “hajal”
(melompat-lompat gembira) ketika datang kegembiraan yang memicu itu.
وَذٰلِكَ
فِي قِصَّةِ ابْنَةِ حَمْزَةَ.
Hal itu terjadi dalam kisah putri Hamzah.
لَمَّا
اخْتَصَمَ فِيهَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَأَخُوهُ جَعْفَرٌ وَزَيْدُ بْنُ
حَارِثَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ.
Ketika ‘Ali bin Abi Thalib, saudaranya Ja‘far, dan Zaid bin
Haritsah رضي
الله عنهم berselisih tentang pengasuhannya.
فَتَشَاحُّوا
فِي تَرْبِيَتِهَا.
Mereka saling berebut untuk mendidiknya.
فَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَلِيٍّ: «أَنْتَ مِنِّي وَأَنَا مِنْكَ».
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda kepada ‘Ali: “Engkau dariku dan aku darimu.”
فَحَجَلَ
عَلِيٌّ.
Maka ‘Ali pun melompat gembira.
وَقَالَ
لِجَعْفَرٍ: «أَشْبَهْتَ خُلُقِي وَخَلْقِي».
Beliau bersabda kepada Ja‘far: “Engkau mirip akhlakku dan
rupaku.”
فَحَجَلَ
وَرَاءَ حَجَلِ عَلِيٍّ.
Ja‘far pun melompat mengikuti lompatan ‘Ali.
وَقَالَ
لِزَيْدٍ: «أَنْتَ أَخُونَا وَمَوْلَانَا».
Beliau bersabda kepada Zaid: “Engkau saudara kami dan maula
kami.”
فَحَجَلَ
زَيْدٌ وَرَاءَ حَجَلِ جَعْفَرٍ.
Zaid pun melompat mengikuti lompatan Ja‘far.
ثُمَّ
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هِيَ لِجَعْفَرٍ، لِأَنَّ خَالَتَهَا
تَحْتَهُ، وَالْخَالَةُ وَالِدَةٌ» (٢).
Kemudian beliau bersabda: “Ia untuk Ja‘far, karena bibinya
berada dalam tanggungannya, dan bibi itu seperti ibu.” (2)
وَفِي
رِوَايَةٍ أَنَّهُ قَالَ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: «أَتُحِبِّينَ أَنْ
تَنْظُرِي إِلَى زَفْنِ الْحَبَشَةِ؟»
Dalam riwayat lain, beliau berkata kepada ‘Aisyah رضي الله عنها:
“Apakah engkau suka menonton tarian Habasyah?”
وَالزَّفْنُ
وَالْحَجَلُ هُوَ الرَّقْصُ.
Zafn dan hajal adalah tarian.
وَذٰلِكَ
يَكُونُ لِفَرَحٍ أَوْ شَوْقٍ.
Itu dilakukan karena gembira atau rindu.
فَحُكْمُهُ
حُكْمُ مُهَيِّجِهِ.
Hukumnya mengikuti penyebab yang membangkitkannya.
إِنْ
كَانَ فَرَحُهُ مَحْمُودًا وَالرَّقْصُ يَزِيدُهُ وَيُؤَكِّدُهُ فَهُوَ مَحْمُودٌ.
Jika kegembiraannya terpuji dan tarian menambah serta
menguatkannya, maka ia terpuji.
وَإِنْ
كَانَ مُبَاحًا فَهُوَ مُبَاحٌ.
Jika kegembiraannya mubah, maka tarian itu mubah.
وَإِنْ
كَانَ مَذْمُومًا فَهُوَ مَذْمُومٌ.
Jika kegembiraannya tercela, maka tarian itu tercela.
نَعَمْ،
لَا يَلِيقُ اعْتِيَادُ ذٰلِكَ بِمَنَاصِبِ الْأَكَابِرِ وَأَهْلِ الْقُدْوَةِ.
Namun, membiasakan hal itu tidak pantas bagi para pembesar
dan orang yang dijadikan teladan.
لِأَنَّهُ
فِي الْأَكْثَرِ يَكُونُ عَنْ لَهْوٍ وَلَعِبٍ.
Karena pada kebanyakan keadaan, itu berasal dari hiburan dan
permainan.
وَمَا
لَهُ صُورَةُ اللَّعِبِ وَاللَّهْوِ فِي أَعْيُنِ النَّاسِ.
Dan tampaknya memang seperti permainan dan hiburan di mata
orang.
فَيَنْبَغِي
أَنْ يَجْتَنِبَهُ الْمُقْتَدَى بِهِ لِئَلَّا يَصْغُرَ فِي أَعْيُنِ النَّاسِ،
فَيَتْرُكُوا الِاقْتِدَاءَ بِهِ.
Maka orang yang diteladani seharusnya menghindarinya agar ia
tidak menjadi kecil di mata manusia sehingga mereka meninggalkan meneladaninya.
وَأَمَّا
تَمْزِيقُ الثِّيَابِ فَلَا رُخْصَةَ فِيهِ إِلَّا عِنْدَ خُرُوجِ الْأَمْرِ عَنِ
الِاخْتِيَارِ.
Adapun merobek pakaian, tidak ada keringanan kecuali bila
perkara keluar dari kendali pilihan.
وَلَا
يَبْعُدُ أَنْ يَغْلِبَ الْوَجْدُ بِحَيْثُ يُمَزِّقُ ثَوْبَهُ وَهُوَ لَا يَدْرِي.
Tidak jauh kemungkinan wajd menguasai seseorang hingga ia
merobek pakaiannya tanpa sadar.
لِغَلَبَةِ
سُكْرِ الْوَجْدِ عَلَيْهِ.
Karena “mabuk wajd” menguasainya.
أَوْ
يَدْرِي، وَلٰكِنْ يَكُونُ كَالْمُضْطَرِّ الَّذِي لَا يَقْدِرُ عَلَى ضَبْطِ
نَفْسِهِ.
Atau ia sadar, tetapi seperti orang terpaksa yang tidak
mampu menahan diri.
وَتَكُونُ
صُورَتُهُ صُورَةَ الْمُكْرَهِ.
Keadaannya seperti orang dipaksa.
إِذْ
يَكُونُ لَهُ فِي الْحَرَكَةِ أَوِ التَّمْزِيقِ مُتَنَفَّسٌ.
Karena pada gerak atau merobek itu ia merasa ada
“kelapangan” untuk meluapkan.
فَيَضْطَرُّ
إِلَيْهِ اضْطِرَارَ الْمَرِيضِ إِلَى الْأَنِينِ.
Sehingga ia terpaksa melakukannya seperti orang sakit
terpaksa mengeluh.
وَلَوْ
كُلِّفَ الصَّبْرَ عَنْهُ لَمْ يَقْدِرْ عَلَيْهِ.
Jika ia dibebani untuk menahan diri, ia tidak sanggup.
مَعَ
أَنَّهُ فِعْلٌ اخْتِيَارِيٌّ.
Padahal itu secara bentuk adalah perbuatan pilihan.
فَلَيْسَ
كُلُّ فِعْلٍ حُصُولُهُ بِالْإِرَادَةِ يَقْدِرُ الْإِنْسَانُ عَلَى تَرْكِهِ.
Tidak setiap perbuatan yang terjadi dengan kehendak itu
mampu ditinggalkan.
فَالتَّنَفُّسُ
فِعْلٌ يَحْصُلُ بِالْإِرَادَةِ.
Bernapas itu perbuatan yang terjadi dengan kehendak.
وَلَوْ
كُلِّفَ الْإِنْسَانُ أَنْ يُمْسِكَ النَّفَسَ سَاعَةً لَاضْطُرَّ مِنْ بَاطِنِهِ
إِلَى أَنْ يَخْتَارَ التَّنَفُّسَ.
Jika seseorang disuruh menahan napas satu jam, dari dalam
dirinya ia akan terpaksa memilih bernapas.
فَكَذٰلِكَ
الزَّعْقَةُ وَتَمْزِيقُ الثِّيَابِ قَدْ يَكُونُ كَذٰلِكَ.
Demikian pula teriakan dan merobek pakaian bisa seperti itu.
فَهٰذَا
لَا يُوصَفُ بِالتَّحْرِيمِ.
Maka ini tidak dinilai sebagai haram.
فَقَدْ
ذُكِرَ عِنْدَ السَّرِيِّ حَدِيثُ الْوَجْدِ الْحَادِّ الْغَالِبِ.
Diceritakan di hadapan Sirri tentang wajd yang tajam dan
menguasai.
فَقَالَ:
نَعَمْ، يَضْرِبُ وَجْهَهُ بِالسَّيْفِ وَهُوَ لَا يَدْرِي.
Ia berkata: “Ya, ia bisa memukul wajahnya dengan pedang
sementara ia tidak sadar.”
فَرُوجِعَ
فِيهِ وَاسْتُبْعِدَ أَنْ يَنْتَهِيَ إِلَى هٰذَا الْحَدِّ.
Lalu ia dibantah dan dianggap mustahil sampai ke batas itu.
فَأَصَرَّ
عَلَيْهِ وَلَمْ يَرْجِعْ.
Namun ia tetap bersikeras dan tidak menarik ucapannya.
وَمَعْنَاهُ
أَنَّهُ فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ قَدْ يَنْتَهِي إِلَى هٰذَا الْحَدِّ فِي بَعْضِ
الْأَشْخَاصِ.
Maksudnya: pada sebagian keadaan, sebagian orang bisa
mencapai batas seperti itu.
فَإِنْ
قُلْتَ: فَمَا تَقُولُ فِي تَمْزِيقِ الصُّوفِيَّةِ الثِّيَابَ الْجَدِيدَةَ
بَعْدَ سُكُونِ الْوَجْدِ وَالْفَرَاغِ مِنَ السَّمَاعِ؟
Jika engkau bertanya: bagaimana tentang kaum sufi yang
merobek pakaian baru setelah wajd tenang dan selesai samā‘?
فَإِنَّهُمْ
يُمَزِّقُونَهَا قِطَعًا صِغَارًا وَيُفَرِّقُونَهَا عَلَى الْقَوْمِ،
وَيُسَمُّونَهَا الْخِرْقَةَ.
Karena mereka merobeknya menjadi potongan kecil,
membagikannya kepada orang-orang, dan menamainya “khirqah”.
فَاعْلَمْ
أَنَّ ذٰلِكَ مُبَاحٌ إِذَا قَطَعَ قِطَعًا مُرَبَّعَةً تَصْلُحُ لِتَرْقِيعِ
الثِّيَابِ وَالسَّجَّادَاتِ.
Ketahuilah: itu mubah jika dipotong menjadi kotak-kotak yang
bisa dipakai menambal pakaian dan sajadah.
فَإِنَّ
الْكَرْبَاسَ يُمَزَّقُ حَتَّى يُخَاطَ مِنْهُ الْقَمِيصُ.
Karena kain katun pun dirobek/potong sampai dibuat baju.
وَلَا
يَكُونُ ذٰلِكَ تَضْيِيعًا لِأَنَّهُ تَمْزِيقٌ لِغَرَضٍ.
Dan itu bukan penyia-nyiaan, karena robeknya untuk tujuan.
وَكَذٰلِكَ
تَرْقِيعُ الثِّيَابِ لَا يُمْكِنُ إِلَّا بِالْقِطَعِ الصِّغَارِ.
Demikian pula menambal pakaian tidak mungkin kecuali dengan
potongan kecil.
وَذٰلِكَ
مَقْصُودٌ.
Dan itu tujuan yang benar.
وَالتَّفْرِقَةُ
عَلَى الْجَمِيعِ لِيَعُمَّ ذٰلِكَ الْخَيْرُ مَقْصُودٌ مُبَاحٌ.
Dan membagikannya kepada semua orang agar kebaikan itu
merata adalah tujuan mubah.
وَلِكُلِّ
مَالِكٍ أَنْ يَقْطَعَ كَرْبَاسَهُ مِائَةَ قِطْعَةٍ وَيُعْطِيَهَا لِمِائَةِ
مِسْكِينٍ.
Setiap pemilik boleh memotong kainnya menjadi seratus potong
dan memberikannya kepada seratus orang miskin.
وَلٰكِنْ
يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ الْقِطَعُ بِحَيْثُ يُمْكِنُ أَنْ يُنْتَفَعَ بِهَا فِي
الرِّقَاعِ.
Namun potongan itu harus masih bisa dimanfaatkan untuk
tambalan.
وَإِنَّمَا
مَنَعْنَا فِي السَّمَاعِ التَّمْزِيقَ الْمُفْسِدَ لِلثَّوْبِ.
Yang kami larang dalam samā‘ adalah merobek yang merusak
pakaian.
الَّذِي
يُهْلِكُ بَعْضَهُ بِحَيْثُ لَا يَبْقَى مُنْتَفَعًا بِهِ.
Yaitu merusak sebagian hingga tidak tersisa manfaatnya.
فَهُوَ
تَضْيِيعٌ مَحْضٌ لَا يَجُوزُ بِالِاخْتِيَارِ.
Itu penyia-nyiaan murni yang tidak boleh dilakukan dengan
sengaja.
اَلْأَدَبُ
الْخَامِسُ: مُوَافَقَةُ الْقَوْمِ فِي الْقِيَامِ.
Adab kelima: menyertai orang-orang dalam berdiri.
إِذَا
قَامَ وَاحِدٌ مِنْهُمْ فِي وَجْدٍ صَادِقٍ مِنْ غَيْرِ رِيَاءٍ وَلَا تَكَلُّفٍ.
Jika salah seorang dari mereka berdiri karena wajd yang
jujur tanpa riya dan tanpa dibuat-buat.
أَوْ
قَامَ بِاخْتِيَارٍ مِنْ غَيْرِ إِظْهَارِ وَجْدٍ، وَقَامَتْ لَهُ الْجَمَاعَةُ.
Atau ia berdiri dengan pilihan tanpa menampakkan wajd, lalu
jamaah berdiri untuknya.
فَلَا
بُدَّ مِنَ الْمُوَافَقَةِ.
Maka harus ikut berdiri.
فَذٰلِكَ
مِنْ آدَابِ الصُّحْبَةِ.
Itu termasuk adab pergaulan.
وَكَذٰلِكَ
إِنْ جَرَتْ عَادَةُ طَائِفَةٍ بِتَنْحِيَةِ الْعِمَامَةِ عَلَى مُوَافَقَةِ
صَاحِبِ الْوَجْدِ إِذَا سَقَطَتْ عِمَامَتُهُ.
Demikian pula jika kebiasaan suatu kelompok adalah
menyingkirkan imamah sebagai bentuk ikut-ikutan pada orang yang wajd bila
imamahnya jatuh.
أَوْ
خَلْعِ الثِّيَابِ إِذَا سَقَطَ عَنْهُ ثَوْبُهُ بِالتَّمْزِيقِ.
Atau melepas pakaian bila pakaiannya terlepas karena sobek.
فَالْمُوَافَقَةُ
فِي هٰذِهِ الْأُمُورِ مِنْ حُسْنِ الصُّحْبَةِ وَالْعِشْرَةِ.
Ikut serta dalam hal-hal ini termasuk baiknya persahabatan
dan pergaulan.
إِذِ
الْمُخَالَفَةُ مُوحِشَةٌ.
Karena menyelisihi membuat orang merasa asing.
وَلِكُلِّ
قَوْمٍ رَسْمٌ.
Setiap kelompok punya kebiasaan.
وَلَا
بُدَّ مِنْ مُخَالَقَةِ النَّاسِ بِأَخْلَاقِهِمْ (١).
Dan harus bergaul dengan manusia sesuai adat mereka. (1)
كَمَا
وَرَدَ فِي الْخَبَرِ.
Sebagaimana datang dalam riwayat.
لَا
سِيَّمَا إِذَا كَانَتْ أَخْلَاقًا فِيهَا حُسْنُ الْعِشْرَةِ وَالْمُجَامَلَةِ.
Terutama bila berupa akhlak yang baik dalam pergaulan dan
saling menjaga perasaan.
وَتَطْيِيبُ
الْقَلْبِ بِالْمُسَاعَدَةِ.
Serta menyenangkan hati dengan membantu.
وَقَوْلُ
الْقَائِلِ: إِنَّ ذٰلِكَ بِدْعَةٌ لَمْ يَكُنْ فِي الصَّحَابَةِ.
Ucapan orang yang berkata: “Itu bid‘ah, tidak ada pada masa
sahabat,”
فَلَيْسَ
كُلُّ مَا يُحْكَمُ بِإِبَاحَتِهِ مَنْقُولًا عَنِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُمْ.
tidak benar sebagai hujah mutlak, karena tidak semua yang
mubah harus dinukil dari sahabat رضي الله عنهم.
وَإِنَّمَا
الْمَحْذُورُ ارْتِكَابُ بِدْعَةٍ تُرَاغِمُ سُنَّةً مَأْثُورَةً.
Yang berbahaya adalah membuat bid‘ah yang menentang sunnah
yang tetap.
وَلَمْ
يُنْقَلِ النَّهْيُ عَنْ شَيْءٍ مِنْ هٰذَا.
Tidak ada larangan yang dinukil tentang hal-hal ini.
وَالْقِيَامُ
عِنْدَ الدُّخُولِ لِلْدَّاخِلِ لَمْ يَكُنْ مِنْ عَادَةِ الْعَرَبِ.
Berdiri untuk menyambut orang masuk bukan kebiasaan orang
Arab.
بَلْ
كَانَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ لَا يَقُومُونَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ (٢).
Bahkan sahabat رضي الله عنهم tidak berdiri untuk Rasulullah صلى الله عليه
وسلم dalam sebagian keadaan. (2)
كَمَا
رَوَاهُ أَنَسٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Anas رضي الله عنه.
وَلٰكِنْ
إِذَا لَمْ يَثْبُتْ فِيهِ نَهْيٌ عَامٌّ فَلَا نَرَى بِهِ بَأْسًا فِي الْبِلَادِ
الَّتِي جَرَتِ الْعَادَةُ فِيهَا بِإِكْرَامِ الدَّاخِلِ بِالْقِيَامِ.
Namun jika tidak ada larangan umum yang sah, maka kami tidak
melihatnya bermasalah di negeri yang kebiasaannya memuliakan tamu dengan
berdiri.
فَإِنَّ
الْمَقْصُودَ مِنْهُ الِاحْتِرَامُ وَالْإِكْرَامُ وَتَطْيِيبُ الْقَلْبِ بِهِ.
Karena tujuannya adalah menghormati, memuliakan, dan
menyenangkan hati dengan itu.
وَكَذٰلِكَ
سَائِرُ أَنْوَاعِ الْمُسَاعَدَاتِ إِذَا قُصِدَ بِهَا تَطْيِيبُ الْقَلْبِ،
وَاصْطَلَحَ عَلَيْهَا جَمَاعَةٌ، فَلَا بَأْسَ بِمُسَاعَدَتِهِمْ عَلَيْهَا.
Demikian pula jenis bantuan lainnya; bila tujuannya
menyenangkan hati dan suatu kelompok telah sepakat melakukannya, maka tidak
mengapa membantu mereka.
بَلِ
الْأَحْسَنُ الْمُسَاعَدَةُ.
Bahkan yang lebih baik adalah membantu.
إِلَّا
فِيمَا وَرَدَ فِيهِ نَهْيٌ لَا يَقْبَلُ التَّأْوِيلَ.
Kecuali pada hal yang ada larangan tegas tanpa ruang takwil.
وَمِنَ
الْأَدَبِ أَنْ لَا يَقُومَ لِلرَّقْصِ مَعَ الْقَوْمِ إِنْ كَانَ يَسْتَثْقِلُ
رَقْصَهُ وَلَا يُشَوِّشُ عَلَيْهِمْ أَحْوَالَهُمْ.
Termasuk adab: jangan ikut menari bersama mereka bila ia
merasa tariannya memberatkan dan bisa mengacaukan keadaan mereka.
إِذِ
الرَّقْصُ مِنْ غَيْرِ إِظْهَارِ التَّوَاجُدِ مُبَاحٌ.
Karena tarian tanpa menampakkan tawājud (kepura-puraan wajd)
adalah mubah.
وَالْمُتَوَاجِدُ
هُوَ الَّذِي يَلُوحُ لِلْجَمِيعِ مِنْهُ أَثَرُ التَّكَلُّفِ.
Sedangkan orang yang tawājud adalah yang tampak pada semua
orang jejak dibuat-buatnya.
وَمَنْ
يَقُومُ عَنْ صِدْقٍ لَا تَسْتَثْقِلُهُ الطِّبَاعُ.
Orang yang berdiri karena kejujuran, tabiat tidak akan
merasa berat dengannya.
فَقُلُوبُ
الْحَاضِرِينَ إِذَا كَانُوا مِنْ أَرْبَابِ الْقُلُوبِ مِحَكٌّ لِلصِّدْقِ
وَالتَّكَلُّفِ.
Hati para hadirin—bila mereka pemilik hati—adalah batu uji
bagi jujur dan dibuat-buat.
سُئِلَ
بَعْضُهُمْ عَنِ الْوَجْدِ الصَّحِيحِ.
Sebagian orang ditanya tentang wajd yang benar.
فَقَالَ:
صِحَّتُهُ قَبُولُ قُلُوبِ الْحَاضِرِينَ لَهُ إِذَا كَانُوا أَشْكَالًا غَيْرَ
أَضْدَادٍ.
Ia menjawab: “Tandanya: hati para hadirin menerimanya, bila
mereka sejenis (selaras), bukan saling berlawanan.”
فَإِنْ
قُلْتَ: فَمَا بَالُ الطِّبَاعِ تَنْفِرُ عَنِ الرَّقْصِ، وَيَسْبِقُ إِلَى
الْأَوْهَامِ أَنَّهُ بَاطِلٌ وَلَهْوٌ وَمُخَالِفٌ لِلدِّينِ؟
Jika engkau bertanya: mengapa tabiat manusia menjauh dari
tarian, dan prasangka pertama menganggapnya batil, hiburan, dan bertentangan
dengan agama?
فَلَا
يَرَاهُ ذُو جِدٍّ فِي الدِّينِ إِلَّا وَيُنْكِرُهُ.
Sehingga orang yang bersungguh-sungguh dalam agama akan
mengingkarinya.
فَاعْلَمْ
أَنَّ الْجِدَّ لَا يَزِيدُ عَلَى جِدِّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ.
Ketahuilah: keseriusan tidak melebihi keseriusan Rasulullah صلى الله عليه
وسلم.
وَقَدْ
رَأَى الْحَبَشَةَ يَزْفِنُونَ فِي الْمَسْجِدِ وَمَا أَنْكَرَهُ.
Padahal beliau melihat orang Habasyah menari di masjid dan
tidak mengingkarinya.
لَمَّا
كَانَ فِي وَقْتٍ لَائِقٍ بِهِ، وَهُوَ الْعِيدُ.
Karena itu pada waktu yang layak, yaitu hari raya.
وَمِنْ
شَخْصٍ لَائِقٍ بِهِ، وَهُمُ الْحَبَشَةُ.
Dan dari orang yang layak, yaitu orang Habasyah.
نَعَمْ،
نُفْرَةُ الطِّبَاعِ عَنْهُ لِأَنَّهُ يُرَى غَالِبًا مَقْرُونًا بِاللَّهْوِ
وَاللَّعِبِ.
Benar, tabiat menjauh karena tarian biasanya terlihat
beriringan dengan hiburan dan permainan.
وَاللَّهْوُ
وَاللَّعِبُ مُبَاحٌ، وَلٰكِنْ لِلْعَوَامِّ مِنَ الزُّنُوجِ وَالْحَبَشَةِ وَمَنْ
أَشْبَهَهُمْ.
Hiburan dan permainan itu mubah, tetapi bagi orang awam dari
kalangan Zanj, Habasyah, dan semisal mereka.
وَهُوَ
مَكْرُوهٌ لِذَوِي الْمَنَاصِبِ لِأَنَّهُ لَا يَلِيقُ بِهِمْ.
Namun bagi orang terpandang itu makruh, karena tidak pantas
bagi mereka.
وَمَا
كُرِهَ لِكَوْنِهِ غَيْرَ لَائِقٍ بِمَنْصِبِ ذِي الْمَنْصِبِ فَلَا يَجُوزُ أَنْ
يُوصَفَ بِالتَّحْرِيمِ.
Apa yang dimakruhkan karena tidak pantas bagi kedudukan
orang terpandang, tidak boleh disebut haram.
فَمَنْ
سَأَلَ فَقِيرًا شَيْئًا فَأَعْطَاهُ رَغِيفًا كَانَ ذٰلِكَ طَاعَةً
مُسْتَحْسَنَةً.
Jika seseorang meminta sesuatu kepada orang miskin lalu ia
memberinya sepotong roti, itu ketaatan yang baik.
وَلَوْ
سَأَلَ مَلِكًا فَأَعْطَاهُ رَغِيفًا أَوْ رَغِيفَيْنِ لَكَانَ ذٰلِكَ مُنْكَرًا
عِنْدَ النَّاسِ كَافَّةً.
Namun jika ia meminta kepada raja lalu raja memberinya
sepotong atau dua potong roti, itu dianggap buruk oleh semua orang.
وَمَكْتُوبًا
فِي تَوَارِيخِ الْأَخْبَارِ مِنْ جُمْلَةِ مَسَاوِيهِ.
Dan dicatat dalam sejarah sebagai salah satu aibnya.
وَيُعَيَّرُ
بِهِ أَعْقَابُهُ وَأَشْيَاعُهُ.
Dan keturunannya serta pengikutnya dicela karenanya.
وَمَعَ
هٰذَا فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُقَالَ: مَا فَعَلَهُ حَرَامٌ.
Namun tetap tidak boleh dikatakan perbuatannya haram.
لِأَنَّهُ
مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ أَعْطَى خُبْزًا لِلْفَقِيرِ حَسَنٌ.
Karena dari sisi memberi roti kepada orang miskin itu baik.
وَمِنْ
حَيْثُ إِنَّهُ بِالْإِضَافَةِ إِلَى مَنْصِبِهِ كَالْمَنْعِ بِالْإِضَافَةِ إِلَى
الْفَقِيرِ مُسْتَقْبَحٌ.
Namun dari sisi kedudukannya, itu tercela; sebagaimana
menolak memberi kepada orang miskin juga tercela.
فَكَذٰلِكَ
الرَّاقِصُ وَمَا يَجْرِي مَجْرَاهُ مِنَ الْمُبَاحَاتِ.
Demikian pula penari dan semisalnya dari perkara mubah.
وَمُبَاحَاتُ
الْعَوَامِّ سَيِّئَاتُ الْأَبْرَارِ.
Perkara mubah bagi orang awam bisa menjadi “kekurangan” bagi
orang saleh.
وَحَسَنَاتُ
الْأَبْرَارِ سَيِّئَاتُ الْمُقَرَّبِينَ.
Dan kebaikan orang saleh bisa menjadi “kekurangan” bagi
orang yang sangat dekat kepada Allah.
وَلٰكِنْ
هٰذَا مِنْ حَيْثُ الِالْتِفَاتُ إِلَى الْمَنَاصِبِ.
Namun ini dari sisi memperhatikan kedudukan.
وَأَمَّا
إِذَا نُظِرَ إِلَيْهِ فِي نَفْسِهِ وَجَبَ الْحُكْمُ بِأَنَّهُ هُوَ فِي نَفْسِهِ
لَا تَحْرِيمَ فِيهِ.
Adapun jika dilihat pada hakikat perbuatannya, wajib
dihukumi bahwa pada dirinya tidak ada keharaman.
وَاللهُ
أَعْلَمُ.
Dan Allah lebih mengetahui.
فَقَدْ
خَرَجَ مِنْ جُمْلَةِ التَّفْصِيلِ السَّابِقِ أَنَّ السَّمَاعَ قَدْ يَكُونُ
حَرَامًا مَحْضًا.
Dari perincian sebelumnya, hasilnya: samā‘ bisa menjadi
haram murni.
وَقَدْ
يَكُونُ مُبَاحًا.
Dan bisa menjadi mubah.
وَقَدْ
يَكُونُ مَكْرُوهًا.
Dan bisa menjadi makruh.
وَقَدْ
يَكُونُ مُسْتَحَبًّا.
Dan bisa menjadi mustahab (dianjurkan).
أَمَّا
الْحَرَامُ فَهُوَ لِأَكْثَرِ النَّاسِ مِنَ الشُّبَّانِ.
Adapun yang haram, itu bagi kebanyakan manusia dari kalangan
pemuda.
وَمَنْ
غَلَبَتْ عَلَيْهِمْ شَهْوَةُ الدُّنْيَا.
Dan bagi orang yang dikuasai syahwat dunia.
فَلَا
يُحَرِّكُ السَّمَاعُ مِنْهُمْ إِلَّا مَا هُوَ الْغَالِبُ عَلَى قُلُوبِهِمْ مِنَ
الصِّفَاتِ الْمَذْمُومَةِ.
Karena samā‘ pada mereka hanya menggerakkan sifat tercela
yang dominan dalam hati mereka.
وَأَمَّا
الْمَكْرُوهُ فَهُوَ لِمَنْ لَا يُنَزِّلُهُ عَلَى صُورَةِ الْمَخْلُوقِينَ.
Adapun yang makruh, itu bagi orang yang tidak mengaitkannya
pada rupa makhluk.
وَلٰكِنَّهُ
يَتَّخِذُهُ عَادَةً لَهُ فِي أَكْثَرِ الْأَوْقَاتِ عَلَى سَبِيلِ اللَّهْوِ.
Namun ia menjadikannya kebiasaan pada kebanyakan waktu,
sekadar hiburan.
وَأَمَّا
الْمُبَاحُ فَهُوَ لِمَنْ لَا حَظَّ لَهُ مِنْهُ إِلَّا التَّلَذُّذَ بِالصَّوْتِ
الْحَسَنِ.
Adapun yang mubah, itu bagi orang yang tidak mengambil
bagian darinya kecuali menikmati suara yang indah.
وَأَمَّا
الْمُسْتَحَبُّ فَهُوَ لِمَنْ غَلَبَ عَلَيْهِ حُبُّ اللهِ تَعَالَى.
Adapun yang dianjurkan, itu bagi orang yang dikuasai cinta
kepada Allah تعالى.
وَلَمْ
يُحَرِّكِ السَّمَاعُ مِنْهُ إِلَّا الصِّفَاتَ الْمَحْمُودَةَ.
Dan samā‘ pada dirinya hanya menggerakkan sifat-sifat yang
terpuji.
وَالْحَمْدُ
لِلهِ وَحْدَهُ.
Segala puji bagi Allah semata.
وَصَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ.
Semoga Allah melimpahkan salawat dan salam kepada Muhammad
dan keluarganya.