Penjelasan Tentang Amalan-Amalan Batin, Rahasia-Rahasia Serta Makna-Maknanya, Dari Awal Haji Sampai Akhirnya

بَيَانُ الْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَوَجْهِ الْإِخْلَاصِ فِي النِّيَّةِ وَطَرِيقِ الِاعْتِبَارِ بِالْمَشَاهِدِ الشَّرِيفَةِ وَكَيْفِيَّةِ الِافْتِكَارِ فِيهَا وَالتَّذَكُّرِ لِأَسْرَارِهَا وَمَعَانِيهَا مِنْ أَوَّلِ الْحَجِّ إِلَى آخِرِهِ

Penjelasan tentang amalan-amalan batin, hakikat keikhlasan dalam niat, cara mengambil pelajaran dari tempat-tempat suci, bagaimana bertafakur di dalamnya, dan mengingat rahasia-rahasia serta makna-maknanya, dari awal haji sampai akhirnya.

اِعْلَمْ أَنَّ أَوَّلَ الْحَجِّ الْفَهْمُ، أَعْنِي فَهْمَ مَوْقِعِ الْحَجِّ فِي الدِّينِ، ثُمَّ الشَّوْقُ إِلَيْهِ، ثُمَّ الْعَزْمُ عَلَيْهِ، ثُمَّ قَطْعُ الْعَلَائِقِ الْمَانِعَةِ مِنْهُ، ثُمَّ شِرَاءُ ثَوْبِ الْإِحْرَامِ، ثُمَّ شِرَاءُ الزَّادِ، ثُمَّ اكْتِرَاءُ الرَّاحِلَةِ، ثُمَّ الْخُرُوجُ، ثُمَّ الْمَسِيرُ فِي الْبَادِيَةِ، ثُمَّ الْإِحْرَامُ مِنَ الْمِيقَاتِ بِالتَّلْبِيَةِ، ثُمَّ دُخُولُ مَكَّةَ، ثُمَّ اسْتِتْمَامُ الْأَفْعَالِ كَمَا سَبَقَ.
Ketahuilah bahwa awal haji adalah pemahaman, yaitu memahami kedudukan haji dalam agama. Kemudian timbul kerinduan kepadanya, lalu tekad untuk melaksanakannya, lalu memutus segala ikatan yang menghalanginya, lalu membeli pakaian ihram, lalu membeli bekal, lalu menyewa tunggangan, lalu berangkat, lalu menempuh perjalanan di padang sahara, lalu berihram dari miqat dengan talbiyah, lalu masuk ke Makkah, kemudian menyempurnakan amalan-amalan sebagaimana telah dijelaskan.

وَفِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ تَذْكِرَةٌ لِلْمُتَذَكِّرِ وَعِبْرَةٌ لِلْمُعْتَبِرِ وَتَنْبِيهٌ لِلْمُرِيدِ الصَّادِقِ وَتَعْرِيفٌ وَإِشَارَةٌ لِلْفَطِنِ.
Pada setiap satu dari perkara-perkara ini terdapat peringatan bagi orang yang mau mengambil pelajaran, ibrah bagi orang yang mau merenung, peringatan bagi orang yang sungguh-sungguh menempuh jalan, serta pengenalan dan isyarat bagi orang yang cerdas.

فَلْنَرْمُزْ إِلَى مَفَاتِحِهَا، حَتَّى إِذَا انْفَتَحَ بَابُهَا وَعُرِفَتْ أَسْبَابُهَا انْكَشَفَتْ لِكُلِّ حَاجٍّ مِنْ أَسْرَارِهَا مَا يَقْتَضِيهِ صَفَاءُ قَلْبِهِ وَطَهَارَةُ بَاطِنِهِ وَغَزَارَةُ فَهْمِهِ.
Maka marilah kita memberi isyarat kepada kunci-kuncinya, agar apabila pintunya telah terbuka dan sebab-sebabnya telah dikenal, tersingkaplah bagi setiap jamaah haji dari rahasia-rahasianya sesuatu yang sesuai dengan kejernihan hatinya, kebersihan batinnya, dan keluasan pemahamannya.

أَمَّا الْفَهْمُ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا وُصُولَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَّا بِالتَّنَزُّهِ عَنِ الشَّهَوَاتِ وَالْكَفِّ عَنِ اللَّذَّاتِ وَالِاقْتِصَارِ عَلَى الضَّرُورَاتِ فِيهَا وَالتَّجَرُّدِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ فِي جَمِيعِ الْحَرَكَاتِ وَالسَّكَنَاتِ.
Adapun pemahaman, maka ketahuilah bahwa tidak ada jalan untuk sampai kepada Allah سبحانه وتعالى kecuali dengan menjauhi syahwat, menahan diri dari kenikmatan, membatasi diri pada kebutuhan yang darurat darinya, dan mengosongkan diri untuk Allah سبحانه dalam seluruh gerak dan diam.

وَلِأَجْلِ هَذَا انْفَرَدَ الرُّهْبَانِيُّونَ فِي الْمِلَلِ السَّالِفَةِ عَنِ الْخَلْقِ، وَانْحَازُوا إِلَى قُلَلِ الْجِبَالِ، وَآثَرُوا التَّوَحُّشَ عَنِ الْخَلْقِ لِطَلَبِ الْأُنْسِ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Karena itulah para rahib pada agama-agama terdahulu memisahkan diri dari manusia, menjauh ke puncak-puncak gunung, dan lebih memilih hidup terpencil dari makhluk demi mencari keakraban dengan Allah عز وجل.

فَتَرَكُوا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اللَّذَّاتِ الْحَاضِرَةَ، وَأَلْزَمُوا أَنْفُسَهُمُ الْمُجَاهَدَاتِ الشَّاقَّةَ طَمَعًا فِي الْآخِرَةِ.
Mereka meninggalkan kenikmatan yang hadir demi Allah عز وجل, dan mewajibkan atas diri mereka latihan-latihan berat karena berharap kepada akhirat.

وَأَثْنَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِمْ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ﴾.
Allah عز وجل memuji mereka dalam kitab-Nya dengan firman-Nya: “Yang demikian itu karena di antara mereka ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib, dan karena mereka tidak menyombongkan diri.”

فَلَمَّا انْدَرَسَ ذَلِكَ، وَأَقْبَلَ الْخَلْقُ عَلَى اتِّبَاعِ الشَّهَوَاتِ، وَهَجَرُوا التَّجَرُّدَ لِعِبَادَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَفَتَرُوا عَنْهُ، بَعَثَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِإِحْيَاءِ طَرِيقِ الْآخِرَةِ وَتَجْدِيدِ سُنَّةِ الْمُرْسَلِينَ فِي سُلُوكِهَا.
Ketika semua itu telah pudar, manusia sibuk mengikuti syahwat, meninggalkan pengosongan diri untuk ibadah kepada Allah عز وجل, dan melemah dalam hal itu, maka Allah عز وجل mengutus Nabi-Nya Muhammad saw. untuk menghidupkan kembali jalan akhirat dan memperbarui sunah para rasul dalam menempuhnya.

فَسَأَلَهُ أَهْلُ الْمِلَلِ عَنِ الرَّهْبَانِيَّةِ وَالسِّيَاحَةِ فِي دِينِهِ، فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَبْدَلَنَا اللَّهُ بِهَا الْجِهَادَ وَالتَّكْبِيرَ عَلَى كُلِّ شَرَفٍ، يَعْنِي الْحَجَّ.
Lalu para penganut agama-agama lain bertanya kepada beliau tentang kerahiban dan pengembaraan dalam agama beliau. Maka Nabi saw. bersabda: “Allah telah menggantinya bagi kami dengan jihad dan takbir di setiap tempat tinggi,” maksudnya ialah haji.

وَسُئِلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّائِحِينَ فَقَالَ: هُمُ الصَّائِمُونَ.
Dan Nabi saw. ditanya tentang siapa yang dimaksud dengan para pengembara ibadah, maka beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang berpuasa.”

فَأَنْعَمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ بِأَنْ جَعَلَ الْحَجَّ رَهْبَانِيَّةً لَهُمْ، فَشَرَّفَ الْبَيْتَ الْعَتِيقَ بِالْإِضَافَةِ إِلَى نَفْسِهِ تَعَالَى.
Maka Allah عز وجل menganugerahkan nikmat kepada umat ini dengan menjadikan haji sebagai bentuk kerahiban bagi mereka. Dia memuliakan Baitul Atiq dengan menisbahkannya kepada diri-Nya sendiri.

وَنَصَبَهُ مَقْصِدًا لِعِبَادِهِ، وَجَعَلَ مَا حَوَالَيْهِ حَرَمًا لِبَيْتِهِ تَفْخِيمًا لِأَمْرِهِ.
Dia menjadikannya tujuan bagi hamba-hamba-Nya, dan menjadikan daerah di sekitarnya sebagai tanah haram bagi rumah-Nya demi mengagungkan urusannya.

وَجَعَلَ عَرَفَاتٍ كَالْمِيزَابِ عَلَى فِنَاءِ حَوْضِهِ، وَأَكَّدَ حُرْمَةَ الْمَوْضِعِ بِتَحْرِيمِ صَيْدِهِ وَشَجَرِهِ.
Dia menjadikan Arafat laksana pancuran di pelataran telaga-Nya, dan meneguhkan kehormatan tempat itu dengan mengharamkan binatang buruannya dan pepohonannya.

وَوَضَعَهُ عَلَى مِثَالِ حَضْرَةِ الْمُلُوكِ، يَقْصِدُهُ الزُّوَّارُ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ وَمِنْ كُلِّ أَوْبٍ سَحِيقٍ شُعْثًا غُبْرًا، مُتَوَاضِعِينَ لِرَبِّ الْبَيْتِ، وَمُسْتَكِينِينَ لَهُ خُضُوعًا لِجَلَالِهِ وَاسْتِكَانَةً لِعِزَّتِهِ.
Dia menempatkannya seperti hadirat para raja, yang dituju para peziarah dari setiap jalan yang jauh dan dari setiap arah yang amat jauh, dalam keadaan kusut dan berdebu, merendahkan diri kepada Tuhan Pemilik rumah itu, tunduk kepada keagungan-Nya, dan pasrah kepada kemuliaan-Nya.

مَعَ الِاعْتِرَافِ بِتَنْزِيهِهِ عَنْ أَنْ يَحْوِيَهُ بَيْتٌ أَوْ يَكْتَنِفَهُ بَلَدٌ، لِيَكُونَ ذَلِكَ أَبْلَغَ فِي رِقِّهِمْ وَعُبُودِيَّتِهِمْ، وَأَتَمَّ فِي إِذْعَانِهِمْ وَانْقِيَادِهِمْ.
Disertai pengakuan bahwa Allah Mahasuci dari diliputi oleh rumah atau dikelilingi oleh suatu negeri, agar semua itu lebih mendalam dalam memperlihatkan penghambaan dan kerendahan mereka, serta lebih sempurna dalam ketundukan dan kepatuhan mereka.

وَلِذَلِكَ وَظَّفَ عَلَيْهِمْ فِيهَا أَعْمَالًا لَا تَأْنَسُ بِهَا النُّفُوسُ، وَلَا تَهْتَدِي إِلَى مَعَانِيهَا الْعُقُولُ، كَرَمْيِ الْجِمَارِ بِالْأَحْجَارِ، وَالتَّرَدُّدِ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ عَلَى سَبِيلِ التَّكْرَارِ.
Karena itu, Dia menetapkan bagi mereka amalan-amalan yang jiwa tidak terbiasa dengannya dan akal tidak dapat langsung menangkap maknanya, seperti melempar jumrah dengan batu dan bolak-balik antara Shafa dan Marwah secara berulang.

وَبِمِثْلِ هَذِهِ الْأَعْمَالِ يَظْهَرُ كَمَالُ الرِّقِّ وَالْعُبُودِيَّةِ.
Dengan amalan-amalan semacam inilah tampak kesempurnaan penghambaan dan perbudakan diri kepada Allah.

فَإِنَّ الزَّكَاةَ إِرْفَاقٌ، وَوَجْهُهُ مَفْهُومٌ، وَلِلْعَقْلِ إِلَيْهِ مَيْلٌ.
Sebab zakat adalah bentuk pemberian manfaat, maknanya dapat dipahami, dan akal condong kepadanya.

وَالصَّوْمُ كَسْرٌ لِلشَّهْوَةِ الَّتِي هِيَ آلَةُ عَدُوِّ اللَّهِ، وَتَفْرِيغٌ لِلْعِبَادَةِ بِالْكَفِّ عَنِ الشَّوَاغِلِ.
Puasa adalah mematahkan syahwat yang merupakan alat musuh Allah, serta mengosongkan diri untuk ibadah dengan menahan diri dari kesibukan.

وَالرُّكُوعُ وَالسُّجُودُ فِي الصَّلَاةِ تَوَاضُعٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَفْعَالٍ هِيَ هَيْئَةُ التَّوَاضُعِ، وَلِلنُّفُوسِ أُنْسٌ بِتَعْظِيمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Rukuk dan sujud dalam salat adalah bentuk kerendahan diri kepada Allah عز وجل dengan gerakan-gerakan yang memang menggambarkan kerendahan diri, dan jiwa pun terbiasa dengan pengagungan kepada Allah عز وجل.

فَأَمَّا تَرَدُّدَاتُ السَّعْيِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ وَأَمْثَالُ هَذِهِ الْأَعْمَالِ، فَلَا حَظَّ لِلنُّفُوسِ وَلَا أُنْسَ فِيهَا، وَلَا اهْتِدَاءَ لِلْعَقْلِ إِلَى مَعَانِيهَا.
Adapun bolak-balik dalam sa’i, melempar jumrah, dan amalan-amalan semisal itu, maka tidak ada bagian kenikmatan bagi jiwa di dalamnya, tidak ada keakraban dengannya, dan akal pun tidak langsung mengetahui maknanya.

فَلَا يَكُونُ فِي الْإِقْدَامِ عَلَيْهَا بَاعِثٌ إِلَّا الْأَمْرُ الْمُجَرَّدُ، وَقَصْدُ الِامْتِثَالِ لِلْأَمْرِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ أَمْرٌ وَاجِبُ الِاتِّبَاعِ فَقَطْ.
Karena itu, tidak ada pendorong untuk melaksanakannya kecuali perintah semata, dan tujuan menaati perintah itu hanyalah karena ia adalah perintah yang wajib diikuti.

وَفِيهِ عَزْلٌ لِلْعَقْلِ عَنْ تَصَرُّفِهِ، وَصَرْفُ النَّفْسِ وَالطَّبْعِ عَنْ مَحَلِّ أُنْسِهِ.
Di dalamnya terdapat penyingkiran akal dari campur tangannya, serta pengalihan jiwa dan tabiat dari tempat kesenangannya.

فَإِنَّ كُلَّ مَا أَدْرَكَ الْعَقْلُ مَعْنَاهُ مَالَ الطَّبْعُ إِلَيْهِ مَيْلًا مَا، فَيَكُونُ ذَلِكَ الْمَيْلُ مُعِينًا لِلْأَمْرِ وَبَاعِثًا مَعَهُ عَلَى الْفِعْلِ، فَلَا يَكَادُ يَظْهَرُ بِهِ كَمَالُ الرِّقِّ وَالِانْقِيَادِ.
Sebab setiap hal yang dipahami maknanya oleh akal, tabiat akan cenderung kepadanya dalam kadar tertentu. Kecenderungan itu lalu membantu perintah dan menjadi pendorong bersama perintah untuk berbuat. Maka dengan itu tidak tampak secara sempurna hakikat penghambaan dan kepatuhan.

وَلِذَلِكَ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَجِّ عَلَى الْخُصُوصِ: لَبَّيْكَ بِحَجَّةٍ حَقًّا تَعَبُّدًا وَرِقًّا.
Karena itulah Nabi saw. secara khusus dalam haji bersabda: “Aku penuhi panggilan-Mu dengan haji yang benar, sebagai ibadah dan penghambaan.”

وَلَمْ يَقُلْ ذَلِكَ فِي صَلَاةٍ وَلَا غَيْرِهَا.
Dan beliau tidak mengatakan hal itu dalam salat maupun ibadah lainnya.

وَإِذَا اقْتَضَتْ حِكْمَةُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى رَبْطَ نَجَاةِ الْخَلْقِ بِأَنْ تَكُونَ أَعْمَالُهُمْ عَلَى خِلَافِ هَوَى طِبَاعِهِمْ، وَأَنْ يَكُونَ زِمَامُهَا بِيَدِ الشَّرْعِ، فَيَتَرَدَّدُونَ فِي أَعْمَالِهِمْ عَلَى سُنَنِ الِانْقِيَادِ وَعَلَى مُقْتَضَى الِاسْتِعْبَادِ، كَانَ مَا لَا يَهْتَدِي إِلَى مَعَانِيهِ أَبْلَغَ أَنْوَاعِ التَّعَبُّدَاتِ فِي تَزْكِيَةِ النُّفُوسِ وَصَرْفِهَا عَنْ مُقْتَضَى الطِّبَاعِ وَالْأَخْلَاقِ إِلَى مُقْتَضَى الِاسْتِرْقَاقِ.
Apabila hikmah Allah سبحانه وتعالى menghendaki agar keselamatan makhluk bergantung pada amalan-amalan yang berlawanan dengan hawa tabiat mereka, dan agar kendalinya berada di tangan syariat, sehingga mereka bergerak dalam amal-amal mereka di atas jalan kepatuhan dan hakikat penghambaan, maka amalan yang akal tidak mengetahui maknanya menjadi bentuk ibadah yang paling kuat dalam menyucikan jiwa dan memalingkannya dari tuntutan tabiat serta akhlak kepada tuntutan penghambaan.

وَإِذَا تَفَطَّنْتَ لِهَذَا فَهِمْتَ أَنَّ تَعَجُّبَ النُّفُوسِ مِنْ هَذِهِ الْأَفْعَالِ الْعَجِيبَةِ مَصْدَرُهُ الذُّهُولُ عَنْ أَسْرَارِ التَّعَبُّدَاتِ.
Apabila engkau menyadari hal ini, engkau akan memahami bahwa keheranan jiwa terhadap amalan-amalan yang tampak aneh itu bersumber dari kelalaian terhadap rahasia-rahasia ibadah.

وَهَذَا الْقَدْرُ كَافٍ فِي تَفَهُّمِ أَصْلِ الْحَجِّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى.
Kadar penjelasan ini sudah cukup untuk memahami pokok haji, insyaallah تعالى.

وَأَمَّا الشَّوْقُ، فَإِنَّمَا يَنْبَعِثُ بَعْدَ الْفَهْمِ وَالتَّحَقُّقِ بِأَنَّ الْبَيْتَ بَيْتُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَنَّهُ وُضِعَ عَلَى مِثَالِ حَضْرَةِ الْمُلُوكِ.
Adapun kerinduan, maka ia hanya muncul setelah pemahaman dan keyakinan bahwa rumah itu adalah rumah Allah عز وجل dan bahwa ia diletakkan laksana hadirat para raja.

فَقَاصِدُهُ قَاصِدٌ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَزَائِرٌ لَهُ.
Maka orang yang menujunya adalah orang yang menuju kepada Allah عز وجل dan sedang menziarahi-Nya.

وَأَنَّ مَنْ قَصَدَ الْبَيْتَ فِي الدُّنْيَا جَدِيرٌ بِأَنْ لَا يُضَيِّعَ زِيَارَتَهُ، فَيُرْزَقَ مَقْصُودَ الزِّيَارَةِ فِي مِيعَادِهِ الْمَضْرُوبِ لَهُ، وَهُوَ النَّظَرُ إِلَى وَجْهِ اللَّهِ الْكَرِيمِ فِي دَارِ الْقَرَارِ.
Dan siapa yang menujui rumah itu di dunia patut untuk tidak disia-siakan ziarahnya, sehingga ia diberi tujuan ziarah yang sesungguhnya pada waktu yang telah ditetapkan baginya, yaitu memandang wajah Allah Yang Mahamulia di negeri keabadian.

مِنْ حَيْثُ إِنَّ الْعَيْنَ الْقَاصِرَةَ الْفَانِيَةَ فِي دَارِ الدُّنْيَا لَا تَتَهَيَّأُ لِقَبُولِ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا تُطِيقُ احْتِمَالَهُ، وَلَا تَسْتَعِدُّ لِلِاكْتِحَالِ بِهِ لِقُصُورِهَا.
Sebab mata yang terbatas dan fana di negeri dunia ini belum siap untuk menerima pandangan kepada wajah Allah عز وجل, tidak mampu menanggungnya, dan belum layak bercelak dengannya karena keterbatasannya.

وَأَنَّهَا إِنْ أُمِدَّتْ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ بِالْبَقَاءِ، وَنُزِّهَتْ عَنْ أَسْبَابِ التَّغَيُّرِ وَالْفَنَاءِ، اسْتَعَدَّتْ لِلنَّظَرِ وَالْإِبْصَارِ.
Apabila mata itu di akhirat diberi sifat kekal dan disucikan dari sebab-sebab perubahan dan kefanaan, maka ia akan siap untuk melihat dan memandang.

وَلَكِنَّهَا بِقَصْدِ الْبَيْتِ وَالنَّظَرِ إِلَيْهِ تَسْتَحِقُّ لِقَاءَ رَبِّ الْبَيْتِ بِحُكْمِ الْوَعْدِ الْكَرِيمِ.
Akan tetapi, dengan menujui rumah itu dan memandangnya, seseorang berhak memperoleh perjumpaan dengan Tuhan Pemilik rumah itu, berdasarkan janji-Nya yang mulia.

فَالشَّوْقُ إِلَى لِقَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُشَوِّقُهُ إِلَى أَسْبَابِ اللِّقَاءِ لَا مَحَالَةَ.
Maka kerinduan untuk berjumpa dengan Allah عز وجل pasti menimbulkan kerinduan kepada sebab-sebab perjumpaan itu.

هَذَا مَعَ أَنَّ الْمُحِبَّ مُشْتَاقٌ إِلَى كُلِّ مَا لَهُ إِلَى مَحْبُوبِهِ إِضَافَةٌ، وَالْبَيْتُ مُضَافٌ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَبِالْحَرِيِّ أَنْ يَشْتَاقَ إِلَيْهِ لِمُجَرَّدِ هَذِهِ الْإِضَافَةِ، فَضْلًا عَنْ الطَّلَبِ لِنَيْلِ مَا وُعِدَ عَلَيْهِ مِنَ الثَّوَابِ الْجَزِيلِ.
Di samping itu, orang yang mencintai pasti rindu kepada segala sesuatu yang dinisbahkan kepada kekasihnya. Rumah itu dinisbahkan kepada Allah عز وجل. Maka sangat patut seseorang merindukannya hanya karena penisbahan ini, apalagi demi meraih pahala besar yang dijanjikan atasnya.

وَأَمَّا الْعَزْمُ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ بِعَزْمِهِ قَاصِدٌ إِلَى مُفَارَقَةِ الْأَهْلِ وَالْوَطَنِ، وَمُهَاجَرَةِ الشَّهَوَاتِ وَاللَّذَّاتِ، مُتَوَجِّهٌ إِلَى زِيَارَةِ بَيْتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Adapun tekad, maka hendaklah ia mengetahui bahwa dengan tekad itu ia bermaksud meninggalkan keluarga dan tanah air, berhijrah dari syahwat dan kenikmatan, serta menuju ziarah ke rumah Allah عز وجل.

وَلْيُعَظِّمْ فِي نَفْسِهِ قَدْرَ الْبَيْتِ وَقَدْرَ رَبِّ الْبَيْتِ.
Dan hendaklah ia membesarkan dalam dirinya kemuliaan rumah itu dan kemuliaan Tuhan Pemilik rumah itu.

وَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ عَزَمَ عَلَى أَمْرٍ رَفِيعٍ شَأْنُهُ، خَطِيرٍ أَمْرُهُ، وَأَنَّ مَنْ طَلَبَ عَظِيمًا خَاطَرَ بِعَظِيمٍ.
Dan hendaklah ia mengetahui bahwa ia telah bertekad atas perkara yang tinggi kedudukannya dan besar urusannya, dan bahwa siapa yang mencari sesuatu yang agung harus mempertaruhkan sesuatu yang agung pula.

وَلْيَجْعَلْ عَزْمَهُ خَالِصًا لِوَجْهِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ، بَعِيدًا عَنْ شَوَائِبِ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ.
Dan hendaklah ia menjadikan tekadnya murni karena wajah Allah سبحانه, jauh dari campuran riya dan mencari nama.

وَلْيَتَحَقَّقْ أَنَّهُ لَا يُقْبَلُ مِنْ قَصْدِهِ وَعَمَلِهِ إِلَّا الْخَالِصُ، وَأَنَّ مِنْ أَفْحَشِ الْفَوَاحِشِ أَنْ يَقْصِدَ بَيْتَ اللَّهِ وَحَرَمَهُ وَالْمَقْصُودُ غَيْرُهُ.
Dan hendaklah ia yakin bahwa tidak akan diterima dari niat dan amalnya kecuali yang murni, dan bahwa termasuk keburukan yang paling keji ialah seseorang menujui rumah Allah dan tanah haram-Nya sedangkan yang ia tuju sebenarnya adalah selain Allah.

فَلْيُصَحِّحْ مَعَ نَفْسِهِ الْعَزْمَ، وَتَصْحِيحُهُ بِإِخْلَاصِهِ، وَإِخْلَاصُهُ بِاجْتِنَابِ كُلِّ مَا فِيهِ رِيَاءٌ وَسُمْعَةٌ.
Karena itu, hendaklah ia meluruskan tekadnya bersama dirinya sendiri. Kelurusan itu terwujud dengan keikhlasan, dan keikhlasan itu tercapai dengan menjauhi segala sesuatu yang mengandung riya dan sum’ah.

فَلْيَحْذَرْ أَنْ يَسْتَبْدِلَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ.
Maka hendaklah ia berhati-hati agar tidak menukar yang lebih rendah dengan yang lebih baik.

وَأَمَّا قَطْعُ الْعَلَائِقِ، فَمَعْنَاهُ رَدُّ الْمَظَالِمِ وَالتَّوْبَةُ الْخَالِصَةُ لِلَّهِ تَعَالَى عَنْ جُمْلَةِ الْمَعَاصِي.
Adapun memutus hubungan-hubungan penghalang, maka maksudnya adalah mengembalikan hak-hak orang lain dan bertobat dengan tulus kepada Allah Ta’ala dari seluruh maksiat.

فَكُلُّ مَظْلَمَةٍ عَلَاقَةٌ، وَكُلُّ عَلَاقَةٍ مِثْلُ غَرِيمٍ حَاضِرٍ مُتَعَلِّقٍ بِتَلَابِيبِهِ يُنَادِي عَلَيْهِ وَيَقُولُ: إِلَى أَيْنَ تَتَوَجَّهُ؟
Setiap kezaliman adalah ikatan, dan setiap ikatan itu seperti seorang penuntut utang yang hadir bergantung pada leher bajunya, menyerunya dan berkata: “Ke mana engkau hendak pergi?”

أَتَقْصِدُ بَيْتَ مَلِكِ الْمُلُوكِ وَأَنْتَ مُضَيِّعٌ أَمْرَهُ فِي مَنْزِلِكَ هَذَا، وَمُسْتَهِينٌ بِهِ وَمُهْمِلٌ لَهُ؟
“Apakah engkau hendak menuju rumah Raja segala raja, sementara engkau menyia-nyiakan perintah-Nya di rumahmu ini, meremehkannya, dan mengabaikannya?”

أَوَلَا تَسْتَحْيِي أَنْ تَقْدَمَ عَلَيْهِ قُدُومَ الْعَبْدِ الْعَاصِي فَيَرُدَّكَ وَلَا يَقْبَلَكَ؟
“Tidakkah engkau malu datang kepada-Nya sebagai hamba yang durhaka lalu Dia menolakmu dan tidak menerimamu?”

فَإِنْ كُنْتَ رَاغِبًا فِي قَبُولِ زِيَارَتِكَ، فَنَفِّذْ أَوَامِرَهُ، وَرُدَّ الْمَظَالِمَ، وَتُبْ إِلَيْهِ أَوَّلًا مِنْ جَمِيعِ الْمَعَاصِي.
Jika engkau benar-benar menginginkan ziarahmu diterima, maka laksanakan perintah-perintah-Nya, kembalikan segala kezaliman, dan bertobatlah terlebih dahulu kepada-Nya dari seluruh maksiat.

وَاقْطَعْ عَلَاقَةَ قَلْبِكَ عَنِ الِالْتِفَاتِ إِلَى مَا وَرَاءَكَ، لِتَكُونَ مُتَوَجِّهًا إِلَيْهِ بِوَجْهِ قَلْبِكَ كَمَا أَنَّكَ مُتَوَجِّهٌ إِلَى بَيْتِهِ بِوَجْهِ ظَاهِرِكَ.
Dan putuskanlah ikatan hati dari menoleh kepada apa yang berada di belakangmu, agar engkau menghadap kepada-Nya dengan wajah hatimu sebagaimana engkau menghadap ke rumah-Nya dengan wajah lahirmu.

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ ذَلِكَ، لَمْ يَكُنْ لَكَ مِنْ سَفَرِكَ أَوَّلًا إِلَّا النَّصَبُ وَالشَّقَاءُ، وَآخِرًا إِلَّا الطَّرْدُ وَالرَّدُّ.
Jika engkau tidak melakukan itu, maka dari perjalananmu, pada awalnya engkau tidak memperoleh selain kelelahan dan kesengsaraan, dan pada akhirnya tidak memperoleh selain penolakan dan pengusiran.

وَلْيَقْطَعِ الْعَلَائِقَ عَنْ وَطَنِهِ انْقِطَاعَ مَنْ قُطِعَ عَنْهُ وَقُدِّرَ أَنْ لَا يَعُودَ إِلَيْهِ.
Dan hendaklah ia memutus hubungan dari negerinya seperti putusnya orang yang telah diputus dari negerinya dan diperkirakan tidak akan kembali kepadanya.

وَلْيَكْتُبْ وَصِيَّتَهُ لِأَوْلَادِهِ وَأَهْلِهِ، فَإِنَّ الْمُسَافِرَ وَمَالَهُ لَعَلَى خَطَرٍ إِلَّا مَنْ وَقَاهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ.
Dan hendaklah ia menulis wasiatnya untuk anak-anak dan keluarganya, karena seorang musafir dan hartanya benar-benar berada dalam bahaya, kecuali orang yang dilindungi Allah سبحانه.

وَلْيَتَذَكَّرْ عِنْدَ قَطْعِ الْعَلَائِقِ لِسَفَرِ الْحَجِّ قَطْعَ الْعَلَائِقِ لِسَفَرِ الْآخِرَةِ، فَإِنَّ ذَلِكَ بَيْنَ يَدَيْهِ عَلَى الْقُرْبِ.
Dan hendaklah ia mengingat ketika memutus ikatan-ikatan untuk perjalanan haji, akan pemutusan ikatan-ikatan untuk perjalanan akhirat, karena hal itu sudah dekat di hadapannya.

وَمَا يُقَدِّمُهُ مِنْ هَذَا السَّفَرِ طَمَعًا فِي تَيْسِيرِ ذَلِكَ السَّفَرِ، فَهُوَ الْمُسْتَقَرُّ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ.
Dan apa yang ia dahulukan dari perjalanan ini hendaknya dilakukan karena berharap agar perjalanan yang itu dipermudah. Itulah tempat menetap yang sesungguhnya, dan ke sanalah tempat kembali.

فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَغْفُلَ عَنْ ذَلِكَ السَّفَرِ عِنْدَ الِاسْتِعْدَادِ بِهَذَا السَّفَرِ.
Karena itu, tidak sepatutnya ia lalai dari perjalanan yang itu ketika ia sedang mempersiapkan perjalanan yang ini.

وَأَمَّا الزَّادُ، فَلْيَطْلُبْهُ مِنْ مَوْضِعٍ حَلَالٍ.
Adapun bekal, hendaklah ia mencarinya dari sumber yang halal.

وَإِذَا أَحَسَّ مِنْ نَفْسِهِ الْحِرْصَ عَلَى اسْتِكْثَارِهِ وَطَلَبِ مَا يَبْقَى مِنْهُ عَلَى طُولِ السَّفَرِ وَلَا يَتَغَيَّرُ وَلَا يَفْسُدُ قَبْلَ بُلُوغِ الْمَقْصِدِ، فَلْيَتَذَكَّرْ أَنَّ سَفَرَ الْآخِرَةِ أَطْوَلُ مِنْ هَذَا السَّفَرِ، وَأَنَّ زَادَهُ التَّقْوَى.
Apabila ia merasakan dalam dirinya keinginan besar untuk memperbanyak bekal dan mencari sesuatu yang tahan lama selama perjalanan, tidak berubah dan tidak rusak sebelum sampai tujuan, maka hendaklah ia ingat bahwa perjalanan akhirat lebih panjang daripada perjalanan ini, dan bahwa bekalnya adalah takwa.

وَأَنَّ مَا عَدَاهُ مِمَّا يَظُنُّ أَنَّهُ زَادُهُ يَتَخَلَّفُ عَنْهُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَيَخُونُهُ، فَلَا يَبْقَى مَعَهُ، كَالطَّعَامِ الرَّطْبِ الَّذِي يَفْسُدُ فِي أَوَّلِ مَنَازِلِ السَّفَرِ، فَيَبْقَى وَقْتَ الْحَاجَةِ مُتَحَيِّرًا مُحْتَاجًا لَا حِيلَةَ لَهُ.
Dan hendaklah ia ingat bahwa selain takwa, apa yang ia sangka sebagai bekalnya akan tertinggal darinya ketika mati dan mengkhianatinya, sehingga tidak akan tinggal bersamanya, seperti makanan basah yang rusak pada awal persinggahan perjalanan, lalu ketika dibutuhkan seseorang menjadi kebingungan, membutuhkan, dan tidak punya daya.

فَلْيَحْذَرْ أَنْ تَكُونَ أَعْمَالُهُ الَّتِي هِيَ زَادُهُ إِلَى الْآخِرَةِ لَا تَصْحَبُهُ بَعْدَ الْمَوْتِ، بَلْ يُفْسِدُهَا شَوَائِبُ الرِّيَاءِ وَكَدُورَاتُ التَّقْصِيرِ.
Maka hendaklah ia berhati-hati agar amal-amalnya, yang merupakan bekalnya menuju akhirat, tidak ikut bersamanya setelah mati, bahkan dirusak oleh campuran riya dan kekeruhan kelalaian.

وَأَمَّا الرَّاحِلَةُ إِذَا أَحْضَرَهَا، فَلْيَشْكُرِ اللَّهَ بِقَلْبِهِ عَلَى تَسْخِيرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ الدَّوَابَّ، لِتَحْمِلَ عَنْهُ الْأَذَى وَتُخَفِّفَ عَنْهُ الْمَشَقَّةَ.
Adapun tunggangan, apabila ia telah menyiapkannya, maka hendaklah ia bersyukur kepada Allah dengan hatinya atas tunduknya hewan-hewan tunggangan yang Allah عز وجل sediakan baginya, agar ia menanggung kesulitan perjalanan darinya dan meringankan beban kepayahannya.

وَلْيَتَذَكَّرْ عِنْدَهَا الْمَرْكَبَ الَّذِي يَرْكَبُهُ إِلَى دَارِ الْآخِرَةِ، وَهِيَ الْجَنَازَةُ الَّتِي يُحْمَلُ عَلَيْهَا.
Dan hendaklah ia mengingat saat melihat tunggangan itu, kendaraan yang akan membawanya ke negeri akhirat, yaitu jenazah yang akan dipikul di atasnya.

فَإِنَّ أَمْرَ الْحَجِّ مِنْ وَجْهٍ يُوَازِي أَمْرَ السَّفَرِ إِلَى الْآخِرَةِ.
Karena urusan haji dari satu sisi sejajar dengan urusan perjalanan menuju akhirat.

وَلْيَنْظُرْ: أَيَصْلُحُ سَفَرُهُ عَلَى هَذَا الْمَرْكَبِ أَنْ يَكُونَ زَادًا لَهُ لِذَلِكَ السَّفَرِ عَلَى ذَلِكَ الْمَرْكَبِ؟
Dan hendaklah ia melihat, apakah perjalanannya di atas kendaraan ini layak menjadi bekalnya untuk perjalanan itu di atas kendaraan yang lain?

فَمَا أَقْرَبَ ذَلِكَ مِنْهُ، وَمَا يُدْرِيهِ لَعَلَّ الْمَوْتَ قَرِيبٌ، وَيَكُونُ رُكُوبُهُ لِلْجَنَازَةِ قَبْلَ رُكُوبِهِ لِلْجَمَلِ.
Betapa dekat semua itu darinya. Siapa yang tahu, boleh jadi kematian sudah dekat, dan bisa jadi ia naik ke atas jenazah sebelum sempat naik ke atas unta.

وَرُكُوبُ الْجَنَازَةِ مَقْطُوعٌ بِهِ، وَتَيَسُّرُ أَسْبَابِ السَّفَرِ مَشْكُوكٌ فِيهِ.
Naik ke atas jenazah itu pasti terjadi, sedangkan tersedianya sebab-sebab perjalanan ini masih diragukan.

فَكَيْفَ يَحْتَاطُ فِي أَسْبَابِ السَّفَرِ الْمَشْكُوكِ فِيهِ، وَيَسْتَظْهِرُ فِي زَادِهِ وَرَاحِلَتِهِ، وَيُهْمِلُ أَمْرَ السَّفَرِ الْمُسْتَيْقَنِ؟
Lalu bagaimana mungkin seseorang begitu hati-hati dalam sebab-sebab perjalanan yang masih diragukan, menyiapkan bekal dan tunggangannya secara berlebihan, tetapi mengabaikan urusan perjalanan yang pasti itu?

وَأَمَّا شِرَاءُ ثَوْبَيِ الْإِحْرَامِ، فَلْيَتَذَكَّرْ عِنْدَهُ الْكَفَنَ وَلَفَّهُ فِيهِ، فَإِنَّهُ فِيهِ سَيَرْتَدِيهِ وَيَتَّزِرُ بِثَوْبَيِ الْإِحْرَامِ عِنْدَ الْقُرْبِ مِنْ بَيْتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَرُبَّمَا لَا يَتِمُّ سَفَرُهُ إِلَيْهِ.
Adapun membeli dua helai kain ihram, maka hendaklah ia mengingat kafan dan dibungkusnya ia di dalamnya. Sebab dengan kain itu pula kelak ia akan dibalut. Ia mengenakan selendang dan kain ihram ketika mendekati rumah Allah عز وجل, namun boleh jadi perjalanannya ke sana tidak sempurna.

وَأَنَّهُ سَيَلْقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مَلْفُوفًا فِي ثِيَابِ الْكَفَنِ لَا مَحَالَةَ.
Dan sesungguhnya ia pasti akan menemui Allah عز وجل dalam keadaan terbungkus kain kafan.

فَكَمَا لَا يَلْقَى بَيْتَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا مُخَالِفًا عَادَاتِهِ فِي الزِّيِّ وَالْهَيْئَةِ، فَلَا يَلْقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بَعْدَ الْمَوْتِ إِلَّا فِي زِيٍّ مُخَالِفٍ لِزِيِّ الدُّنْيَا.
Sebagaimana ia tidak menemui rumah Allah عز وجل kecuali dengan meninggalkan kebiasaan pakaiannya dan bentuk penampilannya, maka ia pun tidak akan menemui Allah عز وجل setelah mati kecuali dengan pakaian yang berbeda dari pakaian dunia.

وَهَذَا الثَّوْبُ قَرِيبٌ مِنْ ذَلِكَ الثَّوْبِ، إِذْ لَيْسَ فِيهِ مَخِيطٌ كَمَا فِي الْكَفَنِ.
Dan pakaian ihram ini dekat maknanya dengan pakaian itu, karena di dalamnya tidak ada jahitan seperti halnya kafan.

وَأَمَّا الْخُرُوجُ مِنَ الْبَلَدِ، فَلْيَعْلَمْ عِنْدَهُ أَنَّهُ فَارَقَ الْأَهْلَ وَالْوَطَنَ مُتَوَجِّهًا إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي سَفَرٍ لَا يُضَاهِي أَسْفَارَ الدُّنْيَا.
Adapun keluar dari negeri, hendaklah ia mengetahui saat itu bahwa ia telah meninggalkan keluarga dan tanah air, menuju Allah عز وجل dalam perjalanan yang tidak menyerupai perjalanan-perjalanan dunia.

فَلْيُحْضِرْ فِي قَلْبِهِ أَنَّهُ مَاذَا يُرِيدُ، وَأَيْنَ يَتَوَجَّهُ، وَزِيَارَةَ مَنْ يَقْصِدُ.
Maka hendaklah ia menghadirkan dalam hatinya apa yang sebenarnya ia inginkan, ke mana ia menuju, dan kepada siapa ia bermaksud berziarah.

وَأَنَّهُ مُتَوَجِّهٌ إِلَى مَلِكِ الْمُلُوكِ فِي زُمْرَةِ الزَّائِرِينَ لَهُ، الَّذِينَ نُودُوا فَأَجَابُوا، وَشُوِّقُوا فَاشْتَاقُوا، وَاسْتُنْهِضُوا فَنَهَضُوا، وَقَطَعُوا الْعَلَائِقَ وَفَارَقُوا الْخَلَائِقَ، وَأَقْبَلُوا عَلَى بَيْتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِي فُخِّمَ أَمْرُهُ وَعُظِّمَ شَأْنُهُ وَرُفِعَ قَدْرُهُ.
Dan bahwa ia sedang menuju Raja segala raja dalam rombongan orang-orang yang berziarah kepada-Nya, yaitu mereka yang dipanggil lalu menjawab, dirindukan lalu merindukan, dibangkitkan lalu bangkit, memutus ikatan-ikatan, meninggalkan makhluk-makhluk, dan menghadap kepada rumah Allah عز وجل yang telah diagungkan urusannya, dibesarkan kedudukannya, dan diangkat nilainya.

تَسَلِّيًا بِلِقَاءِ الْبَيْتِ عَنْ لِقَاءِ رَبِّ الْبَيْتِ إِلَى أَنْ يُرْزَقُوا مُنْتَهَى مُنَاهُمْ وَيَسْعَدُوا بِالنَّظَرِ إِلَى مَوْلَاهُمْ.
Mereka menjadikan perjumpaan dengan rumah itu sebagai penghibur dari belum sampainya perjumpaan dengan Tuhan Pemilik rumah, sampai akhirnya mereka dikaruniai puncak cita-cita mereka dan berbahagia dengan memandang Tuhan mereka.

وَلْيُحْضِرْ فِي قَلْبِهِ رَجَاءَ الْوُصُولِ وَالْقَبُولِ، لَا إِدْلَالًا بِأَعْمَالِهِ فِي الِارْتِحَالِ وَمُفَارَقَةِ الْأَهْلِ وَالْمَالِ، وَلَكِنْ ثِقَةً بِفَضْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَرَجَاءً لِتَحْقِيقِهِ وَعْدَهُ لِمَنْ زَارَ بَيْتَهُ.
Dan hendaklah ia menghadirkan dalam hatinya harapan untuk sampai dan diterima, bukan dengan merasa bangga pada amal-amalnya berupa perjalanan dan meninggalkan keluarga serta harta, melainkan dengan percaya kepada karunia Allah عز وجل dan berharap agar Dia menepati janji-Nya kepada orang yang menziarahi rumah-Nya.

وَلْيَرْجُ أَنَّهُ إِنْ لَمْ يَصِلْ إِلَيْهِ وَأَدْرَكَتْهُ الْمَنِيَّةُ فِي الطَّرِيقِ لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَافِدًا إِلَيْهِ، إِذْ قَالَ جَلَّ جَلَالُهُ: ﴿وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ﴾.
Dan hendaklah ia berharap bahwa jika ia belum sempat sampai ke sana lalu ajal menjemputnya di jalan, maka ia tetap menemui Allah عز وجل sebagai tamu yang datang kepada-Nya. Sebab Allah جل جلاله telah berfirman: “Barang siapa keluar dari rumahnya berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian kematian menimpanya, maka sungguh pahalanya telah tetap di sisi Allah.”

وَأَمَّا دُخُولُ الْبَادِيَةِ إِلَى الْمِيقَاتِ وَمُشَاهَدَةُ تِلْكَ الْعَقَبَاتِ، فَلْيَتَذَكَّرْ فِيهَا مَا بَيْنَ الْخُرُوجِ مِنَ الدُّنْيَا بِالْمَوْتِ إِلَى مِيقَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَا بَيْنَهُمَا مِنَ الْأَهْوَالِ وَالْمُطَالَبَاتِ.
Adapun memasuki padang sahara menuju miqat dan menyaksikan tanjakan-tanjakan itu, maka hendaklah ia mengingat jarak antara keluar dari dunia dengan kematian sampai ke miqat hari kiamat, dan apa yang ada di antara keduanya berupa berbagai kengerian dan tuntutan.

وَلْيَتَذَكَّرْ مِنْ هَوْلِ قُطَّاعِ الطَّرِيقِ هَوْلَ سُؤَالِ مُنْكَرٍ وَنَكِيرٍ، وَمِنْ سِبَاعِ الْبَوَادِي عَقَارِبَ الْقَبْرِ وَدِيدَانَهُ وَمَا فِيهِ مِنَ الْأَفَاعِي وَالْحَيَّاتِ.
Dan hendaklah ia mengingat dari keganasan para perampok jalan, kedahsyatan pertanyaan Munkar dan Nakir, serta dari binatang-binatang buas padang sahara, kalajengking kubur, ulat-ulatnya, dan ular-ular serta hewan-hewan melata yang ada di dalamnya.

وَمِنِ انْفِرَادِهِ عَنْ أَهْلِهِ وَأَقَارِبِهِ وَحْشَةَ الْقَبْرِ وَكُرْبَتَهُ وَوَحْدَتَهُ.
Dan dari keterpisahannya dari keluarga dan kerabatnya, hendaklah ia mengingat kesepian kubur, kesusahannya, dan kesendiriannya.

وَلْيَكُنْ فِي هَذِهِ الْمَخَاوِفِ فِي أَعْمَالِهِ وَأَقْوَالِهِ مُتَزَوِّدًا لِمَخَاوِفِ الْقَبْرِ.
Dan dalam menghadapi ketakutan-ketakutan ini, hendaklah ia dalam amal dan ucapannya mengambil bekal untuk menghadapi ketakutan-ketakutan kubur.

وَأَمَّا الْإِحْرَامُ وَالتَّلْبِيَةُ مِنَ الْمِيقَاتِ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّ مَعْنَاهُ إِجَابَةُ نِدَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Adapun ihram dan talbiyah dari miqat, hendaklah ia mengetahui bahwa maknanya adalah menjawab panggilan Allah عز وجل.

فَارْجُ أَنْ تَكُونَ مَقْبُولًا، وَاخْشَ أَنْ يُقَالَ لَكَ: لَا لَبَّيْكَ وَلَا سَعْدَيْكَ.
Maka berharaplah agar engkau diterima, dan takutlah jika dikatakan kepadamu: “Tidak ada jawaban untukmu dan tidak ada kebahagiaan bagimu.”

فَكُنْ بَيْنَ الرَّجَاءِ وَالْخَوْفِ مُتَرَدِّدًا، وَعَنْ حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ مُتَبَرِّئًا، وَعَلَى فَضْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَرَمِهِ مُتَّكِلًا.
Maka jadilah engkau berada antara harap dan takut, berlepas diri dari daya dan kekuatanmu, dan bersandar kepada karunia serta kemurahan Allah عز وجل.

فَإِنَّ وَقْتَ التَّلْبِيَةِ هُوَ بِدَايَةُ الْأَمْرِ، وَهِيَ مَحَلُّ الْخَطَرِ.
Karena saat talbiyah adalah awal urusan, dan di situlah letak bahaya.

قَالَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ: حَجَّ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، فَلَمَّا أَحْرَمَ وَاسْتَوَتْ بِهِ رَاحِلَتُهُ اصْفَرَّ لَوْنُهُ وَانْتَفَضَ وَوَقَعَتْ عَلَيْهِ الرَّعْدَةُ، وَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُلَبِّيَ.
Sufyan bin ‘Uyainah berkata: Ali bin al-Husain رضي الله عنهما menunaikan haji. Ketika ia berihram dan tunggangannya telah tegak membawanya, wajahnya menguning, tubuhnya gemetar, dan ia diliputi getaran hebat sehingga tidak mampu bertalbiyah.

فَقِيلَ لَهُ: لِمَ لَا تُلَبِّي؟
Lalu dikatakan kepadanya: Mengapa engkau tidak bertalbiyah?

فَقَالَ: أَخْشَى أَنْ يُقَالَ لِي: لَا لَبَّيْكَ وَلَا سَعْدَيْكَ.
Ia menjawab: Aku takut jika dikatakan kepadaku: “Tidak ada jawaban bagimu dan tidak ada kebahagiaan bagimu.”

فَلَمَّا لَبَّى غُشِيَ عَلَيْهِ وَوَقَعَ عَنْ رَاحِلَتِهِ، فَلَمْ يَزَلْ يَعْتَرِيهِ ذَلِكَ حَتَّى قَضَى حَجَّهُ.
Ketika akhirnya ia bertalbiyah, ia pingsan dan jatuh dari tunggangannya. Keadaan itu terus menimpanya hingga ia menyelesaikan hajinya.

وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ أَبِي الْحَوَارِيِّ: كُنْتُ مَعَ أَبِي سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَ أَرَادَ الْإِحْرَامَ، فَلَمْ يُلَبِّ حَتَّى سِرْنَا مِيلًا، فَأَخَذَتْهُ الْغَشْيَةُ، ثُمَّ أَفَاقَ.
Ahmad bin Abi al-Hawari berkata: Aku pernah bersama Abu Sulaiman ad-Darani رضي الله عنه ketika ia hendak berihram. Ia tidak bertalbiyah sampai kami berjalan satu mil, lalu ia pun pingsan. Kemudian ia siuman.

وَقَالَ: يَا أَحْمَدُ، إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ أَوْحَى إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: مُرْ ظَلَمَةَ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يُقِلُّوا مِنْ ذِكْرِي، فَإِنِّي أَذْكُرُ مَنْ ذَكَرَنِي مِنْهُمْ بِاللَّعْنَةِ.
Lalu ia berkata: Wahai Ahmad, sesungguhnya Allah سبحانه mewahyukan kepada Musa عليه السلام: “Perintahkan orang-orang zalim dari Bani Israil agar sedikit menyebut nama-Ku, karena sesungguhnya Aku mengingat siapa yang mengingat-Ku dari mereka dengan laknat.”

وَيْحَكَ يَا أَحْمَدُ، بَلَغَنِي أَنَّ مَنْ حَجَّ مِنْ غَيْرِ حِلِّهِ ثُمَّ لَبَّى، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: لَا لَبَّيْكَ وَلَا سَعْدَيْكَ حَتَّى تَرُدَّ مَا فِي يَدَيْكَ.
Celakalah engkau wahai Ahmad. Telah sampai berita kepadaku bahwa siapa yang berhaji dari harta yang tidak halal kemudian bertalbiyah, maka Allah عز وجل berfirman: “Tidak ada jawaban bagimu dan tidak ada kebahagiaan bagimu sampai engkau mengembalikan apa yang ada di tanganmu.”

فَمَا نَأْمَنُ أَنْ يُقَالَ لَنَا ذَلِكَ.
Maka kita tidak merasa aman jika hal itu dikatakan kepada kita.

وَلْيَتَذَكَّرِ الْمُلَبِّي عِنْدَ رَفْعِ الصَّوْتِ بِالتَّلْبِيَةِ فِي الْمِيقَاتِ إِجَابَتَهُ لِنِدَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِذْ قَالَ: ﴿وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ﴾.
Dan hendaklah orang yang bertalbiyah, ketika mengangkat suaranya di miqat, mengingat bahwa ia sedang menjawab panggilan Allah عز وجل ketika Dia berfirman: “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji.”

وَنِدَاءَ الْخَلْقِ بِنَفْخِ الصُّورِ وَحَشْرِهِمْ مِنَ الْقُبُورِ وَازْدِحَامِهِمْ فِي عَرَصَاتِ الْقِيَامَةِ مُجِيبِينَ لِنِدَاءِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ، وَمُنْقَسِمِينَ إِلَى مُقَرَّبِينَ وَمَمْقُوتِينَ وَمَقْبُولِينَ وَمَرْدُودِينَ.
Ia juga hendaknya mengingat panggilan seluruh makhluk ketika sangkakala ditiup, ketika mereka dihimpun dari kubur, dan ketika mereka berdesak-desakan di padang kiamat dalam keadaan menjawab panggilan Allah سبحانه, lalu terbagi menjadi orang-orang yang didekatkan, yang dimurkai, yang diterima, dan yang ditolak.

وَمُتَرَدِّدِينَ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ بَيْنَ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ، تَرَدُّدَ الْحَاجِّ فِي الْمِيقَاتِ حَيْثُ لَا يَدْرُونَ أَيَتَيَسَّرُ لَهُمْ إِتْمَامُ الْحَجِّ وَقَبُولُهُ أَمْ لَا.
Dan pada awal urusan mereka berada antara takut dan harap, sebagaimana jamaah haji di miqat, ketika mereka tidak tahu apakah akan dimudahkan bagi mereka menyempurnakan haji dan diterima atau tidak.

وَأَمَّا دُخُولُ مَكَّةَ فَلْيَتَذَكَّرْ عِنْدَهَا أَنَّهُ قَدِ انْتَهَى إِلَى حَرَمِ اللَّهِ تَعَالَى آمِنًا.
Adapun masuk ke Makkah, hendaklah ia mengingat ketika itu bahwa ia telah sampai ke tanah haram Allah Ta’ala dalam keadaan aman.

وَلْيَرْجُ عِنْدَهُ أَنْ يَأْمَنَ بِدُخُولِهِ مِنْ عِقَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Dan hendaklah ia berharap bahwa dengan masuknya itu ia akan aman dari hukuman Allah عز وجل.

وَلْيَخْشَ أَنْ لَا يَكُونَ أَهْلًا لِلْقُرْبِ، فَيَكُونَ بِدُخُولِهِ الْحَرَمَ خَائِبًا وَمُسْتَحِقًّا لِلْمَقْتِ.
Dan hendaklah ia takut jika ternyata ia tidak layak untuk kedekatan itu, sehingga dengan masuknya ke tanah haram justru ia menjadi kecewa dan layak mendapat kemurkaan.

وَلْيَكُنْ رَجَاؤُهُ فِي جَمِيعِ الْأَوْقَاتِ غَالِبًا، فَالْكَرَمُ عَمِيمٌ، وَالرَّبُّ رَحِيمٌ، وَشَرَفُ الْبَيْتِ عَظِيمٌ، وَحَقُّ الزَّائِرِ مَرْعِيٌّ، وَذِمَامُ الْمُسْتَجِيرِ اللَّائِذِ غَيْرُ مُضَيَّعٍ.
Dan hendaklah harapannya selalu lebih besar pada setiap waktu, karena kemurahan Allah itu meliputi, Tuhan itu Maha Pengasih, kehormatan rumah itu sangat agung, hak tamu itu dipelihara, dan jaminan bagi orang yang meminta perlindungan tidak akan disia-siakan.

وَأَمَّا وُقُوعُ الْبَصَرِ عَلَى الْبَيْتِ فَيَنْبَغِي أَنْ يُحْضِرَ عِنْدَهُ عَظَمَةَ الْبَيْتِ فِي الْقَلْبِ، وَيُقَدِّرَ كَأَنَّهُ مُشَاهِدٌ لِرَبِّ الْبَيْتِ لِشِدَّةِ تَعْظِيمِهِ إِيَّاهُ.
Adapun saat pandangan jatuh pada Ka’bah, hendaklah ia menghadirkan keagungan rumah itu dalam hatinya dan membayangkan seolah-olah ia sedang menyaksikan Tuhan Pemilik rumah itu karena sangat besarnya pengagungannya.

وَارْجُ أَنْ يَرْزُقَكَ اللَّهُ تَعَالَى النَّظَرَ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيمِ كَمَا رَزَقَكَ اللَّهُ النَّظَرَ إِلَى بَيْتِهِ الْعَظِيمِ.
Dan berharaplah agar Allah Ta’ala menganugerahkan kepadamu pandangan kepada wajah-Nya yang mulia sebagaimana Dia telah menganugerahkan kepadamu pandangan kepada rumah-Nya yang agung.

وَاشْكُرِ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى تَبْلِيغِهِ إِيَّاكَ هَذِهِ الرُّتْبَةَ، وَإِلْحَاقِهِ إِيَّاكَ بِزُمْرَةِ الْوَافِدِينَ عَلَيْهِ.
Dan bersyukurlah kepada Allah Ta’ala karena Dia telah menyampaikanmu ke derajat ini dan memasukkanmu ke dalam rombongan orang-orang yang datang menghadap kepada-Nya.

وَاذْكُرْ عِنْدَ ذَلِكَ انْصِبَابَ النَّاسِ فِي الْقِيَامَةِ إِلَى جِهَةِ الْجَنَّةِ آمِلِينَ لِدُخُولِهَا كَافَّةً، ثُمَّ انْقِسَامَهُمْ إِلَى مَأْذُونِينَ فِي الدُّخُولِ وَمَصْرُوفِينَ، انْقِسَامَ الْحَاجِّ إِلَى مَقْبُولِينَ وَمَرْدُودِينَ.
Dan ingatlah ketika itu bagaimana manusia pada hari kiamat berbondong-bondong menuju surga, semuanya berharap untuk memasukinya, lalu mereka terbagi menjadi orang-orang yang diberi izin masuk dan orang-orang yang dipalingkan, sebagaimana para jamaah haji terbagi menjadi yang diterima dan yang ditolak.

وَلَا تَغْفُلْ عَنْ تَذَكُّرِ أُمُورِ الْآخِرَةِ فِي شَيْءٍ مِمَّا تَرَاهُ، فَإِنَّ كُلَّ أَحْوَالِ الْحَاجِّ دَلِيلٌ عَلَى أَحْوَالِ الْآخِرَةِ.
Dan janganlah engkau lalai dari mengingat urusan akhirat pada setiap apa yang engkau lihat, karena seluruh keadaan jamaah haji adalah petunjuk kepada keadaan-keadaan akhirat.

وَأَمَّا الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَلَاةٌ، فَأَحْضِرْ فِي قَلْبِكَ فِيهِ مِنَ التَّعْظِيمِ وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ وَالْمَحَبَّةِ مَا فَصَّلْنَاهُ فِي كِتَابِ الصَّلَاةِ.
Adapun thawaf di Ka’bah, maka ketahuilah bahwa ia adalah salat. Maka hadirkanlah dalam hatimu ketika thawaf rasa pengagungan, takut, harap, dan cinta sebagaimana telah kami jelaskan dalam Kitab Salat.

وَاعْلَمْ أَنَّكَ بِالطَّوَافِ مُتَشَبِّهٌ بِالْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ الْحَافِّينَ حَوْلَ الْعَرْشِ الطَّائِفِينَ حَوْلَهُ.
Dan ketahuilah bahwa dengan thawaf itu engkau sedang menyerupai para malaikat yang dekat, yang mengelilingi Arasy dan thawaf di sekitarnya.

وَلَا تَظُنَّنَّ أَنَّ الْمَقْصُودَ طَوَافُ جِسْمِكَ بِالْبَيْتِ، بَلِ الْمَقْصُودُ طَوَافُ قَلْبِكَ بِذِكْرِ رَبِّ الْبَيْتِ، حَتَّى لَا تَبْتَدِئَ الذِّكْرَ إِلَّا مِنْهُ، وَلَا تَخْتِمَ إِلَّا بِهِ، كَمَا تَبْتَدِئُ الطَّوَافَ مِنَ الْبَيْتِ وَتَخْتِمُ بِالْبَيْتِ.
Jangan sekali-kali engkau mengira bahwa yang dimaksud hanyalah tubuhmu mengelilingi Ka’bah, tetapi yang dimaksud ialah hati engkau mengelilingi zikir kepada Tuhan Pemilik rumah itu, sehingga engkau tidak memulai zikir kecuali dari-Nya dan tidak menutupnya kecuali dengan-Nya, sebagaimana engkau memulai thawaf dari rumah itu dan menutupnya dengan rumah itu pula.

وَاعْلَمْ أَنَّ الطَّوَافَ الشَّرِيفَ هُوَ طَوَافُ الْقَلْبِ بِحَضْرَةِ الرُّبُوبِيَّةِ، وَأَنَّ الْبَيْتَ مِثَالٌ ظَاهِرٌ فِي عَالَمِ الْمُلْكِ لِتِلْكَ الْحَضْرَةِ الَّتِي لَا تُشَاهَدُ بِالْبَصَرِ، وَهِيَ عَالَمُ الْمَلَكُوتِ.
Dan ketahuilah bahwa thawaf yang mulia itu adalah thawaf hati di hadapan rububiyah. Ka’bah hanyalah contoh lahir di alam nyata bagi hadirat itu yang tidak dapat dilihat dengan mata, yaitu alam malakut.

كَمَا أَنَّ الْبَدَنَ مِثَالٌ ظَاهِرٌ فِي عَالَمِ الشَّهَادَةِ لِلْقَلْبِ الَّذِي لَا يُشَاهَدُ بِالْبَصَرِ، وَهُوَ فِي عَالَمِ الْغَيْبِ.
Sebagaimana tubuh adalah contoh lahir di alam yang tampak bagi hati yang tidak dapat dilihat dengan mata dan berada di alam gaib.

وَأَنَّ عَالَمَ الْمُلْكِ وَالشَّهَادَةِ مَدْرَجٌ إِلَى عَالَمِ الْغَيْبِ وَالْمَلَكُوتِ لِمَنْ فَتَحَ اللَّهُ لَهُ الْبَابَ.
Dan bahwa alam nyata dan alam kesaksian ini adalah tangga menuju alam gaib dan malakut bagi orang yang Allah bukakan baginya pintu.

وَإِلَى هَذِهِ الْمُوَازَنَةِ وَقَعَتِ الْإِشَارَةُ بِأَنَّ الْبَيْتَ الْمَعْمُورَ فِي السَّمَاوَاتِ بِإِزَاءِ الْكَعْبَةِ، فَإِنَّ طَوَافَ الْمَلَائِكَةِ بِهِ كَطَوَافِ الْإِنْسِ بِهَذَا الْبَيْتِ.
Kepada kesejajaran inilah isyarat diberikan, yaitu bahwa Baitul Ma’mur di langit berada berhadapan dengan Ka’bah, dan thawaf para malaikat di sekitarnya seperti thawaf manusia di sekitar rumah ini.

وَلَمَّا قَصُرَتْ رُتْبَةُ أَكْثَرِ الْخَلْقِ عَنْ مِثْلِ ذَلِكَ الطَّوَافِ، أُمِرُوا بِالتَّشَبُّهِ بِهِمْ بِحَسَبِ الْإِمْكَانِ، وَوُعِدُوا بِأَنَّ مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.
Ketika kedudukan kebanyakan manusia tidak mampu mencapai thawaf semacam itu, mereka diperintahkan untuk menyerupai para malaikat sesuai kemampuan, dan dijanjikan bahwa siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.

وَالَّذِي يَقْدِرُ عَلَى مِثْلِ ذَلِكَ الطَّوَافِ هُوَ الَّذِي يُقَالُ إِنَّ الْكَعْبَةَ تَزُورُهُ وَتَطُوفُ بِهِ، عَلَى مَا رَآهُ بَعْضُ الْمُكَاشِفِينَ لِبَعْضِ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Orang yang mampu mencapai thawaf semacam itu adalah orang yang dikatakan bahwa Ka’bah menziarahinya dan mengelilinginya, sebagaimana dilihat oleh sebagian ahli kasyaf pada sebagian wali Allah سبحانه وتعالى.

وَأَمَّا الِاسْتِلَامُ فَاعْتَقِدْ عِنْدَهُ أَنَّكَ مُبَايِعُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى طَاعَتِهِ، فَصَمِّمْ عَزِيمَتَكَ عَلَى الْوَفَاءِ بِبَيْعَتِكَ.
Adapun menyentuh Hajar Aswad, maka yakinilah saat itu bahwa engkau sedang berbaiat kepada Allah عز وجل untuk taat kepada-Nya. Maka mantapkan tekadmu untuk menepati baiat itu.

فَمَنْ غَدَرَ فِي الْمُبَايَعَةِ اسْتَحَقَّ الْمَقْتَ.
Siapa yang berkhianat dalam baiat, maka ia berhak mendapatkan kemurkaan.

وَقَدْ رُوِيَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ يَمِينُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْأَرْضِ، يُصَافِحُ بِهَا خَلْقَهُ كَمَا يُصَافِحُ الرَّجُلُ أَخَاهُ.
Ibnu Abbas رضي الله عنه meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah عز وجل di bumi, dengannya Dia berjabat tangan dengan makhluk-Nya sebagaimana seseorang berjabat tangan dengan saudaranya.”

وَأَمَّا التَّعَلُّقُ بِأَسْتَارِ الْكَعْبَةِ وَالِالْتِصَاقُ بِالْمُلْتَزَمِ، فَلْتَكُنْ نِيَّتُكَ فِي الِالْتِزَامِ طَلَبَ الْقُرْبِ حُبًّا وَشَوْقًا لِلْبَيْتِ وَلِرَبِّ الْبَيْتِ، وَتَبَرُّكًا بِالْمُمَاسَّةِ، وَرَجَاءً لِلتَّحَصُّنِ عَنِ النَّارِ فِي كُلِّ جُزْءٍ مِنْ بَدَنِكَ لَا فِي الْبَيْتِ.
Adapun bergantung pada tirai Ka’bah dan menempel di Multazam, maka hendaklah niatmu saat itu adalah mencari kedekatan karena cinta dan rindu kepada rumah itu dan kepada Tuhan Pemilik rumah itu, mencari berkah dengan menyentuhnya, dan berharap terlindung dari api neraka pada setiap bagian tubuhmu, bukan pada rumah itu.

وَلْتَكُنْ نِيَّتُكَ فِي التَّعَلُّقِ بِالسِّتْرِ الْإِلْحَاحَ فِي طَلَبِ الْمَغْفِرَةِ وَسُؤَالِ الْأَمَانِ، كَالْمُذْنِبِ الْمُتَعَلِّقِ بِثِيَابِ مَنْ أَذْنَبَ إِلَيْهِ، الْمُتَضَرِّعِ إِلَيْهِ فِي عَفْوِهِ عَنْهُ، الْمُظْهِرِ لَهُ أَنَّهُ لَا مَلْجَأَ لَهُ مِنْهُ إِلَّا إِلَيْهِ، وَلَا مَفْزَعَ لَهُ إِلَّا كَرَمُهُ وَعَفْوُهُ، وَأَنَّهُ لَا يُفَارِقُ ذَيْلَهُ إِلَّا بِالْعَفْوِ وَبَذْلِ الْأَمَانِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ.
Dan hendaklah niatmu ketika bergantung pada tirai itu ialah bersungguh-sungguh memohon ampunan dan meminta keamanan, seperti seorang pendosa yang bergantung pada pakaian orang yang telah ia sakiti, memohon dengan sangat agar dimaafkan, memperlihatkan bahwa ia tidak memiliki tempat berlindung darinya kecuali kepadanya, tidak punya tempat lari selain kemurahan dan maafnya, dan bahwa ia tidak akan melepaskan ujung pakaiannya kecuali setelah diberi ampunan dan jaminan keamanan di masa depan.

وَأَمَّا السَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ فِي فِنَاءِ الْبَيْتِ، فَإِنَّهُ يُضَاهِي تَرَدُّدَ الْعَبْدِ بِفِنَاءِ دَارِ الْمَلِكِ جَائِيًا وَذَاهِبًا مَرَّةً بَعْدَ أُخْرَى.
Adapun sa’i antara Shafa dan Marwah di pelataran rumah itu, maka ia menyerupai bolak-baliknya seorang hamba di halaman istana raja, datang dan pergi berulang kali.

إِظْهَارًا لِلْخُلُوصِ فِي الْخِدْمَةِ، وَرَجَاءً لِلْمُلَاحَظَةِ بِعَيْنِ الرَّحْمَةِ، كَالَّذِي دَخَلَ عَلَى الْمَلِكِ وَخَرَجَ وَهُوَ لَا يَدْرِي مَا الَّذِي يَقْضِي بِهِ الْمَلِكُ فِي حَقِّهِ مِنْ قَبُولٍ أَوْ رَدٍّ.
Hal itu dilakukan untuk menampakkan ketulusan dalam pengabdian dan berharap diperhatikan dengan pandangan rahmat, seperti orang yang masuk menghadap raja lalu keluar, sementara ia tidak tahu apa keputusan raja tentang dirinya: diterima atau ditolak.

فَلَا يَزَالُ يَتَرَدَّدُ عَلَى فِنَاءِ الدَّارِ مَرَّةً بَعْدَ أُخْرَى، يَرْجُو أَنْ يُرْحَمَ فِي الثَّانِيَةِ إِنْ لَمْ يُرْحَمْ فِي الْأُولَى.
Karena itu, ia terus bolak-balik di pelataran istana berulang kali, berharap jika ia belum dirahmati pada kali pertama, maka ia akan dirahmati pada kali berikutnya.

وَلْيَتَذَكَّرْ عِنْدَ تَرَدُّدِهِ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ تَرَدُّدَهُ بَيْنَ كِفَّتَيِ الْمِيزَانِ فِي عَرَصَاتِ الْقِيَامَةِ.
Dan hendaklah ia mengingat saat bolak-balik antara Shafa dan Marwah akan bolak-baliknya dirinya di antara dua daun timbangan pada padang kiamat.

وَلْيُمَثِّلِ الصَّفَا بِكَفَّةِ الْحَسَنَاتِ، وَالْمَرْوَةَ بِكَفَّةِ السَّيِّئَاتِ.
Dan hendaklah ia membayangkan Shafa sebagai daun timbangan kebaikan dan Marwah sebagai daun timbangan keburukan.

وَلْيَتَذَكَّرْ تَرَدُّدَهُ بَيْنَ الْكِفَّتَيْنِ نَاظِرًا إِلَى الرُّجْحَانِ وَالنُّقْصَانِ، مُتَرَدِّدًا بَيْنَ الْعَذَابِ وَالْغُفْرَانِ.
Dan hendaklah ia mengingat bolak-baliknya antara dua timbangan itu sambil melihat kepada yang berat dan yang ringan, berada antara azab dan ampunan.

وَأَمَّا الْوُقُوفُ بِعَرَفَةَ، فَاذْكُرْ بِمَا تَرَى مِنِ ازْدِحَامِ الْخَلْقِ وَارْتِفَاعِ الْأَصْوَاتِ وَبِاخْتِلَافِ اللُّغَاتِ وَاتِّبَاعِ الْفِرَقِ أَئِمَّتَهُمْ فِي التَّرَدُّدَاتِ عَلَى الْمَشَاعِرِ اقْتِفَاءً لَهُمْ وَسَيْرًا بِسَيْرِهِمْ، عَرَصَاتِ الْقِيَامَةِ وَاجْتِمَاعَ الْأُمَمِ مَعَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَئِمَّةِ وَاقْتِفَاءَ كُلِّ أُمَّةٍ نَبِيَّهَا وَطَمَعَهُمْ فِي شَفَاعَتِهِمْ.
Adapun wuquf di Arafah, maka ingatlah dengan apa yang engkau lihat berupa berdesak-desakannya manusia, tingginya suara, beragamnya bahasa, dan mengikuti tiap-tiap kelompok kepada pemimpinnya dalam berpindah-pindah di antara tempat-tempat syiar, sebagai bentuk mengikuti dan berjalan di belakang mereka. Semua itu mengingatkan pada padang-padang kiamat, berkumpulnya umat-umat bersama para nabi dan para pemimpin, serta setiap umat mengikuti nabinya masing-masing dan mengharap syafaat mereka.

وَتَحَيُّرِهِمْ فِي ذَلِكَ الصَّعِيدِ الْوَاحِدِ بَيْنَ الرَّدِّ وَالْقَبُولِ.
Dan juga mengingatkan pada kebingungan mereka di satu padang yang sama antara ditolak dan diterima.

وَإِذَا تَذَكَّرْتَ ذَلِكَ، فَأَلْزِمْ قَلْبَكَ الضَّرَاعَةَ وَالِابْتِهَالَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَتُحْشَرَ فِي زُمْرَةِ الْفَائِزِينَ الْمَرْحُومِينَ.
Apabila engkau mengingat semua itu, maka lekatkanlah hatimu dengan kerendahan diri dan munajat yang sungguh-sungguh kepada Allah عز وجل, agar engkau dihimpun dalam golongan orang-orang yang beruntung dan dirahmati.

وَحَقِّقْ رَجَاءَكَ بِالْإِجَابَةِ، فَالْمَوْقِفُ شَرِيفٌ، وَالرَّحْمَةُ إِنَّمَا تَصِلُ مِنْ حَضْرَةِ الْجَلَالِ إِلَى كَافَّةِ الْخَلْقِ بِوَاسِطَةِ الْقُلُوبِ الْعَزِيزَةِ مِنْ أَوْتَادِ الْأَرْضِ.
Dan teguhkanlah harapanmu akan dikabulkan, karena tempat wuquf itu mulia, dan rahmat itu sampai dari hadirat keagungan kepada seluruh makhluk melalui perantaraan hati-hati yang mulia dari kalangan para penyangga bumi.

وَلَا يَنْفَكُّ الْمَوْقِفُ عَنْ طَبَقَةٍ مِنَ الْأَبْدَالِ وَالْأَوْتَادِ، وَطَبَقَةٍ مِنَ الصَّالِحِينَ وَأَرْبَابِ الْقُلُوبِ.
Padang wuquf itu tidak pernah kosong dari lapisan para abdal dan autad, serta lapisan orang-orang saleh dan para pemilik hati.

فَإِذَا اجْتَمَعَتْ هِمَمُهُمْ، وَتَجَرَّدَتْ لِلضَّرَاعَةِ وَالِابْتِهَالِ قُلُوبُهُمْ، وَارْتَفَعَتْ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ أَيْدِيهِمْ، وَامْتَدَّتْ إِلَى أَعْنَاقِهِمْ، وَشَخَصَتْ نَحْوَ السَّمَاءِ أَبْصَارُهُمْ، مُجْتَمِعِينَ بِهِمَّةٍ وَاحِدَةٍ عَلَى طَلَبِ الرَّحْمَةِ، فَلَا تَظُنَّنَّ أَنَّهُ يُخَيِّبُ أَمَلَهُمْ، وَيُضَيِّعُ سَعْيَهُمْ، وَيَدَّخِرُ عَنْهُمْ رَحْمَةً تَغْمُرُهُمْ.
Apabila cita-cita mereka telah berkumpul, hati mereka telah tulus untuk merendahkan diri dan bermunajat, tangan-tangan mereka terangkat kepada Allah سبحانه, leher-leher mereka menjulur, pandangan-pandangan mereka menatap ke langit, dan mereka semua berkumpul dengan satu tekad untuk memohon rahmat, maka jangan sekali-kali engkau mengira bahwa Allah akan mengecewakan harapan mereka, menyia-nyiakan usaha mereka, dan menahan dari mereka rahmat yang meliputi mereka.

وَلِذَلِكَ قِيلَ: إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الذُّنُوبِ أَنْ يَحْضُرَ عَرَفَاتٍ وَيَظُنَّ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَمْ يَغْفِرْ لَهُ.
Karena itu dikatakan: Di antara dosa yang paling besar ialah seseorang hadir di Arafat lalu menyangka bahwa Allah Ta’ala tidak mengampuninya.

وَكَأَنَّ اجْتِمَاعَ الْهِمَمِ وَالِاسْتِظْهَارَ بِمُجَاوَرَةِ الْأَبْدَالِ وَالْأَوْتَادِ الْمُجْتَمِعِينَ مِنْ أَقْطَارِ الْبِلَادِ هُوَ سِرُّ الْحَجِّ وَغَايَةُ مَقْصُودِهِ.
Seakan-akan berkumpulnya tekad-tekad dan menguatkan diri dengan berdekatan kepada para abdal dan autad yang datang dari berbagai penjuru negeri itulah rahasia haji dan puncak maksudnya.

فَلَا طَرِيقَ إِلَى اسْتِدْرَارِ رَحْمَةِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ مِثْلُ اجْتِمَاعِ الْهِمَمِ وَتَعَاوُنِ الْقُلُوبِ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ.
Tidak ada jalan untuk mendatangkan rahmat Allah سبحانه seperti berkumpulnya tekad dan saling tolong-menolongnya hati-hati pada satu waktu.

وَأَمَّا رَمْيُ الْجِمَارِ، فَاقْصِدْ بِهِ الِانْقِيَادَ لِلْأَمْرِ، إِظْهَارًا لِلرِّقِّ وَالْعُبُودِيَّةِ، وَانْتِهَاضًا لِمُجَرَّدِ الِامْتِثَالِ مِنْ غَيْرِ حَظٍّ لِلْعَقْلِ وَالنَّفْسِ فِيهِ.
Adapun melempar jumrah, maka niatkanlah dengannya kepatuhan terhadap perintah, sebagai tampilan penghambaan dan kehinaan diri, serta bangkit semata-mata untuk taat tanpa bagian bagi akal dan jiwa di dalamnya.

ثُمَّ اقْصِدْ بِهِ التَّشَبُّهَ بِإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، حَيْثُ عَرَضَ لَهُ إِبْلِيسُ لَعَنَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي ذَلِكَ الْمَوْضِعِ لِيُدْخِلَ عَلَى حَجِّهِ شُبْهَةً أَوْ يَفْتِنَهُ بِمَعْصِيَةٍ، فَأَمَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَرْمِيَهُ بِالْحِجَارَةِ طَرْدًا لَهُ وَقَطْعًا لِأَمَلِهِ.
Kemudian niatkan pula dengannya menyerupai Ibrahim عليه السلام, ketika Iblis—laknat Allah atasnya—datang kepadanya di tempat itu untuk memasukkan keraguan ke dalam hajinya atau menjerumuskannya kepada maksiat, lalu Allah عز وجل memerintahkannya agar melemparinya dengan batu sebagai bentuk pengusiran dan pemutusan harapannya.

فَإِنْ خَطَرَ لَكَ أَنَّ الشَّيْطَانَ عَرَضَ لَهُ وَشَاهَدَهُ، فَلِذَلِكَ رَمَاهُ، وَأَمَّا أَنَا فَلَيْسَ يَعْرِضُ لِي الشَّيْطَانُ، فَاعْلَمْ أَنَّ هَذَا الْخَاطِرَ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَأَنَّهُ الَّذِي أَلْقَاهُ فِي قَلْبِكَ لِيُفَتِّرَ عَزْمَكَ فِي الرَّمْيِ، وَيُخَيِّلَ إِلَيْكَ أَنَّهُ فِعْلٌ لَا فَائِدَةَ فِيهِ، وَأَنَّهُ يُضَاهِي اللَّعِبَ، فَلَا تَشْتَغِلْ بِهِ.
Jika terlintas dalam benakmu bahwa setan dahulu benar-benar datang kepada Ibrahim dan ia melihatnya, karena itulah ia melemparnya, sedangkan aku tidak melihat setan, maka ketahuilah bahwa lintasan ini berasal dari setan itu sendiri. Dialah yang menanamkannya dalam hatimu untuk melemahkan tekadmu dalam melempar, dan membisikkan kepadamu bahwa itu perbuatan yang tidak berguna dan menyerupai permainan, sehingga engkau pun tidak menaruh perhatian padanya.

فَاطْرُدْهُ عَنْ نَفْسِكَ بِالْجِدِّ وَالتَّشْمِيرِ فِي الرَّمْيِ فِيهِ، بِرَغْمِ أَنْفِ الشَّيْطَانِ.
Maka usirlah ia dari dirimu dengan kesungguhan dan semangat dalam melempar, sebagai penghinaan terhadap setan.

وَاعْلَمْ أَنَّكَ فِي الظَّاهِرِ تَرْمِي الْحَصَى إِلَى الْعَقَبَةِ، وَفِي الْحَقِيقَةِ تَرْمِي بِهِ وَجْهَ الشَّيْطَانِ وَتَقْصِمُ بِهِ ظَهْرَهُ، إِذْ لَا يَحْصُلُ إِرْغَامُ أَنْفِهِ إِلَّا بِامْتِثَالِكَ أَمْرَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تَعْظِيمًا لَهُ بِمُجَرَّدِ الْأَمْرِ مِنْ غَيْرِ حَظٍّ لِلنَّفْسِ وَالْعَقْلِ فِيهِ.
Dan ketahuilah bahwa secara lahir engkau melempar kerikil ke Aqabah, tetapi pada hakikatnya engkau sedang melempar wajah setan dan mematahkan punggungnya. Sebab kehinaan setan itu tidak terjadi kecuali dengan engkau melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى sebagai bentuk pengagungan kepada-Nya hanya karena perintah itu semata, tanpa campur tangan kepentingan jiwa dan akal.

وَأَمَّا ذَبْحُ الْهَدْيِ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ تَقَرُّبٌ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِحُكْمِ الِامْتِثَالِ، فَأَكْمِلِ الْهَدْيَ، وَارْجُ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ بِكُلِّ جُزْءٍ مِنْهُ جُزْءًا مِنْكَ مِنَ النَّارِ.
Adapun menyembelih hadyu, maka ketahuilah bahwa ia adalah pendekatan diri kepada Allah Ta’ala dengan hukum kepatuhan. Maka sempurnakanlah hadyumu, dan berharaplah agar Allah membebaskan dengan setiap bagiannya satu bagian dari dirimu dari api neraka.

فَهَكَذَا وَرَدَ الْوَعْدُ، فَكُلَّمَا كَانَ الْهَدْيُ أَكْبَرَ وَأَجْزَاؤُهُ أَوْفَرَ كَانَ فِدَاؤُكَ مِنَ النَّارِ أَعَمَّ.
Demikianlah janji itu datang. Maka semakin besar hadyu itu dan semakin banyak bagiannya, semakin luas pula tebusanmu dari api neraka.

وَأَمَّا زِيَارَةُ الْمَدِينَةِ، فَإِذَا وَقَعَ بَصَرُكَ عَلَى حِيطَانِهَا فَتَذَكَّرْ أَنَّهَا الْبَلْدَةُ الَّتِي اخْتَارَهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَجَعَلَ إِلَيْهَا هِجْرَتَهُ، وَأَنَّهَا دَارُهُ الَّتِي شَرَعَ فِيهَا فَرَائِضَ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّتَهُ، وَجَاهَدَ عَدُوَّهُ، وَأَظْهَرَ بِهَا دِينَهُ إِلَى أَنْ تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ.
Adapun ziarah ke Madinah, maka apabila pandanganmu jatuh pada dinding-dindingnya, ingatlah bahwa itulah kota yang Allah عز وجل pilih untuk nabi-Nya saw., yang kepadanya Allah jadikan hijrah beliau, dan bahwa itulah negeri beliau, tempat beliau mensyariatkan kewajiban-kewajiban dari Tuhan-Nya عز وجل dan sunnah beliau, berjihad melawan musuhnya, dan menampakkan agamanya di sana sampai Allah عز وجل mewafatkannya.

ثُمَّ جَعَلَ تُرْبَتَهُ فِيهَا وَتُرْبَةَ وَزِيرَيْهِ الْقَائِمَيْنِ بِالْحَقِّ بَعْدَهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا.
Kemudian Allah menjadikan tanah tempat dimakamkannya beliau berada di sana, demikian pula tanah makam dua menteri beliau yang menegakkan kebenaran sesudah beliau رضي الله عنهما.

ثُمَّ مَثِّلْ فِي نَفْسِكَ مَوَاقِعَ أَقْدَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ تَرَدُّدَاتِهِ فِيهَا، وَأَنَّهُ مَا مِنْ مَوْضِعِ قَدَمٍ تَطَؤُهُ إِلَّا وَهُوَ مَوْضِعُ أَقْدَامِهِ الْعَزِيزَةِ.
Kemudian bayangkan dalam dirimu tempat-tempat pijakan kaki Rasulullah saw. saat beliau berjalan di dalamnya, dan bahwa tidak ada satu tempat pun yang engkau pijak kecuali tempat itu dahulu juga dipijak oleh kaki-kaki beliau yang mulia.

فَلَا تَضَعْ قَدَمَكَ عَلَيْهِ إِلَّا عَنْ سَكِينَةٍ وَوَجَلٍ.
Maka janganlah engkau meletakkan kakimu di atasnya kecuali dengan ketenangan dan rasa gentar.

وَتَذَكَّرْ مَشْيَهُ وَتَخَطِّيهِ فِي سِكَكِهَا، وَتَصَوَّرْ خُشُوعَهُ وَسَكِينَتَهُ فِي الْمَشْيِ، وَمَا اسْتَوْدَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ قَلْبَهُ مِنْ عَظِيمِ مَعْرِفَتِهِ وَرِفْعَةِ ذِكْرِهِ، مَعَ ذِكْرِهِ تَعَالَى حَتَّى قَرَنَهُ بِذِكْرِ نَفْسِهِ.
Dan ingatlah cara beliau berjalan dan melangkah di jalan-jalannya. Bayangkan kekhusyukan dan ketenangan beliau dalam berjalan, serta apa yang Allah سبحانه simpan dalam hati beliau berupa agungnya ma’rifat kepada-Nya dan tingginya kedudukan zikir beliau, sampai Allah Ta’ala menyandingkan zikir beliau dengan zikir terhadap diri-Nya sendiri.

وَإِحْبَاطِهِ عَمَلَ مَنْ هَتَكَ حُرْمَتَهُ وَلَوْ بِرَفْعِ صَوْتِهِ فَوْقَ صَوْتِهِ.
Dan Allah menggugurkan amal orang yang melanggar kehormatan beliau, walaupun hanya dengan meninggikan suara di atas suara beliau.

ثُمَّ تَذَكَّرْ مَا مَنَّ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ عَلَى الَّذِينَ أَدْرَكُوا صُحْبَتَهُ وَسَعِدُوا بِمُشَاهَدَتِهِ وَاسْتِمَاعِ كَلَامِهِ، وَأَعْظِمْ تَأَسُّفَكَ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنْ صُحْبَتِهِ وَصُحْبَةِ أَصْحَابِهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
Kemudian ingatlah nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada orang-orang yang sempat bersahabat dengan beliau, berbahagia dengan memandang beliau dan mendengar ucapan beliau. Dan besarkanlah penyesalanmu atas apa yang terlewat darimu berupa kesempatan bersahabat dengan beliau dan dengan para sahabat beliau رضي الله عنهم.

ثُمَّ اذْكُرْ أَنَّكَ قَدْ فَاتَتْكَ رُؤْيَتُهُ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَّكَ مِنْ رُؤْيَتِهِ فِي الْآخِرَةِ عَلَى خَطَرٍ.
Kemudian ingatlah bahwa engkau telah kehilangan kesempatan melihat beliau di dunia, dan bahwa untuk melihat beliau di akhirat pun engkau berada dalam keadaan yang berbahaya.

وَأَنَّكَ رُبَّمَا لَا تَرَاهُ إِلَّا بِحَسْرَةٍ، وَقَدْ حِيلَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ قَبُولِهِ إِيَّاكَ بِسُوءِ عَمَلِكَ.
Boleh jadi engkau tidak melihat beliau kecuali dengan penyesalan, karena antara dirimu dan penerimaan beliau terhadapmu dihalangi oleh buruknya amalmu.

كَمَا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُرْفَعُ اللَّهُ إِلَيَّ أَقْوَامًا فَيَقُولُونَ: يَا مُحَمَّدُ، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ، أَصْحَابِي، فَيَقُولُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: بُعْدًا وَسُحْقًا.
Sebagaimana Nabi saw. bersabda: “Akan diangkat kepadaku beberapa kaum, lalu mereka berkata: Wahai Muhammad. Maka aku berkata: Wahai Tuhanku, mereka adalah sahabatku. Lalu Allah berfirman: Engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sesudahmu. Maka aku berkata: Jauh, jauh.”

فَإِنْ تَرَكْتَ حُرْمَةَ شَرِيعَتِهِ وَلَوْ فِي دَقِيقَةٍ مِنَ الدَّقَائِقِ، فَلَا تَأْمَنْ أَنْ يُحَالَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ بِعُدُولِكَ عَنْ مَحَجَّتِهِ.
Maka jika engkau merusak kehormatan syariat beliau walau hanya dalam satu perkara kecil, janganlah engkau merasa aman bahwa engkau akan dihalangi darinya karena berpaling dari jalan beliau.

وَلْيُعَظِّمْ مَعَ ذَلِكَ رَجَاءَكَ أَنْ لَا يَحُولَ اللَّهُ تَعَالَى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ بَعْدَ أَنْ رَزَقَكَ الْإِيمَانَ وَأَشْخَصَكَ مِنْ وَطَنِكَ لِأَجْلِ زِيَارَتِهِ، مِنْ غَيْرِ تِجَارَةٍ وَلَا حَظٍّ فِي الدُّنْيَا، بَلْ لِمَحْضِ حُبِّكَ لَهُ وَشَوْقِكَ إِلَى أَنْ تَنْظُرَ إِلَى آثَارِهِ وَإِلَى حَائِطِ قَبْرِهِ.
Namun bersama itu, besarkanlah harapanmu bahwa Allah Ta’ala tidak akan menghalangimu dari beliau, setelah Dia memberimu iman dan menggerakkanmu dari negerimu demi menziarahi beliau, bukan karena perdagangan dan bukan pula demi keuntungan dunia, melainkan murni karena cintamu kepada beliau dan rindumu untuk memandang jejak-jejak beliau dan dinding kubur beliau.

إِذْ سَمَحَتْ نَفْسُكَ بِالسَّفَرِ بِمُجَرَّدِ ذَلِكَ لَمَّا فَاتَتْكَ رُؤْيَتُهُ، فَمَا أَجْدَرَكَ بِأَنْ يَنْظُرَ اللَّهُ تَعَالَى إِلَيْكَ بِعَيْنِ الرَّحْمَةِ.
Ketika jiwamu rela melakukan perjalanan hanya karena itu, padahal engkau telah kehilangan kesempatan melihat beliau, maka betapa layaknya engkau untuk dipandang Allah Ta’ala dengan pandangan rahmat.

فَإِذَا بَلَغْتَ الْمَسْجِدَ، فَاذْكُرْ أَنَّهَا الْعَرْصَةُ الَّتِي اخْتَارَهَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَوَّلِ الْمُسْلِمِينَ وَأَفْضَلِهِمْ عِصَابَةً.
Apabila engkau telah sampai di masjid, ingatlah bahwa itulah pelataran yang Allah سبحانه pilih bagi Nabi-Nya saw. dan bagi generasi pertama kaum muslimin serta kelompok terbaik mereka.

وَأَنَّ فَرَائِضَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ أَوَّلُ مَا أُقِيمَتْ فِي تِلْكَ الْعَرْصَةِ.
Dan bahwa kewajiban-kewajiban Allah سبحانه pertama kali ditegakkan di pelataran itu.

وَأَنَّهَا جَمَعَتْ أَفْضَلَ خَلْقِ اللَّهِ حَيًّا وَمَيِّتًا، فَلْيُعَظِّمْ أَمَلُكَ فِي اللَّهِ سُبْحَانَهُ أَنْ يَرْحَمَكَ بِدُخُولِكَ إِيَّاهُ.
Dan bahwa tempat itu telah menghimpun makhluk Allah yang paling utama, baik yang hidup maupun yang telah wafat. Maka hendaklah besar harapanmu kepada Allah سبحانه bahwa Dia akan merahmatimu dengan sebab engkau memasukinya.

فَادْخُلْهُ خَاشِعًا مُعَظِّمًا.
Karena itu, masuklah ke dalamnya dengan khusyuk dan penuh pengagungan.

وَمَا أَجْدَرَ هَذَا الْمَكَانَ بِأَنْ يَسْتَدْعِيَ الْخُشُوعَ مِنْ قَلْبِ كُلِّ مُؤْمِنٍ.
Dan betapa layaknya tempat ini membangkitkan kekhusyukan dari hati setiap orang beriman.

كَمَا حُكِيَ عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ أَنَّهُ قَالَ: حَجَّ أُوَيْسُ الْقَرَنِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ، فَلَمَّا وَقَفَ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ قِيلَ لَهُ: هَذَا قَبْرُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَغُشِيَ عَلَيْهِ.
Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Sulaiman, ia berkata: Uwais al-Qarani رضي الله عنه berhaji dan masuk ke Madinah. Ketika ia berdiri di pintu masjid, dikatakan kepadanya: “Ini adalah kubur Nabi saw.” Maka ia pun pingsan.

فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ: أَخْرِجُونِي، فَلَيْسَ يَلِذُّ لِي بَلَدٌ فِيهِ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَدْفُونٌ.
Ketika ia sadar, ia berkata: “Keluarkan aku. Tidak terasa nikmat bagiku tinggal di sebuah negeri yang di dalamnya Muhammad saw. dimakamkan.”

وَأَمَّا زِيَارَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَنْبَغِي أَنْ تَقِفَ بَيْنَ يَدَيْهِ كَمَا وَصَفْنَا، وَتَزُورَهُ مَيِّتًا كَمَا تَزُورُهُ حَيًّا، وَلَا تَقْرَبْ مِنْ قَبْرِهِ إِلَّا كَمَا كُنْتَ تَقْرَبُ مِنْ شَخْصِهِ الْكَرِيمِ لَوْ كَانَ حَيًّا.
Adapun ziarah kepada Rasulullah saw., maka hendaklah engkau berdiri di hadapan beliau sebagaimana telah kami jelaskan. Ziarahilah beliau dalam keadaan wafat sebagaimana engkau akan menziarahinya bila beliau hidup. Dan jangan mendekati kubur beliau kecuali sebagaimana engkau dahulu akan mendekati pribadi beliau yang mulia seandainya beliau masih hidup.

وَكَمَا كُنْتَ تَرَى الْحُرْمَةَ فِي أَنْ لَا تَمَسَّ شَخْصَهُ وَلَا تُقَبِّلَهُ، بَلْ تَقِفَ مِنْ بُعْدٍ مَاثِلًا بَيْنَ يَدَيْهِ، فَكَذَلِكَ فَافْعَلْ.
Dan sebagaimana engkau memandang sebagai bentuk hormat untuk tidak menyentuh pribadi beliau dan tidak menciumnya, melainkan berdiri dari kejauhan di hadapan beliau, maka demikian pula lakukanlah sekarang.

فَإِنَّ الْمَسَّ وَالتَّقْبِيلَ لِلْمَشَاهِدِ عَادَةُ النَّصَارَى وَالْيَهُودِ.
Sebab menyentuh dan mencium tempat-tempat ziarah adalah kebiasaan kaum Nasrani dan Yahudi.

وَاعْلَمْ أَنَّهُ عَالِمٌ بِحُضُورِكَ وَقِيَامِكَ وَزِيَارَتِكَ، وَأَنَّهُ يُبْلَغُ سَلَامُكَ وَصَلَاتُكَ.
Dan ketahuilah bahwa beliau mengetahui kehadiranmu, berdirimu, dan ziarahmu, serta bahwa salam dan salawatmu disampaikan kepada beliau.

فَمَثِّلْ صُورَتَهُ الْكَرِيمَةَ فِي خَيَالِكَ مَوْضُوعًا فِي اللَّحْدِ بِإِزَائِكَ، وَأَحْضِرْ عَظِيمَ رُتْبَتِهِ فِي قَلْبِكَ.
Maka bayangkanlah rupa beliau yang mulia dalam khayalmu, diletakkan di dalam lahad tepat di hadapanmu, dan hadirkanlah kedudukan agung beliau dalam hatimu.

فَقَدْ رُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَكَّلَ بِقَبْرِهِ مَلَكًا يُبَلِّغُهُ سَلَامَ مَنْ سَلَّمَ عَلَيْهِ مِنْ أُمَّتِهِ.
Sebab telah diriwayatkan dari beliau saw.: “Sesungguhnya Allah Ta’ala menugaskan seorang malaikat di kubur beliau yang menyampaikan salam orang yang mengucapkan salam kepadanya dari umatnya.”

وَهَذَا فِي حَقِّ مَنْ لَمْ يَحْضُرْ قَبْرَهُ، فَكَيْفَ بِمَنْ فَارَقَ الْوَطَنَ وَقَطَعَ الْبَوَادِي شَوْقًا إِلَى لِقَائِهِ، وَاكْتَفَى بِمُشَاهَدَةِ مَشْهَدِهِ الْكَرِيمِ إِذْ فَاتَتْهُ مُشَاهَدَةُ غُرَّتِهِ الْكَرِيمَةِ؟
Itu berlaku bagi orang yang tidak hadir di kuburnya. Maka bagaimana lagi dengan orang yang meninggalkan negerinya, melintasi padang-padang pasir karena rindu untuk bertemu beliau, lalu merasa cukup dengan memandang tempat beliau yang mulia karena telah terluput baginya memandang wajah beliau yang mulia?

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا.
Dan Nabi saw. telah bersabda: “Barang siapa bersalawat kepadaku sekali, Allah akan bersalawat kepadanya sepuluh kali.”

فَهَذَا جَزَاؤُهُ فِي الصَّلَاةِ عَلَيْهِ بِلِسَانِهِ، فَكَيْفَ بِالْحُضُورِ لِزِيَارَتِهِ بِبَدَنِهِ؟
Itulah balasannya bagi orang yang bersalawat kepada beliau dengan lisannya. Maka bagaimana lagi dengan orang yang hadir untuk menziarahi beliau dengan badannya?

ثُمَّ ائْتِ مِنْبَرَ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتَوَهَّمْ صُعُودَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ.
Kemudian datangilah mimbar Rasulullah saw. dan bayangkan beliau naik ke atas mimbar itu.

وَمَثِّلْ فِي قَلْبِكَ طَلْعَتَهُ الْبَهِيَّةَ كَأَنَّهَا عَلَى الْمِنْبَرِ، وَقَدْ أَحْدَقَ بِهِ الْمُهَاجِرُونَ وَالْأَنْصَارُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَهُوَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحُثُّهُمْ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِخُطْبَتِهِ.
Dan hadirkanlah dalam hatimu rupa beliau yang bercahaya seakan-akan berada di atas mimbar, sementara kaum Muhajirin dan Anshar رضي الله عنهم mengelilinginya, dan beliau saw. mendorong mereka untuk taat kepada Allah عز وجل dengan khutbah beliau.

وَسَلِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُفَرِّقَ فِي الْقِيَامَةِ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ.
Dan mohonlah kepada Allah عز وجل agar pada hari kiamat Dia tidak memisahkan antara dirimu dan beliau.

فَهَذِهِ وَظِيفَةُ الْقَلْبِ فِي أَعْمَالِ الْحَجِّ.
Inilah tugas hati dalam amalan-amalan haji.

فَإِذَا فَرَغَ مِنْهَا كُلِّهَا فَيَنْبَغِي أَنْ يُلْزِمَ قَلْبَهُ الْحُزْنَ وَالْهَمَّ وَالْخَوْفَ، وَأَنَّهُ لَيْسَ يَدْرِي أَقُبِلَ مِنْهُ حَجُّهُ وَأُثْبِتَ فِي زُمْرَةِ الْمَحْبُوبِينَ، أَمْ رُدَّ حَجُّهُ وَأُلْحِقَ بِالْمَطْرُودِينَ.
Setelah ia menyelesaikan semuanya, hendaklah ia mewajibkan atas hatinya rasa sedih, gundah, dan takut. Sebab ia tidak tahu apakah hajinya diterima dan ia dicatat dalam golongan orang-orang yang dicintai, ataukah hajinya ditolak dan ia dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang dijauhkan.

وَلْيَتَعَرَّفْ ذَلِكَ مِنْ قَلْبِهِ وَأَعْمَالِهِ.
Dan hendaklah ia mengenali hal itu dari keadaan hatinya dan amal-amalnya.

فَإِنْ صَادَفَ قَلْبَهُ قَدِ ازْدَادَ تَجَافِيًا عَنْ دَارِ الْغُرُورِ وَانْصِرَافًا إِلَى دَارِ الْأُنْسِ بِاللَّهِ تَعَالَى، وَوَجَدَ أَعْمَالَهُ قَدِ اتَّزَنَتْ بِمِيزَانِ الشَّرْعِ، فَلْيَثِقْ بِالْقَبُولِ.
Jika ia mendapati hatinya bertambah menjauh dari negeri tipu daya dan bertambah berpaling menuju negeri keakraban dengan Allah Ta’ala, serta ia mendapati amal-amalnya telah seimbang dengan timbangan syariat, maka hendaklah ia percaya akan penerimaan.

فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يَقْبَلُ إِلَّا مَنْ أَحَبَّهُ، وَمَنْ أَحَبَّهُ تَوَلَّاهُ، وَأَظْهَرَ عَلَيْهِ آثَارَ مَحَبَّتِهِ، وَكَفَّ عَنْهُ سَطْوَةَ عَدُوِّهِ إِبْلِيسَ لَعَنَهُ اللَّهُ.
Karena Allah Ta’ala tidak menerima kecuali orang yang Dia cintai. Dan siapa yang Dia cintai, Dia akan melindunginya, menampakkan padanya tanda-tanda cinta-Nya, dan menahan darinya serangan musuh-Nya, yaitu Iblis yang dilaknat Allah.

فَإِذَا ظَهَرَ ذَلِكَ عَلَيْهِ دَلَّ عَلَى الْقَبُولِ.
Jika hal itu tampak pada dirinya, maka itu menunjukkan adanya penerimaan.

وَإِنْ كَانَ الْأَمْرُ الْآخَرُ بِخِلَافِهِ، فَيُوشِكُ أَنْ يَكُونَ حَظُّهُ مِنْ سَفَرِهِ الْعَنَاءُ وَالتَّعَبُ، نَعُوذُ بِاللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ ذَلِكَ.
Dan jika keadaannya justru sebaliknya, maka besar kemungkinan bagian yang ia peroleh dari perjalanannya hanyalah kepayahan dan kelelahan. Kita berlindung kepada Allah سبحانه وتعالى dari hal itu.

تَمَّ كِتَابُ أَسْرَارِ الْحَجِّ، يَتْلُوهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى كِتَابُ آدَابِ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ.
Selesailah Kitab Rahasia-Rahasia Haji. Setelah ini, insyaallah تعالى, akan disusul Kitab Adab Membaca Al-Qur’an.