Penjelasan Tentang Perbedaan Wirid Sesuai Dengan Perbedaan Keadaan
بَيَانُ اخْتِلَافِ الْأَوْرَادِ بِاخْتِلَافِ الْأَحْوَالِ
Penjelasan tentang perbedaan wirid sesuai dengan perbedaan
keadaan.
اِعْلَمْ
أَنَّ الْمُرِيدَ لِحَرْثِ الْآخِرَةِ السَّالِكَ لِطَرِيقِهَا لَا يَخْلُو عَنْ
سِتَّةِ أَحْوَالٍ؛ فَإِنَّهُ إِمَّا عَابِدٌ، وَإِمَّا عَالِمٌ، وَإِمَّا
مُتَعَلِّمٌ، وَإِمَّا وَالٍ، وَإِمَّا مُحْتَرِفٌ، وَإِمَّا مُوَحِّدٌ
مُسْتَغْرِقٌ بِالْوَاحِدِ الصَّمَدِ عَنْ غَيْرِهِ.
Ketahuilah bahwa orang yang menghendaki pertanian akhirat
dan menempuh jalannya tidak lepas dari enam keadaan: entah ia seorang ahli
ibadah, atau seorang alim, atau seorang penuntut ilmu, atau seorang penguasa,
atau seorang pekerja/profesional, atau seorang yang bertauhid, yang tenggelam
bersama Yang Maha Esa lagi Maha Tempat Bergantung, sehingga terputus dari
selain-Nya.
الْأَوَّلُ:
الْعَابِدُ، وَهُوَ الْمُتَجَرِّدُ لِلْعِبَادَةِ الَّذِي لَا شُغْلَ لَهُ
غَيْرُهَا أَصْلًا، وَلَوْ تَرَكَ الْعِبَادَةَ لَجَلَسَ بَطَّالًا. فَتَرْتِيبُ
أَوْرَادِهِ مَا ذَكَرْنَاهُ. نَعَمْ، لَا يَبْعُدُ أَنْ تَخْتَلِفَ وَظَائِفُهُ
بِأَنْ يَسْتَغْرِقَ أَكْثَرَ أَوْقَاتِهِ إِمَّا فِي الصَّلَاةِ، أَوِ
الْقِرَاءَةِ، أَوْ فِي التَّسْبِيحَاتِ.
Pertama: ahli ibadah, yaitu orang yang mengkhususkan diri
untuk ibadah dan sama sekali tidak punya kesibukan selain itu. Jika ia
meninggalkan ibadah, ia akan duduk menganggur. Maka susunan wiridnya adalah
sebagaimana yang telah kami sebutkan. Namun, tidak mustahil bentuk-bentuk
amalnya berbeda, misalnya ia menghabiskan kebanyakan waktunya untuk salat, atau
membaca Al-Qur’an, atau tasbih.
فَقَدْ
كَانَ فِي الصَّحَابَةِ رضي الله عنهم مَنْ وِرْدُهُ فِي الْيَوْمِ اثْنَا عَشَرَ
أَلْفَ تَسْبِيحَةٍ، وَكَانَ فِيهِمْ مَنْ وِرْدُهُ ثَلَاثُونَ أَلْفًا، وَكَانَ
فِيهِمْ مَنْ وِرْدُهُ ثَلَاثُمِائَةِ رَكْعَةٍ إِلَى سِتِّمِائَةٍ وَإِلَى أَلْفِ
رَكْعَةٍ. وَأَقَلُّ مَا نُقِلَ فِي أَوْرَادِهِمْ مِنَ الصَّلَاةِ مِائَةُ
رَكْعَةٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ. وَكَانَ بَعْضُهُمْ أَكْثَرَ وِرْدِهِ
الْقُرْآنَ، وَكَانَ يَخْتِمُ الْوَاحِدُ مِنْهُمْ فِي الْيَوْمِ مَرَّةً،
وَرُوِيَ مَرَّتَيْنِ عَنْ بَعْضِهِمْ. وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَقْضِي الْيَوْمَ أَوِ
اللَّيْلَ فِي التَّفَكُّرِ فِي آيَةٍ وَاحِدَةٍ يُرَدِّدُهَا.
Di kalangan para sahabat رضي الله عنهم ada yang wirid
hariannya dua belas ribu tasbih, ada yang tiga puluh ribu. Ada pula yang
wiridnya tiga ratus rakaat, bahkan sampai enam ratus rakaat dan seribu rakaat.
Paling sedikit yang dinukil dari wirid salat mereka adalah seratus rakaat dalam
sehari semalam. Sebagian mereka lebih banyak wiridnya adalah Al-Qur’an; salah
seorang dari mereka mengkhatamkannya sekali dalam sehari, dan dari sebagian
mereka diriwayatkan dua kali. Sebagian mereka menghabiskan siang atau malam
dengan merenungkan satu ayat saja sambil mengulang-ulangnya.
وَكَانَ
كَرْزُ بْنُ وَبْرَةَ مُقِيمًا بِمَكَّةَ، فَكَانَ يَطُوفُ فِي كُلِّ يَوْمٍ
سَبْعِينَ أُسْبُوعًا، وَفِي كُلِّ لَيْلَةٍ سَبْعِينَ أُسْبُوعًا، وَكَانَ مَعَ
ذٰلِكَ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ مَرَّتَيْنِ. فَحَسَبْتَ
ذٰلِكَ فَكَانَ عَشَرَةَ فَرَاسِخَ، وَيَكُونُ مَعَ كُلِّ أُسْبُوعٍ رَكْعَتَانِ،
فَهُوَ مِائَتَانِ وَثَمَانُونَ رَكْعَةً وَخَتْمَتَانِ وَعَشَرَةُ فَرَاسِخَ.
Karrz bin Wabrah tinggal di Mekah. Ia tawaf setiap hari
tujuh puluh putaran, dan setiap malam tujuh puluh putaran. Bersamaan dengan itu
ia mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali dalam sehari semalam. Jika dihitung,
jaraknya menjadi sepuluh farsakh. Dan pada setiap putaran ada dua rakaat,
sehingga jumlahnya menjadi dua ratus delapan puluh rakaat, dua kali khatam, dan
sepuluh farsakh.
فَإِنْ
قُلْتَ: فَمَا الْأَوْلَى أَنْ يُصْرَفَ إِلَيْهِ أَكْثَرُ الْأَوْقَاتِ مِنْ
هٰذِهِ الْأَوْرَادِ؟ فَاعْلَمْ أَنَّ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ
قَائِمًا مَعَ التَّدَبُّرِ يَجْمَعُ الْجَمِيعَ، وَلَكِنْ رُبَّمَا تَعَسَّرَتِ
الْمُوَاظَبَةُ عَلَيْهِ، فَالْأَفْضَلُ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ حَالِ الشَّخْصِ.
وَمَقْصُودُ الْأَوْرَادِ تَزْكِيَةُ الْقَلْبِ وَتَطْهِيرُهُ وَتَحْلِيَتُهُ
بِذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَإِينَاسُهُ بِهِ، فَلْيَنْظُرِ الْمُرِيدُ إِلَى
قَلْبِهِ، فَمَا يَرَاهُ أَشَدَّ تَأْثِيرًا فِيهِ فَلْيُوَاظِبْ عَلَيْهِ،
فَإِذَا أَحَسَّ بِمَلَالَةٍ مِنْهُ فَلْيَنْتَقِلْ إِلَى غَيْرِهِ.
Jika engkau bertanya: apa yang lebih utama untuk dialirkan
kepadanya sebagian besar waktu dari wirid-wirid ini? Ketahuilah bahwa membaca
Al-Qur’an dalam salat sambil berdiri dan disertai tadabbur mencakup semuanya.
Namun, menjaga kontinuitasnya kadang sulit. Maka yang paling utama berbeda
sesuai keadaan masing-masing orang. Tujuan wirid-wirid adalah menyucikan hati,
membersihkannya, menghiasinya dengan zikir kepada Allah Ta‘ala, dan
mengakrabkannya dengan-Nya. Maka hendaklah seorang murid melihat hatinya; amal
apa yang paling kuat pengaruhnya pada hatinya, itulah yang hendaknya ia tekuni.
Jika ia merasakan jemu terhadapnya, hendaklah ia berpindah ke yang lain.
وَلِذٰلِكَ
نَرَى الْأَصْوَبَ لِأَكْثَرِ الْخَلْقِ تَوْزِيعَ هٰذِهِ الْخَيْرَاتِ
الْمُخْتَلِفَةِ عَلَى الْأَوْقَاتِ كَمَا سَبَقَ، وَالِانْتِقَالَ فِيهَا مِنْ
نَوْعٍ إِلَى نَوْعٍ؛ لِأَنَّ الْمَلَلَ هُوَ الْغَالِبُ عَلَى الطَّبْعِ.
Karena itu, menurut kami yang lebih tepat bagi kebanyakan
manusia adalah membagi kebaikan-kebaikan yang beragam ini ke dalam waktu-waktu
sebagaimana telah disebutkan, dan berpindah di antara jenis-jenisnya; sebab
kebosanan memang sifat yang dominan pada tabiat manusia.
وَأَحْوَالُ
الشَّخْصِ الْوَاحِدِ فِي ذٰلِكَ أَيْضًا تَخْتَلِفُ، وَلٰكِنْ إِذَا فُهِمَ
فِقْهُ الْأَوْرَادِ وَسِرُّهَا فَلْيَتَّبِعِ الْمَعْنَى. فَإِنْ سَمِعَ
تَسْبِيحَةً مَثَلًا وَأَحَسَّ لَهَا بِوَقْعِ قَلْبِهِ فَلْيُوَاظِبْ عَلَى
تَكْرَارِهَا مَا دَامَ يَجِدُ لَهَا وَقْعًا.
Keadaan orang yang sama pun dalam hal ini bisa berbeda-beda.
Namun jika ia telah memahami fikih wirid-wirid dan rahasianya, maka hendaklah
ia mengikuti maknanya. Misalnya, jika ia mendengar suatu bacaan tasbih lalu
hatinya merasakan pengaruh darinya, maka hendaklah ia terus mengulanginya
selama ia masih merasakan getarannya dalam hati.
وَقَدْ
رُوِيَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَمَ عَنْ بَعْضِ الْأَبْدَالِ أَنَّهُ قَامَ
ذَاتَ لَيْلَةٍ يُصَلِّي عَلَى شَاطِئِ الْبَحْرِ، فَسَمِعَ صَوْتًا عَالِيًا
بِالتَّسْبِيحِ وَلَمْ يَرَ أَحَدًا، فَقَالَ: مَنْ أَنْتَ أَسْمَعُ صَوْتَكَ
وَلَا أَرَى شَخْصَكَ؟ فَقَالَ: أَنَا مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ
بِهٰذَا الْبَحْرِ، أُسَبِّحُ اللَّهَ تَعَالَى بِهٰذَا التَّسْبِيحِ مُنْذُ
خُلِقْتُ. قُلْتُ: فَمَا اسْمُكَ؟ قَالَ: مُهْلَهِيَائِيلُ. قُلْتُ: فَمَا ثَوَابُ
مَنْ قَالَهُ؟ قَالَ: مَنْ قَالَهُ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَرَى
مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ أَوْ يُرَى لَهُ.
Disebutkan dari Ibrahim bin Adham, dari sebagian para abdal,
bahwa ia berdiri suatu malam salat di tepi laut. Ia mendengar suara keras
bertasbih, tetapi tidak melihat siapa pun. Ia bertanya: “Siapa engkau? Aku
mendengar suaramu tetapi tidak melihat sosokmu.” Ia menjawab: “Aku adalah
seorang malaikat yang ditugaskan atas laut ini; aku bertasbih kepada Allah
Ta‘ala dengan tasbih ini sejak aku diciptakan.” Aku bertanya: “Siapa namamu?”
Ia menjawab: “Muhlahiyā’īl.” Aku bertanya: “Apa pahala orang yang membacanya?”
Ia menjawab: “Siapa yang membacanya seratus kali, ia tidak akan mati sampai ia
melihat tempatnya di surga atau diperlihatkan kepadanya.”
وَالتَّسْبِيحُ
هُوَ قَوْلُهُ: سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَلِيِّ الدَّيَّانِ، سُبْحَانَ اللَّهِ
الشَّدِيدِ الْأَرْكَانِ، سُبْحَانَ مَنْ يَذْهَبُ بِاللَّيْلِ وَيَأْتِي
بِالنَّهَارِ، سُبْحَانَ مَنْ لَا يَشْغَلُهُ شَأْنٌ عَنْ شَأْنٍ، سُبْحَانَ
اللَّهِ الْحَنَّانِ الْمَنَّانِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْمُسَبَّحِ فِي كُلِّ
مَكَانٍ.
Tasbih itu ialah ucapan: “Maha Suci Allah Yang Mahatinggi
lagi Maha Mengadili, Maha Suci Allah Yang Kokoh tiang-tiang-Nya, Maha Suci Dzat
yang menghilangkan malam dan mendatangkan siang, Maha Suci Dzat yang tidak
disibukkan satu urusan oleh urusan lain, Maha Suci Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Pemberi, Maha Suci Allah yang disucikan di setiap tempat.”
فَهٰذَا
وَأَمْثَالُهُ إِذَا سَمِعَهُ الْمُرِيدُ وَوَجَدَ لَهُ فِي قَلْبِهِ وَقْعًا
فَلْيُلَازِمْهُ، وَأَيًّا مَا وَجَدَ الْقَلْبُ عِنْدَهُ وَفُتِحَ لَهُ فِيهِ
خَيْرٌ فَلْيُوَاظِبْ عَلَيْهِ.
Maka jika seorang murid mendengarnya dan merasakan
pengaruhnya dalam hati, hendaklah ia menekuninya. Apa pun yang dirasakan hati
dengannya dan apa pun kebaikan yang terbuka baginya melalui hal itu, hendaklah
ia tetap tekun melakukannya.
الثَّانِي:
الْعَالِمُ الَّذِي يَنْفَعُ النَّاسَ بِعِلْمِهِ فِي فَتْوَى أَوْ تَدْرِيسٍ أَوْ
تَصْنِيفٍ؛ فَتَرْتِيبُهُ الْأَوْرَادَ يُخَالِفُ تَرْتِيبَ الْعَابِدِ، فَإِنَّهُ
يَحْتَاجُ إِلَى الْمُطَالَعَةِ لِلْكُتُبِ وَإِلَى التَّصْنِيفِ وَالْإِفَادَةِ،
وَيَحْتَاجُ إِلَى مُدَّةٍ لَهَا لَا مَحَالَةَ.
Kedua: orang alim yang memberi manfaat kepada manusia dengan
ilmunya dalam fatwa, pengajaran, atau penulisan. Susunan wiridnya berbeda dari
susunan ahli ibadah, karena ia memerlukan membaca kitab-kitab, menulis, dan
memberi manfaat, serta tentu memerlukan waktu khusus untuk itu.
فَإِنْ
أَمْكَنَهُ اسْتِغْرَاقُ الْأَوْقَاتِ فِيهِ فَهُوَ أَفْضَلُ مَا يَشْتَغِلُ بِهِ
بَعْدَ الْمَكْتُوبَاتِ وَرَوَاتِبِهَا. وَيَدُلُّ عَلَى ذٰلِكَ جَمِيعُ مَا
ذَكَرْنَاهُ فِي فَضِيلَةِ التَّعْلِيمِ وَالتَّعَلُّمِ فِي كِتَابِ الْعِلْمِ.
Jika ia mampu menghabiskan waktunya untuk itu, maka itulah
yang paling utama untuk disibukkan sesudah salat-salat fardu dan rawatibnya.
Hal ini ditegaskan oleh seluruh apa yang telah kami sebutkan tentang keutamaan
mengajar dan belajar dalam Kitab Ilmu.
وَكَيْفَ
لَا يَكُونُ كَذٰلِكَ، وَفِي الْعِلْمِ الْمُوَاظَبَةُ عَلَى ذِكْرِ اللَّهِ
تَعَالَى، وَتَأَمُّلُ مَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَقَالَ رَسُولُهُ، وَفِيهِ
مَنْفَعَةُ الْخَلْقِ وَهِدَايَتُهُمْ إِلَى طَرِيقِ الْآخِرَةِ، وَرُبَّ
مَسْأَلَةٍ وَاحِدَةٍ يَتَعَلَّمُهَا الْمُتَعَلِّمُ فَيُصْلِحُ بِهَا عِبَادَةَ
عُمْرِهِ، وَلَوْ لَمْ يَتَعَلَّمْهَا لَكَانَ سَعْيُهُ ضَائِعًا.
Bagaimana mungkin tidak demikian, padahal di dalam ilmu ada
kesinambungan zikir kepada Allah Ta‘ala, merenungkan apa yang difirmankan Allah
Ta‘ala dan apa yang disabdakan Rasul-Nya, serta manfaat bagi makhluk dan
petunjuk kepada jalan akhirat. Sering kali satu masalah yang dipelajari seorang
murid justru memperbaiki ibadah seumur hidupnya. Jika ia tidak mempelajarinya,
niscaya usahanya akan sia-sia.
وَإِنَّمَا
نَعْنِي بِالْعِلْمِ الْمُقَدَّمِ عَلَى الْعِبَادَةِ الْعِلْمَ الَّذِي يُرَغِّبُ
النَّاسَ فِي الْآخِرَةِ وَيُزَهِّدُهُمْ فِي الدُّنْيَا، أَوِ الْعِلْمَ الَّذِي
يُعِينُهُمْ عَلَى سُلُوكِ طَرِيقِ الْآخِرَةِ إِذَا تَعَلَّمُوهُ عَلَى قَصْدِ
الِاسْتِعَانَةِ بِهِ عَلَى السُّلُوكِ، دُونَ الْعُلُومِ الَّتِي تَزْدَادُ بِهَا
الرَّغْبَةُ فِي الْمَالِ وَالْجَاهِ وَقَبُولِ الْخَلْقِ.
Yang kami maksud dengan ilmu yang didahulukan atas ibadah
adalah ilmu yang mendorong manusia kepada akhirat dan membuat mereka zuhud
terhadap dunia, atau ilmu yang membantu mereka menempuh jalan akhirat bila
dipelajari dengan niat menjadikannya sarana untuk menempuh jalan itu; bukan
ilmu-ilmu yang justru menambah keinginan kepada harta, kedudukan, dan
penerimaan manusia.
وَالْأَوْلَى
بِالْعَالِمِ أَنْ يَقْسِمَ أَوْقَاتِهِ أَيْضًا، فَإِنَّ اسْتِغْرَاقَ
الْأَوْقَاتِ فِي تَرْتِيبِ الْعِلْمِ لَا يَحْتَمِلُهُ الطَّبْعُ. فَيَنْبَغِي
أَنْ يُخَصِّصَ مَا بَعْدَ الصُّبْحِ إِلَى طُلُوعِ الشَّمْسِ بِالْأَذْكَارِ
وَالْأَوْرَادِ كَمَا ذَكَرْنَاهُ فِي الْوِرْدِ الْأَوَّلِ، وَبَعْدَ الطُّلُوعِ
إِلَى ضُحَى النَّهَارِ فِي الْإِفَادَةِ وَالتَّعْلِيمِ إِنْ كَانَ عِنْدَهُ مَنْ
يَسْتَفِيدُ عِلْمًا لِأَجْلِ الْآخِرَةِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَيَصْرِفُهُ إِلَى
الْفِكْرِ وَيَتَفَكَّرُ فِيمَا يُشْكِلُ عَلَيْهِ مِنْ عُلُومِ الدِّينِ.
Yang lebih utama bagi seorang alim adalah membagi waktunya
juga. Sebab menghabiskan semua waktu untuk menata ilmu tidak sanggup ditanggung
oleh tabiat manusia. Maka hendaknya ia mengkhususkan waktu setelah Subuh sampai
terbit matahari untuk zikir dan wirid sebagaimana telah kami sebutkan dalam
wirid pertama. Setelah matahari terbit sampai waktu duha, ia gunakan untuk
memberi manfaat dan mengajar jika ada orang yang mengambil ilmu darinya demi
akhirat. Jika tidak ada, maka ia alihkan untuk berpikir dan merenungkan
perkara-perkara yang sulit dari ilmu agama. Karena kejernihan hati setelah
selesai dari zikir dan sebelum disibukkan dengan urusan dunia membantu memahami
persoalan-persoalan yang rumit.
وَمِنْ
ضُحَى النَّهَارِ إِلَى الْعَصْرِ لِلتَّصْنِيفِ وَالْمُطَالَعَةِ، لَا
يَتْرُكُهَا إِلَّا فِي وَقْتِ أَكْلٍ وَطَهَارَةٍ وَمَكْتُوبَةٍ وَقَيْلُولَةٍ
خَفِيفَةٍ إِنْ طَالَ النَّهَارُ. وَمِنَ الْعَصْرِ إِلَى الِاصْفِرَارِ
يَشْتَغِلُ بِسَمَاعِ مَا يُقْرَأُ بَيْنَ يَدَيْهِ مِنْ تَفْسِيرٍ أَوْ حَدِيثٍ
أَوْ عِلْمٍ نَافِعٍ. وَمِنَ الِاصْفِرَارِ إِلَى الْغُرُوبِ يَشْتَغِلُ
بِالذِّكْرِ وَالِاسْتِغْفَارِ وَالتَّسْبِيحِ.
Dari waktu duha sampai Asar ia gunakan untuk menulis dan
membaca, dan itu tidak ia tinggalkan kecuali pada saat makan, bersuci, salat
fardu, dan tidur siang singkat bila siang hari panjang. Dari Asar sampai waktu
menguning, ia sibuk mendengarkan bacaan di hadapannya berupa tafsir, hadis,
atau ilmu yang bermanfaat. Dari waktu menguning sampai terbenam, ia sibuk
dengan zikir, istighfar, dan tasbih.
فَيَكُونُ
وِرْدُهُ الْأَوَّلُ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ فِي عَمَلِ اللِّسَانِ، وَوِرْدُهُ
الثَّانِي فِي عَمَلِ الْقَلْبِ بِالْفِكْرِ إِلَى الضُّحَى، وَوِرْدُهُ
الثَّالِثُ إِلَى الْعَصْرِ فِي عَمَلِ الْعَيْنِ وَالْيَدِ بِالْمُطَالَعَةِ
وَالْكِتَابَةِ، وَوِرْدُهُ الرَّابِعُ بَعْدَ الْعَصْرِ فِي عَمَلِ السَّمْعِ
لِيَرُوحَ فِيهِ الْعَيْنُ وَالْيَدُ.
Maka wirid pertamanya sebelum terbit matahari adalah
pekerjaan lisan. Wirid keduanya hingga waktu duha adalah pekerjaan hati dengan
berpikir. Wirid ketiganya sampai Asar adalah pekerjaan mata dan tangan dengan
membaca dan menulis. Wirid keempatnya setelah Asar adalah pekerjaan telinga,
agar mata dan tangan dapat beristirahat.
فَإِنَّ
الْمُطَالَعَةَ وَالْكِتَابَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ رُبَّمَا أَضَرَّتَا بِالْعَيْنِ،
وَعِنْدَ الِاصْفِرَارِ يَعُودُ إِلَى ذِكْرِ اللِّسَانِ، فَلَا يَخْلُو جُزْءٌ
مِنَ النَّهَارِ عَنْ عَمَلٍ لَهُ بِالْجَوَارِحِ مَعَ حُضُورِ الْقَلْبِ فِي
الْجَمِيعِ.
Sebab membaca dan menulis setelah Asar kadang membahayakan
mata. Ketika waktu menguning, ia kembali kepada zikir lisan. Maka tidak ada
satu bagian pun dari siang yang kosong dari amal anggota badan, dengan hati
yang hadir pada semuanya.
وَأَمَّا
اللَّيْلُ فَأَحْسَنُ قِسْمٍ فِيهِ قِسْمَةُ الشَّافِعِيِّ رضي الله عنه إِذْ
كَانَ يَقْسِمُ اللَّيْلَ ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ: ثُلُثًا لِلْمُطَالَعَةِ
وَتَرْتِيبِ الْعِلْمِ وَهُوَ الْأَوَّلُ، وَثُلُثًا لِلصَّلَاةِ وَهُوَ
الْوَسَطُ، وَثُلُثًا لِلنَّوْمِ وَهُوَ الْأَخِيرُ. وَهٰذَا يَتَيَسَّرُ فِي
لَيَالِي الشِّتَاءِ، وَأَمَّا الصَّيْفُ فَرُبَّمَا لَا يَحْتَمِلُ ذٰلِكَ إِلَّا
إِذَا كَانَ أَكْثَرُ النَّوْمِ بِالنَّهَارِ.
Adapun malam, pembagian yang paling baik ialah pembagian
Imam Syafi‘i رضي
الله عنه, karena beliau membagi malam menjadi tiga bagian: sepertiga
untuk membaca dan menata ilmu, dan itulah bagian pertama; sepertiga untuk
salat, dan itulah bagian tengah; dan sepertiga untuk tidur, dan itulah bagian
terakhir. Ini mudah dilakukan pada malam-malam musim dingin. Adapun pada musim
panas, kadang hal itu tidak tertampung kecuali jika sebagian besar tidur
dilakukan pada siang hari.
هٰذَا
مَا نَسْتَحِبُّهُ مِنْ تَرْتِيبِ أَوْرَادِ الْعَالِمِ.
Inilah yang kami sukai dalam penataan wirid seorang alim.
الثَّالِثُ:
الْمُتَعَلِّمُ، وَالِاشْتِغَالُ بِالتَّعَلُّمِ أَفْضَلُ مِنَ الِاشْتِغَالِ
بِالْأَذْكَارِ وَالنَّوَافِلِ؛ فَحُكْمُهُ حُكْمُ الْعَالِمِ فِي تَرْتِيبِ
الْأَوْرَادِ، وَلٰكِنْ يَشْتَغِلُ بِالِاسْتِفَادَةِ حَيْثُ يَشْتَغِلُ
الْعَالِمُ بِالْإِفَادَةِ، وَبِالتَّعْلِيقِ وَالنَّسْخِ حَيْثُ يَشْتَغِلُ
الْعَالِمُ بِالتَّصْنِيفِ، وَيُرَتِّبُ أَوْقَاتَهُ كَمَا ذَكَرْنَا.
Ketiga: penuntut ilmu. Sibuk dengan belajar lebih utama
daripada sibuk dengan zikir-zikir dan salat-salat sunnah. Maka hukumnya dalam
penataan wirid sama seperti hukum seorang alim, hanya saja ia sibuk mengambil
manfaat ilmu di tempat alim memberi manfaat, dan sibuk mencatat dan menyalin di
tempat alim menulis karya. Ia pun menata waktunya sebagaimana telah kami
jelaskan.
وَكُلُّ
مَا ذَكَرْنَاهُ فِي فَضِيلَةِ التَّعَلُّمِ وَالْعِلْمِ مِنْ كِتَابِ الْعِلْمِ
يَدُلُّ عَلَى أَنَّ ذٰلِكَ أَفْضَلُ، بَلْ إِنْ لَمْ يَكُنْ مُتَعَلِّمًا عَلَى
مَعْنَى أَنَّهُ يُعَلِّقُ وَيُحَصِّلُ لِيَصِيرَ عَالِمًا، بَلْ كَانَ مِنَ
الْعَوَامِّ، فَحُضُورُهُ مَجَالِسَ الذِّكْرِ وَالْوَعْظِ وَالْعِلْمِ أَفْضَلُ
مِنِ اشْتِغَالِهِ بِالْأَوْرَادِ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا بَعْدَ الصُّبْحِ وَبَعْدَ
الطُّلُوعِ وَفِي سَائِرِ الْأَوْقَاتِ.
Semua yang telah kami sebutkan tentang keutamaan belajar dan
ilmu dalam Kitab Ilmu menunjukkan bahwa hal itu lebih utama. Bahkan jika ia
bukan seorang penuntut ilmu dalam arti belajar untuk menjadi alim, melainkan
orang awam, maka hadir di majelis zikir, nasihat, dan ilmu lebih utama baginya
daripada sibuk dengan wirid-wirid yang telah kami sebutkan setelah Subuh,
setelah matahari terbit, dan pada waktu-waktu lain.
فَفِي
حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه أَنَّ حُضُورَ مَجْلِسِ ذِكْرٍ أَفْضَلُ مِنْ
صَلَاةِ أَلْفِ رَكْعَةٍ، وَشُهُودِ أَلْفِ جَنَازَةٍ، وَعِيَادَةِ أَلْفِ
مَرِيضٍ. وَقَالَ صلى الله عليه وسلم: إِذَا رَأَيْتُمْ رِيَاضَ الْجَنَّةِ
فَارْتَعُوا فِيهَا، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ؟
قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ.
Dalam hadis Abu Dzar رضي الله عنه disebutkan bahwa
menghadiri majelis zikir lebih utama daripada salat seribu rakaat, menghadiri
seribu جنازة,
dan menjenguk seribu orang sakit. Beliau ﷺ juga bersabda: “Jika kalian melihat
taman-taman surga, maka berpadanglah di sana.” Ditanyakan: “Wahai Rasulullah,
apa taman-taman surga itu?” Beliau menjawab: “Majelis-majelis zikir.”
وَقَالَ
كَعْبُ الْأَحْبَارِ رضي الله عنه: لَوْ أَنَّ ثَوَابَ مَجَالِسِ الْعُلَمَاءِ
بَدَا لِلنَّاسِ لَقَاتَلُوا عَلَيْهِ حَتَّى يَتْرُكَ كُلُّ ذِي إِمَارَةٍ
إِمَارَتَهُ وَكُلُّ ذِي سُوقٍ سُوقَهُ.
Ka‘b al-Aḥbār رضي الله عنه berkata: “Seandainya pahala majelis para
ulama tampak bagi manusia, niscaya mereka akan memperebutkannya sampai setiap
orang yang punya kekuasaan meninggalkan kekuasaannya dan setiap pedagang
meninggalkan pasarnya.”
وَقَالَ
عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رضي الله عنه: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَخْرُجُ مِنْ
مَنْزِلِهِ وَعَلَيْهِ مِنَ الذُّنُوبِ مِثْلُ جِبَالِ تِهَامَةَ، فَإِذَا سَمِعَ
الْعَالِمَ خَافَ وَاسْتَرْجَعَ عَنْ ذُنُوبِهِ وَانْصَرَفَ إِلَى مَنْزِلِهِ
وَلَيْسَ عَلَيْهِ ذَنْبٌ. فَلَا تُفَارِقُوا مَجَالِسَ الْعُلَمَاءِ، فَإِنَّ
اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَخْلُقْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ تُرْبَةً أَكْرَمَ
مِنْ مَجَالِسِ الْعُلَمَاءِ.
Umar bin Khattab رضي الله عنه berkata: “Sungguh, seseorang keluar dari
rumahnya dengan dosa sebanyak gunung-gunung Tihamah. Lalu jika ia mendengar
seorang alim, ia takut, memohon ampun atas dosa-dosanya, dan kembali ke
rumahnya tanpa satu dosa pun.” Karena itu janganlah kalian meninggalkan majelis
para ulama, sebab Allah عز وجل
tidak menciptakan di muka bumi ini tanah yang lebih mulia daripada majelis para
ulama.
وَقَالَ
رَجُلٌ لِلْحَسَنِ رحمه الله: أَشْكُو إِلَيْكَ قَسْوَةَ قَلْبِي، فَقَالَ:
أَدْنِهِ مِنْ مَجَالِسِ الذِّكْرِ.
Seorang lelaki berkata kepada Al-Hasan رحمه الله: “Aku mengadukan
kepadamu kerasnya hatiku.” Ia menjawab: “Dekatkanlah ia ke majelis-majelis
zikir.”
وَرَأَى
عَمَّارُ الزَّاهِدِيُّ مِسْكِينَةَ الطُّفَاوِيَّةِ فِي الْمَنَامِ، وَكَانَتْ
مِنَ الْمُوَاظِبَاتِ عَلَى حِلَقِ الذِّكْرِ، فَقَالَ: مَرْحَبًا يَا
مِسْكِينَةُ. فَقَالَتْ: هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ، ذَهَبَتِ الْمِسْكَنَةُ وَجَاءَ
الْغِنَى. فَقَالَ: هَيَّهْ. فَقَالَتْ: مَا تَسْأَلُ عَمَّنْ أُبِيحَ لَهَا
الْجَنَّةُ بِحَذَافِيرِهَا؟ قَالَ: وَبِمَ ذٰلِكَ؟ قَالَتْ: بِمُجَالَسَةِ أَهْلِ
الذِّكْرِ.
Amr al-Zāhidī bermimpi bertemu Miskinah ath-Thufāwiyah, dan
ia termasuk orang yang tekun hadir dalam حلقات zikir. Ia berkata: “Selamat datang, wahai
Miskinah.” Ia menjawab: “Jauh, jauh; kemiskinan telah pergi dan kekayaan telah
datang.” Ia berkata: “Lalu bagaimana?” Ia berkata: “Mengapa engkau bertanya
tentang orang yang telah dihalalkan baginya surga seluruhnya?” Ia bertanya:
“Dengan sebab apa?” Ia menjawab: “Dengan duduk bersama أهل الذكر.”
وَعَلَى
الْجُمْلَةِ فَمَا يَنْحَلُّ عَنِ الْقَلْبِ مِنْ عُقَدِ حُبِّ الدُّنْيَا
بِقَوْلِ وَاعِظٍ حَسَنِ الْكَلَامِ زَكِيِّ السِّيرَةِ أَشْرَفُ وَأَنْفَعُ مِنْ
رَكَعَاتٍ كَثِيرَةٍ مَعَ اشْتِمَالِ الْقَلْبِ عَلَى حُبِّ الدُّنْيَا.
Secara keseluruhan, sesuatu yang melepaskan ikatan cinta
dunia dari hati melalui ucapan seorang pemberi nasihat yang bagus tutur katanya
dan suci perilakunya, itu lebih mulia dan lebih bermanfaat daripada banyak
rakaat yang dilakukan sementara hati masih dipenuhi cinta dunia.
الرَّابِعُ:
الْمُحْتَرِفُ الَّذِي يَحْتَاجُ إِلَى الْكَسْبِ لِعِيَالِهِ، فَلَيْسَ لَهُ أَنْ
يُضَيِّعَ الْعِيَالَ وَيَسْتَغْرِقَ الْأَوْقَاتِ فِي الْعِبَادَاتِ، بَلْ
وِرْدُهُ فِي وَقْتِ الصِّنَاعَةِ حُضُورُ السُّوقِ وَالِاشْتِغَالُ بِالْكَسْبِ.
Keempat: orang yang berprofesi dan perlu mencari nafkah
untuk keluarganya. Ia tidak boleh menelantarkan keluarga lalu menghabiskan
waktu untuk ibadah semata. Wiridnya pada waktu bekerja adalah hadir di pasar
dan sibuk mencari penghasilan.
وَلٰكِنْ
يَنْبَغِي أَنْ لَا يَنْسَى ذِكْرَ اللَّهِ تَعَالَى فِي صِنَاعَتِهِ، بَلْ
يُوَاظِبُ عَلَى التَّسْبِيحَاتِ وَالْأَذْكَارِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، فَإِنَّ
ذٰلِكَ يُمْكِنُ أَنْ يُجْمَعَ إِلَى الْعَمَلِ. وَإِنَّمَا لَا يَتَيَسَّرُ مَعَ
الْعَمَلِ الصَّلَاةُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ نَاظُورًا، فَإِنَّهُ لَا يَعْجِزُ عَنْ
إِقَامَةِ أَوْرَادِ الصَّلَاةِ مَعَهُ.
Namun, ia jangan sampai lupa zikir kepada Allah Ta‘ala dalam
pekerjaannya. Hendaknya ia tetap menekuni tasbih, zikir, dan membaca Al-Qur’an,
karena itu bisa digabung dengan pekerjaan. Yang tidak mudah digabung dengan
pekerjaan hanyalah salat, kecuali bila ia seorang penjaga/pengawas, maka ia
tidak kesulitan menegakkan wirid-wirid salat bersamanya.
ثُمَّ
مَهْمَا فَرَغَ مِنْ كِفَايَتِهِ يَنْبَغِي أَنْ يَعُودَ إِلَى تَرْتِيبِ
الْأَوْرَادِ، وَإِنْ دَاوَمَ عَلَى الْكَسْبِ وَتَصَدَّقَ بِمَا فَضَلَ عَنْ
حَاجَتِهِ فَهُوَ أَفْضَلُ مِنْ سَائِرِ الْأَوْرَادِ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا؛
لِأَنَّ الْعِبَادَاتِ الْمُتَعَدِّيَةَ فَائِدَتُهَا أَنْفَعُ مِنَ اللَّازِمَةِ،
وَالصَّدَقَةَ وَالْكَسْبَ عَلَى هٰذِهِ النِّيَّةِ عِبَادَةٌ لَهُ فِي نَفْسِهِ
تُقَرِّبُهُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، ثُمَّ يَحْصُلُ بِهِ فَائِدَةٌ لِلْغَيْرِ
وَتَتَجَذَّبُ إِلَيْهِ بَرَكَاتُ دَعَوَاتِ الْمُسْلِمِينَ وَيَتَضَاعَفُ بِهِ
الْأَجْرُ.
Setelah ia selesai dari kebutuhan hidupnya, hendaknya ia
kembali kepada penataan wirid. Jika ia terus mencari penghasilan dan bersedekah
dari kelebihan kebutuhannya, itu lebih utama daripada wirid-wirid lain yang
telah kami sebutkan; karena ibadah yang manfaatnya menular lebih bermanfaat
daripada ibadah yang manfaatnya hanya untuk diri sendiri. Sedekah dan mencari
nafkah dengan niat seperti ini adalah ibadah bagi dirinya sendiri yang
mendekatkannya kepada Allah Ta‘ala, lalu dari situ diperoleh manfaat bagi orang
lain, turun berkah doa kaum muslimin kepadanya, dan pahalanya pun berlipat
ganda.
الْخَامِسُ:
الْوَالِي، مِثْلُ الْإِمَامِ وَالْقَاضِي وَالْمُتَوَلِّي فِي أُمُورِ
الْمُسْلِمِينَ، فَقِيَامُهُ بِحَوَائِجِ الْمُسْلِمِينَ وَأَغْرَاضِهِمْ عَلَى
وِفْقِ الشَّرْعِ وَقَصْدِ الْإِخْلَاصِ أَفْضَلُ مِنَ الْأَوْرَادِ
الْمَذْكُورَةِ.
Kelima: penguasa, seperti imam, qadhi, dan orang yang
mengurusi urusan kaum muslimin. Ia menangani kebutuhan dan kepentingan kaum
muslimin sesuai syariat dan dengan niat ikhlas; itu lebih utama daripada
wirid-wirid yang disebutkan.
فَحَقُّهُ
أَنْ يَشْتَغِلَ بِحُقُوقِ النَّاسِ نَهَارًا وَيَقْتَصِرَ عَلَى الْمَكْتُوبَةِ
وَيُقِيمَ الْأَوْرَادَ الْمَذْكُورَةَ بِاللَّيْلِ، كَمَا كَانَ عُمَرُ رضي الله
عنه يَفْعَلُ، إِذْ قَالَ: مَا لِي وَلِلنَّوْمِ؟ فَلَوْ نِمْتُ بِالنَّهَارِ
ضَيَّعْتُ الْمُسْلِمِينَ، وَلَوْ نِمْتُ بِاللَّيْلِ ضَيَّعْتُ نَفْسِي.
Karena itu tugasnya ialah menyibukkan diri dengan hak-hak
manusia pada siang hari, cukup dengan salat fardu, dan menegakkan wirid-wirid
yang disebutkan pada malam hari, sebagaimana dahulu dilakukan Umar رضي الله عنه.
Ia berkata: “Apa urusanku dengan tidur? Jika aku tidur pada siang hari, aku
akan menyia-nyiakan kaum muslimin; dan jika aku tidur pada malam hari, aku akan
menyia-nyiakan diriku sendiri.”
وَقَدْ
فُهِمَ بِمَا ذَكَرْنَاهُ أَنَّهُ يُقَدَّمُ عَلَى الْعِبَادَاتِ الْبَدَنِيَّةِ
أَمْرَانِ: أَحَدُهُمَا الْعِلْمُ، وَالْآخَرُ الرِّفْقُ بِالْمُسْلِمِينَ؛
لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنَ الْعِلْمِ وَفِعْلِ الْمَعْرُوفِ عَمَلٌ فِي نَفْسِهِ
وَعِبَادَةٌ تَفْضُلُ سَائِرَ الْعِبَادَاتِ لِتَعَدِّي فَائِدَتِهِ وَانْتِشَارِ
جَدْوَاهُ، فَكَانَا مُقَدَّمَيْنِ عَلَيْهَا.
Dari apa yang telah kami sebutkan dapat dipahami bahwa di
atas ibadah-ibadah badan didahulukan dua perkara: ilmu dan berlemah lembut
kepada kaum muslimin. Sebab masing-masing dari ilmu dan melakukan kebaikan
adalah amal pada dirinya sendiri dan ibadah yang lebih utama daripada
ibadah-ibadah lain karena manfaatnya meluas dan faedahnya menyebar. Maka
keduanya didahulukan atas ibadah-ibadah tersebut.
السَّادِسُ:
الْمُوَحِّدُ الْمُسْتَغْرِقُ بِالْوَاحِدِ الصَّمَدِ الَّذِي أَصْبَحَ وَهَمُّهُ
هَمٌّ وَاحِدٌ؛ فَلَا يُحِبُّ إِلَّا اللَّهَ تَعَالَى، وَلَا يَخَافُ إِلَّا
مِنْهُ، وَلَا يَتَوَقَّعُ الرِّزْقَ مِنْ غَيْرِهِ، وَلَا يَنْظُرُ فِي شَيْءٍ
إِلَّا وَيَرَى اللَّهَ تَعَالَى فِيهِ.
Keenam: orang yang bertauhid, yang tenggelam dalam Yang Maha
Esa lagi Maha Tempat Bergantung, sehingga seluruh kepentingannya hanya satu: ia
tidak mencintai selain Allah Ta‘ala, tidak takut selain kepada-Nya, tidak
mengharapkan rezeki dari selain-Nya, dan tidak memandang sesuatu kecuali ia
melihat Allah Ta‘ala di dalamnya.
فَمَنْ
ارْتَفَعَتْ رُتْبَتُهُ إِلَى هٰذِهِ الدَّرَجَةِ لَمْ يَفْتَقِرْ إِلَى تَنْوِيعِ
الْأَوْرَادِ وَاخْتِلَافِهَا، بَلْ كَانَ وِرْدُهُ بَعْدَ الْمَكْتُوبَاتِ
وَاحِدًا وَهُوَ حُضُورُ الْقَلْبِ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى فِي كُلِّ حَالٍ.
Siapa yang derajatnya telah naik sampai tingkat ini, ia
tidak lagi memerlukan variasi dan perbedaan wirid. Wiridnya sesudah salat fardu
hanya satu: hadirnya hati bersama Allah Ta‘ala dalam setiap keadaan.
فَلَا
يَخْطُرُ بِقُلُوبِهِمْ أَمْرٌ وَلَا يَقْرَعُ سَمْعَهُمْ قَارِعٌ وَلَا يَلُوحُ
لِأَبْصَارِهِمْ لَائِحٌ إِلَّا كَانَ لَهُمْ فِيهِ عِبْرَةٌ وَفِكْرٌ وَمَزِيدٌ؛
فَلَا مُحَرِّكَ لَهُمْ وَلَا مُسْكِنَ إِلَّا اللَّهُ تَعَالَى. فَهَؤُلَاءِ
جَمِيعُ أَحْوَالِهِمْ تَصْلُحُ أَنْ تَكُونَ سَبَبًا لِازْدِيَادِهِمْ، فَلَا
تَتَمَيَّزُ عِنْدَهُمْ عِبَادَةٌ عَنْ عِبَادَةٍ.
Tidak terlintas dalam hati mereka suatu perkara, tidak
terdengar oleh telinga mereka suatu suara, dan tidak tampak di hadapan mata
mereka sesuatu pun, melainkan semuanya menjadi pelajaran, bahan pikir, dan
tambahan bagi mereka. Tidak ada yang menggerakkan dan tidak ada yang
menenangkan mereka selain Allah Ta‘ala. Seluruh keadaan mereka layak menjadi
sebab bertambahnya kedekatan mereka, sehingga pada mereka tidak ada ibadah yang
dibedakan dari ibadah yang lain.
وَهُمُ
الَّذِينَ فَرُّوا إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: {فَفِرُّوا
إِلَى اللَّهِ}، وَتَحَقَّقَ فِيهِمْ قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَإِذِ
اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ
يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ}، وَإِلَيْهِ الْإِشَارَةُ بِقَوْلِهِ:
{إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ}.
Merekalah orang-orang yang lari menuju Allah عز وجل,
sebagaimana firman-Nya: “Maka larilah kalian kepada Allah.” Pada merekalah
benar-benar terwujud firman-Nya: “Dan ketika kalian menjauh dari mereka dan
dari apa yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah ke dalam gua,
niscaya Tuhan kalian akan melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian.” Dan kepada
merekalah isyarat firman-Nya: “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku; Dia akan
memberi petunjuk kepadaku.”
وَهٰذِهِ
مُنْتَهَى دَرَجَاتِ الصِّدِّيقِينَ، وَلَا وُصُولَ إِلَيْهَا إِلَّا بَعْدَ
تَرْتِيبِ الْأَوْرَادِ وَالْمُوَاظَبَةِ عَلَيْهَا دَهْرًا طَوِيلًا، فَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَغْتَرَّ الْمُرِيدُ بِمَا سَمِعَهُ مِنْ ذٰلِكَ فَيَدَّعِيَهُ
لِنَفْسِهِ وَيَفْتُرَ عَنْ وَظَائِفِ عِبَادَتِهِ.
Inilah puncak derajat para siddiqin. Tidak ada jalan sampai
kepadanya kecuali setelah menata wirid dan menekuninya dalam waktu yang
panjang. Maka janganlah seorang murid tertipu oleh apa yang ia dengar tentang
hal itu lalu mengaku-akuinya untuk dirinya sendiri dan menjadi malas terhadap
tugas-tugas ibadahnya.
فَذٰلِكَ
عَلامَتُهُ أَنْ لَا يَهْجِسَ فِي قَلْبِهِ وَسْوَاسٌ، وَلَا يَخْطُرَ فِي
قَلْبِهِ مَعْصِيَةٌ، وَلَا تُرْعِجَهُ هَوَاجِمُ الْأَهْوَالِ، وَلَا
تَسْتَفِزَّهُ عَظَائِمُ الْأَشْغَالِ. وَأَنَّى تُرْزَقُ هٰذِهِ الرُّتْبَةُ
لِكُلِّ أَحَدٍ؟ فَتَعَيَّنَ عَلَى الْكَافَّةِ تَرْتِيبُ الْأَوْرَادِ كَمَا
ذَكَرْنَا.
Tandanya ialah bahwa tidak lagi terbersit waswas dalam
hatinya, tidak terlintas maksiat dalam hatinya, tidak terguncang oleh serbuan
ketakutan, dan tidak terprovokasi oleh pekerjaan-pekerjaan besar. Bagaimana
mungkin derajat ini dianugerahkan kepada setiap orang? Karena itu, penataan
wirid sebagaimana telah kami sebutkan menjadi kewajiban bagi semua orang.
وَجَمِيعُ
مَا ذَكَرْنَاهُ طُرُقٌ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، قَالَ تَعَالَى: {قُلْ كُلٌّ
يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلًا}،
فَكُلُّهُمْ مُهْتَدُونَ، وَبَعْضُهُمْ أَهْدَى مِنْ بَعْضٍ.
Semua yang telah kami sebutkan adalah jalan-jalan menuju
Allah Ta‘ala. Allah Ta‘ala berfirman: “Katakanlah, setiap orang beramal menurut
pembawaannya masing-masing; maka Tuhan kalian lebih mengetahui siapa yang lebih
benar jalannya.” Mereka semua berada di atas petunjuk, hanya sebagian lebih
mendapat petunjuk daripada sebagian yang lain.
وَفِي
الْخَبَرِ أَنَّ الْإِيمَانَ ثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ وَثَلَاثُمِائَةِ طَرِيقَةٍ،
مَنْ لَقِيَ اللَّهَ تَعَالَى بِالشَّهَادَةِ عَلَى طَرِيقٍ مِنْهَا دَخَلَ
الْجَنَّةَ. وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: الْإِيمَانُ ثَلَاثُمِائَةٍ وَثَلَاثَةَ
عَشَرَ خُلُقًا بِعَدَدِ الرُّسُلِ، فَكُلُّ مُؤْمِنٍ عَلَى خُلُقٍ مِنْهَا فَهُوَ
سَالِكُ الطَّرِيقِ إِلَى اللَّهِ.
Dalam khabar disebutkan bahwa iman memiliki tiga ratus tiga
puluh tiga jalan. Siapa yang bertemu Allah Ta‘ala dengan bersaksi di atas salah
satu jalan itu, ia masuk surga. Sebagian ulama berkata: iman terdiri dari tiga
ratus tiga belas akhlak, sebanyak bilangan para rasul. Setiap mukmin yang
memiliki salah satu akhlak itu, maka ia sedang menempuh jalan menuju Allah.
فَإِذَنْ،
النَّاسُ وَإِنِ اخْتَلَفَتْ طُرُقُهُمْ فِي الْعِبَادَةِ، فَكُلُّهُمْ عَلَى
الصَّوَابِ؛ أُولٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ
الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ، وَإِنَّمَا يَتَفَاوَتُونَ فِي دَرَجَاتِ
الْقُرْبِ لَا فِي أَصْلِهِ.
Maka manusia, meskipun jalan ibadah mereka berbeda-beda,
semuanya berada di atas kebenaran. Mereka itulah yang berdoa dan mencari
wasilah kepada Tuhan mereka; siapa di antara mereka yang paling dekat. Mereka
hanya berbeda dalam derajat kedekatan, bukan dalam asal kedekatan itu sendiri.
وَأَقْرَبُهُمْ
إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَعْرَفُهُمْ بِهِ، وَأَعْرَفُهُمْ بِهِ لَا بُدَّ وَأَنْ
يَكُونَ أَعْبَدَهُمْ لَهُ؛ فَمَنْ عَرَفَهُ لَمْ يَعْبُدْ غَيْرَهُ.
Yang paling dekat kepada Allah Ta‘ala adalah yang paling
mengenal-Nya. Dan yang paling mengenal-Nya pasti menjadi yang paling banyak
beribadah kepada-Nya. Siapa yang mengenal-Nya, ia tidak akan beribadah kepada
selain-Nya.
وَالْأَصْلُ
فِي الْأَوْرَادِ فِي حَقِّ كُلِّ صِنْفٍ مِنَ النَّاسِ الْمُوَاظَبَةُ؛ فَإِنَّ
الْمُرَادَ مِنْهُ تَغْيِيرُ الصِّفَاتِ الْبَاطِنَةِ، وَآحَادُ الْأَعْمَالِ
يَقِلُّ أَثَرُهَا بَلْ لَا يُحَسُّ بِآثَارِهَا، وَإِنَّمَا يَتَرَتَّبُ
الْأَثَرُ عَلَى الْمَجْمُوعِ.
Pokok dalam wirid bagi setiap golongan manusia ialah
kontinuitas. Sebab yang dimaksud adalah mengubah sifat-sifat batin. Amal-amal
yang dilakukan satu-satu pengaruhnya kecil, bahkan tidak terasa bekasnya.
Pengaruh itu muncul dari keseluruhan yang berulang.
فَإِذَا
لَمْ يُعَقِّبِ الْعَمَلُ الْوَاحِدُ أَثَرًا مَحْسُوسًا، وَلَمْ يُرْدَفْ بِثَانٍ
وَثَالِثٍ عَلَى الْقُرْبِ، انْمَحَى الْأَثَرُ الْأَوَّلُ. وَهُوَ كَالْفَقِيهِ
يُرِيدُ أَنْ يَكُونَ فَقِيهَ النَّفْسِ، فَإِنَّهُ لَا يَصِيرُ فَقِيهَ النَّفْسِ
إِلَّا بِتَكْرَارٍ كَثِيرٍ.
Jika satu amal tidak menimbulkan bekas yang terasa, lalu
tidak disusul oleh yang kedua dan ketiga secara berdekatan, maka bekas yang
pertama akan hilang. Seperti seorang faqih yang ingin menjadi faqih jiwa; ia
tidak akan menjadi faqih jiwa kecuali dengan pengulangan yang banyak.
فَلَوْ
بَالَغَ لَيْلَةً فِي التَّكْرَارِ وَتَرَكَ شَهْرًا أَوْ أُسْبُوعًا ثُمَّ عَادَ
وَبَالَغَ لَيْلَةً لَمْ يُؤَثِّرْ هٰذَا فِيهِ، وَلَوْ وُزِّعَ ذٰلِكَ الْقَدْرُ
عَلَى اللَّيَالِي الْمُتَوَاصِلَةِ لَأَثَّرَ فِيهِ.
Seandainya ia bersungguh-sungguh mengulanginya pada satu
malam lalu meninggalkannya selama sebulan atau seminggu, kemudian kembali dan
bersungguh-sungguh satu malam lagi, itu tidak akan memberi pengaruh. Tetapi
jika kadar itu dibagi pada malam-malam yang berkesinambungan, niscaya ia akan
berbekas padanya.
وَلِهٰذَا
السِّرِّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى
اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ. وَسُئِلَتْ عَائِشَةُ رضي الله عنها عَنْ
عَمَلِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَتْ: كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً،
وَكَانَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ.
Karena rahasia inilah Rasulullah ﷺ bersabda: “Amal yang paling dicintai Allah
adalah yang paling kontinu, walaupun sedikit.” Aisyah رضي الله عنها ditanya tentang amal
Rasulullah ﷺ,
lalu ia berkata: “Amalnya itu terus-menerus. Jika beliau melakukan suatu amal,
beliau menetapkannya.”
وَلِذٰلِكَ
قَالَ صلى الله عليه وسلم: مَنْ عَوَّدَهُ اللَّهُ عِبَادَةً فَتَرَكَهَا
مَلَالَةً مَقَتَهُ اللَّهُ. وَهٰذَا كَانَ السَّبَبَ فِي صَلَاتِهِ بَعْدَ
الْعَصْرِ تَدَارُكًا لِمَا فَاتَهُ مِنْ رَكْعَتَيْنِ شَغَلَهُ عَنْهُمَا
الْوُفْدُ، ثُمَّ لَمْ يَزَلْ بَعْدَ ذٰلِكَ يُصَلِّيهِمَا بَعْدَ الْعَصْرِ،
وَلٰكِنْ فِي مَنْزِلِهِ لَا فِي الْمَسْجِدِ كَيْلَا يُقْتَدَى بِهِ.
Karena itu beliau ﷺ bersabda: “Siapa yang Allah biasakan dengan suatu ibadah lalu
ia meninggalkannya karena bosan, Allah murka kepadanya.” Inilah sebabnya beliau
salat sesudah Asar untuk menutupi dua rakaat yang terluput karena tamu-tamu
yang menyibukkannya. Setelah itu beliau terus salat dua rakaat itu setelah
Asar, tetapi di rumahnya, bukan di masjid, agar tidak dijadikan ikutan.
رَوَتْهُ
عَائِشَةُ وَأُمُّ سَلَمَةَ رضي الله عنهما. فَإِنْ قُلْتَ: فَهَلْ لِغَيْرِهِ
أَنْ يَقْتَدِيَ بِهِ فِي ذٰلِكَ، مَعَ أَنَّ الْوَقْتَ وَقْتُ كَرَاهِيَةٍ؟
فَاعْلَمْ أَنَّ الْمَعَانِيَ الثَّلَاثَةَ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا فِي
الْكَرَاهِيَةِ مِنَ الِاحْتِرَازِ عَنْ التَّشَبُّهِ بِعَبَدَةِ الشَّمْسِ أَوِ
السُّجُودِ وَقْتَ ظُهُورِ قَرْنِ الشَّيْطَانِ أَوِ الِاسْتِرَاحَةِ عَنِ
الْعِبَادَةِ حَذَرًا مِنَ الْمَلَلِ لَا يَتَحَقَّقُ فِي حَقِّهِ، فَلَا يُقَاسُ
عَلَيْهِ فِي ذٰلِكَ غَيْرُهُ، وَيَشْهَدُ لِذٰلِكَ فِعْلُهُ فِي الْمَنْزِلِ
حَتَّى لَا يُقْتَدَى بِهِ صلى الله عليه وسلم.
Hal itu diriwayatkan oleh Aisyah dan Ummu Salamah رضي الله عنهما.
Jika engkau bertanya: apakah selain beliau boleh menirunya dalam hal itu
padahal waktu tersebut adalah waktu yang dimakruhkan? Ketahuilah bahwa tiga
alasan makruh yang telah kami sebutkan — yaitu menghindari kemiripan dengan
penyembah matahari, atau sujud ketika tanduk setan tampak, atau beristirahat
dari ibadah karena takut bosan — tidak berlaku pada beliau. Karena itu orang
lain tidak dapat diqiyaskan kepadanya dalam hal tersebut. Dan yang menjadi
saksi adalah bahwa beliau melakukannya di rumah agar tidak diikuti orang dalam
tindakan itu.