Penjelasan tentang Sebab-Sebab yang Memudahkan Qiyamullail

بَيَانُ الْأَسْبَابِ الَّتِي بِهَا يَتَيَسَّرُ قِيَامُ اللَّيْلِ

Penjelasan tentang sebab-sebab yang dengannya qiyamul-lail menjadi mudah.

اِعْلَمْ أَنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ عَسِيرٌ عَلَى الْخَلْقِ، إِلَّا عَلَى مَنْ وُفِّقَ لِلْقِيَامِ بِشُرُوطِهِ الْمُيَسِّرَةِ لَهُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا.

Ketahuilah bahwa qiyamul-lail itu berat bagi manusia, kecuali bagi orang yang diberi taufik untuk melakukannya dengan syarat-syarat yang memudahkannya, baik lahir maupun batin.

فَأَمَّا الظَّاهِرَةُ فَأَرْبَعَةُ أُمُورٍ.

Adapun sebab-sebab lahiriah, ada empat perkara.

الْأَوَّلُ: أَنْ لَا يُكْثِرَ الْأَكْلَ، فَيُكْثِرَ الشُّرْبَ، فَيَغْلِبَهُ النَّوْمُ، وَتَثْقُلَ عَلَيْهِ الْقِيَامَةُ.

Pertama: jangan banyak makan. Karena jika banyak makan, ia akan banyak minum. Lalu kantuk akan mengalahkannya, dan bangun malam menjadi berat baginya.

كَانَ بَعْضُ الشُّيُوخِ يَقِفُ عَلَى الْمَائِدَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ، وَيَقُولُ: يَا مَعْشَرَ الْمُرِيدِينَ، لَا تَأْكُلُوا كَثِيرًا فَتَشْرَبُوا كَثِيرًا، فَتَرْقُدُوا كَثِيرًا، فَتَتَحَسَّرُوا عِنْدَ الْمَوْتِ كَثِيرًا.

Sebagian syekh biasa berdiri di dekat meja makan setiap malam dan berkata: “Wahai para murid, jangan banyak makan, nanti kalian banyak minum. Kalian akan banyak tidur. Lalu kalian akan banyak menyesal ketika mati.”

وَهٰذَا هُوَ الْأَصْلُ الْكَبِيرُ، وَهُوَ تَخْفِيفُ الْمِعْدَةِ عَنْ ثِقْلِ الطَّعَامِ.

Inilah pokok besar, yaitu meringankan perut dari beratnya makanan.

الثَّانِي: أَنْ لَا يُتْعِبَ نَفْسَهُ بِالنَّهَارِ فِي الْأَعْمَالِ الَّتِي تَعْيَا بِهَا الْجَوَارِحُ وَتَضْعُفُ بِهَا الْأَعْصَابُ، فَإِنَّ ذٰلِكَ أَيْضًا مَجْلَبَةٌ لِلنَّوْمِ.

Kedua: jangan melelahkan diri pada siang hari dengan pekerjaan yang membuat anggota badan letih dan urat-urat menjadi lemah. Sebab itu juga mendatangkan kantuk.

الثَّالِثُ: أَنْ لَا يَتْرُكَ الْقَيْلُولَةَ بِالنَّهَارِ، فَإِنَّهَا سُنَّةٌ لِلِاسْتِعَانَةِ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ.

Ketiga: jangan meninggalkan tidur siang, karena itu adalah sunnah untuk membantu qiyamul-lail.

الرَّابِعُ: أَنْ لَا يَحْتَقِبَ الْأَوْزَارَ بِالنَّهَارِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ مِمَّا يُقَسِّي الْقَلْبَ وَيَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَسْبَابِ الرَّحْمَةِ.

Keempat: jangan memikul dosa-dosa pada siang hari. Karena itu membuat hati keras dan menghalangi hati dari sebab-sebab rahmat.

قَالَ رَجُلٌ لِلْحَسَنِ: يَا أَبَا سَعِيدٍ، إِنِّي أَبِيتُ مُعَافًى وَأُحِبُّ قِيَامَ اللَّيْلِ، وَأُعِدُّ طَهُورِي، فَمَا بَالِي لَا أَقُومُ؟

Seorang lelaki berkata kepada Al-Hasan: “Wahai Abu Sa‘id, aku tidur dalam keadaan sehat. Aku juga mencintai qiyamul-lail. Aku sudah menyiapkan air wudu. Tetapi mengapa aku tidak bisa bangun?”

فَقَالَ: ذُنُوبُكَ قَيَّدَتْكَ.

Al-Hasan menjawab: “Dosa-dosamulah yang membelenggumu.”

وَكَانَ الْحَسَنُ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ إِذَا دَخَلَ السُّوقَ فَسَمِعَ لَغَطَهُمْ وَلَغْوَهُمْ، يَقُولُ: أَظُنُّ أَنَّ لَيْلَ هٰؤُلَاءِ لَيْلُ سُوءٍ، فَإِنَّهُمْ لَا يُقَيْلُونَ.

Al-Hasan رحمه الله, jika masuk pasar dan mendengar hiruk-pikuk serta omongan sia-sia mereka, berkata: “Aku menduga malam orang-orang ini adalah malam yang buruk. Sebab mereka tidak tidur siang.”

وَقَالَ الثَّوْرِيُّ: حُرِمْتُ قِيَامَ اللَّيْلِ خَمْسَةَ أَشْهُرٍ بِذَنْبٍ أَذْنَبْتُهُ.

Ath-Tsauri berkata: “Aku terhalang dari qiyamul-lail selama lima bulan karena satu dosa yang pernah aku lakukan.”

قِيلَ: وَمَا ذٰلِكَ الذَّنْبُ؟

Ditanya: “Apa dosa itu?”

قَالَ: رَأَيْتُ رَجُلًا يَبْكِي، فَقُلْتُ فِي نَفْسِي: هٰذَا مُرَاءٍ.

Ia menjawab: “Aku melihat seorang lelaki menangis. Lalu aku berkata dalam hati: orang ini riya.”

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: دَخَلْتُ عَلَى كَرْزِ بْنِ وَبْرَةَ وَهُوَ يَبْكِي، فَقُلْتُ: أَتَاكَ نَعْيُ بَعْضِ أَهْلِكَ؟

Sebagian orang berkata: “Aku masuk menemui Karrz bin Wabrah, dan ia sedang menangis. Aku berkata: ‘Apakah ada kabar kematian salah seorang keluargamu?’”

فَقَالَ: أَشَدُّ.

Ia menjawab: “Lebih berat dari itu.”

فَقُلْتُ: وَجَعٌ يُؤْلِمُكَ؟

Aku bertanya: “Apakah ada sakit yang menyakitimu?”

قَالَ: أَشَدُّ.

Ia menjawab: “Lebih berat dari itu.”

قُلْتُ: فَمَا ذَاكَ؟

Aku bertanya: “Lalu apa itu?”

قَالَ: بَابِيَ مُغْلَقٌ، وَسِتْرِي مُسْبَلٌ، وَلَمْ أَقْرَأْ حِزْبِي الْبَارِحَةَ، وَمَا ذٰلِكَ إِلَّا بِذَنْبٍ أَحْدَثْتُهُ.

Ia menjawab: “Pintuku tertutup, tabirku terjuntai, dan aku tidak membaca wiridku tadi malam. Itu tidak lain karena dosa yang telah kuperbuat.”

وَهٰذَا لِأَنَّ الْخَيْرَ يَدْعُو إِلَى الْخَيْرِ، وَالشَّرَّ يَدْعُو إِلَى الشَّرِّ، وَالْقَلِيلَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يَجُرُّ إِلَى الْكَثِيرِ.

Sebab kebaikan mengajak kepada kebaikan, dan keburukan mengajak kepada keburukan. Sedikit dari keduanya akan menyeret kepada yang banyak.

وَلِذٰلِكَ قَالَ أَبُو سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيُّ: لَا تَفُوتُ أَحَدًا صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ إِلَّا بِذَنْبٍ.

Karena itu Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Tidaklah seseorang tertinggal salat berjemaah kecuali karena dosa.”

وَكَانَ يَقُولُ: الِاحْتِلَامُ بِاللَّيْلِ عُقُوبَةٌ، وَالْجَنَابَةُ بَعْدَهُ.

Ia juga berkata: “Mimpi basah di malam hari adalah hukuman. Dan junub setelah itu.”

وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: إِذَا صُمْتَ يَا مِسْكِينُ فَانْظُرْ عِنْدَ مَنْ تُفْطِرُ، وَعَلَى أَيِّ شَيْءٍ تُفْطِرُ.

Sebagian ulama berkata: “Jika engkau berpuasa, wahai orang miskin, maka lihatlah dengan siapa engkau berbuka, dan dengan apa engkau berbuka.”

فَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَأْكُلُ أَكْلَةً فَيَنْقَلِبُ قَلْبُهُ عَمَّا كَانَ عَلَيْهِ، وَلَا يَعُودُ إِلَى حَالَتِهِ الْأُولَى.

Sebab seorang hamba bisa saja makan satu suapan, lalu hatinya berbalik dari keadaan semula dan tidak kembali seperti sebelumnya.

فَالذُّنُوبُ كُلُّهَا تُورِثُ قَسْوَةَ الْقَلْبِ، وَتَمْنَعُ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ.

Semua dosa mewariskan kerasnya hati dan menghalangi qiyamul-lail.

وَأَخَصُّهَا بِالتَّأْثِيرِ تَنَاوُلُ الْحَرَامِ.

Yang paling kuat pengaruhnya ialah memakan yang haram.

وَتُؤَثِّرُ اللُّقْمَةُ الْحَلَالُ فِي تَصْفِيَةِ الْقَلْبِ وَتَحْرِيكِهِ إِلَى الْخَيْرِ مَا لَا يُؤَثِّرُ غَيْرُهَا.

Sebaliknya, suapan yang halal punya pengaruh besar dalam membersihkan hati dan menggerakkannya kepada kebaikan, lebih besar daripada yang lain.

وَيَعْرِفُ ذٰلِكَ أَهْلُ الْمُرَاقَبَةِ لِلْقُلُوبِ بِالتَّجْرِبَةِ، بَعْدَ شَهَادَةِ الشَّرْعِ لَهُ.

Hal itu diketahui oleh orang-orang yang mengawasi hati melalui pengalaman, setelah syariat juga menjadi saksinya.

وَلِذٰلِكَ قَالَ بَعْضُهُمْ: كَمْ مِنْ أَكْلَةٍ مَنَعَتْ قِيَامَ لَيْلَةٍ، وَكَمْ مِنْ نَظْرَةٍ مَنَعَتْ قِرَاءَةَ سُورَةٍ.

Karena itu sebagian orang berkata: “Betapa banyak suapan yang menghalangi qiyamul-lail, dan betapa banyak pandangan yang menghalangi membaca satu surah.”

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَأْكُلُ أَكْلَةً أَوْ يَفْعَلُ فِعْلَةً، فَيُحْرَمُ بِهَا قِيَامَ سَنَةٍ.

Bisa jadi seorang hamba makan satu kali atau melakukan satu perbuatan, lalu ia terhalang dari qiyamul-lail selama setahun.

وَكَمَا أَنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، فَكَذٰلِكَ الْفَحْشَاءُ تَنْهَى عَنِ الصَّلَاةِ وَسَائِرِ الْخَيْرَاتِ.

Sebagaimana salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, demikian pula perbuatan keji itu mencegah dari salat dan berbagai kebaikan lainnya.

وَقَالَ بَعْضُ السَّجَّانِينَ: كُنْتُ سَجَّانًا نَيْفًا وَثَلَاثِينَ سَنَةً، أَسْأَلُ كُلَّ مَأْخُوذٍ بِاللَّيْلِ هَلْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ، فَكَانُوا يَقُولُونَ: لَا.

Seorang penjaga penjara berkata: “Aku menjadi sipir selama lebih dari tiga puluh tahun. Setiap orang yang ditangkap pada malam hari aku tanya apakah ia salat Isya berjemaah. Mereka menjawab: tidak.”

وَهٰذَا تَنْبِيهٌ عَلَى أَنَّ بَرَكَةَ الْجَمَاعَةِ تَنْهَى عَنِ تَعَاطِي الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ.

Ini menjadi isyarat bahwa keberkahan berjemaah mencegah dari melakukan perbuatan keji dan mungkar.

وَأَمَّا الْمُيَسِّرَاتُ الْبَاطِنَةُ فَأَرْبَعَةُ أُمُورٍ.

Adapun sebab-sebab batiniah yang memudahkan, ada empat perkara.

الْأَوَّلُ: سَلَامَةُ الْقَلْبِ عَنِ الْحِقْدِ عَلَى الْمُسْلِمِينَ، وَعَنِ الْبِدَعِ، وَعَنْ فُضُولِ هُمُومِ الدُّنْيَا.

Pertama: hati yang bersih dari dendam kepada kaum muslimin, dari bidah, dan dari berlebihan dalam urusan dunia.

فَالْمُسْتَغْرِقُ هَمَّهُ بِتَدْبِيرِ الدُّنْيَا لَا يَتَيَسَّرُ لَهُ الْقِيَامُ.

Orang yang pikirannya tenggelam dalam mengatur dunia tidak mudah baginya qiyamul-lail.

وَإِنْ قَامَ فَلَا يَتَفَكَّرُ فِي صَلَاتِهِ إِلَّا فِي مُهِمَّاتِهِ، وَلَا يَجُولُ إِلَّا فِي وَسَاوِسِهِ.

Kalau pun ia bangun, ia tidak memikirkan salatnya kecuali urusan-urusan dunianya. Yang berputar di kepalanya hanya waswasnya.

وَفِي مِثْلِ ذٰلِكَ يُقَالُ:

Tentang keadaan seperti itu dikatakan:

يُخْبِرُنِي الْبَوَّابُ أَنَّكَ نَائِمٌ
وَأَنْتَ إِذَا اسْتَيْقَظْتَ أَيْضًا فَنَائِمٌ

“Penjaga pintu memberitahuku bahwa engkau tidur.
Dan engkau, jika pun bangun, tetap saja tidur.”

الثَّانِي: خَوْفٌ غَالِبٌ يَلْزَمُ الْقَلْبَ مَعَ قِصَرِ الْأَمَلِ.

Kedua: rasa takut yang kuat, yang menetap di hati bersama pendeknya angan-angan.

فَإِذَا تَفَكَّرَ فِي أَهْوَالِ الْآخِرَةِ وَدَرَكَاتِ جَهَنَّمَ طَارَ نَوْمُهُ وَعَظُمَ حَذَرُهُ.

Jika ia merenungkan kedahsyatan akhirat dan tingkatan-tingkatan neraka Jahanam, lenyaplah kantuknya dan besarlah kewaspadaannya.

كَمَا قَالَ طَاوُوسٌ: إِنَّ ذِكْرَ جَهَنَّمَ طَيَّرَ نَوْمَ الْعَابِدِينَ.

Seperti kata Thawus: “Mengingat Jahanam mengusir tidur para ahli ibadah.”

وَكَمَا حُكِيَ أَنَّ غُلَامًا بِالْبَصْرَةِ اسْمُهُ صُهَيْبٌ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ كُلَّهُ.

Dan sebagaimana diceritakan bahwa ada seorang pemuda di Basrah bernama Suhaib yang salat sepanjang malam.

فَقَالَتْ لَهُ سَيِّدَتُهُ: إِنَّ قِيَامَكَ بِاللَّيْلِ يَضُرُّ بِعَمَلِكَ بِالنَّهَارِ.

Tuannya berkata kepadanya: “Bangun malammu merugikan pekerjaanmu pada siang hari.”

فَقَالَ: إِنَّ صُهَيْبًا إِذَا ذَكَرَ النَّارَ لَا يَأْتِيهِ النَّوْمُ.

Ia menjawab: “Suhaib, bila mengingat neraka, tidak akan datang kepadanya tidur.”

وَقِيلَ لِغُلَامٍ آخَرَ وَهُوَ يَقُومُ اللَّيْلَ كُلَّهُ: مَا لَكَ لَا تَنَامُ؟

Dan kepada pemuda lain yang salat sepanjang malam dikatakan: “Mengapa engkau tidak tidur?”

فَقَالَ: إِذَا ذَكَرْتُ النَّارَ اشْتَدَّ خَوْفِي، وَإِذَا ذَكَرْتُ الْجَنَّةَ اشْتَدَّ شَوْقِي، فَلَا أَقْدِرُ أَنْ أَنَامَ.

Ia menjawab: “Jika aku ingat neraka, ketakutanku semakin kuat. Jika aku ingat surga, kerinduanku semakin kuat. Aku pun tidak mampu tidur.”

وَقَالَ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ:

Dzu an-Nun al-Mishri berkata:

مَنَعَ الْقُرْآنُ بِوَعْدِهِ وَوَعِيدِهِ
مُقَلَ الْعُيُونِ بِلَيْلِهَا أَنْ تَهْجَعَا
فَهَمُّوا عَنِ الْمَلِكِ الْجَلِيلِ كَلَامَهُ
فَرِقَابُهُمْ ذَلَّتْ إِلَيْهِ تَخَضُّعَا

“Al-Qur’an, dengan janji dan ancamannya,
menahan mata-mata yang sedikit tidurnya dari terlelap.
Mereka memahami firman Raja Yang Agung,
maka tengkuk mereka tunduk kepada-Nya dengan hina.”

وَأَنْشَدُوا أَيْضًا:

Mereka juga melantunkan:

يَا طَوِيلَ الرُّقَادِ وَالْغَفَلَاتِ
كَثْرَةُ النَّوْمِ تُورِثُ الْحَسَرَاتِ
إِنَّ فِي الْقَبْرِ إِنْ نَزَلْتَ إِلَيْهِ
لَرُقَادًا يَطُولُ بَعْدَ الْمَمَاتِ
وَمِهَادًا مُمَهَّدًا لَكَ فِيهِ
بِذُنُوبٍ عَمِلْتَ أَوْ حَسَنَاتِ
أَأَمِنْتَ الْبَيَاتَ مِنْ مَلَكِ الْمَوْ
تِ وَكَمْ نَالَ آمِنٌ بِبَيَاتِ

“Wahai orang yang panjang tidur dan lalai,
banyak tidur melahirkan penyesalan.
Sesungguhnya di kubur, bila engkau turun ke sana,
ada tidur panjang setelah kematian.
Dan ada hamparan yang disiapkan bagimu di sana,
oleh dosa yang engkau lakukan atau kebaikan.
Apakah engkau merasa aman bermalam dari malaikat maut?
Betapa banyak orang yang merasa aman justru disergap saat malam.”

وَقَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ:

Ibn al-Mubarak berkata:

إِذَا مَا اللَّيْلُ أَظْلَمَ كَابَدُوهُ
فَيُسْفِرُ عَنْهُمْ وَهُمْ رُكُوعُ
أَطَارَ الْخَوْفُ نَوْمَهُمْ فَقَامُوا
وَأَهْلُ الْأَمْنِ فِي الدُّنْيَا هُجُوعُ

“Jika malam telah gelap, mereka menanggungnya.
Maka pagi menyingsing saat mereka sedang rukuk.
Rasa takut mengusir tidur mereka, lalu mereka bangkit.
Sedangkan orang-orang yang merasa aman di dunia justru terlelap.”

الثَّالِثُ: أَنْ يَعْرِفَ فَضْلَ قِيَامِ اللَّيْلِ بِسَمَاعِ الْآيَاتِ وَالْأَخْبَارِ وَالْآثَارِ، حَتَّى يَسْتَحْكِمَ بِهِ رَجَاؤُهُ وَشَوْقُهُ إِلَى ثَوَابِهِ.

Ketiga: mengetahui keutamaan qiyamul-lail dengan mendengar ayat-ayat, kabar-kabar, dan آثار, sampai harapannya menguat dan kerinduannya kepada pahalanya menjadi kuat.

فَيُهَيِّجُهُ الشَّوْقُ لِطَلَبِ الْمَزِيدِ، وَالرَّغْبَةُ فِي دَرَجَاتِ الْجِنَانِ.

Kerinduan itu mendorongnya mencari tambahan, dan menginginkan derajat-derajat surga.

كَمَا حُكِيَ أَنَّ بَعْضَ الصَّالِحِينَ رَجَعَ مِنْ غَزْوَتِهِ، فَمَهَّدَتِ امْرَأَتُهُ فِرَاشَهَا، وَجَلَسَتْ تَنْتَظِرُهُ.

Sebagaimana diceritakan bahwa seorang saleh pulang dari peperangan. Istrinya telah menyiapkan tempat tidurnya dan duduk menunggunya.

فَدَخَلَ الْمَسْجِدَ، وَلَمْ يَزَلْ يُصَلِّي حَتَّى أَصْبَحَ.

Tetapi ia masuk ke masjid dan terus salat sampai pagi.

فَقَالَتْ لَهُ زَوْجَتُهُ: كُنَّا نَنْتَظِرُكَ مُدَّةً، فَلَمَّا قَدِمْتَ صَلَّيْتَ إِلَى الصَّبَاحِ.

Istrinya berkata kepadanya: “Kami telah menunggumu lama. Tetapi ketika engkau datang, engkau malah salat sampai pagi.”

فَقَالَ: وَاللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أَتَفَكَّرُ فِي حَوْرَاءَ مِنْ حُورِ الْجَنَّةِ طُولَ اللَّيْلِ، فَنَسِيتُ الزَّوْجَةَ وَالْمَنْزِلَ، فَقُمْتُ طُولَ لَيْلَتِي شَوْقًا إِلَيْهَا.

Ia menjawab: “Demi Allah, sepanjang malam aku memikirkan seorang bidadari surga. Aku lupa istri dan rumah. Maka sepanjang malam aku berdiri karena rindu kepadanya.”

الرَّابِعُ، وَهُوَ أَشْرَفُ الْبَوَاعِثِ: الْحُبُّ لِلَّهِ، وَقُوَّةُ الْإِيمَانِ بِأَنَّهُ فِي قِيَامِهِ لَا يَتَكَلَّمُ بِحَرْفٍ إِلَّا وَهُوَ مُنَاجٍ رَبَّهُ، وَهُوَ مُطَّلِعٌ عَلَيْهِ.

Keempat, dan ini adalah pendorong yang paling mulia: cinta kepada Allah dan kuatnya iman, bahwa dalam qiyamnya ia tidak mengucapkan satu huruf pun kecuali ia sedang bermunajat kepada Rabbnya, dan Rabbnya melihatnya.

مَعَ مُشَاهَدَةِ مَا يَخْطُرُ بِقَلْبِهِ، وَأَنَّ تِلْكَ الْخَطَرَاتِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى خِطَابٌ مَعَهُ.

Ia juga menyadari apa yang terlintas di hatinya, dan bahwa lintasan-lintasan itu dari Allah Ta‘ala adalah semacam pembicaraan dengan-Nya.

فَإِذَا أَحَبَّ اللَّهَ تَعَالَى أَحَبَّ لَا مَحَالَةَ الْخَلْوَةَ بِهِ، وَتَلَذَّذَ بِالْمُنَاجَاةِ.

Jika ia mencintai Allah Ta‘ala, niscaya ia akan mencintai berduaan dengan-Nya dan merasakan nikmat bermunajat.

فَتَحْمِلُهُ لَذَّةُ الْمُنَاجَاةِ بِالْحَبِيبِ عَلَى طُولِ الْقِيَامِ.

Maka kenikmatan bermunajat kepada Sang Kekasih akan membawanya untuk berdiri lama.

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَبْعَدَ هٰذِهِ اللَّذَّةُ، إِذْ يَشْهَدُ لَهَا الْعَقْلُ وَالنَّقْلُ.

Kenikmatan ini tidak layak dianggap aneh, karena akal dan riwayat sama-sama menjadi saksi baginya.

فَأَمَّا الْعَقْلُ، فَلْيَعْتَبِرْ حَالَ الْمُحِبِّ لِشَخْصٍ بِسَبَبِ جَمَالِهِ، أَوْ لِمَلِكٍ بِسَبَبِ إِنْعَامِهِ وَأَمْوَالِهِ.

Adapun akal, lihatlah keadaan orang yang mencintai seseorang karena kecantikannya, atau mencintai seorang raja karena pemberian dan hartanya.

أَنَّهُ كَيْفَ يَتَلَذَّذُ بِهِ فِي الْخَلْوَةِ وَمُنَاجَاتِهِ، حَتَّى لَا يَأْتِيَهُ النَّوْمُ طُولَ لَيْلِهِ.

Bagaimana ia bisa menikmati berduaan dan berbicara dengannya, sampai ia tidak tidur sepanjang malam.

فَإِنْ قُلْتَ: إِنَّ الْجَمِيلَ يُتَلَذَّذُ بِالنَّظَرِ إِلَيْهِ، وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُرَى، فَاعْلَمْ.

Jika engkau berkata: “Orang yang dicintai itu dinikmati dengan memandangnya, sedangkan Allah Ta‘ala tidak terlihat,” maka ketahuilah.

أَنَّهُ لَوْ كَانَ الْجَمِيلُ الْمَحْبُوبُ وَرَاءَ سِتْرٍ، أَوْ كَانَ فِي بَيْتٍ مُظْلِمٍ، لَكَانَ الْمُحِبُّ يَتَلَذَّذُ بِمُجَاوَرَتِهِ الْمُجَرَّدَةِ دُونَ النَّظَرِ وَدُونَ الطَّمَعِ فِي أَمْرٍ آخَرَ سِوَاهُ.

Jika yang dicintai itu berada di balik tirai, atau di rumah yang gelap, si pecinta tetap akan menikmati sekadar kedekatannya, tanpa pandangan dan tanpa mengharapkan selain dia.

وَكَانَ يَتَنَعَّمُ بِإِظْهَارِ حُبِّهِ عَلَيْهِ، وَذِكْرِهِ بِلِسَانِهِ بِمَسْمَعٍ مِنْهُ.

Ia pun merasa nikmat dengan menampakkan cintanya kepadanya dan menyebut-nyebutnya dengan lisannya di hadapannya.

وَإِنْ كَانَ ذٰلِكَ أَيْضًا مَعْلُومًا عِنْدَهُ.

Walaupun hal itu juga sudah diketahui olehnya.

فَإِنْ قُلْتَ: إِنَّهُ يَنْتَظِرُ جَوَابَهُ، فَلْيَتَلَذَّذْ بِسَمَاعِ جَوَابِهِ، وَلَيْسَ يَسْمَعُ كَلَامَ اللَّهِ تَعَالَى.

Jika engkau berkata: “Ia menunggu jawaban darinya,” maka ia pun menikmati mendengar jawabannya. Tetapi ia tidak mendengar perkataan Allah Ta‘ala secara langsung.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ إِنْ كَانَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُجِيبُهُ وَيَسْكُتُ عَنْهُ، فَقَدْ بَقِيَتْ لَهُ أَيْضًا لَذَّةٌ فِي عَرْضِ أَحْوَالِهِ عَلَيْهِ، وَرَفْعِ سَرِيرَتِهِ إِلَيْهِ.

Ketahuilah, jika ia tahu bahwa Dia tidak akan menjawabnya dan hanya diam, maka masih ada baginya kenikmatan lain, yaitu mempersembahkan keadaannya kepada-Nya dan mengangkat isi hatinya kepada-Nya.

كَيْفَ وَالْمُوقِنُ يَسْمَعُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى كُلَّ مَا يَرِدُ عَلَى خَاطِرِهِ فِي أَثْنَاءِ مُنَاجَاتِهِ، فَيَتَلَذَّذُ بِهِ؟

Bahkan, orang yang yakin merasakan bahwa dari Allah Ta‘ala ia mendengar setiap sesuatu yang terlintas dalam hatinya saat bermunajat. Maka ia pun menikmatinya.

وَكَذٰلِكَ الَّذِي يَخْلُو بِالْمَلِكِ وَيَعْرِضُ عَلَيْهِ حَوَائِجَهُ فِي جُنْحِ اللَّيْلِ، يَتَلَذَّذُ بِهِ فِي رَجَاءِ إِنْعَامِهِ.

Demikian pula orang yang berduaan dengan raja dan mengajukan kebutuhannya pada malam hari, ia menikmatinya karena berharap pemberian darinya.

وَالرَّجَاءُ فِي حَقِّ اللَّهِ تَعَالَى أَصْدَقُ، وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى وَأَنْفَعُ مِمَّا عِنْدَ غَيْرِهِ.

Padahal harapan kepada Allah Ta‘ala jauh lebih benar. Apa yang ada di sisi Allah lebih baik, lebih kekal, dan lebih bermanfaat daripada yang ada di sisi selain-Nya.

فَكَيْفَ لَا يَتَلَذَّذُ بِعَرْضِ الْحَوَائِجِ عَلَيْهِ فِي الْخَلَوَاتِ؟

Maka bagaimana mungkin ia tidak menikmati mempersembahkan kebutuhan-kebutuhannya kepada-Nya dalam kesunyian?

وَأَمَّا النَّقْلُ، فَيَشْهَدُ لَهُ أَحْوَالُ قُوَّامِ اللَّيْلِ فِي تَلَذُّذِهِمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ، وَاسْتِقْصَارِهِمْ لَهُ.

Adapun riwayat, maka keadaan para ahli qiyam menjadi saksi: mereka menikmati qiyamul-lail dan menganggap malam itu pendek.

كَمَا يَسْتَقْصِرُ الْمُحِبُّ لَيْلَةَ وِصَالِ الْحَبِيبِ.

Sebagaimana seorang pecinta merasa malam pertemuan dengan kekasihnya sangat singkat.

حَتَّى قِيلَ لِبَعْضِهِمْ: كَيْفَ أَنْتَ وَاللَّيْلُ؟

Sampai pernah ditanyakan kepada salah seorang dari mereka: “Bagaimana keadaanmu dengan malam?”

قَالَ: مَا رَاعَيْتُهُ قَطُّ يُرِينِي وَجْهَهُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ، وَمَا تَأَمَّلْتُهُ بَعْدُ.

Ia menjawab: “Aku tak pernah menatapnya. Ia hanya menunjukkan wajahnya lalu pergi. Aku pun tidak sempat merenungkannya lagi.”

وَقَالَ آخَرُ: أَنَا وَاللَّيْلُ فَرَسَا رِهَانٍ، مَرَّةً يَسْبِقُنِي إِلَى الْفَجْرِ، وَمَرَّةً يَقْطَعُنِي عَنِ الْفِكْرِ.

Yang lain berkata: “Aku dan malam seperti dua kuda pacuan. Kadang malam mendahuluiku sampai fajar. Kadang ia memutusku dari berpikir.”

وَقِيلَ لِبَعْضِهِمْ: كَيْفَ اللَّيْلُ عَلَيْكَ؟

Dan kepada seorang yang lain ditanyakan: “Bagaimana malam bagimu?”

فَقَالَ: سَاعَةٌ أَنَا فِيهَا بَيْنَ حَالَتَيْنِ، أَفْرَحُ بِظُلْمَتِهِ إِذَا جَاءَ، وَأَغْتَمُّ بِفَجْرِهِ إِذَا طَلَعَ.

Ia menjawab: “Ia adalah satu saat di mana aku berada di antara dua keadaan. Aku gembira dengan gelapnya ketika ia datang, dan sedih dengan fajar ketika ia terbit.”

مَا تَمَّ فَرَحِي بِهِ قَطُّ.

Rasa senangku dengannya tak pernah sempurna.

وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ بَكَّارٍ: مُنْذُ أَرْبَعِينَ سَنَةً مَا أَحْزَنَنِي شَيْءٌ سِوَى طُلُوعِ الْفَجْرِ.

Ali bin Bakkar berkata: “Selama empat puluh tahun, tidak ada sesuatu yang membuatku sedih kecuali terbitnya fajar.”

وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: إِذَا غَرَبَتِ الشَّمْسُ فَرِحْتُ بِالظَّلَامِ لِخَلْوَتِي بِرَبِّي، وَإِذَا طَلَعَتْ حَزِنْتُ لِدُخُولِ النَّاسِ عَلَيَّ.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Jika matahari terbenam, aku gembira dengan gelap karena aku dapat menyendiri bersama Rabbku. Jika matahari terbit, aku sedih karena orang-orang masuk menemuiku.”

وَقَالَ أَبُو سُلَيْمَانَ: أَهْلُ اللَّيْلِ فِي لَيْلِهِمْ أَلَذُّ مِنْ أَهْلِ اللَّهْوِ فِي لَهْوِهِمْ.

Abu Sulaiman berkata: “Orang-orang malam dalam malam mereka lebih nikmat daripada orang-orang lalai dalam kelalaian mereka.”

وَلَوْلَا اللَّيْلُ مَا أَحْبَبْتُ الْبَقَاءَ فِي الدُّنْيَا.

“Kalau bukan karena malam, aku tidak akan mencintai tinggal di dunia.”

وَقَالَ أَيْضًا: لَوْ عُوِّضَ أَهْلُ اللَّيْلِ عَنْ ثَوَابِ أَعْمَالِهِمْ مَا يَجِدُونَهُ مِنَ اللَّذَّةِ، لَكَانَ ذٰلِكَ أَكْثَرَ مِنْ ثَوَابِ أَعْمَالِهِمْ.

Ia juga berkata: “Seandainya para ahli malam diberi ganti atas pahala amal mereka dengan kenikmatan yang mereka rasakan, niscaya itu lebih banyak daripada pahala amal mereka.”

وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: لَيْسَ فِي الدُّنْيَا وَقْتٌ يُشْبِهُ نَعِيمَ أَهْلِ الْجَنَّةِ إِلَّا مَا يَجِدُهُ أَهْلُ التَّمَلُّقِ فِي قُلُوبِهِمْ بِاللَّيْلِ مِنْ حَلَاوَةِ الْمُنَاجَاةِ.

Sebagian ulama berkata: “Di dunia ini tidak ada waktu yang menyerupai kenikmatan أهل الجنة, kecuali apa yang dirasakan oleh orang-orang yang bermunajat dalam hati mereka pada malam hari, berupa manisnya doa dan bisikan kepada Allah.”

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَذَّةُ الْمُنَاجَاةِ لَيْسَتْ مِنَ الدُّنْيَا، إِنَّمَا هِيَ مِنَ الْجَنَّةِ، أَظْهَرَهَا اللَّهُ تَعَالَى لِأَوْلِيَائِهِ، لَا يَجِدُهَا سِوَاهُمْ.

Sebagian yang lain berkata: “Nikmat bermunajat itu bukan dari dunia. Ia dari surga. Allah Ta‘ala menampakkannya kepada para wali-Nya. Tidak ada yang merasakannya selain mereka.”

وَقَالَ ابْنُ الْمُنْكَدِرِ: مَا بَقِيَ مِنْ لَذَّاتِ الدُّنْيَا إِلَّا ثَلَاثٌ: قِيَامُ اللَّيْلِ، وَلِقَاءُ الْإِخْوَانِ، وَالصَّلَاةُ فِي الْجَمَاعَةِ.

Ibnu al-Munkadir berkata: “Tidak tersisa dari kenikmatan dunia kecuali tiga: qiyamul-lail, bertemu saudara-saudara, dan salat berjemaah.”

وَقَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَنْظُرُ بِالْأَسْحَارِ إِلَى قُلُوبِ الْمُتَيَقِّظِينَ فَيَمْلَؤُهَا أَنْوَارًا، فَتَرِدُ الْفَوَائِدُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَتَسْتَنِيرُ.

Sebagian arif berkata: “Sesungguhnya Allah Ta‘ala melihat pada waktu sahur ke dalam hati orang-orang yang terjaga. Dia memenuhinya dengan cahaya. Maka faedah-faedah pun datang ke hati mereka, lalu hati itu bercahaya.”

ثُمَّ تَنْتَشِرُ مِنْ قُلُوبِهِمُ الْعَوَافِي إِلَى قُلُوبِ الْغَافِلِينَ.

Lalu dari hati mereka, kebaikan-kebaikan itu menyebar kepada hati orang-orang yang lalai.

وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ مِنَ الْقُدَمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْحَى إِلَى بَعْضِ الصِّدِّيقِينَ: إِنَّ لِي عِبَادًا مِنْ عِبَادِي أُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَنِي، وَيَشْتَاقُونَ إِلَيَّ وَأَشْتَاقُ إِلَيْهِمْ، وَيَذْكُرُونَنِي وَأَذْكُرُهُمْ، وَيَنْظُرُونَ إِلَيَّ وَأَنْظُرُ إِلَيْهِمْ.

Seorang ulama terdahulu berkata: Allah Ta‘ala mewahyukan kepada salah seorang siddiqin: “Sesungguhnya Aku mempunyai hamba-hamba yang Aku cintai dan mereka pun mencintai-Ku. Mereka rindu kepada-Ku, dan Aku pun rindu kepada mereka. Mereka mengingat-Ku, dan Aku pun mengingat mereka. Mereka memandang kepada-Ku, dan Aku pun memandang kepada mereka.”

فَإِنْ حَذَوْتَ طَرِيقَهُمْ أَحْبَبْتُكَ، وَإِنْ عَدَلْتَ عَنْهُمْ مَقَتُّكَ.

“Jika engkau mengikuti jalan mereka, Aku akan mencintaimu. Tetapi jika engkau berpaling dari mereka, Aku akan murka kepadamu.”

قَالَ: يَا رَبِّ، وَمَا عَلامَتُهُمْ؟

Ia bertanya: “Wahai Rabb, apakah tanda-tanda mereka?”

قَالَ: يُرَاعُونَ الظِّلَالَ بِالنَّهَارِ كَمَا يُرَاعِي الرَّاعِي غَنَمَهُ، وَيَحِنُّونَ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ كَمَا تَحِنُّ الطُّيُورُ إِلَى أَوْكَارِهَا.

Dia menjawab: “Mereka mengawasi bayang-bayang pada siang hari sebagaimana seorang penggembala menjaga kambingnya. Mereka rindu terbenamnya matahari sebagaimana burung rindu pada sarangnya.”

فَإِذَا جَنَّهُمُ اللَّيْلُ وَاخْتَلَطَ الظَّلَامُ، وَخَلَا كُلُّ حَبِيبٍ بِحَبِيبِهِ، نَصَبُوا إِلَى أَقْدَامِهِمْ وَافْتَرَشُوا إِلَى وُجُوهِهِمْ.

Apabila malam menyelimuti mereka dan gelap bercampur, serta setiap kekasih berduaan dengan kekasihnya, mereka berdiri di atas kaki mereka dan bersujud dengan wajah mereka.

وَنَاجَوْنِي بِكَلَامِي، وَتَمَلَّقُوا إِلَيَّ بِإِنْعَامِي.

Mereka bermunajat kepada-Ku dengan kalam-Ku. Mereka merendah kepada-Ku dengan nikmat-Ku.

فَبَيْنَ صَارِخٍ وَبَاكٍ، وَبَيْنَ مُتَأَوِّهٍ وَشَاكٍ.

Maka ada yang menjerit, ada yang menangis. Ada yang mengeluh, ada yang mengadu.

بِعَيْنِي مَا يَتَحَمَّلُونَ مِنْ أَجْلِي، وَبِسَمْعِي مَا يَشْتَكُونَ مِنْ حُبِّي.

Dengan pandangan-Ku, Aku melihat apa yang mereka tanggung demi Aku. Dengan pendengaran-Ku, Aku mendengar apa yang mereka keluhkan karena cinta kepada-Ku.

أَوَّلُ مَا أُعْطِيهِمْ أَنْ أَقْذِفَ مِنْ نُورِي فِي قُلُوبِهِمْ، فَيُخْبِرُونَ عَنِّي كَمَا أُخْبِرُ عَنْهُمْ.

Pertama yang Aku berikan kepada mereka ialah Aku pancarkan cahaya-Ku ke dalam hati mereka. Maka mereka berbicara tentang Aku sebagaimana Aku mengabarkan tentang mereka.

وَالثَّانِيَةُ: لَوْ كَانَتِ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُونَ السَّبْعُ وَمَا فِيهِنَّ مِنْ مَوَازِينِهِمْ، لَاسْتَقْلَلْتُهَا لَهُمْ.

Kedua: seandainya tujuh langit, tujuh bumi, dan segala isinya menjadi timbangan amal mereka, niscaya Aku anggap itu sedikit bagi mereka.

وَالثَّالِثَةُ: أُقْبِلُ بِوَجْهِي عَلَيْهِمْ.

Ketiga: Aku hadapkan wajah-Ku kepada mereka.

أَفَتُرَى مَنْ أَقْبَلْتُ بِوَجْهِي عَلَيْهِ، أَيَعْلَمُ أَحَدٌ مَا أُرِيدُ أَنْ أُعْطِيَهُ؟

Apakah menurutmu orang yang Aku hadapkan wajah-Ku kepadanya mengetahui apa yang hendak Aku berikan kepadanya?

وَقَالَ مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ رَحِمَهُ اللَّهُ: إِذَا قَامَ الْعَبْدُ يَتَهَجَّدُ مِنَ اللَّيْلِ قَرُبَ مِنْهُ الْجَبَّارُ عَزَّ وَجَلَّ.

Malik bin Dinar رحمه الله berkata: “Jika seorang hamba bangun untuk tahajud di malam hari, maka Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahatinggi menjadi dekat kepadanya.”

وَكَانُوا يَرَوْنَ مَا يَجِدُونَهُ مِنَ الرِّقَّةِ وَالْحَلَاوَةِ فِي قُلُوبِهِمْ وَالْأَنْوَارِ مِنْ قُرْبِ الرَّبِّ تَعَالَى مِنَ الْقَلْبِ.

Mereka menganggap kelembutan, manisnya hati, dan cahaya yang mereka rasakan di dalam hati sebagai tanda dekatnya Rabb Ta‘ala kepada hati.

وَلِهٰذَا سِرٌّ وَتَحْقِيقٌ، سَتَأْتِي الْإِشَارَةُ إِلَيْهِ فِي كِتَابِ الْمَحَبَّةِ.

Ini memiliki rahasia dan hakikat. Isyarat tentangnya akan datang dalam Kitab Mahabbah.

وَفِي الْأَخْبَارِ عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: أَيُّهَا الْعَبْدُ، أَنَا اللَّهُ الَّذِي اقْتَرَبْتُ مِنْ قَلْبِكَ، وَبِالْغَيْبِ رَأَيْتَ نُورِي.

Dalam beberapa khabar dari Allah عز وجل disebutkan: “Wahai hamba-Ku, Aku adalah Allah yang mendekat ke hatimu. Dan dengan perkara gaib engkau melihat cahaya-Ku.”

وَشَكَا بَعْضُ الْمُرِيدِينَ إِلَى أُسْتَاذِهِ طُولَ سَهَرِ اللَّيْلِ، وَطَلَبَ حِيلَةً يَجْلِبُ بِهَا النَّوْمَ.

Seorang murid mengadukan kepada gurunya tentang lamanya ia begadang malam, dan ia meminta cara agar bisa mendatangkan tidur.

فَقَالَ أُسْتَاذُهُ: يَا بُنَيَّ، إِنَّ لِلَّهِ نَفَحَاتٍ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، تُصِيبُ الْقُلُوبَ الْمُتَيَقِّظَةَ وَتُخْطِئُ الْقُلُوبَ النَّائِمَةَ، فَتَعَرَّضْ لِتِلْكَ النَّفَحَاتِ.

Gurunya berkata: “Wahai anakku, Allah memiliki hembusan-hembusan rahmat pada malam dan siang. Hembusan itu mengenai hati-hati yang terjaga dan luput dari hati yang tidur. Maka hadapkan dirimu kepada hembusan-hembusan itu.”

فَقَالَ: يَا سَيِّدِي، تَرَكْتَنِي لَا أَنَامُ بِاللَّيْلِ وَلَا بِالنَّهَارِ.

Murid itu berkata: “Wahai tuanku, engkau membuatku tidak bisa tidur di malam maupun di siang hari.”

وَاعْلَمْ أَنَّ هٰذِهِ النَّفَحَاتِ بِاللَّيْلِ أَرْجَى، لِمَا فِي قِيَامِ اللَّيْلِ مِنْ صَفَاءِ الْقَلْبِ وَانْدِفَاعِ الشَّوَاغِلِ.

Ketahuilah, hembusan-hembusan itu pada malam hari lebih diharapkan, karena qiyamul-lail membuat hati lebih jernih dan menghilangkan kesibukan-kesibukan dunia.

وَفِي الْخَبَرِ الصَّحِيحِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ مِنَ اللَّيْلِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ.

Dalam hadis sahih dari Jabir bin Abdullah, dari Rasulullah , beliau bersabda: “Sesungguhnya pada malam hari ada satu saat. Tidaklah seorang hamba muslim memohon kebaikan kepada Allah Ta‘ala pada saat itu kecuali Dia memberikannya.”

وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى: يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ، وَذٰلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ.

Dalam riwayat lain: ia memohon kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat, kecuali Allah memberikannya. Itu terjadi setiap malam.

وَمَطْلُوبُ الْقَائِمِينَ تِلْكَ السَّاعَةُ، وَهِيَ مُهِمَّةٌ فِي جُمْلَةِ اللَّيْلِ، كَلَيْلَةِ الْقَدْرِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، وَكَسَاعَةِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ.

Yang dicari para ahli qiyam adalah saat itu. Ia penting di antara seluruh malam, seperti Lailatul Qadr di bulan Ramadan dan seperti satu saat pada hari Jumat.

وَهِيَ سَاعَةُ النَّفَحَاتِ الْمَذْكُورَةِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Itulah saat hembusan-hembusan rahmat yang disebutkan tadi. Dan Allah lebih mengetahui.