Perbedaan antara Halal, Haram dan Syubhat (2)

{الْأَوَّلُ} التَّقْسِيمُ الَّذِي حَصَرْنَاهُ، وَأَبْطَلْنَا مِنْهُ أَرْبَعَةً، وَأَثْبَتْنَا الْقِسْمَ الْخَامِسَ.

Pembagian pertama ialah pembagian yang telah kami batasi. Dari situ kami batalkan empat bagian, dan kami tetapkan bagian yang kelima.

فَإِنَّ ذَلِكَ إِذَا أُجْرِيَ فِيمَا إِذَا كَانَ الْكُلُّ حَرَامًا، كَانَ أَحْرَىٰ فِيمَا إِذَا كَانَ الْحَرَامُ هُوَ الْأَكْثَرَ أَوِ الْأَقَلَّ.

Jika pembagian itu saja berlaku pada keadaan ketika semuanya haram, maka lebih layak lagi berlaku ketika yang haram itu hanya lebih banyak atau lebih sedikit.

وَقَوْلُ الْقَائِلِ: هُوَ مَصْلَحَةٌ مُرْسَلَةٌ، هَوَسٌ.

Adapun ucapan orang yang berkata, “Itu adalah maslahat mursalah,” maka itu adalah khayalan kosong.

فَإِنَّ ذَلِكَ إِنَّمَا تَخَيَّلَهُ مَنْ تَخَيَّلَهُ فِي أُمُورٍ مَظْنُونَةٍ، وَهَذَا مَقْطُوعٌ بِهِ.

Sebab hal itu hanya terbayang oleh orang yang membayangkannya dalam perkara-perkara yang bersifat dugaan. Sedangkan perkara ini pasti.

فَإِنَّا لَا نَشُكُّ فِي أَنَّ مَصْلَحَةَ الدِّينِ وَالدُّنْيَا مَرَادُ الشَّرْعِ.

Kami tidak ragu bahwa kemaslahatan agama dan dunia memang menjadi tujuan syariat.

وَهُوَ مَعْلُومٌ بِالضَّرُورَةِ، وَلَيْسَ بِمَظْنُونٍ.

Hal itu diketahui secara pasti. Ia bukan sekadar dugaan.

وَلَا شَكَّ فِي أَنَّ رَدَّ كَافَّةِ النَّاسِ إِلَىٰ قَدْرِ الضَّرُورَةِ أَوِ الْحَاجَةِ أَوِ الْحَشِيشِ وَالصَّيْدِ مُخَرِّبٌ لِلدُّنْيَا أَوَّلًا، وَلِلدِّينِ بِوَاسِطَةِ الدُّنْيَا ثَانِيًا.

Tidak diragukan bahwa mengembalikan seluruh manusia kepada kadar darurat, kebutuhan, rumput-rumputan, dan buruan akan merusak dunia terlebih dahulu. Lalu, melalui dunia, hal itu merusak agama pada tahap berikutnya.

فَمَا لَا يُشَكُّ فِيهِ لَا يَحْتَاجُ إِلَىٰ أَصْلٍ يَشْهَدُ لَهُ.

Sesuatu yang tidak diragukan tidak memerlukan dasar yang menjadi saksi baginya.

وَإِنَّمَا يُسْتَشْهَدُ عَلَى الْخَيَالَاتِ الْمَظْنُونَةِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِآحَادِ الْأَشْخَاصِ.

Yang memerlukan saksi hanyalah anggapan-anggapan dugaan yang terkait dengan individu-individu tertentu.

الْبُرْهَانُ الثَّانِي أَنْ يُعَلَّلَ بِقِيَاسٍ مُحَرَّرٍ مَرْدُودٍ إِلَىٰ أَصْلٍ يَتَّفِقُ الْفُقَهَاءُ الْآِنِسُونَ بِالْأَقْيِسَةِ الْجُزْئِيَّةِ عَلَيْهِ.

Pembuktian kedua ialah dengan qiyas yang teratur, lalu dikembalikan kepada suatu dasar yang disepakati para fuqaha yang biasa memakai qiyas-qiyas parsial.

وَإِنْ كَانَتِ الْجُزْئِيَّاتُ مُسْتَحْقَرَةً عِنْدَ الْمُحَصِّلِينَ بِالِاضْطِرَارِ إِلَىٰ مِثْلِ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْأَمْرِ الْكُلِّيِّ.

Walaupun perkara-perkara parsial itu dianggap kecil oleh para peneliti, dibandingkan dengan perkara besar yang telah kami sebutkan.

وَهُوَ ضَرُورَةُ النَّبِيِّ لَوْ بُعِثَ فِي زَمَانٍ عَمَّ فِيهِ التَّحْرِيمُ.

Yaitu keharusan bagi seorang nabi, bila diutus pada zaman yang seluruhnya diliputi pengharaman.

حَتَّىٰ لَوْ حَكَمَ بِغَيْرِهِ لَخَرِبَ الْعَالَمُ.

Sampai-sampai jika ia memutuskan selain yang demikian, dunia akan rusak.

وَالْقِيَاسُ الْمُحَرَّرُ الْجُزْئِيُّ هُوَ أَنَّهُ قَدْ تَعَارَضَ أَصْلٌ وَغَالِبٌ فِي مَا انْقَطَعَتْ فِيهِ الْعَلَامَاتُ الْمُعَيَّنَةُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَيْسَتْ مَحْصُورَةً.

Qiyas parsial yang teratur ialah bahwa telah bertentangan hukum asal dan hukum yang dominan pada perkara-perkara yang tanda-tanda khususnya terputus, yaitu perkara yang tidak terbatas.

فَيُحْكَمُ بِالْأَصْلِ لَا بِالْغَالِبِ.

Maka diputuskan berdasarkan hukum asal, bukan berdasarkan yang dominan.

قِيَاسًا عَلَىٰ طِينِ الشَّوَارِعِ، وَجَرَّةِ النَّصْرَانِيَّةِ، وَأَوَانِي الْمُشْرِكِينَ.

Itu diqiyaskan kepada lumpur jalanan, kendi milik seorang nasrani, dan bejana-bejana orang musyrik.

وَذَلِكَ قَدْ أَثْبَتْنَاهُ مِنْ قَبْلُ بِفِعْلِ الصَّحَابَةِ.

Hal itu telah kami tetapkan sebelumnya dengan praktik para sahabat.

وَقَوْلُنَا: انْقَطَعَتِ الْعَلَامَاتُ الْمُعَيَّنَةُ، احْتِرَازٌ عَنِ الْأَوَانِي الَّتِي يَتَطَرَّقُ الِاجْتِهَادُ إِلَيْهَا.

Ucapan kami, “tanda-tanda khusus telah terputus,” adalah untuk mengecualikan bejana-bejana yang masih bisa masuk wilayah ijtihad.

وَقَوْلُنَا: لَيْسَتْ مَحْصُورَةً، احْتِرَازٌ عَنْ الْتِبَاسِ الْمَيْتَةِ وَالرَّضِيعَةِ بِالذَّكِيَّةِ وَالْأَجْنَبِيَّةِ.

Ucapan kami, “tidak terbatas,” adalah untuk mengecualikan campurnya bangkai dengan hewan sembelihan, anak susuan dengan perempuan asing, dan yang semisalnya.

فَإِنْ قِيلَ: كَوْنُ الْمَاءِ طَهُورًا مُسْتَيْقَنٌ، وَهُوَ الْأَصْلُ.

Jika dikatakan: bahwa air itu suci adalah suatu kepastian, dan itulah hukum asalnya.

وَمَنْ يُسَلِّمُ أَنَّ الْأَصْلَ فِي الْأَمْوَالِ الْحِلُّ؟ بَلِ الْأَصْلُ فِيهَا التَّحْرِيمُ.

Siapa yang menetapkan bahwa hukum asal harta adalah halal? Bahkan asalnya adalah haram.

فَنَقُولُ: الْأُمُورُ لَا تُحَرَّمُ لِصِفَةٍ فِي عَيْنِهَا كَحُرْمَةِ الْخَمْرِ وَالْخِنْزِيرِ.

Kami jawab: benda-benda tidak menjadi haram karena sifat pada zatnya, seperti haramnya khamar dan babi.

خُلِقَتْ عَلَىٰ صِفَةٍ تَسْتَعِدُّ لِقَبُولِ الْمُعَامَلَاتِ بِالتَّرَاضِي.

Ia diciptakan dengan sifat yang siap menerima transaksi dengan saling rela.

كَمَا خُلِقَ الْمَاءُ مُسْتَعِدًّا لِلْوُضُوءِ.

Sebagaimana air diciptakan siap untuk dipakai berwudu.

وَقَدْ وَقَعَ الشَّكُّ فِي بُطْلَانِ هَذَا الِاسْتِعْدَادِ مِنْهُمَا، فَلَا فَرْقَ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ.

Dan keraguan muncul pada batalnya kesiapan ini dari keduanya. Maka tidak ada perbedaan antara dua perkara itu.

فَإِنَّهَا تَخْرُجُ عَنْ قَبُولِ الْمُعَامَلَةِ بِالتَّرَاضِي بِدُخُولِ الظُّلْمِ عَلَيْهَا.

Keduanya keluar dari kesiapan menerima muamalah yang saling rela karena masuknya kezaliman.

كَمَا يَخْرُجُ الْمَاءُ عَنْ قَبُولِ الْوُضُوءِ بِدُخُولِ النَّجَاسَةِ عَلَيْهِ.

Sebagaimana air keluar dari kesiapan untuk wudu karena masuknya najis padanya.

وَلَا فَرْقَ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ.

Dan tidak ada perbedaan antara keduanya.

وَالْجَوَابُ الثَّانِي: أَنَّ الْيَدَ دَلَالَةٌ ظَاهِرَةٌ دَالَّةٌ عَلَى الْمِلْكِ.

Jawaban kedua ialah bahwa tangan adalah tanda lahir yang menunjukkan kepemilikan.

نَازِلَةٌ مَنْزِلَةَ الِاسْتِصْحَابِ وَأَقْوَىٰ مِنْهُ.

Kedudukannya seperti hukum asal yang dipertahankan, bahkan lebih kuat darinya.

بِدَلِيلِ أَنَّ الشَّرْعَ أَلْحَقَهُ بِهِ.

Buktinya, syariat menempatkannya pada posisi itu.

إِذْ مَنْ دُعِيَ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَالْقَوْلُ قَوْلُهُ.

Siapa yang dituntut utang, maka perkataannya diterima.

لِأَنَّ الْأَصْلَ بَرَاءَةُ ذِمَّتِهِ، وَهَذَا اسْتِصْحَابٌ.

Karena hukum asalnya ialah bebas dari tanggungan. Ini adalah istishhab.

وَمَنْ دُعِيَ عَلَيْهِ مِلْكٌ فِي يَدِهِ فَالْقَوْلُ أَيْضًا قَوْلُهُ.

Siapa yang dituntut kepemilikan atas sesuatu yang ada di tangannya, maka perkataannya juga diterima.

إِقَامَةً لِلْيَدِ مَقَامَ الِاسْتِصْحَابِ.

Karena tangan ditempatkan sebagai pengganti istishhab.

فَكُلُّ مَا وُجِدَ فِي يَدِ إِنْسَانٍ فَالْأَصْلُ أَنَّهُ مِلْكُهُ.

Maka segala sesuatu yang ditemukan di tangan seseorang, hukum asalnya adalah miliknya.

مَا لَمْ يَدُلَّ عَلَىٰ خِلَافِهِ عَلَامَةٌ مُعَيَّنَةٌ.

Selama tidak ada tanda tertentu yang menunjukkan sebaliknya.

الْبُرْهَانُ الثَّالِثُ هُوَ أَنَّ كُلَّ مَا دَلَّ عَلَىٰ جِنْسٍ لَا يَحْصُرُ وَلَا يَدُلُّ عَلَىٰ مُعَيَّنٍ لَمْ يُعْتَبَرْ، وَإِنْ كَانَ قَطْعًا.

Pembuktian ketiga ialah bahwa setiap petunjuk terhadap jenis yang tidak terbatas, tetapi tidak menunjukkan individu tertentu, tidak dianggap, walaupun petunjuk itu bersifat pasti.

فَبِأَنْ لَا يُعْتَبَرَ إِذَا دَلَّ بِطَرِيقِ الظَّنِّ أَوْلَىٰ.

Maka jika ia tidak dianggap ketika ditunjukkan secara pasti, lebih utama lagi tidak dianggap ketika hanya ditunjukkan dengan jalan dugaan.

وَبَيَانُهُ: أَنَّ مَا عُلِمَ أَنَّهُ مِلْكُ زَيْدٍ فَحَقُّهُ يَمْنَعُ مِنَ التَّصَرُّفِ فِيهِ بِغَيْرِ إِذْنِهِ.

Penjelasannya: sesuatu yang diketahui sebagai milik Zaid, maka haknya mencegah kita memperlakukannya tanpa izinnya.

وَلَوْ عُلِمَ أَنَّ لَهُ مَالِكًا فِي الْعَالَمِ وَلَكِنْ وَقَعَ الْيَأْسُ عَنِ الْوُقُوفِ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ وَارِثِهِ.

Kalau diketahui bahwa ia punya pemilik di dunia, tetapi sudah putus asa untuk menemukannya dan juga ahli warisnya.

فَهُوَ مَالٌ مُرْصَدٌ لِمَصَالِحِ الْمُسْلِمِينَ.

Maka itu adalah harta yang disisihkan untuk kemaslahatan kaum muslimin.

يَجُوزُ التَّصَرُّفُ فِيهِ بِحُكْمِ الْمَصْلَحَةِ.

Boleh diperlakukan berdasarkan maslahat.

وَلَوْ دَلَّ عَلَىٰ أَنَّ لَهُ مَالِكًا مَحْصُورًا فِي عَشَرَةٍ مَثَلًا أَوْ عِشْرِينَ، امْتَنَعَ التَّصَرُّفُ فِيهِ بِحُكْمِ الْمَصْلَحَةِ.

Kalau ditunjukkan bahwa ia punya pemilik yang terbatas, misalnya sepuluh atau dua puluh orang, maka memperlakukannya berdasarkan maslahat tidak boleh.

فَالَّذِي يَشُكُّ فِي أَنَّ لَهُ مَالِكًا سِوَىٰ صَاحِبِ الْيَدِ أَمْ لَا.

Orang yang ragu apakah ia punya pemilik selain orang yang memegangnya atau tidak.

لَا يَزِيدُ عَلَى الَّذِي يَتَيَقَّنُ قَطْعًا أَنَّ لَهُ مَالِكًا، وَلَكِنْ لَا يَعْرِفُ عَيْنَهُ.

Tidak lebih kuat daripada orang yang yakin secara pasti bahwa ia punya pemilik, tetapi tidak mengetahui siapa orangnya.

فَلْيَجُزِ التَّصَرُّفُ فِيهِ بِالْمَصْلَحَةِ.

Maka boleh diperlakukan berdasarkan maslahat.

وَالْمَصْلَحَةُ مَا ذَكَرْنَاهُ فِي الْأَقْسَامِ الْخَمْسَةِ.

Maslahat itu ialah apa yang telah kami sebutkan dalam lima bagian tadi.

فَيَكُونُ هَذَا الْأَصْلُ شَاهِدًا لَهُ.

Maka dasar ini menjadi saksi baginya.

وَكَيْفَ لَا، وَكُلُّ مَالٍ ضَائِعٍ فَقَدْ مَالِكُهُ يَصْرِفُهُ السُّلْطَانُ إِلَى الْمَصَالِحِ.

Bagaimana tidak, sedangkan setiap harta hilang yang pemiliknya telah lenyap, penguasa menyalurkannya kepada kemaslahatan.

وَمِنَ الْمَصَالِحِ الْفُقَرَاءُ وَغَيْرُهُمْ.

Dan di antara kemaslahatan itu ialah fakir miskin dan selain mereka.

فَلَوْ صُرِفَ إِلَىٰ فَقِيرٍ مَلَكَهُ وَنَفَذَ فِيهِ تَصَرُّفُهُ.

Jika disalurkan kepada seorang fakir, maka ia memilikinya dan sah tasarrufnya.

فَلَوْ سَرَقَهُ مِنْهُ سَارِقٌ قُطِعَتْ يَدُهُ.

Jika lalu dicuri darinya, tangan pencuri dipotong.

فَكَيْفَ نَفَذَ تَصَرُّفُهُ فِي مِلْكِ الْغَيْرِ؟

Lalu bagaimana bisa sah tasarrufnya atas milik orang lain?

لَيْسَ ذَلِكَ إِلَّا لِحُكْمِنَا بِأَنَّ الْمَصْلَحَةَ تَقْتَضِي أَنْ يَنْتَقِلَ الْمُلْكُ إِلَيْهِ وَيَحِلَّ لَهُ.

Tidak lain karena kami memutuskan bahwa maslahat mengharuskan kepemilikan berpindah kepadanya dan menjadi halal baginya.

فَقَضَيْنَا بِمُوجَبِ الْمَصْلَحَةِ.

Maka kami putuskan berdasarkan maslahat.

فَإِنْ قِيلَ: ذَلِكَ يَخْتَصُّ بِالتَّصَرُّفِ فِيهِ السُّلْطَانُ.

Jika dikatakan: itu khusus bagi penguasa yang mengelolanya.

فَنَقُولُ: وَالسُّلْطَانُ لَمْ يُجَوِّزْ لَهُ التَّصَرُّفَ فِي مِلْكِ غَيْرِهِ بِغَيْرِ إِذْنِهِ إِلَّا لِمَا لَا سَبَبَ لَهُ إِلَّا الْمَصْلَحَةُ.

Kami jawab: penguasa pun tidak diberi kebolehan memperlakukan milik orang lain tanpa izinnya kecuali karena maslahat.

وَهُوَ أَنَّهُ لَوْ تُرِكَ لَضَاعَ.

Yaitu bila dibiarkan, harta itu akan hilang.

فَهُوَ مُرَدَّدٌ بَيْنَ تَضْيِيعِهِ وَصَرْفِهِ إِلَىٰ مُهِمٍّ.

Maka ia berada di antara menyia-nyiakannya dan menyalurkannya ke urusan penting.

وَالصَّرْفُ إِلَى الْمُهِمِّ أَصْلَحُ مِنَ التَّضْيِيعِ، فَرُجِّحَ عَلَيْهِ.

Menyalurkannya kepada urusan penting lebih maslahat daripada menyia-nyiakannya, maka itu didahulukan.

وَالْمَصْلَحَةُ فِيمَا يُشَكُّ فِيهِ وَلَا يُعْلَمُ تَحْرِيمُهُ أَنْ يُحْكَمَ فِيهِ بِدَلَالَةِ الْيَدِ.

Adapun maslahat pada perkara yang diragukan dan belum diketahui haramnya, ialah menghukuminya berdasarkan tanda kepemilikan tangan.

وَيُتْرَكَ عَلَىٰ أَرْبَابِ الْأَيْدِي.

Lalu dibiarkan pada para pemegangnya.

إِذْ نَزْعُهَا بِالشَّكِّ وَتَكْلِيفُهُمْ الِاقْتِصَارَ عَلَى الْحَاجَةِ يُؤَدِّي إِلَى الضَّرَرِ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ.

Karena mencabutnya dengan keraguan dan membebani mereka untuk hanya cukup pada kebutuhan akan membawa kepada mudarat yang telah kami sebutkan.

وَجِهَاتُ الْمَصْلَحَةِ تَخْتَلِفُ.

Arah maslahat itu berbeda-beda.

فَإِنَّ السُّلْطَانَ تَارَةً يَرَىٰ أَنَّ الْمَصْلَحَةَ أَنْ يَبْنِيَ بِذَلِكَ الْمَالِ قَنْطَرَةً.

Kadang penguasa melihat maslahatnya ialah membangun jembatan dengan harta itu.

وَتَارَةً أَنْ يَصْرِفَهُ إِلَىٰ جُنْدِ الْإِسْلَامِ.

Kadang kepada tentara Islam.

وَتَارَةً إِلَى الْفُقَرَاءِ.

Kadang kepada fakir miskin.

وَيَدُورُ مَعَ الْمَصْلَحَةِ كَيْفَمَا دَارَتْ.

Ia bergerak mengikuti maslahat ke mana pun maslahat itu bergerak.

وَكَذَلِكَ الْفَتْوَىٰ فِي مِثْلِ هَذَا تَدُورُ عَلَى الْمَصْلَحَةِ.

Demikian pula fatwa dalam hal seperti ini berputar mengikuti maslahat.

وَقَدْ خَرَجَ مِنْ هَذَا أَنَّ الْخَلْقَ غَيْرُ مَأْخُوذِينَ فِي أَعْيَانِ الْأَمْوَالِ بِظُنُونٍ لَا تَسْتَنِدُ إِلَىٰ خُصُوصِ دَلَالَةٍ فِي مِلْكِ الْأَعْيَانِ.

Dari sini tampak bahwa manusia tidak dibebani pada zat harta dengan dugaan-dugaan yang tidak bersandar pada tanda khusus dalam kepemilikan benda-benda itu.

كَمَا لَمْ يُؤَاخَذِ السُّلْطَانُ وَالْفُقَرَاءُ الْآخِذُونَ مِنْهُ بِعِلْمِهِمْ أَنَّ الْمَالَ لَهُ مَالِكٌ.

Sebagaimana penguasa dan para fakir yang mengambil darinya tidak dipersalahkan karena mengetahui bahwa harta itu punya pemilik.

حَيْثُ لَمْ يَتَعَلَّقِ الْعِلْمُ بِعَيْنِ مَالِكٍ مُشَارٍ إِلَيْهِ.

Selama pengetahuan itu tidak terkait dengan seorang pemilik tertentu yang ditunjuk.

وَلَا فَرْقَ بَيْنَ عَيْنِ الْمَالِكِ وَبَيْنَ عَيْنِ الْأَمْلَاكِ فِي هَذَا الْمَعْنَىٰ.

Tidak ada perbedaan antara zat pemilik dan zat kepemilikan dalam makna ini.

فَهَذَا بَيَانُ شُبْهَةِ الِاخْتِلَاطِ.

Inilah penjelasan tentang syubhat percampuran.

وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا النَّظَرُ فِي امْتِزَاجِ الْمَائِعَاتِ وَالدَّرَاهِمِ وَالْعُرُوضِ فِي يَدِ مَالِكٍ وَاحِدٍ.

Tinggal pembahasan tentang bercampurnya cairan, dirham, dan barang dagangan di tangan satu pemilik.

وَسَيَأْتِي بَيَانُهُ فِي بَابِ تَفْصِيلِ طَرِيقِ الْخُرُوجِ مِنَ الْمَظَالِمِ.

Penjelasannya akan datang dalam bab perincian jalan keluar dari kezaliman.

الْمَثَارُ الثَّالِثُ لِلشُّبْهَةِ أَنْ يَتَّصِلَ بِالسَّبَبِ الْمُحَلِّلِ مَعْصِيَةٌ.

Penyebab ketiga syubhat ialah tersambungnya suatu maksiat dengan sebab yang menghalalkan.

إِمَّا فِي قَرَائِنِهِ، وَإِمَّا فِي لَوَاحِقِهِ، وَإِمَّا فِي سَوَابِقِهِ، أَوْ فِي عِوَضِهِ.

Baik pada rangkaiannya, pada akibat lanjutnya, pada pendahuluannya, maupun pada imbalannya.

وَكَانَتْ مِنَ الْمَعَاصِي الَّتِي لَا تُوجِبُ فَسَادَ الْعَقْدِ وَإِبْطَالَ السَّبَبِ الْمُحَلِّلِ.

Itu termasuk maksiat yang tidak menyebabkan rusaknya akad dan tidak membatalkan sebab yang menghalalkan.

مِثَالُ الْمَعْصِيَةِ فِي الْقَرَائِنِ: الْبَيْعُ فِي وَقْتِ النِّدَاءِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ.

Contoh maksiat pada rangkaiannya ialah jual beli pada waktu adzan hari Jumat.

وَالذَّبْحُ بِالسِّكِّينِ الْمَغْصُوبَةِ، وَالِاحْتِطَابُ بِالْقَدُومِ الْمَغْصُوبِ.

Demikian pula menyembelih dengan pisau rampasan, dan mencari kayu bakar dengan kapak rampasan.

وَالْبَيْعُ عَلَىٰ بَيْعِ الْغَيْرِ وَالسَّوْمُ عَلَىٰ سَوْمِهِ.

Demikian pula menjual di atas jual beli orang lain, dan menawar di atas tawaran orang lain.

فَكُلُّ نَهْيٍ وَرَدَ فِي الْعُقُودِ وَلَمْ يَدُلَّ عَلَىٰ فَسَادِ الْعَقْدِ.

Setiap larangan yang datang pada akad dan tidak menunjukkan rusaknya akad.

فَإِنَّ الِامْتِنَاعَ مِنْ جَمِيعِ ذَلِكَ وَرَعٌ، وَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْمُسْتَفَادُ بِهَذِهِ الْأَسَالِيبِ مَحْكُومًا بِتَحْرِيمِهِ.

Menjauhi semuanya itu adalah wara', walaupun hasil yang diperoleh dengan cara-cara itu tidak dihukumi haram.

وَتَسْمِيَةُ هَذَا النَّمَطِ شُبْهَةً فِيهِ تَسَامُحٌ.

Menyebut jenis ini sebagai syubhat mengandung kelonggaran.

لِأَنَّ الشُّبْهَةَ فِي غَالِبِ الْأَمْرِ تُطْلَقُ لِإِرَادَةِ الِاشْتِبَاهِ وَالْجَهْلِ.

Sebab syubhat pada umumnya dipakai untuk sesuatu yang samar dan tidak diketahui.

وَلَا اشْتِبَاهَ هُنَا.

Sedangkan di sini tidak ada kesamaran.

بَلِ الْعِصْيَانُ بِالذَّبْحِ بِسِكِّينِ الْغَيْرِ مَعْلُومٌ، وَحِلُّ الذَّبِيحَةِ أَيْضًا مَعْلُومٌ.

Maksiat karena menyembelih dengan pisau orang lain itu jelas, dan kehalalan sembelihannya pun jelas.

وَلَكِنْ قَدْ تُشْتَقُّ الشُّبْهَةُ مِنَ الشَّبَهِ.

Namun syubhat bisa diambil dari keserupaan.

وَتَنَاوُلُ الْحَاصِلِ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ مَكْرُوهٌ، وَالْكَرَاهَةُ تُشْبِهُ التَّحْرِيمَ.

Mengambil hasil dari perkara-perkara ini makruh, dan kemakruhan itu mirip dengan pengharaman.

فَإِنْ أُرِيدَ بِالشُّبْهَةِ هَذَا، فَتَسْمِيَةُ هَذَا شُبْهَةً لَهَا وَجْهٌ.

Jika yang dimaksud dengan syubhat adalah ini, maka penamaan itu ada dasarnya.

وَإِلَّا فَيَنْبَغِي أَنْ يُسَمَّىٰ هَذَا كَرَاهَةً لَا شُبْهَةً.

Kalau tidak, seharusnya ini disebut makruh, bukan syubhat.

وَإِذَا عُرِفَ الْمَعْنَىٰ فَلَا مُشَاحَّةَ فِي الْأَسْمَاءِ.

Jika maknanya sudah diketahui, maka tidak ada perdebatan dalam istilah.

وَعَادَةُ الْفُقَهَاءِ التَّسَامُحُ فِي الْإِطْلَاقَاتِ.

Kebiasaan para fuqaha memang longgar dalam penggunaan istilah.

ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ هَذِهِ الْكَرَاهَةَ لَهَا ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ.

Ketahuilah bahwa kemakruhan ini memiliki tiga tingkatan.

الْأُولَىٰ مِنْهَا تَقْرُبُ مِنَ الْحَرَامِ، وَالْوَرَعُ عَنْهَا مُهِمٌّ.

Yang pertama mendekati haram, dan wara' darinya itu penting.

وَالْأَخِيرَةُ تَنْتَهِي إِلَىٰ نَوْعٍ مِنَ الْمُبَالَغَةِ تَكَادُ تَلْتَحِقُ بِوَرَعِ الْمُوَسْوِسِينَ.

Yang terakhir berakhir pada jenis berlebih-lebihan yang hampir menyerupai wara' orang-orang waswas.

وَبَيْنَهُمَا أَوْسَاطٌ نَازِعَةٌ إِلَى الطَّرَفَيْنِ.

Di antara keduanya ada tingkat-tingkat tengah yang cenderung ke salah satu ujung.

فَالْكَرَاهَةُ فِي صَيْدِ كَلْبٍ مَغْصُوبٍ أَشَدُّ مِنْهَا فِي الذَّبِيحَةِ بِسِكِّينٍ مَغْصُوبٍ أَوِ الْمُقْتَنَصِ بِسَهْمٍ مَغْصُوبٍ.

Kemakruhan pada hasil buruan dengan anjing rampasan lebih berat daripada pada sembelihan dengan pisau rampasan atau buruan dengan anak panah rampasan.

إِذِ الْكَلْبُ لَهُ اخْتِيَارٌ، وَقَدِ اخْتُلِفَ فِي أَنَّ الْحَاصِلَ بِهِ لِمَالِكِ الْكَلْبِ أَوْ لِلصَّائِدِ.

Sebab anjing memiliki pilihan, dan para ulama berbeda pendapat: apakah hasilnya milik pemilik anjing atau pemburu.

وَيَلِيهِ شِبْهُ الْبَذْرِ الْمَزْرُوعِ فِي الْأَرْضِ الْمَغْصُوبَةِ.

Setelah itu ialah benih yang ditanam di tanah rampasan.

فَإِنَّ الزَّرْعَ لِمَالِكِ الْبَذْرِ، وَلَكِنْ فِيهِ شُبْهَةٌ.

Tanamannya milik pemilik benih, tetapi di dalamnya ada syubhat.

وَلَوْ أَثْبَتْنَا حَقَّ الْحَبْسِ لِمَالِكَ الْأَرْضِ فِي الزَّرْعِ لَكَانَ كَالثَّمَنِ الْحَرَامِ.

Kalau kita menetapkan hak menahan pada pemilik tanah atas tanaman itu, maka jadilah ia seperti harga yang haram.

وَلَكِنَّ الْأَقْيَسَ أَنْ لَا يُثْبَتَ حَقُّ حَبْسٍ.

Namun yang lebih kuat dalam qiyas ialah tidak menetapkan hak menahan.

كَمَا لَوْ طُحِنَ بِطَاحُونَةٍ مَغْصُوبَةٍ وَاقْتَنَصَ بِشَبَكَةٍ مَغْصُوبَةٍ.

Sebagaimana bila sesuatu digiling dengan penggilingan rampasan atau ditangkap dengan jaring rampasan.

إِذْ لَا يَتَعَلَّقُ حَقُّ صَاحِبِ الشَّبَكَةِ فِي مَنْفَعَتِهَا بِالصَّيْدِ.

Karena hak pemilik jaring atas manfaat jaringnya tidak terkait dengan buruan.

وَيَلِيهِ الِاحْتِطَابُ بِالْقَدُومِ الْمَغْصُوبِ.

Setelah itu ialah mencari kayu dengan kapak rampasan.

ثُمَّ ذَبْحُ مِلْكِ نَفْسِهِ بِالسِّكِّينِ الْمَغْصُوبِ.

Lalu menyembelih miliknya sendiri dengan pisau rampasan.

إِذْ لَمْ يَذْهَبْ أَحَدٌ إِلَىٰ تَحْرِيمِ الذَّبِيحَةِ.

Karena tidak seorang pun berpendapat bahwa sembelihannya haram.

وَيَلِيهِ الْبَيْعُ فِي وَقْتِ النِّدَاءِ.

Setelah itu ialah jual beli pada waktu adzan.

فَإِنَّهُ ضَعِيفُ التَّعَلُّقِ بِمَقْصُودِ الْعَقْدِ.

Karena hubungannya dengan tujuan akad itu lemah.

وَإِنْ ذَهَبَ قَوْمٌ إِلَىٰ فَسَادِ الْعَقْدِ.

Walaupun sebagian orang berpendapat akadnya rusak.

إِذْ لَيْسَ فِيهِ إِلَّا أَنَّهُ اشْتَغَلَ بِالْبَيْعِ عَنْ وَاجِبٍ آخَرَ كَانَ عَلَيْهِ.

Sebab di sana tidak ada kecuali ia disibukkan oleh jual beli dari kewajiban lain yang harus ia lakukan.

وَلَوْ أُفْسِدَ الْبَيْعُ بِمِثْلِهِ لَأُفْسِدَ بَيْعُ كُلِّ مَنْ عَلَيْهِ دِرْهَمُ زَكَاةٍ أَوْ صَلَاةٌ فَائِتَةٌ وَجُوبُهَا عَلَى الْفَوْرِ.

Kalau jual beli dibatalkan karena hal seperti ini, maka batal pula jual beli setiap orang yang masih punya utang zakat satu dirham, atau salat terlewat yang wajib segera ditunaikan.

أَوْ فِي ذِمَّتِهِ مَظْلِمَةُ دَانِقٍ.

Atau masih punya kezaliman senilai satu daniq dalam tanggungannya.

فَإِنَّ الِاشْتِغَالَ بِالْبَيْعِ مَانِعٌ لَهُ عَنِ الْقِيَامِ بِالْوَاجِبَاتِ.

Sebab kesibukan dengan jual beli akan menghalanginya dari kewajiban-kewajiban.

فَلَيْسَ لِلْجُمُعَةِ إِلَّا الْوُجُوبُ بَعْدَ النِّدَاءِ.

Maka dalam Jumat itu hanya ada kewajiban setelah adzan.

وَيَنْجَرُّ ذَلِكَ إِلَىٰ أَنْ لَا يَصِحَّ نِكَاحُ أَوْلَادِ الظَّلَمَةِ وَكُلِّ مَنْ فِي ذِمَّتِهِ دِرْهَمٌ.

Jika ini diteruskan, akan berujung pada tidak sahnya pernikahan anak-anak para zalim dan siapa pun yang masih punya utang satu dirham.

لِأَنَّهُ اشْتَغَلَ بِقَوْلِهِ عَنِ الْفِعْلِ الْوَاجِبِ عَلَيْهِ.

Karena ia sibuk dengan ucapannya dari perbuatan wajib yang harus ia lakukan.

إِلَّا مِنْ حَيْثُ وَرَدَ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ نَهْيٌ عَلَى الْخُصُوصِ.

Kecuali karena pada hari Jumat memang ada larangan khusus.

فَرُبَّمَا سَبَقَ إِلَى الْأَفْهَامِ خُصُوصِيَّةٌ فِيهِ، فَتَكُونُ الْكَرَاهَةُ أَشَدَّ.

Maka barangkali terlintas dalam pemahaman adanya kekhususan di situ, sehingga kemakruhannya menjadi lebih kuat.

وَلَا بَأْسَ بِالْحَذَرِ مِنْهُ، وَلَكِنْ قَدْ يَنْجَرُّ إِلَى الْوَسْوَاسِ.

Tidak mengapa berhati-hati darinya, tetapi hal itu bisa menyeret kepada waswas.

حَتَّىٰ يَتَحَرَّجَ عَنْ نِكَاحِ بَنَاتِ أَرْبَابِ الْمَظَالِمِ وَسَائِرِ مُعَامَلَاتِهِمْ.

Sampai-sampai ia menjadi sangat keberatan menikahi anak-anak perempuan para pemilik kezaliman dan bermuamalah dengan mereka.

وَقَدْ حُكِيَ عَنْ بَعْضِهِمْ أَنَّهُ اشْتَرَىٰ شَيْئًا مِنْ رَجُلٍ، فَسَمِعَ أَنَّهُ اشْتَرَاهُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ.

Diriwayatkan bahwa sebagian orang membeli sesuatu dari seseorang, lalu mendengar bahwa barang itu dibeli pada hari Jumat.

فَرَدَّهُ خِيفَةَ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ مِمَّا اشْتَرَاهُ وَقْتَ النِّدَاءِ.

Maka ia mengembalikannya karena khawatir itu termasuk yang dibeli pada waktu adzan.

وَهَذَا غَايَةُ الْمُبَالَغَةِ، إِنَّهُ رَدَّ بِالشَّكِّ.

Ini puncak berlebih-lebihan. Ia mengembalikan hanya dengan keraguan.

وَمِثْلُ هَذَا الْوَهْمِ فِي تَقْدِيرِ الْمَنَاهِي أَوِ الْمُفْسِدَاتِ لَا يَنْقَطِعُ عَنْ يَوْمِ السَّبْتِ وَسَائِرِ الْأَيَّامِ.

Dugaan seperti ini dalam memperkirakan larangan atau hal-hal yang merusak tidak akan berhenti pada hari Sabtu dan hari-hari lainnya.

وَالْوَرَعُ حَسَنٌ، وَالْمُبَالَغَةُ فِيهِ أَحْسَنُ، وَلَكِنْ إِلَىٰ حَدٍّ مَعْلُومٍ.

Wara' itu baik, dan berlebih-lebihan di dalamnya lebih baik, tetapi hanya sampai batas yang diketahui.

فَقَدْ قَالَ صلى الله عليه وسلم: هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ.

Nabi bersabda: “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan.”

فَلْيُحْذَرْ مِنْ أَمْثَالِ هَذِهِ الْمُبَالَغَاتِ.

Maka berhati-hatilah dari bentuk-bentuk berlebih-lebihan semacam ini.

فَإِنَّهَا وَإِنْ كَانَتْ لَا تَضُرُّ صَاحِبَهَا، رُبَّمَا أَوْهَمَتْ عِنْدَ الْغَيْرِ أَنَّ مِثْلَ ذَلِكَ مُهِمٌّ.

Walaupun mungkin tidak membahayakan pelakunya sendiri, itu bisa memberi kesan kepada orang lain bahwa hal semacam itu penting.

ثُمَّ يَعْجِزُ عَمَّا هُوَ أَيْسَرُ مِنْهُ، فَيَتْرُكَ أَصْلَ الْوَرَعِ.

Lalu ia tidak mampu melakukan sesuatu yang lebih ringan darinya, sehingga meninggalkan dasar wara' sama sekali.

وَهُوَ مُسْتَنَدُ أَكْثَرِ النَّاسِ فِي زَمَانِنَا هَذَا.

Inilah sandaran kebanyakan manusia di zaman kita.

إِذْ ضُيِّقَ عَلَيْهِمُ الطَّرِيقُ فَأَيْأَسُوا عَنِ الْقِيَامِ بِهِ فَاطَّرَحُوهُ.

Karena jalan itu disempitkan bagi mereka, lalu mereka putus asa untuk menempuhnya dan meninggalkannya.

فَكَمَا أَنَّ الْمُوَسْوِسَ فِي الطَّهَارَةِ قَدْ يَعْجِزُ عَنِ الطَّهَارَةِ فَيَتْرُكُهَا.

Sebagaimana orang yang waswas dalam bersuci bisa tidak mampu bersuci lalu meninggalkannya.

فَكَذَلِكَ بَعْضُ الْمُوَسْوِسِينَ فِي الْحَلَالِ سَبَقَ إِلَىٰ أَوْهَامِهِمْ أَنَّ مَالَ الدُّنْيَا كُلَّهُ حَرَامٌ.

Demikian pula sebagian orang yang waswas dalam urusan halal, terlintas dalam pikiran mereka bahwa seluruh harta dunia haram.

فَتَوَسَّعُوا فَتَرَكُوا التَّمْيِيزَ، وَهُوَ عَيْنُ الضَّلَالِ.

Lalu mereka melampaui batas dan meninggalkan pembedaan. Itulah kesesatan yang nyata.

وَأَمَّا مِثَالُ اللَّوَاحِقِ: فَهُوَ كُلُّ تَصَرُّفٍ يُفْضِي فِي سِيَاقِهِ إِلَىٰ مَعْصِيَةٍ.

Adapun contoh pada akibat lanjut, ialah setiap transaksi yang dalam alurnya mengantar kepada maksiat.

وَأَعْلَاهُ بَيْعُ الْعِنَبِ مِنَ الْخَمَّارِ، وَبَيْعُ الْغُلَامِ مِنَ الْمَعْرُوفِ بِالْفُجُورِ بِالْغِلْمَانِ، وَبَيْعُ السَّيْفِ مِنْ قُطَّاعِ الطَّرِيقِ.

Yang paling berat ialah menjual anggur kepada penjual khamar, menjual budak laki-laki kepada orang yang dikenal berbuat mesum dengan sesama laki-laki, dan menjual pedang kepada perampok jalanan.

وَقَدِ اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي صِحَّةِ ذَلِكَ وَفِي حِلِّ الثَّمَنِ الْمَأْخُوذِ مِنْهُ.

Para ulama berbeda pendapat tentang sahnya transaksi itu dan halal tidaknya harga yang diambil darinya.

وَالْأَقْيَسُ أَنَّ ذَلِكَ صَحِيحٌ، وَالْمَأْخُوذَ حَلَالٌ.

Yang lebih kuat ialah transaksi itu sah, dan barang yang diambil darinya halal.

وَالرَّجُلَ عَاصٍ بِعَقْدِهِ.

Namun orangnya berdosa karena akadnya.

كَمَا يُعْصَىٰ بِالذَّبْحِ بِالسِّكِّينِ الْمَغْصُوبِ، وَالذَّبِيحَةُ حَلَالٌ.

Sebagaimana ia berdosa karena menyembelih dengan pisau rampasan, padahal sembelihannya halal.

وَلَكِنَّهُ يُعْصَىٰ عِصْيَانَ الْإِعَانَةِ عَلَى الْمَعْصِيَةِ.

Tetapi ia berdosa karena membantu maksiat.

إِذْ لَا يَتَعَلَّقُ ذَلِكَ بِعَيْنِ الْعَقْدِ.

Karena hal itu tidak terkait dengan zat akad.

فَالْمَأْخُوذُ مِنْ هَذَا مَكْرُوهٌ كَرَاهِيَةً شَدِيدَةً.

Maka yang diambil dari ini makruh dengan kemakruhan yang sangat kuat.

وَتَرْكُهُ مِنَ الْوَرَعِ الْمُهِمِّ، وَلَيْسَ بِحَرَامٍ.

Meninggalkannya termasuk wara' yang penting, tetapi tidak haram.

وَيَلِيهِ فِي الرُّتْبَةِ بَيْعُ الْعِنَبِ لِمَنْ يَشْرَبُ الْخَمْرَ وَلَمْ يَكُنْ خَمَّارًا.

Setelah itu dalam tingkatan berikutnya ialah menjual anggur kepada orang yang meminum khamar tetapi bukan penjual khamar.

وَبَيْعُ السَّيْفِ لِمَنْ يُغْزِي وَيَظْلِمُ أَيْضًا.

Dan menjual pedang kepada orang yang berperang dan berbuat zalim.

لِأَنَّ الِاحْتِمَالَ قَدْ تَعَارَضَ.

Karena kemungkinan-kemungkinan di sini saling bertentangan.

وَقَدْ كَرِهَ السَّلَفُ بَيْعَ السَّيْفِ فِي وَقْتِ الْفِتْنَةِ خِيفَةَ أَنْ يَشْتَرِيَهُ ظَالِمٌ.

Salaf dahulu membenci menjual pedang pada masa fitnah, karena khawatir dibeli oleh seorang zalim.

فَهَذَا وَرَعٌ فَوْقَ الْأَوَّلِ، وَالْكَرَاهِيَةُ فِيهِ أَخَفُّ.

Ini adalah wara' di atas yang pertama, dan kemakruhannya lebih ringan.

وَيَلِيهِ مَا هُوَ مُبَالَغَةٌ وَيَكَادُ يَلْتَحِقُ بِالْوَسْوَاسِ.

Setelah itu ialah sesuatu yang berlebihan dan hampir menyerupai waswas.

وَهُوَ قَوْلُ جَمَاعَةٍ: لَا تَجُوزُ مُعَامَلَةُ الْفَلَّاحِينَ بِآلَاتِ الْحَرْثِ.

Yaitu ucapan sebagian orang: tidak boleh bermuamalah dengan petani dalam hal alat-alat pertanian.

لِأَنَّهُمْ يَسْتَعِينُونَ بِهَا عَلَى الْحَرَاثَةِ وَيَبِيعُونَ الطَّعَامَ مِنَ الظَّلَمَةِ.

Karena mereka memakainya untuk membajak dan menjual makanan kepada para zalim.

وَلَا يُبَاعُ مِنْهُمُ الْبَقَرُ وَالْفَدَّانُ وَآلَاتُ الْحَرْثِ.

Maka sapi, tanah garapan, dan alat-alat pertanian tidak boleh dibeli dari mereka.

وَهَذَا وَرَعُ الْوَسْوَسَةِ.

Ini adalah wara' yang lahir dari waswas.

إِذْ يَنْجَرُّ إِلَىٰ أَنْ لَا يُبَاعَ مِنَ الْفَلَّاحِ طَعَامٌ لِأَنَّهُ يَتَقَوَّىٰ بِهِ عَلَى الْحَرَاثَةِ.

Karena itu akan menyeret kepada tidak bolehnya membeli makanan dari petani sebab ia menguatkan diri untuk membajak.

وَلَا يُسْقَىٰ مِنَ الْمَاءِ الْعَامِّ لِذَلِكَ.

Dan tidak boleh diberi minum dari air umum karena alasan itu.

وَيَنْتَهِي هَذَا حَدَّ التَّنَطُّعِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ.

Hal ini berakhir pada batas berlebih-lebihan yang dilarang.

وَكُلُّ مُتَوَجِّهٍ إِلَىٰ شَيْءٍ عَلَىٰ قَصْدِ خَيْرٍ لَا بُدَّ وَأَنْ يُسْرِفَ إِنْ لَمْ يَذُمَّهُ الْعِلْمُ الْمُحَقَّقُ.

Setiap orang yang menuju suatu hal dengan niat baik pasti bisa melampaui batas, jika tidak dikoreksi oleh ilmu yang benar.

وَرُبَّمَا يَقْدِمُ عَلَىٰ مَا يَكُونُ بِدْعَةً فِي الدِّينِ لِيَضُرَّ النَّاسَ بَعْدَهُ بِهَا، وَهُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ مَشْغُولٌ بِالْخَيْرِ.

Bahkan bisa jadi ia melakukan sesuatu yang menjadi bid'ah dalam agama sehingga membahayakan orang-orang sesudahnya, padahal ia menyangka sedang sibuk dengan kebaikan.

وَلِهَذَا قَالَ صلى الله عليه وسلم: فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَىٰ أَدْنَىٰ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِي.

Karena itulah Nabi bersabda: “Keutamaan orang alim atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara para sahabatku.”

وَالْمُتَنَطِّعُونَ هُمُ الَّذِينَ يُخْشَىٰ عَلَيْهِمْ أَنْ يَكُونُوا مِمَّنْ قِيلَ فِيهِمْ: الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا.

Orang-orang yang berlebih-lebihan ialah mereka yang dikhawatirkan termasuk orang yang disebut: “Perbuatan mereka sia-sia dalam kehidupan dunia, padahal mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.”

وَبِالْجُمْلَةِ لَا يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَشْتَغِلَ بِدَقَائِقِ الْوَرَعِ إِلَّا بِحَضْرَةِ عَالِمٍ مُتْقِنٍ.

Secara umum, tidak patut seseorang menyibukkan diri dengan rincian-rincian wara' kecuali di hadapan seorang alim yang kokoh ilmunya.

فَإِنَّهُ إِذَا جَاوَزَ مَا رَسَمَ وَتَصَرَّفَ بِذِهْنِهِ مِنْ غَيْرِ سَمَاعٍ كَانَ مَا يُفْسِدُهُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُهُ.

Sebab bila ia melampaui batas yang digariskan dan bertindak dengan pikirannya sendiri tanpa bimbingan, maka kerusakan yang ia timbulkan lebih banyak daripada perbaikan yang dihasilkannya.

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ أَحْرَقَ كَرْمَهُ خَوْفًا مِنْ أَنْ يُبَاعَ الْعِنَبُ مِمَّنْ يَتَّخِذُهُ خَمْرًا.

Diriwayatkan dari Sa‘d bin أبي Waqqash r.a. bahwa ia membakar kebun anggurnya karena takut anggur itu dijual kepada orang yang akan menjadikannya khamar.

وَهَذَا لَا أَعْرِفُ لَهُ وَجْهًا.

Aku tidak mengetahui dasar yang jelas untuk itu.

إِنْ لَمْ يَعْرِفْ هُوَ سَبَبًا خَاصًّا يُوجِبُ الْإِحْرَاقَ.

Kecuali jika ia memiliki alasan khusus yang mengharuskan pembakaran.

إِذْ مَا أَحْرَقَ كَرْمَهُ وَنَخْلَهُ مَنْ كَانَ أَرْفَعَ قَدْرًا مِنْهُ مِنَ الصَّحَابَةِ.

Padahal orang yang membakar kebun anggur dan kurmanya belum tentu lebih tinggi kedudukannya daripada para sahabat.

وَلَوْ جَازَ هَذَا لَجَازَ قَطْعُ الذَّكَرِ خِيفَةَ الزِّنَا، وَقَطْعُ اللِّسَانِ خِيفَةَ الْكَذِبِ، إِلَىٰ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْإِتْلَافَاتِ.

Kalau ini dibolehkan, tentu boleh pula memotong alat kelamin karena takut zina, memotong lidah karena takut dusta, dan seterusnya dari bentuk-bentuk perusakan.

وَأَمَّا الْمُقَدِّمَاتُ: فَلِتَطَرُّقِ الْمَعْصِيَةِ إِلَيْهَا ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ.

Adapun perantara-perantara maksiat, maka masuknya maksiat ke dalamnya memiliki tiga tingkat.

الدَّرَجَةُ الْعُلْيَا الَّتِي يَشْتَدُّ الْكَرَاهَةُ فِيهَا: مَا بَقِيَ أَثَرُهُ فِي الْمُتَنَاوَلِ.

Tingkat tertinggi, yang kemakruhannya sangat kuat, ialah sesuatu yang masih tersisa pengaruhnya pada benda yang dikonsumsi.

كَالْأَكْلِ مِنْ شَاةٍ عُلِّفَتْ بِعَلَفٍ مَغْصُوبٍ أَوْ رَعَتْ فِي مَرْعًى حَرَامٍ.

Seperti memakan kambing yang diberi makan pakan rampasan atau digembalakan di padang rumput haram.

فَإِنَّ ذَلِكَ مَعْصِيَةٌ، وَقَدْ كَانَ سَبَبًا لِبَقَائِهَا.

Itu adalah maksiat, dan telah menjadi sebab bertahannya pengaruh itu.

وَرُبَّمَا يَكُونُ الْبَاقِي مِنْ دَمِهَا وَلَحْمِهَا وَأَجْزَائِهَا مِنْ ذَلِكَ الْعَلَفِ.

Bahkan mungkin yang tersisa dalam darah, daging, dan bagian-bagian tubuhnya berasal dari pakan itu.

وَهَذَا الْوَرَعُ مُهِمٌّ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ وَاجِبًا.

Wara' ini penting, walaupun tidak wajib.

وَنُقِلَ ذَلِكَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ.

Hal itu diriwayatkan dari sejumlah salaf.

وَكَانَ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ الطُّوسِيِّ التَّرُوغَنْدِيِّ شَاةٌ يَحْمِلُهَا عَلَىٰ رَقَبَتِهِ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى الصَّحْرَاءِ وَيَرْعَاهَا وَهُوَ يُصَلِّي.

Abu Abdullah at-Tusi at-Tarughandi memiliki seekor kambing yang ia bawa di pundaknya setiap hari ke padang pasir dan ia gembalakan sambil salat.

وَكَانَ يَأْكُلُ مِنْ لَبَنِهَا.

Ia memakan susunya.

فَغَفَلَ عَنْهَا سَاعَةً فَتَنَاوَلَتْ مِنْ وَرَقِ كَرْمٍ عَلَىٰ طَرَفِ بُسْتَانٍ.

Suatu kali ia lalai sejenak, lalu kambing itu memakan daun anggur di tepi kebun.

فَتَرَكَهَا فِي الْبُسْتَانِ وَلَمْ يَسْتَحِلَّ أَخْذَهَا.

Maka ia meninggalkannya di kebun itu, dan tidak menghalalkan mengambilnya.

فَإِنْ قِيلَ: فَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ وَعُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّهُمَا اشْتَرَيَا إِبِلًا فَبَعَثَاهَا إِلَى الْحِمَىٰ فَرَعَتْ إِبِلُهُمَا حَتَّىٰ سَمِنَتْ.

Jika dikatakan: telah diriwayatkan dari Abdullah bin Umar dan Ubaidillah bahwa keduanya membeli unta lalu mengirimnya ke padang larangan. Unta-unta mereka pun makan dan menjadi gemuk.

فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَرَعَيْتُمَاهَا فِي الْحِمَىٰ؟ فَقَالَا: نَعَمْ، فَشَاطَرَهُمَا.

Umar r.a. bertanya: “Apakah kalian menggembalakannya di padang larangan?” Keduanya menjawab: “Ya.” Maka ia membagi dua harta mereka.

فَهَذَا يَدُلُّ عَلَىٰ أَنَّهُ رَأَى الْلَّحْمَ الْحَاصِلَ مِنَ الْعَلَفِ لِصَاحِبِ الْعَلَفِ، فَلْيُوجِبْ هَذَا تَحْرِيمًا.

Ini menunjukkan bahwa ia memandang daging yang dihasilkan dari pakan menjadi milik pemilik pakan. Maka semestinya ini mengharamkan.

قُلْنَا: لَيْسَ كَذَلِكَ، فَإِنَّ الْعَلَفَ يَفْسُدُ بِالْأَكْلِ، وَاللَّحْمَ خَلْقٌ جَدِيدٌ وَلَيْسَ عَيْنَ الْعَلَفِ.

Kami jawab: tidak demikian. Pakan itu rusak karena dimakan, sedangkan daging adalah ciptaan baru dan bukan zat pakan itu.

فَلَا شِرْكَةَ لِصَاحِبِ الْعَلَفِ شَرْعًا.

Maka secara syariat tidak ada kepemilikan bersama bagi pemilik pakan.

وَلَكِنَّ عُمَرَ غَرَّمَهُمَا قِيمَةَ الْكَلَإِ.

Akan tetapi Umar menuntut mereka membayar nilai padang rumput.

وَرَأَىٰ ذَلِكَ مِثْلَ شَطْرِ الْإِبِلِ، فَأَخَذَ الشَّطْرَ بِالِاجْتِهَادِ.

Ia memandang itu seperti setengah unta, lalu mengambil setengahnya dengan ijtihad.

كَمَا شَاطَرَ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ مَالَهُ لَمَّا قَدِمَ مِنَ الْكُوفَةِ.

Sebagaimana ia membagi dua harta Sa‘d bin أبي Waqqash ketika pulang dari Kufah.

وَكَذَلِكَ شَاطَرَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.

Demikian pula ia membagi dua harta Abu Hurairah r.a.

إِذْ رَأَىٰ أَنَّ كُلَّ ذَلِكَ لَا يَسْتَحِقُّهُ الْعَامِلُ.

Karena ia melihat bahwa semua itu bukan hak pekerja.

وَرَأَىٰ شَطْرَ ذَلِكَ كَافِيًا عَلَىٰ حَقِّ عَمَلِهِمْ، وَقَدَّرَهُ بِالشَّطْرِ اجْتِهَادًا.

Dan ia menilai setengahnya cukup sebagai balasan atas kerja mereka, lalu menaksirnya dengan setengah secara ijtihad.

الرُّتْبَةُ الْوُسْطَىٰ: مَا نُقِلَ عَنْ بِشْرِ بْنِ الْحَارِثِ مِنْ امْتِنَاعِهِ عَنِ الْمَاءِ الْمَسْقِيِّ فِي نَهْرٍ احْتَفَرَهُ الظَّلَمَةُ.

Tingkat pertengahan ialah apa yang diriwayatkan dari Bishr bin al-Harits tentang sikapnya enggan meminum air yang dialirkan di sungai yang digali oleh para zalim.

لِأَنَّ النَّهْرَ مُوصِلٌ إِلَيْهِ، وَقَدْ عَصَى اللَّهَ بِحَفْرِهِ.

Karena sungai itu menyampaikan air kepadanya, sedangkan mereka telah durhaka kepada Allah dengan menggali sungai itu.

وَامْتَنَعَ آخَرُ عَنْ عِنَبِ كَرْمٍ يُسْقَىٰ بِمَاءٍ يَجْرِي فِي نَهْرٍ حُفِرَ ظُلْمًا.

Yang lain enggan memakan anggur dari kebun yang disiram dengan air dari sungai yang digali secara zalim.

وَهُوَ أَرْفَعُ مِنْهُ وَأَبْلَغُ فِي الْوَرَعِ.

Ini lebih tinggi darinya dan lebih jauh dalam wara'.

وَامْتَنَعَ آخَرُ مِنَ الشُّرْبِ مِنْ مَصَانِعِ السَّلَاطِينِ فِي الطُّرُقِ.

Yang lain enggan minum dari tempat penampungan air milik para penguasa di jalan-jalan.

وَأَعْلَىٰ مِنْ ذَلِكَ امْتِنَاعُ ذِي النُّونِ مِنْ طَعَامٍ حَلَالٍ أُوصِلَ إِلَيْهِ عَلَىٰ يَدِ سَجَّانٍ.

Lebih tinggi dari itu ialah sikap Dzu Nun yang enggan menerima makanan halal yang disampaikan kepadanya melalui tangan sipir.

وَقَوْلُهُ: إِنَّهُ جَاءَنِي عَلَىٰ يَدِ ظَالِمٍ.

Dan ucapannya: “Ia datang kepadaku melalui tangan seorang zalim.”

وَدَرَجَاتُ هَذِهِ الرُّتَبِ لَا تَنْحَصِرُ.

Tingkatan-tingkatan ini tidak terbatas.

الرُّتْبَةُ الثَّالِثَةُ، وَهِيَ قَرِيبٌ مِنَ الْوَسْوَاسِ وَالْمُبَالَغَةِ، أَنْ يَمْتَنِعَ مِنْ حَلَالٍ وَصَلَ عَلَىٰ يَدِ رَجُلٍ عَصَى اللَّهَ بِالزِّنَا أَوِ الْقَذْفِ.

Tingkat ketiga, yang hampir menyerupai waswas dan berlebihan, ialah enggan menerima halal yang sampai melalui tangan orang yang berbuat maksiat dengan zina atau qذف.

وَلَيْسَ هُوَ كَمَا لَوْ عَصَىٰ بِأَكْلِ الْحَرَامِ، فَإِنَّ الْمُوصِلَ قُوَّتُهُ الْحَاصِلَةُ مِنَ الْغِذَاءِ الْحَرَامِ.

Ini tidak sama dengan orang yang berbuat maksiat dengan memakan yang haram, sebab orang yang mengantarkan itu masih memiliki kekuatan yang lahir dari makanan haram.

وَالزِّنَا وَالْقَذْفُ لَا يُوجِبَانِ قُوَّةً يُسْتَعَانُ بِهَا عَلَى الْحَمْلِ.

Sedangkan zina dan qذف tidak menimbulkan kekuatan yang dipakai untuk membawa barang.

بَلْ الِامْتِنَاعُ مِنْ أَخْذِ حَلَالٍ وَصَلَ عَلَىٰ يَدِ كَافِرٍ وَسْوَاسٌ.

Bahkan enggan menerima halal yang datang melalui tangan orang kafir adalah waswas.

بِخِلَافِ أَكْلِ الْحَرَامِ، إِذِ الْكُفْرُ لَا يَتَعَلَّقُ بِحَمْلِ الطَّعَامِ.

Berbeda dengan memakan yang haram, karena kekafiran tidak terkait dengan membawa makanan.

وَيَنْجَرُّ هَذَا إِلَىٰ أَنْ لَا يُؤْخَذَ مِنْ يَدِ مَنْ عَصَى اللَّهَ وَلَوْ بِغِيبَةٍ أَوْ بِكَذِبَةٍ.

Ini akan menyeret kepada tidak mau mengambil dari tangan siapa pun yang pernah durhaka kepada Allah, walaupun dengan ghibah atau dusta.

وَهُوَ غَايَةُ التَّنَطُّعِ وَالْإِسْرَافِ.

Dan itu adalah puncak dari berlebih-lebihan dan melampaui batas.

فَلْيُضْبَطْ مَا عُرِفَ مِنْ وَرَعِ ذِي النُّونِ وَبِشْرٍ بِالْمَعْصِيَةِ فِي السَّبَبِ الْمُوصِلِ كَالنَّهْرِ وَقُوَّةِ الْيَدِ الْمُسْتَفَادَةِ بِالْغِذَاءِ الْحَرَامِ.

Maka hendaklah dipahami batas wara' Dzu Nun dan Bishr pada dosa yang ada dalam sebab pengantar, seperti sungai dan kekuatan tangan yang diperoleh dari makanan haram.

وَلَوِ امْتَنَعَ عَنِ الشُّرْبِ بِالْكُوزِ لِأَنَّ صَانِعَ الْفَخَّارِ الَّذِي عَمِلَ الْكُوزَ كَانَ قَدْ عَصَى اللَّهَ يَوْمًا بِضَرْبِ إِنْسَانٍ أَوْ شَتْمِهِ لَكَانَ هَذَا وَسْوَاسًا.

Seandainya ia enggan minum dari gelas hanya karena pembuat gerabah yang membuatnya pernah pada suatu hari durhaka kepada Allah dengan memukul atau mencaci seseorang, maka itu adalah waswas.

وَلَوِ امْتَنَعَ مِنْ لَحْمِ شَاةٍ سَاقَهَا آكِلُ حَرَامٍ، فَهَذَا أَبْعَدُ مِنْ يَدِ السَّجَّانِ.

Seandainya ia enggan memakan daging kambing yang digiring oleh pemakan haram, maka itu lebih jauh lagi daripada tangan sipir.

لِأَنَّ الطَّعَامَ يَسُوقُهُ قُوَّةُ السَّجَّانِ، وَالشَّاةُ تَمْشِي بِنَفْسِهَا، وَالسَّائِقُ يَمْنَعُهَا عَنِ الْعُدُولِ فِي الطَّرِيقِ فَقَطْ.

Karena makanan dibawa oleh kekuatan sipir, sedangkan kambing berjalan sendiri, dan penggiringnya hanya mencegahnya menyimpang dari jalan.

فَهَذَا قَرِيبٌ مِنَ الْوَسْوَاسِ.

Ini dekat dengan waswas.

فَانْظُرْ كَيْفَ تَدَرَّجْنَا فِي بَيَانِ مَا تَدَاعَىٰ إِلَيْهِ هَذِهِ الْأُمُورُ.

Lihatlah bagaimana kami bertahap dalam menjelaskan apa yang mengantarkan perkara-perkara ini.

وَاعْلَمْ أَنَّ كُلَّ هَذَا خَارِجٌ عَنْ فَتْوَىٰ عُلَمَاءِ الظَّاهِرِ.

Ketahuilah bahwa semua ini di luar fatwa ulama zahir.

فَإِنَّ فَتْوَى الْفَقِيهِ تَخْتَصُّ بِالدَّرَجَةِ الْأُولَىٰ.

Fatwa faqih hanya mencakup derajat pertama.

الَّتِي يُمْكِنُ تَكْلِيفُ عَامَّةِ الْخَلْقِ بِهَا.

Yaitu derajat yang masih mungkin dibebankan kepada masyarakat umum.

وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَيْهِ لَمْ يُخَرِّبِ الْعَالَمُ.

Kalau mereka semua melakukannya bersama, dunia tidak akan rusak.

دُونَ مَا عَدَاهَا مِنْ وَرَعِ الْمُتَّقِينَ وَالصَّالِحِينَ.

Adapun selain itu ialah wara' orang-orang bertakwa dan saleh.

وَالْفَتْوَىٰ فِي هَذَا مَا قَالَهُ صلى الله عليه وسلم لِوَابِصَةَ.

Fatwa dalam hal ini ialah sebagaimana sabda Nabi kepada Wabishah.

إِذْ قَالَ: اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَإِنْ أَفْتَوْكَ وَأَفْتَوْكَ وَأَفْتَوْكَ.

Beliau bersabda: “Mintalah fatwa kepada hatimu, walaupun orang-orang berfatwa kepadamu, lalu berfatwa kepadamu, lalu berfatwa kepadamu.”

وَعُرِفَ ذَلِكَ إِذْ قَالَ: الْإِثْمُ حَزَّازُ الْقُلُوبِ.

Dan itu dikenal dari sabdanya: “Dosa itu adalah sesuatu yang menggores hati.”

وَكُلُّ مَا حَاكَ فِي صَدْرِ الْمُرِيدِ مِنْ هَذِهِ الْأَسْبَابِ.

Segala sesuatu yang mengganjal di dada seorang pencari dari sebab-sebab ini.

فَلَوْ أَقْدَمَ عَلَيْهِ مَعَ حَزَازَةِ الْقَلْبِ اسْتَضَرَّهُ وَأَظْلَمَ قَلْبَهُ بِقَدْرِ الْحَزَازَةِ الَّتِي يَجِدُهَا.

Jika ia tetap melakukannya sementara hatinya masih menusuk, ia membahayakan dirinya dan menggelapkan hatinya sesuai kadar goresan yang ia rasakan.

بَلْ لَوْ أَقْدَمَ عَلَىٰ حَرَامٍ فِي عِلْمِ اللَّهِ وَهُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ حَلَالٌ لَمْ يُؤَثِّرْ ذَلِكَ فِي قَسَاوَةِ قَلْبِهِ.

Bahkan jika ia melakukan yang haram menurut ilmu Allah sementara ia mengira itu halal, itu tidak berpengaruh pada kekerasan hatinya.

وَلَوْ أَقْدَمَ عَلَىٰ مَا هُوَ حَلَالٌ فِي فَتْوَىٰ عُلَمَاءِ الظَّاهِرِ وَلَكِنَّهُ يَجِدُ حَزَازَةً فِي قَلْبِهِ فَذَلِكَ يَضُرُّهُ.

Namun bila ia melakukan sesuatu yang halal menurut fatwa ulama zahir tetapi hatinya merasa goresan karenanya, maka itu justru membahayakannya.

وَإِنَّمَا الَّذِي ذَكَرْنَاهُ فِي النَّهْيِ عَنِ الْمُبَالَغَةِ.

Adapun yang kami sebut tentang larangan berlebih-lebihan.

أَرَدْنَا بِهِ أَنَّ الْقَلْبَ الصَّافِيَ الْمُعْتَدِلَ هُوَ الَّذِي لَا يَجِدُ حَزَازَةً فِي مِثْلِ تِلْكَ الْأُمُورِ.

Yang kami maksud ialah bahwa hati yang jernih dan seimbang adalah hati yang tidak merasakan goresan pada perkara-perkara semacam itu.

فَإِنْ مَالَ قَلْبُ مُوَسْوِسٍ عَنِ الِاعْتِدَالِ وَوَجَدَ الْحَزَازَةَ فَأَقْدَمَ مَعَ مَا يَجِدُ فِي قَلْبِهِ فَذَلِكَ يَضُرُّهُ.

Tetapi bila hati seorang yang waswas condong dari keseimbangan dan merasakan goresan, lalu ia tetap maju meski hatinya keberatan, maka itu membahayakannya.

لِأَنَّهُ مَأْخُوذٌ فِي حَقِّ نَفْسِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَىٰ بِفَتْوَىٰ قَلْبِهِ.

Karena ia terikat dalam hak dirinya sendiri di hadapan Allah Ta'ala dengan fatwa hatinya.

وَكَذَلِكَ يُشَدَّدُ عَلَى الْمُوَسْوِسِ فِي الطَّهَارَةِ وَنِيَّةِ الصَّلَاةِ.

Demikian pula orang yang waswas dalam thaharah dan niat salat diberi tekanan.

فَإِنَّهُ إِذَا غَلَبَ عَلَىٰ قَلْبِهِ أَنَّ الْمَاءَ لَمْ يَصِلْ إِلَىٰ جَمِيعِ أَجْزَائِهِ بِثَلَاثِ مَرَّاتٍ لِغَلَبَةِ الْوَسْوَسَةِ عَلَيْهِ.

Bila hatinya dikuasai keyakinan bahwa air belum sampai ke seluruh anggota badannya setelah tiga kali, karena kuatnya waswas padanya.

فَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَسْتَعْمِلَ الرَّابِعَةَ.

Maka wajib baginya memakai bilangan keempat.

وَصَارَ ذَلِكَ حُكْمًا فِي حَقِّهِ وَإِنْ كَانَ مُخْطِئًا فِي نَفْسِهِ.

Dan itu menjadi hukum baginya, walaupun pada dirinya sendiri ia mungkin keliru.

أُولَئِكَ قَوْمٌ شَدَّدُوا فَشَدَّدَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ.

Mereka adalah kaum yang mempersulit, lalu Allah mempersulit atas mereka.

وَلِذَلِكَ شُدِّدَ عَلَىٰ قَوْمِ مُوسَىٰ عَلَيْهِ السَّلَامُ لَمَّا اسْتَقْصَوْا فِي السُّؤَالِ عَنِ الْبَقَرَةِ.

Karena itu Bani Israil dipersulit ketika mereka terlalu mendetail dalam bertanya tentang sapi.

وَلَوْ أَخَذُوا أَوَّلًا بِعُمُومِ لَفْظِ الْبَقَرَةِ وَكُلِّ مَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ الِاسْمُ لَأَجْزَأَهُمْ ذَلِكَ.

Andai sejak awal mereka mengambil keumuman lafaz sapi dan segala yang layak disebut demikian, itu sudah mencukupi mereka.

فَلَا تَغْفُلْ عَنْ هَذِهِ الدَّقَائِقِ الَّتِي رَدَدْنَاهَا نَفْيًا وَإِثْبَاتًا.

Maka jangan lalai dari rincian-rincian ini yang telah kami ulang dalam bentuk penafian dan penetapan.

فَإِنَّ مَنْ لَا يَطَّلِعُ عَلَىٰ كُنْهِ الْكَلَامِ وَلَا يُحِيطُ بِمَجَامِعِهِ، يُوشِكُ أَنْ يَزِلَّ فِي دَرَكِ مَقَاصِدِهِ.

Karena orang yang tidak mengetahui hakikat pembicaraan dan tidak meliputi pokok-pokoknya hampir pasti tergelincir dalam kedalaman maksud-maksudnya.

وَأَمَّا الْمَعْصِيَةُ فِي الْعِوَضِ فَلَهُ أَيْضًا دَرَجَاتٌ.

Adapun maksiat pada sisi imbalan, ia juga memiliki tingkatan.

الدَّرَجَةُ الْعُلْيَا الَّتِي تَشْتَدُّ الْكَرَاهَةُ فِيهَا أَنْ يَشْتَرِيَ شَيْئًا فِي الذِّمَّةِ وَيَقْضِيَ ثَمَنَهُ مِنْ غَصْبٍ أَوْ مَالٍ حَرَامٍ.

Tingkat tertinggi, yang kemakruhannya sangat kuat, ialah membeli sesuatu secara utang lalu membayar harganya dari hasil rampasan atau harta haram.

فَيُنْظَرُ: فَإِنْ سُلِّمَ إِلَيْهِ الْبَائِعُ الطَّعَامَ قَبْلَ قَبْضِ الثَّمَنِ بِطِيبِ قَلْبِهِ فَأَكَلَهُ قَبْلَ قَضَاءِ الثَّمَنِ فَهُوَ حَلَالٌ.

Maka diperhatikan: bila penjual menyerahkan makanan itu sebelum harga dibayar dengan kerelaan hatinya, lalu pembeli memakannya sebelum melunasi harga, maka itu halal.

وَتَرْكُهُ لَيْسَ بِوَاجِبٍ بِالْإِجْمَاعِ، أَعْنِي قَبْلَ قَضَاءِ الثَّمَنِ، وَلَا هُوَ أَيْضًا مِنَ الْوَرَعِ الْمُؤَكَّدِ.

Meninggalkannya pun tidak wajib menurut ijmak, maksudnya sebelum harga dilunasi. Dan itu juga bukan wara' yang sangat ditekankan.

فَإِنْ قَضَى الثَّمَنَ بَعْدَ الْأَكْلِ مِنَ الْحَرَامِ فَكَأَنَّهُ لَمْ يَقْضِ الثَّمَنَ.

Bila ia melunasi harga setelah memakannya dari harta haram, seakan-akan ia belum melunasi harga sama sekali.

وَلَوْ لَمْ يَقْضِهِ أَصْلًا لَكَانَ مُتَقَلِّدًا لِلْمَظْلِمَةِ بِتَرْكِ ذِمَّتِهِ مُرْتَهَنَةً بِالدَّيْنِ.

Bila ia tidak membayarnya sama sekali, ia tetap memikul kezaliman karena membiarkan tanggungannya tergadai oleh utang.

وَلَا يَنْقَلِبُ ذَلِكَ حَرَامًا.

Dan hal itu tidak berubah menjadi haram.

فَإِنْ قَضَى الثَّمَنَ مِنَ الْحَرَامِ وَأَبْرَأَهُ الْبَائِعُ مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّهُ حَرَامٌ فَقَدْ بَرِئَتْ ذِمَّتُهُ.

Jika ia membayar harga dari harta haram lalu penjual membebaskannya dengan mengetahui bahwa harta itu haram, maka tanggungannya bebas.

وَلَمْ يَبْقَ عَلَيْهِ إِلَّا مَظْلِمَةُ تَصَرُّفِهِ فِي الدَّرَاهِمِ الْحَرَامِ بِصَرْفِهَا إِلَى الْبَائِعِ.

Yang tersisa hanyalah dosa penggunaan dirham haram dengan menyalurkannya kepada penjual.

وَإِنْ أَبْرَأَهُ عَلَىٰ ظَنِّ أَنَّ الثَّمَنَ حَلَالٌ فَلَا تَحْصُلُ الْبَرَاءَةُ.

Adapun jika penjual membebaskannya dengan asumsi harga itu halal, maka pembebasan itu tidak sah.

لِأَنَّهُ يُبْرِئُهُ مِمَّا أَخَذَ إِبْرَاءَ اسْتِيفَاءٍ، وَلَا يَصْلُحُ ذَلِكَ لِلْإِيفَاءِ.

Karena ia membebaskannya atas sesuatu yang telah diambil sebagai pembebasan penerimaan, dan itu tidak layak untuk pelunasan.

هَذَا حُكْمُ الْمُشْتَرِي وَالْأَكْلِ مِنْهُ، وَحُكْمُ الذِّمَّةِ.

Ini adalah hukum bagi pembeli dan makan darinya, juga hukum tanggungan.

وَإِنْ لَمْ يُسَلَّمْ إِلَيْهِ بِطِيبِ قَلْبٍ وَلَكِنْ أَخَذَهُ فَأَكَلَهُ فَهُوَ حَرَامٌ.

Jika barang itu tidak diserahkan kepadanya dengan kerelaan hati, tetapi ia mengambilnya lalu memakannya, maka itu haram.

سَوَاءٌ أَكَلَهُ قَبْلَ تَوْفِيَةِ الثَّمَنِ مِنَ الْحَرَامِ أَوْ بَعْدَهُ.

Baik dimakan sebelum harga dilunasi dari harta haram maupun sesudahnya.

لِأَنَّ الَّذِي تُومِئُ الْفَتْوَىٰ بِهِ ثُبُوتُ حَقِّ الْحَبْسِ لِلْبَائِعِ.

Karena fatwa memberi isyarat bahwa penjual memiliki hak menahan.

حَتَّىٰ يَتَعَيَّنَ مِلْكُهُ بِإِقْبَاضِ النَّقْدِ كَمَا تَعَيَّنَ مِلْكُ الْمُشْتَرِي.

Sampai kepemilikannya menjadi jelas melalui penyerahan uang tunai, sebagaimana kepemilikan pembeli menjadi jelas.

وَإِنَّمَا يَبْطُلُ حَقُّ حَبْسِهِ إِمَّا بِالْإِبْرَاءِ أَوِ الِاسْتِيفَاءِ.

Hak menahan itu hanya gugur dengan pembebasan atau pelunasan.

وَلَمْ يَجْرِ شَيْءٌ مِنْهُمَا.

Dan tidak terjadi salah satu dari keduanya.

وَلَكِنَّهُ أَكَلَ مِلْكَ نَفْسِهِ وَهُوَ عَاصٍ بِهِ.

Namun ia memakan miliknya sendiri dan berdosa karenanya.

عِصْيَانَ الرَّاهِنِ لِلطَّعَامِ إِذَا أَكَلَهُ بِغَيْرِ إِذْنِ الْمُرْتَهِنِ.

Seperti orang yang menggadaikan makanan lalu memakannya tanpa izin penerima gadai.

وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ أَكْلِ طَعَامِ الْغَيْرِ فَرْقٌ.

Ada perbedaan antara ini dan memakan makanan orang lain.

وَلَكِنْ أَصْلَ التَّحْرِيمِ شَامِلٌ.

Tetapi hukum asal pengharaman mencakup semuanya.

هَذَا كُلُّهُ إِذَا قَبَضَ قَبْلَ تَوْفِيَةِ الثَّمَنِ، إِمَّا بِطِيبَةِ قَلْبِ الْبَائِعِ أَوْ مِنْ غَيْرِ طِيبَةِ قَلْبِهِ.

Ini semua berlaku bila ia menerima barang sebelum pelunasan harga, baik dengan kerelaan hati penjual maupun tanpa kerelaannya.

فَأَمَّا إِذَا وَفَّى الثَّمَنَ الْحَرَامَ أَوَّلًا ثُمَّ قَبَضَ.

Adapun bila ia melunasi lebih dahulu dengan harga haram lalu baru menerima barang.

فَإِنْ كَانَ الْبَائِعُ عَالِمًا بِأَنَّ الثَّمَنَ حَرَامٌ وَمَعَ هَذَا أَقْبَضَ الْمَبِيعَ بَطَلَ حَقُّ حَبْسِهِ.

Bila penjual mengetahui bahwa harga itu haram lalu tetap menyerahkan barang, gugurlah hak menahannya.

وَبَقِيَ لَهُ الثَّمَنُ فِي ذِمَّتِهِ، إِذْ مَا أَخَذَهُ لَيْسَ بِثَمَنٍ.

Dan harga tetap menjadi tanggungan pembeli, karena yang ia ambil itu bukan harga.

وَلَا يَصِيرُ أَكْلُ الْمَبِيعِ حَرَامًا بِسَبَبِ بَقَاءِ الثَّمَنِ.

Dan memakan barang yang dibeli tidak menjadi haram karena harga masih tertinggal.

فَأَمَّا إِذَا لَمْ يَعْلَمْ أَنَّهُ حَرَامٌ.

Adapun bila penjual tidak tahu bahwa itu haram.

وَكَانَ بِحَيْثُ لَوْ عَلِمَ لَمَا رَضِيَ بِهِ وَلَا أَقْبَضَ الْمَبِيعَ.

Dan seandainya tahu, ia tidak akan rela dan tidak akan menyerahkan barang.

فَحَقُّ حَبْسِهِ لَا يَبْطُلُ بِهَذَا التَّلْبِيسِ.

Maka hak menahannya tidak gugur oleh penipuan ini.

فَأَكْلُهُ حَرَامٌ تَحْرِيمَ أَكْلِ الْمَرْهُونِ.

Maka memakannya haram, seperti haramnya memakan barang gadai.

حَتَّىٰ يُبْرِئَهُ أَوْ يُوفَىٰ مِنْ حَلَالٍ أَوْ يَرْضَىٰ هُوَ بِالْحَرَامِ وَيُبْرِئَ.

Sampai ia dibebaskan, atau dibayar dari yang halal, atau ia sendiri rela terhadap yang haram lalu membebaskan.

فَيَصِحَّ إِبْرَاؤُهُ وَلَا يَصِحُّ رِضَاهُ بِالْحَرَامِ.

Maka pembebasannya sah, sedangkan kerelaannya terhadap yang haram tidak sah.

فَهَذَا مُقْتَضَى الْفِقْهِ وَبَيَانُ الْحُكْمِ فِي الدَّرَجَةِ الْأُولَىٰ مِنَ الْحِلَلِ وَالْحُرْمَةِ.

Inilah konsekuensi fikih dan penjelasan hukum dalam derajat pertama dari halal dan haram.

فَأَمَّا الِامْتِنَاعُ عَنْهُ فَمِنَ الْوَرَعِ الْمُهِمِّ.

Adapun menahan diri darinya adalah bagian dari wara' yang penting.

لِأَنَّ الْمَعْصِيَةَ إِذَا تَمَكَّنَتْ مِنَ السَّبَبِ الْمُوصِلِ إِلَى الشَّيْءِ تَشْتَدُّ الْكَرَاهَةُ فِيهِ كَمَا سَبَقَ.

Karena bila maksiat telah menancap pada sebab yang mengantarkan kepada sesuatu, kemakruhannya menjadi sangat kuat, sebagaimana telah dijelaskan.

وَأَقْوَى الْأَسْبَابِ الْمُوصِلَةِ الثَّمَنُ.

Dan sebab yang paling kuat mengantarkan ialah harga.

وَلَوْلَا الثَّمَنُ الْحَرَامُ لَمَا رَضِيَ اللَّهُ الْبَائِعَ بِتَسْلِيمِهِ إِلَيْهِ.

Kalau bukan karena harga haram, tentu Allah tidak meridai penjual menyerahkannya kepadanya.

فَرِضَاهُ لَا يُخْرِجُهُ عَنْ كَوْنِهِ مَكْرُوهًا كَرَاهِيَةً شَدِيدَةً.

Maka kerelaannya tidak mengeluarkannya dari status makruh yang sangat kuat.

وَلَكِنَّ الْعَدَالَةَ لَا تَنْخَرِمُ بِهِ، وَتَزُولُ بِهِ دَرَجَةُ التَّقْوَىٰ وَالْوَرَعِ.

Tetapi hal itu tidak merusak keadilannya; hanya saja hilang darinya derajat takwa dan wara'.

وَلَوِ اشْتَرَىٰ سُلْطَانٌ مَثَلًا ثَوْبًا أَوْ أَرْضًا فِي الذِّمَّةِ وَقَبَضَهُ بِرِضَا الْبَائِعِ قَبْلَ تَوْفِيَةِ الثَّمَنِ.

Seandainya seorang penguasa membeli, misalnya, pakaian atau tanah secara utang lalu menerimanya dengan kerelaan penjual sebelum melunasi harga.

وَسَلَّمَهُ إِلَىٰ فَقِيهٍ أَوْ غَيْرِهِ صِلَةً أَوْ خِلْعَةً.

Lalu memberikannya kepada seorang faqih atau selainnya sebagai hadiah atau pemberian kehormatan.

وَهُوَ شَاكٌّ فِي أَنَّهُ سَيَقْضِي ثَمَنَهُ مِنَ الْحَلَالِ أَوِ الْحَرَامِ.

Sementara ia ragu apakah ia akan membayar harganya dari yang halal atau haram.

فَهَذَا أَخَفُّ، إِذْ وَقَعَ الشَّكُّ فِي تَطَرُّقِ الْمَعْصِيَةِ إِلَى الثَّمَنِ.

Maka ini lebih ringan, karena yang diragukan adalah masuknya maksiat pada harga.

وَتَفَاوُتُ خِفَّتِهِ بِتَفَاوُتِ كَثْرَةِ الْحَرَامِ وَقِلَّتِهِ فِي مَالِ ذَلِكَ السُّلْطَانِ.

Ringan atau beratnya berbeda sesuai banyak atau sedikitnya harta haram pada kekayaan penguasa itu.

وَمَا يَغْلِبُ عَلَى الظَّنِّ فِيهِ، وَبَعْضُهُ أَشَدُّ مِنْ بَعْضٍ.

Dan sesuai dengan apa yang lebih kuat diduga tentangnya. Sebagiannya lebih berat daripada sebagian yang lain.

وَالرُّجُوعُ فِيهِ إِلَىٰ مَا يَنْقَدِحُ فِي الْقَلْبِ.

Rujukannya ialah apa yang terlintas dalam hati.

الرُّتْبَةُ الْوُسْطَىٰ: أَنْ لَا يَكُونَ الْعِوَضُ غَصْبًا وَلَا حَرَامًا، وَلَكِنْ يَتَهَيَّأَ لِمَعْصِيَةٍ.

Tingkat pertengahan ialah ketika imbalan itu bukan rampasan dan bukan haram, tetapi dapat dipersiapkan untuk maksiat.

كَمَا لَوْ سُلِّمَ عِوَضًا عَنْ الثَّمَنِ عِنَبًا وَالْآخِذُ شَارِبُ خَمْرٍ.

Seperti bila imbalan atas harga berupa anggur, lalu penerimanya adalah peminum khamar.

أَوْ سَيْفًا وَهُوَ قَاطِعُ طَرِيقٍ.

Atau berupa pedang sementara penerimanya adalah perampok jalanan.

فَهَذَا لَا يُوجِبُ تَحْرِيمًا فِي مَبِيعٍ اشْتَرَاهُ فِي الذِّمَّةِ.

Ini tidak mengharamkan barang yang dibeli secara utang.

وَلَكِنَّهُ يَقْتَضِي فِيهِ كَرَاهَةً دُونَ الْكَرَاهَةِ الَّتِي فِي الْغَصْبِ.

Tetapi itu menuntut kemakruhan, yang lebih ringan daripada kemakruhan pada kasus rampasan.

وَتَتَفَاوَتُ دَرَجَاتُ هَذِهِ الرُّتْبَةِ أَيْضًا بِتَفَاوُتِ غَلَبَةِ الْمَعْصِيَةِ عَلَىٰ قَابِضِ الثَّمَنِ وَنُدُورِهَا.

Tingkat-tingkat dalam derajat ini juga berbeda sesuai kuat atau jarangnya maksiat pada penerima harga.

وَمَهْمَا كَانَ الْعِوَضُ حَرَامًا فَبَذْلُهُ حَرَامٌ.

Jika imbalannya haram, maka memberikannya juga haram.

وَإِنْ احْتُمِلَ تَحْرِيمُهُ وَلَكِنْ أُبِيحَ بِظَنٍّ فَبَذْلُهُ مَكْرُوهٌ.

Jika keharamannya hanya diduga tetapi dibolehkan karena dugaan tertentu, maka memberikannya makruh.

وَعَلَيْهِ يُنَزَّلُ عِنْدِيَ النَّهْيُ عَنْ كَسْبِ الْحَجَّامِ وَكَرَاهَتُهُ.

Menurut saya, di atas inilah larangan dan kemakruhan terhadap penghasilan tukang bekam.

إِذْ نَهَىٰ عَنْهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَرَّاتٍ ثُمَّ أَمَرَ بِأَنْ يُعْلَفَ النَّاضِحُ.

Karena Nabi melarangnya beberapa kali, lalu memerintahkan agar hewan pengangkut air diberi pakan.

وَمَا سَبَقَ إِلَى الْوَهْمِ مِنْ أَنَّ سَبَبَهُ مُبَاشَرَةُ النَّجَاسَةِ وَالْقَذَرِ فَاسِدٌ.

Anggapan yang terlintas bahwa sebabnya ialah bersentuhan langsung dengan najis dan kotoran adalah salah.

إِذْ يَجِبُ طَرْدُهُ فِي الدَّبَّاغِ وَالْكَنَّاسِ، وَلَا قَائِلَ بِهِ.

Karena itu mesti juga diterapkan pada penyamak dan penyapu, padahal tidak ada yang berpendapat demikian.

وَإِنْ قِيلَ بِهِ فَلَا يُمْكِنُ طَرْدُهُ فِي الْقَصَّابِ.

Kalaupun ada yang berpendapat demikian, tidak mungkin diterapkan pada penjagal.

فَكَيْفَ يَكُونُ كَسْبُهُ مَكْرُوهًا وَهُوَ بَدَلٌ عَنِ اللَّحْمِ، وَاللَّحْمُ فِي نَفْسِهِ غَيْرُ مَكْرُوهٍ؟

Bagaimana bisa penghasilannya dimakruhkan padahal ia merupakan pengganti daging, sedangkan daging sendiri tidak makruh?

وَمُخَامَرَةُ الْقَصَّابِ النَّجَاسَةَ أَكْثَرُ مِنْهُ لِلْحَجَّامِ وَالْفَصَّادِ.

Bersentuhan najis oleh penjagal justru lebih banyak daripada oleh tukang bekam dan penyedot darah.

فَإِنَّ الْحَجَّامَ يَأْخُذُ الدَّمَ بِالْمِحْجَمَةِ وَيَمْسَحُهُ بِالْقُطْنَةِ.

Karena tukang bekam mengambil darah dengan alat bekam dan mengusapnya dengan kapas.

وَلَكِنَّ السَّبَبَ أَنَّ فِي الْحِجَامَةِ وَالْفَصْدِ تَخْرِيبَ بِنْيَةِ الْحَيَوَانِ وَإِخْرَاجَ دَمِهِ وَبِهِ قِوَامُ حَيَاتِهِ.

Tetapi sebabnya ialah bahwa bekam dan penyedotan darah merusak tubuh hewan dan mengeluarkan darahnya, padahal darah adalah penopang kehidupannya.

وَالْأَصْلُ فِيهِ التَّحْرِيمُ، وَإِنَّمَا يَحِلُّ بِضَرُورَةٍ وَتَعَلُّمِ الْحَاجَةِ.

Asalnya itu haram, dan baru halal bila ada kebutuhan dan darurat.

وَالضَّرُورَةُ بِحَدْسٍ وَاجْتِهَادٍ.

Dan kebutuhan itu diketahui melalui perkiraan dan ijtihad.

وَرُبَّمَا يُظَنُّ نَافِعًا وَيَكُونُ ضَارًّا فَيَكُونُ حَرَامًا عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَىٰ.

Terkadang sesuatu disangka bermanfaat padahal berbahaya, sehingga di sisi Allah Ta'ala menjadi haram.

وَلَكِنْ يُحْكَمُ بِحِلِّهِ بِالظَّنِّ وَالْحَدْسِ.

Namun dihukumi halal berdasarkan dugaan dan perkiraan.

وَلِذَلِكَ لَا يَجُوزُ لِلْفَصَّادِ فَصْدُ صَبِيٍّ وَعَبْدٍ وَمَعْتُوهٍ إِلَّا بِإِذْنِ وَلِيِّهِ وَقَوْلِ طَبِيبٍ.

Karena itu, seorang penyedot darah tidak boleh menyedot darah anak kecil, budak, atau orang kurang waras kecuali dengan izin walinya dan pendapat dokter.

وَلَوْلَا أَنَّهُ حَلَالٌ فِي الظَّاهِرِ لَمَا أُعْطِيَ عَلَيْهِ صلى الله عليه وسلم أُجْرَةُ الْحَجَّامِ.

Seandainya hal itu tidak halal secara lahir, tentu Nabi tidak diberi upah sebagai tukang bekam.

وَلَوْلَا أَنَّهُ يَحْتَمِلُ التَّحْرِيمَ لَمَا نُهِيَ عَنْهُ.

Dan seandainya tidak ada kemungkinan haram, tentu hal itu tidak akan dilarang.

فَلَا يُمْكِنُ الْجَمْعُ بَيْنَ إِعْطَائِهِ وَنَهْيِهِ إِلَّا بِاسْتِنْبَاطِ هَذَا الْمَعْنَىٰ.

Maka tidak mungkin menggabungkan pemberian upah dan larangannya kecuali dengan menggali makna ini.

وَهَذَا كَانَ يَنْبَغِي أَنْ نَذْكُرَهُ فِي الْقَرَائِنِ الْمَقْرُونَةِ بِالسَّبَبِ.

Hal ini semestinya kami sebut dalam tanda-tanda yang menyertai sebab.

فَإِنَّهُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ.

Karena ia lebih dekat kepadanya.

الرُّتْبَةُ السُّفْلَىٰ، وَهِيَ دَرَجَةُ الْمُوَسْوِسِينَ.

Tingkat terendah, yaitu derajat orang-orang waswas.

وَذَلِكَ أَنْ يَحْلِفَ إِنْسَانٌ عَلَىٰ أَلَّا يَلْبَسَ مِنْ غَزْلِ أُمِّهِ.

Yaitu bila seseorang bersumpah tidak akan memakai benang pintalan ibunya.

فَبَاعَ غَزْلَهَا وَاشْتَرَىٰ بِهِ ثَوْبًا.

Lalu ia menjual benang pintalannya dan membelinya dengan pakaian.

فَهَذَا لَا كَرَاهَةَ فِيهِ، وَالْوَرَعُ عَنْهُ وَسْوَسَةٌ.

Itu tidak makruh, dan wara' darinya adalah waswas.

وَرُوِيَ عَنِ الْمُغِيرَةِ أَنَّهُ قَالَ فِي هَذِهِ الْوَاقِعَةِ: لَا يَجُوزُ.

Diriwayatkan dari al-Mughirah bahwa ia berkata dalam kasus ini: “Tidak boleh.”

وَاسْتَشْهَدَ بِأَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ، حُرِّمَتْ عَلَيْهِمُ الْخُمُورُ فَبَاعُوهَا وَأَكَلُوا أَثْمَانَهَا.

Ia berdalil dengan sabda Nabi : “Allah melaknat orang Yahudi; khamar diharamkan atas mereka, lalu mereka menjualnya dan memakan harganya.”

وَهَذَا غَلَطٌ، لِأَنَّ بَيْعَ الْخُمُورِ بَاطِلٌ.

Ini salah, karena menjual khamar adalah batal.

إِذْ لَمْ يَبْقَ لِلْخَمْرِ مَنْفَعَةٌ فِي الشَّرْعِ، وَثَمَنُ الْبَيْعِ الْبَاطِلِ حَرَامٌ، وَلَيْسَ هَذَا مِنْ ذَلِكَ.

Sebab khamar tidak lagi memiliki manfaat menurut syariat, dan harga dari jual beli yang batal itu haram. Sedangkan kasus ini bukan seperti itu.

بَلْ مِثَالُ هَذَا أَنْ يَمْلِكَ الرَّجُلُ جَارِيَةً هِيَ أُخْتُهُ مِنَ الرَّضَاعِ فَتُبَاعَ بِجَارِيَةٍ أَجْنَبِيَّةٍ.

Bahkan contohnya ialah bila seseorang memiliki seorang budak perempuan yang ternyata saudara sesusuannya, lalu budak itu dijual dengan budak perempuan asing.

فَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَتَوَرَّعَ مِنْهُ.

Tidak seorang pun patut bersikap wara' darinya.

وَتَشْبِيهُ ذَلِكَ بِبَيْعِ الْخَمْرِ غَايَةُ السَّرَفِ فِي هَذَا الطَّرَفِ.

Menyamakan hal ini dengan menjual khamar adalah puncak kelampauan dalam sisi ini.

وَقَدْ عَرَفْنَا جَمِيعَ الدَّرَجَاتِ وَكَيْفِيَّةَ التَّدْرِيجِ فِيهَا.

Kita telah mengetahui seluruh tingkatannya dan cara bertahap di dalamnya.

وَإِنْ كَانَ تَفَاوُتُ هَذِهِ الدَّرَجَاتِ لَا يَنْحَصِرُ فِي ثَلَاثٍ أَوْ أَرْبَعٍ وَلَا فِي عَدَدٍ.

Walaupun perbedaan tingkat-tingkat ini tidak terbatas pada tiga, empat, atau jumlah tertentu.

وَلَكِنَّ الْمَقْصُودَ مِنَ التَّعْدَادِ التَّقْرِيبُ وَالتَّفْهِيمُ.

Namun tujuan penyebutan bilangan ialah mendekatkan pemahaman.

فَإِنْ قِيلَ: فَقَدْ قَالَ صلى الله عليه وسلم: مَنْ اشْتَرَىٰ ثَوْبًا بِعَشَرَةِ دَرَاهِمَ فِيهَا دِرْهَمٌ حَرَامٌ لَمْ يَقْبَلِ اللَّهُ لَهُ صَلَاةً مَا كَانَ عَلَيْهِ.

Jika dikatakan: Nabi bersabda, “Siapa membeli pakaian dengan sepuluh dirham yang di dalamnya ada satu dirham haram, Allah tidak menerima salatnya selama ia mengenakannya.”

ثُمَّ أَدْخَلَ ابْنُ عُمَرَ أُصْبُعَيْهِ فِي أُذُنَيْهِ وَقَالَ: صَمْتًا إِنْ لَمْ أَكُنْ سَمِعْتُهُ مِنْهُ.

Lalu Ibn Umar memasukkan dua jarinya ke telinganya dan berkata: “Diamlah, kecuali bila aku memang mendengarnya dari beliau.”

قُلْنَا: ذَلِكَ مَحْمُولٌ عَلَىٰ مَا لَوِ اشْتَرَىٰ بِعَشَرَةٍ بِعَيْنِهَا لَا فِي الذِّمَّةِ.

Kami jawab: itu dibawa kepada keadaan bila ia membeli dengan sepuluh yang spesifik, bukan utang.

وَإِذَا اشْتَرَىٰ فِي الذِّمَّةِ فَقَدْ حَكَمْنَا بِالتَّحْرِيمِ فِي أَكْثَرِ الصُّوَرِ فَلْيُحْمَلْ عَلَيْهَا.

Jika ia membeli secara utang, maka kami memang telah menghukuminya haram dalam kebanyakan gambaran; maka hendaklah ia dibawa pada hal itu.

ثُمَّ كَمْ مِنْ مَلَكٍ يُتَوَعَّدُ عَلَيْهِ بِمَنْعِ قَبُولِ الصَّلَاةِ لِمَعْصِيَةٍ تَطَرَّقَتْ إِلَىٰ سَبَبِهِ.

Betapa banyak perkara yang diancam dengan tidak diterimanya salat karena maksiat yang menyelinap ke sebabnya.

وَإِنْ لَمْ يَدُلَّ ذَلِكَ عَلَىٰ فَسَادِ الْعَقْدِ، كَالْمُشْتَرِي فِي وَقْتِ النِّدَاءِ وَغَيْرِهِ.

Walaupun itu tidak menunjukkan rusaknya akad, seperti pembeli pada waktu adzan dan selainnya.

الْمَثَارُ الرَّابِعُ: الِاخْتِلَافُ فِي الْأَدِلَّةِ.

Penyebab keempat ialah perbedaan dalam dalil-dalil.

فَإِنَّ ذَلِكَ كَالِاخْتِلَافِ فِي السَّبَبِ.

Hal itu seperti perbedaan dalam sebab.

لِأَنَّ السَّبَبَ سَبَبٌ لِحُكْمِ الْحِلِّ وَالْحُرْمَةِ.

Karena sebab adalah sebab bagi hukum halal dan haram.

وَالدَّلِيلُ سَبَبٌ لِمَعْرِفَةِ الْحِلِّ وَالْحُرْمَةِ.

Sedangkan dalil adalah sebab untuk mengetahui halal dan haram.

فَهُوَ السَّبَبُ فِي حَقِّ الْمَعْرِفَةِ، وَلَمْ يَثْبُتْ فِي مَعْرِفَةِ الْغَيْرِ.

Ia menjadi sebab dalam ranah pengetahuan, tetapi tidak pasti dalam pengetahuan orang lain.

فَلَا فَائِدَةَ لِثُبُوتِهِ فِي نَفْسِهِ.

Maka tidak ada manfaat dari tegaknya dalil itu pada dirinya sendiri.

وَإِنْ جَرَىٰ سَبَبُهُ فِي عِلْمِ اللَّهِ.

Walaupun sebabnya berjalan dalam ilmu Allah.

وَهُوَ إِمَّا أَنْ يَكُونَ لِتَعَارُضِ أَدِلَّةِ الشَّرْعِ.

Hal itu bisa jadi karena pertentangan dalil-dalil syariat.

أَوْ لِتَعَارُضِ الْعَلَامَاتِ الدَّالَّةِ.

Atau pertentangan tanda-tanda yang menunjukkan.

أَوْ لِتَعَارُضِ التَّشَابُهِ.

Atau pertentangan kemiripan.