Sifat-sifat yang Disyaratkan pada Orang yang Engkau Pilih sebagai Sahabat
بَيَانُ الصِّفَاتِ الْمَشْرُوطَةُ فِيمَنْ تَخْتَارُ صُحْبَتَهُ
Penjelasan
Sifat-sifat yang Disyaratkan pada Orang yang Engkau Pilih sebagai Sahabat
اعْلَمْ
أَنَّهُ لَا يَصْلُحُ لِلصُّحْبَةِ كُلُّ إِنْسَانٍ.
Ketahuilah
bahwa tidak setiap orang layak untuk dijadikan sahabat.
قَالَ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ
أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, "Seseorang itu
tergantung pada agama sahabat dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari
kalian melihat siapa yang ia jadikan sahabat dekat."
وَلَا بُدَّ
أَنْ يَتَمَيَّزَ بِخِصَالٍ وَصِفَاتٍ يَرْغَبُ بِسَبَبِهَا فِي صُحْبَتِهِ.
Ia harus
memiliki sifat-sifat khusus yang membuatnya diinginkan sebagai sahabat.
وَتُشْتَرَطُ
تِلْكَ الْخِصَالُ بِحَسَبِ الْفَوَائِدِ الْمَطْلُوبَةِ مِنَ الصُّحْبَةِ.
Sifat-sifat itu
disyaratkan sesuai dengan manfaat yang dicari dari persahabatan.
إِذْ مَعْنَى
الشَّرْطِ مَا لَا بُدَّ مِنْهُ لِلْوُصُولِ إِلَى الْمَقْصُودِ.
Karena
makna dari syarat adalah sesuatu yang harus ada untuk mencapai tujuan.
فَبِالْإِضَافَةِ
إِلَى الْمَقْصُودِ تَظْهَرُ الشُّرُوطُ.
Maka,
dengan melihat tujuannya, muncullah syarat-syaratnya.
وَيُطْلَبُ
مِنَ الصُّحْبَةِ فَوَائِدُ دِينِيَّةٌ وَدُنْيَوِيَّةٌ.
Dari
persahabatan, ada manfaat agama dan dunia yang dicari.
أَمَّا
الدُّنْيَوِيَّةُ فَكَالِانْتِفَاعِ بِالْمَالِ أَوِ الْجَاهِ أَوِ مُجَرَّدِ
الِاسْتِئْنَاسِ بِالْمُشَاهَدَةِ وَالْمُجَاوَرَةِ، وَلَيْسَ ذَلِكَ مِنْ
أَغْرَاضِنَا.
Adapun
manfaat duniawi, seperti mengambil manfaat dari harta, kedudukan, atau sekadar
merasa senang dengan bertemu dan berdekatan. Namun, itu bukan tujuan kita di
sini.
وَأَمَّا
الدِّينِيَّةُ فَيَجْتَمِعُ فِيهَا أَيْضًا أَغْرَاضٌ مُخْتَلِفَةٌ.
Adapun
manfaat agama, di dalamnya juga terkumpul berbagai tujuan.
إِذْ مِنْهَا
الِاسْتِفَادَةُ مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ.
Di antaranya
adalah mendapatkan manfaat dari ilmu dan amal.
وَمِنْهَا
الِاسْتِفَادَةُ مِنَ الْجَاهِ تَحَصُّنًا بِهِ عَنْ إِيذَاءِ مَنْ يُشَوِّشُ
الْقَلْبَ وَيَصُدُّ عَنِ الْعِبَادَةِ.
Di
antaranya adalah memanfaatkan kedudukan untuk melindungi diri dari gangguan
orang yang mengacaukan hati dan menghalangi dari ibadah.
وَمِنْهَا
اسْتِفَادَةُ الْمَالِ لِلِاكْتِفَاءِ بِهِ عَنْ تَضْيِيعِ الْأَوْقَاتِ فِي
طَلَبِ الْقُوتِ.
Di
antaranya adalah mendapatkan manfaat harta agar tercukupi dan tidak
menyia-nyiakan waktu untuk mencari nafkah.
وَمِنْهَا
الِاسْتِعَانَةُ فِي الْمُهِمَّاتِ فَيَكُونُ عُدَّةً فِي الْمَصَائِبِ وَقُوَّةً
فِي الْأَحْوَالِ.
Di
antaranya adalah meminta bantuan dalam urusan-urusan penting, sehingga ia
menjadi bekal dalam musibah dan kekuatan dalam berbagai keadaan.
وَمِنْهَا
التَّبَرُّكُ بِمُجَرَّدِ الدُّعَاءِ.
Di
antaranya adalah mencari berkah hanya dengan doanya.
وَمِنْهَا
انْتِظَارُ الشَّفَاعَةِ فِي الْآخِرَةِ.
Di
antaranya adalah mengharapkan syafaat di akhirat.
فَقَدْ قَالَ
السَّلَفُ: اسْتَكْثِرُوا مِنَ الْإِخْوَانِ فَإِنَّ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ شَفَاعَةً،
فَلَعَلَّكَ تَدْخُلُ فِي شَفَاعَةِ أَخِيكَ.
Para salaf
berkata, "Perbanyaklah saudara (sahabat), karena setiap mukmin memiliki
syafaat. Siapa tahu engkau masuk dalam syafaat saudaramu."
وَرُوِيَ فِي
غَرِيبِ التَّفْسِيرِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ} قَالَ: يُشَفِّعُهُمْ فِي
إِخْوَانِهِمْ فَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ مَعَهُمْ.
Diriwayatkan
dalam tafsir yang langka mengenai firman Allah Ta'ala, "Dan Dia
memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh
dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya," dikatakan,
"Allah memberi mereka syafaat untuk saudara-saudara mereka, lalu
memasukkan mereka ke surga bersama mereka."
وَيُقَالُ:
إِذَا غَفَرَ اللَّهُ لِلْعَبْدِ شُفِّعَ فِي إِخْوَانِهِ.
Dikatakan,
"Jika Allah mengampuni seorang hamba, ia akan diberi syafaat untuk
saudara-saudaranya."
وَلِذَلِكَ
حَثَّ جَمَاعَةٌ مِنَ السَّلَفِ عَلَى الصُّحْبَةِ وَالْأُلْفَةِ وَالْمُخَالَطَةِ
وَكَرِهُوا الْعُزْلَةَ وَالِانْفِرَادَ.
Karena itu,
sekelompok ulama salaf mendorong untuk bersahabat, akrab, dan bergaul, serta
tidak menyukai menyendiri (*uzlah*).
فَهَذِهِ
فَوَائِدُ تَسْتَدْعِي كُلُّ فَائِدَةٍ شُرُوطًا لَا تَحْصُلُ إِلَّا بِهَا.
Ini adalah
manfaat-manfaat yang masing-masing menuntut syarat-syarat yang harus dipenuhi
untuk mendapatkannya.
وَنَحْنُ
نُفَصِّلُهَا.
Dan kami
akan merincinya.
أَمَّا عَلَى
الْجُمْلَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ فِيمَنْ تُؤْثِرُ صُحْبَتَهُ خَمْسُ
خِصَالٍ: أَنْ يَكُونَ عَاقِلًا, حَسَنَ الْخُلُقِ, غَيْرَ فَاسِقٍ, وَلَا
مُبْتَدِعٍ, وَلَا حَرِيصٍ عَلَى الدُّنْيَا.
Secara
umum, orang yang engkau pilih sebagai sahabat hendaknya memiliki lima sifat:
berakal, berakhlak baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid'ah, dan tidak rakus
terhadap dunia.
أَمَّا
الْعَقْلُ فَهُوَ رَأْسُ الْمَالِ وَهُوَ الْأَصْلُ، فَلَا خَيْرَ فِي صُحْبَةِ
الْأَحْمَقِ.
Adapun
akal, ia adalah modal utama dan pondasi. Tidak ada kebaikan dalam persahabatan
dengan orang bodoh.
فَإِلَى
الْوَحْشَةِ وَالْقَطِيعَةِ تَرْجِعُ عَاقِبَتُهَا وَإِنْ طَالَتْ.
Karena
ujungnya akan kembali pada kesepian dan putusnya hubungan, meskipun berlangsung
lama.
قَالَ عَلِيٌّ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
فَلَا
تَصْحَبْ أَخَا الْجَهْلِ وَإِيَّاكَ وَإِيَّاهُ … فَكَمْ مِنْ جَاهِلٍ أَرْدَى
حَلِيمًا حِينَ آخَاهُ
يُقَاسُ
الْمَرْءُ بِالْمَرْءِ إِذَا مَا الْمَرْءُ مَاشَاهُ … وَلِلشَّيْءِ مِنَ
الشَّيْءِ مَقَايِيسُ وَأَشْبَاهُ
وَلِلْقَلْبِ
عَلَى الْقَلْبِ … دَلِيلٌ حِينَ يَلْقَاهُ
Ali
radhiyallahu 'anhu berkata: "Janganlah bersahabat dengan orang bodoh,
jauhilah dia... Betapa banyak orang bodoh yang mencelakakan orang bijak saat
bersahabat dengannya. Seseorang diukur dengan temannya jika ia berjalan
bersamanya... Sesuatu itu memiliki ukuran dan kemiripan dengan sesuatu yang
lain. Dan hati... memiliki petunjuk atas hati yang lain saat bertemu."
كَيْفَ
وَالْأَحْمَقُ قَدْ يَضُرُّكَ وَهُوَ يُرِيدُ نَفْعَكَ وَإِعَانَتَكَ مِنْ حَيْثُ
لَا يَدْرِي.
Bagaimana
tidak, orang bodoh bisa merugikanmu padahal ia ingin membantumu, tanpa ia
sadari.
وَلِذَلِكَ
قَالَ الشَّاعِرُ:
إِنِّي
لَآمَنُ مِنْ عَدُوٍّ عَاقِلٍ … وَأَخَافُ خِلًّا يَعْتَرِيهِ جُنُونٌ
فَالْعَقْلُ
فَنٌّ وَاحِدٌ وَطَرِيقُهُ … أَدْرَى فَأَرْصَدُ وَالْجُنُونُ فُنُونٌ
Karena itu,
seorang penyair berkata: "Aku merasa aman dari musuh yang cerdas... tetapi
aku takut pada sahabat yang dilanda kebodohan. Akal itu satu seni dan
jalannya... lebih jelas untuk diawasi, sedangkan kebodohan itu bermacam-macam
seni."
وَلِذَلِكَ
قِيلَ: مُقَاطَعَةُ الْأَحْمَقِ قُرْبَانٌ إِلَى اللَّهِ.
Karena itu
dikatakan, "Memutuskan hubungan dengan orang bodoh adalah sebuah
pendekatan diri kepada Allah."
وَقَالَ
الثَّوْرِيُّ: النَّظَرُ إِلَى وَجْهِ الْأَحْمَقِ خَطِيئَةٌ مَكْتُوبَةٌ.
Ats-Tsauri
berkata, "Melihat wajah orang bodoh adalah dosa yang tercatat."
وَنَعْنِي
بِالْعَاقِلِ الَّذِي يَفْهَمُ الْأُمُورَ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ إِمَّا
بِنَفْسِهِ وَإِمَّا إِذَا فُهِّمَ.
Yang kami
maksud dengan orang berakal adalah orang yang memahami perkara sebagaimana
adanya, baik dengan sendirinya maupun jika diberi pemahaman.
وَأَمَّا
حُسْنُ الْخُلُقِ فَلَا بُدَّ مِنْهُ.
Adapun
akhlak yang baik, itu suatu keharusan.
إِذْ رُبَّ
عَاقِلٍ يَدْرِكُ الْأَشْيَاءَ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ، وَلَكِنْ إِذَا غَلَبَهُ
غَضَبٌ أَوْ شَهْوَةٌ أَوْ بُخْلٌ أَوْ جُبْنٌ أَطَاعَ هَوَاهُ وَخَالَفَ مَا هُوَ
الْمَعْلُومُ عِنْدَهُ لِعَجْزِهِ عَنْ قَهْرِ صِفَاتِهِ وَتَقْوِيمِ أَخْلَاقِهِ.
Karena
terkadang orang berakal memahami sesuatu sebagaimana adanya, tetapi jika ia
dikuasai oleh amarah, syahwat, kekikiran, atau sifat pengecut, ia akan menuruti
hawa nafsunya dan melanggar apa yang ia ketahui, karena ia tidak mampu
mengendalikan sifat-sifatnya dan memperbaiki akhlaknya.
فَلَا خَيْرَ
فِي صُحْبَتِهِ.
Maka tidak
ada kebaikan dalam persahabatannya.
وَأَمَّا
الْفَاسِقُ الْمُصِرُّ عَلَى الْفِسْقِ فَلَا فَائِدَةَ فِي صُحْبَتِهِ.
Adapun
orang fasik yang terus-menerus berbuat fasik, tidak ada manfaat dalam
persahabatannya.
لِأَنَّ مَنْ
يَخَافُ اللَّهَ لَا يُصِرُّ عَلَى كَبِيرَةٍ.
Karena
orang yang takut kepada Allah tidak akan terus-menerus melakukan dosa besar.
وَمَنْ لَا
يَخَافُ اللَّهَ لَا تُؤْمَنُ غَائِلَتُهُ وَلَا يُوثَقُ بِصَدَاقَتِهِ بَلْ
يَتَغَيَّرُ بِتَغَيُّرِ الْأَغْرَاضِ.
Dan orang
yang tidak takut kepada Allah, kejahatannya tidak bisa dijamin aman, dan
persahabatannya tidak bisa dipercaya, bahkan ia akan berubah seiring perubahan
kepentingan.
وَقَالَ
تَعَالَى: {وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ
هَوَاهُ}.
Allah
Ta'ala berfirman, "Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah
Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya." (QS.
Al-Kahf: 28).
وَقَالَ
تَعَالَى: {فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ
هَوَاهُ}.
Allah
Ta'ala berfirman, "Maka janganlah sekali-kali engkau dipalingkan darinya
oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan mengikuti hawa nafsunya." (QS.
Taha: 16).
وَقَالَ
تَعَالَى: {فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا
الْحَيَاةَ الدُّنْيَا}.
Allah
Ta'ala berfirman, "Maka berpalinglah dari orang yang berpaling dari
peringatan Kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan dunia." (QS.
An-Najm: 29).
وَقَالَ:
{وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ}.
Dan Dia
berfirman, "Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku." (QS.
Luqman: 15).
وَفِي
مَفْهُومِ ذَلِكَ زَجْرٌ عَنِ الْفَاسِقِ.
Dalam
pemahaman ayat-ayat ini, terdapat larangan keras untuk bergaul dengan orang
fasik.
وَأَمَّا
الْمُبْتَدِعُ فَفِي صُحْبَتِهِ خَطَرُ سِرَايَةِ الْبِدْعَةِ وَتَعَدِّي
شُؤْمِهَا إِلَيْهِ.
Adapun ahli
bid'ah, dalam persahabatannya ada bahaya tertularnya bid'ah dan menularnya
keburukannya kepadanya.
فَالْمُبْتَدِعُ
مُسْتَحِقٌّ لِلْهَجْرِ وَالْمُقَاطَعَةِ، فَكَيْفَ تُؤْثِرُ صُحْبَتَهُ؟
Ahli bid'ah
berhak untuk diboikot dan diputuskan hubungannya, lalu bagaimana mungkin engkau
memilih persahabatannya?
وَقَدْ قَالَ
عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي الْحَثِّ عَلَى طَلَبِ التَّدَيُّنِ فِي
الصَّدِيقِ فِيمَا رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ قَالَ: عَلَيْكَ بِإِخْوَانِ
الصِّدْقِ تَعِشْ فِي أَكْنَافِهِمْ فَإِنَّهُمْ زِينَةٌ فِي الرَّخَاءِ وَعُدَّةٌ
فِي الْبَلَاءِ.
Umar
radhiyallahu 'anhu, dalam mendorong untuk mencari teman yang beragama,
sebagaimana diriwayatkan oleh Sa'id bin Al-Musayyab, berkata: "Carilah
saudara-saudara yang jujur, hiduplah dalam naungan mereka, karena mereka adalah
hiasan di saat lapang dan bekal di saat susah."
وَضَعْ أَمْرَ
أَخِيكَ عَلَى أَحْسَنِهِ حَتَّى يَجِيئَكَ مَا يَغْلِبُكَ مِنْهُ.
"Dan
pandanglah urusan saudaramu dari sisi yang terbaik sampai datang sesuatu yang
tidak bisa engkau tolerir lagi darinya."
وَاعْتَزِلْ
عَدُوَّكَ، وَاحْذَرْ صَدِيقَكَ إِلَّا الْأَمِينَ مِنَ الْقَوْمِ.
"Jauhilah
musuhmu, dan waspadalah terhadap temanmu, kecuali yang terpercaya."
وَلَا أَمِينَ
إِلَّا مَنْ خَشِيَ اللَّهَ.
"Dan
tidak ada yang terpercaya kecuali orang yang takut kepada Allah."
فَلَا
تَصْحَبِ الْفَاجِرَ فَتَتَعَلَّمَ مِنْ فُجُورِهِ، وَلَا تُطْلِعْهُ عَلَى
سِرِّكَ.
"Janganlah
bersahabat dengan orang bejat, agar engkau tidak belajar dari kebejatannya, dan
jangan beritahukan rahasiamu kepadanya."
وَاسْتَشِرْ
فِي أَمْرِكَ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ اللَّهَ تَعَالَى.
"Dan
mintalah nasihat dalam urusanmu kepada orang-orang yang takut kepada Allah
Ta'ala."
وَأَمَّا
حُسْنُ الْخُلُقِ فَقَدْ جَمَعَهُ عَلْقَمَةُ الْعُطَارِدِيُّ فِي وَصِيَّتِهِ
لِابْنِهِ حِينَ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ، قَالَ: يَا بُنَيَّ, إِذَا عَرَضَتْ لَكَ
إِلَى صُحْبَةِ الرِّجَالِ حَاجَةٌ, فَاصْحَبْ مَنْ إِذَا خَدَمْتَهُ صَانَكَ,
وَإِنْ صَحِبْتَهُ زَانَكَ, وَإِنْ قَعَدَتْ بِكَ مُؤْنَةٌ مَانَكَ.
Adapun
akhlak yang baik, telah dirangkum oleh 'Alqamah Al-'Utharidi dalam wasiatnya
kepada putranya saat menjelang wafat. Ia berkata: "Wahai anakku, jika
engkau perlu bersahabat dengan orang lain, maka bersahabatlah dengan orang yang
jika engkau melayaninya, ia akan menjagamu. Jika engkau menemaninya, ia akan
menghiasimu. Dan jika engkau kekurangan biaya, ia akan menanggungmu."
اصْحَبْ مَنْ
إِذَا مَدَدْتَ يَدَكَ بِخَيْرٍ مَدَّهَا.
"Bersahabatlah
dengan orang yang jika engkau mengulurkan tangan untuk kebaikan, ia pun akan
mengulurkannya."
وَإِنْ رَأَى
مِنْكَ حَسَنَةً عَدَّهَا.
"Jika
ia melihat kebaikan darimu, ia akan menghitungnya (mengingatnya)."
وَإِنْ رَأَى
سَيِّئَةً سَدَّهَا.
"Dan
jika ia melihat keburukan, ia akan menutupinya."
اصْحَبْ مَنْ
إِذَا سَأَلْتَهُ أَعْطَاكَ.
"Bersahabatlah
dengan orang yang jika engkau meminta, ia akan memberimu."
وَإِنْ
سَكَتَّ ابْتَدَاكَ.
"Dan
jika engkau diam, ia yang akan memulai (memberi)."
وَإِنْ
نَزَلَتْ بِكَ نَازِلَةٌ وَاسَاكَ.
"Dan jika
engkau ditimpa musibah, ia akan menghiburmu."
اصْحَبْ مَنْ
إِذَا قُلْتَ صَدَّقَ قَوْلَكَ.
"Bersahabatlah
dengan orang yang jika engkau berkata, ia akan membenarkan ucapanmu."
وَإِنْ
حَاوَلْتُمَا أَمْرًا أَمَّرَكَ.
"Jika
kalian berdua berusaha melakukan sesuatu, ia akan mendukungmu."
وَإِنْ
تَنَازَعْتُمَا آثَرَكَ.
"Dan
jika kalian berselisih, ia akan mengalah untukmu."
فَكَأَنَّهُ
جَمَعَ بِهَذَا جَمِيعَ حُقُوقِ الصُّحْبَةِ وَشَرَطَ أَنْ يَكُونَ قَائِمًا
بِجَمِيعِهَا.
Seolah-olah
dengan ini ia telah merangkum semua hak persahabatan dan mensyaratkan agar
sahabat itu memenuhi semuanya.
قَالَ ابْنُ
أَكْثَمَ: قَالَ الْمَأْمُونُ: فَأَيْنَ هَذَا؟ فَقِيلَ لَهُ: أَتَدْرِي لِمَ
أَوْصَاهُ بِذَلِكَ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: لِأَنَّهُ أَرَادَ أَنْ لَا يَصْحَبَ
أَحَدًا.
Ibnu Aktsam
berkata: Al-Ma'mun bertanya, "Di mana orang seperti ini?" Lalu
dikatakan kepadanya, "Tahukah engkau mengapa ia berwasiat seperti
itu?" Ia menjawab, "Tidak." Dikatakan, "Karena ia ingin
agar anaknya tidak bersahabat dengan siapa pun."
وَقَالَ
بَعْضُ الْأُدَبَاءِ: لَا تَصْحَبْ مِنَ النَّاسِ إِلَّا مَنْ يَكْتُمُ سِرَّكَ
وَيَسْتُرُ عَيْبَكَ، فَيَكُونُ مَعَكَ فِي النَّوَائِبِ وَيُؤْثِرُكَ
بِالرَّغَائِبِ، وَيَنْشُرُ حَسَنَتَكَ وَيَطْوِي سَيِّئَتَكَ.
Sebagian
sastrawan berkata: "Jangan bersahabat dengan siapa pun kecuali orang yang
menjaga rahasiamu, menutupi aibmu, bersamamu di saat susah, mendahulukanmu
dalam hal-hal yang diinginkan, menyebarkan kebaikanmu, dan melipat
(menyembunyikan) keburukanmu."
فَإِنْ لَمْ
تَجِدْهُ فَلَا تَصْحَبْ إِلَّا نَفْسَكَ.
"Jika
engkau tidak menemukannya, maka janganlah bersahabat kecuali dengan dirimu
sendiri."
وَقَالَ
عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
إِنَّ أَخَاكَ
الْحَقَّ مَنْ كَانَ مَعَكَ … وَمَنْ يَضُرُّ نَفْسَهُ لِيَنْفَعَكَ
وَمَنْ إِذَا
رَيْبُ زَمَانٍ صَدَّعَكَ … شَتَّتَ فِيهِ شَمْلَهُ لِيَجْمَعَكَ
Ali
radhiyallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya saudaramu yang sejati adalah
yang selalu bersamamu... dan yang merugikan dirinya sendiri untuk memberimu
manfaat. Dan yang jika musibah zaman menimpamu... ia akan mencerai-beraikan
urusannya sendiri untuk menyatukan urusanmu."
وَقَالَ
بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: لَا تَصْحَبْ إِلَّا أَحَدَ رَجُلَيْنِ: رَجُلٌ تَتَعَلَّمُ
مِنْهُ شَيْئًا فِي أَمْرِ دِينِكَ فَيَنْفَعُكَ, أَوْ رَجُلٌ تُعَلِّمُهُ شَيْئًا
فِي أَمْرِ دِينِهِ فَيَقْبَلُ مِنْكَ. وَالثَّالِثُ فَاهْرُبْ مِنْهُ.
Sebagian
ulama berkata: "Jangan bersahabat kecuali dengan salah satu dari dua
orang: orang yang engkau bisa belajar sesuatu darinya dalam urusan agamamu
sehingga memberimu manfaat, atau orang yang engkau ajari sesuatu dalam urusan
agamanya dan ia mau menerima darimu. Adapun yang ketiga, maka larilah
darinya."
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: النَّاسُ أَرْبَعَةٌ: فَوَاحِدٌ حُلْوٌ كُلُّهُ فَلَا يُشْبَعُ
مِنْهُ. وَآخَرُ مُرٌّ كُلُّهُ فَلَا يُؤْكَلُ مِنْهُ. وَآخَرُ فِيهِ حُمُوضَةٌ
فَخُذْ مِنْ هَذَا قَبْلَ أَنْ يَأْخُذَ مِنْكَ. وَآخَرُ فِيهِ مُلُوحَةٌ فَخُذْ
مِنْهُ وَقْتَ الْحَاجَةِ فَقَطْ.
Sebagian
lain berkata: "Manusia itu ada empat macam: yang pertama manis seluruhnya,
sehingga tidak pernah merasa cukup darinya. Yang lain pahit seluruhnya,
sehingga tidak bisa dimakan. Yang lain lagi ada rasa masamnya, maka ambillah
darinya sebelum ia mengambil darimu. Dan yang lain lagi ada rasa asinnya, maka
ambillah darinya hanya saat dibutuhkan."
وَقَالَ
جَعْفَرٌ الصَّادِقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: لَا تَصْحَبْ خَمْسَةً: الْكَذَّابَ
فَإِنَّكَ مِنْهُ عَلَى غُرُورٍ وَهُوَ مِثْلُ السَّرَابِ يُقَرِّبُ مِنْكَ
الْبَعِيدَ وَيُبَعِّدُ مِنْكَ الْقَرِيبَ.
Ja'far
Ash-Shadiq radhiyallahu 'anhu berkata: "Jangan bersahabat dengan lima
orang: pembohong, karena engkau akan selalu tertipu olehnya. Ia seperti
fatamorgana, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat."
وَالْأَحْمَقَ
فَإِنَّكَ لَسْتَ مِنْهُ عَلَى شَيْءٍ, يُرِيدُ أَنْ يَنْفَعَكَ فَيَضُرُّكَ.
"Orang
bodoh, karena engkau tidak akan mendapatkan apa-apa darinya. Ia ingin
membantumu, tetapi malah merugikanmu."
وَالْبَخِيلَ
فَإِنَّهُ يَقْطَعُ بِكَ أَحْوَجَ مَا تَكُونُ إِلَيْهِ.
"Orang
kikir, karena ia akan meninggalkanmu saat engkau paling membutuhkannya."
وَالْجَبَانَ
فَإِنَّهُ يُسْلِمُكَ وَيَفِرُّ عِنْدَ الشِّدَّةِ.
"Pengecut,
karena ia akan menyerahkanmu (kepada musuh) dan lari saat kesulitan."
وَالْفَاسِقَ
فَإِنَّهُ يَبِيعُكَ بِأَكْلَةٍ أَوْ أَقَلَّ مِنْهَا. فَقِيلَ: وَمَا أَقَلُّ
مِنْهَا؟ قَالَ: الطَّمَعُ فِيهَا ثُمَّ لَا يَنَالُهَا.
"Orang
fasik, karena ia akan menjualmu dengan harga sesuap makanan atau bahkan lebih
rendah. Ditanyakan, 'Apa yang lebih rendah dari itu?' Ia menjawab, 'Hanya
karena berharap mendapatkannya, padahal ia tidak mendapatkannya.'"
وَقَالَ
الْجُنَيْدُ: لَأَنْ يَصْحَبَنِي فَاسِقٌ حَسَنُ الْخُلُقِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ
أَنْ يَصْحَبَنِي قَارِئٌ سَيِّئُ الْخُلُقِ.
Al-Junaid
berkata: "Aku lebih suka ditemani oleh orang fasik yang berakhlak baik
daripada ditemani oleh seorang qari (ahli Al-Qur'an) yang berakhlak
buruk."
وَقَالَ ابْنُ
أَبِي الْحَوَارِيِّ: قَالَ لِي أُسْتَاذِي أَبُو سُلَيْمَانَ: يَا أَحْمَدُ, لَا
تَصْحَبْ إِلَّا أَحَدَ رَجُلَيْنِ: رَجُلًا تَرْتَفِقُ بِهِ فِي أَمْرِ
دُنْيَاكَ, أَوْ رَجُلًا تَزِيدُ مَعَهُ وَتَنْتَفِعُ بِهِ فِي أَمْرِ آخِرَتِكَ.
وَالِاشْتِغَالُ بِغَيْرِ هَذَيْنِ حُمْقٌ كَبِيرٌ.
Ibn Abi
Al-Hawari berkata: Guruku Abu Sulaiman berkata kepadaku, "Wahai Ahmad,
jangan bersahabat kecuali dengan salah satu dari dua orang: orang yang bisa
memberimu manfaat dalam urusan duniamu, atau orang yang bersamanya engkau bisa
bertambah (kebaikan) dan mendapat manfaat dalam urusan akhiratmu. Sibuk dengan
selain keduanya adalah kebodohan yang besar."
وَقَالَ
سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ: اجْتَنِبْ صُحْبَةَ ثَلَاثَةٍ مِنْ أَصْنَافِ
النَّاسِ: الْجَبَابِرَةِ الْغَافِلِينَ, وَالْقُرَّاءِ الْمُدَاهِنِينَ,
وَالْمُتَصَوِّفَةِ الْجَاهِلِينَ.
Sahl bin
Abdullah berkata: "Jauhilah persahabatan dengan tiga golongan manusia:
para penguasa yang lalai, para qari yang suka berkompromi (dengan kebatilan),
dan para sufi yang bodoh."
وَاعْلَمْ
أَنَّ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ أَكْثَرُهَا غَيْرُ مُحِيطٍ بِجَمِيعِ أَغْرَاضِ
الصُّحْبَةِ.
Ketahuilah
bahwa kebanyakan dari ucapan-ucapan ini tidak mencakup semua tujuan
persahabatan.
وَالْمُحِيطُ
مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ مُلَاحَظَةِ الْمَقَاصِدِ وَمُرَاعَاةِ الشُّرُوطِ
بِالْإِضَافَةِ إِلَيْهَا.
Yang
mencakup semuanya adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu memperhatikan
tujuan dan mempertimbangkan syarat-syarat yang berkaitan dengannya.
فَلَيْسَ مَا
يُشْتَرَطُ لِلصُّحْبَةِ فِي مَقَاصِدِ الدُّنْيَا مَشْرُوطًا لِلصُّحْبَةِ فِي
الْآخِرَةِ.
Karena apa
yang disyaratkan untuk persahabatan dengan tujuan dunia tidak sama dengan yang
disyaratkan untuk persahabatan dengan tujuan akhirat.
وَالْأُخُوَّةُ
كَمَا قَالَ بِشْرٌ: الْإِخْوَانُ ثَلَاثَةٌ: أَخٌ لِآخِرَتِكَ, وَأَخٌ
لِدُنْيَاكَ, وَأَخٌ لِتَأْنَسَ بِهِ.
Persaudaraan,
seperti yang dikatakan oleh Bisyr: "Saudara itu ada tiga: saudara untuk
akhiratmu, saudara untuk duniamu, dan saudara untuk menemanimu."
وَقَلَّمَا
تَجْتَمِعُ هَذِهِ الْمَقَاصِدُ فِي وَاحِدٍ بَلْ تَتَفَرَّقُ عَلَى جَمْعٍ،
فَتَتَفَرَّقُ الشُّرُوطُ فِيهِمْ لَا مَحَالَةَ.
Jarang
sekali tujuan-tujuan ini terkumpul pada satu orang, tetapi biasanya tersebar
pada beberapa orang. Maka, syarat-syaratnya pun pasti akan tersebar di antara
mereka.
وَقَدْ قَالَ
الْمَأْمُونُ: الْإِخْوَانُ ثَلَاثَةٌ: أَحَدُهُمْ مِثْلُهُ مِثْلُ الْغِذَاءِ لَا
يُسْتَغْنَى عَنْهُ. وَالْآخَرُ مِثْلُهُ مِثْلُ الدَّوَاءِ يُحْتَاجُ إِلَيْهِ
فِي وَقْتٍ دُونَ وَقْتٍ. وَالثَّالِثُ مِثْلُهُ مِثْلُ الدَّاءِ لَا يُحْتَاجُ
إِلَيْهِ قَطُّ، وَلَكِنَّ الْعَبْدَ قَدْ يُبْتَلَى بِهِ وَهُوَ الَّذِي لَا
أُنْسَ فِيهِ وَلَا نَفْعَ.
Al-Ma'mun
berkata: "Saudara itu ada tiga: yang satu seperti makanan, tidak bisa
ditinggalkan. Yang lain seperti obat, dibutuhkan pada waktu tertentu saja. Dan
yang ketiga seperti penyakit, tidak dibutuhkan sama sekali, tetapi terkadang
seseorang diuji dengannya. Dialah yang tidak memberikan ketenangan maupun
manfaat."
وَقَدْ قِيلَ:
مَثَلُ جُمْلَةِ النَّاسِ كَمَثَلِ الشَّجَرِ وَالنَّبَاتِ.
Dikatakan
pula: "Perumpamaan manusia secara umum adalah seperti pohon dan
tumbuhan."
فَمِنْهَا مَا
لَهُ ظِلٌّ وَلَيْسَ لَهُ ثَمَرٌ، وَهُوَ مَثَلُ الَّذِي يُنْتَفَعُ بِهِ فِي
الدُّنْيَا دُونَ الْآخِرَةِ.
"Ada
yang memiliki naungan tetapi tidak berbuah, ini seperti orang yang bermanfaat
di dunia tetapi tidak di akhirat."
فَإِنَّ
نَفْعَ الدُّنْيَا كَالظِّلِّ السَّرِيعِ الزَّوَالِ.
"Karena
manfaat dunia itu seperti naungan yang cepat hilang."
وَمِنْهَا مَا
لَهُ ثَمَرٌ وَلَيْسَ لَهُ ظِلٌّ، وَهُوَ مَثَلُ الَّذِي يَصْلُحُ لِلْآخِرَةِ
دُونَ الدُّنْيَا.
"Ada
yang berbuah tetapi tidak memiliki naungan, ini seperti orang yang baik untuk
akhirat tetapi tidak untuk dunia."
وَمِنْهَا مَا
لَهُ ثَمَرٌ وَظِلٌّ جَمِيعًا.
"Ada
yang memiliki buah dan naungan sekaligus."
وَمِنْهَا مَا
لَيْسَ لَهُ وَاحِدٌ مِنْهُمَا كَأُمِّ غَيْلَانَ تُمَزِّقُ الثِّيَابَ وَلَا
طَعْمَ فِيهَا وَلَا شَرَابَ.
"Dan
ada yang tidak memiliki keduanya, seperti pohon *Umm Ghailan* yang merobek
pakaian, tidak ada rasa dan tidak ada air padanya."
وَمِثْلُهُ
مِنَ الْحَيَوَانَاتِ الْفَأْرَةُ وَالْعَقْرَبُ.
"Perumpamaannya
dari hewan adalah tikus dan kalajengking."
كَمَا قَالَ
تَعَالَى: {يَدْعُو لَمَنْ ضَرُّهُ أَقْرَبُ مِنْ نَفْعِهِ لَبِئْسَ الْمَوْلَى
وَلَبِئْسَ الْعَشِيرُ}.
Sebagaimana
firman Allah Ta'ala, "Ia menyeru kepada tuhan yang mudaratnya lebih dekat
daripada manfaatnya. Sungguh, ia adalah seburuk-buruk pelindung dan
seburuk-buruk teman." (QS. Al-Hajj: 13).
وَقَالَ
الشَّاعِرُ:
النَّاسُ
شَتَّى إِذَا مَا أَنْتَ ذُقْتَهُمْ … لَا يَسْتَوُونَ كَمَا لَا يَسْتَوِي
الشَّجَرُ
هَذَا لَهُ
ثَمَرٌ حُلْوٌ مَذَاقَتُهُ … وَذَاكَ لَيْسَ لَهُ طَعْمٌ وَلَا ثَمَرُ
Seorang
penyair berkata: "Manusia itu bermacam-macam jika engkau merasakannya...
Mereka tidak sama sebagaimana pohon-pohon tidak sama. Yang ini buahnya manis
rasanya... dan yang itu tidak ada rasa dan tidak ada buahnya."
فَإِذَا لَمْ
يَجِدْ رَفِيقًا يُؤَاخِيهِ وَيَسْتَفِيدُ بِهِ أَحَدَ هَذِهِ الْمَقَاصِدِ،
فَالْوِحْدَةُ أَوْلَى بِهِ.
Jika
seseorang tidak menemukan teman untuk dijadikan saudara dan diambil manfaatnya
untuk salah satu tujuan ini, maka menyendiri lebih baik baginya.
قَالَ أَبُو
ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: الْوِحْدَةُ خَيْرٌ مِنَ الْجَلِيسِ السُّوءِ،
وَالْجَلِيسُ الصَّالِحُ خَيْرٌ مِنَ الْوِحْدَةِ.
Abu Dzar
radhiyallahu 'anhu berkata: "Menyendiri lebih baik daripada teman yang
buruk, dan teman yang saleh lebih baik daripada menyendiri."
وَيُرْوَى
مَرْفُوعًا.
Dan ini
diriwayatkan secara *marfu'* (sampai kepada Nabi).
وَأَمَّا
الدِّيَانَةُ وَعَدَمُ الْفِسْقِ فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَاتَّبِعْ
سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ}.
Adapun
ketaatan beragama dan tidak fasik, Allah Ta'ala telah berfirman, "Dan
ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku."
وَلِأَنَّ
مُشَاهَدَةَ الْفِسْقِ وَالْفُسَّاقِ تُهَوِّنُ أَمْرَ الْمَعْصِيَةِ عَلَى
الْقَلْبِ وَتُبْطِلُ نَفْرَةَ الْقَلْبِ عَنْهَا.
Dan karena
menyaksikan kefasikan dan orang-orang fasik akan meremehkan urusan maksiat di
dalam hati dan menghilangkan rasa jijik hati terhadapnya.
قَالَ سَعِيدُ
بْنُ الْمُسَيِّبِ: لَا تَنْظُرُوا إِلَى الظَّلَمَةِ فَتَحْبَطَ أَعْمَالُكُمُ
الصَّالِحَةُ.
Sa'id bin
Al-Musayyab berkata: "Janganlah kalian memandang orang-orang zalim, karena
itu akan menghapus amal-amal saleh kalian."
بَلْ
هَؤُلَاءِ لَا سَلَامَةَ فِي مُخَالَطَتِهِمْ.
Bahkan,
tidak ada keselamatan dalam bergaul dengan mereka.
إِنَّمَا
السَّلَامَةُ فِي الِانْقِطَاعِ عَنْهُمْ.
Keselamatan
hanyalah dengan memutuskan hubungan dari mereka.
قَالَ اللَّهُ
تَعَالَى: {وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا}.
Allah
Ta'ala berfirman, "Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka
mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." (QS. Al-Furqan: 63).
أَيْ
سَلَامَةً.
Maksudnya
adalah *salamah* (keselamatan).
وَالْأَلِفُ
بَدَلٌ مِنَ الْهَاءِ.
Huruf alif adalah
pengganti dari huruf ha'.
وَمَعْنَاهُ:
إِنَّا سَلِمْنَا مِنْ إِثْمِكُمْ وَأَنْتُمْ سَلِمْتُمْ مِنْ شَرِّنَا.
Maknanya:
"Kami selamat dari dosa kalian, dan kalian selamat dari kejahatan
kami."
فَهَذَا مَا
أَرَدْنَا أَنْ نَذْكُرَهُ مِنْ مَعَانِي الْأُخُوَّةِ وَشُرُوطِهَا
وَفَوَائِدِهَا.
Inilah yang
ingin kami sebutkan mengenai makna, syarat, dan manfaat persaudaraan.
فَلْنَرْجِعْ
فِي ذِكْرِ حُقُوقِهَا وَلَوَازِمِهَا وَطُرُقِ الْقِيَامِ بِحَقِّهَا.
Maka, mari
kita kembali membahas hak-haknya, keharusannya, dan cara-cara menunaikan
haknya.
وَأَمَّا
الْحَرِيصُ عَلَى الدُّنْيَا فَصُحْبَتُهُ سُمٌّ قَاتِلٌ.
Adapun
orang yang rakus terhadap dunia, persahabatannya adalah racun yang mematikan.
لِأَنَّ
الطِّبَاعَ مَجْبُولَةٌ عَلَى التَّشَبُّهِ وَالِاقْتِدَاءِ.
Karena
tabiat manusia diciptakan untuk meniru dan mengikuti.
بَلِ
الطَّبْعُ يَسْرِقُ مِنَ الطَّبْعِ مِنْ حَيْثُ لَا يَدْرِي صَاحِبُهُ.
Bahkan, tabiat
bisa "mencuri" dari tabiat lain tanpa disadari oleh pemiliknya.
فَمُجَالَسَةُ
الْحَرِيصِ عَلَى الدُّنْيَا تُحَرِّكُ الْحِرْصَ.
Bergaul
dengan orang yang rakus dunia akan menggerakkan kerakusan.
وَمُجَالَسَةُ
الزَّاهِدِ تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا.
Dan bergaul
dengan orang zuhud akan membuat seseorang zuhud terhadap dunia.
فَلِذَلِكَ
تُكْرَهُ صُحْبَةُ طُلَّابِ الدُّنْيَا وَيُسْتَحَبُّ صُحْبَةُ الرَّاغِبِينَ فِي
الْآخِرَةِ.
Karena itu,
dibenci bersahabat dengan para pencari dunia dan disunahkan bersahabat dengan
para pencari akhirat.
قَالَ عَلِيٌّ
عَلَيْهِ السَّلَامُ: أَحْيُوا الطَّاعَاتِ بِمُجَالَسَةِ مَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ.
Ali
'alaihissalam berkata: "Hidupkanlah ketaatan dengan bergaul dengan orang
yang engkau merasa malu kepadanya."
وَقَالَ
أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَحِمَهُ اللَّهُ: مَا أَوْقَعَنِي فِي بَلِيَّةٍ إِلَّا
صُحْبَةُ مَنْ لَا أَحْتَشِمُهُ.
Ahmad bin
Hanbal rahimahullah berkata: "Tidak ada yang menjerumuskanku ke dalam
bencana kecuali persahabatan dengan orang yang aku tidak merasa segan
kepadanya."
وَقَالَ
لُقْمَانُ: يَا بُنَيَّ, جَالِسِ الْعُلَمَاءَ وَزَاحِمْهُمْ بِرُكْبَتَيْكَ,
فَإِنَّ الْقُلُوبَ لَتَحْيَا بِالْحِكْمَةِ كَمَا تَحْيَا الْأَرْضُ الْمَيِّتَةُ
بِوَابِلِ الْقَطْرِ.
Luqman
berkata: "Wahai anakku, duduklah bersama para ulama dan
berdesak-desakanlah dengan mereka menggunakan lututmu. Karena sesungguhnya hati
akan hidup dengan hikmah sebagaimana tanah yang mati hidup dengan siraman
hujan."