Tentang Kebolehan Samā‘ (2)
فَقَدْ حَكَى أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ دَاوُدَ الدِّينَوَرِيُّ الْمَعْرُوفُ بِالرَّقِّيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: كُنْتُ بِالْبَادِيَةِ، فَوَافَيْتُ قَبِيلَةً مِنْ قَبَائِلِ الْعَرَبِ.
Dikisahkan oleh Abu Bakar Muhammad bin Dawud ad-Dinawari
yang dikenal dengan ar-Raqqi رضي
الله عنه. Ia berkata: “Aku pernah berada di padang (badui), lalu aku
mendatangi satu kabilah dari kabilah-kabilah Arab.”
فَأَضَافَنِي
رَجُلٌ مِنْهُمْ، وَأَدْخَلَنِي خِبَاءَهُ.
Seorang laki-laki dari mereka menjamuku, lalu memasukkanku
ke kemahnya.
فَرَأَيْتُ
فِي الْخِبَاءِ عَبْدًا أَسْوَدَ مُقَيَّدًا بِقَيْدٍ.
Aku melihat di dalam kemah itu seorang budak hitam yang
dibelenggu dengan rantai.
وَرَأَيْتُ
جِمَالًا قَدْ مَاتَتْ بَيْنَ يَدَيِ الْبَيْتِ.
Aku juga melihat beberapa ekor unta telah mati di depan
kemah.
وَقَدْ
بَقِيَ مِنْهَا جَمَلٌ وَهُوَ نَاحِلٌ ذَابِلٌ، كَأَنَّهُ يَنْزِعُ رُوحَهُ.
Dan tersisa satu ekor unta, kurus dan layu, seakan-akan
sedang sekarat.
فَقَالَ
لِي الْغُلَامُ: أَنْتَ ضَيْفٌ وَلَكَ حَقٌّ، فَتَشَفَّعْ فِيَّ إِلَى مَوْلَايَ.
Budak itu berkata kepadaku: “Engkau tamu dan engkau punya
hak; maka mohonkanlah syafaat untukku kepada tuanku.”
فَإِنَّهُ
مُكْرِمٌ لِضَيْفِهِ، فَلَا يَرُدُّ شَفَاعَتَكَ فِي هٰذَا الْقَدْرِ.
“Karena ia memuliakan tamunya, maka ia tidak akan menolak
syafaatmu dalam perkara ini.”
فَعَسَاهُ
يَحُلُّ الْقَيْدَ عَنِّي.
“Mudah-mudahan ia mau melepaskan belenggu dariku.”
قَالَ:
فَلَمَّا أَحْضَرُوا الطَّعَامَ امْتَنَعْتُ، وَقُلْتُ: لَا آكُلُ مَا لَمْ
أَشْفَعْ فِي هٰذَا الْعَبْدِ.
Ia berkata: “Ketika makanan dihidangkan, aku menolak dan
berkata: ‘Aku tidak akan makan sebelum aku memohonkan syafaat untuk budak
ini.’”
فَقَالَ:
إِنَّ هٰذَا الْعَبْدَ قَدْ أَفْقَرَنِي وَأَهْلَكَ جَمِيعَ مَالِي.
Orang itu berkata: “Budak ini telah membuatku jatuh miskin
dan membinasakan seluruh hartaku.”
فَقُلْتُ:
مَاذَا فَعَلَ؟
Aku berkata: “Apa yang ia lakukan?”
فَقَالَ:
إِنَّ لَهُ صَوْتًا طَيِّبًا.
Ia menjawab: “Ia punya suara yang bagus.”
وَإِنِّي
كُنْتُ أَعِيشُ مِنْ ظُهُورِ هٰذِهِ الْجِمَالِ.
“Dan aku dahulu hidup dari hasil mengandalkan unta-unta
ini.”
فَحَمَلَهَا
أَحْمَالًا ثِقَالًا.
“Lalu ia memuati unta-unta itu dengan muatan yang berat.”
وَكَانَ
يَحْدُو بِهَا حَتَّى قَطَعَتْ مَسِيرَةَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي لَيْلَةٍ
وَاحِدَةٍ مِنْ طِيبِ نَغْمَتِهِ.
“Dan ia melantunkan ḥudā’ (nyanyian pengiring unta) sehingga
unta-unta itu menempuh perjalanan tiga hari dalam satu malam, karena indahnya
nadanya.”
فَلَمَّا
حَطَّتْ أَحْمَالَهَا مَاتَتْ كُلُّهَا إِلَّا هٰذَا الْجَمَلَ الْوَاحِدَ.
“Ketika beban-bebannya diturunkan, semuanya mati kecuali
satu unta ini.”
وَلٰكِنْ
أَنْتَ ضَيْفِي، فَلِكَرَامَتِكَ قَدْ وَهَبْتُهُ لَكَ.
“Tetapi engkau tamuku; demi memuliakanmu aku hadiahkan budak
itu kepadamu.”
قَالَ:
فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَسْمَعَ صَوْتَهُ.
Ia berkata: “Aku pun ingin mendengar suaranya.”
فَلَمَّا
أَصْبَحْنَا أَمَرَهُ أَنْ يَحْدُوَ عَلَى جَمَلٍ يُسْتَقَى الْمَاءُ مِنْ بِئْرٍ
هُنَالِكَ.
Ketika pagi, orang itu menyuruhnya melantunkan ḥudā’ pada
seekor unta yang biasa dipakai mengambil air dari sumur di sana.
فَلَمَّا
رَفَعَ صَوْتَهُ هَامَ ذٰلِكَ الْجَمَلُ، وَقَطَعَ حِبَالَهُ.
Ketika ia meninggikan suaranya, unta itu menjadi “tergila”,
memutus tali-tali pengikatnya.
وَوَقَعْتُ
أَنَا عَلَى وَجْهِي.
Dan aku sendiri terjatuh tersungkur.
فَمَا
أَظُنُّ أَنِّي سَمِعْتُ قَطُّ صَوْتًا أَطْيَبَ مِنْهُ.
Aku tidak menyangka pernah mendengar suara yang lebih indah
daripada itu.
فَإِذًا
تَأْثِيرُ السَّمَاعِ فِي الْقَلْبِ مَحْسُوسٌ.
Maka pengaruh samā‘ (mendengarkan nyanyian/nada) pada hati
itu nyata dan dapat dirasakan.
وَمَنْ
لَمْ يُحَرِّكْهُ السَّمَاعُ فَهُوَ نَاقِصٌ مَائِلٌ عَنِ الِاعْتِدَالِ.
Siapa yang tidak tergugah oleh samā‘, maka ia orang yang
kurang, menyimpang dari keseimbangan.
بَعِيدٌ
عَنِ الرُّوحَانِيَّةِ.
Jauh dari sisi kerohanian.
زَائِدٌ
فِي غِلَظِ الطَّبْعِ وَكَثَافَتِهِ عَلَى الْجِمَالِ وَالطُّيُورِ، بَلْ عَلَى
جَمِيعِ الْبَهَائِمِ.
Kasar tabiatnya dan tebal (beku) melebihi unta dan burung,
bahkan melebihi seluruh hewan.
فَإِنَّ
جَمِيعَهَا تَتَأَثَّرُ بِالنَّغَمَاتِ الْمَوْزُونَةِ.
Karena semua hewan terpengaruh oleh nada-nada yang berirama.
وَلِذٰلِكَ
كَانَتِ الطُّيُورُ تَقِفُ عَلَى رَأْسِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ لِاسْتِمَاعِ
صَوْتِهِ.
Karena itu burung-burung sampai hinggap di atas kepala Nabi
Dawud عليه
السلام untuk mendengarkan suaranya.
وَمَهْمَا
كَانَ النَّظَرُ فِي السَّمَاعِ بِاعْتِبَارِ تَأْثِيرِهِ فِي الْقَلْبِ لَمْ
يَجُزْ أَنْ يُحْكَمَ فِيهِ مُطْلَقًا بِإِبَاحَةٍ وَلَا تَحْرِيمٍ.
Apabila samā‘ dipandang dari pengaruhnya pada hati, maka
tidak boleh dihukumi secara mutlak: selalu boleh atau selalu haram.
بَلْ
يَخْتَلِفُ ذٰلِكَ بِالْأَحْوَالِ وَالْأَشْخَاصِ، وَاخْتِلَافِ طُرُقِ
النَّغَمَاتِ.
Namun hal itu berbeda sesuai keadaan, pribadi orangnya, dan
ragam bentuk nada/lagunya.
فَحُكْمُهُ
حُكْمُ مَا فِي الْقَلْبِ.
Maka hukumnya mengikuti apa yang ada dalam hati.
قَالَ
أَبُو سُلَيْمَانَ: السَّمَاعُ لَا يَجْعَلُ فِي الْقَلْبِ مَا لَيْسَ فِيهِ،
وَلٰكِنْ يُحَرِّكُ مَا هُوَ فِيهِ.
Abu Sulaiman berkata: “Samā‘ tidak menaruh sesuatu ke dalam
hati yang sebelumnya tidak ada, tetapi hanya menggerakkan apa yang memang ada
di dalamnya.”
فَالتَّرَنُّمُ
بِالْكَلِمَاتِ الْمُسَجَّعَةِ الْمَوْزُونَةِ مُعْتَادٌ فِي مَوَاضِعَ
لِأَغْرَاضٍ مَخْصُوصَةٍ.
Melagukan kata-kata yang bersajak dan berirama adalah
kebiasaan pada tempat-tempat tertentu untuk tujuan-tujuan khusus.
تَرْتَبِطُ
بِهَا آثَارٌ فِي الْقَلْبِ.
Yang dengannya terkait pengaruh-pengaruh dalam hati.
وَهِيَ
سَبْعَةُ مَوَاضِعَ.
Dan tempat-tempat itu ada tujuh.
اَلْأَوَّلُ:
غِنَاءُ الْحُجَّاجِ.
Pertama: nyanyian para jamaah haji.
فَإِنَّهُمْ
أَوَّلًا يَدُورُونَ فِي الْبِلَادِ بِالطَّبْلِ وَالشَّاهِينِ وَالْغِنَاءِ.
Karena mereka biasanya berkeliling negeri dengan tabuh,
seruling (syāhīn), dan nyanyian.
وَذٰلِكَ
مُبَاحٌ.
Dan itu mubah.
لِأَنَّهَا
أَشْعَارٌ نُظِمَتْ فِي وَصْفِ الْكَعْبَةِ وَالْمَقَامِ وَالْحَطِيمِ وَزَمْزَمَ
وَسَائِرِ الْمَشَاعِرِ.
Sebab itu adalah syair-syair yang disusun untuk
menggambarkan Ka‘bah, Maqam, Hatim, Zamzam, dan seluruh masyā‘ir (tempat-tempat
ibadah haji).
وَوَصْفِ
الْبَادِيَةِ وَغَيْرِهَا.
Dan menggambarkan padang (badui) serta selainnya.
وَأَثَرُ
ذٰلِكَ يُهَيِّجُ الشَّوْقَ إِلَى حَجِّ بَيْتِ اللهِ تَعَالَى.
Pengaruhnya adalah membangkitkan rindu untuk berhaji ke
Baitullah تعالى.
وَاشْتِعَالُ
نِيرَانِهِ إِنْ كَانَ ثَمَّ شَوْقٌ حَاصِلٌ.
Dan menyalakan api kerinduan itu, bila memang sudah ada
kerinduan sebelumnya.
أَوِ
اسْتِثَارَةُ الشَّوْقِ وَاجْتِلَابُهُ إِنْ لَمْ يَكُنْ حَاصِلًا.
Atau membangkitkan dan mendatangkan rindu, bila sebelumnya
belum ada.
وَإِذَا
كَانَ الْحَجُّ قُرْبَةً وَالشَّوْقُ إِلَيْهِ مَحْمُودًا، كَانَ التَّشْوِيقُ
إِلَيْهِ بِكُلِّ مَا يُشَوِّقُ مَحْمُودًا.
Jika haji adalah ibadah mendekatkan diri, dan rindu
kepadanya terpuji, maka mendorong kerinduan itu dengan segala yang membuat
rindu juga terpuji.
وَكَمَا
يَجُوزُ لِلْوَاعِظِ أَنْ يَنْظِمَ كَلَامَهُ فِي الْوَعْظِ.
Sebagaimana penceramah boleh menyusun kata-katanya dalam
nasihat.
وَيُزَيِّنَهُ
بِالسَّجْعِ.
Dan menghiasinya dengan sajak.
وَيُشَوِّقَ
النَّاسَ إِلَى الْحَجِّ بِوَصْفِ الْبَيْتِ وَالْمَشَاعِرِ وَوَصْفِ الثَّوَابِ
عَلَيْهِ.
Serta mendorong manusia kepada haji dengan menggambarkan
Baitullah, masyā‘ir, dan pahala haji.
جَازَ
لِغَيْرِهِ ذٰلِكَ عَلَى نَظْمِ الشِّعْرِ.
Maka selain penceramah pun boleh melakukannya dengan bentuk
syair.
فَإِنَّ
الْوَزْنَ إِذَا انْضَمَّ إِلَى السَّجْعِ صَارَ الْكَلَامُ أَوْقَعَ فِي
الْقَلْبِ.
Karena irama bila digabungkan dengan sajak membuat kata-kata
lebih mengena di hati.
فَإِذَا
أُضِيفَ إِلَيْهِ صَوْتٌ طَيِّبٌ وَنَغَمَاتٌ مَوْزُونَةٌ زَادَ وَقْعُهُ.
Jika ditambah suara yang indah dan nada berirama,
pengaruhnya semakin kuat.
فَإِنْ
أُضِيفَ إِلَيْهِ الطَّبْلُ وَالشَّاهِينُ وَحَرَكَاتُ الْإِيقَاعِ زَادَ
التَّأْثِيرُ.
Jika ditambah tabuh, seruling, dan gerakan ritme,
pengaruhnya bertambah lagi.
وَكُلُّ
ذٰلِكَ جَائِزٌ مَا لَمْ يَدْخُلْ فِيهِ الْمَزَامِيرُ وَالْأَوْتَارُ الَّتِي
هِيَ مِنْ شِعَارِ الْأَشْرَارِ.
Semua itu boleh selama tidak masuk di dalamnya
seruling-seruling (yang terlarang) dan alat-alat bersenar yang menjadi ciri
orang-orang jahat.
نَعَمْ،
إِنْ قُصِدَ بِهِ تَشْوِيقُ مَنْ لَا يَجُوزُ لَهُ الْخُرُوجُ إِلَى الْحَجِّ.
Namun bila itu dimaksudkan untuk membuat rindu orang yang
tidak boleh pergi haji,
كَالَّذِي
أَسْقَطَ الْفَرْضَ عَنْ نَفْسِهِ وَلَمْ يَأْذَنْ لَهُ أَبَوَاهُ فِي الْخُرُوجِ.
seperti orang yang kewajiban hajinya gugur (karena belum
memenuhi syarat), atau orang yang tidak diizinkan orang tuanya untuk berangkat,
فَهٰذَا
يَحْرُمُ عَلَيْهِ الْخُرُوجُ.
maka berangkat haji baginya haram.
فَيَحْرُمُ
تَشْوِيقُهُ إِلَى الْحَجِّ بِالسَّمَاعِ وَبِكُلِّ كَلَامٍ يُشَوِّقُ إِلَى
الْخُرُوجِ.
Karena itu haram pula membuatnya rindu haji dengan samā‘ dan
dengan setiap ucapan yang mendorongnya untuk berangkat.
فَإِنَّ
التَّشْوِيقَ إِلَى الْحَرَامِ حَرَامٌ.
Sebab mendorong kepada yang haram adalah haram.
وَكَذٰلِكَ
إِنْ كَانَتِ الطَّرِيقُ غَيْرَ آمِنَةٍ وَكَانَ الْهَلَاكُ غَالِبًا.
Demikian pula bila jalan tidak aman dan kebinasaan sangat
mungkin terjadi,
لَمْ
يَجُزْ تَحْرِيكُ الْقُلُوبِ وَمُعَالَجَتُهَا بِالتَّشْوِيقِ.
maka tidak boleh menggerakkan hati dan “mengobatinya” dengan
dorongan rindu.
اَلثَّانِي:
مَا يَعْتَادُهُ الْغُزَاةُ لِتَحْرِيضِ النَّاسِ عَلَى الْغَزْوِ.
Kedua: hal yang biasa dilakukan para pejuang untuk mendorong
orang berjihad/perang.
وَذٰلِكَ
أَيْضًا مُبَاحٌ كَمَا لِلْحَاجِّ.
Itu juga mubah sebagaimana pada jamaah haji.
وَلٰكِنْ
يَنْبَغِي أَنْ تُخَالِفَ أَشْعَارُهُمْ وَطُرُقُ أَلْحَانِهِمْ أَشْعَارَ
الْحَاجِّ وَطُرُقَ أَلْحَانِهِمْ.
Namun syair dan jenis lagunya hendaknya berbeda dari syair
dan lagu para jamaah haji.
لِأَنَّ
اسْتِثَارَةَ دَاعِيَةِ الْغَزْوِ بِالتَّشْجِيعِ.
Karena membangkitkan dorongan perang itu dilakukan dengan
memberi semangat.
وَتَحْرِيكِ
الْغَيْظِ وَالْغَضَبِ فِيهِ عَلَى الْكُفَّارِ.
Dan membangkitkan geram dan marah terhadap orang-orang
kafir.
وَتَحْسِينِ
الشَّجَاعَةِ وَاسْتِحْقَارِ النَّفْسِ وَالْمَالِ بِالْإِضَافَةِ إِلَيْهِ.
Serta memperindah keberanian dan meremehkan diri dan harta
dibanding tujuan itu.
بِالْأَشْعَارِ
الْمُشَجِّعَةِ.
Dengan syair-syair yang menyemangati.
مِثْلَ
قَوْلِ الْمُتَنَبِّي:
فَإِنْ
لَا تَمُتْ تَحْتَ السُّيُوفِ مُكَرَّمًا … تَمُتْ وَتُقَاسِ الذُّلَّ غَيْرَ
مُكَرَّمِ.
Seperti ucapan al-Mutanabbi:
“Jika engkau tidak mati mulia di bawah pedang … engkau akan
mati juga, menanggung hina tanpa kemuliaan.”
وَقَوْلِهِ
أَيْضًا:
يَرَى
الْجُبَنَاءُ أَنَّ الْجُبْنَ حَزْمٌ … وَتِلْكَ خَدِيعَةُ الطَّبْعِ اللَّئِيمِ.
Dan ucapannya pula:
“Orang-orang pengecut mengira pengecut itu kehati-hatian …
padahal itu tipu daya tabiat yang hina.”
وَأَمْثَالِ
ذٰلِكَ.
Dan semisal itu.
وَطُرُقُ
الْأَوْزَانِ الْمُشَجِّعَةِ تُخَالِفُ الطُّرُقَ الْمُشَوِّقَةَ.
Pola irama yang membangkitkan semangat berbeda dengan pola
irama yang menimbulkan kerinduan.
وَهٰذَا
أَيْضًا مُبَاحٌ فِي وَقْتٍ يُبَاحُ فِيهِ الْغَزْوُ.
Ini juga mubah pada waktu perang itu dibolehkan.
وَمَنْدُوبٌ
إِلَيْهِ وَقْتَ يُسْتَحَبُّ فِيهِ الْغَزْوُ.
Bahkan dianjurkan pada waktu perang itu dianjurkan.
وَلٰكِنْ
فِي حَقِّ مَنْ يَجُوزُ لَهُ الْخُرُوجُ إِلَى الْغَزْوِ.
Namun berlaku bagi orang yang memang boleh keluar untuk
perang.
اَلثَّالِثُ:
الرَّجَزِيَّاتُ الَّتِي يَسْتَعْمِلُهَا الشُّجْعَانُ فِي وَقْتِ اللِّقَاءِ.
Ketiga: rajaz-rajaz (syair perang) yang dipakai para
pemberani saat berhadapan.
وَالْغَرَضُ
مِنْهَا التَّشْجِيعُ لِلنَّفْسِ وَلِلْأَنْصَارِ.
Tujuannya memberi semangat bagi diri sendiri dan para
penolong.
وَتَحْرِيكُ
النَّشَاطِ فِيهِمْ لِلْقِتَالِ.
Dan membangkitkan gairah mereka untuk bertempur.
وَفِيهِ
التَّمَدُّحُ بِالشَّجَاعَةِ وَالنَّجْدَةِ.
Di dalamnya ada kebanggaan terhadap keberanian dan
pertolongan.
وَذٰلِكَ
إِذَا كَانَ بِلَفْظٍ رَشِيقٍ وَصَوْتٍ طَيِّبٍ كَانَ أَوْقَعَ فِي النَّفْسِ.
Bila dilakukan dengan lafaz yang indah dan suara yang bagus,
maka lebih mengena di jiwa.
وَذٰلِكَ
مُبَاحٌ فِي كُلِّ قِتَالٍ مُبَاحٍ.
Hal itu mubah dalam setiap peperangan yang mubah.
وَمَنْدُوبٌ
فِي قِتَالٍ مَنْدُوبٍ.
Dan dianjurkan dalam peperangan yang dianjurkan.
وَمَحْظُورٌ
فِي قِتَالِ الْمُسْلِمِينَ وَأَهْلِ الذِّمَّةِ.
Dan terlarang dalam memerangi kaum muslimin dan ahli
dzimmah.
وَكُلُّ
قِتَالٍ مَحْظُورٍ.
Dan dalam setiap peperangan yang terlarang.
لِأَنَّ
تَحْرِيكَ الدَّوَاعِي إِلَى الْمَحْظُورِ مَحْظُورٌ.
Karena menggerakkan dorongan menuju yang terlarang adalah
terlarang.
وَذٰلِكَ
مَنْقُولٌ عَنْ شُجْعَانِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، كَعَلِيٍّ
وَخَالِدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَغَيْرِهِمَا.
Dan hal itu dinukil dari para sahabat pemberani رضي الله عنهم,
seperti ‘Ali dan Khalid رضي
الله عنهما dan selain keduanya.
وَلِذٰلِكَ
نَقُولُ: يَنْبَغِي أَنْ يُمْنَعَ مِنَ الضَّرْبِ بِالشَّاهِينِ فِي مُعَسْكَرِ
الْغُزَاةِ.
Karena itu kami mengatakan: seharusnya dilarang meniup
syāhīn (seruling) di perkemahan pasukan perang.
فَإِنَّ
صَوْتَهُ مُرَقِّقٌ مُحْزِنٌ.
Sebab suaranya melembutkan dan menyedihkan.
يُحَلِّلُ
عُقْدَةَ الشَّجَاعَةِ.
Ia melonggarkan ikatan keberanian.
وَيُضْعِفُ
صَرَامَةَ النَّفْسِ.
Dan melemahkan keteguhan jiwa.
وَيُشَوِّقُ
إِلَى الْأَهْلِ وَالْوَطَنِ.
Serta menimbulkan rindu kepada keluarga dan kampung halaman.
وَيُورِثُ
الْفُتُورَ فِي الْقِتَالِ.
Dan mewariskan kendor dalam pertempuran.
وَكَذٰلِكَ
سَائِرُ الْأَصْوَاتِ وَالْأَلْحَانِ الْمُرَقِّقَةِ لِلْقَلْبِ.
Demikian pula suara dan lagu lain yang melembutkan hati.
فَالْأَلْحَانُ
الْمُرَقِّقَةُ الْمُحْزِنَةُ تُبَايِنُ الْأَلْحَانَ الْمُحَرِّكَةَ
الْمُشَجِّعَةَ.
Lagu yang melembutkan dan menyedihkan berbeda dengan lagu
yang menggerakkan dan menyemangati.
فَمَنْ
فَعَلَ ذٰلِكَ عَلَى قَصْدِ تَغْيِيرِ الْقُلُوبِ وَتَفْتِيرِ الْآرَاءِ عَنِ
الْقِتَالِ الْوَاجِبِ فَهُوَ عَاصٍ.
Siapa melakukan itu dengan tujuan mengubah hati dan
melemahkan tekad dari perang yang wajib, maka ia bermaksiat.
وَمَنْ
فَعَلَهُ عَلَى قَصْدِ التَّفْتِيرِ عَنِ الْقِتَالِ الْمَحْظُورِ فَهُوَ بِذٰلِكَ
مُطِيعٌ.
Siapa melakukannya dengan tujuan melemahkan dari perang yang
terlarang, maka ia dengan itu taat.
اَلرَّابِعُ:
أَصْوَاتُ النِّيَاحَةِ وَنَغَمَاتُهَا.
Keempat: suara ratapan dan nadanya.
وَتَأْثِيرُهَا
فِي تَهْيِيجِ الْحُزْنِ وَالْبُكَاءِ وَمُلَازَمَةِ الْكَآبَةِ وَالْحُزْنِ
قِسْمَانِ: مَحْمُودٌ وَمَذْمُومٌ.
Pengaruhnya dalam membangkitkan sedih, tangis, dan
terus-menerus murung dan sedih ada dua: terpuji dan tercela.
فَأَمَّا
الْمَذْمُومُ فَكَالْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَ.
Adapun yang tercela, seperti sedih atas sesuatu yang sudah
terlewat.
قَالَ
اللهُ تَعَالَى: ﴿لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ﴾.
Allah تعالى
berfirman: “Agar kalian tidak bersedih atas apa yang luput dari kalian.”
وَالْحُزْنُ
عَلَى الْأَمْوَاتِ مِنْ هٰذَا الْقَبِيلِ.
Sedih atas orang mati termasuk jenis ini.
فَإِنَّهُ
تَسَخُّطٌ لِقَضَاءِ اللهِ تَعَالَى.
Karena itu bentuk tidak ridha terhadap ketentuan Allah تعالى.
وَتَأَسُّفٌ
عَلَى مَا لَا تَدَارُكَ لَهُ.
Dan penyesalan atas sesuatu yang tidak bisa diperbaiki.
فَهٰذَا
الْحُزْنُ لَمَّا كَانَ مَذْمُومًا كَانَ تَحْرِيكُهُ بِالنِّيَاحَةِ مَذْمُومًا.
Karena sedih ini tercela, maka menggerakkannya dengan
ratapan juga tercela.
فَلِذٰلِكَ
وَرَدَ النَّهْيُ الصَّرِيحُ عَنِ النِّيَاحَةِ (١).
Karena itu ada larangan tegas tentang ratapan (niyāhah). (1)
وَأَمَّا
الْحُزْنُ الْمَحْمُودُ فَهُوَ حُزْنُ الْإِنْسَانِ عَلَى تَقْصِيرِهِ فِي أَمْرِ
دِينِهِ.
Adapun sedih yang terpuji adalah sedih seseorang atas
kelalaiannya dalam urusan agamanya.
وَبُكَاؤُهُ
عَلَى خَطَايَاهُ.
Dan tangisnya atas dosa-dosanya.
وَالْبُكَاءُ
وَالتَّبَاكِي.
Menangis dan berusaha menangis.
وَالْحُزْنُ
وَالتَّحَازُنُ عَلَى ذٰلِكَ مَحْمُودٌ.
Dan bersedih serta menampakkan sedih karena itu adalah
terpuji.
وَعَلَيْهِ
بُكَاءُ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ.
Demikianlah tangis Nabi Adam عليه السلام.
وَتَحْرِيكُ
هٰذَا الْحُزْنِ وَتَقْوِيَتُهُ مَحْمُودٌ.
Menggerakkan sedih ini dan menguatkannya adalah terpuji.
لِأَنَّهُ
يَبْعَثُ عَلَى التَّشْمِيرِ لِلتَّدَارُكِ.
Karena itu mendorong untuk bersungguh-sungguh mengejar
perbaikan.
وَلِذٰلِكَ
كَانَتْ نِيَاحَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَحْمُودَةً.
Karena itu ratapan Dawud عليه السلام terpuji.
إِذْ
كَانَ ذٰلِكَ مَعَ دَوَامِ الْحُزْنِ وَطُولِ الْبُكَاءِ بِسَبَبِ الْخَطَايَا
وَالذُّنُوبِ.
Karena itu bersamaan dengan kesedihan yang terus-menerus dan
tangis yang panjang sebab dosa dan kesalahan.
فَقَدْ
كَانَ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَبْكِي وَيَبْكِي وَيَحْزَنُ.
Beliau terus menangis dan bersedih.
حَتَّى
كَانَتِ الْجَنَائِزُ تُرْفَعُ مِنْ مَجَالِسِ نِيَاحَتِهِ.
Sampai-sampai jenazah diangkat dari majelis ratapannya
(karena orang banyak menangis dan meninggal).
وَكَانَ
يَفْعَلُ ذٰلِكَ بِأَلْفَاظِهِ وَأَلْحَانِهِ.
Dan ia melakukan itu dengan kata-kata dan lagu-lagunya.
وَذٰلِكَ
مَحْمُودٌ لِأَنَّ الْمُفْضِيَ إِلَى الْمَحْمُودِ مَحْمُودٌ.
Dan itu terpuji, karena yang mengantarkan kepada yang
terpuji juga terpuji.
وَعَلَى
هٰذَا لَا يَحْرُمُ عَلَى الْوَاعِظِ الطَّيِّبِ الصَّوْتِ أَنْ يُنْشِدَ عَلَى
الْمِنْبَرِ بِأَلْحَانِهِ الْأَشْعَارَ الْمُحْزِنَةَ الْمُرَقِّقَةَ لِلْقَلْبِ.
Berdasarkan ini, tidak haram bagi penceramah yang bagus
suaranya melantunkan di mimbar syair-syair sedih yang melembutkan hati dengan
lagu.
وَلَا
أَنْ يَبْكِيَ وَيَتَبَاكَى لِيَتَوَصَّلَ بِهِ إِلَى تَبْكِيَةِ غَيْرِهِ
وَإِثَارَةِ حُزْنِهِ.
Dan tidak haram baginya menangis dan berusaha menangis agar
membuat orang lain menangis dan membangkitkan kesedihannya.
اَلْخَامِسُ:
السَّمَاعُ فِي أَوْقَاتِ السُّرُورِ تَأْكِيدًا لِلسُّرُورِ وَتَهْيِيجًا لَهُ.
Kelima: samā‘ pada saat-saat gembira, untuk menguatkan dan
membangkitkan kegembiraan.
وَهُوَ
مُبَاحٌ إِنْ كَانَ ذٰلِكَ السُّرُورُ مُبَاحًا.
Itu mubah bila kegembiraan itu mubah.
كَالْغِنَاءِ
فِي أَيَّامِ الْعِيدِ.
Seperti bernyanyi pada hari raya.
وَفِي
الْعُرْسِ.
Dan pada pernikahan.
وَفِي
وَقْتِ قُدُومِ الْغَائِبِ.
Dan saat kedatangan orang yang lama pergi.
وَفِي
وَقْتِ الْوَلِيمَةِ وَالْعَقِيقَةِ.
Dan saat walimah serta akikah.
وَعِنْدَ
وِلَادَةِ الْمَوْلُودِ.
Dan ketika kelahiran bayi.
وَعِنْدَ
خِتَانِهِ.
Dan ketika khitan.
وَعِنْدَ
حِفْظِهِ الْقُرْآنَ الْعَزِيزَ.
Dan ketika ia menghafal Al-Qur’an yang mulia.
وَكُلُّ
ذٰلِكَ مُبَاحٌ لِأَجْلِ إِظْهَارِ السُّرُورِ بِهِ.
Semua itu mubah untuk menampakkan kegembiraan karenanya.
وَوَجْهُ
جَوَازِهِ أَنَّ مِنَ الْأَلْحَانِ مَا يُثِيرُ الْفَرَحَ وَالسُّرُورَ
وَالطَّرَبَ.
Sisi kebolehannya: sebagian lagu membangkitkan gembira,
senang, dan riang.
فَكُلُّ
مَا جَازَ السُّرُورُ بِهِ جَازَ إِثَارَةُ السُّرُورِ فِيهِ.
Maka setiap yang boleh digembirakan, boleh pula dibangkitkan
kegembiraan karenanya.
وَيَدُلُّ
عَلَى هٰذَا مِنَ النَّقْلِ إِنْشَادُ النِّسَاءِ عَلَى السُّطُوحِ بِالدُّفِّ
وَالْأَلْحَانِ عِنْدَ قُدُومِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (١):
Dalil riwayat untuk ini: nyanyian para wanita di atas atap
dengan rebana dan lagu ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم datang. (1)
طَلَعَ
الْبَدْرُ عَلَيْنَا … مِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعِ
وَجَبَ
الشُّكْرُ عَلَيْنَا … مَا دَعَا لِلَّهِ دَاعِ
“Telah terbit bulan purnama atas kami … dari celah-celah
(bukit) Wada‘.
Wajiblah syukur atas kami … selama ada yang menyeru kepada
Allah.”
فَهٰذَا
إِظْهَارُ السُّرُورِ بِقُدُومِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Ini adalah penampakan kegembiraan atas kedatangan beliau صلى الله عليه
وسلم.
وَهُوَ
سُرُورٌ مَحْمُودٌ.
Dan itu kegembiraan yang terpuji.
فَإِظْهَارُهُ
بِالشِّعْرِ وَالنَّغَمَاتِ وَالرَّقْصِ وَالْحَرَكَاتِ أَيْضًا مَحْمُودٌ.
Maka menampakkannya dengan syair, nada, tarian, dan gerakan
juga terpuji.
فَقَدْ
نُقِلَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَنَّهُمْ
حَجَلُوا فِي سُرُورٍ أَصَابَهُمْ (٢).
Diriwayatkan dari sejumlah sahabat رضي الله عنهم bahwa mereka
melakukan ḥajal (melompat-lompat gembira) ketika mendapat kegembiraan. (2)
كَمَا
سَيَأْتِي فِي أَحْكَامِ الرَّقْصِ.
Sebagaimana akan datang dalam hukum-hukum tarian.
وَهُوَ
جَائِزٌ فِي قُدُومِ كُلِّ قَادِمٍ يَجُوزُ الْفَرَحُ بِهِ.
Hal itu boleh pada kedatangan siapa pun yang memang boleh
disambut gembira.
وَفِي
كُلِّ سَبَبٍ مُبَاحٍ مِنْ أَسْبَابِ السُّرُورِ.
Dan pada setiap sebab kegembiraan yang mubah.
وَيَدُلُّ
عَلَى هٰذَا مَا رُوِيَ فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا
أَنَّهَا قَالَتْ: لَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَسْتُرُنِي بِرِدَائِهِ، وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى الْحَبَشَةِ يَلْعَبُونَ فِي
الْمَسْجِدِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا الَّذِي أَسْأَمُ (٣).
Dalilnya juga hadis dalam Shahih Bukhari-Muslim dari ‘Aisyah
رضي الله عنها:
“Aku pernah melihat Nabi صلى
الله عليه وسلم menutupiku dengan selendangnya, sementara aku melihat
orang-orang Habasyah bermain di masjid, sampai aku sendiri yang merasa bosan.”
(3)
فَاقْدُرُوا
قَدْرَ الْجَارِيَةِ الْحَدِيثَةِ السِّنِّ الْحَرِيصَةِ عَلَى اللَّهْوِ.
Maka ukurlah keadaan seorang gadis yang masih muda dan
sangat menyukai hiburan.
إِشَارَةً
إِلَى طُولِ مُدَّةِ وُقُوفِهَا.
Ini isyarat bahwa lamanya ia berdiri menonton itu cukup
panjang.
وَرَوَى
الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ أَيْضًا فِي صَحِيحَيْهِمَا حَدِيثَ عُقَيْلٍ عَنِ
الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: أَنَّ أَبَا
بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ فِي
أَيَّامِ مِنًى تُدَفِّفَانِ وَتَضْرِبَانِ، وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مُتَغَشٍّ بِثَوْبِهِ.
Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan: dari ‘Aqil, dari
az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah رضي الله عنها, bahwa Abu Bakr رضي الله عنه masuk menemuinya
sementara di sisinya ada dua gadis pada hari-hari Mina, mereka memukul rebana
dan bernyanyi, sedangkan Nabi صلى
الله عليه وسلم menutupi diri dengan kainnya.
فَانْتَهَرَهُمَا
أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.
Abu Bakr رضي
الله عنه membentak keduanya.
فَكَشَفَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ وَجْهِهِ.
Lalu Nabi صلى
الله عليه وسلم menyingkap wajahnya.
وَقَالَ:
«دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ، فَإِنَّهَا أَيَّامُ عِيدٍ».
Beliau bersabda: “Biarkan keduanya, wahai Abu Bakr, karena
ini hari-hari Id.”
وَقَالَتْ
عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: رَأَيْتُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَسْتُرُنِي بِرِدَائِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى الْحَبَشَةِ وَهُمْ يَلْعَبُونَ
فِي الْمَسْجِدِ.
‘Aisyah رضي
الله عنها berkata: “Aku melihat beliau صلى الله عليه وسلم menutupiku dengan
selendangnya sementara aku menonton orang-orang Habasyah bermain di masjid.”
فَزَجَرَهُمْ
عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.
Lalu ‘Umar رضي
الله عنه menghardik mereka.
فَقَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمْنًا يَا بَنِي أَرْفِدَةَ» (٤).
Maka Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Aman, wahai Bani Arfidah.” (4)
يَعْنِي
مِنَ الْأَمْنِ.
Maksudnya: kalian aman (tidak apa-apa).
وَمِنْ
حَدِيثِ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ نَحْوُهُ، وَفِيهِ:
تُغَنِّيَانِ وَتَضْرِبَانِ (٥).
Dan dari hadis ‘Amr bin al-Harith, dari Ibn Syihab, semakna;
di dalamnya: “keduanya bernyanyi dan memukul (rebana).” (5)
وَفِي
حَدِيثِ أَبِي طَاهِرٍ عَنِ ابْنِ وَهْبٍ: وَاللهِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ عَلَى بَابِ حُجْرَتِي، وَالْحَبَشَةُ
يَلْعَبُونَ بِحِرَابِهِمْ فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، وَهُوَ يَسْتُرُنِي بِثَوْبِهِ أَوْ بِرِدَائِهِ لِكَيْ أَنْظُرَ إِلَى
لَعِبِهِمْ.
Dalam hadis Abu Thahir dari Ibn Wahb: “Demi Allah, sungguh
aku melihat Rasulullah صلى
الله عليه وسلم berdiri di pintu kamarku, sementara orang-orang Habasyah
bermain tombak di masjid Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dan beliau menutupiku dengan kain atau
selendangnya agar aku bisa melihat permainan mereka.”
ثُمَّ
يَقُومُ مِنْ أَجْلِي حَتَّى أَكُونَ أَنَا الَّذِي أَنْصَرِفُ (١).
“Kemudian beliau tetap berdiri demi aku sampai aku sendiri
yang pergi.” (1)
وَرُوِيَ
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ
عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah رضي الله عنها, ia berkata: “Aku
biasa bermain boneka di sisi Rasulullah صلى الله عليه وسلم.”
قَالَتْ:
وَكَانَ يَأْتِينِي صَوَاحِبُ لِي، فَكُنَّ يَتَقَنَّعْنَ مِنْ رَسُولِ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Ia berkata: “Teman-temanku biasa datang kepadaku, lalu
mereka menutup wajah (malu) dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم.”
وَكَانَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسُرُّ لِمَجِيئِهِنَّ إِلَيَّ
فَيَلْعَبْنَ مَعِي (٢).
Dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم senang dengan kedatangan mereka kepadaku,
lalu mereka bermain bersamaku. (2)
وَفِي
رِوَايَةٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا
يَوْمًا: مَا هٰذَا؟
Dalam satu riwayat: Nabi صلى الله عليه وسلم suatu hari bertanya
kepadanya: “Apa ini?”
قَالَتْ:
بَنَاتِي.
Ia menjawab: “Boneka-bonekaku.”
قَالَ:
فَمَا هٰذَا الَّذِي أَرَى فِي وَسَطِهِنَّ؟
Beliau bertanya: “Lalu apa yang aku lihat di tengah mereka?”
قَالَتْ:
فَرَسٌ.
Ia menjawab: “Kuda.”
قَالَ:
مَا هٰذَا الَّذِي عَلَيْهِ؟
Beliau bertanya: “Apa yang ada padanya?”
قَالَتْ:
جَنَاحَانِ.
Ia menjawab: “Dua sayap.”
قَالَ:
فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ؟
Beliau bertanya: “Kuda punya dua sayap?”
قَالَتْ:
أَوَمَا سَمِعْتَ أَنَّهُ كَانَ لِسُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ
خَيْلٌ لَهَا أَجْنِحَةٌ؟
Ia menjawab: “Apakah engkau tidak pernah mendengar bahwa
Sulaiman bin Dawud عليه
السلام memiliki kuda-kuda yang bersayap?”
قَالَتْ:
فَضَحِكَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ
نَوَاجِذُهُ.
Ia berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم tertawa sampai tampak
gigi geraham beliau.
وَالْحَدِيثُ
مَحْمُولٌ عِنْدَنَا عَلَى عَادَةِ الصِّبْيَانِ فِي اتِّخَاذِ الصُّورَةِ مِنَ
الْخَزَفِ وَالرِّقَاعِ مِنْ غَيْرِ تَكْمِيلِ صُورَتِهِ.
Hadis ini, menurut kami, dibawa pada kebiasaan anak-anak
membuat bentuk dari tanah liat/gerabah dan potongan kain, tanpa menyempurnakan
bentuknya.
بِدَلِيلِ
مَا رُوِيَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ أَنَّ الْفَرَسَ كَانَ لَهُ جَنَاحَانِ مِنْ
رِقَاعٍ.
Berdasarkan riwayat lain bahwa kuda itu memiliki dua sayap
dari potongan kain.
وَقَالَتْ
عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ تُغَنِّيَانِ بِغِنَاءِ بُعَاثٍ.
‘Aisyah رضي
الله عنها berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم masuk menemuiku sementara ada dua gadis
bernyanyi dengan nyanyian Bu‘ats.”
فَاضْطَجَعَ
عَلَى الْفِرَاشِ وَحَوَّلَ وَجْهَهُ.
Lalu beliau berbaring di atas kasur dan memalingkan
wajahnya.
فَدَخَلَ
أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَانْتَهَرَنِي.
Kemudian Abu Bakr رضي الله عنه masuk dan membentakku.
وَقَالَ:
مِزْمَارُ الشَّيْطَانِ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟
Ia berkata: “Seruling setan di dekat Rasulullah صلى الله عليه
وسلم?”
فَأَقْبَلَ
عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: «دَعْهُمَا».
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم menoleh kepadanya dan bersabda: “Biarkan keduanya.”
فَلَمَّا
غَفَلَ غَمَزْتُهُمَا فَخَرَجَتَا (٣).
Ketika beliau lengah, aku memberi isyarat kepada keduanya,
lalu keduanya keluar. (3)
وَكَانَ
يَوْمَ عِيدٍ يَلْعَبُ فِيهِ السُّودَانُ بِالدُّرَقِ وَالْحِرَابِ.
Saat itu hari raya, dan orang-orang berkulit hitam bermain
dengan perisai dan tombak.
فَإِمَّا
سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِمَّا قَالَ:
«تَشْتَهِينَ تَنْظُرِينَ؟»
Entah aku yang meminta kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم,
atau beliau yang bertanya: “Apakah engkau ingin melihat?”
فَقُلْتُ:
نَعَمْ.
Aku menjawab: “Ya.”
فَأَقَامَنِي
وَرَاءَهُ، وَخَدِّي عَلَى خَدِّهِ.
Beliau menempatkanku di belakang beliau, dan pipiku menempel
pada pipi beliau.
وَيَقُولُ:
«دُونَكُمْ يَا بَنِي أَرْفِدَةَ».
Beliau berkata: “Silakan kalian, wahai Bani Arfidah.”
حَتَّى
إِذَا مَلِلْتُ قَالَ: «حَسْبُكِ؟»
Sampai ketika aku bosan, beliau bertanya: “Cukup?”
قُلْتُ:
نَعَمْ.
Aku menjawab: “Ya.”
قَالَ:
«فَاذْهَبِي».
Beliau bersabda: “Kalau begitu, pergilah.”
وَفِي
صَحِيحِ مُسْلِمٍ: فَوَضَعْتُ رَأْسِي عَلَى مَنْكِبِهِ، فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ
إِلَى لَعِبِهِمْ حَتَّى كُنْتُ أَنَا الَّذِي انْصَرَفْتُ.
Dalam Shahih Muslim: “Aku meletakkan kepalaku di bahunya,
dan aku terus menonton permainan mereka sampai aku sendiri yang pergi.”
فَهٰذِهِ
الْأَحَادِيثُ كُلُّهَا فِي الصَّحِيحَيْنِ.
Seluruh hadis ini ada dalam dua kitab shahih
(Bukhari-Muslim).
وَهُوَ
نَصٌّ صَرِيحٌ فِي أَنَّ الْغِنَاءَ وَاللَّعِبَ لَيْسَ بِحَرَامٍ.
Dan ini adalah nash tegas bahwa nyanyian dan permainan
tidaklah haram.
وَفِيهَا
دَلَالَةٌ عَلَى أَنْوَاعٍ مِنَ الرُّخَصِ.
Di dalamnya terdapat beberapa bentuk keringanan.
اَلْأَوَّلُ:
اللَّعِبُ، وَلَا يَخْفَى عَادَةُ الْحَبَشَةِ فِي الرَّقْصِ وَاللَّعِبِ.
Pertama: bermain; dan kebiasaan orang Habasyah dalam tarian
dan permainan itu sudah dikenal.
وَالثَّانِي:
فِعْلُ ذٰلِكَ فِي الْمَسْجِدِ.
Kedua: melakukannya di dalam masjid.
وَالثَّالِثُ:
قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دُونَكُمْ يَا بَنِي أَرْفِدَةَ».
Ketiga: sabda beliau صلى الله عليه وسلم: “Silakan kalian,
wahai Bani Arfidah.”
وَهٰذَا
أَمْرٌ بِاللَّعِبِ وَالْتِمَاسٌ لَهُ، فَكَيْفَ يُقَدَّرُ كَوْنُهُ حَرَامًا؟
Ini perintah untuk bermain dan dorongan untuk melakukannya;
bagaimana mungkin dianggap haram?
وَالرَّابِعُ:
مَنْعُهُ لِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ الْإِنْكَارِ
وَالتَّغْيِيرِ.
Keempat: beliau mencegah Abu Bakr dan ‘Umar رضي الله عنهما
dari mengingkari dan mengubahnya.
وَتَعْلِيلُهُ
بِأَنَّهُ يَوْمُ عِيدٍ.
Dan beliau memberi alasan: karena itu hari raya.
أَيْ
هُوَ وَقْتُ سُرُورٍ، وَهٰذَا مِنْ أَسْبَابِ السُّرُورِ.
Yaitu waktu kegembiraan, dan ini termasuk sebab kegembiraan.
وَالْخَامِسُ:
وُقُوفُهُ طَوِيلًا فِي مُشَاهَدَةِ ذٰلِكَ وَسَمَاعِهِ لِمُوَافَقَةِ عَائِشَةَ
رَضِيَ اللهُ عَنْهَا.
Kelima: beliau berdiri lama menonton dan mendengar demi
menyenangkan ‘Aisyah رضي
الله عنها.
وَفِيهِ
دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ فِي تَطْيِيبِ قُلُوبِ النِّسَاءِ
وَالصِّبْيَانِ بِمُشَاهَدَةِ اللَّعِبِ.
Di dalamnya dalil bahwa akhlak yang baik—membuat hati wanita
dan anak-anak senang dengan menonton permainan—
أَحْسَنُ
مِنْ خُشُونَةِ الزُّهْدِ وَالتَّقَشُّفِ فِي الِامْتِنَاعِ وَالْمَنْعِ مِنْهُ.
lebih baik daripada kekasaran “zuhud kering” dan sikap keras
menolak serta melarangnya.
وَالسَّادِسُ:
قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ابْتِدَاءً لِعَائِشَةَ: «أَتَشْتَهِينَ
أَنْ تَنْظُرِي؟»
Keenam: beliau صلى الله عليه وسلم memulai sendiri bertanya kepada ‘Aisyah:
“Apakah engkau ingin melihat?”
وَلَمْ
يَكُنْ ذٰلِكَ عَنْ اضْطِرَارٍ إِلَى مُسَاعَدَةِ الْأَهْلِ خَوْفًا مِنْ غَضَبٍ
أَوْ وَحْشَةٍ.
Dan itu bukan karena terpaksa menuruti keluarga karena takut
marah atau takut ada rasa tidak nyaman.
فَإِنَّ
الِالْتِمَاسَ إِذَا سَبَقَ رُبَّمَا كَانَ الرَّدُّ سَبَبَ وَحْشَةٍ، وَهُوَ
مَحْظُورٌ.
Sebab bila permintaan datang duluan, menolak bisa
menyebabkan rasa tidak enak; dan itu terlarang.
فَيُقَدَّمُ
مَحْظُورٌ عَلَى مَحْظُورٍ.
Maka dipilih mudarat yang lebih ringan di antara dua hal
yang sama-sama berisiko.
فَأَمَّا
ابْتِدَاءُ السُّؤَالِ فَلَا حَاجَةَ فِيهِ.
Adapun memulai pertanyaan, tidak ada kebutuhan yang
memaksanya.
وَالسَّابِعُ:
الرُّخْصَةُ فِي الْغِنَاءِ وَالضَّرْبِ بِالدُّفِّ مِنَ الْجَارِيَتَيْنِ.
Ketujuh: keringanan bernyanyi dan memukul rebana oleh dua
gadis itu.
مَعَ
أَنَّهُ شَبَّهَ ذٰلِكَ بِمِزْمَارِ الشَّيْطَانِ.
Padahal Abu Bakr menyebutnya seperti “seruling setan”.
وَفِيهِ
بَيَانٌ أَنَّ الْمِزْمَارَ الْمُحَرَّمَ غَيْرُ ذٰلِكَ.
Di situ dijelaskan bahwa seruling (mizmar) yang haram bukan
yang seperti itu.
وَالثَّامِنُ:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَعُ سَمْعَهُ
صَوْتُ الْجَارِيَتَيْنِ وَهُوَ مُضْطَجِعٌ.
Kedelapan: suara dua gadis itu terdengar oleh Rasulullah صلى الله عليه
وسلم saat beliau berbaring.
وَلَوْ
كَانَ يُضْرَبُ بِالْأَوْتَارِ فِي مَوْضِعٍ لَمَا جَوَّزَ الْجُلُوسَ، ثُمَّ
لَقَرَعَ صَوْتُ الْأَوْتَارِ سَمْعَهُ.
Seandainya yang dimainkan adalah alat bersenar di tempat
itu, tentu beliau tidak membolehkan; lalu suara senar itu pun akan sampai ke
telinga beliau.
فَيَدُلُّ
هٰذَا عَلَى أَنَّ صَوْتَ النِّسَاءِ غَيْرُ مُحَرَّمٍ تَحْرِيمَ صَوْتِ
الْمَزَامِيرِ.
Ini menunjukkan bahwa suara wanita tidak haram sebagaimana
haramnya suara seruling tertentu.
بَلْ
إِنَّمَا يَحْرُمُ عِنْدَ خَوْفِ الْفِتْنَةِ.
Namun menjadi haram bila ada kekhawatiran fitnah.
فَهٰذِهِ
الْمَقَايِيسُ وَالنُّصُوصُ تَدُلُّ عَلَى إِبَاحَةِ الْغِنَاءِ وَالرَّقْصِ
وَالضَّرْبِ بِالدُّفِّ.
Maka qiyas-qiyas dan nash-nash ini menunjukkan kebolehan
nyanyian, tarian, dan memukul rebana.
وَاللَّعِبِ
بِالدُّرَقِ وَالْحِرَابِ.
Serta bermain perisai dan tombak.
وَالنَّظَرِ
إِلَى رَقْصِ الْحَبَشَةِ وَالزُّنُوجِ فِي أَوْقَاتِ السُّرُورِ.
Dan melihat tarian orang Habasyah dan orang-orang berkulit
hitam pada waktu-waktu gembira.
كُلُّهَا
قِيَاسًا عَلَى يَوْمِ الْعِيدِ.
Semuanya diqiyaskan kepada hari raya.
فَإِنَّهُ
وَقْتُ سُرُورٍ.
Karena hari raya adalah waktu kegembiraan.
وَفِي
مَعْنَاهُ يَوْمُ الْعُرْسِ وَالْوَلِيمَةِ وَالْعَقِيقَةِ وَالْخِتَانِ.
Dan yang semakna dengannya: hari pernikahan, walimah,
akikah, dan khitan.
وَيَوْمُ
الْقُدُومِ مِنَ السَّفَرِ.
Dan hari kedatangan dari perjalanan.
وَسَائِرُ
أَسْبَابِ الْفَرَحِ.
Dan sebab-sebab kegembiraan lainnya.
وَهُوَ
كُلُّ مَا يَجُوزُ بِهِ الْفَرَحُ شَرْعًا.
Yaitu semua hal yang secara syariat boleh dijadikan sebab
bergembira.
وَيَجُوزُ
الْفَرَحُ بِزِيَارَةِ الْإِخْوَانِ وَلِقَائِهِمْ.
Dan boleh bergembira karena berziarah kepada saudara dan
bertemu dengan mereka.
وَاجْتِمَاعِهِمْ
فِي مَوْضِعٍ وَاحِدٍ عَلَى طَعَامٍ أَوْ كَلَامٍ.
Dan berkumpul di satu tempat untuk makan atau berbincang.
فَهُوَ
أَيْضًا مَظِنَّةُ السَّمَاعِ.
Itu juga merupakan keadaan yang berpotensi adanya samā‘.
اَلسَّادِسُ:
سَمَاعُ الْعُشَّاقِ تَحْرِيكًا لِلشَّوْقِ وَتَهْيِيجًا لِلْعِشْقِ وَتَسْلِيَةً
لِلنَّفْسِ.
Keenam: samā‘ bagi para pecinta, untuk menggerakkan rindu,
membangkitkan asmara, dan menghibur jiwa.
فَإِنْ
كَانَ فِي مُشَاهَدَةِ الْمَعْشُوقِ فَالْغَرَضُ تَأْكِيدُ اللَّذَّةِ.
Jika dilakukan sambil melihat yang dicintai, tujuannya
menguatkan kenikmatan.
وَإِنْ
كَانَ مَعَ الْمُفَارَقَةِ فَالْغَرَضُ تَهْيِيجُ الشَّوْقِ.
Jika dalam keadaan berpisah, tujuannya membangkitkan rindu.
وَالشَّوْقُ
وَإِنْ كَانَ أَلَمًا فَفِيهِ نَوْعُ لَذَّةٍ إِذَا انْضَمَّ إِلَيْهِ رَجَاءُ
الْوِصَالِ.
Kerinduan walaupun terasa sakit, di dalamnya ada kenikmatan
jika disertai harap akan bertemu.
فَإِنَّ
الرَّجَاءَ لَذِيذٌ وَالْيَأْسَ مُؤْلِمٌ.
Karena harapan itu nikmat, sedangkan putus asa itu
menyakitkan.
وَقُوَّةُ
لَذَّةِ الرَّجَاءِ بِحَسَبِ قُوَّةِ الشَّوْقِ وَالْحُبِّ لِلشَّيْءِ
الْمَرْجُوِّ.
Kuatnya nikmat harapan sesuai kuatnya rindu dan cinta kepada
sesuatu yang diharapkan.
فَفِي
هٰذَا السَّمَاعِ تَهْيِيجُ الْعِشْقِ وَتَحْرِيكُ الشَّوْقِ.
Dalam samā‘ ini ada pembangkitan asmara dan penggerakan
rindu.
وَتَحْصِيلُ
لَذَّةِ الرَّجَاءِ الْمُقَدَّرِ فِي الْوِصَالِ.
Dan memperoleh nikmat harapan akan pertemuan.
مَعَ
الْإِطْنَابِ فِي وَصْفِ حُسْنِ الْمَحْبُوبِ.
Dengan memperpanjang gambaran tentang keindahan yang
dicintai.
وَهٰذَا
حَلَالٌ إِنْ كَانَ الْمُشْتَاقُ إِلَيْهِ مِمَّنْ يُبَاحُ وِصَالُهُ.
Ini halal bila yang dirindukan adalah orang yang boleh
ditemui/diwatahi.
كَمَنْ
يَعْشَقُ زَوْجَتَهُ أَوْ سُرِّيَّتَهُ.
Seperti orang mencintai istrinya atau budak perempuannya.
فَيُصْغِي
إِلَى غِنَائِهَا لِتُضَاعَفَ لَذَّتُهُ فِي لِقَائِهَا.
Lalu ia menyimak nyanyiannya agar kenikmatannya saat bertemu
dengannya bertambah.
فَيَحْظَى
بِالْمُشَاهَدَةِ الْبَصَرُ.
Maka mata memperoleh kenikmatan melihat.
وَبِالسَّمَاعِ
الْأُذُنُ.
Telinga memperoleh kenikmatan mendengar.
وَيَفْهَمُ
لَطَائِفَ مَعَانِي الْوِصَالِ وَالْفِرَاقِ الْقَلْبُ.
Dan hati memahami makna-makna halus tentang pertemuan dan
perpisahan.
فَتَتَرَادَفُ
أَسْبَابُ اللَّذَّةِ.
Maka sebab-sebab kenikmatan pun saling menyusul.
فَهٰذِهِ
أَنْوَاعُ تَمَتُّعٍ مِنْ جُمْلَةِ مُبَاحَاتِ الدُّنْيَا وَمَتَاعِهَا.
Ini termasuk bentuk-bentuk menikmati yang tergolong mubah
dunia dan kesenangannya.
وَمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ، وَهٰذَا مِنْهُ.
Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah permainan dan
hiburan; dan ini termasuk di dalamnya.
وَكَذٰلِكَ
إِنْ غَضِبَتْ مِنْهُ جَارِيَةٌ أَوْ حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا بِسَبَبٍ مِنَ
الْأَسْبَابِ.
Demikian pula jika budak perempuannya marah kepadanya, atau
ia terhalang darinya karena suatu sebab,
فَلَهُ
أَنْ يُحَرِّكَ بِالسَّمَاعِ شَوْقَهُ.
maka ia boleh menggerakkan rindunya dengan samā‘.
وَأَنْ
يَسْتَثِيرَ بِهِ لَذَّةَ رَجَاءِ الْوِصَالِ.
Dan membangkitkan nikmat harapan akan pertemuan.
فَإِنْ
بَاعَهَا أَوْ طَلَّقَهَا حَرُمَ عَلَيْهِ ذٰلِكَ بَعْدَهُ.
Namun bila ia menjualnya atau menceraikannya, maka setelah
itu hal tersebut haram baginya.
إِذْ
لَا يَجُوزُ تَحْرِيكُ الشَّوْقِ حَيْثُ لَا يَجُوزُ تَحْقِيقُهُ بِالْوِصَالِ
وَاللِّقَاءِ.
Karena tidak boleh menggerakkan rindu ketika tidak boleh
mewujudkannya dengan pertemuan dan hubungan.
وَأَمَّا
مَنْ يَتَمَثَّلُ فِي نَفْسِهِ صُورَةَ صَبِيٍّ أَوِ امْرَأَةٍ لَا يَحِلُّ لَهُ
النَّظَرُ إِلَيْهَا.
Adapun orang yang membayangkan dalam dirinya rupa seorang
anak atau wanita yang tidak halal ia pandang,
وَكَانَ
يُنَزِّلُ مَا يَسْمَعُ عَلَى مَا تَمَثَّلَ فِي نَفْسِهِ، فَهٰذَا حَرَامٌ.
lalu ia mengaitkan apa yang didengar pada bayangan itu, maka
ini haram.
لِأَنَّهُ
مُحَرِّكٌ لِلْفِكْرِ فِي الْأَفْعَالِ الْمَحْظُورَةِ.
Karena itu menggerakkan pikiran pada perbuatan yang
terlarang.
وَمُهَيِّجٌ
لِلدَّاعِيَةِ إِلَى مَا لَا يُبَاحُ الْوُصُولُ إِلَيْهِ.
Dan membangkitkan dorongan kepada sesuatu yang tidak boleh
dicapai.
وَأَكْثَرُ
الْعُشَّاقِ وَالسُّفَهَاءِ مِنَ الشَّبَابِ فِي وَقْتِ هَيَجَانِ الشَّهْوَةِ لَا
يَنْفَكُّونَ عَنْ إِضْمَارِ شَيْءٍ مِنْ ذٰلِكَ.
Dan kebanyakan pecinta yang bodoh dari kalangan pemuda,
ketika syahwat sedang berkobar, hampir tidak lepas dari menyimpan sesuatu dari
hal itu.
وَذٰلِكَ
مَمْنُوعٌ فِي حَقِّهِمْ لِمَا فِيهِ مِنَ الدَّاءِ الدَّفِينِ.
Maka itu terlarang bagi mereka karena mengandung penyakit
tersembunyi.
لَا
لِأَمْرٍ يَرْجِعُ إِلَى نَفْسِ السَّمَاعِ.
Bukan karena sesuatu yang kembali pada hakikat samā‘ itu
sendiri.
وَلِذٰلِكَ
سُئِلَ حَكِيمٌ عَنِ الْعِشْقِ فَقَالَ:
دُخَانٌ
يَصْعَدُ إِلَى دِمَاغِ الْإِنْسَانِ، يُزِيلُهُ الْجِمَاعُ، وَيُهَيِّجُهُ
السَّمَاعُ.
Karena itu seorang bijak ditanya tentang ‘isyq (asmara),
lalu ia menjawab: “Itu asap yang naik ke otak manusia; hubungan badan
menghilangkannya, dan samā‘ membangkitkannya.”
اَلسَّابِعُ:
سَمَاعُ مَنْ أَحَبَّ اللهَ وَعَشِقَهُ وَاشْتَاقَ إِلَى لِقَائِهِ.
Ketujuh: samā‘ bagi orang yang mencintai Allah, ‘asyiq
kepada-Nya, dan rindu untuk bertemu dengan-Nya.
فَلَا
يَنْظُرُ إِلَى شَيْءٍ إِلَّا رَآهُ فِيهِ سُبْحَانَهُ.
Ia tidak melihat sesuatu pun kecuali melihat (tanda-tanda)
Allah di dalamnya.
وَلَا
يَقْرَعُ سَمْعَهُ قَارِعٌ إِلَّا سَمِعَهُ مِنْهُ أَوْ فِيهِ.
Tidak ada suara mengetuk telinganya kecuali ia mendengarnya
berasal dari-Nya atau tentang-Nya.
فَالسَّمَاعُ
فِي حَقِّهِ مُهَيِّجٌ لِشَوْقِهِ.
Samā‘ bagi orang ini membangkitkan rindunya.
وَمُؤَكِّدٌ
لِعِشْقِهِ وَحُبِّهِ.
Dan menguatkan asmara dan cintanya.
وَمُورِي
زِنَادِ قَلْبِهِ.
Dan menyalakan “batu api” hati.
وَمُسْتَخْرِجٌ
مِنْهُ أَحْوَالًا مِنَ الْمُكَاشَفَاتِ وَالْمُلَاطَفَاتِ.
Serta mengeluarkan dari hati keadaan-keadaan berupa kasyf
dan kelembutan-kelembutan ruhani.
لَا
يُحِيطُ الْوَصْفُ بِهَا.
Yang tidak bisa diliputi oleh deskripsi.
يَعْرِفُهَا
مَنْ ذَاقَهَا.
Yang mengetahuinya adalah yang merasakannya.
وَيُنْكِرُهَا
مَنْ كَلَّ حِسُّهُ عَنْ ذَوْقِهَا.
Dan yang mengingkarinya adalah yang inderanya tumpul dari
merasakannya.
وَتُسَمَّى
تِلْكَ الْأَحْوَالُ بِلِسَانِ الصُّوفِيَّةِ وَجْدًا.
Keadaan-keadaan itu dalam istilah kaum sufi disebut wajd.
مَأْخُوذًا
مِنَ الْوُجُودِ وَالْمُصَادَفَةِ.
Diambil dari kata “wujūd” dan “muṣādafah”
(menemukan/berjumpa).
أَيْ
صَادَفَ مِنْ نَفْسِهِ أَحْوَالًا لَمْ يَكُنْ يُصَادِفُهَا قَبْلَ السَّمَاعِ.
Yaitu: ia menemukan dalam dirinya keadaan-keadaan yang
sebelumnya tidak ia temukan sebelum samā‘.
ثُمَّ
تَكُونُ تِلْكَ الْأَحْوَالُ أَسْبَابًا لِرَوَادِفَ وَتَوَابِعَ لَهَا.
Kemudian keadaan-keadaan itu menjadi sebab bagi rangkaian
keadaan lain yang menyusul.
تُحْرِقُ
الْقَلْبَ بِنِيرَانِهَا.
Yang membakar hati dengan api-apinya.
وَتُنَقِّيهِ
مِنَ الْكَدُورَاتِ كَمَا تُنَقِّي النَّارُ الْجَوَاهِرَ الْمَعْرُوضَةَ
عَلَيْهَا مِنَ الْخُبْثِ.
Dan membersihkannya dari kekeruhan, sebagaimana api
memurnikan permata dari kotoran.
ثُمَّ
يَتْبَعُ الصَّفَاءَ الْحَاصِلَ بِهِ مُشَاهَدَاتٌ وَمُكَاشَفَاتٌ.
Lalu setelah kejernihan yang muncul itu, lahirlah musyāhadah
dan mukāsyafah.
وَهِيَ
غَايَةُ مَطَالِبِ الْمُحِبِّينَ لِلهِ تَعَالَى.
Dan itulah puncak tujuan para pecinta Allah تعالى.
وَنِهَايَةُ
ثَمَرَةِ الْقُرُبَاتِ كُلِّهَا.
Dan ujung buah seluruh amal pendekatan diri.
فَالْمُفْضِي
إِلَيْهَا مِنْ جُمْلَةِ الْقُرُبَاتِ لَا مِنْ جُمْلَةِ الْمَعَاصِي
وَالْمُبَاحَاتِ.
Maka yang mengantarkan kepadanya termasuk rangkaian qurbah,
bukan rangkaian maksiat atau sekadar mubah.
وَحُصُولُ
هٰذِهِ الْأَحْوَالِ لِلْقَلْبِ بِالسَّمَاعِ سَبَبُهُ سِرُّ اللهِ تَعَالَى فِي
مُنَاسَبَةِ النَّغَمَاتِ الْمَوْزُونَةِ لِلْأَرْوَاحِ.
Terjadinya keadaan-keadaan ini di hati melalui samā‘
sebabnya adalah rahasia Allah تعالى
pada kesesuaian nada-nada berirama dengan ruh.
وَتَسْخِيرُ
الْأَرْوَاحِ لَهَا وَتَأَثُّرُهَا بِهَا شَوْقًا وَفَرَحًا وَحُزْنًا
وَانْبِسَاطًا وَانْقِبَاضًا.
Serta penundukan ruh kepadanya dan keterpengaruhannya:
rindu, gembira, sedih, lapang, dan sempit.
وَمَعْرِفَةُ
السَّبَبِ فِي تَأَثُّرِ الْأَرْوَاحِ بِالْأَصْوَاتِ مِنْ دَقَائِقِ عُلُومِ
الْمُكَاشَفَاتِ.
Mengetahui sebab ruh terpengaruh oleh suara termasuk ilmu
kasyf yang sangat halus.
وَالْبَلِيدُ
الْجَامِدُ الْقَاسِي الْقَلْبِ الْمَحْرُومُ عَنْ لَذَّةِ السَّمَاعِ يَتَعَجَّبُ
مِنْ تَلَذُّذِ الْمُسْتَمِعِ وَوَجْدِهِ وَاضْطِرَابِ حَالِهِ وَتَغَيُّرِ
لَوْنِهِ.
Orang yang bodoh, beku, keras hati, dan tidak mendapatkan
nikmat samā‘ akan heran melihat kenikmatan pendengar, wajd-nya, kegoncangan
keadaannya, dan perubahan warna wajahnya.
تَعَجُّبَ
الْبَهِيمَةِ مِنْ لَذَّةِ اللَّوْزِينَجِ.
Seperti herannya hewan terhadap nikmat makanan manis
(lawzīnaj).
وَتَعَجُّبَ
الْعَنِينِ مِنْ لَذَّةِ الْمُبَاشَرَةِ.
Seperti herannya orang impoten terhadap nikmat bersetubuh.
وَتَعَجُّبَ
الصَّبِيِّ مِنْ لَذَّةِ الرِّيَاسَةِ وَاتِّسَاعِ أَسْبَابِ الْجَاهِ.
Seperti herannya anak kecil terhadap nikmat kepemimpinan dan
keluasan sebab-sebab kehormatan.
وَتَعَجُّبَ
الْجَاهِلِ مِنْ لَذَّةِ مَعْرِفَةِ اللهِ تَعَالَى وَمَعْرِفَةِ جَلَالِهِ
وَعَظَمَتِهِ وَعَجَائِبِ صُنْعِهِ.
Seperti herannya orang jahil terhadap nikmat mengenal Allah تعالى,
mengenal keagungan-Nya, kebesaran-Nya, dan keajaiban ciptaan-Nya.
وَلِكُلِّ
ذٰلِكَ سَبَبٌ وَاحِدٌ.
Dan untuk semua itu sebabnya satu.
وَهُوَ
أَنَّ اللَّذَّةَ نَوْعُ إِدْرَاكٍ.
Yaitu bahwa kenikmatan adalah sejenis
“tangkapan/penyadaran”.
وَالْإِدْرَاكُ
يَسْتَدْعِي مُدْرَكًا.
Dan tangkapan itu memerlukan objek yang ditangkap.
وَيَسْتَدْعِي
قُوَّةً مُدْرِكَةً.
Dan memerlukan kemampuan penangkap.
فَمَنْ
لَمْ تَكْمُلْ قُوَّةُ إِدْرَاكِهِ لَمْ يَتَصَوَّرْ مِنْهُ التَّلَذُّذُ.
Siapa yang kemampuan menangkapnya tidak sempurna, maka tidak
terbayang darinya kenikmatan.
فَكَيْفَ
يَدْرِي لَذَّةَ الطُّعُومِ مَنْ فَقَدَ الذَّوْقَ؟
Bagaimana orang yang kehilangan pengecap mengetahui nikmat
rasa?
وَكَيْفَ
يَدْرِكُ لَذَّةَ الْأَلْحَانِ مَنْ فَقَدَ السَّمْعَ؟
Bagaimana orang yang kehilangan pendengaran menangkap nikmat
lagu?
وَلَذَّةَ
الْمَعْقُولَاتِ مَنْ فَقَدَ الْعَقْلَ؟
Bagaimana orang yang kehilangan akal menangkap nikmat makna?
وَكَذٰلِكَ
ذَوْقُ السَّمَاعِ بِالْقَلْبِ بَعْدَ وُصُولِ الصَّوْتِ إِلَى السَّمْعِ.
Demikian pula “rasa” samā‘ dengan hati setelah suara sampai
ke telinga.
يُدْرَكُ
بِحَاسَّةٍ بَاطِنَةٍ فِي الْقَلْبِ.
Ia ditangkap oleh indera batin di dalam hati.
فَمَنْ
فَقَدَهَا عَدِمَ لَا مَحَالَةَ لَذَّتَهُ.
Siapa yang kehilangan indera itu, pasti tidak merasakan
nikmatnya.
وَلَعَلَّكَ
تَقُولُ: كَيْفَ يَتَصَوَّرُ الْعِشْقُ فِي حَقِّ اللهِ تَعَالَى حَتَّى يَكُونَ
السَّمَاعُ مُحَرِّكًا لَهُ؟
Mungkin engkau berkata: bagaimana mungkin ‘isyq (cinta
mendalam) terhadap Allah تعالى
sehingga samā‘ bisa menggerakkannya?
فَاعْلَمْ
أَنَّ مَنْ عَرَفَ اللهَ أَحَبَّهُ لَا مَحَالَةَ.
Ketahuilah: siapa mengenal Allah, pasti mencintai-Nya.
وَمَنْ
تَأَكَّدَتْ مَعْرِفَتُهُ تَأَكَّدَتْ مَحَبَّتُهُ بِقَدْرِ تَأَكُّدِ
مَعْرِفَتِهِ.
Siapa yang makin kuat makrifatnya, makin kuat pula cintanya,
sesuai kuatnya makrifat itu.
وَالْمَحَبَّةُ
إِذَا تَأَكَّدَتْ سُمِّيَتْ عِشْقًا.
Cinta bila sudah sangat kuat disebut ‘isyq.
فَلَا
مَعْنَى لِلْعِشْقِ إِلَّا مَحَبَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ مُفْرِطَةٌ.
Makna ‘isyq tidak lain adalah cinta yang menguat dan
melampaui batas.
وَلِذٰلِكَ
قَالَتِ الْعَرَبُ: إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ عَشِقَ رَبَّهُ.
Karena itu orang Arab sampai berkata: “Muhammad telah ‘asyiq
kepada Tuhannya.”
لَمَّا
رَأَوْهُ يَتَخَلَّى لِلْعِبَادَةِ فِي جَبَلِ حِرَاءَ.
Ketika mereka melihat beliau menyendiri untuk beribadah di
Gua Hira.
وَاعْلَمْ
أَنَّ كُلَّ جَمَالٍ مَحْبُوبٌ عِنْدَ مُدْرِكِ ذٰلِكَ الْجَمَالِ.
Ketahuilah: setiap keindahan dicintai oleh orang yang
menangkap keindahan itu.
وَاللهُ
تَعَالَى جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ.
Dan Allah تعالى
Maha Indah dan mencintai keindahan.
وَلٰكِنَّ
الْجَمَالَ إِنْ كَانَ بِتَنَاسُبِ الْخِلْقَةِ وَصَفَاءِ اللَّوْنِ أُدْرِكَ
بِحَاسَّةِ الْبَصَرِ.
Namun keindahan, bila berupa keserasian bentuk dan
kejernihan warna, ditangkap oleh indera penglihatan.
وَإِنْ
كَانَ الْجَمَالُ بِالْجَلَالِ وَالْعَظَمَةِ وَعُلُوِّ الرُّتْبَةِ وَحُسْنِ
الصِّفَاتِ وَالْأَخْلَاقِ.
Jika keindahan berupa keagungan, kebesaran, ketinggian
derajat, dan bagusnya sifat serta akhlak,
وَإِرَادَةِ
الْخَيْرَاتِ لِكَافَّةِ الْخَلْقِ وَإِفَاضَتِهَا عَلَيْهِمْ عَلَى الدَّوَامِ.
serta menghendaki kebaikan bagi seluruh makhluk dan
melimpahkannya terus-menerus,
إِلَى
غَيْرِ ذٰلِكَ مِنَ الصِّفَاتِ الْبَاطِنَةِ.
dan sifat-sifat batin lainnya,
أُدْرِكَ
بِحَاسَّةِ الْقَلْبِ.
maka ia ditangkap oleh indera hati.
وَلَفْظُ
الْجَمَالِ قَدْ يُسْتَعَارُ أَيْضًا لَهَا.
Kata “keindahan” juga bisa digunakan untuk itu (makna
batin).
فَيُقَالُ:
إِنَّ فُلَانًا حَسَنٌ وَجَمِيلٌ وَلَا تُرَادُ صُورَتُهُ.
Maka dikatakan: “Si fulan itu bagus dan indah,” padahal
tidak dimaksudkan bentuk fisiknya.
وَإِنَّمَا
يُعْنَى بِهِ أَنَّهُ جَمِيلُ الْأَخْلَاقِ، مَحْمُودُ الصِّفَاتِ، حَسَنُ
السِّيرَةِ.
Yang dimaksud ialah: ia indah akhlaknya, terpuji sifatnya,
baik perjalanannya.
حَتَّى
قَدْ يُحَبُّ الرَّجُلُ بِهٰذِهِ الصِّفَاتِ الْبَاطِنَةِ اسْتِحْسَانًا لَهَا،
كَمَا تُحَبُّ الصُّورَةُ الظَّاهِرَةُ.
Sampai seseorang dicintai karena sifat-sifat batin itu,
sebagaimana rupa yang tampak juga dicintai.
وَقَدْ
تَتَأَكَّدُ هٰذِهِ الْمَحَبَّةُ فَتُسَمَّى عِشْقًا.
Dan cinta itu bisa semakin kuat hingga disebut ‘isyq.
وَكَمْ
مِنَ الْغُلَاةِ فِي حُبِّ أَرْبَابِ الْمَذَاهِبِ كَالشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ
وَأَبِي حَنِيفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ.
Betapa banyak orang berlebihan dalam mencintai tokoh-tokoh
mazhab seperti asy-Syafi‘i, Malik, dan Abu Hanifah رضي الله عنهم.
حَتَّى
يَبْذُلُوا أَمْوَالَهُمْ وَأَرْوَاحَهُمْ فِي نُصْرَتِهِمْ وَمُوَالَاتِهِمْ.
Sampai mereka mengorbankan harta dan jiwa untuk membela dan
loyal kepada mereka.
وَيَزِيدُوا
عَلَى كُلِّ عَاشِقٍ فِي الْغُلُوِّ وَالْمُبَالَغَةِ.
Dan melampaui setiap pecinta dalam berlebih-lebihan.
وَمِنَ
الْعَجَبِ أَنْ يُعْقَلَ عِشْقُ شَخْصٍ لَمْ تُشَاهَدْ قَطُّ صُورَتُهُ.
Aneh: bisa dipahami adanya ‘isyq kepada seseorang yang tidak
pernah dilihat rupanya sama sekali.
أَجَمِيلٌ
هُوَ أَمْ قَبِيحٌ؟
Apakah ia indah atau buruk?
وَهُوَ
الْآنَ مَيِّتٌ.
Padahal ia sudah meninggal.
وَلٰكِنْ
لِجَمَالِ صُورَتِهِ الْبَاطِنَةِ وَسِيرَتِهِ الْمَرْضِيَّةِ.
Namun itu karena indahnya batin dan baiknya perjalanan
hidupnya.
وَالْخَيْرَاتِ
الْحَاصِلَةِ مِنْ عَمَلِهِ لِأَهْلِ الدِّينِ.
Dan kebaikan-kebaikan yang muncul dari amalnya bagi ahli
agama.
وَغَيْرِ
ذٰلِكَ مِنَ الْخِصَالِ.
Dan sifat-sifat lainnya.
ثُمَّ
لَا يُعْقَلُ عِشْقُ مَنْ تَرَى الْخَيْرَاتِ مِنْهُ؟
Lalu mengapa tidak dapat dipahami ‘isyq kepada Dzat yang
kebaikan-Nya engkau lihat?
بَلْ
عَلَى التَّحْقِيقِ مَا مِنْ خَيْرٍ وَلَا جَمَالٍ وَلَا مَحْبُوبٍ فِي الْعَالَمِ
إِلَّا وَهُوَ حَسَنَةٌ مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَأَثَرٌ مِنْ آثَارِ كَرَمِهِ.
Bahkan hakikatnya: tidak ada kebaikan, keindahan, dan
sesuatu yang dicintai di alam ini kecuali itu adalah satu kebaikan dari
kebaikan-Nya dan satu jejak dari kemurahan-Nya.
وَغُرْفَةٌ
مِنْ بَحْرِ جُودِهِ.
Dan seteguk dari lautan kedermawanan-Nya.
بَلْ
كُلُّ حُسْنٍ وَجَمَالٍ فِي الْعَالَمِ.
Bahkan setiap kebaikan dan keindahan di alam.
أُدْرِكَ
بِالْعُقُولِ وَالْأَبْصَارِ وَالْأَسْمَاعِ وَسَائِرِ الْحَوَاسِّ.
Yang ditangkap oleh akal, penglihatan, pendengaran, dan
seluruh indera.
مِنْ
مُبْتَدَإِ الْعَالَمِ إِلَى مُنْقَرَضِهِ.
Dari awal dunia sampai akhir dunia.
وَمِنْ
ذُرْوَةِ الثُّرَيَّا إِلَى مُنْتَهَى الثَّرَى.
Dari puncak bintang Tsurayya sampai ujung tanah yang paling
rendah.
فَهُوَ
ذَرَّةٌ مِنْ خَزَائِنِ قُدْرَتِهِ.
Semua itu hanyalah sebutir dari khazanah kekuasaan-Nya.
وَلَمْعَةٌ
مِنْ أَنْوَارِ حَضْرَتِهِ.
Dan seberkas dari cahaya hadirat-Nya.
فَلَيْتَ
شِعْرِي كَيْفَ لَا يُعْقَلُ حُبُّ مَنْ هٰذَا وَصْفُهُ؟
Maka, bagaimana mungkin tidak masuk akal mencintai Dzat yang
sifat-Nya seperti ini?
وَكَيْفَ
لَا يَتَأَكَّدُ عِنْدَ الْعَارِفِينَ بِأَوْصَافِهِ حُبُّهُ؟
Dan bagaimana mungkin cinta kepada-Nya tidak menguat pada
orang-orang yang mengenal sifat-Nya?
حَتَّى
يُجَاوِزَ حَدًّا يَكُونُ إِطْلَاقُ اسْمِ الْعِشْقِ عَلَيْهِ ظُلْمًا فِي حَقِّهِ.
Sampai melewati batas sehingga menyebutnya “‘isyq” pun
terasa kurang pantas untuk menggambarkan-Nya.
لِقُصُورِهِ
عَنِ الْإِنْبَاءِ عَنْ فَرْطِ مَحَبَّتِهِ.
Karena kata itu tidak mampu mengabarkan puncak cinta
kepada-Nya.
فَسُبْحَانَ
مَنِ احْتَجَبَ عَنِ الظُّهُورِ بِشِدَّةِ ظُهُورِهِ.
Maha Suci Dia yang “terhijab” dari tampak, justru karena
terlalu nyata.
وَاسْتَتَرَ
عَنِ الْأَبْصَارِ بِإِشْرَاقِ نُورِهِ.
Dan tersembunyi dari mata karena terangnya cahaya-Nya.
وَلَوْلَا
احْتِجَابُهُ بِسَبْعِينَ حِجَابًا مِنْ نُورِهِ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ
أَبْصَارَ الْمُلَاحِظِينَ لِجَمَالِ حَضْرَتِهِ.
Seandainya bukan karena Dia menghijab diri dengan tujuh
puluh hijab dari cahaya-Nya, niscaya kilau wajah-Nya membakar mata orang yang
memperhatikan keindahan hadirat-Nya.
وَلَوْلَا
أَنَّ ظُهُورَهُ سَبَبُ خَفَائِهِ لَبُهِتَتِ الْعُقُولُ.
Dan seandainya bukan karena tampak-Nya menjadi sebab
“tersembunyi”-Nya, niscaya akal-akal terpana.
وَدَهِشَتِ
الْقُلُوبُ.
Hati-hati terkejut.
وَتَخَاذَلَتِ
الْقُوَى.
Kekuatan-kekuatan melemah.
وَتَنَافَرَتِ
الْأَعْضَاءُ.
Anggota badan saling tercerai.
وَلَوْ
رُكِّبَتِ الْقُلُوبُ مِنَ الْحِجَارَةِ وَالْحَدِيدِ لَأَصْبَحَتْ تَحْتَ
مَبَادِئِ أَنْوَارِ تَجَلِّيلِهِ دَكَادِكَ.
Seandainya hati tersusun dari batu dan besi, niscaya ia
menjadi hancur luluh di bawah awal pancaran cahaya pengagungan-Nya.
فَأَنَّى
تُطِيقُ كُنْهَ نُورِ الشَّمْسِ أَبْصَارُ الْخَفَافِيشِ؟
Lalu bagaimana mata kelelawar sanggup menatap hakikat cahaya
matahari?
وَسَيَأْتِي
تَحْقِيقُ هٰذِهِ الْإِشَارَةِ فِي كِتَابِ الْمَحَبَّةِ.
Penjelasan rinci isyarat ini akan datang dalam Kitab al-Maḥabbah.
وَيَتَّضِحُ
أَنَّ مَحَبَّةَ غَيْرِ اللهِ تَعَالَى قُصُورٌ وَجَهْلٌ.
Dan akan jelas bahwa mencintai selain Allah تعالى
adalah kekurangan dan kebodohan.
بَلِ
الْمُتَحَقِّقُ بِالْمَعْرِفَةِ لَا يَعْرِفُ غَيْرَ اللهِ تَعَالَى.
Bahkan orang yang benar-benar sampai pada makrifat tidak
mengenal selain Allah تعالى.
إِذْ
لَيْسَ فِي الْوُجُودِ تَحْقِيقًا إِلَّا اللهُ وَأَفْعَالُهُ.
Karena dalam wujud ini, yang hakiki hanyalah Allah dan
perbuatan-perbuatan-Nya.
وَمَنْ
عَرَفَ الْأَفْعَالَ مِنْ حَيْثُ إِنَّهَا أَفْعَالٌ لَمْ يُجَاوِزْ مَعْرِفَةَ
الْفَاعِلِ إِلَى غَيْرِهِ.
Siapa mengenal perbuatan sebagai perbuatan, maka ia tidak
melampaui pengenalan Sang Pelaku kepada selain-Nya.
فَمَنْ
عَرَفَ الشَّافِعِيَّ مَثَلًا رَحِمَهُ اللهُ وَعِلْمَهُ وَتَصْنِيفَهُ مِنْ
حَيْثُ إِنَّهُ تَصْنِيفُهُ.
Maka siapa mengenal asy-Syafi‘i رحمه الله, ilmunya, dan karya
tulisnya sebagai karya beliau,
لَا
مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ بَيَاضٌ وَجِلْدٌ وَحِبْرٌ وَوَرَقٌ وَكَلَامٌ مَنْظُومٌ
وَلُغَةٌ عَرَبِيَّةٌ.
bukan sebagai kertas, tinta, kulit sampul, teks tersusun,
dan bahasa Arab,
فَلَقَدْ
عَرَفَهُ، وَلَمْ يُجَاوِزْ مَعْرِفَةَ الشَّافِعِيِّ إِلَى غَيْرِهِ.
maka ia telah mengenal beliau, dan tidak melampaui
pengenalan asy-Syafi‘i kepada selainnya.
وَلَا
جَاوَزَتْ مَحَبَّتُهُ إِلَى غَيْرِهِ.
Dan cintanya tidak melampaui selain beliau.
فَكُلُّ
مَوْجُودٍ سِوَى اللهِ تَعَالَى فَهُوَ تَصْنِيفُ اللهِ تَعَالَى وَفِعْلُهُ
وَبَدِيعُ أَفْعَالِهِ.
Maka setiap yang ada selain Allah تعالى adalah “karya” Allah تعالى, perbuatan-Nya, dan
keindahan perbuatan-Nya.
فَمَنْ
عَرَفَهَا مِنْ حَيْثُ هِيَ صُنْعُ اللهِ تَعَالَى.
Siapa mengenalnya sebagai ciptaan Allah تعالى,
فَرَأَى
مِنَ الصُّنْعِ صِفَاتِ الصَّانِعِ.
lalu ia melihat sifat Pembuat dari ciptaan itu,
كَمَا
يَرَى مِنْ حُسْنِ التَّصْنِيفِ فَضْلَ الْمُصَنِّفِ وَجَلَالَةَ قَدْرِهِ.
sebagaimana dari bagusnya karya terlihat keutamaan penulis
dan kemuliaan derajatnya,
كَانَتْ
مَعْرِفَتُهُ وَمَحَبَّتُهُ مَقْصُورَتَيْنِ عَلَى اللهِ تَعَالَى، غَيْرَ
مُجَاوِزَتَيْنِ إِلَى سِوَاهُ.
maka makrifat dan cintanya terbatas pada Allah تعالى,
tidak melampaui kepada selain-Nya.
وَمِنْ
حَدِّ هٰذَا الْعِشْقِ أَنَّهُ لَا يَقْبَلُ الشِّرْكَةَ.
Di antara batas ‘isyq ini: ia tidak menerima adanya sekutu.
وَكُلُّ
مَا سِوَى هٰذَا الْعِشْقِ فَهُوَ قَابِلٌ لِلشِّرْكَةِ.
Setiap ‘isyq selain ini masih mungkin ada “saingan”.
إِذْ
كُلُّ مَحْبُوبٍ سِوَاهُ يَتَصَوَّرُ لَهُ نَظِيرٌ، إِمَّا فِي الْوُجُودِ
وَإِمَّا فِي الْإِمْكَانِ.
Sebab setiap yang dicintai selain Allah bisa dibayangkan ada
tandingannya, baik nyata maupun mungkin.
فَأَمَّا
هٰذَا الْجَمَالُ فَلَا يَتَصَوَّرُ لَهُ ثَانٍ لَا فِي الْإِمْكَانِ وَلَا فِي
الْوُجُودِ.
Adapun keindahan ini, tidak terbayang ada yang kedua, baik
dalam kemungkinan maupun dalam kenyataan.
فَكَانَ
اسْمُ الْعِشْقِ عَلَى حُبِّ غَيْرِهِ مَجَازًا مَحْضًا لَا حَقِيقَةَ.
Maka penggunaan kata ‘isyq untuk cinta selain-Nya hanyalah
majas, bukan hakikat.
نَعَمْ،
النَّاقِصُ الْقَرِيبُ فِي نُقْصَانِهِ مِنَ الْبَهِيمَةِ.
Namun orang yang kurang—yang kekurangannya dekat seperti
hewan—
قَدْ
لَا يُدْرِكُ مِنْ لَفْظَةِ الْعِشْقِ إِلَّا طَلَبَ الْوِصَالِ.
bisa jadi tidak memahami kata ‘isyq kecuali “mencari
penyatuan”.
الَّذِي
هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ تَمَاسِّ ظَوَاهِرِ الْأَجْسَامِ.
Yang ia artikan sebagai bersentuhannya jasad-jasad.
وَقَضَاءِ
شَهْوَةِ الْوِقَاعِ.
Dan menuntaskan syahwat hubungan badan.
فَمِثْلُ
هٰذَا الْحِمَارِ يَنْبَغِي أَنْ لَا يُسْتَعْمَلَ مَعَهُ لَفْظُ الْعِشْقِ
وَالشَّوْقِ وَالْوِصَالِ وَالْأُنْسِ.
Maka “keledai” seperti ini tidak patut diajak memakai
istilah ‘isyq, syauq, wiṣāl, dan uns.
بَلْ
يُجَنَّبُ هٰذِهِ الْأَلْفَاظُ وَالْمَعَانِي.
Bahkan ia dijauhkan dari kata-kata dan makna itu.
كَمَا
تُجَنَّبُ الْبَهِيمَةُ النَّرْجِسَ وَالرَّيْحَانَ.
Sebagaimana hewan dijauhkan dari bunga narsis dan rayhan.
وَتُخَصَّ
بِالْفُتِّ وَالْحَشِيشِ وَأَوْرَاقِ الْقُضْبَانِ.
Dan dikhususkan bagi mereka remah, rumput, dan daun-daunan.
فَإِنَّ
الْأَلْفَاظَ إِنَّمَا يَجُوزُ إِطْلَاقُهَا فِي حَقِّ اللهِ تَعَالَى إِذَا لَمْ
تَكُنْ مُوهِمَةً مَعْنًى يَجِبُ تَقْدِيسُ اللهِ تَعَالَى عَنْهُ.
Karena kata-kata itu hanya boleh dipakai tentang Allah تعالى
bila tidak menimbulkan kesan makna yang wajib disucikan Allah darinya.
وَالْأَوْهَامُ
تَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْأَفْهَامِ.
Kesan-kesan itu berbeda sesuai perbedaan pemahaman.
فَلْيَتَنَبَّهْ
لِهٰذِهِ الدَّقِيقَةِ فِي أَمْثَالِ هٰذِهِ الْأَلْفَاظِ.
Maka hendaklah memperhatikan kehalusan ini pada
istilah-istilah semacam itu.
بَلْ
لَا يَبْعُدُ أَنْ يَنْشَأَ مِنْ مُجَرَّدِ السَّمَاعِ لِصِفَاتِ اللهِ تَعَالَى
وَجْدٌ غَالِبٌ يَقْطَعُ بِسَبَبِهِ نِيَاطَ الْقَلْبِ.
Bahkan tidak jauh kemungkinan, hanya dengan mendengar
sifat-sifat Allah تعالى
saja bisa timbul wajd yang kuat hingga memutus urat hati.
فَقَدْ
رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ ذَكَرَ غُلَامًا كَانَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى
جَبَلٍ.
Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan dari Rasulullah صلى الله عليه
وسلم bahwa beliau menyebut seorang anak laki-laki dari Bani Israil
yang berada di atas gunung.
فَقَالَ
لِأُمِّهِ: مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ؟
Ia berkata kepada ibunya: “Siapa yang menciptakan langit?”
قَالَتْ:
اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.
Ibunya menjawab: “Allah عز وجل.”
قَالَ:
فَمَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ؟
Ia bertanya: “Lalu siapa yang menciptakan bumi?”
قَالَتْ:
اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.
Ibunya menjawab: “Allah عز وجل.”
قَالَ:
فَمَنْ خَلَقَ الْجِبَالَ؟
Ia bertanya: “Lalu siapa yang menciptakan gunung-gunung?”
قَالَتْ:
اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.
Ibunya menjawab: “Allah عز وجل.”
قَالَ:
فَمَنْ خَلَقَ الْغَيْمَ؟
Ia bertanya: “Lalu siapa yang menciptakan awan?”
قَالَتْ:
اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.
Ibunya menjawab: “Allah عز وجل.”
قَالَ:
إِنِّي لَأَسْمَعُ لِلهِ شَأْنًا.
Anak itu berkata: “Sesungguhnya aku mendengar bahwa Allah
memiliki suatu urusan yang agung.”
ثُمَّ
رَمَى بِنَفْسِهِ مِنَ الْجَبَلِ فَتَقَطَّعَ (١).
Lalu ia melemparkan dirinya dari gunung dan hancur
berkeping-keping. (1)
وَهٰذَا
كَأَنَّهُ سَمِعَ مَا دَلَّ عَلَى جَلَالِ اللهِ تَعَالَى وَتَمَامِ قُدْرَتِهِ.
Seakan-akan ia mendengar sesuatu yang menunjukkan keagungan
Allah تعالى
dan sempurnanya kekuasaan-Nya.
فَطَرِبَ
لِذٰلِكَ وَوَجَدَ.
Maka ia pun bergembira karenanya dan mengalami wajd.
فَرَمَى
بِنَفْسِهِ مِنَ الْوَجْدِ.
Lalu ia melemparkan dirinya karena wajd.
وَمَا
أُنْزِلَتِ الْكُتُبُ إِلَّا لِيَطْرَبُوا بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى.
Kitab-kitab diturunkan tidak lain agar manusia bergembira
dengan mengingat Allah تعالى.
قَالَ
بَعْضُهُمْ: رَأَيْتُ مَكْتُوبًا فِي الْإِنْجِيلِ: غَنَّيْنَا لَكُمْ فَلَمْ
تَطْرَبُوا، وَزَمَّرْنَا لَكُمْ فَلَمْ تَرْقُصُوا.
Sebagian orang berkata: “Aku melihat tertulis dalam Injil:
Kami telah bernyanyi untuk kalian namun kalian tidak bergembira; dan kami telah
meniup seruling untuk kalian namun kalian tidak menari.”
أَيْ
شَوَّقْنَاكُمْ بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى فَلَمْ تَشْتَاقُوا.
Maksudnya: “Kami membuat kalian rindu dengan menyebut Allah تعالى,
namun kalian tidak rindu.”
فَهٰذَا
مَا أَرَدْنَا أَنْ نَذْكُرَهُ مِنْ أَقْسَامِ السَّمَاعِ وَبَوَاعِثِهِ
وَمُقْتَضَيَاتِهِ.
Inilah yang ingin kami sebutkan tentang macam-macam samā‘,
pendorongnya, dan konsekuensinya.
وَقَدْ
ظَهَرَ عَلَى الْقَطْعِ إِبَاحَتُهُ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ.
Dan telah jelas secara pasti kebolehannya pada sebagian
keadaan.
وَالنَّدْبُ
إِلَيْهِ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ.
Dan anjuran melakukannya pada sebagian keadaan lainnya.