Wirid Sejak Terbit hingga Terbenam Matahari

اَلْوِرْدُ الثَّانِي مَا بَيْنَ طُلُوعِ الشَّمْسِ إِلَى ضُحْوَةِ النَّهَارِ، وَأَعْنِي بِالضُّحْوَةِ مُنْتَصَفَ مَا بَيْنَ طُلُوعِ الشَّمْسِ إِلَى الزَّوَالِ، وَذٰلِكَ بِمُضِيِّ ثَلَاثِ سَاعَاتٍ مِنَ النَّهَارِ إِذَا فُرِضَ النَّهَارُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ سَاعَةً، وَهُوَ الرُّبْعُ. وَفِي هٰذَا الرُّبْعِ مِنَ النَّهَارِ وَظِيفَتَانِ زَائِدَتَانِ، إِحْدَاهُمَا صَلَاةُ الضُّحَى، وَقَدْ ذَكَرْنَاهَا فِي كِتَابِ الصَّلَاةِ.

Wirid kedua adalah sejak terbit matahari sampai waktu dhuha di tengah pagi. Yang dimaksud dengan dhuha adalah pertengahan antara terbit matahari dan zawal. Itu terjadi setelah lewat tiga jam dari siang, jika siang diasumsikan dua belas jam. Maka itu adalah seperempat hari. Pada seperempat siang ini ada dua amalan tambahan, salah satunya salat dhuha. Telah kami sebutkan salat itu dalam Kitab Salat.

وَأَنَّ الْأَوْلَى أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ عِنْدَ الْإِشْرَاقِ، وَذٰلِكَ إِذَا انْبَسَطَتِ الشَّمْسُ وَارْتَفَعَتْ قَدْرَ نِصْفِ رُمْحٍ، وَيُصَلِّي أَرْبَعًا أَوْ سِتًّا أَوْ ثَمَانِيًا إِذَا رَمِضَتِ الْفِصَالُ وَضُحِّيَتِ الْأَقْدَامُ بِحَرِّ الشَّمْسِ.

Yang lebih utama ialah ia salat dua rakaat ketika syuruq, yaitu saat matahari telah tampak penuh dan naik setinggi kira-kira setengah tombak. Ia boleh salat empat, enam, atau delapan rakaat ketika anak-anak unta mulai kepanasan dan telapak kaki terasa panas oleh terik matahari.

فَوَقْتُ الرَّكْعَتَيْنِ هُوَ الَّذِي أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى بِقَوْلِهِ: ﴿يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ﴾.

Waktu dua rakaat itu adalah waktu yang dimaksud Allah تعالى dengan firman-Nya: “Mereka bertasbih pada petang dan pada waktu syuruq.”

فَإِنَّهُ وَقْتُ إِشْرَاقِ الشَّمْسِ، وَهُوَ ظُهُورُ تَمَامِ نُورِهَا بِارْتِفَاعِهَا عَنْ مُوَازَاةِ الْبُخَارَاتِ وَالْغَبَارَاتِ الَّتِي عَلَىٰ وَجْهِ الْأَرْضِ.

Sebab itu adalah waktu syuruq matahari. Pada waktu itu tampak sempurna cahayanya, karena ia telah naik dari sejajar dengan uap-uap dan debu-debu yang ada di permukaan bumi.

فَإِنَّهَا تَمْنَعُ إِشْرَافَهَا التَّامَّ.

Sebab uap dan debu itu menghalangi tampaknya matahari secara sempurna.

وَوَقْتُ الرَّكَعَاتِ الْأَرْبَعِ هُوَ الضُّحَى الْأَعْلَى، الَّذِي أَقْسَمَ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ فَقَالَ: ﴿وَالضُّحَى ۝ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى﴾.

Adapun waktu empat rakaat adalah dhuha yang paling tinggi. Itulah waktu yang Allah تعالى jadikan sumpah, ketika Dia berfirman: “Demi waktu dhuha. Dan demi malam ketika telah sunyi.”

وَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَىٰ أَصْحَابِهِ وَهُمْ يُصَلُّونَ عِنْدَ الْإِشْرَاقِ، فَنَادَىٰ بِأَعْلَىٰ صَوْتِهِ: أَلَا إِنَّ صَلَاةَ الْأَوَّابِينَ إِذَا رَمِضَتِ الْفِصَالُ.

Rasulullah pernah keluar menemui para sahabat beliau yang sedang salat pada waktu syuruq. Beliau lalu berseru dengan suara keras: “Ketahuilah, salatnya para awwābīn adalah ketika anak-anak unta merasa panas.”

فَلِذٰلِكَ نَقُولُ: إِذَا كَانَ يَقْتَصِرُ عَلَىٰ مَرَّةٍ وَاحِدَةٍ فِي الصَّلَاةِ، فَهٰذَا الْوَقْتُ أَفْضَلُ لِصَلَاةِ الضُّحَى.

Karena itu kami katakan: jika seseorang hanya mengerjakan salat sekali pada waktu ini, maka waktu inilah yang paling utama untuk salat dhuha.

وَإِنْ كَانَ أَصْلُ الْفَضْلِ يَحْصُلُ بِالصَّلَاةِ بَيْنَ طَرَفَي وَقْتَيِ الْكَرَاهَةِ، وَهُوَ مَا بَيْنَ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ بِطُلُوعِ نِصْفِ رُمْحٍ بِالتَّقْرِيبِ إِلَىٰ مَا قَبْلَ الزَّوَالِ فِي سَاعَةِ الِاسْتِوَاءِ.

Namun, pokok keutamaan memang didapat dengan salat di antara dua ujung waktu yang makruh, yaitu antara naiknya matahari setinggi kira-kira setengah tombak sampai sebelum zawal pada saat matahari tepat di tengah.

وَاسْمُ الضُّحَى يَنْطَلِقُ عَلَى الْكُلِّ.

Nama dhuha mencakup semuanya.

وَكَأَنَّ رَكْعَتَيِ الْإِشْرَاقِ تَقَعَانِ فِي مُبْتَدَإِ وَقْتِ الْإِذْنِ فِي الصَّلَاةِ وَانْقِضَاءِ الْكَرَاهَةِ.

Seakan-akan dua rakaat syuruq itu berada pada awal waktu bolehnya salat dan berakhirnya kemakruhan.

إِذْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الشَّمْسَ تَطْلُعُ وَمَعَهَا قَرْنُ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا ارْتَفَعَتْ فَارَقَهَا.

Karena Nabi bersabda: “Matahari terbit bersama tanduk setan. Jika ia telah naik, setan pun menjauh darinya.”

فَأَقَلُّ ارْتِفَاعِهَا أَنْ تَرْتَفِعَ عَنْ بُخَارَاتِ الْأَرْضِ وَغُبَارِهَا، وَهٰذَا يُرَاعَى بِالتَّقْرِيبِ.

Maka kenaikan paling sedikit ialah saat matahari telah naik dari uap dan debu bumi. Ini diperhitungkan secara perkiraan.

الْوَظِيفَةُ الثَّانِيَةُ فِي هٰذَا الْوَقْتِ الْخَيْرَاتُ الْمُتَعَلِّقَةُ بِالنَّاسِ، الَّتِي جَرَتْ بِهَا الْعَادَاتُ بُكْرَةً، مِنْ عِيَادَةِ مَرِيضٍ، وَتَشْيِيعِ جَنَازَةٍ، وَمُعَاوَنَةٍ عَلَىٰ بِرٍّ وَتَقْوَىٰ، وَحُضُورِ مَجْلِسِ عِلْمٍ، وَمَا يَجْرِي مَجْرَاهُ مِنْ قَضَاءِ حَاجَةٍ لِمُسْلِمٍ وَغَيْرِهَا.

Amalan kedua pada waktu ini adalah kebaikan-kebaikan yang berkaitan dengan manusia, yang biasa dilakukan pada pagi hari, seperti menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, membantu kebajikan dan takwa, menghadiri majelis ilmu, serta hal-hal serupa, seperti menunaikan hajat seorang muslim dan selainnya.

فَإِنْ لَمْ يَكُنْ شَيْءٌ مِنْ ذٰلِكَ، عَادَ إِلَى الْوَظَائِفِ الْأَرْبَعِ الَّتِي قَدَّمْنَاهَا، مِنَ الْأَدْعِيَةِ وَالذِّكْرِ وَالْقِرَاءَةِ وَالْفِكْرِ.

Jika tidak ada satu pun dari itu, maka ia kembali kepada empat amalan yang telah kami sebutkan sebelumnya: doa, zikir, bacaan Al-Qur’an, dan pikir.

وَالصَّلَوَاتِ التَّطَوُّعِ بِهَا إِنْ شَاءَ، فَإِنَّهَا مَكْرُوهَةٌ بَعْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِ، وَلَيْسَتْ مَكْرُوهَةً الْآنَ، فَتَصِيرُ الصَّلَاةُ قِسْمًا خَامِسًا مِنْ جُمْلَةِ وَظَائِفِ هٰذَا الْوَقْتِ لِمَنْ أَرَادَهُ.

Ia juga boleh mengerjakan salat-salat sunnah bila mau. Karena salat sunnah itu makruh setelah salat Subuh, tetapi sekarang belum makruh. Maka salat menjadi bagian kelima dari amalan waktu ini bagi orang yang menghendakinya.

أَمَّا بَعْدَ فَرِيضَةِ الصُّبْحِ فَتُكْرَهُ كُلُّ صَلَاةٍ لَا سَبَبَ لَهَا.

Adapun setelah salat fardu Subuh, maka makruh setiap salat yang tidak memiliki sebab.

وَبَعْدَ الصُّبْحِ الْأَحَبُّ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَىٰ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ وَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ، وَلَا يَشْتَغِلَ بِالصَّلَاةِ، بَلْ بِالْأَذْكَارِ وَالْقِرَاءَةِ وَالدُّعَاءِ وَالْفِكْرِ.

Setelah Subuh, yang lebih utama adalah cukup dengan dua rakaat fajar dan tahiyyatul masjid. Ia tidak sibuk dengan salat, tetapi dengan zikir, bacaan, doa, dan pikir.

الْوِرْدُ الثَّالِثُ مِنْ ضُحْوَةِ النَّهَارِ إِلَى الزَّوَالِ، وَنَعْنِي بِالضُّحْوَةِ الْمُنْتَصَفَ وَمَا قَبْلَهُ بِقَلِيلٍ.

Wirid ketiga adalah dari waktu dhuha sampai zawal. Yang kami maksud dengan dhuha adalah pertengahan, beserta sedikit sebelum itu.

وَإِنْ كَانَ بَعْدَ كُلِّ ثَلَاثِ سَاعَاتٍ أَمْرٌ بِصَلَاةٍ، فَإِذَا انْقَضَتْ ثَلَاثُ سَاعَاتٍ بَعْدَ الطُّلُوعِ فَعِنْدَهَا، وَقَبْلَ مَضِيِّهَا، صَلَاةُ الضُّحَى.

Jika setelah tiap tiga jam ada ibadah salat, maka setelah tiga jam dari terbitnya matahari, pada saat itu dan sebelum lewatnya waktu itu, ada salat dhuha.

فَإِذَا مَضَتْ ثَلَاثُ سَاعَاتٍ أُخْرَىٰ فَالظُّهْرُ، فَإِذَا مَضَتْ ثَلَاثُ سَاعَاتٍ أُخْرَىٰ فَالْعَصْرُ، فَإِذَا مَضَتْ ثَلَاثٌ أُخْرَىٰ فَالْمَغْرِبُ.

Lalu jika berlalu tiga jam lagi, masuklah waktu Zuhur. Jika berlalu tiga jam lagi, masuklah waktu Asar. Jika berlalu tiga jam lagi, masuklah waktu Magrib.

وَمَنْزِلَةُ الضُّحَى بَيْنَ الزَّوَالِ وَالطُّلُوعِ كَمَنْزِلَةِ الْعَصْرِ بَيْنَ الزَّوَالِ وَالْغُرُوبِ.

Kedudukan waktu dhuha antara zawal dan terbit seperti kedudukan Asar antara zawal dan terbenam.

إِلَّا أَنَّ الضُّحَى لَمْ تُفْرَضْ لِأَنَّهُ وَقْتُ انْكِبَابِ النَّاسِ عَلَىٰ أَشْغَالِهِمْ، فَخُفِّفَ عَنْهُمْ.

Hanya saja salat dhuha tidak diwajibkan, karena itu adalah waktu orang-orang sibuk dengan urusan mereka. Maka kewajiban itu diringankan dari mereka.

الْوَظِيفَةُ الرَّابِعَةُ فِي هٰذَا الْوَقْتِ الْأَقْسَامُ الْأَرْبَعَةُ، وَزِيدَ أَمْرَانِ.

Amalan keempat pada waktu ini adalah empat macam pembagian, dan ditambah dua perkara.

أَحَدُهُمَا الِاشْتِغَالُ بِالْكَسْبِ وَتَدْبِيرِ الْمَعِيشَةِ وَحُضُورِ السُّوقِ.

Pertama adalah sibuk mencari rezeki, mengatur kehidupan, dan hadir di pasar.

فَإِنْ كَانَ تَاجِرًا فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَّجِرَ بِصِدْقٍ وَأَمَانَةٍ.

Jika ia pedagang, hendaklah ia berdagang dengan jujur dan amanah.

وَإِنْ كَانَ صَاحِبَ صِنَاعَةٍ فَبِنُصْحٍ وَشَفَقَةٍ.

Jika ia memiliki keahlian atau kerajinan, hendaklah ia bekerja dengan nasihat yang baik dan kasih sayang.

وَلَا يَنْسَىٰ ذِكْرَ اللَّهِ تَعَالَىٰ فِي جَمِيعِ أَشْغَالِهِ.

Ia tidak boleh melupakan zikir kepada Allah تعالى dalam semua kesibukannya.

وَيَقْتَصِرُ مِنَ الْكَسْبِ عَلَىٰ قَدْرِ حَاجَتِهِ لِيَوْمِهِ.

Ia cukup mencari rezeki sekadar kebutuhan harinya.

مَهْمَا قَدَرَ عَلَىٰ أَنْ يَكْتَسِبَ فِي كُلِّ يَوْمٍ لِقُوتِهِ، فَإِذَا حَصَلَتْ كِفَايَةُ يَوْمِهِ فَلْيَرْجِعْ إِلَىٰ بَيْتِ رَبِّهِ وَلْيَتَزَوَّدْ لِآخِرَتِهِ.

Jika ia mampu mencari nafkah setiap hari untuk makanannya, maka bila kebutuhan harinya telah tercukupi, hendaklah ia kembali ke rumah Rabbnya dan membekali dirinya untuk akhirat.

فَإِنَّ الْحَاجَةَ إِلَىٰ زَادِ الْآخِرَةِ أَشَدُّ، وَالتَّمَتُّعَ بِهِ أَدْوَمُ.

Sebab kebutuhan terhadap bekal akhirat lebih mendesak, dan kenikmatan darinya lebih kekal.

فَاشْتِغَالُهُ بِكَسْبِهِ أَهَمُّ مِنْ طَلَبِ الزِّيَادَةِ عَلَىٰ حَاجَةِ الْوَقْتِ.

Maka sibuk mencari rezeki itu lebih penting daripada mencari tambahan di atas kebutuhan saat itu.

فَقَدْ قِيلَ: لَا يُوجَدُ الْمُؤْمِنُ إِلَّا فِي ثَلَاثِ مَوَاطِنَ: مَسْجِدٍ يَعْمُرُهُ، أَوْ بَيْتٍ يَسْتُرُهُ، أَوْ حَاجَةٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْهَا.

Disebutkan: orang mukmin tidak dijumpai kecuali dalam tiga tempat: masjid yang ia makmurkan, rumah yang menutupinya, atau kebutuhan yang memang harus ia lakukan.

وَقَلَّ مَنْ يَعْرِفُ الْقَدْرَ فِيمَا لَا بُدَّ مِنْهُ.

Sedikit sekali orang yang mengetahui batas secukupnya dalam perkara yang memang dibutuhkan.

بَلْ أَكْثَرُ النَّاسِ يُقَدِّرُونَ فِيمَا عَنْهُ بُدَّ أَنَّهُ لَا بُدَّ لَهُمْ مِنْهُ.

Bahkan kebanyakan orang menyangka bahwa yang sebenarnya tidak mereka butuhkan justru mereka anggap perlu.

وَذٰلِكَ لِأَنَّ الشَّيْطَانَ يَعِدُهُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُهُمْ بِالْفَحْشَاءِ، فَيُصْغُونَ إِلَيْهِ وَيَجْمَعُونَ مَا لَا يَأْكُلُونَ خِيفَةَ الْفَقْرِ.

Itu karena setan menakut-nakuti mereka dengan kemiskinan dan memerintahkan mereka berbuat keji. Maka mereka menuruti setan dan mengumpulkan sesuatu yang tidak mereka makan karena takut miskin.

وَاللَّهُ يَعِدُهُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا، فَيُعْرِضُونَ عَنْهُ وَلَا يَرْغَبُونَ فِيهِ.

Padahal Allah menjanjikan mereka ampunan dan karunia dari-Nya, tetapi mereka berpaling darinya dan tidak mencarinya.

الْأَمْرُ الثَّانِي الْقَيْلُولَةُ، وَهِيَ سُنَّةٌ يُسْتَعَانُ بِهَا عَلَىٰ قِيَامِ اللَّيْلِ، كَمَا أَنَّ التَّسَحُّرَ سُنَّةٌ يُسْتَعَانُ بِهِ عَلَىٰ صِيَامِ النَّهَارِ.

Perkara kedua adalah qailulah, yaitu tidur siang. Itu adalah sunnah yang membantu untuk bangun malam, sebagaimana sahur membantu puasa siang.

فَإِنْ كَانَ لَا يَقُومُ بِاللَّيْلِ، لَكِنْ لَوْ لَمْ يَنَمْ لَمْ يَشْتَغِلْ بِخَيْرٍ، وَرُبَّمَا خَالَطَ أَهْلَ الْغَفْلَةِ وَتَحَدَّثَ مَعَهُمْ، فَالنَّوْمُ أَحَبُّ لَهُ.

Jika ia tidak biasa bangun malam, tetapi bila tidak tidur ia tidak akan sibuk dengan kebaikan, bahkan mungkin bergaul dengan orang-orang lalai dan berbicara bersama mereka, maka tidur lebih baik baginya.

إِذَا كَانَ لَا يَنْبَعِثُ نَشَاطُهُ لِلرُّجُوعِ إِلَى الْأَذْكَارِ وَالْوَظَائِفِ الْمَذْكُورَةِ.

Terutama bila semangatnya tidak bangkit untuk kembali kepada zikir-zikir dan tugas-tugas yang telah disebutkan.

إِذْ فِي النَّوْمِ الصَّمْتُ وَالسَّلَامَةُ.

Sebab dalam tidur ada diam dan keselamatan.

وَقَدْ قَالَ بَعْضُهُمْ: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّمْتُ وَالنَّوْمُ فِيهِ أَفْضَلُ أَعْمَالِهِمْ.

Sebagian ulama berkata: Akan datang suatu masa pada manusia, ketika diam dan tidur menjadi amal mereka yang paling utama.

وَكَمْ مِنْ عَابِدٍ أَحْسَنُ أَحْوَالِهِ النَّوْمُ.

Betapa banyak ahli ibadah yang keadaan terbaiknya justru saat tidur.

وَذٰلِكَ إِذَا كَانَ يُرَائِي بِعِبَادَتِهِ وَلَا يُخْلِصُ فِيهَا، فَكَيْفَ بِالْغَافِلِ الْفَاسِقِ.

Itu terjadi bila ia riya dalam ibadahnya dan tidak ikhlas di dalamnya. Lalu bagaimana dengan orang lalai yang fasik?

قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: كَانُوا يُعْجِبُهُمْ إِذَا تَفَرَّغُوا أَنْ يَنَامُوا طَلَبًا لِلسَّلَامَةِ.

Sufyan ats-Tsauri رحمه الله berkata: Mereka suka bila sudah kosong dari urusan lalu tidur, demi mencari keselamatan.

فَإِذَا كَانَ نَوْمُهُ عَلَىٰ قَصْدِ طَلَبِ السَّلَامَةِ وَنِيَّةِ قِيَامِ اللَّيْلِ، كَانَ نَوْمُهُ قُرْبَةً.

Jika tidurnya diniatkan untuk mencari keselamatan dan berniat bangun malam, maka tidurnya menjadi ibadah.

وَلَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يَتَنَبَّهَ قَبْلَ الزَّوَالِ بِقَدْرِ الِاسْتِعْدَادِ لِلصَّلَاةِ بِالْوُضُوءِ وَحُضُورِ الْمَسْجِدِ قَبْلَ دُخُولِ وَقْتِ الصَّلَاةِ.

Tetapi sepatutnya ia bangun sebelum zawal, sekadar persiapan salat dengan wudu dan hadir di masjid sebelum masuk waktu salat.

فَإِنَّ ذٰلِكَ مِنْ فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ.

Sebab itu termasuk keutamaan amal.

وَإِنْ لَمْ يَنَمْ وَلَمْ يَشْتَغِلْ بِالْكَسْبِ وَاشْتَغَلَ بِالصَّلَاةِ وَالذِّكْرِ فَهُوَ أَفْضَلُ أَعْمَالِ النَّهَارِ.

Jika ia tidak tidur, tidak mencari nafkah, dan sibuk dengan salat serta zikir, maka itu adalah amal siang yang paling utama.

لِأَنَّهُ وَقْتُ غَفْلَةِ النَّاسِ عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاشْتِغَالِهِمْ بِهُمُومِ الدُّنْيَا.

Karena itu adalah waktu manusia lalai dari Allah عز وجل dan sibuk dengan urusan dunia.

فَالْقَلْبُ الْمُتَفَرِّغُ لِخِدْمَةِ رَبِّهِ عِنْدَ إِعْرَاضِ الْعَبِيدِ عَنْ بَابِهِ جَدِيرٌ أَنْ يُزَكِّيَهُ اللَّهُ تَعَالَىٰ وَيَصْطَفِيهِ لِقُرْبِهِ وَمَعْرِفَتِهِ.

Hati yang kosong untuk melayani Rabbnya ketika para hamba berpaling dari pintu-Nya, layak untuk disucikan Allah تعالى dan dipilih untuk kedekatan serta ma’rifat kepada-Nya.

وَفَضْلُ ذٰلِكَ كَفَضْلِ إِحْيَاءِ اللَّيْلِ.

Keutamaan itu seperti keutamaan menghidupkan malam.

فَاللَّيْلُ وَقْتُ الْغَفْلَةِ بِالنَّوْمِ، وَهٰذَا وَقْتُ الْغَفْلَةِ بِاتِّبَاعِ الْهَوَى وَالِاشْتِغَالِ بِهُمُومِ الدُّنْيَا.

Malam adalah waktu kelalaian karena tidur, sedangkan ini adalah waktu kelalaian karena mengikuti hawa nafsu dan sibuk dengan urusan dunia.

وَأَحَدُ مَعْنَىٰ قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ﴾.

Dan salah satu makna firman-Nya تعالى: “Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi siapa yang ingin mengambil pelajaran.”

أَيْ يَخْلُفُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ فِي الْفَضْلِ.

Yakni, salah satunya menggantikan yang lain dalam keutamaan.

وَالثَّانِي أَنَّهُ يَخْلُفُهُ فَيَتَدَارَكُ فِيهِ مَا فَاتَ فِي أَحَدِهِمَا.

Makna kedua adalah salah satunya menggantikan yang lain, sehingga pada yang satu dapat ditebus apa yang terluput pada yang lain.

الْوِرْدُ الرَّابِعُ مَا بَيْنَ الزَّوَالِ إِلَى الْفَرَاغِ مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ وَرَاتِبَتِهِ، وَهٰذَا أَقْصَرُ أَوْرَادِ النَّهَارِ وَأَفْضَلُهَا.

Wirid keempat adalah dari zawal sampai selesai salat Zuhur dan sunnah rawatibnya. Ini adalah wirid siang yang paling singkat dan paling utama.

فَإِذَا كَانَ قَدْ تَوَضَّأَ قَبْلَ الزَّوَالِ وَحَضَرَ الْمَسْجِدَ، فَمَهْمَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَابْتَدَأَ الْمُؤَذِّنُ الْأَذَانَ فَلْيَصْبِرْ إِلَى الْفَرَاغِ مِنْ جَوَابِ أَذَانِهِ.

Jika ia telah berwudu sebelum zawal dan hadir di masjid, maka saat matahari tergelincir dan muazin mulai azan, hendaklah ia sabar sampai selesai menjawab azan.

ثُمَّ لِيَقُمْ إِلَىٰ إِحْيَاءِ مَا بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ.

Lalu hendaklah ia bangkit untuk menghidupkan waktu antara azan dan iqamah.

فَهُوَ وَقْتُ الْإِظْهَارِ الَّذِي أَرَادَهُ اللَّهُ تَعَالَىٰ بِقَوْلِهِ: ﴿وَحِينَ تُظْهِرُونَ﴾.

Itu adalah waktu tengah hari yang dimaksud Allah تعالى dengan firman-Nya: “Dan ketika kalian memasuki waktu zuhur.”

وَلْيُصَلِّ فِي هٰذَا الْوَقْتِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لَا يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِتَسْلِيمَةٍ وَاحِدَةٍ.

Pada waktu ini hendaklah ia salat empat rakaat. Jangan ia memisahkannya dengan satu salam saja.

وَهٰذِهِ الصَّلَاةُ وَحْدَهَا مِنْ بَيْنِ سَائِرِ صَلَوَاتِ النَّهَارِ نَقَلَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ أَنَّهُ يُصَلِّيهَا بِتَسْلِيمَةٍ وَاحِدَةٍ، وَلَكِنْ طُعِنَ فِي تِلْكَ الرِّوَايَةِ.

Tentang salat ini saja, di antara salat siang lainnya, ada ulama yang meriwayatkan bahwa ia dikerjakan dengan satu salam. Tetapi riwayat itu diperselisihkan.

وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ يُصَلِّي مَثْنَىٰ مَثْنَىٰ كَسَائِرِ النَّوَافِلِ، وَيَفْصِلُ بِتَسْلِيمَةٍ.

Mazhab Syafi’i رضي الله عنه adalah salat dua rakaat dua rakaat, seperti seluruh salat sunnah, lalu dipisah dengan salam.

وَهُوَ الَّذِي صَحَّتْ بِهِ الْأَخْبَارُ.

Itulah yang didukung oleh hadis-hadis yang sahih.

وَلْيُطِلْ هٰذِهِ الرَّكَعَاتِ، إِذْ فِيهَا تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ.

Hendaklah ia memanjangkan rakaat-rakaat ini, karena pada waktu ini pintu-pintu langit dibuka.

وَلْيَقْرَأْ فِيهَا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، أَوْ سُورَةً مِنَ الْمِئِينَ، أَوْ أَرْبَعًا مِنَ الْمَثَانِي.

Hendaklah ia membaca Surah Al-Baqarah, atau satu surah dari kelompok seratus ayat, atau empat surah dari kelompok Mathani.

فَهٰذِهِ سَاعَاتٌ يُسْتَجَابُ فِيهَا الدُّعَاءُ.

Pada saat-saat ini doa dikabulkan.

وَأَحَبَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَرْتَفِعَ لَهُ فِيهَا عَمَلٌ.

Rasulullah senang jika amal beliau diangkat pada waktu itu.

ثُمَّ يُصَلِّي الظُّهْرَ بِجَمَاعَةٍ بَعْدَ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ طَوِيلَةٍ كَمَا سَبَقَ، أَوْ قَصِيرَةٍ، لَا يَنْبَغِي أَنْ يَدَعَهَا.

Lalu ia salat Zuhur berjamaah setelah empat rakaat yang panjang seperti disebutkan tadi, atau rakaat yang singkat. Ia tidak boleh meninggalkannya.

ثُمَّ لِيُصَلِّ بَعْدَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَرْبَعًا.

Setelah Zuhur, hendaklah ia salat dua rakaat lalu empat rakaat.

فَقَدْ كَرِهَ ابْنُ مَسْعُودٍ أَنْ تُتْبَعَ الْفَرِيضَةُ بِمِثْلِهَا مِنْ غَيْرِ فَاصِلٍ.

Ibn Mas’ud membenci bila salat fardu diikuti dengan salat serupa tanpa jeda.

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُقْرَأَ فِي هٰذِهِ النَّافِلَةِ آيَةُ الْكُرْسِيِّ وَآخِرُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ وَالْآيَاتُ الَّتِي أَوْرَدْنَاهَا فِي الْوِرْدِ الْأَوَّلِ.

Disunnahkan membaca Ayat Kursi, akhir Surah Al-Baqarah, dan ayat-ayat yang telah kami sebutkan dalam wirid pertama.

لِيَكُونَ ذٰلِكَ جَامِعًا لَهُ بَيْنَ الدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَالْقِرَاءَةِ وَالصَّلَاةِ وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّسْبِيحِ مَعَ شَرَفِ الْوَقْتِ.

Agar itu menjadi kumpulan doa, zikir, bacaan, salat, tahmid, dan tasbih, bersama kemuliaan waktu.

الْوِرْدُ الْخَامِسُ مَا بَعْدَ ذٰلِكَ إِلَى الْعَصْرِ.

Wirid kelima adalah setelah itu sampai Asar.

وَيُسْتَحَبُّ فِيهِ الْعُكُوفُ فِي الْمَسْجِدِ مُشْتَغِلًا بِالذِّكْرِ وَالصَّلَاةِ أَوْ فُنُونِ الْخَيْرِ.

Dianjurkan pada waktu ini untuk tetap di masjid sambil sibuk dengan zikir, salat, atau berbagai kebaikan.

وَيَكُونُ فِي انْتِظَارِ الصَّلَاةِ مُعْتَكِفًا.

Ia berada dalam keadaan menunggu salat seperti orang yang sedang i’tikaf.

فَمِنْ فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ انْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ.

Termasuk keutamaan amal adalah menunggu salat setelah salat.

وَكَانَ ذٰلِكَ سُنَّةَ السَّلَفِ.

Itu adalah kebiasaan para salaf.

كَانَ الدَّاخِلُ يَدْخُلُ الْمَسْجِدَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، فَيَسْمَعُ لِلْمُصَلِّينَ دَوِيًّا كَدَوِيِّ النَّحْلِ مِنَ التِّلَاوَةِ.

Orang yang masuk masjid antara Zuhur dan Asar mendengar suara para salat seperti dengungan lebah dari bacaan mereka.

فَإِنْ كَانَ بَيْتُهُ أَسْلَمَ لِدِينِهِ وَأَجْمَعَ لِهَمِّهِ فَالْبَيْتُ أَفْضَلُ فِي حَقِّهِ.

Jika rumahnya lebih menjaga agamanya dan lebih menenangkan pikirannya, maka rumah lebih utama baginya.

فَإِحْيَاءُ هٰذَا الْوِرْدِ، وَهُوَ أَيْضًا وَقْتُ غَفْلَةِ النَّاسِ، كَإِحْيَاءِ الْوِرْدِ الثَّالِثِ فِي الْفَضْلِ.

Menghidupkan wirid ini, yang juga merupakan waktu kelalaian manusia, keutamaannya seperti menghidupkan wirid ketiga.

وَفِي هٰذَا الْوَقْتِ يُكْرَهُ النَّوْمُ لِمَنْ نَامَ قَبْلَ الزَّوَالِ، إِذْ يُكْرَهُ نَوْمَتَانِ بِالنَّهَارِ.

Pada waktu ini makruh tidur bagi orang yang sudah tidur sebelum zawal, karena tidur dua kali di siang hari memang dimakruhkan.

قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: ثَلَاثٌ يَمْقُتُ اللَّهُ عَلَيْهَا: الضِّحْكُ بِغَيْرِ عَجَبٍ، وَالْأَكْلُ مِنْ غَيْرِ جُوعٍ، وَالنَّوْمُ بِالنَّهَارِ مِنْ غَيْرِ سَهَرٍ بِاللَّيْلِ.

Sebagian ulama berkata: ada tiga perkara yang dibenci Allah, yaitu tertawa tanpa alasan, makan tanpa lapar, dan tidur siang tanpa pernah begadang di malam hari.

وَالْحَدُّ فِي النَّوْمِ أَنَّ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ أَرْبَعٌ وَعِشْرُونَ سَاعَةً.

Batas tidur adalah bahwa malam dan siang berjumlah dua puluh empat jam.

فَالِاعْتِدَالُ فِي نَوْمِهِ ثَمَانِ سَاعَاتٍ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ جَمِيعًا.

Maka tidur yang seimbang adalah delapan jam dalam gabungan malam dan siang.

فَإِنْ نَامَ هٰذَا الْقَدْرَ بِاللَّيْلِ فَلَا مَعْنَىٰ لِلنَّوْمِ بِالنَّهَارِ.

Jika ia tidur sebanyak itu di malam hari, maka tidak ada alasan untuk tidur siang.

وَإِنْ نَقَصَ مِنْهُ مِقْدَارًا اسْتَوْفَاهُ بِالنَّهَارِ فَحَسْبُ.

Jika kurang sedikit, maka ia cukupkan pada siang hari saja.

فَحَسْبُ ابْنِ آدَمَ إِنْ عَاشَ سِتِّينَ سَنَةً أَنْ يَنْقُصَ مِنْ عُمْرِهِ عِشْرُونَ سَنَةً.

Cukup bagi anak Adam, jika hidup enam puluh tahun, bahwa dua puluh tahun telah berkurang dari umurnya.

وَمَهْمَا نَامَ ثَمَانَ سَاعَاتٍ وَهُوَ الثُّلُثُ فَقَدْ نَقَصَ مِنْ عُمْرِهِ الثُّلُثَ.

Jika ia tidur delapan jam, yaitu sepertiga, maka sepertiga dari umurnya telah berkurang.

وَلَكِنْ لَمَّا كَانَ النَّوْمُ غِذَاءَ الرُّوحِ كَمَا أَنَّ الطَّعَامَ غِذَاءُ الْأَبْدَانِ، وَلَمْ يُمْكِنْ قَطْعُهُ عَنْهُ.

Namun, karena tidur adalah makanan ruh, sebagaimana makanan adalah makanan tubuh, maka ia tidak mungkin diputuskan darinya.

وَكَانَ الْعِلْمُ وَالذِّكْرُ غِذَاءَ الْقَلْبِ، وَكَانَ هٰذَا الْقَدْرُ وَالنُّقْصَانُ مِنْهُ رُبَّمَا أَفْضَىٰ إِلَىٰ اضْطِرَابِ الْبَدَنِ.

Ilmu dan zikir adalah makanan hati. Ukuran tidur ini dan kekurangannya kadang membuat tubuh terganggu.

إِلَّا مَنْ يَتَعَوَّدُ السَّهَرَ تَدْرِيجًا، فَقَدْ يُرَوِّضُ نَفْسَهُ عَلَيْهِ مِنْ غَيْرِ اضْطِرَابٍ.

Kecuali orang yang membiasakan begadang secara bertahap. Ia bisa melatih dirinya tanpa gangguan.

وَهٰذَا الْوِرْدُ مِنْ أَطْوَلِ الْأَوْرَادِ وَأَمْتَعِهَا لِلْعِبَادِ.

Wirid ini termasuk yang paling panjang dan paling bermanfaat bagi hamba.

وَهُوَ أَحَدُ الْآصَالِ الَّتِي ذَكَرَهَا اللَّهُ تَعَالَىٰ، إِذْ قَالَ: ﴿وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ﴾.

Ia termasuk waktu pagi dan petang yang disebut Allah تعالى, ketika Dia berfirman: “Dan kepada Allah bersujud siapa yang ada di langit dan di bumi, dengan suka rela maupun terpaksa, beserta bayang-bayang mereka pada pagi dan petang.”

وَإِذَا سَجَدَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْجَمَادَاتُ فَكَيْفَ يَجُوزُ أَنْ يَغْفُلَ الْعَبْدُ الْعَاقِلُ عَنْ أَنْوَاعِ الْعِبَادَاتِ؟

Jika benda-benda mati saja bersujud kepada Allah عز وجل, bagaimana mungkin hamba yang berakal lalai dari berbagai macam ibadah?

الْوِرْدُ السَّادِسُ إِذَا دَخَلَ وَقْتُ الْعَصْرِ دَخَلَ وَقْتُ الْوِرْدِ السَّادِسِ.

Wirid keenam dimulai ketika waktu Asar masuk.

وَهُوَ الَّذِي أَقْسَمَ اللَّهُ تَعَالَىٰ بِهِ فَقَالَ: ﴿وَالْعَصْرِ﴾.

Itulah waktu yang Allah تعالى jadikan sumpah dalam firman-Nya: “Demi masa.”

هٰذَا أَحَدُ مَعْنَيَيِ الْآيَةِ، وَهُوَ الْمُرَادُ بِالْآصَالِ فِي أَحَدِ التَّفْسِيرَيْنِ.

Ini adalah salah satu makna ayat itu. Itulah yang dimaksud dengan al-āsāl dalam salah satu tafsir.

وَهُوَ الْعَشِيُّ الْمَذْكُورُ فِي قَوْلِهِ: ﴿وَعَشِيًّا﴾، وَفِي قَوْلِهِ: ﴿بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ﴾.

Itulah petang yang disebut dalam firman-Nya: “dan pada petang hari,” serta dalam firman-Nya: “pada petang dan waktu syuruq.”

وَلَيْسَ فِي هٰذَا الْوِرْدِ صَلَاةٌ إِلَّا أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ كَمَا سَبَقَ فِي الظُّهْرِ.

Pada wirid ini tidak ada salat kecuali empat rakaat antara azan dan iqamah, sebagaimana telah disebutkan pada waktu Zuhur.

ثُمَّ يُصَلِّي الْفَرْضَ، وَيَشْتَغِلُ بِالْأَقْسَامِ الْأَرْبَعَةِ الْمَذْكُورَةِ فِي الْوِرْدِ الْأَوَّلِ.

Lalu ia salat fardu, dan sibuk dengan empat macam amalan yang telah disebutkan dalam wirid pertama.

إِلَىٰ أَنْ تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ إِلَىٰ رُءُوسِ الْحِيطَانِ وَتَصْفَرَّ.

Hingga matahari naik ke puncak-puncak dinding dan menjadi kekuningan.

وَالْأَفْضَلُ فِيهِ، إِذَا مُنِعَ عَنِ الصَّلَاةِ، تِلَاوَةُ الْقُرْآنِ بِتَدَبُّرٍ وَتَفَهُّمٍ.

Yang paling utama pada waktu ini, jika ia dilarang salat, adalah membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan pemahaman.

إِذْ يَجْمَعُ ذٰلِكَ بَيْنَ الذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ وَالْفِكْرِ، فَيَنْدَرِجُ فِي هٰذَا الْقِسْمِ أَكْثَرُ مَقَاصِدِ الْأَقْسَامِ الثَّلَاثَةِ.

Karena hal itu menghimpun zikir, doa, dan pikir, sehingga dalam bagian ini tercakup sebagian besar tujuan dari tiga bagian sebelumnya.

الْوِرْدُ السَّابِعُ إِذَا اصْفَرَّتِ الشَّمْسُ بِأَنْ تَقْرُبَ مِنَ الْأَرْضِ حَتَّىٰ يَغْطِيَ نُورُهَا الْعَبَارَاتِ وَالْبُخَارَاتِ الَّتِي عَلَىٰ وَجْهِ الْأَرْضِ، وَيُرَىٰ صُفْرَةٌ فِي ضَوْئِهَا، دَخَلَ وَقْتُ هٰذَا الْوِرْدِ.

Wirid ketujuh dimulai ketika matahari menguning, yaitu ketika ia dekat dengan bumi sehingga cahayanya menutupi uap-uap dan debu-debu di permukaan bumi, dan tampak kekuningan pada sinarnya.

وَهُوَ مِثْلُ الْوِرْدِ الْأَوَّلِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَىٰ طُلُوعِ الشَّمْسِ، لِأَنَّهُ قَبْلَ الْغُرُوبِ كَمَا أَنَّ ذٰلِكَ قَبْلَ الطُّلُوعِ.

Waktu ini seperti wirid pertama, dari fajar sampai terbit matahari. Sebab ini adalah sebelum terbenam, sebagaimana yang pertama sebelum terbit.

وَهُوَ الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ﴾.

Itulah yang dimaksud firman-Nya تعالى: “Maka bertasbihlah kepada Allah ketika kalian memasuki petang dan ketika kalian memasuki pagi.”

وَهٰذَا هُوَ الطَّرَفُ الثَّانِي الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ﴾.

Ini adalah ujung yang kedua yang dimaksud dalam firman-Nya تعالى: “Maka bertasbihlah pada ujung-ujung siang.”

قَالَ الْحَسَنُ: كَانُوا أَشَدَّ تَعْظِيمًا لِلْعَشِيِّ مِنْهُمْ لِأَوَّلِ النَّهَارِ.

Al-Hasan berkata: Mereka lebih mengagungkan waktu petang daripada awal siang.

وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: كَانُوا يَجْعَلُونَ أَوَّلَ النَّهَارِ لِلدُّنْيَا وَآخِرَهُ لِلْآخِرَةِ.

Sebagian salaf berkata: Mereka menjadikan awal siang untuk dunia dan akhirnya untuk akhirat.

فَيُسْتَحَبُّ فِي هٰذَا الْوَقْتِ التَّسْبِيحُ وَالِاسْتِغْفَارُ خَاصَّةً.

Maka dianjurkan pada waktu ini khususnya tasbih dan istighfar.

وَسَائِرُ مَا ذَكَرْنَاهُ فِي الْوِرْدِ الْأَوَّلِ.

Demikian pula seluruh yang telah kami sebutkan dalam wirid pertama.

مِثْلَ أَنْ يَقُولَ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَسْأَلُهُ التَّوْبَةَ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ.

Seperti ucapan: “Aku memohon ampun kepada Allah yang tiada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluk, dan aku memohon tobat kepada-Nya.” Dan: “Maha Suci Allah Yang Mahaagung dan dengan memuji-Nya.”

مَأْخُوذٌ مِنْ قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ﴾.

Itu diambil dari firman-Nya تعالى: “Mohonkanlah ampun bagi dosamu dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu pada petang dan pagi.”

وَالِاسْتِغْفَارُ عَلَى الْأَسْمَاءِ الَّتِي فِي الْقُرْآنِ أَحَبُّ.

Istighfar dengan lafaz yang ada dalam Al-Qur’an lebih disukai.

كَقَوْلِهِ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا، رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ، فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ.

Seperti ucapan: “Aku memohon ampun kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Pengampun.” “Aku memohon ampun kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.” “Wahai Rabbku, ampunilah dan rahmatilah, dan Engkaulah sebaik-baik penyayang.” “Maka ampunilah kami dan rahmatilah kami, dan Engkaulah sebaik-baik pengampun.”

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُقْرَأَ قَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ: وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ.

Dianjurkan membaca sebelum matahari terbenam: Surah Asy-Syams, Surah Al-Lail, dan dua mu’awwidzat.

وَلْتَغْرُبِ الشَّمْسُ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي الِاسْتِغْفَارِ.

Biarlah matahari terbenam saat ia masih beristighfar.

فَإِذَا سَمِعَ الْأَذَانَ قَالَ: اللَّهُمَّ هٰذَا إِقْبَالُ لَيْلِكَ وَإِدْبَارُ نَهَارِكَ وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ، كَمَا سَبَقَ.

Jika ia mendengar azan, ia mengucapkan: “Ya Allah, ini adalah datangnya malam-Mu, berlalunya siang-Mu, dan suara para penyeru-Mu,” sebagaimana telah disebutkan.

ثُمَّ يُجِيبُ الْمُؤَذِّنَ، وَيَشْتَغِلُ بِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ.

Setelah itu ia menjawab muazin dan mengerjakan salat Magrib.

وَبِالْغُرُوبِ قَدِ انْتَهَتْ أَوْرَادُ النَّهَارِ.

Dengan terbenamnya matahari, selesai sudah wirid-wirid siang.

فَيَنْبَغِي أَنْ يُلَاحِظَ الْعَبْدُ أَحْوَالَهُ وَيُحَاسِبَ نَفْسَهُ، فَقَدِ انْقَضَىٰ مِنْ طَرِيقِهِ مَرْحَلَةٌ.

Maka hendaknya seorang hamba memperhatikan keadaannya dan menghisab dirinya, karena satu tahap dari perjalanannya telah berlalu.

فَإِنْ سَاوَىٰ يَوْمُهُ أَمْسَهُ فَيَكُونُ مَغْبُونًا.

Jika hari ini sama dengan kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi.

وَإِنْ كَانَ شَرًّا مِنْهُ فَيَكُونُ مَلْعُونًا.

Jika hari ini lebih buruk darinya, maka ia termasuk orang yang terkutuk.

فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا بُورِكَ لِي فِي يَوْمٍ لَا أَزْدَادُ فِيهِ خَيْرًا.

Rasulullah bersabda: “Tidaklah diberkahi aku pada hari yang tidak menambah kebaikan bagiku.”

فَإِنْ رَأَىٰ نَفْسَهُ مُتَوَفِّرًا عَلَى الْخَيْرِ جَمِيعَ نَهَارِهِ، مُتَرَفِّهًا عَنِ التَّجَشُّمِ، كَانَتْ بُشْرَىٰ.

Jika ia melihat dirinya sibuk dengan kebaikan sepanjang hari, dan jauh dari beban berat, itu adalah kabar gembira.

فَلْيَشْكُرِ اللَّهَ تَعَالَىٰ عَلَىٰ تَوْفِيقِهِ وَتَسْدِيدِهِ إِيَّاهُ لِطَرِيقِهِ.

Maka hendaklah ia bersyukur kepada Allah تعالى atas taufik dan bimbingan-Nya kepadanya di jalannya.

وَإِنْ تَكُنِ الْأُخْرَىٰ، فَاللَّيْلُ خَلَفُ النَّهَارِ، فَلْيَعْزِمْ عَلَىٰ تَلَافِي مَا سَبَقَ مِنْ تَفْرِيطِهِ.

Jika yang terjadi sebaliknya, maka malam datang menggantikan siang. Hendaklah ia bertekad menebus kelalaiannya yang telah lalu.

فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ.

Karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan menghapus keburukan-keburukan.

وَلْيَشْكُرِ اللَّهَ تَعَالَىٰ عَلَىٰ صِحَّةِ جِسْمِهِ وَبَقَاءِ بَقِيَّةٍ مِنْ عُمْرِهِ.

Dan hendaklah ia bersyukur kepada Allah تعالى atas kesehatan tubuhnya dan sisa umur yang masih ada.

طُولَ لَيْلِهِ لِيَشْتَغِلَ بِتَدَارُكِ تَقْصِيرِهِ.

Dengan panjangnya malam itu, ia bisa sibuk menutupi kekurangannya.

وَلْيُحْضِرْ فِي قَلْبِهِ أَنَّ نَهَارَ الْعُمْرِ لَهُ آخِرٌ تَغْرُبُ فِيهِ شَمْسُ الْحَيَاةِ، فَلَا يَكُونُ لَهَا بَعْدَهُ طُلُوعٌ.

Dan hendaklah ia menghadirkan dalam hatinya bahwa siang umur ini pun ada akhirnya, saat matahari kehidupan terbenam dan setelah itu tidak akan terbit lagi.

وَعِنْدَ ذٰلِكَ يُغْلَقُ بَابُ التَّدَارُكِ وَالِاعْتِذَارِ.

Ketika itu pintu menebus kekurangan dan pintu beralasan tertutup.

فَلَيْسَ الْعُمْرُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً تَنْقَضِي لَا مَحَالَةَ، جُمْلَتُهَا بِانْقِضَاءِ آحَادِهَا.

Umur itu tidak lain hanyalah hari-hari yang terhitung. Ia pasti berlalu. Keseluruhannya habis dengan habisnya satu per satu hari-harinya.