Kemungkaran-Kemungkaran yang Sudah Menjadi Kebiasaan Dalam Kehidupan Sehari-Hari
اَلْبَابُ الثَّالِثُ فِي الْمُنْكَرَاتِ الْمَأْلُوفَةِ فِي الْعَادَاتِ
Bab ketiga tentang kemungkaran-kemungkaran yang sudah
menjadi kebiasaan dalam adat (kehidupan sehari-hari).
فَنُشِيرُ
إِلَى جُمَلٍ مِنْهَا لِيُسْتَدَلَّ بِهَا عَلَى أَمْثَالِهَا، إِذْ لَا مَطْمَعَ
فِي حَصْرِهَا وَاسْتِقْصَائِهَا.
Maka kami akan menunjuk kepada sejumlah contohnya, agar
dijadikan petunjuk untuk yang semisalnya; karena tidak ada harapan untuk
menghimpun semuanya dan menelitinya satu per satu.
فَمِنْ
ذٰلِكَ: مُنْكَرَاتُ الْمَسَاجِدِ.
Di antaranya: kemungkaran-kemungkaran di masjid.
اِعْلَمْ
أَنَّ الْمُنْكَرَاتِ تَنْقَسِمُ إِلَى مَكْرُوهَةٍ وَإِلَى مَحْظُورَةٍ.
Ketahuilah bahwa kemungkaran terbagi menjadi yang makruh dan
yang terlarang (haram).
فَإِذَا
قُلْنَا: هٰذَا مُنْكَرٌ مَكْرُوهٌ، فَاعْلَمْ أَنَّ الْمَنْعَ مِنْهُ
مُسْتَحَبٌّ، وَالسُّكُوتَ عَلَيْهِ مَكْرُوهٌ.
Jika kami berkata, “Ini kemungkaran yang makruh,” maka
ketahuilah bahwa mencegahnya itu dianjurkan, dan diam atasnya itu makruh.
وَلَيْسَ
بِحَرَامٍ، إِلَّا إِذَا لَمْ يَعْلَمِ الْفَاعِلُ أَنَّهُ مَكْرُوهٌ.
Dan diam itu tidak haram, kecuali jika pelakunya tidak tahu
bahwa itu makruh.
فَيَجِبُ
ذِكْرُهُ لَهُ.
Maka wajib menyampaikannya kepadanya.
لِأَنَّ
الْكَرَاهَةَ حُكْمٌ فِي الشَّرْعِ.
Karena kemakruhan adalah hukum syariat.
يَجِبُ
تَبْلِيغُهُ إِلَى مَنْ لَا يَعْرِفُهُ.
Wajib disampaikan kepada orang yang tidak mengetahuinya.
وَإِذَا
قُلْنَا: مُنْكَرٌ مَحْظُورٌ، أَوْ قُلْنَا: مُنْكَرٌ مُطْلَقًا، فَنُرِيدُ بِهِ
الْمَحْظُورَ.
Jika kami berkata, “Kemungkaran yang terlarang,” atau kami
berkata, “Kemungkaran” secara mutlak, maka yang kami maksud adalah yang
terlarang (haram).
وَيَكُونُ
السُّكُوتُ عَلَيْهِ مَعَ الْقُدْرَةِ مَحْظُورًا.
Dan diam atasnya padahal mampu, itu haram.
فَمِمَّا
يُشَاهَدُ كَثِيرًا فِي الْمَسَاجِدِ: إِسَاءَةُ الصَّلَاةِ بِتَرْكِ
الطُّمَأْنِينَةِ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ.
Di antara yang sering terlihat di masjid: buruknya shalat
karena meninggalkan thuma’ninah dalam rukuk dan sujud.
وَهُوَ
مُنْكَرٌ مُبْطِلٌ لِلصَّلَاةِ بِنَصِّ الْحَدِيثِ.
Itu kemungkaran yang membatalkan shalat menurut nash hadis.
فَيَجِبُ
النَّهْيُ عَنْهُ.
Maka wajib melarangnya.
إِلَّا
عِنْدَ الْحَنَفِيِّ الَّذِي يَعْتَقِدُ أَنَّ ذٰلِكَ لَا يَمْنَعُ صِحَّةَ
الصَّلَاةِ.
Kecuali menurut (sebagian) Hanafiyah yang meyakini bahwa hal
itu tidak menghalangi sahnya shalat.
إِذْ
لَا يَنْفَعُ النَّهْيُ مَعَهُ.
Karena larangan terhadapnya tidak bermanfaat (jika ia
meyakini kebolehannya).
وَمَنْ
رَأَى مُسِيئًا فِي صَلَاتِهِ فَسَكَتَ عَلَيْهِ فَهُوَ شَرِيكُهُ.
Siapa melihat seseorang buruk dalam shalatnya lalu ia diam,
maka ia menjadi “sekutunya”.
هٰكَذَا
وَرَدَ بِهِ الْأَثَرُ.
Demikianlah datang dalam atsar.
وَفِي
الْخَبَرِ مَا يَدُلُّ عَلَيْهِ.
Dan dalam hadis ada yang menunjukkan hal itu.
إِذْ
وَرَدَ فِي الْغِيبَةِ أَنَّ الْمُسْتَمِعَ شَرِيكُ الْقَائِلِ (١).
Karena dalam bab ghibah disebutkan bahwa pendengar itu
adalah sekutu orang yang berkata (ghibah). (1)
وَكَذٰلِكَ
كُلُّ مَا يَقْدَحُ فِي صِحَّةِ الصَّلَاةِ.
Demikian pula segala hal yang merusak sahnya shalat.
مِنْ
نَجَاسَةٍ عَلَى ثَوْبِهِ لَا يَرَاهَا.
Seperti najis pada pakaiannya yang ia tidak lihat.
أَوِ
انْحِرَافٍ عَنِ الْقِبْلَةِ بِسَبَبِ ظَلَامٍ أَوْ عَمًى.
Atau menyimpang dari kiblat karena gelap atau buta.
فَكُلُّ
ذٰلِكَ تَجِبُ الْحِسْبَةُ فِيهِ.
Semua itu wajib dilakukan hisbah padanya.
وَمِنْهَا:
قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِاللَّحْنِ.
Di antaranya: membaca Al-Qur’an dengan lahn (kesalahan
tajwid/ucapan yang merusak).
يَجِبُ
النَّهْيُ عَنْهُ.
Wajib melarangnya.
وَيَجِبُ
تَلْقِينُ الصَّحِيحِ.
Dan wajib mengajarkan bacaan yang benar.
فَإِنْ
كَانَ الْمُعْتَكِفُ فِي الْمَسْجِدِ يُضَيِّعُ أَكْثَرَ أَوْقَاتِهِ فِي
أَمْثَالِ ذٰلِكَ.
Jika seorang yang i‘tikaf di masjid menyia-nyiakan
kebanyakan waktunya pada hal-hal semacam itu.
وَيَشْتَغِلُ
بِهِ عَنِ التَّطَوُّعِ وَالذِّكْرِ، فَلْيَشْتَغِلْ بِهِ.
Dan itu menyibukkannya dari shalat sunnah dan zikir, maka
hendaklah ia menyibukkan diri dengan mengajarkan dan memperbaiki
(bacaan/shalat).
فَإِنَّ
هٰذَا أَفْضَلُ لَهُ مِنْ ذِكْرِهِ وَتَطَوُّعِهِ.
Karena ini lebih utama baginya daripada zikir dan ibadah
sunnahnya.
لِأَنَّ
هٰذَا فَرْضٌ.
Sebab ini fardu.
وَهِيَ
قُرْبَةٌ تَتَعَدَّى فَائِدَتُهَا.
Dan ini ibadah yang manfaatnya meluas kepada orang lain.
فَهِيَ
أَوْشَكُ مِنْ نَافِلَةٍ تَقْتَصِرُ عَلَيْهِ فَائِدَتُهَا.
Maka ia lebih utama daripada amalan sunnah yang manfaatnya
hanya untuk dirinya.
وَإِنْ
كَانَ ذٰلِكَ يَمْنَعُهُ عَنِ الْوَرَّاقَةِ مَثَلًا، أَوْ عَنِ الْكَسْبِ الَّذِي
هُوَ طُعْمَتُهُ.
Jika hal itu menghalanginya dari pekerjaan menyalin kitab
(warraqah) misalnya, atau dari bekerja yang menjadi sumber makannya.
فَإِنْ
كَانَ مَعَهُ مِقْدَارُ كِفَايَتِهِ، لَزِمَهُ الِاشْتِغَالُ بِذٰلِكَ.
Jika ia memiliki kecukupan, maka wajib baginya menyibukkan
diri dengan itu.
وَلَمْ
يَجُزْ لَهُ تَرْكُ الْحِسْبَةِ لِطَلَبِ زِيَادَةِ الدُّنْيَا.
Dan tidak boleh baginya meninggalkan hisbah demi mencari
tambahan dunia.
وَإِنِ
احْتَاجَ إِلَى الْكَسْبِ لِقُوتِ يَوْمِهِ فَهُوَ عُذْرٌ لَهُ.
Namun jika ia butuh bekerja untuk makan hari itu, maka itu
uzur baginya.
فَيَسْقُطُ
الْوُجُوبُ عَنْهُ لِعَجْزِهِ.
Maka gugur kewajiban darinya karena ketidakmampuan.
وَالَّذِي
يُكْثِرُ اللَّحْنَ فِي الْقُرْآنِ إِنْ كَانَ قَادِرًا عَلَى التَّعَلُّمِ
فَلْيَمْتَنِعْ مِنَ الْقِرَاءَةِ قَبْلَ التَّعَلُّمِ.
Orang yang banyak salah dalam membaca Al-Qur’an, jika ia
mampu belajar, hendaknya ia menahan diri dari membaca sebelum belajar.
فَإِنَّهُ
عَاصٍ بِهِ.
Karena ia berdosa dengan itu.
وَإِنْ
كَانَ لَا يُطَاوِعُهُ اللِّسَانُ.
Jika lisannya tidak membantu (sulit membetulkan).
فَإِنْ
كَانَ أَكْثَرُ مَا يَقْرَؤُهُ لَحْنًا فَلْيَتْرُكْهُ.
Jika kebanyakan bacaannya salah, hendaknya ia tinggalkan.
وَلْيَجْتَهِدْ
فِي تَعَلُّمِ الْفَاتِحَةِ وَتَصْحِيحِهَا.
Dan hendaklah ia bersungguh-sungguh mempelajari Al-Fatihah
dan membetulkannya.
وَإِنْ
كَانَ الْأَكْثَرُ صَحِيحًا، وَلَيْسَ يَقْدِرُ عَلَى التَّسْوِيَةِ، فَلَا بَأْسَ
لَهُ أَنْ يَقْرَأَ.
Jika kebanyakan sudah benar, dan ia tidak mampu
menyempurnakan seluruhnya, maka tidak mengapa ia membaca.
وَلٰكِنْ
يَنْبَغِي أَنْ يَخْفِضَ بِهِ الصَّوْتَ حَتَّى لَا يَسْمَعَ غَيْرُهُ.
Namun sebaiknya ia merendahkan suara agar tidak didengar
orang lain.
وَلِمَنْعِهِ
سِرًّا مِنْهُ أَيْضًا وَجْهٌ.
Bahkan melarangnya secara diam-diam juga punya pertimbangan.
وَلٰكِنْ
إِذَا كَانَ ذٰلِكَ مُنْتَهَى قُدْرَتِهِ، وَكَانَ لَهُ أُنْسٌ بِالْقِرَاءَةِ
وَحِرْصٌ عَلَيْهَا، فَلَسْتُ أَرَى بِهِ بَأْسًا.
Namun bila itu batas kemampuannya, dan ia merasa nyaman
dengan bacaan serta sangat ingin membacanya, maka menurutku tidak mengapa.
وَاللّٰهُ
أَعْلَمُ.
Dan Allah lebih mengetahui.
وَمِنْهَا:
تَرَاسُلُ الْمُؤَذِّنِينَ فِي الْأَذَانِ.
Di antaranya: para muazin saling bersahut-sahutan dalam
azan.
وَتَطْوِيلُهُمْ
بِمَدِّ كَلِمَاتِهِ.
Dan memanjangkan azan dengan memanjangkan lafaz-lafaznya.
وَانْحِرَافُهُمْ
عَنْ صَوْبِ الْقِبْلَةِ بِجَمِيعِ الصَّدْرِ فِي الْحَيْعَلَتَيْنِ.
Dan berpaling dari arah kiblat dengan seluruh dada ketika
mengucapkan dua “hay‘alah” (hayya ‘alash shalah dan hayya ‘alal falah).
أَوِ
انْفِرَادُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ بِأَذَانٍ، وَلٰكِنْ مِنْ غَيْرِ تَوَقُّفٍ
إِلَى انْقِطَاعِ أَذَانِ الْآخَرِ.
Atau masing-masing mengazan sendiri, tetapi tanpa menunggu
azan yang lain selesai.
بِحَيْثُ
يَضْطَرِبُ عَلَى الْحَاضِرِينَ جَوَابُ الْأَذَانِ لِتَدَاخُلِ الْأَصْوَاتِ.
Sehingga jawaban azan menjadi kacau bagi orang yang hadir
karena suara saling bertumpuk.
فَكُلُّ
ذٰلِكَ مِنْكَرَاتٌ مَكْرُوهَةٌ.
Semua itu kemungkaran yang makruh.
يَجِبُ
تَعْرِيفُهَا.
Wajib diberi penjelasan (bahwa itu makruh).
فَإِنْ
صَدَرَتْ عَنْ مَعْرِفَةٍ فَيُسْتَحَبُّ الْمَنْعُ مِنْهَا وَالْحِسْبَةُ فِيهَا.
Jika dilakukan dengan sadar, dianjurkan mencegahnya dan
melakukan hisbah.
وَكَذٰلِكَ
إِذَا كَانَ لِلْمَسْجِدِ مُؤَذِّنٌ وَاحِدٌ وَهُوَ يُؤَذِّنُ قَبْلَ الصُّبْحِ.
Demikian pula bila masjid hanya punya satu muazin dan ia
berazan sebelum Subuh.
فَيَنْبَغِي
أَنْ يُمْنَعَ مِنَ الْأَذَانِ بَعْدَ الصُّبْحِ.
Maka sebaiknya ia dilarang berazan setelah masuk Subuh.
فَإِنَّ
ذٰلِكَ مُشَوِّشٌ لِلصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّاسِ.
Karena hal itu mengacaukan puasa dan shalat orang banyak.
إِلَّا
إِذَا عُرِفَ أَنَّهُ يُؤَذِّنُ قَبْلَ الصُّبْحِ حَتَّى لَا يُعَوَّلَ عَلَى
أَذَانِهِ فِي صَلَاةٍ وَتَرْكِ سَحُورٍ.
Kecuali bila diketahui bahwa ia memang selalu berazan
sebelum Subuh, sehingga azannya tidak dijadikan patokan untuk shalat dan
berhenti sahur.
أَوْ
كَانَ مَعَهُ مُؤَذِّنٌ آخَرُ مَعْرُوفُ الصَّوْتِ يُؤَذِّنُ مَعَ الصُّبْحِ.
Atau ada muazin lain yang suaranya dikenal, yang berazan
saat Subuh.
وَمِنَ
الْمَكْرُوهَاتِ أَيْضًا: تَكْثِيرُ الْأَذَانِ مَرَّةً بَعْدَ أُخْرَى بَعْدَ
طُلُوعِ الْفَجْرِ فِي مَسْجِدٍ وَاحِدٍ.
Termasuk makruh juga: memperbanyak azan berkali-kali setelah
terbit fajar dalam satu masjid.
فِي
أَوْقَاتٍ مُتَعَاقِبَةٍ مُتَقَارِبَةٍ، إِمَّا مِنْ وَاحِدٍ أَوْ جَمَاعَةٍ.
Pada waktu-waktu berurutan yang berdekatan, baik oleh satu
orang maupun beberapa orang.
فَإِنَّهُ
لَا فَائِدَةَ فِيهِ إِذَا لَمْ يَبْقَ فِي الْمَسْجِدِ نَائِمٌ.
Karena tidak ada manfaat bila sudah tidak ada orang tidur di
masjid.
وَلَمْ
يَكُنِ الصَّوْتُ مِمَّا يَخْرُجُ عَنِ الْمَسْجِدِ حَتَّى يُنَبِّهَ غَيْرَهُ.
Dan suaranya tidak keluar masjid sehingga membangunkan orang
di luar.
فَكُلُّ
ذٰلِكَ مِنَ الْمَكْرُوهَاتِ الْمُخَالِفَةِ لِسُنَّةِ الصَّحَابَةِ وَالسَّلَفِ.
Semua itu termasuk makruh yang menyelisihi sunnah sahabat
dan salaf.
وَمِنْهَا:
أَنْ يَكُونَ الْخَطِيبُ لَابِسًا لِثَوْبٍ أَسْوَدَ يَغْلِبُ عَلَيْهِ
الْإِبْرَيْسَمُ، أَوْ مُمْسِكًا لِسَيْفٍ مُذَهَّبٍ.
Di antaranya: khatib memakai pakaian hitam yang didominasi
sutra, atau memegang pedang berlapis emas.
فَهُوَ
فَاسِقٌ، وَالْإِنْكَارُ عَلَيْهِ وَاجِبٌ.
Maka ia fasik, dan wajib mengingkarinya.
وَأَمَّا
مُجَرَّدُ السَّوَادِ فَلَيْسَ بِمَكْرُوهٍ.
Adapun sekadar warna hitam, tidak makruh.
وَلٰكِنَّهُ
لَيْسَ بِمَحْبُوبٍ.
Namun itu tidak termasuk yang disukai.
إِذْ
أَحَبُّ الثِّيَابِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الْبِيضُ.
Karena pakaian yang paling disukai Allah Ta‘ala adalah yang
putih.
وَمَنْ
قَالَ: إِنَّهُ مَكْرُوهٌ وَبِدْعَةٌ، أَرَادَ بِهِ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ
مَعْهُودًا فِي الْعَصْرِ الْأَوَّلِ.
Siapa yang berkata bahwa itu makruh dan bid‘ah, maksudnya:
itu tidak dikenal pada masa awal.
وَلٰكِنْ
إِذَا لَمْ يَرِدْ فِيهِ نَهْيٌ، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُسَمَّى بِدْعَةً
وَمَكْرُوهًا.
Namun bila tidak ada larangan tentangnya, maka tidak
semestinya disebut bid‘ah dan makruh.
وَلٰكِنَّهُ
تَرْكٌ لِلْأَحَبِّ.
Melainkan itu meninggalkan yang lebih dicintai.
وَمِنْهَا:
كَلَامُ الْقُصَّاصِ وَالْوُعَّاظِ الَّذِينَ يَمْزُجُونَ بِكَلَامِهِمُ
الْبِدْعَةَ.
Di antaranya: ucapan para penceramah kisah (qushshash) dan
para penceramah (wu‘azh) yang mencampur perkataannya dengan bid‘ah.
فَالْقَاصُّ
إِنْ كَانَ يَكْذِبُ فِي أَخْبَارِهِ فَهُوَ فَاسِقٌ.
Seorang penceramah kisah jika berdusta dalam beritanya, maka
ia fasik.
وَالْإِنْكَارُ
عَلَيْهِ وَاجِبٌ.
Dan wajib mengingkarinya.
وَكَذٰلِكَ
الْوَاعِظُ الْمُبْتَدِعُ يَجِبُ مَنْعُهُ.
Demikian pula penceramah yang ahli bid‘ah: wajib dicegah.
وَلَا
يَجُوزُ حُضُورُ مَجْلِسِهِ إِلَّا عَلَى قَصْدِ إِظْهَارِ الرَّدِّ عَلَيْهِ.
Tidak boleh menghadiri majelisnya kecuali dengan niat
menampakkan bantahan kepadanya.
إِمَّا
لِلْكَافَّةِ إِنْ قَدَرَ عَلَيْهِ، أَوْ لِبَعْضِ الْحَاضِرِينَ حَوَالَيْهِ.
Baik untuk umum jika mampu, atau untuk sebagian hadirin di
sekitarnya.
فَإِنْ
لَمْ يَقْدِرْ فَلَا يَجُوزُ سَمَاعُ الْبِدَعِ.
Jika tidak mampu, maka tidak boleh mendengarkan bid‘ah.
قَالَ
اللَّهُ تَعَالَى لِنَبِيِّهِ: ﴿فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ
غَيْرِهِ﴾.
Allah Ta‘ala berfirman kepada Nabi-Nya: “Maka berpalinglah
dari mereka sampai mereka membicarakan pembicaraan selainnya.”
وَمَهْمَا
كَانَ كَلَامُهُ مَائِلًا إِلَى الْإِرْجَاءِ.
Jika ucapan penceramah condong kepada irjā’ (menunda ancaman
sehingga meremehkan dosa).
وَتَجْرِئَةِ
النَّاسِ عَلَى الْمَعَاصِي.
Dan membuat orang berani bermaksiat.
وَكَانَ
النَّاسُ يَزْدَادُونَ بِكَلَامِهِ جُرْأَةً.
Dan manusia semakin berani karena ucapannya.
وَبِعَفْوِ
اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ وَثُوقًا.
Dan semakin yakin (secara keliru) pada ampunan dan rahmat
Allah.
يَزِيدُ
بِسَبَبِهِ رَجَاؤُهُمْ عَلَى خَوْفِهِمْ.
Sehingga harapan mereka mengalahkan rasa takut mereka.
فَهُوَ
مُنْكَرٌ، وَيَجِبُ مَنْعُهُ عَنْهُ.
Maka itu mungkar, dan wajib mencegahnya.
لِأَنَّ
فَسَادَ ذٰلِكَ عَظِيمٌ.
Karena kerusakannya besar.
بَلْ
لَوْ رَجَحَ خَوْفُهُمْ عَلَى رَجَائِهِمْ فَذٰلِكَ أَلْيَقُ وَأَقْرَبُ بِطِبَاعِ
الْخَلْقِ.
Bahkan bila rasa takut mereka lebih dominan daripada harap
mereka, itu lebih layak dan lebih sesuai tabiat manusia.
فَإِنَّهُمْ
إِلَى الْخَوْفِ أَحْوَجُ.
Karena mereka lebih membutuhkan rasa takut.
وَإِنَّمَا
الْعَدْلُ تَعْدِيلُ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ.
Yang adil adalah menyeimbangkan rasa takut dan harap.
كَمَا
قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: لَوْ نَادَى مُنَادٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ:
لِيَدْخُلِ النَّارَ كُلُّ النَّاسِ إِلَّا رَجُلًا وَاحِدًا، لَرَجَوْتُ أَنْ
أَكُونَ أَنَا ذٰلِكَ الرَّجُلَ.
Sebagaimana ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seandainya
ada penyeru pada hari kiamat menyeru: ‘Semua manusia masuk neraka kecuali satu
orang’, niscaya aku berharap akulah orang itu.”
وَلَوْ
نَادَى مُنَادٍ: لِيَدْخُلِ الْجَنَّةَ كُلُّ النَّاسِ إِلَّا رَجُلًا وَاحِدًا،
لَخِفْتُ أَنْ أَكُونَ أَنَا ذٰلِكَ الرَّجُلَ.
“Dan seandainya ada penyeru menyeru: ‘Semua manusia masuk
surga kecuali satu orang’, niscaya aku takut akulah orang itu.”
وَمَهْمَا
كَانَ الْوَاعِظُ شَابًّا مُتَزَيِّنًا لِلنِّسَاءِ فِي ثِيَابِهِ وَهَيْئَتِهِ.
Jika penceramah itu pemuda yang berhias untuk perempuan
dengan pakaian dan penampilannya.
كَثِيرَ
الْأَشْعَارِ وَالْإِشَارَاتِ وَالْحَرَكَاتِ.
Banyak syair, isyarat, dan gerak-gerik.
وَقَدْ
حَضَرَ مَجْلِسَهُ النِّسَاءُ.
Dan perempuan hadir dalam majelisnya.
فَهٰذَا
مُنْكَرٌ يَجِبُ الْمَنْعُ مِنْهُ.
Maka ini mungkar dan wajib dicegah.
فَإِنَّ
الْفَسَادَ فِيهِ أَكْثَرُ مِنَ الصَّلَاحِ.
Karena kerusakannya lebih banyak daripada kebaikannya.
وَيَتَبَيَّنُ
ذٰلِكَ مِنْهُ بِقَرَائِنِ أَحْوَالِهِ.
Hal itu bisa diketahui dari indikasi keadaan dirinya.
بَلْ
لَا يَنْبَغِي أَنْ يُسَلَّمَ الْوَعْظُ إِلَّا لِمَنْ ظَاهِرُهُ الْوَرَعُ.
Bahkan tidak semestinya mimbar nasihat diserahkan kecuali
kepada orang yang tampak wara‘.
وَهَيْئَتُهُ
السَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ.
Dan penampilannya penuh ketenangan dan wibawa.
وَزِيُّهُ
زِيُّ الصَّالِحِينَ.
Dan gayanya adalah gaya orang saleh.
وَإِلَّا
فَلَا يَزْدَادُ النَّاسُ بِهِ إِلَّا تَمَادِيًا فِي الضَّلَالِ.
Kalau tidak, manusia tidak bertambah dengannya kecuali
semakin larut dalam kesesatan.
وَيَجِبُ
أَنْ يُضْرَبَ بَيْنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ حَائِلٌ يَمْنَعُ مِنَ النَّظَرِ.
Wajib dibuat penghalang antara laki-laki dan perempuan yang
mencegah pandangan.
فَإِنَّ
ذٰلِكَ أَيْضًا مَظِنَّةُ الْفَسَادِ.
Karena itu juga merupakan sarana kuat kerusakan.
وَالْعَادَاتُ
تَشْهَدُ لِهٰذِهِ الْمُنْكَرَاتِ.
Kebiasaan (realitas) membuktikan kemungkaran-kemungkaran
ini.
وَيَجِبُ
مَنْعُ النِّسَاءِ مِنْ حُضُورِ الْمَسَاجِدِ لِلصَّلَوَاتِ وَمَجَالِسِ الذِّكْرِ
إِذَا خِيفَتِ الْفِتْنَةُ بِهِنَّ.
Wajib mencegah perempuan menghadiri masjid untuk shalat dan
majelis zikir bila dikhawatirkan fitnah karena mereka.
فَقَدْ
مَنَعَتْهُنَّ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا.
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah melarang mereka.
فَقِيلَ
لَهَا: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مَنَعَهُنَّ
مِنَ الْجَمَاعَاتِ.
Lalu dikatakan kepadanya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam tidak melarang mereka dari jamaah.”
فَقَالَتْ:
لَوْ عَلِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَحْدَثْنَ
بَعْدَهُ لَمَنَعَهُنَّ (١).
Maka ia berkata: “Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelah beliau, niscaya beliau
akan melarang mereka.” (1)
وَأَمَّا
اجْتِيَازُ الْمَرْأَةِ فِي الْمَسْجِدِ مُسْتَتِرَةً فَلَا تُمْنَعُ مِنْهُ.
Adapun perempuan yang sekadar melintas di masjid dalam
keadaan menutup diri, maka tidak dilarang.
إِلَّا
أَنَّ الْأَوْلَى أَنْ لَا تَتَّخِذَ الْمَسْجِدَ مَجَازًا أَصْلًا.
Namun yang lebih utama, jangan menjadikan masjid sebagai
jalan lintasan.
وَقِرَاءَةُ
الْقُرَّاءِ بَيْنَ يَدَيِ الْوُعَّاظِ مَعَ التَّمْدِيدِ وَالْأَلْحَانِ.
Dan bacaan para qari di depan para penceramah dengan
pemanjangan dan lagu-lagu.
عَلَى
وَجْهٍ يُغَيِّرُ نَظْمَ الْقُرْآنِ وَيُجَاوِزُ حَدَّ التَّنْزِيلِ.
Dengan cara yang mengubah susunan bacaan Al-Qur’an dan
melampaui batas cara turunnya.
مُنْكَرٌ
مَكْرُوهٌ شَدِيدُ الْكَرَاهَةِ.
Itu kemungkaran yang makruh, sangat makruh.
أَنْكَرَهُ
جَمَاعَةٌ مِنَ السَّلَفِ.
Sejumlah salaf mengingkarinya.
وَمِنْهَا
الْحَلْقُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ لِبَيْعِ الْأَدْوِيَةِ وَالْأَطْعِمَةِ
وَالتَّعْوِيذَاتِ.
Di antaranya: membuat lingkaran (kerumunan) pada hari Jumat
untuk menjual obat-obatan, makanan, dan jimat-jimat (ta‘wīdz).
وَكَقِيَامِ
السُّؤَّالِ، وَقِرَاءَتِهِمُ الْقُرْآنَ، وَإِنْشَادِهِمُ الْأَشْعَارَ، وَمَا
يَجْرِي مَجْرَاهُ.
Dan seperti berdirinya para pengemis, bacaan Al-Qur’an
mereka, nyanyian syair mereka, dan yang sejenis.
فَهٰذِهِ
الْأَشْيَاءُ مِنْهَا مَا هُوَ مُحَرَّمٌ لِكَوْنِهِ تَلْبِيسًا وَكَذِبًا.
Perkara-perkara ini, sebagian ada yang haram karena
mengandung tipu daya dan kebohongan.
كَالْكَذَّابِينَ
مِنْ طُرُقِيَّةِ الْأَطِبَّاءِ.
Seperti para pendusta dari kalangan “dokter-dokter jalanan”
(tukang obat keliling).
وَكَأَهْلِ
الشَّعْبَذَةِ وَالتَّلْبِيسَاتِ.
Dan seperti para pelaku sulap/penipuan dan berbagai tipu
daya.
وَكَذٰلِكَ
أَرْبَابُ التَّعْوِيذَاتِ فِي الْأَغْلَبِ يَتَوَصَّلُونَ إِلَى بَيْعِهَا
بِتَلْبِيسَاتٍ عَلَى الصِّبْيَانِ وَالسَّوَادِيَّةِ.
Demikian pula para penjual jimat, pada umumnya mereka
menjualnya dengan berbagai tipu daya terhadap anak-anak dan orang awam.
فَهٰذَا
حَرَامٌ فِي الْمَسْجِدِ وَخَارِجَ الْمَسْجِدِ.
Maka ini haram di masjid dan di luar masjid.
وَيَجِبُ
الْمَنْعُ مِنْهُ.
Dan wajib dicegah.
بَلْ
كُلُّ بَيْعٍ فِيهِ كَذِبٌ وَتَلْبِيسٌ وَإِخْفَاءُ عَيْبٍ عَلَى الْمُشْتَرِي
فَهُوَ حَرَامٌ.
Bahkan setiap jual beli yang mengandung kebohongan, tipu
daya, dan menyembunyikan cacat dari pembeli, maka itu haram.
وَمِنْهَا
مَا هُوَ مُبَاحٌ خَارِجَ الْمَسْجِدِ كَالْخِيَاطَةِ وَبَيْعِ الْأَدْوِيَةِ
وَالْكُتُبِ وَالْأَطْعِمَةِ.
Sebagian lainnya mubah di luar masjid, seperti menjahit,
menjual obat-obatan, buku, dan makanan.
فَهٰذَا
فِي الْمَسْجِدِ أَيْضًا لَا يَحْرُمُ إِلَّا بِعَارِضٍ.
Di masjid pun pada asalnya tidak haram, kecuali karena
faktor tambahan.
وَهُوَ
أَنْ يُضَيِّقَ الْمَحَلَّ عَلَى الْمُصَلِّينَ وَيُشَوِّشَ عَلَيْهِمْ
صَلَاتَهُمْ.
Yaitu bila mempersempit tempat bagi orang shalat dan
mengacaukan shalat mereka.
فَإِنْ
لَمْ يَكُنْ شَيْءٌ مِنْ ذٰلِكَ فَلَيْسَ بِحَرَامٍ.
Jika tidak ada hal itu, maka tidak haram.
وَالْأَوْلَى
تَرْكُهُ.
Namun yang lebih utama adalah meninggalkannya.
وَلٰكِنْ
شَرْطُ إِبَاحَتِهِ أَنْ يَجْرِيَ فِي أَوْقَاتٍ نَادِرَةٍ وَأَيَّامٍ مَعْدُودَةٍ.
Tetapi syarat kebolehannya adalah dilakukan pada waktu-waktu
yang jarang dan hari-hari tertentu.
فَإِنَّ
اتِّخَاذَ الْمَسْجِدِ دُكَّانًا عَلَى الدَّوَامِ حَرُمَ ذٰلِكَ وَمُنِعَ مِنْهُ.
Karena menjadikan masjid sebagai kios secara terus-menerus
menjadi haram, dan harus dicegah.
فَمِنَ
الْمُبَاحَاتِ مَا يُبَاحُ بِشَرْطِ الْقِلَّةِ، فَإِنْ كَثُرَ صَارَ صَغِيرَةً.
Di antara perkara mubah ada yang menjadi boleh dengan syarat
sedikit; jika menjadi banyak, ia berubah menjadi dosa kecil.
كَمَا
أَنَّ مِنَ الذُّنُوبِ مَا يَكُونُ صَغِيرَةً بِشَرْطِ عَدَمِ الْإِصْرَارِ.
Sebagaimana ada dosa yang menjadi “kecil” dengan syarat
tidak terus-menerus dilakukan.
فَإِنْ
كَانَ الْقَلِيلُ مِنْ هٰذَا لَوْ فُتِحَ بَابُهُ خِيفَ مِنْهُ أَنْ يَنْجَرَّ
إِلَى الْكَثِيرِ، فَلْيُمْنَعْ مِنْهُ.
Jika sedikit dari perkara ini, bila dibuka pintunya,
dikhawatirkan menyeret kepada yang banyak, maka hendaknya dicegah.
وَلْيَكُنْ
هٰذَا الْمَنْعُ إِلَى الْوَالِي، أَوْ إِلَى الْقَيِّمِ بِمَصَالِحِ الْمَسْجِدِ
مِنْ قِبَلِ الْوَالِي.
Tetapi pencegahan ini hendaknya menjadi wewenang penguasa
atau petugas pengelola masjid yang ditunjuk penguasa.
لِأَنَّهُ
لَا يُدْرَكُ ذٰلِكَ بِالِاجْتِهَادِ.
Karena ini tidak bisa ditetapkan oleh ijtihad pribadi
semata.
وَلَيْسَ
لِلْآحَادِ الْمَنْعُ مِمَّا هُوَ مُبَاحٌ فِي نَفْسِهِ لِخَوْفِهِ أَنَّ ذٰلِكَ
يَكْثُرُ.
Dan individu tidak berhak melarang sesuatu yang pada dirinya
mubah hanya karena ia takut hal itu akan menjadi banyak.
وَمِنْهَا
دُخُولُ الْمَجَانِينِ وَالصِّبْيَانِ وَالسُّكَارَى فِي الْمَسْجِدِ.
Di antaranya: masuknya orang gila, anak-anak, dan orang
mabuk ke masjid.
وَلَا
بَأْسَ بِدُخُولِ الصَّبِيِّ الْمَسْجِدَ إِذَا لَمْ يَلْعَبْ.
Tidak mengapa anak masuk masjid jika ia tidak bermain.
وَلَا
يَحْرُمُ عَلَيْهِ اللَّعِبُ فِي الْمَسْجِدِ.
Dan bermain di masjid tidak haram mutlak baginya.
وَلَا
السُّكُوتُ عَلَى لَعِبِهِ.
Dan diam atas permainannya juga tidak haram (pada kadar
tertentu).
إِلَّا
إِذَا اتَّخَذَ الْمَسْجِدَ مَلْعَبًا، وَصَارَ ذٰلِكَ مُعْتَادًا.
Kecuali bila masjid dijadikan tempat bermain, dan itu
menjadi kebiasaan.
فَيَجِبُ
الْمَنْعُ مِنْهُ.
Maka wajib dicegah.
فَهٰذَا
مِمَّا يَحِلُّ قَلِيلُهُ دُونَ كَثِيرِهِ.
Ini termasuk perkara yang sedikitnya boleh, tetapi banyaknya
tidak.
وَدَلِيلُ
حِلِّ قَلِيلِهِ: مَا رُوِيَ فِي الصَّحِيحَيْنِ.
Dalil bolehnya kadar kecil: riwayat dalam Shahihain (Bukhari
dan Muslim).
أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَفَ لِأَجْلِ عَائِشَةَ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا حَتَّى نَظَرَتْ إِلَى الْحَبَشَةِ يَزْفِنُونَ
وَيَلْعَبُونَ بِالدِّرَقِ وَالْحِرَابِ يَوْمَ الْعِيدِ فِي الْمَسْجِدِ.
Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri demi
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sampai beliau melihat orang-orang Habasyah menari
dan bermain perisai serta tombak pada hari raya di masjid.
وَلَا
شَكَّ فِي أَنَّ الْحَبَشَةَ لَوِ اتَّخَذُوا الْمَسْجِدَ مَلْعَبًا لَمُنِعُوا
مِنْهُ.
Tidak diragukan, seandainya orang Habasyah menjadikan masjid
tempat bermain secara tetap, tentu mereka akan dilarang.
وَلَمْ
يُرَ ذٰلِكَ عَلَى النُّدْرَةِ وَالْقِلَّةِ مُنْكَرًا.
Tetapi yang terjadi secara jarang dan sedikit itu tidak
dipandang mungkar.
حَتَّى
نَظَرَ إِلَيْهِ.
Sampai Nabi sendiri melihatnya.
بَلْ
أَمَرَهُمْ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لِتُبْصِرَهُمْ عَائِشَةُ تَطْيِيبًا لِقَلْبِهَا.
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan
agar ‘Aisyah melihat mereka, untuk menyenangkan hatinya.
إِذْ
قَالَ: «دُونَكُمْ يَا بَنِي أَرْفِدَةَ».
Karena beliau bersabda: “Silakan kalian, wahai Bani
Arfidah.”
كَمَا
نَقَلْنَاهُ فِي كِتَابِ السَّمَاعِ.
Sebagaimana telah kami nukil dalam Kitab as-Samā‘.
وَأَمَّا
الْمَجَانِينُ فَلَا بَأْسَ بِدُخُولِهِمُ الْمَسْجِدَ.
Adapun orang gila, tidak mengapa mereka masuk masjid.
إِلَّا
أَنْ يُخْشَى تَلْوِيثُهُمْ لَهُ.
Kecuali bila dikhawatirkan mereka mengotorinya.
أَوْ
شَتْمُهُمْ.
Atau mereka mencaci.
أَوْ
نُطْقُهُمْ بِمَا هُوَ فُحْشٌ.
Atau mereka mengucapkan kata-kata keji.
أَوْ
تَعَاطِيهِمْ لِمَا هُوَ مُنْكَرٌ فِي صُورَتِهِ، كَكَشْفِ الْعَوْرَةِ وَغَيْرِهِ.
Atau mereka melakukan sesuatu yang tampak mungkar pada
bentuknya, seperti membuka aurat dan selainnya.
وَأَمَّا
الْمَجْنُونُ الْهَادِئُ السَّاكِنُ الَّذِي قَدْ عُلِمَ بِالْعَادَةِ سُكُونُهُ
وَسُكُوتُهُ فَلَا يَجِبُ إِخْرَاجُهُ مِنَ الْمَسْجِدِ.
Adapun orang gila yang tenang, diam, dan sudah diketahui
kebiasaannya tenang serta tidak berbuat apa-apa, maka tidak wajib
mengeluarkannya dari masjid.
وَالسَّكْرَانُ
فِي مَعْنَى الْمَجْنُونِ.
Orang mabuk dalam hal ini seperti orang gila.
فَإِنْ
خِيفَ مِنْهُ الْقَذْفُ أَعْنِي الْقَيْءَ، أَوِ الْإِيذَاءُ بِاللِّسَانِ، وَجَبَ
إِخْرَاجُهُ.
Jika dikhawatirkan darinya “qadzf” maksudnya muntah, atau
mengganggu dengan lisan, maka wajib dikeluarkan.
وَكَذٰلِكَ
لَوْ كَانَ مُضْطَرِبَ الْعَقْلِ، فَإِنَّهُ يُخَافُ ذٰلِكَ مِنْهُ.
Demikian pula bila akalnya kacau, karena dikhawatirkan hal
itu darinya.
وَإِنْ
كَانَ قَدْ شَرِبَ وَلَمْ يَسْكَرْ.
Meskipun ia telah minum tetapi belum mabuk.
وَالرَّائِحَةُ
مِنْهُ تَفُوحُ.
Namun baunya menyengat.
فَهُوَ
مُنْكَرٌ مَكْرُوهٌ شَدِيدُ الْكَرَاهَةِ.
Maka itu kemungkaran yang makruh, sangat makruh.
وَكَيْفَ
لَا؟
Dan bagaimana mungkin tidak?
وَمَنْ
أَكَلَ الثُّومَ وَالْبَصَلَ (١) فَقَدْ نَهَاهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ حُضُورِ الْمَسَاجِدِ.
Orang yang makan bawang putih dan bawang merah, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam melarangnya menghadiri masjid. (1)
وَلٰكِنْ
يُحْمَلُ ذٰلِكَ عَلَى الْكَرَاهَةِ.
Namun hal itu dipahami sebagai kemakruhan.
وَالْأَمْرُ
فِي الْخَمْرِ أَشَدُّ.
Sedangkan perkara khamar lebih berat.
فَإِنْ
قَالَ قَائِلٌ: يَنْبَغِي أَنْ يُضْرَبَ السَّكْرَانُ وَيُخْرَجَ مِنَ الْمَسْجِدِ
زَجْرًا.
Jika ada yang berkata: “Semestinya orang mabuk dipukul dan
dikeluarkan dari masjid sebagai efek jera.”
قُلْنَا:
لَا.
Kami menjawab: “Tidak.”
بَلْ
يَنْبَغِي الْقُعُودُ فِي الْمَسْجِدِ، وَيُدْعَى إِلَيْهِ، وَيُؤْمَرُ بِتَرْكِ
الشُّرْبِ.
Bahkan sebaiknya tetap duduk di masjid, orang itu dipanggil,
dan diperintahkan untuk meninggalkan minum.
مَهْمَا
كَانَ فِي الْحَالِ عَاقِلًا.
Selama saat itu ia masih berakal.
فَأَمَّا
ضَرْبُهُ لِلزَّجْرِ فَلَيْسَ ذٰلِكَ إِلَى الْآحَادِ.
Adapun memukulnya untuk memberi efek jera, itu bukan
wewenang individu.
بَلْ
هُوَ إِلَى الْوُلَاةِ.
Melainkan wewenang penguasa.
وَذٰلِكَ
عِنْدَ إِقْرَارِهِ أَوْ شَهَادَةِ شَاهِدَيْنِ.
Dan itu dilakukan bila ia mengaku atau ada dua saksi.
فَأَمَّا
لِمُجَرَّدِ الرَّائِحَةِ فَلَا.
Adapun hanya karena bau semata, maka tidak.
نَعَمْ،
إِذَا كَانَ يَمْشِي بَيْنَ النَّاسِ مُتَمَايِلًا، بِحَيْثُ يُعْرَفُ سُكْرُهُ،
فَيَجُوزُ ضَرْبُهُ فِي الْمَسْجِدِ وَغَيْرِ الْمَسْجِدِ.
Namun jika ia berjalan di tengah orang banyak dengan
sempoyongan hingga mabuknya jelas, maka boleh memukulnya di masjid maupun di
luar masjid.
مَنْعًا
لَهُ عَنْ إِظْهَارِ أَثَرِ السُّكْرِ.
Untuk mencegahnya menampakkan bekas mabuk.
فَإِنَّ
إِظْهَارَ أَثَرِ الْفَاحِشَةِ فَاحِشَةٌ.
Karena menampakkan bekas perbuatan keji adalah perbuatan
keji.
وَالْمَعَاصِي
يَجِبُ تَرْكُهَا.
Maksiat wajib ditinggalkan.
وَبَعْدَ
الْفِعْلِ يَجِبُ سَتْرُهَا وَسَتْرُ آثَارِهَا.
Dan setelah terjadi pun wajib menutupinya dan menutup
bekas-bekasnya.
فَإِنْ
كَانَ مُسْتَتِرًا مُخْفِيًا لِأَثَرِهِ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُتَجَسَّسَ عَلَيْهِ.
Jika ia menutup diri dan menyembunyikan bekasnya, maka tidak
boleh memata-matai dirinya.
وَالرَّائِحَةُ
قَدْ تَفُوحُ مِنْ غَيْرِ شُرْبٍ.
Dan bau bisa menyengat bukan karena minum.
بِالْجُلُوسِ
فِي مَوْضِعِ الْخَمْرِ.
Misalnya karena duduk di tempat khamar.
وَبِوُصُولِهِ
إِلَى الْفَمِ دُونَ الِابْتِلَاعِ.
Atau karena sampai ke mulut tanpa tertelan.
فَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يُعَوَّلَ عَلَيْهِ.
Maka tidak semestinya bau dijadikan pegangan utama.
مُنْكَرَاتُ
الْأَسْوَاقِ
Kemungkaran-kemungkaran di pasar.
مِنَ
الْمُنْكَرَاتِ الْمُعْتَادَةِ فِي الْأَسْوَاقِ: الْكَذِبُ فِي الْمُرَابَحَةِ
وَإِخْفَاءُ الْعَيْبِ.
Di antara kemungkaran yang lazim di pasar: berdusta dalam
jual-beli murabahah dan menyembunyikan cacat barang.
فَمَنْ
قَالَ: اشْتَرَيْتُ هٰذِهِ السِّلْعَةَ مَثَلًا بِعَشَرَةٍ، وَأَرْبَحُ فِيهَا
كَذَا، وَكَانَ كَاذِبًا، فَهُوَ فَاسِقٌ.
Siapa berkata: “Aku membeli barang ini misalnya dengan harga
sepuluh, dan aku ambil untung sekian,” padahal ia berdusta, maka ia fasik.
وَعَلَى
مَنْ عَرَفَ ذٰلِكَ أَنْ يُخْبِرَ الْمُشْتَرِيَ بِكَذِبِهِ.
Orang yang mengetahui hal itu wajib memberitahu pembeli
bahwa penjual itu berdusta.
فَإِنْ
سَكَتَ مُرَاعَاةً لِقَلْبِ الْبَائِعِ، كَانَ شَرِيكًا لَهُ فِي الْخِيَانَةِ.
Jika ia diam demi menjaga perasaan penjual, maka ia menjadi
sekutu dalam pengkhianatan.
وَعَصَى
بِسُكُوتِهِ.
Dan ia berdosa karena diamnya.
وَكَذٰلِكَ
إِذَا عَلِمَ بِهِ عَيْبًا، فَيَلْزَمُهُ أَنْ يُنَبِّهَ الْمُشْتَرِيَ عَلَيْهِ.
Demikian pula bila ia tahu ada cacat barang, wajib ia
mengingatkan pembeli tentang cacat itu.
وَإِلَّا
كَانَ رَاضِيًا بِضَيَاعِ مَالِ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ، وَهُوَ حَرَامٌ.
Jika tidak, berarti ia rela harta saudaranya sesama muslim
hilang, dan itu haram.
وَكَذٰلِكَ
التَّفَاوُتُ فِي الذِّرَاعِ وَالْمِكْيَالِ وَالْمِيزَانِ.
Demikian pula kecurangan dalam ukuran hasta (panjang),
takaran, dan timbangan.
يَجِبُ
عَلَى كُلِّ مَنْ عَرَفَهُ تَغْيِيرُهُ بِنَفْسِهِ، أَوْ رَفْعُهُ إِلَى الْوَالِي
حَتَّى يُغَيِّرَهُ.
Wajib bagi setiap orang yang mengetahui, mengubahnya sendiri
atau melaporkannya kepada penguasa agar penguasa mengubahnya.
وَمِنْهَا
تَرْكُ الْإِيجَابِ وَالْقَبُولِ وَالِاكْتِفَاءُ بِالْمُعَاطَاةِ.
Di antaranya: meninggalkan ijab dan kabul dan cukup dengan
serah-terima langsung (mu‘āthāh).
وَلٰكِنْ
ذٰلِكَ فِي مَحَلِّ الِاجْتِهَادِ.
Namun itu berada dalam ranah ijtihad.
فَلَا
يُنْكَرُ إِلَّا عَلَى مَنِ اعْتَقَدَ وُجُوبَهُ.
Maka tidak diingkari kecuali pada orang yang meyakini
kewajibannya (lalu ia menyelisihinya).
وَكَذٰلِكَ
فِي الشُّرُوطِ الْفَاسِدَةِ الْمُعْتَادَةِ بَيْنَ النَّاسِ.
Demikian pula syarat-syarat rusak yang biasa berlaku di
tengah masyarakat.
يَجِبُ
الْإِنْكَارُ فِيهَا.
Wajib diingkari.
فَإِنَّهَا
مُفْسِدَةٌ لِلْعُقُودِ.
Karena itu merusak akad.
وَكَذٰلِكَ
فِي الرِّبَوِيَّاتِ كُلِّهَا، وَهِيَ غَالِبَةٌ.
Demikian pula pada semua transaksi riba, dan itu sangat
dominan (terjadi).
وَكَذٰلِكَ
سَائِرُ التَّصَرُّفَاتِ الْفَاسِدَةِ.
Demikian pula seluruh transaksi yang rusak.
وَمِنْهَا:
بَيْعُ الْمَلَاهِي.
Di antaranya: menjual alat-alat maksiat.
وَبَيْعُ
أَشْكَالِ الْحَيَوَانَاتِ الْمُصَوَّرَةِ فِي أَيَّامِ الْعِيدِ لِأَجْلِ
الصِّبْيَانِ.
Dan menjual bentuk-bentuk hewan bergambar pada hari raya
untuk anak-anak.
فَتِلْكَ
يَجِبُ كَسْرُهَا وَالْمَنْعُ مِنْ بَيْعِهَا كَالْمَلَاهِي.
Maka itu wajib dipecahkan dan dilarang diperjualbelikan
seperti alat maksiat.
وَكَذٰلِكَ
بَيْعُ الْأَوَانِي الْمُتَّخَذَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ.
Demikian pula menjual bejana yang dibuat dari emas dan
perak.
وَكَذٰلِكَ
بَيْعُ ثِيَابِ الْحَرِيرِ.
Demikian pula menjual pakaian sutra.
وَقَلَانِسِ
الذَّهَبِ وَالْحَرِيرِ.
Dan kopiah-kopiah emas dan sutra.
أَعْنِي
الَّتِي لَا تَصْلُحُ إِلَّا لِلرِّجَالِ.
Maksudnya yang tidak layak kecuali untuk laki-laki.
أَوْ
يُعْلَمُ بِعَادَةِ الْبَلَدِ أَنَّهُ لَا يَلْبَسُهَا إِلَّا الرِّجَالُ.
Atau yang diketahui dari kebiasaan negeri bahwa yang
memakainya hanya laki-laki.
فَكُلُّ
ذٰلِكَ مُنْكَرٌ مَحْظُورٌ.
Semua itu kemungkaran yang haram.
وَكَذٰلِكَ
مَنْ يَعْتَادُ بَيْعَ الثِّيَابِ الْمُبْتَذَلَةِ الْمَقْصُورَةِ.
Demikian pula orang yang biasa menjual pakaian yang sudah
lusuh, pendek, dan murah (kualitasnya).
الَّتِي
يُلَبِّسُ عَلَى النَّاسِ بِقُصَارَتِهَا وَابْتِذَالِهَا.
Yang ia menipu orang dengan menutupi cacat “kependekan dan
kelusuhannya”.
وَيَزْعُمُ
أَنَّهَا جَدِيدَةٌ.
Sambil mengklaim bahwa itu baru.
فَهٰذَا
الْفِعْلُ حَرَامٌ، وَالْمَنْعُ مِنْهُ وَاجِبٌ.
Perbuatan ini haram dan wajib dicegah.
وَكَذٰلِكَ
تَلْبِيسُ انْخِرَاقِ الثِّيَابِ بِالرَّفْوِ.
Demikian pula menipu tentang robeknya pakaian dengan jahitan
tambal sulam.
وَمَا
يُؤَدِّي إِلَى الِالْتِبَاسِ.
Dan apa pun yang menimbulkan kekeliruan.
وَكَذٰلِكَ
جَمِيعُ أَنْوَاعِ الْعُقُودِ الْمُؤَدِّيَةِ إِلَى التَّلْبِيسَاتِ.
Demikian pula semua jenis akad yang mengantarkan kepada
penipuan.
وَذٰلِكَ
يَطُولُ إِحْصَاؤُهُ.
Dan ini panjang untuk dihitung satu per satu.
فَلْيُقَسْ
بِمَا ذَكَرْنَاهُ مَا لَمْ نَذْكُرْهُ.
Maka hendaknya diqiyaskan dari yang kami sebutkan terhadap
yang belum kami sebutkan.
مُنْكَرَاتُ
الشَّوَارِعِ
Kemungkaran-kemungkaran di jalanan.
فَمِنَ
الْمُنْكَرَاتِ الْمُعْتَادَةِ فِيهَا: وَضْعُ الْأُسْطُوَانَاتِ، وَبِنَاءُ
الدَّكَاكِ مُتَّصِلَةً بِالْأَبْنِيَةِ الْمَمْلُوكَةِ.
Di antara kemungkaran yang biasa terjadi di jalan:
meletakkan tiang-tiang, membangun bangku/teras (dakāk) yang menyambung ke
bangunan milik pribadi.
وَغَرْسُ
الْأَشْجَارِ.
Dan menanam pohon.
وَإِخْرَاجُ
الرَّوَاشِنِ وَالْأَجْنِحَةِ.
Dan membuat jendela menjorok (rawāsyin) dan tonjolan/kanopi
(ajniḥah).
وَوَضْعُ
الْخَشَبِ.
Dan menaruh kayu.
وَأَحْمَالِ
الْحُبُوبِ وَالْأَطْعِمَةِ عَلَى الطُّرُقِ.
Dan menaruh barang-barang seperti muatan gandum dan makanan
di jalan.
فَكُلُّ
ذٰلِكَ مُنْكَرٌ إِنْ كَانَ يُؤَدِّي إِلَى تَضْيِيقِ الطُّرُقِ وَاسْتِضْرَارِ
الْمَارَّةِ.
Semua itu mungkar jika menyebabkan jalan menyempit dan
membahayakan orang lewat.
وَإِنْ
لَمْ يُؤَدِّ إِلَى ضَرَرٍ أَصْلًا لِسَعَةِ الطَّرِيقِ فَلَا يُمْنَعُ مِنْهُ.
Jika sama sekali tidak menimbulkan bahaya karena jalan luas,
maka tidak dilarang.
نَعَمْ،
يَجُوزُ وَضْعُ الْحَطَبِ وَأَحْمَالِ الْأَطْعِمَةِ فِي الطَّرِيقِ فِي الْقَدْرِ
الَّذِي يُنْقَلُ إِلَى الْبُيُوتِ.
Namun boleh menaruh kayu bakar dan muatan makanan di jalan
sebatas yang diperlukan untuk memindahkannya ke rumah.
فَإِنَّ
ذٰلِكَ يَشْتَرِكُ فِي الْحَاجَةِ إِلَيْهِ الْكَافَّةُ.
Karena semua orang membutuhkan hal itu.
وَلَا
يُمْكِنُ الْمَنْعُ مِنْهُ.
Dan tidak mungkin dilarang sama sekali.
وَكَذٰلِكَ
رَبْطُ الدَّوَابِّ عَلَى الطَّرِيقِ بِحَيْثُ يَضِيقُ الطَّرِيقُ وَيُنَجِّسُ
الْمُجْتَازِينَ مُنْكَرٌ.
Demikian pula mengikat hewan di jalan sampai jalan menyempit
dan membuat orang lewat terkena najis, itu mungkar.
يَجِبُ
الْمَنْعُ مِنْهُ.
Wajib dicegah.
إِلَّا
بِقَدْرِ حَاجَةِ النُّزُولِ وَالرُّكُوبِ.
Kecuali sebatas kebutuhan turun dan naik (kendaraan/hewan
tunggangan).
وَهٰذَا
لِأَنَّ الشَّوَارِعَ مُشْتَرَكَةُ الْمَنْفَعَةِ.
Ini karena jalan-jalan adalah fasilitas bersama.
وَلَيْسَ
لِأَحَدٍ أَنْ يَخْتَصَّ بِهَا إِلَّا بِقَدْرِ الْحَاجَةِ.
Tidak ada seorang pun boleh mengkhususkannya untuk dirinya
kecuali sebatas kebutuhan.
وَالْمُرَاعَى
هُوَ الْحَاجَةُ الَّتِي تَرِدُ الشَّوَارِعُ لِأَجْلِهَا فِي الْعَادَةِ دُونَ
سَائِرِ الْحَاجَاتِ.
Yang dijadikan ukuran adalah kebutuhan yang secara kebiasaan
memang menjadi tujuan adanya jalan, bukan kebutuhan-kebutuhan lain.
وَمِنْهَا:
سَوْقُ الدَّوَابِّ وَعَلَيْهَا الشَّوْكُ بِحَيْثُ يُمَزِّقُ ثِيَابَ النَّاسِ.
Di antaranya: menggiring hewan yang membawa duri hingga
merobek pakaian orang.
فَذٰلِكَ
مُنْكَرٌ إِنْ أَمْكَنَ شَدُّهَا وَضَمُّهَا بِحَيْثُ لَا تُمَزِّقُ.
Maka itu mungkar bila duri itu bisa diikat dan dirapatkan
agar tidak merobek.
أَوْ
أَمْكَنَ الْعُدُولُ بِهَا إِلَى مَوْضِعٍ وَاسِعٍ.
Atau bila bisa dialihkan ke tempat yang lebih lapang.
وَإِلَّا
فَلَا مَنْعَ.
Jika tidak bisa, maka tidak dilarang.
إِذْ
حَاجَةُ أَهْلِ الْبَلَدِ تَمَسُّ إِلَى ذٰلِكَ.
Karena kebutuhan penduduk negeri menuntut hal itu.
نَعَمْ،
لَا تُتْرَكُ مُلْقَاةً عَلَى الشَّوَارِعِ إِلَّا بِقَدْرِ مُدَّةِ النَّقْلِ.
Namun, duri itu tidak boleh dibiarkan tergeletak di jalan
kecuali selama waktu pemindahan.
وَكَذٰلِكَ
تَحْمِيلُ الدَّوَابِّ مِنَ الْأَحْمَالِ مَا لَا تُطِيقُهُ مُنْكَرٌ.
Demikian pula membebani hewan dengan muatan yang tidak mampu
ditanggungnya adalah mungkar.
يَجِبُ
مَنْعُ الْمُلَّاكِ مِنْهُ.
Wajib mencegah para pemilik melakukannya.
وَكَذٰلِكَ
ذَبْحُ الْقَصَّابِ إِذَا كَانَ يَذْبَحُ فِي الطَّرِيقِ حِذَاءَ بَابِ
الْحَانُوتِ.
Demikian pula tukang daging jika menyembelih di jalan tepat
di depan pintu toko.
وَيُلَوِّثُ
الطَّرِيقَ بِالدَّمِ.
Dan mengotori jalan dengan darah.
فَإِنَّهُ
مُنْكَرٌ يُمْنَعُ مِنْهُ.
Maka itu mungkar dan harus dicegah.
بَلْ
حَقُّهُ أَنْ يَتَّخِذَ فِي دُكَّانِهِ مَذْبَحًا.
Bahkan seharusnya ia membuat tempat sembelih di dalam
tokonya.
فَإِنَّ
فِي ذٰلِكَ تَضْيِيقًا بِالطَّرِيقِ.
Karena itu mempersempit jalan.
وَإِضْرَارًا
بِالنَّاسِ بِسَبَبِ تَرْشِيشِ النَّجَاسَةِ.
Dan membahayakan orang karena percikan najis.
وَبِسَبَبِ
اسْتِقْذَارِ الطِّبَاعِ لِلْقَاذُورَاتِ.
Dan karena tabiat manusia merasa jijik terhadap kotoran.
وَكَذٰلِكَ
طَرْحُ الْقُمَامَةِ عَلَى جَوَادِّ الطُّرُقِ.
Demikian pula membuang sampah di jalan utama.
وَتَبْدِيدُ
قُشُورِ الْبِطِّيخِ.
Dan menyebarkan kulit semangka.
أَوْ
رَشُّ الْمَاءِ بِحَيْثُ يُخْشَى مِنْهُ التَّزَلُّقُ وَالتَّعَثُّرُ.
Atau menyiram air sampai dikhawatirkan orang terpeleset dan
tersandung.
كُلُّ
ذٰلِكَ مِنَ الْمُنْكَرَاتِ.
Semua itu termasuk kemungkaran.
وَكَذٰلِكَ
إِرْسَالُ الْمَاءِ مِنَ الْمَيَازِيبِ الْمُخْرَجَةِ مِنَ الْحَائِطِ فِي
الطُّرُقِ الضَّيِّقَةِ.
Demikian pula mengalirkan air dari talang yang keluar dari
dinding ke jalan yang sempit.
فَإِنَّ
ذٰلِكَ يُنَجِّسُ الثِّيَابَ.
Karena itu menajiskan pakaian.
أَوْ
يُضَيِّقُ الطَّرِيقَ.
Atau mempersempit jalan.
فَلَا
يُمْنَعُ مِنْهُ فِي الطُّرُقِ الْوَاسِعَةِ، إِذِ الْعُدُولُ عَنْهُ مُمْكِنٌ.
Hal itu tidak dilarang pada jalan yang luas, karena
menghindarinya memungkinkan.
فَأَمَّا
تَرْكُ مِيَاهِ الْمَطَرِ وَالْأَوْحَالِ وَالثُّلُوجِ فِي الطُّرُقِ مِنْ غَيْرِ
كَسْحٍ فَذٰلِكَ مُنْكَرٌ.
Adapun membiarkan air hujan, lumpur, dan salju di jalan
tanpa disingkirkan, maka itu mungkar.
وَلٰكِنْ
لَا يَخْتَصُّ بِهِ شَخْصٌ مُعَيَّنٌ.
Namun tidak terkait pada orang tertentu.
إِلَّا
الثَّلْجَ الَّذِي يَخْتَصُّ بِطَرْحِهِ عَلَى الطَّرِيقِ وَاحِدٌ.
Kecuali salju yang dilempar ke jalan oleh orang tertentu.
وَالْمَاءُ
الَّذِي يَجْتَمِعُ عَلَى الطَّرِيقِ مِنْ مِيزَابٍ مُعَيَّنٍ.
Dan air yang berkumpul di jalan dari satu talang tertentu.
فَعَلَى
صَاحِبِهِ عَلَى الْخُصُوصِ كَسْحُ الطَّرِيقِ.
Maka pemiliknya khususnya wajib membersihkan jalan.
وَإِنْ
كَانَ مِنَ الْمَطَرِ فَذٰلِكَ حِسْبَةٌ عَامَّةٌ.
Jika itu dari hujan umum, maka itu hisbah umum.
فَعَلَى
الْوُلَاةِ تَكْلِيفُ النَّاسِ الْقِيَامَ بِهَا.
Penguasa harus menugaskan orang-orang untuk melakukannya.
وَلَيْسَ
لِلْآحَادِ فِيهَا إِلَّا الْوَعْظُ فَقَطْ.
Dan individu hanya bisa menasihati saja.
وَكَذٰلِكَ
إِذَا كَانَ لَهُ كَلْبٌ عَقُورٌ عَلَى بَابِ دَارِهِ يُؤْذِي النَّاسَ فَيَجِبُ
مَنْعُهُ مِنْهُ.
Demikian pula bila seseorang memiliki anjing galak di pintu
rumahnya yang menyakiti orang, maka wajib mencegahnya.
وَإِنْ
كَانَ لَا يُؤْذِي إِلَّا بِتَنْجِيسِ الطَّرِيقِ، وَكَانَ يُمْكِنُ الِاحْتِرَازُ
عَنْ نَجَاسَتِهِ، لَمْ يُمْنَعْ مِنْهُ.
Jika ia hanya mengganggu dengan menajiskan jalan, tetapi
najisnya bisa dihindari, maka tidak dilarang.
وَإِنْ
كَانَ يُضَيِّقُ الطَّرِيقَ بِبَسْطِهِ ذِرَاعَيْهِ، فَيُمْنَعُ مِنْهُ.
Namun bila ia mempersempit jalan dengan membentangkan kedua
lengan/kakinya, maka dilarang.
بَلْ
يُمْنَعُ صَاحِبُهُ مِنْ أَنْ يَنَامَ عَلَى الطَّرِيقِ، أَوْ يَقْعُدَ قُعُودًا
يُضَيِّقُ الطَّرِيقَ.
Bahkan pemiliknya dilarang tidur di jalan atau duduk yang
menyempitkan jalan.
فَكَلْبُهُ
أَوْلَى بِالْمَنْعِ.
Maka anjingnya lebih patut dilarang.
مُنْكَرَاتُ
الْحَمَّامَاتِ
Kemungkaran-kemungkaran di pemandian umum.
مِنْهَا:
الصُّورَةُ الَّتِي تَكُونُ عَلَى بَابِ الْحَمَّامِ، أَوْ دَاخِلَ الْحَمَّامِ.
Di antaranya: gambar makhluk bernyawa yang berada di pintu
pemandian atau di dalam pemandian.
يَجِبُ
إِزَالَتُهَا عَلَى كُلِّ مَنْ يَدْخُلُهَا إِنْ قَدَرَ.
Wajib menghilangkannya bagi setiap orang yang masuk, jika ia
mampu.
فَإِنْ
كَانَ الْمَوْضِعُ مُرْتَفِعًا لَا تَصِلُ إِلَيْهِ يَدُهُ، فَلَا يَجُوزُ لَهُ
الدُّخُولُ إِلَّا لِضَرُورَةٍ.
Jika tempatnya tinggi dan tangannya tidak sampai, maka tidak
boleh masuk kecuali karena darurat.
فَلْيَعْدِلْ
إِلَى حَمَّامٍ آخَرَ.
Maka hendaklah ia memilih pemandian yang lain.
فَإِنَّ
مُشَاهَدَةَ الْمُنْكَرِ غَيْرُ جَائِزَةٍ.
Karena menyaksikan kemungkaran itu tidak dibolehkan.
وَيَكْفِيهِ
أَنْ يُشَوِّهَ وَجْهَهَا وَيُبْطِلَ بِهِ صُورَتَهَا.
Cukup baginya merusak wajah gambar itu sehingga bentuknya
tidak lagi menjadi “gambar”.
وَلَا
يُمْنَعُ مِنْ صُوَرِ الْأَشْجَارِ وَسَائِرِ النُّقُوشِ سِوَى صُورَةِ
الْحَيَوَانِ.
Gambar pepohonan dan ragam ukiran lainnya tidak dilarang,
kecuali gambar hewan (makhluk bernyawa).