Rukun dan Syarat (5)
الدَّرَجَةُ السَّادِسَةُ
Tingkat Keenam
التَّهْدِيْدُ وَالتَّخْوِيْفُ كَقَوْلِهِ: دَعْ عَنْكَ هَذَا، أَوْ لَأَكْسِرَنَّ رَأْسَكَ، أَوْ لَأَضْرِبَنَّ رَقَبَتَكَ، أَوْ لَآَمُرَنَّ بِكَ، وَمَا أَشْبَهَهُ.
Ancaman dan penakut-nakutan, seperti ucapannya: "Hentikan perbuatanmu ini, atau akan kupecahkan kepalamu, atau akan kupenggal lehermu, atau akan kuperintahkan (petugas) untuk menangkapmu," dan yang serupa dengan itu.
وَهَذَا يَنْبَغِي أَنْ يُقَدَّمَ عَلَى تَحْقِيْقِ الضَّرْبِ إِذَا أَمْكَنَ تَقْدِيْمُهُ.
Hal ini hendaknya didahulukan sebelum benar-benar melakukan pemukulan, jika memang memungkinkan untuk didahulukan.
وَالْأَدَبُ فِي هَذِهِ الرُّتْبَةِ أَنْ لَا يُهَدِّدَهُ بِوَعِيْدٍ لَا يَجُوْزُ لَهُ تَحْقِيْقُهُ، كَقَوْلِهِ: لَأَنْهَبَنَّ دَارَكَ، أَوْ لَأَضْرِبَنَّ وَلَدَكَ، أَوْ لَأَسْبِيَنَّ زَوْجَتَكَ، وَمَا يَجْرِي مَجْرَاهُ.
Adab pada tingkatan ini adalah hendaknya dia tidak mengancam dengan ancaman yang tidak boleh baginya untuk dilaksanakan, seperti ucapannya: "Akan kurampas rumahmu, atau akan kupukul anakmu, atau akan kutawan istrimu," dan hal-hal yang sejenisnya.
بَلْ ذَلِكَ إِنْ قَالَهُ عَنْ عَزْمٍ فَهُوَ حَرَامٌ، وَإِنْ قَالَهُ مِنْ غَيْرِ عَزْمٍ فَهُوَ كَذِبٌ.
Bahkan, jika hal itu diucapkan dengan niat sungguh-sungguh maka hukumnya haram, dan jika diucapkan tanpa niat sungguh-sungguh maka itu adalah kedustaan.
نَعَمْ، إِذَا تَعَرَّضَ لِوَعِيْدِهِ بِالضَّرْبِ وَالِاسْتِخْفَافِ فَلَهُ الْعَزْمُ عَلَيْهِ إِلَى حَدٍّ مَعْلُوْمٍ يَقْتَضِيْهِ الْحَالُ.
Benar, jika ia memberikan ancaman berupa pemukulan atau penghinaan, maka ia boleh berniat sungguh-sungguh untuk melakukannya sampai batas tertentu yang memang dibutuhkan oleh situasi tersebut.
وَلَهُ أَنْ يَزِيْدَ فِي الْوَعِيْدِ عَلَى مَا هُوَ فِي عَزْمِهِ الْبَاطِنِ إِذَا عَلِمَ أَنَّ ذَلِكَ يَقْمَعُهُ وَيَرْدَعُهُ.
Ia juga boleh melebih-lebihkan ancamannya dari apa yang sebenarnya tersimpan dalam niat batinnya, apabila ia mengetahui bahwa hal tersebut dapat menekan dan mencegah si pelaku maksiat.
وَلَيْسَ ذَلِكَ مِنَ الْكَذِبِ الْمَحْذُوْرِ بَلِ الْمُبَالَغَةُ فِي مِثْلِ ذَلِكَ مُعْتَادَةٌ.
Hal itu bukanlah termasuk kedustaan yang dilarang, melainkan bentuk hiperbola (mubalaghah) yang sudah biasa dilakukan dalam situasi seperti itu.
وَهُوَ مَعْنَى مُبَالَغَةِ الرَّجُلِ فِي إِصْلَاحِهِ بَيْنَ شَخْصَيْنِ وَتَأْلِيْفِهِ بَيْنَ الضَّرَّتَيْنِ، وَذَلِكَ مِمَّا قَدْ رُخِّصَ فِيْهِ لِلْحَاجَةِ، وَهَذَا فِي مَعْنَاهُ، فَإِنَّ الْقَصْدَ بِهِ إِصْلَاحُ ذَلِكَ الشَّخْصِ.
Ini semakna dengan dilebih-lebihkannya ucapan seseorang saat mendamaikan dua orang yang berselisih atau mendamaikan dua orang istri (madu), di mana hal tersebut telah diberi keringanan karena adanya kebutuhan, dan masalah ini pun memiliki makna yang sama karena tujuannya adalah memperbaiki pribadi tersebut.
وَإِلَى هَذَا الْمَعْنَى أَشَارَ بَعْضُ النَّاسِ أَنَّهُ لَا يَقْبُحُ مِنَ اللَّهِ أَنْ يَتَوَعَّدَ بِمَا لَا يَفْعَلُ، لِأَنَّ الْخُلْفَ فِي الْوَعِيْدِ كَرَمٌ، وَإِنَّمَا يَقْبُحُ أَنْ يَعِدَ بِمَا لَا يَفْعَلُ.
Kepada makna inilah sebagian orang berpendapat bahwa tidaklah buruk bagi Allah untuk mengancam dengan sesuatu yang tidak Dia lakukan, karena tidak menepati ancaman (bagi yang berhak disiksa) adalah sebuah kemuliaan, sedangkan yang buruk adalah menjanjikan (pahala) namun tidak menepatinya.
وَهَذَا غَيْرُ مَرْضِيٍّ عِنْدَنَا، فَإِنَّ الْكَلَامَ الْقَدِيْمَ لَا يَتَطَرَّقُ إِلَيْهِ الْخُلْفُ، وَعْدًا كَانَ أَوْ وَعِيْدًا.
Namun pendapat ini tidak kami setujui, karena Kalam Qadim (firman Allah) tidak mungkin terjadi pengingkaran di dalamnya, baik berupa janji pahala maupun ancaman siksa.
وَإِنَّمَا يُتَصَوَّرُ هَذَا فِي حَقِّ الْعِبَادِ، وَهُوَ كَذَلِكَ، إِذِ الْخُلْفُ فِي الْوَعِيْدِ لَيْسَ بِحَرَامٍ.
Hal ini (tidak menepati ancaman) hanya bisa dibayangkan pada hak hamba-hamba-Nya, dan memang demikianlah adanya, sebab tidak menepati ancaman bukanlah hal yang haram bagi manusia.
الدَّرَجَةُ السَّابِعَةُ
Tingkat Ketujuh
مُبَاشَرَةُ الضَّرْبِ بِالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا لَيْسَ فِيْهِ شَهْرُ سِلَاحٍ.
Melakukan pemukulan secara langsung dengan tangan, kaki, atau lainnya yang tidak melibatkan penggunaan senjata tajam.
وَذَلِكَ جَائِزٌ لِلْآَحَادِ بِشَرْطِ الضَّرُوْرَةِ وَالِاقْتِصَارِ عَلَى قَدْرِ الْحَاجَةِ فِي الدَّفْعِ.
Hal tersebut diperbolehkan bagi individu (rakyat biasa) dengan syarat adanya keadaan darurat dan membatasi diri hanya pada kadar yang dibutuhkan untuk menghentikan kemungkaran.
فَإِذَا انْدَفَعَ الْمُنْكَرُ فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُفَّ.
Maka apabila kemungkaran tersebut sudah berhenti, hendaknya ia menahan diri.
وَالْقَاضِي قَدْ يُرْهِقُ مَنْ ثَبَتَ عَلَيْهِ الْحَقُّ إِلَى الْأَدَاءِ بِالْحَبْسِ.
Seorang hakim terkadang mendesak orang yang telah terbukti memiliki kewajiban (hutang/hak) agar menunaikannya dengan cara memenjarakannya.
فَإِنْ أَصَرَّ الْمَحْبُوْسُ وَعَلِمَ الْقَاضِي قُدْرَتَهُ عَلَى أَدَاءِ الْحَقِّ وَكَوْنَهُ مُعَانِدًا، فَلَهُ أَنْ يُلْزِمَهُ الْأَدَاءَ بِالضَّرْبِ عَلَى التَّدْرِيْجِ كَمَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ، وَكَذَلِكَ الْمُحْتَسِبُ.
Jika orang yang dipenjara itu tetap membangkang sementara hakim tahu bahwa ia mampu menunaikan hak tersebut dan sengaja keras kepala, maka hakim boleh memaksanya menunaikan hak tersebut dengan pemukulan secara bertahap sesuai kebutuhan; demikian pula halnya bagi pelaku hisbah (muhtasib).
يُرَاعِي التَّدْرِيْجَ، فَإِنِ احْتَاجَ إِلَى شَهْرِ سِلَاحٍ وَكَانَ يَقْدِرُ عَلَى دَفْعِ الْمُنْكَرِ بِشَهْرِ السِّلَاحِ وَبِالْجُرْحِ فَلَهُ أَنْ يَتَعَاطَى ذَلِكَ مَا لَمْ تَثُرْ فِتْنَةٌ.
Ia harus memperhatikan urutan bertahap, jika ia butuh untuk menghunus senjata dan ia mampu menghentikan kemungkaran dengan menghunus senjata atau melukai, maka ia boleh melakukannya selama hal itu tidak memicu fitnah (kekacauan yang lebih besar).
كَمَا لَوْ قَبَضَ فَاسِقٌ مَثَلًا عَلَى امْرَأَةٍ أَوْ كَانَ يَضْرِبُ بِمِزْمَارٍ.
Misalnya, jika seorang fasik memegangi seorang wanita secara paksa atau ia sedang meniup seruling (musik yang dilarang).
وَمَعَهُ وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمُحْتَسِبِ نَهْرٌ حَائِلٌ أَوْ جِدَارٌ مَانِعٌ، فَيَأْخُذُ قَوْسَهُ وَيَقُوْلُ لَهُ: خَلِّ عَنْهَا أَوْ لَأَرْمِيَنَّكَ إِنْ لَمْ تُخَلِّ عَنْهَا.
Sedangkan antara dia dan si muhtasib terhalang sungai atau tembok, maka muhtasib boleh mengambil busur panahnya dan berkata: "Lepaskan dia, atau aku akan memanahmu jika kau tidak melepaskannya."
فَلَهُ أَنْ يَرْمِيَ، وَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَقْصِدَ الْمَقْتَلَ بَلِ السَّاقَ وَالْفَخِذَ وَمَا أَشْبَهَهُ، وَيُرَاعِي فِيْهِ التَّدْرِيْجَ.
Maka ia boleh memanah, namun hendaknya tidak membidik bagian tubuh yang mematikan, melainkan membidik betis, paha, atau yang serupa, dengan tetap memperhatikan tahapan-tahapannya.
وَكَذَلِكَ يَسُلُّ سَيْفَهُ وَيَقُوْلُ: اتْرُكْ هَذَا الْمُنْكَرَ أَوْ لَأَضْرِبَنَّكَ.
Begitu juga, ia boleh menghunus pedangnya dan berkata: "Tinggalkan kemungkaran ini atau aku akan memukulmu."
فَكُلُّ ذَلِكَ دَفْعٌ لِلْمُنْكَرِ، وَدَفْعُهُ وَاجِبٌ بِكُلِّ مُمْكِنٍ.
Semua itu adalah upaya menolak kemungkaran, dan menolak kemungkaran hukumnya wajib dengan segala cara yang memungkinkan.
وَلَا فَرْقَ فِي ذَلِكَ بَيْنَ مَا يَتَعَلَّقُ بِخَاصِّ حَقِّ اللَّهِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِالْآَدَمِيِّيْنَ.
Tidak ada perbedaan dalam hal ini antara kemungkaran yang berkaitan khusus dengan hak Allah maupun yang berkaitan dengan hak sesama manusia.
وَقَالَتِ الْمُعْتَزِلَةُ: مَا لَا يَتَعَلَّقُ بِالْآَدَمِيِّيْنَ فَلَا حِسْبَةَ فِيْهِ إِلَّا بِالْكَلَامِ أَوْ بِالضَّرْبِ وَلَكِنْ لِلْإِمَامِ لَا لِلْآَحَادِ.
Kaum Mu'tazilah berpendapat: Perkara yang tidak berkaitan dengan hak manusia, maka tidak ada hisbah di dalamnya kecuali dengan ucapan, atau dengan pukulan namun itu wewenang pemimpin (Imam), bukan wewenang individu.
الدَّرَجَةُ الثَّامِنَةُ
Tingkat Kedelapan
أَنْ لَا يَقْدِرَ عَلَيْهِ بِنَفْسِهِ وَيَحْتَاجَ فِيْهِ إِلَى أَعْوَانٍ يُشْهَرُوْنَ السِّلَاحَ.
Kondisi di mana seseorang tidak mampu mengatasi kemungkaran sendirian sehingga membutuhkan bantuan orang-orang yang menghunuskan senjata.
وَرُبَّمَا يَسْتَمِدُّ الْفَاسِقُ أَيْضًا بِأَعْوَانِهِ وَيُؤَدِّي ذَلِكَ إِلَى أَنْ يَتَقَابَلَ الصَّفَّانِ وَيَتَقَاتَلَا.
Dan barangkali si fasik itu juga meminta bantuan kawan-kawannya sehingga menyebabkan kedua belah pihak saling berhadapan dan berperang.
فَهَذَا قَدْ ظَهَرَ الِاخْتِلَافُ فِي احْتِيَاجِهِ إِلَى إِذْنِ الْإِمَامِ.
Dalam masalah ini, muncul perbedaan pendapat mengenai perlunya izin dari pemimpin (Imam).
فَقَالَ قَائِلُوْنَ: لَا يَسْتَقِلُّ آَحَادُ الرَّعِيَّةِ بِذَلِكَ لِأَنَّهُ يُؤَدِّي إِلَى تَحْرِيْكِ الْفِتَنِ وَهَيْجَانِ الْفَسَادِ وَخَرَابِ الْبِلَادِ.
Sebagian orang berpendapat: Rakyat biasa tidak boleh bertindak sendiri dalam hal ini karena akan memicu fitnah, kobaran kerusakan, dan kehancuran negeri.
وَقَالَ آَخَرُوْنَ: لَا يَحْتَاجُ إِلَى الْإِذْنِ وَهُوَ الْأَقْيَسُ، لِأَنَّهُ إِذَا جَازَ لِلْآَحَادِ الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَأَوَائِلُ دَرَجَاتِهِ تَجُرُّ إِلَى ثَوَانٍ وَالثَّوَانِي إِلَى ثَوَالِثَ.
Pendapat lain menyatakan: Tidak memerlukan izin, dan ini adalah pendapat yang lebih sesuai dengan kias (analogi), karena jika individu dibolehkan melakukan amar ma'ruf, sedangkan tahap-tahap awal akan menyeret kepada tahap kedua, dan tahap kedua kepada tahap ketiga.
وَقَدْ يَنْتَهِي لَا مَحَالَةَ إِلَى التَّضَارُبِ.
Dan hal itu mau tidak mau pasti akan berujung pada saling pukul.
وَالتَّضَارُبُ يَدْعُوْ إِلَى التَّعَاوُنِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُبَالِيَ بِلَوَازِمِ الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ.
Saling pukul akan memicu aksi saling tolong (pembentukan kelompok), maka tidak seharusnya seseorang menghiraukan konsekuensi dari amar ma'ruf tersebut.
وَمُنْتَهَاهُ تَجْنِيْدُ الْجُنُوْدِ فِي رِضَا اللَّهِ وَدَفْعِ مَعَاصِيْهِ.
Puncaknya adalah pengerahan pasukan demi meraih ridha Allah dan menolak kemaksiatan kepada-Nya.
وَنَحْنُ نُجَوِّزُ لِلْآَحَادِ مِنَ الْغُزَاةِ أَنْ يَجْتَمِعُوْا وَيُقَاتِلُوْا مَنْ أَرَادُوْا مِنْ فِرَقِ الْكُفَّارِ قَمْعًا لِأَهْلِ الْكُفْرِ.
Kami memperbolehkan bagi para pejuang secara individu untuk berkumpul dan memerangi kelompok kafir mana pun yang mereka kehendaki guna menekan ahli kufur.
فَكَذَلِكَ قَمْعُ أَهْلِ الْفَسَادِ جَائِزٌ لِأَنَّ الْكَافِرَ لَا بَأْسَ بِقَتْلِهِ وَالْمُسْلِمُ إِنْ قُتِلَ فَهُوَ شَهِيْدٌ.
Demikian pula menekan ahli maksiat adalah boleh, karena orang kafir tidak mengapa dibunuh, dan jika seorang muslim terbunuh maka ia adalah syahid.
فَكَذَلِكَ الْفَاسِقُ الْمُنَاضِلُ عَنْ فِسْقِهِ لَا بَأْسَ بِقَتْلِهِ.
Begitu juga orang fasik yang berjuang membela kefasikannya, tidak mengapa untuk dibunuh.
وَالْمُحْتَسِبُ الْمُحِقُّ إِنْ قُتِلَ مَظْلُوْمًا فَهُوَ شَهِيْدٌ.
Dan muhtasib (pelaku amar ma'ruf) yang berada di pihak yang benar, jika ia dibunuh dalam keadaan terzalimi, maka ia adalah syahid.
وَعَلَى الْجُمْلَةِ فِانْتِهَاءُ الْأَمْرِ إِلَى هَذَا مِنَ النَّوَادِرِ فِي الْحِسْبَةِ.
Secara garis besar, berakhirnya perkara hingga ke tingkat ini adalah termasuk kejadian yang sangat langka dalam masalah hisbah.
فَلَا يُغَيَّرُ بِهِ قَانُوْنُ الْقِيَاسِ.
Maka hal yang langka ini tidak boleh mengubah aturan kias yang baku.
بَلْ يُقَالُ: كُلُّ مَنْ قَدَرَ عَلَى دَفْعِ مُنْكَرٍ فَلَهُ أَنْ يَدْفَعَ ذَلِكَ بِيَدِهِ وَبِسِلَاحِهِ وَبِنَفْسِهِ وَبِأَعْوَانِهِ.
Bahkan harus dikatakan: Siapa pun yang mampu menolak suatu kemungkaran, maka ia boleh menolaknya dengan tangannya, senjatanya, dirinya sendiri, maupun dengan bantuan rekan-rekannya.
فَالْمَسْأَلَةُ إِذَنْ مُحْتَمِلَةٌ كَمَا ذَكَرْنَاهُ، فَهَذِهِ دَرَجَاتُ الْحِسْبَةِ فَلْنذْكُرْ آَدَابَهَا وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.
Maka masalah ini memiliki berbagai kemungkinan sebagaimana telah kami sebutkan. Itulah tingkatan-tingkatan hisbah, selanjutnya mari kita bahas adab-adabnya, dan Allah-lah yang memberi taufik.
بَابُ آَدَابِ الْمُحْتَسِبِ
Bab Adab-adab Muhtasib (Pelaku Hisbah)
قَدْ ذَكَرْنَا تَفَاصِيْلَ الْآَدَابِ فِي آَحَادِ الدَّرَجَاتِ وَنَذْكُرُ الْآَنَ جُمَلَهَا وَمَصَادِرَهَا.
Kami telah menyebutkan detail adab-adab pada tiap-tiap tingkatan, dan sekarang kami akan menyebutkan pokok-pokok serta sumber-sumbernya.
فَنَقُوْلُ: جَمِيْعُ آَدَابِ الْمُحْتَسِبِ مَصْدَرُهَا ثَلَاثُ صِفَاتٍ فِي الْمُحْتَسِبِ: الْعِلْمُ وَالْوَرَعُ وَحُسْنُ الْخُلُقِ.
Kami katakan: Seluruh adab muhtasib bersumber dari tiga sifat yang harus ada pada dirinya: Ilmu, Wara' (ketakwaan/kehati-hatian), dan Akhlak yang baik.
أَمَّا الْعِلْمُ فَلِيَعْلَمَ مَوَاقِعَ الْحِسْبَةِ وَحُدُوْدَهَا وَمَجَارِيَهَا وَمَوَانِعَهَا لِيَقْتَصِرَ عَلَى حَدِّ الشَّرْعِ فِيْهِ.
Adapun ilmu, tujuannya adalah agar ia mengetahui tempat-tempat hisbah, batasan-batasannya, jalannya, dan penghalang-penghalangnya, sehingga ia mencukupkan diri pada batasan syariat di dalamnya.
وَالْوَرَعُ لِيَرْدَعَهُ عَنْ مُخَالَفَةِ مَعْلُوْمِهِ، فَمَا كُلُّ مَنْ عَلِمَ عَمِلَ بِعِلْمِهِ.
Sedangkan wara' tujuannya adalah untuk mencegahnya agar tidak menyelisihi apa yang telah ia ketahui, sebab tidak semua orang yang berilmu mengamalkan ilmunya.
بَلْ رُبَّمَا يَعْلَمُ أَنَّهُ مُسْرِفٌ فِي الْحِسْبَةِ وَزَائِدٌ عَلَى الْحَدِّ الْمَأْذُوْنِ فِيْهِ شَرْعًا، وَلَكِنْ يَحْمِلُهُ عَلَيْهِ غَرَضٌ مِنَ الْأَغْرَاضِ.
Bahkan barangkali ia tahu bahwa dirinya telah berlebihan dalam melakukan hisbah dan melampaui batas yang diizinkan syariat, namun ia tetap melakukannya karena didorong oleh tujuan pribadi tertentu.
وَلْيَكُنْ كَلَامُهُ وَوَعْظُهُ مَقْبُوْلًا، فَإِنَّ الْفَاسِقَ يَهْزَأُ بِهِ إِذَا احْتَسَبَ وَيُوْرِثُ ذَلِكَ جَرَاءَةً عَلَيْهِ.
Hendaknya ucapan dan nasihatnya dapat diterima, karena orang fasik akan mengejeknya jika ia melakukan hisbah (tanpa wara'), dan hal itu justru akan menimbulkan keberanian si fasik terhadapnya.
وَأَمَّا حُسْنُ الْخُلُقِ فَلْيَتَمَكَّنْ بِهِ مِنَ اللُّطْفِ وَالرِّفْقِ وَهُوَ أَصْلُ الْبَابِ وَأَسْبَابِهِ.
Adapun akhlak yang baik, tujuannya adalah agar ia mampu bersikap lembut dan ramah, di mana hal ini merupakan dasar utama dari bab ini dan sebab keberhasilannya.
وَالْعِلْمُ وَالْوَرَعُ لَا يَكْفِيَانِ فِيْهِ.
Ilmu dan wara' saja tidaklah cukup dalam hal ini.
فَإِنَّ الْغَضَبَ إِذَا هَاجَ لَمْ يَكْفِ مُجَرَّدُ الْعِلْمِ وَالْوَرَعِ فِي قَمْعِهِ مَا لَمْ يَكُنْ فِي الطَّبْعِ قَبُوْلُهُ بِحُسْنِ الْخُلُقِ.
Sebab apabila kemarahan telah meluap, maka ilmu dan wara' saja tidak cukup untuk menekannya selama di dalam wataknya tidak ada kesiapan untuk menerima kendali dengan akhlak yang baik.
وَعَلَى التَّحْقِيْقِ فَلَا يَتِمُّ الْوَرَعُ إِلَّا مَعَ حُسْنِ الْخُلُقِ وَالْقُدْرَةِ عَلَى ضَبْطِ الشَّهْوَةِ وَالْغَضَبِ.
Pada hakikatnya, sifat wara' tidak akan sempurna melainkan bersama akhlak yang baik dan kemampuan untuk mengendalikan syahwat serta amarah.
وَبِهِ يَصْبِرُ الْمُحْتَسِبُ عَلَى مَا أَصَابَهُ فِي دِيْنِ اللَّهِ.
Dengan akhlak itulah seorang muhtasib dapat bersabar atas gangguan yang menimpanya demi membela agama Allah.
وَإِلَّا فَإِذَا أُصِيْبَ عِرْضُهُ أَوْ مَالُهُ أَوْ نَفْسُهُ بِشَتْمٍ أَوْ ضَرْبٍ نَسِيَ الْحِسْبَةَ وَغَفَلَ عَنْ دِيْنِ اللَّهِ وَاشْتَغَلَ بِنَفْسِهِ.
Jika tidak, maka apabila kehormatannya, hartanya, atau dirinya terkena cacian atau pukulan, ia akan melupakan tugas hisbahnya, lalai dari agama Allah, dan malah sibuk membela dirinya sendiri.
بَلْ رُبَّمَا يُقَدِّمُ عَلَيْهِ ابْتِدَاءً لِطَلَبِ الْجَاهِ وَالِاسْمِ.
Bahkan barangkali sejak awal ia melakukannya hanya untuk mencari kedudukan dan nama (popularitas).
فَهَذِهِ الصِّفَاتُ الثَّلَاثُ بِهَا تَصِيْرُ الْحِسْبَةُ مِنَ الْقُرُبَاتِ وَبِهَا تَنْدَفِعُ الْمُنْكَرَاتُ.
Maka dengan tiga sifat inilah tindakan hisbah menjadi sarana ibadah mendekatkan diri kepada Allah, dan dengannya kemungkaran dapat tersingkirkan.
وَإِنْ فُقِدَتْ لَمْ يَنْدَفِعِ الْمُنْكَرُ.
Dan jika sifat-sifat ini hilang, maka kemungkaran tidak akan sirna.
بَلْ رُبَّمَا كَانَتِ الْحِسْبَةُ أَيْضًا مُنْكَرَةً لِمُجَاوَزَةِ حَدِّ الشَّرْعِ فِيْهَا.
Bahkan barangkali tindakan hisbah itu sendiri berubah menjadi kemungkaran karena telah melampaui batas syariat di dalamnya.
وَدَلَّ عَلَى هَذِهِ الْآَدَابِ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَا يَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ إِلَّا رَفِيْقٌ فِيْمَا يَأْمُرُ بِهِ، رَفِيْقٌ فِيْمَا يَنْهَى عَنْهُ، حَلِيْمٌ فِيْمَا يَأْمُرُ بِهِ، حَلِيْمٌ فِيْمَا يَنْهَى عَنْهُ، فَقِيْهٌ فِيْمَا يَأْمُرُ بِهِ، فَقِيْهٌ فِيْمَا يَنْهَى عَنْهُ.
Adab-adab ini ditunjukkan oleh sabda Nabi SAW: "Tidaklah melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar kecuali orang yang lembut dalam perintahnya, lembut dalam larangannya, santun dalam perintahnya, santun dalam larangannya, paham (faqih) dalam perintahnya, dan paham dalam larangannya."
وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَا يُشْتَرَطُ أَنْ يَكُوْنَ فَقِيْهًا مُطْلَقًا بَلْ فِيْمَا يَأْمُرُ بِهِ وَيَنْهَى عَنْهُ وَكَذَا الْحِلْمُ.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak disyaratkan ia harus menjadi ahli fikih secara mutlak, melainkan cukup paham tentang apa yang ia perintahkan dan apa yang ia larang; demikian pula dalam hal sifat santun (hilm).
قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: إِذَا كُنْتَ مِمَّنْ يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوْفِ فَكُنْ مِنْ آَخَذِ النَّاسِ بِهِ وَإِلَّا هَلَكْتَ.
Al-Hasan al-Bashri Rahimahullah berkata: "Jika engkau termasuk orang yang memerintahkan kebaikan, maka jadilah orang yang paling pertama melakukannya, jika tidak niscaya engkau akan celaka."
وَقَدْ قِيْلَ: لَا تَلُمِ الْمَرْءَ عَلَى فِعْلِهِ... وَأَنْتَ مَنْسُوْبٌ إِلَى مِثْلِهِ. مَنْ ذَمَّ شَيْئًا وَأَتَى مِثْلَهُ... فَإِنَّمَا يُزْرَى عَلَى عَقْلِهِ.
Dan telah dikatakan dalam syair: "Janganlah engkau mencela seseorang atas perbuatannya, sementara engkau sendiri melakukan hal yang serupa. Barangsiapa mencela sesuatu lalu ia sendiri melakukannya, maka sesungguhnya ia sedang menghina akalnya sendiri."
وَلَسْنَا نَعْنِي بِهَذَا أَنَّ الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوْفِ يَصِيْرُ مَمْنُوْعًا بِالْفَسْقِ، وَلَكِنْ يَسْقُطُ أَثَرُهُ عَنِ الْقُلُوْبِ بِظُهُوْرِ فَسْقِهِ لِلنَّاسِ.
Kami tidak bermaksud bahwa amar ma'ruf itu menjadi terlarang bagi orang fasik, akan tetapi pengaruhnya akan hilang dari hati manusia karena kefasikannya telah tampak di mata mereka.
فَقَدْ رُوِيَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللَّهِ لَا نَأْمُرُ بِالْمَعْرُوْفِ حَتَّى نَعْمَلَ بِهِ كُلِّهِ وَلَا نَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ حَتَّى نَجْتَنِبَهُ كُلَّهُ.
Telah diriwayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kami tidak boleh memerintahkan kebaikan sampai kami mengamalkan semuanya, dan tidak boleh melarang kemungkaran sampai kami menjauhi semuanya?"
فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ مُرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَإِنْ لَمْ تَعْمَلُوْا بِهِ كُلِّهِ وَانْهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَإِنْ لَمْ تَجْتَنِبُوْهُ كُلَّهُ.
Maka Nabi SAW bersabda: "Bahkan tetaplah memerintahkan kebaikan meskipun kalian belum mengamalkan semuanya, dan tetaplah melarang kemungkaran meskipun kalian belum menjauhi semuanya."
وَأَوْصَى بَعْضُ السَّلَفِ بَنِيْهِ فَقَالَ: إِنْ أَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْمُرَ بِالْمَعْرُوْفِ فَلْيُوَطِّنْ نَفْسَهُ عَلَى الصَّبْرِ وَلْيَثِقْ بِالثَّوَابِ مِنَ اللَّهِ.
Sebagian ulama salaf berwasiat kepada anak-anaknya: "Jika salah seorang dari kalian ingin memerintahkan kebaikan, maka hendaknya ia membiasakan dirinya untuk bersabar dan yakin akan pahala dari Allah."
فَمَنْ وَثِقَ بِالثَّوَابِ مِنَ اللَّهِ لَمْ يَجِدْ مَسَّ الْأَذَى، فَإِذَنْ مِنْ آَدَابِ الْحِسْبَةِ تَوْطِيْنُ النَّفْسِ عَلَى الصَّبْرِ.
"Karena barangsiapa yang yakin akan pahala dari Allah, ia tidak akan merasakan pedihnya gangguan." Maka, di antara adab hisbah adalah melatih diri untuk bersabar.
وَلِذَلِكَ قَرَنَ اللَّهُ تَعَالَى الصَّبْرَ بِالْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ.
Karena itulah Allah Ta'ala menggandengkan kesabaran dengan perintah amar ma'ruf.
فَقَالَ حَاكِيًا عَنْ لُقْمَانَ: يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ.
Allah berfirman menceritakan tentang Luqman: "Wahai anakku, dirikanlah shalat, perintahkanlah kebaikan, laranglah kemungkaran, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu."
وَمِنَ الْآَدَابِ تَقْلِيْلُ الْعَلَائِقِ حَتَّى لَا يَكْثُرَ خَوْفُهُ، وَقَطْعُ الطَّمَعِ عَنِ الْخَلَائِقِ حَتَّى تَزُوْلَ عَنْهُ الْمُدَاهَنَةُ.
Di antara adab lainnya adalah mengurangi ketergantungan (duniawi) agar rasa takutnya tidak besar, dan memutus ketamakan terhadap makhluk agar sifat basa-basi (mudahanah/kompromi dalam kemaksiatan) hilang darinya.
فَقَدْ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ الْمَشَايِخِ أَنَّهُ كَانَ لَهُ سِنَّوْرٌ وَكَانَ يَأْخُذُ مِنْ قَصَّابٍ فِي جِوَارِهِ كُلَّ يَوْمٍ شَيْئًا مِنَ الْغُدَدِ لِسِنَّوْرِهِ.
Diriwayatkan dari sebagian guru bahwa ia memiliki seekor kucing, dan ia selalu mengambil sisa-sisa daging dari seorang tukang jagal di dekat rumahnya setiap hari untuk diberikan kepada kucingnya.
فَرَأَى عَلَى الْقَصَّابِ مُنْكَرًا فَدَخَلَ الدَّارَ أَوَّلًا وَأَخْرَجَ السِّنَّوْرَ ثُمَّ جَاءَ وَاحْتَسَبَ عَلَى الْقَصَّابِ.
Suatu ketika ia melihat kemungkaran pada tukang jagal tersebut, maka ia pun masuk ke rumahnya terlebih dahulu dan melepaskan kucingnya, barulah kemudian ia datang dan menegur tukang jagal tersebut.
فَقَالَ لَهُ الْقَصَّابُ: لَا أُعْطِيَنَّكَ بَعْدَ هَذَا شَيْئًا لِسِنَّوْرِكَ.
Tukang jagal itu berkata kepadanya: "Setelah ini aku tidak akan memberimu apa pun lagi untuk kucingmu!"
فَقَالَ: مَا احْتَسَبْتُ عَلَيْكَ إِلَّا بَعْدَ إِخْرَاجِ السِّنَّوْرِ وَقَطْعِ الطَّمَعِ مِنْكَ.
Ia menjawab: "Aku tidak menegurmu kecuali setelah aku melepaskan kucingku dan memutus ketamakan (pemberian) darimu."
وَهُوَ كَمَا قَالَ، فَمَنْ لَمْ يَقْطَعِ الطَّمَعَ مِنَ الْخَلْقِ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى الْحِسْبَةِ.
Dan memang benar apa yang ia katakan, barangsiapa yang tidak memutus ketamakan dari makhluk maka ia tidak akan mampu melakukan hisbah.
وَمَنْ طَمَعَ فِي أَنْ تَكُوْنَ قُلُوْبُ النَّاسِ عَلَيْهِ طَيِّبَةً وَأَلْسِنَتُهُمْ بِالثَّنَاءِ عَلَيْهِ مُطْلَقَةً لَمْ تَتَيَسَّرْ لَهُ الْحِسْبَةُ.
Dan barangsiapa yang berharap agar hati manusia selalu menyukainya dan lisan mereka selalu memujinya, maka tugas hisbah tidak akan berjalan mudah baginya.
قَالَ كَعْبُ الْأَحْبَارِ لِأَبِي مُسْلِمٍ الْخَوْلَانِيِّ: كَيْفَ مَنْزِلَتُكَ بَيْنَ قَوْمِكَ؟ قَالَ: حَسَنَةٌ.
Ka'ab al-Ahbar bertanya kepada Abu Muslim al-Khawlani: "Bagaimana kedudukanmu di tengah kaummu?" Abu Muslim menjawab: "Baik."
قَالَ: إِنَّ التَّوْرَاةَ تَقُوْلُ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا أَمَرَ بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَى عَنِ الْمُنْكَرِ سَاءَتْ مَنْزِلَتُهُ عِنْدَ قَوْمِهِ.
Ka'ab berkata: "Sesungguhnya Taurat mengatakan bahwa jika seseorang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, niscaya kedudukannya akan menjadi buruk di mata kaumnya."
فَقَالَ أَبُو مُسْلِمٍ: صَدَقَتِ التَّوْرَاةُ وَكَذَبَ أَبُو مُسْلِمٍ.
Maka Abu Muslim berkata: "Taurat benar, dan Abu Muslim (aku sendiri) telah keliru."
وَيَدُلُّ عَلَى وُجُوْبِ الرِّفْقِ مَا اسْتَدَلَّ بِهِ الْمَأْمُوْنُ إِذَا وَعَظَهُ وَاعِظٌ وَعَنَّفَ لَهُ فِي الْقَوْلِ فَقَالَ: يَا رَجُلُ ارْفُقْ.
Kewajiban bersikap lembut ditunjukkan oleh dalil yang digunakan Khalifah Al-Ma'mun ketika dinasihati oleh seorang pemberi nasihat dengan ucapan yang kasar, Al-Ma'mun berkata: "Wahai lelaki, bersikap lembutlah!"
فَقَدْ بَعَثَ اللَّهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ إِلَى مَنْ هُوَ شَرٌّ مِنِّي وَأَمَرَهُ بِالرِّفْقِ.
"Sungguh, Allah telah mengutus orang yang jauh lebih baik darimu (Musa dan Harun) kepada orang yang jauh lebih buruk dariku (Firaun), dan Allah memerintahkannya untuk bersikap lembut."
فَقَالَ تَعَالَى: فَقُوْلَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى، فَلْيَكُنِ اقْتِدَاءُ الْمُحْتَسِبِ فِي الرِّفْقِ بِالْأَنْبِيَاءِ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ.
Allah berfirman: "Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia menjadi sadar atau takut." Maka hendaknya seorang muhtasib meneladani para Nabi—sholawat Allah atas mereka—dalam hal kelembutan.
فَقَدْ رَوَى أَبُو أُمَامَةَ أَنَّ غُلَامًا شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ تَأْذَنُ لِي فِي الزِّنَا؟
Abu Umamah meriwayatkan bahwa seorang pemuda datang kepada Nabi SAW lalu berkata: "Wahai Nabi Allah, izinkanlah aku untuk berzina?"
فَصَاحَ النَّاسُ بِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَرِّبُوْهُ أَدْنُ.
Orang-orang pun meneriakinya (dengan marah), namun Nabi SAW bersabda: "Dekatkanlah dia, mendekatlah."
فَدَنَا حَتَّى جَلَسَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟ قَالَ: لَا جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاكَ.
Pemuda itu mendekat hingga duduk di hadapan beliau, lalu Nabi SAW bertanya: "Apakah engkau menyukai hal itu terjadi pada ibumu?" Ia menjawab: "Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu."
قَالَ: كَذَلِكَ النَّاسُ لَا يُحِبُّوْنَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ، أَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ؟ قَالَ: لَا جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاكَ.
Beliau bersabda: "Demikian pula orang lain, mereka tidak menyukainya terjadi pada ibu mereka. Apakah engkau menyukainya untuk anak perempuanmu?" Ia menjawab: "Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu."
قَالَ: كَذَلِكَ النَّاسُ لَا يُحِبُّوْنَهُ لِبَنَاتِهِمْ، أَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ؟
Beliau bersabda: "Demikian pula orang lain, mereka tidak menyukainya terjadi pada anak perempuan mereka. Apakah engkau menyukainya untuk saudara perempuanmu?"
وَزَادَ ابْنُ عَوْفٍ حَتَّى ذَكَرَ الْعَمَّةَ وَالْخَالَةَ وَهُوَ يَقُوْلُ فِي كُلِّ وَاحِدٍ: لَا جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاكَ.
Ibnu 'Auf menambahkan riwayatnya hingga menyebutkan bibi dari pihak ayah dan bibi dari pihak ibu, dan setiap kali ditanya, pemuda itu menjawab: "Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu."
وَهُوَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: كَذَلِكَ النَّاسُ لَا يُحِبُّوْنَهُ.
Dan beliau SAW terus bersabda: "Demikian pula orang lain, mereka tidak menyukainya."
وَقَالَا جَمِيْعًا فِي حَدِيْثِهِمَا: فَوَضَعَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ عَلَى صَدْرِهِ وَقَالَ: اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبَهُ وَاغْفِرْ ذَنْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ.
Keduanya (perawi) menyebutkan dalam hadis mereka: Lalu Rasulullah SAW meletakkan tangan beliau di dada pemuda itu dan berdoa: "Ya Allah, sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan jagalah kemaluannya."
فَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ أَبْغَضَ إِلَيْهِ مِنْهُ يَعْنِي مِنَ الزِّنَا.
Maka setelah itu tidak ada sesuatu pun yang lebih ia benci daripada hal itu (zina).
وَقِيْلَ لِلْفُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللَّهُ: إِنَّ سُفْيَانَ بْنَ عُيَيْنَةَ قَبِلَ جَوَائِزَ السُّلْطَانِ.
Dikatakan kepada Al-Fudhayl bin 'Iyadh Rahimahullah: "Sesungguhnya Sufyan bin 'Uyaynah telah menerima pemberian dari penguasa."
فَقَالَ الْفُضَيْلُ: مَا أَخَذَ مِنْهُمْ إِلَّا دُوْنَ حَقِّهِ، ثُمَّ خَلَا بِهِ وَعَذَلَهُ وَوَبَّخَهُ.
Fudhayl berkata: "Dia tidak mengambil dari mereka melainkan kurang dari hak yang seharusnya ia terima," kemudian Fudhayl menemuinya secara pribadi, menasihatinya, dan menegurnya.
فَقَالَ سُفْيَانُ: يَا أَبَا عَلِيٍّ، إِنْ لَمْ نَكُنْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ فَإِنَّا لَنُحِبُّ الصَّالِحِيْنَ.
Sufyan menjawab: "Wahai Abu Ali, jika kami bukan termasuk orang-orang saleh, sesungguhnya kami sangat mencintai orang-orang saleh."
وَقَالَ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ: إِنَّ صِلَةَ بْنَ أَشْيَمَ مَرَّ عَلَيْهِ رَجُلٌ قَدْ أَسْبَلَ إِزَارَهُ، فَهَمَّ أَصْحَابُهُ أَنْ يَأْخُذُوْهُ بِشِدَّةٍ.
Hammad bin Salamah menceritakan: Sesungguhnya Shilah bin Asyam melewati seorang pria yang menjulurkan kain sarungnya (isbal), lalu teman-temannya hendak menegurnya dengan keras.
فَقَالَ: دَعُوْنِي أَنَا أَكْفِيْكُمْ، فَقَالَ: يَا ابْنَ أَخِي إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً، قَالَ: وَمَا حَاجَتُكَ يَا عَمُّ؟ قَالَ: أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعَ مِنْ إِزَارِكَ.
Maka Shilah berkata: "Biarkan aku saja yang menanganinya." Lalu ia berkata: "Wahai keponakanku, aku punya satu permintaan kepadamu." Pria itu bertanya: "Apa permintaanmu wahai paman?" Shilah menjawab: "Aku ingin engkau menaikkan kain sarungmu."
فَقَالَ: نَعَمْ وَكَرَامَةً، فَرَفَعَ إِزَارَهُ.
Pria itu menjawab: "Baik, dengan senang hati," lalu ia menaikkan sarungnya.
فَقَالَ لِأَصْحَابِهِ: لَوْ أَخَذْتُمُوْهُ بِشِدَّةٍ لَقَالَ لَا وَلَا كَرَامَةً وَشَتَمَكُمْ.
Maka Shilah berkata kepada teman-temannya: "Andai kalian menegurnya dengan keras, niscaya ia akan berkata: 'Tidak, aku tidak sudi!' dan ia akan mencaci maki kalian."
وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ زَكَرِيَّا الْغَلَابِيُّ: شَهِدْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ عَائِشَةَ لَيْلَةً وَقَدْ خَرَجَ مِنَ الْمَسْجِدِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ يُرِيْدُ مَنْزِلَهُ.
Muhammad bin Zakariya Al-Ghalabi berkata: Aku menyaksikan Abdullah bin Muhammad bin 'Aisyah pada suatu malam ketika ia keluar dari masjid setelah Maghrib menuju rumahnya.
وَإِذَا فِي طَرِيْقِهِ غُلَامٌ مِنْ قُرَيْشٍ سَكْرَانٌ وَقَدْ قَبَضَ عَلَى امْرَأَةٍ فَجَذَبَهَا فَاسْتَغَاثَتْ.
Tiba-tiba di tengah jalannya ada seorang pemuda dari suku Quraisy yang sedang mabuk, ia memegangi seorang wanita dan menariknya hingga wanita itu berteriak minta tolong.
فَاجْتَمَعَ النَّاسُ عَلَيْهِ يَضْرِبُوْنَهُ فَنَظَرَ إِلَيْهِ ابْنُ عَائِشَةَ فَعَرَفَهُ فَقَالَ لِلنَّاسِ: تَنَحَّوْا عَنْ ابْنِ أَخِي.
Orang-orang pun berkumpul dan memukuli pemuda itu, lalu Ibnu 'Aisyah melihatnya dan mengenalinya, maka ia berkata kepada orang-orang: "Menjauhlah kalian dari keponakanku ini."
ثُمَّ قَالَ: إِلَيَّ يَا ابْنَ أَخِي، فَاسْتَحَي الغُلَامُ فَجَاءَ إِلَيْهِ فَضَمَّهُ إِلَى نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ لَهُ: امْضِ مَعِي.
Kemudian ia berkata: "Kemarilah wahai keponakanku." Pemuda itu merasa malu lalu datang kepadanya, Ibnu 'Aisyah memeluknya dan berkata: "Ikutlah bersamaku."
فَمَضَى مَعَهُ حَتَّى صَارَ إِلَى مَنْزِلِهِ فَأَدْخَلَهُ الدَّارَ وَقَالَ لِبَعْضِ غِلْمَانِهِ: بَيِّتْهُ عِنْدَكَ.
Maka pemuda itu mengikutinya hingga sampai ke rumahnya, lalu ia memasukkannya ke dalam rumah dan berkata kepada salah seorang pelayannya: "Biarkan dia menginap di tempatmu."
فَإِذَا أَفَاقَ مِنْ سُكْرِهِ فَأَعْلِمْهُ بِمَا كَانَ مِنْهُ وَلَا تَدَعْهُ يَنْصَرِفُ حَتَّى تَأْتِيَنِي بِهِ.
"Jika ia sudah sadar dari mabuknya, beritahukanlah kepadanya apa yang telah ia perbuat, dan jangan biarkan ia pergi sampai engkau membawanya kepadaku."
فَلَمَّا أَفَاقَ ذَكَرَ لَهُ مَا جَرَى فَاسْتَحَيَا مِنْهُ وَبَكَى وَهَمَّ بِالِانْصِرَافِ فَقَالَ الْغُلَامُ: قَدْ أَمَرَ أَنْ تَأْتِيَهُ، فَأَدْخَلَهُ عَلَيْهِ.
Ketika sudah sadar, pelayan itu menceritakan apa yang terjadi, maka ia merasa sangat malu dan menangis lalu berniat pergi, namun pelayan itu berkata: "Tuanku memerintahkanku agar engkau menemuinya," lalu pelayan itu membawanya masuk.
فَقَالَ لَهُ: أَمَا اسْتَحْيَيْتَ لِنَفْسِكَ؟ أَمَا اسْتَحْيَيْتَ لِشَرَفِكَ؟ أَمَا تَرَى مَنْ وُلِدَكَ؟ فَاتَّقِ اللَّهَ وَانْزِعْ عَمَّا أَنْتَ فِيْهِ.
Ibnu 'Aisyah berkata kepadanya: "Tidakkah engkau malu pada dirimu sendiri? Tidakkah engkau malu pada kehormatanmu? Tidakkah engkau melihat (masa depan) anak cucumu? Maka bertakwalah kepada Allah dan hentikanlah perbuatanmu ini."
فَبَكَى الْغُلَامُ مُنَكِّسًا رَأْسَهُ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَقَالَ: عَاهَدْتُ اللَّهَ تَعَالَى عَهْدًا يَسْأَلُنِي عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنِّي لَا أَعُوْدُ لِشُرْبِ النَّبِيْذِ وَلَا لِشَيْءٍ مِمَّا كُنْتُ فِيْهِ وَأَنَا تَائِبٌ.
Maka pemuda itu menangis sambil menundukkan kepalanya, kemudian ia mengangkat kepalanya dan berkata: "Aku berjanji kepada Allah Ta'ala dengan janji yang akan Dia tanyakan padaku di hari kiamat, bahwa aku tidak akan kembali meminum khamar dan tidak akan mengulangi perbuatanku yang lalu, dan aku benar-benar bertaubat."
فَقَالَ: ادْنُ مِنِّي، فَقَبَّلَ رَأْسَهُ وَقَالَ: أَحْسَنْتَ يَا بُنَيَّ.
Ibnu 'Aisyah berkata: "Mendekatlah padaku," lalu ia mencium kepala pemuda itu dan berkata: "Engkau telah berbuat baik, wahai anakku."
فَكَانَ الْغُلَامُ بَعْدَ ذَلِكَ يَلْزَمُهُ وَيَكْتُبُ عَنْهُ الْحَدِيْثَ وَكَانَ ذَلِكَ بِبَرَكَةِ رِفْقِهِ.
Setelah kejadian itu, si pemuda selalu menyertainya dan belajar hadis darinya, dan itu semua terjadi berkat keberkahan kelembutannya.
ثُمَّ قَالَ: إِنَّ النَّاسَ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيَكُوْنُ مَعْرُوْفُهُمْ مُنْكَرًا فَعَلَيْكُمْ بِالرِّفْقِ فِي جَمِيْعِ أُمُوْرِكُمْ تَنَالُوْا بِهِ مَا تَطْلُبُوْنَ.
Kemudian Ibnu 'Aisyah berkata: "Sesungguhnya banyak orang memerintah kebaikan dan melarang kemungkaran, namun cara mereka justru menjadi kemungkaran. Maka hendaknya kalian bersikap lembut dalam segala urusan kalian, niscaya kalian akan mendapatkan apa yang kalian tuju."
وَعَنِ الْفَتْحِ بْنِ شَخْرَفَ قَالَ: تَعَلَّقَ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ وَتَعَرَّضَ لَهَا وَبِيَدِهِ سِكِّيْنٌ لَا يَدْنُو مِنْهُ أَحَدٌ إِلَّا عَقَرَهُ.
Dari Al-Fath bin Syakhraf, ia berkata: Ada seorang pria menggoda seorang wanita dan mengganggunya sambil memegang pisau; tidak ada seorang pun yang berani mendekatinya kecuali ia akan melukainya.
وَكَانَ الرَّجُلُ شَدِيْدَ الْبَدَنِ، فَبَيْنَا النَّاسُ كَذَلِكَ وَالْمَرْأَةُ تَصِيْحُ فِي يَدِهِ إِذْ مَرَّ بِشْرُ بْنُ الْحَارِثِ فَدَنَا مِنْهُ وَحَكَّ كَتِفَهُ بِكَتِفِ الرَّجُلِ.
Pria itu berbadan kuat. Ketika orang-orang dalam kondisi seperti itu dan wanita itu terus berteriak di tangannya, tiba-tiba Bisyr bin al-Harits lewat, lalu ia mendekat dan menyenggolkan bahunya ke bahu pria tersebut.
فَوَقَعَ الرَّجُلُ عَلَى الْأَرْضِ وَمَشَى بِشْرٌ، فَدَنَوْا مِنَ الرَّجُلِ وَهُوَ يَتَرَشَّحُ عَرَقًا كَثِيْرًا وَمَضَتِ الْمَرْأَةُ لِحَالِهَا.
Maka pria itu pun jatuh tersungkur ke tanah sementara Bisyr terus berlalu. Orang-orang mendekati pria itu yang tampak mengeluarkan keringat dingin bercucuran, sementara si wanita pergi menyelamatkan diri.
فَسَأَلُوْهُ: مَا حَالُكَ؟ فَقَالَ: مَا أَدْرِي وَلَكِنْ حَاكَّنِي شَيْخٌ وَقَالَ لِي: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ نَاظِرٌ إِلَيْكَ وَإِلَى مَا تَعْمَلُ.
Mereka bertanya kepadanya: "Apa yang terjadi padamu?" Ia menjawab: "Aku tidak tahu, tapi tadi ada seorang tua menyenggolku dan berbisik: 'Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla sedang melihatmu dan melihat apa yang kau perbuat'."
فَضَعُفَتْ لِقَوْلِهِ قَدَمَايَ وَهِبْتُهُ هَيْبَةً شَدِيْدَةً وَلَا أَدْرِي مَنْ ذَلِكَ الرَّجُلُ؟
"Maka kedua kakiku terasa lemas karena ucapannya dan aku merasa sangat gentar padanya, aku tidak tahu siapa pria itu?"
فَقَالُوْا لَهُ: هُوَ بِشْرُ بْنُ الْحَارِثِ، فَقَالَ: وَاسَوْأَتَاهْ كَيْفَ يَنْظُرُ إِلَيَّ بَعْدَ الْيَوْمِ؟
Mereka berkata: "Dia adalah Bisyr bin al-Harits." Pria itu pun berkata: "Alangkah malunya aku! Bagaimana mungkin dia bisa memandangku lagi setelah hari ini?"
وَحُمَّ الرَّجُلُ مِنْ يَوْمِهِ وَمَاتَ يَوْمَ السَّابِعِ، فَكَذَا كَانَتْ عَادَةُ أَهْلِ الدِّيْنِ فِي الْحِسْبَةِ.
Pria itu pun jatuh sakit demam sejak hari itu dan meninggal pada hari ketujuh. Begitulah kebiasaan para ahli agama dalam melakukan hisbah.
وَقَدْ نَقَلْنَا فِيْهَا آَثَارًا وَأَخْبَارًا فِي بَابِ الْبُغْضِ فِي اللَّهِ وَالْحُبِّ فِي اللَّهِ مِنْ كِتَابِ آَدَابِ الصُّحْبَةِ فَلَا نُطَوِّلُ بِالْإِعَادَةِ.
Kami telah menukil banyak atsar dan kabar mengenai hal ini pada bab "Membenci karena Allah dan Mencintai karena Allah" dalam Kitab Adab Bergaul, maka kami tidak akan memperpanjangnya dengan mengulanginya lagi di sini.
فَهَذَا تَمَامُ النَّظَرِ فِي دَرَجَاتِ الْحِسْبَةِ وَآَدَابِهَا وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ بِكَرَمِهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى جَمِيْعِ نِعَمِهِ.
Maka inilah akhir pembahasan mengenai tingkatan-tingkatan hisbah dan adab-adabnya. Dan Allah-lah yang memberi taufik dengan kemuliaan-Nya. Segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya.