Rukun dan Syarat (4)
فَإِنْ قُلْتَ: فَكُلُّ مَنْ رَأَى بَهَائِمَ قَدِ اسْتَرْسَلَتْ فِي زَرْعِ إِنْسَانٍ، فَهَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ إِخْرَاجُهَا؟
Jika engkau bertanya: “Setiap orang yang melihat hewan-hewan
ternak terlepas bebas di ladang tanaman milik seseorang, apakah wajib atasnya
mengusir hewan-hewan itu?”
وَكُلُّ
مَنْ رَأَى مَالًا لِمُسْلِمٍ أَشْرَفَ عَلَى الضَّيَاعِ، فَهَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ
حِفْظُهُ؟
“Dan setiap orang yang melihat harta milik seorang muslim
hampir hilang, apakah wajib atasnya menjaga harta itu?”
فَإِنْ
قُلْتُمْ: إِنَّ ذٰلِكَ وَاجِبٌ، فَهٰذَا تَكْلِيفٌ شَطَطٌ.
Jika kalian menjawab: “Itu wajib,” maka ini adalah
pembebanan yang berlebihan.
يُؤَدِّي
إِلَى أَنْ يَصِيرَ الْإِنْسَانُ مُسَخَّرًا لِغَيْرِهِ طُولَ عُمُرِهِ.
Yang berakibat manusia menjadi seperti “pelayan” orang lain
sepanjang hidupnya.
وَإِنْ
قُلْتُمْ: لَا يَجِبُ، فَلِمَ يَجِبُ الِاحْتِسَابُ عَلَى مَنْ يَغْصِبُ مَالَ
غَيْرِهِ؟
Jika kalian menjawab: “Tidak wajib,” maka mengapa hisbah
wajib terhadap orang yang merampas harta orang lain?
وَلَيْسَ
لَهُ سَبَبٌ سِوَى مُرَاعَاةِ مَالِ الْغَيْرِ.
Padahal (sekilas) tidak ada sebab selain menjaga harta orang
lain.
فَنَقُولُ:
هٰذَا بَحْثٌ دَقِيقٌ غَامِضٌ.
Kami menjawab: ini pembahasan yang halus dan rumit.
وَالْقَوْلُ
الْوَجِيزُ فِيهِ أَنْ نَقُولَ: مَهْمَا قَدَرَ عَلَى حِفْظِهِ مِنَ الضَّيَاعِ
مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنَالَهُ تَعَبٌ فِي بَدَنِهِ، أَوْ خُسْرَانٌ فِي مَالِهِ،
أَوْ نُقْصَانُ جَاهِهِ، وَجَبَ عَلَيْهِ ذٰلِكَ.
Jawaban ringkasnya: selama ia mampu menjaganya dari hilang
tanpa membuat badannya letih, tanpa membuat hartanya rugi, dan tanpa
menjatuhkan kedudukannya, maka wajib atasnya melakukan itu.
فَذٰلِكَ
الْقَدْرُ وَاجِبٌ فِي حُقُوقِ الْمُسْلِمِ.
Kadar seperti itu wajib dalam hak-hak sesama muslim.
بَلْ
هُوَ أَقَلُّ دَرَجَاتِ الْحُقُوقِ.
Bahkan itu adalah tingkatan hak yang paling rendah.
وَالْأَدِلَّةُ
الْمُوجِبَةُ لِحُقُوقِ الْمُسْلِمِينَ كَثِيرَةٌ.
Dalil-dalil yang menetapkan hak-hak kaum muslimin itu
banyak.
وَهٰذَا
أَقَلُّ دَرَجَاتِهَا.
Dan ini adalah tingkatan terendahnya.
وَهُوَ
أَوْلَى بِالْإِيجَابِ مِنْ رَدِّ السَّلَامِ.
Ia lebih layak diwajibkan daripada menjawab salam.
فَإِنَّ
الْأَذَى فِي هٰذَا أَكْثَرُ مِنَ الْأَذَى فِي تَرْكِ رَدِّ السَّلَامِ.
Karena mudarat pada perkara ini lebih besar daripada mudarat
meninggalkan menjawab salam.
بَلْ
لَا خِلَافَ فِي أَنَّ مَالَ الْإِنْسَانِ إِذَا كَانَ يَضِيعُ بِظُلْمِ ظَالِمٍ،
وَكَانَتْ عِنْدَهُ الشَّهَادَةُ، لَوْ تَكَلَّمَ بِهَا لَرَجَعَ الْحَقُّ
إِلَيْهِ، وَجَبَ عَلَيْهِ ذٰلِكَ.
Bahkan tidak ada perselisihan bahwa bila harta seseorang
hilang karena kezaliman, dan seseorang memiliki kesaksian yang jika ia
sampaikan hak itu kembali, maka wajib atasnya menyampaikan.
وَعَصَى
بِكِتْمَانِ الشَّهَادَةِ.
Dan ia berdosa bila menyembunyikan kesaksian.
فَفِي
مَعْنَى تَرْكِ الشَّهَادَةِ: تَرْكُ كُلِّ دَفْعٍ لَا ضَرَرَ عَلَى الدَّافِعِ
فِيهِ.
Maka yang semakna dengan meninggalkan kesaksian adalah
meninggalkan setiap upaya menolak mudarat yang tidak membawa mudarat bagi si
penolak.
فَأَمَّا
إِنْ كَانَ عَلَيْهِ تَعَبٌ أَوْ ضَرَرٌ فِي مَالٍ أَوْ جَاهٍ، لَمْ يَلْزَمْهُ
السَّعْيُ فِي ذٰلِكَ.
Adapun bila ada keletihan, atau kerugian harta, atau
jatuhnya kedudukan, maka tidak wajib baginya bersusah payah dalam hal itu.
وَلٰكِنْ
إِذَا كَانَ لَا يَتْعَبُ بِتَنْبِيهِ صَاحِبِ الزَّرْعِ مِنْ نَوْمٍ، أَوْ
بِإِعْلَامِهِ، لَزِمَهُ.
Namun bila ia tidak letih dengan cara membangunkan pemilik
ladang yang sedang tidur atau sekadar memberi tahu, maka itu wajib.
فَإِهْمَالُ
تَعْرِيفِهِ وَتَنْبِيهِهِ كَإِهْمَالِ تَعْرِيفِ الْقَاضِي بِالشَّهَادَةِ.
Mengabaikan memberi tahu dan mengingatkannya sama seperti
mengabaikan memberitahu hakim dengan kesaksian.
وَذٰلِكَ
لَا رُخْصَةَ فِيهِ.
Dan itu tidak ada rukhshah (keringanan) di dalamnya.
وَلَا
يُمْكِنُ أَنْ يُرَاعَى فِيهِ الْأَقَلُّ وَالْأَكْثَرُ.
Dan tidak mungkin di sini dipertimbangkan “yang sedikit” dan
“yang banyak”.
حَتَّى
يُقَالَ: إِنْ كَانَ لَا يَضِيعُ مِنْ مَنْفَعَتِهِ فِي مُدَّةِ اشْتِغَالِهِ
بِإِخْرَاجِ الْبَهَائِمِ إِلَّا قَدْرَ دِرْهَمٍ مَثَلًا، وَصَاحِبُ الزَّرْعِ
يَفُوتُهُ مَالٌ كَثِيرٌ، فَيَتَرَجَّحُ جَانِبُهُ.
Sampai ada yang berkata: “Jika manfaat yang hilang darinya
selama mengusir hewan hanya senilai satu dirham, sedangkan pemilik ladang
kehilangan banyak harta, maka sisi pemilik ladang lebih diutamakan.”
لِأَنَّ
الدِّرْهَمَ الَّذِي لَهُ هُوَ يَسْتَحِقُّ حِفْظَهُ كَمَا يَسْتَحِقُّ صَاحِبُ
الْأَلْفِ حِفْظَ الْأَلْفِ.
Karena satu dirham miliknya juga berhak dijaga, sebagaimana
pemilik seribu berhak menjaga seribunya.
وَلَا
سَبِيلَ لِلْمَصِيرِ إِلَّا ذٰلِكَ.
Dan tidak ada jalan lain kecuali menerima prinsip ini.
فَأَمَّا
إِذَا كَانَ فَوَاتُ الْمَالِ بِطَرِيقٍ هُوَ مَعْصِيَةٌ كَالْغَصْبِ، أَوْ قَتْلِ
عَبْدٍ مَمْلُوكٍ لِلْغَيْرِ، فَهٰذَا يَجِبُ الْمَنْعُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ فِيهِ
تَعَبٌ مَا.
Adapun bila hilangnya harta terjadi melalui jalan maksiat,
seperti ghasab atau membunuh budak milik orang lain, maka wajib mencegahnya
meskipun ada sedikit keletihan.
لِأَنَّ
الْمَقْصُودَ حَقُّ الشَّرْعِ، وَالْغَرَضَ دَفْعُ الْمَعْصِيَةِ.
Karena yang dituju adalah hak syariat, dan maksudnya menolak
maksiat.
وَعَلَى
الْإِنْسَانِ أَنْ يُتْعِبَ نَفْسَهُ فِي دَفْعِ الْمَعَاصِي، كَمَا عَلَيْهِ أَنْ
يُتْعِبَ نَفْسَهُ فِي تَرْكِ الْمَعَاصِي.
Manusia harus bersusah payah menolak maksiat, sebagaimana ia
harus bersusah payah meninggalkan maksiat.
وَالْمَعَاصِي
كُلُّهَا فِي تَرْكِهَا تَعَبٌ.
Semua maksiat, meninggalkannya itu membutuhkan usaha.
وَإِنَّمَا
الطَّاعَةُ كُلُّهَا تَرْجِعُ إِلَى مُخَالَفَةِ النَّفْسِ، وَهِيَ غَايَةُ
التَّعَبِ.
Pada dasarnya semua ketaatan kembali kepada menyelisihi hawa
nafsu, dan itu puncak kesulitan.
ثُمَّ
لَا يَلْزَمُهُ احْتِمَالُ كُلِّ ضَرَرٍ.
Namun ia tidak wajib menanggung setiap mudarat.
بَلِ
التَّفْصِيلُ فِيهِ كَمَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ دَرَجَاتِ الْمَحْذُورَاتِ الَّتِي
يَخَافُهَا الْمُحْتَسِبُ.
Rinciannya sebagaimana yang telah kami sebutkan tentang
tingkatan bahaya yang ditakuti muhtasib.
وَقَدِ
اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي مَسْأَلَتَيْنِ تُقَرِّبَانِ مِنْ غَرَضِنَا.
Para fuqaha berselisih pada dua masalah yang dekat dengan
pembahasan kita.
إِحْدَاهُمَا:
أَنَّ الِالْتِقَاطَ هَلْ هُوَ وَاجِبٌ؟
Pertama: apakah mengambil barang temuan (iltikāth/luqathah)
itu wajib?
وَاللُّقَطَةُ
ضَائِعَةٌ، وَالْمُلْتَقِطُ مَانِعٌ مِنَ الضَّيَاعِ، وَسَاعٍ فِي الْحِفْظِ.
Padahal barang temuan itu tersia-sia, dan yang memungutnya
mencegahnya dari hilang serta berusaha menjaganya.
وَالْحَقُّ
فِيهِ عِنْدَنَا أَنْ يُفَصَّلَ.
Menurut kami, yang benar adalah dirinci.
فَيُقَالَ:
إِنْ كَانَتِ اللُّقَطَةُ فِي مَوْضِعٍ لَوْ تُرِكَتْ فِيهِ لَمْ تَضِعْ.
Dikatakan: bila barang temuan itu berada di tempat yang bila
dibiarkan tidak akan hilang.
بَلْ
يَلْتَقِطُهَا مَنْ يُعَرِّفُهَا، أَوْ تُتْرَكُ.
Bahkan akan dipungut oleh orang yang akan mengumumkannya,
atau cukup dibiarkan.
كَمَا
لَوْ كَانَ فِي مَسْجِدٍ أَوْ رِبَاطٍ، يَتَعَيَّنُ مَنْ يَدْخُلُهُ، وَكُلُّهُمْ
أُمَنَاءُ.
Seperti bila berada di masjid atau ribath (tempat singgah
ibadah) yang orang-orangnya terbatas dan semuanya amanah.
فَلَا
يَلْزَمُهُ الِالْتِقَاطُ.
Maka tidak wajib memungutnya.
وَإِنْ
كَانَتْ فِي مَضِيعَةٍ نُظِرَ.
Jika berada di tempat yang rawan hilang, maka
dipertimbangkan.
فَإِنْ
كَانَ عَلَيْهِ تَعَبٌ فِي حِفْظِهَا، كَمَا لَوْ كَانَتْ بَهِيمَةً وَتَحْتَاجُ
إِلَى عَلَفٍ وَاصْطَبْلٍ، فَلَا يَلْزَمُهُ ذٰلِكَ.
Jika pemeliharaannya membuatnya letih—seperti bila itu hewan
dan membutuhkan pakan serta kandang—maka itu tidak wajib.
لِأَنَّهُ
إِنَّمَا يَجِبُ الِالْتِقَاطُ لِحَقِّ الْمَالِكِ.
Karena kewajiban memungut itu semata demi hak pemilik.
وَحَقُّهُ
بِسَبَبِ كَوْنِهِ إِنْسَانًا مُحْتَرَمًا.
Hak itu ada karena ia manusia yang terhormat.
وَالْمُلْتَقِطُ
أَيْضًا إِنْسَانٌ، وَلَهُ حَقٌّ فِي أَنْ لَا يَتْعَبَ لِأَجْلِ غَيْرِهِ.
Sedangkan pemungut juga manusia, dan ia berhak untuk tidak
dipaksa letih demi orang lain.
كَمَا
لَا يَتْعَبُ غَيْرُهُ لِأَجْلِهِ.
Sebagaimana orang lain juga tidak letih demi dirinya.
فَإِنْ
كَانَتْ ذَهَبًا، أَوْ ثَوْبًا، أَوْ شَيْئًا لَا ضَرَرَ عَلَيْهِ فِيهِ إِلَّا
مُجَرَّدَ تَعَبِ التَّعْرِيفِ.
Jika barang itu emas, pakaian, atau sesuatu yang tidak
memberatkannya kecuali sekadar repot mengumumkan.
فَهٰذَا
يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ فِي مَحَلِّ الْوَجْهَيْنِ.
Maka ini patut berada pada dua kemungkinan pendapat.
فَقَائِلٌ
يَقُولُ: التَّعْرِيفُ وَالْقِيَامُ بِشَرْطِهِ فِيهِ تَعَبٌ.
Ada yang berkata: mengumumkan dan menunaikan
syarat-syaratnya itu menyusahkan.
فَلَا
سَبِيلَ إِلَى إِلْزَامِهِ ذٰلِكَ إِلَّا أَنْ يَتَبَرَّعَ.
Maka tidak ada jalan mewajibkannya kecuali bila ia sukarela.
فَيَلْتَزِمَ
طَلَبًا لِلثَّوَابِ.
Lalu ia menanggungnya demi pahala.
وَقَائِلٌ
يَقُولُ: إِنَّ هٰذَا الْقَدْرَ مِنَ التَّعَبِ مُسْتَصْغَرٌ بِالْإِضَافَةِ إِلَى
مُرَاعَاةِ حُقُوقِ الْمُسْلِمِينَ.
Ada pula yang berkata: kadar lelah ini kecil dibanding
menjaga hak-hak kaum muslimin.
فَيُنَزَّلُ
هٰذَا مَنْزِلَةَ تَعَبِ الشَّاهِدِ فِي حُضُورِ مَجْلِسِ الْحُكْمِ.
Maka ia disamakan dengan lelahnya saksi saat menghadiri
majelis pengadilan.
فَإِنَّهُ
لَا يَلْزَمُهُ السَّفَرُ إِلَى بَلْدَةٍ أُخْرَى إِلَّا أَنْ يَتَبَرَّعَ بِهِ.
Saksi tidak wajib bepergian ke kota lain kecuali bila
sukarela.
فَإِذَا
كَانَ مَجْلِسُ الْقَاضِي فِي جِوَارِهِ، لَزِمَهُ الْحُضُورُ.
Tetapi jika majelis qadhi dekat, ia wajib hadir.
وَكَانَ
التَّعَبُ بِهٰذِهِ الْخُطُوَاتِ لَا يُعَدُّ تَعَبًا فِي غَرَضِ إِقَامَةِ
الشَّهَادَةِ وَأَدَاءِ الْأَمَانَةِ.
Dan lelah karena beberapa langkah itu tidak dianggap lelah
dalam rangka menegakkan kesaksian dan menunaikan amanah.
وَإِنْ
كَانَ فِي الطَّرَفِ الْآخَرِ مِنَ الْبَلَدِ، وَأَحْوَجَ إِلَى الْحُضُورِ فِي
الْهَاجِرَةِ وَشِدَّةِ الْحَرِّ، فَهٰذَا قَدْ يَقَعُ فِي مَحَلِّ الِاجْتِهَادِ
وَالنَّظَرِ.
Namun bila berada di ujung kota, dan menuntut hadir pada
waktu terik dan panas, maka ini masuk wilayah ijtihad dan pertimbangan.
فَإِنَّ
الضَّرَرَ الَّذِي يَنَالُ السَّاعِيَ فِي حِفْظِ حَقِّ الْغَيْرِ لَهُ طَرَفٌ فِي
الْقِلَّةِ لَا يُشَكُّ فِي أَنَّهُ لَا يُبَالِي بِهِ.
Karena mudarat yang menimpa orang yang berusaha menjaga hak
orang lain memiliki sisi kecil yang pasti tidak dipedulikan.
وَطَرَفٌ
فِي الْكَثْرَةِ لَا يُشَكُّ فِي أَنَّهُ لَا يَلْزَمُ احْتِمَالُهُ.
Dan memiliki sisi besar yang pasti tidak wajib ditanggung.
وَوَسَطٌ
يَتَجَاذَبُهُ الطَّرَفَانِ.
Serta ada bagian tengah yang ditarik oleh dua sisi itu.
وَيَكُونُ
أَبَدًا فِي مَحَلِّ الشُّبْهَةِ وَالنَّظَرِ.
Dan selalu berada dalam wilayah syubhat dan pertimbangan.
وَهِيَ
مِنَ الشُّبُهَاتِ الْمُزْمِنَةِ الَّتِي لَيْسَ فِي مَقْدُورِ الْبَشَرِ
إِزَالَتُهَا.
Ini termasuk syubhat yang “menetap” dan tidak mungkin
dihilangkan manusia.
إِذْ
لَا عِلَّةَ تُفَرِّقُ بَيْنَ أَجْزَائِهَا الْمُتَقَارِبَةِ.
Karena tidak ada sebab yang membedakan bagian-bagiannya yang
berdekatan.
وَلٰكِنَّ
الْمُتَّقِيَ يَنْظُرُ فِيهَا لِنَفْسِهِ.
Akan tetapi orang bertakwa menelitinya untuk dirinya.
وَيَدَعُ
مَا يُرِيبُهُ إِلَّا مَا لَا يُرِيبُهُ.
Dan ia meninggalkan apa yang meragukannya menuju apa yang
tidak meragukannya.
فَهٰذَا
نِهَايَةُ الْكَشْفِ عَنْ هٰذَا الْأَصْلِ.
Inilah puncak penjelasan tentang pokok kaidah ini.
اَلرُّكْنُ
الرَّابِعُ: نَفْسُ الِاحْتِسَابِ.
Rukun keempat: hisbah itu sendiri.
وَلَهُ
دَرَجَاتٌ وَآدَابٌ.
Ia memiliki tingkatan-tingkatan dan adab-adab.
أَمَّا
الدَّرَجَاتُ فَأَوَّلُهَا: التَّعَرُّفُ.
Adapun tingkatan-tingkatan: yang pertama adalah “mencari
tahu”.
ثُمَّ
التَّعْرِيفُ.
Kemudian “memberi tahu/menjelaskan”.
ثُمَّ
النَّهْيُ.
Kemudian “melarang”.
ثُمَّ
الْوَعْظُ وَالنُّصْحُ.
Kemudian “menasihati dan memberi arahan”.
ثُمَّ
السَّبُّ وَالتَّعْنِيفُ.
Kemudian “mencela dan menegur keras”.
ثُمَّ
التَّغْيِيرُ بِالْيَدِ.
Kemudian “mengubah dengan tangan”.
ثُمَّ
التَّهْدِيدُ بِالضَّرْبِ.
Kemudian “mengancam dengan pukulan”.
ثُمَّ
إِيقَاعُ الضَّرْبِ وَتَحْقِيقُهُ.
Kemudian “melakukan pukulan dan menegakkannya”.
ثُمَّ
شَهْرُ السِّلَاحِ.
Kemudian “menghunus senjata”.
ثُمَّ
الِاسْتِظْهَارُ فِيهِ بِالْأَعْوَانِ وَجَمْعُ الْجُنُودِ.
Kemudian “meminta kekuatan dengan para pembantu dan
mengumpulkan pasukan”.
أَمَّا
الدَّرَجَةُ الْأُولَى وَهِيَ التَّعَرُّفُ، وَنَعْنِي: طَلَبَ الْمَعْرِفَةِ
بِجَرَيَانِ الْمُنْكَرِ.
Adapun tingkatan pertama, yaitu “mencari tahu”, yang kami
maksud adalah: mencari informasi tentang terjadinya kemungkaran.
وَذٰلِكَ
مِنْهِيٌّ عَنْهُ.
Ini dilarang.
وَهُوَ
التَّجَسُّسُ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ.
Dan itulah tajassus (memata-matai) yang telah kami sebutkan.
فَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَسْتَرِقَ السَّمْعَ عَلَى دَارِ غَيْرِهِ لِيَسْمَعَ صَوْتَ
الْأَوْتَارِ.
Maka tidak pantas ia menguping rumah orang lain untuk
mendengar suara senar.
وَلَا
أَنْ يَسْتَنْشِقَ لِيُدْرِكَ رَائِحَةَ الْخَمْرِ.
Dan tidak (pantas) ia mengendus untuk menangkap bau khamar.
وَلَا
أَنْ يَمَسَّ مَا فِي ثَوْبِهِ لِيَعْرِفَ شَكْلَ الْمِزْمَارِ.
Dan tidak (pantas) ia meraba apa yang ada dalam pakaian
seseorang untuk mengetahui bentuk seruling.
وَلَا
أَنْ يَسْتَخْبِرَ مِنْ جِيرَانِهِ لِيُخْبِرُوهُ بِمَا يَجْرِي فِي دَارِهِ.
Dan tidak (pantas) ia bertanya-tanya kepada tetangga
seseorang agar mereka mengabarkan apa yang terjadi di rumahnya.
نَعَمْ،
لَوْ أَخْبَرَهُ عَدْلَانِ ابْتِدَاءً مِنْ غَيْرِ اسْتِخْبَارٍ.
Namun bila dua orang yang adil memberitahunya sejak awal
tanpa dimintai.
بِأَنَّ
فُلَانًا يَشْرَبُ الْخَمْرَ فِي دَارِهِ.
Bahwa si fulan minum khamar di rumahnya.
أَوْ
بِأَنَّ فِي دَارِهِ خَمْرًا أَعَدَّهَا لِلشُّرْبِ.
Atau bahwa di rumahnya ada khamar yang disiapkan untuk
diminum.
فَلَهُ
إِذْ ذَاكَ أَنْ يَدْخُلَ دَارَهُ.
Maka saat itu ia boleh masuk ke rumahnya.
وَلَا
يَلْزَمُ الِاسْتِئْذَانُ.
Dan tidak wajib meminta izin.
وَيَكُونُ
تَخَطِّي مُلْكِهِ بِالدُّخُولِ لِلتَّوَصُّلِ إِلَى دَفْعِ الْمُنْكَرِ.
Dan melangkahi hak kepemilikan rumahnya itu demi mencapai
pencegahan kemungkaran.
كَكَسْرِ
رَأْسِهِ بِالضَّرْبِ لِلْمَنْعِ مَهْمَا احْتَاجَ إِلَيْهِ.
Seperti memukul kepalanya untuk mencegah bila memang
dibutuhkan.
وَإِنْ
أَخْبَرَهُ عَدْلَانِ أَوْ عَدْلٌ وَاحِدٌ، وَبِالْجُمْلَةِ كُلُّ مَنْ تُقْبَلُ
رِوَايَتُهُ لَا شَهَادَتُهُ.
Jika yang mengabarkan dua orang adil, atau satu orang adil;
dan secara umum setiap orang yang diterima riwayatnya tetapi bukan
kesaksiannya.
فَفِي
جَوَازِ الْهُجُومِ عَلَى دَارِهِ بِقَوْلِهِمْ نَظَرٌ وَاحْتِمَالٌ.
Maka tentang bolehnya menerobos rumahnya hanya berdasarkan
ucapan mereka, ada pertimbangan dan kemungkinan.
وَالْأَوْلَى
أَنْ يَمْتَنِعَ.
Dan yang lebih utama adalah menahan diri.
لِأَنَّ
لَهُ حَقًّا فِي أَنْ لَا يُتَخَطَّى دَارُهُ بِغَيْرِ إِذْنِهِ.
Karena ia punya hak agar rumahnya tidak dilangkahi tanpa
izinnya.
وَلَا
يَسْقُطُ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَمَّا ثَبَتَ عَلَيْهِ حَقُّهُ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ.
Dan hak seorang muslim yang sudah tetap tidak gugur kecuali
dengan dua saksi.
فَهٰذَا
أَوْلَى مَا يُجْعَلُ مَرَدًّا فِيهِ.
Maka ini lebih layak dijadikan hal yang dikembalikan kepada
standar dua saksi.
وَقَدْ
قِيلَ: إِنَّهُ كَانَ نَقْشُ خَاتَمِ لُقْمَانَ: «اَلسَّتْرُ لِمَا عَايَنْتَ
أَحْسَنُ مِنْ إِذَاعَةِ مَا ظَنَنْتَ».
Dan dikatakan bahwa tulisan pada cincin Luqman adalah:
“Menutup apa yang engkau lihat lebih baik daripada menyebarkan apa yang engkau
sangka.”
اَلدَّرَجَةُ
الثَّانِيَةُ: التَّعْرِيفُ.
Tingkatan kedua: memberi penjelasan (ta‘rīf).
فَإِنَّ
الْمُنْكَرَ قَدْ يُقْدِمُ عَلَيْهِ الْمُقْدِمُ بِجَهْلِهِ.
Karena bisa jadi pelaku melakukan kemungkaran karena
kebodohannya.
وَإِذَا
عَرَفَ أَنَّهُ مُنْكَرٌ تَرَكَهُ.
Jika ia tahu itu mungkar, ia meninggalkannya.
كَالسَّوَادِيِّ
يُصَلِّي وَلَا يُحْسِنُ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ.
Seperti orang awam yang shalat tetapi tidak bagus rukuk dan
sujudnya.
فَيُعْلَمُ
أَنَّ ذٰلِكَ لِجَهْلِهِ بِأَنَّ هٰذِهِ لَيْسَتْ بِصَلَاةٍ.
Diketahui bahwa itu karena ia tidak tahu bahwa yang ia
lakukan itu bukan shalat.
وَلَوْ
رَضِيَ بِأَنْ لَا يَكُونَ مُصَلِّيًا لَتَرَكَ أَصْلَ الصَّلَاةِ.
Jika ia rela tidak shalat, tentu ia meninggalkan shalat sama
sekali.
فَيَجِبُ
تَعْرِيفُهُ بِاللُّطْفِ مِنْ غَيْرِ عُنْفٍ.
Maka wajib menjelaskan kepadanya dengan lembut tanpa
kekerasan.
وَذٰلِكَ
لِأَنَّ ضِمْنَ التَّعْرِيفِ نِسْبَةً إِلَى الْجَهْلِ وَالْحُمْقِ.
Karena di balik “menjelaskan” ada unsur menisbatkan
kebodohan dan kedunguan.
وَالتَّجْهِيلُ
إِيذَاءٌ.
Menjadikan orang tampak bodoh adalah menyakiti.
وَقَلَّمَا
يَرْضَى الْإِنْسَانُ أَنْ يُنْسَبَ إِلَى الْجَهْلِ بِالْأُمُورِ، لَا سِيَّمَا
بِالشَّرْعِ.
Jarang seseorang rela disandarkan kepada kebodohan, terlebih
dalam urusan syariat.
وَلِذٰلِكَ
تَرَى الَّذِي يَغْلِبُ عَلَيْهِ الْغَضَبُ كَيْفَ يَغْضَبُ إِذَا نُبِّهَ عَلَى
الْخَطَإِ وَالْجَهْلِ.
Karena itu engkau melihat orang yang mudah marah: bagaimana
ia marah jika diingatkan tentang kesalahan dan kebodohan.
وَكَيْفَ
يَجْتَهِدُ فِي مُجَاحَدَةِ الْحَقِّ بَعْدَ مَعْرِفَتِهِ.
Dan bagaimana ia berusaha keras mengingkari kebenaran
setelah mengetahuinya.
خِيفَةً
مِنْ أَنْ تَنْكَشِفَ عَوْرَةُ جَهْلِهِ.
Karena takut “aib” kebodohannya terbuka.
وَالطِّبَاعُ
أَحْرَصُ عَلَى سَتْرِ عَوْرَةِ الْجَهْلِ مِنْهَا عَلَى سَتْرِ الْعَوْرَةِ
الْحَقِيقِيَّةِ.
Tabiat manusia lebih bernafsu menutup “aib” kebodohan
daripada menutup aurat yang nyata.
لِأَنَّ
الْجَهْلَ قُبْحٌ فِي صُورَةِ النَّفْسِ.
Karena kebodohan adalah keburukan pada diri batin.
وَسَوَادٌ
فِي وَجْهِهِ.
Dan “hitam” pada wajahnya (martabatnya).
وَصَاحِبُهُ
مَلُومٌ عَلَيْهِ.
Pelakunya dicela karenanya.
وَقُبْحُ
السَّوْأَتَيْنِ يَرْجِعُ إِلَى صُورَةِ الْبَدَنِ.
Sedangkan buruknya aurat kembali kepada rupa badan.
وَالنَّفْسُ
أَشْرَفُ مِنَ الْبَدَنِ.
Dan jiwa lebih mulia daripada badan.
وَقُبْحُهَا
أَشَدُّ مِنْ قُبْحِ الْبَدَنِ.
Maka keburukannya lebih berat daripada keburukan badan.
ثُمَّ
هُوَ غَيْرُ مَلُومٍ عَلَيْهِ؛ لِأَنَّهُ خِلْقَةٌ لَمْ يَدْخُلْ تَحْتَ
اخْتِيَارِهِ.
Lagi pula orang tidak dicela karena aurat, sebab itu ciptaan
yang tidak berada dalam pilihannya.
لَا
فِي حُصُولِهِ وَلَا فِي اخْتِيَارِهِ إِزَالَتَهُ وَتَحْسِينَهُ.
Baik dalam keberadaannya, maupun dalam memilih
menghilangkannya dan memperindahnya.
وَالْجَهْلُ
قُبْحٌ يُمْكِنُ إِزَالَتُهُ.
Sedangkan kebodohan adalah keburukan yang bisa dihilangkan.
وَتَبْدِيلُهُ
بِحُسْنِ الْعِلْمِ.
Dan bisa diganti dengan indahnya ilmu.
فَلِذٰلِكَ
يَعْظُمُ تَأَلُّمُ الْإِنْسَانِ بِظُهُورِ جَهْلِهِ.
Karena itu, sakit hati seseorang ketika kebodohannya tampak
menjadi besar.
وَيَعْظُمُ
ابْتِهَاجُهُ فِي نَفْسِهِ بِعِلْمِهِ.
Dan kegembiraannya terhadap ilmunya dalam diri pun besar.
ثُمَّ
لَذَّتُهُ عِنْدَ ظُهُورِ جَمَالِ عِلْمِهِ لِغَيْرِهِ.
Kemudian kenikmatannya ketika keindahan ilmunya tampak
kepada orang lain.
وَإِذَا
كَانَ التَّعْرِيفُ كَشْفًا لِلْعَوْرَةِ مُؤْذِيًا لِلْقَلْبِ، فَلَا بُدَّ أَنْ
يُعَالَجَ دَفْعُ أَذَاهُ بِلُطْفِ الرِّفْقِ.
Jika memberi penjelasan itu seperti membuka aib yang
menyakiti hati, maka harus diupayakan menolak sakitnya dengan kelembutan.
فَنَقُولُ
لَهُ: إِنَّ الْإِنْسَانَ لَا يُولَدُ عَالِمًا.
Maka kita katakan kepadanya: “Manusia tidak dilahirkan dalam
keadaan berilmu.”
وَلَقَدْ
كُنَّا أَيْضًا جَاهِلِينَ بِأُمُورِ الصَّلَاةِ، فَعَلَّمَنَا الْعُلَمَاءُ.
“Dulu kami juga tidak tahu urusan shalat, lalu para ulama
mengajari kami.”
وَلَعَلَّ
قَرْيَتَكَ خَالِيَةٌ عَنْ أَهْلِ الْعِلْمِ.
“Mungkin kampungmu tidak memiliki orang berilmu.”
أَوْ
عَالِمُهَا مُقَصِّرٌ فِي شَرْحِ الصَّلَاةِ وَإِيضَاحِهَا.
“Atau alim di sana kurang dalam menjelaskan dan menerangkan
shalat.”
إِنَّمَا
شَرْطُ الصَّلَاةِ الطُّمَأْنِينَةُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ.
“Sesungguhnya syarat shalat itu thuma’ninah dalam rukuk dan
sujud.”
وَهٰكَذَا
يَتَلَطَّفُ بِهِ لِيَحْصُلَ التَّعْرِيفُ مِنْ غَيْرِ إِيذَاءٍ.
Dan begitulah bersikap lembut agar penjelasan tersampaikan
tanpa menyakiti.
فَإِنَّ
إِيذَاءَ الْمُسْلِمِ حَرَامٌ مَحْذُورٌ.
Karena menyakiti seorang muslim adalah haram dan berbahaya.
كَمَا
أَنَّ تَقْرِيرَهُ عَلَى الْمُنْكَرِ مَحْذُورٌ.
Sebagaimana membiarkannya berada dalam kemungkaran juga
berbahaya.
وَلَيْسَ
مِنَ الْعُقَلَاءِ مَنْ يَغْسِلُ الدَّمَ بِالدَّمِ أَوْ بِالْبَوْلِ.
Bukan orang berakal yang “mencuci darah dengan darah” atau
dengan air kencing.
وَمَنِ
اجْتَنَبَ مَحْذُورَ السُّكُوتِ عَلَى الْمُنْكَرِ وَاسْتَبْدَلَ عَنْهُ مَحْذُورَ
إِيذَاءِ الْمُسْلِمِ مَعَ الِاسْتِغْنَاءِ عَنْهُ، فَقَدْ غَسَلَ الدَّمَ
بِالْبَوْلِ عَلَى التَّحْقِيقِ.
Siapa yang menghindari bahaya diam dari mungkar, tetapi
menggantinya dengan bahaya menyakiti muslim padahal bisa tanpa itu, maka
sungguh ia telah “mencuci darah dengan air kencing” pada hakikatnya.
وَأَمَّا
إِذَا وَقَفْتَ عَلَى خَطَإٍ فِي غَيْرِ أَمْرِ الدِّينِ، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ
تَرُدَّهُ عَلَيْهِ.
Adapun bila engkau mengetahui kesalahan pada perkara selain
urusan agama, maka tidak semestinya engkau membantahnya.
فَإِنَّهُ
يَسْتَفِيدُ مِنْكَ عِلْمًا، وَيَصِيرُ لَكَ عَدُوًّا.
Karena ia akan mendapat ilmu darimu, namun ia justru menjadi
musuhmu.
إِلَّا
إِذَا عَلِمْتَ أَنَّهُ يَغْتَنِمُ الْعِلْمَ، وَذٰلِكَ عَزِيزٌ جِدًّا.
Kecuali bila engkau tahu ia benar-benar menghargai ilmu; dan
itu sangat jarang.
اَلدَّرَجَةُ
الثَّالِثَةُ: النَّهْيُ بِالْوَعْظِ وَالنُّصْحِ وَالتَّخْوِيفِ بِاللَّهِ
تَعَالَى.
Tingkatan ketiga: melarang dengan nasihat, arahan, dan
menakut-nakuti dengan (mengingatkan) Allah Ta‘ala.
وَذٰلِكَ
فِيمَنْ يُقْدِمُ عَلَى الْأَمْرِ وَهُوَ عَالِمٌ بِكَوْنِهِ مُنْكَرًا.
Ini bagi orang yang melakukan perbuatan itu padahal ia tahu
itu mungkar.
أَوْ
فِيمَنْ أَصَرَّ عَلَيْهِ بَعْدَ أَنْ عَرَفَ كَوْنَهُ مُنْكَرًا.
Atau bagi orang yang terus melakukannya setelah tahu itu
mungkar.
كَالَّذِي
يُوَاظِبُ عَلَى الشُّرْبِ، أَوْ عَلَى الظُّلْمِ، أَوْ عَلَى اغْتِيَابِ
الْمُسْلِمِينَ، أَوْ مَا يَجْرِي مَجْرَاهُ.
Seperti orang yang terus-menerus minum, atau terus
menzalimi, atau terus mengghibahi kaum muslimin, dan yang semisalnya.
فَيَنْبَغِي
أَنْ يُوعَظَ.
Maka ia patut dinasihati.
وَيُخَوَّفَ
بِاللَّهِ تَعَالَى.
Dan ditakut-takuti dengan Allah Ta‘ala.
وَتُورَدَ
عَلَيْهِ الْأَخْبَارُ الْوَارِدَةُ بِالْوَعِيدِ فِي ذٰلِكَ.
Dan disampaikan kepadanya hadis-hadis ancaman tentang itu.
وَتُحْكَى
لَهُ سِيرَةُ السَّلَفِ وَعِبَادَةُ الْمُتَّقِينَ.
Dan diceritakan kepadanya perjalanan salaf dan ibadah
orang-orang bertakwa.
وَكُلُّ
ذٰلِكَ بِشَفَقَةٍ وَلُطْفٍ مِنْ غَيْرِ عُنْفٍ وَلَا غَضَبٍ.
Semua itu dilakukan dengan kasih sayang dan kelembutan,
tanpa kekerasan dan tanpa amarah.
بَلْ
يَنْظُرُ إِلَيْهِ نَظَرَ الْمُتَرَحِّمِ عَلَيْهِ.
Bahkan memandangnya seperti orang yang mengasihaninya.
وَيَرَى
إِقْدَامَهُ عَلَى الْمَعْصِيَةِ مُصِيبَةً عَلَى نَفْسِهِ.
Dan melihat keberaniannya bermaksiat sebagai musibah atas
dirinya sendiri.
إِذِ
الْمُسْلِمُونَ كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ.
Karena kaum muslimin bagaikan satu jiwa.
وَهَهُنَا
آفَةٌ عَظِيمَةٌ يَنْبَغِي أَنْ يَتَوَقَّاهَا.
Di sini ada penyakit besar yang harus diwaspadai.
فَإِنَّهَا
مُهْلِكَةٌ.
Karena ia membinasakan.
وَهِيَ
أَنَّ الْعَالِمَ يَرَى عِنْدَ التَّعْرِيفِ عِزَّ نَفْسِهِ بِالْعِلْمِ، وَذُلَّ
غَيْرِهِ بِالْجَهْلِ.
Yaitu: orang berilmu ketika memberi penjelasan melihat
kemuliaan dirinya karena ilmu, dan kehinaan orang lain karena kebodohan.
فَرُبَّمَا
يَقْصِدُ بِالتَّعْرِيفِ الْإِدْلَالَ.
Maka boleh jadi ia bermaksud “membanggakan diri” dalam
penjelasan itu.
وَإِظْهَارَ
التَّمَيُّزِ بِشَرَفِ الْعِلْمِ.
Dan menampakkan keunggulan dengan kemuliaan ilmu.
وَإِذْلَالَ
صَاحِبِهِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى خِسَّةِ الْجَهْلِ.
Serta merendahkan orang lain dengan menisbatkannya kepada
hinanya kebodohan.
فَإِنْ
كَانَ الْبَاعِثُ هٰذَا، فَهٰذَا الْمُنْكَرُ أَقْبَحُ فِي نَفْسِهِ مِنَ
الْمُنْكَرِ الَّذِي يَعْتَرِضُ عَلَيْهِ.
Jika pendorongnya ini, maka kemungkaran ini lebih buruk pada
dirinya daripada kemungkaran yang ia protes.
وَمِثَالُ
هٰذَا الْمُحْتَسِبِ مِثَالُ مَنْ يُخَلِّصُ غَيْرَهُ مِنَ النَّارِ بِإِحْرَاقِ
نَفْسِهِ.
Perumpamaan muhtasib seperti ini adalah orang yang
menyelamatkan orang lain dari api dengan membakar dirinya sendiri.
وَهُوَ
غَايَةٌ فِي الْجَهْلِ.
Dan itu puncak kebodohan.
وَهٰذِهِ
مَذَلَّةٌ عَظِيمَةٌ، وَغَائِلَةٌ هَائِلَةٌ.
Ini kehinaan besar dan bencana yang mengerikan.
وَغُرُورٌ
لِلشَّيْطَانِ يَتَدَلَّى بِحَبْلِهِ كُلَّ إِنْسَانٍ.
Ini adalah tipu daya setan; ia menurunkan talinya kepada
setiap manusia.
إِلَّا
مَنْ عَرَّفَهُ اللَّهُ عُيُوبَ نَفْسِهِ.
Kecuali orang yang Allah perlihatkan kepadanya aib dirinya.
وَفَتَحَ
بَصِيرَتَهُ بِنُورِ هِدَايَتِهِ.
Dan Allah bukakan bashirahnya dengan cahaya petunjuk-Nya.
فَإِنَّ
فِي الِاحْتِكَامِ عَلَى الْغَيْرِ لَذَّةً لِلنَّفْسِ عَظِيمَةً مِنْ وَجْهَيْنِ.
Karena dalam “menghakimi orang lain” ada kenikmatan besar
bagi jiwa dari dua sisi.
أَحَدُهُمَا:
مِنْ جِهَةِ الْعِلْمِ.
Pertama: dari sisi ilmu.
وَالْآخَرُ:
مِنْ جِهَةِ دَالَّةِ الِاحْتِكَامِ وَالسُّلْطَنَةِ.
Kedua: dari sisi perasaan berkuasa dan dominasi dalam
“menghakimi”.
وَذٰلِكَ
يَرْجِعُ إِلَى الرِّيَاءِ وَطَلَبِ الْجَاهِ.
Dan itu kembali kepada riya dan mencari kedudukan.
وَهُوَ
الشَّهْوَةُ الْخَفِيَّةُ الدَّاعِيَةُ إِلَى الشِّرْكِ الْخَفِيِّ.
Ia adalah syahwat tersembunyi yang mengajak kepada syirik
tersembunyi.
وَلَهُ
مِحَكٌّ وَمِعْيَارٌ يَنْبَغِي أَنْ يَمْتَحِنَ الْمُحْتَسِبُ بِهِ نَفْسَهُ.
Ia punya batu uji dan ukuran; muhtasib harus menguji dirinya
dengannya.
وَهُوَ
أَنْ يَكُونَ امْتِنَاعُ ذٰلِكَ الْإِنْسَانِ عَنِ الْمُنْكَرِ بِنَفْسِهِ، أَوْ
بِاحْتِسَابِ غَيْرِهِ، أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنِ امْتِنَاعِهِ بِاحْتِسَابِهِ.
Yaitu: hendaknya bagi muhtasib, orang itu berhenti dari
mungkar—baik dengan sendirinya atau karena hisbah orang lain—lebih ia sukai
daripada berhentinya karena hisbah dirinya sendiri.
فَإِنْ
كَانَتِ الْحِسْبَةُ شَاقَّةً عَلَيْهِ ثَقِيلَةً عَلَى نَفْسِهِ، وَهُوَ يَوَدُّ
أَنْ يُكْفَى بِغَيْرِهِ، فَلْيَحْتَسِبْ.
Jika hisbah terasa berat baginya dan ia berharap orang lain
yang menanganinya, maka lakukanlah hisbah; karena pendorongnya adalah agama.
فَإِنَّ
بَاعِثَهُ هُوَ الدِّينُ.
Sebab pendorongnya adalah agama.
وَإِنْ
كَانَ اتِّعَاظُ ذٰلِكَ الْعَاصِي بِوَعْظِهِ، وَانْزِجَارُهُ بِزَجْرِهِ، أَحَبَّ
إِلَيْهِ مِنِ اتِّعَاظِهِ بِوَعْظِ غَيْرِهِ.
Namun jika ia lebih suka si pelaku maksiat itu sadar karena
nasihatnya sendiri dan jera karena tegurannya sendiri, daripada sadar karena
nasihat orang lain.
فَمَا
هُوَ إِلَّا مُتَّبِعٌ هَوَى نَفْسِهِ.
Maka ia hanyalah mengikuti hawa nafsunya.
وَمُتَوَسِّلٌ
إِلَى إِظْهَارِ جَاهِ نَفْسِهِ بِوَاسِطَةِ حِسْبَتِهِ.
Dan menjadikan hisbah sebagai jalan menampakkan kedudukan
dirinya.
فَلْيَتَّقِ
اللَّهَ تَعَالَى فِيهِ.
Hendaklah ia bertakwa kepada Allah Ta‘ala dalam hal ini.
وَلْيَحْتَسِبْ
أَوَّلًا عَلَى نَفْسِهِ.
Dan hendaklah ia menghisbahi dirinya terlebih dahulu.
وَعِنْدَ
هٰذَا يُقَالُ لَهُ مَا قِيلَ لِعِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: «يَا ابْنَ مَرْيَمَ،
عِظْ نَفْسَكَ، فَإِنِ اتَّعَظْتَ فَعِظِ النَّاسَ، وَإِلَّا فَاسْتَحْيِ مِنِّي».
Pada kondisi ini, dikatakan kepadanya sebagaimana dikatakan
kepada ‘Isa ‘alaihis salam: “Wahai putra Maryam, nasihatilah dirimu; jika
engkau sudah mengambil pelajaran, nasihatilah manusia; jika tidak, maka malulah
kepada-Ku.”
وَقِيلَ
لِدَاوُدَ الطَّائِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ: أَرَأَيْتَ رَجُلًا دَخَلَ عَلَى
هٰؤُلَاءِ الْأُمَرَاءِ فَأَمَرَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَاهُمْ عَنِ
الْمُنْكَرِ؟
Dikatakan kepada Dawud ath-Tha’i rahimahullah: “Bagaimana
pendapatmu tentang seseorang yang masuk menemui para penguasa ini lalu
memerintah mereka dengan makruf dan melarang mereka dari mungkar?”
فَقَالَ:
أَخَافُ عَلَيْهِ السَّوْطَ.
Ia menjawab: “Aku khawatir ia terkena cambuk.”
قِيلَ:
إِنَّهُ يَقْوَى عَلَيْهِ.
Dikatakan: “Ia sanggup menanggungnya.”
قَالَ:
أَخَافُ عَلَيْهِ السَّيْفَ.
Ia berkata: “Aku khawatir ia terkena pedang.”
قِيلَ:
إِنَّهُ يَقْوَى عَلَيْهِ.
Dikatakan: “Ia sanggup menanggungnya.”
قَالَ:
أَخَافُ عَلَيْهِ الدَّاءَ الدَّفِينَ، وَهُوَ الْعُجْبُ.
Ia berkata: “Aku khawatir ia terkena penyakit yang
tersembunyi, yaitu rasa ujub.”
اَلدَّرَجَةُ
الرَّابِعَةُ: السَّبُّ وَالتَّعْنِيفُ بِالْقَوْلِ الْغَلِيظِ الْخَشِنِ.
Tingkatan keempat: mencela dan menegur keras dengan
perkataan yang kasar dan keras.
وَذٰلِكَ
يُعْدَلُ إِلَيْهِ عِنْدَ الْعَجْزِ عَنِ الْمَنْعِ بِاللُّطْفِ.
Ini dilakukan ketika tidak mampu mencegah dengan kelembutan.
وَظُهُورِ
مَبَادِئِ الْإِصْرَارِ وَالِاسْتِهْزَاءِ بِالْوَعْظِ وَالنُّصْحِ.
Dan ketika tampak tanda-tanda keras kepala serta memperolok
nasihat dan arahan.
وَذٰلِكَ
مِثْلُ قَوْلِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: ﴿أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا
تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ، أَفَلَا تَعْقِلُونَ﴾.
Ini seperti ucapan Ibrahim ‘alaihis salam: “Ah (uff) untuk
kalian dan untuk apa yang kalian sembah selain Allah; tidakkah kalian berakal?”
وَلَسْنَا
نَعْنِي بِالسَّبِّ وَالْفُحْشِ مَا فِيهِ نِسْبَةٌ إِلَى الزِّنَا
وَمُقَدِّمَاتِهِ.
Kami tidak bermaksud dengan “celaan” dan “kata kotor” yaitu
yang berisi tuduhan zina dan pendahuluannya.
وَلَا
الْكَذِبَ.
Dan bukan pula kebohongan.
بَلْ
أَنْ يُخَاطِبَهُ بِمَا فِيهِ مِمَّا لَا يُعَدُّ مِنْ جُمْلَةِ الْفُحْشِ.
Melainkan menegurnya dengan hal yang ada padanya, yang tidak
dianggap kata-kata kotor.
كَقَوْلِهِ:
يَا فَاسِقُ، يَا أَحْمَقُ، يَا جَاهِلُ، أَلَا تَخَافُ اللَّهَ؟
Seperti berkata: “Wahai fasik! Wahai dungu! Wahai bodoh!
Tidakkah engkau takut kepada Allah?”
وَكَقَوْلِهِ:
يَا سَوَادِيُّ، يَا غَبِيُّ، وَمَا يَجْرِي هٰذَا الْمَجْرَى.
Dan seperti: “Wahai orang kampungan! Wahai bebal!” dan yang
sejenis.
فَإِنَّ
كُلَّ فَاسِقٍ فَهُوَ أَحْمَقُ وَجَاهِلٌ.
Karena setiap orang fasik itu dungu dan bodoh.
وَلَوْلَا
حُمْقُهُ لَمَا عَصَى اللَّهَ تَعَالَى.
Seandainya bukan karena kedunguannya, ia tidak akan
bermaksiat kepada Allah Ta‘ala.
بَلْ
كُلُّ مَنْ لَيْسَ بِكَيِّسٍ فَهُوَ أَحْمَقُ.
Bahkan setiap orang yang tidak “kayyis” (cerdas-bijak)
adalah dungu.
وَالْكَيِّسُ
مَنْ شَهِدَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
بِالْكَيَاسَةِ، حَيْثُ قَالَ: «اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا
بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْأَحْمَقُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى
عَلَى اللَّهِ» (١).
Orang cerdas adalah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam persaksikan kecerdasannya, ketika beliau bersabda: “Orang cerdas
adalah yang mengoreksi dirinya dan beramal untuk setelah kematian; dan orang
dungu adalah yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan terhadap Allah.”
(1)
وَلِهٰذِهِ
الرُّتْبَةِ أَدَبَانِ.
Tingkatan ini memiliki dua adab.
أَحَدُهُمَا:
أَنْ لَا يُقْدِمَ عَلَيْهَا إِلَّا عِنْدَ الضَّرُورَةِ، وَالْعَجْزِ عَنِ
اللُّطْفِ.
Pertama: jangan melakukannya kecuali dalam keadaan darurat
dan ketika tidak mampu lagi dengan kelembutan.
وَالثَّانِي:
أَنْ لَا يَنْطِقَ إِلَّا بِالصِّدْقِ.
Kedua: tidak berkata kecuali yang benar.
وَلَا
يَسْتَرْسِلَ فِيهِ، فَيُطْلِقَ لِسَانَهُ الطَّوِيلَ بِمَا لَا يَحْتَاجُ
إِلَيْهِ.
Dan jangan berlarut-larut, sehingga melepas lisannya dengan
hal yang tidak diperlukan.
بَلْ
يَقْتَصِرُ عَلَى قَدْرِ الْحَاجَةِ.
Namun cukup sebatas kebutuhan.
فَإِنْ
عَلِمَ أَنَّ خِطَابَهُ بِهٰذِهِ الْكَلِمَاتِ الزَّاجِرَةِ لَا تُزْجِرُهُ، فَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يُطْلِقَهُ.
Jika ia tahu bahwa teguran keras seperti itu tidak
membuatnya jera, maka tidak semestinya ia mengucapkannya.
بَلْ
يَقْتَصِرُ عَلَى إِظْهَارِ الْغَضَبِ، وَالِاسْتِحْقَارِ لَهُ، وَالِازْدِرَاءِ
بِمَحَلِّهِ لِأَجْلِ مَعْصِيَتِهِ.
Hendaklah ia cukup menampakkan kemarahan, meremehkan
dirinya, dan memandang rendah posisinya karena maksiatnya.
وَإِنْ
عَلِمَ أَنَّهُ لَوْ تَكَلَّمَ ضُرِبَ.
Jika ia tahu bahwa bila ia berbicara ia akan dipukul.
وَلَوِ
اكْفَهَرَّ وَأَظْهَرَ الْكَرَاهَةَ بِوَجْهِهِ لَمْ يُضْرَبْ، لَزِمَهُ.
Tetapi bila ia bermuka masam dan menampakkan kebencian
dengan wajahnya ia tidak dipukul, maka itu wajib atasnya.
وَلَمْ
يَكْفِهِ الْإِنْكَارُ بِالْقَلْبِ.
Dan tidak cukup baginya mengingkari dengan hati.
بَلْ
يَلْزَمُهُ أَنْ يَقْطُبَ وَجْهَهُ وَيُظْهِرَ الْإِنْكَارَ لَهُ.
Bahkan ia wajib bermuka masam dan menampakkan pengingkaran
kepadanya.
اَلدَّرَجَةُ
الْخَامِسَةُ: التَّغْيِيرُ بِالْيَدِ.
Tingkatan kelima: mengubah dengan tangan.
وَذٰلِكَ
كَكَسْرِ الْمَلَاهِي، وَإِرَاقَةِ الْخَمْرِ.
Yaitu seperti memecahkan alat maksiat dan menumpahkan
khamar.
وَخَلْعِ
الْحَرِيرِ مِنْ رَأْسِهِ وَعَنْ بَدَنِهِ، وَمَنْعِهِ مِنَ الْجُلُوسِ عَلَيْهِ.
Dan mencopot sutra dari kepalanya dan tubuhnya, serta
melarangnya duduk di atasnya.
وَدَفْعِهِ
عَنِ الْجُلُوسِ عَلَى مَالِ الْغَيْرِ.
Dan mendorongnya agar tidak duduk di atas milik orang lain.
وَإِخْرَاجِهِ
مِنَ الدَّارِ الْمَغْصُوبَةِ بِالْجَرِّ بِرِجْلِهِ.
Dan mengeluarkannya dari rumah ghasab dengan menyeret
kakinya.
وَإِخْرَاجِهِ
مِنَ الْمَسْجِدِ إِذَا كَانَ جَالِسًا وَهُوَ جُنُبٌ.
Dan mengeluarkannya dari masjid bila ia duduk dalam keadaan
junub.
وَمَا
يَجْرِي مَجْرَاهُ.
Dan yang sejenisnya.
وَيَتَصَوَّرُ
ذٰلِكَ فِي بَعْضِ الْمَعَاصِي دُونَ بَعْضٍ.
Hal ini dapat diterapkan pada sebagian maksiat, tidak pada
semuanya.
فَأَمَّا
مَعَاصِي اللِّسَانِ وَالْقَلْبِ فَلَا يَقْدِرُ عَلَى مُبَاشَرَةِ تَغْيِيرِهَا.
Adapun maksiat lisan dan hati, tidak mungkin mengubahnya
secara langsung.
وَكَذٰلِكَ
كُلُّ مَعْصِيَةٍ تَقْتَصِرُ عَلَى نَفْسِ الْعَاصِي وَجَوَارِحِهِ الْبَاطِنَةِ.
Demikian pula setiap maksiat yang terbatas pada diri pelaku
dan anggota batinnya.
وَفِي
هٰذِهِ الدَّرَجَةِ أَدَبَانِ.
Dalam tingkatan ini ada dua adab.
أَحَدُهُمَا:
أَنْ لَا يُبَاشِرَ بِيَدِهِ التَّغْيِيرَ مَا لَمْ يَعْجِزْ عَنْ تَكْلِيفِ
الْمُحْتَسَبِ عَلَيْهِ ذٰلِكَ.
Pertama: jangan mengubah dengan tangannya selama ia belum
tidak mampu menyuruh pihak yang dihisbahi melakukannya sendiri.
فَإِذَا
أَمْكَنَهُ أَنْ يُكَلِّفَهُ الْمَشْيَ فِي الْخُرُوجِ عَنِ الْأَرْضِ
الْمَغْصُوبَةِ وَالْمَسْجِدِ، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَدْفَعَهُ أَوْ يَجُرَّهُ.
Jika ia bisa menyuruhnya berjalan keluar dari tanah ghasab
dan dari masjid, maka tidak semestinya ia mendorong atau menyeretnya.
وَإِذَا
قَدَرَ عَلَى أَنْ يُكَلِّفَهُ إِرَاقَةَ الْخَمْرِ، وَكَسْرَ الْمَلَاهِي،
وَحَلَّ دُرُوزِ ثَوْبِ الْحَرِيرِ، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُبَاشِرَ ذٰلِكَ
بِنَفْسِهِ.
Jika ia mampu menyuruhnya menumpahkan khamar, memecahkan
alat maksiat, dan melepas jahitan pakaian sutra, maka tidak semestinya ia
melakukannya sendiri.
فَإِنَّ
فِي الْوُقُوفِ عَلَى حَدِّ الْكَسْرِ نَوْعَ عُسْرٍ.
Karena menentukan batas “cukup rusak” itu ada kesulitan
tersendiri.
فَإِذَا
لَمْ يَتَعَاطَ بِنَفْسِهِ ذٰلِكَ، كَفَى الِاجْتِهَادُ فِيهِ.
Jika ia tidak melakukannya sendiri, maka cukup ijtihad.
وَتَوَلَّاهُ
مَنْ لَا حَجْرَ عَلَيْهِ فِي فِعْلِهِ.
Dan biarkan pelakunya sendiri yang menanganinya, karena ia
tidak terhalang (secara hukum) atas tindakannya.
اَلتَّانِي:
أَنْ يَقْتَصِرَ فِي طَرِيقِ التَّغْيِيرِ عَلَى الْقَدْرِ الْمُحْتَاجِ إِلَيْهِ.
Adab kedua: dalam cara mengubah, cukupkan sebatas yang
diperlukan.
وَهُوَ
أَنْ لَا يَأْخُذَ بِلِحْيَتِهِ فِي الْإِخْرَاجِ.
Yaitu jangan menarik jenggotnya saat mengeluarkan.
وَلَا
بِرِجْلِهِ إِذَا قَدَرَ عَلَى جَرِّهِ بِيَدِهِ.
Dan jangan menyeret dengan kaki bila bisa dengan tangan.
فَإِنَّ
زِيَادَةَ الْأَذَى فِيهِ مُسْتَغْنًى عَنْهُ.
Karena tambahan menyakiti itu tidak dibutuhkan.
وَأَنْ
لَا يُمَزِّقَ ثَوْبَ الْحَرِيرِ، بَلْ يَحُلَّ دُرُوزَهُ فَقَطْ.
Dan jangan merobek pakaian sutra, cukup lepaskan jahitannya
saja.
وَلَا
يُحْرِقَ الْمَلَاهِي وَالصَّلِيبَ الَّذِي أَظْهَرَهُ النَّصَارَى، بَلْ يُبْطِلُ
صَلَاحِيَّتَهُ لِلْفَسَادِ بِالْكَسْرِ.
Dan jangan membakar alat maksiat dan salib yang ditampakkan
orang Nasrani; cukup hilangkan fungsinya untuk kemaksiatan dengan
mematahkannya.
وَحَدُّ
الْكَسْرِ: أَنْ يَصِيرَ إِلَى حَالَةٍ تَحْتَاجُ فِي اسْتِئْنَافِ إِصْلَاحِهِ
إِلَى تَعَبٍ يُسَاوِي تَعَبَ الِاسْتِئْنَافِ مِنَ الْخَشَبِ ابْتِدَاءً.
Batas “mematahkan” adalah: dibuat dalam keadaan yang untuk
memperbaikinya kembali butuh usaha yang setara dengan membuatnya dari kayu baru
sejak awal.
وَفِي
إِرَاقَةِ الْخُمُورِ يَتَوَقَّى كَسْرَ الْأَوَانِي إِنْ وَجَدَ إِلَيْهِ
سَبِيلًا.
Dalam menumpahkan khamar, hendaknya menghindari memecahkan
wadah bila ada jalan lain.
فَإِنْ
لَمْ يَقْدِرْ عَلَى إِرَاقَتِهَا إِلَّا بِأَنْ يَرْمِيَ ظُرُوفَهَا بِحَجَرٍ
فَلَهُ ذٰلِكَ.
Jika tidak bisa menumpahkannya kecuali dengan melempar
wadahnya dengan batu, maka itu boleh.
وَسَقَطَتْ
قِيمَةُ الظَّرْفِ وَتَقَوُّمُهُ بِسَبَبِ الْخَمْرِ.
Maka nilai wadah itu gugur (tidak dipertimbangkan), karena
khamar telah menjadikannya penghalang.
إِذْ
صَارَ حَائِلًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى إِرَاقَةِ الْخَمْرِ.
Sebab wadah itu menjadi penghalang antara dirinya dan
menumpahkan khamar.
وَلَوْ
سَتَرَ الْخَمْرَ بِبَدَنِهِ لَكُنَّا نَقْصِدُ بَدَنَهُ بِالْجُرْحِ وَالضَّرْبِ
لِنَتَوَصَّلَ إِلَى إِرَاقَةِ الْخَمْرِ.
Seandainya ia melindungi khamar dengan tubuhnya, niscaya
kita akan melukai dan memukul tubuhnya agar bisa menumpahkan khamar.
فَإِذًا
لَا تَزِيدُ حُرْمَةُ مُلْكِهِ فِي الظُّرُوفِ عَلَى حُرْمَةِ نَفْسِهِ.
Maka kehormatan miliknya pada wadah tidak lebih besar
daripada kehormatan dirinya.
وَلَوْ
كَانَ الْخَمْرُ فِي قَوَارِيرَ ضَيِّقَةِ الرُّءُوسِ.
Jika khamar berada dalam botol yang sempit mulutnya.
وَلَوِ
اشْتَغَلَ بِإِرَاقَتِهَا طَالَ الزَّمَانُ.
Dan bila ia sibuk menumpahkannya, waktu akan lama.
وَأَدْرَكَهُ
الْفُسَّاقُ وَمَنَعُوهُ.
Lalu orang-orang fasik keburu datang dan menghalanginya.
فَلَهُ
كَسْرُهَا.
Maka ia boleh memecahkannya.
فَهٰذَا
عُذْرٌ.
Ini uzur.
وَإِنْ
كَانَ لَا يَحْذَرُ ظَفَرَ الْفُسَّاقِ بِهِ وَمَنْعَهُمْ، وَلٰكِنْ كَانَ يَضِيعُ
فِي زَمَانِهِ وَتَتَعَطَّلُ عَلَيْهِ أَشْغَالُهُ، فَلَهُ أَنْ يَكْسِرَهَا.
Jika ia tidak khawatir dihalangi orang fasik, tetapi
waktunya tersita dan urusannya terbengkalai, ia boleh memecahkannya.
فَلَيْسَ
عَلَيْهِ أَنْ يُضِيعَ مَنْفَعَةَ بَدَنِهِ وَغَرَضَهُ مِنْ أَشْغَالِهِ لِأَجْلِ
ظَرْفِ الْخَمْرِ.
Ia tidak wajib menyia-nyiakan manfaat tubuhnya dan tujuan
pekerjaannya hanya demi wadah khamar.
وَحَيْثُ
كَانَتِ الْإِرَاقَةُ مُتَيَسِّرَةً بِلا كَسْرٍ، فَكَسَرَهَا، لَزِمَهُ
الضَّمَانُ.
Namun bila penumpahan mudah tanpa memecah wadah, lalu ia
memecahkannya, ia wajib mengganti.
فَإِنْ
قُلْتَ: فَهَلَّا جَازَ الْكَسْرُ لِأَجْلِ الزَّجْرِ؟
Jika engkau berkata: “Mengapa tidak dibolehkan memecahkan
wadah itu demi memberi efek jera (zajr)?”
وَهَلَّا
جَازَ الْجَرُّ بِالرِّجْلِ فِي الْإِخْرَاجِ عَنِ الْأَرْضِ الْمَغْصُوبَةِ
لِيَكُونَ ذٰلِكَ أَبْلَغَ فِي الزَّجْرِ؟
“Dan mengapa tidak dibolehkan menyeret dengan kaki saat
mengeluarkannya dari tanah ghasab agar itu lebih keras dalam memberi efek
jera?”
فَاعْلَمْ
أَنَّ الزَّجْرَ إِنَّمَا يَكُونُ عَنِ الْمُسْتَقْبَلِ.
Ketahuilah bahwa efek jera itu berkaitan dengan masa depan.
وَأَنَّ
الْعُقُوبَةَ تَكُونُ عَلَى الْمَاضِي.
Sedangkan hukuman adalah atas perbuatan yang sudah terjadi.
وَأَنَّ
الدَّفْعَ يَكُونُ عَلَى الْحَاضِرِ الرَّاهِنِ.
Adapun pencegahan (daf‘) adalah terhadap keadaan yang sedang
berlangsung saat itu.
وَلَيْسَ
إِلَى آحَادِ الرَّعِيَّةِ إِلَّا الدَّفْعُ.
Yang menjadi kewenangan individu rakyat hanyalah pencegahan
(daf‘).
وَهُوَ
إِعْدَامُ الْمُنْكَرِ.
Yaitu menghilangkan kemungkaran.
فَمَا
زَادَ عَلَى قَدْرِ الْإِعْدَامِ فَهُوَ إِمَّا عُقُوبَةٌ عَلَى جَرِيمَةٍ
سَابِقَةٍ، أَوْ زَجْرٌ عَنْ لَاحِقٍ.
Apa yang melampaui kadar menghilangkan kemungkaran itu,
berarti: hukuman atas pelanggaran yang telah lewat, atau pencegahan keras agar
tidak mengulang di masa depan.
وَذٰلِكَ
إِلَى الْوُلَاةِ لَا إِلَى الرَّعِيَّةِ.
Dan itu wewenangnya para penguasa, bukan rakyat.
نَعَمْ،
الْوَالِي لَهُ أَنْ يَفْعَلَ ذٰلِكَ إِذَا رَأَى الْمَصْلَحَةَ فِيهِ.
Benar, penguasa boleh melakukan itu bila ia melihat maslahat
di dalamnya.
وَأَقُولُ:
لَهُ أَنْ يَأْمُرَ بِكَسْرِ الظُّرُوفِ الَّتِي فِيهَا الْخُمُورُ زَجْرًا.
Dan aku mengatakan: penguasa boleh memerintahkan pemecahan
wadah-wadah yang berisi khamar sebagai efek jera.
وَقَدْ
فَعَلَ ذٰلِكَ فِي زَمَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
تَأْكِيدًا لِلزَّجْرِ (١).
Hal itu pernah dilakukan pada masa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam sebagai penguat efek jera. (1)
وَلَمْ
يَثْبُتْ نَسْخُهُ.
Dan tidak ada penetapan bahwa hal itu telah di-nasakh.
وَلٰكِنْ
كَانَتِ الْحَاجَةُ إِلَى الزَّجْرِ وَالْفِطَامِ شَدِيدَةً.
Namun ketika itu kebutuhan untuk memberi efek jera dan
“memutus kebiasaan” sangat kuat.
فَإِذَا
رَأَى الْوَالِي بِاجْتِهَادِهِ مِثْلَ الْحَاجَةِ جَازَ لَهُ مِثْلُ ذٰلِكَ.
Maka bila penguasa dengan ijtihadnya melihat kebutuhan
serupa, ia boleh melakukan hal serupa.
وَإِذَا
كَانَ هٰذَا مَنُوطًا بِنَوْعِ اجْتِهَادٍ دَقِيقٍ، لَمْ يَكُنْ ذٰلِكَ لِآحَادِ
الرَّعِيَّةِ.
Dan karena hal ini bergantung pada ijtihad yang halus, maka
itu bukan untuk individu rakyat.
فَإِنْ
قُلْتَ: فَلْيَجُزْ لِلسُّلْطَانِ زَجْرُ النَّاسِ عَنِ الْمَعَاصِي بِإِتْلَافِ
أَمْوَالِهِمْ.
Jika engkau berkata: “Kalau begitu, hendaknya boleh bagi
sultan memberi efek jera dari maksiat dengan merusak harta mereka.”
وَتَخْرِيبِ
دُورِهِمُ الَّتِي فِيهَا يَشْرَبُونَ وَيَعْصُونَ.
“Dan menghancurkan rumah-rumah mereka yang di sana mereka
minum dan bermaksiat.”
وَإِحْرَاقِ
أَمْوَالِهِمُ الَّتِي بِهَا يَتَوَصَّلُونَ إِلَى الْمَعَاصِي.
“Dan membakar harta mereka yang dipakai untuk menuju
maksiat.”
فَاعْلَمْ
أَنَّ ذٰلِكَ لَوْ وَرَدَ الشَّرْعُ بِهِ لَمْ يَكُنْ خَارِجًا عَنْ سَنَنِ
الْمَصَالِحِ.
Ketahuilah: seandainya syariat datang dengan ketentuan
seperti itu, maka itu tidak keluar dari jalur maslahat.
وَلٰكِنَّا
لَا نَبْتَدِعُ الْمَصَالِحَ، بَلْ نَتَّبِعُ فِيهَا.
Namun kami tidak menciptakan-ciptakan “maslahat”; kami hanya
mengikutinya (sesuai nash dan dasar syariat).
وَكَسْرُ
ظُرُوفِ الْخَمْرِ قَدْ ثَبَتَ عِنْدَ شِدَّةِ الْحَاجَةِ.
Pemecahan wadah khamar telah tetap (pernah dilakukan) ketika
kebutuhan sangat mendesak.
وَتَرْكُهُ
بَعْدَ ذٰلِكَ لِعَدَمِ شِدَّةِ الْحَاجَةِ لَا يَكُونُ نَسْخًا.
Meninggalkannya setelah itu karena kebutuhan tidak lagi
mendesak bukanlah nasakh.
بَلِ
الْحُكْمُ يَزُولُ بِزَوَالِ الْعِلَّةِ وَيَعُودُ بِعَوْدِهَا.
Melainkan hukum itu hilang ketika ‘illat-nya hilang, dan
kembali ketika ‘illat-nya kembali.
وَإِنَّمَا
جَوَّزْنَا ذٰلِكَ لِلْإِمَامِ بِحُكْمِ الْإِتِّبَاعِ.
Kami membolehkan itu bagi imam (penguasa) berdasarkan
prinsip mengikuti dalil yang ada.
وَمَنَعْنَا
آحَادَ الرَّعِيَّةِ مِنْهُ لِخَفَاءِ وَجْهِ الِاجْتِهَادِ فِيهِ.
Dan kami melarang individu rakyat melakukannya karena sisi
ijtihadnya samar.
بَلْ
نَقُولُ: لَوْ أُرِيقَتِ الْخُمُورُ أَوَّلًا فَلَا يَجُوزُ كَسْرُ الْأَوَانِي
بَعْدَهَا.
Bahkan kami katakan: jika khamar sudah ditumpahkan terlebih
dahulu, maka tidak boleh memecahkan wadah setelahnya.
وَإِنَّمَا
جَازَ كَسْرُهَا تَبَعًا لِلْخَمْرِ.
Pemecahan wadah hanya dibolehkan sebagai konsekuensi
(mengikuti) khamar.
فَإِذَا
خَلَتْ عَنْهَا فَهُوَ إِتْلَافُ مَالٍ.
Jika wadah itu kosong dari khamar, maka itu perusakan harta.
إِلَّا
أَنْ تَكُونَ ضَارِبَةً بِالْخَمْرِ، لَا تَصْلُحُ إِلَّا لَهَا.
Kecuali bila wadah itu memang “khusus untuk khamar” dan
tidak layak untuk selainnya.
فَكَانَ
الْفِعْلُ الْمَنْقُولُ عَنِ الْعَصْرِ الْأَوَّلِ مَقْرُونًا بِمَعْنَيَيْنِ.
Maka perbuatan yang dinukil dari masa awal itu terkait
dengan dua makna.
أَحَدُهُمَا:
شِدَّةُ الْحَاجَةِ إِلَى الزَّجْرِ.
Pertama: kebutuhan yang sangat kuat untuk memberi efek jera.
وَالْآخَرُ:
تَبَعِيَّةُ الظُّرُوفِ لِلْخَمْرِ الَّتِي هِيَ مَشْغُولَةٌ بِهَا.
Kedua: wadah itu menjadi “pengikut” khamar karena sedang
terisi dengannya.
وَهُمَا
مَعْنَيَانِ مُؤَثِّرَانِ لَا سَبِيلَ إِلَى حَذْفِهِمَا.
Dua makna ini berpengaruh, dan tidak ada jalan menghapusnya.
وَمَعْنًى
ثَالِثٌ: وَهُوَ صُدُورُهُ عَنْ رَأْيِ صَاحِبِ الْأَمْرِ لِعِلْمِهِ بِشِدَّةِ
الْحَاجَةِ إِلَى الزَّجْرِ.
Ada makna ketiga: perbuatan itu keluar dari kebijakan
pemegang otoritas, karena ia mengetahui kebutuhan yang kuat untuk memberi efek
jera.
وَهُوَ
أَيْضًا مُؤَثِّرٌ، فَلَا سَبِيلَ إِلَى إِلْغَائِهِ.
Dan ini juga berpengaruh, maka tidak bisa diabaikan.
فَهٰذِهِ
تَصَرُّفَاتٌ دَقِيقَةٌ فِقْهِيَّةٌ، يَحْتَاجُ الْمُحْتَسِبُ لَا مَحَالَةَ إِلَى
مَعْرِفَتِهَا.
Maka ini adalah tindakan-tindakan fikih yang halus, yang
muhtasib pasti perlu mengetahuinya.