Rukun dan Syarat (3)

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي، وَهُوَ فَوَاتُ الْحَاصِلِ، فَهُوَ مَكْرُوهٌ وَمُعْتَبَرٌ فِي جَوَازِ السُّكُوتِ فِي الْأُمُورِ الْأَرْبَعَةِ، إِلَّا الْعِلْمَ.

Adapun bagian kedua, yaitu hilangnya sesuatu yang sudah ada, maka itu termasuk mudarat dan diperhitungkan dalam bolehnya diam pada empat perkara, kecuali ilmu.

فَإِنَّ فَوَاتَهُ غَيْرُ مَخُوفٍ إِلَّا بِتَقْصِيرٍ مِنْهُ.

Karena hilangnya ilmu tidak ditakuti kecuali karena kelalaiannya sendiri.

وَإِلَّا فَلَا يَقْدِرُ أَحَدٌ عَلَى سَلْبِ الْعِلْمِ مِنْ غَيْرِهِ.

Jika tidak demikian, maka tidak ada seorang pun yang mampu mencabut ilmu dari orang lain.

وَإِنْ قَدَرَ عَلَى سَلْبِ الصِّحَّةِ وَالسَّلَامَةِ وَالثَّرْوَةِ وَالْمَالِ.

Berbeda halnya dengan kesehatan, keselamatan, kekayaan, dan harta; semua itu bisa saja dirampas.

وَهٰذَا أَحَدُ أَسْبَابِ شَرَفِ الْعِلْمِ.

Dan ini termasuk salah satu sebab kemuliaan ilmu.

فَإِنَّهُ يَدُومُ فِي الدُّنْيَا، وَيَدُومُ ثَوَابُهُ فِي الْآخِرَةِ.

Karena ilmu tetap bertahan di dunia, dan pahalanya pun tetap bertahan di akhirat.

فَلَا انْقِطَاعَ لَهُ أَبَدَ الْآبَادِ.

Tidak ada putusnya untuk selama-lamanya.

وَأَمَّا الصِّحَّةُ وَالسَّلَامَةُ فَفَوَاتُهُمَا بِالضَّرْبِ.

Adapun kesehatan dan keselamatan, hilangnya keduanya bisa terjadi karena pemukulan.

فَكُلُّ مَنْ عَلِمَ أَنَّهُ يُضْرَبُ ضَرْبًا مُؤْلِمًا يَتَأَذَّى بِهِ فِي الْحِسْبَةِ لَمْ تَلْزَمْهُ الْحِسْبَةُ.

Maka siapa yang tahu bahwa ia akan dipukul dengan pukulan yang menyakitkan sehingga ia tersakiti bila melakukan hisbah, hisbah tidak wajib baginya.

وَإِنْ كَانَ يُسْتَحَبُّ لَهُ ذٰلِكَ كَمَا سَبَقَ.

Meskipun hal itu tetap dianjurkan baginya, sebagaimana telah disebutkan.

وَإِذَا فُهِمَ هٰذَا فِي الْإِيلَامِ بِالضَّرْبِ فَهُوَ فِي الْجُرْحِ وَالْقَطْعِ وَالْقَتْلِ أَظْهَرُ.

Jika ini dipahami pada rasa sakit karena pukulan, maka pada luka, pemotongan anggota badan, dan pembunuhan lebih jelas lagi.

وَأَمَّا الثَّرْوَةُ فَهُوَ بِأَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ تُنْهَبُ دَارُهُ وَيُخَرَّبُ بَيْتُهُ وَتُسْلَبُ ثِيَابُهُ.

Adapun kekayaan, contohnya ialah bila ia tahu rumahnya akan dijarah, tempat tinggalnya dirusak, dan pakaiannya dirampas.

فَهٰذَا أَيْضًا يَسْقُطُ عَنْهُ الْوُجُوبُ وَيَبْقَى الِاسْتِحْبَابُ.

Maka dalam hal ini pun gugur kewajiban, dan tersisa anjuran.

إِذْ لَا بَأْسَ بِأَنْ يُفْدَى دِينُهُ بِدُنْيَاهُ.

Karena tidak mengapa seseorang menebus agamanya dengan urusan dunianya.

وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الضَّرْبِ وَالنَّهْبِ حَدٌّ فِي الْقِلَّةِ لَا يُكْتَرَثُ بِهِ.

Setiap dari “pukulan” dan “penjarahan” memiliki batas kecil yang biasanya tidak dipedulikan.

كَالْحَبَّةِ فِي الْمَالِ، وَاللَّطْمَةِ الْخَفِيفِ أَلَمُهَا فِي الضَّرْبِ.

Seperti hilangnya sejumlah sangat kecil harta, atau satu tamparan yang ringan sakitnya.

وَحَدٌّ فِي الْكَثْرَةِ يَتَعَيَّنُ اعْتِبَارُهُ.

Dan ada pula batas besar yang pasti harus dipertimbangkan.

وَوَسَطٌ يَقَعُ فِي مَحَلِّ الِاشْتِبَاهِ وَالِاجْتِهَادِ.

Serta ada tingkat tengah yang masuk wilayah syubhat dan ijtihad.

وَعَلَى الْمُتَدَيِّنِ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي ذٰلِكَ وَيُرَجِّحَ جَانِبَ الدِّينِ مَا أَمْكَنَ.

Seorang yang beragama harus berijtihad dalam hal itu dan menguatkan sisi agama semampunya.

وَأَمَّا الْجَاهُ فَفَوَاتُهُ بِأَنْ يُضْرَبَ ضَرْبًا غَيْرَ مُؤْلِمٍ أَوْ بِسَبَبٍ عَلَى مَلَإٍ مِنَ النَّاسِ.

Adapun kedudukan (jah), hilangnya bisa terjadi dengan pukulan yang tidak menyakitkan, atau karena suatu perlakuan di hadapan orang banyak.

أَوْ يُطْرَحَ مَنْدِيلُهُ فِي رَقَبَتِهِ وَيُدَارَ بِهِ فِي الْبَلَدِ.

Atau saputangannya dikalungkan di lehernya lalu ia diarak keliling negeri.

أَوْ يُسَوَّدَ وَجْهُهُ وَيُطَافَ بِهِ.

Atau wajahnya dihitamkan lalu ia diarak.

وَكُلُّ ذٰلِكَ مِنْ غَيْرِ ضَرْبٍ مُؤْلِمٍ لِلْبَدَنِ، وَهُوَ فَادِحٌ فِي الْجَاهِ وَمُؤْلِمٌ لِلْقَلْبِ.

Semua itu tanpa pukulan yang menyakitkan badan, tetapi sangat menjatuhkan martabat dan menyakitkan hati.

وَهٰذَا لَهُ دَرَجَاتٌ.

Dan ini memiliki tingkatan-tingkatan.

فَالصَّوَابُ أَنْ يُقْسَمَ إِلَى مَا يُعَبَّرُ عَنْهُ بِسُقُوطِ الْمُرُوءَةِ.

Yang benar, hal itu dibagi kepada sesuatu yang disebut “jatuhnya muru’ah” (kehormatan diri).

كَالطَّوَافِ بِهِ فِي الْبَلَدِ حَاسِرًا حَافِيًا.

Seperti diarak keliling negeri dengan kepala terbuka dan tanpa alas kaki.

فَهٰذَا يُرَخَّصُ لَهُ فِي السُّكُوتِ.

Maka pada kondisi ini ia diberi keringanan untuk diam.

لِأَنَّ الْمُرُوءَةَ مَأْمُورٌ بِحِفْظِهَا فِي الشَّرْعِ.

Karena muru’ah diperintahkan untuk dijaga dalam syariat.

وَهٰذَا مُؤْلِمٌ لِلْقَلْبِ أَلَمًا يَزِيدُ عَلَى أَلَمِ ضَرَبَاتٍ مُتَعَدِّدَةٍ.

Dan ini menyakitkan hati dengan sakit yang melebihi sakit beberapa pukulan.

وَعَلَى فَوَاتِ دَرَاهِمَاتٍ قَلِيلَةٍ.

Dan melebihi hilangnya beberapa dirham yang sedikit.

فَهٰذِهِ دَرَجَةٌ.

Maka ini satu tingkatan.

اَلدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ: مَا يُعَبَّرُ عَنْهُ بِالْجَاهِ الْمَحْضِ وَعُلُوِّ الرُّتْبَةِ.

Tingkatan kedua: sesuatu yang disebut “kedudukan murni” dan “tingginya martabat”.

فَإِنَّ الْخُرُوجَ فِي ثِيَابٍ فَاخِرَةٍ تَجَمُّلٌ.

Sebab keluar dengan pakaian mewah adalah bentuk berhias.

وَكَذٰلِكَ الرُّكُوبُ لِلْخُيُولِ.

Dan demikian pula menunggang kuda.

فَلَوْ عَلِمَ أَنَّهُ لَوِ احْتَسَبَ لَكُلِّفَ الْمَشْيَ فِي السُّوقِ فِي ثِيَابٍ لَا يَعْتَادُ هُوَ مِثْلَهَا.

Jika ia tahu bahwa bila ia ber-hisbah ia akan dipaksa berjalan di pasar dengan pakaian yang tidak biasa ia pakai.

أَوْ كُلِّفَ الْمَشْيَ رَاجِلًا وَعَادَتُهُ الرُّكُوبُ.

Atau dipaksa berjalan kaki sedangkan kebiasaannya berkendaraan.

فَهٰذَا مِنْ جُمْلَةِ الْمَزَايَا.

Maka ini termasuk berbagai “kelebihan gaya” semacam itu.

وَلَيْسَتِ الْمُوَاظَبَةُ عَلَى حِفْظِهَا مَحْمُودَةً.

Terus-menerus menjaga “kelebihan” seperti ini bukanlah hal terpuji.

وَحِفْظُ الْمُرُوءَةِ مَحْمُودٌ.

Adapun menjaga muru’ah adalah terpuji.

فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَسْقُطَ وُجُوبُ الْحِسْبَةِ بِمِثْلِ هٰذَا الْقَدْرِ.

Maka kewajiban hisbah tidak semestinya gugur hanya karena kadar seperti ini.

وَفِي مَعْنَى هٰذَا: مَا لَوْ خَافَ أَنْ يَتَعَرَّضَ لَهُ بِاللِّسَانِ.

Termasuk dalam makna ini: bila ia takut disakiti dengan ucapan.

إِمَّا فِي حَضْرَتِهِ بِالتَّجْهِيلِ وَالتَّحْمِيقِ وَالنِّسْبَةِ إِلَى الرِّيَاءِ وَالْبُهْتَانِ.

Baik di hadapannya: dicap bodoh, dungu, dinisbatkan riya, dan dituduh dengan kebohongan.

وَأَمَّا فِي غَيْبَتِهِ بِأَنْوَاعِ الْغِيبَةِ.

Atau di belakangnya: dengan berbagai bentuk ghibah.

فَهٰذَا لَا يَسْقُطُ الْوُجُوبَ.

Hal seperti ini tidak menggugurkan kewajiban.

إِذْ لَيْسَ فِيهِ إِلَّا زَوَالُ فَضَلَاتِ الْجَاهِ الَّتِي لَيْسَ إِلَيْهَا كَبِيرُ حَاجَةٍ.

Karena itu hanya menghilangkan “kelebihan-kelebihan” kedudukan yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

وَلَوْ تُرِكَتِ الْحِسْبَةُ بِلَوْمِ لَائِمٍ، أَوْ بِاغْتِيَابِ فَاسِقٍ، أَوْ شَتْمَةٍ وَتَعْنِيفٍ، أَوْ سُقُوطِ الْمَنْزِلَةِ عَنْ قَلْبِهِ وَقَلْبِ أَمْثَالِهِ، لَمْ يَكُنْ لِلْحِسْبَةِ وُجُوبٌ أَصْلًا.

Seandainya hisbah ditinggalkan hanya karena celaan orang yang mencela, atau karena ghibah orang fasik, atau caci-maki dan hardikan, atau jatuhnya kedudukan dari hatinya dan hati orang-orang semisalnya, niscaya hisbah tidak akan punya kewajiban sama sekali.

إِذْ لَا تَنْفَكُّ الْحِسْبَةُ عَنْهُ.

Karena hisbah hampir tidak pernah lepas dari hal semacam itu.

إِلَّا إِذَا كَانَ الْمُنْكَرُ هُوَ الْغِيبَةَ، وَعَلِمَ أَنَّهُ لَوْ أَنْكَرَ لَمْ يَسْكُتْ عَنِ الْمُغْتَابِ.

Kecuali bila kemungkarannya adalah ghibah, dan ia tahu bahwa bila ia mengingkari, orang itu tidak akan berhenti dari mengghibahi.

وَلٰكِنْ أَضَافَهُ إِلَيْهِ وَأَدْخَلَهُ مَعَهُ فِي الْغِيبَةِ.

Namun justru menyeretnya, memasukkannya bersama-sama dalam ghibah.

فَتَحْرُمُ هٰذِهِ الْحِسْبَةُ لِأَنَّهَا سَبَبُ زِيَادَةِ الْمَعْصِيَةِ.

Maka hisbah seperti itu haram, karena menjadi sebab bertambahnya maksiat.

وَإِنْ عَلِمَ أَنَّهُ يَتْرُكُ تِلْكَ الْغِيبَةَ وَيَقْتَصِرُ عَلَى غِيبَتِهِ.

Jika ia tahu bahwa orang itu akan meninggalkan ghibah tersebut namun akan membatasi diri dengan mengghibahinya (si pengingkar).

فَلَا تَجِبُ عَلَيْهِ الْحِسْبَةُ.

Maka hisbah tidak wajib atasnya.

لِأَنَّ غِيبَتَهُ أَيْضًا مَعْصِيَةٌ فِي حَقِّ الْمُغْتَابِ.

Karena mengghibahinya juga maksiat terhadap orang yang dighibahi (yakni dirinya).

وَلٰكِنْ يُسْتَحَبُّ لَهُ ذٰلِكَ لِيَفْدِيَ عِرْضَ الْمَذْكُورِ بِعِرْضِ نَفْسِهِ عَلَى سَبِيلِ الْإِيثَارِ.

Namun hal itu dianjurkan, agar ia menebus kehormatan orang yang sedang dighibahi dengan kehormatan dirinya sendiri, sebagai bentuk mengutamakan orang lain.

وَقَدْ دَلَّتِ الْعُمُومَاتُ عَلَى تَأَكُّدِ وُجُوبِ الْحِسْبَةِ.

Dalil-dalil umum menunjukkan sangat kuatnya kewajiban hisbah.

وَعِظَمِ الْخَطَرِ فِي السُّكُوتِ عَنْهَا.

Dan besarnya bahaya dalam diam darinya.

فَلَا يُقَابِلُهُ إِلَّا مَا عَظُمَ فِي الدِّينِ خَطَرُهُ.

Maka itu tidak boleh “ditandingi” kecuali oleh hal yang risikonya dalam agama benar-benar besar.

وَالْمَالُ وَالنَّفْسُ وَالْمُرُوءَةُ قَدْ ظَهَرَ فِي الشَّرْعِ خَطَرُهَا.

Harta, jiwa, dan muru’ah, telah tampak dalam syariat bahwa ketiganya memiliki nilai risiko yang besar.

فَأَمَّا مَزَايَا الْجَاهِ وَالْحَشْمَةِ وَدَرَجَاتُ التَّجَمُّلِ وَطَلَبُ ثَنَاءِ الْخَلْقِ، فَكُلُّ ذٰلِكَ لَا خَطَرَ لَهُ.

Adapun kelebihan-kelebihan kedudukan dan kehormatan, berbagai tingkat bergaya, dan mencari pujian manusia, semua itu tidak bernilai bahaya (yang layak dijadikan alasan).

وَأَمَّا امْتِنَاعُهُ لِخَوْفِ شَيْءٍ مِنْ هٰذِهِ الْمَكَارِهِ فِي حَقِّ أَوْلَادِهِ وَأَقَارِبِهِ، فَهُوَ فِي حَقِّهِ دُونَهُ.

Adapun bila ia menahan diri karena takut sebagian mudarat itu menimpa anak-anak dan kerabatnya, maka dari sisi dirinya hal itu lebih ringan (dibanding mudarat yang menimpa dirinya langsung).

لِأَنَّ تَأَذِّيَهُ بِأَمْرِ نَفْسِهِ أَشَدُّ مِنْ تَأَذِّيهِ بِأَمْرِ غَيْرِهِ.

Karena tersakitinya seseorang oleh urusan dirinya lebih berat daripada tersakitinya oleh urusan orang lain.

وَمِنْ وَجْهِ الدِّينِ هُوَ فَوْقَهُ.

Namun dari sisi agama, hal itu justru lebih berat.

لِأَنَّ لَهُ أَنْ يُسَامِحَ فِي حُقُوقِ نَفْسِهِ.

Karena ia boleh bersikap lapang dalam hak-hak dirinya.

وَلَيْسَ لَهُ الْمُسَامَحَةُ فِي حَقِّ غَيْرِهِ.

Tapi ia tidak boleh bersikap lapang dalam hak orang lain.

فَإِذًا يَنْبَغِي أَنْ يَمْتَنِعَ.

Maka seharusnya ia menahan diri (tidak melakukan hisbah dalam kondisi itu).

فَإِنْ كَانَ مَا يَفُوتُ مِنْ حُقُوقِهِمْ يَفُوتُ عَلَى طَرِيقِ الْمَعْصِيَةِ كَالضَّرْبِ وَالنَّهْبِ.

Jika yang hilang dari hak-hak mereka hilang melalui jalan maksiat, seperti dipukul dan dijarah.

فَلَيْسَ لَهُ هٰذِهِ الْحِسْبَةُ.

Maka hisbah itu tidak boleh baginya.

لِأَنَّهُ دَفْعُ مُنْكَرٍ يُفْضِي إِلَى مُنْكَرٍ.

Karena itu menghilangkan satu kemungkaran dengan menimbulkan kemungkaran lain.

وَإِنْ كَانَ يَفُوتُ لَا بِطَرِيقِ الْمَعْصِيَةِ، فَهُوَ إِيذَاءٌ لِلْمُسْلِمِ أَيْضًا.

Jika hilangnya hak mereka bukan melalui jalan maksiat, itu tetap termasuk menyakiti seorang muslim.

وَلَيْسَ لَهُ ذٰلِكَ إِلَّا بِرِضَاهُمْ.

Dan ia tidak boleh melakukannya kecuali dengan keridaan mereka.

فَإِذَا كَانَ يُؤَدِّي ذٰلِكَ إِلَى أَذَى قَوْمِهِ فَلْيَتْرُكْهُ.

Jika hal itu menyebabkan gangguan terhadap keluarganya/kaumnya, maka hendaknya ia tinggalkan.

وَذٰلِكَ كَالزَّاهِدِ الَّذِي لَهُ أَقَارِبُ أَغْنِيَاءُ.

Seperti seorang zahid yang memiliki kerabat-kerabat kaya.

فَإِنَّهُ لَا يَخَافُ عَلَى مَالِهِ إِنِ احْتَسَبَ عَلَى السُّلْطَانِ.

Ia tidak takut hartanya sendiri bila melakukan hisbah kepada sultan.

وَلٰكِنَّهُ يُقْصَدُ أَقَارِبُهُ انْتِقَامًا مِنْهُ بِوَاسِطَتِهِ.

Namun yang disasar adalah kerabatnya, sebagai balas dendam terhadapnya melalui perantara sultan.

فَإِذَا كَانَ يَتَعَدَّى الْأَذَى مِنْ حِسْبَتِهِ إِلَى أَقَارِبِهِ وَجِيرَانِهِ فَلْيَتْرُكْهَا.

Jika gangguannya meluas dari hisbahnya kepada kerabat dan tetangganya, hendaknya ia meninggalkannya.

فَإِنَّ إِيذَاءَ الْمُسْلِمِينَ مَحْذُورٌ كَمَا أَنَّ السُّكُوتَ عَلَى الْمُنْكَرِ مَحْذُورٌ.

Karena menyakiti kaum muslimin adalah bahaya, sebagaimana diam dari kemungkaran juga bahaya.

نَعَمْ، إِنْ كَانَ لَا يَنَالُهُمْ أَذًى فِي مَالٍ أَوْ نَفْسٍ، وَلٰكِنْ يَنَالُهُمُ الْأَذَى بِالشَّتْمِ وَالسَّبِّ، فَهٰذَا فِيهِ نَظَرٌ.

Namun bila mereka tidak terkena gangguan pada harta atau jiwa, tetapi terkena gangguan berupa caci-maki, maka hal ini perlu pertimbangan.

وَيَخْتَلِفُ الْأَمْرُ فِيهِ بِدَرَجَاتِ الْمُنْكَرَاتِ فِي تَفَاحُشِهَا.

Dan perkaranya berbeda-beda sesuai tingkat keparahan kemungkaran.

وَدَرَجَاتِ الْكَلَامِ الْمَحْذُورِ فِي نِكَايَتِهِ فِي الْقَلْبِ وَقَدْحِهِ فِي الْعِرْضِ.

Dan sesuai tingkat ucapan terlarang dalam melukai hati dan mencederai kehormatan.

فَإِنْ قِيلَ: فَلَوْ قَصَدَ الْإِنْسَانُ قَطْعَ طَرَفٍ مِنْ نَفْسِهِ، وَكَانَ لَا يَمْتَنِعُ عَنْهُ إِلَّا بِقِتَالٍ، رُبَّمَا يُؤَدِّي إِلَى قَتْلِهِ، فَهَلْ يُقَاتَلُ عَلَيْهِ؟

Jika dikatakan: “Bila seseorang berniat memotong salah satu anggota tubuhnya, dan ia tidak bisa dicegah kecuali dengan perkelahian yang mungkin berujung pada terbunuhnya dia, apakah ia diperangi demi mencegahnya?”

فَإِنْ قُلْتُمْ: يُقَاتَلُ، فَهُوَ مُحَالٌ.

Jika kalian menjawab: “Ya, diperangi,” maka itu tampak mustahil.

لِأَنَّهُ إِهْلَاكُ نَفْسٍ خَوْفًا مِنْ إِهْلَاكِ طَرَفٍ.

Karena itu berarti membinasakan nyawa karena takut binasanya satu anggota tubuh.

وَفِي إِهْلَاكِ النَّفْسِ إِهْلَاكُ الطَّرَفِ أَيْضًا.

Dan ketika nyawa binasa, anggota tubuh pun ikut binasa.

قُلْنَا: يَمْنَعُهُ عَنْهُ وَيُقَاتِلُهُ.

Kami menjawab: ia dicegah, dan bila perlu diperangi.

إِذْ لَيْسَ غَرَضُنَا حِفْظَ نَفْسِهِ وَطَرَفِهِ.

Karena tujuan kita bukan sekadar menjaga nyawanya dan anggota tubuhnya.

بَلِ الْغَرَضُ حَسْمُ سَبِيلِ الْمُنْكَرِ وَالْمَعْصِيَةِ.

Melainkan tujuan adalah memutus jalan kemungkaran dan maksiat.

وَقَتْلُهُ فِي الْحِسْبَةِ لَيْسَ بِمَعْصِيَةٍ.

Membunuhnya dalam rangka hisbah (ketika ia menyerang dan harus ditahan) bukan maksiat.

وَقَطْعُ طَرَفِ نَفْسِهِ مَعْصِيَةٌ.

Sedangkan memotong anggota tubuh sendiri adalah maksiat.

وَذٰلِكَ كَدَفْعِ الصَّائِلِ عَلَى مَالِ مُسْلِمٍ بِمَا يَأْتِي عَلَى قَتْلِهِ فَإِنَّهُ جَائِزٌ.

Itu seperti menolak penyerang yang merampas harta seorang muslim, sekalipun penolakan itu berujung pada terbunuhnya penyerang; hal itu boleh.

لَا عَلَى مَعْنَى: أَنَّا نَفْدِي دِرْهَمًا مِنْ مَالِ مُسْلِمٍ بِرُوحِ مُسْلِمٍ.

Bukan dengan makna bahwa “kita menebus satu dirham harta muslim dengan nyawa seorang muslim.”

فَإِنَّ ذٰلِكَ مُحَالٌ.

Karena itu mustahil (sebagai tujuan).

وَلٰكِنْ قَصْدَهُ لِأَخْذِ مَالِ الْمُسْلِمِينَ مَعْصِيَةٌ.

Namun niatnya merampas harta kaum muslimin adalah maksiat.

وَقَتْلُهُ فِي الدَّفْعِ عَنِ الْمَعْصِيَةِ لَيْسَ بِمَعْصِيَةٍ.

Dan membunuhnya ketika menolak maksiat bukanlah maksiat.

وَإِنَّمَا الْمَقْصُودُ دَفْعُ الْمَعَاصِي.

Tujuannya memang menolak kemaksiatan.

فَإِنْ قِيلَ: فَلَوْ عَلِمْنَا أَنَّهُ لَوْ خَلَا بِنَفْسِهِ لَقَطَعَ طَرَفَ نَفْسِهِ، فَيَنْبَغِي أَنْ نَقْتُلَهُ فِي الْحَالِ حَسْمًا لِبَابِ الْمَعْصِيَةِ.

Jika dikatakan: “Kalau kita tahu bahwa bila ia sendirian, ia akan memotong anggota tubuhnya, maka seharusnya kita membunuhnya saat itu juga untuk menutup pintu maksiat.”

قُلْنَا: ذٰلِكَ لَا يُعْلَمُ يَقِينًا.

Kami menjawab: hal itu tidak bisa diketahui dengan yakin.

وَلَا يَجُوزُ سَفْكُ دَمِهِ بِتَوَهُّمِ مَعْصِيَةٍ.

Dan tidak boleh menumpahkan darahnya hanya karena dugaan maksiat.

وَلٰكِنَّا إِذَا رَأَيْنَاهُ فِي حَالِ مُبَاشَرَةِ الْقَطْعِ دَفَعْنَاهُ.

Namun bila kita melihatnya sedang melakukan pemotongan, kita menahannya.

فَإِنْ قَاتَلَنَا قَاتَلْنَاهُ وَلَمْ نُبَالِ بِمَا يَأْتِي عَلَى رُوحِهِ.

Jika ia memerangi kita, kita memeranginya, dan kita tidak memperdulikan jika itu berujung pada nyawanya.

فَإِذًا الْمَعْصِيَةُ لَهَا ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ.

Maka maksiat memiliki tiga keadaan.

إِحْدَاهَا: أَنْ تَكُونَ مُتَصَرِّمَةً.

Pertama: maksiat itu sudah berlalu.

فَالْعُقُوبَةُ عَلَى مَا تَصَرَّمَ مِنْهَا حَدٌّ أَوْ تَعْزِيرٌ.

Hukuman atas maksiat yang telah berlalu adalah had atau ta‘zir.

وَهُوَ إِلَى الْوُلَاةِ لَا إِلَى الْآحَادِ.

Dan itu menjadi wewenang penguasa, bukan individu biasa.

الثَّانِيَةُ: أَنْ تَكُونَ الْمَعْصِيَةُ رَاهِنَةً، وَصَاحِبُهَا مُبَاشِرًا لَهَا.

Kedua: maksiat itu sedang berlangsung, dan pelakunya sedang melakukannya.

كَلُبْسِهِ الْحَرِيرَ، وَإِمْسَاكِهِ الْعُودَ وَالْخَمْرَ.

Seperti ia memakai sutra, memegang alat musik, dan khamar.

فَإِبْطَالُ هٰذِهِ الْمَعْصِيَةِ وَاجِبٌ بِكُلِّ مَا يُمْكِنُ.

Menghilangkan maksiat ini wajib dengan segala cara yang memungkinkan.

مَا لَمْ تُؤَدِّ إِلَى مَعْصِيَةٍ أَفْحَشَ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا.

Selama tidak menyebabkan maksiat yang lebih keji atau sebanding dengannya.

وَذٰلِكَ يَثْبُتُ لِلْآحَادِ وَالرَّعِيَّةِ.

Dan ini berlaku bagi individu dan rakyat.

الثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ الْمُنْكَرُ مُتَوَقَّعًا.

Ketiga: kemungkaran itu baru diperkirakan akan terjadi.

كَالَّذِي يَسْتَعِدُّ بِكَنَسِ الْمَجْلِسِ وَتَزْيِينِهِ وَجَمْعِ الرَّيَاحِينِ لِشُرْبِ الْخَمْرِ.

Seperti orang yang bersiap-siap membersihkan majelis, menghiasnya, dan mengumpulkan bunga-bungaan untuk minum khamar.

وَبَعْدُ لَمْ يَحْضُرِ الْخَمْرُ.

Padahal khamar belum ada.

فَهٰذَا مَشْكُوكٌ فِيهِ.

Maka ini masih meragukan.

إِذْ رُبَّمَا يُعُوقُ عَنْهُ عَائِقٌ.

Karena mungkin saja ada penghalang yang mencegahnya.

فَلَا يَثْبُتُ لِلْآحَادِ سُلْطَانٌ عَلَى الْعَازِمِ عَلَى الشُّرْبِ إِلَّا بِطَرِيقِ الْوَعْظِ وَالنُّصْحِ.

Maka individu tidak memiliki kewenangan atas orang yang bertekad minum, kecuali dengan jalan nasihat dan arahan.

فَأَمَّا بِالتَّعْنِيفِ وَالضَّرْبِ فَلَا يَجُوزُ لِلْآحَادِ، وَلَا لِلسُّلْطَانِ.

Adapun dengan hardikan dan pukulan, tidak boleh bagi individu, dan tidak pula bagi penguasa.

إِلَّا إِذَا كَانَتْ تِلْكَ الْمَعْصِيَةُ عُلِمَتْ مِنْهُ بِالْعَادَةِ الْمُسْتَمِرَّةِ.

Kecuali bila maksiat itu diketahui darinya berdasarkan kebiasaan yang terus berulang.

وَقَدْ أَقْدَمَ عَلَى السَّبَبِ الْمُؤَدِّي إِلَيْهَا.

Dan ia sudah melakukan sebab yang mengantarkan kepadanya.

وَلَمْ يَبْقَ لِحُصُولِ الْمَعْصِيَةِ إِلَّا مَا لَيْسَ لَهُ فِيهِ إِلَّا الِانْتِظَارُ.

Dan tidak tersisa untuk terjadinya maksiat kecuali sesuatu yang tinggal menunggu.

وَذٰلِكَ كَوُقُوفِ الْأَحْدَاثِ عَلَى أَبْوَابِ حَمَّامَاتِ النِّسَاءِ لِلنَّظَرِ إِلَيْهِنَّ عِنْدَ الدُّخُولِ وَالْخُرُوجِ.

Seperti anak-anak muda yang berdiri di pintu-pintu pemandian perempuan untuk melihat mereka ketika masuk dan keluar.

فَإِنَّهُمْ وَإِنْ لَمْ يُضَيِّقُوا الطَّرِيقَ لِسِعَتِهِ.

Walaupun mereka tidak menyempitkan jalan karena jalan itu luas.

فَتَجُوزُ الْحِسْبَةُ عَلَيْهِمْ بِإِقَامَتِهِمْ مِنَ الْمَوْضِعِ وَمَنْعِهِمْ عَنِ الْوُقُوفِ بِالتَّعْنِيفِ وَالضَّرْبِ.

Tetap boleh hisbah kepada mereka: mengusir mereka dari tempat itu dan melarang mereka berdiri di sana dengan hardikan dan pukulan.

وَكَانَ تَحْقِيقُ هٰذَا إِذَا بُحِثَ عَنْهُ يَرْجِعُ إِلَى أَنَّ هٰذَا الْوُقُوفَ فِي نَفْسِهِ مَعْصِيَةٌ.

Dan hakikatnya—bila diteliti—kembali pada bahwa berdiri seperti itu sendiri adalah maksiat.

وَإِنْ كَانَ مَقْصُودُ الْعَاصِي وَرَاءَهُ.

Walaupun tujuan pelaku maksiat berada “di baliknya” (yakni mengintip).

كَمَا أَنَّ الْخَلْوَةَ بِالْأَجْنَبِيَّةِ فِي نَفْسِهَا مَعْصِيَةٌ.

Sebagaimana berduaan dengan perempuan ajnabiyah itu sendiri adalah maksiat.

لِأَنَّهَا مَظِنَّةُ وُقُوعِ الْمَعْصِيَةِ.

Karena itu merupakan sarana kuat terjadinya maksiat.

وَتَحْصِيلُ مَظِنَّةِ الْمَعْصِيَةِ مَعْصِيَةٌ.

Mewujudkan “sarana kuat” maksiat adalah maksiat.

وَنَعْنِي بِالْمَظِنَّةِ: مَا يَتَعَرَّضُ الْإِنْسَانُ بِهِ لِوُقُوعِ الْمَعْصِيَةِ غَالِبًا.

Yang dimaksud “mazhinnah” ialah sesuatu yang biasanya membuat seseorang terpapar pada terjadinya maksiat.

بِحَيْثُ لَا يَقْدِرُ عَلَى الِانْكِفَافِ عَنْهَا.

Sampai-sampai ia sulit menahan diri darinya.

فَإِذًا هُوَ عَلَى التَّحْقِيقِ حِسْبَةٌ عَلَى مَعْصِيَةٍ رَاهِنَةٍ، لَا عَلَى مَعْصِيَةٍ مُنْتَظَرَةٍ.

Maka pada hakikatnya, itu adalah hisbah atas maksiat yang sedang terjadi, bukan maksiat yang baru ditunggu.

اَلرُّكْنُ الثَّانِي لِلْحِسْبَةِ: مَا فِيهِ الْحِسْبَةُ.

Rukun kedua dalam hisbah: perkara yang menjadi objek hisbah.

وَهُوَ كُلُّ مُنْكَرٍ مَوْجُودٍ فِي الْحَالِ.

Yaitu setiap kemungkaran yang ada saat itu.

ظَاهِرٍ لِلْمُحْتَسِبِ بِغَيْرِ تَجَسُّسٍ.

Yang tampak bagi muhtasib tanpa memata-matai.

مَعْلُومٍ كَوْنُهُ مُنْكَرًا بِغَيْرِ اجْتِهَادٍ.

Dan diketahui sebagai mungkar tanpa ijtihad.

فَهٰذِهِ أَرْبَعَةُ شُرُوطٍ، فَلْنَبْحَثْ عَنْهَا.

Maka ini empat syarat; mari kita bahas.

الأَوَّلُ: كَوْنُهُ مُنْكَرًا.

Syarat pertama: perbuatan itu harus mungkar.

وَنَعْنِي بِهِ: أَنْ يَكُونَ مَحْظُورَ الْوُقُوعِ فِي الشَّرْعِ.

Yang kami maksud: perbuatan itu terlarang dalam syariat.

وَعَدَلْنَا عَنْ لَفْظِ الْمَعْصِيَةِ إِلَى هٰذَا.

Kami berpindah dari kata “maksiat” ke kata ini.

لِأَنَّ الْمُنْكَرَ أَعَمُّ مِنَ الْمَعْصِيَةِ.

Karena “mungkar” lebih umum daripada “maksiat”.

إِذْ مَنْ رَأَى صَبِيًّا أَوْ مَجْنُونًا يَشْرَبُ الْخَمْرَ فَعَلَيْهِ أَنْ يُرِيقَ خَمْرَهُ وَيَمْنَعَهُ.

Sebab siapa melihat anak kecil atau orang gila minum khamar, wajib menumpahkan khamarnya dan mencegahnya.

وَكَذٰلِكَ إِنْ رَأَى مَجْنُونًا يَزْنِي بِمَجْنُونَةٍ أَوْ بِبَهِيمَةٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَمْنَعَهُ مِنْهُ.

Demikian pula jika ia melihat orang gila berzina dengan perempuan gila atau dengan hewan, wajib mencegahnya.

وَلَيْسَ ذٰلِكَ لِتَفَاحُشِ صُورَةِ الْفِعْلِ وَظُهُورِهِ بَيْنَ النَّاسِ.

Dan itu bukan karena rupanya yang keji dan tampaknya di hadapan manusia.

بَلْ لَوْ صَادَفَ هٰذَا الْمُنْكَرَ فِي خَلْوَةٍ لَوَجَبَ الْمَنْعُ مِنْهُ.

Bahkan seandainya kemungkaran itu didapati di tempat sepi, tetap wajib dicegah.

وَهٰذَا لَا يُسَمَّى مَعْصِيَةً فِي حَقِّ الْمَجْنُونِ.

Dan hal itu tidak disebut “maksiat” pada diri orang gila.

إِذْ مَعْصِيَةٌ لَا عَاصِيَ بِهَا مُحَالٌ.

Karena maksiat tanpa pelaku yang mukallaf adalah mustahil (secara istilah).

فَلَفْظُ الْمُنْكَرِ أَدَلُّ عَلَيْهِ وَأَعَمُّ مِنْ لَفْظِ الْمَعْصِيَةِ.

Maka kata “mungkar” lebih tepat dan lebih luas daripada kata “maksiat”.

وَقَدْ أَدْرَجْنَا فِي عُمُومِ هٰذَا الصَّغِيرَةَ وَالْكَبِيرَةَ.

Kami masukkan ke dalam keumuman ini dosa kecil dan dosa besar.

فَلَا تَخْتَصُّ الْحِسْبَةُ بِالْكَبَائِرِ.

Hisbah tidak khusus untuk dosa-dosa besar saja.

بَلْ كَشْفُ الْعَوْرَةِ فِي الْحَمَّامِ، وَالْخَلْوَةُ بِالْأَجْنَبِيَّةِ، وَإِتْبَاعُ النَّظَرِ لِلنِّسْوَةِ الْأَجْنَبِيَّاتِ، كُلُّ ذٰلِكَ مِنَ الصَّغَائِرِ.

Bahkan membuka aurat di pemandian, berduaan dengan perempuan ajnabiyah, dan meneruskan pandangan kepada perempuan ajnabiyah, semuanya termasuk dosa kecil.

وَيَجِبُ النَّهْيُ عَنْهَا.

Dan wajib melarangnya.

وَفِي الْفَرْقِ بَيْنَ الصَّغِيرَةِ وَالْكَبِيرَةِ نَظَرٌ سَيَأْتِي فِي كِتَابِ التَّوْبَةِ.

Perbedaan antara dosa kecil dan dosa besar memiliki pembahasan yang akan datang dalam Kitab at-Taubah.

الشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ مَوْجُودًا فِي الْحَالِ.

Syarat kedua: kemungkaran itu harus ada saat itu.

وَهُوَ احْتِرَازٌ أَيْضًا عَنِ الْحِسْبَةِ عَلَى مَنْ فَرَغَ مِنْ شُرْبِ الْخَمْرِ.

Ini juga untuk mengecualikan hisbah terhadap orang yang sudah selesai minum khamar.

فَإِنَّ ذٰلِكَ لَيْسَ إِلَى الْآحَادِ، وَقَدِ انْقَرَضَ الْمُنْكَرُ.

Karena itu bukan urusan individu, dan kemungkarannya telah berlalu.

وَاحْتِرَازٌ عَمَّا سَيُوجَدُ فِي ثَانِي الْحَالِ.

Dan untuk mengecualikan apa yang akan terjadi sesaat lagi.

كَمَنْ يَعْلَمُ بِقَرِينَةِ الْحَالِ أَنَّهُ عَازِمٌ عَلَى الشُّرْبِ فِي لَيْلَتِهِ.

Seperti orang yang diketahui dari indikasi keadaan bahwa ia berniat minum pada malam itu.

فَلَا حِسْبَةَ عَلَيْهِ إِلَّا بِالْوَعْظِ.

Tidak ada hisbah atasnya kecuali dengan nasihat.

وَإِنْ أَنْكَرَ عَزْمَهُ عَلَيْهِ لَمْ يَجُزْ وَعْظُهُ أَيْضًا.

Bahkan bila ia mengingkari niatnya, menasihatinya pun tidak boleh.

فَإِنَّ فِيهِ إِسَاءَةَ ظَنٍّ بِالْمُسْلِمِ.

Karena itu berisi prasangka buruk kepada seorang muslim.

وَرُبَّمَا صَدَقَ فِي قَوْلِهِ.

Dan boleh jadi ia benar dalam ucapannya.

وَرُبَّمَا لَا يُقْدِمُ عَلَى مَا عَزَمَ عَلَيْهِ لِعَائِقٍ.

Dan boleh jadi ia tidak jadi melakukan apa yang ia niatkan karena ada penghalang.

وَلْيَتَنَبَّهْ لِلدَّقِيقَةِ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا.

Hendaklah memperhatikan poin halus yang telah kami sebutkan.

وَهِيَ أَنَّ الْخَلْوَةَ بِالْأَجْنَبِيَّةِ مَعْصِيَةٌ نَاجِزَةٌ.

Yaitu bahwa khalwat dengan perempuan ajnabiyah adalah maksiat yang terjadi saat itu.

وَكَذٰلِكَ الْوُقُوفُ عَلَى بَابِ حَمَّامِ النِّسَاءِ وَمَا يَجْرِي مَجْرَاهُ.

Demikian pula berdiri di pintu pemandian perempuan dan yang sejenisnya.

الشَّرْطُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ الْمُنْكَرُ ظَاهِرًا لِلْمُحْتَسِبِ بِغَيْرِ تَجَسُّسٍ.

Syarat ketiga: kemungkaran itu harus tampak bagi muhtasib tanpa memata-matai.

فَكُلُّ مَنْ سَتَرَ مَعْصِيَةً فِي دَارِهِ وَأَغْلَقَ بَابَهُ، لَا يَجُوزُ أَنْ يُتَجَسَّسَ عَلَيْهِ.

Siapa yang menutupi maksiat di rumahnya dan menutup pintunya, tidak boleh dimata-matai.

وَقَدْ نَهَى اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ.

Allah Ta‘ala telah melarangnya.

وَقِصَّةُ عُمَرَ وَعَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ عَوْفٍ فِيهِ مَشْهُورَةٌ.

Kisah ‘Umar dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf dalam hal ini terkenal.

وَقَدْ أَوْرَدْنَاهَا فِي كِتَابِ آدَابِ الصُّحْبَةِ.

Kami telah membawakannya dalam Kitab Adab ash-Shuhbah.

وَكَذٰلِكَ مَا رُوِيَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَسَلَّقَ دَارَ رَجُلٍ.

Demikian pula riwayat bahwa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu memanjat rumah seseorang.

فَرَآهُ عَلَى حَالَةٍ مَكْرُوهَةٍ فَأَنْكَرَ عَلَيْهِ.

Lalu beliau melihatnya dalam keadaan yang tidak baik, maka beliau mengingkari.

فَقَالَ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، إِنْ كُنْتُ أَنَا قَدْ عَصَيْتُ اللَّهَ مِنْ وَجْهٍ وَاحِدٍ فَأَنْتَ قَدْ عَصَيْتَهُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ.

Orang itu berkata: “Wahai Amirul Mukminin, jika aku bermaksiat kepada Allah dari satu sisi, maka engkau telah bermaksiat kepada-Nya dari tiga sisi.”

فَقَالَ: وَمَا هِيَ؟

‘Umar bertanya: “Apa itu?”

فَقَالَ: قَدْ قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَجَسَّسُوا﴾ وَقَدْ تَجَسَّسْتَ.

Ia menjawab: “Allah berfirman: ‘Jangan memata-matai,’ sedangkan engkau memata-matai.”

وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا﴾ وَقَدْ تَسَوَّرْتَ مِنَ السَّطْحِ.

“Allah berfirman: ‘Datangilah rumah dari pintu-pintunya,’ sedangkan engkau masuk lewat atap.”

وَقَالَ: ﴿لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا﴾ وَمَا سَلَّمْتَ.

“Dan Allah berfirman: ‘Jangan memasuki rumah yang bukan rumah kalian sampai meminta izin dan mengucapkan salam kepada penghuninya,’ sedangkan engkau tidak mengucapkan salam.”

فَتَرَكَهُ عُمَرُ وَشَرَطَ عَلَيْهِ التَّوْبَةَ.

Maka ‘Umar meninggalkannya, dan mensyaratkan agar ia bertobat.

وَلِذٰلِكَ شَاوَرَ عُمَرُ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ.

Karena itu ‘Umar bermusyawarah dengan para sahabat radhiyallahu ‘anhum ketika beliau berada di mimbar.

وَسَأَلَهُمْ عَنِ الْإِمَامِ إِذَا شَاهَدَ بِنَفْسِهِ مُنْكَرًا فَهَلْ لَهُ إِقَامَةُ الْحَدِّ فِيهِ؟

Beliau bertanya tentang seorang imam (penguasa) bila ia sendiri menyaksikan kemungkaran, apakah ia boleh menegakkan had karenanya?

فَأَشَارَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَنَّ ذٰلِكَ مَنُوطٌ بِعَدْلَيْنِ، فَلَا يَكْفِي فِيهِ وَاحِدٌ.

‘Ali radhiyallahu ‘anhu memberi isyarat bahwa hal itu bergantung pada dua saksi adil; satu orang tidak cukup.

وَقَدْ أَوْرَدْنَا هٰذِهِ الْأَخْبَارَ فِي بَيَانِ حَقِّ الْمُسْلِمِ مِنْ كِتَابِ آدَابِ الصُّحْبَةِ.

Kami telah membawakan riwayat-riwayat ini dalam penjelasan hak seorang muslim di Kitab Adab ash-Shuhbah.

فَلَا نُعِيدُهَا.

Maka kami tidak mengulanginya.

فَإِنْ قُلْتَ: فَمَا حَدُّ الظُّهُورِ وَالِاسْتِتَارِ؟

Jika engkau bertanya: “Apa batas ‘tampak’ dan ‘tertutup’ itu?”

فَاعْلَمْ أَنَّ مَنْ أَغْلَقَ بَابَ دَارِهِ وَتَسَتَّرَ بِحِيطَانِهِ فَلَا يَجُوزُ الدُّخُولُ عَلَيْهِ بِغَيْرِ إِذْنِهِ لِنَعْرِفَ الْمَعْصِيَةَ.

Ketahuilah: siapa menutup pintu rumahnya dan berlindung dengan dinding-dindingnya, tidak boleh masuk kepadanya tanpa izinnya untuk mengetahui maksiat.

إِلَّا أَنْ يَظْهَرَ فِي الدَّارِ ظُهُورًا يُعْرَفُهُ مَنْ هُوَ خَارِجُ الدَّارِ.

Kecuali bila dari dalam rumah tampak sesuatu yang bisa diketahui oleh orang yang berada di luar.

كَأَصْوَاتِ الْمَزَامِيرِ وَالْأَوْتَارِ إِذَا ارْتَفَعَتْ بِحَيْثُ جَاوَزَ ذٰلِكَ حِيطَانَ الدَّارِ.

Seperti suara seruling dan petikan senar yang meninggi sampai melewati dinding rumah.

فَمَنْ سَمِعَ ذٰلِكَ فَلَهُ دُخُولُ الدَّارِ وَكَسْرُ الْمَلَاهِي.

Siapa mendengarnya, ia boleh masuk rumah dan memecahkan alat maksiat.

وَكَذٰلِكَ إِذَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُ السُّكَارَى بِالْكَلِمَاتِ الْمَأْلُوفَةِ بَيْنَهُمْ.

Demikian pula bila suara orang mabuk meninggi dengan kata-kata khas mereka.

بِحَيْثُ يَسْمَعُهَا أَهْلُ الشَّوَارِعِ.

Sampai terdengar oleh orang-orang di jalan.

فَهٰذَا إِظْهَارٌ مُوجِبٌ لِلْحِسْبَةِ.

Maka ini termasuk “menampakkan” yang mewajibkan hisbah.

فَإِذًا إِنَّمَا يُدْرَكُ مَعَ تَخَلُّلِ الْحِيطَانِ صَوْتٌ أَوْ رَائِحَةٌ.

Jadi, yang bisa menembus dinding biasanya hanyalah suara atau bau.

فَإِذَا فَاحَتْ رَوَائِحُ الْخَمْرِ، فَإِنِ احْتَمَلَ أَنْ يَكُونَ ذٰلِكَ مِنَ الْخُمُورِ الْمُحْتَرَمَةِ فَلَا يَجُوزُ قَصْدُهَا بِالْإِرَاقَةِ.

Bila tercium bau khamar, lalu ada kemungkinan itu berasal dari khamar yang “dihormati” (yang dibolehkan menurut syariat dalam kondisi tertentu), maka tidak boleh sengaja menumpahkannya.

وَإِنْ عُلِمَ بِقَرِينَةِ الْحَالِ أَنَّهَا فَاحَتْ لِتَعَاطِيهِمُ الشُّرْبَ، فَهٰذَا مُحْتَمَلٌ.

Namun bila diketahui dari indikasi keadaan bahwa bau itu muncul karena mereka meminumnya, maka itu sebuah kemungkinan yang kuat.

وَالظَّاهِرُ جَوَازُ الْحِسْبَةِ.

Dan yang lebih tampak: hisbah dibolehkan.

وَقَدْ تُسْتَتَرُ قَارُورَةُ الْخَمْرِ فِي الْكُمِّ وَتَحْتَ الذَّيْلِ، وَكَذٰلِكَ الْمَلَاهِي.

Botol khamar bisa disembunyikan di lengan baju atau di bawah ujung pakaian; demikian pula alat maksiat.

فَإِذَا رُئِيَ فَاسِقٌ وَتَحْتَ ذَيْلِهِ شَيْءٌ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُكْشَفَ عَنْهُ مَا لَمْ يَظْهَرْ بِعَلَامَةٍ خَاصَّةٍ.

Jika terlihat seorang fasik dan ada sesuatu di bawah ujung pakaiannya, tidak boleh disingkap kecuali bila tampak tanda khusus.

فَإِنَّ فِسْقَهُ لَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الَّذِي مَعَهُ خَمْرٌ.

Karena kefasikannya tidak membuktikan bahwa yang dibawanya adalah khamar.

إِذِ الْفَاسِقُ مُحْتَاجٌ أَيْضًا إِلَى الْخَلِّ وَغَيْرِهِ.

Sebab orang fasik pun membutuhkan cuka dan yang lainnya.

فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُسْتَدَلَّ بِإِخْفَائِهِ عَلَى أَنَّهُ حَرَامٌ.

Maka tidak boleh menyimpulkan dari “menyembunyikannya” bahwa itu pasti haram.

وَأَنَّهُ لَوْ كَانَ حَلَالًا لَمَا أَخْفَاهُ.

Dan tidak boleh berkata: “Seandainya halal tentu tidak disembunyikan.”

لِأَنَّ الْأَغْرَاضَ فِي الْإِخْفَاءِ مِمَّا تَكْثُرُ.

Karena motif menyembunyikan itu banyak.

وَإِنْ كَانَتِ الرَّائِحَةُ فَائِحَةً فَهٰذَا مَحَلُّ النَّظَرِ.

Jika bau itu menyengat, maka ini wilayah pertimbangan.

وَالظَّاهِرُ أَنَّ لَهُ الِاحْتِسَابَ.

Dan yang lebih tampak: ia boleh melakukan hisbah.

لِأَنَّ هٰذِهِ عَلَامَةٌ تُفِيدُ الظَّنَّ، وَالظَّنُّ كَالْعِلْمِ فِي أَمْثَالِ هٰذِهِ الْأُمُورِ.

Karena ini tanda yang melahirkan dugaan kuat, dan dugaan kuat diperlakukan seperti ilmu dalam kasus seperti ini.

وَكَذٰلِكَ الْعُودُ رُبَّمَا يُعْرَفُ بِشَكْلِهِ إِذَا كَانَ الثَّوْبُ السَّاتِرُ لَهُ رَقِيقًا.

Demikian pula alat musik (‘ud) terkadang dikenali dari bentuknya jika kain penutupnya tipis.

فَدَلَالَةُ الشَّكْلِ كَدَلَالَةِ الرَّائِحَةِ وَالصَّوْتِ.

Petunjuk bentuk sama seperti petunjuk bau dan suara.

وَمَا ظَهَرَتْ دَلَالَتُهُ فَهُوَ غَيْرُ مَسْتُورٍ، بَلْ هُوَ مَكْشُوفٌ.

Apa yang petunjuknya sudah tampak, maka ia tidak lagi tersembunyi; ia sudah terbuka.

وَقَدْ أُمِرْنَا بِأَنْ نَسْتُرَ مَا سَتَرَ اللَّهُ.

Kita diperintahkan menutupi apa yang Allah tutupi.

وَنُنْكِرَ عَلَى مَنْ أَبْدَى لَنَا صَفْحَتَهُ.

Dan mengingkari orang yang menampakkan kepada kita (secara nyata).

وَالْإِبْدَاءُ لَهُ دَرَجَاتٌ.

Dan “menampakkan” itu memiliki tingkatan.

فَتَارَةً يَبْدُو لَنَا بِحَاسَّةِ السَّمْعِ.

Kadang tampak melalui indera pendengaran.

وَتَارَةً بِحَاسَّةِ الشَّمِّ.

Kadang melalui indera penciuman.

وَتَارَةً بِحَاسَّةِ الْبَصَرِ.

Kadang melalui indera penglihatan.

وَتَارَةً بِحَاسَّةِ اللَّمْسِ.

Kadang melalui indera peraba.

وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يُخَصَّ ذٰلِكَ بِحَاسَّةِ الْبَصَرِ.

Tidak mungkin hal itu dikhususkan pada penglihatan saja.

بَلِ الْمُرَادُ الْعِلْمُ.

Yang dimaksud adalah adanya pengetahuan.

وَهٰذِهِ الْحَوَاسُّ أَيْضًا تُفِيدُ الْعِلْمَ.

Dan indera-indera ini juga menghasilkan pengetahuan.

فَإِذًا إِنَّمَا يَجُوزُ أَنْ يُكْسَرَ مَا تَحْتَ الثَّوْبِ إِذَا عُلِمَ أَنَّهُ خَمْرٌ.

Maka hanya boleh memecahkan apa yang ada di bawah kain bila diketahui itu khamar.

وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَقُولَ: أَرِنِي لِأَعْلَمَ مَا فِيهِ.

Dan ia tidak boleh berkata: “Tunjukkan agar aku tahu isinya.”

هٰذَا تَجَسُّسٌ.

Itu adalah tajassus (memata-matai).

وَمَعْنَى التَّجَسُّسِ: طَلَبُ الْأَمَارَاتِ الْمُعَرِّفَةِ.

Makna tajassus adalah mencari-cari tanda-tanda yang mengenalkan.

فَالْأَمَارَةُ الْمُعَرِّفَةُ إِنْ حَصَلَتْ وَأَوْرَثَتِ الْمَعْرِفَةَ جَازَ الْعَمَلُ بِمُقْتَضَاهَا.

Jika tanda itu sudah ada dan melahirkan pengetahuan, boleh beramal berdasarkan konsekuensinya.

فَأَمَّا طَلَبُ الْأَمَارَةِ الْمُعَرِّفَةِ فَلَا رُخْصَةَ فِيهِ أَصْلًا.

Adapun mencari-cari tanda tersebut, tidak ada keringanan sama sekali.

الشَّرْطُ الرَّابِعُ: أَنْ يَكُونَ كَوْنُهُ مُنْكَرًا مَعْلُومًا بِغَيْرِ اجْتِهَادٍ.

Syarat keempat: kemungkarannya harus diketahui tanpa ijtihad.

فَكُلُّ مَا هُوَ فِي مَحَلِّ الِاجْتِهَادِ فَلَا حِسْبَةَ.

Setiap perkara yang berada di ranah ijtihad, tidak ada hisbah di dalamnya.

فَلَيْسَ لِلْحَنَفِيِّ أَنْ يُنْكِرَ عَلَى الشَّافِعِيِّ أَكْلَهُ الضَّبَّ وَالضَّبُعَ وَمَتْرُوكَ التَّسْمِيَةِ.

Seorang Hanafiyah tidak boleh mengingkari seorang Syafi‘iyah karena memakan dhab, dhabu‘, dan (sembelihan) yang ditinggalkan basmalahnya.

وَلَا لِلشَّافِعِيِّ أَنْ يُنْكِرَ عَلَى الْحَنَفِيِّ شُرْبَهُ النَّبِيذَ الَّذِي لَيْسَ بِمُسْكِرٍ.

Dan seorang Syafi‘iyah tidak boleh mengingkari Hanafiyah karena meminum nabidz yang tidak memabukkan.

وَتَنَاوُلَهُ مِيرَاثَ ذَوِي الْأَرْحَامِ.

Dan karena mengambil warisan dzawil arham.

وَجُلُوسَهُ فِي دَارٍ أَخَذَهَا بِشُفْعَةِ الْجِوَارِ.

Dan karena tinggal di rumah yang ia ambil dengan syuf‘ah tetangga.

إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ مِنْ مَجَارِي الِاجْتِهَادِ.

Dan seterusnya dalam perkara ijtihadi.

نَعَمْ، لَوْ رَأَى الشَّافِعِيُّ شَافِعِيًّا يَشْرَبُ النَّبِيذَ وَيَنْكِحُ بِلَا وَلِيٍّ وَيَطَأُ زَوْجَتَهُ، فَهٰذَا فِي مَحَلِّ النَّظَرِ.

Namun bila seorang Syafi‘iyah melihat sesama Syafi‘iyah minum nabidz, menikah tanpa wali, dan menggauli istrinya (dengan cara yang menyalahi mazhabnya), maka ini wilayah pertimbangan.

وَالْأَظْهَرُ أَنَّ لَهُ الْحِسْبَةَ وَالْإِنْكَارَ.

Dan yang lebih tampak: ia boleh melakukan hisbah dan mengingkari.

إِذْ لَمْ يَذْهَبْ أَحَدٌ مِنَ الْمُحَصِّلِينَ إِلَى أَنَّ الْمُجْتَهِدَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَعْمَلَ بِمُوجَبِ اجْتِهَادِ غَيْرِهِ.

Karena tidak ada ulama muhaqqiq yang berpendapat bahwa mujtahid boleh beramal berdasarkan ijtihad orang lain.

وَلَا أَنَّ الَّذِي أَدَّى اجْتِهَادُهُ فِي التَّقْلِيدِ إِلَى شَخْصٍ رَآهُ أَفْضَلَ الْعُلَمَاءِ، لَهُ أَنْ يَأْخُذَ بِمَذْهَبِ غَيْرِهِ.

Dan tidak pula bahwa orang yang ijtihadnya (dalam memilih untuk bertaklid) berujung pada seseorang yang ia pandang paling alim, lalu ia boleh mengambil mazhab selainnya.

فَيَنْتَقِي مِنَ الْمَذَاهِبِ أَطْيَبَهَا عِنْدَهُ.

Sehingga ia memilih-milih dari mazhab mana saja yang paling “enak” menurutnya.

بَلْ عَلَى كُلِّ مُقَلِّدٍ اتِّبَاعُ مُقَلَّدِهِ فِي كُلِّ تَفْصِيلٍ.

Bahkan setiap muqallid wajib mengikuti orang yang ia taklidi dalam setiap rincian.

فَإِذًا مُخَالَفَتُهُ لِلْمُقَلَّدِ مُتَّفَقٌ عَلَى كَوْنِهَا مُنْكَرًا بَيْنَ الْمُحَصِّلِينَ.

Maka menyelisihi pihak yang diikuti itu disepakati sebagai kemungkaran di kalangan ulama muhaqqiq.

وَهُوَ عَاصٍ بِالْمُخَالَفَةِ.

Ia bermaksiat karena menyelisihi.

إِلَّا أَنَّهُ يَلْزَمُ مِنْ هٰذَا أَمْرٌ أَغْمَضُ مِنْهُ.

Namun dari sini muncul perkara yang lebih rumit.

وَهُوَ أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْحَنَفِيِّ أَنْ يَعْتَرِضَ عَلَى الشَّافِعِيِّ إِذَا نَكَحَ بِغَيْرِ وَلِيٍّ.

Yaitu bahwa Hanafiyah boleh memprotes Syafi‘iyah bila menikah tanpa wali.

بِأَنْ يَقُولَ لَهُ: الْفِعْلُ فِي نَفْسِهِ حَقٌّ، وَلٰكِنْ لَا فِي حَقِّكَ.

Dengan mengatakan: “Perbuatan itu pada dirinya benar, tetapi tidak benar untukmu.”

فَأَنْتَ مُبْطِلٌ بِالْإِقْدَامِ عَلَيْهِ مَعَ اعْتِقَادِكَ أَنَّ الصَّوَابَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ.

“Karena engkau merusak (dirimu) dengan melakukannya sementara engkau meyakini yang benar adalah mazhab Syafi‘i.”

وَمُخَالَفَةُ مَا هُوَ صَوَابٌ عِنْدَكَ مَعْصِيَةٌ فِي حَقِّكَ.

“Menyelisihi apa yang menurutmu benar adalah maksiat bagimu.”

وَإِنْ كَانَ صَوَابًا عِنْدَ اللَّهِ.

Sekalipun di sisi Allah itu benar.

وَكَذٰلِكَ الشَّافِعِيُّ يَحْتَسِبُ عَلَى الْحَنَفِيِّ إِذَا شَارَكَهُ فِي أَكْلِ الضَّبِّ وَمَتْرُوكِ التَّسْمِيَةِ وَغَيْرِهِ.

Demikian pula Syafi‘iyah menghisbahi Hanafiyah bila ikut memakan dhab, sembelihan tanpa basmalah, dan selainnya.

وَيَقُولُ لَهُ: إِمَّا أَنْ تَعْتَقِدَ أَنَّ الشَّافِعِيَّ أَوْلَى بِالِاتِّبَاعِ ثُمَّ تُقْدِمَ عَلَيْهِ، أَوْ لَا تَعْتَقِدَ ذٰلِكَ فَلَا تُقْدِمْ عَلَيْهِ.

Dan berkata: “Entah engkau meyakini Syafi‘i lebih layak diikuti lalu engkau tetap melanggarnya, atau engkau tidak meyakini itu, maka jangan melakukannya karena bertentangan dengan keyakinanmu.”

ثُمَّ يَنْجَرُّ هٰذَا إِلَى أَمْرٍ آخَرَ مِنَ الْمَحْسُوسَاتِ.

Kemudian hal ini merembet kepada perkara lain yang bersifat faktual.

وَهُوَ أَنْ يُجَامِعَ الْأَصَمُّ مَثَلًا امْرَأَةً عَلَى قَصْدِ أَنْ يَزْنِيَ.

Yaitu bila seorang tuli misalnya menggauli seorang perempuan dengan maksud zina.

وَعَلِمَ الْمُحْتَسِبُ أَنَّ هٰذِهِ امْرَأَتُهُ، زَوَّجَهُ أَبُوهُ إِيَّاهَا فِي صِغَرِهِ.

Dan muhtasib tahu bahwa perempuan itu adalah istrinya; ayahnya telah menikahkannya saat ia kecil.

وَلٰكِنَّهُ لَا يَدْرِي.

Namun si tuli itu tidak tahu.

وَعَجَزَ عَنْ تَعْرِيفِهِ ذٰلِكَ لِصَمَمِهِ، أَوْ لِكَوْنِهِ غَيْرَ عَارِفٍ بِلُغَتِهِ.

Dan muhtasib tidak mampu menjelaskan kepadanya karena ketuliannya, atau karena tidak tahu bahasa isyaratnya.

فَهُوَ فِي الْإِقْدَامِ مَعَ اعْتِقَادِهِ أَنَّهَا أَجْنَبِيَّةٌ عَاصٍ وَمُعَاقَبٌ عَلَيْهِ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ.

Maka saat ia melakukannya dengan keyakinan bahwa perempuan itu ajnabiyah, ia berdosa dan akan dihukum di akhirat.

فَيَنْبَغِي أَنْ يُمْنَعَ عَنْهَا مَعَ أَنَّهَا زَوْجَتُهُ.

Maka ia perlu dicegah, meskipun perempuan itu sebenarnya istrinya.

وَهُوَ بَعِيدٌ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ حَلَالٌ فِي عِلْمِ اللَّهِ.

Ini tampak jauh, karena di sisi ilmu Allah perbuatan itu halal.

قَرِيبٌ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ حَرَامٌ عَلَيْهِ بِحُكْمِ غَلَطِهِ وَجَهْلِهِ.

Namun dekat dari sisi bahwa itu haram baginya karena kesalahan dan ketidaktahuannya.

وَلَا شَكَّ فِي أَنَّهُ لَوْ عَلَّقَ طَلَاقَ زَوْجَتِهِ عَلَى صِفَةٍ فِي قَلْبِ الْمُحْتَسِبِ.

Tidak diragukan, bila seorang suami menggantungkan talak istrinya pada suatu keadaan dalam hati muhtasib.

مَثَلًا مِنْ مَشِيئَةٍ أَوْ غَضَبٍ أَوْ غَيْرِهِ.

Misalnya terkait kehendak, kemarahan, atau selainnya.

وَقَدْ وُجِدَتِ الصِّفَةُ فِي قَلْبِهِ.

Dan keadaan itu terjadi dalam hati muhtasib.

وَعَجَزَ عَنْ تَعْرِيفِ الزَّوْجَيْنِ ذٰلِكَ.

Namun muhtasib tidak mampu memberi tahu pasangan itu.

وَلٰكِنْ عَلِمَ وُقُوعَ الطَّلَاقِ فِي الْبَاطِنِ.

Tetapi muhtasib mengetahui talak itu terjadi secara batin.

فَإِذَا رَآهُ يُجَامِعُهَا فَعَلَيْهِ الْمَنْعُ.

Jika muhtasib melihat suami menggauli istrinya, wajib melarang.

أَعْنِي بِاللِّسَانِ.

Maksudnya dengan lisan.

لِأَنَّ ذٰلِكَ زِنًا.

Karena (secara hukum batin yang diketahui muhtasib) itu zina.

إِلَّا أَنَّ الزَّانِيَ غَيْرُ عَالِمٍ بِهِ.

Hanya saja pelakunya tidak tahu.

وَالْمُحْتَسِبُ عَالِمٌ بِأَنَّهَا طُلِّقَتْ مِنْهُ ثَلَاثًا.

Sedangkan muhtasib tahu bahwa ia telah mentalaknya tiga kali.

وَكَوْنُهُمَا غَيْرَ عَاصِيَيْنِ لِجَهْلِهِمَا بِوُجُودِ الصِّفَةِ لَا يُخْرِجُ الْفِعْلَ عَنْ كَوْنِهِ مُنْكَرًا.

Tidak berdosanya mereka karena tidak tahu terwujudnya syarat, tidak mengeluarkan perbuatan itu dari statusnya sebagai mungkar.

وَلَا يَتَقَاعَدُ ذٰلِكَ عَنْ زِنَا الْمَجْنُونِ.

Dan ini tidak lebih ringan daripada zina orang gila.

وَقَدْ بَيَّنَّا أَنَّهُ يُمْنَعُ مِنْهُ.

Padahal telah kami jelaskan bahwa itu harus dicegah.

فَإِذَا كَانَ يُمْنَعُ مِمَّا هُوَ مُنْكَرٌ عِنْدَ اللَّهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُنْكَرًا عِنْدَ الْفَاعِلِ.

Jika dicegah dari sesuatu yang mungkar di sisi Allah meskipun tidak mungkar menurut pelakunya.

وَلَا هُوَ عَاصٍ بِهِ لِعُذْرِ الْجَهْلِ.

Dan pelakunya tidak berdosa karena uzur ketidaktahuan.

فَيَلْزَمُ مِنْ عَكْسِ هٰذَا أَنْ يُقَالَ: مَا لَيْسَ بِمُنْكَرٍ عِنْدَ اللَّهِ.

Maka dari kebalikannya seakan bisa dikatakan: sesuatu yang tidak mungkar di sisi Allah.

إِنَّمَا هُوَ مُنْكَرٌ عِنْدَ الْفَاعِلِ لِجَهْلِهِ، لَا يُمْنَعُ مِنْهُ.

Tetapi dianggap mungkar oleh pelaku karena kebodohannya—tidak perlu dicegah.

وَهٰذَا هُوَ الْأَظْهَرُ.

Dan inilah yang lebih tampak.

وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ.

Dan ilmu yang sempurna ada di sisi Allah.

فَتَحَصَّلَ مِنْ هٰذَا أَنَّ الْحَنَفِيَّ لَا يَعْتَرِضُ عَلَى الشَّافِعِيِّ فِي النِّكَاحِ بِغَيْرِ وَلِيٍّ.

Kesimpulan dari ini: Hanafiyah tidak memprotes Syafi‘iyah dalam nikah tanpa wali.

وَأَنَّ الشَّافِعِيَّ يَعْتَرِضُ عَلَى الشَّافِعِيِّ فِيهِ.

Dan Syafi‘iyah memprotes Syafi‘iyah dalam hal itu.

لِكَوْنِ الْمُعْتَرَضِ عَلَيْهِ مُنْكَرًا بِاتِّفَاقِ الْمُحْتَسِبِ وَالْمُحْتَسَبِ عَلَيْهِ.

Karena kemungkarannya disepakati oleh muhtasib dan pihak yang dihisbahi.

وَهٰذِهِ مَسَائِلُ فِقْهِيَّةٌ دَقِيقَةٌ.

Ini adalah masalah fikih yang halus.

وَالِاحْتِمَالَاتُ فِيهَا مُتَعَارِضَةٌ.

Dan kemungkinan-kemungkinannya saling bertentangan.

وَإِنَّمَا أَفْتَيْنَا فِيهَا بِحَسَبِ مَا تَرَجَّحَ عِنْدَنَا فِي الْحَالِ.

Kami berfatwa sesuai yang lebih kuat menurut kami saat ini.

وَلَسْنَا نَقْطَعُ بِخَطَإِ تَرْجِيحِ الْمُخَالِفِ فِيهَا.

Kami tidak memastikan bahwa tarjih pihak yang berbeda itu salah.

إِنْ رَأَى أَنَّهُ لَا يَجْرِي الِاحْتِسَابُ إِلَّا فِي مَعْلُومٍ عَلَى الْقَطْعِ.

Jika ia berpendapat bahwa hisbah hanya berlaku pada perkara yang pasti diketahui.

وَقَدْ ذَهَبَ إِلَيْهِ ذَاهِبُونَ.

Dan ada ulama yang berpendapat demikian.

وَقَالُوا: لَا حِسْبَةَ إِلَّا فِي مِثْلِ الْخَمْرِ وَالْخِنْزِيرِ.

Mereka berkata: “Tidak ada hisbah kecuali pada hal seperti khamar dan babi.”

وَمَا يُقْطَعُ بِكَوْنِهِ حَرَامًا.

Dan hal yang dipastikan keharamannya.

وَلٰكِنَّ الْأَشْبَهَ عِنْدَنَا أَنَّ الِاجْتِهَادَ يُؤَثِّرُ فِي حَقِّ الْمُجْتَهِدِ.

Namun yang lebih mendekati menurut kami: ijtihad berpengaruh pada diri mujtahid.

إِذْ يَبْعُدُ غَايَةَ الْبُعْدِ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْقِبْلَةِ.

Karena sangat jauh bila seseorang berijtihad menentukan kiblat.

وَيَعْتَرِفَ بِظُهُورِ الْقِبْلَةِ عِنْدَهُ فِي جِهَةٍ بِالدَّلَالَاتِ الظَّنِّيَّةِ.

Dan ia mengakui kiblat menurutnya tampak pada suatu arah dengan dalil-dalil zanni.

ثُمَّ يَسْتَدْبِرَهَا وَلَا يُمْنَعُ مِنْهُ لِأَجْلِ ظَنِّ غَيْرِهِ.

Lalu ia malah membelakanginya dan tidak dilarang karena zann orang lain.

لِأَنَّ الِاسْتِدْبَارَ هُوَ الصَّوَابُ.

Dengan alasan bahwa membelakangi itu “yang benar”.

وَرَأَى مَنْ يَرَى أَنَّهُ يَجُوزُ لِكُلِّ مُقَلِّدٍ أَنْ يَخْتَارَ مِنَ الْمَذَاهِبِ مَا أَرَادَ غَيْرَ مُعْتَدٍّ بِهِ.

Ada pula pendapat bahwa setiap muqallid boleh memilih mazhab mana saja yang ia mau, tetapi pendapat ini tidak dianggap.

وَلَعَلَّهُ لَا يَصِحُّ ذَهَابُ ذَاهِبٍ إِلَيْهِ أَصْلًا.

Bahkan boleh jadi pendapat itu pada dasarnya tidak sah.

فَهٰذَا مَذْهَبٌ لَا يَثْبُتُ.

Maka ini mazhab yang tidak kokoh.

وَإِنْ ثَبَتَ فَلَا يُعْتَدُّ بِهِ.

Dan jika pun ada, ia tidak diperhitungkan.

فَإِنْ قُلْتَ: إِذَا كَانَ لَا يَعْتَرِضُ عَلَى الْحَنَفِيِّ فِي النِّكَاحِ بِغَيْرِ وَلِيٍّ لِأَنَّهُ يَرَى أَنَّهُ حَقٌّ، فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَعْتَرِضَ عَلَى الْمُعْتَزِلِيِّ فِي قَوْلِهِ: إِنَّ اللَّهَ لَا يُرَى.

Jika engkau berkata: “Jika tidak boleh memprotes Hanafiyah dalam nikah tanpa wali karena ia memandangnya benar, maka semestinya juga tidak boleh memprotes seorang Mu‘tazili ketika ia berkata: ‘Sesungguhnya Allah tidak dapat dilihat’.”

وَقَوْلِهِ: وَإِنَّ الْخَيْرَ مِنَ اللَّهِ وَالشَّرَّ لَيْسَ مِنَ اللَّهِ.

Dan (juga) ucapannya: “Kebaikan dari Allah, sedangkan keburukan bukan dari Allah.”

وَقَوْلِهِ: كَلَامُ اللَّهِ مَخْلُوقٌ.

Dan ucapannya: “Kalam Allah itu makhluk.”

وَلَا عَلَى الْحَشْوِيِّ فِي قَوْلِهِ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى جِسْمٌ وَلَهُ صُورَةٌ، وَإِنَّهُ مُسْتَقِرٌّ عَلَى الْعَرْشِ.

Dan tidak pula (boleh memprotes) seorang Hasywiy ketika ia berkata: “Sesungguhnya Allah Ta‘ala itu jisim dan memiliki rupa, dan Dia menetap di atas ‘Arsy.”

بَلْ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعْتَرَضَ عَلَى الْفَيْلَسُوفِ فِي قَوْلِهِ: الْأَجْسَادُ لَا تُبْعَثُ، وَإِنَّمَا تُبْعَثُ النُّفُوسُ.

Bahkan semestinya tidak memprotes seorang filsuf ketika ia berkata: “Jasad tidak dibangkitkan; yang dibangkitkan hanyalah jiwa.”

لِأَنَّ هٰؤُلَاءِ أَيْضًا أَدَّى اجْتِهَادُهُمْ إِلَى مَا قَالُوهُ، وَهُمْ يَظُنُّونَ أَنَّ ذٰلِكَ هُوَ الْحَقُّ.

Karena mereka juga (mengklaim) ijtihad mereka mengantarkan kepada apa yang mereka ucapkan, dan mereka menyangka itulah kebenaran.

فَإِنْ قُلْتَ: بُطْلَانُ مَذْهَبِ هٰؤُلَاءِ ظَاهِرٌ.

Jika engkau berkata: “Batilnya mazhab mereka itu jelas.”

فَبُطْلَانُ مَذْهَبِ مَنْ يُخَالِفُ نَصَّ الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ أَيْضًا ظَاهِرٌ.

“Maka batilnya mazhab orang yang menyelisihi nash hadis sahih juga jelas.”

وَكَمَا ثَبَتَ بِظَوَاهِرِ النُّصُوصِ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُرَى، وَالْمُعْتَزِلِيُّ يُنْكِرُهَا بِالتَّأْوِيلِ.

“Dan sebagaimana telah tetap dengan zahir nash bahwa Allah Ta‘ala dapat dilihat, lalu Mu‘tazili mengingkarinya dengan takwil.”

فَكَذٰلِكَ ثَبَتَ بِظَوَاهِرِ النُّصُوصِ مَسَائِلُ خَالَفَ فِيهَا الْحَنَفِيُّ، كَمَسْأَلَةِ النِّكَاحِ بِغَيْرِ وَلِيٍّ، وَمَسْأَلَةِ شُفْعَةِ الْجِوَارِ، وَنَظَائِرِهِمَا.

“Demikian pula telah tetap dengan zahir nash beberapa masalah yang diselisihi Hanafiyah, seperti nikah tanpa wali, syuf‘ah tetangga, dan semisal keduanya.”

فَاعْلَمْ أَنَّ الْمَسَائِلَ تَنْقَسِمُ.

Maka ketahuilah bahwa masalah-masalah itu terbagi.

إِلَى مَا يُتَصَوَّرُ أَنْ يُقَالَ فِيهِ: كُلُّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبٌ.

Ada yang mungkin dikatakan tentangnya: “Setiap mujtahid itu benar.”

وَهِيَ أَحْكَامُ الْأَفْعَالِ فِي الْحِلِّ وَالْحُرْمَةِ.

Yaitu hukum perbuatan: halal dan haram.

وَذٰلِكَ هُوَ الَّذِي لَا يُعْتَرَضُ عَلَى الْمُجْتَهِدِينَ فِيهِ.

Dan inilah yang tidak diprotes pada para mujtahid.

إِذْ لَمْ يُعْلَمْ خَطَؤُهُمْ قَطْعًا، بَلْ ظَنًّا.

Karena kesalahan mereka tidak diketahui secara pasti, melainkan secara dugaan.

وَإِلَى مَا لَا يُتَصَوَّرُ أَنْ يَكُونَ الْمُصِيبُ فِيهِ إِلَّا وَاحِدًا.

Dan ada yang tidak mungkin benar padanya kecuali satu saja.

كَمَسْأَلَةِ الرُّؤْيَةِ، وَالْقَدَرِ، وَقِدَمِ الْكَلَامِ.

Seperti masalah ru’yah (melihat Allah), qadar, dan qadimnya kalam (Allah).

وَنَفْيِ الصُّورَةِ وَالْجِسْمِيَّةِ وَالِاسْتِقْرَارِ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى.

Dan menafikan rupa, jisim, serta “bertempat/menetap” dari Allah Ta‘ala.

فَهٰذَا مِمَّا يُعْلَمُ خَطَأُ الْمُخْطِئِ فِيهِ قَطْعًا.

Yang semacam ini, kesalahan orang yang salah di dalamnya diketahui secara pasti.

وَلَا يَبْقَى لِخَطَئِهِ الَّذِي هُوَ جَهْلٌ مَحْضٌ وَجْهٌ.

Dan tidak tersisa alasan bagi kesalahannya yang murni kebodohan.

فَإِذًا الْبِدَعُ كُلُّهَا يَنْبَغِي أَنْ تُحْسَمَ أَبْوَابُهَا.

Maka seluruh bid‘ah semestinya diputus pintu-pintunya.

وَتُنْكَرَ عَلَى الْمُبْتَدِعِينَ بِدَعُهُمْ.

Dan diingkari pada para pelaku bid‘ah, bid‘ah mereka.

وَإِنِ اعْتَقَدُوا أَنَّهَا الْحَقُّ.

Meski mereka meyakini itu kebenaran.

كَمَا يُرَدُّ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كُفْرُهُمْ.

Sebagaimana kekafiran Yahudi dan Nasrani ditolak.

وَإِنْ كَانُوا يَعْتَقِدُونَ أَنَّ ذٰلِكَ حَقٌّ.

Meski mereka meyakini itu benar.

لِأَنَّ خَطَأَهُمْ مَعْلُومٌ عَلَى الْقَطْعِ.

Karena kesalahan mereka diketahui secara pasti.

بِخِلَافِ الْخَطَإِ فِي مَظَانِّ الِاجْتِهَادِ.

Berbeda dengan kesalahan pada ranah yang menjadi tempat ijtihad.

فَإِنْ قُلْتَ: فَمَهْمَا اعْتَرَضْتَ عَلَى الْقَدَرِيِّ فِي قَوْلِهِ: الشَّرُّ لَيْسَ مِنَ اللَّهِ، اعْتَرَضَ عَلَيْكَ الْقَدَرِيُّ أَيْضًا فِي قَوْلِكَ: الشَّرُّ مِنَ اللَّهِ.

Jika engkau berkata: “Kapan pun engkau memprotes Qadariyah dalam ucapannya ‘keburukan bukan dari Allah’, ia pun memprotesmu dalam ucapanmu ‘keburukan dari Allah’.”

وَكَذٰلِكَ فِي قَوْلِكَ: إِنَّ اللَّهَ يُرَى، وَفِي سَائِرِ الْمَسَائِلِ.

Demikian pula dalam ucapanmu “Allah dapat dilihat”, dan pada masalah-masalah lain.

إِذِ الْمُبْتَدِعُ مُحِقٌّ عِنْدَ نَفْسِهِ، وَالْمُحِقُّ مُبْتَدِعٌ عِنْدَ الْمُبْتَدِعِ.

Karena pelaku bid‘ah merasa benar menurut dirinya, dan orang yang benar dianggap pelaku bid‘ah menurut pelaku bid‘ah.

وَكُلٌّ يَدَّعِي أَنَّهُ مُحِقٌّ وَيُنْكِرُ كَوْنَهُ مُبْتَدِعًا.

Masing-masing mengklaim dirinya benar dan mengingkari bahwa dirinya pelaku bid‘ah.

فَكَيْفَ يَتِمُّ الِاحْتِسَابُ؟

“Maka bagaimana hisbah bisa terlaksana?”

فَاعْلَمْ أَنَّا لِأَجْلِ هٰذَا التَّعَارُضِ نَقُولُ: يُنْظَرُ إِلَى الْبَلْدَةِ الَّتِي فِيهَا أُظْهِرَتْ تِلْكَ الْبِدْعَةُ.

Ketahuilah: karena pertentangan ini, kami mengatakan bahwa perlu dilihat negeri tempat bid‘ah itu ditampakkan.

فَإِنْ كَانَتِ الْبِدْعَةُ غَرِيبَةً وَالنَّاسُ كُلُّهُمْ عَلَى السُّنَّةِ.

Jika bid‘ah itu asing, dan seluruh penduduk berada di atas sunnah.

فَلَهُمُ الْحِسْبَةُ عَلَيْهِ بِغَيْرِ إِذْنِ السُّلْطَانِ.

Maka mereka boleh melakukan hisbah kepadanya tanpa izin sultan.

وَإِنِ انْقَسَمَ أَهْلُ الْبَلَدِ إِلَى أَهْلِ الْبِدْعَةِ وَأَهْلِ السُّنَّةِ.

Namun jika penduduk negeri terbagi menjadi kelompok bid‘ah dan kelompok sunnah.

وَكَانَ فِي الِاعْتِرَاضِ تَحْرِيكُ فِتْنَةٍ بِالْمُقَاتَلَةِ.

Dan protes itu akan menggerakkan fitnah berupa pertempuran.

فَلَيْسَ لِلْآحَادِ الْحِسْبَةُ فِي الْمَذَاهِبِ إِلَّا بِنَصْبِ السُّلْطَانِ.

Maka individu tidak berwenang melakukan hisbah dalam perkara mazhab seperti itu, kecuali dengan penugasan sultan.

فَإِذَا رَأَى السُّلْطَانُ الرَّأْيَ الْحَقَّ وَنَصَرَهُ.

Jika sultan melihat pendapat yang benar lalu menolongnya.

وَأَذِنَ لِوَاحِدٍ أَنْ يَزْجُرَ الْمُبْتَدِعَةَ عَنْ إِظْهَارِ الْبِدْعَةِ كَانَ لَهُ ذٰلِكَ.

Dan mengizinkan seseorang untuk menegur para pelaku bid‘ah agar tidak menampakkan bid‘ah, maka orang itu boleh melakukannya.

وَلَيْسَ لِغَيْرِهِ.

Dan tidak bagi selainnya.

فَإِنَّ مَا يَكُونُ بِإِذْنِ السُّلْطَانِ لَا يَتَقَابَلُ.

Karena sesuatu yang dilakukan dengan izin sultan tidak akan “saling berhadap-hadapan” (menjadi benturan dua kubu yang sama kuat).

وَمَا يَكُونُ مِنْ جِهَةِ الْآحَادِ فَيَتَقَابَلُ الْأَمْرُ فِيهِ.

Sedangkan yang dilakukan oleh individu akan berhadapan (dibalas dan dibenturkan) dalam urusannya.

وَعَلَى الْجُمْلَةِ: فَالْحِسْبَةُ فِي الْبِدْعَةِ أَهَمُّ مِنَ الْحِسْبَةِ فِي كُلِّ الْمُنْكَرَاتِ.

Secara umum: hisbah dalam bid‘ah lebih penting daripada hisbah pada seluruh kemungkaran.

وَلٰكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يُرَاعَى فِيهَا هٰذَا التَّفْصِيلُ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ.

Namun harus diperhatikan perincian yang telah kami sebutkan.

كَيْلَا يَتَقَابَلَ الْأَمْرُ وَلَا يَنْجَرَّ إِلَى تَحْرِيكِ الْفِتْنَةِ.

Agar tidak terjadi saling berhadap-hadapan, dan agar tidak terseret pada penggerakan fitnah.

بَلْ لَوْ أَذِنَ السُّلْطَانُ مُطْلَقًا فِي مَنْعِ كُلِّ مَنْ يُصَرِّحُ بِأَنَّ الْقُرْآنَ مَخْلُوقٌ.

Bahkan seandainya sultan memberi izin secara umum untuk mencegah setiap orang yang terang-terangan berkata “Al-Qur’an itu makhluk”.

أَوْ أَنَّ اللَّهَ لَا يُرَى.

Atau “Allah tidak dapat dilihat”.

أَوْ أَنَّهُ مُسْتَقِرٌّ عَلَى الْعَرْشِ مُمَاسٌّ لَهُ أَوْ غَيْرَ ذٰلِكَ مِنَ الْبِدَعِ.

Atau “Allah menetap di atas ‘Arsy dengan bersentuhan”, atau selain itu dari bid‘ah.

لَتَسَلَّطَ الْآحَادُ عَلَى الْمَنْعِ مِنْهُ.

Niscaya individu akan berwenang mencegahnya.

وَلَمْ يَتَقَابَلِ الْأَمْرُ فِيهِ.

Dan urusannya tidak menjadi benturan dua pihak.

وَإِنَّمَا يَتَقَابَلُ عِنْدَ عَدَمِ إِذْنِ السُّلْطَانِ فَقَطْ.

Yang menimbulkan benturan itu hanya ketika tidak ada izin sultan.

اَلرُّكْنُ الثَّالِثُ: الْمُحْتَسَبُ عَلَيْهِ.

Rukun ketiga: pihak yang dihisbahi (orang yang dikenai hisbah).

وَشَرْطُهُ أَنْ يَكُونَ بِصِفَةٍ يَصِيرُ الْفِعْلُ الْمَمْنُوعُ مِنْهُ فِي حَقِّهِ مُنْكَرًا.

Syaratnya: ia memiliki sifat sehingga perbuatan yang dilarang itu menjadi mungkar bagi dirinya.

وَأَقَلُّ مَا يَكْفِي فِي ذٰلِكَ أَنْ يَكُونَ إِنْسَانًا.

Minimal yang cukup untuk itu adalah: ia seorang manusia.

وَلَا يُشْتَرَطُ كَوْنُهُ مُكَلَّفًا.

Tidak disyaratkan ia mukallaf.

إِذْ بَيَّنَّا أَنَّ الصَّبِيَّ لَوْ شَرِبَ الْخَمْرَ مُنِعَ مِنْهُ وَاحْتُسِبَ عَلَيْهِ.

Karena telah kami jelaskan: anak kecil bila minum khamar, ia dicegah dan dikenai hisbah.

وَإِنْ كَانَ قَبْلَ الْبُلُوغِ.

Walaupun sebelum balig.

وَلَا يُشْتَرَطُ كَوْنُهُ مُمَيِّزًا.

Tidak disyaratkan pula ia mumayyiz.

إِذْ بَيَّنَّا أَنَّ الْمَجْنُونَ لَوْ كَانَ يَزْنِي بِمَجْنُونَةٍ أَوْ يَأْتِي بَهِيمَةً مُنِعَ مِنْهُ.

Karena telah kami jelaskan: orang gila bila berzina dengan perempuan gila atau mendatangi hewan, ia dicegah.

نَعَمْ، مِنَ الْأَفْعَالِ مَا لَا يَكُونُ مُنْكَرًا فِي حَقِّ الْمَجْنُونِ كَتَرْكِ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَغَيْرِهِ.

Memang ada perbuatan yang tidak menjadi mungkar pada orang gila, seperti meninggalkan shalat dan puasa, dan selainnya.

وَلٰكِنَّا لَسْنَا نَلْتَفِتُ إِلَى اخْتِلَافِ التَّفَاصِيلِ.

Namun kami tidak membahas perbedaan rincian itu di sini.

فَإِنَّ ذٰلِكَ أَيْضًا مِمَّا يَخْتَلِفُ فِيهِ الْمُقِيمُ وَالْمُسَافِرُ، وَالْمَرِيضُ وَالصَّحِيحُ.

Karena rincian itu pun berbeda antara orang mukim dan musafir, serta antara orang sakit dan sehat.

وَغَرَضُنَا الْإِشَارَةُ إِلَى الصِّفَةِ الَّتِي بِهَا يَتَهَيَّأُ تَوَجُّهُ أَصْلِ الْإِنْكَارِ عَلَيْهِ.

Tujuan kami adalah menunjuk sifat yang membuat pokok pengingkaran bisa tertuju kepadanya.

لَا مَا بِهَا يَتَهَيَّأُ لِلتَّفَاصِيلِ.

Bukan sifat-sifat yang terkait rincian-rincian.

فَإِنْ قُلْتَ: فَاكْتَفِ بِكَوْنِهِ حَيَوَانًا وَلَا تُشْتَرِطْ كَوْنَهُ إِنْسَانًا.

Jika engkau berkata: “Cukupkan saja dengan ‘makhluk hidup’, dan jangan syaratkan harus manusia.”

فَإِنَّ الْبَهِيمَةَ لَوْ كَانَتْ تُفْسِدُ زَرْعًا لِإِنْسَانٍ لَكُنَّا نَمْنَعُهَا مِنْهُ، كَمَا نَمْنَعُ الْمَجْنُونَ مِنَ الزِّنَا وَإِتْيَانِ الْبَهِيمَةِ.

“Karena hewan bila merusak tanaman seseorang, kita akan mencegahnya, sebagaimana kita mencegah orang gila dari zina dan mendatangi hewan.”

فَاعْلَمْ أَنَّ تَسْمِيَةَ ذٰلِكَ حِسْبَةً لَا وَجْهَ لَهَا.

Ketahuilah: menamai hal itu sebagai “hisbah” tidak tepat.

إِذِ الْحِسْبَةُ عِبَارَةٌ عَنِ الْمَنْعِ عَنْ مُنْكَرٍ لِحَقِّ اللَّهِ صِيَانَةً لِلْمَمْنُوعِ عَنْ مُقَارَفَةِ الْمُنْكَرِ.

Karena hisbah adalah pencegahan dari kemungkaran sebagai hak Allah, untuk menjaga orang yang dicegah agar tidak melakukan kemungkaran.

وَمَنْعُ الْمَجْنُونِ عَنِ الزِّنَا وَإِتْيَانِ الْبَهِيمَةِ لِحَقِّ اللَّهِ.

Mencegah orang gila dari zina dan mendatangi hewan adalah hak Allah.

وَكَذٰلِكَ مَنْعُ الصَّبِيِّ عَنْ شُرْبِ الْخَمْرِ.

Demikian pula mencegah anak kecil dari minum khamar.

وَالْإِنْسَانُ إِذَا أَتْلَفَ زَرْعَ غَيْرِهِ مُنِعَ مِنْهُ لِحَقَّيْنِ.

Sedangkan manusia bila merusak tanaman orang lain, ia dicegah karena dua hak.

أَحَدُهُمَا: حَقُّ اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنَّ فِعْلَهُ مَعْصِيَةٌ.

Pertama: hak Allah Ta‘ala, karena perbuatannya adalah maksiat.

وَالثَّانِي: حَقُّ الْمُتْلَفِ عَلَيْهِ.

Kedua: hak orang yang dirugikan.

فَهُمَا عِلَّتَانِ تَنْفَصِلُ إِحْدَاهُمَا عَنِ الْأُخْرَى.

Maka keduanya dua ‘illat (sebab hukum) yang salah satunya bisa terpisah dari yang lain.

فَلَوْ قَطَعَ طَرَفَ غَيْرِهِ بِإِذْنِهِ.

Jika seseorang memotong anggota tubuh orang lain dengan izinnya.

فَقَدْ وُجِدَتِ الْمَعْصِيَةُ، وَسَقَطَ حَقُّ الْمَجْنِيِّ عَلَيْهِ بِإِذْنِهِ.

Maka maksiat tetap ada, tetapi hak orang yang dipotong gugur karena izinnya.

فَتَثْبُتُ الْحِسْبَةُ وَالْمَنْعُ بِإِحْدَى الْعِلَّتَيْنِ.

Maka hisbah dan pencegahan tetap berlaku karena salah satu ‘illat.

وَالْبَهِيمَةُ إِذَا أَتْلَفَتْ فَقَدْ عُدِمَتِ الْمَعْصِيَةُ.

Adapun hewan bila merusak, maka unsur maksiat tidak ada.

وَلٰكِنْ يَثْبُتُ الْمَنْعُ بِإِحْدَى الْعِلَّتَيْنِ.

Tetapi pencegahan tetap ada karena satu ‘illat (yakni hak manusia yang dirugikan).

وَلٰكِنْ فِيهِ دَقِيقَةٌ.

Namun di sini ada satu poin halus.

وَهُوَ أَنَّا لَسْنَا نَقْصِدُ بِإِخْرَاجِ الْبَهِيمَةِ مَنْعَ الْبَهِيمَةِ، بَلْ حِفْظَ مَالِ الْمُسْلِمِ.

Yaitu: ketika mengusir hewan, tujuan kita bukan “mencegah hewannya”, melainkan menjaga harta seorang muslim.

إِذِ الْبَهِيمَةُ لَوْ أَكَلَتْ مَيْتَةً أَوْ شَرِبَتْ مِنْ إِنَاءٍ فِيهِ خَمْرٌ، أَوْ مَاءٍ مَشُوبٍ بِخَمْرٍ، لَمْ نَمْنَعْهَا مِنْهُ.

Sebab hewan bila memakan bangkai, atau minum dari bejana berisi khamar, atau air yang tercampur khamar, kita tidak mencegahnya.

بَلْ يَجُوزُ إِطْعَامُ كِلَابِ الصَّيْدِ الْجِيَفَ وَالْمَيْتَاتِ.

Bahkan boleh memberi makan anjing pemburu dengan bangkai dan hewan mati.

وَلٰكِنْ مَالُ الْمُسْلِمِ إِذَا تَعَرَّضَ لِلضَّيَاعِ، وَقَدَرْنَا عَلَى حِفْظِهِ بِغَيْرِ تَعَبٍ، وَجَبَ ذٰلِكَ عَلَيْنَا حِفْظًا لِلْمَالِ.

Namun jika harta seorang muslim terancam hilang, dan kita mampu menjaganya tanpa kesulitan, maka wajib bagi kita menjaganya.

بَلْ لَوْ وَقَعَتْ جَرَّةٌ لِإِنْسَانٍ مِنْ عُلُوٍّ، وَتَحْتَهَا قَارُورَةٌ لِغَيْرِهِ، فَتُدْفَعُ الْجَرَّةُ حِفْظًا لِلْقَارُورَةِ.

Bahkan bila sebuah kendi jatuh dari tempat tinggi dan di bawahnya ada botol milik orang lain, maka kendi itu didorong demi menjaga botol.

لَا لِمَنْعِ الْجَرَّةِ مِنَ السُّقُوطِ.

Bukan untuk mencegah kendi itu jatuh (sebagai tujuan pada dirinya).

فَإِنَّا لَا نَقْصِدُ مَنْعَ الْجَرَّةِ وَحِرَاسَتَهَا مِنْ أَنْ تَصِيرَ كَاسِرَةً لِلْقَارُورَةِ.

Karena kita tidak bermaksud menjaga kendi agar tidak menjadi sebab pecahnya botol.

وَنَمْنَعُ الْمَجْنُونَ مِنَ الزِّنَا وَإِتْيَانِ الْبَهِيمَةِ وَشُرْبِ الْخَمْرِ.

Sementara kita mencegah orang gila dari zina, mendatangi hewan, dan minum khamar.

وَكَذٰلِكَ الصَّبِيَّ.

Demikian pula anak kecil.

لَا صِيَانَةً لِلْبَهِيمَةِ الْمَأْتِيَّةِ أَوِ الْخَمْرِ الْمَشْرُوبِ.

Bukan untuk “menjaga” hewan yang didatangi atau khamar yang diminum.

بَلْ صِيَانَةً لِلْمَجْنُونِ عَنْ شُرْبِ الْخَمْرِ.

Melainkan untuk menjaga orang gila agar tidak minum khamar.

وَتَنْزِيهًا لَهُ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ إِنْسَانٌ مُحْتَرَمٌ.

Dan untuk menyucikannya (menjaganya dari kehinaan) karena ia manusia yang terhormat.

فَهٰذِهِ لَطَائِفُ دَقِيقَةٌ لَا يَتَفَطَّنُ لَهَا إِلَّا الْمُحَقِّقُونَ.

Maka ini adalah kehalusan-kehalusan yang hanya disadari oleh para peneliti yang mendalam.

فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُغْفَلَ عَنْهَا.

Tidak sepantasnya hal itu diabaikan.

ثُمَّ فِيمَا يَجِبُ تَنْزِيهُ الصَّبِيِّ وَالْمَجْنُونِ عَنْهُ نَظَرٌ.

Kemudian, tentang perkara apa saja yang wajib dijauhkan dari anak kecil dan orang gila, masih ada pembahasan.

إِذْ قَدْ يَتَرَدَّدُ فِي مَعْنَاهُمَا مِنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ وَغَيْرِ ذٰلِكَ.

Karena bisa terjadi keraguan: apakah termasuk larangan bagi mereka, seperti memakai sutra dan selainnya.

وَسَنَتَعَرَّضُ لِمَا نُشِيرُ إِلَيْهِ فِي الْبَابِ الثَّالِثِ.

Dan kami akan membahas hal yang kami isyaratkan ini pada bab ketiga.