Rukun dan Syarat (2)
وَيُرْوَى أَنَّهُ أَقْبَلَ بَعْدَ فَرَاغِهِ مِنْ كَلَامِهِ عَلَى النَّوَاةِ الَّتِي يُعَالِجُ قَلْعَهَا مِنَ الْأَرْضِ وَهُوَ يَقُولُ:
Dan diriwayatkan bahwa setelah selesai dari ucapannya, ia
mendekati biji kurma yang sedang ia usahakan untuk dicabut dari tanah sambil
berkata:
أَرَى
الدُّنْيَا لِمَنْ هِيَ فِي يَدَيْهِ … هُمُومًا كُلَّمَا كَثُرَتْ لَدَيْهِ
Aku melihat dunia, bagi orang yang ia berada di tangannya,
menjadi berbagai kesusahan yang semakin bertambah setiap kali dunia itu
bertambah padanya.
تُهِينُ
الْمُكْرَمِينَ لَهَا بِصِغَرٍ … وَتُكْرِمُ كُلَّ مَنْ هَانَتْ عَلَيْهِ
Dunia menghinakan orang-orang mulia yang mengejarnya—dengan
kehinaan—dan memuliakan setiap orang yang dunia itu ia remehkan.
إِذَا
اسْتَغْنَيْتَ عَنْ شَيْءٍ فَدَعْهُ … وَخُذْ مَا أَنْتَ مُحْتَاجٌ إِلَيْهِ
Jika engkau sudah merasa cukup tanpa sesuatu, maka
tinggalkanlah; dan ambillah apa yang engkau butuhkan.
وَعَنْ
سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ قَالَ: حَجَّ الْمَهْدِيُّ سَنَةَ سِتٍّ
وَسِتِّينَ وَمِائَةٍ.
Dan dari Sufyan ats-Tsauri rahimahullah, ia berkata:
Al-Mahdi berhaji pada tahun 166 H.
فَرَأَيْتُهُ
يَرْمِي جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ، وَالنَّاسُ يَخْبِطُونَ يَمِينًا وَشِمَالًا
بِالسِّيَاطِ.
Aku melihatnya melempar Jumrah ‘Aqabah, sementara
orang-orang dipukul ke kanan dan ke kiri dengan cambuk.
فَوَقَفْتُ
فَقُلْتُ: يَا حَسَنَ الْوَجْهِ، حَدَّثَنَا أَيْمَنُ عَنْ وَائِلٍ عَنْ قُدَامَةَ
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْكِلَابِيِّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْمِي الْجَمْرَةَ يَوْمَ النَّحْرِ عَلَى جَمَلٍ،
لَا ضَرْبَ، وَلَا طَرْدَ، وَلَا جَلْدَ، وَلَا إِلَيْكَ إِلَيْكَ (١).
Aku pun berdiri lalu berkata: “Wahai yang berwajah tampan,
Ayman menceritakan kepada kami dari Wa’il dari Qudamah bin ‘Abdillah al-Kilabi,
ia berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melempar jumrah
pada hari Nahr di atas unta; tanpa memukul, tanpa menghardik, tanpa mencambuk,
dan tanpa meneriaki ‘minggir, minggir!’” (1)
وَهَا
أَنْتَ تَخْبِطُ النَّاسَ بَيْنَ يَدَيْكَ يَمِينًا وَشِمَالًا.
“Sedangkan engkau memukul orang-orang di hadapanmu ke kanan
dan ke kiri.”
فَقَالَ
لِرَجُلٍ: مَنْ هٰذَا؟
Al-Mahdi berkata kepada seseorang: “Siapa ini?”
قَالَ
سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ: فَقِيلَ: يَا سُفْيَانُ، لَوْ كَانَ الْمَنْصُورُ مَا
احْتَمَلَكَ عَلَى هٰذَا.
Sufyan ats-Tsauri berkata: Lalu dikatakan (kepadanya):
“Wahai Sufyan, seandainya yang ada (bukan Al-Mahdi melainkan) Al-Manshur, ia
tidak akan menoleransimu melakukan ini.”
فَقَالَ:
لَوْ أَخْبَرَكَ الْمَنْصُورُ لَقَصُرْتَ عَمَّا أَنْتَ فِيهِ.
Sufyan berkata: “Seandainya Al-Manshur memberitahumu
(hakikat dirinya), niscaya engkau akan merendahkan diri dari keadaanmu yang
sekarang.”
قَالَ:
فَقِيلَ لَهُ: إِنَّهُ قَالَ لَكَ: يَا حَسَنَ الْوَجْهِ، وَلَمْ يَقُلْ لَكَ: يَا
أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ.
Dikatakan (kepada Al-Mahdi): “Ia memanggilmu ‘wahai yang
berwajah tampan’, dan tidak memanggilmu ‘wahai Amirul Mukminin’.”
فَقَالَ:
اطْلُبُوهُ.
Al-Mahdi berkata: “Carilah dia.”
فَطُلِبَ
سُفْيَانُ فَاخْتَفَى.
Maka Sufyan dicari, lalu ia bersembunyi.
وَقَدْ
رُوِيَ عَنِ الْمَأْمُونِ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَجُلًا مُحْتَسِبًا يَمْشِي فِي
النَّاسِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ.
Dan diriwayatkan dari Al-Ma’mun bahwa sampai kepadanya kabar
tentang seorang lelaki yang berjalan di tengah orang banyak, melakukan hisbah:
menyuruh mereka kepada makruf dan melarang mereka dari mungkar.
وَلَمْ
يَكُنْ مَأْمُورًا مِنْ عِنْدِهِ بِذٰلِكَ.
Padahal ia tidak mendapat perintah dari pihak Al-Ma’mun
untuk itu.
فَأَمَرَ
بِأَنْ يُدَلَّ عَلَيْهِ.
Maka Al-Ma’mun memerintahkan agar orang itu ditunjukkan
kepadanya.
فَلَمَّا
صَارَ بَيْنَ يَدَيْهِ قَالَ لَهُ: إِنِّي بَلَغَنِي أَنَّكَ رَأَيْتَ نَفْسَكَ
أَهْلًا لِلْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ مِنْ غَيْرِ أَنْ
نَأْمُرَكَ.
Ketika orang itu berada di hadapannya, Al-Ma’mun berkata:
“Telah sampai kepadaku bahwa engkau memandang dirimu layak untuk amar makruf
dan nahi mungkar tanpa kami memerintahkanmu.”
وَكَانَ
الْمَأْمُونُ جَالِسًا عَلَى كُرْسِيٍّ يَنْظُرُ فِي كِتَابٍ أَوْ قِصَّةٍ.
Saat itu Al-Ma’mun duduk di atas kursi sambil melihat sebuah
kitab atau catatan.
فَأَغْفَلَهُ
فَوَقَعَ مِنْهُ فَصَارَ تَحْتَ قَدَمِهِ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَشْعُرْ بِهِ.
Lalu ia lengah, sehingga kitab itu jatuh darinya dan berada
di bawah kakinya tanpa ia sadari.
فَقَالَ
لَهُ الْمُحْتَسِبُ: اِرْفَعْ قَدَمَكَ عَنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى، ثُمَّ
قُلْ مَا شِئْتَ.
Si muhtasib berkata: “Angkat kakimu dari nama-nama Allah
Ta‘ala, lalu katakanlah apa yang engkau mau.”
فَلَمْ
يَفْهَمِ الْمَأْمُونُ مُرَادَهُ.
Al-Ma’mun tidak memahami maksudnya.
فَقَالَ:
مَاذَا تَقُولُ؟
Al-Ma’mun berkata: “Apa yang kau ucapkan?”
حَتَّى
أَعَادَهَا ثَلَاثًا فَلَمْ يَفْهَمْ.
Sampai muhtasib mengulanginya tiga kali, namun Al-Ma’mun
tetap tidak paham.
فَقَالَ:
إِمَّا رَفَعْتَ أَوْ أَذِنْتَ لِي حَتَّى أَرْفَعَ.
Muhtasib berkata: “Entah engkau yang mengangkatnya, atau
izinkan aku agar aku yang mengangkatnya.”
فَنَظَرَ
الْمَأْمُونُ تَحْتَ قَدَمِهِ فَرَأَى الْكِتَابَ.
Al-Ma’mun melihat ke bawah kakinya, lalu ia melihat kitab
itu.
فَأَخَذَهُ
وَقَبَّلَهُ وَخَجِلَ.
Ia mengambilnya, menciumnya, dan merasa malu.
ثُمَّ
عَادَ فَقَالَ: لِمَ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَقَدْ جَعَلَ اللَّهُ ذٰلِكَ
إِلَيْنَا أَهْلَ الْبَيْتِ؟
Kemudian Al-Ma’mun berkata lagi: “Mengapa engkau melakukan
amar makruf, padahal Allah menjadikan itu pada kami, Ahlul Bait?”
وَنَحْنُ
الَّذِينَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِمْ: ﴿الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي
الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ
وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ﴾.
“Dan kamilah yang Allah Ta‘ala firmankan tentang mereka:
‘Orang-orang yang jika Kami teguhkan mereka di bumi, mereka mendirikan shalat,
menunaikan zakat, menyuruh kepada makruf, dan melarang dari mungkar.’”
فَقَالَ:
صَدَقْتَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ.
Muhtasib menjawab: “Engkau benar, wahai Amirul Mukminin.”
أَنْتَ
كَمَا وَصَفْتَ نَفْسَكَ مِنَ السُّلْطَانِ وَالتَّمَكُّنِ.
“Engkau sebagaimana yang engkau sifatkan tentang dirimu:
memiliki kekuasaan dan keteguhan (kedudukan).”
غَيْرَ
أَنَّا أَعْوَانُكَ وَأَوْلِيَاؤُكَ فِيهِ.
“Hanya saja kami ini para pembantumu dan para pendukungmu
dalam urusan itu.”
وَلَا
يُنْكِرُ ذٰلِكَ إِلَّا مَنْ جَهِلَ كِتَابَ اللَّهِ تَعَالَى وَسُنَّةَ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
“Tidak ada yang mengingkari hal itu kecuali orang yang jahil
terhadap Kitab Allah Ta‘ala dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam.”
قَالَ
اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ
بَعْضٍ، يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ﴾ الْآيَةَ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan orang-orang beriman laki-laki
dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain; mereka
menyuruh kepada makruf...” sampai akhir ayat.
وَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ
كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» (٢).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang
mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan: bagian yang satu menguatkan
bagian yang lain.” (2)
وَقَدْ
مَكَّنْتَ فِي الْأَرْضِ، وَهٰذَا كِتَابُ اللَّهِ وَسُنَّةُ رَسُولِهِ.
“Engkau telah ditetapkan (kekuasaanmu) di bumi; dan inilah
Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”
فَإِنِ
انْقَدْتَ لَهُمَا شَكَرْتُ لِمَنْ أَعَانَكَ لِحُرْمَتِهِمَا.
“Jika engkau tunduk kepada keduanya, aku bersyukur kepada
orang yang membantumu, demi menjaga kehormatan keduanya.”
وَإِنِ
اسْتَكْبَرْتَ عَنْهُمَا وَلَمْ تَنْقَدْ لِمَا لَزِمَكَ مِنْهُمَا، فَإِنَّ
الَّذِي إِلَيْهِ أَمْرُكَ وَبِيَدِهِ عِزُّكَ.
“Jika engkau menyombongkan diri terhadap keduanya dan tidak
tunduk kepada apa yang diwajibkan atasmu dari keduanya, maka (ketahuilah) Dzat
yang kepada-Nya urusanmu kembali dan di tangan-Nya kemuliaanmu.”
وَذٰلِكَ
قَدْ شَرَطَ أَنَّهُ لَا يُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا.
“Dan Dia telah menetapkan bahwa Dia tidak akan
menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik dalam amal.”
فَقُلِ
الْآنَ مَا شِئْتَ.
“Maka sekarang katakanlah apa yang engkau mau.”
فَأَعْجَبَ
الْمَأْمُونُ بِكَلَامِهِ وَسُرَّ بِهِ.
Al-Ma’mun pun kagum dengan ucapannya dan senang karenanya.
وَقَالَ:
مِثْلُكَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَأْمُرَ بِالْمَعْرُوفِ.
Ia berkata: “Orang sepertimu pantas untuk melakukan amar
makruf.”
فَامْضِ
عَلَى مَا كُنْتَ عَلَيْهِ بِأَمْرِنَا وَعَنْ رَأْيِنَا.
“Teruskanlah apa yang selama ini engkau lakukan, dengan
perintah kami dan menurut pandangan kami.”
فَاسْتَمَرَّ
الرَّجُلُ عَلَى ذٰلِكَ.
Maka orang itu pun terus melakukan hal tersebut.
فَفِي
سِيَاقِ هٰذِهِ الْحِكَايَاتِ بَيَانُ الدَّلِيلِ عَلَى الِاسْتِغْنَاءِ عَنِ
الْإِذْنِ.
Dalam rangkaian kisah-kisah ini terdapat penjelasan dalil
bahwa hisbah tidak bergantung pada izin (khusus).
فَإِنْ
قِيلَ: أَفَتُثْبِتُ وِلَايَةَ الْحِسْبَةِ لِلْوَلَدِ عَلَى الْوَالِدِ،
وَالْعَبْدِ عَلَى الْمَوْلَى، وَالزَّوْجَةِ عَلَى الزَّوْجِ، وَالتِّلْمِيذِ
عَلَى الْأُسْتَاذِ، وَالرَّعِيَّةِ عَلَى الْوَالِي مُطْلَقًا؟
Jika dikatakan: “Apakah engkau menetapkan kewenangan hisbah
bagi anak atas orang tua, budak atas tuannya, istri atas suaminya, murid atas
gurunya, dan rakyat atas penguasa, secara mutlak?”
كَمَا
يُثْبَتُ لِلْوَالِدِ عَلَى الْوَلَدِ، وَالسَّيِّدِ عَلَى الْعَبْدِ، وَالزَّوْجِ
عَلَى الزَّوْجَةِ، وَالْأُسْتَاذِ عَلَى التِّلْمِيذِ، وَالسُّلْطَانِ عَلَى
الرَّعِيَّةِ؟
“Sebagaimana kewenangan itu ditetapkan bagi ayah atas anak,
tuan atas budak, suami atas istri, guru atas murid, dan sultan atas rakyat?”
أَوْ
بَيْنَهُمَا فَرْقٌ؟
“Ataukah ada perbedaan antara keduanya?”
فَاعْلَمْ
أَنَّ الَّذِي نَرَاهُ: أَنَّهُ يَثْبُتُ أَصْلُ الْوِلَايَةِ، وَلٰكِنْ
بَيْنَهُمَا فَرْقٌ فِي التَّفْصِيلِ.
Ketahuilah bahwa menurut pandangan kami, pokok kewenangan
itu tetap ada, tetapi ada perbedaan pada rincian penerapannya.
وَلْنَفْرِضْ
ذٰلِكَ فِي الْوَلَدِ مَعَ الْوَالِدِ، فَنَقُولُ: قَدْ رَتَّبْنَا لِلْحِسْبَةِ
خَمْسَ مَرَاتِبَ.
Mari kita misalkan pada anak terhadap ayahnya: kami telah
menyusun hisbah menjadi lima tingkatan.
وَلِلْوَلَدِ
الْحِسْبَةُ بِالرُّتْبَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ.
Bagi anak, hisbah berlaku pada dua tingkatan pertama.
وَهُمَا
التَّعْرِيفُ، ثُمَّ الْوَعْظُ وَالنُّصْحُ بِاللُّطْفِ.
Yaitu: memberi penjelasan, kemudian menasihati dan memberi
arahan dengan lemah lembut.
وَلَيْسَ
لَهُ الْحِسْبَةُ بِالسَّبِّ وَالتَّعْنِيفِ وَالتَّهْدِيدِ.
Ia tidak boleh melakukan hisbah dengan celaan, hardikan, dan
ancaman.
وَلَا
بِمُبَاشَرَةِ الضَّرْبِ.
Dan tidak boleh pula memukul secara langsung.
وَهُمَا
الرُّتْبَتَانِ الْأَخِيرَتَانِ.
Keduanya termasuk dua tingkatan terakhir.
وَهَلْ
لَهُ الْحِسْبَةُ بِالرُّتْبَةِ الثَّالِثَةِ حَيْثُ تُؤَدِّي إِلَى أَذَى
الْوَالِدِ وَسَخَطِهِ؟
Apakah anak boleh melakukan hisbah pada tingkatan ketiga,
bila itu mengakibatkan ayah tersakiti dan murka?
هٰذَا
فِيهِ نَظَرٌ.
Dalam hal ini ada pertimbangan.
وَهُوَ
بِأَنْ يَكْسِرَ مَثَلًا عُودَهُ، وَيُرِيقَ خَمْرَهُ.
Yaitu misalnya anak mematahkan alat musik ayahnya, dan
menumpahkan khamarnya.
وَيَحُلَّ
الْخُيُوطَ عَنْ ثِيَابِهِ الْمَنْسُوجَةِ مِنَ الْحَرِيرِ.
Dan melepas benang-benang pada pakaiannya yang ditenun dari
sutra.
وَيَرُدَّ
إِلَى الْمُلَّاكِ مَا يَجِدُهُ فِي بَيْتِهِ مِنَ الْمَالِ الْحَرَامِ الَّذِي
غَصَبَهُ أَوْ سَرَقَهُ.
Dan mengembalikan kepada para pemilik harta haram yang ia
temukan di rumah ayahnya, yang ayahnya telah ghasab atau curi.
أَوْ
أَخَذَهُ عَنْ إِدْرَارِ رِزْقٍ مِنْ ضَرِيبَةِ الْمُسْلِمِينَ إِذَا كَانَ
صَاحِبُهُ مُعِينًا.
Atau ayah mengambilnya dari pemasukan rezeki yang berasal
dari pungutan (pajak) kaum muslimin, bila pihak yang mengambilnya itu memiliki
wewenang (seorang pejabat/penguasa).
وَيُبْطِلَ
الصُّوَرَ الْمَنْقُوشَةَ عَلَى حِيطَانِهِ، وَالْمَنْقُورَةَ فِي خَشَبِ بَيْتِهِ.
Dan menghilangkan gambar-gambar yang dipahat/diukir pada
dinding-dindingnya dan yang dipahat pada kayu rumahnya.
وَيَكْسِرَ
أَوَانِيَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ.
Dan memecahkan bejana-bejana dari emas dan perak.
فَإِنَّ
فِعْلَهُ فِي هٰذِهِ الْأُمُورِ لَيْسَ يَتَعَلَّقُ بِذَاتِ الْأَبِ، بِخِلَافِ
الضَّرْبِ وَالسَّبِّ.
Sebab tindakannya dalam perkara-perkara ini tidak langsung
mengenai pribadi sang ayah, berbeda dengan memukul dan mencaci.
وَلٰكِنَّ
الْوَالِدَ يَتَأَذَّى بِهِ وَيَسْخَطُ بِسَبَبِهِ.
Namun sang ayah tetap merasa tersakiti dan murka karenanya.
إِلَّا
أَنَّ فِعْلَ الْوَلَدِ حَقٌّ، وَسَخَطَ الْأَبِ مَنْشَؤُهُ حُبُّهُ لِلْبَاطِلِ
وَلِلْحَرَامِ.
Hanya saja tindakan anak itu benar, sedangkan murka ayah
bersumber dari cintanya kepada yang batil dan yang haram.
وَالْأَظْهَرُ
فِي الْقِيَاسِ أَنَّهُ يَثْبُتُ لِلْوَلَدِ ذٰلِكَ، بَلْ يَلْزَمُهُ أَنْ
يَفْعَلَ ذٰلِكَ.
Yang lebih tampak menurut qiyas: hal itu ditetapkan bagi
anak; bahkan anak wajib melakukannya.
وَلَا
يَبْعُدُ أَنْ يُنْظَرَ فِيهِ إِلَى قُبْحِ الْمُنْكَرِ، وَإِلَى مِقْدَارِ
الْأَذَى وَالسَّخَطِ.
Tidak jauh pula bahwa hal itu dipertimbangkan berdasarkan
seberapa keji kemungkarannya, dan seberapa besar mudarat dan kemurkaan yang
timbul.
فَإِنْ
كَانَ الْمُنْكَرُ فَاحِشًا، وَسَخَطُهُ عَلَيْهِ قَرِيبًا، كَإِرَاقَةِ خَمْرِ
مَنْ لَا يَشْتَدُّ غَضَبُهُ، فَذٰلِكَ ظَاهِرٌ.
Jika kemungkaran itu sangat keji, dan kemurkaannya tidak
berat—seperti menumpahkan khamar orang yang tidak terlalu meledak marah—maka
itu jelas.
وَإِنْ
كَانَ الْمُنْكَرُ قَرِيبًا، وَالسَّخَطُ شَدِيدًا.
Namun jika kemungkaran itu ringan, sedangkan kemurkaan
sangat berat.
كَمَا
لَوْ كَانَتْ لَهُ آنِيَةٌ مِنْ بُلُّورٍ أَوْ زُجَاجٍ عَلَى صُوَرِ حَيَوَانٍ،
وَفِي كَسْرِهَا خُسْرَانُ مَالٍ كَثِيرٍ.
Seperti bila ia memiliki bejana dari kristal atau kaca yang
bergambar hewan, dan memecahkannya menyebabkan kerugian harta yang besar.
فَهٰذَا
مِمَّا يَشْتَدُّ فِيهِ الْغَضَبُ.
Maka ini termasuk perkara yang biasanya sangat memicu
kemarahan.
وَلَيْسَ
تَجْرِي هٰذِهِ الْمَعْصِيَةُ مَجْرَى الْخَمْرِ وَغَيْرِهِ.
Dan kemaksiatan ini tidak sebanding dengan khamar dan
semisalnya.
فَهٰذَا
كُلُّهُ مَجَالُ النَّظَرِ.
Semua ini adalah ranah ijtihad dan pertimbangan.
فَإِنْ
قِيلَ: وَمِنْ أَيْنَ قُلْتُمْ لَيْسَ لَهُ الْحِسْبَةُ بِالتَّعْنِيفِ
وَالضَّرْبِ وَالْإِرْهَاقِ إِلَى تَرْكِ الْبَاطِلِ؟
Jika dikatakan: “Dari mana kalian menyatakan bahwa anak
tidak boleh melakukan hisbah dengan hardikan, pukulan, dan pemaksaan untuk
meninggalkan kebatilan?”
وَالْأَمْرُ
بِالْمَعْرُوفِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَرَدَ عَامًّا مِنْ غَيْرِ تَخْصِيصٍ.
“Padahal amar makruf dalam Al-Kitab dan Sunnah datang secara
umum tanpa pengkhususan.”
وَأَمَّا
النَّهْيُ عَنِ التَّأْفِيفِ وَالْإِيذَاءِ فَقَدْ وَرَدَ، وَهُوَ خَاصٌّ فِيمَا
لَا يَتَعَلَّقُ بِارْتِكَابِ الْمُنْكَرَاتِ.
“Sedangkan larangan berkata ‘ah’ dan menyakiti orang tua
memang ada, tetapi itu khusus pada hal-hal yang tidak berkaitan dengan
melakukan kemungkaran.”
فَنَقُولُ:
قَدْ وَرَدَ فِي حَقِّ الْأَبِ عَلَى الْخُصُوصِ مَا يُوجِبُ الِاسْتِثْنَاءَ مِنَ
الْعُمُومِ.
Kami menjawab: telah datang ketentuan khusus tentang hak
ayah yang mengharuskan pengecualian dari keumuman dalil.
إِذْ
لَا خِلَافَ فِي أَنَّ الْجَلَّادَ لَيْسَ لَهُ أَنْ يَقْتُلَ أَبَاهُ فِي
الزِّنَا حَدًّا.
Sebab tidak ada perbedaan pendapat bahwa algojo tidak boleh
membunuh ayahnya dalam kasus zina sebagai pelaksanaan had.
وَلَا
لَهُ أَنْ يُبَاشِرَ إِقَامَةَ الْحَدِّ عَلَيْهِ.
Dan tidak boleh pula ia melaksanakan had atas ayahnya secara
langsung.
بَلْ
لَا يُبَاشِرُ قَتْلَ أَبِيهِ الْكَافِرِ.
Bahkan ia juga tidak melaksanakan pembunuhan ayahnya yang
kafir secara langsung.
بَلْ
لَوْ قَطَعَ يَدَهُ لَمْ يَلْزَمْهُ قِصَاصٌ.
Bahkan bila ayah memotong tangan anak, anak tidak wajib
membalas dengan qishash.
وَلَمْ
يَكُنْ لَهُ أَنْ يُؤْذِيَهُ فِي مُقَابَلَتِهِ.
Dan anak tidak boleh menyakitinya sebagai balasan.
وَقَدْ
وَرَدَ فِي ذٰلِكَ أَخْبَارٌ، وَثَبَتَ بَعْضُهَا بِالْإِجْمَاعِ (١).
Dalam hal ini ada riwayat-riwayat, dan sebagian ketentuannya
tetap dengan ijma‘. (1)
فَإِذَا
لَمْ يَجُزْ لَهُ إِيذَاؤُهُ بِعُقُوبَةٍ هِيَ حَقٌّ عَلَى جِنَايَةٍ سَابِقَةٍ.
Jika tidak boleh menyakitinya dengan hukuman yang merupakan
hak atas pelanggaran yang telah terjadi.
فَلَا
يَجُوزُ لَهُ إِيذَاؤُهُ بِعُقُوبَةٍ هِيَ مَنْعٌ عَنْ جِنَايَةٍ مُسْتَقْبَلَةٍ
مُتَوَقَّعَةٍ، بَلْ أَوْلَى.
Maka lebih-lebih tidak boleh menyakitinya dengan hukuman
yang bertujuan mencegah pelanggaran yang diperkirakan akan terjadi di masa
depan.
وَهٰذَا
التَّرْتِيبُ أَيْضًا يَنْبَغِي أَنْ يَجْرِي فِي الْعَبْدِ وَالزَّوْجَةِ مَعَ
السَّيِّدِ وَالزَّوْجِ.
Urutan ini seharusnya juga berlaku pada budak dan istri
terhadap tuan dan suami.
فَهُمَا
قَرِيبَانِ مِنَ الْوَلَدِ فِي لُزُومِ الْحَقِّ.
Karena keduanya dekat dengan posisi anak dalam kewajiban
menjaga hak.
وَإِنْ
كَانَ مِلْكُ الْيَمِينِ آكَدَ مِنْ مِلْكِ النِّكَاحِ.
Meski kepemilikan budak (milk al-yamin) lebih kuat daripada
ikatan nikah.
وَلٰكِنْ
فِي الْخَبَرِ: أَنَّهُ لَوْ جَازَ السُّجُودُ لِمَخْلُوقٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ
أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا (٢).
Namun dalam sebuah hadis: “Seandainya sujud kepada makhluk
diperbolehkan, niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk sujud kepada
suaminya.” (2)
وَهٰذَا
يَدُلُّ عَلَى تَأْكِيدِ الْحَقِّ أَيْضًا.
Ini menunjukkan kuatnya penekanan hak tersebut juga.
وَأَمَّا
الرَّعِيَّةُ مَعَ السُّلْطَانِ فَالْأَمْرُ فِيهَا أَشَدُّ مِنَ الْوَلَدِ.
Adapun rakyat terhadap sultan, maka urusannya lebih berat
daripada anak terhadap ayah.
فَلَيْسَ
لَهَا مَعَهُ إِلَّا التَّعْرِيفُ وَالنُّصْحُ.
Mereka tidak memiliki terhadapnya kecuali memberi penjelasan
dan nasihat.
فَأَمَّا
الرُّتْبَةُ الثَّالِثَةُ فَفِيهَا نَظَرٌ.
Adapun tingkatan ketiga, di situ ada pertimbangan.
مِنْ
حَيْثُ إِنَّ الْهُجُومَ عَلَى أَخْذِ الْأَمْوَالِ مِنْ خِزَانَتِهِ وَرَدِّهَا
إِلَى الْمُلَّاكِ.
Karena tindakan “menerobos” mengambil harta dari
perbendaharaannya lalu mengembalikannya kepada pemiliknya.
وَعَلَى
تَحْلِيلِ الْخُيُوطِ مِنْ ثِيَابِهِ الْحَرِيرِ.
Dan melepas benang-benang dari pakaian sutranya.
وَكَسْرِ
آنِيَةِ الْخُمُورِ فِي بَيْتِهِ.
Dan memecahkan wadah-wadah khamar di rumahnya.
يَكَادُ
يُفْضِي إِلَى خَرْقِ هَيْبَتِهِ وَإِسْقَاطِ حَشْمَتِهِ.
Hampir-hampir menyeret kepada pelanggaran wibawanya dan
menjatuhkan kehormatannya.
وَذٰلِكَ
مَحْظُورٌ.
Dan itu terlarang.
وَرَدَ
النَّهْيُ عَنْهُ كَمَا وَرَدَ النَّهْيُ عَنِ السُّكُوتِ عَلَى الْمُنْكَرِ (٣).
Larangan tentangnya telah ada, sebagaimana larangan untuk
diam dari kemungkaran juga ada. (3)
فَقَدْ
تَعَارَضَ فِيهِ أَيْضًا مَحْذُورَانِ.
Maka bertentangan di sini dua hal yang sama-sama
berbahaya/terlarang.
وَالْأَمْرُ
فِيهِ مَوْكُولٌ إِلَى اجْتِهَادٍ.
Urusannya diserahkan kepada ijtihad.
مَنْشَؤُهُ
النَّظَرُ فِي تَفَاحُشِ الْمُنْكَرِ وَمِقْدَارِ مَا يَسْقُطُ مِنْ حَشْمَتِهِ
بِسَبَبِ الْهُجُومِ عَلَيْهِ.
Yang berangkat dari pertimbangan: seberapa parah
kemungkarannya dan seberapa besar kehormatan penguasa itu jatuh akibat tindakan
“menerobos” kepadanya.
وَذٰلِكَ
مِمَّا لَا يُمْكِنُ ضَبْطُهُ.
Dan hal itu tidak mungkin ditetapkan batasnya secara pasti.
وَأَمَّا
التِّلْمِيذُ وَالْأُسْتَاذُ فَالْأَمْرُ فِيمَا بَيْنَهُمَا أَخَفُّ.
Adapun murid dan guru, urusan di antara keduanya lebih
ringan.
لِأَنَّ
الْمُحْتَرَمَ هُوَ الْأُسْتَاذُ الْمُفِيدُ لِلْعِلْمِ مِنْ حَيْثُ الدِّينِ.
Karena yang dihormati adalah guru yang memberi manfaat ilmu
dari sisi agama.
وَلَا
حُرْمَةَ لِعَالِمٍ لَا يَعْمَلُ بِعِلْمِهِ.
Dan tidak ada kehormatan bagi orang berilmu yang tidak
mengamalkan ilmunya.
فَلَهُ
أَنْ يُعَامِلَهُ بِمُوجَبِ عِلْمِهِ الَّذِي تَعَلَّمَهُ مِنْهُ.
Maka murid boleh memperlakukannya sesuai konsekuensi ilmu
yang ia pelajari darinya.
وَرُوِيَ
أَنَّهُ سُئِلَ الْحَسَنُ عَنِ الْوَلَدِ كَيْفَ يَحْتَسِبُ عَلَى وَالِدِهِ؟
Dan diriwayatkan bahwa Al-Hasan ditanya tentang bagaimana
anak melakukan hisbah kepada ayahnya.
فَقَالَ:
يَعِظُهُ مَا لَمْ يَغْضَبْ، فَإِنْ غَضِبَ سَكَتَ عَنْهُ.
Al-Hasan menjawab: “Ia menasihatinya selama ayah tidak
marah; jika ayah marah, maka ia diam.”
الشَّرْطُ
الْخَامِسُ: كَوْنُهُ قَادِرًا.
Syarat kelima: muhtasib harus mampu.
وَلَا
يَخْفَى أَنَّ الْعَاجِزَ لَيْسَ عَلَيْهِ حِسْبَةٌ إِلَّا بِقَلْبِهِ.
Tidak samar bahwa orang yang tidak mampu tidak berkewajiban
hisbah kecuali dengan hatinya.
إِذْ
كُلُّ مَنْ أَحَبَّ اللَّهَ يَكْرَهُ مَعَاصِيَهُ وَيُنْكِرُهَا.
Sebab siapa mencintai Allah pasti membenci maksiat
kepada-Nya dan mengingkarinya.
وَقَالَ
ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: جَاهِدُوا الْكُفَّارَ بِأَيْدِيكُمْ.
Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Berjihadlah melawan
orang kafir dengan tangan kalian.”
فَإِنْ
لَمْ تَسْتَطِيعُوا إِلَّا أَنْ تَكْفَهِرُّوا فِي وُجُوهِهِمْ فَافْعَلُوا.
“Jika kalian tidak mampu kecuali bermuka masam di hadapan
mereka, maka lakukanlah.”
وَاعْلَمْ
أَنَّهُ لَا يَقِفُ سُقُوطُ الْوُجُوبِ عَلَى الْعَجْزِ الْحِسِّيِّ.
Ketahuilah bahwa gugurnya kewajiban tidak hanya berhenti
pada ketidakmampuan fisik semata.
بَلْ
يَلْتَحِقُ بِهِ مَا يَخَافُ عَلَيْهِ مَكْرُوهًا يَنَالُهُ.
Namun termasuk pula keadaan ketika ia khawatir akan tertimpa
sesuatu yang tidak disukai (bahaya/mudarat).
فَذٰلِكَ
فِي مَعْنَى الْعَجْزِ.
Karena itu maknanya sama seperti ketidakmampuan.
وَكَذٰلِكَ
إِذَا لَمْ يَخَفْ مَكْرُوهًا وَلٰكِنْ عَلِمَ أَنَّ إِنْكَارَهُ لَا يَنْفَعُ.
Demikian pula bila ia tidak takut mudarat, tetapi ia tahu
bahwa pengingkarannya tidak bermanfaat.
فَلْيَلْتَفِتْ
إِلَى مَعْنَيَيْنِ.
Maka hendaklah ia memperhatikan dua hal.
أَحَدُهُمَا:
عَدَمُ إِفَادَةِ الْإِنْكَارِ امْتِنَاعًا.
Pertama: pengingkaran tidak memberi hasil sama sekali.
وَالْآخَرُ:
خَوْفُ مَكْرُوهٍ.
Kedua: takut tertimpa mudarat.
وَيَحْصُلُ
مِنِ اعْتِبَارِ الْمَعْنَيَيْنِ أَرْبَعُ أَحْوَالٍ.
Dari mempertimbangkan dua hal ini muncul empat keadaan.
أَحَدُهَا:
أَنْ يَجْتَمِعَ الْمَعْنَيَانِ.
Keadaan pertama: dua hal itu berkumpul.
بِأَنْ
يَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يَنْفَعُ كَلَامُهُ، وَيُضْرَبَ إِنْ تَكَلَّمَ.
Yaitu ia tahu bahwa ucapannya tidak akan bermanfaat, dan ia
akan dipukul bila berbicara.
فَلَا
تَجِبُ عَلَيْهِ الْحِسْبَةُ.
Maka hisbah tidak wajib baginya.
بَلْ
رُبَّمَا تَحْرُمُ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ.
Bahkan boleh jadi haram pada sebagian keadaan.
نَعَمْ،
يَلْزَمُهُ أَنْ لَا يَحْضُرَ مَوَاضِعَ الْمُنْكَرِ.
Namun tetap wajib baginya untuk tidak menghadiri
tempat-tempat kemungkaran.
وَيَعْتَزِلَ
فِي بَيْتِهِ حَتَّى لَا يُشَاهِدَ.
Dan mengasingkan diri di rumahnya agar tidak menyaksikannya.
وَلَا
يَخْرُجَ إِلَّا لِحَاجَةٍ مُهِمَّةٍ أَوْ وَاجِبٍ.
Dan tidak keluar kecuali karena kebutuhan yang penting atau
kewajiban.
وَلَا
يَلْزَمُهُ مُفَارَقَةُ تِلْكَ الْبَلْدَةِ وَالْهِجْرَةُ.
Ia tidak wajib meninggalkan negeri itu dan berhijrah.
إِلَّا
إِذَا كَانَ يُرْهَقُ إِلَى الْفَسَادِ، أَوْ يُحْمَلُ عَلَى مُسَاعَدَةِ
السَّلَاطِينِ فِي الظُّلْمِ وَالْمُنْكَرَاتِ.
Kecuali bila ia dipaksa untuk terjatuh dalam kerusakan, atau
dipaksa membantu para penguasa dalam kezaliman dan kemungkaran.
فَيَلْزَمُهُ
الْهِجْرَةُ إِنْ قَدَرَ عَلَيْهَا.
Maka hijrah wajib baginya jika ia mampu.
فَإِنَّ
الْإِكْرَاهَ لَا يَكُونُ عُذْرًا فِي حَقِّ مَنْ يَقْدِرُ عَلَى الْهَرَبِ مِنَ
الْإِكْرَاهِ.
Karena paksaan tidak menjadi uzur bagi orang yang mampu
melarikan diri dari paksaan.
الحَالَةُ
الثَّانِيَةُ: أَنْ يَنْتَفِيَ الْمَعْنَيَانِ جَمِيعًا.
Keadaan kedua: dua hal itu sama-sama tidak ada.
بِأَنْ
يَعْلَمَ أَنَّ الْمُنْكَرَ يَزُولُ بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ، وَلَا يُقْدَرُ لَهُ
عَلَى مَكْرُوهٍ.
Yaitu ia tahu bahwa kemungkaran akan hilang dengan ucapannya
dan tindakannya, dan tidak dikhawatirkan ada mudarat atasnya.
فَيَجِبُ
عَلَيْهِ الْإِنْكَارُ.
Maka wajib baginya mengingkari.
وَهٰذِهِ
هِيَ الْقُدْرَةُ الْمُطْلَقَةُ.
Inilah kemampuan yang sempurna.
الحَالَةُ
الثَّالِثَةُ: أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يُفِيدُ إِنْكَارُهُ، وَلٰكِنَّهُ لَا
يَخَافُ مَكْرُوهًا.
Keadaan ketiga: ia tahu pengingkarannya tidak bermanfaat,
tetapi ia tidak takut mudarat.
فَلَا
تَجِبُ عَلَيْهِ الْحِسْبَةُ لِعَدَمِ فَائِدَتِهَا.
Maka hisbah tidak wajib baginya karena tidak ada manfaatnya.
وَلٰكِنْ
تُسْتَحَبُّ لِإِظْهَارِ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ وَتَذْكِيرِ النَّاسِ بِأَمْرِ
الدِّينِ.
Namun ia dianjurkan untuk menampakkan syiar Islam dan
mengingatkan manusia tentang urusan agama.
الحَالَةُ
الرَّابِعَةُ: عَكْسُ هٰذَا.
Keadaan keempat: kebalikannya.
وَهُوَ
أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُصَابُ بِمَكْرُوهٍ، وَلٰكِنْ يُبْطِلُ الْمُنْكَرَ
بِفِعْلِهِ.
Yaitu ia tahu ia akan terkena mudarat, tetapi ia dapat
menghapus kemungkaran dengan tindakannya.
كَمَا
يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَرْمِيَ زُجَاجَةَ الْفَاسِقِ بِحَجَرٍ فَيَكْسِرَهَا
وَيُرِيقَ الْخَمْرَ.
Seperti ia mampu melempar botol minuman si fasik dengan batu
hingga pecah dan khamarnya tertumpah.
أَوْ
يَضْرِبَ الْعُودَ الَّذِي فِي يَدِهِ ضَرْبَةً مُخْتَطَفَةً فَيَكْسِرَهُ فِي
الْحَالِ.
Atau memukul alat musik yang ada di tangannya dengan satu
pukulan cepat sehingga patah saat itu juga.
وَيَتَعَطَّلَ
عَلَيْهِ هٰذَا الْمُنْكَرُ.
Lalu kemungkaran itu terhenti untuknya.
وَلٰكِنْ
يَعْلَمُ أَنَّهُ يَرْجِعُ إِلَيْهِ فَيَضْرِبُ رَأْسَهُ.
Namun ia tahu si fasik itu akan kembali kepadanya dan
memukul kepalanya.
فَهٰذَا
لَيْسَ بِوَاجِبٍ، وَلَيْسَ بِحَرَامٍ، بَلْ هُوَ مُسْتَحَبٌّ.
Maka ini tidak wajib, dan tidak haram, bahkan dianjurkan.
وَيَدُلُّ
عَلَيْهِ الْخَبَرُ الَّذِي أَوْرَدْنَاهُ فِي فَضْلِ كَلِمَةِ حَقٍّ عِنْدَ
إِمَامٍ جَائِرٍ.
Hal ini ditunjukkan oleh hadis yang telah kami sebutkan
tentang keutamaan menyampaikan kalimat benar di hadapan penguasa zalim.
وَلَا
شَكَّ فِي أَنَّ ذٰلِكَ مَظِنَّةُ الْخَوْفِ.
Dan tidak diragukan bahwa hal itu adalah tempat yang sangat
mungkin menimbulkan rasa takut.
وَيَدُلُّ
عَلَيْهِ أَيْضًا مَا رُوِيَ عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيِّ رَحِمَهُ
اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُ قَالَ.
Hal itu juga ditunjukkan oleh riwayat dari Abu Sulaiman
ad-Darani rahimahullah Ta‘ala, bahwa ia berkata:
سَمِعْتُ
مِنْ بَعْضِ الْخُلَفَاءِ كَلَامًا فَأَرَدْتُ أَنْ أُنْكِرَ عَلَيْهِ.
“Aku mendengar ucapan dari salah seorang khalifah, lalu aku
ingin mengingkarinya.”
وَعَلِمْتُ
أَنِّي أُقْتَلُ.
“Dan aku tahu bahwa aku akan dibunuh.”
وَلَمْ
يَمْنَعْنِي الْقَتْلُ.
“Pembunuhan itu tidak menghalangiku.”
وَلٰكِنْ
كَانَ فِي مَلَإٍ مِنَ النَّاسِ.
“Akan tetapi itu terjadi di hadapan orang banyak.”
فَخَشِيتُ
أَنْ يَعْتَرِيَنِي التَّزَيُّنُ لِلْخَلْقِ.
“Maka aku khawatir diriku tertimpa dorongan berhias (ingin
dipuji) di hadapan makhluk.”
فَأُقْتَلَ
مِنْ غَيْرِ إِخْلَاصٍ فِي الْفِعْلِ.
“Sehingga aku terbunuh tanpa ikhlas dalam perbuatan.”
فَإِنْ
قِيلَ: فَمَا مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى
التَّهْلُكَةِ﴾؟
Jika dikatakan: “Lalu apa makna firman Allah Ta‘ala: ‘Dan
janganlah kalian menjatuhkan diri kalian dengan tangan kalian sendiri ke dalam
kebinasaan’?”
قُلْنَا:
لَا خِلَافَ فِي أَنَّ الْمُسْلِمَ الْوَاحِدَ لَهُ أَنْ يَهْجُمَ عَلَى صَفِّ
الْكُفَّارِ وَيُقَاتِلَ، وَإِنْ عَلِمَ أَنَّهُ يُقْتَلُ.
Kami menjawab: tidak ada perbedaan pendapat bahwa seorang
muslim seorang diri boleh menerjang barisan orang kafir dan berperang, meskipun
ia tahu bahwa ia akan terbunuh.
وَهٰذَا
رُبَّمَا يُظَنُّ أَنَّهُ مُخَالِفٌ لِمُوجَبِ الْآيَةِ، وَلَيْسَ كَذٰلِكَ.
Ini terkadang disangka bertentangan dengan kandungan ayat
tersebut, padahal tidak demikian.
فَقَدْ
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: لَيْسَتِ التَّهْلُكَةُ ذٰلِكَ،
بَلْ تَرْكُ النَّفَقَةِ فِي طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى.
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Kebinasaan itu
bukan yang demikian, tetapi kebinasaan adalah meninggalkan infak dalam ketaatan
kepada Allah Ta‘ala.”
أَيْ:
مَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ فَقَدْ أَهْلَكَ نَفْسَهُ.
Maksudnya: siapa yang tidak melakukan itu, maka ia telah
membinasakan dirinya.
وَقَالَ
الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ: التَّهْلُكَةُ هُوَ أَنْ يُذْنِبَ الذَّنْبَ ثُمَّ
يَقُولَ: لَا يُتَابُ عَلَيَّ.
Al-Barā’ bin ‘Āzib berkata: “Kebinasaan adalah seseorang
melakukan dosa lalu berkata: ‘Aku tidak akan diterima tobatku.’”
وَقَالَ
أَبُو عُبَيْدَةَ: هُوَ أَنْ يُذْنِبَ ثُمَّ لَا يَعْمَلَ بَعْدَهُ خَيْرًا حَتَّى
يَهْلِكَ.
Abu ‘Ubaidah berkata: “Kebinasaan adalah seseorang berdosa
lalu tidak beramal baik setelahnya hingga ia binasa.”
وَإِذَا
جَازَ أَنْ يُقَاتِلَ الْكُفَّارَ حَتَّى يُقْتَلَ، جَازَ أَيْضًا لَهُ ذٰلِكَ فِي
الْحِسْبَةِ.
Jika boleh memerangi orang kafir hingga terbunuh, maka boleh
pula hal yang semisal dalam hisbah.
وَلٰكِنْ
لَوْ عَلِمَ أَنَّهُ لَا نِكَايَةَ لِهُجُومِهِ عَلَى الْكُفَّارِ، كَالْأَعْمَى
يَطْرَحُ نَفْسَهُ عَلَى الصَّفِّ، أَوِ الْعَاجِزِ، فَذٰلِكَ حَرَامٌ.
Namun bila ia tahu bahwa terjunnya itu tidak memberi dampak
apa pun terhadap musuh—seperti orang buta yang melemparkan dirinya ke barisan,
atau orang lemah tak berdaya—maka itu haram.
وَدَاخِلٌ
تَحْتَ عُمُومِ آيَةِ التَّهْلُكَةِ.
Dan itu masuk dalam keumuman ayat tentang kebinasaan.
وَإِنَّمَا
جَازَ لَهُ الْإِقْدَامُ إِذَا عَلِمَ أَنَّهُ يُقَاتِلُ إِلَى أَنْ يُقْتَلَ.
Yang menjadikan tindakan itu boleh hanyalah bila ia tahu
bahwa ia akan bertempur sampai terbunuh.
أَوْ
عَلِمَ أَنَّهُ يَكْسِرُ قُلُوبَ الْكُفَّارِ بِمُشَاهَدَتِهِمْ جُرْأَتَهُ.
Atau ia tahu bahwa ia akan mematahkan nyali orang kafir
ketika mereka menyaksikan keberaniannya.
وَاعْتِقَادِهِمْ
فِي سَائِرِ الْمُسْلِمِينَ قِلَّةَ الْمُبَالَاةِ، وَحُبَّهُمُ الشَّهَادَةَ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ.
Dan (membuat mereka) meyakini bahwa kaum muslimin tidak
peduli (pada kematian), dan mencintai syahid di jalan Allah.
فَتَنْكَسِرُ
بِذٰلِكَ شَوْكَتُهُمْ.
Sehingga kekuatan dan wibawa mereka melemah karena itu.
فَكَذٰلِكَ
يَجُوزُ لِلْمُحْتَسِبِ، بَلْ يُسْتَحَبُّ لَهُ، أَنْ يُعَرِّضَ نَفْسَهُ
لِلضَّرْبِ وَلِلْقَتْلِ.
Demikian pula muhtasib: boleh baginya, bahkan dianjurkan,
untuk mempertaruhkan dirinya pada pukulan dan pembunuhan.
إِذَا
كَانَ لِحِسْبَتِهِ تَأْثِيرٌ فِي رَفْعِ الْمُنْكَرِ.
Jika hisbahnya berdampak menghilangkan kemungkaran.
أَوْ
فِي كَسْرِ جَاهِ الْفَاسِقِ.
Atau berdampak mematahkan pamor orang fasik.
أَوْ
فِي تَقْوِيَةِ قُلُوبِ أَهْلِ الدِّينِ.
Atau berdampak menguatkan hati orang-orang beragama.
وَأَمَّا
إِنْ رَأَى فَاسِقًا مُتَغَلِّبًا وَعِنْدَهُ سَيْفٌ، وَبِيَدِهِ قَدَحٌ.
Adapun bila ia melihat seorang fasik yang berkuasa, di
dekatnya ada pedang, dan di tangannya ada gelas.
وَعَلِمَ
أَنَّهُ لَوْ أَنْكَرَ عَلَيْهِ لَشَرِبَ الْقَدَحَ وَضَرَبَ رَقَبَتَهُ.
Dan ia tahu bahwa bila ia mengingkarinya, orang fasik itu
akan meneguk gelas itu lalu memenggal lehernya.
فَهٰذَا
مِمَّا لَا أَرَى لِلْحِسْبَةِ فِيهِ وَجْهًا.
Maka keadaan seperti ini, aku tidak melihat hisbah memiliki
arah/manfaat di dalamnya.
وَهُوَ
عَيْنُ الْهَلَاكِ.
Itu adalah kebinasaan yang murni.
فَإِنَّ
الْمَطْلُوبَ أَنْ يُؤَثِّرَ فِي الدِّينِ أَثَرًا وَيَفْدِيَهُ بِنَفْسِهِ.
Karena yang dituntut adalah memberi pengaruh dalam agama,
lalu menebusnya dengan jiwa.
فَأَمَّا
تَعْرِيضُ النَّفْسِ لِلْهَلَاكِ مِنْ غَيْرِ أَثَرٍ فَلَا وَجْهَ لَهُ.
Adapun mempertaruhkan diri pada kebinasaan tanpa pengaruh
apa pun, maka tidak ada gunanya.
بَلْ
يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ حَرَامًا.
Bahkan semestinya itu haram.
وَإِنَّمَا
يُسْتَحَبُّ لَهُ الْإِنْكَارُ إِذَا قَدَرَ عَلَى إِبْطَالِ الْمُنْكَرِ أَوْ
ظَهَرَ لِفِعْلِهِ فَائِدَةٌ.
Yang dianjurkan baginya mengingkari adalah bila ia mampu
menghapus kemungkaran, atau tampak ada manfaat pada tindakannya.
وَذٰلِكَ
بِشَرْطِ أَنْ يَقْتَصِرَ الْمَكْرُوهُ عَلَيْهِ.
Dengan syarat mudarat itu terbatas pada dirinya.
فَإِنْ
عَلِمَ أَنَّهُ يُضْرَبُ مَعَهُ غَيْرُهُ مِنْ أَصْحَابِهِ أَوْ أَقَارِبِهِ أَوْ
رُفَقَائِهِ، فَلَا تَجُوزُ لَهُ الْحِسْبَةُ، بَلْ تَحْرُمُ.
Jika ia tahu bahwa bersama dirinya akan dipukul orang lain
dari sahabat, kerabat, atau rekan-rekannya, maka hisbah tidak boleh baginya;
bahkan haram.
لِأَنَّهُ
عَجَزَ عَنْ دَفْعِ الْمُنْكَرِ إِلَّا بِأَنْ يُفْضِيَ ذٰلِكَ إِلَى مُنْكَرٍ
آخَرَ.
Karena ia tidak mampu menghilangkan kemungkaran kecuali
dengan menimbulkan kemungkaran lain.
وَلَيْسَ
ذٰلِكَ مِنَ الْقُدْرَةِ فِي شَيْءٍ.
Dan itu sama sekali bukan termasuk “kemampuan” yang dianggap
syariat.
بَلْ
لَوْ عَلِمَ أَنَّهُ لَوِ احْتَسَبَ لَبَطَلَ ذٰلِكَ الْمُنْكَرُ، وَلٰكِنْ كَانَ
ذٰلِكَ سَبَبًا لِمُنْكَرٍ آخَرَ يَتَعَاطَاهُ غَيْرُ الْمُحْتَسَبِ عَلَيْهِ.
Bahkan bila ia tahu bahwa jika ia melakukan hisbah,
kemungkaran itu akan hilang, tetapi hal itu menjadi sebab munculnya kemungkaran
lain yang dilakukan oleh orang lain (bukan pihak yang dihisbahi).
فَلَا
يَحِلُّ لَهُ الْإِنْكَارُ عَلَى الْأَظْهَرِ.
Maka menurut pendapat yang lebih kuat, tidak halal baginya
melakukan pengingkaran.
لِأَنَّ
الْمَقْصُودَ عَدَمُ مَنَاكِيرِ الشَّرْعِ مُطْلَقًا، لِأَمِينٍ زَيْدٍ أَوْ
عَمْرٍو.
Karena tujuan syariat adalah tiadanya kemungkaran secara
mutlak, baik terjadi pada si A maupun si B.
وَذٰلِكَ
بِأَنْ يَكُونَ مَعَ الْإِنْسَانِ شَرَابٌ حَلَالٌ نَجِسٌ بِسَبَبِ وُقُوعِ
نَجَاسَةٍ فِيهِ.
Misalnya: seseorang memiliki minuman yang halal, tetapi
menjadi najis karena terkena najis.
وَعَلِمَ
أَنَّهُ لَوْ أَرَاقَهُ لَشَرِبَ صَاحِبُهُ الْخَمْرَ.
Dan ia tahu bahwa bila ia menumpahkannya, pemiliknya akan
minum khamar.
أَوْ
تَشْرَبَ أَوْلَادُهُ الْخَمْرَ لِإِعْوَازِهِمُ الشَّرَابَ الْحَلَالَ.
Atau anak-anaknya akan minum khamar karena tidak adanya
minuman halal.
فَلَا
مَعْنَى لِإِرَاقَةِ ذٰلِكَ.
Maka tidak ada makna menumpahkan minuman itu.
وَيَحْتَمِلُ
أَنْ يُقَالَ: إِنَّهُ يُرِيقُ ذٰلِكَ فَيَكُونُ هُوَ مُبْطِلًا لِمُنْكَرٍ.
Namun ada kemungkinan dikatakan: ia tetap menumpahkannya,
sehingga ia telah menghilangkan satu kemungkaran.
وَأَمَّا
شُرْبُ الْخَمْرِ فَهُوَ الْمَلُومُ فِيهِ.
Adapun minum khamar, yang tercela adalah pelakunya.
وَالْمُحْتَسِبُ
غَيْرُ قَادِرٍ عَلَى مَنْعِهِ مِنْ ذٰلِكَ الْمُنْكَرِ.
Sedangkan muhtasib tidak mampu mencegahnya dari kemungkaran
tersebut.
وَقَدْ
ذَهَبَ إِلَى هٰذَا ذَاهِبُونَ.
Dan ada ulama yang berpendapat seperti ini.
وَلَيْسَ
بِبَعِيدٍ.
Dan pendapat itu tidak jauh (masuk akal).
فَإِنَّ
هٰذِهِ مَسَائِلُ فِقْهِيَّةٌ لَا يُمْكِنُ فِيهَا الْحُكْمُ إِلَّا بِظَنٍّ.
Karena ini adalah masalah-masalah fikih yang tidak mungkin
diputuskan kecuali berdasarkan dugaan kuat (zann).
وَلَا
يَبْعُدُ أَنْ يُفَرَّقَ بَيْنَ دَرَجَاتِ الْمُنْكَرِ الْمُغَيَّرِ وَالْمُنْكَرِ
الَّذِي تُفْضِي إِلَيْهِ الْحِسْبَةُ وَالتَّغْيِيرُ.
Tidak mustahil pula dibedakan antara tingkat kemungkaran
yang dihilangkan, dan kemungkaran yang menjadi akibat dari hisbah dan perubahan
itu.
فَإِنَّهُ
إِذَا كَانَ يَذْبَحُ شَاةً لِغَيْرِ اللَّهِ لِيَأْكُلَهَا، وَعَلِمَ أَنَّهُ
لَوْ مَنَعَهُ مِنْ ذٰلِكَ لَذَبَحَ إِنْسَانًا وَأَكَلَهُ، فَلَا مَعْنَى
لِهٰذِهِ الْحِسْبَةِ.
Misalnya: bila seseorang menyembelih kambing untuk selain
Allah agar ia memakannya, dan diketahui bahwa bila ia dilarang, ia akan
menyembelih manusia dan memakannya; maka tidak ada makna bagi hisbah seperti
itu.
نَعَمْ،
لَوْ كَانَ مَنْعُهُ عَنْ ذَبْحِ إِنْسَانٍ أَوْ قَطْعِ طَرِيقٍ يَحْمِلُهُ عَلَى
أَخْذِ مَالِهِ، فَذٰلِكَ لَهُ وَجْهٌ.
Namun bila melarangnya dari membunuh manusia atau merampok
jalan membuatnya beralih mengambil harta (tanpa membunuh), maka itu masih
memiliki arah pertimbangan.
فَهٰذِهِ
دَقَائِقُ وَاقِعَةٌ فِي مَحَلِّ الِاجْتِهَادِ.
Ini adalah rincian halus yang berada dalam ranah ijtihad.
وَعَلَى
الْمُحْتَسِبِ اتِّبَاعُ اجْتِهَادِهِ فِي ذٰلِكَ كُلِّهِ.
Muhtasib harus mengikuti ijtihadnya dalam semua itu.
وَلِهٰذِهِ
الدَّقَائِقِ نَقُولُ: الْعَامِّيُّ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ لَا يَحْتَسِبَ إِلَّا
فِي الْجَلِيَّاتِ الْمَعْلُومَةِ، كَشُرْبِ الْخَمْرِ وَالزِّنَا وَتَرْكِ
الصَّلَاةِ.
Karena rincian halus ini, kami mengatakan: orang awam
sebaiknya tidak melakukan hisbah kecuali pada perkara-perkara besar yang jelas
dan diketahui, seperti minum khamar, zina, dan meninggalkan shalat.
فَأَمَّا
مَا يُعْلَمُ كَوْنُهُ مَعْصِيَةً بِالْإِضَافَةِ إِلَى مَا يُطِيفُ بِهِ مِنَ
الْأَفْعَالِ، وَيَفْتَقِرُ فِيهِ إِلَى اجْتِهَادٍ.
Adapun yang diketahui sebagai maksiat karena keterkaitannya
dengan hal-hal di sekelilingnya dan membutuhkan ijtihad.
فَالْعَامِّيُّ
إِنْ خَاضَ فِيهِ كَانَ مَا يُفْسِدُهُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُهُ.
Jika orang awam masuk ke dalamnya, kerusakan yang ia
timbulkan lebih besar daripada perbaikan yang ia lakukan.
وَعَنْ
هٰذَا يَتَأَكَّدُ ظَنُّ مَنْ لَا يُثْبِتُ وِلَايَةَ الْحِسْبَةِ إِلَّا
بِتَعْيِينِ الْوَالِي.
Dari sisi ini menguat dugaan orang yang tidak menetapkan
kewenangan hisbah kecuali dengan penunjukan penguasa.
إِذْ
رُبَّمَا يَنْتَدِبُ لَهَا مَنْ لَيْسَ أَهْلًا لَهَا، لِقُصُورِ مَعْرِفَتِهِ
أَوْ قُصُورِ دِيَانَتِهِ.
Karena bisa saja yang maju melakukannya adalah orang yang
tidak layak, karena kurangnya pengetahuan atau kurangnya ketakwaan.
فَيُؤَدِّي
ذٰلِكَ إِلَى وُجُوهٍ مِنَ الْخَلَلِ.
Sehingga hal itu menimbulkan berbagai bentuk kekacauan.
وَسَيَأْتِي
كَشْفُ الْغِطَاءِ عَنْ ذٰلِكَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ.
Dan akan datang penjelasan terbukanya selubung masalah itu,
insya Allah.
فَإِنْ
قِيلَ: وَحَيْثُ أَطْلَقْتُمُ الْعِلْمَ بِأَنْ يُصِيبَهُ مَكْرُوهٌ، أَوْ أَنَّهُ
لَا تُفِيدُ حِسْبَتُهُ، فَلَوْ كَانَ بَدَلَ الْعِلْمِ ظَنٌّ، فَمَا حُكْمُهُ؟
Jika dikatakan: “Kalian menyebut ‘tahu’ bahwa ia akan
terkena mudarat atau hisbahnya tidak bermanfaat; bagaimana bila yang ada bukan
ilmu yakin, melainkan dugaan (zann), apa hukumnya?”
قُلْنَا:
الظَّنُّ الْغَالِبُ فِي هٰذِهِ الْأَبْوَابِ فِي مَعْنَى الْعِلْمِ.
Kami menjawab: dugaan yang kuat dalam bab-bab ini
berkedudukan seperti ilmu.
وَإِنَّمَا
يَظْهَرُ الْفَرْقُ عِنْدَ تَعَارُضِ الظَّنِّ وَالْعِلْمِ.
Perbedaan baru tampak ketika zann bertentangan dengan ilmu.
إِذْ
يُرَجَّحُ الْعِلْمُ الْيَقِينِيُّ عَلَى الظَّنِّ.
Karena ilmu yang yakin didahulukan atas zann.
وَيُفَرَّقُ
بَيْنَ الْعِلْمِ وَالظَّنِّ فِي مَوَاضِعَ أُخَرَ.
Dan pembedaan ilmu dan zann juga berlaku pada tempat lain.
وَهُوَ
أَنَّهُ يَسْقُطُ وُجُوبُ الْحِسْبَةِ عَنْهُ حَيْثُ عَلِمَ قَطْعًا أَنَّهُ لَا
يُفِيدُ.
Yaitu: kewajiban hisbah gugur bila ia tahu secara pasti
bahwa itu tidak bermanfaat.
فَإِنْ
كَانَ غَالِبُ ظَنِّهِ أَنَّهُ لَا يُفِيدُ، وَلٰكِنْ يَحْتَمِلُ أَنْ يُفِيدَ.
Jika dugaan kuatnya tidak bermanfaat, tetapi masih ada
kemungkinan bermanfaat.
وَهُوَ
مَعَ ذٰلِكَ لَا يَتَوَقَّعُ مَكْرُوهًا.
Dan selain itu ia tidak memperkirakan ada mudarat.
فَقَدِ
اخْتَلَفُوا فِي وُجُوبِهِ.
Maka para ulama berbeda pendapat tentang kewajibannya.
وَالْأَظْهَرُ
وُجُوبُهُ.
Pendapat yang lebih tampak: ia wajib.
إِذْ
لَا ضَرَرَ فِيهِ، وَجَدْوَاهُ مُتَوَقَّعَةٌ.
Karena tidak ada mudarat, dan manfaatnya masih diharapkan.
وَعُمُومُ
الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ تَقْتَضِي الْوُجُوبَ
بِكُلِّ حَالٍ.
Keumuman perintah amar makruf nahi mungkar menuntut
kewajiban dalam setiap keadaan.
وَإِنَّمَا
نَسْتَثْنِي مِنْهُ بِطَرِيقِ التَّخْصِيصِ مَا إِذَا عَلِمَ أَنَّهُ لَا
فَائِدَةَ فِيهِ.
Kami hanya mengecualikan dengan cara takhshish
(pengkhususan) pada kondisi ia tahu tidak ada faedahnya.
إِمَّا
بِالْإِجْمَاعِ أَوْ بِقِيَاسٍ ظَاهِرٍ.
Baik dengan ijma‘, atau dengan qiyas yang jelas.
وَهُوَ
أَنَّ الْأَمْرَ لَيْسَ يُرَادُ لِعَيْنِهِ، بَلْ لِلْمَأْمُورِ.
Yaitu: perintah itu tidak dimaksudkan pada dirinya sendiri,
tetapi demi pihak yang diperintah.
فَإِذَا
عُلِمَ الْيَأْسُ عَنْهُ فَلَا فَائِدَةَ فِيهِ.
Jika telah diketahui tidak ada harapan darinya, maka tidak
ada faedahnya.
فَأَمَّا
إِذَا لَمْ يَكُنْ يَأْسٌ فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَسْقُطَ الْوُجُوبُ.
Adapun bila belum sampai pada putus harapan, maka semestinya
kewajiban tidak gugur.
فَإِنْ
قِيلَ: فَالْمَكْرُوهُ الَّذِي تَتَوَقَّعُ إِصَابَتَهُ إِنْ لَمْ يَكُنْ
مُتَيَقَّنًا، وَلَا مَعْلُومًا بِغَالِبِ الظَّنِّ، بَلْ كَانَ مَشْكُوكًا فِيهِ.
Jika dikatakan: “Mudarat yang dikhawatirkan bila tidak yakin
dan tidak diketahui dengan dugaan kuat, tetapi hanya diragukan.”
أَوْ
كَانَ غَالِبُ ظَنِّهِ أَنَّهُ لَا يُصَابُ بِمَكْرُوهٍ، وَلٰكِنِ احْتَمَلَ أَنْ
يُصَابَ بِمَكْرُوهٍ.
“Atau dugaan kuatnya ia tidak akan terkena mudarat, tetapi
masih mungkin terkena mudarat.”
فَهٰذَا
الِاحْتِمَالُ هَلْ يُسْقِطُ الْوُجُوبَ؟
“Apakah kemungkinan seperti ini menggugurkan kewajiban?”
حَتَّى
لَا يَجِبَ إِلَّا عِنْدَ الْيَقِينِ بِأَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ مَكْرُوهٌ؟
“Sehingga tidak wajib kecuali bila yakin tidak ada mudarat?”
أَمْ
يَجِبُ فِي كُلِّ حَالٍ إِلَّا إِذَا غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ أَنَّهُ يُصَابُ
بِمَكْرُوهٍ؟
“Atau tetap wajib dalam semua keadaan, kecuali bila dugaan
kuatnya ia akan terkena mudarat?”
قُلْنَا:
إِنْ غَلَبَ عَلَى الظَّنِّ أَنَّهُ يُصَابُ لَمْ يَجِبْ.
Kami menjawab: bila dugaan kuatnya ia akan terkena mudarat,
maka tidak wajib.
وَإِنْ
غَلَبَ أَنَّهُ لَا يُصَابُ وَجَبَ.
Jika dugaan kuatnya tidak akan terkena mudarat, maka wajib.
وَمُجَرَّدُ
التَّجْوِيزِ لَا يُسْقِطُ الْوُجُوبَ.
Sekadar kemungkinan tidak menggugurkan kewajiban.
فَإِنَّ
ذٰلِكَ مُمْكِنٌ فِي كُلِّ حِسْبَةٍ.
Karena itu mungkin terjadi dalam setiap hisbah.
وَإِنْ
شَكَّ فِيهِ مِنْ غَيْرِ رُجْحَانٍ فَهٰذَا مَحَلُّ النَّظَرِ.
Jika ia ragu tanpa ada sisi yang lebih kuat, maka inilah
tempat ijtihad.
فَيَحْتَمِلُ
أَنْ يُقَالَ: الْأَصْلُ الْوُجُوبُ بِحُكْمِ الْعُمُومَاتِ.
Bisa jadi dikatakan: asalnya adalah wajib berdasarkan
dalil-dalil umum.
وَإِنَّمَا
يَسْقُطُ بِمَكْرُوهٍ.
Dan kewajiban hanya gugur karena adanya mudarat.
وَالْمَكْرُوهُ
هُوَ الَّذِي يُظَنُّ أَوْ يُعْلَمُ حَتَّى يَكُونَ مُتَوَقَّعًا.
Sedangkan mudarat adalah yang diduga kuat atau diketahui
sehingga benar-benar dikhawatirkan.
وَهٰذَا
هُوَ الْأَظْهَرُ.
Ini yang lebih tampak.
وَيَحْتَمِلُ
أَنْ يُقَالَ: إِنَّهُ إِنَّمَا يَجِبُ عَلَيْهِ إِذَا عَلِمَ أَنَّهُ لَا ضَرَرَ
فِيهِ عَلَيْهِ أَوْ ظَنَّ.
Bisa juga dikatakan: kewajiban hanya ada bila ia tahu atau
menduga tidak ada mudarat baginya.
وَالْأَوَّلُ
أَصَحُّ نَظَرًا إِلَى قَضِيَّةِ الْعُمُومَاتِ الْمُوجِبَةِ لِلْأَمْرِ
بِالْمَعْرُوفِ.
Namun yang pertama lebih benar, melihat dalil-dalil umum
yang mewajibkan amar makruf.
فَإِنْ
قِيلَ: فَالتَّوَقُّعُ لِلْمَكْرُوهِ يَخْتَلِفُ بِالْجُبْنِ وَالْجَرَاءَةِ.
Jika dikatakan: “Perkiraan adanya mudarat berbeda-beda
sesuai penakut atau berani.”
فَالْجَبَانُ
الضَّعِيفُ الْقَلْبِ يَرَى الْبَعِيدَ قَرِيبًا حَتَّى كَأَنَّهُ يُشَاهِدُهُ
وَيَرْتَاعُ مِنْهُ.
Orang penakut yang lemah hati memandang yang jauh seolah
dekat, sampai seperti melihatnya, lalu ia takut karenanya.
وَالْمُتَهَوِّرُ
الشُّجَاعُ يُبْعِدُ وُقُوعَ الْمَكْرُوهِ بِهِ.
Sedangkan pemberani nekat menganggap mudarat itu jauh
terjadi padanya.
بِحُكْمِ
مَا جُبِلَ عَلَيْهِ مِنْ حُسْنِ الْأَمَلِ.
Karena tabiatnya yang selalu berbaik sangka.
حَتَّى
إِنَّهُ لَا يُصَدِّقُ بِهِ إِلَّا بَعْدَ وُقُوعِهِ.
Sampai ia tidak mempercayainya kecuali setelah terjadi.
فَعَلَى
مَاذَا التَّعْوِيلُ؟
“Maka pada apa kita bersandar?”
قُلْنَا:
التَّعْوِيلُ عَلَى اعْتِدَالِ الطَّبْعِ وَسَلَامَةِ الْعَقْلِ وَالْمِزَاجِ.
Kami menjawab: sandarannya pada tabiat yang seimbang serta
sehatnya akal dan temperamen.
فَإِنَّ
الْجُبْنَ مَرَضٌ.
Karena pengecut adalah penyakit.
وَهُوَ
ضَعْفٌ فِي الْقَلْبِ سَبَبُهُ قُصُورٌ فِي الْقُوَّةِ وَتَفْرِيطٌ.
Ia adalah kelemahan hati yang sebabnya kekurangan kekuatan
dan sikap meremehkan (kurang).
وَالتَّهَوُّرُ
إِفْرَاطٌ فِي الْقُوَّةِ.
Sedangkan nekat adalah sikap berlebihan dalam kekuatan.
وَخُرُوجٌ
عَنِ الِاعْتِدَالِ بِالزِّيَادَةِ.
Dan keluar dari keseimbangan karena tambahan yang melampaui
batas.
وَكِلَاهُمَا
نُقْصَانٌ.
Keduanya adalah kekurangan.
وَإِنَّمَا
الْكَمَالُ فِي الِاعْتِدَالِ الَّذِي يُعَبَّرُ عَنْهُ بِالشَّجَاعَةِ.
Kesempurnaan ada pada keseimbangan yang disebut
“keberanian”.
وَكُلُّ
وَاحِدٍ مِنَ الْجُبْنِ وَالتَّهَوُّرِ يَصْدُرُ تَارَةً عَنْ نُقْصَانِ الْعَقْلِ.
Masing-masing dari pengecut dan nekat kadang muncul karena
kurangnya akal.
وَتَارَةً
عَنْ خَلَلٍ فِي الْمِزَاجِ بِتَفْرِيطٍ أَوْ إِفْرَاطٍ.
Dan kadang karena rusaknya temperamen: terlalu kurang atau
terlalu lebih.
فَإِنَّ
مَنِ اعْتَدَلَ مِزَاجُهُ فِي صِفَةِ الْجُبْنِ وَالْجَرَاءَةِ.
Orang yang temperamennya seimbang dalam sifat takut dan
berani.
فَقَدْ
لَا يَتَفَطَّنُ لِمَدَارِكِ الشَّرِّ فَيَكُونُ سَبَبُ جَرَاءَتِهِ جَهْلُهُ.
Bisa jadi ia tidak memahami pintu-pintu bahaya, sehingga
sebab keberaniannya adalah kebodohan.
وَقَدْ
لَا يَتَفَطَّنُ لِمَدَارِكِ دَفْعِ الشَّرِّ فَيَكُونُ سَبَبُ جُبْنِهِ جَهْلُهُ.
Atau ia tidak memahami jalan-jalan menolak bahaya, sehingga
sebab pengecutnya adalah kebodohan.
وَقَدْ
يَكُونُ عَالِمًا بِحُكْمِ التَّجْرِبَةِ وَالْمُمَارَسَةِ بِمَدَاخِلِ الشَّرِّ
وَدَوَافِعِهِ.
Atau ia mengetahui lewat pengalaman dan praktik tentang
pintu-pintu bahaya dan cara menghalaunya.
وَلٰكِنْ
يَعْمَلُ الشَّرُّ الْبَعِيدُ فِي تَخْذِيلِهِ وَتَحْلِيلِ قُوَّتِهِ فِي
الْإِقْدَامِ.
Namun bahaya yang jauh saja sudah melemahkannya dan
meluruhkan kekuatannya untuk maju.
بِسَبَبِ
ضَعْفِ قَلْبِهِ.
Karena lemahnya hati.
مَا
يَفْعَلُهُ الشَّرُّ الْقَرِيبُ فِي حَقِّ الشُّجَاعِ الْمُعْتَدِلِ الطَّبْعِ.
Sebagaimana bahaya dekat berpengaruh pada orang berani yang
seimbang.
فَلَا
الْتِفَاتَ إِلَى الطَّرَفَيْنِ.
Maka jangan berpaling kepada dua ekstrem itu.
وَعَلَى
الْجَبَانِ أَنْ يَتَكَلَّفَ إِزَالَةَ الْجُبْنِ بِإِزَالَةِ عِلَّتِهِ.
Orang penakut harus berusaha menghilangkan pengecutnya
dengan menghilangkan sebabnya.
وَعِلَّتُهُ
جَهْلٌ أَوْ ضَعْفٌ.
Sebabnya adalah kebodohan atau kelemahan.
وَيَزُولُ
الْجَهْلُ بِالتَّجْرِبَةِ.
Kebodohan hilang dengan pengalaman.
وَيَزُولُ
الضَّعْفُ بِمُمَارَسَةِ الْفِعْلِ الْمَخُوفِ مِنْهُ تَكَلُّفًا.
Kelemahan hilang dengan melatih diri melakukan hal yang
ditakuti secara bertahap dan dipaksa.
حَتَّى
يَصِيرَ مُعْتَادًا.
Sampai menjadi terbiasa.
إِذِ
الْمُبْتَدِئُ فِي الْمُنَاظَرَةِ وَالْوَعْظِ مَثَلًا قَدْ يَجْبُنُ عَنْهُ
طَبْعُهُ لِضَعْفِهِ.
Sebab pemula dalam debat dan nasihat misalnya, tabiatnya
bisa takut karena lemah.
فَإِذَا
مَارَسَ وَاعْتَادَ فَارَقَهُ الضَّعْفُ.
Jika ia berlatih dan terbiasa, kelemahan akan
meninggalkannya.
فَإِنْ
صَارَ ذٰلِكَ ضَرُورِيًّا غَيْرَ قَابِلٍ لِلزَّوَالِ.
Jika itu menjadi kondisi yang menetap dan tidak bisa hilang.
بِحُكْمِ
اسْتِيلَاءِ الضَّعْفِ عَلَى الْقَلْبِ.
Karena kelemahan menguasai hati.
فَحُكْمُ
ذٰلِكَ الضَّعِيفِ يَتْبَعُ حَالَهُ فَيُعْذَرُ.
Maka hukum orang lemah itu mengikuti keadaannya, sehingga ia
diberi uzur.
كَمَا
يُعْذَرُ الْمَرِيضُ فِي التَّقَاعُدِ عَنْ بَعْضِ الْوَاجِبَاتِ.
Sebagaimana orang sakit diberi uzur untuk tidak mampu
menunaikan sebagian kewajiban.
وَلِذٰلِكَ
قَدْ نَقُولُ عَلَى رَأْيٍ: لَا يَجِبُ رُكُوبُ الْبَحْرِ لِأَجْلِ حَجَّةِ
الْإِسْلَامِ.
Karena itu ada pendapat: tidak wajib menyeberang laut demi
haji Islam.
عَلَى
مَنْ يَغْلِبُ عَلَيْهِ الْجُبْنُ فِي رُكُوبِ الْبَحْرِ.
Bagi orang yang sangat takut naik laut.
وَيَجِبُ
عَلَى مَنْ لَا يَعْظُمُ خَوْفُهُ مِنْهُ.
Dan wajib bagi yang tidak besar rasa takutnya.
فَكَذٰلِكَ
الْأَمْرُ فِي وُجُوبِ الْحِسْبَةِ.
Demikian pula dalam kewajiban hisbah.
فَإِنْ
قِيلَ: فَالْمَكْرُوهُ الْمُتَوَقَّعُ مَا حَدُّهُ؟
Jika dikatakan: “Apa batasan mudarat yang dikhawatirkan
itu?”
فَإِنَّ
الْإِنْسَانَ قَدْ يَكْرَهُ كَلِمَةً، وَقَدْ يَكْرَهُ ضَرْبَةً.
Karena seseorang bisa membenci (merasa berat terhadap)
sebuah kata, dan bisa membenci sebuah pukulan.
وَقَدْ
يَكْرَهُ طُولَ لِسَانِ الْمُحْتَسَبِ عَلَيْهِ فِي حَقِّهِ بِالْغِيبَةِ.
Dan bisa membenci bila pihak yang dihisbahi memanjangkan
lisannya tentang dirinya dengan ghibah.
وَمَا
مِنْ شَخْصٍ يُؤْمَرُ بِالْمَعْرُوفِ إِلَّا يَتَوَقَّعُ مِنْهُ نَوْعًا مِنَ
الْأَذَى.
Tidak ada orang yang diperintah kepada makruf kecuali akan
mengeluarkan jenis gangguan tertentu.
وَقَدْ
يَكُونُ مِنْهُ أَنْ يَسْعَى بِهِ إِلَى سُلْطَانٍ.
Bisa jadi gangguan itu berupa mengadukannya kepada penguasa.
أَوْ
يَقْدَحَ فِيهِ فِي مَجْلِسٍ يَتَضَرَّرُ بِقَدْحِهِ فِيهِ.
Atau mencelanya di suatu majelis hingga ia terkena dampak
dari celaan itu.
فَمَا
حَدُّ الْمَكْرُوهِ الَّذِي يَسْقُطُ الْوُجُوبُ بِهِ؟
Maka apa batas mudarat yang menggugurkan kewajiban?
قُلْنَا:
هٰذَا أَيْضًا فِيهِ نَظَرٌ غَامِضٌ.
Kami menjawab: ini juga memerlukan pertimbangan yang
samar/rumit.
وَصُورَتُهُ
مُنْتَشِرَةٌ، وَمَجَارِيُهُ كَثِيرَةٌ.
Bentuk-bentuknya tersebar, dan jalurnya banyak.
وَلٰكِنَّا
نَجْتَهِدُ فِي ضَمِّ نَشْرِهِ وَحَصْرِ أَقْسَامِهِ.
Namun kami berusaha merangkum dan membatasi pembagiannya.
فَنَقُولُ:
الْمَكْرُوهُ نَقِيضُ الْمَطْلُوبِ.
Kami katakan: mudarat adalah kebalikan dari sesuatu yang
diinginkan.
وَمَطَالِبُ
الْخَلْقِ فِي الدُّنْيَا تَرْجِعُ إِلَى أَرْبَعَةِ أُمُورٍ.
Keinginan manusia di dunia kembali kepada empat perkara.
أَمَّا
فِي النَّفْسِ: فَالْعِلْمُ.
Pada jiwa: ilmu.
وَأَمَّا
فِي الْبَدَنِ: فَالصِّحَّةُ وَالسَّلَامَةُ.
Pada badan: kesehatan dan keselamatan.
وَأَمَّا
فِي الْمَالِ: فَالثَّرْوَةُ.
Pada harta: kekayaan.
وَأَمَّا
فِي قُلُوبِ النَّاسِ: فَقِيَامُ الْجَاهِ.
Pada hati manusia: tegaknya kedudukan (jah).
فَإِذًا
الْمَطْلُوبُ: الْعِلْمُ، وَالصِّحَّةُ، وَالثَّرْوَةُ، وَالْجَاهُ.
Jadi yang dicari: ilmu, kesehatan, kekayaan, dan kedudukan.
وَمَعْنَى
الْجَاهِ: مِلْكُ قُلُوبِ النَّاسِ.
Makna jah adalah “memiliki” hati manusia (pengaruh dan
penerimaan).
كَمَا
أَنَّ مَعْنَى الثَّرْوَةِ: مِلْكُ الدَّرَاهِمِ.
Sebagaimana makna kekayaan adalah memiliki uang.
لِأَنَّ
قُلُوبَ النَّاسِ وَسِيلَةٌ إِلَى الْأَغْرَاضِ.
Karena hati manusia adalah sarana meraih tujuan.
كَمَا
أَنَّ مِلْكَ الدَّرَاهِمِ وَسِيلَةٌ إِلَى بُلُوغِ الْأَغْرَاضِ.
Sebagaimana memiliki uang adalah sarana meraih tujuan.
وَسَيَأْتِي
تَحْقِيقُ مَعْنَى الْجَاهِ وَسَبَبِ مَيْلِ الطَّبْعِ إِلَيْهِ فِي رُبْعِ
الْمُهْلِكَاتِ.
Penjelasan hakikat jah dan sebab tabiat condong kepadanya
akan datang pada bagian “al-Muhlikāt”.
وَكُلُّ
وَاحِدَةٍ مِنْ هٰذِهِ الْأَرْبَعَةِ يَطْلُبُهَا الْإِنْسَانُ لِنَفْسِهِ
وَلِأَقَارِبِهِ وَالْمُخْتَصِّينَ بِهِ.
Setiap dari empat hal ini dicari manusia untuk dirinya,
kerabatnya, dan orang-orang dekatnya.
وَيَكْرَهُ
فِي هٰذِهِ الْأَرْبَعَةِ أَمْرَانِ.
Dan ia membenci (mudarat) pada empat hal ini dalam dua
bentuk.
أَحَدُهُمَا:
زَوَالُ مَا هُوَ حَاصِلٌ مَوْجُودٌ.
Pertama: hilangnya sesuatu yang sudah ada.
وَالْآخَرُ:
امْتِنَاعُ مَا هُوَ مُنْتَظَرٌ مَفْقُودٌ.
Kedua: tidak tercapainya sesuatu yang diharapkan namun belum
ada.
أَعْنِي:
انْدِفَاعَ مَا يُتَوَقَّعُ وُجُودُهُ.
Maksudnya: gugurnya sesuatu yang diharapkan akan terwujud.
فَلَا
ضَرَرَ إِلَّا فِي فَوَاتِ حَاصِلٍ وَزَوَالِهِ، أَوْ تَعْوِيقِ مُنْتَظَرٍ.
Tidak ada mudarat kecuali: hilangnya yang sudah ada, atau
terhalangnya yang diharapkan.
فَإِنَّ
الْمُنْتَظَرَ عِبَارَةٌ عَنِ الْمُمْكِنِ حُصُولُهُ.
Karena yang diharapkan adalah sesuatu yang mungkin
diperoleh.
وَالْمُمْكِنُ
حُصُولُهُ كَأَنَّهُ حَاصِلٌ.
Yang mungkin diperoleh seakan-akan sudah ada.
وَفَوَاتُ
إِمْكَانِهِ كَأَنَّهُ فَوَاتُ حُصُولِهِ.
Hilangnya kemungkinan itu seakan-akan hilangnya hasil.
فَرَجَعَ
الْمَكْرُوهُ إِلَى قِسْمَيْنِ.
Maka mudarat kembali kepada dua bagian.
أَحَدُهُمَا:
خَوْفُ امْتِنَاعِ الْمُنْتَظَرِ.
Pertama: takut tidak tercapainya yang diharapkan.
وَهٰذَا
لَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مُرَخَّصًا فِي تَرْكِ الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ
أَصْلًا.
Ini semestinya tidak menjadi alasan keringanan untuk
meninggalkan amar makruf sama sekali.
وَلْنَذْكُرْ
مِثَالَهُ فِي الْمَطَالِبِ الْأَرْبَعَةِ.
Mari kita sebutkan contohnya pada empat tuntutan itu.
أَمَّا
الْعِلْمُ: فَمِثَالُهُ تَرْكُهُ الْحِسْبَةَ عَلَى مَنْ يَخْتَصُّ بِأُسْتَاذِهِ
خَوْفًا مِنْ أَنْ يَقْبُحَ حَالُهُ عِنْدَهُ فَيَمْتَنِعَ مِنْ تَعْلِيمِهِ.
Pada ilmu: contohnya ia meninggalkan hisbah kepada orang
yang punya hubungan dengan gurunya, karena takut ia dipandang buruk oleh guru
lalu guru enggan mengajarnya.
وَأَمَّا
الصِّحَّةُ: فَتَرْكُهُ الْإِنْكَارَ عَلَى الطَّبِيبِ الَّذِي يَدْخُلُ عَلَيْهِ
مَثَلًا وَهُوَ لَابِسٌ حَرِيرًا.
Pada kesehatan: contohnya ia tidak mengingkari dokter yang
datang kepadanya dalam keadaan memakai sutra.
خَوْفًا
مِنْ أَنْ يَتَأَخَّرَ عَنْهُ فَتَمْتَنِعَ بِسَبَبِهِ صِحَّتُهُ الْمُنْتَظَرَةُ.
Karena takut dokter itu menjauhinya sehingga kesehatan yang
diharapkan tidak tercapai.
وَأَمَّا
الْمَالُ: فَتَرْكُهُ الْحِسْبَةَ عَلَى السُّلْطَانِ وَأَصْحَابِهِ، وَعَلَى مَنْ
يُوَاسِيهِ مِنْ مَالِهِ.
Pada harta: contohnya ia tidak melakukan hisbah kepada
sultan dan orang-orangnya, atau kepada orang yang biasa membantunya dengan
harta.
خِيفَةً
مِنْ أَنْ يَقْطَعَ إِدْرَارَهُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ وَيَتْرُكَ مُوَاسَاتَهُ.
Karena khawatir pemberian rutin diputus di masa depan.
وَأَمَّا
الْجَاهُ: فَتَرْكُهُ الْحِسْبَةَ عَلَى مَنْ يَتَوَقَّعُ مِنْهُ نُصْرَةً
وَجَاهًا فِي الْمُسْتَقْبَلِ.
Pada kedudukan: contohnya ia tidak melakukan hisbah kepada
orang yang diharapkan akan menolong dan memberinya kedudukan kelak.
خِيفَةً
مِنْ أَنْ لَا يَحْصُلَ لَهُ الْجَاهُ.
Karena khawatir kedudukan itu tidak didapat.
أَوْ
خِيفَةً مِنْ أَنْ يَقْبُحَ حَالُهُ عِنْدَ السُّلْطَانِ الَّذِي يَتَوَقَّعُ
مِنْهُ وِلَايَةً.
Atau karena takut dipandang buruk oleh penguasa yang ia
harapkan memberi jabatan.
وَهٰذَا
كُلُّهُ لَا يُسْقِطُ وُجُوبَ الْحِسْبَةِ.
Semua ini tidak menggugurkan kewajiban hisbah.
لِأَنَّ
هٰذِهِ زِيَادَاتٌ امْتَنَعَتْ.
Karena semua itu hanyalah “tambahan” yang tidak jadi
didapat.
وَتَسْمِيَةُ
امْتِنَاعِ حُصُولِ الزِّيَادَاتِ ضَرَرًا مَجَازٌ.
Menyebut tidak tercapainya tambahan sebagai “mudarat”
hanyalah kiasan.
وَإِنَّمَا
الضَّرَرُ الْحَقِيقِيُّ فَوَاتُ حَاصِلٍ.
Mudarat yang hakiki adalah hilangnya sesuatu yang sudah ada.
وَلَا
يُسْتَثْنَى مِنْ هٰذَا شَيْءٌ إِلَّا مَا تَدْعُو إِلَيْهِ الْحَاجَةُ.
Tidak dikecualikan dari kaidah ini kecuali yang dituntut
oleh kebutuhan nyata.
وَيَكُونُ
فِي فَوَاتِهِ مَحْذُورٌ يَزِيدُ عَلَى مَحْذُورِ السُّكُوتِ عَلَى الْمُنْكَرِ.
Dan bila hilang, timbul bahaya yang lebih besar daripada
bahaya diam dari kemungkaran.
كَمَا
إِذَا كَانَ مُحْتَاجًا إِلَى الطَّبِيبِ لِمَرَضٍ نَاجِزٍ.
Seperti bila ia butuh dokter untuk sakit yang sedang
terjadi.
وَالصِّحَّةُ
مُنْتَظَرَةٌ مِنْ مُعَالَجَةِ الطَّبِيبِ.
Dan kesehatan diharapkan dari pengobatan dokter.
وَيَعْلَمُ
أَنَّ فِي تَأَخُّرِهِ شِدَّةَ الضَّنَى بِهِ وَطُولَ الْمَرَضِ.
Dan ia tahu bahwa bila dokter menjauh, sakitnya bertambah
parah dan berlangsung lama.
وَقَدْ
يُفْضِي إِلَى الْمَوْتِ.
Bahkan bisa berujung kematian.
وَأَعْنِي
بِالْعِلْمِ: الظَّنَّ الَّذِي يَجُوزُ بِمِثْلِهِ تَرْكُ اسْتِعْمَالِ الْمَاءِ
وَالْعُدُولُ إِلَى التَّيَمُّمِ.
Yang aku maksud dengan “tahu” adalah zann yang dengannya
boleh meninggalkan penggunaan air dan beralih ke tayammum.
فَإِذَا
انْتَهَى إِلَى هٰذَا الْحَدِّ لَمْ يَبْعُدْ أَنْ يُرَخَّصَ فِي تَرْكِ
الْحِسْبَةِ.
Jika sampai pada batas ini, tidak jauh bahwa ia diberi
keringanan meninggalkan hisbah.
وَأَمَّا
فِي الْعِلْمِ: فَمِثْلُ أَنْ يَكُونَ جَاهِلًا بِمُهِمَّاتِ دِينِهِ، وَلَمْ
يَجِدْ إِلَّا مُعَلِّمًا وَاحِدًا.
Adapun pada ilmu: misalnya ia jahil tentang perkara penting
agamanya dan hanya menemukan satu guru.
وَلَا
قُدْرَةَ لَهُ عَلَى الرِّحْلَةِ إِلَى غَيْرِهِ.
Dan ia tidak mampu bepergian untuk mencari guru lain.
وَعَلِمَ
أَنَّ الْمُحْتَسَبَ عَلَيْهِ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَسُدَّ عَلَيْهِ طَرِيقَ
الْوُصُولِ إِلَيْهِ.
Dan ia tahu pihak yang dihisbahi mampu menutup jalan agar ia
tidak bisa sampai kepada guru itu.
لِكَوْنِ
الْعَالِمِ مُطِيعًا لَهُ أَوْ مُسْتَمِعًا لِقَوْلِهِ.
Karena sang alim patuh kepadanya atau mendengarkan
ucapannya.
فَإِذًا:
الصَّبْرُ عَلَى الْجَهْلِ بِمُهِمَّاتِ الدِّينِ مَحْذُورٌ، وَالسُّكُوتُ عَلَى
الْمُنْكَرِ مَحْذُورٌ.
Maka bersabar dalam kebodohan urusan penting agama adalah
bahaya; dan diam dari kemungkaran juga bahaya.
وَلَا
يَبْعُدُ أَنْ يُرَجَّحَ أَحَدُهُمَا.
Tidak mustahil salah satunya lebih didahulukan.
وَيَخْتَلِفُ
ذٰلِكَ بِتَفَاحُشِ الْمُنْكَرِ.
Itu berbeda sesuai seberapa parah kemungkaran.
وَبِشِدَّةِ
الْحَاجَةِ إِلَى الْعِلْمِ لِتَعَلُّقِهِ بِمُهِمَّاتِ الدِّينِ.
Dan sesuai seberapa besar kebutuhan ilmu karena terkait
urusan penting agama.
وَأَمَّا
فِي الْمَالِ: فَكَمَنْ يَعْجِزُ عَنِ الْكَسْبِ وَالسُّؤَالِ.
Adapun pada harta: seperti orang yang tidak mampu bekerja
dan tidak mampu meminta-minta.
وَلَيْسَ
هُوَ قَوِيَّ النَّفْسِ فِي التَّوَكُّلِ.
Dan ia tidak kuat jiwanya dalam tawakal.
وَلَا
مُنْفِقَ عَلَيْهِ سِوَى شَخْصٍ وَاحِدٍ.
Dan tidak ada yang menafkahinya selain satu orang.
وَلَوِ
احْتَسَبَ عَلَيْهِ قَطَعَ رِزْقَهُ.
Jika ia melakukan hisbah kepada orang itu, orang itu memutus
rezekinya.
وَافْتَقَرَ
فِي تَحْصِيلِهِ إِلَى طَلَبِ إِدْرَارٍ حَرَامٍ أَوْ مَاتَ جُوعًا.
Lalu ia terpaksa mencari pemasukan haram atau mati
kelaparan.
فَهٰذَا
أَيْضًا إِذَا اشْتَدَّ الْأَمْرُ فِيهِ لَمْ يَبْعُدْ أَنْ يُرَخَّصَ لَهُ فِي
السُّكُوتِ.
Jika keadaannya sangat berat, tidak jauh bahwa ia diberi
keringanan untuk diam.
وَأَمَّا
الْجَاهُ: فَهُوَ أَنْ يُؤْذِيَهُ شِرِّيرٌ وَلَا يَجِدُ سَبِيلًا إِلَى دَفْعِ
شَرِّهِ إِلَّا بِجَاهٍ يَكْتَسِبُهُ مِنْ سُلْطَانٍ.
Adapun kedudukan: seperti ada orang jahat mengganggunya dan
ia tidak menemukan jalan menolak gangguannya kecuali dengan pengaruh yang ia
dapatkan dari penguasa.
وَلَا
يَقْدِرُ عَلَى التَّوَصُّلِ إِلَيْهِ إِلَّا بِوَاسِطَةِ شَخْصٍ يَلْبَسُ
الْحَرِيرَ أَوْ يَشْرَبُ الْخَمْرَ.
Dan ia tidak bisa sampai kepada penguasa kecuali melalui
perantara orang yang memakai sutra atau minum khamar.
وَلَوِ
احْتَسَبَ عَلَيْهِ لَمْ يَكُنْ وَاسِطَةً وَوَسِيلَةً لَهُ.
Jika ia melakukan hisbah kepadanya, orang itu tidak akan
menjadi perantara baginya.
فَيَمْتَنِعُ
عَلَيْهِ حُصُولُ الْجَاهِ.
Sehingga ia tidak memperoleh pengaruh.
وَيَدُومُ
بِسَبَبِهِ أَذَى الشِّرِّيرِ.
Dan gangguan orang jahat terus berlanjut karenanya.
فَهٰذِهِ
الْأُمُورُ كُلُّهَا إِذَا ظَهَرَتْ وَقَوِيَتْ لَمْ يَبْعُدِ اسْتِثْنَاؤُهَا.
Semua perkara ini, bila benar-benar nyata dan kuat, tidak
mustahil dikecualikan.
وَلٰكِنَّ
الْأَمْرَ فِيهَا مَنُوطٌ بِاجْتِهَادِ الْمُحْتَسِبِ.
Namun urusannya bergantung pada ijtihad muhtasib.
حَتَّى
يَسْتَفْتِيَ فِيهَا قَلْبَهُ.
Sampai ia meminta fatwa kepada hatinya.
وَيَزِنَ
أَحَدَ الْمَحْذُورَيْنِ بِالْآخَرِ.
Dan menimbang satu bahaya dengan bahaya yang lain.
وَيُرَجِّحَ
بِنَظَرِ الدِّينِ، لَا بِمُوجَبِ الْهَوَى وَالطَّبْعِ.
Lalu ia menguatkan pilihan berdasarkan pandangan agama,
bukan dorongan hawa nafsu dan tabiat.
فَإِنْ
رَجَّحَ بِمُوجَبِ الدِّينِ سُمِّيَ سُكُوتُهُ مُدَارَاةً.
Jika ia menguatkan pilihan karena agama, diamnya disebut
“mudārāh” (bersikap bijak/meredakan demi maslahat).
وَإِنْ
رَجَّحَ بِمُوجَبِ الْهَوَى سُمِّيَ سُكُوتُهُ مُدَاهَنَةً.
Jika karena hawa, diamnya disebut “mudāhanah” (kompromi
tercela).
وَهٰذَا
أَمْرٌ بَاطِنٌ لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ إِلَّا بِنَظَرٍ دَقِيقٍ.
Ini perkara batin yang tidak diketahui kecuali dengan
pengamatan yang halus.
وَلٰكِنَّ
النَّاقِدَ بَصِيرٌ.
Namun orang yang tajam penilaiannya dapat melihat.
فَحَقٌّ
عَلَى كُلِّ مُتَدَيِّنٍ فِيهِ أَنْ يُرَاقِبَ قَلْبَهُ.
Maka wajib bagi setiap orang yang beragama dalam hal ini
untuk mengawasi hatinya.
وَيَعْلَمَ
أَنَّ اللَّهَ مُطَّلِعٌ عَلَى بَاعِثِهِ وَصَارِفِهِ: أَهُوَ الدِّينُ أَوِ
الْهَوَى.
Dan mengetahui bahwa Allah melihat pendorong dan
penghalangnya: apakah agama atau hawa.
وَسَتَجِدُ
كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ أَوْ خَيْرٍ مُحْضَرًا عِنْدَ اللَّهِ.
Setiap jiwa akan mendapati apa yang ia lakukan—keburukan
atau kebaikan—dihadirkan di sisi Allah.
وَلَوْ
فِي فَلْتَةِ خَاطِرٍ، أَوْ فَلْتَةِ نَاظِرٍ.
Sekalipun hanya dalam lintasan hati yang sekejap, atau
lirikan mata yang sekejap.
مِنْ
غَيْرِ ظُلْمٍ وَلَا جَوْرٍ.
Tanpa kezhaliman dan tanpa kecurangan.
فَمَا
اللَّهُ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ.
Dan Allah sama sekali bukan Dzat yang menzhalimi
hamba-hamba-Nya.