Rukun dan Syarat (1)
اَلْبَابُ الثَّانِي فِي أَرْكَانِ الأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَشُرُوطِهِ
Bab kedua tentang rukun-rukun amar makruf dan
syarat-syaratnya.
اِعْلَمْ
أَنَّ الأَرْكَانَ فِي الْحِسْبَةِ الَّتِي هِيَ عِبَارَةٌ شَامِلَةٌ لِلْأَمْرِ
بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ أَرْبَعَةٌ: الْمُحْتَسِبُ،
وَالْمُحْتَسَبُ عَلَيْهِ، وَالْمُحْتَسَبُ فِيهِ، وَنَفْسُ الِاحْتِسَابِ.
Ketahuilah bahwa rukun-rukun dalam hisbah—yang merupakan
istilah menyeluruh untuk amar makruf dan nahi mungkar—ada empat: orang yang
melakukan hisbah (muhtasib), pihak yang dikenai hisbah, perkara yang dihisbahi,
dan perbuatan hisbah itu sendiri.
فَهٰذِهِ
أَرْبَعَةُ أَرْكَانٍ، وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا شُرُوطُهُ.
Maka ini empat rukun, dan masing-masing memiliki
syarat-syaratnya.
اَلرُّكْنُ
الأَوَّلُ: الْمُحْتَسِبُ.
Rukun pertama: muhtasib (orang yang menegakkan hisbah).
وَلَهُ
شُرُوطٌ، وَهِيَ أَنْ يَكُونَ مُكَلَّفًا، مُسْلِمًا، قَادِرًا.
Ia memiliki beberapa syarat, yaitu: harus seorang mukallaf,
muslim, dan mampu.
فَيَخْرُجُ
مِنْهُ: الْمَجْنُونُ، وَالصَّبِيُّ، وَالْكَافِرُ، وَالْعَاجِزُ.
Dengan demikian, yang tidak termasuk adalah orang gila, anak
kecil, orang kafir, dan orang yang tidak mampu.
وَيَدْخُلُ
فِيهِ آحَادُ الرَّعَايَا وَإِنْ لَمْ يَكُونُوا مَأْذُونِينَ.
Dan termasuk di dalamnya orang-orang dari kalangan rakyat
biasa, meskipun mereka tidak mendapat izin khusus.
وَيَدْخُلُ
فِيهِ الْفَاسِقُ، وَالرَّقِيقُ، وَالْمَرْأَةُ.
Dan termasuk pula orang fasik, budak, serta perempuan.
فَلْنَذْكُرْ
وَجْهَ اشْتِرَاطِ مَا اشْتَرَطْنَاهُ، وَوَجْهَ إِطْرَاحِ مَا أَطْرَحْنَاهُ.
Maka mari kita jelaskan alasan mensyaratkan apa yang kita
syaratkan, dan alasan menyingkirkan apa yang kita singkirkan.
أَمَّا
الشَّرْطُ الأَوَّلُ، وَهُوَ التَّكْلِيفُ، فَلَا يَخْفَى وَجْهُ اشْتِرَاطِهِ.
Adapun syarat pertama, yaitu taklif (menjadi mukallaf), maka
alasan pensyaratannya tidaklah samar.
فَإِنَّ
غَيْرَ الْمُكَلَّفِ لَا يَلْزَمُهُ أَمْرٌ.
Karena orang yang tidak mukallaf tidak terkena kewajiban
perintah.
وَمَا
ذَكَرْنَاهُ أَرَدْنَا بِهِ شَرْطَ الْوُجُوبِ.
Dan yang kami sebutkan itu kami maksudkan sebagai syarat
“wajibnya” (hisbah).
فَأَمَّا
إِمْكَانُ الْفِعْلِ وَجَوَازُهُ فَلَا يَسْتَدْعِي إِلَّا الْعَقْلَ.
Adapun “kemungkinan melakukan” dan “bolehnya melakukan”,
maka itu tidak menuntut selain adanya akal.
حَتَّى
إِنَّ الصَّبِيَّ الْمُرَاهِقَ لِلْبُلُوغِ الْمُمَيِّزَ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ
مُكَلَّفًا، فَلَهُ إِنْكَارُ الْمُنْكَرِ.
Sampai-sampai anak yang mendekati balig dan sudah bisa
membedakan, meskipun belum mukallaf, ia berhak mengingkari kemungkaran.
وَلَهُ
أَنْ يُرِيقَ الْخَمْرَ وَيَكْسِرَ الْمَلَاهِيَ.
Dan ia boleh menumpahkan khamar dan memecahkan alat-alat
maksiat (perangkat hiburan yang haram).
وَإِذَا
فَعَلَ ذٰلِكَ نَالَ بِهِ ثَوَابًا.
Jika ia melakukan itu, ia mendapatkan pahala.
وَلَمْ
يَكُنْ لِأَحَدٍ مَنْعُهُ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ لَيْسَ بِمُكَلَّفٍ.
Dan tidak boleh seorang pun melarangnya hanya karena alasan
“ia belum mukallaf”.
فَإِنَّ
هٰذِهِ قُرْبَةٌ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِهَا، كَالصَّلَاةِ وَالْإِمَامَةِ وَسَائِرِ
الْقُرُبَاتِ.
Karena ini adalah bentuk pendekatan diri (ibadah), dan ia
termasuk orang yang layak melakukannya, seperti shalat, menjadi imam, dan
ibadah-ibadah lainnya.
وَلَيْسَ
حُكْمُهُ حُكْمَ الْوِلَايَاتِ حَتَّى يُشْتَرَطَ فِيهِ التَّكْلِيفُ.
Dan hukumnya tidak seperti jabatan kekuasaan (wilayah)
sehingga harus disyaratkan taklif.
وَلِذٰلِكَ
أَثْبَتْنَاهُ لِلْعَبْدِ وَآحَادِ الرَّعِيَّةِ.
Karena itu kami tetapkan (kebolehan hisbah) ini bagi budak
dan rakyat biasa.
نَعَمْ،
فِي الْمَنْعِ بِالْفِعْلِ وَإِبْطَالِ الْمُنْكَرِ نَوْعُ وِلَايَةٍ وَسُلْطَنَةٍ.
Memang, dalam tindakan pencegahan dengan perbuatan langsung
dan menghilangkan kemungkaran terdapat unsur semacam “kewenangan” dan
“kekuasaan”.
وَلٰكِنَّهَا
تُسْتَفَادُ بِمُجَرَّدِ الْإِيمَانِ، كَقَتْلِ الْمُشْرِكِ وَإِبْطَالِ
أَسْبَابِهِ وَسَلْبِ أَسْلِحَتِهِ.
Namun kewenangan itu diperoleh hanya dengan iman, seperti
membunuh musyrik (dalam kondisi yang dibenarkan), menggagalkan sebab-sebab
kekuatannya, dan merampas senjatanya.
فَإِنَّ
لِلصَّبِيِّ أَنْ يَفْعَلَ ذٰلِكَ حَيْثُ لَا يَسْتَضِرُّ بِهِ.
Bahkan anak kecil pun boleh melakukan itu selama tidak
membahayakan dirinya.
فَالْمَنْعُ
مِنَ الْفِسْقِ كَالْمَنْعِ مِنَ الْكُفْرِ.
Maka mencegah kefasikan itu seperti mencegah kekafiran.
وَأَمَّا
الشَّرْطُ الثَّانِي، وَهُوَ الْإِيمَانُ، فَلَا يَخْفَى وَجْهُ اشْتِرَاطِهِ.
Adapun syarat kedua, yaitu iman (Islam), maka alasan
pensyaratannya juga tidak samar.
لِأَنَّ
هٰذَا نُصْرَةٌ لِلدِّينِ، فَكَيْفَ يَكُونُ مِنْ أَهْلِهِ مَنْ هُوَ جَاحِدٌ
لِأَصْلِ الدِّينِ وَعَدُوٌّ لَهُ؟
Sebab ini adalah pembelaan untuk agama; maka bagaimana
mungkin pelakunya adalah orang yang mengingkari pokok agama dan menjadi
musuhnya?
وَأَمَّا
الشَّرْطُ الثَّالِثُ، وَهُوَ الْعَدَالَةُ، فَقَدِ اعْتَبَرَهَا قَوْمٌ.
Adapun syarat ketiga, yaitu ‘adalah (integritas/keadilan),
maka sebagian orang menganggapnya sebagai syarat.
وَقَالُوا:
لَيْسَ لِلْفَاسِقِ أَنْ يَحْتَسِبَ.
Mereka berkata: “Orang fasik tidak berhak melakukan hisbah.”
وَرُبَّمَا
اسْتَدَلُّوا فِيهِ بِالنَّكِيرِ الْوَارِدِ عَلَى مَنْ يَأْمُرُ بِمَا لَا
يَفْعَلُ.
Boleh jadi mereka berdalil dengan kecaman terhadap orang
yang memerintahkan sesuatu yang ia sendiri tidak melakukannya.
مِثْلَ
قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ
أَنْفُسَكُمْ﴾.
Seperti firman Allah Ta‘ala: “Mengapa kalian menyuruh
manusia berbuat kebajikan tetapi kalian melupakan diri kalian sendiri?”
وَقَوْلِهِ
تَعَالَى: ﴿كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ﴾.
Dan firman-Nya: “Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa
kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.”
وَبِمَا
رُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ:
«مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي بِقَوْمٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ
نَارٍ».
Dan dengan hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Pada malam Isra’ aku
melewati suatu kaum yang bibir-bibir mereka digunting dengan gunting dari api.”
فَقُلْتُ:
مَنْ أَنْتُمْ؟
Aku bertanya: “Siapa kalian?”
فَقَالُوا:
كُنَّا نَأْمُرُ بِالْخَيْرِ وَلَا نَأْتِيهِ، وَنَنْهَى عَنِ الشَّرِّ
وَنَأْتِيهِ (١).
Mereka menjawab: “Dahulu kami menyuruh kepada kebaikan
tetapi tidak melakukannya, dan melarang keburukan tetapi melakukannya.” (1)
وَبِمَا
رُوِيَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْحَى إِلَى عِيسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: «عِظْ نَفْسَكَ، فَإِنِ اتَّعَظْتَ فَعِظِ النَّاسَ، وَإِلَّا
فَاسْتَحْيِ مِنِّي».
Dan dengan riwayat bahwa Allah Ta‘ala mewahyukan kepada ‘Isa
‘alaihis salam: “Nasihatilah dirimu; jika engkau sudah mengambil pelajaran,
maka nasihatilah manusia; jika tidak, maka malulah kepada-Ku.”
وَرُبَّمَا
اسْتَدَلُّوا مِنْ طَرِيقِ الْقِيَاسِ بِأَنَّ هِدَايَةَ الْغَيْرِ فَرْعٌ
لِلِاهْتِدَاءِ.
Boleh jadi mereka berdalil melalui qiyas bahwa memberi
hidayah kepada orang lain adalah cabang dari mendapat hidayah.
وَكَذٰلِكَ
تَقْوِيمُ الْغَيْرِ فَرْعٌ لِلِاسْتِقَامَةِ.
Demikian pula meluruskan orang lain adalah cabang dari
lurusnya diri sendiri.
وَالْإِصْلَاحُ
زَكَاةٌ عَنْ نِصَابِ الصَّلَاحِ.
Dan memperbaiki orang lain ibarat zakat yang dikeluarkan
dari “nisab” kesalehan.
فَمَنْ
لَيْسَ بِصَالِحٍ فِي نَفْسِهِ فَكَيْفَ يُصْلِحُ غَيْرَهُ؟
Maka orang yang tidak saleh pada dirinya, bagaimana ia
memperbaiki orang lain?
وَمَتَى
يَسْتَقِيمُ الظِّلُّ وَالْعُودُ أَعْوَجُ؟
Dan kapan bayangan akan lurus bila batangnya bengkok?
وَكُلُّ
مَا ذَكَرُوهُ خَيَالَاتٌ.
Semua yang mereka sebutkan itu hanyalah angan-angan (tanpa
ketegasan dalil).
وَإِنَّمَا
الْحَقُّ أَنَّ لِلْفَاسِقِ أَنْ يَحْتَسِبَ.
Yang benar adalah: orang fasik tetap berhak melakukan
hisbah.
وَبُرْهَانُهُ
هُوَ أَنْ نَقُولَ: هَلْ يُشْتَرَطُ فِي الِاحْتِسَابِ أَنْ يَكُونَ مُتَعَاطِيهِ
مَعْصُومًا عَنِ الْمَعَاصِي كُلِّهَا؟
Buktinya: kita bertanya, apakah disyaratkan dalam hisbah
bahwa pelakunya harus maksum dari semua maksiat?
فَإِنْ
شَرَطُوا ذٰلِكَ فَهُوَ خَرْقٌ لِلْإِجْمَاعِ.
Jika mereka mensyaratkan itu, maka mereka telah merusak
ijma‘.
ثُمَّ
حَسْمٌ لِبَابِ الِاحْتِسَابِ، إِذْ لَا عِصْمَةَ لِلصَّحَابَةِ فَضْلًا عَمَّنْ
دُونَهُمْ.
Lalu itu berarti menutup pintu hisbah sama sekali, karena
para sahabat pun tidak maksum, apalagi yang di bawah mereka.
وَالْأَنْبِيَاءُ
عَلَيْهِمُ السَّلَامُ قَدِ اخْتُلِفَ فِي عِصْمَتِهِمْ عَنِ الْخَطَايَا.
Bahkan para nabi ‘alaihimus salam pun diperselisihkan
tentang kemaksuman mereka dari kesalahan-kesalahan tertentu.
وَالْقُرْآنُ
الْعَزِيزُ دَالٌّ عَلَى نِسْبَةِ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى الْمَعْصِيَةِ.
Al-Qur’an yang mulia menunjukkan adanya penyandaran maksiat
kepada Adam ‘alaihis salam.
وَكَذٰلِكَ
جَمَاعَةٌ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ.
Demikian pula kepada sejumlah nabi yang lain.
وَلِهٰذَا
قَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ: إِنْ لَمْ يَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَمْ يَنْهَ
عَنِ الْمُنْكَرِ إِلَّا مَنْ لَا يَكُونُ فِيهِ شَيْءٌ، لَمْ يَأْمُرْ أَحَدٌ
بِشَيْءٍ.
Karena itu Sa‘id bin Jubair berkata: “Jika tidak boleh amar
makruf dan nahi mungkar kecuali bagi orang yang tidak memiliki cela sama
sekali, niscaya tidak ada seorang pun yang akan memerintahkan apa pun.”
فَأَعْجَبَ
مَالِكًا ذٰلِكَ مِنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ.
Ucapan Sa‘id bin Jubair itu membuat Malik (bin Anas) kagum.
وَإِنْ
زَعَمُوا أَنَّ ذٰلِكَ لَا يُشْتَرَطُ عَنِ الصَّغَائِرِ، حَتَّى يَجُوزَ
لِلَابِسِ الْحَرِيرِ أَنْ يَمْنَعَ مِنَ الزِّنَا وَشُرْبِ الْخَمْرِ، فَنَقُولُ.
Jika mereka mengklaim bahwa yang disyaratkan itu tidak
sampai mencakup dosa-dosa kecil—sehingga orang yang memakai sutra boleh
melarang zina dan minum khamar—maka kami menjawab.
وَهَلْ
لِشَارِبِ الْخَمْرِ أَنْ يَغْزُوَ الْكُفَّارَ وَيَحْتَسِبَ عَلَيْهِمْ
بِالْمَنْعِ مِنَ الْكُفْرِ؟
Apakah peminum khamar boleh memerangi orang kafir dan
melakukan hisbah kepada mereka dengan melarang kekafiran?
فَإِنْ
قَالُوا: لَا، خَرَقُوا الْإِجْمَاعَ.
Jika mereka menjawab “tidak”, maka mereka merusak ijma‘.
إِذْ
جُنُودُ الْمُسْلِمِينَ لَمْ تَزَلْ مُشْتَمِلَةً عَلَى الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ،
وَشَارِبِ الْخَمْرِ، وَظَالِمِ الْأَيْتَامِ.
Karena pasukan kaum muslimin sejak dulu selalu terdiri dari
orang baik dan orang jahat, peminum khamar, dan orang yang menzalimi anak
yatim.
وَلَمْ
يُمْنَعُوا مِنَ الْغَزْوِ، لَا فِي عَصْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا بَعْدَهُ.
Dan mereka tidak pernah dilarang dari peperangan, baik pada
masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maupun setelah beliau.
فَإِنْ
قَالُوا: نَعَمْ، فَنَقُولُ: شَارِبُ الْخَمْرِ هَلْ لَهُ الْمَنْعُ مِنَ
الْقَتْلِ أَمْ لَا؟
Jika mereka menjawab “ya”, maka kami bertanya: apakah
peminum khamar boleh melarang pembunuhan atau tidak?
فَإِنْ
قَالُوا: لَا، قُلْنَا: فَمَا الْفَرْقُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ لَابِسِ الْحَرِيرِ؟
Jika mereka menjawab “tidak”, maka kami berkata: apa bedanya
ia dengan orang yang memakai sutra?
إِذْ
جَازَ لَهُ الْمَنْعُ مِنَ الْخَمْرِ وَالْقَتْلُ كَبِيرَةٌ بِالنِّسْبَةِ إِلَى
الشُّرْبِ، كَالشُّرْبِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى لُبْسِ الْحَرِيرِ، فَلَا فَرْقَ.
Sebab jika si pemakai sutra boleh melarang khamar, padahal
membunuh itu dosa besar dibanding minum (khamar), sebagaimana minum itu dosa
besar dibanding memakai sutra, maka tidak ada perbedaan secara logika.
وَإِنْ
قَالُوا: نَعَمْ، وَفَصَلُوا الْأَمْرَ فِيهِ بِأَنَّ كُلَّ مُقْدِمٍ عَلَى شَيْءٍ
فَلَا يَمْنَعُ عَنْ مِثْلِهِ وَلَا عَمَّا دُونَهُ، وَإِنَّمَا يَمْنَعُ عَمَّا
فَوْقَهُ، فَهٰذَا تَحَكُّمٌ.
Jika mereka menjawab “ya”, lalu merinci: “siapa yang
melakukan suatu dosa tidak boleh melarang dosa yang semisal atau yang lebih
ringan, tetapi hanya boleh melarang yang lebih besar”, maka ini adalah
penetapan sepihak tanpa dasar.
فَإِنَّهُ
كَمَا لَا يَبْعُدُ أَنْ يَمْنَعَ الشَّارِبُ مِنَ الزِّنَا وَالْقَتْلِ، فَمِنْ
أَيْنَ يَبْعُدُ أَنْ يَمْنَعَ الزَّانِي مِنَ الشُّرْبِ؟
Karena sebagaimana tidak jauh untuk membolehkan peminum
khamar melarang zina dan pembunuhan, maka dari mana bisa dianggap jauh bahwa
pezina melarang minum khamar?
بَلْ
مِنْ أَيْنَ يَبْعُدُ أَنْ يَشْرَبَ وَيَمْنَعَ غِلْمَانَهُ وَخَدَمَهُ مِنَ
الشُّرْبِ، وَيَقُولَ: يَجِبُ عَلَى الِانْتِهَاءِ وَالنَّهْيُ؟
Bahkan dari mana dianggap aneh bila ia minum, namun melarang
para anak buah dan pelayannya untuk minum, sambil berkata: “Wajib berhenti, dan
wajib melarang”?
فَمِنْ
أَيْنَ يَلْزَمُنِي مِنَ الْعِصْيَانِ بِأَحَدِهِمَا أَنْ أَعْصِيَ اللَّهَ
تَعَالَى بِالثَّانِي؟
Mengapa kemaksiatanku pada salah satunya harus menuntutku
untuk bermaksiat kepada Allah pada yang kedua?
وَإِذَا
كَانَ النَّهْيُ وَاجِبًا عَلَيَّ فَمِنْ أَيْنَ يَسْقُطُ وُجُوبُهُ بِإِقْدَامِي؟
Jika melarang itu wajib bagiku, dari mana kewajiban itu
gugur hanya karena aku terlanjur melakukan?
إِذْ
يَسْتَحِيلُ أَنْ يُقَالَ: يَجِبُ النَّهْيُ عَنْ شُرْبِ الْخَمْرِ عَلَيْهِ مَا
لَمْ يَشْرَبْ، فَإِذَا شَرِبَ سَقَطَ النَّهْيُ.
Karena mustahil dikatakan: “Wajib melarang minum khamar atas
dirinya selama ia belum minum; namun jika ia sudah minum, gugurlah kewajiban
melarang.”
فَإِنْ
قِيلَ: فَيَلْزَمُ عَلَى هٰذَا أَنْ يَقُولَ الْقَائِلُ: الْوَاجِبُ عَلَيَّ
الْوُضُوءُ وَالصَّلَاةُ، فَأَنَا أَتَوَضَّأُ وَإِنْ لَمْ أُصَلِّ.
Jika dikatakan: “Kalau begitu konsekuensinya seseorang bisa
berkata: yang wajib atasku adalah wudhu dan shalat, maka aku berwudhu meski
tidak shalat.”
وَأَتَسَحَّرُ
وَإِنْ لَمْ أَصُمْ.
“Dan aku bersahur meski tidak berpuasa.”
لِأَنَّ
الْمُسْتَحَبَّ لِيَ السَّحُورُ وَالصَّوْمُ جَمِيعًا.
“Karena yang disunnahkan bagiku adalah sahur dan puasa
sekaligus.”
وَلٰكِنْ
يُقَالُ: أَحَدُهُمَا مُرَتَّبٌ عَلَى الْآخَرِ.
Namun (menurut mereka) dikatakan: “Yang satu tersusun di
atas yang lain (berurutan sebagai sarana).”
فَكَذٰلِكَ
تَقْوِيمُ الْغَيْرِ مُرَتَّبٌ عَلَى تَقْوِيمِهِ بِنَفْسِهِ، فَلْيَبْدَأْ
بِنَفْسِهِ ثُمَّ بِمَنْ يَعُولُ.
Demikian pula (menurut mereka) meluruskan orang lain
tersusun di atas meluruskan diri sendiri; maka hendaknya ia mulai dengan
dirinya, lalu orang yang menjadi tanggungannya.
وَالْجَوَابُ:
أَنَّ التَّسَحُّرَ يُرَادُ لِلصَّوْمِ، وَلَوْلَا الصَّوْمُ لَمَا كَانَ
التَّسَحُّرُ مُسْتَحَبًّا.
Jawabannya: sahur itu dilakukan demi puasa; seandainya tidak
ada puasa, sahur tidak menjadi sunnah.
وَمَا
يُرَادُ لِغَيْرِهِ لَا يَنْفَكُّ عَنْ ذٰلِكَ الْغَيْرِ.
Dan sesuatu yang dilakukan demi yang lain, tidak terlepas
dari “yang lain” itu.
وَإِصْلَاحُ
الْغَيْرِ لَا يُرَادُ لِإِصْلَاحِ النَّفْسِ.
Sedangkan memperbaiki orang lain tidak dimaksudkan demi
memperbaiki diri.
وَلَا
إِصْلَاحُ النَّفْسِ لِإِصْلَاحِ الْغَيْرِ.
Dan memperbaiki diri tidak dimaksudkan demi memperbaiki
orang lain.
فَالْقَوْلُ
بِتَرَتُّبِ أَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ تَحَكُّمٌ.
Maka anggapan bahwa salah satunya harus berurutan di atas
yang lain adalah penetapan sepihak.
وَأَمَّا
الْوُضُوءُ وَالصَّلَاةُ فَهُوَ لَازِمٌ.
Adapun wudhu dan shalat, keduanya memang saling terkait
sebagai kewajiban yang berurutan.
فَلَا
جَرَمَ أَنَّ مَنْ تَوَضَّأَ وَلَمْ يُصَلِّ كَانَ مُؤَدِّيًا أَمْرَ الْوُضُوءِ.
Karena itu, orang yang berwudhu namun tidak shalat tetap
telah menunaikan perintah wudhu.
وَكَانَ
عِقَابُهُ أَقَلَّ مِنْ عِقَابِ مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ وَالْوُضُوءَ جَمِيعًا.
Dan hukumannya lebih ringan daripada orang yang meninggalkan
shalat dan wudhu sekaligus.
فَلْيَكُنْ
مَنْ تَرَكَ النَّهْيَ وَالِانْتِهَاءَ أَكْثَرَ عِقَابًا مِمَّنْ نَهَى وَلَمْ
يَنْتَهِ.
Maka semestinya orang yang meninggalkan larangan (nahi) dan
meninggalkan berhenti dari dosa lebih berat hukumannya daripada orang yang
melarang namun dirinya belum berhenti.
كَيْفَ
وَالْوُضُوءُ شَرْطٌ لَا يُرَادُ لِنَفْسِهِ بَلْ لِلصَّلَاةِ، فَلَا حُكْمَ لَهُ
دُونَ الصَّلَاةِ.
Sebab wudhu adalah syarat yang tidak dituju pada dirinya,
tetapi untuk shalat; maka ia tidak punya kedudukan sendiri terpisah dari
shalat.
وَأَمَّا
الْحِسْبَةُ فَلَيْسَتْ شَرْطًا فِي الِانْتِهَاءِ وَالِائْتِمَارِ، فَلَا
مُشَابَهَةَ بَيْنَهُمَا.
Sedangkan hisbah bukan syarat bagi seseorang untuk berhenti
(dari maksiat) dan untuk beramal (taat); maka tidak ada kemiripan antara
keduanya.
فَإِنْ
قِيلَ: فَيَلْزَمُ عَلَى هٰذَا أَنْ يُقَالَ: إِذَا زَنَى الرَّجُلُ بِامْرَأَةٍ
وَهِيَ مُكْرَهَةٌ مَسْتُورَةُ الْوَجْهِ، فَكَشَفَتْ وَجْهَهَا بِاخْتِيَارِهَا.
Jika dikatakan: “Berarti harus diterima pula bahwa bila
seorang laki-laki berzina dengan seorang perempuan yang dipaksa dan wajahnya
tertutup, lalu perempuan itu membuka wajahnya dengan pilihannya sendiri…”
فَأَخَذَ
الرَّجُلُ يَحْتَسِبُ فِي أَثْنَاءِ الزِّنَا، وَيَقُولُ: أَنْتِ مُكْرَهَةٌ فِي
الزِّنَا وَمُخْتَارَةٌ فِي كَشْفِ الْوَجْهِ لِغَيْرِ مَحْرَمٍ.
“…lalu si laki-laki melakukan hisbah di tengah perzinaan itu
dan berkata: ‘Engkau dipaksa dalam zina, tetapi memilih membuka wajah untuk
yang bukan mahram.’”
وَهَا
أَنَا غَيْرُ مَحْرَمٍ لَكِ، فَاسْتُرِي وَجْهَكِ.
‘Dan aku bukan mahrammu, maka tutuplah wajahmu.’”
فَهٰذَا
احْتِسَابٌ شَنِيعٌ يَسْتَنْكِرُهُ قَلْبُ كُلِّ عَاقِلٍ.
“Maka hisbah seperti ini adalah buruk sekali, yang akan
diingkari oleh hati setiap orang berakal.”
وَيَسْتَشْنِعُهُ
كُلُّ طَبْعٍ سَلِيمٍ.
Dan setiap tabiat yang sehat pun memandangnya menjijikkan.
فَالْجَوَابُ:
أَنَّ الْحَقَّ قَدْ يَكُونُ شَنِيعًا، وَأَنَّ الْبَاطِلَ قَدْ يَكُونُ
مُسْتَحْسَنًا بِالطِّبَاعِ.
Jawabannya: kebenaran terkadang tampak “buruk” (di mata
rasa), dan kebatilan terkadang tampak “baik” menurut tabiat.
وَالْمُتَّبَعُ
الدَّلِيلُ دُونَ نُفْرَةِ الأَوْهَامِ وَالْخَيَالَاتِ.
Yang diikuti adalah dalil, bukan rasa enggan yang lahir dari
prasangka dan khayalan.
فَإِنَّا
نَقُولُ: قَوْلُهُ لَهَا فِي تِلْكَ الْحَالَةِ: «لَا تَكْشِفِي وَجْهَكِ» وَاجِبٌ
أَوْ مُبَاحٌ أَوْ حَرَامٌ؟
Karena kami bertanya: ucapannya kepada perempuan itu dalam
keadaan tersebut—“jangan buka wajahmu”—apakah wajib, mubah, atau haram?
فَإِنْ
قُلْتُمْ: إِنَّهُ وَاجِبٌ، فَهُوَ الْغَرَضُ.
Jika kalian menjawab “wajib”, maka itulah yang kami maksud.
لِأَنَّ
الْكَشْفَ مَعْصِيَةٌ، وَالنَّهْيَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ حَقٌّ.
Karena membuka wajah (kepada non-mahram dalam konteks yang
dimaksud) adalah maksiat, dan melarang maksiat adalah suatu kebenaran.
وَإِنْ
قُلْتُمْ: إِنَّهُ مُبَاحٌ، فَإِذًا لَهُ أَنْ يَقُولَ مَا هُوَ مُبَاحٌ.
Jika kalian menjawab “mubah”, maka berarti ia boleh
mengatakan sesuatu yang mubah.
فَمَا
مَعْنَى قَوْلِكُمْ: لَيْسَ لِلْفَاسِقِ الْحِسْبَةُ؟
Lalu apa arti klaim kalian bahwa orang fasik tidak berhak
melakukan hisbah?
وَإِنْ
قُلْتُمْ: إِنَّهُ حَرَامٌ، فَنَقُولُ: وَكَانَ هٰذَا وَاجِبًا، فَمِنْ أَيْنَ
حَرُمَ بِإِقْدَامِهِ عَلَى الزِّنَا؟
Jika kalian menjawab “haram”, maka kami berkata: padahal itu
sebelumnya wajib; dari mana menjadi haram hanya karena ia melakukan zina?
وَمِنَ
الْغَرِيبِ أَنْ يَصِيرَ الْوَاجِبُ حَرَامًا بِسَبَبِ ارْتِكَابِ حَرَامٍ آخَرَ.
Aneh sekali bila kewajiban berubah menjadi haram karena
melakukan keharaman yang lain.
وَأَمَّا
نُفْرَةُ الطِّبَاعِ عَنْهُ وَاسْتِنْكَارُهَا لَهُ فَهُوَ لِسَبَبَيْنِ.
Adapun rasa jijik tabiat terhadap hal itu dan
pengingkarannya, maka itu karena dua sebab.
أَحَدُهُمَا:
أَنَّهُ تَرَكَ الأَهَمَّ وَاشْتَغَلَ بِمَا هُوَ مُهِمٌّ.
Pertama: karena ia meninggalkan yang paling penting, lalu
sibuk dengan yang penting (tetapi tidak sepenting yang pertama).
وَكَمَا
أَنَّ الطِّبَاعَ تَنْفِرُ عَنْ تَرْكِ الْمُهِمِّ إِلَى مَا لَا يَعْنِي.
Sebagaimana tabiat manusia tidak suka bila seseorang
meninggalkan perkara penting demi hal yang tidak perlu.
فَتَنْفِرُ
عَنْ تَرْكِ الأَهَمِّ وَالِاشْتِغَالِ بِالْمُهِمِّ.
Maka tabiat lebih tidak suka lagi ketika yang ditinggalkan
adalah yang paling penting, dan yang dikerjakan hanyalah yang penting.
وَكَمَا
أَنَّ الطِّبَاعَ تَنْفِرُ عَمَّنْ يَتَحَرَّجُ عَنْ تَنَاوُلِ طَعَامٍ مَغْصُوبٍ،
وَهُوَ مُوَاظِبٌ عَلَى الرِّبَا.
Sebagaimana tabiat manusia merasa tidak suka kepada orang
yang sangat berhati-hati hingga enggan memakan makanan hasil ghasab, padahal ia
terus-menerus melakukan riba.
وَكَمَا
تَنْفِرُ عَمَّنْ يَتَصَاوَنُ عَنِ الْغِيبَةِ وَيَشْهَدُ بِالزُّورِ.
Dan sebagaimana tabiat merasa tidak suka kepada orang yang
menjaga diri dari ghibah, tetapi ia bersaksi palsu.
لِأَنَّ
الشَّهَادَةَ بِالزُّورِ أَفْحَشُ وَأَشَدُّ مِنَ الْغِيبَةِ.
Karena kesaksian palsu itu lebih keji dan lebih berat
daripada ghibah.
الَّتِي
هِيَ إِخْبَارٌ عَنْ كَائِنٍ يَصْدُقُ فِيهِ الْمُخْبِرُ.
Sebab ghibah itu pada hakikatnya adalah mengabarkan sesuatu
yang memang ada, sehingga pengabarnya (secara fakta) benar.
وَهٰذَا
الِاسْتِبْعَادُ فِي النُّفُوسِ لَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ تَرْكَ الْغِيبَةِ لَيْسَ
بِوَاجِبٍ.
Rasa “janggal” di dalam jiwa seperti ini tidak menunjukkan
bahwa meninggalkan ghibah itu tidak wajib.
وَأَنَّهُ
لَوِ اغْتَابَ أَوْ أَكَلَ لُقْمَةً مِنْ حَرَامٍ لَمْ تَزْدَدْ بِذٰلِكَ
عُقُوبَتُهُ.
Dan tidak menunjukkan bahwa bila ia tetap berghibah atau
memakan sesuap yang haram, hukumannya tidak bertambah karenanya.
فَكَذٰلِكَ
ضَرَرُهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ مَعْصِيَتِهِ أَكْثَرُ مِنْ ضَرَرِهِ مِنْ
مَعْصِيَةِ غَيْرِهِ.
Demikian pula (pada kasus ini), bahaya yang ia tanggung di
akhirat karena maksiatnya sendiri lebih besar daripada bahaya yang timbul
baginya karena maksiat orang lain.
فَاشْتِغَالُهُ
عَنِ الْأَقَلِّ بِالْأَكْثَرِ مُسْتَنْكَرٌ فِي الطَّبْعِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ
تَرَكَ الْأَكْثَرَ، لَا مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ أَتَى بِالْأَقَلِّ.
Maka kesibukannya pada yang lebih kecil sambil meninggalkan
yang lebih besar memang diingkari oleh tabiat, karena ia meninggalkan yang
lebih besar; bukan karena ia melakukan yang lebih kecil.
فَمَنْ
غَصَبَ فَرَسَهُ وَلِجَامَ فَرَسِهِ، فَاشْتَغَلَ بِطَلَبِ اللِّجَامِ وَتَرَكَ
الْفَرَسَ، نَفَرَتْ عَنْهُ الطِّبَاعُ.
Siapa yang dirampas (dirampok) kudanya sekaligus tali
kendalinya, lalu ia sibuk mencari tali kendali dan meninggalkan mencari kuda,
tabiat manusia akan merasa tidak suka kepadanya.
وَيُرَى
مُسِيئًا، إِذْ قَدْ صَدَرَ مِنْهُ طَلَبُ اللِّجَامِ وَهُوَ غَيْرُ مُنْكَرٍ.
Dan ia dipandang bersalah, karena yang keluar darinya adalah
mencari kendali—padahal mencari kendali itu sendiri bukanlah sesuatu yang
diingkari.
وَلٰكِنَّ
الْمُنْكَرَ تَرْكُهُ لِطَلَبِ الْفَرَسِ بِطَلَبِ اللِّجَامِ.
Namun yang diingkari adalah ia meninggalkan mencari kuda
demi mencari kendali.
فَاشْتَدَّ
الْإِنْكَارُ عَلَيْهِ لِتَرْكِهِ الْأَهَمَّ بِمَا دُونَهُ.
Maka pengingkaran terhadapnya menjadi keras karena ia
meninggalkan yang lebih penting demi yang kurang penting.
فَكَذٰلِكَ
حِسْبَةُ الْفَاسِقِ تُسْتَبْعَدُ مِنْ هٰذَا الْوَجْهِ.
Demikian pula hisbah orang fasik terasa “tidak pantas” dari
sisi ini.
وَهٰذَا
لَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ حِسْبَتَهُ مِنْ حَيْثُ إِنَّهَا حِسْبَةٌ مُسْتَنْكَرَةٌ.
Akan tetapi hal itu tidak menunjukkan bahwa
hisbahnya—sebagai hisbah—adalah perbuatan yang patut diingkari.
اَلسَّبَبُ
الثَّانِي: أَنَّ الْحِسْبَةَ تَارَةً تَكُونُ بِالنَّهْيِ بِالْوَعْظِ، وَتَارَةً
بِالْقَهْرِ.
Sebab kedua: hisbah kadang berupa larangan dengan nasihat
(mau‘izhah), dan kadang berupa pencegahan dengan pemaksaan (tindakan tegas).
وَلَا
يَنْجَعُ وَعْظُ مَنْ لَا يَتَّعِظُ أَوَّلًا.
Nasihat tidak akan manjur dari orang yang tidak mengambil
nasihat terlebih dahulu (pada dirinya).
وَنَحْنُ
نَقُولُ: مَنْ عَلِمَ أَنَّ قَوْلَهُ لَا يُقْبَلُ فِي الْحِسْبَةِ لِعِلْمِ
النَّاسِ بِفِسْقِهِ فَلَيْسَ عَلَيْهِ الْحِسْبَةُ بِالْوَعْظِ.
Kami berkata: siapa yang tahu bahwa ucapannya tidak akan
diterima dalam hisbah karena orang-orang mengetahui kefasikannya, maka tidak
wajib baginya hisbah dengan nasihat.
إِذْ
لَا فَائِدَةَ فِي وَعْظِهِ.
Sebab tidak ada manfaat dalam nasihatnya.
فَالْفِسْقُ
يُؤَثِّرُ فِي إِسْقَاطِ فَائِدَةِ كَلَامِهِ.
Kefasikan berpengaruh menggugurkan manfaat ucapannya.
ثُمَّ
إِذَا سَقَطَتْ فَائِدَةُ كَلَامِهِ سَقَطَ وُجُوبُ الْكَلَامِ.
Lalu jika manfaat ucapannya gugur, gugurlah kewajiban
berbicara.
فَأَمَّا
إِذَا كَانَتِ الْحِسْبَةُ بِالْمَنْعِ فَالْمُرَادُ مِنْهُ الْقَهْرُ.
Adapun bila hisbah berupa pencegahan, maka yang dimaksud
adalah tindakan tegas (memaksa berhenti).
وَتَمَامُ
الْقَهْرِ أَنْ يَكُونَ بِالْفِعْلِ وَالْحُجَّةِ جَمِيعًا.
Dan kesempurnaan “paksaan” adalah bila terjadi dengan
tindakan nyata sekaligus hujjah (alasan) bersama-sama.
وَإِذَا
كَانَ فَاسِقًا فَإِنْ قَهَرَ بِالْفِعْلِ فَقَدْ قَهَرَ بِالْحُجَّةِ.
Jika ia orang fasik, lalu ia mencegah dengan tindakan, maka
ia telah “dikalahkan” pula dengan hujjah (karena orang bisa membantahnya).
إِذْ
يَتَوَجَّهُ عَلَيْهِ أَنْ يُقَالَ لَهُ: فَأَنْتَ لِمَ لَمْ تُقْدِمْ عَلَيْهِ؟
Karena akan tertuju kepadanya ucapan: “Kalau begitu, mengapa
engkau sendiri tidak meninggalkannya?”
فَتَنْفِرُ
الطِّبَاعُ عَنْ قَهْرِهِ بِالْفِعْلِ مَعَ كَوْنِهِ مَقْهُورًا بِالْحُجَّةِ.
Maka tabiat manusia menjadi enggan menerima pencegahannya
secara tindakan, karena ia sendiri “terkalahkan” oleh hujjah.
وَذٰلِكَ
لَا يُخْرِجُ الْفِعْلَ عَنْ كَوْنِهِ حَقًّا.
Namun hal itu tidak mengeluarkan tindakan tersebut dari
statusnya sebagai sesuatu yang benar.
كَمَا
أَنَّ مَنْ يَذُبُّ الظَّالِمَ عَنْ آحَادِ الْمُسْلِمِينَ وَيُهْمِلُ أَبَاهُ
وَهُوَ مَظْلُومٌ مَعَهُمْ، تَنْفِرُ الطِّبَاعُ عَنْهُ.
Seperti orang yang membela seorang muslim dari seorang
zalim, tetapi mengabaikan ayahnya sendiri padahal ayahnya juga dizalimi bersama
mereka; tabiat manusia akan merasa tidak suka kepadanya.
وَلَا
يَخْرُجُ دَفْعُهُ عَنِ الْمُسْلِمِ عَنْ كَوْنِهِ حَقًّا.
Namun pembelaannya terhadap muslim itu tetap tidak keluar
dari statusnya sebagai hal yang benar.
فَخَرَجَ
مِنْ هٰذَا أَنَّ الْفَاسِقَ لَيْسَ عَلَيْهِ الْحِسْبَةُ بِالْوَعْظِ عَلَى مَنْ
يَعْرِفُ فِسْقَهُ؛ لِأَنَّهُ لَا يَتَّعِظُ.
Dari sini jelas: orang fasik tidak wajib melakukan hisbah
dengan nasihat kepada orang yang mengetahui kefasikannya, karena nasihatnya
tidak akan diindahkan.
وَإِذَا
لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ ذٰلِكَ، وَعَلِمَ أَنَّهُ يُفْضِي إِلَى تَطْوِيلِ
اللِّسَانِ فِي عِرْضِهِ بِالْإِنْكَارِ، فَنَقُولُ: لَيْسَ لَهُ ذٰلِكَ أَيْضًا.
Jika itu tidak wajib baginya, dan ia tahu bahwa hal itu akan
berujung pada orang-orang memanjangkan lisan mencela kehormatannya karena ia
mengingkari, maka kami berkata: ia tidak boleh melakukan itu juga.
فَرَجَعَ
الْكَلَامُ إِلَى أَنَّ أَحَدَ نَوْعَيِ الِاحْتِسَابِ، وَهُوَ الْوَعْظُ، قَدْ
بَطَلَ بِالْفِسْقِ.
Maka kesimpulannya: salah satu dari dua jenis hisbah, yaitu
nasihat, menjadi batal (tidak berlaku efektif) karena kefasikan.
وَصَارَتِ
الْعَدَالَةُ مَشْرُوطَةً فِيهِ.
Sehingga ‘adalah (integritas) menjadi syarat dalam bentuk
hisbah ini.
وَأَمَّا
الْحِسْبَةُ الْقَهْرِيَّةُ فَلَا يُشْتَرَطُ فِيهَا ذٰلِكَ.
Adapun hisbah yang bersifat pencegahan tegas (tindakan),
maka tidak disyaratkan hal itu.
فَلَا
حَرَجَ عَلَى الْفَاسِقِ فِي إِرَاقَةِ الْخُمُورِ وَكَسْرِ الْمَلَاهِي
وَغَيْرِهَا إِذَا قَدَرَ.
Maka tidak mengapa bagi orang fasik menumpahkan khamar,
memecahkan alat-alat maksiat, dan selainnya, jika ia mampu.
وَهٰذَا
غَايَةُ الْإِنْصَافِ وَالْكَشْفِ فِي الْمَسْأَلَةِ.
Dan ini adalah puncak sikap adil dan penjelasan dalam
masalah ini.
وَأَمَّا
الْآيَاتُ الَّتِي اسْتَدَلُّوا بِهَا فَهُوَ إِنْكَارٌ عَلَيْهِمْ مِنْ حَيْثُ
تَرْكُهُمُ الْمَعْرُوفَ لَا مِنْ حَيْثُ أَمَرُوا بِهِ.
Adapun ayat-ayat yang mereka jadikan dalil, itu adalah
kecaman atas mereka karena meninggalkan makruf, bukan karena mereka
memerintahkannya.
وَلٰكِنْ
أَمْرُهُمْ دَلَّ عَلَى قُوَّةِ عِلْمِهِمْ.
Namun perintah mereka (kepada orang lain) menunjukkan
kuatnya ilmu mereka.
وَعِقَابُ
الْعَالِمِ أَشَدُّ؛ لِأَنَّهُ لَا عُذْرَ لَهُ مَعَ قُوَّةِ عِلْمِهِ.
Dan azab bagi orang berilmu lebih berat, karena ia tidak
punya alasan di tengah kuatnya ilmunya.
وَقَوْلُهُ
تَعَالَى: ﴿لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ﴾ الْمُرَادُ بِهِ الْوَعْدُ
الْكَاذِبُ.
Firman Allah Ta‘ala: “Mengapa kalian mengatakan apa yang
tidak kalian kerjakan,” yang dimaksud dengannya adalah janji palsu.
وَقَوْلُهُ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ﴾ إِنْكَارٌ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُمْ
نَسُوا أَنْفُسَهُمْ لَا مِنْ حَيْثُ إِنَّهُمْ أَمَرُوا غَيْرَهُمْ.
Dan firman-Nya عز وجل: “dan kalian melupakan diri kalian,” itu
adalah kecaman karena mereka melupakan diri mereka, bukan karena mereka
menyuruh orang lain.
وَلٰكِنْ
ذِكْرُ أَمْرِ الْغَيْرِ اسْتِدْلَالًا بِهِ عَلَى عِلْمِهِمْ، وَتَأْكِيدًا
لِلْحُجَّةِ عَلَيْهِمْ.
Akan tetapi penyebutan “menyuruh orang lain” dijadikan bukti
atas ilmu mereka, dan sebagai penguat hujjah terhadap mereka.
وَقَوْلُهُ:
«يَا ابْنَ مَرْيَمَ، عِظْ نَفْسَكَ» الْحَدِيثُ هُوَ فِي الْحِسْبَةِ بِالْوَعْظِ.
Adapun hadis: “Wahai putra Maryam, nasihatilah dirimu,” itu
terkait hisbah dengan nasihat.
وَقَدْ
سَلَّمْنَا أَنَّ وَعْظَ الْفَاسِقِ سَاقِطُ الْجَدْوَى عِنْدَ مَنْ يَعْرِفُ
فِسْقَهُ.
Dan kami sudah menerima bahwa nasihat orang fasik tidak
berguna pada orang yang mengetahui kefasikannya.
ثُمَّ
قَوْلُهُ: «فَاسْتَحْيِ مِنِّي» لَا يَدُلُّ عَلَى تَحْرِيمِ وَعْظِ الْغَيْرِ.
Kemudian ucapan: “maka malulah kepada-Ku” tidak menunjukkan
haramnya menasihati orang lain.
بَلْ
مَعْنَاهُ: اسْتَحْيِ مِنِّي فَلَا تَتْرُكِ الْأَهَمَّ وَتَشْتَغِلْ بِالْمُهِمِّ.
Melainkan maksudnya: “Malulah kepada-Ku; jangan tinggalkan
yang paling penting dan sibuk dengan yang penting (tetapi kurang penting).”
كَمَا
يُقَالُ: احْفَظْ أَبَاكَ ثُمَّ جَارَكَ، وَإِلَّا فَاسْتَحْيِ.
Seperti ungkapan: “Uruslah ayahmu dulu, lalu tetanggamu;
jika tidak, maka malulah.”
فَإِنْ
قِيلَ: فَلْيَجُزْ لِلْكَافِرِ الذِّمِّيِّ أَنْ يَحْتَسِبَ عَلَى الْمُسْلِمِ
إِذَا رَآهُ يَزْنِي.
Jika dikatakan: “Kalau begitu, seharusnya boleh bagi kafir
dzimmi melakukan hisbah kepada muslim bila ia melihatnya berzina.”
لِأَنَّ
قَوْلَهُ: «لَا تَزْنِ» حَقٌّ فِي نَفْسِهِ.
Karena ucapannya “jangan berzina” adalah benar pada dirinya.
فَمُحَالٌ
أَنْ يَكُونَ حَرَامًا عَلَيْهِ.
Maka mustahil hal itu menjadi haram baginya.
بَلْ
يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مُبَاحًا أَوْ وَاجِبًا.
Bahkan semestinya itu mubah atau wajib.
قُلْنَا:
الْكَافِرُ إِنْ مَنَعَ الْمُسْلِمَ بِفِعْلِهِ فَهُوَ تَسَلُّطٌ عَلَيْهِ.
Kami menjawab: orang kafir bila mencegah muslim dengan
tindakannya, itu berarti ia berkuasa atasnya (tindakan dominasi).
فَيُمْنَعُ
مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ تَسَلُّطٌ.
Maka ia dicegah karena unsur dominasi itu.
وَمَا
جَعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا.
Dan Allah tidak menjadikan jalan (kekuasaan) bagi orang
kafir atas orang beriman.
وَأَمَّا
مُجَرَّدُ قَوْلِهِ: «لَا تَزْنِ» فَلَيْسَ بِمُحَرَّمٍ عَلَيْهِ مِنْ حَيْثُ
إِنَّهُ نَهْيٌ عَنِ الزِّنَا.
Adapun sekadar ucapannya “jangan berzina”, itu tidak haram
baginya dari sisi bahwa itu adalah larangan terhadap zina.
وَلٰكِنْ
مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ إِظْهَارُ دَالَّةِ الِاحْتِكَامِ عَلَى الْمُسْلِمِ.
Namun (menjadi terlarang) dari sisi bahwa itu menampakkan
sikap “menghakimi” seorang muslim.
وَفِيهِ
إِذْلَالٌ لِلْمُحْتَسَبِ عَلَيْهِ.
Dan di situ terdapat unsur merendahkan pihak yang dihisbahi.
وَالْفَاسِقُ
يَسْتَحِقُّ الْإِذْلَالَ، وَلٰكِنْ لَا مِنَ الْكَافِرِ الَّذِي هُوَ أَوْلَى
بِالذُّلِّ مِنْهُ.
Orang fasik memang layak direndahkan, tetapi bukan oleh
orang kafir yang lebih layak rendah daripadanya.
فَهٰذَا
وَجْهُ مَنْعِنَا إِيَّاهُ مِنَ الْحِسْبَةِ.
Inilah alasan kami melarangnya melakukan hisbah.
وَإِلَّا
فَلَسْنَا نَقُولُ: إِنَّ الْكَافِرَ يُعَاقَبُ بِسَبَبِ قَوْلِهِ: «لَا تَزْنِ»
مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ نَهَى.
Selain itu, bukan maksud kami mengatakan bahwa orang kafir
dihukum karena ucapannya “jangan berzina” dari sisi bahwa ia melarang.
بَلْ
نَقُولُ: إِنَّهُ إِذَا لَمْ يَقُلْ: «لَا تَزْنِ» يُعَاقَبُ عَلَيْهِ إِنْ
رَأَيْنَا خِطَابَ الْكَافِرِ بِفُرُوعِ الدِّينِ.
Bahkan kami mengatakan: jika ia tidak mengatakan “jangan
berzina”, ia bisa dihukum karenanya—jika kita berpendapat orang kafir juga
terkena tuntutan cabang-cabang syariat.
وَفِيهِ
نَظَرٌ اسْتَوْفَيْنَاهُ فِي الْفِقْهِيَّاتِ، وَلَا يَلِيقُ بِغَرَضِنَا الْآنَ.
Namun masalah ini memiliki pembahasan rinci yang telah kami
tuntaskan dalam pembahasan fikih, dan tidak sesuai dengan tujuan kita sekarang.
اَلشَّرْطُ
الرَّابِعُ: كَوْنُهُ مَأْذُونًا مِنْ جِهَةِ الْإِمَامِ وَالْوَالِي.
Syarat keempat: muhtasib harus mendapat izin dari imam dan
wali (penguasa).
فَقَدْ
شَرَطَ قَوْمٌ هٰذَا الشَّرْطَ، وَلَمْ يُثْبِتُوا لِلْآحَادِ مِنَ الرَّعِيَّةِ
الْحِسْبَةَ.
Sebagian orang mensyaratkan hal ini, dan mereka tidak
menetapkan hisbah bagi individu rakyat biasa.
وَهٰذَا
الِاشْتِرَاطُ فَاسِدٌ.
Syarat seperti ini rusak (tidak benar).
فَإِنَّ
الْآيَاتِ وَالْأَخْبَارَ الَّتِي أَوْرَدْنَاهَا تَدُلُّ عَلَى أَنَّ كُلَّ مَنْ
رَأَى مُنْكَرًا فَسَكَتَ عَلَيْهِ عَصَى.
Karena ayat-ayat dan hadis-hadis yang telah kami sebutkan
menunjukkan bahwa setiap orang yang melihat kemungkaran lalu diam atasnya telah
bermaksiat.
إِذْ
يَجِبُ نَهْيُهُ أَيْنَمَا رَآهُ وَكَيْفَمَا رَآهُ عَلَى الْعُمُومِ.
Sebab wajib melarangnya di mana pun ia melihatnya dan
bagaimanapun ia melihatnya, secara umum.
فَالتَّخْصِيصُ
بِشَرْطِ التَّفْوِيضِ مِنَ الْإِمَامِ تَحَكُّمٌ لَا أَصْلَ لَهُ.
Maka pengkhususan dengan syarat “pelimpahan dari imam”
adalah penetapan sepihak yang tidak memiliki dasar.
وَالْعَجَبُ
أَنَّ الرَّوَافِضَ زَادُوا عَلَى هٰذَا.
Yang mengherankan, kelompok Rafidhah menambah lebih jauh
dari itu.
فَقَالُوا:
لَا يَجُوزُ الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ مَا لَمْ يَخْرُجِ الْإِمَامُ الْمَعْصُومُ،
وَهُوَ الْإِمَامُ الْحَقُّ عِنْدَهُمْ.
Mereka berkata: “Tidak boleh amar makruf sebelum muncul imam
yang maksum—dan dialah imam yang benar menurut mereka.”
وَهٰؤُلَاءِ
أَخَسُّ رُتْبَةً مِنْ أَنْ يُكَلَّمُوا.
Orang-orang seperti ini terlalu rendah untuk diajak
berdialog.
بَلْ
جَوَابُهُمْ أَنْ يُقَالَ لَهُمْ: إِذَا جَاءُوا إِلَى الْقَضَاءِ طَالِبِينَ
لِحُقُوقِهِمْ فِي دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ.
Bahkan jawaban kepada mereka adalah: bila mereka datang ke
pengadilan menuntut hak atas darah dan harta mereka…
إِنَّ
نُصْرَتَكُمْ أَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ، وَاسْتِخْرَاجَ حُقُوقِكُمْ مِنْ أَيْدِي
مَنْ ظَلَمَكُمْ نَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ.
“Menolong kalian itu amar makruf, dan mengambil hak kalian
dari tangan orang yang menzalimi kalian adalah nahi mungkar.”
وَطَلَبُكُمْ
لِحَقِّكُمْ مِنْ جُمْلَةِ الْمَعْرُوفِ.
“Dan tuntutan kalian atas hak kalian termasuk makruf.”
وَمَا
هٰذَا زَمَانُ النَّهْيِ عَنِ الظُّلْمِ وَطَلَبِ الْحُقُوقِ، لِأَنَّ الْإِمَامَ
الْحَقَّ بَعْدُ لَمْ يَخْرُجْ.
“Namun ini bukan waktunya melarang kezaliman dan menuntut
hak, karena imam yang benar belum keluar.”
فَإِنْ
قِيلَ: فِي الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ إِثْبَاتُ سُلْطَنَةٍ وَوِلَايَةٍ
وَاحْتِكَامٍ عَلَى الْمَحْكُومِ عَلَيْهِ.
Jika dikatakan: “Dalam amar makruf ada penetapan kekuasaan,
kewenangan, dan ‘menghakimi’ pihak yang dihadapi.”
وَلِذٰلِكَ
لَمْ يُثْبَتْ لِلْكَافِرِ عَلَى الْمُسْلِمِ مَعَ كَوْنِهِ حَقًّا.
“Karena itu, hal tersebut tidak ditetapkan bagi orang kafir
atas muslim, meskipun (ucapannya) benar.”
فَيَنْبَغِي
أَنْ لَا يُثْبَتَ لِآحَادِ الرَّعِيَّةِ إِلَّا بِتَفْوِيضٍ مِنَ الْوَالِي
وَصَاحِبِ الْأَمْرِ.
“Maka seharusnya tidak ditetapkan juga bagi rakyat biasa
kecuali dengan pelimpahan dari penguasa.”
فَنَقُولُ:
أَمَّا الْكَافِرُ فَمَمْنُوعٌ لِمَا فِيهِ مِنَ السُّلْطَنَةِ وَعِزِّ
الِاحْتِكَامِ.
Kami menjawab: adapun orang kafir, ia dilarang karena di
dalamnya ada unsur kekuasaan dan kemuliaan “menghakimi”.
وَالْكَافِرُ
ذَلِيلٌ فَلَا يَسْتَحِقُّ أَنْ يَنَالَ عِزَّ التَّحَكُّمِ عَلَى الْمُسْلِمِ.
Orang kafir itu hina, sehingga tidak berhak meraih kemuliaan
menguasai seorang muslim.
وَأَمَّا
آحَادُ الْمُسْلِمِينَ فَيَسْتَحِقُّونَ هٰذَا الْعِزَّ بِالدِّينِ
وَالْمَعْرِفَةِ.
Adapun individu kaum muslimin, mereka berhak atas kemuliaan
ini dengan sebab agama dan pengetahuan.
وَمَا
فِيهِ مِنْ عِزِّ السُّلْطَنَةِ وَالِاحْتِكَامِ لَا يُحْوِجُ إِلَى تَفْوِيضٍ
كَعِزِّ التَّعْلِيمِ وَالتَّعْرِيفِ.
Dan kemuliaan berupa kewenangan dan “menghakimi” di dalamnya
tidak membutuhkan pelimpahan, sebagaimana kemuliaan mengajar dan memberi
pemahaman tidak membutuhkan pelimpahan.
إِذْ
لَا خِلَافَ فِي أَنَّ تَعْرِيفَ التَّحْرِيمِ وَالْإِيجَابِ لِمَنْ هُوَ جَاهِلٌ
وَمُقْدِمٌ عَلَى الْمُنْكَرِ بِجَهْلِهِ لَا يَحْتَاجُ إِلَى إِذْنِ الْوَالِي.
Karena tidak ada perbedaan pendapat bahwa menjelaskan yang
haram dan yang wajib kepada orang yang jahil dan terjerumus pada mungkar karena
ketidaktahuannya tidak membutuhkan izin penguasa.
وَفِيهِ
عِزُّ الْإِرْشَادِ، وَعَلَى الْمُعَرِّفِ ذٰلِكَ التَّجْهِيلُ.
Padahal di situ ada kemuliaan memberi bimbingan, dan pada
pihak yang diberi penjelasan terdapat “posisi sebagai orang yang tidak tahu”.
وَذٰلِكَ
يَكْفِي فِيهِ مُجَرَّدُ الدِّينِ.
Dan untuk itu cukup dengan sekadar status beragama (Islam).
وَكَذٰلِكَ
النَّهْيُ.
Demikian pula dalam melarang (nahi).
وَشَرْحُ
الْقَوْلِ فِي هٰذَا: أَنَّ الْحِسْبَةَ لَهَا خَمْسُ مَرَاتِبَ كَمَا سَيَأْتِي.
Penjelasan rinci dalam hal ini: hisbah memiliki lima
tingkatan, sebagaimana akan datang.
أُولَاهَا:
التَّعْرِيفُ.
Yang pertama: memberi tahu (menjelaskan hukum/keadaan).
وَالثَّانِي:
الْوَعْظُ بِالْكَلَامِ اللَّطِيفِ.
Yang kedua: menasihati dengan kata-kata yang lembut.
وَالثَّالِثُ:
السَّبُّ وَالتَّعْنِيفُ.
Yang ketiga: mencela dan menegur keras.
وَلَسْتُ
أَعْنِي بِالسَّبِّ الْفُحْشَ.
Yang aku maksud dengan “celaan” bukanlah kata-kata kotor.
بَلْ
أَنْ يَقُولَ: يَا جَاهِلُ، يَا أَحْمَقُ، أَلَا تَخَافُ اللَّهَ؟
Tetapi seperti berkata: “Wahai orang bodoh! Wahai dungu!
Tidakkah kamu takut kepada Allah?”
وَمَا
يَجْرِي هٰذَا الْمَجْرَى.
Dan ungkapan lain yang sejenis.
وَالرَّابِعُ:
الْمَنْعُ بِالْقَهْرِ بِطَرِيقِ الْمُبَاشَرَةِ.
Yang keempat: mencegah dengan paksaan melalui tindakan
langsung.
كَكَسْرِ
الْمَلَاهِي، وَإِرَاقَةِ الْخَمْرِ.
Seperti memecahkan alat maksiat dan menumpahkan khamar.
وَاخْتِطَافِ
الثَّوْبِ الْحَرِيرِ مِنْ لَابِسِهِ.
Dan merebut pakaian sutra dari orang yang memakainya.
وَاسْتِلَابِ
الثَّوْبِ الْمَغْصُوبِ مِنْهُ وَرَدِّهِ عَلَى صَاحِبِهِ.
Dan mengambil kembali pakaian yang dighasab darinya, lalu
mengembalikannya kepada pemiliknya.
وَالْخَامِسُ:
التَّخْوِيفُ وَالتَّهْدِيدُ بِالضَّرْبِ، وَمُبَاشَرَةُ الضَّرْبِ لَهُ حَتَّى
يَمْتَنِعَ عَمَّا هُوَ عَلَيْهِ.
Yang kelima: menakut-nakuti dan mengancam dengan pukulan,
bahkan memukulnya sampai ia berhenti dari perbuatannya.
كَالْمُوَاظِبِ
عَلَى الْغِيبَةِ وَالْقَذْفِ.
Seperti orang yang terus-menerus berghibah dan menuduh zina
(qadzaf).
فَإِنَّ
سَلْبَ لِسَانِهِ غَيْرُ مُمْكِنٍ.
Karena mencabut lisannya tidak mungkin.
وَلٰكِنْ
يُحْمَلُ عَلَى اخْتِيَارِ السُّكُوتِ بِالضَّرْبِ.
Namun ia bisa dipaksa memilih diam dengan pukulan.
وَهٰذَا
قَدْ يُحْوِجُ إِلَى اسْتِعَانَةٍ وَجَمْعِ أَعْوَانٍ مِنَ الْجَانِبَيْنِ.
Dan ini bisa membutuhkan bantuan dan pengumpulan para
pendukung dari dua pihak.
وَيَجُرُّ
ذٰلِكَ إِلَى قِتَالٍ.
Dan itu bisa menyeret kepada perkelahian/pertikaian.
وَسَائِرُ
الْمَرَاتِبِ لَا يَخْفَى وَجْهُ اسْتِغْنَائِهَا عَنْ إِذْنِ الْإِمَامِ إِلَّا
الْمَرْتَبَةَ الْخَامِسَةَ.
Adapun tingkatan-tingkatan yang lain, jelas tidak memerlukan
izin imam—kecuali tingkatan kelima.
فَإِنَّ
فِيهَا نَظَرًا سَيَأْتِي.
Karena pada tingkatan kelima terdapat pembahasan yang akan
datang.
أَمَّا
التَّعْرِيفُ وَالْوَعْظُ فَكَيْفَ يَحْتَاجُ إِلَى إِذْنِ الْإِمَامِ؟
Adapun penjelasan dan nasihat, bagaimana mungkin memerlukan
izin imam?
وَأَمَّا
التَّجْهِيلُ وَالتَّحْمِيقُ وَالنِّسْبَةُ إِلَى الْفِسْقِ وَقِلَّةِ الْخَوْفِ
مِنَ اللَّهِ وَمَا يَجْرِي مَجْرَاهُ، فَهُوَ كَلَامُ صِدْقٍ.
Adapun menyebut “bodoh/dungu”, menisbatkan kepada kefasikan
dan kurangnya takut kepada Allah, dan sejenisnya, itu adalah ucapan yang benar.
وَالصِّدْقُ
مُسْتَحَقٌّ.
Dan ucapan benar itu layak disampaikan.
بَلْ
أَفْضَلُ الدَّرَجَاتِ: كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ إِمَامٍ جَائِرٍ (١).
Bahkan derajat yang paling utama adalah menyampaikan kalimat
benar di hadapan penguasa zalim, sebagaimana disebut dalam hadis. (1)
فَإِذَا
جَازَ الْحُكْمُ عَلَى الْإِمَامِ عَلَى مُرَاغَمَتِهِ فَكَيْفَ يَحْتَاجُ إِلَى
إِذْنِهِ؟
Jika mengingkari imam saja boleh meski ia tidak suka,
bagaimana mungkin perlu izinnya?
وَكَذٰلِكَ
كَسْرُ الْمَلَاهِي وَإِرَاقَةُ الْخُمُورِ، فَإِنَّهُ تَعَاطِي مَا يُعْرَفُ
كَوْنُهُ حَقًّا مِنْ غَيْرِ اجْتِهَادٍ.
Demikian pula memecahkan alat maksiat dan menumpahkan
khamar, karena itu melakukan sesuatu yang diketahui benar tanpa perlu ijtihad.
فَلَمْ
يَفْتَقِرْ إِلَى الْإِمَامِ.
Maka tidak bergantung pada imam.
وَأَمَّا
جَمْعُ الْأَعْوَانِ وَشَهْرُ الْأَسْلِحَةِ فَذٰلِكَ قَدْ يَجُرُّ إِلَى فِتْنَةٍ
عَامَّةٍ.
Adapun mengumpulkan pendukung dan menghunus senjata, itu
bisa menyeret kepada fitnah umum.
فَفِيهِ
نَظَرٌ سَيَأْتِي.
Maka dalam hal itu ada pembahasan yang akan datang.
وَاسْتِمْرَارُ
عَادَاتِ السَّلَفِ عَلَى الْحِسْبَةِ عَلَى الْوُلَاةِ قَاطِعٌ بِإِجْمَاعِهِمْ
عَلَى الِاسْتِغْنَاءِ عَنِ التَّفْوِيضِ.
Kebiasaan para salaf yang terus berlangsung dalam
mengingkari para pejabat/penguasa adalah bukti tegas adanya ijma‘ mereka bahwa
tidak perlu pelimpahan izin.
بَلْ
كُلُّ مَنْ أَمَرَ بِمَعْرُوفٍ فَإِنْ كَانَ الْوَالِي رَاضِيًا بِهِ فَذَاكَ.
Bahkan setiap orang yang memerintahkan makruf: jika penguasa
meridai, maka baik.
وَإِنْ
كَانَ سَاخِطًا لَهُ فَسُخْطُهُ لَهُ مُنْكَرٌ يَجِبُ الْإِنْكَارُ عَلَيْهِ.
Dan jika penguasa marah, maka kemarahannya terhadap makruf
itu adalah kemungkaran yang wajib diingkari.
فَكَيْفَ
يَحْتَاجُ إِلَى إِذْنِهِ فِي الْإِنْكَارِ عَلَيْهِ؟
Lalu bagaimana bisa membutuhkan izinnya untuk
mengingkarinya?
وَيَدُلُّ
عَلَى ذٰلِكَ عَادَةُ السَّلَفِ فِي الْإِنْكَارِ عَلَى الْأَئِمَّةِ.
Hal itu dibuktikan pula oleh kebiasaan salaf dalam
mengingkari para imam (penguasa).
كَمَا
رُوِيَ أَنَّ مَرْوَانَ بْنَ الْحَكَمِ خَطَبَ قَبْلَ صَلَاةِ الْعِيدِ.
Sebagaimana diriwayatkan bahwa Marwan bin al-Hakam
berkhutbah sebelum shalat ‘Id.
فَقَالَ
لَهُ رَجُلٌ: إِنَّمَا الْخُطْبَةُ بَعْدَ الصَّلَاةِ.
Lalu seseorang berkata kepadanya: “Khutbah itu sesudah
shalat.”
فَقَالَ
لَهُ مَرْوَانُ: اُتْرُكْ ذٰلِكَ يَا فُلَانُ.
Marwan berkata: “Tinggalkan itu, wahai fulan.”
فَقَالَ
أَبُو سَعِيدٍ: أَمَّا هٰذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ.
Abu Sa‘id berkata: “Adapun orang ini, ia telah menunaikan
kewajibannya.”
قَالَ
لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ
مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ،
فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذٰلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ» (١).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada
kami: “Siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya
dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; jika tidak mampu maka
dengan hatinya; dan itu adalah selemah-lemah iman.” (1)
فَلَقَدْ
كَانُوا فَهِمُوا مِنْ هٰذِهِ الْعُمُومَاتِ دُخُولَ السَّلَاطِينِ تَحْتَهَا.
Sungguh mereka memahami dari keumuman dalil-dalil ini bahwa
para sultan (penguasa) termasuk di dalamnya.
فَكَيْفَ
يَحْتَاجُ إِلَى إِذْنِهِمْ؟
Lalu bagaimana mungkin membutuhkan izin mereka?
وَرُوِيَ
أَنَّ الْمَهْدِيَّ لَمَّا قَدِمَ مَكَّةَ لَبِثَ بِهَا مَا شَاءَ اللَّهُ.
Diriwayatkan bahwa al-Mahdi ketika datang ke Makkah, ia
tinggal di sana selama yang Allah kehendaki.
فَلَمَّا
أَخَذَ فِي الطَّوَافِ نَحَّى النَّاسَ عَنِ الْبَيْتِ.
Ketika ia mulai thawaf, ia menyingkirkan orang-orang dari
Ka‘bah.
فَوَثَبَ
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَرْزُوقٍ فَلَبَّبَهُ بِرِدَائِهِ ثُمَّ هَزَّهُ.
Maka ‘Abdullah bin Marzuq melompat mendekat, memegang kerah
bajunya dengan selendangnya, lalu mengguncangnya.
وَقَالَ
لَهُ: اُنْظُرْ مَا تَصْنَعُ.
Ia berkata: “Perhatikan apa yang engkau lakukan!”
مَنْ
جَعَلَكَ بِهٰذَا الْبَيْتِ أَحَقَّ مِمَّنْ أَتَاهُ مِنَ الْبُعْدِ؟
“Siapa yang menjadikan engkau lebih berhak atas Bait ini
daripada orang yang datang dari jauh?”
حَتَّى
إِذَا صَارَ عِنْدَهُ حُلْتَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ.
“Begitu ia sudah sampai, engkau malah menghalangi dia
darinya.”
وَقَدْ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ﴾.
Padahal Allah Ta‘ala berfirman: “Sama (haknya) orang yang
menetap di situ dan orang yang datang dari luar.”
مَنْ
جَعَلَ لَكَ هٰذَا؟
“Siapa yang memberi engkau (hak khusus) ini?”
فَنَظَرَ
فِي وَجْهِهِ، وَكَانَ يَعْرِفُهُ؛ لِأَنَّهُ مِنْ مَوَالِيهِمْ.
Al-Mahdi memandang wajahnya, dan ia mengenalnya karena ia
termasuk maula (klien) mereka.
فَقَالَ:
أَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَرْزُوقٍ؟
Ia berkata: “Apakah engkau ‘Abdullah bin Marzuq?”
قَالَ:
نَعَمْ.
Ia menjawab: “Ya.”
فَأُخِذَ
فَجِيءَ بِهِ إِلَى بَغْدَادَ.
Lalu ia ditangkap dan dibawa ke Baghdad.
فَكَرِهَ
أَنْ يُعَاقِبَهُ عُقُوبَةً يُشَنِّعُ بِهَا عَلَيْهِ فِي الْعَامَّةِ.
Al-Mahdi tidak suka menghukumnya dengan hukuman yang akan
menimbulkan aib besar di mata umum.
فَجَعَلَهُ
فِي إِصْطَبْلِ الدَّوَابِّ لِيَسُوسَ الدَّوَابَّ.
Maka ia menempatkannya di kandang hewan agar ia mengurus
hewan-hewan.
وَضَمُّوا
إِلَيْهِ فَرَسًا عَضُوضًا سَيِّئَ الْخُلُقِ لِيَعْقِرَهُ الْفَرَسُ.
Mereka menyertakan seekor kuda yang suka menggigit dan buruk
perangai agar kuda itu mencederainya.
فَلَيَّنَ
اللَّهُ تَعَالَى لَهُ الْفَرَسَ.
Namun Allah Ta‘ala melembutkan kuda itu untuknya.
قَالَ:
ثُمَّ صَيَّرُوهُ إِلَى بَيْتٍ وَأَغْلَقُوا عَلَيْهِ.
Dikatakan: kemudian mereka memindahkannya ke sebuah rumah
dan menguncinya.
وَأَخَذَ
الْمَهْدِيُّ الْمِفْتَاحَ عِنْدَهُ.
Dan al-Mahdi menyimpan kuncinya.
فَإِذَا
هُوَ قَدْ خَرَجَ بَعْدَ ثَلَاثٍ إِلَى الْبُسْتَانِ يَأْكُلُ الْبَقْلَ.
Tiba-tiba setelah tiga hari ia sudah keluar ke kebun sambil
memakan sayuran.
فَأُوذِنَ
بِهِ الْمَهْدِيُّ.
Lalu ia diizinkan menghadap al-Mahdi.
فَقَالَ
لَهُ: مَنْ أَخْرَجَكَ؟
Al-Mahdi bertanya: “Siapa yang mengeluarkanmu?”
فَقَالَ:
الَّذِي حَبَسَنِي.
Ia menjawab: “Dzat yang memenjarakanku.”
فَضَجَّ
الْمَهْدِيُّ وَصَاحَ.
Al-Mahdi pun terkejut dan berteriak.
وَقَالَ:
مَا تَخَافُ أَنْ أَقْتُلَكَ؟
Ia berkata: “Tidakkah engkau takut aku membunuhmu?”
فَرَفَعَ
عَبْدُ اللَّهِ إِلَيْهِ رَأْسَهُ يَضْحَكُ وَهُوَ يَقُولُ: لَوْ كُنْتَ تَمْلِكُ
حَيَاةً أَوْ مَوْتًا.
‘Abdullah mengangkat kepalanya sambil tertawa dan berkata:
“Seandainya engkau memiliki kuasa atas hidup atau mati (seseorang)….”
فَمَا
زَالَ مَحْبُوسًا حَتَّى مَاتَ الْمَهْدِيُّ.
Ia tetap dipenjara sampai al-Mahdi wafat.
ثُمَّ
خَلَّوْا عَنْهُ فَرَجَعَ إِلَى مَكَّةَ.
Kemudian mereka membebaskannya, lalu ia kembali ke Makkah.
قَالَ:
وَكَانَ قَدْ جَعَلَ عَلَى نَفْسِهِ نَذْرًا: إِنْ خَلَّصَهُ اللَّهُ مِنْ
أَيْدِيهِمْ أَنْ يَنْحَرَ مِائَةَ بَدَنَةٍ.
Dikatakan: ia telah bernazar atas dirinya, bila Allah
menyelamatkannya dari tangan mereka, ia akan menyembelih seratus ekor unta
kurban.
فَكَانَ
يَعْمَلُ فِي ذٰلِكَ حَتَّى نَحَرَهَا.
Maka ia pun berusaha menunaikannya sampai benar-benar
menyembelihnya.
وَرُوِيَ
عَنْ حَبَّانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: تَنَزَّهَ هَارُونُ الرَّشِيدُ
بِالدَّوَيْنِ.
Diriwayatkan dari Hibban bin ‘Abdillah, ia berkata: Harun
ar-Rasyid berjalan-jalan di ad-Duwain.
وَمَعَهُ
رَجُلٌ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ، وَهُوَ سُلَيْمَانُ بْنُ أَبِي جَعْفَرٍ.
Bersamanya seorang laki-laki dari Bani Hasyim, yaitu
Sulaiman bin Abi Ja‘far.
فَقَالَ
لَهُ هَارُونُ: قَدْ كَانَتْ لَكَ جَارِيَةٌ تُغَنِّي فَتُحْسِنُ، فَجِئْنَا بِهَا.
Harun berkata kepadanya: “Dulu engkau punya seorang jariyah
yang bernyanyi dengan bagus; bawalah ia kepada kami.”
قَالَ:
فَجَاءَتْ فَغَنَّتْ.
Ia berkata: lalu jariyah itu datang dan bernyanyi.
فَلَمْ
يُحْمَدْ غِنَاءُهَا.
Namun nyanyiannya tidak dipuji (tidak memuaskan).
فَقَالَ
لَهَا: مَا شَأْنُكِ؟
Harun berkata kepadanya: “Ada apa denganmu?”
فَقَالَتْ:
لَيْسَ هٰذَا عُودِي.
Ia menjawab: “Ini bukan alat musik (‘ud) milikku.”
فَقَالَ
لِلْخَادِمِ: جِئْنَا بِعُودِهَا.
Harun berkata kepada pelayan: “Bawakan ‘ud miliknya.”
قَالَ:
فَجَاءَ بِالْعُودِ.
Ia berkata: lalu pelayan membawa ‘ud itu.
فَوَافَقَ
شَيْخًا يَلْقُطُ النَّوَى.
Ia bertemu seorang tua yang sedang memungut biji-biji kurma.
فَقَالَ:
الطَّرِيقَ يَا شَيْخُ.
Pelayan berkata: “Minggir, wahai syekh!”
فَرَفَعَ
الشَّيْخُ رَأْسَهُ فَرَأَى الْعُودَ.
Orang tua itu mengangkat kepalanya dan melihat ‘ud itu.
فَأَخَذَهُ
مِنَ الْخَادِمِ فَضَرَبَ بِهِ الْأَرْضَ.
Ia mengambilnya dari pelayan lalu membenturkannya ke tanah.
فَأَخَذَهُ
الْخَادِمُ وَذَهَبَ بِهِ إِلَى صَاحِبِ الرُّبْعِ.
Pelayan mengambilnya lalu membawanya kepada kepala wilayah
(pemilik ruba‘).
فَقَالَ:
احْتَفِظْ بِهٰذَا، فَإِنَّهُ طَلَبَةُ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ.
Pelayan berkata: “Simpan ini, karena ini yang dicari Amirul
Mukminin.”
فَقَالَ
لَهُ صَاحِبُ الرُّبْعِ: لَيْسَ بِبَغْدَادَ أَعْبَدُ مِنْ هٰذَا، فَكَيْفَ
يَكُونُ طَلَبَةَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ؟
Kepala wilayah berkata: “Di Baghdad tidak ada orang yang
lebih ahli ibadah daripada orang ini; bagaimana bisa ia menjadi pihak yang
dicari Amirul Mukminin?”
فَقَالَ
لَهُ: اسْمَعْ مَا أَقُولُ لَكَ.
Pelayan berkata: “Dengarkan apa yang aku katakan kepadamu.”
ثُمَّ
دَخَلَ عَلَى هَارُونَ فَقَالَ: إِنِّي مَرَرْتُ عَلَى شَيْخٍ يَلْقُطُ النَّوَى
فَقُلْتُ لَهُ: الطَّرِيقَ.
Kemudian pelayan masuk menemui Harun dan berkata: “Aku
melewati seorang syekh yang memungut biji kurma, lalu aku berkata kepadanya:
minggir.”
فَرَفَعَ
رَأْسَهُ فَرَأَى الْعُودَ فَأَخَذَهُ فَضَرَبَ بِهِ الْأَرْضَ فَكَسَرَهُ.
“Lalu ia mengangkat kepalanya, melihat ‘ud itu,
mengambilnya, membenturkannya ke tanah, dan mematahkannya.”
فَاسْتَشَاطَ
هَارُونُ وَغَضِبَ، وَاحْمَرَّتْ عَيْنَاهُ.
Harun pun sangat murka, marah, dan kedua matanya memerah.
فَقَالَ
لَهُ سُلَيْمَانُ بْنُ أَبِي جَعْفَرٍ: مَا هٰذَا الْغَضَبُ يَا أَمِيرَ
الْمُؤْمِنِينَ؟
Sulaiman bin Abi Ja‘far berkata: “Marah apa ini, wahai
Amirul Mukminin?”
اِبْعَثْ
إِلَى صَاحِبِ الرُّبْعِ يَضْرِبْ عُنُقَهُ وَيَرْمِ بِهِ فِي الدِّجْلَةِ.
“Suruh kepala wilayah memenggal lehernya dan melemparkannya
ke Sungai Tigris.”
قَالَ:
لَا، وَلٰكِنْ نَبْعَثُ إِلَيْهِ وَنُنَاظِرُهُ أَوَّلًا.
Harun berkata: “Tidak; tetapi kita panggil dia dan kita ajak
berdialog terlebih dahulu.”
فَجَاءَ
الرَّسُولُ فَقَالَ: أَجِبْ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ.
Utusan pun datang dan berkata: “Penuhilah panggilan Amirul
Mukminin.”
قَالَ:
نَعَمْ.
Syekh itu menjawab: “Ya.”
قَالَ:
ارْكَبْ.
Utusan berkata: “Naiklah (kendaraan).”
قَالَ:
لَا.
Syekh itu menjawab: “Tidak.”
فَجَاءَ
يَمْشِي حَتَّى وَقَفَ عَلَى بَابِ الْقَصْرِ.
Maka ia berjalan kaki sampai berdiri di pintu istana.
فَقِيلَ
لِهَارُونَ: قَدْ جَاءَ الشَّيْخُ.
Lalu diberitahukan kepada Harun: “Syekh itu sudah datang.”
فَقَالَ
لِلنُّدَمَاءِ: أَيُّ شَيْءٍ تَرَوْنَ؟
Harun berkata kepada para teman duduknya: “Apa pendapat
kalian?”
أَنَرْفَعُ
مَا قُدَّامَنَا مِنَ الْمُنْكَرِ حَتَّى يَدْخُلَ هٰذَا الشَّيْخُ، أَوْ نَقُومُ
إِلَى مَجْلِسٍ آخَرَ لَيْسَ فِيهِ مُنْكَرٌ؟
“Apakah kita singkirkan kemungkaran yang ada di depan kita
sampai syekh ini masuk, atau kita pindah ke majelis lain yang tidak ada
kemungkaran?”
فَقَالُوا:
نَقُومُ إِلَى مَجْلِسٍ آخَرَ لَيْسَ فِيهِ مُنْكَرٌ أَصْلَحُ.
Mereka menjawab: “Pindah ke majelis lain yang tidak ada
kemungkaran lebih baik.”
فَقَامُوا
إِلَى مَجْلِسٍ لَيْسَ فِيهِ مُنْكَرٌ.
Maka mereka pindah ke majelis yang tidak ada kemungkaran.
ثُمَّ
أَمَرَ بِالشَّيْخِ فَأُدْخِلَ.
Kemudian Harun memerintahkan agar syekh itu dimasukkan.
وَفِي
كُمِّهِ الْكِيسُ الَّذِي فِيهِ النَّوَى.
Di lengan bajunya ada kantong yang berisi biji-biji kurma.
فَقَالَ
لَهُ الْخَادِمُ: أَخْرِجْ هٰذَا مِنْ كُمِّكَ، وَادْخُلْ عَلَى أَمِيرِ
الْمُؤْمِنِينَ.
Pelayan berkata kepadanya: “Keluarkan itu dari lengan
bajumu, dan masuklah menemui Amirul Mukminin.”
فَقَالَ:
هٰذَا عَشَائِي اللَّيْلَةَ.
Syekh itu berkata: “Ini makan malamku malam ini.”
قَالَ:
نَحْنُ نُعَشِّيكَ.
Pelayan berkata: “Kami akan memberimu makan malam.”
قَالَ:
لَا حَاجَةَ لِي فِي عَشَائِكُمْ.
Syekh itu menjawab: “Aku tidak butuh makan malam kalian.”
فَقَالَ
هَارُونُ لِلْخَادِمِ: أَيُّ شَيْءٍ تُرِيدُ مِنْهُ؟
Harun berkata kepada pelayan: “Apa yang kau inginkan
darinya?”
قَالَ:
فِي كُمِّهِ نَوًى، قُلْتُ لَهُ: اطْرَحْهُ وَادْخُلْ عَلَى أَمِيرِ
الْمُؤْمِنِينَ.
Pelayan menjawab: “Di lengan bajunya ada biji kurma; aku
katakan kepadanya: buanglah dan masuklah kepada Amirul Mukminin.”
فَقَالَ:
دَعْهُ، لَا يَطْرَحُهُ.
Harun berkata: “Biarkan dia, jangan suruh membuangnya.”
فَدَخَلَ
وَسَلَّمَ وَجَلَسَ.
Syekh itu masuk, memberi salam, lalu duduk.
فَقَالَ
لَهُ هَارُونُ: يَا شَيْخُ، مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ؟
Harun berkata: “Wahai syekh, apa yang mendorongmu melakukan
apa yang kau lakukan?”
قَالَ:
وَأَيُّ شَيْءٍ صَنَعْتُ؟
Syekh itu menjawab: “Apa yang aku lakukan?”
وَجَعَلَ
هَارُونُ يَسْتَحْيِي أَنْ يَقُولَ: كَسَرْتَ عُودِي.
Harun malu untuk mengatakan: “Engkau mematahkan ‘ud-ku.”
فَلَمَّا
أَكْثَرَ عَلَيْهِ قَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ أَبَاكَ وَأَجْدَادَكَ يَقْرَءُونَ
هٰذِهِ الْآيَةَ عَلَى الْمِنْبَرِ.
Ketika Harun terus mendesaknya, syekh itu berkata: “Aku
mendengar ayahmu dan leluhurmu membaca ayat ini di atas mimbar.”
﴿إِنَّ
اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى
عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ﴾.
“Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan, berbuat baik,
memberi kepada kerabat; dan melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan
permusuhan.”
وَأَنَا
رَأَيْتُ مُنْكَرًا فَغَيَّرْتُهُ.
“Dan aku melihat kemungkaran, maka aku mengubahnya.”
فَقَالَ:
فَغَيِّرْهُ.
Harun berkata: “Kalau begitu, ubahlah.”
فَوَاللَّهِ
مَا قَالَ إِلَّا هٰذَا.
Demi Allah, syekh itu tidak mengatakan selain itu.
فَلَمَّا
خَرَجَ أَعْطَى الْخَلِيفَةُ رَجُلًا بَدْرَةً.
Ketika syekh itu keluar, khalifah memberi seseorang sebuah
kantong uang (badrah).
وَقَالَ:
اتْبَعِ الشَّيْخَ.
Khalifah berkata: “Ikutilah syekh itu.”
فَإِنْ
رَأَيْتَهُ يَقُولُ: قُلْتُ لِأَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ وَقَالَ لِي، فَلَا تُعْطِهِ
شَيْئًا.
“Jika engkau melihat ia bercerita: ‘Aku berkata kepada
Amirul Mukminin, dan ia berkata kepadaku,’ maka jangan beri dia apa pun.”
وَإِنْ
رَأَيْتَهُ لَا يُكَلِّمُ أَحَدًا فَأَعْطِهِ الْبَدْرَةَ.
“Namun jika engkau melihat ia tidak berbicara kepada siapa
pun, berikanlah badrah itu.”
فَلَمَّا
خَرَجَ مِنَ الْقَصْرِ إِذَا هُوَ بِنَوَاةٍ فِي الْأَرْضِ قَدْ غَاصَتْ.
Ketika syekh itu keluar dari istana, ternyata ada sebutir
biji kurma di tanah yang tertanam (masuk) ke dalamnya.
فَجَعَلَ
يُعَالِجُهَا، وَلَمْ يُكَلِّمْ أَحَدًا.
Ia pun sibuk mengeluarkannya, dan tidak berbicara kepada
siapa pun.
فَقَالَ
لَهُ: يَقُولُ لَكَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ: خُذْ هٰذِهِ الْبَدْرَةَ.
Orang yang disuruh mengikuti tadi berkata kepadanya: “Amirul
Mukminin menyampaikan kepadamu: ambillah badrah ini.”
فَقَالَ:
قُلْ لِأَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ: يَرُدُّهَا مِنْ حَيْثُ أَخَذَهَا.
Syekh itu menjawab: “Sampaikan kepada Amirul Mukminin:
kembalikan itu ke tempat asal ia mengambilnya.”