Kemungkaran-Kemungkaran yang Sudah Menjadi Kebiasaan (2)

 وَمِنْهَا كَشْفُ الْعَوْرَاتِ وَالنَّظَرُ إِلَيْهَا 

Di antaranya adalah membuka aurat dan melihatnya.

وَمِنْ جُمْلَتِهَا كَشْفُ الدَّلَّاكِ عَنِ الْفَخِذِ وَمَا تَحْتَ السُّرَّةِ لِتَنْحِيَةِ الْوَسَخِ 

Termasuk di dalamnya tukang pijat membuka paha dan bawah pusar untuk membersihkan kotoran.

بَلْ مِنْ جُمْلَتِهَا إِدْخَالُ الْيَدِ تَحْتَ الْإِزَارِ 

Bahkan, juga memasukkan tangan ke bawah kain penutup.

فَإِنَّ مَسَّ عَوْرَةِ الْغَيْرِ حَرَامٌ كَالنَّظَرِ إِلَيْهَا 

Menyentuh aurat orang lain adalah haram, seperti halnya melihatnya.

وَمِنْهَا الِانْبِطَاحُ عَلَى الْوَجْهِ بَيْنَ يَدَيِ الدَّلَّاكِ لِتَغْمِيزِ الْأَفْخَاذِ وَالْأَعْجَازِ 

Ada juga orang yang telungkup di depan tukang pijat untuk dipijat paha dan pantatnya.

فَهَذَا مَكْرُوهٌ إِنْ كَانَ مَعَ حَائِلٍ 

Ini makruh jika ada penghalang.

وَلَكِنْ لَا يَكُونُ مَحْظُورًا إِذَا لَمْ يُخْشَ مِنْ حَرَكَةِ الشَّهْوَةِ 

Tapi tidak dilarang jika tidak khawatir menimbulkan syahwat.

وَكَذَلِكَ كَشْفُ الْعَوْرَةِ لِلْحَجَّامِ الذِّمِّيِّ مِنَ الْفَوَاحِشِ 

Membuka aurat pada tukang bekam kafir juga termasuk perbuatan buruk.

فَإِنَّ الْمَرْأَةَ لَا يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَكْشِفَ بَدَنَهَا لِلذِّمِّيَّةِ فِي الْحَمَّامِ 

Wanita tidak boleh membuka badannya di hadapan wanita non-muslim di kamar mandi.

فَكَيْفَ يَجُوزُ لَهَا كَشْفُ الْعَوْرَاتِ لِلرِّجَالِ 

Apalagi membuka aurat di depan laki-laki.

وَمِنْهَا غَمْسُ الْيَدِ فِي الْأَوَانِي النَّجِسَةِ فِي الْمِيَاهِ الْقَلِيلَةِ 

Ada lagi, yaitu mencelupkan tangan ke wadah najis di air yang sedikit.

وَغَسْلُ الْإِزَارِ وَالطَّاسِ النَّجِسِ فِي الْحَوْضِ وَمَاؤُهُ قَلِيلٌ 

Atau mencuci kain dan baskom najis di kolam yang airnya sedikit.

فَإِنَّهُ يُنَجِّسُ الْمَاءَ إِلَّا عَلَى مَذْهَبِ مَالِكٍ 

Itu membuat air menjadi najis, kecuali menurut madzhab Malikiyah.

فَلَا يَجُوزُ الْإِنْكَارُ فِيهِ عَلَى الْمَالِكِيَّةِ 

Tidak boleh mengingkari Malikiyah dalam hal ini.

وَيَجُوزُ عَلَى الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ 

Tapi boleh mengingkari Hanafiyah dan Syafi’iyyah.

وَإِنِ اجْتَمَعَ مَالِكِيٌّ وَشَافِعِيٌّ فِي الْحَمَّامِ 

Jika ada Malikiy dan Syafiiy di kamar mandi,

فَلَيْسَ لِلشَّافِعِيِّ مَنْعُ الْمَالِكِيِّ مِنْ ذَلِكَ 

Syafiiy tidak boleh melarang Malikiy dari hal itu.

إِلَّا بِطَرِيقِ الِالْتِمَاسِ وَاللُّطْفِ 

Kecuali dengan cara permintaan yang sopan.

وَهُوَ أَنْ يَقُولَ لَهُ إِنَّا نَحْتَاجُ أَنْ نَغْسِلَ الْيَدَ أَوَّلًا ثُمَّ نُغْمِسَهَا فِي الْمَاءِ 

Yaitu dengan berkata, “Saya perlu mencuci tangan dulu, baru mencelupkan ke air.”

وَأَمَّا أَنْتَ فَمُسْتَغْنٍ عَنْ إِيذَائِي وَتَفْوِيتِ الطَّهَارَةِ عَلَيَّ 

Sedangkan engkau bisa tidak menyulitkanku atau menggagalkan kesucianku.

وَمَا يَجْرِي مَجْرَى هَذَا 

Dan yang semisal dengan itu.

فَإِنَّ مَظَانَّ الِاجْتِهَادِ لَا يُمْكِنُ الْحِسْبَةُ فِيهَا بِالْقَهْرِ 

Persoalan ijtihad seperti ini, tidak bisa dipaksakan.

وَمِنْهَا أَنْ يَكُونَ فِي مَدَاخِلِ بُيُوتِ الْحَمَّامِ وَمَجَارِي مِيَاهِهَا حِجَارَةٌ مَلْسَاءُ مَزْلَقَةٌ يَزْلَقُ عَلَيْهَا الْغَافِلُونَ 

Di antaranya, di pintu-pintu rumah pemandian dan saluran airnya ada batu licin yang membuat orang tergelincir.

فَهَذَا مُنْكَرٌ وَيَجِبُ قَلْعُهُ وَإِزَالَتُهُ 

Ini adalah kemungkaran. Harus dihilangkan dan dibersihkan.

وَيُنْكَرُ عَلَى الْحَمَّامِيِّ إِهْمَالُهُ 

Tukang pemandian harus diperingatkan jika ia lalai.

فَإِنَّهُ يُفْضِي إِلَى السَّقْطَةِ 

Karena bisa menyebabkan orang jatuh.

وَقَدْ تُؤَدِّي السَّقْطَةُ إِلَى انْكِسَارِ عُضْوٍ أَوِ انخلاعه 

Kadang jatuh itu bisa membuat anggota tubuh patah atau terlepas.

وَكَذَلِكَ تَرْكُ السِّدْرِ وَالصَّابُونِ الْمُزَلِّقِ عَلَى أَرْضِ الْحَمَّامِ مُنْكَرٌ 

Begitu juga membiarkan daun bidara atau sabun licin di lantai pemandian adalah munkar.

وَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ وَخَرَجَ وَتَرَكَهُ 

Siapa yang melakukannya, lalu pergi meninggalkannya,

فَزَلِقَ بِهِ إِنْسَانٌ وَانْكَسَرَ عُضْوٌ مِنْ أَعْضَائِهِ 

Jika ada orang lain tergelincir dan patah anggota tubuhnya,

وَكَانَ ذَلِكَ فِي مَوْضِعٍ لَا يَظْهَرُ فِيهِ بِحَيْثُ يَتَعَذَّرُ الاحْتِرَازُ عَنْهُ 

Dan semua itu terjadi di tempat yang tidak kelihatan sehingga sulit dihindari,

فَالضَّمَانُ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ الَّذِي تَرَكَهُ وَبَيْنَ الْحَمَّامِيِّ 

Maka tanggung jawabnya ada pada yang meninggalkan dan tukang pemandian.

إِذْ حَقُّهُ تَنْظِيفُ الْحَمَّامِ 

Karena tugas tukang pemandian membersihkan kamar mandi.

وَالْوَجْهُ إِيجَابُ الضَّمَانِ عَلَى تَارِكِهِ فِي الْيَوْمِ الْأَوَّلِ 

Yang tepat adalah, hari pertama yang bertanggung jawab adalah yang meninggalkan.

وَعَلَى الْحَمَّامِيِّ فِي الْيَوْمِ الثَّانِي 

Sedangkan hari kedua menjadi tanggung jawab tukang pemandian.

إِذْ عَادَةُ تَنْظِيفِ الْحَمَّامِ كُلَّ يَوْمٍ 

Sebab kebiasaan membersihkan kamar mandi itu setiap hari.

وَالرُّجُوعُ فِي مَوَاقِيتِ إِعَادَةِ التَّنْظِيفِ إِلَى الْعَادَاتِ 

Untuk waktu pembersihan, kembali sesuai kebiasaan yang berlaku.

فَلْيُعْتَبَرْ بِهَا 

Maka ikuti kebiasaan itu.

وَفِي الْحَمَّامِ أُمُورٌ أُخَرُ مَكْرُوهَةٌ ذَكَرْنَاهَا فِي كِتَابِ الطَّهَارَةِ 

Di kamar mandi ada perkara lain yang makruh.

فَلْتُنْظَرْ هُنَاكَ 

Silakan lihat di Kitab Thaharah.

مُنْكَرَاتُ الضِّيَافَةِ 

Perkara munkar dalam jamuan tamu:

فَمِنْهَا فَرْشُ الْحَرِيرِ لِلرِّجَالِ فَهُوَ حَرَامٌ 

Di antaranya adalah hamparan sutra untuk laki-laki. Itu haram.

وَكَذَلِكَ تَبْخِيرُ الْبُخُورِ فِي مِجْمَرَةِ فِضَّةٍ أَوْ ذَهَبٍ 

Membakar dupa dalam wadah dari perak atau emas juga termasuk munkar.

أَوِ الشَّرَابُ أَوِ اسْتِعْمَالُ مَاءِ الْوَرْدِ فِي أَوَانِي الْفِضَّةِ أَوْ مَا رُءُوسُهَا مِنْ فِضَّةٍ 

Atau minum dan memakai air mawar dalam wadah perak (atau bagian atasnya terbuat dari perak).

وَمِنْهَا إِسْدَالُ السُّتُورِ وَعَلَيْهَا الصُّوَرُ 

Termasuk juga menggantung tirai yang ada gambarnya.

وَمِنْهَا سَمَاعُ الْأَوْتَارِ أَوْ سَمَاعُ الْقَيِّنَاتِ 

Termasuk juga mendengarkan musik bertali atau biduan wanita.

وَمِنْهَا اجْتِمَاعُ النِّسَاءِ عَلَى السُّطُوحِ لِلنَّظَرِ إِلَى الرِّجَالِ 

Termasuk juga berkumpulnya wanita di atap rumah untuk melihat laki-laki.

مَهْمَا كَانَ فِي الرِّجَالِ شَبَابٌ يُخَافُ الْفِتْنَةُ مِنْهُمْ 

Apalagi jika ada pemuda yang bisa menimbulkan fitnah.

فَكُلُّ ذَلِكَ مَحْظُورٌ مُنْكَرٌ يَجِبُ تَغْيِيرُهُ 

Semua itu terlarang, munkar dan wajib diubah.

وَمَنْ عَجَزَ عَنْ تَغْيِيرِهِ لَزِمَهُ الْخُرُوجُ 

Siapa yang tidak bisa mengubah, maka harus keluar (meninggalkan tempat itu).

وَمَنْ لَمْ يُجَزْ لَهُ الْجُلُوسُ فَلَا رُخْصَةَ لَهُ فِي الْجُلُوسِ فِي مُشَاهَدَةِ الْمُنْكَرَاتِ 

Bagi yang tidak diizinkan duduk, tidak boleh berdiam di tempat kemungkaran.

وَأَمَّا الصُّوَرُ الَّتِي عَلَى النَّمَارِقِ وَالزَّرَابِيِّ الْمَفْرُوشَةِ فَلَيْسَ مُنْكَرًا 

Adapun gambar pada bantalan atau permadani, itu bukanlah kemungkaran.

وَكَذَلِكَ عَلَى الْأَطْبَاقِ وَالْقِصَاعِ لَا الْأَوَانِي الْمُتَّخَذَةَ عَلَى شَكْلِ الصُّوَرِ 

Begitu juga pada piring atau mangkuk, kecuali wadah yang dibentuk menyerupai gambar makhluk.

فَقَدْ تَكُونُ رُءُوسُ بَعْضِ الْمَجَامِرِ عَلَى شَكْلِ طَيْرٍ 

Seperti kepala tempat bakar-bakaran berbentuk burung.

فَذَلِكَ حَرَامٌ يَجِبُ كَسْرُ مِقْدَارِ الصُّورَةِ مِنْهُ 

Itu haram, harus dipecah bagian gambarnya.

وَفِي الْمِكْحَلَةِ الصَّغِيرَةِ مِنَ الْفِضَّةِ خِلَافٌ 

Pada botol celak kecil dari perak, ada perbedaan pendapat.

وَقَدْ خَرَجَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ عَنِ الضِّيَافَةِ بِسَبَبِهَا 

Imam Ahmad bin Hanbal pernah keluar dari jamuan karena hal itu.

وَمَهْمَا كَانَ الطَّعَامُ حَرَامًا أَوْ كَانَ الْمَوْضِعُ مَغْصُوبًا أَوْ كَانَتِ الثِّيَابُ الْمَفْرُوشَةُ حَرَامًا فَهُوَ مِنْ أَشَدِّ الْمُنْكَرَاتِ 

Jika makanan haram, tempatnya hasil rampasan, atau alasnya haram, itu termasuk kemungkaran paling berat.

فَإِنْ كَانَ مَنْ فِيهَا مَنْ يَتَعَاطَى شُرْبَ الْخَمْرِ وَحْدَهُ فَلَا يَجُوزُ الْحُضُورُ 

Jika di sana ada orang minum khamr sendiri, tidak boleh hadir.

إِذْ لَا يَحِلُّ حُضُورُ مَجَالِسِ الشُّرْبِ وَإِنْ كَانَ مَعَ تَرْكِ الشُّرْبِ 

Haram menghadiri majlis minum-minuman walaupun tidak ikut minum.

وَلَا يَجُوزُ مُجَالَسَةُ الْفَاسِقِ فِي حَالَةِ مُبَاشَرَتِهِ لِلْفِسْقِ 

Tidak boleh duduk bersama orang fasik saat dia melakukan maksiat.

وَإِنَّمَا النَّظَرُ فِي مُجَالَسَتِهِ بَعْدَ ذَلِكَ 

Pertimbangkan duduk bersamanya setelah itu.

وَأَنَّهُ هَلْ يَجِبُ بُغْضُهُ فِي اللَّهِ وَمُقَاطَعَتُهُ 

Apakah harus membencinya karena Allah dan memutus hubungan.

كَمَا ذَكَرْنَاهُ فِي بَابِ الْحُبِّ وَالْبُغْضِ فِي اللَّهِ 

Seperti telah dijelaskan dalam bab cinta dan benci karena Allah.

وَكَذَلِكَ إِنْ كَانَ فِيهِمْ مَنْ يَلْبَسُ الْحَرِيرَ أَوْ خَاتَمَ الذَّهَبِ فَهُوَ فَاسِقٌ 

Demikian juga jika ada yang memakai sutra atau cincin emas, dia adalah fasik.

لَا يَجُوزُ الْجُلُوسُ مَعَهُ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَهٍ 

Tidak boleh duduk bersamanya tanpa alasan darurat.

فَإِنْ كَانَ الثَّوْبُ عَلَى صَبِيٍّ غَيْرِ بَالِغٍ فَهَذَا فِي مَحَلِّ النَّظَرِ 

Bila pakaian itu dipakaikan pada anak kecil yang belum baligh, harus diperhatikan lebih lanjut.

وَالصَّحِيحُ أَنَّ ذَلِكَ مُنْكَرٌ وَيَجِبُ نَزْعُهُ عَنْهُ إِنْ كَانَ مُمَيِّزًا 

Yang benar, itu munkar dan harus dicopot jika ia sudah bisa membedakan (mumayyiz).

لِعُمُومِ قَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: هَذَانِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي 

Karena sabda Nabi : "Dua benda ini haram untuk laki-laki umatku."

وَكَمَا يَجِبُ مَنْعُ الصَّبِيِّ مِنْ شُرْبِ الْخَمْرِ لَا لِكَوْنِهِ مُكَلَّفًا 

Anak kecil harus dilarang minum khamr, bukan karena dia sudah wajib.

لَكِنْ لِأَنَّهُ يَأْنَسُ بِهِ 

Tapi supaya dia tidak terbiasa melakukannya.

فَإِذَا بَلَغَ عَسُرَ عَلَيْهِ الصَّبْرُ عَنْهُ 

Jika sudah baligh, dia susah meninggalkannya.

فَكَذَلِكَ شَهْوَةُ التَّزَيُّنِ بِالْحَرِيرِ تَغْلِبُ عَلَيْهِ إِذَا اعْتَادَهُ 

Begitu juga keinginan berhias dengan sutra akan terbawa jika sudah terbiasa.

فَيَكُونُ ذَلِكَ بِذْرًا لِلْفَسَادِ يُبْذَرُ فِي صَدْرِهِ 

Itu menjadi benih kerusakan di dalam dirinya.

فَتَنْبُتُ مِنْهُ شَجَرَةٌ مِنْ الشَّهْوَةِ رَاسِخَةٌ يَعْسُرُ قَلْعُهَا بَعْدَ الْبُلُوغِ 

Sehingga tumbuh syahwat yang sulit dihilangkan setelah baligh.

أَمَّا الصَّبِيُّ الَّذِي لَا يُمَيِّزُ فَيَضْعُفُ مَعْنَى التَّحْرِيمِ فِي حَقِّهِ 

Anak kecil yang belum bisa membedakan, larangan ini menjadi lemah baginya.

وَلَا يَخْلُو عَنْ احْتِمَالٍ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ فِيهِ 

Tetap ada kemungkinan, Allah lebih tahu tentang hukumnya.

وَالْمَجْنُونُ فِي مَعْنَى الصَّبِيِّ الَّذِي لَا يُمَيِّزُ 

Orang gila seperti anak kecil yang belum bisa membedakan.

نَعَمْ يَحِلُّ التَّزَيُّنُ بِالذَّهَبِ وَالْحَرِيرِ لِلنِّسَاءِ مِنْ غَيْرِ إِسْرَافٍ 

Ya, wanita boleh berhias dengan emas dan sutra asal tidak berlebihan.

وَلَا أَرَى رُخْصَةً فِي تَثْقِيبِ أُذُنِ الصَّبِيَّةِ لِأَجْلِ تَعْلِيقِ حَلَقِ الذَّهَبِ فِيهَا 

Saya tidak memandang boleh menindik telinga anak perempuan hanya untuk dipasangi anting.

فَإِنَّ هَذَا جُرْحٌ مُؤْلِمٌ وَمِثْلُهُ مُوجِبٌ لِلْقِصَاصِ 

Karena itu luka yang menyakitkan dan bisa kena qisas.

فَلَا يَجُوزُ إِلَّا لِحَاجَةٍ مُهِمَّةٍ 

Jadi tidak boleh kecuali untuk keperluan penting.

كَالْفَصْدِ وَالْحِجَامَةِ وَالْخِتَانِ 

Seperti pengobatan, bekam, atau khitan.

وَالتَّزَيُّنُ بِالْحَلَقِ غَيْرُ مُهِمٍّ 

Berhias dengan anting tidak penting.

بَلْ فِي التَّقْرِيطِ بِتَعْلِيقِهِ عَلَى الْأُذُنِ وَفِي الْمُخَانَقِ وَالْأَسَاوِرَةِ كِفَايَةٌ عَنْهُ 

Cukup menggantung anting atau memakai kalung dan gelang.

فَهَذَا وَإِنْ كَانَ مُعْتَادًا فَهُوَ حَرَامٌ 

Walaupun sudah menjadi kebiasaan, hal itu tetap haram.

وَالْمَنْعُ مِنْهُ وَاجِبٌ 

Harus dicegah.

وَالِاسْتِئْجَارُ عَلَيْهِ غَيْرُ صَحِيحٍ 

Membayar orang untuk itu tidak sah.

وَالْأُجْرَةُ الْمَأْخُوذَةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ 

Upah yang didapat dari itu haram.

إِلَّا أَنْ يُثْبَتَ مِنْ جِهَةِ النَّقْلِ فِيهِ رُخْصَةٌ 

Kecuali ada dalil yang membolehkannya.

وَلَمْ يَبْلُغْنَا إِلَى الْآنِ فِيهِ رُخْصَةٌ 

Sampai sekarang belum ada keringanan untuk itu.

وَمِنْهَا أَنْ يَكُونَ فِي الضِّيَافَةِ مُبْتَدِعٌ يَتَكَلَّمُ فِي بِدْعَتِهِ 

Kadang ada di jamuan tamu orang yang membawa-bawa bid’ah.

فَيَجُوزُ الْحُضُورُ لِمَنْ يَقْدِرُ عَلَى الرَّدِّ عَلَيْهِ بِعَزْمِ الرَّدِّ 

Boleh hadir jika bisa membantah dengan niat menolak.

فَإِنْ كَانَ لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ لَمْ يَجُزْ 

Kalau tidak sanggup membantah, tidak boleh ikut hadir.

فَإِنْ كَانَ الْمُبْتَدِعُ لَا يَتَكَلَّمُ بِبِدْعَتِهِ 

Jika pelaku bid’ah tidak membicarakan bid’ahnya,

فَيَجُوزُ الْحُضُورُ مَعَ إِظْهَارِ الْكَرَاهَةِ عَلَيْهِ وَالْإِعْرَاضِ عَنْهُ 

Boleh hadir selama menunjukkan benci dan tidak mempedulikannya.

كَمَا ذَكَرْنَاهُ فِي بَابِ الْبُغْضِ فِي اللَّهِ 

Seperti penjelasan dalam bab benci karena Allah.

وَإِنْ كَانَ فِيهَا مُضْحِكٌ بِالْحِكَايَاتِ وَأَنْوَاعِ النَّوَادِرِ 

Bila ada pelawak dengan cerita lucu dan anekdot,

فَإِنْ كَانَ يُضْحِكُ بِالْفُحْشِ وَالْكَذِبِ لَمْ يَجُزِ الْحُضُورُ 

Jika diselingi kata kotor atau dusta, tidak boleh hadir.

وَعِنْدَ الْحُضُورِ يَجِبُ الْإِنْكَارُ عَلَيْهِ 

Jika sudah terlanjur hadir, harus diingkari.

وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ بِمَزْحٍ لَا كَذِبَ فِيهِ وَلَا فُحْشَ 

Tapi jika cuma bercanda tanpa dusta dan kekejian,

فَهُوَ مُبَاحٌ أَعْنِي مَا يُقِلُّ مِنْهُ 

Boleh dilakukan asal sedikit saja.

فَأَمَّا اتِّخَاذُهُ صَنْعَةً وَعَادَةً فَلَيْسَ بِمُبَاحٍ 

Namun kalau jadi pekerjaan dan kebiasaan, itu tidak boleh.

وَكُلُّ كَذِبٍ لَا يَخْفَى أَنَّهُ كَذِبٌ وَلَا يُقْصَدُ بِهِ التَّلْبِيسُ 

Semua dusta yang jelas maksudnya tidak untuk menipu,

فَلَيْسَ مِنْ جُمْلَةِ الْمُنْكَرَاتِ 

Tidak termasuk kemungkaran.

كَقَوْلِ الْإِنْسَانِ مَثَلًا طَلَبْتُكَ الْيَوْمَ مِائَةَ مَرَّةٍ 

Seperti orang berkata, "Aku sudah mencarimu seratus kali hari ini."

وَأَعَدْتُ عَلَيْكَ الْكَلَامَ أَلْفَ مَرَّةٍ 

“Atau aku sudah mengulang kata ini seribu kali.”

وَمَا يَجْرِي مَجْرَى هَذَا 

Atau kata lain yang sejenis.

مِمَّا يُعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ يُقْصَدُ بِهِ التَّحْقِيقُ 

Yang semua orang tahu itu bukan sungguhan.

فَذَلِكَ لَا يَقْدَحُ فِي الْعَدَالَةِ وَلَا تُرَدُّ الشَّهَادَةُ بِهِ 

Itu tidak merusak keadilan, kesaksian tetap bisa diterima.

وَسَيَأْتِي حَدُّ الْمِزَاحِ الْمُبَاحِ وَالْكَذِبِ الْمُبَاحِ فِي كِتَابِ آفَاتِ اللِّسَانِ 

Nanti akan dijelaskan tentang batasan candaan yang mubah dan dusta yang mubah dalam Kitab Afat Al-Lisan.

وَمِنْهَا الْإِسْرَافُ فِي الطَّعَامِ وَالْبِنَاءِ فَهُوَ مُنْكَرٌ 

Termasuk juga berlebihan dalam makanan dan bangunan adalah kemungkaran.

بَلْ فِي الْمَالِ مُنْكَرَانِ أَحَدُهُمَا الْإِضَاعَةُ وَالْآخَرُ الْإِسْرَافُ 

Terkait harta, ada dua jenis kemungkaran: pemborosan dan berlebihan.

فَالْإِضَاعَةُ تَفْوِيتُ مَالٍ بِلا فَائِدَةٍ يُعْتَدُّ بها 

Pemborosan adalah menyia-nyiakan harta tanpa manfaat.

كَإِحْرَاقِ الثَّوْبِ وَتَمْزِيقِهِ وَهَدْمِ الْبِنَاءِ مِنْ غَيْرِ غَرَضٍ 

Seperti membakar baju, merobeknya, atau merobohkan bangunan tanpa sebab.

وَإِلْقَاءِ الْمَالِ فِي الْبَحْرِ 

Atau membuang harta ke laut.

وَفِي مَعْنَاهُ صَرْفُ الْمَالِ إِلَى النَّائِحَةِ وَالْمُطْرِبِ 

Termasuk juga menghabiskan harta untuk peratapan atau hiburan.

وَفِي أَنْوَاعِ الْفَسَادِ 

Dan ke arah kerusakan lain.

لِأَنَّهَا فَوَائِدُ مُحَرَّمَةٌ شَرْعًا 

Karena manfaat seperti itu dilarang secara syariat.

فَصَارَتْ كَالْمَعْدُومَةِ 

Jadi dianggap sama saja seperti sia-sia.

وَأَمَّا الْإِسْرَافُ فَقَدْ يُطْلَقُ لِإِرَادَةِ صَرْفِ الْمَالِ إِلَى النَّائِحَةِ وَالْمُطْرِبِ وَالْمُنْكَرَاتِ 

Israf atau berlebihan kadang juga berarti membelanjakan harta ke hal yang haram.

وَقَدْ يُطْلَقُ عَلَى الصَّرْفِ إِلَى الْمُبَاحَاتِ فِي جِنْسِهَا وَلَكِنْ مَعَ الْمُبَالَغَةِ 

Kadang juga berarti membelanjakan untuk hal mubah tapi secara berlebihan.

وَالْمُبَالَغَةُ تَخْتَلِفُ بِالْإِضَافَةِ إِلَى الْأَحْوَالِ 

Kadar berlebihan itu berbeda-beda tergantung keadaan orang.

فَنَقُولُ: مَنْ لَمْ يَمْلِكْ إِلَّا مِائَةَ دِينَارٍ مِثَلًا وَمَعَهُ عِيَالُهُ وَأَوْلَادُهُ وَلَا مَعِيشَةَ لَهُمْ سِوَاهُ فَأَنْفَقَ الْجَمِيعَ فِي وَلِيمَةٍ 

Misalnya, orang punya harta cuma seratus dinar, itu buat keluarga, tapi semuanya dihabiskan untuk pesta.

فَهُوَ مُسْرِفٌ يَجِبُ مَنْعُهُ 

Orang seperti ini telah israf, dan harus dicegah.

قَالَ تَعَالَى: وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا 

Allah berfirman: “Jangan terlalu menghamburkan tanganmu, nanti kamu menyesal lagi tercela.”

نَزَلَ هَذَا فِي رَجُلٍ بِالْمَدِينَةِ قَسَمَ جَمِيعَ مَالِهِ وَلَمْ يُبْقِ شَيْئًا لِعِيَالِهِ 

Ayat ini turun tentang seseorang di Madinah, dia membagi hartanya dan tidak menyisakan untuk keluarganya.

فَطُولِبَ بِالنَّفَقَةِ فَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى شَيْءٍ 

Lalu dia diminta untuk memberi nafkah, tapi tidak mampu apa-apa.

وَقَالَ تَعَالَى: وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ 

Allah juga berfirman: "Janganlah kamu boros. Pemboros adalah saudara syaitan."

وَكَذَلِكَ قَالَ عَزَّ وَجَلَّ: وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا 

Juga firman Allah: "Dan ketika membelanjakan, mereka tidak boros dan tidak pelit."

فَمَنْ يُسْرِفْ هَذَا الْإِسْرَافَ يُنْكَرُ عَلَيْهِ 

Orang yang berlebihan seperti ini harus ditegur.

وَيَجِبُ عَلَى الْقَاضِي أَنْ يَحْجُرَ عَلَيْهِ 

Hakim harus membatasi harta dan tindakannya.

إِلَّا إِذَا كَانَ الرَّجُلُ وَحْدَهُ وَكَانَ لَهُ قُوَّةٌ فِي التَّوَكُّلِ صَادِقَةٌ 

Kecuali laki-laki itu sendiri, dan benar-benar bertawakkal.

فَلَهُ أَنْ يُنْفِقَ جَمِيعَ مَالِهِ فِي أَبْوَابِ الْبِرِّ 

Dia boleh membelanjakan seluruh hartanya untuk kebaikan.

وَمَنْ لَهُ عِيَالٌ أَوْ كَانَ عَاجِزًا عَنِ التَّوَكُّلِ فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِجَمِيعِ مَالِهِ 

Siapa yang punya keluarga, atau tidak sanggup tawakkal, maka tidak boleh bersedekah seluruh hartanya.

وَكَذَلِكَ لَوْ صَرَفَ جَمِيعَ مَالِهِ إِلَى نُقُوشِ حِيطَانِهِ وَتَزْيِينِ بُنْيَانِهِ 

Juga jika dia habiskan seluruh harta untuk hiasan tembok dan bangunannya,

فَهُوَ أَيْضًا إِسْرَافٌ مُحَرَّمٌ 

Itu juga berlebihan dan haram.

وَفِعْلُ ذَلِكَ مِمَّنْ لَهُ مَالٌ كَثِيرٌ لَيْسَ بِحَرَامٍ 

Tapi jika dia sangat kaya, itu tidak haram.

لأَنَّ التَّزْيِينَ مِنَ الْأَغْرَاضِ الصَّحِيحَةِ 

Karena memperindah bangunan itu tujuan yang baik.

وَلَمْ تَزَلِ الْمَسَاجِدُ تُزَيَّنُ وَتُنَقَّشُ أَبْوَابُهَا وَسُقُوفُهَا 

Masjid juga didekorasi, pintu dan atapnya diukir.

مَعَ أَنَّ نَقْشَ الْبَابِ وَالسَّقْفِ لَا فَائِدَةَ فِيهِ إِلَّا الزِّينَةِ 

Padahal ukiran pada pintu atau atap hanya untuk hiasan saja.

فَكَذَا الدُّورُ وَكَذَا الْقَوْلُ فِي التَّجَمُّلِ بِالثِّيَابِ وَالْأَطْعِمَةِ 

Demikian juga rumah, pakaian, dan makanan.

فَذَلِكَ مُبَاحٌ فِي جِنْسِهِ وَيَصِيرُ إِسْرَافًا بِاعْتِبَارِ حَالِ الرَّجُلِ وَثَرْوَتِهِ 

Asalnya boleh, tapi bisa jadi israf kalau tidak sesuai keadaannya.

وَأَمْثَالُ هَذِهِ الْمُنْكَرَاتِ كَثِيرَةٌ لَا يُمْكِنُ حَصْرُهَا 

Banyak sekali contoh munkar semacam ini, tidak bisa dihitung semuanya.

فَقِسْ بِهَذِهِ الْمُنْكَرَاتِ الْمَجَامِعَ وَمَجَالِسَ الْقُضَاةِ وَدَوَاوِينَ السَّلَاطِينِ وَمَدَارِسَ الْفُقَهَاءِ وَرُبُطَاتِ الصُّوفِيَّةِ وَخَانَاتِ الْأَسْوَاقِ 

Ukur saja dengan contoh ini pada tempat kumpul, majelis hakim, kantor raja, sekolah agama, pondok Sufi, dan penginapan di pasar.

فَلَا تَخْلُو بِقْعَةٌ عَنْ مُنْكَرٍ مَكْرُوهٍ أَوْ مَحْذُورٍ 

Tidak ada tempat yang benar-benar bebas dari kemungkaran atau hal yang makruh.

وَاسْتِقْصَاءُ جَمِيعِ الْمُنْكَرَاتِ يَسْتَدْعِي اسْتِيعَابَ جَمِيعِ تَفَاصِيلِ الشَّرْعِ أُصُولِهَا وَفُرُوعِهَا 

Menghitung semua kemungkaran akan membutuhkan pembahasan seluruh syariat.

فَلْنَقْتَصِرْ عَلَى هَذَا الْقَدْرِ مِنْهَا 

Cukuplah sampai pada contoh yang telah disebutkan di sini.

الْمُنْكَرَاتُ الْعَامَّةُ 

Kemungkaran yang umum:

اعْلَمْ أَنَّ كُلَّ قَاعِدٍ فِي بَيْتِهِ أَيْنَمَا كَانَ فَلَيْسَ خَالِيًا فِي هَذَا الزَّمَانِ عَنْ مُنْكَرٍ 

Ketahuilah, siapa saja yang duduk di rumahnya sekarang ini, pasti tidak lepas dari kemungkaran.

مِنْ حَيْثُ التَّقَاعُدُ عَنْ إِرْشَادِ النَّاسِ وَتَعْلِيمِهِمْ وَحَمْلِهِمْ عَلَى الْمَعْرُوفِ 

Karena lalai membimbing dan mengajarkan manusia menuju kebaikan.

فَأَكْثَرُ النَّاسِ جَاهِلُونَ بِالشَّرْعِ فِي شُرُوطِ الصَّلَاةِ فِي الْبِلَادِ 

Kebanyakan manusia tidak tahu syarat shalat di kota.

فَكَيْفَ فِي الْقُرَى وَالْبَوَادِي 

Apalagi di desa atau pedalaman.

وَمِنْهُمُ الْأَعْرَابُ وَالْأَكْرَادُ وَالتُّرْكُمَانِيَّةُ وَسَائِرُ أَصْنَافِ الْخَلْقِ 

Sebagian dari mereka adalah bangsa Arab Badui, Kurdi, Turki, dan kelompok lainnya.

وَوَاجِبٌ أَنْ يَكُونَ فِي مَسْجِدٍ وَمَحَلَّةٍ مِنَ الْبَلَدِ فَقِيهٌ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ 

Wajib ada seorang ulama di tiap masjid atau kampung untuk mengajari masyarakat agama.

وَكَذَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ 

Juga wajib di setiap desa.

وَوَاجِبٌ عَلَى كُلِّ فَقِيهٍ فَرَغَ مِنْ فَرْضِ عَيْنِهِ وَتَفَرَّغَ لِفَرْضِ الْكِفَايَةِ أَنْ يَخْرُجَ إِلَى مَنْ يُجَاوِرُ بَلَدَهُ 

Wajib atas ulama yang selesai fardhu ‘ain untuk mengajarkan orang-orang di sekitar kotanya.

مِنْ أَهْلِ السَّوَادِ وَمِنَ الْعَرَبِ وَالْأَكْرَادِ وَغَيْرِهِمْ 

Dari penduduk desa, Bangsa Arab, Kurdi, dan lain-lain.

وَيُعَلِّمَهُمْ دِينَهُمْ وَفَرَائِضَ شَرْعِهِمْ 

Ajarilah mereka agamanya dan kewajiban agamanya.

وَيَسْتَصْحِبَ مَعَ نَفْسِهِ زَادًا يَأْكُلُهُ وَلَا يَأْكُلُ مِنْ أَطْعِمَتِهِمْ 

Bawalah bekal makanan sendiri, jangan makan dari makanan mereka.

فَإِنَّ أَكْثَرَهَا مَغْصُوبٌ 

Karena kebanyakan makanan mereka hasil rampasan.

فَإِنْ قَامَ بِهَذَا الْأَمْرِ وَاحِدٌ سَقَطَ الْحَرَجُ عَنِ الْآخَرِينَ 

Jika sudah ada satu orang melakukannya, kewajiban orang lain gugur.

وَإِلَّا عَمَّ الْحَرَجُ الْكَافَّةَ أَجْمَعِينَ 

Kalau tidak ada yang melakukannya, semua orang menanggung dosa.

أَمَّا الْعَالِمُ فَلِتَقْصِيرِهِ فِي الْخُرُوجِ 

Orang alim berdosa karena malas keluar mengajar.

وَأَمَّا الْجَاهِلُ فَلِتَقْصِيرِهِ فِي تَرْكِ التَّعَلُّمِ 

Orang awam berdosa karena tak mau belajar.

وَكُلُّ عَامِّيٍّ عَرَفَ شُرُوطَ الصَّلَاةِ فَعَلَيْهِ أَنْ يُعَرِّفَ غَيْرَهُ 

Setiap orang yang tahu syarat shalat, wajib memberitahu orang lain.

وَإِلَّا فَهُوَ شَرِيكٌ فِي الْإِثْمِ 

Kalau tidak, dia juga ikut berdosa.

وَمَعْلُومٌ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يُولَدُ عَالِمًا بِالشَّرْعِ 

Sudah diketahui, manusia tidak lahir langsung tahu agama.

وَإِنَّمَا يَجِبُ التَّبْلِيغُ عَلَى أَهْلِ الْعِلْمِ 

Maka tugas menyampaikan ada pada orang berilmu.

فَكُلُّ مَنْ تَعَلَّمَ مَسْأَلَةً وَاحِدَةً فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ بِهَا 

Siapapun yang sudah belajar satu masalah saja, dia termasuk orang berilmu dalam masalah itu.

وَلَعَمْرِي الْإِثْمُ عَلَى الْفُقَهَاءِ أَشَدُّ 

Demi Allah, dosa lebih berat bagi orang fakih.

لِأَنَّ قُدْرَتَهُمْ فِيهِ أَظْهَرُ 

Karena kemampuan mereka lebih besar.

وَهُوَ بِصِنَاعَتِهِمْ أَلْيَقُ 

Karena itu memang tugasnya.

لِأَنَّ الْمُحْتَرِفِينَ لَوْ تَرَكُوا حِرْفَتَهُمْ لَبَطَلَتِ الْمَعَايِشِ 

Para pekerja, kalau meninggalkan pekerjaannya, kehidupan bisa terganggu.

فَهُمْ قَدْ تَقَلَّدُوا أَمْرًا لَا بُدَّ مِنْهُ فِي صَلَاحِ الْخَلْقِ 

Para ulama telah memikul tugas penting untuk membuat manusia menjadi baik.

وَشَأْنُ الْفَقِيهِ وَحِرْفَتُهُ تَبْلِيغُ مَا بَلَغَهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ 

Tugas utama ulama adalah menyampaikan apa yang dibawa Rasulullah .

فَإِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ 

Karena ulama itu ahli waris para nabi.

وَلِلْإِنْسَانِ أَنْ يَقْعُدَ فِي بَيْتِهِ وَلَا يَخْرُجَ إِلَى الْمَسْجِدِ 

Seseorang boleh saja duduk di rumah, tidak keluar ke masjid,

لِأَنَّهُ يَرَى النَّاسَ لَا يُحْسِنُونَ الصَّلَاةَ 

Karena dia melihat orang-orang tidak bisa shalat dengan baik.

بَلْ إِذَا عَلِمَ ذَلِكَ وَجَبَ عَلَيْهِ الْخُرُوجُ لِلتَّعْلِيمِ وَالنَّهْيِ 

Kalau sudah tahu, dia wajib keluar untuk mengajar dan menegur.

وَكَذَا كُلُّ مَنْ تَيَقَّنَ أَنَّ فِي السُّوقِ مُنْكَرًا يَجْرِي عَلَى الدَّوَامِ أَوْ فِي وَقْتٍ بِعَيْنِهِ 

Demikian juga jika ada yang yakin ada kemungkaran di pasar yang sering terjadi atau pada waktu tertentu.

وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى تَغْيِيرِهِ فَلَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يُسْقِطَ ذَلِكَ عَنْ نَفْسِهِ بِالْقُعُودِ فِي الْبَيْتِ 

Padahal dia bisa mengubahnya, tidak boleh dia hanya berdiam di rumah.

بَلْ يَلْزَمُهُ الْخُرُوجُ 

Dia wajib keluar untuk meluruskan.

فَإِنْ كَانَ لَا يَقْدِرُ عَلَى تَغْيِيرِ الْجَمِيعِ وَهُوَ مُحْتَرِزٌ عَنْ مُشَاهَدَتِهِ وَيَقْدِرُ عَلَى الْبَعْضِ لَزِمَهُ الْخُرُوجُ 

Jika tidak bisa mengubah semua, tapi bisa sedikit, dia tetap wajib keluar.

لِأَنَّ خُرُوجَهُ إِذَا كَانَ لِأَجْلِ تَغْيِيرِ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ 

Jika dia keluar demi mengubah yang bisa dia ubah,

فَلَا يَضُرُّهُ مُشَاهَدَةُ مَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ 

Tidak apa-apa jika dia melihat kemungkaran yang tidak bisa diubah.

وَإِنَّمَا يُمْنَعُ الْحُضُورُ لِمُشَاهَدَةِ الْمُنْكَرِ مِنْ غَيْرِ غَرَضٍ صَحِيحٍ 

Yang dilarang adalah hadir hanya untuk melihat kemungkaran tanpa tujuan yang benar.

فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَبْدَأَ بِنَفْسِهِ 

Sudah menjadi kewajiban setiap muslim untuk memulai dari dirinya sendiri.

فَيُصْلِحَهَا بِالْمُوَاظَبَةِ عَلَى الْفَرَائِضِ وَتَرْكِ الْمُحَرَّمَاتِ 

Perbaiki diri dengan rajin beribadah dan meninggalkan yang haram.

ثُمَّ يُعَلِّمُ ذَلِكَ أَهْلَ بَيْتِهِ 

Kemudian ajarkan pada keluarganya.

ثُمَّ يَتَعَدَّى بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْهُمْ إِلَى جِيرَانِهِ 

Setelah selesai, baru ke tetangganya.

ثُمَّ إِلَى أَهْلِ مَحَلَّتِهِ 

Kemudian ke lingkungan kampungnya.

ثُمَّ إِلَى أَهْلِ بَلَدِهِ 

Setelah itu ke masyarakat kota.

ثُمَّ إِلَى أَهْلِ السَّوَادِ الْمُكْتَنِفِ بِبَلَدِهِ 

Kemudian ke desa sekitar yang dekat kotanya.

ثُمَّ إِلَى أَهْلِ الْبَوَادِي مِنَ الْأَكْرَادِ وَالْعَرَبِ وَغَيْرِهِمْ 

Lalu kepada orang-orang pedalaman, baik kaum Kurdi, Arab, dan lainnya.

وَهَكَذَا إِلَى أَقْصَى الْعَالَمِ 

Terus begitu hingga ke seluruh penjuru dunia.

فَإِنْ قَامَ بِهِ الْأَدْنَى سَقَطَ عَنِ الْأَبْعَدِ 

Jika sudah dilakukan oleh yang terdekat, gugur dari orang yang jauh.

وَإِلَّا حَرَجَ بِهِ عَلَى كُلِّ قَادِرٍ عَلَيْهِ قَرِيبًا كَانَ أَوْ بَعِيدًا 

Kalau tidak, maka dosa menyebar ke semua orang yang mampu, baik jauh maupun dekat.

وَلَا يَسْقُطُ الْحَرَجُ مَا دَامَ يَبْقَى عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ جَاهِلٌ بِفَرْضٍ مِنْ فُرُوضِ دِينِهِ 

Dosa belum gugur selama masih ada orang di bumi yang tidak tahu kewajiban agama.

وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَسْعَى إِلَيْهِ بِنَفْسِهِ أَوْ بِغَيْرِهِ فَيُعَلِّمَهُ فَرْضَهُ 

Padahal dia mampu mencari tahu atau mendatangi orang untuk mengajarkannya.

وَهَذَا شُغْلٌ شَاغِلٌ لِمَنْ يَهُمُّهُ أَمْرُ دِينِهِ 

Ini adalah pekerjaan utama bagi siapa yang peduli agamanya.

يُشْغِلُهُ عَنْ تَجْزِئَةِ الْأَوْقَاتِ فِي التَّفْرِيعَاتِ النَّادِرَةِ 

Ini menyibukkan dia dari menghabiskan waktu pada masalah-masalah agama yang rumit dan langka.

وَالتَّعَمُّقِ فِي دَقَائِقِ الْعُلُومِ الَّتِي هِيَ مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَاتِ 

Dan dari mendalami ilmu-ilmu yang hanya fardhu kifayah.

وَلَا يَتَقَدَّمُ عَلَى هَذَا إِلَّا فَرْضُ عَيْنٍ أَوْ فَرْضُ كِفَايَةٍ هُوَ أَهَمُّ مِنْهُ 

Tidak boleh ada yang didahulukan dari ini, kecuali fardhu ‘ain atau fardhu kifayah yang lebih penting.