Perintah dan Larangan terhadap Penguasa dan Sultan dari Kemungkaran

البَابُ الرَّابِعُ فِي أَمْرِ الْأُمَرَاءِ وَالسَّلَاطِينِ وَنَهْيِهِمْ عَنِ الْمُنْكَرِ

Bab keempat: Mengenai perintah kepada para pemimpin dan sultan (untuk berbuat makruf) serta melarang mereka dari kemungkaran.

قَدْ ذَكَرْنَا دَرَجَاتِ الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَأَنَّ أَوَّلَهُ التَّعْرِيفُ وَثَانِيَهُ الْوَعْظُ وَثَالِثَهُ التَّخْشِينُ فِي الْقَوْلِ وَرَابِعَهُ الْمَنْعُ بِالْقَهْرِ فِي الْحَمْلِ عَلَى الْحَقِّ بِالضَّرْبِ وَالْعُقُوبَةِ

Kami telah menyebutkan tingkatan-tingkatan amar makruf, yang mana tahap pertamanya adalah mengenalkan (memberi tahu), kedua adalah memberi nasihat, ketiga adalah bersikap keras dalam ucapan, dan keempat adalah mencegah dengan paksaan dalam mengarahkan kepada kebenaran melalui pukulan dan hukuman.

وَالْجَائِزُ مِنْ جُمْلَةِ ذَلِكَ مَعَ السَّلَاطِينِ الرُّتْبَتَانِ الْأُولَيَانِ وَهُمَا التَّعْرِيفُ وَالْوَعْظُ

Adapun yang diperbolehkan dari semua tingkatan tersebut terhadap para sultan (penguasa) hanyalah dua tingkatan pertama, yaitu mengenalkan dan memberi nasihat.

وَأَمَّا الْمَنْعُ بِالْقَهْرِ فَلَيْسَ ذَلِكَ لِآحَادِ الرَّعِيَّةِ مَعَ السُّلْطَانِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُحَرِّكُ الْفِتْنَةَ وَيُهَيِّجُ الشَّرَّ وَيَكُونُ مَا يَتَوَلَّدُ مِنْهُ مِنَ الْمَحْذُورِ أَكْثَرَ

Sedangkan pencegahan dengan paksaan, maka hal itu bukan hak bagi individu rakyat terhadap sultan, karena hal itu dapat memicu fitnah, mengobarkan keburukan, dan dampak negatif yang ditimbulkannya akan jauh lebih besar.

وَأَمَّا التَّخْشِينُ فِي الْقَوْلِ كَقَوْلِهِ يَا ظَالِمُ يَا مَنْ لَا يَخَافُ اللَّهَ وَمَا يَجْرِي مَجْرَاهُ فَذَلِكَ إِنْ كَانَ يُحَرِّكُ فِتْنَةً يَتَعَدَّى شَرُّهَا إِلَى غَيْرِهِ لَمْ يَجُزْ وَإِنْ كَانَ لَا يَخَافُ إِلَّا عَلَى نَفْسِهِ فَهُوَ جَائِزٌ بَلْ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ

Adapun bersikap keras dalam ucapan, seperti perkataan: "Wahai orang zalim!" atau "Wahai orang yang tidak takut kepada Allah!" dan yang sejenisnya, maka jika hal itu memicu fitnah yang keburukannya merembet kepada orang lain, maka tidak boleh; namun jika ia hanya mengkhawatirkan keselamatan dirinya sendiri, maka hal itu diperbolehkan, bahkan dianjurkan.

فَلَقَدْ كَانَ مِنْ عَادَةِ السَّلَفِ التَّعَرُّضُ لِلْأَخْطَارِ وَالتَّصْرِيحُ بِالْإِنْكَارِ مِنْ غَيْرِ مُبَالَاةٍ بِهَلَاكِ الْمُهْجَةِ وَالتَّعَرُّضِ لِأَنْوَاعِ الْعَذَابِ لِعِلْمِهِمْ بِأَنَّ ذَلِكَ شَهَادَةٌ

Sungguh, telah menjadi kebiasaan kaum salaf untuk menempuh risiko dan berterus terang dalam pengingkaran tanpa mempedulikan kematian jiwa serta menghadapi berbagai jenis siksaan, karena mereka mengetahui bahwa hal tersebut adalah mati syahid.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ثُمَّ رَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فِي ذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى فَقَتَلَهُ عَلَى ذَلِكَ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, kemudian seseorang yang berdiri di hadapan pemimpin lalu ia memerintah dan melarangnya karena Allah Ta'ala, kemudian pemimpin itu membunuhnya karena hal tersebut."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda: "Jihad yang paling utama adalah kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim."

وَوَصَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ قَرْنٌ مِنْ حَدِيدٍ لَا تَأْخُذُهُ فِي اللَّهِ لَوْمَةُ لَائِمٍ وَتَرْكَهُ قَوْلُهُ الْحَقُّ مَا لَهُ مِنْ صَدِيقٍ

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyematkan sifat kepada Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu dengan bersabda: "Ia adalah tanduk besi yang tidak takut akan celaan orang yang mencela dalam membela Allah, dan ucapannya yang benar telah membuatnya tidak memiliki teman."

وَلَمَّا عَلِمَ الْمُتَصَلِّبُونَ فِي الدِّينِ أَنَّ أَفْضَلَ الْكَلَامِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ وَأَنَّ صَاحِبَ ذَلِكَ إِذَا قُتِلَ فَهُوَ شَهِيدٌ كَمَا وَرَدَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ قَدَّمُوا عَلَى ذَلِكَ مُوَطِّنِينَ أَنْفُسَهُمْ عَلَى الْهَلَاكِ وَمُحْتَمِلِينَ أَنْوَاعَ الْعَذَابِ وَصَابِرِينَ عَلَيْهِ فِي ذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى وَمُحْتَسِبِينَ لِمَا يَبْذُلُونَهُ مِنْ مُهَجِهِمْ عِنْدَ اللَّهِ

Ketika orang-orang yang teguh dalam agama mengetahui bahwa perkataan yang paling utama adalah kalimat benar di hadapan penguasa zalim, dan bahwa pelakunya jika terbunuh maka ia syahid sebagaimana diberitakan dalam riwayat-riwayat, maka mereka pun maju melakukan hal itu dengan menyiapkan diri untuk binasa, menanggung berbagai macam siksaan, bersabar di jalan Allah Ta'ala, dan mengharapkan pahala dari Allah atas pengorbanan nyawa mereka.

وَطَرِيقُ وَعْظِ السَّلَاطِينِ وَأَمْرِهِمْ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيِهِمْ عَنِ الْمُنْكَرِ مَا نَقَلَ عُلَمَاءُ السَّلَفِ وَقَدْ أَوْرَدْنَا جُمْلَةً مِنْ ذَلِكَ فِي بَابِ الدُّخُولِ عَلَى السَّلَاطِينِ فِي كِتَابِ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ وَنَقْتَصِرُ الْآنَ عَلَى حِكَايَاتٍ يُعْرَفُ وَجْهُ الْوَعْظِ وَكَيْفِيَّةُ الْإِنْكَارِ عَلَيْهِمْ

Adapun cara menasihati penguasa serta amar makruf nahi mungkar terhadap mereka adalah sebagaimana yang dinukil oleh para ulama salaf. Kami telah menyebutkan sebagian hal itu dalam bab "Menemui Penguasa" di dalam kitab al-Halal wa al-Haram, dan sekarang kami hanya mencukupkan pada beberapa kisah agar diketahui bentuk nasihat dan tata cara pengingkaran terhadap mereka.

فَمِنْهَا مَا رُوِيَ مِنْ إِنْكَارِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى أَكَابِرِ قُرَيْشٍ حِينَ قَصَدُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالسُّوءِ

Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan mengenai pengingkaran Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu terhadap para pemuka Quraisy ketika mereka bermaksud menyakiti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

وَذَلِكَ مَا رُوِيَ عَنْ عُرْوَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو مَا أَكْثَرُ مَا رَأَيْتَ قُرَيْشًا نَالَتْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا كَانَتْ تُظْهِرُ مِنْ عُدْوَانِهِ

Hal itu sebagaimana diriwayatkan dari Urwah radhiyallahu 'anhu yang berkata: "Aku bertanya kepada Abdullah bin Amr, 'Apa gangguan terberat yang pernah engkau lihat dilakukan kaum Quraisy terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam permusuhan yang mereka tampakkan?'"

فَقَالَ حَضَرْتُهُمْ وَقَدِ اجْتَمَعَ أَشْرَافُهُمْ يَوْمًا فِي الْحِجْرِ فَذَكَرُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا مَا رَأَيْنَا مِثْلَ مَا صَبَرْنَا عَلَيْهِ مِنْ هَذَا الرَّجُلِ سَفَّهَ أَحْلَامَنَا وَشَتَمَ آبَاءَنَا وَعَابَ دِينَنَا وَفَرَّقَ جَمَاعَتَنَا وَسَبَّ آلِهَتَنَا وَلَقَدْ صَبَرْنَا مِنْهُ عَلَى أَمْرٍ عَظِيمٍ أَوْ كَمَا قَالُوا

Ia menjawab: "Aku hadir saat para pemuka mereka berkumpul di al-Hijr, lalu mereka menyebut-nyebut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata: 'Kita belum pernah melihat kesabaran kita diuji seperti terhadap laki-laki ini; ia membodoh-bodohkan akal kita, mencaci nenek moyang kita, mencela agama kita, memecah belah persatuan kita, dan memaki tuhan-tuhan kita. Sungguh kita telah bersabar atas perkara besar darinya', atau seperti yang mereka katakan."

فَبَيْنَمَا هُمْ فِي ذَلِكَ إِذْ طَلَعَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَقْبَلَ يَمْشِي حَتَّى اسْتَلَمَ الرُّكْنَ ثُمَّ مَرَّ بِهِمْ طَائِفًا بِالْبَيْتِ فَلَمَّا مَرَّ بِهِمْ غَمَزُوهُ بِبَعْضِ الْقَوْلِ

Tatkala mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam muncul dan berjalan hingga mencium Hajar Aswad, kemudian melewati mereka saat melakukan tawaf. Ketika beliau melewati mereka, mereka mengejeknya dengan beberapa ucapan.

قَالَ فَعَرَفْتُ ذَلِكَ فِي وَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ مَضَى فَلَمَّا مَرَّ الثَّانِيَةَ غَمَزُوهُ بِمِثْلِهَا فَعَرَفْتُ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ ثُمَّ مَضَى فَمَرَّ بِهِمُ الثَّالِثَةَ فَغَمَزُوهُ بِمِثْلِهَا حَتَّى وَقَفَ

Ia (Abdullah) berkata: "Aku melihat perubahan (ketidaksukaan) pada wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau berlalu. Ketika putaran kedua, mereka mengejeknya lagi, dan aku melihat tanda itu lagi di wajahnya. Lalu beliau berlalu dan lewat untuk ketiga kalinya, mereka mengejeknya lagi hingga beliau berhenti."

ثُمَّ قَالَ أَتَسْمَعُونَ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ أَمَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ فَقَدْ جِئْتُكُمْ بِالذَّبْحِ

Lalu beliau bersabda: "Apakah kalian mendengar wahai kaum Quraisy? Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aku datang kepada kalian dengan penyembelihan (hukuman mati)."

قَالَ فَأَطْرَقَ الْقَوْمُ حَتَّى مَا مِنْهُمْ رَجُلٌ إِلَّا كَأَنَّمَا عَلَى رَأْسِهِ طَائِرٌ وَاقِعٌ حَتَّى أَنَّ أَشَدَّهُمْ فِيهِ وَطْأَةً قَبْلَ ذَلِكَ لَيَرْفَؤُهُ بِأَحْسَنِ مَا يَجِدُ مِنَ الْقَوْلِ حَتَّى إِنَّهُ لَيَقُولُ انْصَرِفْ يَا أَبَا الْقَاسِمِ رَاشِدًا فَوَاللَّهِ مَا كُنْتَ جَهُولًا

Ia berkata: "Maka orang-orang itu tertunduk diam seolah-olah di atas kepala mereka ada burung yang hinggap, bahkan orang yang tadinya paling keras gangguannya kini berusaha melunakkan beliau dengan ucapan terbaik yang ia miliki seraya berkata: 'Pergilah wahai Abul Qasim dengan petunjuk, demi Allah engkau bukanlah orang yang bodoh.'"

قَالَ فَانْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى إِذَا كَانَ مِنَ الْغَدِ اجْتَمَعُوا فِي الْحِجْرِ وَأَنَا مَعَهُمْ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ذَكَرْتُمْ مَا بَلَغَ مِنْكُمْ وَمَا بَلَغَكُمْ عَنْهُ حَتَّى إِذَا بَادَأَكُمْ بِمَا تَكْرَهُونَ تَرَكْتُمُوهُ

Ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun pergi. Keesokan harinya, mereka berkumpul lagi di al-Hijr dan aku bersama mereka. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: 'Kalian menyebutkan gangguan yang kalian alami darinya, namun ketika ia memulai dengan apa yang kalian benci, kalian malah membiarkannya.'"

فَبَيْنَمَا هُمْ فِي ذَلِكَ إِذْ طَلَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَثَبُوا إِلَيْهِ وَثْبَةَ رَجُلٍ وَاحِدٍ فَأَحَاطُوا بِهِ يَقُولُونَ أَنْتَ الَّذِي تَقُولُ كَذَا أَنْتَ الَّذِي تَقُولُ كَذَا لِمَا كَانَ قَدْ بَلَغَهُمْ مِنْ عَيْبِ آلِهَتِهِمْ وَدِينِهِمْ

Tatkala mereka dalam keadaan demikian, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam muncul. Mereka langsung menyerbu beliau secara serentak dan mengepungnya seraya berkata: "Engkaukah yang mengatakan begini? Engkaukah yang mengatakan begitu?" karena berita yang sampai kepada mereka tentang celaan beliau terhadap tuhan dan agama mereka.

قَالَ فَيَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ أَنَا الَّذِي أَقُولُ ذَلِكَ

Ia berkata: "Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ya, akulah yang mengatakan hal itu.'"

قَالَ فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا مِنْهُمْ أَخَذَ بِمَجَامِعِ رِدَائِهِ قَالَ وَقَامَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَهُ يَقُولُ وَهُوَ يَبْكِي وَيْلَكُمْ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ انْصَرَفُوا عَنْهُ وَإِنَّ ذَلِكَ لَأَشَدُّ مَا رَأَيْتُ قُرَيْشًا بَلَغَتْ مِنْهُ

Ia berkata: "Sungguh aku melihat salah seorang dari mereka memegang kerah bajunya. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu berdiri membela beliau sambil menangis dan berkata: 'Celaka kalian! Apakah kalian akan membunuh seseorang hanya karena ia berkata: Tuhanku adalah Allah?' Kemudian mereka melepaskan beliau. Dan itulah gangguan paling parah yang pernah kulihat dilakukan Quraisy terhadap beliau."

وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِفِنَاءِ الْكَعْبَةِ إِذْ أَقْبَلَ عُقْبَةُ بْنُ أَبِي مُعَيْطٍ فَأَخَذَ بِمَنْكِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَفَّ ثَوْبَهُ فِي عُنُقِهِ فَخَنَقَهُ خَنْقًا شَدِيدًا

Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berada di halaman Ka'bah, tiba-tiba Uqbah bin Abi Mu'aith datang lalu memegang bahu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan melilitkan pakaiannya ke leher beliau kemudian mencekiknya dengan sangat kuat."

فَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ فَأَخَذَ بِمَنْكِبِهِ وَدَفَعَهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ رَبِّكُمْ

"Maka Abu Bakar datang, memegang bahu Uqbah dan mendorongnya menjauh dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata: 'Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena dia berkata Tuhanku adalah Allah, padahal sesungguhnya dia telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu?'"

وَرُوِيَ أَنَّ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَبَسَ الْعَطَاءَ فَقَامَ إِلَيْهِ أَبُو مُسْلِمٍ الْخَوْلَانِيُّ فَقَالَ لَهُ يَا مُعَاوِيَةُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ كَدِّكَ وَلَا مِنْ كَدِّ أَبِيكَ وَلَا مِنْ كَدِّ أُمِّكَ

Diriwayatkan bahwa Muawiyah radhiyallahu 'anhu pernah menahan tunjangan (baitul mal), lalu Abu Muslim al-Khawlani berdiri menghadapnya dan berkata: "Wahai Muawiyah, harta itu bukanlah hasil jerih payahmu, bukan pula hasil jerih payah ayahmu, dan bukan pula hasil jerih payah ibumu!"

قَالَ فَغَضِبَ مُعَاوِيَةُ وَنَزَلَ عَنِ الْمِنْبَرِ وَقَالَ لَهُمْ مَكَانَكُمْ وَغَابَ عَنْ أَعْيُنِهِمْ سَاعَةً ثُمَّ خَرَجَ عَلَيْهِمْ وَقَدِ اغْتَسَلَ

Muawiyah pun marah, lalu ia turun dari mimbar dan berkata kepada orang-orang: "Tetaplah di tempat kalian!" Ia menghilang dari pandangan mereka sesaat, kemudian keluar menemui mereka setelah mandi.

فَقَالَ إِنَّ أَبَا مُسْلِمٍ كَلَّمَنِي بِكَلَامٍ أَغْضَبَنِي وَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْغَضَبُ مِنَ الشَّيْطَانِ وَالشَّيْطَانُ خُلِقَ مِنَ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَغْتَسِلْ

Ia berkata: "Sesungguhnya Abu Muslim telah berbicara kepadaku dengan perkataan yang membuatku marah, dan aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Amarah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api hanya bisa dipadamkan dengan air. Maka jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia mandi.'"

وَإِنِّي دَخَلْتُ فَاغْتَسَلْتُ وَصَدَقَ أَبُو مُسْلِمٍ أَنَّهُ لَيْسَ مِنْ كَدِّي وَلَا مِنْ كَدِّ أَبِي فَهَلُمُّوا إِلَى عَطَائِكُمْ

"Dan sungguh aku telah masuk dan mandi. Abu Muslim benar bahwa harta itu bukan hasil jerih payahku maupun ayahku, maka kemarilah ambillah tunjangan kalian."

وَرُوِيَ عَنْ ضَبَّةَ بْنِ مِحْصَنٍ الْعَنَزِيِّ قَالَ كَانَ عَلَيْنَا أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ أَمِيرًا بِالْبَصْرَةِ فَكَانَ إِذَا خَطَبَنَا حَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْشَأَ يَدْعُو لِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Diriwayatkan dari Dhabbah bin Mihshan al-Anazi, ia berkata: "Abu Musa al-Asy'ari adalah gubernur kami di Bashrah. Jika ia berkhutbah, ia memuji Allah, menyanjung-Nya, bersalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu mulai mendoakan Umar radhiyallahu 'anhu."

قَالَ فَغَاظَنِي ذَلِكَ مِنْهُ فَقُمْتُ إِلَيْهِ فَقُلْتُ لَهُ أَيْنَ أَنْتَ مِنْ صَاحِبِهِ تُفَضِّلُهُ عَلَيْهِ فَصَنَعَ ذَلِكَ جُمَعًا ثُمَّ كَتَبَ إِلَى عُمَرَ يَشْكُونِي يَقُولُ إِنَّ ضَبَّةَ بْنِ مِحْصَنٍ الْعَنَزِيَّ يَتَعَرَّضُ لِي فِي خُطْبَتِي

Ia berkata: "Hal itu membuatku kesal, maka aku berdiri dan berkata kepadanya: 'Di mana kedudukanmu terhadap sahabatnya (Abu Bakar)? Engkau lebih mengutamakannya (Umar) daripada dia!' Ia melakukan hal itu (mendoakan Umar saja) berkali-kali pada hari Jumat, lalu ia menulis surat kepada Umar mengadukan aku, katanya: 'Sesungguhnya Dhabbah bin Mihshan al-Anazi menggangguku dalam khutbahku.'"

فَكَتَبَ إِلَيْهِ عُمَرُ أَنْ أَشْخِصْهُ إِلَيَّ

Maka Umar menulis surat balasan kepadanya: "Kirimkan dia kepadaku."

قَالَ فَأَشْخَصَنِي إِلَيْهِ فَقَدِمْتُ فَضَرَبْتُ عَلَيْهِ الْبَابَ فَخَرَجَ إِلَيَّ فَقَالَ مَنْ أَنْتَ فَقُلْتُ أَنَا ضَبَّةُ فَقَالَ لِي لَا مَرْحَبًا وَلَا أَهْلًا

Ia berkata: "Maka ia mengirimku kepada Umar. Aku pun datang dan mengetuk pintunya. Umar keluar dan bertanya: 'Siapa kamu?' Aku menjawab: 'Aku Dhabbah.' Ia berkata kepadaku: 'Tidak ada selamat datang dan tidak ada keramahan bagimu!'"

قُلْتُ أَمَّا الْمَرْحَبُ فَمِنَ اللَّهِ وَأَمَّا الْأَهْلُ فَلَا أَهْلَ لِي وَلَا مَالَ فَبِمَاذَا اسْتَحْلَلْتَ يَا عُمَرُ إِشْخَاصِي مِنْ مِصْرِي بِلَا ذَنْبٍ أَذْنَبْتُهُ وَلَا شَيْءٍ أَتَيْتُهُ

Aku berkata: "Adapun keselamatan itu datangnya dari Allah. Sedangkan keluarga, aku memang tidak punya keluarga dan tidak punya harta di sini. Namun dengan alasan apa engkau menghalalkan wahai Umar mengirimku dari negeriku tanpa dosa yang kuperbuat dan tanpa kesalahan yang kulakukan?"

فَقَالَ مَا الَّذِي شَجَرَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ عَامِلِي قَالَ قُلْتُ الْآنَ أُخْبِرُكَ بِهِ إِنَّهُ كَانَ إِذَا خَطَبَنَا حَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ أَنْشَأَ يَدْعُو لَكَ فَغَاظَنِي ذَلِكَ مِنْهُ

Umar bertanya: "Apa yang terjadi antara kamu dan gubernurku?" Aku menjawab: "Sekarang aku beritahukan padamu. Sesungguhnya jika dia berkhutbah, dia memuji Allah, menyanjung-Nya, bersalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian mulai mendoakanmu, dan itu membuatku kesal."

فَقُمْتُ إِلَيْهِ فَقُلْتُ لَهُ أَيْنَ أَنْتَ مِنْ صَاحِبِهِ تُفَضِّلُهُ عَلَيْهِ فَصَنَعَ ذَلِكَ جُمَعًا ثُمَّ كَتَبَ إِلَيْكَ يَشْكُونِي

"Lalu aku berdiri dan bertanya kepadanya: 'Di mana posisimu terhadap sahabatnya (Abu Bakar)? Engkau mengutamakannya (Umar) atas dia!' Dia melakukannya berkali-kali pada hari Jumat, lalu menulis surat mengadukanku padamu."

قَالَ فَانْدَفَعَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَاكِيًا وَهُوَ يَقُولُ أَنْتَ وَاللَّهِ أَوْفَقُ مِنْهُ وَأَرْشَدُ فَهَلْ أَنْتَ غَافِرٌ لِي ذَنْبِي يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ قَالَ قُلْتُ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ

Umar radhiyallahu 'anhu pun menangis tersedu-sedu seraya berkata: "Demi Allah, engkau lebih benar dan lebih mendapat petunjuk darinya. Maka maukah engkau mengampuni dosaku, semoga Allah mengampunimu?" Aku menjawab: "Semoga Allah mengampunimu wahai Amirul Mukminin."

قَالَ ثُمَّ انْدَفَعَ بَاكِيًا وَهُوَ يَقُولُ وَاللَّهِ لَلَيْلَةٌ مِنْ أَبِي بَكْرٍ وَيَوْمٌ خَيْرٌ مِنْ عُمَرَ وَآلِ عُمَرَ فَهَلْ لَكَ أَنْ أُحَدِّثَكَ بِلَيْلَتِهِ وَيَوْمِهِ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ

Kemudian ia menangis lagi sambil berkata: "Demi Allah, satu malam dari Abu Bakar dan satu harinya lebih baik daripada Umar dan keluarga Umar. Maukah kuceritakan kepadamu tentang malamnya dan harinya?" Aku menjawab: "Ya." Umar berkata:

أَمَّا اللَّيْلَةُ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا أَرَادَ الْخُرُوجَ مِنْ مَكَّةَ هَارِبًا مِنَ الْمُشْرِكِينَ خَرَجَ لَيْلًا فَتَبِعَهُ أَبُو بَكْرٍ فَجَعَلَ يَمْشِي مَرَّةً أَمَامَهُ وَمَرَّةً خَلْفَهُ وَمَرَّةً عَنْ يَمِينِهِ وَمَرَّةً عَنْ يَسَارِهِ

"Adapun malam itu, sesungguhnya ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ingin keluar dari Makkah karena melarikan diri dari kaum musyrik, beliau keluar di malam hari dan Abu Bakar mengikutinya. Abu Bakar berjalan kadang di depan beliau, kadang di belakang beliau, kadang di sebelah kanan beliau, dan kadang di sebelah kiri beliau."

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا هَذَا يَا أَبَا بَكْرٍ مَا أَعْرِفُ هَذَا مِنْ أَفْعَالِكَ فَقَالَ يَا رَسُولُ اللَّهِ أَذْكُرُ الرَّصَدَ فَأَكُونَ أَمَامَكَ وَأَذْكُرُ الطَّلَبَ فَأَكُونَ خَلْفَكَ وَمَرَّةً عَنْ يَمِينِكَ وَمَرَّةً عَنْ يَسَارِكَ لَا آمَنُ عَلَيْكَ

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: 'Apa ini wahai Abu Bakar? Aku tidak mengenal perbuatanmu yang seperti ini.' Abu Bakar menjawab: 'Wahai Rasulullah, aku teringat adanya pengintai maka aku berada di depanmu, dan aku teringat adanya pengejar maka aku berada di belakangmu, dan kadang di kananmu serta kirimu, karena aku tidak merasa aman atas keselamatanmu.'"

قَالَ فَمَشَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَتَهُ عَلَى أَطْرَافِ أَصَابِعِهِ حَتَّى حَفِيَتْ فَلَمَّا رَأَى أَبُو بَكْرٍ أَنَّهَا قَدْ حَفِيَتْ حَمَلَهُ عَلَى عَاتِقِهِ وَجَعَلَ يَشْتَدُّ بِهِ حَتَّى أَتَى فَمَ الْغَارِ فَأَنْزَلَهُ

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berjalan sepanjang malam itu dengan ujung jari kakinya hingga kakinya lecet/luka. Ketika Abu Bakar melihat kaki beliau telah luka, ia menggendong beliau di atas bahunya dan berjalan cepat hingga sampai ke mulut gua, lalu menurunkannya."

ثُمَّ قَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا تَدْخُلُهُ حَتَّى أَدْخُلَهُ فَإِنْ كَانَ فِيهِ شَيْءٌ نَزَلَ بِي قَبْلَكَ قَالَ فَدَخَلَ فَلَمْ يَرَ فِيهِ شَيْئًا فَحَمَلَهُ فَأَدْخَلَهُ

"Kemudian Abu Bakar berkata: 'Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, janganlah engkau masuk sampai aku masuk terlebih dahulu. Jika ada sesuatu di dalamnya, biarlah mengenai aku sebelum engkau.' Ia pun masuk dan tidak melihat sesuatu, lalu ia menggendong beliau masuk ke dalam."

وَكَانَ فِي الْغَارِ خَرْقٌ فِيهِ حَيَّاتٌ وَأَفَاعٍ فَأَلْقَمَهُ أَبُو بَكْرٍ قَدَمَهُ مَخَافَةَ أَنْ يَخْرُجَ مِنْهُ شَيْءٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُؤْذِيَهُ

"Di dalam gua itu terdapat lubang yang berisi ular-ular dan lipan. Abu Bakar menyumbat lubang itu dengan kakinya karena takut ada sesuatu yang keluar menuju Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu menyakiti beliau."

وَجَعَلْنَ يَضْرِبْنَ أَبَا بَكْرٍ فِي قَدَمِهِ وَجَعَلَتْ دُمُوعُهُ تَنْحَدِرُ عَلَى خَدَّيْهِ مِنْ أَلَمِ مَا يَجِدُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَهُ يَا أَبَا بَكْرٍ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَالطُّمَأْنِينَةَ لِأَبِي بَكْرٍ فَهَذِهِ لَيْلَتُهُ

"Ular-ular itu mulai mematuk kaki Abu Bakar, dan air matanya mengalir di pipinya karena rasa sakit yang ia rasakan, sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya: 'Wahai Abu Bakar, janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.' Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya dan ketenteraman bagi Abu Bakar. Inilah malamnya."

وَأَمَّا يَوْمُهُ فَلَمَّا تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْتَدَّتِ الْعَرَبُ فَقَالَ بَعْضُهُمْ نُصَلِّي وَلَا نُزَكِّي فَأَتَيْتُهُ لَا آلُوهُ نُصْحًا فَقُلْتُ يَا خَلِيفَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَأَلَّفِ النَّاسَ وَارْفَقْ بِهِمْ

"Adapun harinya adalah ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat, orang-orang Arab murtad. Sebagian mereka berkata: 'Kami mau salat tapi tidak mau bayar zakat.' Aku pun mendatangi Abu Bakar tanpa henti memberinya nasihat, aku berkata: 'Wahai Khalifah Rasulullah, lunakkanlah hati manusia dan bersikap lembutlah kepada mereka.'"

فَقَالَ لِي أَجَبَّارٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خَوَّارٌ فِي الْإِسْلَامِ فَبِمَاذَا أَتَأَلَّفُهُمْ قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَارْتَفَعَ الْوَحْيُ فَوَاللَّهِ لَوْ مَنَعُونِي عِقَالًا كَانُوا يُعْطُونَهُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَيْهِ

"Ia berkata kepadaku: 'Apakah kamu keras di masa jahiliah namun lemah di masa Islam? Dengan apa aku melunakkan hati mereka? Rasulullah telah wafat dan wahyu telah terputus. Demi Allah, seandainya mereka menolak memberikan seutas tali pengikat unta yang biasa mereka berikan kepada Rasulullah, niscaya aku akan memerangi mereka karenanya!'"

قَالَ فَقَاتَلْنَا عَلَيْهِ فَكَانَ وَاللَّهِ رَشِيدَ الْأَمْرِ فَهَذَا يَوْمُهُ ثُمَّ كَتَبَ إِلَى أَبِي مُوسَى يَلُومُهُ

Ia berkata: "Lalu kami pun berperang demi hal itu, dan demi Allah, itu adalah perkara yang sangat tepat. Inilah harinya." Kemudian Umar menulis surat kepada Abu Musa mengecam tindakannya.

وَعَنِ الْأَصْمَعِيِّ قَالَ دَخَلَ عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ عَلَى عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مَرْوَانَ وَهُوَ جَالِسٌ عَلَى سَرِيرِهِ وَحَوَالَيْهِ الْأَشْرَافُ مِنْ كُلِّ بَطْنٍ وَذَلِكَ بِمَكَّةَ فِي وَقْتِ حَجَّةٍ فِي خِلَافَتِهِ

Dari Al-Asma'i, ia berkata: "Atha bin Abi Rabah masuk menemui Abdul Malik bin Marwan yang sedang duduk di atas singgasana dikelilingi oleh para pemuka dari setiap kabilah, yaitu di Makkah pada waktu haji di masa kekhalifahannya."

فَلَمَّا بَصُرَ بِهِ قَامَ إِلَيْهِ وَأَجْلَسَهُ مَعَهُ عَلَى السَّرِيرِ وَقَعَدَ بَيْنَ يَدَيْهِ وَقَالَ لَهُ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ مَا حَاجَتُكَ

"Tatkala Abdul Malik melihatnya, ia berdiri menyambutnya dan mendudukkannya bersamanya di atas singgasana, lalu ia duduk di hadapan Atha seraya bertanya: 'Wahai Abu Muhammad, apa keperluanmu?'"

فَقَالَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ اتَّقِ اللَّهَ فِي حَرَمِ اللَّهِ وَحَرَمِ رَسُولِهِ فَتَعَاهَدْهُ بِالْعِمَارَةِ

"Atha berkata: 'Wahai Amirul Mukminin, bertakwalah kepada Allah di tanah suci Allah dan tanah suci Rasul-Nya, perhatikanlah ia dengan pembangunan.'"

وَاتَّقِ اللَّهَ فِي أَوْلَادِ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ فَإِنَّكَ بِهِمْ جَلَسْتَ هَذَا الْمَجْلِسَ

"'Dan bertakwalah kepada Allah terhadap keturunan kaum Muhajirin dan Ansar, karena sebab merekalah engkau bisa duduk di kursi ini.'"

وَاتَّقِ اللَّهَ فِي أَهْلِ الثُّغُورِ فَإِنَّهُمْ حِصْنُ الْمُسْلِمِينَ وَتَفَقَّدْ أُمُورَ الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّكَ وَحْدَكَ الْمَسْئُولُ عَنْهُمْ

"'Dan bertakwalah kepada Allah terhadap penjaga perbatasan, karena mereka adalah benteng umat Islam. Periksalah urusan kaum muslimin karena engkau sendirilah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.'"

وَاتَّقِ اللَّهَ فِيمَنْ عَلَى بَابِكَ فَلَا تَغْفُلْ عَنْهُمْ وَلَا تُغْلِقْ بَابَكَ دُونَهُمْ

"'Dan bertakwalah kepada Allah terhadap orang-orang yang ada di depan pintumu, janganlah lalai terhadap mereka dan janganlah menutup pintumu bagi mereka.'"

فَقَالَ لَهُ أَجَلْ أَفْعَلُ ثُمَّ نَهَضَ وَقَامَ فَقَبَضَ عَلَيْهِ عَبْدُ الْمَلِكِ فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ إِنَّمَا سَأَلْتَنَا حَاجَةً لِغَيْرِكَ وَقَدْ قَضَيْنَاهَا فَمَا حَاجَتُكَ أَنْتَ

Abdul Malik berkata kepadanya: "Baiklah, akan kulakukan." Kemudian Atha bangkit berdiri untuk pergi, namun Abdul Malik memegangnya dan berkata: "Wahai Abu Muhammad, engkau tadi hanya meminta keperluan untuk orang lain dan telah kami penuhi, lalu apa keperluanmu sendiri?"

فَقَالَ مَا لِي إِلَى مَخْلُوقٍ حَاجَةٌ ثُمَّ خَرَجَ فَقَالَ عَبْدُ الْمَلِكِ هَذَا وَأَبِيكَ الشَّرَفُ

Ia menjawab: "Aku tidak memiliki keperluan apa pun kepada makhluk." Kemudian ia keluar. Abdul Malik pun berkata: "Demi ayahmu, inilah kemuliaan yang sesungguhnya."

وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ الْوَلِيدَ بْنَ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَ لِحَاجِبِهِ يَوْمًا قِفْ عَلَى الْبَابِ فَإِذَا مَرَّ بِكَ رَجُلٌ فَأَدْخِلْهُ عَلَيَّ لِيُحَدِّثَنِي

Diriwayatkan pula bahwa Al-Walid bin Abdul Malik berkata kepada pengawalnya suatu hari: "Berdirilah di depan pintu, jika lewat seorang laki-laki, masukkan dia kepadaku agar dia bisa berbicara denganku."

فَوَقَفَ الْحَاجِبُ عَلَى الْبَابِ مُدَّةً فَمَرَّ بِهِ عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ وَهُوَ لَا يَعْرِفُهُ فَقَالَ لَهُ يَا شَيْخُ ادْخُلْ إِلَى أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ فَإِنَّهُ أَمَرَ بِذَلِكَ

Maka pengawal itu berdiri di pintu selama beberapa lama, lalu lewatlah Atha bin Abi Rabah sedangkan pengawal itu tidak mengenalnya. Pengawal itu berkata: "Wahai orang tua, masuklah menemui Amirul Mukminin, karena ia memerintahkan hal itu."

فَدَخَلَ عَطَاءٌ عَلَى الْوَلِيدِ وَعِنْدَهُ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ فَلَمَّا دَنَا عَطَاءٌ مِنَ الْوَلِيدِ قَالَ السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا وَلِيدُ

Maka Atha masuk menemui Al-Walid, dan di sampingnya ada Umar bin Abdul Aziz. Ketika Atha mendekati Al-Walid, ia berkata: "Salam sejahtera untukmu, wahai Walid!"

قَالَ فَغَضِبَ الْوَلِيدُ عَلَى حَاجِبِهِ وَقَالَ لَهُ وَيْلَكَ أَمَرْتُكَ أَنْ تُدْخِلَ إِلَيَّ رَجُلًا يُحَدِّثُنِي وَيُسَامِرُنِي فَأَدْخَلْتَ إِلَيَّ رَجُلًا لَمْ يَرْضَ أَنْ يُسَمِّيَنِي بِالِاسْمِ الَّذِي اخْتَارَهُ اللَّهُ لِي

Al-Walid pun marah kepada pengawalnya dan berkata: "Celaka kamu! Aku memerintahkanmu memasukkan orang yang bisa menghiburku dan mengobrol denganku, malah kamu memasukkan orang yang tidak sudi memanggilku dengan gelar yang telah dipilihkan Allah (Amirul Mukminin) untukku!"

فَقَالَ لَهُ حَاجِبُهُ مَا مَرَّ بِي أَحَدٌ غَيْرُهُ ثُمَّ قَالَ لِعَطَاءٍ اجْلِسْ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِ يُحَدِّثُهُ فَكَانَ فِيمَا حَدَّثَهُ بِهِ عَطَاءٌ أَنْ قَالَ لَهُ بَلَغَنَا أَنَّ فِي جَهَنَّمَ وَادِيًا يُقَالُ لَهُ هَبْهَبُ أَعَدَّهُ اللَّهُ لِكُلِّ إِمَامٍ جَائِرٍ فِي حُكْمِهِ

Pengawalnya berkata: "Tidak ada orang lain yang lewat selain dia." Kemudian Al-Walid berkata kepada Atha: "Duduklah." Lalu Al-Walid mulai berbicara kepadanya. Di antara apa yang disampaikan Atha kepadanya adalah: "Telah sampai kepada kami bahwa di neraka Jahanam ada sebuah lembah yang disebut Habhab, yang Allah siapkan bagi setiap pemimpin yang zalim dalam hukumnya."

فَصَعِقَ الْوَلِيدُ مِنْ قَوْلِهِ وَكَانَ جَالِسًا بَيْنَ يَدَيْ عُتْبَةِ بَابِ الْمَجْلِسِ فَوَقَعَ عَلَى قَفَاهُ إِلَى جَوْفِ الْمَجْلِسِ مَغْشِيًّا عَلَيْهِ

Maka Al-Walid tersentak kaget karena ucapannya. Saat itu ia duduk di dekat ambang pintu majelis, lalu ia jatuh terjengkang ke dalam majelis dalam keadaan pingsan.

فَقَالَ عُمَرُ لِعَطَاءٍ قَتَلْتَ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ فَقَبَضَ عَطَاءٌ عَلَى ذِرَاعِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ فَغَمَزَهُ غَمْرَةً شَدِيدَةً وَقَالَ لَهُ يَا عُمَرُ إِنَّ الْأَمْرَ جِدٌّ فَجِدَّ ثُمَّ قَامَ عَطَاءٌ وَانْصَرَفَ

Umar (bin Abdul Aziz) berkata kepada Atha: "Engkau telah membunuh Amirul Mukminin!" Lalu Atha memegang lengan Umar bin Abdul Aziz dan meremasnya dengan sangat keras seraya berkata: "Wahai Umar, perkara ini (akhirat) adalah sungguhan, maka bersungguh-sungguhlah!" Kemudian Atha bangkit dan pergi.

فَبَلَغَنَا عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ مَكَثْتُ سَنَةً أَجِدُ أَلَمَ غَمْزَتِهِ فِي ذِرَاعِي

Telah sampai kepada kami dari Umar bin Abdul Aziz rahimahullah bahwa ia berkata: "Aku selama setahun masih merasakan sakitnya remasan tangannya di lenganku."

وَكَانَ ابْنُ أَبِي شُمَيْلَةَ يُوصَفُ بِالْعَقْلِ وَالْأَدَبِ فَدَخَلَ عَلَى عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مَرْوَانَ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الْمَلِكِ تَكَلَّمْ

Ibnu Abi Shumailah dikenal dengan akal dan adabnya. Ia masuk menemui Abdul Malik bin Marwan, lalu Abdul Malik berkata kepadanya: "Bicaralah!"

قَالَ بِمَ أَتَكَلَّمُ وَقَدْ عَلِمْتُ أَنَّ كُلَّ كَلَامٍ تَكَلَّمَ بِهِ الْمُتَكَلِّمُ عَلَيْهِ وَبَالٌ إِلَّا مَا كَانَ لِلَّهِ فَبَكَى عَبْدُ الْمَلِكِ ثُمَّ قَالَ يَرْحَمُكَ اللَّهُ لَمْ يَزَلِ النَّاسُ يَتَوَاعَظُونَ وَيَتَوَاصَوْنَ

Ia menjawab: "Dengan apa aku bicara, padahal aku tahu bahwa setiap ucapan yang diucapkan pembicara akan menjadi petaka baginya kecuali apa yang ditujukan karena Allah?" Maka Abdul Malik menangis dan berkata: "Semoga Allah merahmatimu, manusia memang senantiasa saling menasihati dan berwasiat."

فَقَالَ الرَّجُلُ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ النَّاسَ فِي الْقِيَامَةِ لَا يَنْجُونَ مِنْ غُصَصِ مَرَارَتِهَا وَمُعَايَنَةِ الرَّدَى فِيهَا إِلَّا مَنْ أَرْضَى اللَّهَ بِسُخْطِ نَفْسِهِ

Laki-laki itu berkata: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya manusia pada hari kiamat tidak akan selamat dari pahitnya kesengsaraan dan melihat kehancuran di dalamnya, kecuali orang yang membuat Allah rida meskipun dengan mengorbankan keinginan dirinya (nafsunya)."

فَبَكَى عَبْدُ الْمَلِكِ ثُمَّ قَالَ لَا جَرَمَ لَأَجْعَلَنَّ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ مِثَالًا نُصْبَ عَيْنِي مَا عِشْتُ

Abdul Malik pun menangis dan berkata: "Pasti, aku akan menjadikan kalimat-kalimat ini sebagai teladan di depan mataku selama aku hidup."

وَيُرْوَى عَنِ ابْنِ عَائِشَةَ أَنَّ الْحَجَّاجَ دَعَا بِفُقَهَاءِ الْبَصْرَةِ وَفُقَهَاءِ الْكُوفَةِ فَدَخَلْنَا عَلَيْهِ وَدَخَلَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ آخِرَ مَنْ دَخَلَ

Diriwayatkan dari Ibnu Aisyah bahwa Al-Hajjaj memanggil para fukaha Bashrah dan fukaha Kufah. Kami pun masuk menemuinya, dan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah adalah orang yang terakhir masuk.

فَقَالَ الْحَجَّاجُ مَرْبَحًا بِأَبِي سَعِيدٍ إِلَيَّ إِلَيَّ ثُمَّ دَعَا بِكُرْسِيٍّ فَوُضِعَ إِلَى جَنْبِ سَرِيرِهِ فَقَعَدَ عَلَيْهِ

Al-Hajjaj berkata: "Selamat datang wahai Abu Said, ke sini, ke sini!" Kemudian ia meminta sebuah kursi diletakkan di samping singgasananya, lalu Al-Hasan duduk di atasnya.

فَجَعَلَ الْحَجَّاجُ يُذَاكِرُنَا وَيَسْأَلُنَا إِذْ ذُكِرَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَنَالَ مِنْهُ وَنُلْنَا مِنْهُ مُقَارَبَةً لَهُ وَفَرَقًا مِنْ شَرِّهِ وَالْحَسَنُ سَاكِتٌ عَاضٌّ عَلَى إِبْهَامِهِ

Al-Hajjaj mulai berdiskusi dan bertanya kepada kami, hingga disebutlah nama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Ia mencela Ali, dan kami pun ikut mencelanya karena ingin mengambil hatinya dan rasa takut akan kejahatannya, sementara Al-Hasan hanya diam sambil menggigit ibu jarinya.

فَقَالَ يَا أَبَا سَعِيدٍ مَا لِي أَرَاكَ سَاكِتًا قَالَ مَا عَسَيْتُ أَنْ أَقُولَ

Al-Hajjaj bertanya: "Wahai Abu Said, mengapa aku melihatmu diam saja?" Ia menjawab: "Apa yang bisa aku katakan?"

قَالَ أَخْبِرْنِي بِرَأْيِكَ فِي أَبِي تُرَابٍ

Al-Hajjaj berkata: "Beritahukan kepadaku pendapatmu tentang Abu Turab (Ali)."

قَالَ سَمِعْتُ اللَّهَ جَلَّ ذِكْرُهُ يَقُولُ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

Al-Hasan berkata: "Aku mendengar Allah Jalla Dzikruhu berfirman: 'Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi pusat perhatianmu (sekarang), melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.'"

فَعَلِيٌّ مِمَّنْ هَدَى اللَّهُ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ فَأَقُولُ ابْنُ عَمِّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَتَنُهُ عَلَى ابْنَتِهِ وَأَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْهِ وَصَاحِبُ سَوَابِقَ مُبَارَكَاتٍ سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ

"Maka Ali termasuk orang yang diberi petunjuk oleh Allah dari kalangan ahli iman. Aku katakan: dia adalah sepupu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, menantu beliau atas putrinya, orang yang paling beliau cintai, dan pemilik keutamaan-keutamaan yang diberkahi yang telah ditetapkan oleh Allah baginya."

لَنْ تَسْتَطِيعَ أَنْتَ وَلَا أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ أَنْ يَحْظُرَهَا عَلَيْهِ وَلَا يَحُولَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا

"Engkau maupun siapa pun dari manusia tidak akan mampu menghalangi keutamaan itu darinya atau menghalanginya dari keutamaan tersebut."

وَأَقُولُ إِنْ كَانَتْ لِعَلِيٍّ هَنَاةٌ فَاللَّهُ حَسْبُهُ وَاللَّهِ مَا أَجِدُ فِيهِ قَوْلًا أَعْدَلَ مِنْ هَذَا

"Dan aku katakan, jika Ali memiliki kesalahan, maka Allah-lah penghisabnya. Demi Allah, aku tidak menemukan perkataan yang lebih adil tentangnya selain ini."

فَبَسَرَ وَجْهُ الْحَجَّاجِ وَتَغَيَّرَ وَقَامَ عَنِ السَّرِيرِ مُغْضَبًا فَدَخَلَ بَيْتًا خَلْفَهُ وَخَرَجْنَا

Maka wajah Al-Hajjaj menjadi masam dan berubah, ia bangkit dari singgasananya dengan marah lalu masuk ke ruangan di belakangnya, dan kami pun keluar.

قَالَ عَامِرٌ الشَّعْبِيُّ فَأَخَذْتُ بِيَدِ الْحَسَنِ فَقُلْتُ يَا أَبَا سَعِيدٍ أَغْضَبْتَ الْأَمِيرَ وَأَوْغَرْتَ صَدْرَهُ

Amir asy-Sya'bi berkata: "Aku memegang tangan Al-Hasan dan berkata: 'Wahai Abu Said, engkau telah membuat gubernur marah dan mendidihkan dadanya (dengan emosi).'"

فَقَالَ إِلَيْكَ عَنِّي يَا عَامِرُ يَقُولُ النَّاسُ عَامِرٌ الشَّعْبِيُّ عَالِمُ أَهْلِ الْكُوفَةِ

Ia menjawab: "Menjauhlah dariku wahai Amir! Orang-orang berkata bahwa Amir asy-Sya'bi adalah ulamanya penduduk Kufah."

أَتَيْتَ شَيْطَانًا مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ تُكَلِّمُهُ بِهَوَاهُ وَتُقَارِبُهُ فِي رَأْيِهِ وَيْحَكَ يَا عَامِرُ هَلَّا اتَّقَيْتَ إِنْ سُئِلْتَ فَصَدَقْتَ أَوْ سَكَتَّ فَسَلِمْتَ

"Engkau mendatangi setan dari jenis manusia lalu engkau berbicara sesuai hawa nafsunya dan mendekati pendapatnya. Celaka engkau wahai Amir! Mengapa engkau tidak bertakwa jika ditanya lalu jujur, atau diam saja agar selamat?"

قَالَ عَامِرٌ يَا أَبَا سَعِيدٍ قَدْ قُلْتُهَا وَأَنَا أَعْلَمُ مَا فِيهَا قَالَ الْحَسَنُ فَذَاكَ أَعْظَمُ فِي الْحُجَّةِ عَلَيْكَ وَأَشَدُّ فِي التَّبِعَةِ

Amir berkata: "Wahai Abu Said, aku telah mengatakannya sedangkan aku tahu apa akibatnya." Al-Hasan menjawab: "Itu justru memperberat hujah atasmu dan memperberat beban pertanggungjawabanmu."

قَالَ وَبَعَثَ الْحَجَّاجُ إِلَى الْحَسَنِ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ قَالَ أَنْتَ الَّذِي تَقُولُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ قَتَلُوا عِبَادَ اللَّهِ عَلَى الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ قَالَ نَعَمْ

Dikatakan bahwa Al-Hajjaj memanggil Al-Hasan lagi. Ketika Al-Hasan masuk, ia bertanya: "Engkaukah yang mengatakan: 'Semoga Allah memerangi mereka, mereka membunuh hamba-hamba Allah demi dinar dan dirham'?" Ia menjawab: "Ya."

قَالَ مَا حَمَلَكَ عَلَى هَذَا قَالَ مَا أَخَذَ اللَّهُ عَلَى الْعُلَمَاءِ مِنَ الْمَوَاثِيقِ لَيُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا يَكْتُمُونَهُ

Al-Hajjaj bertanya: "Apa yang mendorongmu melakukan ini?" Ia menjawab: "Perjanjian yang Allah ambil dari para ulama agar mereka menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya."

قَالَ يَا حَسَنُ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَإِيَّاكَ أَنْ يَبْلُغَنِي عَنْكَ مَا أَكْرَهُ فَأَفْرِقَ بَيْنَ رَأْسِكَ وَجَسَدِكَ

Al-Hajjaj berkata: "Wahai Hasan, jagalah lidahmu! Jangan sampai sampai kepadaku berita yang aku benci darimu, atau aku akan memisahkan antara kepala dan tubuhmu!"

وَحُكِيَ أَنَّ حُطَيْطًا الزَّيَّاتَ جِيءَ بِهِ إِلَى الْحَجَّاجِ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ قَالَ أَنْتَ حُطَيْطٌ قَالَ نَعَمْ سَلْ عَمَّا بَدَا لَكَ

Dikisahkan bahwa Hutaith az-Zayyat dibawa menghadap Al-Hajjaj. Ketika ia masuk, Al-Hajjaj bertanya: "Kamu Hutaith?" Ia menjawab: "Ya, tanyalah apa yang tampak (ingin kau tanyakan) padamu."

فَإِنِّي عَاهَدْتُ اللَّهَ عِنْدَ الْمَقَامِ عَلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ إِنْ سُئِلْتُ لَأَصْدُقَنَّ وَإِنِ ابْتُلِيتُ لَأَصْبِرَنَّ وَإِنْ عُوفِيتُ لَأَشْكُرَنَّ

"Karena sesungguhnya aku telah berjanji kepada Allah di depan Maqam (Ibrahim) atas tiga perkara: jika aku ditanya aku akan jujur, jika aku diuji aku akan bersabar, dan jika aku diselamatkan aku akan bersyukur."

قَالَ فَمَا تَقُولُ فِيَّ قَالَ أَقُولُ إِنَّكَ مِنْ أَعْدَاءِ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ تَنْتَهِكُ الْمَحَارِمَ وَتَقْتُلُ بِالظَّنَّةِ

Al-Hajjaj bertanya: "Apa pendapatmu tentang aku?" Ia menjawab: "Aku katakan bahwa engkau adalah termasuk musuh-musuh Allah di bumi; engkau melanggar perkara haram dan membunuh berdasarkan prasangka."

قَالَ فَمَا تَقُولُ فِي أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مَرْوَانَ قَالَ أَقُولُ إِنَّهُ أَعْظَمُ جُرْمًا مِنْكَ وَإِنَّمَا أَنْتَ خَطِيئَةٌ مِنْ خَطَايَاهُ

Al-Hajjaj bertanya: "Lalu apa pendapatmu tentang Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan?" Ia menjawab: "Aku katakan bahwa dia lebih besar dosanya darimu, dan sesungguhnya kamu hanyalah salah satu dari sekian banyak kesalahannya."

قَالَ فَقَالَ الْحَجَّاجُ ضَعُوا عَلَيْهِ الْعَذَابَ

Maka Al-Hajjaj berkata: "Berikan siksaan kepadanya!"

قَالَ فَانْتَهَى بِهِ الْعَذَابُ إِلَى أَنْ شُقِّقَ لَهُ الْقَصَبُ ثُمَّ جَعَلُوهُ عَلَى لَحْمِهِ وَشَدُّوهُ بِالْحِبَالِ ثُمَّ جَعَلُوا يَمُدُّونَ قَصَبَةً قَصَبَةً حَتَّى انْتَحَلُوا لَحْمَهُ فَمَا سَمِعُوهُ يَقُولُ شَيْئًا

Siksaan itu mencapai puncaknya hingga bambu dibelah-belah untuknya, lalu diletakkan di atas dagingnya dan diikat dengan tali. Kemudian mereka menarik belahan bambu itu satu per satu hingga dagingnya terkelupas, namun mereka tidak mendengarnya mengucapkan satu kata pun (keluhan).

قَالَ فَقِيلَ لِلْحَجَّاجِ إِنَّهُ فِي آخِرِ رَمَقٍ فَقَالَ أَخْرِجُوهُ فَارْمُوا بِهِ فِي السُّوقِ

Lalu dikatakan kepada Al-Hajjaj: "Sesungguhnya dia sudah di ambang kematian." Al-Hajjaj berkata: "Keluarkan dia dan buang dia di pasar!"

قَالَ جَعْفَرٌ فَأَتَيْتُهُ أَنَا وَصَاحِبٌ لَهُ فَقُلْنَا لَهُ حُطَيْطُ أَلَكَ حَاجَةٌ قَالَ شَرْبَةُ مَاءٍ فَأَتَوْهُ بِشَرْبَةٍ ثُمَّ مَاتَ وَكَانَ ابْنَ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ سَنَةً رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ

Ja'far berkata: "Aku dan seorang temannya mendatanginya lalu kami bertanya: 'Hutaith, apakah engkau punya keperluan?' Ia menjawab: 'Seteguk air.' Mereka pun membawakannya seteguk air, kemudian ia wafat. Saat itu ia berusia delapan belas tahun, semoga rahmat Allah baginya."