Pemaafnya Rasulullah SAW di Tengah Kemampuan Beliau untuk Membalas

 بَيَانُ عَفْوِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ قُدْرَتِهِ

Penjelasan mengenai sifat pemaaf beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam di tengah kemampuan beliau (untuk menghukum).

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْلَمَ النَّاسِ وَأَرْغَبَهُمْ فِي الْعَفْوِ مَعَ الْقُدْرَةِ

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah manusia yang paling santun dan paling menyukai pemberian maaf di saat beliau memiliki kemampuan untuk membalas.

حَتَّى أَتَى بِقَلَائِدَ مِنْ ذَهَبٍ وَفِضَّةٍ فَقَسَمَهَا بَيْنَ أَصْحَابِهِ

Hingga suatu ketika, beliau dibawakan kalung-kalung dari emas dan perak, lalu beliau membagikannya di antara para sahabatnya.

فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ وَاللهِ لَئِنْ أَمَرَكَ اللهُ أَنْ تَعْدِلَ فَمَا أَرَاكَ تَعْدِلُ

Lalu berdirilah seorang lelaki dari kalangan penduduk pedalaman (A'rabi) dan berkata, "Wahai Muhammad, demi Allah, jika Allah memerintahkanmu untuk berlaku adil, maka aku tidak melihatmu telah berbuat adil."

فَقَالَ وَيْحَكَ فَمَنْ يَعْدِلُ عَلَيْهِ بَعْدِي

Maka beliau bersabda, "Celakalah kamu! Maka siapa lagi yang akan berlaku adil setelahku?"

فَلَمَّا وَلَّى قَالَ رُدُّوهُ عَلَيَّ رُوَيْدًا

Ketika orang itu berpaling pergi, beliau bersabda, "Bawalah dia kembali kepadaku dengan perlahan."

رَوَى جَابِرٌ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْبِضُ لِلنَّاسِ يَوْمَ خَيْبَرٍ مِنْ فِضَّةٍ فِي ثَوْبِ بِلَالٍ

Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada hari penaklukan Khaibar mengambilkan perak untuk orang-orang dari wadah kain milik Bilal.

فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللهِ أَعْدِلْ

Maka seorang laki-laki berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, berlakulah adil!"

فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيْحَكَ فَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda kepadanya, "Celakalah kamu! Siapa lagi yang akan adil jika aku saja tidak adil?"

فَقَدْ خِبْتُ إِذَنْ وَخَسِرْتُ إِنْ كُنْتُ لَا أَعْدِلُ

"Maka sungguh aku akan kecewa dan merugi jika aku tidak berlaku adil."

فَقَامَ عُمَرُ فَقَالَ أَلَا أَضْرِبُ عُنُقَهُ فَإِنَّهُ مُنَافِقٌ

Maka Umar berdiri dan berkata, "Bolehkah aku tebas lehernya? Karena sesungguhnya dia adalah orang munafik."

فَقَالَ مَعَاذَ اللهِ أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي

Beliau bersabda, "Aku berlindung kepada Allah agar orang-orang tidak membicarakan bahwa aku membunuh sahabat-sahabatku sendiri."

وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَرْبٍ فَرَأَوْا مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِرَّةً

Pernah suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam berada dalam suatu peperangan, lalu musuh melihat adanya kelengahan pada pihak muslimin.

فَجَاءَ رَجُلٌ حَتَّى قَامَ عَلَى رَأْسِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالسَّيْفِ

Maka datanglah seorang lelaki (musuh) hingga ia berdiri di atas kepala Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan menghunus pedang.

فَقَالَ مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي فَقَالَ اللهُ

Lelaki itu berkata, "Siapa yang dapat melindungimu dariku?" Beliau menjawab, "Allah."

فَسَقَطَ السَّيْفُ مِنْ يَدِهِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّيْفَ

Maka pedang itu jatuh dari tangannya, lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengambil pedang tersebut.

وَقَالَ مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي فَقَالَ كُنْ خَيْرَ آخِذٍ

Beliau bersabda, "Sekarang siapa yang melindungimu dariku?" Lelaki itu menjawab, "Jadilah engkau sebaik-baik orang yang mengambil (pedang/menghukum)."

قَالَ قُلْ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ

Beliau bersabda, "Ucapkanlah: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah."

فَقَالَ لَا غَيْرَ أَنِّي لَا أُقَاتِلُكَ وَلَا أَكُونُ مَعَكَ وَلَا أَكُونُ مَعَ قَوْمٍ يُقَاتِلُونَكَ

Ia menjawab, "Tidak, hanya saja aku berjanji tidak akan memerangimu, tidak akan memihak kepadamu, dan tidak akan bersama kaum yang memerangimu."

فَخَلَّى سَبِيلَهُ فَجَاءَ أَصْحَابَهُ فَقَالَ جِئْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ خَيْرِ النَّاسِ

Maka beliau melepaskan jalannya, lalu orang itu mendatangi teman-temannya dan berkata, "Aku baru saja datang kepada kalian dari sisi manusia terbaik."

وَرَوَى أَنَسٌ أَنَّ يَهُودِيَّةً أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَسْمُومَةٍ لِيَأْكُلَ مِنْهَا

Anas meriwayatkan bahwa seorang wanita Yahudi mendatangi Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan membawa daging kambing yang telah diracun agar beliau memakannya.

فَجِيءَ بِهَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهَا عَنْ ذَلِكَ

Lalu wanita itu dihadapkan kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan beliau menanyakan perbuatannya itu.

فَقَالَتْ أَرَدْتُ قَتْلَكَ فَقَالَ مَا كَانَ اللهُ لِيُسَلِّطَكِ عَلَى ذَلِكَ

Ia menjawab, "Aku ingin membunuhmu." Beliau bersabda, "Allah tidak akan memberikanmu kemampuan untuk melakukan hal itu."

قَالُوا أَفَلَا تَقْتُلُهَا فَقَالَ لَا

Para sahabat bertanya, "Apakah tidak sebaiknya kita bunuh saja dia?" Beliau menjawab, "Tidak."

وَسَحَرَهُ رَجُلٌ مِنَ الْيَهُودِ فَأَخْبَرَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ بِذَلِكَ

Seorang laki-laki Yahudi pernah menyihir beliau, lalu Jibril 'Alaihissalam mengabarkan hal tersebut kepada beliau.

حَتَّى اسْتَخْرَجَهُ وَحَلَّ الْعُقَدَ فَوَجَدَ لِذَلِكَ خِفَّةً

Hingga beliau mengeluarkan (buhul sihir tersebut) dan melepaskan ikatannya, sehingga beliau merasakan badannya menjadi ringan.

وَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ لِلْيَهُودِيِّ وَلَا أَظْهَرَهُ عَلَيْهِ قَطُّ

Namun beliau tidak pernah menyebutkan hal itu kepada si Yahudi tersebut dan tidak pernah menampakkannya sama sekali di hadapannya.

وَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بَعَثَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَالزُّبَيْرَ وَالْمِقْدَادَ

Ali radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengutusku bersama Az-Zubair dan Al-Miqdad.

فَقَالَ انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا رَوْضَةَ خَاخٍ فَإِنَّ بِهَا ظَعِينَةً مَعَهَا كِتَابٌ فَخُذُوهُ مِنْهَا

Beliau bersabda, "Pergilah kalian hingga sampai ke Raudhah Khakh, karena di sana ada seorang wanita musafir yang membawa sepucuk surat, maka ambillah surat itu darinya."

فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا رَوْضَةَ خَاخٍ فَقُلْنَا أَخْرِجِي الْكِتَابَ

Maka kami pun berangkat hingga sampai ke Raudhah Khakh, lalu kami berkata, "Keluarkanlah surat itu!"

فَقَالَتْ مَا مَعِي مِنْ كِتَابٍ

Wanita itu menjawab, "Aku tidak membawa surat apa pun."

فَقُلْنَا لَتُخْرِجُنَّ الْكِتَابَ أَوْ لَنَنْزِعَنَّ الثِّيَابَ

Kami berkata, "Engkau benar-benar harus mengeluarkan surat itu atau kami akan menelanjangi pakaianmu."

فَأَخْرَجَتْهُ مِنْ عِقَاصِهَا فَأَتَيْنَا بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Maka ia mengeluarkan surat itu dari gelungan rambutnya, lalu kami membawanya kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

فَإِذَا فِيهِ مِنْ حَاطِبِ بْنِ أَبِي بَلْتَعَةَ إِلَى أُنَاسٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ بِمَكَّةَ

Ternyata surat itu dari Hatib bin Abi Balta'ah yang ditujukan kepada orang-orang musyrik di Makkah.

يُخْبِرُهُمْ أَمْرًا مِنْ أَمْرِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Isinya memberitahukan mereka tentang sebagian urusan (rahasia) Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

فَقَالَ يَا حَاطِبُ مَا هَذَا قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ لَا تَعْجَلْ عَلَيَّ

Beliau bersabda, "Wahai Hatib, apa ini?" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, janganlah terburu-buru menghukumku."

إِنِّي كُنْتُ امْرَأً مُلْصَقًا فِي قَوْمِي

"Sesungguhnya aku adalah orang yang menumpang (bukan penduduk asli) di kaum Quraisy."

وَكَانَ مَنْ مَعَكَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ لَهُمْ قَرَابَاتٌ بِمَكَّةَ يَحْمُونَ أَهْلَهُمْ

"Sedangkan kaum Muhajirin yang bersamamu memiliki kerabat di Makkah yang dapat melindungi keluarga mereka."

فَأَحْبَبْتُ إِذْ فَاتَنِي ذَلِكَ مِنَ النَّسَبِ مِنْهُمْ أَنْ أَتَّخِذَ فِيهِمْ يَدًا يَحْمُونَ بِهَا قَرَابَتِي

"Maka aku ingin, karena aku tidak memiliki hubungan nasab di antara mereka, untuk memberikan bantuan agar mereka mau melindungi kerabatku."

وَلَمْ أَفْعَلْ ذَلِكَ كُفْرًا وَلَا رِضًا بِالْكُفْرِ بَعْدَ الْإِسْلَامِ وَلَا ارْتِدَادًا عَنْ دِينِي

"Aku tidak melakukannya karena kekufuran, tidak pula karena rida pada kekafiran setelah masuk Islam, dan bukan pula karena murtad dari agamaku."

فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ صَدَقَكُمْ

Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Sesungguhnya dia telah berkata jujur kepada kalian."

فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ دَعْنِي أَضْرِبْ عُنُقَ هَذَا الْمُنَافِقِ

Maka Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Biarkan aku menebas leher si munafik ini."

فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ شَهِدَ بَدْرًا

Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Sesungguhnya dia ikut serta dalam perang Badar."

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدِ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

"Dan tahukah kamu, barangkali Allah 'Azza wa Jalla telah melihat kepada para ahli Badar lalu berfirman: Berbuatlah sesuka kalian, karena sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian."

وَقَسَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِسْمَةً فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ هَذِهِ قِسْمَةٌ مَا أُرِيدَ بِهَا وَجْهُ اللهِ

Suatu kali Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam membagikan suatu pembagian, lalu seorang lelaki dari kaum Anshar berkata, "Ini adalah pembagian yang tidak mengharap rida Allah."

فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحْمَرَّ وَجْهُهُ

Hal itu diceritakan kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, maka memerahlah wajah beliau (karena marah).

وَقَالَ رَحِمَ اللهُ أَخِي مُوسَى قَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ

Beliau bersabda, "Semoga Allah merahmati saudaraku Musa, sungguh ia telah disakiti dengan yang lebih banyak dari ini, namun ia tetap bersabar."

وَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْكُمْ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِي شَيْئًا

Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga sering bersabda, "Janganlah ada seorang pun di antara kalian yang menyampaikan kepadaku sesuatu (yang buruk) tentang salah seorang sahabatku."

فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ

"Karena sesungguhnya aku ingin menemui kalian dalam keadaan hatiku bersih (dari prasangka)."