Penjelasan Tentang Makna Nafs (jiwa), Rụḥ (ruh), Qalb (hati), dan ‘Aql (akal)

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ 

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang 

كِتَابُ شَرْحِ عَجَائِبِ الْقَلْبِ 

Kitab Penjelasan tentang Keajaiban Hati 

وَهُوَ الْكِتَابُ الْأَوَّلُ مِنْ رُبُعِ الْمُهْلِكَاتِ 

Dan ini adalah kitab pertama dari bagian “(yang membinasakan)” 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ 

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي تَتَحَيَّرُ دُونَ إِدْرَاكِ جَلَالِهِ الْقُلُوبُ وَالْخَوَاطِرُ 

Segala puji bagi Allah yang membuat hati dan pikiran menjadi bingung karena tidak dapat memahami kemuliaan-Nya 

وَتَدْهَشُ فِي مَبَادِئِ إِشْرَاقِ أَنْوَارِهِ الْأَحَدَاقُ وَالْنَّوَاظِرُ 

dan membuat kelopak mata serta pandangan terperangah ketika awal cahaya-cahaya-Nya menyinari 

الْمُطَّلِعُ عَلَى خَفِيَّاتِ السَّرَائِرِ 

Yang mengetahui rahasia-rahasia yang tersembunyi dalam hati yang paling dalam 

الْعَالِمُ بِمَكْنُونَاتِ الضَّمَائِرِ 

Yang mengetahui isi batin yang disimpan dalam dada 

الْمُسْتَغْنِي فِي تَدْبِيرِ مَمْلَكَتِهِ عَنِ الْمُشَاوِرِ وَالْمَوَازِرِ 

Yang Mahakaya dalam mengatur kerajaan-Nya, tidak membutuhkan penasihat dan penolong 

مُقَلِّبُ الْقُلُوبِ وَغَفَّارُ الذُّنُوبِ 

Yang membolak-balikkan hati dan Pengampun dosa-dosa 

وَسَتَّارُ الْعُيُوبِ وَمُفَرِّجُ الْكُرُوبِ 

Penutup aib dan Pelapang kesusahan 

وَالصَّلَاةُ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ 

Semoga shalawat tercurah kepada penghulu para rasul 

وَجَامِعِ شَمْلِ الدِّينِ وَقَاطِعِ دَابِرِ الْمُلْحِدِينَ 

pengumpul seluruh kebaikan agama, dan pemutus akar orang-orang yang ingkar 

وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ وَسَلِّمْ كَثِيرًا 

dan kepada keluarga beliau yang baik lagi suci, serta salam yang banyak 

أَمَّا بَعْدُ 

Adapun setelah itu 

فَشَرَفُ الْإِنْسَانِ وَفَضْلُهُ الَّذِي فَاقَ بِهِ جُمْلَةً مِنْ أَصْنَافِ الْخَلْقِ بِاسْتِعْدَادِهِ لِمَعْرِفَةِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ 

Kemuliaan manusia dan keutamaannya—yang melebihi banyak golongan makhluk—berkat kesiapan untuk mengenal Allah Subhānahu wa Ta‘ālā 

الَّتِي هِيَ فِي الدُّنْيَا جَمَالُهُ وَكَمَالُهُ وَفَخْرُهُ 

yang di dunia menjadi keindahan, kesempurnaan, dan kebanggaannya 

وَفِي الآخِرَةِ عُدَّتُهُ وَذُخْرُهُ 

sedangkan di akhirat menjadi bekal dan simpanannya 

وَإِنَّمَا اسْتَعَدَّ لِلْمَعْرِفَةِ بِقَلْبِهِ لَا بِجَارِحَةٍ مِنْ جَوَارِحِهِ 

Sesungguhnya ia bersiap untuk makrifat (mengenal) dengan hatinya, bukan dengan salah satu anggota tubuhnya 

فَالْقَلْبُ هُوَ الْعَالَمُ بِاللَّهِ 

Maka hati itulah yang mengetahui Allah 

وَهُوَ الْمُتَقَرِّبُ إِلَى اللَّهِ 

dan itulah yang mendekat kepada Allah 

وَهُوَ الْعَامِلُ لِلَّهِ 

dan itulah yang beramal karena Allah 

وَهُوَ السَّاعِي إِلَى اللَّهِ 

dan itulah yang berupaya menuju Allah 

وَهُوَ الْمُكَاشِفُ بِمَا عِنْدَ اللَّهِ 

dan itulah yang tersingkap tentang apa yang ada di sisi Allah 

وَدَيْنُهُ لَدَيْهِ 

dan yang ada padanya di hadapan-Nya 

وَإِنَّمَا الْجَوَارِحُ أَتْبَاعٌ وَخُدَّمٌ وَآلَاتٌ 

Hanya saja anggota tubuh itu adalah pengikut, pelayan, dan alat 

يَسْتَعْمِلُهَا الْقَلْبُ اسْتِعْمَالَ الْمَالِكِ لِلْعَبْدِ 

yang dipakai oleh hati seperti penggunaan seorang pemilik terhadap seorang hamba 

وَاسْتِعْمَالَ الرَّاعِي لِلرَّعِيَّةِ 

dan seperti penggunaan penggembala terhadap ternak gembalaannya 

وَاسْتِعْمَالَ الصَّانِعِ لِلْآلَةِ 

serta seperti penggunaan seorang pembuat terhadap alat buatannya 

فَالْقَلْبُ هُوَ الْمَقْبُولُ عِنْدَ اللَّهِ إِذَا سَلِمَ مِنْ غَيْرِ اللَّهِ 

Maka hati itulah yang diterima di sisi Allah jika selamat dari selain Allah 

وَهُوَ الْمَحْجُوبُ عَنِ اللَّهِ إِذَا صَارَ مُسْتَغْرِقًا بِغَيْرِ اللَّهِ 

dan ia terhalang dari Allah jika menjadi tenggelam dalam selain Allah 

هُوَ الْمَطْلُوبُ وَهُوَ الْمُخَاطَبُ 

Ia adalah yang dituju (diminta) dan ia pula yang diajak bicara 

وَهُوَ الْمُعَاتَبُ وَهُوَ الَّذِي يُسْعِدُ بِالْقُرْبِ مِنَ اللَّهِ فَيَفْلَحُ إِذَا زَكَّاهُ 

ia juga yang diperingatkan/dikecam (jika lalai), dan ia yang berbahagia dengan dekat kepada Allah; ia beruntung bila ia disucikan 

وَهُوَ الَّذِي يَخِيبُ وَيَشْقَى إِذَا دَنَّسَهُ وَدَسَّاهُ 

dan ia yang gagal serta sengsara bila ia dikotori dan dipenuhi dosa 

وَهُوَ الْمُطِيعُ بِالْحَقِيقَةِ لِلَّهِ تَعَالَى 

Dialah yang benar-benar taat kepada Allah Ta‘ālā 

وَإِنَّمَا الَّذِي يَنْتَشِرُ عَلَى الْجَوَارِحِ مِنَ الْعِبَادَاتِ أَنْوَارُهُ 

dan yang tampak pada anggota tubuh berupa ibadah hanyalah cahaya-cahayanya 

وَهُوَ الْعَاصِي الْمُتَمَرِّدُ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى 

sedangkan ia yang durhaka lagi membangkang kepada Allah Ta‘ālā 

وَإِنَّمَا السَّارِي إِلَى الْأَعْضَاءِ مِنَ الْفَوَاحِشِ آثَارُهُ 

sesungguhnya yang mengalir kepada anggota tubuh berupa perbuatan keji adalah jejak-jejaknya 

بِإِظْلَامِهِ وَبِاسْتِنَارَتِهِ تَظْهَرُ مَحَاسِنُ الظَّاهِرِ وَمَسَاوِيهِ 

dengan kegelapan dan cahayanya tampak kebaikan-kebaikan yang lahir serta keburukan-keburukan 

إِذْ كُلُّ إِنَاءٍ يَنْضَحُ بِمَا فِيهِ 

sebab setiap bejana memancarkan apa yang ada di dalamnya 

وَهُوَ الَّذِي إِذَا عَرَفَهُ الْإِنْسَانُ فَقَدْ عَرَفَ نَفْسَهُ 

dan ia adalah yang jika manusia mengenalinya, maka ia telah mengenal dirinya 

وَإِذَا عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ 

dan jika ia mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya 

وَهُوَ الَّذِي إِذَا جَهِلَهُ الْإِنْسَانُ فَقَدْ جَهِلَ نَفْسَهُ 

dan jika manusia tidak mengenalinya, berarti ia telah bodoh terhadap dirinya 

وَإِذَا جَهِلَ نَفْسَهُ فَقَدْ جَهِلَ رَبَّهُ 

dan jika ia bodoh terhadap dirinya, maka ia telah bodoh terhadap Tuhannya 

وَمَنْ جَهِلَ قَلْبَهُ فَهُوَ بِغَيْرِهِ أَجْهَلُ 

Barang siapa yang bodoh terhadap hatinya, maka ia lebih bodoh lagi terhadap yang selainnya 

إِذْ أَكْثَرُ الْخَلْقِ جَاهِلُونَ بِقُلُوبِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ 

karena kebanyakan makhluk tidak mengetahui hati dan diri mereka 

وَقَدْ حِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ أَنْفُسِهِمْ 

dan telah dipisahkan antara mereka dan diri mereka 

فَإِنَّ اللَّهَ يُحَوِّلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ 

sesungguhnya Allah membuat penghalang antara seorang dan hatinya 

وَحِيلُولَتُهُ بِأَنْ يَمْنَعَهُ مِنْ مُشَاهَدَتِهِ وَمُرَاقَبَتِهِ 

dan penghalangan-Nya itu dengan mencegahnya menyaksikan, memantau, dan mengawasi 

وَمَعْرِفَةِ صِفَاتِهِ وَكَيْفِيَّةِ تَقَلُّبِهِ 

serta mengetahui sifat-sifatnya dan bagaimana hati itu berbolak-balik 

بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمٰنِ 

antara dua “jari” dari jari-jari Ar-Raḥmān 

وَأَنَّهُ كَيْفَ يَهْوِيُ مَرَّةً إِلَى أَسْفَلِ السَّافِلِينَ 

yaitu bagaimana ia sekali waktu jatuh ke tempat paling rendah 

وَيَنْخَفِضُ إِلَى أُفُقِ الشَّيَاطِينِ 

dan turun ke ufuk para setan 

وَكَيْفَ يَرْتَفِعُ أُخْرَى إِلَى أَعْلَى عَلِّيِّينَ 

dan bagaimana ia waktu lain naik ke tempat yang paling tinggi, 

وَيَرْتَقِي إِلَى عَالَمِ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ 

dan naik menuju alam para malaikat yang dekat 

وَمَنْ لَمْ يَعْرِفْ قَلْبَهُ لِيَرَاقِبَهُ وَيَرْعَاهُ وَيَتَرَصَّدْ لِمَا يَلُوحُ مِنْ خَزَائِنِ الْمَلَكُوتِ عَلَيْهِ 

Barang siapa yang tidak mengenal hatinya untuk mengawasinya, menjaganya, dan menanti/menyelidiki apa yang tampak dari perbendaharaan kerajaan (alam gaib) terhadapnya 

فَهُوَ مِمَّنْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ 

maka ia termasuk orang yang Allah Ta‘ālā firmankan tentang mereka 

نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ 

“mereka melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.” 

أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ 

Mereka itulah orang-orang yang fasik 

فَمَعْرِفَةُ الْقَلْبِ وَحَقِيقَةُ أَوْصَافِهِ 

Maka mengenal hati dan mengetahui hakikat sifat-sifatnya 

أَصْلُ الدِّينِ وَأَسَاسُ طَرِيقِ السَّالِكِينَ 

adalah pokok agama dan dasar jalan para salik (penempuh menuju Allah) 

وَإِذْ فَرَغْنَا مِنَ الشَّطْرِ الْأَوَّلِ مِنْ هَذَا الْكِتَابِ مِنَ النَّظَرِ فِيمَا يَجْرِي عَلَى الْجَوَارِحِ مِنَ الْعِبَادَاتِ وَالْعَادَاتِ 

Ketika kami telah selesai dari bagian pertama kitab ini, tentang pembahasan apa yang terjadi pada anggota tubuh berupa ibadah-ibadah dan kebiasaan-kebiasaan 

وَهُوَ الْعِلْمُ الظَّاهِرُ 

yaitu ilmu yang tampak 

وَوَعَدْنَا أَنْ نُشَرِّحَ فِي الشَّطْرِ الثَّانِي مَا يَجْرِي عَلَى الْقَلْبِ مِنَ الصِّفَاتِ الْمُهْلِكَاتِ وَالْمُنَجِّيَاتِ 

dan kami berjanji untuk menjelaskan pada bagian kedua apa yang terjadi pada hati berupa sifat-sifat yang membinasakan dan yang menyelamatkan 

وَهُوَ الْعِلْمُ الْبَاطِنُ 

yaitu ilmu yang tersembunyi 

فَلَا بُدَّ أَنْ نُقَدِّمَ عَلَيْهِ كِتَابَيْنِ 

maka tidak mungkin tidak mendahuluinya dengan dua kitab 

كِتَابًا فِي شَرْحِ عَجَائِبِ صِفَاتِ الْقَلْبِ وَأَخْلَاقِهِ 

sebuah kitab tentang penjelasan keajaiban sifat-sifat hati dan akhlaknya 

وَكِتَابًا فِي كَيْفِيَّةِ رِيَاضَةِ الْقَلْبِ وَتَهْذِيبِ أَخْلَاقِهِ 

dan sebuah kitab tentang bagaimana melatih hati dan membersihkan akhlaknya 

ثُمَّ نَنْدَفِعُ بَعْدَ ذَلِكَ فِي تَفْصِيلِ الْمُهْلِكَاتِ وَالْمُنَجِّيَاتِ 

lalu setelah itu barulah kami membahas secara rinci sifat-sifat yang membinasakan dan yang menyelamatkan 

فَلنَذْكُرِ الآنَ مِنْ شَرْحِ عَجَائِبِ الْقَلْبِ بِطَرِيقِ ضَرْبِ الْأَمْثَالِ 

Maka sekarang kita sebutkan penjelasan tentang keajaiban hati dengan cara membuat perumpamaan 

مَا يُقَرِّبُ إِلَى الْأَفْهَامِ 

agar mendekatkan pemahaman 

فَإِنَّ التَّصْرِيحَ بِعَجَائِبِهِ وَأَسْرَارِهِ الدَّاخِلَةِ فِي جُمْلَةِ عَالَمِ الْمَلَكُوتِ 

Sebab menyebutkan secara gamblang keajaiban-keajaiban dan rahasianya yang termasuk dalam lingkungan alam malakut 

يَمُكُّلُ عَنْ دَرْكِهِ أَكْثَرُ الْأَفْهَامِ 

membuat kebanyakan pemahaman menjadi sulit untuk menjangkaunya 

بَيَانُ مَعْنَى النَّفْسِ وَالرُّوحِ وَالْقَلْبِ وَالْعَقْلِ وَمَا هُوَ الْمُرَادُ بِهَذِهِ الْأَسْمَاءِ 

Penjelasan tentang makna nafs (jiwa), rụḥ (ruh), qalb (hati), dan ‘aql (akal), serta apa yang dimaksud dengan istilah-istilah ini 

اعْلَمْ أَنَّ هَذِهِ الْأَسْمَاءَ الْأَرْبَعَةَ تُسْتَعْمَلُ فِي هَذِهِ الْأَبْوَابِ 

Ketahuilah bahwa empat nama (istilah) ini digunakan dalam bab-bab ini 

وَيَقِلُّ فِي فُحُولِ الْعُلَمَاءِ مَنْ يُحِيطُ بِهَذِهِ الْأَسْمَاءِ 

dan sangat sedikit di antara para ulama besar yang benar-benar menguasai istilah-istilah tersebut 

وَاخْتِلَافِ مَعَانِيهَا وَحُدُودِهَا وَمُسَمَّيَاتِهَا 

serta perbedaan maknanya, batas-batasnya, dan apa yang dimaksud oleh masing-masing nama 

وَأَكْثَرُ الْأَغَالِيطِ مَنْشَؤُهَا الْجَهْلُ بِمَعْنَى هَذِهِ الْأَسْمَاءِ 

dan sebagian besar kesalahan berawal dari ketidaktahuan tentang makna istilah-istilah ini 

وَاشْتِرَاكِهَا بَيْنَ مُسَمَّيَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ 

serta karena istilah-istilah itu dipakai untuk hal-hal yang berbeda-beda 

وَنَحْنُ نُشَرِّحُ فِي مَعْنَى هَذِهِ الْأَسْمَاءِ مَا يَتَعَلَّقُ بِغَرَضِنَا 

Dan kami akan jelaskan tentang makna istilah-istilah ini apa yang berkaitan dengan tujuan kami 

اللَّفْظُ الْأَوَّلُ لَفْظُ الْقَلْبِ 

Istilah pertama: lafaz “al-qalb” (hati) 

وَهُوَ يُطْلَقُ لِمَعْنَيَيْنِ 

ia dipakai untuk dua makna 

أَحَدُهُمَا اللَّحْمُ الصَّنَوْبَرِيُّ الشَّكْلِ الْمُودَعُ فِي الْجَانِبِ الْأَيْسَرِ مِنَ الصَّدْرِ 

Pertama: daging berbentuk kerucut (seperti pinus) yang terletak di sisi kiri dada 

وَهُوَ لَحْمٌ مَخْصُوصٌ 

ia adalah daging khusus 

وَفِي بَاطِنِهِ تَجْوِيفٌ 

di dalamnya ada rongga 

وَفِي ذَلِكَ التَّجْوِيفِ دَمٌ أَسْوَدُ 

dan di dalam rongga itu ada darah yang hitam 

هُوَ مَنْبَعُ الرُّوحِ وَمَعْدِنُهَا 

itulah sumber ruh dan tempat asalnya 

وَلَسْنَا نَقْصِدُ الآنَ شَرْحَ شَكْلِهِ وَكَيْفِيَّتِهِ 

dan kami tidak bermaksud sekarang menjelaskan bentuk maupun caranya 

إِذْ يَتَعَلَّقُ بِهِ غَرَضُ الْأَطِبَّاءِ 

karena yang berkaitan dengannya adalah kepentingan para dokter 

وَلَا يَتَعَلَّقُ بِهِ الْأَغْرَاضُ الدِّينِيَّةُ 

sedangkan urusan agama tidak terkait dengan itu 

وَهَذَا الْقَلْبُ مَوْجُودٌ لِلْبَهَائِمِ 

dan “hati” semacam ini terdapat pada hewan-hewan 

بَلْ وَهُوَ مَوْجُودٌ لِلْمَيِّتِ 

bahkan ia juga ada pada orang yang telah mati 

وَإِذَا أَطْلَقْنَا لَفْظَ الْقَلْبِ فِي هَذَا الْكِتَابِ 

dan jika kami menyebut “qalb” dalam kitab ini 

لَمْ نَعْنِ بِهِ ذَلِكَ 

kami tidak bermaksud dengan makna itu 

فَهُوَ قِطْعَةُ لَحْمٍ لَا قَدْرَ لَهَا 

sebab itu hanya sepotong daging yang tidak bernilai (yang tidak menjadi pusat maksud) 

وَهُوَ مِنْ عَالَمِ الْمُلْكِ وَالشَّهَادَةِ 

dan ia termasuk dari alam duniawi (malik) dan alam yang disaksikan (syahādah) 

تُدْرِكُهُ الْبَهَائِمُ بِحَاسَّةِ الْبَصَرِ 

hewan-hewan dapat mengetahuinya dengan indera penglihatan 

فَضْلًا عَنِ الْآدَمِيِّينَ 

apalagi manusia 

وَالْمَعْنَى الثَّانِي هُوَ لَطِيفَةٌ رَبَّانِيَّةٌ رُوحَانِيَّةٌ 

Adapun makna kedua: ia adalah sesuatu yang halus, ketuhanan, ruhani 

لَهَا بِهَذَا الْقَلْبِ الْجَسْمَانِيِّ تَعَلُّقٌ 

yang memiliki keterkaitan dengan jantung/bagian tubuh ini 

وَتِلْكَ اللَّطِيفَةُ هِيَ حَقِيقَةُ الْإِنْسَانِ 

dan kehalusan itulah hakikat manusia 

وَهُوَ الْمُدْرِكُ الْعَالِمُ الْعَارِفُ مِنَ الْإِنْسَانِ 

yaitu bagian manusia yang menangkap, mengetahui, dan mengenal 

وَهُوَ الْمُخَاطَبُ وَالْمُعَاقَبُ وَالْمُعَاتَبُ وَالْمَطْلُوبُ 

ia pula yang diajak bicara, yang diberi ganjaran/konsekuensi, yang diperingatkan, dan yang dituntut 

وَلَهَا عَلَاقَةٌ مَعَ الْقَلْبِ الْجَسْمَانِيِّ 

ia memiliki hubungan dengan qalb jasmani 

وَقَدْ تَحَيَّرَتْ عُقُولُ أَكْثَرِ الْخَلْقِ فِي إدْرَاكِ وَجْهِ عِلَاقَتِهِ 

dan akal kebanyakan makhluk menjadi bingung dalam memahami hakikat hubungan itu 

فَإِنَّ تَعَلُّقَهُ بِهِ يُضَاهِي تَعَلُّقَ الْأَعْرَاضِ بِالْأَجْسَادِ 

karena keterikatannya kepadanya mirip dengan keterikatan sifat-sifat (aksiden) pada tubuh-tubuh 

أَوْ تَعَلُّقَ الْوَصْفِ بِالْمَوْصُوفِ 

atau keterikatan sifat dengan yang disifati 

أَوْ تَعَلُّقَ الْمُسْتَعْمِلِ لِلْآلَةِ بِالْآلَةِ 

atau keterikatan yang memakai alat dengan alat itu 

أَوْ تَعَلُّقَ الْمُتَمَكِّنِ بِالْمَكَانِ 

atau keterikatan yang “menetap” dengan tempatnya 

وَشَرْحُ ذَلِكَ مِمَّا نَتَوَقَّاهُ لِمَعْنَيَيْنِ 

dan penjelasan tentang hal itu—kami hindari—karena dua alasan 

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ مُتَعَلِّقٌ بِعُلُومِ الْمُكَاشَفَةِ 

pertama: karena itu berkaitan dengan ilmu-ilmu kasyaf (penyingkapan) 

وَلَيْسَ غَرَضُنَا مِنْ هَذَا الْكِتَابِ إِلَّا عُلُومَ الْمُعَامَلَةِ 

dan tujuan kitab ini hanyalah ilmu-ilmu amaliah (mu‘āmalah) 

وَالثَّانِي أَنَّ تَحْقِيقَهُ يَسْتَدْعِي إِفْشَاءَ سِرِّ الرُّوحِ 

kedua: karena mengungkap hakikatnya menuntut membuka rahasia ruh 

وَذَلِكَ مِمَّا لَمْ يَتَكَلَّمْ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (١) 

hal itu termasuk yang tidak dibicarakan oleh Rasulullah (1) 

فَلَيْسَ لِغَيْرِهِ أَنْ يَتَكَلَّمَ فِيهِ 

maka tidak pantas selain beliau membicarakannya 

وَالْمَقْصُودُ أَنَّا إِذَا أَطْلَقْنَا لَفْظَ الْقَلْبِ فِي هَذَا الْكِتَابِ 

yang dimaksud adalah bahwa jika kami menyebut “qalb” dalam kitab ini 

أَرَدْنَا بِهِ تِلْكَ اللَّطِيفَةَ 

kami maksudkan kehalusan (yang kedua) itu 

وَغَرَضُنَا ذِكْرُ أَوْصَافِهَا وَأَحْوَالِهَا 

dan tujuan kami adalah menyebut sifat-sifat serta keadaan-keadaannya 

لَا ذِكْرُ حَقِيقَتِهَا فِي ذَاتِهَا 

bukan menyebut hakikatnya pada dirinya 

وَعِلْمُ الْمُعَامَلَةِ يَفْتَقِرُ إِلَى مَعْرِفَةِ صِفَاتِهَا وَأَحْوَالِهَا 

ilmu mu‘āmalah memerlukan pengetahuan tentang sifat-sifat dan keadaan-keadaannya 

وَلَا يَفْتَقِرُ إِلَى ذِكْرِ حَقِيقَتِهَا 

tidak memerlukan penyebutan hakikatnya 

اللَّفْظُ الثَّانِي الرُّوحُ 

Istilah kedua: lafaz “ar-rūḥ” (ruh) 

وَهُوَ أَيْضًا يُطْلَقُ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِجِنْسِ غَرَضِنَا لِمَعْنَيَيْنِ 

ia juga digunakan dalam hal yang berkaitan dengan tujuan kami untuk dua makna 

أَحَدُهُمَا جِسْمٌ لَطِيفٌ مَنْبَعُهُ تَجْوِيفُ الْقَلْبِ الْجَسْمَانِيِّ 

Pertama: sesuatu yang halus berupa badan, sumbernya adalah rongga dari qalb jasmani 

فَيَنْتُشِرُ بِوَاسِطَةِ الْعُرُوقِ الضَّوَارِبِ إِلَى سَائِرِ أَجْزَاءِ الْبَدَنِ 

maka ia menyebar melalui urat-urat yang mengalir ke seluruh bagian tubuh 

وَجَرْيَانُهُ فِي الْبَدَنِ 

dan peredarannya di dalam tubuh 

وَفَيَضَانُ أَنْوَارِ الْحَيَاةِ وَالْحِسِّ وَالْبَصَرِ وَالسَّمْعِ وَالشَّمِّ مِنْهَا عَلَى أَعْضَائِهَا 

serta limpahan cahaya kehidupan, indera, penglihatan, pendengaran, dan penciuman darinya kepada anggota tubuh— 

يُضَاهِي فَيَضَانَ النُّورِ مِنْ سِرَاجٍ يُدَارُ فِي زَوَايَا الْبَيْتِ 

itu mirip seperti limpahan cahaya dari sebuah lampu yang dinyalakan/beredar di sudut-sudut rumah 

فَلَا يَنْتَهِي إِلَى جُزْءٍ مِنَ الْبَيْتِ إِلَّا اسْتَنَارَ بِهِ 

dan tidak ada bagian rumah kecuali menjadi terang olehnya 

وَالْحَيَاةُ مِثَالُهَا النُّورُ الْحَاصِلُ فِي الْحِيطَانِ 

kehidupan contohnya adalah cahaya yang terdapat di dinding-dinding 

وَالرُّوحُ مِثَالُهَا السِّرَاجُ 

ruh contohnya adalah lampunya 

وَسُرَيَانُ الرُّوحِ وَحَرَكَتُهُ فِي الْبَاطِنِ مِثَالُ حَرَكَةِ السِّرَاجِ فِي جَوَانِبِ الْبَيْتِ 

penyebaran ruh dan geraknya di bagian dalam contohnya seperti gerak lampu di sudut-sudut rumah 

بِتَحْرِيكِ مُحَرِّكِهِ 

karena digerakkan oleh penggeraknya 

وَالْأَطِبَّاءُ إِذَا أَطْلَقُوا لَفْظَ الرُّوحِ أَرَادُوا بِهِ هَذَا الْمَعْنَى 

dan para dokter jika menyebut lafaz “ar-rūḥ”, mereka maksudkan makna ini 

وَهُوَ بِخَارٌ لَطِيفٌ أَنْضَجَتْهُ حَرَارَةُ الْقَلْبِ 

yaitu uap halus yang dimatangkan oleh panas qalb 

وَلَيْسَ شَرْحُهُ مِنْ غَرَضِنَا 

dan penjelasannya bukan termasuk tujuan kami 

لِأَنَّ الْمُتَعَلِّقَ بِهِ غَرَضُ الْأَطِبَّاءِ الَّذِينَ يَعَالِجُونَ الْأَبْدَانَ 

karena urusan yang berkaitan dengan itu adalah kepentingan dokter yang mengobati tubuh 

فَأَمَّا غَرَضُ أَطِبَّاءِ الدِّينِ الْمُعَالِجِينَ لِلْقَلْبِ حَتَّى يَنْسَاقَ إِلَى جَوَارِ رَبِّ الْعَالَمِينَ 

adapun tujuan dokter-dokter agama yang mengobati hati agar hati itu tertuju kepada kedekatan dengan Rabb semesta alam 

فَلَيْسَ يَتَعَلَّقُ بِشَرْحِ تِلْكَ الرُّوحِ أَصْلًا 

maka sama sekali tidak berkaitan dengan penjelasan ruh jenis ini 

وَالْمَعْنَى الثَّانِي هُوَ اللَّطِيفَةُ الْعَالِمَةُ الْمُدْرِكَةُ مِنَ الْإِنْسَانِ 

Makna kedua: ia adalah kehalusan yang mengetahui dan memahami yang ada pada manusia 

وَهُوَ الَّذِي شَرَحْنَاهُ فِي أَحَدِ مَعَانِي الْقَلْبِ 

dan itulah yang telah kami jelaskan dalam salah satu makna qalb 

وَهُوَ الَّذِي أَرَادَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِقَوْلِهِ تَعَالَى 

dan itulah yang Allah Ta‘ālā kehendaki dengan firman-Nya 

قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي 

“Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Rabbku.” 

وَهُوَ أَمْرٌ عَجِيبٌ رَبَّانِيٌّ تَعْجَزُ عَنْ دَرْكِ حَقِيقَتِهِ أَكْثَرُ الْعُقُولِ وَالْأَفْهَامِ 

itu adalah perkara yang sangat menakjubkan, ketuhanan, yang membuat kebanyakan akal dan pemahaman tidak mampu memahami hakikatnya 

اللَّفْظُ الثَّالِثُ النَّفْسُ 

Istilah ketiga: lafaz “an-nafs” (jiwa) 

وَهُوَ أَيْضًا مُشْتَرَكٌ بَيْنَ مَعَانٍ مُخْتَلِفَةٍ 

ia juga bersama-sama dipakai untuk beberapa makna 

وَيَتَعَلَّقُ بِغَرَضِنَا مِنْهُ مَعْنَيَانِ 

dan yang berkaitan dengan tujuan kami darinya ada dua makna 

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ يُرَادُ بِهِ الْمَعْنَى الْجَامِعُ لِقُوَّةِ الْغَضَبِ وَالشَّهْوَةِ فِي الْإِنْسَانِ 

Pertama: ia dimaksudkan sebagai makna yang merangkum kekuatan marah dan syahwat pada manusia— 

عَلَى مَا سَيَأْتِي شَرْحُهُ 

sebagaimana akan dijelaskan nanti 

وَهَذَا الِاسْتِعْمَالُ هُوَ الْغَالِبُ عَلَى أَهْلِ التَّصَوُّفِ 

dan pemakaian ini adalah yang paling sering di kalangan para sufi 

فَإِنَّهُمْ يُرِيدُونَ بِالنَّفْسِ الْأَصْلَ الْجَامِعَ لِلصِّفَاتِ الْمَذْمُومَةِ مِنَ الْإِنْسَانِ 

karena mereka menghendaki dengan “nafs” inti yang menghimpun sifat-sifat tercela pada diri manusia 

فَيَقُولُونَ لَا بَدَّ مِنْ مُجَاهَدَةِ النَّفْسِ وَكَسْرِهَا 

maka mereka berkata: harus ada perjuangan (mujāhadah) melawan nafs, dan mematahkan/menundukkannya 

وَإِلَيْهَا الإِشَارَةُ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 

dan kepadanya isyarat terdapat pada sabda beliau  

أَعْدَى عَدُوِّكَ نَفْسُكَ الَّتِي بَيْنَ جَنْبَيْكَ (١) 

“Paling musuhmu adalah nafs-mu yang berada di antara kedua lambungmu.” (1) 

أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي كِتَابِ الزُّهْدِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ 

Diriwayatkan oleh al-Bayhaqī dalam kitab az-Zuhd dari hadis Ibnu ‘Abbās 

وَفِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ غَزْوَانَ أَحَدُ الْوَضَّاعِينَ 

dan di dalamnya ada Muhammad bin ‘Abdurraḥmān bin Ghazwān, salah seorang pemalsu hadis 

وَالْمَعْنَى الثَّانِي هِيَ اللَّطِيفَةُ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا 

Makna kedua: ia adalah kehalusan yang telah kami sebutkan 

وَهِيَ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا أَنَّهَا هِيَ الإِنْسَانُ بِالْحَقِيقَةِ 

yaitu yang telah kami jelaskan bahwa ia adalah manusia pada hakikatnya 

وَهِيَ نَفْسُ الإِنْسَانِ وَذَاتُهُ 

yakni jiwa manusia dan dirinya (zatnya) 

وَلَكِنَّهَا تُوَصَّفُ بِأَوْصَافٍ مُخْتَلِفَةٍ 

tetapi ia diberi sifat dengan sifat-sifat yang berbeda 

بِحَسَبِ اخْتِلَافِ أَحْوَالِهَا 

sesuai perbedaan keadaan-keadaannya 

فَإِذَا سَكَنَتْ تَحْتَ الْأَمْرِ وَزَالَ عَنْهَا الِاضْطِرَابُ بِسَبَبِ مُعَارَضَةِ الشَّهَوَاتِ 

Jika ia tenang di bawah perintah (agama), dan gejolak darinya hilang karena menentang syahwat 

سُمِّيَتِ النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ 

maka ia disebut “an-nafsu al-muṭma’innah” (jiwa yang tenang) 

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي مِثْلِهَا 

Allah Ta‘ālā berfirman tentang contohnya 

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً 

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dalam keadaan ridha dan diridhai.” 

وَالنَّفْسُ بِالْمَعْنَى الْأَوَّلِ لَا يَتَصَوَّرُ رُجُوعُهَا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى 

Sedangkan nafs dengan makna pertama tidak mungkin kembali kepada Allah Ta‘ālā 

فَهِيَ مُبَاعِدَةٌ عَنِ اللَّهِ 

karena ia menjauh dari Allah 

وَهِيَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ 

dan ia termasuk golongan setan 

وَإِذَا لَمْ يَتِمَّ سُكُونُهَا 

Jika ketenangannya tidak sempurna 

وَلَكِنَّهَا صَارَتْ مُدَافِعَةً لِلنَّفْسِ الشَّهْوَانِيَّةِ 

tetapi ia menjadi penolak terhadap nafs yang dipenuhi syahwat 

وَمُعْتَرِضَةً عَلَيْهَا 

dan menjadi penentang terhadapnya 

سُمِّيَتْ النَّفْسُ اللَّوَّامَةُ 

maka ia disebut “an-nafsu al-lawwāmah” (jiwa yang mencela) 

لِأَنَّهَا تُلُومُ صَاحِبَهَا عِنْدَ تَقْصِيرِهِ فِي عِبَادَةِ مَوْلَاهُ 

karena ia mencela pemiliknya ketika ia lalai dalam beribadah kepada tuannya 

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى 

Allah Ta‘ālā berfirman 

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ 

“dan Aku bersumpah demi jiwa yang menyesali (dirinya sendiri)” 

وَإِنْ تَرَكَتِ اعْتِرَاضَاتِهَا وَأَذْعَنَتْ وَأَطَاعَتْ لِمُقْتَضَى الشَّهَوَاتِ وَدَوَاعِي الشَّيْطَانِ 

Jika ia meninggalkan penolakannya, tunduk, dan mentaati tuntutan syahwat serta dorongan-dorongan setan 

سُمِّيَتْ النَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوْءِ 

maka ia disebut “an-nafsu al-ammārah bis-sū’” (jiwa yang menyuruh kepada keburukan) 

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى إِخْبَارًا عَنْ يُوسُفَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَوِ امْرَأَةِ الْعَزِيزِ 

Allah Ta‘ālā berfirman sebagai kabar tentang Nabi Yusuf ‘alaihis-salām atau istri al-‘Azīz 

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ 

“Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan). Sesungguhnya nafs itu benar-benar menyuruh kepada keburukan.” 

وَقَدْ يَجُوزُ أَنْ يُقَالَ أَنْ الْمُرَادَ بِالْأَمَّارَةِ بِالسُّوءِ 

Dan mungkin saja dikatakan bahwa yang dimaksud dengan “amarah bis-sū’” 

هِيَ النَّفْسُ بِالْمَعْنَى الْأَوَّلِ 

adalah nafs dengan makna pertama 

فَإِذًا النَّفْسُ بِالْمَعْنَى الْأَوَّلِ مَذْمُومَةٌ غَايَةَ الذَّمِّ 

maka jika demikian, nafs dengan makna pertama tercela sedemikian parah 

وَبِالْمَعْنَى الثَّانِي مَحْمُودَةٌ 

sedangkan dengan makna kedua terpuji 

لِأَنَّهَا نَفْسُ الْإِنْسَانِ أَيْ ذَاتُهُ وَحَقِيقَتُهُ الْعَالِمَةُ بِاللَّهِ 

karena ia adalah jiwa manusia, yakni zat dan hakikatnya yang mengetahui Allah 

وَسَائِرِ الْمَعْلُومَاتِ 

serta seluruh yang dapat diketahui 

اللَّفْظُ الرَّابِعُ الْعَقْلُ 

Istilah keempat: lafaz “al-‘aql” (akal) 

وَهُوَ أَيْضًا مُشْتَرَكٌ لِمَعَانٍ مُخْتَلِفَةٍ 

ia juga digunakan untuk beberapa makna yang berbeda 

ذَكَرْنَاهَا فِي كِتَابِ الْعِلْمِ 

dan kami telah menyebutkannya dalam kitab “Ilmu” 

وَالْمُتَعَلِّقُ بِغَرَضِنَا مِنْ جُمْلَتِهَا مَعْنَيَانِ 

yang berkaitan dengan tujuan kami di antaranya ada dua makna 

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ قَدْ يُطْلَقُ وَيُرَادُ بِهِ الْعِلْمُ بِحَقَائِقِ الْأُمُورِ 

Pertama: ia terkadang dipakai untuk maksud “ilmu tentang hakikat-hakikat perkara” 

فَيَكُونُ عِبَارَةً عَنْ صِفَةِ الْعِلْمِ الَّتِي مَحَلُّهَا الْقَلْبُ 

maka ia menjadi ungkapan untuk sifat ilmu yang tempatnya adalah hati 

وَالثَّانِي أَنَّهُ قَدْ يُطْلَقُ وَيُرَادُ بِهِ الْمُدْرِكُ لِلْعُلُومِ 

Kedua: ia terkadang dipakai untuk maksud “yang memahami ilmu-ilmu” 

فَيَكُونُ هُوَ الْقَلْبَ أَيْ تِلْكَ اللَّطِيفَةَ 

maka itu adalah hati, yakni kehalusan (yang dimaksud) tadi 

وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ كُلَّ عَالِمٍ فَلَهُ فِي نَفْسِهِ وُجُودٌ هُوَ أَصْلٌ قَائِمٌ بِنَفْسِهِ 

Kita tahu bahwa setiap yang mengetahui memiliki keberadaan dalam dirinya sendiri, yang menjadi dasar yang berdiri sendiri 

وَالْعِلْمُ صِفَةُ حَالٍ فِيهِ 

sedangkan ilmu adalah sifat/keadaan yang ada pada dirinya 

وَالصِّفَةُ غَيْرُ الْمُوصُوفِ 

dan sifat berbeda dari yang disifati 

وَالْعَقْلُ قَدْ يُطْلَقُ وَيُرَادُ بِهِ صِفَةُ الْعَالِمِ 

dan “akal” bisa saja dipakai untuk maksud sifat dari yang mengetahui 

وَقَدْ يُطْلَقُ وَيُرَادُ بِهِ مَحَلُّ الإِدْرَاكِ أَعْنِي الْمُدْرِكُ 

dan bisa juga dipakai untuk maksud tempat pemahaman, yaitu “yang memahami” 

وَهُوَ الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 

dan itulah yang dimaksud dengan sabda beliau  

أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْعَقْلَ 

“Makhluk pertama yang Allah ciptakan adalah akal” 

وَفِي الْخَبَرِ أَنَّهُ قَالَ لَهُ أَقْبِلْ فَأَقْبَلَ 

dalam riwayat disebutkan bahwa Allah berfirman kepadanya, “Ahadaplah,” maka ia pun menghadap 

وَقَالَ أَدْبِرْ فَأَدْبَرَ 

lalu Allah berfirman, “Berlungurlah (menjauh),” maka ia pun menjauh 

الْحَدِيثُ تَقَدَّمَ فِي الْعِلْمِ 

Hadis ini telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasan “Ilmu” 

فَإِذًا الْعِلْمُ عَرَضٌ لَا يَتَصَوَّرُ أَنْ يَكُونَ أَوَّلَ مَخْلُوقٍ 

Jadi ilmu adalah sesuatu yang aksidental (arāḍ), tidak mungkin ia menjadi ciptaan pertama 

بَلْ لَا بَدَّ وَأَنْ يَكُونَ الْمَحَلُّ مَخْلُوقًا قَبْلَهُ أَوْ مَعَهُ 

bahkan pasti tempatnya diciptakan sebelum itu atau bersama dengannya 

وَلِأَنَّهُ لَا يُمْكِنُ الْخِطَابُ مَعَهُ 

dan karena tidak mungkin melakukan خطاب kepadanya (sebagai objek langsung) 

وَفِي الْخَبَرِ أَنَّهُ قَالَ لَهُ تَعَالَى أَقْبِلْ فَأَقْبَلَ ثُمَّ قَالَ لَهُ أَدْبِرْ فَأَدْبَرَ 

dalam riwayat disebutkan bahwa Allah berfirman kepadanya, “Ahadaplah,” maka ia pun menghadap; lalu Allah berfirman, “Berlungurlah,” maka ia pun menjauh 

فَإِذًا قَدْ انْكَشَفَ لَكَ أَنَّ مَعَانِي هَذِهِ الْأَسْمَاءِ مَوْجُودَةٌ 

Maka jelas bagimu bahwa makna-makna dari nama-nama ini memang ada 

وَأَنَّهَا الْقَلْبُ الْجِسْمَانِيُّ وَالرُّوحُ الْجِسْمَانِيُّ وَالنَّفْسُ الشَّهْوَانِيَّةُ وَالْعُلُومُ 

yaitu qalb jasmani, rūḥ jasmani, nafs yang dipenuhi syahwat, dan ilmu-ilmu 

فَهَذِهِ أَرْبَعَةُ مَعَانٍ يُطْلَقُ عَلَيْهَا الْأَلْفَاظُ الْأَرْبَعَةُ 

ini empat makna yang menjadi maksud bagi empat istilah (lafaz) tersebut 

وَمَعْنًى خَامِسٌ وَهُوَ اللَّطِيفَةُ الْعَالِمَةُ الْمُدْرِكَةُ مِنَ الْإِنْسَانِ 

dan ada makna kelima, yaitu kehalusan yang mengetahui dan memahami dari manusia 

وَالْأَلْفَاظُ الْأَرْبَعَةُ بِجُمْلَتِهَا تَتَوَارَدُ عَلَيْهَا 

seluruh keempat istilah itu dapat diberikan pada makna-makna tersebut 

فَالْمَعَانِي خَمْسَةٌ وَالْأَلْفَاظُ أَرْبَعَةٌ 

jadi maknanya ada lima, sedangkan istilahnya ada empat 

وَكُلُّ لَفْظٍ أُطْلِقَ لِمَعْنَيَيْنِ 

dan setiap lafaz dipakai untuk dua makna 

وَأَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ قَدِ التَبَسَ عَلَيْهِمُ اخْتِلَافُ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ وَتَوَارُدُهَا 

kebanyakan ulama telah keliru dalam membedakan perbedaan istilah-istilah ini dan pemakaiannya yang berpindah-pindah 

فَتَرَاهُمْ يَتَكَلَّمُونَ فِي الْخَوَاطِرِ 

sehingga engkau melihat mereka berbicara tentang bisikan-bisikan (khawāṭir) 

وَيَقُولُونَ هَذَا خَاطِرُ الْعَقْلِ وَهَذَا خَاطِرُ الرُّوحِ 

seraya mereka berkata: ini adalah bisikan akal, dan ini adalah bisikan ruh 

وَهَذَا خَاطِرُ الْقَلْبِ وَهَذَا خَاطِرُ النَّفْسِ 

ini bisikan hati, dan ini bisikan nafs 

وَلَا يَدْرِي النَّاظِرُ اخْتِلَافَ مَعَانِي هَذِهِ الْأَسْمَاءِ 

sedangkan orang yang menilai tidak mengetahui perbedaan makna-makna nama-nama ini 

وَلِأَجْلِ كَشْفِ الْغِطَاءِ عَنْ ذَلِكَ قَدَّمْنَا شَرْحَ هَذِهِ الْأَسْمَاءِ 

untuk menyingkap kerancuan itu, kami mendahulukan penjelasan tentang istilah-istilah ini 

وَحَيْثُ وَرَدَ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ لَفْظُ الْقَلْبِ 

dan bila dalam Al-Qur’an dan Sunnah disebut lafaz “qalb” 

فَالْمُرَادُ بِهِ الْمَعْنَى الَّذِي يَفْهَمُ مِنَ الْإِنْسَانِ وَيَعْرِفُ حَقِيقَةَ الْأَشْيَاءِ 

maksudnya adalah makna yang memahami dari diri manusia dan mengetahui hakikat segala sesuatu 

وَقَدْ يُكَنَّى عَنْهُ بِالْقَلْبِ الَّذِي فِي الصَّدْرِ 

dan ia bisa disebut dengan kinayah (kiasan) “hati yang ada di dalam dada” 

لِأَنَّ بَيْنَ تِلْكَ اللَّطِيفَةِ وَجِسْمِ الْقَلْبِ عِلَاقَةً خَاصَّةً 

karena terdapat hubungan yang khusus antara kehalusan itu dan tubuh qalb 

فَإِنَّهَا وَإِنْ كَانَتْ مُتَعَلِّقَةً بِسَائِرِ الْبَدَنِ 

sesungguhnya ia memang terkait dengan seluruh tubuh 

وَمُسْتَعْمَلَةً لَهُ 

dan dipakai/diaktualkan olehnya 

وَلَكِنَّهَا تَتَعَلَّقُ بِهِ بِوَاسِطَةِ الْقَلْبِ 

tetapi keterkaitannya padanya melalui hati (qalb) 

فَتَعَلُّقُهَا الْأَوَّلُ بِالْقَلْبِ 

maka keterkaitan pertama ia adalah dengan qalb 

وَكَأَنَّهُ مَحَلُّهَا وَمَمْلَكَتُهَا وَعَالَمُهَا وَمُطِيَّتُهَا 

seakan-akan ia adalah tempatnya, kerajaannya, dunianya, dan kendaraannya 

وَلِذٰلِكَ شَبَّهَ سَهْلُ التُّسْتَرِيِّ الْقَلْبَ بِالْعَرْشِ وَالصَّدْرَ بِالْكُرْسِيِّ 

karena itulah Sahl at-Tustarī menyamakan qalb dengan ‘Arsy dan dada dengan al-Kursī 

فَقَالَ الْقَلْبُ هُوَ الْعَرْشُ وَالصَّدْرُ هُوَ الْكُرْسِيُّ 

lalu beliau berkata: “qalb adalah ‘Arsy, dan dada adalah al-Kursī” 

وَلَا يُظَنُّ بِهِ أَنَّهُ يَرَى أَنَّ الْعَرْشَ كَعَرْشِ اللَّهِ وَالْكُرْسِيَّ كَكُرْسِيِّهِ 

jangan dipahami bahwa beliau bermaksud seolah-olah ia melihat bahwa ‘Arsy itu sama seperti ‘Arsy Allah dan Kursī itu sama seperti Kursī-Nya 

فَذٰلِكَ مُحَالٌ 

karena itu mustahil 

بَلْ أَرَادَ بِهِ أَنَّهُ مَمْلَكَةُ الْإِنْسَانِ 

melainkan beliau menginginkan bahwa itu adalah kerajaan manusia 

وَالْمَجْرَى الْأَوَّلُ لِتَدْبِيرِهِ وَتَصَرُّفِهِ 

dan jalur pertama bagi pengaturan serta pengelolaannya 

فَهُمَا بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهِ كَالْعَرْشِ وَالْكُرْسِيِّ بِالنِّسْبَةِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى 

maka keduanya terhadap dirinya seperti ‘Arsy dan Kursī terhadap Allah Ta‘ālā 

وَلَا يَسْتَقِيمُ هٰذَا التَّشْبِيهُ أَيْضًا إِلَّا مِنْ بَعْضِ الْوُجُوهِ 

dan perumpamaan ini pun hanya tepat dari beberapa sudut 

وَشَرْحُ ذٰلِكَ أَيْضًا لَا يَلِيقُ بِغَرَضِنَا 

sedangkan menjelaskan hal itu juga tidak sesuai dengan tujuan kami 

فَلِنَتَجَاوَزْهُ 

maka mari kita lewati