Perintah dan Larangan terhadap Penguasa dan Sultan dari Kemungkaran (3)
وَعَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ قَالَ: لَمَّا وَلِيَ هَارُونُ الرَّشِيدُ الْخِلَافَةَ زَارَهُ الْعُلَمَاءُ فَهَنَّئُوهُ بِمَا صَارَ إِلَيْهِ مِنْ أَمْرِ الْخِلَافَةِ.
Diriwayatkan dari Abu 'Imran al-Jauni, ia berkata:
"Tatkala Harun al-Rasyid menjabat sebagai khalifah, para ulama
mengunjunginya untuk mengucapkan selamat atas jabatan khilafah yang kini ia
pegang."
فَفَتَحَ
بُيُوتَ الْأَمْوَالِ وَأَقْبَلَ يُجِيزُهُمْ بِالْجَوَائِزِ السَّنِيَّةِ.
Maka ia pun membuka baitul mal (perbendaharaan negara) dan
mulai memberikan mereka berbagai pemberian yang mewah.
وَكَانَ
قَبْلَ ذَلِكَ يُجَالِسُ الْعُلَمَاءَ وَالزُّهَّادَ وَكَانَ يُظْهِرُ النُّسُكَ
وَالتَّقَشُّفَ.
Padahal sebelum itu, ia terbiasa duduk bersama para ulama
dan orang-orang zuhud, serta senantiasa menampakkan ibadah dan kesederhanaan
hidup.
وَكَانَ
مُؤَاخِيًا لِسُفْيَانَ بْنِ سَعِيدِ بْنِ الْمُنْذِرِ الثَّوْرِيِّ قَدِيمًا
فَهَجَرَهُ سُفْيَانُ وَلَمْ يَزُرْهُ.
Ia juga telah lama menjalin persaudaraan dengan Sufyan bin
Sa'id bin al-Mundzir al-Thauri, namun kemudian Sufyan menjauhinya dan tidak mau
mengunjunginya.
فَاشْتَاقَ
هَارُونُ إِلَى زِيَارَتِهِ لِيَخْلُوَ بِهِ وَيُحَدِّثَهُ فَلَمْ يَزُرْهُ وَلَمْ
يَعْبَأْ بِمَوْضِعِهِ وَلَا بِمَا صَارَ إِلَيْهِ.
Harun pun merasa rindu untuk dikunjungi agar bisa berduaan
dan berbincang dengannya, namun Sufyan tetap tidak kunjung datang dan tidak
mempedulikan kedudukannya maupun jabatan yang kini ia sandang.
فَاشْتَدَّ
ذَلِكَ عَلَى هَارُونُ فَكَتَبَ إِلَيْهِ كِتَابًا يَقُولُ فِيهِ: بِسْمِ اللّٰهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ.
Hal itu terasa berat bagi Harun, lalu ia menulis sebuah
surat kepadanya yang berbunyi: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang."
مِنْ
عَبْدِ اللّٰهِ هَارُونَ الرَّشِيدِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ إِلَى أَخِيهِ
سُفْيَانَ بْنِ سَعِيدِ بْنِ الْمُنْذِرِ.
"Dari hamba Allah, Harun al-Rasyid, Amirul Mukminin,
kepada saudaranya, Sufyan bin Sa'id bin al-Mundzir."
أَمَّا
بَعْدُ، يَا أَخِي قَدْ عَلِمْتَ أَنَّ اللّٰهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ وَاخَىٰ
بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَجَعَلَ ذَلِكَ فِيهِ وَلَهُ.
"Amma ba'du. Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau telah
mengetahui bahwa Allah Tabaraka wa Ta'ala telah mempersaudarakan di antara
orang-orang mukmin dan menjadikan hal itu di jalan-Nya dan untuk-Nya."
وَاعْلَمْ
أَنِّي قَدْ وَاخَيْتُكَ مُوَاخَاةً لَمْ أَصْرِمْ بِهَا حَبْلَكَ وَلَمْ أَقْطَعْ
مِنْهَا وِدَّكَ.
"Ketahuilah bahwa aku benar-benar telah
mempersaudarakanmu dengan persaudaraan yang tidak akan pernah aku putuskan
talinya dan tidak akan aku putus kasih sayangnya."
وَإِنِّي
مُنْطَوٍ لَكَ عَلَىٰ أَفْضَلِ الْمَحَبَّةِ وَالْإِرَادَةِ.
"Dan sesungguhnya aku menyimpan untukmu rasa cinta dan
keinginan yang paling utama."
وَلَوْلَا
هَذِهِ الْقِلَادَةُ الَّتِي قَلَّدَنِيهَا اللّٰهُ لَأَتَيْتُكَ وَلَوْ حَبْوًا
لِمَا أَجِدُ لَكَ فِي قَلْبِي مِنَ الْمَحَبَّةِ.
"Seandainya bukan karena kalung (beban kepemimpinan)
ini yang dikalungkan Allah kepadaku, niscaya aku akan mendatangimu walau dengan
merangkak, karena besarnya rasa cinta yang aku rasakan untukmu di dalam
hatiku."
وَاعْلَمْ
يَا أَبَا عَبْدِ اللّٰهِ أَنَّهُ مَا بَقِيَ مِنْ إِخْوَانِي وَإِخْوَانِكَ
أَحَدٌ إِلَّا وَقَدْ زَارَنِي وَهَنَّأَنِي بِمَا صِرْتُ إِلَيْهِ.
"Ketahuilah wahai Abu Abdillah, bahwa tidak tersisa
seorang pun dari saudara-saudaraku dan saudaramu melainkan telah mengunjungiku
dan memberiku selamat atas jabatan yang kini aku pegang."
وَقَدْ
فَتَحْتُ بُيُوتَ الْأَمْوَالِ وَأَعْطَيْتُهُمْ مِنَ الْجَوَائِزِ السَّنِيَّةِ
مَا فَرِحَتْ بِهِ نَفْسِي وَقَرَّتْ بِهِ عَيْنِي.
"Aku pun telah membuka baitul mal dan memberikan mereka
berbagai pemberian mewah yang membuat jiwaku bahagia dan mataku sejuk
karenanya."
وَإِنِّي
اسْتَبْطَأْتُكَ فَلَمْ تَأْتِنِي وَقَدْ كَتَبْتُ لَكَ كِتَابًا شَوْقًا مِنِّي
إِلَيْكَ شَدِيدًا.
"Namun aku merasa engkau sangat lambat dan tidak
kunjung mendatangiku, maka aku menulis surat ini kepadamu karena rasa rindu
yang amat sangat dariku untukmu."
وَقَدْ
عَلِمْتَ يَا أَبَا عَبْدِ اللّٰهِ مَا جَاءَ فِي فَضْلِ الْمُؤْمِنِ
وَزِيَارَتِهِ وَمُوَاصَلَتِهِ فَإِذَا وَرَدَ عَلَيْكَ كِتَابِي فَالْعَجَلَ
الْعَجَلَ.
"Engkau pun telah mengetahui wahai Abu Abdillah,
tentang keutamaan seorang mukmin serta keutamaan mengunjunginya dan menjalin
silaturahmi dengannya. Maka apabila suratku ini sampai kepadamu, segeralah
datang, segeralah datang."
فَلَمَّا
كَتَبَ الْكِتَابَ الْتَفَتَ إِلَىٰ مَنْ عِنْدَهُ فَإِذَا كُلُّهُمْ يَعْرِفُونَ
سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ وَخُشُونَتَهُ.
Tatkala ia telah selesai menulis surat itu, ia berpaling
kepada orang-orang di sekelilingnya, ternyata mereka semua mengetahui sifat
Sufyan al-Thauri dan kekerasan prinsipnya.
فَقَالَ:
عَلَيَّ بِرَجُلٍ مِنَ الْبَابِ، فَأُدْخِلَ عَلَيْهِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ
عَبَّادٌ الطَّالَقَانِيُّ.
Harun berkata: "Panggilkan untukku seseorang dari pintu
gerbang." Lalu dihadapkanlah kepadanya seorang laki-laki yang bernama
Abbad al-Thaliqani.
فَقَالَ:
يَا عَبَّادُ خُذْ كِتَابِي هَذَا فَانْطَلِقْ بِهِ إِلَى الْكُوفَةِ.
Harun berkata: "Wahai Abbad, ambillah suratku ini dan
pergilah membawanya ke Kufah."
فَإِذَا
دَخَلْتَهَا فَسَلْ عَنْ قَبِيلَةِ بَنِي ثَوْرٍ ثُمَّ سَلْ عَنْ سُفْيَانَ
الثَّوْرِيِّ.
"Jika engkau telah memasukinya, bertanyalah tentang
kabilah Bani Thaur, kemudian bertanyalah tentang Sufyan al-Thauri."
فَإِذَا
رَأَيْتَهُ فَأَلْقِ كِتَابِي هَذَا إِلَيْهِ وَعِ بِسَمْعِكَ وَقَلْبِكَ جَمِيعَ
مَا يَقُولُ.
"Apabila engkau melihatnya, lemparkanlah suratku ini
kepadanya, dan perhatikanlah dengan pendengaran serta hatimu segala hal yang ia
ucapkan."
فَأَحْصِ
عَلَيْهِ دَقِيقَ أَمْرِهِ وَجَلِيلَهُ لِتُخْبِرَنِي بِهِ.
"Catatlah segala tindakannya yang kecil maupun yang
besar agar engkau bisa melaporkannya kepadaku."
فَأَخَذَ
عَبَّادٌ الْكِتَابَ وَانْطَلَقَ بِهِ حَتَّىٰ وَرَدَ الْكُوفَةَ فَسَأَلَ عَنِ
الْقَبِيلَةِ فَأُرْشِدَ إِلَيْهَا ثُمَّ سَأَلَ عَنْ سُفْيَانَ فَقِيلَ لَهُ:
هُوَ فِي الْمَسْجِدِ.
Maka Abbad mengambil surat itu dan pergi membawanya hingga
sampai ke Kufah. Ia bertanya tentang kabilah tersebut lalu ditunjukkan
jalannya, kemudian ia bertanya tentang Sufyan dan dikatakan kepadanya: "Ia
sedang berada di masjid."
قَالَ
عَبَّادٌ: فَأَقْبَلْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلَمَّا رَآنِي قَامَ قَائِمًا
وَقَالَ: أَعُوذُ بِاللّٰهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ،
وَأَعُوذُ بِكَ اللّٰهُمَّ مِنْ طَارِقٍ يَطْرُقُ إِلَّا بِخَيْرٍ.
Abbad berkata: "Aku pun menuju masjid. Tatkala ia
melihatku, ia langsung berdiri tegak dan berkata: 'Aku berlindung kepada Allah
Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, dan aku
berlindung kepada-Mu ya Allah dari tamu yang datang mengetuk kecuali yang
membawa kebaikan.'"
قَالَ
عَبَّادٌ: فَوَقَعَتِ الْكَلِمَةُ فِي قَلْبِي فَجُرِحْتُ.
Abbad berkata: "Maka ucapan itu jatuh ke dalam hatiku
hingga aku merasa terluka."
فَلَمَّا
رَآنِي نَزَلْتُ بِبَابِ الْمَسْجِدِ قَامَ يُصَلِّي وَلَمْ يَكُنْ وَقْتَ صَلَاةٍ.
Tatkala ia melihatku turun di depan pintu masjid, ia pun
berdiri melaksanakan shalat padahal saat itu bukan waktu shalat (fardhu).
فَرَبَطْتُ
فَرَسِي بِبَابِ الْمَسْجِدِ وَدَخَلْتُ فَإِذَا جُلَسَاؤُهُ قُعُودٌ قَدْ
نَكَّسُوا رُءُوسَهُمْ كَأَنَّهُمْ لُصُوصٌ قَدْ وَرَدَ عَلَيْهِمُ السُّلْطَانُ
فَهُمْ خَائِفُونَ مِنْ عُقُوبَتِهِ.
Maka aku menambatkan kudaku di pintu masjid lalu masuk.
Ternyata murid-murid yang duduk bersamanya semuanya menundukkan kepala,
seolah-olah mereka adalah pencuri yang didatangi penguasa lalu merasa takut
akan hukumannya.
فَسَلَّمْتُ
فَمَا رَفَعَ أَحَدٌ إِلَيَّ رَأْسَهُ وَرَدُّوا السَّلَامَ عَلَيَّ بِرُءُوسِ
الْأَصَابِعِ.
Aku pun mengucapkan salam, namun tak seorang pun yang
mengangkat kepala kepadaku, dan mereka menjawab salamku hanya dengan isyarat
ujung-ujung jari.
فَبَقِيتُ
وَاقِفًا فَمَا مِنْهُمْ أَحَدٌ يَعْرِضُ عَلَيَّ الْجُلُوسَ وَقَدْ عَلَانِي مِنْ
هَيْبَتِهِمُ الرَّعْدَةُ.
Aku pun tetap berdiri tegak, dan tak seorang pun dari mereka
yang menawariku duduk, sementara aku mulai gemetar karena kewibawaan mereka.
وَمَدَدْتُ
عَيْنِي إِلَيْهِمْ فَقُلْتُ: إِنَّ الْمُصَلِّيَ هُوَ سُفْيَانُ، فَرَمَيْتُ
بِالْكِتَابِ إِلَيْهِ.
Aku melayangkan pandanganku kepada mereka lalu berkata dalam
hati: "Sesungguhnya yang sedang shalat itu adalah Sufyan," maka aku
melemparkan surat itu ke arahnya.
فَلَمَّا
رَأَى الْكِتَابَ ارْتَعَدَ وَتَبَاعَدَ مِنْهُ كَأَنَّهُ حَيَّةٌ عَرَضَتْ لَهُ
فِي مِحْرَابِهِ.
Tatkala ia melihat surat itu, ia gemetar dan menjauh
darinya, seolah-olah surat itu adalah seekor ular yang muncul di hadapannya di
tempat shalat.
فَركَعَ
وَسَجَدَ وَسَلَّمَ وَأَدْخَلَ يَدَهُ فِي كُمِّهِ وَلَفَّهَا بِعَبَاءَتِهِ
وَأَخَذَهُ فَقَلَّبَهُ بِيَدِهِ ثُمَّ رَمَاهُ إِلَىٰ مَنْ كَانَ خَلْفَهُ.
Maka ia ruku', sujud, lalu salam. Ia memasukkan tangannya ke
dalam lengan bajunya dan membalutnya dengan jubahnya, lalu mengambil surat itu
dan membolak-baliknya, kemudian melemparkannya kepada orang yang berada di
belakangnya.
وَقَالَ:
يَأْخُذُهُ بَعْضُكُمْ يَقْرَؤُهُ فَإِنِّي أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ أَنْ أَمَسَّ
شَيْئًا مَسَّهُ ظَالِمٌ بِيَدِهِ.
Ia berkata: "Hendaknya sebagian dari kalian mengambil
dan membacanya, karena sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah jika harus
menyentuh sesuatu yang telah disentuh oleh tangan orang zalim."
قَالَ
عَبَّادٌ: فَأَخَذَهُ بَعْضُهُمْ فَحَلَّهُ كَأَنَّهُ خَائِفٌ مِنْ فَمِ حَيَّةٍ
تَنْهَشُهُ ثُمَّ فَضَّهُ وَقَرَأَهُ.
Abbad berkata: "Maka salah seorang dari mereka
mengambilnya lalu membukanya dengan hati-hati seolah takut dipagut mulut ular,
kemudian ia membukanya lebar-lebar dan membacakannya."
وَأَقْبَلَ
سُفْيَانُ يَتَبَسَّمُ تَبَسُّمَ الْمُتَعَجِّبِ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ قِرَاءَتِهِ
قَالَ: اقْلِبُوهُ وَاكْتُبُوا إِلَى الظَّالِمِ فِي ظَهْرِ كِتَابِهِ.
Dan Sufyan mulai tersenyum dengan senyuman orang yang merasa
heran. Tatkala pembacaan surat selesai, ia berkata: "Balikkan surat itu,
dan tulislah jawaban untuk si zalim di bagian belakang suratnya."
فَقِيلَ
لَهُ: يَا أَبَا عَبْدِ اللّٰهِ إِنَّهُ خَلِيفَةٌ فَلَوْ كَتَبْتَ إِلَيْهِ فِي
قِرْطَاسٍ نَقِيٍّ.
Maka dikatakan kepadanya: "Wahai Abu Abdillah,
sesungguhnya dia adalah khalifah, alangkah baiknya jika engkau menulis untuknya
di atas kertas yang bersih."
فَقَالَ:
اكْتُبُوا إِلَى الظَّالِمِ فِي ظَهْرِ كِتَابِهِ فَإِنْ كَانَ اكْتَسَبَهُ مِنْ
حَلَالٍ فَسَوْفَ يُجْزَىٰ بِهِ وَإِنْ كَانَ اكْتَسَبَهُ مِنْ حَرَامٍ فَسَوْفَ
يُصْلَىٰ بِهِ.
Ia menjawab: "Tulislah untuk si zalim di balik suratnya
sendiri. Jika kertas itu ia peroleh dari cara yang halal, maka ia akan dibalas
dengannya, namun jika ia peroleh dari cara yang haram, maka ia akan dibakar
dengannya."
وَلَا
يَبْقَىٰ شَيْءٌ مَسَّهُ ظَالِمٌ عِنْدَنَا فَيُفْسِدُ عَلَيْنَا دِينَنَا.
"Dan jangan sampai ada sesuatu yang telah disentuh
orang zalim tersisa di tempat kami, karena itu bisa merusak agama kami."
فَقِيلَ
لَهُ: مَا نَكْتُبُ؟ فَقَالَ: اكْتُبُوا: بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ.
Maka ditanyakan kepadanya: "Apa yang harus kami
tulis?" Ia menjawab: "Tulislah: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang."
مِنَ
الْعَبْدِ الْمُذْنِبِ سُفْيَانَ بْنِ سَعِيدِ بْنِ الْمُنْذِرِ الثَّوْرِيِّ
إِلَى الْعَبْدِ الْمَغْرُورِ بِالْآمَالِ هَارُونَ الرَّشِيدِ الَّذِي سُلِبَ
حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ.
"Dari hamba yang berdosa, Sufyan bin Sa'id bin
al-Mundzir al-Thauri, kepada hamba yang tertipu oleh angan-angan, Harun
al-Rasyid, yang telah dirampas darinya manisnya iman."
أَمَّا
بَعْدُ، فَإِنِّي قَدْ كَتَبْتُ إِلَيْكَ أُعَرِّفُكَ أَنِّي قَدْ صَرَمْتُ
حَبْلَكَ وَقَطَعْتُ وِدَّكَ وَقَلَيْتُ مَوْضِعَكَ.
"Amma ba'du. Sesungguhnya aku menulis ini kepadamu
untuk memberitahumu bahwa aku benar-benar telah memutuskan talimu, memutus
kasih sayangmu, dan telah membenci kedudukanmu."
فَإِنَّكَ
قَدْ جَعَلْتَنِي شَاهِدًا عَلَيْكَ بِإِقْرَارِكَ عَلَىٰ نَفْسِكَ فِي كِتَابِكَ
بِمَا هَجَمْتَ بِهِ عَلَىٰ بَيْتِ مَالِ الْمُسْلِمِينَ.
"Karena engkau telah menjadikanku saksi atas dirimu
melalui pengakuanmu sendiri di dalam suratmu tentang bagaimana engkau menyerbu
baitul mal kaum muslimin."
فَأَنْفَقْتَهُ
فِي غَيْرِ حَقِّهِ وَأَنْفَذْتَهُ فِي غَيْرِ حُكْمِهِ.
"Lalu engkau menafkahkannya bukan pada haknya dan
menyalurkannya bukan pada ketentuannya."
ثُمَّ
لَمْ تَرْضَ بِمَا فَعَلْتَهُ وَأَنْتَ نَاءٍ عَنِّي حَتَّىٰ كَتَبْتَ إِلَيَّ
تُشْهِدُنِي عَلَىٰ نَفْسِكَ.
"Kemudian engkau tidak puas dengan apa yang telah
engkau lakukan sementara engkau jauh dariku, hingga engkau menulis surat
kepadaku agar aku mempersaksikan perbuatanmu atas dirimu sendiri."
أَمَا
إِنِّي قَدْ شَهِدْتُ عَلَيْكَ أَنَا وَإِخْوَانِي الَّذِينَ شَهِدُوا قِرَاءَةَ
كِتَابِكَ وَسَنُؤَدِّي الشَّهَادَةَ عَلَيْكَ غَدًا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ
تَعَالَىٰ.
"Ketahuilah bahwa aku benar-benar telah bersaksi
atasmu, juga saudara-saudaraku yang menyaksikan pembacaan suratmu, dan kami
akan memberikan kesaksian atasmu esok di hadapan Allah Ta'ala."
يَا
هَارُونُ هَجَمْتَ عَلَىٰ بَيْتِ مَالِ الْمُسْلِمِينَ بِغَيْرِ رِضَاهُمْ، هَلْ
رَضِيَ بِفِعْلِكَ الْمُؤَلَّفَةُ قُلُوبُهُمْ وَالْعَامِلُونَ عَلَيْهَا فِي
أَرْضِ اللّٰهِ تَعَالَىٰ؟
"Wahai Harun, engkau telah menyerbu baitul mal kaum
muslimin tanpa keridhaan mereka. Apakah para mualaf dan para amil yang bekerja
di bumi Allah Ta'ala merasa ridha dengan perbuatanmu?"
وَالْمُجَاهِدُونَ
فِي سَبِيلِ اللّٰهِ وَابْنُ السَّبِيلِ أَمْ رَضِيَ بِذَلِكَ حَمَلَةُ الْقُرْآنِ
وَأَهْلُ الْعِلْمِ وَالْأَرَامِلُ وَالْأَيْتَامُ؟
"Juga para mujahid di jalan Allah dan ibnu sabil?
Ataukah para penghafal Al-Qur'an, ahli ilmu, para janda, dan anak yatim merasa
ridha dengan hal itu?"
أَمْ
هَلْ رَضِيَ بِذَلِكَ خَلْقٌ مِنْ رَعِيَّتِكَ؟ فَشُدَّ يَا هَارُونُ مِئْزَرَكَ
وَأَعِدَّ لِلْمَسْأَلَةِ جَوَابًا وَلِلْبَلَاءِ جِلْبَابًا.
"Atau apakah makhluk dari rakyatmu merasa ridha dengan
hal itu? Maka kencangkanlah ikat pinggangmu wahai Harun, dan siapkanlah jawaban
untuk pertanyaan (di akhirat) serta siapkanlah jubah untuk menghadapi
bencana."
وَاعْلَمْ
أَنَّكَ سَتَقِفُ بَيْنَ يَدَيِ الْحَكَمِ الْعَدْلِ فَقَدْ رُزِئْتَ فِي نَفْسِكَ
إِذْ سُلِبْتَ حَلَاوَةَ الْعِلْمِ وَالزُّهْدِ وَلَذِيذَ الْقُرْآنِ
وَمُجَالَسَةَ الْأَخْيَارِ.
"Ketahuilah bahwa engkau akan berdiri di hadapan Hakim
yang Maha Adil. Sungguh engkau telah tertimpa musibah pada dirimu sendiri
tatkala dirampas darimu manisnya ilmu, zuhud, lezatnya Al-Qur'an, dan nikmatnya
duduk bersama orang-orang pilihan."
وَرَضِيتَ
لِنَفْسِكَ أَنْ تَكُونَ ظَالِمًا وَلِلظَّالِمِينَ إِمَامًا.
"Serta engkau rela bagi dirimu sendiri untuk menjadi
orang zalim dan menjadi pemimpin bagi orang-orang yang zalim."
يَا
هَارُونُ قَعَدْتَ عَلَى السَّرِيرِ وَلَبِسْتَ الْحَرِيرَ وَأَسْبَلْتَ سِتْرًا
دُونَ بَابِكَ وَتَشَبَّهْتَ بِالْحَجَبَةِ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ.
"Wahai Harun, engkau duduk di atas singgasana,
mengenakan pakaian sutra, membentangkan tirai di depan pintumu, dan engkau
menyerupai Tuhan Semesta Alam dalam hal adanya penghalang."
ثُمَّ
أَقْعَدْتَ أَجْنَادَكَ الظَّلَمَةَ دُونَ بَابِكَ وَسِتْرِكَ يَظْلِمُونَ
النَّاسَ وَلَا يُنْصِفُونَ.
"Kemudian engkau mendudukkan tentara-tentaramu yang
zalim di depan pintu dan tiraimu; mereka menzalimi manusia dan tidak berlaku
adil."
يَشْرَبُونَ
الْخُمُورَ وَيَضْرِبُونَ مَنْ يَشْرَبُهَا وَيَزْنُونَ وَيَحُدُّونَ الزَّانِيَ
وَيَسْرِقُونَ وَيَقْطَعُونَ السَّارِقَ.
"Mereka meminum khamr namun memukuli orang yang
meminumnya, mereka berzina namun menghukum pezina, dan mereka mencuri namun
memotong tangan pencuri."
أَفَلَا
كَانَتْ هَذِهِ الْأَحْكَامُ عَلَيْكَ وَعَلَيْهِمْ قَبْلَ أَنْ تَحْكُمَ بِهَا
عَلَى النَّاسِ؟
"Bukankah seharusnya hukum-hukum ini berlaku atasmu dan
atas mereka sebelum engkau menerapkannya kepada manusia?"
فَكَيْفَ
بِكَ يَا هَارُونُ غَدًا إِذَا نَادَى الْمُنَادِي مِنْ قِبَلِ اللّٰهِ تَعَالَىٰ:
احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ؟ أَيِ الظَّلَمَةَ وَأَعْوَانَ
الظَّلَمَةِ.
"Lalu bagaimana keadaanmu wahai Harun esok hari,
tatkala penyeru dari sisi Allah Ta'ala memanggil: 'Kumpulkanlah orang-orang
yang zalim itu beserta teman sejawat mereka?' Yakni orang-orang zalim dan para
pembantu kezaliman."
فَقُدِّمْتَ
بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ تَعَالَىٰ وَيَدَاكَ مَغْلُولَتَانِ إِلَىٰ عُنُقِكَ لَا
يَفُكُّهُمَا إِلَّا عَدْلُكَ وَإِنْصَافُكَ.
"Lalu engkau dihadapkan ke hadirat Allah Ta'ala dalam
keadaan kedua tanganmu terbelenggu ke lehermu; tidak ada yang bisa
melepaskannya kecuali keadilan dan kejujuranmu."
وَالظَّالِمُونَ
حَوْلَكَ وَأَنْتَ لَهُمْ سَابِقٌ وَإِمَامٌ إِلَى النَّارِ.
"Sementara orang-orang zalim berada di sekelilingmu,
dan engkau adalah pendahulu serta pemimpin bagi mereka menuju neraka."
كَأَنِّي
بِكَ يَا هَارُونُ وَقَدْ أُخِذْتَ بِضِيقِ الْخَنَاقِ وَوَرَدْتَ الْمَسَاقَ.
"Seolah-olah aku melihatmu wahai Harun, tatkala
kerongkonganmu terasa mencekik dan engkau mendatangi tempat penggiringan."
وَأَنْتَ
تَرَىٰ حَسَنَاتِكَ فِي مِيزَانِ غَيْرِكَ وَسَيِّئَاتِ غَيْرِكَ فِي مِيزَانِكَ
زِيَادَةً عَنْ سَيِّئَاتِكَ.
"Dan engkau melihat kebaikan-kebaikanmu ada di
timbangan orang lain, sedangkan keburukan orang lain ada di timbanganmu sebagai
tambahan atas keburukan-keburukanmu sendiri."
بَلَاءً
عَلَىٰ بَلَاءٍ وَظُلْمَةً فَوْقَ ظُلْمَةٍ، فَاحْتَفِظْ بِوَصِيَّتِي وَاتَّعِظْ
بِمَوْعِظَتِي الَّتِي وَعَظْتُكَ بِهَا.
"Musibah di atas musibah dan kegelapan di atas
kegelapan. Maka jagalah wasiatku dan ambillah pelajaran dari nasihat yang aku
berikan kepadamu ini."
وَاعْلَمْ
أَنِّي قَدْ نَصَحْتُكَ وَمَا أَبْقَيْتُ لَكَ فِي النُّصْحِ غَايَةً.
"Ketahuilah bahwa aku telah menasihatimu dan aku tidak
menyisakan sedikit pun batas akhir dalam memberikan nasihat."
فَاتَّقِ
اللّٰهَ يَا هَارُونُ فِي رَعِيَّتِكَ وَاحْفَظْ مُحَمَّدًا صَلَّى اللّٰهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُمَّتِهِ وَأَحْسِنِ الْخِلَافَةَ عَلَيْهِمْ.
"Maka bertakwalah kepada Allah wahai Harun terhadap
rakyatmu, jagalah amanah Muhammad SAW terhadap umatnya, dan perbaikilah
kepemimpinanmu atas mereka."
وَاعْلَمْ
أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ لَوْ بَقِيَ لِغَيْرِكَ لَمْ يَصِلْ إِلَيْكَ وَهُوَ
صَائِرٌ إِلَىٰ غَيْرِكَ.
"Ketahuilah bahwa urusan kepemimpinan ini, seandainya
ia tetap ada pada tangan orang sebelummu, niscaya ia tidak akan sampai
kepadamu; dan ia pun kelak akan berpindah kepada orang selainmu."
وَكَذَا
الدُّنْيَا تَنْتَقِلُ بِأَهْلِهَا وَاحِدًا بَعْدَ وَاحِدٍ.
"Begitu pulalah dunia, ia berpindah-pindah bersama
penghuninya satu demi satu."
فَمِنْهُمْ
مَنْ تَزَوَّدَ زَادًا نَفَعَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسِرَ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ.
"Maka di antara mereka ada yang membekali diri dengan
bekal yang bermanfaat baginya, dan di antara mereka ada yang merugi dunia dan
akhiratnya."
وَإِنِّي
أَحْسَبُكَ يَا هَارُونُ مِمَّنْ خَسِرَ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ، فَإِيَّاكَ
إِيَّاكَ أَنْ تَكْتُبَ لِي كِتَابًا بَعْدَ هَذَا فَلَا أُجِيبُكَ عَنْهُ،
وَالسَّلَامُ.
"Dan sesungguhnya aku menyangka bahwa engkau wahai
Harun, termasuk orang yang merugi dunia dan akhiratnya. Maka berhati-hatilah,
jangan sekali-kali engkau menulis surat lagi kepadaku setelah ini, karena aku
tidak akan membalasnya. Wassalam."
قَالَ
عَبَّادٌ: فَأُلْقِيَ إِلَيَّ الْكِتَابُ مَنْشُورًا غَيْرَ مَطْوِيٍّ وَلَا
مَخْتُومٍ.
Abbad berkata: "Maka surat itu dilemparkan kepadaku
dalam keadaan terbuka, tidak terlipat dan tidak pula tersegel."
فَأَخَذْتُهُ
وَأَقْبَلْتُ إِلَىٰ سُوقِ الْكُوفَةِ وَقَدْ وَقَعَتِ الْمَوْعِظَةُ مِنْ قَلْبِي.
"Aku mengambilnya dan pergi menuju pasar Kufah,
sementara nasihat tadi benar-benar telah meresap ke dalam hatiku."
فَنَادَيْتُ:
يَا أَهْلَ الْكُوفَةِ! فَأَجَابُونِي، فَقُلْتُ لَهُمْ: يَا قَوْمُ مَنْ
يَشْتَرِي رَجُلًا هَرَبَ مِنَ اللّٰهِ إِلَى اللّٰهِ؟
"Lalu aku berseru: 'Wahai penduduk Kufah!' Mereka pun
menjawab panggilanku, lalu aku berkata kepada mereka: 'Wahai kaumku, siapakah
yang mau membeli seorang laki-laki yang lari dari Allah menuju Allah?'"
فَأَقْبَلُوا
إِلَيَّ بِالدَّنَانِيرِ وَالدَّرَاهِمِ، فَقُلْتُ: لَا حَاجَةَ لِي فِي الْمَالِ،
وَلَكِنْ جُبَّةُ صُوفٍ خَشِنَةٌ وَعَبَاءَةٌ قَطَوَانِيَّةٌ.
"Maka mereka mendatangiku dengan membawa dinar dan
dirham, namun aku berkata: 'Aku tidak butuh harta, yang aku butuhkan hanyalah
jubah dari kain wol yang kasar dan pakaian panjang qathawaniyah.'"
قَالَ:
فَأُتِيتُ بِذَلِكَ وَنَزَعْتُ مَا كَانَ عَلَيَّ مِنَ اللِّبَاسِ الَّذِي كُنْتُ
أَلْبَسُهُ مَعَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ.
Ia berkata: "Maka aku pun diberikan hal itu, lalu aku
melepas pakaian yang aku kenakan, yaitu pakaian yang biasa aku pakai saat
bersama Amirul Mukminin."
وَأَقْبَلْتُ
أَقُودُ الْبِرْذَوْنَ وَعَلَيْهِ السِّلَاحُ الَّذِي كُنْتُ أَحْمِلُهُ حَتَّىٰ
أَتَيْتُ بَابَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ هَارُونَ حَافِيًا رَاجِلًا.
"Aku pun pulang sambil menuntun kuda persia dan di
atasnya terdapat senjata yang biasa aku bawa, hingga aku sampai ke pintu rumah
Amirul Mukminin Harun dalam keadaan bertelanjang kaki dan berjalan kaki."
فَهَزَأَ
بِي مَنْ كَانَ عَلَىٰ بَابِ الْخَلِيفَةِ ثُمَّ اسْتُؤْذِنَ لِي.
Maka orang-orang yang berada di pintu khalifah mengejekku,
kemudian aku pun diizinkan masuk.
فَلَمَّا
دَخَلْتُ عَلَيْهِ وَبَصُرَ بِي عَلَىٰ تِلْكَ الْحَالَةِ قَامَ وَقَعَدَ ثُمَّ
قَامَ قَائِمًا وَجَعَلَ يَلْطِمُ رَأْسَهُ وَوَجْهَهُ وَيَدْعُو بِالْوَيْلِ
وَالْحُزْنِ.
Tatkala aku masuk menemuinya dan ia melihatku dalam keadaan
seperti itu, ia bangkit lalu duduk, kemudian berdiri tegak dan mulai memukuli
kepala serta wajahnya sendiri sambil berseru penuh celaka dan kesedihan.
وَيَقُولُ:
انْتَفَعَ الرَّسُولُ وَخَابَ الْمُرْسَلُ، مَا لِي وَلِلدُّنْيَا وَلِمُلْكٍ
يَزُولُ عَنِّي سَرِيعًا؟
Ia berkata: "Utusan itu telah beruntung sedangkan
pengutusnya merugi. Apa urusanku dengan dunia dan dengan kekuasaan yang akan
segera sirna dariku?"
ثُمَّ
أَلْقَيْتُ الْكِتَابَ إِلَيْهِ مَنْشُورًا كَمَا دُفِعَ إِلَيَّ.
Kemudian aku melemparkan surat itu kepadanya dalam keadaan
terbuka sebagaimana surat itu diserahkan kepadaku.
فَأَقْبَلَ
هَارُونُ يَقْرَؤُهُ وَدُمُوعُهُ تَنْحَدِرُ مِنْ عَيْنَيْهِ وَيَقْرَأُ
وَيَشْهَقُ.
Maka Harun pun mulai membacanya sementara air matanya
mengalir deras dari kedua matanya; ia membaca sambil terisak-isak.
فَقَالَ
بَعْضُ جُلَسَائِهِ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ لَقَدِ اجْتَرَأَ عَلَيْكَ
سُفْيَانُ فَلَوْ وَجَّهْتَ إِلَيْهِ فَأَثْقَلْتَهُ بِالْحَدِيدِ وَضَيَّقْتَ
عَلَيْهِ السِّجْنَ وَكُنْتَ تَجْعَلُهُ عِبْرَةً لِغَيْرِهِ.
Maka sebagian orang yang duduk bersamanya berkata:
"Wahai Amirul Mukminin, sungguh Sufyan telah lancang kepadamu. Seandainya
engkau mengutus orang kepadanya lalu memberatkannya dengan belenggu besi dan
mempersempit penjara baginya, niscaya engkau bisa menjadikannya pelajaran bagi
orang lain."
فَقَالَ
هَارُونُ: اتْرُكُونَا يَا عَبِيدَ الدُّنْيَا! الْمَغْرُورُ مَنْ غَرَرْتُمُوهُ
وَالشَّقِيُّ مَنْ أَهْلَكْتُمُوهُ.
Harun berkata: "Tinggalkanlah kami wahai hamba-hamba
dunia! Orang yang tertipu adalah orang yang kalian tipu, dan orang yang celaka
adalah orang yang kalian binasakan."
وَإِنَّ
سُفْيَانَ أُمَّةٌ وَحْدَهُ، فَاتْرُكُوا سُفْيَانَ وَشَأْنَهُ.
"Sesungguhnya Sufyan adalah satu umat tersendiri, maka
biarkanlah Sufyan dengan urusannya."
ثُمَّ
لَمْ يَزَلْ كِتَابُ سُفْيَانَ إِلَىٰ جَنْبِ هَارُونَ يَقْرَؤُهُ عِنْدَ كُلِّ
صَلَاةٍ حَتَّىٰ تُوُفِّيَ رَحِمَهُ اللّٰهُ.
Kemudian surat Sufyan itu senantiasa berada di samping
Harun; ia membacanya setiap selesai shalat hingga ia wafat, semoga Allah
merahmatinya.
فَرَحِمَ
اللّٰهُ عَبْدًا نَظَرَ لِنَفْسِهِ وَاتَّقَى اللّٰهَ فِيمَا يُقْدِمُ عَلَيْهِ
غَدًا مِنْ عَمَلِهِ، فَإِنَّهُ عَلَيْهِ يُحَاسَبُ وَبِهِ يُجَازَىٰ وَاللّٰهُ
وَلِيُّ التَّوْفِيقِ.
Semoga Allah merahmati hamba yang memperhatikan dirinya
sendiri dan bertakwa kepada Allah dalam amal yang akan ia bawa esok hari,
karena sesungguhnya atas amal itulah ia dihisab dan dengannya ia dibalas. Dan
Allah-lah Pemilik Taufik.
وَعَنْ
عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ مِهْرَانَ قَالَ: حَجَّ الرَّشِيدُ فَوَافَى الْكُوفَةَ
فَأَقَامَ بِهَا أَيَّامًا ثُمَّ ضَرَبَ بِالرَّحِيلِ.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mihran, ia berkata:
"Al-Rasyid melaksanakan ibadah haji, lalu ia sampai di Kufah dan menetap
di sana selama beberapa hari, kemudian ia bersiap untuk berangkat lagi."
فَخَرَجَ
النَّاسُ وَخَرَجَ بُهْلُولٌ الْمَجْنُونُ فِيمَنْ خَرَجَ بِالْكُنَاسَةِ
وَالصِّبْيَانُ يُؤْذُونَهُ وَيُولَعُونَ بِهِ.
Maka orang-orang keluar, dan Bahlul al-Majnun pun keluar
bersama orang-orang yang keluar di tempat pembuangan sampah, sementara
anak-anak kecil mengganggunya dan mengolok-oloknya.
إِذْ
أَقْبَلَتْ هَوَادِجُ هَارُونَ فَكَفَّ الصِّبْيَانُ عَنِ الْوُلُوعِ بِهِ
فَلَمَّا جَاءَ هَارُونُ نَادَىٰ بِأَعْلَىٰ صَوْتِهِ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ!
Tiba-tiba tandu-tandu Harun datang, maka anak-anak kecil itu
berhenti mengolok-oloknya. Tatkala Harun datang, Bahlul berseru dengan suara
yang keras: "Wahai Amirul Mukminin!"
فَكَشَفَ
هَارُونُ السِّجَافَ بِيَدِهِ عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ: لَبَّيْكَ يَا بُهْلُولُ.
Harun pun menyingkap tirai penutup dari wajahnya dengan
tangannya lalu berkata: "Labbaik (aku penuhi panggilanmu) wahai
Bahlul."
فَقَالَ:
يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ حَدَّثَنَا أَيْمَنُ بْنُ نَائِلٍ عَنْ قُدَامَةَ بْنِ
عَبْدِ اللّٰهِ الْعَامِرِيِّ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مُنْصَرِفًا مِنْ عَرَفَةَ عَلَىٰ نَاقَةٍ لَهُ صَهْبَاءَ لَا ضَرْبَ
وَلَا طَرْدَ وَلَا إِلَيْكَ إِلَيْكَ.
Bahlul berkata: "Wahai Amirul Mukminin, Aiman bin Nail
telah menceritakan kepada kami dari Qudamah bin Abdullah al-Amiri, ia berkata:
'Aku melihat Nabi SAW bertolak dari Arafah di atas unta kemerah-merahannya
tanpa ada pemukulan, tanpa pengusiran, dan tanpa teriakan: menjauhlah,
menjauhlah!'"
وَتَوَاضُعُكَ
فِي سَفَرِكَ هَذَا يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ خَيْرٌ لَكَ مِنْ تَكَبُّرِكَ
وَتَجَبُّرِكَ.
"Dan ketawadukanmu dalam perjalananmu ini wahai Amirul
Mukminin, lebih baik bagimu daripada kesombongan dan keangkuhanmu."
قَالَ:
فَبَكَىٰ هَارُونُ حَتَّىٰ سَقَطَتْ دُمُوعُهُ عَلَى الْأَرْضِ ثُمَّ قَالَ: يَا
بُهْلُولُ زِدْنَا رَحِمَكَ اللّٰهُ.
Perawi berkata: "Maka Harun menangis hingga air matanya
jatuh ke tanah, kemudian ia berkata: 'Wahai Bahlul, tambahkanlah nasihat untuk
kami, semoga Allah merahmatimu.'"
قَالَ:
نَعَمْ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ رَجُلٌ آتَاهُ اللّٰهُ مَالًا وَجَمَالًا
فَأَنْفَقَ مِنْ مَالِهِ وَعَفَّ فِي جَمَالِهِ كُتِبَ فِي خَالِصِ دِيوَانِ
اللّٰهِ تَعَالَىٰ مَعَ الْأَبْرَارِ.
Bahlul berkata: "Baik wahai Amirul Mukminin. Seseorang
yang dianugerahi Allah harta dan ketampanan, lalu ia menafkahkan hartanya dan
menjaga kehormatan pada ketampanannya, maka ia dicatat dalam buku catatan murni
milik Allah Ta'ala bersama orang-orang yang berbakti."
قَالَ:
أَحْسَنْتَ يَا بُهْلُولُ، وَدَفَعَ لَهُ جَائِزَةً.
Harun berkata: "Engkau benar wahai Bahlul," lalu
ia memberikan sebuah hadiah kepadanya.
فَقَالَ:
أُرْدُدِ الْجَائِزَةَ إِلَىٰ مَنْ أَخَذْتَهَا مِنْهُ فَلَا حَاجَةَ لِي فِيهَا.
Bahlul berkata: "Kembalikanlah hadiah itu kepada orang
yang engkau ambil darinya, karena aku tidak butuh padanya."
قَالَ:
يَا بُهْلُولُ فَإِنْ كَانَ عَلَيْكَ دَيْنٌ قَضَيْنَاهُ.
Harun berkata: "Wahai Bahlul, jika engkau memiliki
utang, maka kami akan melunasinya."
قَالَ:
يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ هَؤُلَاءِ أَهْلُ الْعِلْمِ بِالْكُوفَةِ
مُتَوَافِرُونَ قَدِ اجْتَمَعَتْ آرَاؤُهُمْ أَنَّ قَضَاءَ الدَّيْنِ بِالدَّيْنِ
لَا يَجُوزُ.
Bahlul berkata: "Wahai Amirul Mukminin, para ulama di
Kufah ini sangat banyak, dan pendapat mereka telah sepakat bahwa melunasi utang
dengan utang itu tidak diperbolehkan."
قَالَ:
يَا بُهْلُولُ فَنُجْرِي عَلَيْكَ مَا يَقُوتُكَ أَوْ يُقِيمُكَ.
Harun berkata: "Wahai Bahlul, kalau begitu kami akan
memberikan tunjangan kepadamu untuk makanan pokokmu atau untuk kelangsungan
hidupmu."
قَالَ:
فَرَفَعَ بُهْلُولٌ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ قَالَ: يَا أَمِيرَ
الْمُؤْمِنِينَ أَنَا وَأَنْتَ مِنْ عِيَالِ اللّٰهِ فَمُحَالٌ أَنْ يَذْكُرَكَ
وَيَنْسَانِي.
Perawi berkata: "Maka Bahlul mengangkat kepalanya ke
langit kemudian berkata: 'Wahai Amirul Mukminin, aku dan engkau sama-sama
tanggungan Allah, maka mustahil bagi-Nya untuk mengingatmu namun melupakan
aku.'"
قَالَ:
فَأَسْبَلَ هَارُونُ السِّجَافَ وَمَضَىٰ.
Perawi berkata: "Maka Harun pun menutup tirainya
kembali dan berlalu."
وَعَنْ
أَبِي الْعَبَّاسِ الْهَاشِمِيِّ عَنْ صَالِحِ بْنِ الْمَأْمُونِ قَالَ: دَخَلْتُ
عَلَى الْحَارِثِ الْمُحَاسِبِيِّ رَحِمَهُ اللّٰهُ فَقُلْتُ لَهُ: يَا أَبَا
عَبْدِ اللّٰهِ هَلْ حَاسَبْتَ نَفْسَكَ؟ فَقَالَ: كَانَ هَذَا مَرَّةً. قُلْتُ
لَهُ: فَالْيَوْمَ؟ قَالَ: أُكَاتِمُ حَالِي.
Diriwayatkan dari Abu al-Abbas al-Hasyimi, dari Shalih bin
al-Ma'mun, ia berkata: "Aku menemui al-Harits al-Muhasibi, semoga Allah
merahmatinya, lalu aku bertanya: 'Wahai Abu Abdillah, apakah engkau telah
menghisab dirimu sendiri?' Ia menjawab: 'Dahulu pernah begitu.' Aku bertanya
lagi: 'Lalu bagaimana dengan hari ini?' Ia menjawab: 'Aku menyembunyikan
keadaanku.'"
إِنِّي
لَأَقْرَأُ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللّٰهِ تَعَالَىٰ فَأَحْتَنُّ بِهَا أَنْ
تَسْمَعَهَا نَفْسِي وَلَوْلَا أَنْ يَغْلِبَنِي فِيهَا فَرَحٌ مَا أَعْلَنْتُ
بِهَا.
"Sesungguhnya aku benar-benar membaca satu ayat dari
kitab Allah Ta'ala, lalu aku merasa kasihan jika jiwaku mendengarnya; dan
seandainya bukan karena rasa bahagia yang mengalahkanku, niscaya aku tidak akan
menyuarakannya."
وَلَقَدْ
كُنْتُ لَيْلَةً قَاعِدًا فِي مِحْرَابِي فَإِذَا أَنَا بِفَتًى حَسَنِ الْوَجْهِ
طَيِّبِ الرَّائِحَةِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَعَدَ بَيْنَ يَدَيَّ.
"Sungguh pada suatu malam aku sedang duduk di tempat
shalatku, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang tampan wajahnya dan harum
aromanya, ia mengucapkan salam kepadaku lalu duduk di hadapanku."
فَقُلْتُ
لَهُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَقَالَ: أَنَا وَاحِدٌ مِنَ السَّيَّاحِينَ أَقْصِدُ
الْمُتَعَبِّدِينَ فِي مَحَارِيبِهِمْ وَلَا أَرَىٰ لَكَ اجْتِهَادًا فَأَيُّ
شَيْءٍ عَمَلُكَ؟
Aku bertanya kepadanya: "Siapakah engkau?" Ia
menjawab: "Aku adalah salah seorang pengembara yang bermaksud menemui
orang-orang yang tekun ibadah di tempat shalat mereka, namun aku tidak melihat
adanya kesungguhan (fisik) padamu, maka amal apakah yang engkau kerjakan?"
قَالَ
قُلْتُ لَهُ: كِتْمَانُ الْمَصَائِبِ وَاسْتِجْلَابُ الْفَوَائِدِ. قَالَ فَصَاحَ
وَقَالَ: مَا عَلِمْتُ أَنَّ أَحَدًا بَيْنَ جَنْبَيِ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
هَذِهِ صِفَتُهُ.
Aku menjawab: "Menyembunyikan musibah dan menarik
berbagai manfaat (spiritual)." Pemuda itu berteriak dan berkata: "Aku
tidak tahu ada seseorang di antara ufuk timur dan barat yang memiliki sifat
seperti ini."
قَالَ
الْحَارِثُ: فَأَرَدْتُ أَنْ أَزِيدَ عَلَيْهِ فَقُلْتُ لَهُ: أَمَا عَلِمْتَ
أَنَّ أَهْلَ الْقُلُوبِ يُخْفُونَ أَحْوَالَهُمْ وَيَكْتُمُونَ أَسْرَارَهُمْ
وَيَسْأَلُونَ اللّٰهَ كِتْمَانَ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ فَأَيْنَ تَعْرِفُهُمْ؟
Al-Harits berkata: "Maka aku ingin menambahkan
penjelasanku, lalu aku berkata kepadanya: 'Tidakkah engkau tahu bahwa para
pemilik hati yang bersih menyembunyikan keadaan mereka, merahasiakan rahasia
mereka, dan meminta kepada Allah agar hal itu tetap tersembunyi bagi mereka,
lalu dari mana engkau bisa mengenal mereka?'"
قَالَ
فَصَاحَ صَيْحَةً غُشِيَ عَلَيْهِ مِنْهَا فَمَكُثَ عِنْدِي يَوْمَيْنِ لَا
يَعْقِلُ ثُمَّ أَفَاقَ وَقَدْ أَحْدَثَ فِي ثِيَابِهِ فَعَلَمْتُ إِزَالَةَ
عَقْلِهِ.
Perawi berkata: "Maka pemuda itu berteriak dengan satu
teriakan hingga ia pingsan karenanya. Ia menetap di tempatku selama dua hari
dalam keadaan tidak sadar, kemudian ia siuman dan ternyata ia telah buang air
di pakaiannya, maka aku tahu bahwa akalnya telah hilang (karena dahsyatnya
perasaan itu)."
فَأَخْرَجْتُ
لَهُ ثَوْبًا جَدِيدًا وَقُلْتُ لَهُ: هَذَا كَفَنِي قَدْ آثَرْتُكَ بِهِ
فَاغْتَسِلْ وَأَعِدْ صَلَاتَكَ.
Lalu aku mengeluarkan sebuah pakaian baru untuknya dan aku
berkata: "Ini adalah kain kafanku, aku berikan kepadamu, maka mandilah dan
ulangi shalatmu."
فَقَالَ:
هَاتِ الْمَاءَ. فَاغْتَسَلَ وَصَلَّىٰ ثُمَّ الْتَحَفَ بِالثَّوْبِ وَخَرَجَ.
فَقُلْتُ لَهُ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ فَقَالَ لِي: قُمْ مَعِي.
Ia berkata: "Berikan airnya." Lalu ia mandi dan
shalat, kemudian ia memakai pakaian tersebut dan keluar. Aku bertanya: "Ke
mana engkau hendak pergi?" Ia menjawab: "Ikutlah bersamaku."
فَلَمْ
يَزَلْ يَمْشِي حَتَّىٰ دَخَلَ عَلَى الْمَأْمُونِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَقَالَ:
يَا ظَالِمُ أَنَا ظَالِمٌ إِنْ لَمْ أَقُلْ لَكَ يَا ظَالِمُ أَسْتَغْفِرُ
اللّٰهَ مِنْ تَقْصِيرِي فِيكَ.
Ia terus berjalan hingga masuk menemui Al-Ma'mun, ia
mengucapkan salam kepadanya lalu berkata: "Wahai orang zalim! Aku adalah
orang zalim jika aku tidak memanggilmu wahai orang zalim! Aku memohon ampun
kepada Allah atas kelalaianku terhadapmu."
أَمَا
تَتَّقِي اللّٰهَ تَعَالَىٰ فِيمَا قَدْ مَلَّكَكَ؟ وَتَكَلَّمَ بِكَلَامٍ كَثِيرٍ
ثُمَّ أَقْبَلَ يُرِيدُ الْخُرُوجَ وَأَنَا جَالِسٌ بِالْبَابِ.
"Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah Ta'ala terhadap
apa yang telah Ia serahkan kepadamu?" Dan ia berbicara dengan banyak
perkataan, kemudian ia berbalik hendak keluar sementara aku duduk di dekat
pintu.
فَأَقْبَلَ
عَلَيْهِ الْمَأْمُونُ وَقَالَ: مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ: أَنَا رَجُلٌ مِنَ
السَّيَّاحِينَ فَكَّرْتُ فِيمَا عَمِلَ الصِّدِّيقُونَ قَبْلِي فَلَمْ أَجِدْ
لِنَفْسِي فِيهِ حَظًّا فَتَعَلَّقْتُ بِمَوْعِظَتِكَ لَعَلِّي أَلْحَقُهُمْ.
Maka Al-Ma'mun menoleh kepadanya dan bertanya:
"Siapakah engkau?" Ia menjawab: "Aku adalah seorang pengembara,
aku telah memikirkan apa yang telah dilakukan orang-orang jujur sebelumku namun
aku tidak menemukan bagian untuk diriku, maka aku bergantung pada nasihat
untukmu ini agar barangkali aku bisa menyusul mereka."
قَالَ
فَأَمَرَ بِضَرْبِ عُنُقِهِ فَأُخْرِجَ وَأَنَا قَاعِدٌ عَلَى الْبَابِ مَلْفُوفًا
فِي ذَلِكَ الثَّوْبِ.
Al-Harits berkata: "Maka Al-Ma'mun memerintahkan agar
lehernya dipenggal, lalu ia pun dikeluarkan sementara aku duduk di dekat pintu;
ia terbungkus dalam pakaian (kafan) tadi."
وَمُنَادٍ
يُنَادِي: مَنْ وَلِيَ هَذَا فَلْيَأْخُذْهُ. قَالَ الْحَارِثُ: فَاخْتَبَأْتُ
عَنْهُ فَأَخَذَهُ أَقْوَامٌ غُرَبَاءُ فَدَفَنُوهُ وَكُنْتُ مَعَهُمْ لَا
أُعْلِمُهُمْ بِحَالِهِ.
Seorang penyeru berteriak: "Siapa yang bertanggung
jawab atas jenazah ini maka ambillah." Al-Harits berkata: "Maka aku
bersembunyi darinya, lalu sekelompok orang asing mengambilnya dan
menguburkannya, sementara aku bersama mereka tanpa memberitahukan keadaan
pemuda itu kepada mereka."
فَأَقَمْتُ
فِي مَسْجِدٍ بِالْمَقَابِرِ مَحْزُونًا عَلَى الْفَتَىٰ فَغَلَبَتْنِي عَيْنَيَّ
فَإِذَا هُوَ بَيْنَ وَصَائِفَ لَمْ أَرَ أَحْسَنَ مِنْهُنَّ وَهُوَ يَقُولُ: يَا
حَارِثُ أَنْتَ وَاللّٰهِ مِنَ الْكَاِتمِينَ الَّذِينَ يُخْفُونَ أَحْوَالَهُمْ
وَيُطِيعُونَ رَبَّهُمْ.
Lalu aku menetap di sebuah masjid di pemakaman dalam keadaan
sedih atas pemuda itu, kemudian aku tertidur dan tiba-tiba melihatnya berada di
antara para bidadari pelayan yang belum pernah aku lihat yang lebih cantik dari
mereka, dan ia berkata: "Wahai Harits, demi Allah engkau termasuk
orang-orang yang menyembunyikan keadaan mereka dan menaati Tuhan mereka."
قُلْتُ:
وَمَا فَعَلُوا؟ قَالَ: السَّاعَةَ يَلْقَوْنَكَ. فَنَظَرْتُ إِلَىٰ جَمَاعَةِ
رُكْبَانٍ فَقُلْتُ: مَنْ أَنْتُمْ؟ قَالُوا: الْكَاِتمُونَ أَحْوَالَهُمْ.
Aku bertanya: "Dan apa yang mereka lakukan?" Ia
menjawab: "Sesaat lagi mereka akan menemuimu." Lalu aku melihat
sekelompok penunggang kuda, aku bertanya: "Siapakah kalian?" Mereka
menjawab: "Kami adalah orang-orang yang menyembunyikan keadaan
mereka."
حَرَّكَ
هَذَا الْفَتَىٰ كَلَامُكَ لَهُ فَلَمْ يَكُنْ فِي قَلْبِهِ مِمَّا وَصَفْتَ
شَيْءٌ فَخَرَجَ لِلْأَمْرِ وَالنَّهْيِ وَإِنَّ اللّٰهَ تَعَالَىٰ أَنْزَلَهُ
مَعَنَا وَغَضِبَ لِعَبْدِهِ.
"Ucapanmu kepadanya telah menggerakkan pemuda ini,
padahal di dalam hatinya tadinya tidak ada apa-apa dari yang engkau sifatkan,
lalu ia keluar untuk menjalankan amar ma'ruf nahi munkar, dan sesungguhnya
Allah Ta'ala menempatkannya bersama kami dan Allah murka demi membela
hamba-Nya."
وَعَنْ
أَحْمَدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الْمُقْرِيِّ قَالَ: كَانَ أَبُو الْحُسَيْنِ
النُّورِيُّ رَجُلًا قَلِيلَ الْفُضُولِ لَا يَسْأَلُ عَمَّا لَا يَعْنِيهِ وَلَا
يُفَتِّشُ عَمَّا لَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ.
Diriwayatkan dari Ahmad bin Ibrahim al-Muqri, ia berkata:
"Abu al-Husain al-Nuri adalah seorang laki-laki yang sedikit bicara
sia-sia, ia tidak bertanya tentang apa yang tidak berkepentingan baginya dan
tidak menyelidiki apa yang tidak ia butuhkan."
وَكَانَ
إِذَا رَأَىٰ مُنْكَرًا غَيْرَهُ وَلَوْ كَانَ فِيهِ تَلَفُهُ.
Dan ia adalah orang yang apabila melihat kemungkaran pasti
akan mengubahnya meskipun di dalamnya terdapat kebinasaan dirinya.
فَنَزَلَ
ذَاتَ يَوْمٍ إِلَىٰ مَشْرَعَةٍ تُعْرَفُ بِمَشْرَعَةِ الْفَحَّامِينَ يَتَطَهَّرُ
لِلصَّلَاةِ إِذْ رَأَىٰ زَوْرَقًا فِيهِ ثَلَاثُونَ دَنًّا مَكْتُوبٌ عَلَيْهَا
بِالْقَارِ: لُطْفٌ.
Maka pada suatu hari ia turun ke sebuah tempat penyeberangan
yang dikenal dengan Masyra'ah al-Fahhamin untuk bersuci guna shalat, tiba-tiba
ia melihat sebuah perahu yang berisi tiga puluh tempayan besar yang tertulis di
atasnya dengan aspal: "Luthf" (Barang Halus).
فَقَرَأَهُ
وَأَنْكَرَهُ لِأَنَّهُ لَمْ يَعْلَمْ فِي التِّجَارَاتِ وَلَا فِي الْبُيُوعِ
شَيْئًا يُعَبَّرُ عَنْهُ بِلُطْفٍ.
Maka ia membacanya dan mengingkarinya, karena ia tidak
mengetahui dalam urusan perdagangan maupun jual-beli ada sesuatu yang
diistilahkan dengan "Luthf".
فَقَالَ
لِلْمَلَّاحِ: إِيشِ فِي هَذِهِ الدِّنَانِ؟ قَالَ: وَإِيشِ عَلَيْكَ؟ امْضِ فِي
شُغْلِكَ.
Lalu ia bertanya kepada tukang perahu: "Apa isi
tempayan-tempayan ini?" Tukang perahu menjawab: "Apa urusanmu?
Pergilah urusi pekerjaanmu sendiri."
فَلَمَّا
سَمِعَ النُّورِيُّ مِنْ الْمَلَّاحِ هَذَا الْقَوْلَ ازْدَادَ تَعَطُّشًا إِلَىٰ
مَعْرِفَتِهِ فَقَالَ: أُحِبُّ أَنْ تُخْبِرَنِي إِيشِ فِي هَذِهِ الدِّنَانِ؟
Tatkala al-Nuri mendengar ucapan ini dari si tukang perahu,
ia semakin ingin tahu, lalu berkata: "Aku ingin engkau memberitahuku apa
isi tempayan-tempayan ini."
قَالَ:
وَإِيشِ عَلَيْكَ أَنْتَ؟ وَاللّٰهِ صُوفِيٌّ فُضُولِيٌّ! هَذَا خَمْرٌ
لِلْمُعْتَضِدِ يُرِيدُ أَنْ يُتَمِّمَ بِهِ مَجْلِسَهُ.
Si tukang perahu berkata: "Apa urusanmu? Demi Allah,
engkau benar-benar sufi yang suka ikut campur! Ini adalah khamr milik Khalifah
Al-Mu'tadhid yang ingin ia gunakan untuk melengkapi majelisnya."
فَقَالَ
النُّورِيُّ: وَهَذَا خَمْرٌ؟ قَالَ: نَعَمْ. فَقَالَ: أُحِبُّ أَنْ تُعْطِيَنِي
ذَلِكَ الْمِدْرَىٰ.
Al-Nuri bertanya: "Dan ini adalah khamr?" Ia
menjawab: "Ya." Al-Nuri berkata: "Aku ingin engkau memberikan
galah kayu itu kepadaku."
فَاغْتَاظَ
الْمَلَّاحُ عَلَيْهِ وَقَالَ لِغُلَامِهِ: أَعْطِهِ حَتَّىٰ أَنْظُرَ مَا
يَصْنَعُ.
Maka tukang perahu itu merasa geram kepadanya dan berkata
kepada pelayannya: "Berikan padanya agar aku bisa melihat apa yang akan ia
lakukan."
فَلَمَّا
صَارَتِ الْمِدْرَىٰ فِي يَدِهِ صَعِدَ إِلَى الزَّوْرَقِ وَلَمْ يَزَلْ
يَكْسِرُهَا دَنًّا دَنًّا حَتَّىٰ أَتَىٰ عَلَىٰ آخِرِهَا إِلَّا دَنًّا وَاحِدًا.
Tatkala galah itu sudah di tangannya, ia naik ke perahu dan
terus menghancurkan tempayan-tempayan itu satu demi satu hingga sampai pada
yang terakhir kecuali satu tempayan saja.
وَالْمَلَّاحُ
يَسْتَغِيثُ إِلَىٰ أَنْ رَكِبَ صَاحِبُ الْجِسْرِ وَهُوَ يَوْمَئِذٍ ابْنُ بِشْرٍ
أَفْلَحُ، فَقَبَضَ عَلَى النُّورِيِّ وَأَشْخَصَهُ إِلَىٰ حَضْرَةِ الْمُعْتَضِدِ.
Sementara tukang perahu berteriak meminta tolong hingga
datanglah pengawas jembatan yang saat itu adalah Ibnu Bisyr Aflah, lalu ia
menangkap al-Nuri dan membawanya menghadap Al-Mu'tadhid.
وَكَانَ
الْمُعْتَضِدُ سَيْفُهُ قَبْلَ كَلَامِهِ وَلَمْ يَشُكَّ النَّاسُ فِي أَنَّهُ
سَيَقْتُلُهُ.
Padahal Al-Mu'tadhid adalah orang yang pedangnya lebih
dahulu bertindak sebelum ucapannya, dan orang-orang tidak ragu lagi bahwa ia
akan membunuh al-Nuri.
قَالَ
أَبُو الْحُسَيْنِ: فَأُدْخِلْتُ عَلَيْهِ وَهُوَ جَالِسٌ عَلَىٰ كُرْسِيِّ
حَدِيدٍ وَبِيَدِهِ عَمُودٌ يُقَلِّبُهُ.
Abu al-Husain berkata: "Maka aku dimasukkan menemuinya
sementara ia sedang duduk di atas kursi besi dan di tangannya ada sebuah
tongkat pemukul yang ia bolak-balikkan."
فَلَمَّا
رَآنِي قَالَ: مَنْ أَنْتَ؟ قُلْتُ: مُحْتَسِبٌ. قَالَ: وَمَنْ وَلَّاكَ
الْحِسْبَةَ؟
Tatkala ia melihatku, ia bertanya: "Siapakah
engkau?" Aku menjawab: "Seorang muhtasib (pengawas)." Ia
bertanya lagi: "Dan siapa yang mengangkatmu menjadi pengawas?"
قُلْتُ:
الَّذِي وَلَّاكَ الْإِمَامَةَ وَلَّانِي الْحِسْبَةَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ.
Aku menjawab: "Dzat yang mengangkatmu sebagai pemimpin,
Dialah yang mengangkatku sebagai pengawas wahai Amirul Mukminin."
قَالَ
فَأَطْرَقَ إِلَى الْأَرْضِ سَاعَةً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ إِلَيَّ وَقَالَ: مَا
الَّذِي حَمَلَكَ عَلَىٰ مَا صَنَعْتَ؟
Perawi berkata: "Maka ia menundukkan kepala ke tanah
sesaat, kemudian mengangkat kepalanya kepadaku dan bertanya: 'Apa yang
mendorongmu melakukan apa yang telah engkau lakukan?'"
فَقُلْتُ:
شَفَقَةً مِنِّي عَلَيْكَ إِذْ بَسَطْتُ يَدِي إِلَىٰ صَرْفِ مَكْرُوهٍ عَنْكَ
فَقَصَّرْتُ عَنْهُ.
Aku menjawab: "Karena rasa sayangku kepadamu, tatkala
aku mengulurkan tanganku untuk memalingkan suatu keburukan darimu namun aku
merasa masih kurang."
قَالَ
فَأَطْرَقَ مُفَكِّرًا فِي كَلَامِي ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ إِلَيَّ وَقَالَ:
كَيْفَ تَخَلَّصَ هَذَا الدَّنُّ الْوَاحِدُ مِنْ جُمْلَةِ الدِّنَانِ؟
Ia pun menunduk memikirkan ucapanku, kemudian mengangkat
kepalanya kepadaku dan bertanya: "Bagaimana bisa satu tempayan ini selamat
dari sekian banyak tempayan?"
فَقُلْتُ:
فِي تَخَلُّصِهِ عِلَّةٌ أُخْبِرُ بِهَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنْ أَذِنَ.
فَقَالَ: هَاتِ خَبِّرْنِي.
Aku menjawab: "Tentang selamatnya satu tempayan itu ada
alasannya yang akan aku beritahukan kepada Amirul Mukminin jika
diizinkan." Ia berkata: "Kemarilah, beritahu aku."
فَقُلْتُ:
يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنِّي أَقْبَلْتُ عَلَى الدِّنَانِ بِمُطَالَبَةِ
الْحَقِّ سُبْحَانَهُ لِي بِذَلِكَ.
Aku berkata: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku
mendatangi tempayan-tempayan itu karena tuntutan Allah Yang Maha Benar (al-Haq)
Subhanahu wa Ta'ala kepadaku untuk melakukan hal itu."
وَغَمَرَ
قَلْبِي شَاهِدُ الْإِجْلَالِ لِلْحَقِّ وَخَوْفُ الْمُطَالَبَةِ فَغَابَتْ
هَيْبَةُ الْخَلْقِ عَنِّي.
"Dan hatiku diliputi oleh saksi keagungan bagi Allah
serta rasa takut akan tuntutan-Nya, sehingga kewibawaan makhluk hilang
dariku."
فَأَقْدَمْتُ
عَلَيْهَا بِهَذِهِ الْحَالِ إِلَىٰ أَنْ صِرْتُ إِلَىٰ هَذَا الدَّنِّ
فَاسْتَشْعَرْتُ نَفْسِي كِبْرًا عَلَىٰ أَنِّي أَقْدَمْتُ عَلَىٰ مِثْلِكَ
فَمُنِعْتُ.
"Maka aku pun melakukannya dengan keadaan seperti ini
hingga aku sampai pada tempayan ini, lalu jiwaku merasa sombong atas
keberanianku menghadapi orang sepertimu, maka aku pun terhalang (kehilangan
kekuatan spiritual)."
وَلَوْ
أَقْدَمْتُ عَلَيْهِ بِالْحَالِ الْأَوَّلِ وَكَانَتْ مِلْءَ الدُّنْيَا دِنَانًا
لَكَسَرْتُهَا وَلَمْ أُبَالِ.
"Seandainya aku melanjutkannya dengan keadaan yang
pertama tadi, meskipun dunia ini penuh dengan tempayan, niscaya aku akan
menghancurkannya dan tidak akan peduli."
فَقَالَ
الْمُعْتَضِدُ: اذْهَبْ فَقَدْ أَطْلَقْنَا يَدَكَ غَيْرَ مَا أَحْبَبْتَ أَنْ
تُغَيِّرَهُ مِنَ الْمُنْكَرِ.
Maka Al-Mu'tadhid berkata: "Pergilah, sungguh kami
telah membiarkan tanganmu (memberi wewenang) untuk mengubah kemungkaran apa pun
yang engkau inginkan."
قَالَ
أَبُو الْحُسَيْنِ فَقُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ بُغِّضَ إِلَيَّ
التَّغْيِيرُ لِأَنِّي كُنْتُ أُغَيِّرُ عَنْهُ وَأَنَا الْآنَ أُغَيِّرُ عَنْ
شُرْطِيٍّ.
Abu al-Husain berkata: "Wahai Amirul Mukminin, sekarang
perbuatan mengubah (kemungkaran) itu telah menjadi sesuatu yang aku benci,
karena dahulu aku mengubahnya karena-Nya, sedangkan sekarang aku mengubahnya
karena perintah polisimu."
فَقَالَ
الْمُعْتَضِدُ: مَا حَاجَتُكَ؟ فَقُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ تَأْمُرُ
بِإِخْرَاجِي سَالِمًا. فَأَمَرَ لَهُ بِذَلِكَ.
Al-Mu'tadhid bertanya: "Apa keperluanmu?" Aku
menjawab: "Wahai Amirul Mukminin, engkau perintahkan agar aku dikeluarkan
dengan selamat." Maka ia pun memerintahkan hal itu untuknya.
وَخَرَجَ
إِلَى الْبَصْرَةِ فَكَانَ أَكْثَرُ أَيَّامِهِ بِهَا خَوْفًا مِنْ أَنْ
يَسْأَلَهُ أَحَدٌ حَاجَةً يَسْأَلُهَا الْمُعْتَضِدَ.
Dan ia pun pergi ke Bashrah; ia menghabiskan sebagian besar
harinya di sana karena takut ada seseorang yang memintanya untuk memohonkan
suatu keperluan kepada Al-Mu'tadhid.
فَأَقَامَ
بِالْبَصْرَةِ إِلَىٰ أَنْ تُوُفِّيَ الْمُعْتَضِدُ ثُمَّ رَجَعَ إِلَىٰ بَغْدَادَ.
Ia menetap di Bashrah hingga Al-Mu'tadhid wafat, kemudian ia
kembali lagi ke Baghdad.
فَهَذِهِ
كَانَتْ سِيرَةُ الْعُلَمَاءِ وَعَادَتُهُمْ فِي الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ
وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ وَقِلَّةِ مُبَالَاتِهِمْ بِسَطْوَةِ السَّلَاطِينِ.
Inilah biografi para ulama dan kebiasaan mereka dalam hal
amar ma'ruf nahi munkar, serta betapa sedikitnya kepedulian mereka terhadap
kehebatan para penguasa.
لِكَوْنِهِمُ
اتَّكَلُوا عَلَىٰ فَضْلِ اللّٰهِ تَعَالَىٰ أَنْ يَحْرُسَهُمْ وَرَضُوا بِحُكْمِ
اللّٰهِ تَعَالَىٰ أَنْ يَرْزُقَهُمُ الشَّهَادَةَ.
Dikarenakan mereka hanya bersandar pada karunia Allah Ta'ala
untuk menjaga mereka, dan mereka ridha dengan ketentuan Allah Ta'ala untuk
menganugerahi mereka kesyahidan.
فَلَمَّا
أَخْلَصُوا لِلّٰهِ النِّيَّةَ أَثَّرَ كَلَامُهُمْ فِي الْقُلُوبِ الْقَاسِيَةِ
فَلَيَّنَهَا وَأَزَالَ قَسَاوَتَهَا.
Maka tatkala mereka telah mengikhlaskan niat karena Allah,
ucapan mereka pun memberi bekas pada hati-hati yang keras sehingga
melembutkannya dan menghilangkan kekerasannya.
وَأَمَّا
الْآنَ فَقَدْ قَيَّدَتِ الْأَطْمَاعُ أَلْسُنَ الْعُلَمَاءِ فَسَكَتُوا وَإِنْ
تَكَلَّمُوا لَمْ تُسَاعِدْ أَقْوَالَهُمْ أَحْوَالُهُمْ فَلَمْ يَنْجَحُوا.
Adapun sekarang, sifat tamak telah membelenggu lidah-lidah
para ulama sehingga mereka pun diam, dan seandainya mereka berbicara pun
keadaan mereka tidaklah mendukung ucapan mereka, sehingga mereka tidak
berhasil.
وَلَوْ
صَدَقُوا وَقَصَدُوا حَقَّ الْعِلْمِ لَأَفْلَحُوا.
Seandainya mereka jujur dan bermaksud menjalankan hak ilmu,
niscaya mereka akan beruntung.
فَفَسَادُ
الرَّعَايَا بِفَسَادِ الْمُلُوكِ، وَفَسَادُ الْمُلُوكِ بِفَسَادِ الْعُلَمَاءِ،
وَفَسَادُ الْعُلَمَاءِ بِاسْتِيلَاءِ حُبِّ الْمَالِ وَالْجَاهِ.
Sebab, rusaknya rakyat itu karena rusaknya penguasa,
rusaknya penguasa itu karena rusaknya para ulama, dan rusaknya para ulama itu
karena dikuasai oleh cinta harta dan kedudukan.
وَمَنْ
اسْتَوْلَىٰ عَلَيْهِ حُبُّ الدُّنْيَا لَمْ يَقْدِرْ عَلَى الْحِسْبَةِ عَلَى
الْأَرَاذِلِ فَكَيْفَ عَلَى الْمُلُوكِ وَالْأَكَابِرِ؟ وَاللّٰهُ الْمُسْتَعَانُ
عَلَىٰ كُلِّ حَالٍ.
Dan barangsiapa yang telah dikuasai oleh cinta dunia, ia
tidak akan mampu melakukan pengawasan terhadap orang-orang rendahan, apalagi
terhadap para raja dan pembesar? Dan Allah-lah tempat memohon pertolongan dalam
segala keadaan.
تَمَّ
كِتَابُ الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ بِحَمْدِ اللّٰهِ
وَعَوْنِهِ وَحُسْنِ تَوْفِيقِهِ.
Telah selesai kitab Amar Ma'ruf Nahi Munkar dengan memuji
Allah, pertolongan-Nya, dan taufik-Nya yang baik.